TUGAS MAKALAH PRIBADI UROGENITALE-1

Tutor : dr. Marcel Oleh: Alessandrasesha Santoso (B-4) NIM: 10-2009-115 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

DAFTAR ISI

HALAMAN

DAFTAR ISI...............................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN...............................................................................3 A. LATAR BELAKANG....................................................................3 B. TUJUAN.........................................................................................3 BAB II PEMBAHASAN..................................................................................4 I. STRUKTUR MAKROSKOPIK........................................................4 II. STRUKTUR MIKROSKOPIK........................................................6 III. PROSES PUBERTAS. ..................................................................12 IV. PERUBAHAN FISIK....................................................................14 V. PERKEMBANGAN SEKS SEKUNDER......................................15 VI. PENGARUH HORMONAL..........................................................16 BAB III PENUTUP...........................................................................................17 RINGKASAN......................................................................................17 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................18

2

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan seseorang pubertas biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun, dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Fase pubertas ini juga dialami anak berkebutuhan khusus. Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak matang menjadi matang. Menurut Monks (2002: 263) pubertas adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual. Menurut Root dalam Hurlock (2004) Pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat–alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi. Mereka mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Ciri-ciri awal dari pubertas, seperti suara yang mulai berubah, tumbuhnya rambut-rambut pada daerah. Untuk anak laki-laki, biasanya lebih lambat yaitu 11 tahun ke atas disbanding anak perempuan.

B. TUJUAN Diharapkan Anda dapat mengidentifikasi struktur makro dan mikro genitalia pada laki-laki, perkembangan seks sekunder, proses pubertas beserta perubahan fisiknya dan juga pengaruh hormonal.

3

BAB 2 PEMBAHASAN

I.

Struktur Makroskopik Organ reproduksi laki-laki terdiri dari dua bagian yang internal dan eksternal.

Bagian eksternal terdiri dari penis dan scorotum, sedangkan yang bagian internal ada duktus deferen, vesica seminalis, dan glandula prostat. 2.1.1 duktus deferens Merupakan saluran berdinding tebal yang merupakan tempat dilalui sperma.mulai dari angulus inguinalis medialis menuju lateral a. epigastrika inferior kemudian ke dorsocaudal pada dinding lateral pelvis, menyilang ureter disisi tengahnya menuju ke bagian tengah bawah pada vesika urinaria. Pada bagian akhir ujung akhir vesika urinaria. Terdapat bagian yang melebar yang disebut ampulla duktus deferens. Duktus excretorius vas deferens bersama-sama dengan duktus excretorius gl vesiculosa membentuk duktus ejakulatorius.1 2.1.2 vesikula seminalis Vesikula seminalis atau glandula vesikulosa terdiri dari 2 gelembung lobus kanan kiri yang berfungsi memproduksi cairan essential untuk makanan sperma, panjangnyaa kira-kira 5 cm. pada ujungnya akan tertutup peritoneum. Pada bagian depan vesicular seminalis berhubungan dengan permukaan dorsal vesica urinaria, pada bagian belakang berhubungan dengan rectum, sedangkan bagian tengahnya berhubungan dengan vas deferens. 2.1.3 glandula prostate Glandula prostate merupakan suatu kelenjar eksokrin fibromuskular. Bentuk glandula prostate menyerupai limas terbalik dengan puncak bagian bawah dengan panjang kurang lebih 3cm. gladula prostate dilapisi oleh selaput fibrotic dan disebelah luar dilapisi jaringan ikat. Glandula prostate dibedakan menjadi Basis, merupakan bagian diatas dan depan disekitar collum vesica urinaria Apex, terletak pada diafragma urogenitale Gladula prostat dibedakan menjadi 5 bagian, lobus anterior terletak didepan urethra pars prostatica, lobus medius terletak antara urethra dan duktud ejaculatorius, lobus posterior terletak dibelakang urethra dan bawah duktus ejaculatorius, dan bagian samping kanan dan kiri yang terletak samping prostat. Glandula prostat di perdarahi oleh cabang-cabang a. vesicalis inferior cabang-cabang a recttalis media, 4

dan cabang-cabang a pudenda interna, sedangkan aliran baliknya plexus venosus prostatikus. Aliran getah beningnya dialirkan oleh glandula prostat dan bermuara ke noduli iliaca interna. Dan dipersyarafi oleh canang-cabang plexus hypogastrica inferior.1 2.1.4 Penis Penis dihubungkan pada sympisis ossis pubis melalui suatu jaringan ikat yang disebut lig. Suspensorium penis. Penis dibedakan menjadi 3 bagian yaitu radix penis, corpus penis, dan glans penis. Radix penis merupakan bagian penis yang melekat ke sympisis pubis dan terdiri dari 3 masa jaringan erektil yaitu bulbus penis, crus penis dekstra dan sinistra, sedangkan bagian corpus penis merupakan lanjutan dari radix penis yang menuju kearah bawah. Pada permukaan belakang corpus penis, tepat apada garis tengah, dapat di jumpai v. dorsalis penis superficialis. Glans penis atau yang disebut kepala penis merupakan bagian yang paling ujung setelah corpus penis atau yang dikenal dengan badan penis. Pada glans penis dapat di jumpai alatalat yaitu meatus urethra externa, frenulum yang merupakan lipatan kulit yang terletak pada bagian bawah dari meatus urethra externa, preputium, yang merupak bagian yang menutupi kulit glans penis dan corona galndis yaitu pinggir dasar glans penis.2 2.1.5 Scrotum Merupakan suatu kantung yang dibentuk dari kulit dan fascia. Kulit pada scorotum berkeriput dan ditutpi rambut-rambut kasar. Dan pada bagian tengah dapat dijumpai suatu garis yang disebut raphescrotalis. Scorotum berisi testis dan epididimis.3

5

II.

Struktur Mikroskopik Terdiri atas testis, alat penyalur, kelenjar asesorius, genitalia eksterna, Testis setelah mencapai umur dewasa dan dibawah

pengaruh hormon gonadotropin hipophisa menghasilkan spermatozoa.

1. TESTIS Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang cukup tebal disebut : Tunika albuginea dan sebuah lapisan peritoneum Tunika vaginalis viseralis. Tunika vaginalis dibentuk oleh jaringan ikat kolagen yang miskin akan vasa darah dan elemen elastis, permukaan bebasnya tertutup mesothelium, sedangkan permukaan yang lain melekat pada tunika albuginea. Tunika albuginera sebaliknya kaya akan vaskularisasi, pada bagian tertentu yang disebut stratum vaskulare sangat kaya vaskularisasi. Pada tempat melekatnya epididimis pada testis, tunika albuginea berhubungan dengan mediastinum testis, yaitu suatu tali jaringan ikat yang memanjang sepanjang axis memanjang dari testis. Septula testis, yang membagi testis menjadi lobuli testis yang berbentuk piramidal. Mediastinum testis mengandung labirinth, ruang yang lebarnya tak menentu berhubungan satu dengan yang lain disebut rete testis. Pada jaringan interstitial disekitar tubulus seminiferus tidak ditemukan otot dan sperma di testis bersifat non motil. Gerakan mereka pada tubulus disebabkan oleh tekanan sekretorik dan tekanan internal dari testis, gerakan ini juga dibantu oleh cairan yang mungkin dihasilkan oleh sel sertoli. Pada tunika albuginea kaya akan serabut otot polos yang berasal dari m. kremaster internus dan melanjutkan diri ke septula testis. Pada folus kranialis testis mereka berdekatan satu dengan yang lain dan melanjutkan diri ke duktuli efferentes. Parenkim testis terdiri atas tubulus seminiferus, yang dibungkus jaringan ikat halus. Jaringan ikat interstitial kadang menunjukkan struktur/lamelar yang banyak mengandung vasa dan nervi. Sel interstitial yang diduga menghasilkan hormon testosteron ditemukan tunggal atau bergerombol.4

6

Tubulus Seminiferus Dinding tubulus seminiferus dibatasi oleh sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu Sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong atau sel sustentakulum disebut juga sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik ada beberapa tipe yang berbeda morfologinya antara lain : spermatogenia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa. Tiap sel sentroli melekat pada lamina basalis, sedangkan sel sprematogenik tersusun secara tradisional. Sel yang muda terletak dekat membrana basalis, semakin mendekati lumen, umur sel makin tua. Sel Sertoli Bentuk tinggi langsing seperti segitiga dengan basisnya melekat pada membrana basalis, ujungnya mencolok keluar, inti sel terletak pada basal. Struktur histologi menunjukkan adanya gambaran mitokhondria yang memanjang sejajar dengan axis panjang sel, fibril tetes lemak dan kadang ditemukan granula lipofasia. Dengan EM dapat ditemukan bangunan berupa kristal terbentuk kumparan yang disebut: Kristaloid Charcot Bottcher (sel sertoli manusia). Filament yang halus dan mikrotubulus yang tersusun sejajar dengan axis panjang sel sering dapat ditemukan, RER jarang tetapi SER ditemukan lebih banyak. Sel sertoli melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan mungkin berperan penting dalam memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Spermatogonia Panjangnya bervariasi antara 50-75 m, terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Dengan mikroskop cahaya perbedaan struktur internanya tidak jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan struktur internanya jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Spermatogonia terdapat diatas satu sampai dua lapis membran basal. Sel induk ini bersifat mitosis aktif, jadi sering terlihat bentuk pembelahan sel. Menurut penelitian dibedakan adanya spermatogonia tipe A dan B. Tipe A terdapat langsung pada membran basal dan tipe B diatas tipe A.

7

Tipe A membelah secara mitosis menjadi tipe A dan tipe B, tipe B inilah yang menumbuhkan spermatosit primer. Sel pada lapis berikutnya lebih besar diameternya, intinya lebih besar serta lebih banyak mengandung kromatin disebut sprematosit primer. Selanjutnya sel ini mengalami meiosis dan pada pembelahan pertama menghasilkan sel yang lebih kecil disebut spermatosit sekunder. Umur sel tersebut pendek karena segera mengalami pembelahan kedua (mitosis) menjadi spermatid, dari satu sel spermatozoa menjadi empat spermatid yang secara morfologis identik, tetapi gen yang dikandung dapat berbeda. ukuran sel kecil inti miskin kromatin dan sentriole masih tampak. Dalam tahap spermatositogenesis, spermatid selanjutnya mengalami tahap transformasi, berubah dari bentuk sel menjadi spermatozoa yang memiliki kepala, leher, badan dan ekor. Spermatozoa yang berkembang ini tampak membenamkan kepalanya kedalam kutub bebas sel sertoli. Sel Interstitial Parenkim testis yang terdiri atas tubuli seminiferi dibalut oleh jaringan ikat halus yang dikenal sebagai jaringan ikat interstitial. Didalamnya ditemukan pembuluh darah saraf, sel interstitial (sel leidig). Sel ini umumnya mengelompok dan mengitari pembuluh darah. Bentuknya tidak teratur, berdiameter 10-15 m, inti besar, kromatin bulat dan nukleus jelas. Fungsi sel leidig menghasilkan hormon testosteron yang berfungsi : Ø mengatur aktivitas kelenjar assesorius, terutama kelenjar prostat. Ø Memelihara tanda khas jantan. Ø Bersama dengan hormon FSH dan Hiphofisa mengatur aktivitas spermatogenesis. Hormon LH atau ICSH mengatur aktivitas sel leidig pengaruh ini semakin jelas bila sekaligus ditambah dengan FSH. Di dalam tubuh hewan memang terjadi inter-relasi antara kelenjar endokrin tertentu dalam mengatur aktivitas alat reproduksi, misalnya kelenjar hipophisa, adrenal dan testis sendiri.

2. ALAT PENYALUR Alat penyalur spermatozoa dimulai dari Tubuli rekti, Rete testis, Duktuli Efferentes Testis, Duktus epididimis, Duktus deferens, dan Urethra. a. Tubuli (seminiferus) rekti Berupa saluran pendek yang terdapat pada lobuli testis, epithelnya kubis sebaris dan berdiri pada membran basal. Pada daerah peralihan antara tubuli rekti terdapat 8

daerah dengan banyak modifikasi dari sel sertoli. Di daerah ini tidak lagi terdapat proses spermatogenesis.5 b. Rete Testis Berupa saluran atau rongga saling berhubungan dalam mediastinum testis. Saluran tersebut dibalut oleh epithel pipih selapis atau kubis rendah, sedangkan mediastinum testis merupakan kondensasi dari stroma testis yang mengandung pembuluh darah dan saraf. Otot polos belum terdapat pada mediastinum testis. c. Duktuli Efferentes Pada kutub kranial mediastinum testis terdapat sekitar 6-12 saluran disebut Duktuli efferentes testis. Saluran tersebut awalnya lurus tetapi setelah memasuki epididimis menjadi berkelok membentuk spiral. Daerah pemasukan dikenal dengan vascular cone yang menghadap testis dan merupakan caput. Duktuli efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni sel basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Epithel berdiri pada membran basal, bagian yang telah ada dalam caput epididimis, mulai terdapat otot polos diluar membran basal. Sekreta dari sel tersebut diatas diduga berperanan dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis. d. Duktus Epididimis Duktuli efferentes dalam epididimis secara

perlahan memiliki epithel silindris banyak lapis bersilia (stereocilia), lumen semakin besar dan dinding semakin tebal dengan bertambahnya lapisan otot polos. Dalam epididimis saluran tersebut selanjutnya disebut Duktus epididimis. Sel basal dari epithel banyak lapis mengandung butiran lemak, sedangkan sel atas silindris tinggi dengan stereosilia. Semakin menuju kauda epididimis, ukuran epithel semakin rendah, lumen semakin berkelok-kelok dan otot polos semakin tebal.4

9

e. Duktus Deferens Berupa saluran tunggal yang keluar dari kauda

epididimis. Duktus deferens dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian yang tidak berkelenjar disebut Duktus deferens dan bagian yang berkelenjar disebut Ampulla. Tunika propria terdiri dari jaringan ikat dengan banyak sel dan serabut elastis, bagian ini langsung bersatu dengan sub-mukosa dan keduanya disebut propria mukosa. Tunika muskularis cukup tebal, dengan bagian yang memanjang, melintang dan miring. Tunika adventitia atau serosa terdapat paling luar, pembuluh darah, saraf, jaringan limfoid dan otot polos sering tampak di bagian ini. f. Uretra - kolumnar pseudostratified epitel melalui sebagian dalam kelenjar (uretra distal) itu bertingkat skuamosa. - kelenjar littre ditemukan disepnajang saluran kencing dalam lamina propia dan jarigan ikat subepitel.

3. KELENJAR AKSESORIUS (Glandula genitales asesorius)

a. vesikula seminalis Berbaring di dinding posterior kandung kemih dan mengeluarkan 60% dari volume air mani. Mani basa cairan kental yang mengandug fruktosa, asam askorbat, mengentalkan enzim dan prostaglandis. Bergabung dengan ductus defferent untuk dari saluran ejakulotorius. Sperma dan campuran air mani di saluran ejakulotorius dan masukan uretra prostat selama ejakulasi.5

10

b. kelenjar prostat Berbentuk kelenjar yang mengelilingi bagian dari uretra lebih rendah kandung kemih. Putih susu, sedikit asam cairan , yang berisi sitrat, enzim dan antigen prostat spesifik, rekening untuk satu thirdof volume semen. Berperan dalam aktivasi sperma. Memasuki uretra prostat saat ejakulasi. c. prostat 1 & 2 30-50 kelenjar prostat tubuloacinar bercabang dengan saluran yang mengarah ke urethra prostat. Epitel adalah kolumnar sederhana tubuloacina kelenjar, yang dikelilingi oleh stroma fibromuskular dan otot polos. Cairan prostat strored untuk rilis saat ejakulasi. Sedangkan prostat 2 termasuk sekresi amilase, protease, phospatase asam dan lipid. Umur 40 tahun lalu hipertrofi kelenjar dalam meningkatkan kelenjar lumen dengan usia. d. kelenjar cowper Tubuloacinar kelenjar dengan sederhana sel mukosa cuboidal dan saluran bergabung setelah prostat. Kelenjar asinus dikelilingi oleh otot polos. Sekresi lendir dilepaskan selama gairah seksual untuk pelumasan.

4. GENITALIA EKSTERNA 4.1 Penis Penis dapat dibagi atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas Jaringan erektil korpus kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae, muskuli bulbokavernosus dan retraktor penis. Ujung penis disebut gland penis. Corpus Penis Terdapat jala kapiler pleksus korteks superfisial langsung dibawah tunika albuginea. Ini berhubungan dengan pleksus vena korteks profundal yang berhubungan dengan ruang kaverna dan jaringan erektil. Aliran darah arterial terutama berasal dari arteria profunda penis yang masuk krura. Cabang dari arteria dorsalis menembus tunika albuginea. Arteri ini berjalan sepanjang trabekula melintasi sepanjang jaringan erektil. Berupa cabang memberikan kapiler ke albuginea dan trabekula sedang yang lain membentuk kapiler pada superfisial, cabang arteri yang lain berakhir pada pleksus profundal atau kelubang kaverna secara langsung.4

11

4.2 Prepusium Prepusium terdiri atas dua bagian yakni Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi. Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung penis sebagai pars viseralis. Pars eksterna mempunyai struktur sama dengan kulit, banyaknya rambut bervariasi tergantung spesies hewannya. Pars parietalis dihubungkan dengan lapisan luar dengan jaringan ikat yang banyak mengandung pembuluh darah dan otot polos yang berasal dari tunika dartos skroti dan berkas otot serat lintang. Rambut dan kelenjar kulit hanya terdapat sedikit pada orifisium preputi. Glandula sebasea lebih banyak bermuara pada permukaan tidak pada folikel rambut. 4.3 Skrotum Terdiri atas integumentum kommunis dan tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan glandula. Berisi testis pasangan yang dipisahkan oleh sebuah sekat garis tengah. Posisi eksternal yang menjaga testis 3 derajat lebih rendah dari suhu tubuh inti (diperlukan untuk produksi sperma). Tunika dartos terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen dan elastis. Dan cremaster merupakan otot rangka yang mengangkat testis.5

III.

Proses Pubertas Pubertas merupakan suatu proses yang alamiah dan pasti dialami oleh semua

manusia dimana terjadi perubahan fisik dari tubuh anak-anak menjadi bertubuh layaknya orang dewasa dan telah memiliki kemampuan bereproduksi. Keadaan ini diinisiasi oleh pengaruh hipofisis (pusat dari seluruh system kelenjar penghasil hormon tubuh) sistem hormon dari otak yang menuju ke gonad (testis) dan meresponnya dengan menghasilkan berbagai hormon yang menstimulasi

pertumbuhan dan perkembangan, fungsi atau transformasi dari otak, tulang, otot, kulit, dan organ-organ reproduksi lainnya, seperti organ genitalia (penis) dan organ seksual sekunder lainnya (rambut pubis). Berkat kerja hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga mulai muncul ciri-ciri kelamin sekunder yang dapat membedakan antara perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, pubertas terjadi karena tubuh mulai memproduksi hormon-hormon seks sehingga alat reproduksi telah berfungsi dan tubuh mengalami perubahan. Proses ini juga menandai peningkatan 12

kematangan psikologis manusia secara sosial yang disebut telah menjadi seseorang remaja.6 Hormon seks yang mempengaruhi pada laki-laki diproduksi oleh testis dan dinamakan testosteron. Hormon-hormon tersebut ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh sehingga terjadilah beberapa pertumbuhan. Dari berbagai sumber seluruhnya menyatakan bahwa insiden Pubertas Prekoks dominan terjadi pada anak-anak perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena Pubertas Prekoks membawa sifat genetik yang autosomal dominan dan lebih sering akibat paparan hormon estrogen dini pada usia bayi. Untuk anak laki-laki secara signifikan terbanyak diakibatkan adanya penyakit pada otak. Pubertas Prekoks adalah suatu keadaan dimana masa pubertas anak terjadi lebih awal pada umumnya, yaitu sekitar umur 9-14 tahun pada anak perempuan dan usia 10-17 tahun pada anak laki-laki. Kondisi ini terjadi dipicu oleh otak secara spontan atau dikarenakan pengaruh bahan kimia dari luar tubuh dan biasanya proses ini dimulai diakhir-akhir masa kanak-kanak (kurang dari umur 9 tahun) dengan ditandai munculnya tanda-tanda kematangan organ reproduksi lebih awal dan telah berakhirnya masa pertumbuhan. Pubertas yang lebih awal ini bisa merupakan bagian dari variasi perkembangan normal seseorang, namun bisa pula merupakan penyakit atau paparan hormon pertumbuhan yang tidak normal Beberapa hal internal yang dapat menyebabkan terjadinya Pubertas Prekoks adalah gangguan organ endokrin, genetika keluarga (autosomal dominan), abnormalitas genetalia (gangguan organ kelamin), penyakit pada otak, dan tumor yang menghasilkan hormon reproduksi. Namun disamping itu, terdapat faktor psikologis (emosi) dan stressor lingkungan ekternal yang cukup memegang peranan.7 Pubertas prekoks banyak ditemui pada pasien dengan sindrom McCuneAlbright atau Hiperplasia Adrenal Kongenital, yaitu suatu kondisi perkembangan abnormal dari produksi hormon androgen pada laki-laki. Pada kasus yang jarang, Pubertas Prekoks memiliki hubungan dengan kejadian hipotiroidism.7 Secara sederhana, gambaran perjalanan kasus Pubertas Prekoks diawali produksi berlebihan GnRH yang menyebabkan kelenjar pituitary meningkatkan produksi luteinizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH). Peningkatan jumlah LH menstimulasi produksi hormon seks steroid oleh sel Leydig pada testis atau sel granul pada ovarium. Peningkatan kadar androgen atau esterogen menyebabkan fisik berubah dan mengalami perkembangan dini meliputi pembesaran 13

penis dan tumbuhnya rambut pubis pada anak laki-laki dan pembesaran payudara pada anak perempuan, serta mendorong pertumbuhan badan. Peningkatan kadar FSH mengakibatkan pengaktifan kelenjar gonad dan akhirnya membantu pematangan folikel pada ovarium dan spermatogenesis pada testis. Penyebab Perubahan Pubertas 1. Peran Kelenjar Pituitary : Kelenjar pituitary mengeluarkan dua hormon yaitu

hormon pertumbuhan yang berpengaruh dalam menentukan besarnya individu, dan hormon gonadotrofik yang merangsang gonad untuk meningkatkan kegiatan. Sebelum masa puber secara bertahap jumlah hormon gonadotrofik semakin bertambah dan kepekaan gonad terhadap hormon gonadotrofik dan peningkatan kepekaan juga semakin bertambah, dalam keadaan demikian perubahan-perubahan pada masa puber mulai terjadi. 2. Peran Gonad : Dengan pertumbuhan dan perkembangan gonad, organ-organ seks

yaitu ciri-ciri seks primer yaitu bertambah besar dan fungsinya menjadi matang, dan ciri-ciri seks sekunder, seperti rambut kemaluan mulai berkembang. 3. Interaksi Kelenjar Pituitary dan Gonad : Hormon yang dikeluarkan oleh gonad,

yang telah dirangsang oleh hormon gonadotrofik yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary, selanjutnya bereaksi terhadap kelenjar ini dan menyebabkan secara berangsur-angsur penurunan jumlah hormon pertumbuhan yang dikeluarkan sehingga menghentikan proses pertumbuhan, interaksi antara hormon gonadotrofik dan gonad berlangsung terus sepanjang kehidupan reproduksi individu, dan lambat laun berkurang menjelang wanita mendekati menopause dan pria mendekati climacteric.

IV.

Perubahan Fisik Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik penting

dimana tubuh anak dewasa, perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder : 1. Perubahan primer 2. Perubahan sekunder Perubahan primer pada masa puber Perubahan primer pada masa pubertas adalah perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia.8 Pada pria, Gonad atau testis yang terletak di skrotum, di luar tubuh, pada usia 14 tahun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Kemudian terjadi pertumbuhan pesat 14

selama 1 atau 2 tahun, setelah itu pertumbuhan menurun, testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Kalau fungsi organ-organ pria sudah matang, maka biasanya mulai terjadi mimpi basah. Perubahan sekunder pada masa pubertas Perubahan sekunder pada masa pubertas adalah perubahan-perubahan yang menyertai perubahan primer yang terlihat dari luar. Pada pria, lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; tangan dan kaki bertambah besar; pundak dan dada bertambah besar dan membidang; otot menguat; tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak seperti anak kecil lagi; tumbuh jakun; tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan; penis dan buah zakar membesar; suara menjadi besar; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak.8

V.

Perkembangan Seks Sekunder Perkembangan seksual sebenarnya telah dimulai sejak masa sangat awal

dalam perkembangan hidup manusia. Karena itu ketika bayi dilahirkan sudah dapat dibedakan laki-laki atau perempuan. Perkembangan seksual secara fisik kemudian terus berlangsung sesuai dengan perkembangan bayi menjadi anak-anak dan remaja. Perkembangan secara fisik-seksual dan psikoseksual harus berjalan selaras agar kehidupan seksual tetap normal. Perkembangan seksual secara fisik dipengaruhi oleh hormon seks, baik pada pria maupun wanita. Hormon seks pria yang terpenting adalah testosteron. Perkembangan kelamin pria dapat dibagi menjadi beberapa tahap : Tahap Infantil, mulai dari lahir sampai perkembangan testis ke arah pubertas. Tahap kedua berupa pembesaran testis dan skrotum dengan perubahan warna skrotum yang semakin merah dan perubahan tekstur kulitnya. Kemudian tahap bertambahnya panjang dan diameter penis disertai perkembangan lebih lanjut dari testis sampai kemudian glans penis menjadi sempurna. Dan tahap terakhir adalah tahap dimana bentuk dan ukuran alat kelamin telah sama dengan orang dewasa.

Anak pria mencapai tahap dua pada usia 11-12 tahun dan tahap terakhir dicapai dalam usia 15-16 tahun. Pertumbuhan sifat seks sekunder pada remaja pria, perubahan yang terjadi adalah bertambah besarnya testis (buah zakar) dan penis, tumbuhnya kumis dan bulu ketiak serta suar yang menjadi besar. Masa pubertas dipicu oleh maturasi sumbu hormonal di otak yang menyebabkan keluarnya hormon-hormon seks.

15

Aktivitas hormon tersebut menyebabkan manifestasi pubertas, yang biasanya dikategorikan sebagai karakteristik seks primer dan sekunder.9 Karakteristik primer adalah secara langsung berhubungan dengan koitus (hubungan seks) dan reproduksi. Sedangkan karakteristik sekunder adalah termasuk pertumbuhan rambut wajah dan merendahnya suara pada pria. Pertambahan tinggi dan berat badan terjadi lebih awal pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Awal timbulnya usia pubertas bervariasi, pada pria rata-rata usia 13 tahun, lebih lambat dibandingkan wanita. Peristiwa lain yang menandai mulainya masa pubertas dan merupakan pengalaman baru bagi setiap remaja pria adalah mimpi basah, yaitu keluarnya air mani pertama kali karena mimpi-mimpi erotis selama tidur. Mimpi basah atau nocturnal ejaculation biasanya terjadi bersamaan dengan nocturnal orgasm, yaitu puncak reaksi seksual yang menimbulkan sensasi erotik yang enak, nikmat dan menyenangkan.9 Selain perkembangan fisik, perkembangan psikis juga perlu mendapatkan perhatian agar dapat mencapai perkembangan seksual yang baik dan menyeluruh.

VI.

Pengaruh Hormonal Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil

utamanya adalah testis pada jantan dan indung telur pada wanita. Baik bagi jantan testosteron memiliki peranan penting pada kesehatan. Fungsinya adalah meningkatkan libido, fungsi imun, energi dan perlindungan dari osteoporosis.10 Namun pengaruh testosteron bagi pria lebih besar. Bagi pria, testosteron merupakan hormon seks yang punya peran pentng dalam fungsi seksual, produksi sperma, pembentukan otot, dan intonasi suara. Rendahnya kadar hormon ini menyebabkan seseorang mengalami kelelahan kronis,gangguan ereksi, depresi, dan postur tubuh yang kurang tegap maupun berkurangnya kemampuan atletik. Riset membuktikan bahwa hormon testosteron dalam jumlah yang normal sangat penting untuk mengurangi resiko diabetes dan penyakit kardiovaskular/peredaran darah. Selain itu, pria yang kadar hormon testosteronnya normal lebih panjang umur daripada pria yang kadar hormon testosteronnya rendah.

Kadar testosteron yang normal adalah berada di kisaran 12 nmol/1 sampai 40 nmol/1. Jika kurang dari itu, maka mengidap sindrom kekurangan testeron.10 Pengaturan dan peranan hormone pada system reproduksi pria: 1. FSH 16

- Memacu pertumbuhan tubulus seminiferus testis - Memacu spermatogenesis 1. LH - Memacu perkembangan sel-sel interstitial leydig - Memacu sel interstitial leydig untuk menghasilakan testosterone - Memacu perkembangan saluran reproduksi pria - Bersama FSH memacu spermatogenesis 1. Testosteron - Dihasilkan oleh sel interstitial leydig - Mamacu sifat kelamin sekunder pada pria - Memacu perkembangan saluran reproduksi

BAB III PENUTUP

Ringkasan : Sistem reproduksi pria dan wanita secara anatomis dan fisiologi berbeda. Pria menghasilkan sperma. Organ Reproduksi Pria terdiri dari, interna Testis, Epididymis, Ductus defferens, Ductus ejaculatorius, Vesicula seminalis, Glandula prostat, dan Glandula bulbourethralis. Sedangkan, externa Penis dan Scrotum. Terdiri dari system reproduksi yaitu sepasang gonad, testis yang merupakan organ reproduksi primer yang menghasilkan gamet dan mengeluarka hormon-hormon seks serta saluran reproduksi yang terdiridari system duktus dan kelenjar-kelenjar terkait. Spermatogonesis terjadi di tubulus seminiferosa yang berlekuk-lekuk didalam testis. Sel leydig terletak diantar ruang interstisium antara tubulus mengeluarkan hormon sekes pria testosteron ke dalam darah. Pubertas merupakan suatu proses yang alamiah dan pasti dialami oleh semua manusia dimana terjadi perubahan fisik dari tubuh anak-anak menjadi bertubuh layaknya orang dewasa dan telah memiliki kemampuan bereproduksi. Keadaan ini diinisiasi oleh pengaruh hipofisis anterior. Dimana dipengaruhi perubahan fisik, juga sekundernya.

BAB IV 17

DAFTAR PUSTAKA

1. Scanlon, VC. Buku ajar anatomi dan fisiologi. Ed 3. Jakarta: Kedokteran ECG ; 2007. 2. Kimmel M et all. Handbook of studies on men and masculinities. Sage Publications. 2004. 3. Seisyuhada. Anatomi internal genital pria. 18 maret 2010. http://seisyuhada.wordpress.com/2010/03/18/anatomi-internal-genital-pria/,Diunduh 3 Oktober 2010. 4. Burkit HG, Young B, Heath JW. Buku ajar & atlas wheater. Histologi fungsional. Ed 3. UK : Longman Group ; 2005. 5. Geneser F. Atlas berwarna histology. Ed 3. Jakarta : Bina aksara ; 2007. 6. Guyton, A C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 7. Jakarta : Kedokteran EGC ; 1994. 7. Yoman, Cah. Pubertas prekoks anak puber dini. I Oktober 2009. http://koranbaru.com/pubertas-prekoks-anak-puber-dini/, Diunduh 3 Oktober 2010. 8. Devi, N. Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Pubertas Pada Siswi Kelas VII Di SMP N 2 Sidoharjo Sragen. Surakarta : Akibidmus ; 2009. 9. Sherwood, L. Fisiologi manusia. Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC ; 1996. 10. Murray, R K. Biokimia harper. Jakarta : Kedokteran EGC ; 1999.

18

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful