Pak Sangidu: Mudah-mudahan (asrama) dalam 18 bulan bisa selesai!

Edisi 348 15 Oktober 2012

Kelanjutan Pembangunan Asrama
Menjawab kesimpangsiuran mega proyek yang tersendat
Simak Laporan Utama hal 6-7

Sekapur Sirih, Kaderisasi dan Disorientasi, Halaman 2 Sikap, Dari PPMI Sumatera Barat ke OPPM Kairo , Halaman 3 Laporan Khusus, Tindak Kriminal dan Kondisi Sosial Mesir Pascarevolusi Halaman 45 Laporan Utama, Kelanjutan Pembangunan Asrama, Halaman 6-7 Kometar Peristiwa, Haji Umroh Masisir Terganjal Hukum, Halaman 8 Opini, Haji Umroh Masisir dalam Pandangan Fikih, Halaman 9 Sastra, Cerita Terakhir, Halaman 10 Sastra, Janji Kelabu, Halaman 11 Bahasa, Pena Bulu De Sade, Halaman 12 Seputar Kita, Back to Campus Show, Awali Tahun Ajaran Baru, Halaman 13 Dinamika, Layakkah Menjadi Alumni Al-Azhar?, Halaman 14 Dinamika, Silahkan Pilih!, Halaman 15 Selamat Membaca! Santai dan penting dibaca Tajam tanpa melukai Kritis tanpa menelanjangi

TëROBOSAN ADVERSITING

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia sebagai media informasi, opini dan komunikasi mahasiswa Indonesia di Mesir. Redaksi menerima tulisan dari pelbagai pihak dan berhak mengeditnya tanpa menghilangkan makna dan tujuan.

Sekapur Sirih
Layaknya kanvas kosong yang menunggu untuk diberi warna, tak heran biasanya mereka tidak bisa menolak untuk disibukkan di berbagai acara. Dan hampir di setiap organisasi mereka akan sibuk dalam kepanitiaan acara yang semakin menenggelamkan mereka dalam kesibukan organisasi. Kaderisasi memang sebuah permasalahan yang cukup serius. Beberapa organisasi, kecil maupun besar mengalami permasalahan yang sama, kurangnya sumber daya manusia. Beberapa organisasi bahkan sempat mati suri karena ketiadaan generasi penerus. Bahkan untuk lembaga sepenting DKKM pun tidak ada kaderisasi di dalamnya. Kata kaderisasi layaknya buah simalakama. Para senior berusaha keras agar organisasi yang ia urus berjalan dengan lancar, namun itu berarti mengorbankan semangat para mahasiswa baru dalam menuntut ilmu untuk ikut andil di dalamnya. Atau membiarkan para mahasiswa baru untuk berkarya tanpa terganggu organisasi, yang berarti organisasi yang mereka urus akan kekurangan SDM yang memadai. Beberapa waktu yang lalu PPMI mengadakan acara Coffee Break yang bertempat di Limas. Sebuah acara yang merupakan bincang-bincang antara PPMI bersama para ketua senat dan ketua kekeluargaan. Salah satu keputusan yang disepakati dalam acara itu adalah tidak boleh bagi sebuah organisasi untuk melibatkan para mahasiswa baru dalam dewan pengurus ataupun dalam kepanitiaan acara keorganisasian. Semoga saja kesepakatan ini benar-benar bisa berjalan agar semangat para mahasiswa itu tidak cepat luntur karena organisasi, dan organisasi bisa mencari jalan lain agar bisa dijadikan solusi. Tidak dipungkiri, kami pun mendapatkan masalah yang sama, kurangnya sumber daya manusia yang membuat kinerja kami akhirakhir ini berkurang. Namun meski begitu, kami tetap selalu berusaha untuk menghadirkan ulasan berita yang tajam namun tidak melukai kepada para pembaca. Untuk Laporan Utama kami mengangkat berita tentang perkembangan pembangunan asrama yang telah dimulai sejak Februari kemarin. Menjelaskan seluk beluk pembangunan asrama itu dan kondisi terakhir asrama saat ini. Untuk Laporan Khusus kami mencoba menghadirkan ulasan tentang keamanan Mesir pascarevolusi, ditambah dengan beberapa tindak kejahatan yang menimpa beberapa rekan Masisir selama bulan Ramadhan kemarin. Sekaligus memberikan harapan Masisir kepada DKKM yang baru saja mendapatkan SK baru dari Presiden PPMI. Kamipun sedikit mengangkat tentang birokrasi visa haji dan umroh untuk Masisir, menjelaskan proses sekaligus kendala yang dihadapi oleh Masisir yang menyebabkan sulitnya birokrasi umroh pada tahun ini. Kami selalu menerima saran maupun kritik dari para pembaca sekalian, yang hal itu menandakan bahwa keberadaan media-media mahasiswa seperti kami masih dibutuhkan di kalangan masisir, bukan sebagai alas makan, atau pemenuh ruangan, namun benar-benar sebagai media penyalur aspirasi, smart power yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Selamat membaca! [ë]

Kaderisasi dan Disorientasi
Kami ucapkan selamat datang kepada para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang baru datang dari tanah air. Niat dan semangat anda sekalian semoga selalu dipelihara oleh Allah sebagaimana janjiNya bahwa para penuntut ilmu akan selalu didoakan oleh seluruh makhluk sampai para ikan di laut. Seperti biasa, setiap awal tahun ajaran para mahasiswa baru menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di kalangan Masisir, selain baru yang bisa jadi pasangan hidup, mahasiswa baru pun menjadi tumpuan harapan berbagai macam organisasi agar dapat terus bernafas mengisi dinamika keorganisasian di masing-masing tempat. Mahasiswa baru pastinya masih memiliki semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu (tidak seperti para seniornya yang sudah mulai bosan), namun semangat itu akan terbentur dengan kata yang tertulis di atas, Kaderisasi. Setiap organisasi saat ini sedang gencarnya mengadakan orientasi bagi pelajar baru, yang jika anda amati ternyata akan mendisorientasi para mahasiswa baru dari tujuan mereka semula, dari niat untuk belajar kemudian ikut sibuk dalam organisasi. Para mahasiswa baru biasanya masih mencari jati diri, dan akan mencoba segala hal yang dihadapkan kepadanya.

Pendiri: Syarifuddin Abdullah, Tabrani Sabirin Pimpinan Umum: Faznir Syam Harefa. Pimpinan Redaksi: Tsabit Qodami. Pimpinan Perusahaan: Reni Dwi Jayanti. Sekretaris: Sirojul Khikam,. Dewan Redaksi: Kadarisman, Abdul Majid, Ahmad Farros El-Halimy, Muslihun Maksum, Habib Rahman Haqiqi, Ulfiya Nur Faiqoh. Redaktur Pelaksana: Siti Rahma. Reportase: Mohamad Bakri, Memen Maimanah Mukhtar, Nurul Ulfa, Beri Prima, Reni Dwi Jayanti, Shally Fandhu Femilianda, Sun Fan Ulum Fiy, Tata Letak: Fahmi Hasan, Lukman Hakim. Editor: Zulfahani Hasyim, Ahmad Maimun. Pembantu Umum: Keluarga TëROBOSAN. Alamat Redaksi: Indonesian Hostel-302 Floor 04, 08 el-Wahran St. Rabea el-Adawea, Nasr City Cairo-Egypt. Telepon: 22609228 E-mail: terobosanmasisir@yahoo.com. Facebook : Terobosan Masisir. Untuk pemasangan Iklan dan Layanan Pelanggan silakan menghubungi nomor telpon : 0109427876 (Tsabit) atau 01122217176 (Fahmi)

02

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Sikap

Dari PPMI Sumatera Barat ke OPPM Cairo
PPMI adalah organisasi induk yang membawahi seluruh pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir, dan di sanalah pusat pergerakan roda keorganisasian Masisir secara keseluruhan. Sudah semestinya PPMI dapat mengayomi seluruh elemen Masisir tanpa memandang ras, suku, partai politik ataupun golongan. Bulan lalu para anggota kabinet PPMI Bersinergi dan Berprestasi (B&B) baru saja pulang dari liburan mereka, setelah melaksanakan tugas yang melelahkan selama satu tahun ajaran. Liburan mereka kali ini terasa lebih meriah karena Sidang Umum II MPA telah menerima hasil laporan kerja mereka dengan predikat Mumtaz, sebuah nilai yang belum didapat oleh kepengurusan PPMI pada tahun-tahun sebelumnya. Kabinet yang dinahkodai oleh Abu Nashar Bukhari dan Muhammad Syukron sekilas bisa dipandang sempurna, selain dari 91% program kerja telah terpenuhi, peraihan predikat Mumtaz di ujung kepengurusan mereka memberikan kesan akhir yang bahagia. Namun seperti kata pepatah; Tiada gading yang tak retak. Terdapat sekitar 41 orang yang pernah berkecimpung dalam kabinet B&B dengan beberapa kali reshuflle, yang jika kita perhatikan maka kita akan merasakan suasana kedaerahan yang sangat kental dalam tubuh PPMI. Tercatat dari keseluruhan yang berjumlah 41 orang terdapat setidaknya 15 orang anggota kabinet yang berasal dari daerah Sumatera Barat, termasuk di dalamnya Wakil Presiden Muhammad Syukron, atau jika dipersenkan akan mencapai angka 37%, sebuah persenan yang terlalu besar untuk sebuah organisasi yang membawahi masyarakat yang majemuk. Mari kita lirik sejenak motto mereka, Bersinergi dan Berprestasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinergi bermakna kegiatan atau operasi gabungan, sedangkan bersinergi adalah melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Maka sudah seharusnya kabinet B&B selalu berusaha untuk bergabung, menyatu dengan seluruh elemen masyarakat yang ada tanpa memandang ras atau suku. Kata “Bersinergi” tidak kemudian dipraktekkan dengan usaha untuk menjadikan anggota KMM yang bersinergi dengan PPMI ataupun sebaliknya. PPMI adalah milik Masisir bersama. Terlepas dari unsur nepotisme atau tidak, sejatinya hal ini sah-sah saja dilakukan mengingat penunjukkan anggota kabinet merupakan hak prerogatif presiden sesuai dengan AD/ART PPMI bab IV pasal 32 tentang kabinet DPP. Presiden dan wakil presiden berhak untuk mengangkat siapa saja untuk menjadi anggota kabinet, karena hal ini akan berpengaruh kuat pada kinerja organisasi ke depannya. Akan sangat berisiko jika seorang pemimpin memilih oknum yang tidak memiliki ide atau maksud yang sama dengan sang pemimpin. Kritikan keras pernah mengalir deras kepada khalifah ketiga Islam, Utsman bin Affan yang disebutkan mengangkat para pejabat dan gubernur dari kalangan kerabat dekatnya, yang hal ini lah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya pemberontakan yang berujung pada aksi pengepungan dan pembunuhan terhadap dirinya. Dalam dunia perpolitikan praktis kita memang sudah biasa mendengar kata koalisi dan oposisi, namun apakah organisasi induk kita pun butuh hal semacam ini? Yang memang disayangkan, kurang ada sosialisasi dari kabinet B&B tentang keanggotaan kabinet yang menjadikan DPP PPMI kemarin terasa ekslusif dan tertutup. Masisir jarang yang tahu akan; berapa jumlah pengurus DPP yang menjabat? Siapa saja mereka? Berapa kali reshuffle terjadi? Siapa yang mengundurkan diri dan siapa yang menjadi pengurus baru? Maka bagaimana Masisir akan mengenal PPMI jika para anggota kabinetnya pun masih mubham. Meski pemilihan kabinet adalah hak prerogatif pemimpin, namun sosialisasi ke masyarakat sangatlah diperlukan agar PPMI benar-benar bisa bersinergi dan bermasyarakat. Tapi yang lalu biarlah berlalu, terasa kurang etis jika kita membicarakan masa lalu yang kita pun tak lagi bisa memperbaikinya, paling saat ini kita hanya bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi agar tidak terulang di kemudian hari. Maka mari kita arahkan pandangan kita ke hari ini. Kepengurusan perangkat PPMI lama telah usai digantikan dengan perangkat PPMI yang seluruhnya baru. MPA baru, BPA baru, hingga Presiden yang baru, semestinya membawa semangat baru kepada Masisir untuk berdinamika kembali. Jika kita perhatikan, sepertinya merupakan sebuah kebetulan bahwa saat ini dunia dinamika Masisir sedang diwarnai oleh organisasi almamater IKPM. Dimulai dari Wihdah yang telah memilih Nurul Chasanah sebagai pemimpin pada pertengahan tahun lalu, kemudian Jamil Abdul Latif yang terpilih sebagai presiden PPMI pada pemilu raya, dan diakhiri oleh Amrizal Batu Bara yang terpilih sebagai pimpinan MPA pada Sidang Umum I PPMI. Memang tidak ada skenario terencana yang mengatur semua ini, ketiganya terpilih dalam waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula, maka bisa kita sebut bahwa hal ini tidak lain merupakan suratan takdir dari Sang Penyusun Skenario yang menjadikan tiga orang pemimpin kita saat ini berasal dari almamater yang sama. Namun belum berhenti di situ. Awal bulan lalu kabinet DPP PPMI baru saja dilantik, dan tidak seperti tahun sebelumnya, PPMI sekarang telah mempublikasikan acara pelantikan beserta nama-nama kabinet pengurus DPP PPMI untuk tahun ajaran ini. Dari 26 orang pengurus DPP PPMI yang dilantik, terdapat sekitar 13 orang berasal dari IKPM termasuk di dalamnya sang Presiden Jamil Abdul Latif, dan jika dipersenkan akan mencapai angka 50%, angka yang lebih tinggi dari pada yang sebelumnya. Kabinet Bersama dan Bersatu, apakan juga kelak ditafsirkan dengan bersama bersatu di bawah naungan IKPM? Namun kembali ke atas bahwa penunjukan anggota kabinet adalah hak prerogatif pemimpin, maka sang presiden dan wakilnya berhak untuk memilih siapa saja demi kelancaran perputaran roda organisasi, terlepas dari siapa, dari mana, suku apa, atau golongan apa. Perlu diingat bahwa PPMI berbeda dengan majlis pemerintahan seperti di Indonesia yang terdiri dari koalisi beserta oposisi. “Persatuan” Pelajar dan Mahasiswa Indonesia merupakan wadah bersatunya seluruh aspirasi pelajar dan mahasiswa, maka seyogyanya PPMI bisa merangkul seluruh masyarakat tanpa harus ada istilah golongan koalisi atau oposisi. Persatuan, singkatan huruf pertama dari kata PPMI, setidaknya itulah harapan besar Masisir dari PPMI di setiap pergantian kepengurusan setiap tahunnya, menyatukan Masisir di bawah naungan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Semoga saja kita melihat harapan ini terkabul pada kepengurusan PPMI tahun ini. Selamat berjuang, Jamil dan Delfa! [ë](Fahmi)

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

03

Laporan Khusus

Tindak Kriminal dan Kondisi Sosial Mesir Pascarevolusi
Berbicara soal keamanan di Mesir tak ubahnya seperti membicarakan sepakbola, artis, dan tren terbaru. Pembicaraan yang sudah menjadi sangat biasa meski merupakan kejadian yang luar biasa bagi korban. Apalagi di saat Mesir memasuki masa pascarevolusi dan transisi pemerintahan dari pihak militer yang memegang pemerintahan sementara ke pemerintahan baru yang dipegang Ikhwanul Muslimin dan Muhammad Mursi sebagai presiden. Semua bisa terjadi di sini, di Negeri Seribu Menara ini, di masa ini, masa di mana kondisi politik, ekonomi, dan keamanan sedang tidak stabil. Tumbangnya Rezim Mubarak dari tampuk kekuasaan tertinggi di Mesir memberikan konsekuensi yang bermacammacam, salah satunya adalah keamanan. Keamanan Mesir jatuh pada masa paling buruk dalam beberapa dekade terakhir. Setiap diri di Negeri Para Nabi ini benarbenar tidak memiliki jaminan keamanan apapun. Semua masuk pada masa yang sama di mana pengangguran naik secara drastis. Kesenjangan sosial pun naik secara signifikan. Jurang antara orang kaya dan miskin semakin naik. Tradingeconomics.com dalam laman resminya memuat grafik pengangguran di Mesir menumbus angka tertinggi dalam sejarah Mesir yaitu menembus angka 12,6 persen per Maret 2012. Ini adalah angka pengangguran tertinggi yang pernah di alami Mesir. Sedang pada 2008 angka pengangguran hanya mencapai 9,1 persen dan 2010 hanya mencapai 9,4. Sementara lonjakan paling pesat dimulai sejak keruntuhan rezim Mubarak yaitu naik sebanyak 3 persen yaitu dari angka 8,9 persen ke angka 11,9 persen. Statistika ini menunjukan angka kesejahteraan penduduk Mesir semakin menurun. Sementara buruknya sistem ekonomi di Mesir memaksa Mesir mengalami krisis ekonomi yang belum juga membaik. Kondisi rakyat miskin semakin terlindas oleh roda kehidupan yang memaksa mereka melakukan apa saja untuk bertahan hidup di sini. Dari segi kesejahteraan, Mesir pasca Revolusi 25 Januari justru masuk pada masa terburuk. nationsencyclopedia.com merilis soal kemiskinan di Mesir yang sudah mencapai angka antara 20-30 persen. Artinya sedikitnya 16 juta penduduk Mesir hidup dalam kondisi kemiskinan. Ini adalah angka terburuk yang ada dalam statistika Mesir. Ini tidak lepas dari sistem yang dipakai selama Rezim Mubarak. Prof. Reem Saad seorang pakar antropology dari American University in Cairo memaparkan pada egyptindependent.com bahwa selama Mubarak berkuasa dia banyak memprioritaskan pembangunan di kota-kota besar saja, itupun hanya pada wilayah urban seperti Zamalek, Ma’adi, dan Garden City. Selebihnya wilayah pinggiran dan pedesaan tidak tersentuh program pembangunan. Bahkan nationsencyclopedia.com merilis bahwa 20 persen orang terkaya di Mesir mengendalikan 39 persen kekayaan Mesir. Data ini sudah cukup bagi kita untuk memahami kondisi kesejahteraan Mesir yang sebenarnya. Setelah data pengangguran dan kemiskinan di Mesir kita pelajari pada uraian di atas kita sekarang menengok, bagaimana keadaan keamanan di Mesir sebenarnya? Telah sama-sama kita ketahui 24 ribu narapidana melarikan diri dari penjara pada Revolusi 25 Januari dan hanya 8.400 narapidana yang tertangkap kembali. Sementara itu 6.600 senjata hilang dari gudang senjata di beberapa kantor polisi dan tidak ditemukan kembali hingga sekarang. Dengan data ini tentu mudah bagi kita membayangkan kondisi Mesir sebenarnya bukan? Dari sedikit gambaran Mesir di atas menyoal kondisi sosial, ekonomi, dan keamanan kita sekarang menengok ke dalam komunitas kita−Masisir−yang notabene tinggal di Mesir, baik Kairo maupun daerah -daerah lain di Mesir. Masisir menjadi salah satu komunitas warga asing terbesar di Mesir. Jumlahnya yang mencapai ribuan sudah cukup untuk membuat sebuah kecamatan di Mesir. Dengan latar budaya dan sosial yang berbeda dan tinggal di kawasan pinggiran, Masisir memberi warna lain dari sosio-kultur masyarakat Mesir. Mereka kadang ada yang menyatu dengan masyarakat Mesir dan kadang ada yang memilih untuk nampak ekslusif. Tentu hal ini tidak sertamerta lepas dari perhatian orang Mesir, apalagi yang merupakan penduduk yang hidup dalam kondisi paspasan. Masisir sedikit banyak juga memberi kesenjangan berbeda antara warga asing dan penduduk pribumi. Terlepas dari hubungan baik antara Indonesia dan Mesir, kita harus melihat secara obyektif kondisi Masisir yang sama-sama hidup dalam ancaman kriminalitas di Mesir. Bulan Ramadhan tahun ini rasanya memang membawa berkah bagi para penjahat Mesir dengan beberapa kasus yang sukses melibas harta benda dari Masisir. Kondisi Ramadhan di musim panas membuat Masisir lebih senang menghabiskan malam dengan begadang dan menghabiskan siang untuk tidur. Ternyata kebiasaan Masisir ini dibaca dengan sangat cerdas oleh para penjahat. Mereka menjalankan aksinya di beberapa tempat di kawasan Hay Al-‘Ashir. Tercatat beberapa kasus kriminal menimpa kawan-kawan kita di sekitar bulan Ramadhan. TëROBOSAN setidaknya mencatat enam kasus besar selama bulan Ramadhan yang terjadi selama bulan puasa tersebut. Kasus pertama adalah yang menimpa rekan kita yang juga ketua KPMJB, Jajang Hermawan, di daerah Suq Sayarat pada tanggal 16 Juli 2012. Dia ditondong sekawanan orang Mesir pada sekitar pukul sebelas malam. Meski tidak mengalami luka-luka, namun korban harus menderita kerugian sekitar 1000 LE. Berselang sebelas hari kemudian masih di tempat yang sama di kawasan Suq Sayarat, Maulana Noviansyah dari KPMJB juga mengalami penodongan oleh sekawanan penjahat Mesir. Ia tidak mengalami kerugian materi namun mengalami luka tusuk karena berusaha membela diri. Peristiwa ini pun terjadi pada jam yang sama yaitu sekitar pukul 11 malam. Pada tanggal 3 Agustus 2012, kasus pencurian yang berujung pada perkelahian menimpa Rumah Budaya Akar di kawasan Bawabah. Padahal satu hari sebelumnya rumah Atase Pendidikan yang tidak jauh dari Rumah Budaya Akar juga menderita kerugian akibat pencurian yang dilakukan oleh penjahat Mesir. Kejadian di Rumah Budaya Akar sendiri menarik perhatian karena pencurian yang awalnya hanya kasus pencurian biasa berujung pada perkelahian antara penghuni rumah dan kawanan preman yang diduga kawan dari si pencuri. Para pencuri yang telah berhasil membawa kabur beberapa barang berharga ternyata kembali lagi hendak melakukan aksi untuk kedua kalinya di tempat yang sama, karena mereka berfikir para penghuni rumah masih terlelap. Namun dugaan mereka salah, para penghuni ru-

04

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Laporan Khusus
mah yang sudah terjaga mengetahui gelagat dari pencuri itu lalu mengejar mereka. Dari dua orang pencuri, hanya satu orang yang dapat tertangkap. Beberapa handphone yang sempat diambil pun didapatkan dan dijadikan barang bukti. Namun kejadian tidak berhenti sampai di situ. Kawanan preman yang diduga sebagai kawan -kawan si pencuri datang dengan membawa sejumlah senjata dan bom molotov. Kericuhan tidak dapat dihindarkan sampai akhirnya para penghuni rumah memutuskan untuk melepas pencuri yang tertangkap setelah bernegosiasi dengan kawanan preman yang bersedia mengembalikan beberapa barang meski tidak sepenuhnya. Beberapa rekan Rumah Budaya Akar sempat mengubungi pihak KBRI, DKKM, dan polisi, namun seperti tidak ada respon dan hanya Pak Samsir yang datang ke TKP. Dan dari kejadian ini Rumah Budaya Akar mengalami kerugian materil sekitar 1500 LE dan rekan Coh’an yang luka di bagian pelipisnya. Kejadian kriminal selanjutnya terjadi di kawasan Tub Ramli tepat di rumah rekan Ahmad Hujaj Nurrohim pada tanggal 15 Agustus 2012. Hujaj menuturkan tentang kejadian yang menimpa rumahnya, “Jadi saat itu jam 3 sore habis dzuhur sebelum ashar tiba-tiba ada orang mengetuk pintu "tok tok tok tok". Terus saya lihat saya kira dia itu tukang listrik karena memang sudah masanya bayar listrik kan. Nah setelah saya buka, dia langsung masuk dan menusukkan sebilah pisau, pisau dapur itu yang agak panjang. Untung kebiasaan saya adalah membukakan pintu dari belakang pintu. Jadi, saya otomatis nggak kena.” Dalam percobaan perampokan ini pelaku berusaha masuk namun mendapat perlawanan dari Hujaj. Hujaj pun memanggil kawan-kawannya yang kebetulan sedang istirahat siang. Karena melihat banyak orang datang pelaku percobaan perampokan ini pun kabur tanpa meninggalkan kerugian fisik dan materi. “Saya melawannya dan saya berhasil memegang tangannnya. Saya dorongdorongan dan akhirnya pisau mengarah kepada perutnya. Kita sama kuatnya saat itu tapi saya balikkan arah pisau ke perutnya. Belum kena perutnya, dia lari.” Papar Hujaj kepada reporter TëROBOSAN. Tiga hari berselang kejadian lebih besar lagi terjadi di kawasan Mutsallas. Kali ini kasus perampokan menimpa dua rekanita kita bernama Rina dan Novita. Saat itu pukul 07.00 pagi Rina dan Novita sedang terlelap tidur di rumah mereka yang berlokasi di musallas. Mereka disekap dan diikat kedua tangan dan kakinya, karena melakukan beberapa perlawanan. Salah satu di antara mereka pun sedikit mengalami luka goresan pada wajahnya. Dan mengalami kerugian 3 handphone, 2 laptop, 1 hardisk internal. Pada akhir Ramadhan, sekitar jam setengah satu malam terjadi penusukan di Gami’, korban adalah salah satu warga fosgama yang sedang bejalan bersama seorang teman dan ternyata di tengah jalan dijegal oleh orang Mesir dan akhirnya mendapatkan tusukan di leher dan goresan di tangan, karena pada saat itu handphone korban berdering dan pelaku berniat untuk mengambil handphone tersebut. Dari beberapa kasus yang tercatat di atas, kawasan Hay Al-‘Ashir menjadi red zone dalam hal terjadinya tidak kriminalitas. Kawasan yang banyak dihuni warga asing di Mesir ini adalah kawasan paling rawan di Kairo. Dengan kondisi lingkungan berstatus suburban ditambah penduduk asing yang banyak kawasan ini menjadi target operasi bagi banyak kawanan penjahat di Mesir. Dan warga asing dari Asia Tenggara menjadi target utama dalam tidak kriminal ini karena dianggap memiliki kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dibanding penduduk suburban yang berasal dari pribumi maupun penduduk kulit hitam. Di Hay Al-‘Ashir sendiri Syuq Sayarat dan Bawabah 3 menjadi zona paling bahaya pada jeda waktu antara jam 10 malam sampai jam 8 pagi. Pada jam-jam ini Syuq Sayarat dan Bawabah 3 memang relatif sepi. Dan modus operandi yang paling sering terjadi di kawasan ini adalah penodongan (untuk pejalan kaki) dan pencurian (untuk rumah). Wilayah Tub Ramli dan Musallas menjadi kawasan paling bahaya nomor dua dengan modus operandi perampokan, pembobolan rumah, dan pencurian. Sementara kawasan Gamik berada di nomor urut tiga dengan mencatat hanya ada satu kasus dalam satu bulannya dengan modus operandi penodongan. TëROBOSAN mencoba memberi sedikit analisa tentang fenomena keamanan ini. Setidaknya ada 3 faktor yang melatarbelakangi fenomena ini. 3 faktor tersebut adalah: 1. Kondisi Mesir pasca Revolusi. Kondisi Mesir pasca Revolusi memang sangatlah memprihatinkan mulai dari lawless akibat pegurangan jumlah personil polisi dan perangkat hukum yang diyakini sebagai bagian dari rezim yang tergulingkan hingga buruknya kondisi kesejahteraan rakyat Mesir yang mendesak mereka melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Dari kondisi yang kompleks seperti ini wajar rasanya kondisi keamanan memburuk. 2. Kesenjangan sosial yang terjadi di antara penduduk kawasan suburban seperti Hay Al-‘Asyir. Kawasan Hay Al-‘Asyir dihuni oleh berbagai macam etnis, mulai dari pribumi, kulit hitam, Asia Tenggara, Cina, Rusia, dan beberapa etnis lainnya. Mereka datang dari budaya dan kondisi sosial yang berbedabeda, termasuk kondisi ekonomi. Dari sinilah gesekan-gesekan sosial terjadi tanpa bisa dielakkan, termasuk tindak kriminalitas. 3. Kurangnya pengawasan, pertolongan pertama pada kejadian, dan tindakana preventif yang mungkin dilakukan oleh Masisir, KBRI, DKKM, dan pihak keamanan Mesir. Ini adalah faktor penting dari munculnya fenomena tindak kriminal yang menimpa WNI. Bagaimana tidak? Kita yang mempunyai populasi yang cukup besar di Hay Al-‘Ashir seharusnya mempunyai sistem keamanan yang mandiri yang tidak bergantung pada sistem keamanan Mesir yang sedang limbung. Kita juga harus peduli pada setiap kejadian dan korban. Kurangnya pengawasan itu juga ditandai dengan tidak adanya data yang falid untuk setiap kejadian dari pihak DKKM. Memang DKKM tidak memiliki wewenang penuh atas keamanan Masisir layaknya polisi atau keamanan lingkungan, namun setidaknya DKKM memiliki data yang falid dari setiap kejadian agar dapat diolah dan dipelajari kemungkinan kejahatan terbesar menurut waktu, tempat, kerugian dan modus operandi. Setelah kita mempelajari peta persentase tindak kriminal dan modus operandinya, maka kita bisa melakukan usaha-usaha pencegahan untuk menghindari terjadinya tindak kriminal yang lain. [ë] (Bakrie, Memen, Zulfa)

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

05

Image: merdeka.com

Laporan Utama

Kelanjutan Pembangunan Asrama Mahasiswa
Kabar kejelasan tentang asrama mahasiswa yang merupakan program yang dicanangkan sejak Lokakarya tahun 2008 masih simpang siur di kalangan mahasiswa. Sebagian mahasiswa pun bertanya-tanya sejauh mana kelanjutan proses pembangunan asrama yang telah dimulai dengan peletakan batu pertama 15 Februari lalu, dan lagi-lagi pihak KBRI menjadi pihak yang dilirik dalam masalah ini. Dalam website resminya, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo merilis sebuah berita pada Rabu (12/9), bahwa Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Nurfaizi Suwandi mengadakan pertemuan dengan ketua tim pembangunan asrama, Abdurrahman Musa pada hari Selasa (11/9). Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa pembangunan asrama mahasiswa yang sedang berlangsung ini dilaksanakan sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini. Proses pembangunan asrama saat ini telah disetujui oleh Kementrian Keuangan dan Sekretariat Negara Republik Arab Mesir. Selanjutnya dikatakan bahwa proses pembangunan asrama ini dilakukan oleh perusahaan property Arab Contractor, setelah memenangkan kontrak dari perusahaan property Wadi el-Nile. Atase Pendidikan KBRI Cairo, Sangidu, M.Hum. menambahkan bahwa pembangunan tahap pertama akan dimulai pada awal bulan ini, dengan membangun empat buah gedung asrama dan satu buah dapur umum yang memakan biaya sekitar 44 milyar Rupiah, dan diharapkan akan selesai dalam waktu 18 bulan ke depan. Pihak yang bertanggung jawab penuh dalam birokrasi dan pembangunan asrama ini adalah tim khusus yang telah dipilih oleh Syaikhul Azhar, sedangkan pihak KBRI sendiri hanya memantau jalannya proses pembangunan tersebut. Dana yang tersedia saat ini berjumlah 19 milyar Rupiah, yang terdiri dari 14 milyar anggaran dari Kementrian Agama RI, dan 5 milyar dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Uang itu seluruhnya telah diberikan kepada AlAzhar sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam proses pembangunan asrama tersebut. Lebih jauh dikatakan bahwa pembangunan tahap pertama ini masih membutuhkan dana sebesar 25 milyar, dan KBRI akan mengajukan proposal Kondisi terakhir lahan pembangunan asrama. Jum`at (12/10) kepada Kementrian Perumahan Rakyat untuk itu, salah satunya adalah berlangsungnya menambahi kekurangan itu. Dan pihaknya proses peletakan batu pertama yang merupun akan menagih proposal dari beberapa pakan usaha dari KBRI untuk mendorong pemerintah daerah yang pernah menjan- pihak Al-Azhar dalam hal ini Grand Syaikh jikan bantuan untuk menambahi biaya Ahmad Thayyib. pembangunan ini. Di antaranya adalah Bapak Sangidu mengakui bahwa setelah Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Ten- peletakan batu pertama yang terkesan gah, Kalimantan Timur dan NTB, dan dipaksakan itu memang tidak ada lagi kebahkan dikatakan bahwa DPR pusat pun jelasan tentang kelanjutan pembangunan siap untuk membantu. ini, maka pihaknya menghadap ke Grand Proses keuangan untuk pembangunan Syaikh guna meminta kejelasan proses asrama ini memang sulit, karena merupa- pembangunan tersebut, dan barulah kan hibah dari pemerintah daerah kepada diketahui bahwa pihak Al-Azhar selama ini sebuah lembaga yang berada di luar negeri. masih dalam proses birokrasi dengan beTidak seperti Malaysia yang mudah, Indo- berapa lembaga terkait sekaligus mengadanesia memiliki sistem birokrasi keuangan kan lelang tender yang akhirnya diyang rumit. Pemerintah Daerah tidak bisa menangkan oleh Arab Contractor, sebuah sembarangan mengirimkan bantuan lang- perusahaan kontraktor besar yang telah sung ke luar negeri, namun harus melalui sukses membangun berbagai bangunan dan beberapa tahap sesuai dengan peraturan jalan di negeri ini. keuangan yang berkaku, itu pun masih diKetika diwawancarai TëROBOSAN, awasi dengan ketat oleh Komisi beliau sempat menunjukkan beberapa lemPemberantas Korupsi (KPK). Maka dari itu, bar rancangan bangunan yang rencananya pihak KBRI saat ini pun tidak lagi menyim- akan ditunjukkan ke Kemenpera. pan uang pembangunan tersebut, karena Rancangan ini dibuat oleh tim pembangun seluruhnya telah dikirimkan ke Grand yang konsepnya merupakan konsep yang Syaikh. diajukan oleh KBRI. Rancangan bangunan Selain kendala keuangan, terdapat be- itu kelak menjadi bukti sebagai penguat berapa kendala yang menghambat proses proposal pembangunan asrama kepada pembangunan asrama ini. Di antaranya Mentri Perumahan Negara untuk menamadalah terjadinya revolusi pada awal tahun bahi kekurangan biaya sebesar 25 milyar 2011 lalu. Pihak KBRI pun selalu meminta Rupiah. kejelasan kepada pihak Al-Azhar tentang Asrama ini adalah asrama internasional kelanjutan proses pembangunan asrama milik Al-Azhar yang bukan hanya dihuni

06

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Doc. TëROBOSAN

Laporan Utama
oleh mahasiswa Indonesia, namun juga diisi oleh mahasiswa yang berasal dari negara lain sebagaimana asrama Bu`uts di Abbasiyah. Namun karena Indonesia turut membantu dalam pemberian dana maka Indonesia berhak untuk meminta jatah khusus bagi para mahasiswa Indonesia. Asrama ini masih diperuntukkan bagi para mahasiswa terlebih dahulu, akan dibangun secara bertahap dan kemudian rencananya akan dibangun juga asrama untuk mahasiswi. Pihaknya lebih jauh menuturkan bahwa karena Sumatera Utara adalah provinsi yang pertama kali memberikan dana bantuan, maka akan diberikan jatah khusus bagi para mahasiswa yang berasal dari sana, dan sisanya barulah dipilih sesuai dengan kriteria yang akan disusun nanti. Salah seorang mahasiswa yang diwawancarai oleh TëROBOSAN, M. Yusuf Hasibuan, Lc. menyebutkan bahwa pihak KBRI pernah menjanjikan jatah 50% asrama kepada mahasiswa yang berasal dari Sumatera Utara, hal itu karena pemerintah daerah Sumatera Utara adalah satu-satunya Pemda yang telah mengucurkan bantuannya. Namun di pihak lain Bapak Sangidu tidak menyebutkan bahwa jatah penghuni asrama itu diberikan 50% kepada mahasiswa Sumatera Utara, dalam artian dari seluruh gedung yang dibangun terdapat jatah setengahnya untuk mahasiswa Sumatera Utara. Pihaknya memberikan perhitungan jika misalkan satu buah gedung menghabiskan dana sebesar 7 milyar, dan Pemda SUMUT memberikan dana sebesar 5 milyar, maka bisa diperkirakan jatah yang akan didapatkan oleh para mahasiswa Sumatera Utara tersebut tidak akan lebih dari satu bangunan tersebut. Bahkan pihaknya mengatakan bahwa bisa saja tidak disediakan jatah bagi para mahasiswa yang berasal dari daerah yang mana pemerintah daerahnya tidak ikut berpartisipasi dalam pembangunan ini. Keadaan terakhir yang dipantau TëROBOSAN, Jum`at (12/10), lahan yang telah direncanakan sebagai tempat pembangunan asrama masihlah berupa lahan kosong, dan belum terlihat adanya alat berat ataupun bahan bangunan. Kami hanya menemukan tumpukan-tumpukan batu yang tersusun membentuk pola denah bangunan dan dihubungkan dengan garisgaris putih. Beberapa jejak alat berat menandakan bahwa proses pembangunan saat ini baru memasuki tahap pengukuran dan perataan tanah. Lokasi yang direncanakan itu relatif strategis, mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, terletak di dekat lapangan bola, dan berada dalam komplek kampus Al-Azhar yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Beberapa Negara lain juga diberitakan ingin membangun asrama di tempat itu, namun pihak Indonesia telah terlebih dahulu memberikan dana dan memilih tempat itu. Beberapa mahasiswa menaruh harapan besar pada proyek pembangunan asrama ini, salah seorang mahasiswi lain yang kami temui, Ima Hikmawati menuturkan bahwa pembangunan asrama ini sangatlah penting, terlebih lagi untuk para mahasiswi, melihat berbagai macam kegiatan yang terkadang diadakan hingga malam hari, dan keamanan Mesir yang sampai saat ini belum Tumpukan batu dan garis putih sebagai patokan bangunan. stabil.
Doc. TëROBOSAN

Pembangunan Asrama Dalam Angka

44 Milyar
Jumlah anggaran yang dibutuhkan

19 Milyar
Jumlah dana tersedia, berasal dari anggaran Kementrian Agama dan Pemerintah Daerah Sumatera Utara

25 Milyar
Kekurangan anggaran yang akan diajukan ke Kementrian Perumahan Rakyat

18 Bulan
Rencana lama proses pembangunan

4 Gedung, 1 Dapur
Pembangunan Asrama tahap awal.

Seorang mahasiswa lain, sebut saja Sofwan mengeluhkan ketidak jelasan berita tentang proyek pembangunan asrama ini. Ia telah mendengar rencana pembangunan asrama ini sejak pertama kali ia tiba di negeri ini pada empat tahun yang lalu, namun hingga tahun ini ketika ia telah jadi mahasiswa tingkat akhir, proses pembangunan asrama ini belum juga selesai. Para mahasiswa mengharapkan keterbukaan pihak KBRI dalam masalah ini agar tidak ada simpang siur dan saling curiga antara pihak mahasiswa dan para staff KBRI. [ë] (Faznir, Hikam)

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

07

Komentar Peristiwa

Haji Umroh Masisir Terganjal Hukum
Mengunjungi tanah suci Mekkah dan Madinah adalah impian setiap muslim di seluruh dunia, tak heran bahwa pengurusan Haji dan Umroh telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan dan menguntungkan sekaligus berpahala jika berhasil mengantarkan jemaah untuk beribadah ke tanah suci. Itu adalah salah satu hal yang mendasari banyaknya biro travel di kalangan Masisir, ditambah dengan minat untuk menunaikan Haji atau Umroh di kalangan Masisir yang tidak pernah surut. Dalam acara Warung Kopi yang diadakan oleh komunitas Rumah Budaya Akar, 12/9/2012, Ali Andika Wardana selaku perwakilan dari KBRI menjelaskan bahwa haji dan umroh erat kaitannya dengan surat izin untuk memasuki suatu negara, yang kita kenal dengan sebutan visa. Visa merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk memasuki suatu wilayah dari negara lain dan birokrasinya merupakan hak penuh negara yang bersangkutan. Haji bagi WNI di negara manapun awalnya bisa dilakukan langsung dari negara tempat ia berada tanpa harus ikut kuota yang disediakan untuk Indonesia, namun sejak keluarnya keputusan pihak Kementrian Haji dan Umroh Kerajaan Arab Saudi tahun 2010, seluruh warga negara yang hendak pergi haji haruslah mengikuti kuota yang telah disediakan untuk setiap negara. Hal itu berimbas pada gagalnya pemberangkatan haji beberapa orang Masisir pada tahun 2010 yang menandai berhentinya pemberangkatan haji WNI langsung dari Mesir. Lanjutan dari peraturan itu, pihak kementrian Haji dan Umroh Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan peraturan baru pada akhir tahun 2011 bahwa Umroh pun harus mengikuti kuota yang telah disediakan bagi setiap negara. Itulah salah satu penyebab tersendatnya birokrasi umroh pada tahun ini, dan itu jugalah yang menjadi alasan dijalaninya proses pengurusan visa untuk Masisir melalui kedutaan besar Kerajaan Arab Saudi di Indonesia. Namun pengurusan visa melalui kedutaan Arab Saudi di Indonesia ternyata terlalu beresiko. Sudah menjadi informasi umum bahwa pengurusan visa untuk Umroh beberapa tahun terakhir dilakukan dengan cara mengirimkan paspor kepada biro travel yang ada di Indonesia untuk selanjutnya diteruskan ke pihak kedutaan Arab Saudi. Dan jika pengurusan visa berhasil, paspor itu kembali dikirimkan kepada biro travel Masisir di Mesir. Perpindahan tangan paspor dari calon jemaah ke biro travel dan kemudian dikirimkan ke Indonesia sebenarnya merupakan tidakan yang bertentangan dengan hukum. Karena paspor adalah bukti identitas seorang warga negara yang berada di wilayah negara lain, di dalamnya terdapat identitas diri beserta izin menetap yang diberikan oleh negara kepada yang bersangkutan. Jika saja terjadi suatu hal yang tidak diduga, calon jemaah bisa terjerat dengan undang-undang keimigrasian Mesir yang bisa saja berujung pada pemulangan secara paksa sebagaimana yang terjadi kepada dua orang Masisir tahun lalu, terlebih lagi karena paspor yang bersangkutan berada di negara lain— Indonesia. Pengiriman dokumen pribadi berbentuk paspor ke negara lain pun bisa saja tersandung undang-undang yang berlaku karena merupakan penyelundupan dokumen milik negara sebagaimana yang tertulis pada halaman terakhir paspor. Proses birokrasi seperti itu pun tidak memiliki landasan hukum yang kuat yang bisa dijadikan pegangan jika tersandung dengan undang-undang lain yang berlaku. Untuk masalah ini, beberapa travel telah mengambil inisiatif untuk meminta surat perjalanan laksana paspor (SPLP) dari pihak konsuler KBRI sebagai pegangan selama paspor berada di tangan travel, namun itupun bisa saja bermasalah karena SPLP hanya bisa dikeluarkan untuk kasus kehilangan paspor bagi WNI yang berkunjung sementara dan tidak menetap di Mesir. SPLP sebenarnya tidak bisa dikeluarkan untuk WNI yang menetap di Mesir, karena jika ada kasus kehilangan paspor bagi WNI yang menetap, konsuler akan langsung membuatkan paspor baru bagi yang bersangkutan. Lain halnya dengan WNI yang tidak menetap, konsuler akan memberikan surat SPLP sebagai pegangan sementara. Resiko lain yang dihadapi oleh biro visa khususnya untuk umroh bulan Ramadhan adalah kemungkinan bagi para jemaah untuk melanggar peraturan keimigrasian dengan cara bersembunyi hingga musim haji tiba, biasa dikenal dengan istilah tahkalluf atau overstay. Hal itu adalah pelanggaran hukum yang bukan saja merugikan pihak jemaah yang bersangkutan, namun lebih lanjut bisa merugikan pihak biro travel dan pihak-pihak lain yang berkaitan. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Informatika edisi 164 bahwa ada satu biro travel yang tidak lagi mendapatkan kepercayaan untuk mengurusi umroh. Bahkan dampak yang lebih jauh lagi akan terasa, yaitu hilangnya kepercayaan pihak travel di Indonesia kepada Masisir secara keseluruhan, dikarenakan seringnya terjadi kasus overstay yang dilakukan oleh beberapa orang mahasiswa Indonesia di Mesir. Kendala utama memang terdapat pada tidak adanya landasan atau undangundang yang mengatur urusan Haji Umroh bagi WNI yang berada di Luar Negeri. Satu -satunya peraturan yang ada hanyalah UU no. 13 tahun 2008, tentang penyelenggaraan ibadah haji, bab VI pasal 27. Itupun hanya berbunyi: “Ketentuan lebih lanjut mengenai Warga Negara di luar negeri yang akan menunaikan ibadah haji diatur dengan peraturan pemerintah”, namun hingga saat ini belum ada peraturan pemerintah yang mengatur hal itu. Ali Andika Wardana menambahkan bahwa pihak KBRI bisa mengirimkan nota diplomat kepada pihak-pihak yang terkait agar dapat mengusahakan dikeluarkannya peraturan pemerintah yang mengatur proses birokrasi Haji Umroh bagi WNI yang berada di luar negeri. Senada dengan di atas, Presiden PPMI, Jamil Abdul Latif pun mendukung rencana itu dan ia pun berencana untuk membuat tim yang terdiri dari pihak-pihak yang mengerti hukum fikih dan perundang-undangan untuk membuat surat permohonan atau pernyataan sikap berkenaan dengan masalah haji dan umroh, dan mengirimkannya ke beberapa lembaga yang terkait dalam masalah ini. Semoga solusi yang mereka tawarkan bisa terlaksana dan bukan hanya sebuah rencana tanpa aksi. [ë] (Fahmi)

08

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Opini

Haji Umroh Masisir dalam tinjauan fikih
Oleh: Adhi Maftuhin*
Siapapun muslim tahu bahwa haji merupakan pilar agama yang ke lima dan dihukumi wajib 'ain. Sedang hukum umroh tidak semua ulama bersepakat akan kewajibannya, sebagian ulama (Hanafiyah dan Malikiyah) mengatakan bahwa umroh cuma sunnah muakkad, dan perlu diingat bahwa kewajiban (sunah muakkad) melaksanakan haji/umroh diberi qoyyid "bagi yang mampu menjalankannya', tidak diperuntukan bagi selain yang mampu. Yang menjadi pertanyaan, apakah hukum wajib dari haji dan umroh bersifat absolute, tidak dapat diganggu gugat sehingga berbagai jalan—kalau tidak mau mengatakan menghalalkan berbagai macam cara—dan langkah ditempuh agar dapat melaksanakannya. Dan dalam ruang lingkup negara masisir yang kita diami ini apakah rakyatnya sudah dibebani kewajiban melaksanakannya? Setelah pertanyaan pertama dijawab, selanjutnya adalah ketika haji dan umroh tidak selamanya wajib,—mungkin juga berubah hukumnya menjadi haram—dan si calon haji/umroh bersikeras melaksanakannya tanpa mempedulikan rambu-rambu pelaksanaan yang telah diatur oleh pihak yang punya wewenang, apakah haji dan umroh warga masisir sah dan mabrur?. Dari berbagai kejadian yang terjadi dalam komunitas masisir dan telah dikupas tuntas dalam acara warung kopi di rumah budaya akar pada rabu malam 12/9/12 penulis memetik banyak sekali tashowur permasalahan yang terjadi dalam masyarakat masisir, akan tetapi karena keterbatasan tempat maka yang akan dibahas dalam tulisan ini hanya beberapa poin problematika haji/umroh masisir menurut sudut pandang fukaha. Pertama, kita akan membahas apakah hukum haji dan umroh bersifat absolute dan tidak dapat diganggu gugat. Sebagaimana perintah-perintah Alloh lain selain haji yang tidak bersifat paten, haji dan umroh juga tidak selamanya dihukumi wajib. Pada satu waktu hukum wajib dari umroh dan haji dapat berubah menjadi haram, misal saja Ibadah haji dengan menggunakan harta haram, dapat pula berubah menjadi makruh, sepeti haji yang dilaksanakan tanpa meminta izin dari orang yang wajib dimintai izin, contoh mudah adalah si calon haji sangat dibutuhkan oleh kedua orang tuanya dalam berbagai hal. Setelah kita tau bahwa ibadah haji/ umroh yang hukum aslinya adalah wajib dan dapat berubah menjadi sunah, makruh, haram dan seterusnya, label apa yang akan kita sematkan pada pelaksanaan haji masisir? Lebih tepatnya apakah masisir sudah (masih) berkewajiban untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, padahal kita ketahui bersama bahwa pintu haji dan umroh (bulan ramadhan) seolah sudah tertutup, dan untuk membukanya kadang dengan cara paksa atau masuk dari pintu belakang. Baiklah, untuk dapat mengetahui apakah komunitas masisir berkewajiban haji/umroh atau tidak maka kita harus memperbincangkan dulu masalah syarat. Melihat Obyek penerima taklif (mukallaf), syarat di bagi menjadi dua yaitu syarat umum dan syarat khusus. syarat umum adalah syarat yang dikenakan kepada pria dan wanita, sedangkan syarat khusus adalah syarat yang hanya ditujukan untuk kaum hawa saja. Kita ketahui bersama bahwa konsekwensi dari tidak terpenuhinya syarat adalah mukallaf tidak berkewajiban melaksanakan ibadah haji. Sedangkan apabila si calon haji tetap bersikeras melaksanakan haji maka sah atau tidaknya ibadah yang dilakukan tergantung pada amaliyah ibadah haji yang dilakukan. Walhasil antara kewajiban dan keabsahan ibadahnya tidak saling terkait satu dengan yang lain. Kembali ke masalah syarat. Yang tercakup dalam Syarat umum adalah syarat sah, syarat wajib dan syarat ijza". Dari ketiga macam syarat tersebut ada syarat yang tercakup dalam syarat wujub dan sah yaitu berupa islam dan berakalnya si calon haji. Maksudnya adalah selain muslim tidak berkewajiban untuk melaksanakan haji, toh andaikan ia menunaikannya maka hajinya tidak sah. Kedua adalah syarat yang termasuk dalam syarat wujub dan ijza' yaitu baligh dan merdeka. Maksudnya, jika seorang muslim belum baligh atau statusnya adalah budak maka ia tidak berkewajiban melaksanakan ibadah haji, andai saja ia melaksanakan haji maka apabila nanti ia dewasa/ merdeka dan mampu melaksanakannya maka ia harus mengulang hajinya. Dan yang terahir adalah syarat yang termasuk dalam syarat wujub yaitu mampu (Istitho'ah) melaksanakan ibadah haji. Dan Syarat yang terahir inilah yang akan kita ulas bersama. Istitho'ah adalah uji kelayakan bagi calon haji agar masuk dalam ranah wajib, yakni standar minimum bagi calon haji agar dirinya masuk pada lingkaran orangorang yang berkewajiban melaksanakannya. Berkenaan dengan istitho'ah, Rasul menjelaskan bahwa orang yang termasuk dalam kalangan istithoah adalah orang yang punya kemampuan untuk berziarah ke Mekah. Hanya saja, dalam menafsiri kata "mampu" para fuqoha berbeda pendapat. Ulama hanafiyah mengatakan bahwa kata "istitho'ah" mencakup tiga aspek, yaitu kemampuan fisik dari calon haji (istithoah badaniyah), kemapanan financial (istithoah maliyah), yaitu adanya biaya untuk pulang pergi dari tanah air ke mekah dan adanya alat transportasi yang layak dan terahir adalah istithoah amniyah yaitu adanya stabilitas keamanan di perjalanan dan di tanah haram. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa "istithoah" adalah kemampuan untuk sampai ke tanah haram sesuai dengan cara orang kebanyakan, baik dengan cara berjalan atau menggunakan alat transportasi, yakni kemampuan untuk berziarah ke tanah haram saja, tidak memperhatikan apakah nantinya dapat pulang ke tanah kelahirannya atau tidak. Dari devinisi kata "istithoah'' menurut cara pandang ulama Malikiyah maka seorang muslim yang bermadzhab maliki berkewajiban untuk melaksanakan ibadah haji bila : pertama, mempunyai kekuatan fisik menuju tanah haram, maka orang yang mampu berjalan menuju mekah ataupun orang buta yang mempunyai seorang penunjuk jalan wajib melaksanakan haji. Kedua, Punya kemampuan financial, untuk masalah mampu dalam bidang financial ulama malikiyah cenderung tasyadud, sehingga orang yang tidak punya kecukupan dalam finansialnya akan tetapi mampu bekerja ditengahtengah perjalanan menuju mekah masuk dalam kategori wajib haji. Begitu ju-

Bersambung ke hal. 13...

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

09

Sastra
Oleh: Imron Rosyidi Muhammad* Entah dari mana aku harus memulainya. Tapi, baiklah. Akan aku coba perlahan-lahan menceritakan apa yang hendak ingin ku sampaikan. Aku harap kau tidak mual kemudian muntah-muntah lantaran ceritaku yang berada ditanganmu ini sangat buruk. Sebelum aku bercerita, satu hal yang aku minta. Setelah kau mendapatkan ceritaku ini, kau bebas menganggapku cerita murahan tak bermutu. Namun, aku tidak akan rela kau memaki dan mencaci lalu membuang ceritaku ini ke tong sampah sebelum kau tuntas membacanya. Karena, seburuk apapun ceritaku ini, menurutku, kau tak berhak untuk membuangku ke tempat sampah tanpa membacanya terlebih dahulu. Meskipun sebenarnya, di sanalah kuburanku. Maaf, terlalu banyak meminta, membuatku lupa mengenalkan siapa diriku sebenarnya. Okay, aku adalah media informasi Masisir. Kau pasti tahu apa itu MASISIR. Ya! Sebuah komunitas masyarakat Indonesia yang ada di Mesir. Dan konon, maknanya sudah dipersempit lagi menjadi komunitas pelajar saja. Entahlah, aku tak mau ambil pusing masalah definisi “MASISIR” tersebut. Agar kau dan aku lebih akrab, kau boleh menyebutku buletin. Perlu kau ketahui, tepat sekarang ini, aku bercerita dalam keadaan sekarat. Aku hampir mati. Mati secara majasi dan mati dalam makna sebenarnya. Hilang dalam kehidupan. Kala aku mengingat bagaimana aku diciptakan dan berjaya, kesedihanku semakin dalam menikam. Pedihnya meraung-raung. Dan itu sangat menakutkan. Seperti kesedihan seorang ibu melihat anak balitanya tertabrak truck tronton. Mengenaskan bukan? Ibarat seorang pedagang, aku pernah sampai pada puncak kekayaanku. Namun dalam kurun waktu yang sebentar semuanya habis tanpa bekas. Begitulah nasibku. Dulu kehadiranku pernah ditunggu-tunggu dan dinanti-nanti. Itu adalah masa indahku. Namun sayang. Semua hanyalah masa lalu. Dan tak ada pada zaman sekarang ini. Zaman di mana Iphone dan BlackBerry menjadi raja. Awal kematianku dimulai sejak Facebook menjadi candu bagi MASISIR. Tak perlu heran. Semua sudah tahu, hampir mayoritas masisir terbius racun internet. Hari-harinya hanya diisi dengan berfatamorgana dalam dunia maya. Chating adalah kesehariannya. Browsing kesanakemari tak jelas, sudah menjadi tradisi tak terelakan. Sudah menjadi rahasia umum dan dianggap lumrah. Tahukah engkau, dulu ketika aku masih berjaya, aku tersenyum melihat aktivis-aktivis yang berjuang suka rela untuk membuatku tetap hidup. Mereka mengadakan rapat untuk menentukan tema besar yang akan dimuat dalam diriku ini. Kemudian, bermodalkan buku tulis, ballpoint dan alat perekam suara, mereka bergerilya mencari sumber-sumber informasi. Seperti seekor singa yang berburu di tengah kelaparanya. Lapar akan informasi. Uang? Mereka tak mengharapkannya. Seperser pun mereka tak mendapatkannya. Sekali lagi, mereka suka rela mempertahankan hidupku. Aku harap kau tak bertanya kemana mereka sekarang. Itu membuatku sedih semakin dalam lagi. Aku sendiri tidak tahu pasti kemana mereka pergi. Ada yang bilang sebagian dari mereka sudah terjangkit virus Facebook. Sebagian lagi, aku dengar sudah mati tenggelam dalam lautan asmara. Ahh, sebenarnya, aku merasa sedikit mual ketika mendengar kata “asmara”. Dan yang paling membuatku terkejut, aku mendengar kabar bahwa para “ksatria” yang mempertahankanku untuk hidup dulu itu, kini sudah mulai sibuk mencari uang. Seharusnya, aku tak perlu terkejut. Toh, memang benar kata orang-orang, uang nyaris dapat membeli apapu. Jangankan idealisme, kesetiaan, wanita, bahkan harga diri bisa dibeli dengan mudah. Hidup memang keras. Aku tak menyalahkan mereka yang meninggalkanku demi mencari uang. Karena memang begitulah hidup. Harus ada yang ditinggalkan demi sesuatu yang lebih berharga. Uang. Sedang aku? Aku tak menjanjikan apapun kepada mereka. Aku hanya menawarkan sebuah pengalaman untuk mereka. Memang aku tak dapat memberi mereka kebutuhan materi. Namun, dalam bidang wawasan, ilmu, pengalaman dan halhal yang bersiifat jurnalistik, aku memiliki peran tersendiri dalam hal tersebut. Sekali lagi. Aku tidak menyalahkan mereka yang meninggalkanku, atau mereka yang mencampakkanku di jalan-jalan kotor berdebu sampai pemungut sampah datang memungutku. Aku tidak menyalahkan mereka. Sama sekali tidak. Aku hanya prihatin pada nasibku yang selalu berakhir di tempat sampah. Melebur bersama sisa-sia makanan yang membusuk dan pembalut wanita yang menjijikkan. Terkadang dalam sakitku yang parah ini, aku teringat pada “konsumen informasi” yang dengan setia menunggu jadwal terbitku. Membeliku dan membaca menu berita yang aku sajikan. Mulai dari berita keamanan MASISIR sebagai menu hangat musim dingin, perjalanan kepengurusan PPMI sebagai menu tetap, bahkan gosipgosip lembaga tertinggi Indonesia di Mesir KBRI, Sebagai menu sepesial yang aku hidangkan di setiap terbit. Tidak lupa karya-karya MASISIR yang menjadi tambahan suplemen. Dan kini, pelanggan setiaku itu satu demi satu hilang. Bulan demi bulan, mereka semakin sedikit. Sepertinya mereka sudah mulai bosan menyantapku. Mereka beralih mengkonsumsi berita cepat saji. Bolehlah kita menyebutnya “fastfood”. Sebagaimana fastfood sebenarnya. Menarik dilihat. Lebih enak. Namun sedikit gizinya. Pun begitu dengan “Fastfood” yang aku maksud tadi. Dibuat secara cepat tanpa bumbu informasi yang mendalam. Tak ada daftar sumber berita. Semua hanya gosip dari mulut ke mulut. Kau tahu di mana tempat menjual “fastfood” tersebut itu? Facebook. Ya lagilagi Facebook. Oh.. Tidak. Jangan menuduhku anti-Facebook. Seperti orang-orang yang menyebut diri mereka beriman

Cerita Terakhir

10

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Sastra
menuduh Ozzy Osbourne sebagai antiChrist. Aku tak membenci jejaring sosial yang ditemukan Mark Zuckerberk yang kini telah menjadi milyoner muda itu. Demi tinta di tubuhku aku tak membencinya. Dulu, hampir setiap 2 minggu sekali aku terbit dan menyebar di rumah-rumah MASISIR. Berbagai perlakuan berbeda aku terima. Seperti ceritaku tadi, ada yang membacaku sungguh-sungguh. Ada yang membeliku hanya lantaran kasihan kepada aktivis yang menjualku door to door layaknya gerilyawan komunis menyebarkan ajarannya. Dan tak sedikit pula yang menolak untuk menukarkan uang Le 1-nya dengan diriku. Aku tidak menghakimi mereka sebagai orang pelit. Menurutku mereka hanya berpikir tak ada gunaya membeliku. Berita murahan. Oh ya, aku lupa satu hal. Aku sedikit membenci anak kecil. Mungkin kau akan bertanya, “mengapa ada anak kecil dalam ceritaku?” aku kira kau pasti tahu bahwa dari sekian ribu MASISIR banyak yang memiliki balita. Bagiku, anak kecil itu adalah pembunuh sadis. Datang menghampariku dengan ballpoint tergenggam ditangan. Bagai pembunuh berdarah dingin memegang pisau dan kemudian menancapkannya tepat di dadaku mencorat-coret ke kanan dan ke kiri hingga tulisanku tak tampak lagi. Bahkan kadang sampai aku terkoyak sobek tak beraturan. Ironisnya, bapak-ibunya yang MASISIR dan yang “pelajar” itu tak merasa risih sedikitpun. Padahal mereka belum juga membacaku. Jangankan risih, mereka malah tertawa melihat kelucuan anaknya. Lucu? Bagiku itu bukan sesuatu yang lucu. Itu adalah pembunuhan terganas. Dalam keadaan seperti itu, aku merasa amat tak berguna. Lebih baik aku tak pernah diciptakan kalau begitu halnya. Baiklah. Sekarang, kau boleh menjadikanku sebagai alas panci agar tak menodai karpetmu. Atau, kau boleh membuangku. Satu hal saja yang tak boleh kau lakukan; menyerahkanku kepada anak kecil. Aku tak mau seperti tumpukan ikan asin di depan kucing yang kelaparan. Dan sekarang aku benar-benar selesai. Aku harap ini bukan cerita terakhirku. Aku masih ingin bercerita lagi. Semoga!

Janji Kelabu
Oleh: Wahyuni Nch Aku dipangku pewayangan mesra Membutakanku dengan paradigma keabadian Beremang cahaya lilin mengandung karsa kasih sayang Sesaat ia meredup, merangkulku dengan dawai cinta Dan kau menggelandangku ke dunia asing berpawai asmara Ku akui .. Dunia itu menyilaukanku dengan keglamoran Tertutup jujur oleh gelap bayang Pancabuta berdinding emas, syurga terpampang Janggal ku dapat.. Satu rumah kecil putih kusam tak ber atap Dipintunya berdiri puluhan orang terengap -engap Dikepalanya gagak hitam menghinggap. Sungguh wajah2 pucat kian muram, penuh ketakutan Ku tanyaimu, "apa gerangan ?" "Itu sebuah pemula keabadian" jawabmu berbalik dan tersenyum membelakangiku. Menggelagak kesal sejenak berhambur heran Kudapati linangan air mata darah, berisak sesenggukan Gelisahku bercampur haru Disambar gugup disambi pilu Aku mendengar api bergumam Menari-nari mengitari mereka hingga terbakar lantas menghilang Kutelan ludah sembari mengelus dada Baku bercangkang api pun tergenggam "Apa ini? Inikah janjimu?" Dan kaupun mentertawakanku, "keparat!!!" Teriakku. Angin mulai berhembus kencang, bumi tergoncang dan langitpun bergoyang Aku terkoyak,,, aku terkoyak,,, Tertatih aku dibelantara mayat-mayat bisu Teresot aku tagih solekan janji kelabu Lunglai rantas terinjak Aku terkoyak,,, Terkapar sakit yang mendesak memuncak Barah bernanah darah dikacak Lantas gagak hitam terdengar bersiuul... Kaupun terbahak,

TO ING Të Bë ëS
Suatu hari To dan Ing sedang ngobrol sambil ngashab. Mereka berdua tengah terlihat begitu serius berbincang-bincang. To : Akhir-akhir ini ane pusing ni Ing. Masisir bikin puyeng aktifitas kita ni Ing. Ing : Wah ente pusing kenapa bro? Perasaan hidup ente enjoy-enjoy aja. To : Payah ah ente. Sebagai aktifis kita perlu pusing dong ngelihat sengkarut yang ada di Masisir ini. Ing : Busyett...Gaya ente aktifis ya sekarang? Okelah kalo gitu. Gini-gini ane juga aktifis bro. Trus ente mau ngapain kalo lihat Masisir udah kacau kaya gini? To : Ya ane mau berjuang membangun komunitas yang progresif pastinya. Jangan sampe dah aktifitasnya mencerminkan kegiatan yang nggak bermutu. Ing : Haishhh... Udah kaya calon yang maju debat kandidat ketua PPMI aja bahasa ente. Trus yang progresif tu yang kaya apa? To : Ya yang mencerminkan kegiatan mahasiswa. Kaya belajar bareng, diskusi dan ya begitu-begitu. Ing : Wah kamu benar-benar hidup bervisi tajam. Kaya pisau dapur. Akakakak. To : Udah malam ni, kita balik yuk? Eh Ing besok pinjem baju ya? Ane belum nyuci sebulan ni. Hahaha, Ing : Hayah, bilangnya aktifis sejati. Nyuci aja males. klowor luuu!!! Kalo mau minjem, boleh deh. Asal lu bayarin empat manggo gue. To : Kamprettttttt!!!!! [ë]

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

11

Bahasa

Pena Bulu De Sade
Oleh: Ach. Nurcholis majid “Dalam kondisi terpuruk, penulis tumbuh seperti musim semi” Sebenarnya tidak ada orang gila yang menulis. Tetapi Marquis De Sade tidak bisa mengelak dari putusan hukuman. Sebab, novel “Justine et Juliette” yang ditulisnya lahir seperti api. Dan hanya karena novel yang seperti api itu, kaisar Napoleon memerintahkan seorang ahli jiwa, Dr. Royer, untuk menghentikan aktivitas menulis De Sade. Sayangnya, De Sade adalah penulis yang merasa terlampau bebas. Tidak cukup penjara yang dingin untuk memadamkan gairahnya. Itu sebabnya, walaupun berulang kali ia dijebloskan ke dalam penjara, gairahnya tetap sama. Bahkan sekalipun penjara yang ditempatinya adalah rumah sakit jiwa. Berkumpul dengan orangorang gila. Bagi sebagian orang, barangkali penjara adalah sebuah keterpurukan. Tapi sekali lagi, De Sade adalah seorang penulis. Penikmat keterpurukan dan pemburu kesedihan. Keduanya; rasa terpuruk dan sedih, ditampung untuk ditulis dengan suka cita. Pantas, jika di dalam penjara, ia malah merayakan kegembiraannya dengan produktivitas. Produktivitas menulis dengan mendedahkan suatu kebenaran dalam sebuah prosa. Di atas kertas ia ungkapkan semua kebenaran itu seperti mengangkat sebuah cermin. Sikap dan kondisi tertentu dipantulkan apa adanya. Sayangnya, beberapa orang tidak menyukai apa yang dilihatnya dalam cermin. Padahal cermin adalah wajah itu sendiri, yang dipantulkan dengan sedikit kebohongan saja: posisi kanan dan kiri yang terbalik. Itulah alasannya dokter baru di rumah sakit jiwa itu, Dr. Royel begitu tak menyukai De Sade, karena sebuah naskah drama yang dipentaskan di depan umum dan disaksikan dirinya, seperti memantulkan bayangan dirinya yang buruk. Dan setelah itu juga, Dr. Royel menghukum De Sade lebih keras, bahkan lebih keras dari melatih seekor anjing. “Tidakkah kau lihat munafiq. Semakin lama kau menyiksaku, semakin dalam prinsipku tertanam,” ucap De Sade dalam penyiksaan itu. Sebenarnya naskah drama yang ditulis De Sade sangat biasa, sebuah cerita yang terinspirasi dari kemunafikan Dr. Royel, karena menikahi wanita muda yang lebih pantas menjadi anaknya, dengan imingiming kekayaan dan kehidupan mewah melimpah. Tetapi kebenaran yang ditulis memang jauh lebih melukai dan abadi, terkadang merisaukan, bahkan membunuh. Andai diteliti, hal yang paling menakutkan bagi kejahatan, barangkali adalah goresan pena seorang penulis. Karenanya, penulis selalu terbiasa dipandang dengan kecurigaan. Dibui dan diasingkan. Persis seperti kehidupan De Sade, yang kemudian menginspirasi kata “sadis”, karena kehidupan dan prosaprosa yang ditulisnya. Tentunya, kesadisan yang tidak sebanding dengan Hitler. Sadis, karena memang setiap penulis berusaha merekam kengerian-kengerian, merekam kebahagiaan-kebahagiaan. Termasuk juga mimpi buruk. Tugas itu yang selama ini juga dilakukan De Sade. Hingga pena bulu (Quills) dan buku-buku miliknya, harus dibuang dan dijauhkan. Memang ada beberapa tulisan yang menakutkan, tetapi setiap tulisan dipikirkan dari sesuatu yang matang, sekalipun itu tentang kejahatan dan dengan tujuan kejahatan. Kecuali tulisan yang lahir dari penulis yang menghasilkan tulisan jauh lebih banyak dari apa yang ia baca. Karena penulis seperti ini adalah penulis amatir. Tetapi bukan berarti, seorang penulis yang membaca beratus-ratus buku, kemudian menulis satu tulisan adalah penulis berkualitas. Sebab, kualitas penulis tergantung seberapa jujur ia dalam tulisannya. Seberapa ikhlas ia menulis dan tanpa pretensi. Sementara kondisi buruk, hanyalah kebahagiaan yang dibuat tak menarik. “Dalam kondisi terpuruk, penulis tumbuh seperti musim semi.” Ucap De Sade, ketika kebebasan menulisnya semakin terpuruk. Saya tidak tahu seberapa relevannya cerita De Sade dengan kondisi penulis sekarang. Hanya yang saya tahu, De Sade memberi contoh semangat yang baik. Ia tidak mengharap ketenaran dan kedudukan, ia hanya membiarkan orangorang berhutang pada buku-buku, pada tulisannya. Dua puluh sembilan tahun, bahkan lebih, De Sade dipenjara. Diasingkan, ditinggalkan istri dan orang-orang tercintanya. Hanya karena kesenangannya menulis. Sadisnya, bahkan ketika semua itu ia tulis dengan tujuan yang tulus, nama De Sade, harus menjadi inspirasi kata “sadis”. Sebagai pembelaan, ia mengatakan, “dengan mendedahkan kejahatan secara berlebihan, begitu telanjang dan provokatif, saya ingin pembaca muak, mual, dan jijik, dan lalu berpikir menyimpang, kembali ke arah kebaikan.” Sayang orang-orang sok suci, selalu melihat kebaikan dari sisi yang sama. Sehingga kebaikan dari sisi yang berbeda, selalu tampak lebih buruk. Dan sebagai penulis, tidak ada yang lebih menakutkan bagi De Sade, kecuali tulisan yang tak terbaca, dan kebohongankebohongan yang sukses ditulis dengan kata-kata. Sementara penjara dan keterpurukan, tidak ada artinya, dibanding rasa gembira karena tulisantulisan yang hidup dan menginspirasi. Masalah De Sade adalah penulis yang “sadis” dan “porno”, saya tidak bisa menilai lebih jauh. Saya hanya ingin mengutip sebuah petikan pada film “Quills”: St. Agustinus memberitahu kita bahwa, malaikat dan setan berjalan di antara kita di bumi. Kadang-kadang mereka bersama-sama menghuni jiwa seseorang secara bersamaan. Lalu bagaimana kita benar-benar tahu siapa yang benar-benar baik dan jahat?” Ach. Nurcholis Majid, esais, berumah maya di choise_31@yahoo.com

12

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Seputar Kita

Back to Campus Show Awali Tahun Ajaran Baru
Beberapa hari lalu Wihdah baru saja mengadakan dua rangkaian kegiatan Back to Campus Show (B2C Show) di halaman kampus putri AlAzhar, Hay Sadis. Dua rangkaian kegiatan ini dilaksanakan dalam dua hari berturut-turut yaitu Musabaqat Wuddiyah pada hari ahad (7/10) dan Hamlah Azhar pada keesokan harinya, ahad (8/10) Rentetan kegiatan ini dibuka oleh Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah wa al-Arabiyah, Dr. Muhghah Ghalib dengan pengguntingan pita yang menandakan dimulainya rentetan kegiatan ini. Pada hari pertama dilaksanakan kegiatan Musabaqat Wuddiyah yang menyajikan berbagai macam perlombaan antar mahasiswi, di antaranya adalah Tarik Tambang, Estafet Kelereng, Mencari Koin, Volley Sarung dan Menginjak Balon. Rentetan kegiatan pada hari selanjutnya adalah Hamalah Azhar, yaitu pembersihan seluruh komplek kampus. Para mahasiswi dari berbagai negara terlihat bersama-sama membersihkan kampus Lanjutan dari hal. 9...
ga orang yang hanya punya tanah sepetak dan hasil dari tanah tersebut untuk makan anak istri dan jikalau dijual dapat mencukupi untuk biaya ke mekah maka wajib menjual tanahnya, karena ia termasuk dalam kategori orang yang berkewajiban haji. Dan ketiga adalah adanya keamanan bagi jiwa dan hartanya dalam perjalanan. Istitho'ah dalam madzhab Syafi'I dibagi menjadi dua, yaitu Istithoah bi nafsi dan istithoah Bi Al ghoir. Ulama Syafi’iyah memberikan tujuh batasan agar si calon haji masuk dalam kategori wajib haji, yaitu: 1. Mampu secara fisik, 2. Mampu dalam bidang financial 3. Adanya alat transportasi 4. Jaminan keselamatan dalam perjalanan 5. Jaminan logistic 6. Adanya mahrom bagi kaum hawa, dan 7. Cukup waktu untuk melaksanakannya setelah semua sarat diatas terpenuhi Terahir adalah Istitho’ah menurut Hanabilah. Mereka berpendapat bahwa istithoah adalah tercukupinya biaya untuk haji/umroh dan adanya alat transportasi. Setelah mengetahui konsep istitho’ah menurut empat madzhab sudah barang

yang terlibat, dan juga proposal dari Râbithah al-`Âlamiyah li Khirrîj alAzhar. Ia pun melanjutkan bahwa sebenarnya masih ada satu rentetan acara yaitu pagelaran seni, yang direncanakan akan menampilkan berbagai macam kebudayaan dari berbagai bangsa. Salah satu penampilan yang telah disiapkan oleh wakil dari Indonesia adalah Tari Nusantara dan Orkestra yang terdiri dari berbagai macam alat musik dan Image: facebook.com/nurul.chasanah. membawakan beberapa lagu daerah dari Indonesia. Namun keputusan setelah sebelumnya ditinggalkan kurang terkait masalah pelaksanaan kegiatan ini lebih selama tiga bulan. masih berada di pihak dekan kuliah. Ketika diwawancarai oleh TëROBO“Diharapkan dengan adanya SAN, Nurul Chasanah selaku ketua kegiatan tersebut semakin memotivasi Wihdah menuturkan bahwa kegiatan ini mahasiswi dalam menuntut ilmu demi merupakan kerjasama antar keputrian bekal masa depan kelak, mengenal budaya tadhamun Asean, yang terdiri dari Indoneantar bangsa, menambah kecintaan mahasia, Malaysia, Thailand dan Singapura. siswi terhadap kampus, serta mempunyai Rentetan kegiatan ini membutuhkan angmakna yang berarti dan amalan ibadah garan sebesar 9.254 LE. yang berasal dari yang senantiasa mendapat ridho Allah iuran tiap negara masing-masing sebesar Swt. Amin!.” tutur mahasiswi Jurusan Fil200 LE., proposal ke tiap kedutaan negara safat tingkat 4 ini. [ë]
tentu kita dapat meraba apakah warga masisir masuk dalam lingkaran wajib haji atau masih berada diluarnya. Penting untuk digaris bawahi bahwa kemampuan dalam bidang financial diatas adalah si calon haji/umroh punya kemampuan sendiri untuk membiayai perjalanan pulang pergi dari dan menuju mekah, dengan kata lain si calon haji membiayainya dari kocek sendiri tanpa meminta kepada orang lain. Bagi yang punya utang harus melunasi utang-utangnya dulu. Bagi yang sudah ngebet banget nikah maka ia wajib mendahulukan nikahnya, dan masih banyak lagi furu’ fikih yang lahir dari pembahasan syarat-syarat diatas. Dan yang harus diperhatikan sekali adalah kewajiban untuk taat kepada aturan pihak yang berwenang dan tidak menempuh jalur belakang atau jalan yang berliku, apalagi sampai memberikan pungli pada preman untuk sekedar mendapatkan visa. Karena hal-hal semacam ini akan menghambat diterima atau tidaknya ibadah haji/umroh kita. Hal terahir yang akan kita bahas adalah tentang status sah dan tidaknya ibadah haji/umroh masisir beserta kemabrurannya. Telah disinggung diatas bahwa antara kewajiban melaksanakan ibadah haji/umroh dan status sah tidaknya ibadah yang dilakukan tidak ada talazum diantara keduanya. Walhasil, orang yang tidak berkewajiban haji akan tetapi bersikeras melaksanakannya akan mendapatkan status haji/umroh yang sah asalkan manasiknya telah dijalankan dengan sempurna. Hal ini sama persis dengan sholat yang dilakukan dengan sempurna akan tetapi si musholi memakai pakaian yang dighosob dari temannya. Sholat orang tersebut sah akan tetapi di satu sisi mendatangkan dosa. Hal ini juga berlaku dalam ibadah haji. Contoh mudah dari kasus ini adalah haji takholuf alias haji mbonek. Jika si calon haji melaksanakan ritual ibadah haji dengan sempurna maka hajinya sah, akan tetapi dilihat dari sudut pandang hukum taklify si calon haji melanggar perjanjian dengan pihak travel dan melanggar aturan hukum Negara. Lantas haji yang semacam itu apakah masih kita hukumi haji yang mabrur? *Penulis adalah anggota Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PCI NU Mesir,

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

13

Dinamika

Layakkah Menjadi Alumni Al-Azhar?
Oleh: Ahmad Satriawan Hariadi*
Perubahan adalah tabiat kehidupan. Dengan kata lain, alam semesta beserta isinya ini tidak mengenal kata diam. Tapi terus melakukan pergerakan-pergerakan yang sesuai dengan tabiat masing-masing. Rotasi bumi, metamorfosis kupu-kupu, pertumbuhan manusia, dan lain-lain—merupakan hal yang bisa dirasakan atau dilihat secara langsung oleh indera manusia. Artinya, jika anda mendapati seseorang yang terus menerus stagnan alias tidak mau bergerak—baik untuk menuntut ilmu ataupun bekerja, maka pastikan bahwa orang tersebut telah menyimpang dari lintasan kehidupan yang semestinya ia tempuh. Orang semacam ini harus sesegera mungkin disingkirkan dari kafilah kehidupan. Dunia akademis merupakan miniatur dari dunia yang sesungguhnya. Jika pada awal tahun akademik para mahasiswa baru mulai merasakan dunia perkuliahan, maka saat itu juga para mahasiswa tingkat akhir mulai beranjak meninggalkan dunia lamanya. Inilah yang sedang dirasakan oleh para mahasiswa maupun alumni baru al-Azhar saat ini. Setiap tahun, ratusan wisudawan dan wisudawati Indonesia lahir dari rahim alAzhar. Ibu Pertiwi patut berbangga dengan hal ini. Bagaimana tidak, pendidik-pendidik bangsa yang baru telah lahir dan siap ikut serta membangun dan memajukan bangsa dan negara. Karena mendidik—sebagaimana kata Anies Baswedan—adalah pekerjaan orang yang terdidik. Sebagai lulusan al-Azhar, disamping kematangan akal dan pikiran, kapasitas keilmuan dan wawasan juga harus berbading lurus dengan penampilan. Artinya, jangan sampai alumni al-Azhar disibukkan oleh penampilan luarnya saja, sementara pemahaman ilmu dan perbendaharaan wawasan masih dibawah standar. Hal ini bukan hanya mencoreng harga diri alumni dan nama besar Universitas al-Azhar yang berada di pundaknya, tapi nama baik agama yang kita peluk dan banggakan ini. Karena stabilisas agama Islam—sebagaimana kata Syeikh Muhammad al-Ghazali di dalam Khuluq al-Muslim—hanya akan tetap terjaga pada pengetahuan yang matang dan pikiran yang bijak. Adapun dampaknya adalah tidak terlaksananya misi alumni al-Azhar sebagai penyebar Islam yang moderat, santun, menghargai perbedaan, dan penuh kasih sayang—sesuai risalah al-Azhar. Namun yang dikhawatirkan adalah sebaliknya, yaitu menjadi penyebar fanatisme buta, liberalis, eksesif, ekstremis, dan jauh dari nilai-nilai fitrah—akibat ketidakmatangan pengetahuan dan kurangnya wawasan alumni. Membaca Diri dan Mengukur Kemampuan Inilah betapa pentingnya kita— mahasiswa maupun alumni—kembali membaca diri, mengukur kemampuan, dan akhirnya sadar diri. Dengan membaca diri, kita akan mengetahui kapasitas keilmuan kita, bahwa kematangan ilmu kita bukan pada hafalan diktat kuliah saat ujian—sehingga mendapatkan predikat Imtiyaz. Tapi kematangan ilmu—sebagaimana kata Prof. Dr. Muhammad Hasan Utsman di salah satu majelisnya (11/10)—diukur dari kematangan pemahaman kita terhadap berbagai disiplin ilmu yang pernah kita pelajari untuk kemudian kita ajarkan dan amalkan kelak. Dalam hal ini, timbullah pertanyaan kepada diri kita sendiri, “Layakkah aku menjadi alumni al-Azhar?”. Jika kita tidak bisa menjawab, maka kita perlu menelaah kembali apa yang sudah kita pelajari. Tahap selanjutnya adalah mengukur kemampuan. Jika kapabilitas kita tidak memadai sebagai seorang alumni al-Azhar, alangkah baiknya kita berpikir ulang untuk kembali ke tanah air. Karena, jika kemampuan kita sebelum tiba di negeri Kinanah ini sama, dengan saat kita menggondol gelar License, maka tentu hal ini sangat memilukan. Contoh yang paling konkret mengenai kemampuan ini adalah kemampuan kita dalam membaca, berbicara, dan menulis bahasa Arab. Namun yang paling memilukan dari ketiganya adalah kemampuan berbicara, yang selanjutnya diiringi oleh kemampuan menulis. Inilah yang patut disayangkan, kemampuan kita memahami bahasa Arab ternyata berbanding terbalik dengan kemampuan kita berbicara yang ternyata masih terbata-bata dan kemampuan menulis yang masih kaku. Kesadaran Diri = Kematangan Akal dan Pikiran Tahap akhir dari upaya ini adalah kesadaran diri. Jika proses pembacaan diri dan pengukuran kemampuan telah rampung, maka tahap ini merupakan titik balik menuju perbaikan diri. Pada titik ini, kematangan akal dan pikiran menjadi tolak ukur sikap, rutinitas, dan upaya untuk menggapai cita-cita kita. Sehingga apa yang ada dalam genggaman kita saat ini, begitu halnya dengan kejadiankejadian yang menimpa dan kita saksikan, harus kita pikirkan seraya memetik pelajaran. Dalam hal ini kita jangan sampai terlena lalu lupa, supaya kita tidak terperosok pada lubang kesalahan yang sama. Contoh yang paling konkret dari kesalahan yang biasa kita lakukan adalah kebiasaan menunda. Kesempatan-kesempatan berharga dalam kehidupan—semacam kesempatan untuk menuntut ilmu dan mendulang harta sebanyak-banyaknya—seringkali berlalu siasia kerena kebiasan tersebut. Akibatnya, kita seakan rela dengan dengan kekalahan dan kerugian kita dalam kompetisi kehidupan ini. Akal yang dikaruniakan Allah kepada kita selaku manusia bukan semata-mata sebagai “Manath al-Taklif” atau pusat pembebanan syariat. Namun akal harus kita fungsikan menurut fitrah asalnya, yaitu menjadikan hidup kita lebih baik dan lebih terarah dari hari ke hari, dan tidak terjebak pada kesalahan serupa. Dengan memfungsikan akal menurut fitrahnya, kita tidak akan berleha-leha lagi dalam perantauan kita menuntut ilmu. Kita akan menyadari bahwa kewajiaban kita akan selalu bertambah setiap hari, sementara persediaan waktu yang kita miliki tentu saja semakin menipis. Artinya, kewajiban kita berbanding terbalik dengan waktu yang disediakan. Karena itu, dengan kesadaran diri ini, terbuktilah perkataan bijak bestari bahwa penuntut ilmu adalah makhluk Allah yang paling menjaga waktunya. Dengan demikian, ketika kita mau berpikir dan memakai akal kita, ketika itu pula, setiap detik dalam hidup kita selalu berujung pada dua titik kulminasi kehidupan, yaitu kita semakin dekat dengan Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama. Bukan terjatuh pada kesalahan yang sama dan terjebak pada penyesalan yang sama pula. Sosok Alumni Ideal Dari pemaparan di atas, setidaknya bisa kita simpulkan sosok ideal alumni al-Azhar. Selain kematangan akal dan pikiran, Kematangan ilmu pengetahuan dan keluasan wawasan merupakan ciri utama seorang duta al-Azhar di tanah air kelak. Sebab upaya mendakwahkan Islam sesuai dengan pemahaman yang benar tidak akan pernah terwuduj jika seorang alumni tidak memiliki keempat hal tersebut, atau masih setengah-setengah. Kita tidak akan bisa mengumpulkan keempat hal tersebut dalam diri kita kecuali jika dipersiapkan mulai dari sekarang. Tidak pantas rasanya kita disibukkan oleh hal-hal yang tidak berguna dan membuang-buang waktu. Oleh karena itu, kita harus berbenah dari sekarang mumpung masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan mematangkan ilmu kita. Sehingga sosok alumni sekaligus duta al-Azhar ideal benar-benar terwujud dalam diri kita. *Penulis adalah Pimpinan Redaksi Jurnal Himmah tahun 2011-2012

14

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Dinamika
Oleh: Romal Mujaddedi Ahda* Sungguh nikmat hidup di Mesir, kau dan aku diperkenalkan dengan manusiamanusia yang beraneka ragam isi kepalanya. Sungguh nikmat hidup di Mesir, semua kecenderungan bisa terpuaskan sampai kepada batas yang kau dan aku tentukan sendiri, tak peduli kecenderungan itu semulia Yusuf atau sebusuk Fir’aun. Sungguh nikmat hidup di Mesir, buku-buku bermutu bisa didapat dengan harga murah. Hidup di Mesir nikmat tiada tara, tak ada yang mengatur: tidak itu orangtua, tidak itu pengurus asrama, tidak itu senior, tidak itu dosen. Apa kubilang, nikmat bukan hidup di Mesir? Di Mesir kau dan aku bisa hadir di kuliah-kuliah yang dipaparkan oleh sarjana -sarjana terbaik di dunia Islam, tak usah lagi kau tanya keilmuan mereka. Kalau kau dan aku serius jadi anak kampus, kuberitahu: akan banyak yang menaruh segan pada kau dan aku, karena orang-orang kira kau dan aku benar-benar menang atas malas yang menjangkiti banyak orang-orang di sini (iya, orang-orang itu. Ah, tak usahlah kau tunjuk-tunjuk). Agak konyol, padahal dulu di pesantren tiap hari kita berangkat sekolah, mengaji dan diskusi. Sesampai di sini, tiba-tiba itu semua jadi kegiatan orang -orang “antik”. Tapi kau juga tak perlu heran, ada pula yang akan memandang kau dan aku sinis sambil berbisik-bisik menyebut kita “sarjana muqarrar” dan lain sebagainya (iya, masih mereka yang tadi kubicarakan. Ah, sudah kubilang tak usah kau tunjuktunjuk). Tapi, ah, tak usah kau pedulikan, kalau niatmu kuliah ya sudah, kau purapura tuli saja pada ocehan mereka. Kau suka ilmu tapi tak suka kuliah? tak jadi soal, kau dan aku bisa duduk bersama para pecinta ilmu di serambi masjid tua alAzhar, di sana kau dan aku bisa mereguk pengetahuan dari para pesohor itu. Bukan main, Mufti Negara mengajar di situ. Atau barangkali kau tahu ulama muda Usamah Sayyid al-Azhari? Ia juga mengajar di situ. Pernah kau dengar pakar Nahwu dan Balaghah Syaikh Fathi Hijazi? Betul, beliau yang men-tahqiq tafsir al-Kassyaf dan Bughyah al-Idhah, kau bisa timba ilmunya tiap sabtu siang di ruang utama masjid itu. Atau barangkali kau pecinta Hadis? Biar kutemani kau berkenalan dengan bapak tua berjas itu. Ya, yang itu, Dr. Yusri, ia juga mengajar di Azhar Sabtu pagi. Bukan main bukan? Atau kau suka diskusi? Biar kuantar kau ke kelompok-kelompok kajian. Kau mau diskusi apa? Fikih? Pemikiran? Falak? Sastra? Bahasa Arab? Politik? Kau sebut saja yang kau mau, nanti kucarikan yang cocok. Tapi kalau kau dan aku sudah tak lagi bernafsu dengan ilmu ini ilmu itu, tak lagi suka dangan syaikh ini atau dosen anu, kajian ini kajian itu, tak jadi soal, masih banyak yang ditawarkan Mesir buat kita. Percayalah, tak akan bosan kau di sini. Misalnya, kau dan aku bisa bergabung organisasi. Bukan, ia bukan organisasi OSIS pesantren yang dulu kau ikuti, di sini mereka punya trias politika yang –alamak– rumitnya jangan kau tanya. Tapi tak apalah, kalaulah hobimu memang hal-hal seperti AD-ART, program kerja, rapat-rapat, kepanitiaan ini itu, atau sekedar biar bisa sering ketemu mbak-mbak cantik itu, apa boleh buat, bisalah kau kuantar, kau sebut saja organisasi macam apa: kau mau sayap ormas, almamater, kedaerahan, atau senat mahasiswa? Biar nanti kukenalkan dengan orang-orangnya. Tapi kuberitahu, karena kau masih baru, kau tak boleh jadi pegurus atau panitia, kau cuma boleh jadi anggota, karena semua organisasi sepakat buat tidak menjadikan mahasiswa baru macam kau ini terlalu sibuk dengan yang selain kuliah. Paling tidak itu yang kudengar dari presiden (ya, presiden!) orang-orang negeri kita di sini. Kau tahu, organisasi-organisasi punya acara-acara yang menarik, tidak cuma kajian, mereka juga mengadakan silaturahim bulanan, makan-makan bareng bulanan, jalan-jalan bareng tahunan, olahraga bareng semesteran, dan masih banyak yang lainnya (sepanjang masih bisa dilakukan bareng). Atau kau mau klub olahraaga? Sepakbola, basket, voli, pencak silat, nunchaku.. ah, lelah aku menyebutnya, begini saja: selama itu masih olahraga, aku dan kau bisa cari perkumpulannya di sini. Kalau tak ada? Ah, kau dan aku buat saja sendiri, siapa pula yang mau peduli? Uang-uang kita, waktuwaktu kita. Kalau kelak kau dan aku juga bosan dengan itu, kau dan aku bisa mencari uang. Kudengar orang-orang itu bisa mengantongi ribuan pound dalam sebulan. Kau tahu, kau dan aku bisa bergaya bak selebriti dengan uang sebanyak itu, barang apapun (sepanjang ia masih dijual) bisa kita beli. Berguna atau tidak? Yang kuperhatikan hal semacam itu tak perlu diambil pusing, yang penting keren. Kalau kau benar-benar tak tertarik dengan semua yang kusebut, apa boleh buat, begini saja, kau habiskan waktumu di depan komputermu. Biar kutunjukkan situs -situs pengunduhan film-film aneka jenis (ya, kau mau jenis apa?), atau kau suka game? Kuberi tahu kau rahasia ini: dari dulu aku curiga gamer-gamer terbaik dunia itu sebenarnya ada di antara kawan-kawan kita senegara, karena coba kau bayangkan: tiap dua-tiga bulan ada saja yang mengadakan lomba video game (biasanya bebarengan dengan lomba gaple, scrabble, poker, catur Tekken dan Zuma.. ah, tunggu, Tekken dan Zuma itu juga game). Tidaktidak, aku tak bercanda, kau tunggu saja beberapa minggu lagi. Sebenarnya tak enak aku, kutunjukkan kau pada semua ini. Ah, tapi setelah kupikir -pikir, cepat atau lambat kau akan bertemu juga dengan semua yang kubilang. Kau dan aku boleh memilih, tapi pada akhirnya kau dan aku yang bertanggung jawab dengan pilihan itu. Ah, maksudku kau ya kau, aku ya aku. Kita seperti akrab memang, tapi tak bisa aku menanggung buah pilihanmu. *Penulis adalah Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa Arab tahun 2012-2013

Silahkan Pilih

Image: figadvertising.com

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

15

16

TëROBOSAN, Edisi 348, 15 Oktober 2012

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful