You are on page 1of 19

BAB I Pendahuluan

I.1. Latar Belakang Pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian interaksi dari

pembangunan nasional yang secara keseluruhan perlu digalakkan pula. Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dan sejahtera.1 Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya, melakukan pembinaan kesehatan anak sejak dini melalui kegiatan kesehatan ibu dan anak. Pembinaan kesehatan anak usia dini, sejak masih dalam kandungan hingga usia balita ditujukan untuk melindungi anak dari ancaman kematian dan kesakitan yang dapat membawa cacat serta untuk membina, membekali dan memperbesar potensinya untuk menjadi manusia tangguh.2 Dalam beberapa tahun terakhir Angka Kematian Bayi telah mengalami banyak penurunan yang cukup menggembirakan, meskipun pada tahun 2001 meningkat kembali sebagai dampak dari berbagai krisis yang melanda Indonesia. Pada tahun 1971 Angka Kematian Bayi (AKB) diperkirakan sebesar 152 per 1000 kelahiran hidup, kemudian turun menjadi 117 pada tahun 1980, dan turun lagi menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Berdasarkan estimasi susenas tahun 2002 – 2003 Angka Kematian Bayi berturut – turut pada tahun 2001 sebesar 50 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2002 sebesar 45 per 1000 kelahiran hidup.3 Meskipun sudah banyak kemajuan yang telah dicapai bangsa Indonesia, yang antara lain ditandai dengan berhasil diturunkan Angka Kematian Balita dari 58 per 1000 kelahiran hidup menjadi 39 per 1000 kelahiran hidup (2007), namun pencapaiannya masih jauh dari yang diharapkan. Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, angka kematian bayi dan balita di Indonesia adalah yang tertinggi. Depkes menargetan pada tahun 2009 AKB menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup.3

Dengan diketahuinya gangguan gizi secara dini maka tindakan penanggulangannya dapat dilakukan dengan segera. angka kelahiran agar terwujud keluarga kecil bahagia dan sejahtera. yang dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). melainkan berhubungan erat dengan program KB. Balita yang tidak ditimbang berturut-turut beresiko keadaan gizinya memburuk sehingga mengalami gangguan . sehingga keadaan gizi yang memburuk dapat dicegah. Atas dasar penimbangan bulanan ini dapat diketahui status gizi dan penentuan tindak lanjutnya manakala dibutuhkan. yang pelaksanaannya secara operasional dibentuklah Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU). pelaksanaannya tidak saja melalui program – program kesehatan. Salah satu tujuan menyelenggarakan Posyandu adalah mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi dan balita serta pengembangan kualitas sumber daya manusia dengan mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak.Dalam upaya untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita. Dengan pemantauan pertumbuhan. setiap ada gangguan keseimbangan gizi pada seorang anak akan dapat diketahui secara dini melalui perubahan pertumbuhannya.4 Semua informasi yang diperlukan untuk pemantauan pertumbuhan balita bersumber dari data berat badan hasil penimbangan balita. Bulan yang diisikan kedalam KMS untuk dinilai naik (N) atau tidak naik (T) pertumbuhan balita. Pemantauan pertumbuhan (growth monitoring) merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terusmenerus (berkesinambungan) dan teratur. Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan pendekatan melalui pembangunan kesehatan masyarakat desa. Bentuk salah satu pelaksanaan kegiatan posyandu dalam mengoptimalisasi potensi tumbuh kembang anak melalui kegiatan penimbangan. Kegiatan ini bertujuan untuk memonitoring balita dengan melihat naik atau tidak naik berat badan. Posyandu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatandan peran serta masyarakat dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat terutama dalam upaya penurunan Angka Kematian Bayi dan angka kelahiran sosial. Ibu yang tidak menimbang balitanya ke Posyandu dapat menyebabkan tidak terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan balita.

pertumbuhan. Cakupan penimbangan balita (D/S) di posyandu merupakan indikator tinggi/ rendahnya partisipasi masyarakat di posyandu (D/S merupakan persentase balita yang ditimbang di posyandu dibanding seluruh balita yang ada di wilayah kerja posyandu). .

Banyak hal yang mempengaruhi kesehatan anak balita. Anak Dibawah Lima Tahun (Balita) II. Garis Pertumbuhan Anak sehat tumbuh mengikuti pola garis pertumbuhan normal. kecerdasan dan tanggung jawab.5. 4. 2. karena pada tubuh anak yang kekurangan gizi terdapat penghancuran jaringan untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh. Ciri-ciri pertumbuhan: . 1. keadaan fisik lingkungan meliputi sarana sanitasi (tempat pembuangan sampah). Perkembangan anak sehat Anak sehat mempunyai perkembangan kecerdasan.1. Anak balita yang kekurangan gizi sangat rentan terhadap berbagai paparan infeksi. hal ini menyebabkan anak mudah terserang penyakit.1. bertambah umur akan bertambah berat mengikuti grafik pertumbuhan dalam kartu menuju sehat (KMS).1. sehingga homeostatis dalam tubuh terganggu dan akhirnya daya tahan tubuh balita menurun. antara lain adanya keterkaitan status gizi dan keadaan fisik lingkungan. ketersediaan air bersih.1. penglihatan. ketangkasan. ketersediaan rumah sehat.2.BAB II Tinjauan Pustaka II.6 Pertumbuhan Balita4 II. Adapun keadaan fisik lingkungan juga mempengaruhi kesehatan balita. Definisi Anak balita adalah yang berusia 0 tahun sampai dengan 5 tahun kurang dari 1 hari. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya fungsi tubuh seperti pendengaran. Pengertian Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dari waktu ke waktu. 3. dan tingkat kewaspadaan yang cukup tinggi sesuai dengan umurnya. cuaca.

5. Mencegah memburuknya keadaan gizi b. 2. berdasarkan garis pertumbuhan ini dapat dinilai apakah berat badan anak hasil penimbangan dua bulan berturut-turut: “Naik” (N) atau “Tidak Naik” (T) dengan cara yang telah ditetapkan dalam buku Panduan Penggunaan KMS bagi Petugas Kesehatan. jumlah anak yang tidak ditimbang bulan lalu (O). 3.4 Selain informasi N dan T.3. Di dalam KMS berat badan balita hasil penimbangan bulan diisikan dengan titik dan dihubungkan dengan garis sehinggan membentuk garis pertumbuhan anak. Setiap balita memiliki jalur pertumbuhan normal (growth trajectory). jumlah anak yang baru pertama kali ditimbang (B).a. Catatan lain yang ada di Posyandu adalah jumlah seluruh . Memantau pertumbuhan berat badan balita dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Mempertahankan keadaan gizi baik II. Memberikan konseling gizi. Untuk tujuan pemantauan pertumbuhan balita dilakukan penimbangan balita setiap bulan. Mengikuti perjalanan waktu c.1. Meningkatkan keadaan gizi c. Memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar. dari kegiatan penimbangan dicatat pula jumlah anak yang datang ke Posyandu dan ditimbang (D). dan banyaknya anak yang berat badannya di bawah garis merah (BGM). Merupakan perubahanyang dapat diukur secara kuantitatif b. Pemantauan pertumbuhan Balita Tujuan dari Pemantauan Pertumbuhan Balita antara lain: a. Cakupan Penimbangan Balita Kegiatan bulanan di Posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk:4 1.

Turunnya IMR.2. BR. Pasangan Usia Subur (PUS) dan Balita. Posyandu II. dan angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate). secara nasional diperlukan tumbuhnya peran serta masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan Posyandu.Untuk mengembangkan peran serta . dan MMR di suatu wilayah merupakan standar keberhasilan pelaksanaan program terpadu di wilayah tersebut. Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Posyandu antara lain: Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).1. karena Posyandu adalah milik masyarakat.balita yang ada di wilayah kerja Posyandu (S). KB (Keluarga Berencana). yaitu:4 1. dan b. dan MMR tersebut. Kelompok data yang dapat digunakan untuk pemantauan pertumbuhan balita.2.4 Data yang tersedia di Posyandu dapat dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan fungsinya. angka kelahiran (Birth Rate). Untuk mempercepat penurunan IMR. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. dan jumlah balita yang memiliki KMS pada bulan yang bersangkutan (K). Program Posyandu merupakan strategi pemerintah dalam menurunkan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate). 2. baik untuk : a. Pengertian Menurut Depkes RI (2005). P2M (Imunisasi dan Penanggulangan Diare). Penilaian keadaan pertumbuhan balita di suatu wilayah (% N/D). BR. Sedangkan sasaran penduduk Posyandu ialah ibu hamil. ibu menyusui. II. Penilaian keadaan pertumbuhan individu (N atau T dan BGM). dan Gizi (penimbangan Balita). Kelompok data yang digunakan untuk tujuan pengelolan program/ kegiatan di posyandu (% D/S dan K/S).

masyarakat di Posyandu dapat dilakukan dengan penerapan asas-asas manajemen kesehatan. Alur pelayanan Posyandu menjadi terarah dan jelas dengan adanya petunjuk di meja pelayanan. Imunisasi yang diberikan di posyandu adalah imunisasi dasar. tablet zat besi dilakukan di meja IV 5. Sistem Informasi di Posyandu (Sistem Lima Meja)3. Pencatatan dengan mengisikan berat badan Balita ke dalam skala yang di sesuaikan dengan umur Balita. Meja IV Berat badan anak yang naik atau yang tidak naik.1. sehingga antrian tidak terlalu panjang atau menumpuk di satu meja. Meja V Pemberian imunisasi dan pelayanan kesehatan kepada Balita yang datang ke Posyandu dilayani di meja V. pelayanan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). DPT. Hepatitis. Meja III Kader melakukan pencatatan pada buku KIA atau KMS setelah ibu dan Balita mendaftar dan ditimbang di meja III. penyuluhan kesehatan.4 1. yaitu: BCG. vitamin A. oralit. Meja I Layanan meja I merupakan layanan pendaftaran.2. 2.4 II. ibu hamil dengan resiko tinggi. Di atas meja terdapat tulisan yang menunjukan pelayanan yang di berikan. Polio. 4. Meja II Layanan meja II merupakan layanan penimbangan 3. pasangan usia subur yang belum mengikuti KB. dilakukan oleh bidan desa atau petugas kesehatan lainnya. Petunjuk ini memudahkan ibu dan Balita saat datang. . Campak. kader melakukan pendaftaran pada ibu dan Balita yang datang ke Posyandu.

b.Kecuali itu ada sebagian posyandu yang memberikan PMT kepada bayi dan anak balita secara swadaya. KB 3.1.1. 1. Meningkatkan peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu. PMT ini diberikan setelah meja V (lima). Dalam penyelenggaraan posyandu ini sangatlah jelas bahwa yang mempunyai peranan besar adalah kader. Meningkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar. II. Gizi. KIA 2. 1. terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. Tujuan Posyandu4 II.4. dalam hal ini tentunya kader yang aktif dalam setiap kegiatan Posyandu. Meningkatkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar. 2. terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. Penggulangan Diare. lmunisasi. 5. Prinsip Dasar Posyandu4 .1. 4. Tujuan Khusus a.5. terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.3. Disamping itu ada pula Posyandu yang melakukan penyuluhan kelompok sebelum meja I (satu) ataupun setelah meja V (lima). c. Program Kerja Posyandu7 II. Tujuan Umum Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat.

Indikator ini di dapat dengaan cara membagi jumlah Balita yang naik berat badannya (N) dengan jumlah seluruh Balita (S) dikalikan 100. Mempunyai sasaran penduduk yang sama (bayi. imunisasi. gizi. Liputan Program (K/S). Indikator ini didapat dengan membagi jumlah Balita yang naik berat badannya (N) dengan jumlah Balita yang ditimbang bulan ini (D). balita. 3.6. . Hasil Pencapaian Program (N/S). Kelembagaan masyarakat 4. 2. Merupakan tingkat kemantapan pengertian dan motivasi orang tua balita untuk menimbang balitanya setiap bulan. Indikator ini dapat dengan cara membagi jumlah Balita yang ditimbang (D) dengan jumlah Balita yang terdaftar dan mempunyai KMS (K) dikalikan 100. Hasil Penimbangan (N/D). lintas program yang baik (KIA. Posyandu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan profesional dan non profesional oleh masyarakat. Merupakan indikator keadaan gizi Balita pada suatu waktu (bulan) di wilayah tertentu. Tingkat Kelangsungan Penimbangan (K/D). 4. Merupakan indikator mengenai kemampuan program untuk menjangkau Balita yang ada di masing-masing wilayah kerja posyandu. Adanya kerjasama. penanggulangan diare) maupun lintas sektoral (Depkes RI. Diperoleh dengan cara membagi jumlah balita yang ada dan mempunyai Kartu Menuju Sehat (KMS) dengan jumlah keseluruhan Balita dikalikan 100. 2.1. BKKBN) 3. anak balita. Ada beberapa indikator dalam kegiatan Posyandu antara lain: 1. ibu) Indikator Kegiatan Posyandu7 II.Prinsip dasar Posyandu terdiri atas: 1. KB. Depdagri/ Bangdes.

karena menunjukkan sampai sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dan orang tua Balita pada penimbangan Balita di Posyandu. Partisipasi Masyarakat (D/S). yang dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). prototipe grafik pertumbuhan dan petunjuk cara penggunaan grafik pada pelayanan kesehatan.5.7. II. Berat badan anak (pertumbuhan anak) 2. Kartu menuju sehat adalah suatu kartu yang berisikan rekomendasi tentang standar pertumbuhan. Penimbangan8 Penimbangan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memonitoring balita dengan melihat naik atau tidak berat badan dengan menggunakan alat timbang berupa dacin. Jenis-jenis catatan (informasi) pada KMS adalah: 1. Kartu Menuju Sehat (KMS)9 KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk Balita dan Balita adalah alat yang sederhana dan murah. yang dicatat setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. Tinggi rendahnya indikator ini dipengaruhi oleh aktif tidaknya bayi dan Balita ditimbangkan tiap bulannya. Indikator ini merupakan keberhasilan program Posyandu. Imunisasi yang sudah diberikan kepada anak .3. yang memuat data pertumbuhan serta beberapa informasi lain mengenai perkembangan anak. Penimbangan merupakan salah satu pelaksanaan kegiatan posyandu dalam rangka mengoptimalisasi potensi tumbuh kembang anak II.2. Indikator ini di peroleh dengan cara membagi jumlah Balita yang ditimbang (D) dengan jumlah seluruh Balita yang ada (S) dikalikan 100. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif untuk bayi berumur 0 sampai 4 atau 6 bulan 3.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan (Cakupan Penimbangan Balita) Menurut Blum dalam The Force Field and Well Being Paradigma menjelaskan tentang empat faktor lapangan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat yaitu:10 1. Berat badan balita 2 kali (2 bulan) berturut-turut tidak naik. 2. 3. b. sosial. Sebagai acuan penyuluhan. Faktor pelayanan Kesehatan Termasuk rehabilitasi. Faktor lingkungan Termasuk di dalamnya adalah faktor fisik. Faktor herediter atau Kependudukan Dari konsep Blum diatas. catatan KMS juga dijadikan bahan acuan untuk memberikan rujukan. Berat Badan balita berada di bawah garis merah (BGM) pada KMS. baik ke meja 5 maupun ke Puskesmas. 4.4. pengobatan dan . 2. 3. Catatan/ informasi pada KMS merupakan „alat pemantau‟ keadaan balita yang bisa dijadikan acuan untuk memberikan penyuluhan kepada ibu dan keluarganya. Pemberian vitamin A 5. Penyakit yang pernah diderita anak dan tindakan yang diberikan Manfaat KMS: 1. Faktor perilaku Termasuk didalamnya adalah tingkah laku dan kebiasaan. ekonomi. dapat dilihat bahwa peran dokter dalam menjaga agar seseorang atau masyarakat tetap dalam derajat kesehatan yang di dalamnya adalah pencegahan.4. biologi. II. Rujukan ini diberikan apabila pada KMS terdapat catatan berikut ini: a. pendidikan.

Salah satu usaha promosi kesehatan adalah dengan melakukan pendidikan kesehatan melalui penyuluhan. diharapkan setiap kasus yang ditemukan dapat segera didiagnosis dan diberikan terapi yang adekuat agar orang yang sakit tidak menjadi semakin parah. yang berdampak pada tidak adanya waktu para ibu balita untuk aktif pada kunjungan ke Posyandu.10 Pada pencegahan sekunder dimana salah satu isinya adalah diagnosis awal dan terapi yang adekuat. Faktor bekerja tampak berpengaruh pada ketidakaktifan ibu datang ke posyandu. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan formal akan berpengaruh terhadap cara berfikir seseorang terhadap dirinya sendiri dan terhadap lingkungan. Promosi kesehatan yang merupakan bagian pencegahan primer ditujukan kepada orang yang sehat yang belum sakit sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit. sekunder. baik untuk kepentingan sendiri maupun keluarga. Dalam hal ini adalah kerutinan ibu untuk menimbangkan balitanya di posyandu. dan tersier yang mengandung arti bagaimana seseorang tidak menjadi sakit. karena mereka mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan yang belum cukup. Status Pekerjaan Banyak ibu-ibu bekerja mencari nafkah. Dalam hal ini petugas kesehatan diharapkan mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap semua perlakuan yang harus diberikan pada setiap kasus yang ada sehingga terapi dapat diberikan dengan tepat. Oleh sebab itu. yaitu: 1.optimum tidak cukup melalui cara mengobati dari orang yang sakit satu ke orang sakit yang lainnya.10 Pada penelitian ini. serta tidak ada waktu ibu untuk mencari informasi karena .11 2. Leavel & Clark merumuskan Kedokteran Pencegahan dalam five level of prevention yang meliputi Pencegahan primer. dikarenakan terbatasnya waktu dan dana maka kami mengambil 8 faktor dari uraian diatas. Hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat kesadaran kesehatan terhadap diri sendiri dan keluarganya.

8 Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah ketidakaktifan ibu balita karena kurang percaya dirinya para kader kesehatan menerapkan ilmunya serta . Tanpa adanya pengetahuan maka para ibu balita akan sulit dalam menanamkan kebiasaan kunjungan ke Posyandu. Hal ini dapat menyebabkan frekuensi ibu yang memiliki balita untuk kunjungan ke Posyandu akan berkurang. Kondisi kerja merupakan faktor yang mempengaruhi ketidakaktifan ibu datang ke posyandu. Pengetahuan tentang Posyandu akan berdampak pada sikap terhadap manfaat yang ada dan akan terlihat dari praktek dalam ketidakaktifan ibu balita terhadap masalah kesehatan balitanya. Tingkat pendapatan keluarga mencerminkan tingkat ekonomi seseorang dimana secara tidak langsung berpengaruh dalam usaha untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Jadi yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.8 4. 2003). Tingkat Pengetahuan Pengetahuan dapat membentuk suatu sikap dan menimbulkan suatu perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo. Tingkat Pendapatan Pendapatan adalah hasil perolehan usaha. Tingkat pengetahuan tentang Posyandu pada kader kesehatan yang tinggi dapat membentuk sikap positif terhadap program Posyandu khususnya ketidakaktifan ibu balita untuk kunjungan ke Posyandu. Pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk aktif dan ikutserta dalam pelaksanaan Posyandu.11 3. Dalam hal ini penimbangan balita di posyandu. Pendapatan keluarga oleh suami dan istri rata-rata dalam satu bulan merupakan penghasilan dalam jumlah uang yang akan dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk makanan.kesibukan mereka dalam bekerja.

Dari pandangan . pengetahuan. Perilaku Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdiknas. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh.kurang mampu dalam menerapkan informasi penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari. keyakinan. Penelitian tentang hubungan pengetahuan. didapatkan bahwa ibu yang pengetahuan dan sikapnya baik mempunyai kemungkinan 17 kali lebih besar unttuk mempunyai anak balita dengan status gizi baik bila dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan dan sikap yang buruk. Dalam penentuan sikap yang utuh ini. maka akan semakin tinggi pula tingkat kesadaran untuk berperan serta dalam program Posyandu. 6. dan emosi memegang peranan penting. Allport menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok. Pengetahuan tentang Posyandu yang rendah akan menyebabkan rendahnya tingkat kesadaran ibu yang akan membawa balita untuk berkunjung ke Posyandu. dimana semakin tinggi tingkat pengetahuan seorang ibu tentang manfaat Posyandu. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. pikiran.8 5. Komponen pokok sikap. 2005).8 Tingkat pengetahuan seseorang banyak mempengaruhi perilaku individu. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek Kecenderungan untuk bertindak. yaitu : Kepercayaan/keyakinan. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. sikap dan perilaku ibu terhadap status gizi balita di enam Kecamatan di Kabupaten Sragen tahun 2008. ide dan konsep terhadap suatu objek.

multipara = 2-5.biologis perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan.1 . Robert Kwick (1974). menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.Skinner (1938).6% sedangkan jumlah ibu yang perilaku kurang dengan status gizi balita kurang sebesar 26.1%. Artinya status gizi balita sangat mempengaruhi oleh tindakan ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi balita 7. merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus/ rangsangan dari luar. Jumlah balita dalam suatu keluarga mempengaruhi perhatian seorang ibu kepada balitanya. diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku ibu dengan status gizi balita. dimana semakin banyak anak dalam keluarga akan menambah kesibukan ibu dan pada akhirnya tidak punya waktu untuk keluarga dan akan gagal membawa balitanya ke Posyandu. grandemultipara = lebih dari 5). Paritas Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang wanita (primipara = 1. Berdasarkan hasil uji statistic dari penelitian tersebut. mendapati jumlah ibu yang perilakunya baik dengan status gizi balita baik sebesar 65. Penelitian mengenai hubungan perilaku ibu dengan status gizi balita di Puskesmas Tanjung Beringin Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat tahun 2005.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Identifikasi Masalah Puskesmas Kenten Program Program Gizi Penimbangan Balita Target 80% Pencapaian 79% Masalah Cakupan peran serta masyarakat dalam penimbangan balita tidak tercapai .

. Tingkat Ekonomi Masyarakat kurang. Timbangan rusak. Pentingnya Posyandu untuk tumbuh kembang anak. Cakupan peran serta Masyarakat tidak mencapai target ( D/S ) Laporan petugas kurang lengkap. Penyuluhan kurang. terhadap kader untuk mengajak masyarakat untuk memanfaatkan posyandu. Pelatihan dan penyegaran kader posyandu. Ibu – ibu bekerja sehingga tidak ada waktu membawa anak ke Posyandu. Pengadaan timbangan. Pengadaan timbangan. Tingkat pendidikan Masyarakat kurang. Penyuluhan ditingkatkan.2 PEMECAHAN MASALAH PRIORITAS MASALAH PENYEBAB MASALAH ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Laporan Petugas posyandu lengkap.  Motivasi kader ke Masyarakat kurang. PEMECAHAN MASALAH TERPILIH Penyuluhan di tingkatkan. :  Kesadaran Ibu membawa Balita ke Posyandu kurang. Pelatihan dan penyegaran kader posyandu.3.

Kemudian yang terakhir adalah faktor lingkungan seperti kurangnya ekonomi masyarakat. penghasilan. 4. dan tingkat pendidikan yang rendah.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran rendahnya cakupan penimbangan balita di Pusyandu Sinar Purnomo Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lampung Timur dengan memperhatikan kesimpulan yang telah dikemukakan penulis menyarakan : 1. SDM tenaga kesehatan yang kurang dalam penyuluhan serta sarana dan prasaran yang kurang memadai.1 Kesimpulan Rendahnya cakupan penimbangan balita yang ada di Puskesmas Kenten disebabkan dari permasalahan faktor ibu. Faktor ibu bisa dipengaruhi oleh pengetahuan. Bagi Posyandu Sinar Purnomo Agar meningkatkan kualitas pelayanan posyandu sehingga dapat meningkatkan peran serta ibu bayi dan balita dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu. 2. dan kedatangan ke posyandu. Bagi Ibu Balita . paritas. lingkungan. sarana. sikap. Dari faktor sarana dapat disebabkan oleh letak posyandu yang jauh.BAB IV PENUTUP 4. perilaku.

.Menambah pengetahuan ibu tentang manfaat Posyandu dan sebagai masukan dan evaluasi peran serta ibu dalam kegiatan pelayanan Posyandu.