Esty Swandana 37511

Pervasive Computing/ Ubiquitous Computing
Pervasive computing atau yang dikenal juga dengan nama ubiquitous computing adalah gelombang
ketiga dari dunia komputasi di mana gelombang pertama adalah era mainframe computing (satu
komputer digunakan lebih dari satu user melalui workstation) pada tahun 1970-an dan gelombang
kedua adalah era personal computer (satu komputer untuk satu user). Bisa dikatakan bahwa era
pervasive computing berkebalikan dengan era mainframe computing karena pada era ini satu user akan
menggunakan lebih dari satu komputer (baik yang berupa piranti bergerak maupun yang bukan).
Pervasive computing muncul karena pesatnya perkembangan teknologi komputasi, informasi, dan
telekomunikasi. Pervasive dan ubiquitous sendiri berarti “ada di mana saja.” Karenanya, ide dasar dari
pervasive computing adalah komputasi akan dapat dilakukan oleh benda dalam kehidupan sehari-hari
atau benda yang mudah ditemukan dan dibawa-bawa dengan cara menanamkan microprocessor pada
benda-benda tersebut. Komputasinya yang dilakukan oleh benda yang kita gunakan sehari-hari
menyebabkan komputasi gelombang ketiga ini sering disebut sebagai era calm technology. Era calm
technology adalah era di mana teknologi dan komputasi tampak surut dan “biasa” karena telah menjadi
latar belakang dari keseharian kita.
Terdapat empat bidang dalam teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang secara
konvergen sehingga memungkinkan terwujudnya pervasive computing di masa yang akan datang:
1. Micro Devices
Adalah piranti berukuran sangat kecil yang memungkinkan pembuatan embedded system pada
obyek sehari-hari (pakaian, cangkir, kursi, dan lain-lain) agar obyek tersebut dapat bertindak
sebagai intelligent agent.
2. Konektifitas
Adanya jaringan (baik yang melalui kabel maupun nirkabel) memungkinkan berbagai macam
piranti saling berhubungan satu sama lain sehingga pervasive computing dapat terbentuk di
mana-mana.
3. User Interfaces
User interface yang baik memungkinkan manusia (user) dan teknologi informasi serta
komunikasi dapat saling mengontrol satu sama lain.
4. Radio Frequency Identification (RFID)
Adalah teknologi identifikasi otomatis tanpa memerlukan kontak (nirkabel) dan tidak
memerlukan catu daya untuk berbagai obyek yang telah digunakan pada banyak aplikasi dalam
skala luas. Teknologi ini menciptakan interaksi antara teknologi informasi dan dunia fisik.
Contoh aplikasi dari pervasive computing adalah wearable computers atau komputer yang dapat
dipakai di tubuh user, seperti health monitoring system. Contoh lainnya adalah piranti bergerak/mobile
devices serta smart home atau rumah yang dilengkapi dengan peralatan yang bersifat otomatis dan
menggunakan structured writing sehingga pemilik rumah dapat dengan mudah memrogram ulang
peralatan-peralatan otomatis tersebut.
Terdapat beberapa manfaat pengaplikasian pervasive computing dalam kehidupan sehari-hari,
diantaranya adalah menjembatani digital divide. Pervasive computing dapat menjembatani digital
divide karena selain mempermudah interaksi antara manusia dengan komputer, penggunaan obyek
sehari-hari sebagai media tentu akan mempermudah pengenalan teknologi kepada masyarakat awam
yang tadinya enggan mengenal teknologi. Dikatakan mempermudah interaksi antar manusia dengan
komputer karena seseorang tidak lagi harus duduk di depan sebuah desktop PC di rumah atau ruang
kerjanya untuk dapat bekerja dengan komputer. Sementara penggunaan obyek sehari-hari sebagai
media akan membuat masyarakat lebih tertarik untuk mempelajari pemanfaatan teknologi komputer
tersebut karena tampilannya tidak serumit atau “semenakutkan” desktop PC. Dengan adanya piranti
berbasis pervasive computing, masyarkat yang bahkan berada di pedesaan sekalipun dapat mengakses
informasi dari berbagai belahan dunia melalaui internet. Hal ini sudah dapat kita lihat melalui
maraknya smartphone di masyarakat luas.

Esty Swandana 37511
Selain dampak positif seperti yang telah dijelaskan di atas, pervasive computing juga bisa memberikan
dampak negatif berupa pemanfaatan teknologi informasi yang tidak efektif dan tidak mengikuti etika.
Contohnya saja pada pemanfaatan smartphone yang ternyata hanya digunakan seperti telepon
genggam biasa di mana kemampuannya untuk mengakses informasi di internet tidak digunakan. Atau
malah akses internet ini tidak dimanfaatkan untuk memperoleh informasi melainkan untuk mengekses
konten-konten web yang berbau pornografi. Selain menyia-nyiakan teknologi yang telah disediakan,
hal ini juga dapat merusak moral dan mental masyarakat. Pemanfaatan teknologi yang tidak efektif
dan tidak memperhatikan etika tersebut kemungkinan besar disebabkan karena masyarakat yang
sebenarnya belum siap atau belum mampu benar untuk menggunakan teknologi.
.

Sumber:
1. Pervasive computing (ubiquitous computing)
http://searchnetworking.techtarget.com/definition/pervasive-computing
2. Ubiquitous Computing
http://web.archive.org/web/20110721063539/http://sandbox.xerox.com/ubicomp/
3. Pervasive Computing: Terintegrasinya Teknologi Informasi dan Komunikasi ke Dalam Kehidupan
Sehari-Hari
http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/01/13/pervasive-computing-terintegrasinyateknologi-informasi-dan-komunikasi-ke-dalam-kehidupan-sehari-hari/
4. A. A. Bin Adnan, "Open Source Software & Pervasive Computing"

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful