A.

Pengertian Eksaminasi Eksaminasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Examination atau dalam kamus bahasa InggrisIndonesianya sebagai ujian atau pemeriksaan. Jadi istilah eksaminasi tersebut jika dikaitkan dengan produk badan peradilan berarti ujian atau pemeriksaan terhadap putusan pengadilan atau hakim. Istilah eksaminasi dapat diartikan sebagai pemeriksaan, sehingga eksaminasi putusan peradilan diartikan sebagai pemeriksaan terhadap putusan pengadilan. Istilah yang mirip dengan eksaminasi adalah legal annotation, yaitu semacam ulasan ataupun pemberian catatan terhadap putuan pengadilan. Istilah eksaminasi sendiri berasal dari kata Belanda, examinatie yang berarti memeriksa dan menilai/menguji putusan badan pengadilan, meskipun sebetulnya dalam hal ini kata anotasi lebih tepat untuk menggambarkan aktifitas tersebut. Keberadaan lembaga eksaminasi publik memberikan kontribusi yang sangat signifikan sengan upaya MA untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja hakim dengan diterbitkannya SEMA No 1 Tahun 1967, yang dikenal dengan eksaminasi internal lembaga peradilan untuk mengkaji putusan yang telah dijatuhkan oleh hakim yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Mengingat mekanisme pengawasan internal yang dilakukan MA saat ini tidak efektif karena mengalami disfungsi, dan surat edaran ini hanya memberi acuan bagi adanya eksaminasi internal, bukan dimaksudkan sebagai kontrol publik. Pada tahun 1967 MA telah mengeluarkan Surat Edaran/Instruksi MA No 1 tahun 1967 tentang eksaminasi, laporan bulanan dan daftar banding. Jadi tujuan yang terkandung dalam intruksi tersebut bukan hanya untuk menilai atau menguji apakah putusan yang dieksaminasi tersebut sesuai dengan acaranya, sesuai dengan prinsip-prinsip hukum yang benar, tenggang waktu penyelesaian perkara dan putusannya telah sesuai dengan rasa keadilan tetapi dengan diajukan berita acara siding sebagai kelengkapan eksaminasi, juga sebagai bahan pertimbangan apakah hakim telah melaksanakan proses acaraperisangan dan putusan dengan baik. Bahkan dalam instruksi tersebut juga menyebutkan “dalam pada itu hendaknya ketua pengadilan atau bandan peradilan yang lebih tinggi disamping melakukan pengawasan, jika perlu teguran bahkan mungkin perlu pula mempertimbangkan pengusulan hukuman jabatan, memberi bimbingan berupa nasehat, petunjuk, dan lain-lain kepada yang bersangkutan. Dalam prakteknya, pelaksanaan eksaminasi juga tergantung keaktifan Ketua Pengadilan Tinggi dan Ketua Pengadilan Negeri diwilayah masing-masing untuk aktif dan secara berkala melakukan eksaminasi. Menurut Susanti Adi Nugroho, bahwa meskpiun Surat edaran/Instruksi tersebut tidak berjalan sesuai dengan bunyi kata-kata yang di instruksikan, tetapi sampai pada tahun 1980 brjalan dengan baik, terutama eksaminasi ini merupakan persyaratan yang harus ada bagi kenaikan golongan masing-masing Hal ini sesuai, jika dikaitkan dengan SEMA No 2 Tahun 1974 tentang Syarat-syarat yang harus dilengkapi dengan pengusulan keiankan pangkat bagi para hakim, antra lain mensyaratkan hasil eksaminasi ini, sebagai pengganti ujian dinas bagi hakim yang pindah golongan. Jika eksaminasi seperti ini yang dikehendaki dalam instruksi No 1 tahun 1967 ini sebagai sebagai suatu pengawasan atau pengujian tentang penerapan yuridis teknis, maka berdasarkan penelitian informal sudah lama lembaga eksaminasi ini berhenti, karena kendala sebagai berikut: Pertama, Perkara pidana atau perdata yang diajukan untuk eksaminasi atas pilihan masing-masing adalah perkara yang dianggap putusan-putusan yang terbaik yang pernah dilakukan oleh hakim tersebut, dan yang putusannya di perkuat oleh MA. Penilaian secara umum

Hanya saja apakah pengawasan itu efektif atau tidak. misalnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP-3). apabila alasan tidak jelas. seperti yang ditentukan dalam instruksi tersebut. sukar dimengerti atau bertentangan dengan satu sama lain. bahkan pada tahun-tahun terakhir eksaminasi ini. Dorongan untuk melakukan eksaminasi putusan pengadilan mulai mendapatkan acuan formal. dan kepada para hakim akan memperoleh yurisprudensi secara gratis. Eksaminasi dilingkungan pengadilan termasuk didalamnya MA pasal 32 UU Mahkamah Agung mengamanatkan adanya sebua pengawasan di lembaga tersebut. Esensi dari eksaminasi adalah pengujian atau penilaian dari sebuah putusan atau dakwaan apakah pertimbangan hukumnya sudah benar serta sudah dilaksanakan atau belum sebagai suatu pengawasan. Dalam rangka pembinaan dan konsistensi putusan MA juga menerbitkan Surat Edaran No 2 Tahun 1972 tentang pengumpulan yurisprudensi yang akan dilakukan oleh MA. Sehingga dengan cara yang demikian Pengadilan tinggi dapat melakukan pengawasan dan memberikan bimbingan langsung kepada hakim. Putusan Pengadilan. eksaminasi bukanlah satu-satunya pengawasan dipengadilan. Pengawasan itu merupakan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan dan perilaku hakim dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman. Masih banyak pengawasan lain yang dilakukan baik secara internal dan eksternal. Ketiga. tidak berlum dapat menilai kemampuan hakim yang bersangkutan. Masih dalam rangka pembinaan dan peraikan mutu putusan. tidak lagi merupakan persyaratan kenaikan golongan hakim. selama ini tidak ada tolok ukur yang dapat menilainya. Karena masih ada kekeliruan baik perkara perdata maupun pidana dalam perkara-perkara yang dimintakan kasasi oleh MA maka dalam Surat Edaran MA No 8 tahun 1984. diinstruksikan kepada Pengadilan Tinggi melakukan pengawasan dan pembinaan. Sampai saat ini yang melakukan pengawasan terhadap personil hakim adalah Departemen Kehakiman. juga harus memuat pasal-pasal tertentu dari peraturan-peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk memberikan putusannya Tidak atau kurang memberikan pertimbangan dan alasan. MA menerbitkan Surat Edaran No 3 tahun 1974 yang pada intinya mengistruksikan bahwa semua putusan pengadilan selain harus memuat alasan-alasan pertimbangan sebagai dasar hukumnya. sedangkan MA hanya melakukan pengawasan teknis yuridis. dan . 5 Tahun 1986 Tentang Pengadilan Tata Usaha Negara).Dalam tenggang waktu 4 tahun para hakim telah dimutasi kewilayah pengadilan lain. Keempat. Kedua. Dalam 4 tahun sulit diperoleh perkara yang telah mempunyai kekuatan hukum yang telah diputus oleh MA dan dikirimkan kembali ke Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Penetapan pengadilan. seperti dalam Undang-undang No. Objek Eksaminasi Objek yang dapat dieksaminasi adalah proses peradilan dan produk peradilan.tentang bobot putusan hanya dari tiga perkara pidana dan tiga perkara perdata yang pernah diputus oleh seorang hakim dalam tenggang waktu 4 tahun. MA meminta kepada hakim Pengadilan Tinggi untuk memberikan bimbingan dan membuat catatan samping diatas kertas berita acara persidangan Pengadilan Negeri mengenai kesalahan-kesalahan yang dibuat dan memberi petunjuk bagaimana seharusnya. maka hal demikian dipandang sebagai kelalaian dan acara yang dapat mengakibatkan batalnya putusan pengadilan yang bersangkutan. sehingga tidak tahu lagi kelanjutan dari perkaranya. Dan juga demi untuk memperbaiki mutu putusan. Tidak pernah ada keterangan atau buku catatan tentang baik buruknya hasil penilaian eksaminasi oleh pejabat yang berwenang melakukan eksaminasi. 9 Tahun 2004 (revisi Undang-undang No. B.

Adapun kriterianya adalah sebagai berikut : Pertama. Memiliki Dampak Sosial Yang Tinggi Kasus tersebut memiliki dampak yang langsung ataupun tidak langsung bagi masyarakat terutama berkaitan dengan rasa keadilam masyarakat. Termasuk apabila suatu perkara dihentikan penyidikannya dengan SP-3 maka eksaminasi dapat dilakukan pada tahap tersebut. Suatu kasus untuk dapat dilakukan eksaminasi minimal harus memenuhi 2 kriteria : Dinilai Sangat Kontroversional. Namun timbul pertanyaan apakah putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap atau yang belum yang dapat dieksaminasi. Ini sangat tergantung dari kebutuhan tim eksaminasi. Bahkan pad titik tertentu misalnya perkara yang telah di SP-3. Dasar pemikirannya adalah agar tidak terjadi intervensi terhadap kemandirian hakim. perdata atau niaga. Mengenai surat dakwaan yang akan dieksaminasi adalah surat dakwaan yang telah dibacakan yang berdasarkan surat dakwaan tersebut hakim memberi suatu putusan. perkaranya dapat dinyatakan untuk dibuka kembali berdasarkan kajian dari tim eksaminasi publik. Mengenai hal ini ada dua pendapat. Perlu diketahui bahwa kriteria objek putusan pengadilan yang perlu dilakukan esksaminasi. Eksaminasi bukan hanya terhadap putusan pengadilan. Pada dasarnya eksaminasi adalah upaya penilaian atau pengujian terhadap suau produk peradilan mulai dari surat dakwaan jaksa bahkan SP-3. pendapat pertama yang menyatakan eksaminasi hanya untuk perkara yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. eksaminasi dapat dilakukan terhadap putusan pengadilan yang belum memiliki kekuatan hukum tetap. sehingga mempunyai nilai tinggi bagi mahasiswa dalam mengembangkan legal reasoning. Dalam mengeksaminasi suatu kasus. Demikian banyak kejanggalan dalam proses peradilan kasus tersebut. Penilaian kontroversional dilihat dari segi penerapan hukum acaranya dan atau penerapan hukum materiilnya serta dianggap bertentangan dengan rasa keadilan dari masyarakat. Efek yang didapat apabila eksaminasi dilaksanakan terhadap perkara yang belum selesai adalah adanya perbaikan proses peradilan berikutnya. C. Pendapat kedua. Diluar bidang tersebut tetap mungkin dilakukan eksaminasi. Oleh karena itu pilihan kasus yang dieksaminasi juga harus tepat. tiga.Subjek yang Berwenang Melakukan Eksaminasi Majelis eksaminasi publik atau disebut dengan majelis eksaminasi atau tim eksaminasi terdiri . Putusan pengadilan yang mengundang perdebatan dikalangan hukum. Tetapi dapat juga dilakukan terhadap produk perkara dimana perkara tersebut berada pada tahap awal. dua. Kesepakatan terhadap eksaminasi putusan peradilan yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap diharapkan dapat mempunyai efek besar bagi pengambil keputusan. Misalnya pada tahap penyidikan maka eksaminasi dapat dilakukan terhadap BAP yang ada.sebagainya. Dari dua pendapat tersebut banyak pihak yang cenderung kepada pendapat kedua. Putusan pengadilan yang penting dijadikan pegangan. Karena bagaimanapun juga eksaminasi membutuhkan keahlian dan konsentrasi serta waktu yang cukup. Putusan Pengadilan yang menjadi perhatian luas masyarakat karena dianggap jauh dari rasa keadilan. tidak bisa sembarangan menentukannya. Kasus yang dapat dieksaminasi dapat terdiri dari kasus pidana.

Dipilih karena Keahliannya Pemilihan anggota mejelis berdasarkan keahlian yang dimiliki berdasarkan kasus yang akan dieksaminasi. Eksaminasi ini mesti dilakukan oleh pihak yang independent. maka independensi dan keilmiahan majelis akan diragukan. Oleh Karena itu. kelompok ini bisa terlebih dahulu membentuk tim panel yang merupakan kelompok kecil dan mempersiapkan segala kebutuhan eksaminasi. terutama kesungguhan untuk menegakkan supremasi hukum yang memihak/berpihak pada rasa keadilan masyarakat. majelis eksaminasi dapat dibentuk oleh masyarakat. Karena ada kekhwatiran kalau kepentingan itu muncul baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu. maka tidak mudah mengharapkan hasil yang efektif.dari pihak yang mempunyai kredibilitas dan kompetensi untuk melakukan pengujian terhadap produk hukum (dalam hal ini dakwaan jaksa dan putusan hakim). Sebagai suatu pengawasan publik.Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melakukan Eksaminasi yang Ideal Reformasi yang dilakukan secara internal cenderung bersifat birokratis. eksaminasi putusan pengadilan mesti dilakukan oleh pihak-pihak eksternal (disamping internal) dan dalam ini fakultas hukum merupakan salah satu pihak yang relevan untuk melakukan eksaminasi. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan masyarakat umum membentuk tim eksaminasi terhadap kasus tertentu. demikian juga jika eksaminasi putusan pengadilan hanya dilakukan secara internal oleh lembaga peradilan yang bersangkutan. kegiatan eksaminasi publik biasanya dilakukan oleh kelompok masyarakat yang terorganisir dan memfokuskan kegiatannya pada pemantauan peradilan. Oleh karena itu diperlukan orang perorang yang memiliki kemampuan terutama dibidang hukum. dapatlah dipahami jika pendidikan . kriteria yang perlu diperhatikan daharus ada pada majelis eksaminasi adalah kualitas dan integritas pribadinya. D. harus punya pengalaman sekian tahun bukan anggota Parpol. Tidaklah mudah mencari figur yang mempunyai kualifikasi moral dan integritas pribadi untuk dijadikan “hakim” yang “mengadili” putusan majelis hakim yang notabene merupakan institusi resmi yang punya wewenang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sah. seperti syarat batas minimal umur atau maksimal sekian tahun. Dan tak kalah penting adalah integritas dan kredibilitas dari anggota tim eksaminasi Adapun prasyarat yang harus diperhatikan untuk dapat dipilih menjadi anggota majelis eksaminasi publik adalah : Tidak ada Conflict Interest Penegasan ini penting untuk menunjukkan bahwa dalam majelis ini tidak ada yang berkepantingan terhadap kasus yang sedang dieksaminasi. tidak sedang menjadi terdakwa/tersangka dan sebagainya. Memiliki Komitmen Terhadap Pembaharuan Hukum Indonesia Penilaian ini sangat subjektif tetapi setidaknya dapat dilihat konsistensi dan perjuangannya dalam pembaharuan serta penegakan hukum di Indonesia. Pada dasarnya tidak ada persyararatan yang sangat ketat untuk menjadi anggota majelis eksaminasi. Kemudian tim panel menetapkan kasus yang akan dieksaminasi dan memilih anggota eksaminasi. Selama ini. dan kegiatan lain dalam melaksanakan eksaminasi publik. Faktor utama yang dibutuhkan untuk menjadi tim panel ataupun anggota mejelis adalah integritas dan kredibilitas seseorang. Pada dasarnya anggota eksaminasi harus memiliki keahlian hukum atau keahlian lainnya yang sangat terkait dengan perkara yang akan dieksaminasi. dalam arti tidak mempunyai kepentingan dengan kasus yang diperiksa.

Tahap Pelaksanaan Putusan Masing-masing tahap ini didalam setiap peradilan mempunyai tata caranya tersendiri menyesuaikan dengan ketentuan hukum acara yang berlaku dalam peradilan tersebut.Penemuan hukum Penemuan hukum diartikan sebagai menerapkan. Penemuan hukum diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa hukum konkrit. Hukum acara pidana dalam tahap pendahuluannya mempunyai tata cara yang lebih kompleks bila dibanding dengan hukum acara perdata.Pertimbangan/consideran 4. Demikian juga pada bagian amar.Kepala putusan 2. Dalam sistem penemuan hukum heteronom. Apa yang diputuskan oleh hakim dan dikaitkan dengan konsideras kadangkala menjadi bagian yang dieksaminasi. memberntuk.Tahap Penentuan 3. yakni : . kasus kongkrit yang ingin ditemukan hukumnya dijadikan premis minor. yakni sistem penemuan hukum heteronom dan otonom. tidak harus terikat dengan undang-undang. undang-undang dijadikan sebagai sumber hukum utama. Dalam menemukan hukum untuk menyelesaikan kasus konkrit. hukum acara peradilan tata usaha negara maupun hukum acara peradilan agama. Pada bagian ini lah seringkali timbul perbedaan penilaian ataupun pendapat dari sisi hakim dengan pihak yang akan melakukan eksaminasi.Persoalan Hukum Yang harus dikuasai dalam memecahkan persoalan hukum : 1. ada dua sistem yang dianut.Identitas para pihak 3. 1.Amar Keempat bagian ini khususnya bagian konsideran merupakan bagian yang paling sering dieksaminasi. Dalam menemukan hukum untuk menyelesaikan kasus kongkrit. UU bukan merupakan satu-satunya sunber hukum dalam menemukan hukumnya. Dalam penemuan hukum.Sistem hukum 3.Tahap Pendahuluan 2.Kaedah hukum 2. Dalam rangka menemukan hukum untuk menyelesaikan kasus konkrit penemu hukum dapat mencari hukumnya pada sumber-sumber hukum yang dikenal dengan ilmu hukum.tinggi hukum (fakultas hukum) merupakan institusi yang relevan untuk melakukan eksaminasi putusan pengadilan. Pola berfikir yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan dalam menemukan hukumnya adalah pola fikir secara deduktif. 2. menciptakan hukum untuk memecahkan persoalan hukum konkrit. Isi dan Sistematika Putusan Setiap putusan pengadilan terdiri dari 4 bagian pokok yakni : 1. Dalam sistem penemuan hukum otonom. penemu hukum dapat menyesuaikannya denga kebutuhan masyarakat. 3. mencari. Karena fakultas hukum merupakan institusi yang secara rutin melakukan dan mengajarkan kajian hukum termasuk kajian putusan pengadilan. UU dijadikan premis mayor. tidak harus terikat dengan UU.Proses Peradilan Secara teoritis proses peradilan di indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 tahap : 1. Penemu hukum bahkan dapat menyimpang dari UU. penemu hukum dapat menyesuiakannya dengan kebutuhan masyarakat.

Peraturan Perundang-undangan Hukum Kebiasaan Yurisprudensi Perjanjian Internasional Doktrin .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful