MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI SASTRA MELAYU KLASIK MELALUI MODEL JIGSAW VARIATIF PADA SISWA KELAS X8 SMA NEGERI

I UNGARAN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 Abstrak
Siswa kelas X8 SMA Negeri 1 Ungaran tahun pelajaran 2009-2010 berkemampuan rendah memahami sastra Melayu klasik bentuk hikayat. Hal ini ditandai oleh 65% siswa mendapat nilai di bawah KKM(Kriteria Ketuntasan Minimal). Berdasarkan hasil angket dan wawancara diagnostik dipastikan penyebab kemampuan yang rendah adalah pembelajaran yang belum kondusif dan minat siswa yang rendah. Karenanya, tujuan penelitian adalah meningkatkan kemampuan siswa memahami hikayat dengan mengimplementasi model Jigsaw Variatif(perpaduan model Jigsaw dan peran tutor sebaya). Prosedur penelitian adalah: (1) perencanaan(planning) yaitu analisis faktor penyebab dan penetapan aksi, (2) pelaksanaan tindakan(acting) yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model Jigsaw Variatif, (3) pengumpulan data(observing) melalui observasi kolaborator, angket, dan jurnal siswa, serta foto, (4) analisis keefektifan tindakan(reflecting) yaitu analisis data untuk menentukan aksi berikutnya. Penelitian berlangsung dalam dua siklus. Penelitian menunjukkan hasil signifikan, siklus I 78% siswa tuntas KKM dan 90% pada siklus II. Dengan demikian model Jigsaw Variatif mampu meningkatkan kemampuan siswa memahami hikayat. Karenanya, model ini dapat diterapkan untuk pembelajaran yang relevan.

Pendahuluan Mengapresiasi sastra Melayu klasik merupakan materi yang

harus dipelajari dan kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh siswa kelas X semester 2 pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA. Standar kompetensi yang berbunyi: Memahami Sastra Melayu Klasik terbagi dalam dua kompetensi dasar, yaitu (1) mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik Sastra Melayu klasik dan (2) menemukan nilai yang terkandung di dalam Sastra Melayu klasik. Namun, 65% siswa X-8 SMA negeri 1 Ungaran tahun pelajaran 2009-2010 mengalami masalah untuk memahami sastra melayu klasik karena bahasanya. Akibatnya, siswa menjadi tidak berminat
1

mempelajari Sastra Melayu Klasik. Hal ini didapat dari tes penjajagan dan hasil ulangan harian serta angket dan wawancara diagnostik yang dilakukan oleh peneliti. Dari tes penjajagan rata-rata anak tidak dapat menyimpulkan tema, amanat, latar, dan perwatakan. Apalagi, jika pembelajaran dilanjutkan ke kompetensi dasar kedua yang mengharapkan siswa dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam Sastra Melayu klasik. Dari wawancara diagnostik 100% menjawab bahwa permasalahan utama memahami Sastra Melayu klasik karena bahasanya. Padahal, pembelajaran tentang sastra Melayu klasik ini akan diulang pada kelas XI dan XII dengan kedalaman dan keluasan materi, serta jenis yang berbeda. Pada kelas X dan XI siswa akan bertemu dengan sastra Melayu klasik berbentuk prosa, sedangkan bentuk puisi akan dipelajari di kelas XII. Dan evaluasi tentang pembelajaran sastra Melayu klasik menjadi salah satu standar kompetensi lulusan pada ujian nasional. Ketidakmampuan siswa untuk memahami sastra Melayu klasik disebabkan ketidakmampuan siswa memahami karya tersebut, selain itu guru belum mencoba teknik lain untuk membuat siswa mengerti dan berminat mengapresiasi karya-karya tersebut. Karenanya, hal ini perlu segera diatasi. Hasil pengamatan peneliti dan hasil kolaborasi sesama guru mapel bahasa Indonesia disepakati, menggunakan model Jigsaw Variatif untuk meningkatkan proses dan hasil belajar pemahaman Sastra Melayu klasik. Model pembelajaran ini memadukan antara Jigsaw dengan pemanfaatan tutor sebaya, yang diharapkan dapat memaksimalkan hasil belajar. Keberadaan tutor sebaya ini berdasarkan permasalahan utama pemahaman Sastra Melayu klasik,yaitu pada bahasa dan minat siswa. Tutor sebaya yang dimaksud adalah teman yang mempunyai kemampuan bahasa dan minat lebih untuk memahami sastra Melayu klasik. Model ini dipakai karena karakteristik model Jigsaw sebagai salah satu model cooperatif learning dapat diimplementasikan pada pembelajaran sastra yang pemahamannya melalui analisis unsur
2

menemukan nilai-nilai terkandung di dalam Sastra Melayu klasik. Dan kemudian mengondisikan mereka untuk bertanggung jawab melaporkan hasil kepada kelompok kooperatif. Berdasarkan latar belakang di atas. keputusan dengan ini diambil mengingat model Jigsaw dengan bahasa karakteristiknya sebagaimana diuraikan oleh Santosa(1999) relevan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran Indonesia.alur. Selain itu model Jigsaw menuntut keahlian tiap bagian untuk pemahaman secara utuh. masalah penelitian ini adalah 65% siswa kelas X-8 Kemampuan menganalisis yang unsur SMA 1 Ungaran tahun pelajaran 2009-2010 rendah intrinsik tersebut dan meliputi kemampuan yang berkemampuan rendah dalam memahami Sastra Melayu klasik. tokoh dan perwatakan. latar. sudut pandang. Selain itu. Kemampuan siswa akan diberdayakan dengan membentuk mereka dalam kelompok ahli yang menganalisis salah satu unsur intrinsik hikayat. Dalam hal ini Sastra Melayu klasik yang dipelajari adalah karya sastra berbentuk prosa.intrinsik. Sedangkan nilai-nilai yang dimaksud seperti nilai budaya. Kemampuan rendah tersebut akan diberi solusi dengan memahamkan hikayat. Apakah pembelajaran dengan model Jigsaw Variatif dapat mengoptimalkan 3 . moral. Saat terjadi diskusi di kelompok ahli itulah diberdayakan peran tutor sebaya untuk memaksimalkan proses dan hasil belajar. Oleh Setiawan(2009) dianggap juga mampu menumbuhkan penghargaan pada masing-masing individu ketika perannya ikut menentukan keberhasilan kerja kelompok. Model jigsaw juga memiliki kelebihan pada prinsip kerja sama dan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok. yang mempelajari sebuah kesatuan melalui analisis bagianbagiannya. Struktur unsur-unsur intrinsik yang dimaksud adalah tema. dan amanat. kepada siswa melalui model Jigsaw Variatif(pemanfaatan tutor sebaya). sebagai salah satu karya Sastra Melayu klasik. dan agama. yaitu hikayat.

Hal ini ditandai dengan keberadaan 4 . Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi siswa. Bagi Sekolah Penelitian bermanfaat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah pada umumnya. 3. dan karya sastra pada umumnya. maupun sekolah. Kualitas pembelajaran tersebut akan berdampak terhadap peningkatan nilai hasil ujian nasional dan mampu memberi bekal siswa memenangkan persaingan di tingkat yang lebih tinggi. Kerangka Teoretis Sastra Melayu Klasik dan Analisisnya Sastra Melayu klasik adalah prakesusastraan Indonesia. Keberhasilan tersebut ditandai dengan pada akhir siklus sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai hasil tes minimal 71. dapat memotivasi dan menimbulkan kreativitas guru. khususnya. Bagi Guru Penelitian diharapkan dapat menambah pengalaman dan khasanah model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan proses dan hasil belajar siswa. 2. guru. Sering disebut kesusasatraan lama Indonesia. Bagi Siswa Penelitian bermanfaat meningkatkan kemampuan siswa memahami dan mengapresiasi hikayat sebagai salah satu karya sastra Melayu klasik. Selain itu. Menumbuhkan minat dan kesenangan mengapresiasi karya Sastra Melayu klasik. 1.pemahaman siswa kelas X8 SMA 1 Ungaran terhadap karya Sastra Melayu klasik? Tujuan penelitian adalah 85% siswa dapat memahami hikayat melalui pembelajaran yang mengimplementasikan model Jigsaw Variatif. mulai eksis sekitar abad ke-16 M.

Untuk karya prosa. mythe. hikayat dapat dibedakan (1) hikayat asli Melayu. legenda. sejarah. banyak menggunakan partikel –pun dan –lah. berulang dan berbelit. Hikayat kadang-kadang memiliki nuansa heroik dan penuh pesan edukatif. 2009:76). adalah bentuk hikayat. dan talibun.naskah I yaitu sepucuk surat dari raja Ternate. Hikayat Bayan Budiman. alur. Untuk menganalisis karya sastra seperti hikayat. 1985:27). Karya sastra Melayu klasik dikenal dalam dua bentuk yaitu prosa dan puisi. yang menggunakan teori strukturalisme. dan Hikayat Nabi Sulaiman. hikayat. Tokohnya. Sultan Abu Hayat.(2) hikayat pengaruh Jawa(cerita panji). Teori ini dianggap sebagai salah satu teori modern yang berhasil membawa manusia pada pemahaman karya sastra secara maksimal (Ratna. kepada Raja Joao III di Portugal tahun 1521 M. (4) hikayat pengaruh Persia. sudut pandang dan amanat. seloka. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. fabel. Secara definitif strukturalisme memberikan perhatian terhadap analisis unsurunsur karya. serta menggunakan bahasa istana. cerita panji. Berdasarkan pengaruhnya. Bahasa Melayu ditandai dengan kalimat-kalimat yang panjang. Contoh-contoh judul hikayat: Hikayat Hang Tuah. Hikayat Panji Semirang. unsur-unsurnya: tema. (5) hikayat Islam/ arab(Baribin. dari kalangan raja dan bangsawan. tokoh dan perwatakan. Hikayat Seri Rama. sering digambarkan memiliki kesaktian atau kelebihan tertentu. gurindam. Yang berbentuk prosa seperti dongeng. menggunakan kosa kata klasik. 5 . syair. khususnya kelas X. latar. Di antara bentuk-bentuk karya sastra tersebut yang sering dipelajari di sekolah. (3) hikayat yang mendapat pengaruh Hindia. digunakan teknik analisis unsur intrinsik. Sedang bentuk puisi di antaranya: pantun.

siswa dituntut untuk belajar. Made Wena menggambarkan model jigsaw sebagai berikut. (3) memantau efektivitas kerja kelompok dan memberikan bantuan kepada siswa untuk 6 . walaupun dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat belajar dari dua sumber utama. yaitu pengajar dan teman belajar lain(2009:189). (1) Setiap anggota kelompok mempelajari/ mengerjakan salah satu bagian informasi yang berbeda dari bagian anggota yang lain. (2) Setiap anggota kelompok bergantung kepada anggota kelompok lain untuk dapat mempelajari/ memahami informasi secara utuh. model Jigsaw adalah model pembelajaran dengan membentuk siswa dalam kelompok-kelompok kecil. menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Untuk mengapresiasi dan memahaminya dengan menganalisis unsurunsur intrinsiknya. mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa proses belajar akan lebih bermakna jika peserta didik dapat saling mengajari. (4) Setiap anggota kelompok berbagi informasi dengan anggota yang lain dalam rangka menangkap keutuhan informasi(2009:193). (3) Setiap anggota kelompok menjadi pemilik ahli informasi.Jadi hikayat adalah salah satu bentuk karya Sastra Melayu Klasik mempunyai ciri termasuk karya kesusastraan lama yang menggunakan bahasa Melayu. dan bertanggung jawab sungguh-sungguh dalam penyelesaian tugas-tugas individu dan kelompok. bekerja sama. Santosa (1999:7) mengatakan bahwa peran utama guru dalam model Jigsaw dengan adalah (1) menyampaikan (2) tujuan pembelajaran sejelas-jelasnya. Model Jigsaw Variatif Sebagai salah satu teknik dalam cooperative learning. Pendapat Lie yang dikutip Made Wena. Melalui model ini.

keterampilan membimbing dan memudahkan belajar.2007:27-28). keterampilan guru dalam mengajar kelompok dimaksud kecil dan perorangan. the type of heterogenety you desire depends on your content. Keterampilan yang adalah keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi. dan (5) mengevaluasi hasil kerja siswa. dan keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.memaksimalkan kerja kelompok. (4) membantu siswa berdiskusi. keterampilan mengorganisasi. Untuk memaksimalkan proses dan hasil belajar siswa. gender. If teaching abusiness class. Untuk itu guru harus mampu mengenal dan memahami karakter peserta didik di antaranya dalam hal kecerdasan dan bakat anak. yaitu siswa yang mempunyai kemampuan bahasa dan minat yang lebih dalam menganalisis karya sastra. sikap. If students will need to use a particular piece of software you might try make sure that at least one person on each themis familiar with it. Sebuah kelompok dalam model Jigsaw ini tepat juga dipadukan dengan keberadaan tutor sebaya. but often. ethnicity. untuk dapat membelajarkan siswa(Fathurrohman dan Sutikno. model ini dipadukan dengan memanfaatkan tutor sebaya. or experience. seperti yang diuraikan Usman(1999:106-107) sangat diperlukan. Dalam model Jigsaw. minat dan hobi. skills. Keberadaan tutor sebaya dalam model Jigsaw ini sesuai dengan pendapat Susan Ledlow: Teams of heterogeneous on the basis of achievement. Hal ini sesuai pendapat Danim(2002: 167) bahwa guru harus pandai mengelola kelas melalui kerja sama dengan teman sejawat atau siswa sendiri untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. There are many classes in which teams should be heterogeneous by academic performance. you might consider pairing students who have real business experience with those who have limited work experience. 7 .

tokoh dan perwatakan. dan melaksanakan tugas secara mandiri).memotivasi. Ada empat alat untuk menuju kebeberhasilan pembelajaran yaitu. pelatihan kognitif( pemberian bantuan berupa contoh strategi.dan amanat. Santrock yang mengatakan bahwa peran teman sebaya memberi kontribusi dalam keberhasilan pembelajaran. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Model yang Jigsaw dengan Variatif adalah tugas sebuah dalam model sebuah pembelajaran kooperatif membentuk berbagi kelompok-kelompok kemudian kelompok kecil atau kelompok ahli yang akan bertanggung jawab masing-masing terhadap sebuah penyelesaian tugas. 8 . dan pembelajaran kooperatif(2008:392-396). Siswa dibagi dalam kelompok kecil atau kelompok ahli yang mendiskusikan satu unsur intrinsik dipimpin oleh teman atau tutor sebaya yang telah ditentukan. sudut pandang. latar.Pemaduan antara model Jigsaw dan keberadaan tutor sebaya ini senada dengan pendapat John W.alur. tutoring(pelatihan kognitif antara pakar dan pemula). Di dalam kelompok ahli tersebut diberdayakan keberadaan tutor sebaya untuk mengoptimalkan proses dan hasil belajar. Pembelajaran Sastra Melayu Klasik dengan Model Jigsaw Variatif Menganalisis unsur-unsur intrinsik hikayat dalam rangka memahami sastra Melayu klasik dilakukan dengan menganalisis tema. Diskusi di kelompok ahli ini benar-benar melibatkan keaktifan anggota karena masing-masing anggota akan bertanggung jawab kepada kelompok kooperatif yang telah dibentuk sebelumnya dalam rangka menghimpun informasi dan mengapresiasi hikayat secara utuh. Scaffolding (pemberian bantuan dengan mengubah level dukungan secara bertahap).

ada beberapa yang 31 orang. menyusun alat penelitian yang digunakan. Jumlah siswa semula 32 orang kemudian berubah menjadi siswa laki-laki 12 ramai. karena pindah. menganalisis penyebab. observasi dan interpretasi. Tahap Perencanaan (Planning) Perencanaan dilakukan secara partisipasif kolaboratif dengan melibatkan teman sesama guru mapel bahasa Indonesia. 3. Kegiatan yang dilakukan meliputi refleksi kebenaran masalah. Ada beberapa yang bandel dan malas. Siswa mengerjakan tes. Siswa sering aktif menggunakan kesempatan untuk ngobrol sesama teman. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri atas dua siklus penelitian. Tahap Observasi dan Interpretasi (Observing and interpretation) Pada tahap ini data dikumpulkan. 9 . Kolaborator melakukan pengamatan atau observasi dengan mengisi format yang telah dipersiapkan. implementasi tindakan. serta analisis dan refleksi.Metode Penelitian Subjek Penelitian Kelas X-8 merupakan kelas rata-rata. Guru membuat catatan mengenai pelaksanaan pembelajaran yang telah berlangsung. Tiap-tiap siklus penelitian terdiri atas tahap tahap perencanaan. Tahap Implementasi Tindakan (Acting) Pada tahap ini rancangan pembelajaran dilaksanakan oleh guru. menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan model jigsaw variatif. 2. dan menyusun rancangan evaluasi. Uraian dari masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dari tes penjajagan 65% siswa memperoleh nilai kurang dari KKM(71). Jumlah tetapi sebagian cenderung orang dan perempuan 19 orang.

jurnal siswa dan guru. Pada pertemuan I siswa dipertemukan dalam forum diskusi di kelompok kooperatif dan kelompok ahli. Untuk memaksimalkan hasil. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan satu judul hikayat harus dipahami sebagai suatu kesatuan secara utuh. hasil tes dihubungkan dengan tujuan dan indikator penelitian. yang telah ditunjuk sebelumnya menjadi tutor. Masing-masing mereka telah mendapat spesifikasi tugas sesuai unsur intrinsik yang akan dianalisis. kekurangan dan masalah. 10 . Kolaborator/ guru mengambil gambar dengan kamera foto. sedang pada pertemuan kedua dilakukan presentasi hasil diskusi dalam diskusi kelas dan kegiatan evaluasi. Siswa menerima informasi dari guru mengenai tujuan dan langkah-langkah kegiatan. dilakukan pembelajaran menganalisis unsur intrinsik hikayat dan menemukan nilai-nilai dalam dua pertemuan. 3. Siswa dibentuk dalam kelompok kooperatif yang terdiri atas lima orang tiap kelompok. 4. angket implementasi tindakan dan minat.mengisi angket dan jurnal setelah pembelajaran berlangsung. Guru meminta siswa. Dari hasil observasi. 2. untuk maju. Jika pada temuan terdapat siklus berikutnya. Skenario Pembelajaran dengan model Jigsaw Variatif: 1. Tahap Analisis dan Refleksi (Analysis and Reflecting) Pada tahap ini guru dan kolaborator mendiskusikan temuantemuan yang diperoleh. Dengan demikian pada siklus kedua dilakukan pembelajaran dengan judul hikayat yang berbeda. hal itu dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun rencana tindakan pada Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua siklus.

kelompok kooperatif mendapat bergabung untuk mendiskusikan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan observasi. Data kuantitatif berupa skor hasil evaluasi pemahaman hikayat dengan rentang nilai 1-100. dan foto.guru kolaborator sebagai observer. Data kualitatif berupa deskripsi hasil observasi oleh kolaborator. 8. angket dan jurnal siswa. Panduan observasi. Teknik Pengumpulan Data dan Validasi Data Validitas data yang dikumpulkan diuji dengan teknik triangulasi yang meliputi triangulasi sumber data dan triangulasi jenis data dan instrumen. dan seterusnya. a. Jenis data yang didapatkan dari penelitian ini adalah data kuantitatif berupa hasil tes dan data kualitatif berupa hasil nontes. Kelompok kooperatif berbagi tugas berdasarkan unsur intrinsik yang dianalisis. ahli alur. yang alur. tokoh tugas dan sama perwatakan. Adapun penjelasannya sebagai berikut. Siswa kembali pada kelompok kooperatif masing-masing untuk saling menyampaikan dan menerima informasi mengenai hasil kerjanya di kelompok ahli. dan siswa yang melakukan proses pembelajaran menganalisis unsur intrinsik dan nilai nilai hikayat. 5.4. Guru berkeliling memberi motivasi dan bantuan berupa dasar dasar teori jika diperlukan. jurnal guru dan kamera foto. latar. 6.ahli latar. jurnal dan angket oleh siswa. panduan wawancara dan jurnal guru. Sumber data penelitian ini berasal dari guru kolaborator. 7. Kelompok hasil bentukan ini disebut kelompok ahli. catatan peneliti. meliputi pengamatan terhadap implementasi pembelajaran dengan 11 . Anggota yaitu tema dan amanat. sudut pandang dan nilai. Siswa mengerjakan evaluasi. panduan wawancara.

Kamera foto yang mengabadikan proses pembelajaran. Sedangkan pengamatan terhadap memonitor perilaku siswa selama pembelajaran. Nilai setiap siswa dihitung dan dibandingkan skor kriteria ketuntasan minimal(KKM) untuk melihas ketuntasan individual. c. Jurnal guru adalah catatan guru tentang pelaksanaan dihadapi. Pengamatan terhadap implementasi pembelajaran dengan siswa. meliputi pertanyaan tentang implementasi pembelajaran dengan teknik jigsaw variatif dan pengumpulan data tentang minat siswa. f. selanjutnya. bantuan oleh guru. Panduan wawancara adalah pedoman yang berisi pertanyaan untuk mencari penyebab permasalahan e. klasikal setiap siklus dihitung dengan cara b. Dengan penjelasan sebagai berikut. d. Teknik Analisis Data Data penelitian dikumpulkan. variatif dan meliputi efektivitas minat pengamatan terhadap pemberian acuan. Angket. 12 . diolah menjadi tabel-tabel kemudian dianalisis. Ketuntasan membandingkan jumlah siswa yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 71 dengan jumlah peserta tes pada siklus yang bersangkutan. Jurnal oleh siswa adalah kesan-kesan para siswa selama pembelajaran.masalah yang keberhasilan.teknik jigsaw variatif dan pengamatan terhadap minat siswa selama pembelajaran. Analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif analitik. b. teknik proses jigsaw evaluasi. sebagai acuan menentukan langkah pada siklus merekam periaku siswa dan guru selama proses pembelajaran. a. pembelajaran. untuk meliputi kesan. mengenai teknik jigsaw dan implementasinya dalam pembelajaran pemahaman hikayat. siswa sebagai responden. pengorganisasian pembelajaran.

1.100 71 . Telah terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan implementasi Model Jigsaw Variatif pada pembelajaran memahami hikayat. Indikator Keberhasilan Keberhasilan dalam penelitian ini ditandai dengan peningkatan pemahaman siswa terhadap hikayat dengan hasil evaluasi 85% siswa mendapat nilai lebih besar atau sama dengan 71. HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus I Hasil Tes Setelah aksi dilaksanakan dan dievaluasi. Tabel Perbandingan Nilai Hasil Tes Penjajagan Evaluasi Siklus I No. Selanjutnya. Rentang Nilai 86 . Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 tentang perbandingan hasil tes penjajagan dan hasil tes akhir siklus I.85 50 -70 < 50 Hasil Tes Penjajagan (orang) 11 16 4 % 0 35 52 13 dan Hasil % 1 0 6 8 1 9 3 Hasil Evaluasi Siklus I (orang) 3 21 6 1 13 . diperoleh hasil sebagai berikut. meskipun belum sesuai dengan yang diharapkan. 4.c. Data nontes diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspeknya. 3. 2. dikaitkan dengan data kuantitatif untuk melihat keberhasilan pembelajaran.

Namun. mempermudah pemahaman apalagi 14 didukung oleh keberadaan tutor . bahwa model Jigsaw Variatif dapat melatih kerja sama dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.Pada hasil tes penjajagan terdapat 20 orang atau 65% siswa mendapat nilai kurang dari KKM (71) atau dapat dikatakan hanya 35% siswa yang tuntas. Sedangkan hasil tes akhir siklus I menunjukkan 24 orang atau 78% siswa telah tuntas. Hal ini juga dirasakan oleh peneliti dan menjadi sebuah catatan karena keluhan tersebut juga muncul dari angket siswa yang mengatakan terlalu tergesagesa mengerjakan tugas-tugas guru(lampiran angket siswa1). serta semua siswa dituntut keterlibatannya. dari jurnal siswa diperoleh banyak catatan positif seperti. Namun. artinya observasi siswa memperhatikan ketepatan model dan melaksanakan yang pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Hasil Nontes Pelaksanaan proses pembalajaran dimonitor oleh kegiatan observasi kolaborator dan jurnal siswa. yang setidaknya 85% diharapkan tuntas. kegiatan pembelajaran menjadi variatif. angket siswa serta diabadikan melalui foto. Catatan atau jurnal guru peneliti ikut mendukung data proses. ini belum sesuai target. Di lain pihak. dapat juga hal itu terjadi karena perubahan kelompok yang mengondisikan siswa untuk selalu bergerak cepat (lampiran jurnal siswa-1). Dengan demikian secara klasikal terdapat peningkatan ketuntasan 43% siswa. Dari pengamatan kolaborator diperoleh data bahwa minat dan aktivitas siswa dalam pembelajaran positif. Hanya pada hasil tentang pembelajaran Variatif mengimplementasikan Jigsaw diperoleh catatan kolaborator tentang manajemen kelas dan waktu yang perlu ditingkatkan oleh guru peneliti( lampiran hasil observasi kolaborator ).

Peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan peningkatan hasil evaluasi siklus I sebesar 43%. waktu yang kurang. pada yang siklus menjadi hikayat II kendala dengan dilakukan menganalisis bahasanya. 2. penerjemahan secara bebas naskah hikayat oleh guru dan 15 . Peningkatan proses belajar ditunjukkan oleh suasana belajar dan minat belajar siswa Hasil Penelitian dan Pembahasan siklus II Setelah kegiatan siklus I berakhir dan dilakukan refleksi didapati kegiatan masalah apresisasi Karena kebahasaan dan itu. Hal yang sama dapat dilihat dari hasil angket siswa tentang implementasi model Jigsaw Variatif dalam pembelajaran dan minat siswa dalam pembelajaran. dari 35% menjadi 78% siswa tuntas memahami hikayat. yakni: 1. Meskipun demikian. Selanjutnya akan mendapat informasi unsur lain yang dibahas secara mendalam pula. dan bahasa sastra Melayu klasik yang sulit dipahami. Siswa menganggap model pembelajaran ini sangat menyenangkan dan efektif karena tiap anggota kelompok memahami unsur intrinsik secara mendalam. Informasi tersebut cenderung didapat dari siswa dengan karakter pendiam atau malas. dalam kondisi aktif seperti itu masih ada yang sempat mengatakan ngantuk. Bahkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa implementasi model Jigsaw Variatif telah didapati perubahan. dari angket tentang minat masih ada 13% siswa merasa tidak suka.sebaya. Alasan mereka karena harus berpindah-pindah kelompok dan harus melakukan tugas dengan tergesa-gesa. tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu dan agak bingung ketika terjadi perpindahan kelompok.

3. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut. Hasil Tes Setelah aksi dilaksanakan. diperoleh peningkatan hasil evaluasi yang signifikan.100 71 . berarti terjadi peningkatan ketuntasan klasikal dari jumlah 24 orang di siklus I atau 78% menjadi 28 orang atau 90% di siklus II. 1. 2. Keterampilan awal ini diharapkan dapat digunakan oleh para tutor untuk membantu teman di kelompoknya.para tutor sebaya.85 50 -70 > 50 10 68 19 3 16 74 6 4 Dengan batas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 71. Hasil Nontes 16 . 86 . Peningkatan ketuntasan per siklus dapat dilihat melalui grafik berikut. Rentang Nilai Hasil Evaluasi Siklus I (orang) 3 21 6 1 % Hasil Evaluasi Siklus II (orang) 5 23 2 1 % Kegiatan ini dilaksanakan di luar jam pelajaran atau sebelum tatap muka. 4. Perbandingan Hasil Evaluasi Siklus I dan Siklus II No.

Dari hasil pelaksanaan kegiatan siklus II diperoleh simpulan sebagai berikut. bahwa siswa belum dapat memahami hikayat. 2. 17 . Catatan menyatakan pembelajaran ini sangat tepat untuk pembelajaran yang dirasa sulit oleh siswa dan membutuhkan kerja sama yang tinggi. dan berkomunikasi lisan. yang dapat dilihat dari hasil angket. Peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan hasil evaluasi siklus II yang telah mencapai target. dalam hal ini hikayat. Model menyatakan suka dengan model pembelajaran ini.Peningkatan juga terjadi pada minat siswa mengikuti proses pembelajaran. ditunjukkan kolaborator juga pula dari jurnal siswa yang 96% hal yang sama. 1. karena terjadi peningkatan dari 78% tuntas pada siklus I menjadi 90% pada siklus II. 1. 2. bertanggung jawab. mendidik siswa untuk dapat bekerja sama. Mengimplementasikan model Jigsaw Variatif( perpaduan model Jigsaw dan peran tutor sebaya) merupakan solusi dari permasalahan. Selain itu. Proses membelajarkan hikayat menjadi lebih mudah dan minat siswa menjadi lebih tinggi terhadap materi hikayat dan pembelajaran. Hal itu bermula dari permasalahan. Model Jigsaw Variatif mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami hikayat ditunjukkan oleh peningkatan hasil evaluasi pada tiap akhir siklus. Setelah penelitian dilaksanakan didapatlah simpulan sebagai berikut. Model Jigsaw Variatif menjadikan siswa lebih berminat dan aktif dalam pembelajaran. Penutup Simpulan Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa X8 SMA Negeri 1 Ungaran tahun pelajaran 2009-2010 memahami Sastra Melayu Klasik.

Raminah. Semarang: IKIP Semarang Press. 2007. dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. menumbuhkan kepercayaan semangat kepemimpinan. Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidikan. Oleh sebab itu. lebih berinisiatif. 1985. Strategi Belajar Mengajar. terutama pada nilai kerja sama. Danim. guru dapat menerapkan model serupa dan senantiasa termotivasi untuk kreatif menggunakan model pembelajaran yang inovatif. Peran tutor sebaya membantu guru dalam mengelola kelas dan menampung segala permasalahan yang dihadapi siswa. Peran tutor sebaya membantu guru dalam pengelolaan kelas dan pembelajaran sehingga akan lebih baik guru mengenal para siswa. Pembelajaran dengan model Jigsaw Variatif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap hikayat. 5. Sobry Sutikno. 2002. Fathurrohman. Peran tutor sebaya yang dipadukan pada diri model dan Jigsaw meningkatkan kemampuan dan minat para siswa untuk dapat berbagi. model ini dapat pula 2. Inovasi Pendidikan. matang dalam persiapan pembelajaran. Jigsaw Variatif mempunyai banyak nilai positif. Bandung: CV Pustaka Jaya.3. serta bersemangat. yang pada gilirannya dapat segera dicarikan solusinya. Sudarwan. Model Jigsaw Variatif menambah khasanah model pembelajaran yang dimiliki guru. Pupuh dan M. Karenanya. kemampuan dan minat yang dimiliki. Saran 1. 3. DAFTAR PUSTAKA Baribin. 4. tanggung jawab. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. membuat guru lebih peduli. Modef diterapkan untuk pembelajaran dengan karakteristik pembelajaran yang sama dan relevan. Strategi 18 .

Bambang. dan Teknik Penelitian Sastra. Metode. Barokah.” Peningkatan Prestasi Hasil Belajar melalui Keefektifan Kerja Kelompok dengan Model Jigsaw pada Siswa Kelas XI PHPP SMK Negeri I Mojosongo Semester Genap Tahun 2008/2009”. Wena. 19 . Ejmste.Volume I No. Semarang: Badan Penerbit Undip Semarang dan CV Widya Karya. (http: // www. Cooperative Learning in Higher Education. Subyantoro. Moh. Perspektif Wacana Naratif. Nyoman Kutha. Jakarta: Kencana.” Cooperative Learning: Penerapan Teknik Jigsaw dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SLTP”. Edisi revisi. Uzer. 2009. Santrock. Susan. 1999. Psikologi Pendidikan. Setiawan.Jurnal Didaktika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Bumi Aksara. 1998/1999. Usman. Santosa. Tahun I Edisi Khusus. Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme.2009. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Bandung: PT Refika Aditama. Pelangi Pendidikan.2009. John W.com). Made. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Center for Learning and Teaching Excellence. 2009. Ledlow.Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Menjadi Guru Profesional. Ratna. Teori. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. 1999. November 2009.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI SASTRA MELAYU KLASIK MELALUI MODEL JIGSAW VARIATIF PADA SISWA KELAS X8 SMA NEGERI I UNGARAN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 Makalah disajikan dalam diskusi ilmiah pada kegiatan MGMP Bahasa Indonesia tingkat kabupaten 26 April 2011 20 .

Aryani Purnama : mandiri : 60 hari Ungaran. 21 : Meningkatkan Kemampuan Memahami Sastra Melayu . ARYANI PURNAMA 19660131 199702 2001 SMA NEGERI I UNGARAN TAHUN PELAJARAN 2009-2010 LEMBAR PENGESAHAN Judul Klasik melalui Model Jigsaw Variatif pada Siswa Kelas X8 SMA Negeri I Ungaran Tahun Pelajaran 2009-2010 Peneliti/ Penulis Sumber Dana Lama Penelitian : Dra.DRA. Agustus 2010 Peneliti.

Dra. Aryani Purnama NIP 19660131 199702 2001 Mengetahui dan Mengesahkan: Ketua MGMP Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Koordinator MGMP 22 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful