You are on page 1of 7

TERJEMAHANAN SIMULATION STUDY OF DRILLING HORIZONTAL WELLS IN ONE OF IRANIAN OIL FIELDS Abstrak Tujuan dari studi ini

untuk menginvestigasi keuntungan pengeboran sumur horizontal dalam meningkatkan recovery oil. Untuk mengevaluasi efek dari panjang horizontal, porositas, anisotropi, pola staggered-line (pola segitiga tersusun) pada sumur injeksi gas (pada lapisan atas) dan injeksi air (pada lapisan bawah), digunakan berbagai skenario untuk dipelajari. Studi ini difokuskan pada simulasi formasi A dari reservoir karbonat yang terdiri dari tiga lapisan; dimana sumur horizontal akan dibor pada lapisan kedua formasi ini. Ketebalan rata-rata formasi A adalah sekitar 167,64 meter (550 ft) dan terdapat pula kemiringan dari garis water-oil-contact (Woc) pada formasi ini. Field ini telah memproduksi sekitar 146,9 MMBBL hingga tahun 2002 selama 12 tahun terakhir dengan nilai Recoverable Reserve (reserve yang dapat diambil) sebesar 237,31 MMBBL. Hingga sekarang, 40 sumur telah dibor di field ini. Software IRAP/RMS digunakan pada penelitian ini untuk membuat permodelan geologi. Berdasarkan black oil model, IMEX dari CMG digunakan sebagai alat simulasi. Model sektor digunakan dalam simulasi karena hanya terdapat satu sumur horizontal yang produktif pada formasi ini. Studi ini menegaskan penggunaan metode simultan baik pada metode overbalance dan sumur horizontal pada reservoir ini agar : (a) meningkatkan laju produksi menjadi 3 hingga 4,5 kali dengan menaikkan Productivity Index (PI), (b) mengkomunikasikan area luas yang mengarah ke arah area drainage yang lebih baik, dan (c) mencegah water breakthrough dengan mengurangi tekanan draw down. Pendahuluan Mengidentifikasi faktor kunci yang mengontrol pengaruh dari pengeboran sumur horizontal baru pada skala reservoir adalah isu yang fundamental. Setelah identifikasi selesai, permodelan melalui simulasi akan menentukan kombinasi pemboran horizontal dan vertical yang paling baik untuk menaikkan produksi. Pengaruh dari sumur vertikal pada reservoir bergantung pada berbagai faktor, antara lain jumlah sumur, jarak antarsumur, ketebalan formasi, Kv/Kh, tipe drive mechanism (mekanisme pendorongan), interval komplesi sumur vertikal, radius sumur, radius drainage, viskositas oil (dan kelakuan fluida terhadap PVT) dan yang paling penting adalah panjang dan penempatan sumur horizontal tersebut. Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai efek dari unjuk kerja sumur horizontal dalam menaikkan recovery oil. Studi kasus dilakukan pada salah satu reservoir di Iran sebagai objek simulasi. Latar Belakang Proses recovery oil meliputi dua tahap, yaitu primary dan Enhanced Oil Recovery (EOR). Primary recovery dilakukan dengan menggunakan energi alamiah yang terdapat dalam reservoir yang berguna untuk mendorong oil ke sumur produksi. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan injeksi air dan gas untuk menggantikan tempat oil dalam sumur produksi juga dimasukkan ke dalam tipe primary recovery. EOR dilakukan dengan menggunakan injeksin gas atau cairan kimia atau energi termal. EOR dapat dikategorikan dalam 4 tipe, yaitu : mobility control, miscible, thermal, dan proses lain seperti EOR dengan bantuan mikroba. Pada sebagian besar proyek EOR, aplikasi dari sumur horizontal akan menaikkan efisiensi penggeseran volumetrik dan meningkatkan mekanisme recovery.

Studi Literatur Palasthy et al mengkompensasi pengurangan recoverable reseve domestik dengan mengaplikasikan metode EOR dengan mempertimbangkan sumur horizontal. Dia menjawab bagaimana potensi produksi reservoir bisa dua kali lipat dalam tujuh tahun terakhir dan bagaimana perkiraan recovery oil meningkat menjadi lebih dari 40 persen. Dia menyadari bahwa pola sumur dan percepatan eksploitasi adalah kunci produksi pada mature reservoir. Pada tahun 2000, Grves dan Xia membandingkan THAI (Toe-to-Heel Air Injection) dengan proses IOR lainnya. THAI menciptakan kondisi operasi yang unik dalam reservoir yang memiliki kelebihan khusus untuk heavy oil recovery . Pada tahun 2002, mereka mengembangkan dan merevisi studi ini dalam tes tiga dimensi (3D) dengan menggunakan konfigurasi yang berbeda baik . Pola yang mereka gunakan Vertikal (VI) atau horizontal injeksi (HI) dan horisontal produser (HP) wells dalam direct line drive (VIHP, HIHP), staggered line drive (VI2HP) dan line drive (2VIHP). Secara eksperimental, horizontal injektor (HIHP) menjadi yang paling efisien dalam mencapai kecepatan startup, yaitu waktu terpendek untuk mencapai propagasi pembakaran yang stabil. McGurie dan Holt menyajikan ringkasan pengembangan konseptual, simulasi reservoir dan uji lapangan teknik miscible EOR di Prudhoe Bay pada tahun 2001. Hal ini menguntungkan untuk memanfaatkan proses vertikal drive dalam sumur horisontal. Hongyin dan Peimao menyajikan efek penting dari penurunan oil production, peningkatan sweep efficiency dan peningkatan oil recovery oleh sidetrack drilling di Huizhous dan Weizhou field di Laut China Selatan. Merka mengindikasikan bahwa metode ini cukup potensial dan memiliki prospek yang bagus untuk meningkatkan pengembangan pada reservoir dengan litoligi sandstone dengan batas yang kuat dan water drive dari sisi bawah, terutama dengan water cut yang tinggi dan menengah. Sarkar dkk menjelaskan teknik untuk EOR di Charivari Creek (Arkansa) dengan metode water flooded. Efek dari konfigurasi pola yang

berbeda yang melibatkan sumur vertikal dan horizontal dan panjang sumur lateral dalam sumur horizontal permeabilitas rendah dianalisis secara rinci melalui simulasi reservoir. Konfigurasi injector horizontal dan produser vertikal menunjukkan berapa banyak reservoir yang lebih rendah unjuk kerjanya dibandingkan yang menggunakan injector vertikal dan produser horisontal. Bagci, Aybak dan Shamsul telah menunjukkan dua model 3D skala laboratorium untuk membandingkan kinerja steam flood di reservoir yang memiliki zona air di bagian bawah dengan penerapan konfigurasi yang berbeda. Konfigurasi juga diubah selama percobaan untuk menentukan efek oil recovery. Ketebalan zona air divariasikan untuk melihat efek pada pemulihan minyak. Jumlah tertinggi oil recovery didapat pada injeksi vertikal dan konfigurasi produksi sumur horizontal (dalam model segitiga). Chang dkk melakukan studi sumur produksi horisontal/miring dengan pemodelan matematika. Sebuah model baik horizontal dan miring dikembangkan dan dimasukkan ke dalam simulator black oil, untuk memprediksi tingkat produksi potensial untuk sumur, menghitung indeks produktivitas didasarkan pada panjang dan lokasi dari lubang sumur dan dapat mensimulasikan kinerja sumur horizontal/miring pada berbagai variasi geometri reservoir. Islam dan Chakma membahas masalah pemodelan fisik dan matematika horisontal wellbores. Model ini mengabaikan aliran radial dekat lubang sumur dan dinamika fluida multifase dalam lubang sumur tersebut. Stone et al. Membuat studi dinamika lubang sumur di sebuah sumur horisontal. Dalam pemodelan gravitasi drainase dalam reservoir bitumin, mereka menggunakan hukum Darcy untuk menggambarkan aliran fluida dalam reservoir dan keseimbangan momentum, massa dan energi emulsi (minyak dan air) dan gas di lubang sumur tersebut. Namun, mereka menggunakan konsep produktivitas indeks untuk mewakili aliran radial dekat lubang sumur tersebut. Kemudian, Collins et al. membuat sebuah model sederhana untuk mensimulasikan aliran horisontal di lapangan. Jelen menggunakan teknik baru untuk memecahkan persamaan aliran fluida 2

dalam domain yang berbeda secara independen. Metode ini terutama berguna untuk pemodelan sumur horizontal di mana beberapa domain memiliki fluida reservoir yang berbeda dengan aliran yang berbeda. Hasil penelitian Saputelli dkk menunjukkan bahwa produksi yang tepat dan kebijakan manajemen reservoir seperti controlled drawdown, produksi oil dengan harga di bawah tingkat kritis dan gas-oil-rasio rendah menggunakan simulasi numerik akan mempromosikan proses pemisahan secara gravitasional yang efisien dan oil recovery yang optimal. Kombinasi sumur horizontal infill dan mekanisme yang memadai meningkatkan oil recovery. Field Description Salah satu field di iran digunakan sebagai objek studi. Informasi mengenai reservoir seperti sejarah field, spesifikasi reservoir (struktur dan stratigrafi), mekanisme pendorongan, dan fluida reservoir disebutkan dibawah: Sejarah Field Field ini ditemukan padatahun 1963 pada saat mengebor sumur eksplorasi pertama dan mulai berproduksi pada tahun 1991. Tekanan inisial rata-rata pada formasi A pada kedalaman 3200 ft adalah 5959 psia dan produksi rata-rata formasi A adalah sekitar 10,2 mbbl/day. Oil yang dapat direcovery dari lempeng utara lebih besar daripada lempeng selatan. Unjuk kerja tekanan reservoir mengindikasikan bahwa sumur tidak berhubungan secara lateral walaupun memiliki drainage area yang terbatas. Deskripsi reservoir dan karakteristik fluida Formasi A dan B pada reservoir ini terletak pada region yang memiliki litologi bervariasi secara horizontal dan vertikal. Hal ini membuktikan bahwa reservoir tidak terhubungkan secara efektif pada arah horizontal. Selama patahan tidak terdistribusi merata sepanjang formasi, faktor penting yang mempengaruhi distribusi hidrokarbon dan zona produksi adalah kemampuan batuan reservoir dalam memerangkap fluida formasi.

Analisis yang berbeda terhadap sifat fluida, drill steam test, dan uji aliran menyatakan bahwa fluida reservoir adalah heavy oil 22 derajat API. Reservoir dalam keadaan undersatured pada kondisi initial (5959 psia pada 225 F). Fluida reservoir tinggi kandungan belerang (4,1 persen berat) dan tinggi asphaltene (7 persen berat) . Buble point pada 1334 psia pada 205 F dan GOR 384 scf/Stb. Oil formation voulme 1,2495 Rb/Stb di 205 F dan viskositas 3,7857 Cp. Formasi air memiliki salinitas yang tinggi antara 1800020000 ppm ekivalen NaCl. Struktur Areal formasi A ini seluas 345 km2. Berdasarkan studi reservoir, empat dari sembilan lapisan merupakan lapisan minyak dalam pori yang kaya yang dikelilingi oleh lapisan kompak. Empat sumur dalam formasi A, satu horisontal dan tiga sumur vertikal. Sekitar 57 persen produksi dari formasi ini berasal dari sumur horisontal. Reservoir memiliki bentuk antiklin asimetris yang miring di sisi utara. WOC bagian utara dan selatan berbeda karena adanya kemiringan. Ketebalan rata-rata reservoir adalah sekitar 167,64 meter(550 kaki) dan luas total 31.484 hektar. Stratigrafi Reservoir ini terbagi menjadi dua formasi utama, yaitu A dan B. Selanjutnya, pembentukan A dibagi menjadi tiga dan B pembentukan dibagi menjadi enam lapisan. Pada sumur horisontal, lapisan kedua formasi A memiliki kandungan oil yang tinggi. Karakteristik dari tiga lapisan formasi A adalah sebagai berikut : Lapisan satu adalah wilayah antara awal pembentukan A dan lapisan shale terakhir dari lapisan atas. Dari titik pandang litologi, batuan yang termasuk didalamnya adalah limestone putih, mengandung pirit, Wackestone/Mudstone / dan juga lapisan Shaly / Marl abu-abu hingga coklat. Di dasar lapisan ini lapisan limestone yang mengandung Illite. Lapisan ini dapat dianggap sebagai indikator perubahan transisi bertahap dari limestone dalam pembentukan formasi A ke laut yang lebih dalam. Jumlah maksimum 3

marl dan shale terletak di lapisan ini dan meningkat dari utara ke selatan di sisi bagian timur lapangan. Di bagian tengah lapangan, sebagian besar sumur memiliki ketebalan yang relatif tinggi. Bagian atas lapisan 2 adalah lapisan shale terakhir dari bagian atas formasi A dan meskipun 7 sampai 10 meter pertama memiliki porositas yang sangat baik. Rata-rata porositas efektif dari lapisan ini adalah sekitar 13,7 persen dan ketebalannya adalah 101 meter. Secara litologi, lapisan ini terdiri dari limestone putih jenis dan /, limestone krem hingga coklat terang / dan / , kristal berbutir kecil, Wackestone, Packestone dolomite. Lapisan ini memiliki tingkat WOC dan perbedaan dalam tingkat ini antara sisi utara dan selatan sekitar 100 meter. Penelitian yang dilakukan pada WOC yang berbeda pada beberapa sumur menunjukkan bahwa bagian selatan lapisan ini telah diisi dengan air. Yah31 memiliki berbagai tingkat produksi yang tinggi, sekitar empat kali dari sumur biasa, karena pengeboran horisontal. Lapisan ini saling terhubungkan dengan baik dalam reservoir bagian barat sehingga mungkin untuk meningkatkan potensi produksi dari lapisan ini. Dalam lapisan ini, ketebalan meningkat dari utara ke selatan di sisi bagian timur lapangan tetapi perbedaan ketebalan sedikit dan itu menjadi diabaikan di bagian tengah. Beberapa variasi kecil dalam ketebalan bisa diamati di bagian barat lapangan juga, tapi variasi ini terlalu kecil. Tiga lapisan bertindak sebagai basin formasi A dan mudah dikenali di seluruh bidang karena lapisan berpori tinggi di atasnya. Di bagian barat lapisan ini, jumlah terbesar hidrokarbon telah ditemukan dengan evaluasi petrofisika. Ketebalan lapisan ini rata-rata adalah sekitar 52 meter dalam seluruh bidang. Peta semipach dalam bidang ini menunjukkan bahwa lapisan ini akan lebih tebal ke arah timur lapangan walaupun ada perbedaan sekitar 20 persen. Secara litologi, lapisan ini terdiri dari limestone putih sampai krem relatif ketat (relatif sulit dibor), Arzhili jenis / berisi sedikit dolomit dan marl, dengan recrystalization dan dead oil di beberapa bagian.

Variasi Patahan di Reservoir Empat sumur telah diteliti coringnya bidang ini. Studi core yang berbeda menunjukkan adanya berbagai patahan terbuka dan terisi hidrokarbon dalam lapisan , , V dan V. Pengeboran horizontal telah meningkatkan laju produksi hampir empat kali dari sumur vertikal yang sama. Mekanisme Pendorongan Tekanan initial reservoir diperkirakan sekitar 5959 psia pada kedalaman 3200m dan suhu reservoir 107,22 C. Reservoir di atas tekanan buble dan undersatured. Sebagian besar produksi minyak akan terjadi karena ekspansi minyak dan kompaksi volume pori akibat tekanan turun. Selama produksi, kandungan air meningkat perlahan-lahan. Selama tekanan cukup untuk mendorong fluida reservoir, bidang ini akan terus memproduksi dengan oil recovery tinggi. Studi Simulasi Reservoir Computer Modelling Group (CMG) black oil simulator digunakan dalam studi ini. Berbagai variasi dilakukan untuk mengevaluasi efek panjang horisontal, jenis cairan injeksi, dan lokasi. Sistem grid variabel digunakan dalam model ini. Salah satu jenis batuan didefinisikan untuk seluruh reservoir. Tabel-1 menunjukkan daftar dimensi yang tepat dari reservoir model informasi, grid-blok dan sifat reservoir dan Tabel-2 menunjukkan spesifikasi aktual well yang digunakan dalam model ini. Gambar-1 dan Gambar-2 adalah tampilan grafis permeabilitas relatif air-minyak dan gascair kurva permeabilitas relatif masingmasing. Kedua kurva yang dihasilkan dari 32 sampel dalam laporan Analisis Inti Khusus menggunakan opsi scal di Eclipse. Hasil juga diperiksa oleh persamaan Normalisasi dan Denormalisasi. Permeabilitas horisontal, Kh, adalah 3,66 md, sedangkan permeabilitas vertikal, Kv, adalah 11,16 md. Tampilan tiga dimensi dari seluruh reservoir ditunjukkan pada Gambar-3. Untuk menghasilkan tampilan 3D dari reservoir dalam format IMEX, RMS model digunakan. Setelah menghasilkan model reservoir di CMG, perbandingan sejarah dilakukan oleh penafsiran sifat fisik 4

batuan. Hasil pertandingan tekanan sejarah dan data riil ditunjukkan pada Gambar-4. Gambar ini menunjukkan keabsahan model, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi perilaku reservoir hingga 20 tahun berikutnya. Gambar-5 juga menunjukkan bahwa produksi minyak kumulatif dalam sumur horizontal sekitar 3,5 kali lebih besar dari tingkat minyak di sumur vertikal. Pada akhir tahun 2001 dan pada awal tahun 2002 kedua sumur ditutup dalam untuk dua bulan. Produksi minyak kumulatif menunjukkan peningkatan tambahan setelah dua bulan ditutup, terutama untuk sumur horisontal. Prediksi oil recovery faktor memiliki dua kecenderungan, dalam tren pertama melalui 1995 - 2002, faktor perolehan minyak naik sebagai garis lurus karena tingkat produksi sekitar konstan tetapi dalam tren kedua setelah tahun 2002 meningkat dengan kemiringan yang lebih tinggi karena setelah tahun 2002 tingkat kendala produksi dalam model ini meningkat. Umumnya, kecenderungan grafik oil recovery terhadap waktu harus adalah eksponensial. Perbandingan antara Gambar-6 dan Gambar-7 menunjukkan bahwa perubahan trend kurva telah terjadi pada waktu yang sama pada tahun 2002. Dengan meningkatkan produksi minyak seperti yang diharapkan, tekanan reservoir terus turun. Karena kendala yang ada (kurang dari kemampuan sebenarnya dari reservoir) tidak ada kurva yang memiliki tren normal baik sebelum dan setelah tahun 2002. Tingkat produksi minyak yang rendah di kedua sumur disebabkan tekanan reservoir tidak mengalami banyak penurunan. Kedua sumur ditutup pada suatu periode (31 dan 27) untuk menunggu peningkatan tekanan bottom hole. Dalam jangka pendek (sebelum produksi jumlah besar), sumur berproduksi tinggi tetapi kemudian mendekati trend normal dari kurva. Pada langkah berikutnya, variasi yang berbeda dalam pola staggered-line serta serta pengaruh injeksi gas di lapisan atas atau injeksi air di lapisan bawah yang diperiksa (Tabel-3 dan Tabel-4). Pengaruh Variasi panjang Sumur Horizontal Gambar-8 menampilkan bahwa ketika bagian horisontal diperpanjang dua kali, oil recovery factor meningkat 43 persen pada tahun 2002. Semakin panjang sumur horisontal semakin

besar bidang drainase sehingga oil recovery factor dan oil kumulatifmeningkatkan produksi secara drastis. Lebih lanjut, terdapat pula penurunan tekanan (Gambar-9). Gambar-10 menampilkan water cut pada sumur yang lebih panjang memiliki kandungan yang lebih kecil dari kasus lainnya. Panjang sumur horisontal adalah sebanding dengan water breakthrough time. Pengaruh Variasi Anisotropi Gambar-11 menunjukkan bahwa semakin rendah anisotropi akan semakin banyak aliran cair ke arah vertikal. Apabila rasio anisotropi terus konstan dengan nilai yang berbeda dalam arah vertikal dan horisontal, hasil grafik akan menampilkan dua trend sama sekali berbeda. Perbandingan antara Kasus A-1-2 dan A-4 (efek dari permeabilitas baik) diilustrasikan pada Gambar-12. Pengaruh Variasi Porositas Pada kasus B-1, B-2, dan B-3 porositas berubah. Gambar-13 menunjukkan trend produksi kumulatif oil yang didukung oleh hasil watercut dan tekanan rata-rata reservoir. Pengaruh dari Jenis Sumur Untuk mengevaluasi keuntungan dari sumur horizontal, Kasus C-1 dan C-2 dibandingkan. Dalam Kasus C-1, 31 sumur adalah horizontal dan 27 sumur adalah vertikal. Dalam Kasus C-2, 31 diubah menjadi sumur vertikal. Gambar-14 menampilkan oil recovery faktor terhadap waktu. Jumlah recovery factor oil 55,76 %, 53,16 %, dan 48% pada tahun 1998, 2000 dan 2002. Watercut dalam ditunjukkan pada Gambar-15. Daerah drainase di Kasus C-1 lebih besar dari Kasus C-2 dan tekanan reservoir rata-rata dalam Kasus C-2 kurang dari C-1 ( Gambar-16). Tabel-4 merangkum pola yang berbeda dengan fluida reservoir yang berbeda pula untuk menyoroti dampak dari sumur horisontal sebagai produser dan sebagai injektor. Kasus yang ditandai oleh C kapital memiliki sumur injeksi gas di tengah. Tanda D kapital memiliki sumur injeksi air. Semua Kasus terdiri dari satu sumur injeksi dan empat produser dan hanya jumlah sumur vertikal dan horizontal yang berubah. Sumur produksi diselesaikan dalam lapisan kedua dan sumur 5

injeksi diselesaikan dengan injeksi gas di lapisan atas dan injeksi air di lapisan bawah. Dalam semua Kasus yang telah dipelajari, awalnya hanya sumur 31 dan 27 ada, kemudian pada 2002 tiga sumur horisontal hipotetis, yang disebut 40 dan 50, sebagai produser dengan central injection juga ditambahkan ke model. Gambar-17 Kasus menampilkan gas injeksi. Kasus C-3 menunjukkan hasil yang sangat sempurna, karena adanya lima sumur horisontal (empat produser dan satu sumur injeksi). Injeksi sumur horizontal menyuntikkan gas di lapisan atas dan mendorong minyak menuju lapisan kedua di mana produsen horisontal berada. Seperti disebutkan sebelumnya, sumur produser horisontal mempengaruhi drainase maksimal dan menyebabkan minyak dihasilkan sebanyak mungkin. Perbandingan antara kasus C-4 dan C-3 menunjukkan lebih dari 100 persen penurunan kinerja setelah 20 tahun di C-4. Di C-4 satu suntikan vertikal juga memiliki energi lebih sedikit untuk mendorong minyak ke sumur produser. Akibatnya injeksi sumur horizontal dapat menyebabkan lebih banyak manfaat misalnya peningkatan oil rate, penurunan watercut, peningkatan faktor oil recovery atau produksi minyak yang lebih tinggi dan berkurangnya penurunan tekanan drwadown. Gambar-18 menunjukkan bahwa oil rate dalam C-3 adalah yang tertinggi sementara C-4 turun tajam karena satu injeksio sumur vertikal tidak cukup untuk kompensasi produksi dengan empat sumur horisontal produser. Dalam Kasus lainnya seperti C-6, C7 dan C-8 peningkatan oil rate mengindikasikan bahwa injeksi telah bekerja dengan baik. Dalam Gambar-19 penurunan tekanan yang paling besar disebabkan oleh Kasus C-4, karena production rate (dari empat produsen horizontal dengan dukungan injeksi vertikal) tinggi. Dalam Kasus C-6, sumur injeksi dapat menjaga tekanan reservoir rata-rata dalam situasi yang lebih baik dari yang lain. Gambar-20 menunjukkan watercut dalam Kasus injeksi gas. Kurva watercut untuk C-4 meningkat secara drastis. Sumur produser

menyebabkan laju dan tingkat produksi minyak yang tinggi menyebabkan waterbreakthrough lebih awal sehingga WOC bergerak lebih cepat. Kasus ini menunjukkan gas kumulatif paling sedikit (Gambar21). Dalam Kasus injeksi air, hasil tampilan persis sama seperti trend yang dalam Kasus disuntikkan gas. Perbandingan antara Injeksi Gas dan Air Untuk perbandingan antara kinerja gas dan injeksi air, kasus C-3 dan D-3, C-5 dan D5 dipilih. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Gambar-22 dan Gambar-23, dalam semua Kasus, injeksi gas menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan injeksi air. Kesimpulan 1. Baik dalam injeksi proyek gas dan air, untuk meningkatkan efisiensi volumetrik perpindahan, horizontal well lebih direkomendasikan dan parameter lain seperti panjang sumur , besarnya injeksi gas dan lain-lain harus dioptimalkan berdasarkan kondisireservoir. 2. Berdasarkan hasil studi simulasi, meningkatkan porositas dan menurunkan anisotropi akan meningkatkan kinerja sumur horisontal. 3. Penerapan sumur horisontal dibandingkan dengan sumur konvensional akanmenyebabkan penurunan pressure drop water coning. 4. Dalam mature reservoir, karena daerah drainase yang lebih besar dari sumur horizontal, laju alir minyak dapat meningkat. Simulasi/ permodelan pada sektor tersebut mutlak diperlukan untuk mengoptimalkan kondisi sebelum dilakukan pengeboran. 5. Untuk setiap kondisi reservoir, ada panjang optimal dari bagian horizontal. Apabila memperpanjang bagian horisontal sumur di luar batas tersebut tidak akan berpengaruh pada IOR.

RESUME SIMULATION STUDY OF DRILLING HORIZONTAL WELLS IN ONE OF IRANIAN OIL FIELDS

Proses recovery oil meliputi dua tahap, yaitu primary dan Enhanced Oil Recovery (EOR). Primary recovery dilakukan dengan menggunakan energi alamiah yang terdapat dalam reservoir yang berguna untuk mendorong oil ke sumur produksi. Pada sebagian besar proyek EOR, aplikasi dari sumur horizontal akan menaikkan efisiensi penggeseran volumetrik dan meningkatkan mekanisme recovery. Tujuan dari studi ini untuk menginvestigasi keuntungan pengeboran sumur horizontal dalam meningkatkan recovery oil. Untuk mengevaluasi efek dari panjang horizontal, porositas, anisotropi, pola staggered-line (pola segitiga tersusun) pada sumur injeksi gas (pada lapisan atas) dan injeksi air (pada lapisan bawah), digunakan berbagai skenario untuk dipelajari. Salah satu field di iran digunakan sebagai objek studi. Tekanan inisial rata-rata pada formasi A pada kedalaman 3200 ft adalah 5959 psia dan produksi rata-rata formasi A adalah sekitar 10,2 mbbl/day. fluida reservoir adalah heavy oil 22 derajat API. Reservoir dalam keadaan undersatured pada kondisi initial (5959 psia pada 225 F). Fluida reservoir tinggi kandungan belerang (4,1 persen berat) dan tinggi asphaltene (7 persen berat) . Buble point pada 1334 psia pada 205 F dan GOR 384 scf/Stb. Oil formation voulme 1,2495 Rb/Stb di 205 F dan viskositas 3,7857 Cp. Areal formasi A ini seluas 345 km2. Ketebalan rata-rata reservoir adalah sekitar 167,64 meter(550 kaki) dan luas total 31.484 hektar. Berdasarkan studi reservoir, empat dari sembilan lapisan merupakan lapisan minyak dalam pori yang kaya yang dikelilingi oleh lapisan kompak. Empat sumur dalam formasi A, satu horisontal dan tiga sumur vertikal. Sekitar 57 persen produksi dari formasi ini berasal dari sumur horisontal. Reservoir ini terbagi menjadi dua formasi utama, yaitu A dan B. Selanjutnya, pembentukan A dibagi menjadi tiga dan B pembentukan dibagi menjadi enam lapisan. Pada sumur horisontal, lapisan kedua formasi A memiliki kandungan oil yang tinggi. Software IRAP/RMS digunakan pada penelitian ini untuk membuat permodelan geologi. Berdasarkan black oil model, IMEX dari Computer Modelling Group (CMG) black oil simulator digunakan sebagai alat simulasi. Model sektor digunakan dalam simulasi karena hanya terdapat satu sumur horizontal yang produktif pada formasi ini. Berbagai variasi dilakukan untuk mengevaluasi efek panjang horisontal, jenis cairan injeksi, dan lokasi. Studi menyimpulkan bahwa baik dalam injeksi proyek gas dan air, untuk meningkatkan efisiensi volumetrik perpindahan, horizontal well lebih direkomendasikan dan parameter lain seperti panjang sumur , besarnya injeksi gas dan lain-lain harus dioptimalkan berdasarkan kondisi reservoir. Berdasarkan hasil studi simulasi, meningkatkan porositas dan menurunkan anisotropi akan meningkatkan kinerja sumur horisontal. Selain itu, penerapan sumur horisontal dibandingkan dengan sumur konvensional akanmenyebabkan penurunan pressure drop water coning. Dalam mature reservoir, karena daerah drainase yang lebih besar dari sumur horizontal, laju alir minyak dapat meningkat. Simulasi/ permodelan pada sektor tersebut mutlak diperlukan untuk mengoptimalkan kondisi sebelum dilakukan pengeboran. Untuk setiap kondisi reservoir, ada panjang optimal dari bagian horizontal. Namun, apabila memperpanjang bagian horisontal sumur di luar batas tersebut tidak akan berpengaruh pada IOR.