You are on page 1of 12

Ginjal

Ginjal adalah organ yang terletak pada dinding posterior abdomen.jumlah ginjal pada setiap manusia ada dua yang masing-masing terletak di kanan-kiri columna vertebrae dan sebagian besar tertutup oleh Arcus Costalis. Pada setiap ginjal dapat ditemukan Glandula Suprarenalis yang terletak di polus superior Ginjal. Organ ini mempunyai fungsi untuk membentuk urine, maka dari itu organ ini mempunyai saluran penyalur hasil berupa Ureter. Ureter akan membawa Urine menuju Vesica Urinaria. Ginjal kanan terletal lebih rendah bila dibandingkan dengan yang kiri. Hal ini disebabkan oleh adanya Lobus Hepar Dextra yang besar. Ren akan turun pada saat kita respirasi oleh karena penekanan oleh diafragma. Pada kedua margo medialis Ginjal yang cekung, terdapat celah vertical yang dibatasi oleh pinggir-pinggir substansi Ginjal yang tebal dan disebut HIlum Renale. Hilum Renale meluas ke suatu ruangan yang besar disebut Sinus Renalis. Hilum Renale ini dilalui: V. Renalis Dua cabang A. Renalis Ureter Cabang ketiga A. Renalis Pembuluh-pembuluh limfatik Serabut-serabut simpatis Ginjal diselubungi oleh: o Capsula Fibrosa o Capsula Adiposa o Fascia Renalis = meliputi dan melekat pada permukaan luar Ginjal. = meliputi Capsula Fibrosa dan merupakan jaringan lemak. = merupakan kondensasi jaringan ikat yang terletak di luar Capsula Adiposa serta meliputi Glandula Suprarenalis. Pada bagian lateral melanjutkan diri sebagai Fascia Transversalis. Ginjal terfiksasi sehingga terletak retroperitoneal disebabkan oleh Capsula Adiposa, Fascia Renalis, dan Corpus Adiposum Pararenale. Corpua Adiposum Pararenale adalah fascia yanag terletak pada luar Fascia Renalis dan sering didapatkan dalam jumlah besar. Hubungan penting Ginjal Kanan Anterior = gl. Suprarenalis, Hepar, pars descendens Duodenum, dan flexura Coli Dextra. Posterior = Diafrgma, recessus Costodiafragmaticus, Costa XII, m. Psoas Major, m. Quadratus Lumborum, dan m. Transversus Abdominis. N. Subcostalis XII dan N. Iliohypogastricus, dan N. Ilioinguinalis (L1) berjalah ke bawah dan lateral. Hubungan penting Ginjal Kiri Anterior = gl. Suprarenalis, Lien, Gaster, Pancreas, flexura Coli Sinistra, dan lengkung-lengkung Jejunum. Posterior = Diafrgama, recessus Costodiaframaticus, Costa XI, Costa XII, m. psoas, m. Qudartus Lumborum, dan m. Transversus Abdominis. N. Subcostalis XII dan N. Iliohypogastricus, dan N. Ilioinguinalis (L1) berjalah ke bawah dan lateral. Pendarahan, persarafan, dan limf A.Renalis berasal dari Aorta setinggi Vertebra Lumbalis II. Masing-masing A.Renalis bercabang menjadi lima A. Segmentalis yang termasuk ke dalam Hilum Renale, empat di depan dan satu dibelakang Pelvis Renalis. Arteriae ini memperdarahi segmen-segmen atau area Renalis yang berbeda.

A.Lobares berasal dari Arteria Segmentalis, masing-masing satu buah untuk satu Pyramid Renalis. A. Interlobares merupakan percabangan dari Arteriae Lobaris sebelum masuk substansia Renalis. Satu a. Lobares mempercabangkan 2 atau 3 a. Interlobares. Arteriae ini berjalan pada Cortex Renalis.. A. Arcuatae adalah arteri yang berjalan di antara medulla dan cortex pada basis pyramid. A Aferen Glomerulus merupakan cabang a. interloburales yang akan membawa darah yang akan di filtrasi menjadi Urine Primer oleh Glomerulus. Pembuluh balik yang ada adalah v. Renalis yang keluar dari Hilu Renale d depan a. renalis dan mengalirkan keluar daran menuju v. Cava Inferior. Persarafan diberikan oleh Plexus Renalis. Serabut-serabut aferen yang berjalan melalui Plexus Renalis masuk ke Medulla Spinalis melalui nn. Thoracici 10, 11, dan 12 Aliran Limf berasal dari Nodi Aortici Laterales di sekitar pangkal a. Renalis.

Ureter
kedua Ureter merupakan saluran muscular yang terbentang dari Ren ke facies posterior Vesica Urinaria. Urine didorong sepanjang Ureter oleh kontraksi peristaltic Tunica Muskularis dan dibantu oleh tekanan filtrasi Glomeruli. Setiap Ureter mempunyai panjang sekitar 25 Cm. Ureter mengalami tiga penyempitan sepanjang perjalanannya ke Vesia\ca Urinaria. Tiga penyempitan: 1. Pelvis Renalis 2. di tempat Ureter melengkung pada waktu menyilang aperture pelvis superior 3. di tempat Ureter menembus dinding Vesica Urinaria Pelvis Renalis berbetuk corong dan merupakan ujung atas Ureter yang melebar. Pelvis renalis terletak di dalam Hilum Renale dan menerima Calices Renalis Majores. Ureter keluar dari Hilum Renale dan berjalan vertical ke bawah di belakang peritoneum parietale pada m. Psoas major, yang memisahkan Ureter dari ujung Processus Transversus Vertebrae Lumbalis. Ureter masuk ke Pelvis denagn menyilang Bifurcatio Arteria Iliaca Communis di depan Articulatio Sacroiliaca. Ureter kemudian berjalan ke bawah pada dinding lateral Pelvis menuju ke daerah Spina Ischiadica dan berbelok ke depan untuk masuk ke Angulus Lateralis Vesica Urinaria. Pada pria Ureter akan disilang oleh Ductus Deferens pada bagian terminal. Hubungan Ureter Kanan Anterior = Duodenum, pars Terminalis Ileum, a.v. Colica dextra, a.v. Ileocolica, v. testicularis atau v. Ovarica dextra, dan Mesenterii Intestinum Tenue. Posterior = m. Psoas Major Dextra ( memisahkan Ureter dari Processus Transversus Vertebra Lumbalis, dan bifurcation arteria Iliaca Communis). Hubungan Ureter Kiri Anterior = Colon Sigmoideum, mesocolon Sigmoideum, a.v. Colica Sinistra, a.v. Testiscularis atau Ovarica Dextra. Posterior = m. Psoas major Sinistra ( memisahkan Ureter dari Processus Transversus Vertebra Lumbalis, dan bifurcation arteria Iliaca Communis).

Pendarahan, persarafan, dan limf Arteri yang memperdarahi Ureter:

ujung atas a. Testiscularis atau a. Ovarica bagian tengah a. Vesicalis Superior di dalam Pelvis pembuluh balik mengalirkan darah ke dalam vena yang sesuai dengan arterinya. Persarafan dilakukan oleh: Plexus Renalis Testiscularis Plexus Hypogastricus ( dalam Pelvis) Serabut-serabut afern berjalan bersama dengan saraf simpatis dan masuk Medulla Spinalis setinggi Segmen Lumbalis I dan II Aliran limf diberikan oleh Nodi Aortici Laterales dan Nodi Iliaci.

a. Renalis

Vesica Urinaria
Vesica Urinaria terletak tepat di belakang Pubis di dalam Cavitas Pelvis. Vesica Urinaria cukup baik untuk menyimpan Urine dan pada orang dewasa kapasitas maksimumnya kurang lebih 500mL. Vesica Urinaria mempunyai dinding otot yang kuat. Bentuk dan batas-batasnya sangat bervariasi sesuai denngan jumlah Urine yang ada di dalamnya. Vesica Urinaria yang kosong pada orang dewasa seluruhnya terletak di dalam Pelvis. Bila Vesica Urinaria terisi maka dinding atasnya akan terangkat sampai masuk Regio Hypogastricum. Pada anak kecil, Vesica Urinaria yang kosong menonjol di atas Apertura Pelvis Superior, Vesica Urinaria terbenam di dalam Pelvis untuk menempati posisi seperti pada orang dewasa. Vesica Urinaria yang kosong berbentuk pyramid mempuyai apex, basis, sebuah facies superior serta dua buah facies inferolateralis, dan juga mempunyai collum Apex vesicae mengarah ke depan dan terletak di belakang pinggir atas Symphysis Pubica. Apex Vesicae dihubungkan dengan Umbilicus oleh Ligamentum Umbilicae Medianum. Pada wanita bagian ini terletak pada bagian Symphysis Pubis. Basis atau facies posterior Vesicae, menghadap ke posterior dan berbentuk segitiga. Sudut superolateralis merupakan tempat asal Urethra. Kedua Ductus Deferens terletak berdampigan di facies posterior Vesicae dan memisahkan Vesicula Seminalis satu dengan yang lain. Bagian atas facies posterior Vesicae diliputi oleh peritoneum, yang membentuk dinding anterior Excavatio Rectovesicalis. Bagian bawah facies posterior dipisahkan dari rectum oleh Ductus Deferens, Vesicula Seminalis, dan Fascia Rectovesicalis. Pada wanita basis dipisahakn dari Rectum oleh Vagina. Facies Superior Vesicae diliputi peritoneum dan berbatasan dengan lengkung Ileum atau Colon Sigmoideum. Sepanjang pinggir lateral permukaan ini, peritoneum melipat ke dinding lateral Pelvis. Bila Vesica Urinaria terisi, bentuknya menjadi lonjong, facies superiornya membesar dan menonjol ke atas, ke dalam cavitas abdominalis. Peritoneum yang meliputinya terangkat pada bagian bawah dindig anterior sehingga V berhubungan langsung dengan dinding anterior abdomen. Pada wanita bagian berbatasan dengan Excavatio Rectouterina dan Corpus Uteri. Facies Inferolateralis di bagian depan berbatasan dengan bantalan lemak retropubica dan pubis. Lebih ke posterior, facies tersebut berbatasan di atas dengan m. Obturatorius Internus dan di bawah dengan m. Culus Levator Ani. Pada wanita di depan berbatasan dengan bantalan lemak retropubica dan os. Pubis. Lebih ke posterior facies ini berhubungan langsung dengan m. Obturatorius Internus di sseblah atas dan m. Levator Ani di sebelah bawah. Collum Vesicae berada di inferior dan terletak pada facies superior prostatae. Di sini, serabut otot polos dinding Vesica Urinaria dilanjutkan sebagai serabut otot polos pada prostate. Collum Vesicae dipertahankan letaknya oleh lig. Puboprostaticum ( pria ) dan lig.

Pubovesicale ( wanita ). Kedua ligamentum ini merupakan penebalan fascia Pelvis. Bila Vesica Urinaria terisi , posisi facies posterior collum vesicae relative tetap, tetapi facies superior vesicae naik ke atas, masuk ke dalam cavitas abdominalis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. pada wanita terletak pada facies superior diafragma urogenitale. Tunica Mucosa sebagian besar berlipat-lipat pada Vesica Urinaria yang kosong dan lipatanlipatan tersebut akan menghilang bila Vesica Urinaria terisi penuh. Area Tunica Mucosa yang mliputi permukaan dalam basis Vesica Urinaria dinamakan Trigonum Vesicae Liutaudi. Di sini, tunica mucosa selalu licin, walaupun dalam keadaan kosong karena membrane mucosa pada trigonum ini melekat dengan erat pada lapisan otot yang ada di bawahnya. Sudut superior trigonum ini merupakan tempat bermuara Ureter dan sudut inferiornya merupakan Ostium Urethrae Internum. Ureter menmbus dinding Vesica Urinariasecara miring dan keadaan ini yang membuat fungsinya seperti katup yang mencegah aliran balik Urine ke ginjal pada waktu Vesica Urinaria terisi. Trigonum Vesicae dibatasi di sebelah atas oleh rigi muscular yang berjalan dari muara Ureter yang satu ke muara Ureter yang lain disebut sebagai Plica Interurica. Uvula Vesicae merupakan tonjolan kecil yang terletak tepat dibelakang Ostium Urethrae yang disebabkan oleh Lobus Medius Prostatae yang ada di bawahnya. Tunica Muscularis Vesica Urinaria terdiri atas otot polos yang tersusun dalam tiga lapisan yang saling berhubungan yang disebutt sebagai Musculus Detrusor Vesicae. Pada Collum Vesicae, komponen sirkular dari lapisan otot ini menebal membentuk m. Sphincter Vesicae. Pendarahan, persarafan, dan limf Pembuluh nadi yag ada merupakan cabang dari a. Iliaca Interna, yaitu a. Vesicalis Superior dan Inferior. Pembuluh balik membentuk Plexus Venosus Vesicalis, di bawah berhubungan dengan Plexus Venosus Prostaticus dan akhirnya bermuara ke v. Iliaca Interna. Persarafan Vesica Urinaria berasal dari Plexus Hypogastricus Inferior. Serabut pascaganglionik simpatis berasal dari ganglion Lumbalis pertama dan kedua lalu berjalan turun ke Vesica Urinaria melalui Plexus Hypogastricus. Serabut preganglionik parasimpatikus yang muncul sebagai nervi splanchnici pelvici berasal dari nervus sacrales kedua, ketiga, dan keempat, berjalan melalui Plexus Hypogastricus menuju ke dinding Vesica Urinaria, di tempat ini serabut tersebut bersinaps dengan neuron postganglionic. Sebagian besar serabut aferen sensorik yang berasal dari Vesica Urinaria menuju system saraf pusat melalui nervi Splanchnici Pelvici. Sebagian serabut aferen berjalan bersama saraf simpatis melalui Plexus Hypogastricus dan masuk ke medulla Spinalis Segmen Lumbalis Pertama dan kedua. Saraf simpatis menghambat kontraksi m. Detrusor Vesicae dan merangsang penutupan m.Sphinter Vesicae. Saraf simpatis merangsang kontraksi m. Detrusor Vesicae dan menghambat kerja m. Sphincter Vesicae. Aliran Limf akan bermuara ke Nodi Iliaci Interni dan Externi.

Urethrae
Pada wanita Urethraenya pendek berbeda dengan pria. Pada Urethrae pria terbagi menjadi 3 bagian. Urethrae pars prostatica Urethrae ini memounyai panjang kurang lebih 3 Cm. dan berasal dari Collum Vesicae. Pada bagian ini berjalan dari basis Prostatae sampai ke apex Prostatae, selanjutnya menjadi pars

membranacea. Pada bagian Prostatica ini merupakan bagian yang paling lebar dan berdiameter terbesar dari seluruh Urethrae. Pada dinding posterior terdapat peninggian longitudinal yang disebut Crista Urethralis. Pada setiap sisi Crista terdapat alur yang disebut Sinus Prostaticus, glandula Prostatae bermuara pada sinus ini. Pada puncak Crista Urethralis terdapat cekungan yang disebut Utriculus Prostaticus, yang analog dengan Uterus dan Vagina pada wanita. Pada pinggir Utriculus terdapat muara kedau Ductus Ejaculatorius. Urethrae pars membrancea Bagian ini menyerupai kertas dan sangat sempit. Urethrae pars spongiosum Bagian ini terdapat di Penis dan terpanjang bila dibandingkan dengan bagian lain. Saluran ini berujung pada Ostium Urethralis Externa. Terjadi pelebaran pada ujung yang disebut FOssa Navicularis.

Struktur Ginjal
STRUKTUR MAKROSKOPIK GINJAL Pada orang dewasa, panjang ginjal adalah sekitar 12 sampai 13 Cm, lebarnya 6Cm, tebalnya 2,5Cm, dan beratnya sekitar 150gr. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran tubuh. Perbedaan panjang dari kutub ke kutub kedua ginjal yang lebih dari 1,5Cm atau perubahan bentuk merupakan tanda yang penting karena sebagian besar manifestasi penyakit ginjal adalah perubahan struktur. Permukaan anterior dan posterior kutub atas dan bawah serta tepi lateral ginjal berbentuk cekung karena adanya Hilus. Beberapa struktur yang masuk dan keluar dari ginjal melalui Hilus adalah arteria, vena, Ureter, saraf, dan pembuluh limfatik. Ginjal diliputi oleh beberapa lapisan: kapsula fibrosa, kapsula adposa, dan fascia renalis. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan dua daerah yang berbeda. Pada bagian luar disebut Kortex dan bagian dalam disebut Medulla. Medulla terbagi menjadi beberap pyramid. Pyramid-piramid tersebut diselingi oleh bagian yang disebut collumna Bertyini. Pyramid-piramid tersebut tampak bercorak karena tersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papilla dari tiap pyramid membentuk duktus papilla Bellini yang terbentuk dari persatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul. Setipa uktus papilaris masuk ke dalam suatu perluasan ujung pelvis ginjal berbentuk seperti cawan yang disebut kaliks minor. Beberapa kaliks minor akan bersatu menjadi kaliks major., yang selanjutnya bersatu sehingga membentuk pelvis ginjal. Pelvis ginjal merupakan reservoir utama system pengumpul ginjal. Ureter menghubungkan ginjal dengan Vesica Urinaria. STRUKTUR MIKROSKOPIK GINJAL Nerfon adalah suatu unit kerja fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar 1 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Dengan demikian, kerja ginjal dapat dianggap sebagai jumlah total dari fungsi semua nefron tersebut. Setiap nefron terdiri dari: Kapsula Bowman Tubulus Kontortus Proximal Lengkung Henle Tubulus Kontortus Distal Collecting Duct Korpuskulus Ginjal terdiri dari Kapsula Bowman dan rumbai kapiler glomerulus. Istilah glomerulus sering kali digunakan juga untuk menyatakan korpuskulus ginjal.

Kapsula bowman merupakan suatu invaginasi dari tubulus proximal. Terdapat ruang yang mengandung urine antara rumbai kapiler dan kapsula bowman, dan ruang yang mengandung urine ini dikenal sabagai ruang bowman atau ruang kapsular. Kapsula bowman dilapisi oleh sel-sel epitel. Sel epitel parietalis berbentuk gepeng dan membentuk bagian terluar dari kapsula. Sel epitel visceralis jauh lebih besar dan membentuk bagian dalam kapsula dan jugamelapisi bagian luar dari rumbai kapiler. Sel visceralis membentuk tonjolan-tonjolan atau kaki-kaki yang dikenal sebagai popdit, yang bersinggungan dengan membrane basalis pada jarak-jarak tertentu sehingga terdapat daerah-daerah yang bebas dari kontak antar sel epitel. Daerah-daerah yang terdapat di antara podosit biasanya disebut celah pori-pori. Membrane basalis membentuk lapisan tengah dinding kapiler, terjepit di antara sel-sel epitel pada satu sisi dan sel-sel endotel pada sisi yang lain. Membrane basalis kapiler menjadi memnrana basalis tubulus dan trerdiri dari gel hidrasi yang menjalin serat kolagen. Pada membrane basalis tidak tampak adanya pori-pori, walaupun secara teori ada. Sel-sel endotel membentuk bagian terdalam dari rumbai kapiler. Tidak seperti sel-sel epitel, sel endotel langsung berkontak dengan membrane basalis. Namun terdapat beberapa pelebaran seperti jendela yang berdiameter 600 yang dikenal sebagai fenestrasi.. sel-sel endotel berlanjut dengan endotel yang membatasi arteriola aferen dan eferen. Sel-sel endotel, membrane basalis, dan sel-sel epitel visceralis merupakan tiga lapisan yang membentuk membrane filtrasi glomerulus. Membrane filtrasi glomerulus memungkinkan ultrafiltrasi darah melalui pemisahan unsure-unsur darah dan molekul-molekul protein besar dari bagian plasma lainnya, dan mengalirkan bagian plasma trersebut sebagai urine primer ke dalam ruang dari kapsula bowman. Komponen penting lainnya dari glomerulus adalah mesangium, yang terdiri dari sel mesangial dan matriks mesangial. Sel mesangial membentuk jaringan yang berlanjut antara lengkung kapiler dari glomerulus dan diduga berfungsi sebagai jaringan penyokong.sel ini bersifat fagositosik dan menyekresi prostaglandin. Sel mesengial yang terletak di luar rumbai glomerular dekat dengan kutub vascular glomerulus disebut sel lacis. Aparatus Jukstaglomerulus (JGA) terdiri dari sekelompok sel khusus yang letaknya dekat dengan kutub vascular masing-masing glomerulus yang berperan penting dalam mengatur pelepasan rennin dan mengontrol volume cairan ekstraseluler (ECF) dan tekanan darah. JGA terdiri dari tiga macam sel: 1. Sel Jukstaglomerulus atau Sel Glomerulus 2. Makula Densa 3. Mesangial ekstraglomerular atau sel Lacis Makula densa adalah sekelompok sel epitel tubulus distal yang diwarnai dengan pewarnaan khusus. Sel ini bersebelahan dengan ruangan berisi sel Lacis dengan sel JG yang menyekresi renin..

Fungsi Ginjal
Ginjal sangat penting dalam tubuh manusia terutama dalam keseimbangan cairan dalam tubuh. Penyeimbangan terjadi bila ada kekurangan air maupun kelebihan dalam tubuh. Penyeimbangan ini dilakukan dalam pengeluaran urine. Fungsi spesifik ginjal: 1. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh. 2. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion CES, termasuk Na+, Cl-, K+, HCO3-, Ca2+, Mg2+, SO4-, PO4-, dan H+. 3. Memelihara volume plasma yang sesuai, sehingga dapat berperan dalam pengaturan jangka-panjang tekanan darah arteri.

4. Membantu memelihara keseimbangan asam0basa tubuh dengan menyesuaikan


pengeluaran H+ dan HCO3- melalui urine. 5. Memelihara osmolaritas berbagai cairan tubuh, terutama melalui keseimbangan H2O. 6. Mengekskresikan produk-produk sisa dari metabolisme tubuh. 7. Mengekskresikan banyak senyawa asing. 8. Mensekresikan eritoprotein. 9. Mensekresikan reninh. 10. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Dalam proses untuk menyeimbangkan cairan tubuh dilakukan proses pembuatan urine. Dimana pada pembuatan urine terjadi 3 proses. I. FILTRASI GLOMERULUS Cairan yang difiltrasi dari glomerulus ke dalam kapsul bowman harus melewati tiga lapisan yang membentuk membrane glomerulus. Lapisan tersebut: Diding kapiler glomerulus Lapisan gelatinosa aseluler yang dikenal sebagai membrane basal Lapisan dalam kapsul bowman Secara kolektif lapisan ini berfungsi sebagai saringan molekul halus yang menahan sel darah merah dan protein plasma tetapi melewatkan air dan zat terlarut lain yang ukuran molekulnya cukup kecil. Dinding kapiler glomerulus yang terdiri sari selapis sel endotel gepeng, memiliki lubang-lubang yang banyak pori-pori besar atau femestra. Lapisan lain ada pada membrane glomerulus, yaitu lapisan dalam kapsul bowman yang terdiri dari podosit. Sel ini saling menjalin dengan tonjolan podosit di sekitarnya. Maka dari itu akan terbentuk celah kecil yang dikenal sebagai celah filtrasi. Celah ini membentuk jalan keluar bagi cairan menuju lumen kapsula bowman. Filtrasi ini terjadi secara pasif oleh karena adanya tekanan darah kapiler glomerulus. II. REABSORPSI TUBULUS Reabsorpsi tubulus adalah suatu proses yang sangat selektif. Dalam filtrate glomerulus, semua konsituen, kecuali protein plasma, berada dalam konsentrasi yang sama dengan plasma. Untuk di reabsoropsi makan harus melewati lima sawar terpisah: 1. Bahan tersebut harus meninggalkan cairan tubulus dengan melintasi membrane luminal sel tubulus. 2. Bahan tersebut harus berjalan melewati sitosol dari satu sisi sel tubulus ke sisi lainnya. 3. Bahan tersebut harus menyeberangi membrane basolateral sel tubulus untuk masuk ke cairan interstisium. 4. Bahan tersebut harus berdifusi melintasi cairan interstisium. 5. Bahan tersebvut harus menembus dinding kapiler untuk masuk ke plasma darah. Lima langkah di atas dikenal sebagai transportasi transepitel. Reabsorpsi yang terjadi jagu secara dua cara: reabsorpsi aktif dan reabsorpsi pasif. Kedua ini bergantung pada kebutuhan energi ketika reabsorpsi. Reabsorpsi aktif dapat kita lihat dari reabsorpsi Na+ yang melibatkan pembawa Na+-K+ ATPase bergantung energi yang terletak di membran basolateral sel tubulus. Reabsorpsi ini berlawanan dengan gradient konsentrasi dengan menggunakan pompa Na + yang menggunakan energi. Reabsorpsi Na + penting untuk: Reabsorpsi natrium di tubulus proksimal berperan penting dalam reabsorpsi glukosa, asam amino, H2O, Cl-, dan urea. Reansorpsi natrium di lengkung henle, bersama dengan reabsorpsi Cl , berperan penting dalam kemampuan ginjal menghasilkan urine dengan konsentrasi dan volume yang berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan tubuh untuk menyimpan atau membuang H2O.

III.

Reabsorpsi natrium di bagian distal nefron bersifat variable dan berada di bawah control hormone, menjadi pentingh dalam mengatur volume CES. Reabsorpsi tersebut juga sebagian berkaitan dengan sekresi K+ dan H+. Reabsorpsi glukosa dengan mengambil hasil filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus. Meskipun terjadi reabsorpsi tapi hal ini tidak mempengaruhi konsentrasi glukosa plasma yang dapat bervariasi. Ginjal tidak mengatur glukosa karena organ ini tidak mempertahankan kadar glukosa plasma, bahkan konsentrasi glukosa plasma dalam keadaan normal diatur oleh mekanisme endokrin dan hepar. Reabsorpsi klorida, ion klorida bermuatan negative dan direabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradient listrik yang diciptakan oleh reabsorpsi aktif ion natrium yang bermuatan positif. Reabsorpsi air secara pasif melalui osmosis di seluruh panjang tubulus. Kemampuan reabsorpsi ini jga dipengaruhi kebutuhan tubuh atas air. Reabsorpsi urea dilakukan juga secara pasif. Urea adalah suatu produk sisa yang berasal dari penguraian protein. Konsentrasi urea sewaktu difiltrasidi glomerulus adalah setara dengan konsentrasinya di dalam plasma yang memasuki kapiler peritubulus. SEKRESI TUBULUS Sekresi tubulus dapat dikatakan sebagai mekanisme tambahan yang meningkatkan eliminasi zat-zat tertentu dari tubuh. Sekresi ion hydrogen dari ginjal sangatlah penting dalam pengaturan keseimbangan asam-basa tubuh. Ion hydrogen dapat ditanbahkan ke cairan filtrasi melalui proses sekresi di tubulus proksimal, distal, dan pengumpul. Tingkat sekresi H+ bergantung pada keasaman cairan tubuh. Sekresi ion kalium dilakukan sebagai zat yang dipindahkan secara selektif dengan arah berlawanan di berbagai bagian tubulus. Zat ini secara aktif direabsorpsi di tubulus proksimal dan secara aktif disekresi di tubulus distal dan pengumpul. Reabsorpsi ion ini tidak teratur. Sekresi ion kalium di tubulus distal dan pengumpul digabungkan dengan reabsorpsi Na+ melali pompa Na+-K+. Sekresi anion dan katiom organic terjadi secara terpisah. Tuulus proksimal mengandung dua jenis pembawa sekretorik yang terpisah, satu untuk sekresi anion organic dan suatu system terpisa untuk sekresi kation organic.

Pemeriksaan Fisik Diagnostik


Di bagian belakang, palpasilah pangguk dengan treliti dan tekan je dalam karena ginjal terlindung dengan baik. Perkusilah dengan kuat sudut kostovertebral dengan telapak tangan. Hal ini hanya dapat dilakukan sekali saja pada kasus pielonefritis yang jelas. Di bagian depan, teknik terbaik adalah palpasi bimanual. Satu tangan menekan panggul belakan pasien, dan tangan lainnya menekan melalui dinding abdomen. Balotemen dengan tangan yang terletak di belakang mendorong ginjal ke tangan yang terletak di depan. Distensi vesica urinaria mengisi ruang suprapubis dan dapat segera ditentukan dengan perkusi pada pasien yang berbaring. Suara perkusi pekak di daerah kandung kemih yang berisi cairan dikelilingi oleh suara perkusi timpani di daerah usus yang berisi udara. Mulailah melakukan perkusi di atas umbilikan. Keluhan-keluhan: Nyeri Glomerulusnefritis akut Kolik ureter Hematuria

Nokturia

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan laboratorium dilakukan beberapa tes untuk mengetahui penyakit yang diderita. Setiap tes mempunyai kegunaan yang berbeda. Setiap tes perlu dilakukan pemeriksaan wajib. Hal yang diperhatikan dalam pemeriksaan laboratorium: Warna Warna Penyakit yang mendasari Sangat pucat atau tidak Utin yang encer (overhidrasi, konsumsi bir berlebihan sebelumnya) berwarna Kuning-oranye Urin yang pekat Bilirubin Tetraksiklin, antrasena, sulfasalazim, riboflavin Coklat Bilirubin Nitrofurantoin, fenotiazin Merah muda Konsumsi beetroot( sejenis tubuhan yang akarnya berwarna merah dan dipakai untuk makana ) Fenindion, fenolftalein (laktasif) Merah Hematuria, hemoglobinuria, mioglobinuria Porfirin, rifampisin, piridium Hijau Biru metilen, pil De Witt Hitam Hemoglobinuria berat Metildopa Melanoma, okronosis Kejernihan Deposit fosfat atau urat dalam keadaan normal dapat ditemukan dan menimbulkan kekeruhan yang berwarna putih (fosfat) atau merah muda (urat). Kekeruhan yang lebih ringan mungkin disebabkan oleh bakteri. Pus, kilus, atau sdarah dapat menyebabkan urin menjadi lebih keruh. Bau Urin yang berbau amoniak adalah normal. Infeksi urinarius menyebabkan bau amis dan antibiotic kadang-kadang dapat menimbulkan bau pada urin. Berat Jenis Urinometer yang dapat mengapung dan memiliki skala, dipergunakan untuk mengukur berat jenis urin. Kedalaman bagian urinometer yang tenggelam di dalam urin menunjukan berat jenis dari urin tersebut yang dapat di baca pada skala di sisi alat tersebut. Batas berat jenis urin adalah 1,002-1,025. berat jenis yang rendah terus menerus menunjukan kemungkinan gagal ginjal kronik. Atau diabetes insipidus. Berat jenis urin yang tinggi menunjukkan kemungkinan dehidrasi atau diabetes mellitus dengan adanya sejumlah besar glukosa dalam urin. Berat jenis urin mempunyai korelasi dengan osmolaritasnya secara kasar. Analisis Kimia

Satu strip reagen kimia yang berwarna dapat dipakai untuk berbagai analisis secara serentak pH, protein, glukosa, keton, darah, nitrat, empedu, dan urobilinogen dalam urin. Strip tersebut dicelupkan ke dalam urin dan warna yang berubah tersenut setelah beberapa saat dibandingkan dengan sebuah karu yang disediakan. pH Urin normal bersifat asam, kecuali setelah makan urin menjadi alkalis untuk waktu yang singkat saja. Pengukuran pH urin bermanfaay pada beberapa keadaan kritis. Kadang-ladang urin harus dibuat alkalis untuk tujuan pengobatan. Asidosis tubulus ginjal distal harus dicurigai jika urin terus-menerus bersifat alkalis dan tidak dapat diasamkan. Infeksi traktus urinarius oleh organisme pemecah ure, seperti Proteus mirabilis, dapat juag menyebabkan urin yang alkalis, yang selanjutnya mempermudah [embentukan batu kalsium pada ginjal. Protein Normal proteinuria tidak lebih dari 150mg/hari untuk dewasa. Pada keadaan patologis proteinuria dapat dibedakan: Proteinuria glomerulus: ini terjadi pada penyakit glomerulus karena gangguan permeabilitas protein (albumin dan globulin) Proteinuria tubular: ini terjadi pada penyakit tubulus dan interstitium dan disebabkan gangguan reabsorpsi protein berat molekul (BM) ringan ( 1 mikroglobulin, 2 mikroglobulin, retinol binding protein) Proteinuria overload: ini disebabkan karena peningkatan protein BM rendah melebihi kapasitas reabsorpsi dari tubulus (Bence-Jones protein, lisosom, mioglobulin) Proteinuria Benigna: protein ini termasuk proteinuria karena demam ortostatik atau kerja fisik Untuk uji protein biasanya dipakai dipstick dan cukup sensitive terhadap albumin. Metode dipstick adalah semikuantitatif dengan nilai 0-4(+). Utnuk lebih teliti menilai protein kuantitatif memakai metode lain seperti turbidimetri. Glukosa dan Keton Pemeriksaan glukosa dan keton semikuantitatif tersedia. Glikosuria biasanya menunjukan DM, tetapi dapat terjadi pada penyakit-penyakit lainnya. Hasil yang positif palsu atau negative palsu dapat terjadi bila minum vitamin C (dosis tinggi), tetrasiklin, atau levadopa. Keton dalam urin dari pasien-pasien DM merupakan indikaso yang penting adanya ketoasidosis diabetikulum. Badan keton adal;ah aseto, asam beta hidroksi butirat dan asam aseto asetat. Kekurangan glukosa atau kekurangan availabilitas glukosa untuk sel-sel menybabkan aktivitas karnitinasetil transferase, yang mempercepat oksidasi asam lemak di dalam hati. Tetapi, proses konversi asam lemak yang menjadi jenuh menyebabkan pembentukan benda keton. Tes strip warna hanya bereaksi dengan asam asetoasetat. Darah Darah dalam urin atau disebut hematuria adalah abnormal dan dapat dideteksi bila terdapat 0,5ml/liter. Tes dengan dipstick yang positif adlah pasti abnormal dan menunjukan hematuria, hemoglobinuria (jarang) atau mioglobinuria (jarang). Hasil yang positif palsu atau negative palsu dapat terjadi bila minum vitamin C. Nitrit Dasar tes ini adalah aadnya bakteri yang dapat mengubah nitrat menjadio nitrit melalui enzim reduktase nitrat. Enzim ini banyak pada bakteri gram negative dan tidak ada pada bakteri jenis pseudomonas, stafilokokus albus dan enterokokus. Tes ini membutuhkan persiapan denagn diet kaya nitrat (sayuran) dan membutuhkan waktu reaksi yang cukup di kandung kencing. Tes ini sensivitasnya rendah 20-80% dan spesifitas 90%. Kristal

10

Macam-macam kristak yang dapat ditemukan: Kristal asam urat dan urat amorf Kristal kalsium oksalat Kristal kalsium fosfat Kristal tripel fosfat Kristal kolesterol Kristal sistin Kristal karena obat Sediment Urine Sediment yang biasanya dapat ditemukan adalah sel darah merah, sel darah putih, dan silinder. Sel darah merah (SDM) tampak sebagai sel bulat tanpa inti. Dalam keadaan normal tidak ditemukan. Sel darah putih (SDP) sel ini memiliki nucleus yang berlobus. Dalam keadaan normal kurang dari 2SDP/LPB. Yang ditemukan di urin. Silinder ada beberapa macam: Silinder Hialin tampak sebagai struktur silindris yang panjang. Silinder Granuler struktur silindris yang granuler ini adalah abnormal dan berasal dari tubulus. Silinder Eritrosit selalu abnormal dan menunjukkan penyakit glomerulus primer. Silinder Leukosit banyak leukosit yang menempel pada permukaan silinder. Silinder ini abnormal, yang menunjukkan pielonefritis bacterial atau yang jarang glomerulonefritis, infark ginjal atau vaskulitis.

Pemeriksaan Radiologi
Foto sinar-X polos Foto sinar-X polos dari saluran ginjal dibuat secara rutin sebelum pemeriksaan ginjal. Foto ini memperlihatkan kalkuli opak dalam ureter dan kandung kemih. Pengapuran di dalam dinding kandung kemih dan ureter dapat terlihat pada penyakit skistosokiasis. Jarang pengapuran dapat terlihat pada tumor kandung kemih, karena penutupan permukaan tumor oleh krusta. Urografi intravena (IVU) Dilakukan pada ginjal yang berfungsi baik dan ureum darah tidak terlalu tinggi, urografi intravena akan memperlihatkan kebanyakan lesi yang mengubah anatomi normal dari system drainase ginjal. Pielografi Retrograd Pemeriksaan ini dilakukan setelah sistokopi dan pemasukan suatu kateter ureter yang radio opsk oleh ahli bedah. Sejumlah kecil zat kontrs disuntikan pada kateter untuk mendapatkan gambaran saluran ginjal dan film yang tepat dapat dibuat. Pemeriksaan ini kadang-kadang tetap digunakan untuk menguatkan atau menyangkal adanya hubungan dari suatu kalkulus kecil dengan ureter dan melancarkan turunnya dalam ureter. Pielo Antegrad Pemeriksaan ini adalah cara yang berguna untuk memperlihatkan kalises ginjal, pelvis ginjal, dan ureter pada ksus dengan dugaan adya penyumbatan saluran kemih di mana cara intravena

11

telah gagal atau tidak meykinkan. Tidak seperti urografi retrograde, pemeriksaan ini tidak membutuhkan GA dan mempunyai kejadian infeksi kandung kemih yang rendah. Pemeriksaan ini baik untuk anak-anak dan bayi atau orang yang tidak munkin untuk sistoskopi. Angiografi Ginjal Suatu kateter opak ditembuskan ke dalam aorta secara perkutaneus dengan ujung kateter yang dibentuk lebih dahulu dan diatur denagn layer ke dalam pangkal artei ginjal. Angiogram ginjal pada msa lampau menyediakan cara untuk membuat diagnosis banding sebelum dilakukan pembedahan pada ksus sulit di mana telah diperlihatkan suatu masa pada ginjal. Angiografi juga digunakan untuk melihat embolisasi tumor vascular dan pemriksaan hipertnsi ginjal. USG klasik (tanpa kontras) USG ini sudah tersedia saat darurat. Masa kristik atau soloid, obstruksi atau regresi hidronefrosis dapat segera diketahui. Selain itu biopsy ginjal menjadi lebih mudah apabila dipandu dengan USG. Kelebihan USG: Sensitive mendetksi penimbunan cairan dilatasi pelviokalises dan kista Dapat membedakan kortek dan medulla Dapat membedakan kista dan masa padat Dapat melihat bentuk selruh ginjal dan ruangan sekitar ginjal Secara Doppler dapat melihat aliran datah ginjal Mudah dibawa Tidak memakai kontras dan radiasi. Kelemahan USG: Tidak dapat menunjukkan pelviokalises secara teliti Tidak dapat melihat ureter normal Tidak dapat melihat retroperitonium jelas Batu kecil dan batu ureter tidak dapat dideteksi Bergantung kepada operator Foto Polos Abdomen Pemeriksaan ini dapat melihat: Bentuk ginjal Gambaran ureter Gambaran kandung kemih Gambaran kalsifikasi Tomografi computer (CT) Pemeriksaan CT berguna untuk memeriksa lebih lanjut kelainan-kelainan yang terdapat pada USG atau PIV. CT digunakan untuk evaluasi massa ginjal, melokasi ginjal ektopik, meneliti batu, mencari massa retroperitoneal. Ct tanpa kontras dilanjutkan denagn kontras sangat berguna untuk infeksi ginjal, Karen bukan saja untuk mengidentifikasi kemungkinan obstruksi batu tetapi luasnya kerusakan parenkim dan daerah perinephric. Angiogrfi CT Salah satu kecanggihan scan helical adalah kemampuan angiografi CT dapat memberikan gambaran serupa angiografi konvensional akan tetapi kurang invasive.

12