You are on page 1of 13

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA ‘’INSPIRING HOUSE’’ SEBAGAI RUMAH SINGGAH ANAK JALANAN UNTUK PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP

MANDIRI DI DESA BABAKAN KAMPUS DRAMAGA IPB

BIDANG KEGIATAN : PKM PENGABDIAN MASYARAKAT

1. 2. 3. 4. 5.

Diusulkan Oleh: Surya Sallina (E24090001/2009) Robby Hakim Nugraha (E24090076/2009) Yuka Chandra A. (E34090103/2009) Deni Yan Kusyana (C54100055/2010) Elva Lestari (I34100027/2010)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

HALAMAN PENGESAHAN USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA 1. Judul Kegiatan :“Inspiring House’’sebagai Rumah Singgah Anak Jalanan untuk Pendidikan Entrepreneurship Mandiri di Desa Babakan Kampus Dramaga IPB : ( ) PKMP ( ) PKMK ( ) PKMT () PKMM : ( ) Kesehatan ( ) Pertanian ( ) MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa () Sosial Ekonomi ( ) Humaniora ( ) Pendidikan

2. Bidang Kegiatan (Pilih salah satu) 3. Bidang Ilmu (Pilih salah satu)

4. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama lengkap b. NRP c. Program studi d. Alamat rumah/telp.

: Surya Sallina : E24090001 : Teknologi Hasil Hutan : Desa Langga Payung, Kota Medan, Sumatera Utara/085711427030 5. Anggota Pelaksana Kegiatan : 4 orang 6. Dosen Pembimbing a. Nama lengkap : Dadan Mulyana, S.Hut, M.Si b. NIP : 19760322 200701 1 001 c.Telp. : 085281881208 7. Biaya Kegiatan Total : Rp. 7.177.000,a. DIKTI : Rp. 7.029.000,b. Sumber lain :8. Jangka Waktu Pelaksanaan : 5 bulan

Bogor, 4 Oktober 2011 Menyetujui, Ketua Departemen Hasil Hutan Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr. Ir. I Wayan Darmawan, MScF) NIP. 19660212 199103 1 002 Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan

(Surya Sallina) NIM. E24090001 Dosen Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS) NIP. 19581228 198503 1 003

(Dadan Mulyana, S.Hut, M. Si) NIP. 19760322 200701 1 001

i

ABSTRAK Fenomena anak jalanan di Indonesia saat ini memerlukan perhatian khusus semua elemen masyarakat. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga menengah kebawah (miskin), yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberdayakan dirinya, sehingga rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, ketimpangan gender, dan perdagangan anak Karena hal ini menjadi masalah sosial masyarakat secara luas, untuk meminimalisir permasalahan ini telah menemukan solusi awal, yaitu pemberdayaan kesejahteraan sosial ekonomi dan pendidikan entrepreneurship mandiri bagi anak jalanan melalui aplikasi pengelolaan limbah kulit Agathis dammara dengan adanya Inspiring House sebagai tempat berekspresi dan menjadi wadah memberikan arahan dan pelatihan bagi anak-anak jalanan serta untuk melindungi mereka dari ancaman bahaya luar. Bangunan sederhana dengan sebutan si Inspiring House dapat memberikan pendidikan gratis dan menanamkan jiwa entrepreneurship mandiri bagi anak jalanan diusia remaja, sehingga anak usia remaja dapat membuka usaha sendiri dan Inspiring House sebagai media dalam pembelajaran entrepreneurship mandiri. Selain itu, menyediakan limbah kulit Agathis dammara untuk dijadikan wadah aplikasi wirausaha mandiri. Kata Kunci : anak jalanan, agathis dammara, entrepreneurship, inspiring house.

ii

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat dan karunianya Laporan Akhir PKM-M ini dapat diselesaikan. Kegiatan pengabdian masyarakat saat ini akan segera dikembangkan lebih lanjut agar generasi muda Indonesia semakin mampu berpikir secara kreatif dan bijaksana. Selain itu, dari kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan agar menjadi lapangan pekerjaan bagi generasi anak bangsa yang masih pengangguran akibat tidak bisa melanjutkan pendidikannya atau penuhnya lapangan pekerjaan, terutama pada kaum anak jalanan. Banyaknya anak jalanan di Indonesia pada saat ini semakin meningkat dari data statistik yang diperoleh, dimana hingga saat ini pemerintahan indonesia masih sangat sedikit menyediakan yayasan bagi anak jalanan, terutama anak jalanan yang berada disekitar Dramaga kampus IPB Bogor. Padahal Indonesia merupakan negara megabiodeversity yang memiliki sumber daya alam yang melimpah yang seharusnya dapat memberikan lapangan pekerjaan buat generasi anak bangsa. Dengan adanya kegiatan penggunaan kreasi cenderamata melalui limbah kulit Agathis dammara versi anak jalanan dapat menjadi solusi dari pemecahan permasalahan tumpang tindihnya anak jalanan yang berkeliaran di pinggir jalanan umum. Sebelumnya limbah kulit Agathis dammara ini adalah berkelanjutan dari PKM-K yang sudah pernah di danai oleh DIKTI pada tahun 2011. Dan saat sekarang ini dijadikan PKM-M dengan versi cenderamata hasil karya anak jalanan. Mudah-mudahan dari hasil laporan akhir yang dibuat ini, para stakeholder yang ada di Dinas Kementerian Sosial mau membantu meminimalisir jumlah anak jalanan yang membludak. Sekian dan terima kasih kepada pihak DIKTI yang sudah mau memberikan dana PKM-M ini dan temanteman kelompok PKM Inspiring House. Semoga kegiatan ini akan menjadi manfaat yang sangat banyak bagi penyandang generasi anak bangsa..Amin.

Bogor, 27 Mei 2012

iii

1

I.

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Departemen Sosial Republik Indonesia mendefinisikan anak telantar atau anak jalanan adalah anak yang berusia 5-18 tahun. Hal ini disebabkan oleh orang tuanya yang tidak dapat melakukan kewajibannya karena beberapa kemungkinan seperti kemiskinan atau ketidakmampuan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, salah seorang dari orangtuanya atau kedua-duanya sakit, salah seorang atau kedua-duanya meninggal, keluarga tidak harmonis, tidak ada pengasuh, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar, baik secara jasmani, rohani dan sosial. Fenomena anak jalanan di Indonesia saat ini memerlukan perhatian khusus semua elemen masyarakat. Karena hal ini menjadi masalah sosial masyarakat secara luas. Sebanyak 40% atau 33,16 juta diantaranya tinggal di perkotaan dan 45,8 juta sisanya tinggal di perdesaan. Menurut laporan Departemen sosial pada tahun 2004, sebanyak 3.308.642 anak termasuk ke dalam kategori anak terlantar. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga menengah kebawah (miskin), yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberdayakan dirinya, sehingga rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, ketimpangan gender, dan perdagangan anak. ketua komisi nasional perlindungan anak seto mulyadi mengatakan jumlah anak jalanan tahun 2008 di wilayah jabodetabek mencapai 80 ribu jiwa. Sedangkan di Kota Bogor diperkirakan ada sekitar 1.000 anak jalanan yang beroperasi di perempatan, pertigaaan, angkutan kota, pasar dan terminal. Dengan banyaknya jumlah anak jalanan tentunya akan meningkatkan anak jalanan maka meningkat pula jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Untuk meminimalisir permasalahan ini telah menemukan solusi awal, yaitu pemberdayaan kesejahteraan sosial ekonomi dan pendidikan entrepreneurship mandiri bagi anak jalanan melalui aplikasi pengelolaan limbah kulit Agathis dammara dengan adanya Inspiring House sebagai tempat berekspresi dan menjadi wadah memberikan arahan dan pelatihan bagi anak-anak jalanan serta untuk melindungi mereka dari ancaman bahaya luar. Berdasarkan fakta di atas maka kami memiliki konsep Inspiring House sebagai rumah singgah anak jalanan di Desa Babakan Dramaga dengan konsep pendidikan enterpreneurship mandiri bagi usia remaja mereka, diharapkan dengan adanya rumah singgah ini bukan hanya sekedar menjadi tempat singgah dan berlindung anak-anak jalanan tetapi menjadi rumah yang bisa memberikan pelajaran dan juga pendampingan untuk bisa membantu mereka dalam membentuk karakter berwirausaha dan keluar dari zona kemiskinan yang menjadi bagian dari anak jalanan. Selain itu, alasan yang menjadi terbentuknya program ini adalah pengelolaan limbah kulit Agathis dammara yang sedang dilakukan untuk menjadi aplikasi pembinaan jiwa entrepreneurship dan sebagai sarana untuk mensejahterahkan perekonomian anak jalanan. 2. Perumusan Masalah 1. Inspiring House merupakan wadah sebagai pembentukan karakter pemimpin dan jiwa entrepreneur mandiri bagi anak jalanan beserta melindungi mereka dari ancaman luar, terutama mengurangi anak jalanan yang memiliki tempat tinggal di pinggiran jalan.

2

2. Peluang usaha mandiri bagi anak jalanan tingkat remaja yang diterlantarkan dan mengurangi padatnya peminta-minta maupun pengamen jalanan. 3. Banyaknya anak jalanan yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik dan teratur, serta perhatian yang lebih. 4. Limbah kulit Agathis dammara yang saat ini kurang dimanfaatkan, akibat minimnya ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat, terutama generasi muda yang tidak atau kurang mendapatkan pendidikan. 3. Tujuan Program Program ini bertujuan untuk : 1. Memanfaatkan Inspiring House sebagai rumah singgah bagi anak jalanan untuk berkreasi dan dapat dijadikan tempat tinggal untuk sementara waktu. 2. Mendirikan usaha mandiri yang mampu membuka peluang kerja dan mengangkat perekonomian anak jalanan. 3. Memberikan bimbingan pendidikan gratis dan entrepreneurship mandiri bagi anak jalanan. 4. Mengembangkan jiwa kreativitas dan kewirausahaan, dengan cara mengelola limbah industri kulit Agathis dammara menjadi suatu inovasi yang berbentuk padat karya. 4. Luaran yang Diharapkan Bangunan sederhana dengan sebutan si Inspiring House dapat memberikan pendidikan gratis dan menanamkan jiwa entrepreneurship mandiri bagi anak jalanan diusia remaja, sehingga anak usia remaja dapat membuka usaha sendiri dan Inspiring House sebagai media dalam pembelajaran entrepreneurship mandiri. Selain itu, menyediakan limbah kulit Agathis dammara untuk dijadikan wadah aplikasi wirausaha mandiri. 5. Kegunaan Program Sedangkan beberapa kegunaan yang diharapkan dapat diperoleh melalui penulisan PKM-M ini adalah sebagai berikut : 1. Menjadikan Inspiring House sebagai tempat kegitan belajar dan mengajar tentang soft skill, terutama jiwa kewirausahaaan atau entrepreneur yang memberikan output penghasilan bagi remaja itu sendiri. 2. Meningkatkan potensi sumber daya awam terlatih untuk dapat membuat lapangan pekerjaan. 3. Bagi pemerintah setempat, gagasan ini akan menciptakan masyarakat madani terutama anak usia remaja yang mampu berpartisipasi aktif dalam peningkatan potensi kewirausahaan. 4. Sebagai langkah awal untuk anak usia remaja menjadi entrepreneurship mandiri. 5. Meningkatkan minat kepada anak usia remaja untuk mempelajari entrepreneur di Inspiring House tanpa menitikberatkan kepada keuangan mereka. II. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah

3

wilayah Kabupaten Bogor. Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106’ 48’ BT dan 6’ 26’ LS dengan Luas Wilayah Kota bogor sebesar 11.850 Ha. Kota bogor mempunyai rata-rata ketinggian minimum 190 m dan maksimum 330 m dari permukaan laut. Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 26’ C dengan suhu terendah 21,8’ C dengan suhu tertinggi 30,4’ C. Kelembaban udara 70 %, Curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3.500 – 4000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari. Dengan kondisi iklim demikian, Bogor dikenal dengan julukan kota hujan. Berikut ini merupakan gambaran monografi kependudukan Kota Bogor. Kota Bogor terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan. Kemudian secara administratif Kota Bogor terdiri dari 6 wilayah kecamatan, 31 kelurahan dan 37 desa (lima diantaranya termasuk desa tertinggal yaitu Desa Pamoyanan, Genteng, Balungbangjaya, Mekarwangi dan Sindangrasa), 210 dusun, 623 RW, 2.712 RT. Berdasarkan data yayasan gerbong rakyat, di dapatkan jumlah anak jalanan di kota bogor berjumlah 400 anak. Sedangkan pada tahun 2010 diperkirakan ada sekitar 1.000 anak jalanan yang beroperasi di perempatan, pertigaaan, angkutan kota, pasar dan terminal menurut Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Yunda pramucthia dan Nurmala K. Panjaitan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) di peroleh informasi yaitu pada umunnya anak jalanan di Kota Bogor adalah laki- laki dengan sebagian besar berusia 16 sampai 18 tahun dan sebaian lainnya berusia 13 sampai 15 tahun, dan pekerjaan yang paling banyak dilakukan adalah pengamen sebesar 93.33% (berdasarkan penelitian Yucha dan Nurmala). Sedangkan untuk tingkat pendidikan sebagian besar hanya pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Berdasarkan tingkat sosial ekonomi secara keseluruhan anak jalanan menunjukan mererka tergolong keluarga miskin menurut kriteria BPS yaitu pendapatan di bawah Rp 600.000 perbulan dan sebagian besar pendidikan orang tua mereka sampai sekolah dasar. Dan untuk Inspiring House sebagai rumah singgah di Kota Bogor terutama Desa Babakan Dramaga IPB belum memiliki rumah singgah untuk menampung anak jalanan yang berkeliaran sampai saat ini. III. METODE PELAKSANAAN PROGRAM Pendidikan Entrepreneur Bagi Anak Jalanan di Inspiring House 1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan dimulai dari bulan Januari sampai Mei yang berada di sekitar kampus Dramaga IPB dan desa Ciheudang.
Tabel Jadwal Kegiatan Program
I No Uraian 1 2 1 Persiapan kegiatan
Proses pembinaan karakter, pendidikan dan aplikasi entrepreneur

II 3 4 1 2 3 4 1

III 2 3 4 1

IV 2 3 4 1 2

V 3 4

2

4

3 4 5

Evaluasi kegiatan
Monitoring

Pelaporan

2. Tahapan Pelaksanaan. a. Pemberian Materi Tujuan pemberian materi adalah persamaan konsep dan pemahaman dasar mengenai materi yang diberikan yaitu kewirausahaan mandiri bersama pengelolaan limbah kulit Agathis dammara dan hal-hal lain yang bersifat kesejahteraan ekonomi yang dapat dilakukan oleh anak jalanan agar dapat mengaplikasikan pelajaran tentang kewirausahaan dikehidupan secara langsung dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri mereka sendiri. b. Teknis Pelaksanaan Mempersiapkan rumah singgah yang berada di daerah Bogor sebagai tempat belajarmengajar kewirausahaan, membina rasa kekeluargaan, serta tempat melatih soft skill, juga sebagai rumah produksi barang-barang dari limbah pohon Agathis. Alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah white board, spidol, penghapus, LCD proyektor, laptop, pengeras suara, materi pengajaran (dalam bentuk power point dan poster), film edukasi, buku-buku bacaan, dan perpustakaan mini. Mencari bangunan rumah singgah, pemberian materi, pembuatan power point (slide materi), pembuatan perpustakaan mini, dan pemilihan film edukasi menjadi hal utama yang harus dipersiapkan. Pemutaran film edukasi mengenai pentingnya berwirausaha mandiri yang dilaksanakan 2 kali dalam seminggu dan kemudian dilakukan evaluasi setiap 1 bulan sekali dalam program pembelajaran. c. Menjual Barang Produksi Sendiri Setelah peserta didik (anak jalanan) mendapatkan pendidikan mengenai kewirausahaan, kemudian mereka mengaplikasikannya secara langsung dengan cara menjual barang-barang dari limbah kulit pohon Agathis dammara, produk rumahan yang bekerja sama dengan pengrajin limbah kulit pohon Agathis. Uang yang telah mereka hasilkan dari hasil penjualan berupa seni padat karya akan diberikan kepada mereka, sang anak jalanan. Untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan maka dilakukan beberapa langkah kegiatan. Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah survey lapangan, berkoordinasi dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja atau Kelurahan Balai Desa setempat dan sosialisasi program, persiapan, pelaksanaan program dan evaluasi kegiatan. Ada beberapa tahap dalam pelaksanaannya, meliputi : 1. Pembuatan proposal persiapan pelaksanaan PKM Pengabdian Masyarakat. Perizinan dan koordinasi dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja atau Kelurahan Balai Desa setempat untuk memperlancar pelaksanaan program sosial. Kemudian perizinan dan sosialisasi untuk mendirikan rumah singgah. 2. Sosialisasi program kepada anak jalanan.

5

3.

4.

5. 6.

Memberikan penjelasan dan informasi kepada anak jalanan, tentang bagaimana sistem pelaksanaan untuk menyelesaikan program rumah singgah bersama pengelolaan limbah kulit pohon Agathis sebagai seni padat karya oleh anak jalanan. Pelatihan pengelolaan limbah kulit Agathis dammara dan pemberian materi enterpreneurship mandiri. Memberikan pengajaran terlebih dahulu terkait entrepreneur dengan pengelolaan limbah kulit Agathis dammara dan memberikan materi tentang entrepreneur. Penerapan entrepreneurship mandiri dengan metode Coaching. Penerapan langsung di lapangan dengan menjual dan memasarkan hasil dari pengelolaan limbah kulit Agathis dammara dengan metode pendampingan dan pengarahan teknis lapangan. Monitoring pasca pelaksanaan PKM Pengabdian kepada Masyarakat. Pemantauan kinerja dari output kegiatan yang telah dilaksanakan. Penyusunan Laporan. Laporan disusun setelah pelaksanaan seluruh program selesai dilaksanakan.

3. Rancangan dan Realisasi Biaya Rincian biaya yang telah digunakan adalah : No Keterangan Kegiatan 1. Pengumpulan bahan baku untuk sampel - Transportasi pengambilan kulit Agathis dammara ke Gunung Walat, Sukabumi - Transportasi ke lokasi pengrajin dan Rumah Singgah 2. Mesin Pencetak Limbah Kulit Agathis - 1 mesin Role Saw - 1 mesin Bore Saw 3. Jenis Alat Penunjang lainnya - Tinta Timbul 20 warna@ Rp 7.000 - Tinta cair berwarna 10@ Rp 2.000 - Gantungan kunci 100 buah@ Rp 1.000 - Spidol 4@ Rp 7.000 - Whiteboard 1 buah - Penghapus 2 buah@ Rp 4.000 - Pulpen 3 kotak@ Rp 18.000 - Buku tulis 3 lusin@ Rp 33.500 - Lemari buku 3 buah@ Rp 210.000 Konsumsi peserta Jasa Karyawan Gunung Walat Pembuatan Proposal 5 rangkap@ Rp 25.000 CDR 2 buah@ Rp 5.000 Pembuatan laporan kemauan 2 rangkap@ Rp 18.000 Pembuatan laporan akhir 5 rangkap@ Rp 25.000

Biaya 150.000 100.000

2.700.000 900.000 140.000 20.000 100.000 28.000 80.000 8.000 54.000 100.500 630.000 270.500 250.000 125.000 10.000 36.000 125.000

4. 5. 6. 7. 8. 9.

6

10. 11. 12.

1 orang upah pengrajin@ Rp 500.000 Dokumentasi 1 paket Penyewaan LCD proyektor 7 jam

500.000 100.000 450.000 6.877.000

Total Pengeluaran

Sisa pengunaan dana dinyatakan sebesar (- Rp 148.000) dari total dana yang diberikan sebesar (Rp 6.729.000). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Berdasarkan hasil observasi di lapangan mengenai anak anak di jalanan di peroleh hasil: No. Ketercapaian Keterangan 1 Sudah menemukan lokasi rumah singgah yang terletak di desa Cihideung, Kab Bogor . Sudah melakukan pendataan peserta kepada anak jalanan. Dalam Program ini, anak jalanan tersebut sangat antusias untuk menjadi entrepreneurship. Dilihat dari data peserta anak jalanan yang telah diterima lebih dari 25 orang. Sehingga diperlukan waktu untuk melakukan penyeleksian peserta anak jalanan maksimal sebanyak 25 orang. Memberikan pelatihan cara pengolahan limbah kulit Agathis dammara dan Pemberian materi Entrepreneurship mandiri. Tempat Bekerjasama dengan SMP Terbuka di Cihideung.

2.

Anank anak jalanan sebanyak 25 orang tersebut komposisinya merupakan campuran antara anak anak jalanan yang bekerja di pasar, mengamen di jalanan dan anak anank punk.

3.

Memberikan pemahaman awal dan mereka sangat antusian terutama anak anak punk yang ingin membuktikan eksistensi diri mereka.

4. 5.

Bahan untuk produk yaitu limbah kulit Pengambilan berasal dari gunung agathis sudah ada. walat. Mesin produksi yaitu schroll saw dan jig saw sedang dalam pemesanan.

2. Pembahasan Pelaksanann program inspiring house sebagai rumah singgah bagi anak jalanan melalui pendekatan kewirausahaan dengan pemanfaatan kulit limbah agathis banyak menemui hambatan terutama dalam mencari tempat untuk di jadikan rumah singgah karena biaya

7

penyewaan rumah di areal lingkar kampus sangat mahal dan di luar anggaran yang disediakan akan tetapi setelah melakukan observasi lebih lanjut ke desa cihideung akhirnya ditemukan rumah singgah yang tepat dengan bekerjasama dengan SMP terbuka yang berada di desa tersebut. Dalam pencarian anak jalan kami menggunakan dua metode yaitu pertama kami mencari langsung di areal lingkar kampus dan kedua kami bekerjasama dengan pengelola SMP terbuka untuk mencari anak jalanan di sekitar wilayah tersebut. Setelah terkumpul anak anak jalanan kami memberikan pemahaman awal tentang kewirausahaan agar memberikan motivasi dan pemahaman yang luas akan pentingnya kewirausahaan. Dan dalam penacarian kulit agathis diambil dari gunung walat karena disana terdapat banyak pohon walat yang bisa diambil limbahnya secara gratis dengan perijinan dari pihak IPB. Mesin schrool saw dan jig saw sebagai alat produksi awalnya kami pesan dari pengrajin yang sudah bekerjasama namun karena pengrajin tersebut sedang banyak pesanan dan tidak bisa memenuhinya akhirnya mesin tersebut dicari secara online di internet dan saat ini sedang dalam tahap pemesanan. V. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Inspiring house sebagai rumah singgah melalui pendekatan kewirausahaan dengan pemanfaatan kulit limbah agathis telah mampu membuat anak anak jalanan paham akan arti penting dalam berwirausaha menanamkan motivasi dan antusiasme dalam kewirausahaan serta menumbuhkan jiwa enterpreneur dan kreatif dalam diri anak anak jalanan. Selain itu inspiring house juga memberikan lebih dari sekedar pembelajaran enterpreneur namun juga pendampingan pendidikan dan bimbingan belajar serta yang terpenting anak anak jalanan bisa mengaktulisasikan dirinya dan mengekspresikan diri di dalam inspiring house. Saran Anak jalanan merupakan masalah sosial bersama yang sering di pandang sebelah mata. Dengan tidak adanya dorongan dan motivasi membuat mereka tersingkirkan dari masyarakat. Maka tugas kita adalah memberikan support dan motivasi kepada mereka untuk bisa berkembang karena sesungguhnya mereka tidak ada bedanya dengan anak anak lainnya yang memiliki jiwa jiwa kreatif dan semangat yang tinggi dalam berusaha hanya karena kurangnya bimbingan membuat mereka.

8

LAMPIRAN

Rumah Singgah tampak dari depan

Bapak Ilyas, pemilik Rumah Singgah

9