You are on page 1of 3

PENERAPAN METODE VOLUME FLOW RATE CALCULATION BASED ON THE FACTOR APPROACH SESUAI STANDAR AGA 3 UNTUK PENENTUAN

PENGARUH FAKTOR COMPRESSIBILITY PADA VORTEXFLOWMETER DI P.T. KPI-BONTANG
I Putu Angga Kristyawan (2409100027) Pembimbing : Dr. Ir. Sekartedjo M.Sc Jurusan Teknik Fisika – Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Keputih Sukolilo, Surabaya 60111 E-mail: sonengga@gmail.com

Abstrak P.T. KPI merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi ammonia. Ammonia yang dihasilkan diolah dari bahan dasar berupa natural gas. Natural gas dipasok dari Pertagas (SKG Bontang). Pendistribusian natural gas dilakukan pada pipa gas custody meter. Dalam pendistribusiannya, penting untuk mengetahui flowrate gas yang dialirkan dengan flowrate gs yang masuk ke KPI. Permasalahan yang terjadi adalah adanya perbedaan flowrate antara pengukuran di Pertagas yang menggunakan orifice dengan KPI yang menggunakan vortexflowmeter mencapai 1,93 MMSCFD. Dengan menggunakan metode Volume Flow Rate Calculation Based On The Factor Approach Sesuai Standar Aga 3. Didapatkan bahwa perbedaan antara kedua sistem ini adalah karena tidak dihitungnya faktor kompresibility pada vortexflowmeter. Kata Kunci: Ammonia, Natural gas, Flowrate, orifice, vortexflowmeter, compresibility 1. PENDAHULUAN Dalam proses penghasilan ammonia, PT. KPI memperoleh pasokan gas dari pertagas. Gas dari pertagas ke KPI ditransfer melalui pipa. Karena produk ini dibeli dan dijual dalam satuan energi, maka penting untuk mengetahui secara akurat flow gas yang telah ditransfer dalam waktu tertentu. Untuk pengukuran flow sendiri, pada pertagas menggunakan orifice sedangkan P.T. KPI menggunakan pengukuran berbasis vortex (vortex flowmeter). Seharusnya, ketika konsep pengukuran berbeda namun yang diukur sama, maka hasil pengukuran akan sama. Namun selama ini yang terjadi, ada perbedaan pengukuran flow pertagas dan KPI. Masalah perbedaan pengukuran flow pertagas dan P.T. KPI akan diangkat pada kerja praktek ini. Kerja praktek ini akan menganalisa tentang terjadinya perbedaan pengukuran flow tersebut. Sekaligus memberikan rekomendasi untuk meningkatkan hasil pengukuran flow pertagas dan P.T. KPI. 2. TAHAPAN PENYELESAIAN MASALAH Selama pelaksanaan kerja praktek, untuk mencapai tujuan yaitu mengetahui pengaruh kompresibility pada flowmeter maka dilakukan langkah – langkah tertentu. Langkah – langkah tersebut, telah didiskusikan dengan pembimbing lapangan. Bentuk dari langkah pelaksanaan adalah sebuah standart operasional yang telah disesuikan terhadap kebutuhan penggunaan. Standart operasional tersebut adalah sebagai berikut a. Mengecek data yang didapatkan benar apa tidak b. Mengecek piping instrumen yang bermasalah, apakah telah sesuai dengan standar yang ada di Final Dokument Perusahaan c. Menghitung ulang nilai pengukuran secara manual maupun menggunakan software

d. Menjustir ulang instrumen untuk mengecek kemungkinan terjadi buble atau pengotor lain dalam instrumen e. Membandingkan looping diagram vortexflowmeter dengan AGA 3, untuk mengetahui perbedan prinsip yang digunakan. 3. PENGARUH KOMPRESIBILITY PADA VORTEX FLOWMETER Untuk memudahkan mengevaluasi, hasil pengukuran, data tersebut diplot dalam diagram garis untuk dapat mengetahui linearitas dari suatu data pengukuran. Plot nya adalah sebagai berikut
45,00 44,00 M 43,00 M 42,00 S 41,00 C 40,00 F 39,00 D 38,00 37,00 36,00

Pertagas P.T. KPI 1 3 5 7 9 11131517192123252729 Juni 2012

Data diatas menunjukkan dapat diketahui bahwa rata – rata selisih pengukuran melalui orifice dan vortex flow meter adalah sebesar 1.93 MMSCFD. Kemudian data pengukuran flow rate Pertagas akan dibandingkan lewat metode perhitungan manual sesuai dengan standar AGA 3. Hasil perbandingan menyatakan bahwa nilai error yang mencapai 0,02% telah sesuai dengan sertifikasi pengukuran yang dimiliki Pertagas dan KPI. Pada sertifikasi yang dikeluarkan Badan Meteorologi Bontang tertanggal 21 Juni 2012, nilai error pengukuran adalah 0,039%. Untuk itu dapat dinyatakan bahwa system pengukuran differential pressure masih memberikan nilai pengukuran yang bisa digunakan.

Sesuai dengan evaluasi data yang didapatkan pada saat pelaksanaan kerja praktek, tidak ditemukannya bukti bahwa instalasi maupun perlakuan terhadap sistem pengukuran flow yang kurang tepat. Semua sistem yang dievaluasi memilki toleransi kesalahan yang sesuai dengan standarnya. Ketika melihat ke dasar pengukuran flowrate terutama pada saat perhitungan manual menggunakan metode AGA 3. Ada perbedaan diantara dua sistem pengukuran yang diterapkan yaitu vortex flowmeter dengan orifice. Dengan menggunakan metode AGA 3, pada akhir konversi ke satuan flow terdapat 3 faktor koreksi. Faktor tersebut adalah pressure, temperature dan kompresibility. Hal ini berbeda dengan sistem pengukuran pada P.T. KPI yang memakai vortex flowmeter untuk mengukur seberapa banyak gas yang diterimanya dari SKG Bontang. vortex flowmeter di KPI ternyata tidak menggunakan faktor kompresibility seperti yang ada pada pengukuran flow menggunakan orifice. Untuk memperlihatkan pengaruh kompresibility pada hasil pengukuran flow, berikut ini akan diperlihatkan perbedaan nilai flow yang dihitung berdasarkan komposisi gas Pertagas dan P.T. KPI Dalam perhitungan kompresibility

menggunakan perhitungan yang disediakan secara online oleh SOLVTM Setelah dikalikan dengan faktor kompresibility, data pengukuran menunjukkan ada 18 data yang memiliki nilai mendekati pengukuran flowrate

menggunakan orifice pada Pertagas. 12 data lain, tidak menunjukkan hal yang sama namun nilainya tidak terlalu jauh dari pertagas, berkisar antara 1 – 2 MMSCFD. Misalkan pada tanggal 20 – 21 terjadi perbedaan hingga 2 MMSCFD. Perbedaan ini disebabkan karena data yang terekam pada tanggal tersebut tergolong kurang baik. Hal ini disebabkan karena pada tanggal tersebut terjadi suatu perlakuan khusus terhadap sistem pengukuran orifice di Pertagas. Perlakuan tersebut menurut laporan sertifikasi orifice, merupakan tanggal pelaksanaan sertifikasi. Sehingga pada saat itu, rekam data terganggu akibat pengukuran juga digunakan untuk sertifikasi. 18 data flowrate KPI (Z) yang mendekati nilai perhitungan orifice, menunjukkan bahwa untuk mendapatkan nilai pengukuran yang sesuai, faktor kompresibility harus disertakan. Hal ini dikarenakan, kondisi real gas yang pasti berbeda dengan kondisi ideal gas. 4. KESIMPULAN Tujuan dari diadakannya kerja praktek ini, adalah untuk menemukan penyebab perbedaan pembacaan flowmeter dan rekomendasi untuk P.T. KPI. Berdasarkan tujuan dan analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan yaitu 1. Penyebab terjadinya perbedaan pembacaan pada system pengukuran di Pertagas dan P.T. KPI adalah tidak diperhitungkannya kompresibilitas aliran natural gas. Padahal terjadi perbedaan P dan T pada vortexflowmeter 2. Rekomendasi yang diberikan adalah Pengkajian ulang looping diagram untuk vortex flowmeter. Sehingga ditemukan factor koreksi yang lebih sesuai akibat pengaruh kompresibility 5. DAFTAR PUSTAKA Bentley, J. P. (2005). Principles of Measurement Systems Fourth edition. Harlow: Pearson Education Limited. Fluid Flow Handbook. Jamal Saleh. McGraw-Hill.202.New York

Orifice Metering of Natural Gas. AGA Report No.3 part 1 American Gas Association. USA.2003 Orifice Metering of Natural Gas. AGA Report No.3 part 2 American Gas Association. USA.2003 Orifice Metering of Natural Gas. AGA Report No.3 part 3 American Gas Association. USA.2003 Orifice Metering of Natural Gas. AGA Report No.3 part 4 American Gas Association. USA.2003 Final Document P.T. KPI MHI Japan. Piping Design Piping Isometric P10/13. 2003 Final Document P.T. KPI MHI Japan. Control Instrumentation 14. 2003 Final Document P.T. KPI MHI Japan. Instruction Manual 50. 2003 6. BIODATA PENULIS

Nama Lengkap Tempat, Tanggal lahir Agama Alamat sekarang Telepon/HP Alamat Email Riwayat Pendidikan

: I Putu Angga Kristyawan : Bungkulan, 06 Agustus 1991 : Hindu : Perumahan Bumi Marina Emas Barat IV/40 Sukolilo Surabaya (60111) : 081999165661 : sonengga@gmail.com : 1. TK 17 Agustus Bungkulan (1995-1997) 2. SDN No.6 Bungkulan (1997-2003) 3. SMPN 2 Sawan (20032006) 4. SMAN 1 Singaraja (2006-2009) 5. S1 Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri ITS Surabaya (2009-sekarang)

: