BAB I Pendahuluan

Tiga puluh lima dari kita menderita dari nyeri leher. Prevalensi yang tertulis dari suatu naskah adalah 10% dari populasi orang dewasa. Tetapi, kebanyakan kasusnya adalah bersifat transient, akut maupun kambuh. Leher mempunyai bagian yang sangat mobile dari kolumna vertebra dengan jumlah 40 persendian tulang, ligamentum, otot membrane synovial. Karena sifat mobilitas dari leher ini menyebabkan ia rentan terhadap trauma maupun degenerasi dari tulang dengan permukaan persendian dan diskusnya, dan jaringan lunak yang tersusun dari otot, ligament, pembuluh darah dan syaraf. Walaupun sangat terlihat jelas sekali pada gambaran radiologis bahwa terdapatnya servikal spondylisis pada umur sekitar 30, penurunan fungsi dan dan terdapatnya disabilitas itu sangat jarang sekali dibandingkan dengan bagian lumbal. Memang, sudah lama diketahui bahwa kelainan yang bersifat asimtomatis pada columna vertebrae cervikalis didapati sekitar 80% dari semua pasien. Dari sini di tegaskan bahwa sangat sulit sekali menghubungkan perubahan pada gambaran radiologis dengan gejala – gejala klinis. . Investigasi Setelah sejauh ini anda seharusnya sudah memiliki fikiran apakah perlu dilakukan investigasi lebih lanjut.Ingat untuk membatasi investigasi anda untuk hasil yang di harapkan saja. Oleh karena itu nyeri pada gambar kolumna servikal lateral dan anterior posterior mengindikasikan pembentukan osteophyte dan kalsifikasi sekstraosseus dan menegaskan adanya sklerosis pada facet joint, spondylolisthesis, hilangnya tinggi pada diskus cervikalis, adanya lekukan vertebrae yang abnormal seperti hilangnya lordosis dan diffuse skeletal hyperostosis yang idiopatic. Gambaran polos dari mulut yang terbuka menggambarkan sendi atlantoaxial. Gambaran dengan barium menegaskan jaringan lunak di depan kolumna vertebralis dan menegaskan adanya dysphagia yang disebabkan dari formasi osteophyte. Pemeriksaan yang lebih lanjut yaitu dengan MRI di indikasikan untuk menggambarkan cervical disc protrusion, lateral canal stenosis, spondylolisthesis yang berarti dan, yang jarang, pembentukan jaringan parut yang panjang atau perlengketan di sekitar radiks.

Pemeriksaan metabolic seperti bone densitrometry diindikasikan untuk monitor penatalaksanaan yang progresif untuk osteoporosis.

Pemeriksaan nerve conduction dan electromyography di indikasikan pada kasus radikulopathy, seperti thoracic outlet syndrome atau myopathies neuropathic.

Autoantibodi harus di screening saat arthritis inflamasi dicurigakan, dikarenakan penyebab rheumatology membutuhkan penanganan yang dibutuhkan.

Tabel 11.1 memperlihatkan penyebab dari nyeri leher; dimana semua membutuhkan penatalaksanaan yang khusus dan berbeda.

Spesific syndrome Ada beberapa penyakit tertentu yang mudah di diagnosa dan mempunyai sifat yang tersendiri dan cara tatalaksananya. Penyakit – penyakit ini menjadikan contoh nyeri yang bagus bagi klinisi untuk menilai dan membuat strategi penatalaksanaan.

BAB II ANATOMI

Cervical spine terdiri atas 7 vertebra dan 8 saraf servikal. Fungsi utama leher adalah menghubungkan kepala dengan tubuh. Stabilitas kepala tergantung pada 7 buah vertebra servikal. Hubungan antara vertebra servikal melalui suatu susunan persendian yang cukup rumit. Gerakan leher dimungkinkan karena adanya berbagai pensendian, facet joint yang ada di posterior memegang peranan penting.Sepertiga gerakan fleksi dan ekstensi dan setengah dari gerakan laterofleksi terjadi pada sendi atlantooccipitalis (dasar tengkorak dengan VC1).Sendi atlantoaxialis (VC1-VC2) memegang peranan pada 50% gerakan rotational. VC2 hingga VC7 memegang peranan pada dua per tiga gerakan fleksi dan ekstensi, 50% gerakan rotasi dan 50% gerakan laterofleksi. Delapan saraf servikal berasal dari medulla spinalis segmen servikal, 7 saraf servikal keluar dari medula spinalis di atas vertebra yang bersangkutan, namun saraf servikal ke 8 keluar dari medulla spinalis di bawah VC7 dan di atas VTh1 serta costa pertama. Saraf-saraf ini memberikan layanan saraf sensorik pada tubuh bagian atas dan ekstremitas superior berdasarkan pola dermatom. Sedangkan layanan motoris dan refleks dapat dilihat pada table di bawah ini Tabel 1. Layanan innervasi motorik dan refleks dari akar saraf servikal

Saraf VC 3-5 VC5 VC6 VC 5-6 VC7 VC 6-7 VC8 VTh1

Innervasi motorik Diafragma otot deltoid, biceps ekstensor wrist, ekstensor thumb abduktor dan

Refleks

biceps, brachioradialis triceps, fleksor wrist, ekstensor jari Tricpes fleksor jari otot-otot intrinsik tangan

Cervical spine dalam kehidupan sehari-hari bekerja sangat berat, tidak terhitung jumlah gerakan yang harus dilakukan dalam proses menunjang fungsi kepala. Fungsi kepala antara lain berbicara, melihat, membau, mendengar, makan / minum dan menahan keseimbangan sewaktu tubuh bergerak. Setiap gerakan dari bagian tubuh tertentu harus diimbangi gerakan servikal, maka tidak mengherankan nyeri servikal sering timbul.

BAB III Nyeri Leher

Definisi Nyeri leher adalah suatu sindrom atau keadaan yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi pada radiks saraf servikal. Sindrom ini ditandai dengan adanya rasa nyeri pada leher (tengkuk) yang dijalarkan ke bahu dan lengan sesuai radiks yang terkena. Rasa nyeri yang dijalarkan disebut nyeri radikuler (rasa nyeri berpangkal pada tempat perangsangan dan menjalar ke daerah persarafan radiks yang terkena,sesuai dengan kawasan dermatom). Etiologi Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya nyeri pada leher. Diantaranya ialah: 1. Degeneratif Merupakan salah satu kondisi yang sangat sering mengenai leher pada orang setelah umur pertengahan dan menimbulkan rasa nyeri, dikenal juga sebagai CERVICAL SPONDYLOSIS. Termasuk di antaranya adalah OA pada facet joint, degenerasi discus intervertenralis. Keluhan yang sangat sering diungkapkan pada kondisi ini adalah kaku kuduk (neck stiffness) atau rasa nyeri, yang timbul akibat kapsul sendi yang mengandung serabut saraf sangat sensitif terhadap peregangan atau distorsi, selain itu ligamentum dan tendon di leher sensitif juga terhadap regangan dan torsi oleh gerakan yang keras atau overuse leher atau bagian atas punggung, juga osteofit dapat menekan akar saraf atau medulla spinalis.

2. Traumatic Merupakan suatu trauma mekanik yang bisa disebabkan oleh kecelakaan lalu lintaa, terjatuh dari ketinggian ataupun terkena pukul di bagian leher. Semua ini bisa menyebabkan terjadinya cidera pada struktur pada leher

3. Inflamasi Inflamasi ini bisa terjadi pada persendian antar tulang vertebrae yang bisa menyebabkan terjadinya kekuan pada leher. Kelainan ini biasa terjadi lebih banyak pada laki – laki

4. Terjepitnya syaraf Terjepitnya syaraf ini bisa menyebabkan nyeri maupun hilangnya fungsi motorik maupun sensorik. Kelainan ini bisa terjadi dari terjepitnya medulla spinalis, radix maupun syaraf perifer, dimana masing – masing memberikan gambaran gejala yang berbeda.

5. Ketegangan – ketegangan otot Jika otot-otot leher digunakan secara berlebihan, itu mungkin berkontribusi pada ketegangan otot. Otot-otot di belakang leher adalah terutama peka dan dapat ditegangkan oleh aktivitasaktivitas harian seperti berjam-jam mengemudi atau membaca di ranjang

6. Otot

Pathogenesis Traumatic ‘Whiplash’ Strain servikal berhubungan dengan cedera fleksi dan ekstensi cepat.Walaupun medulla spinalis bisa juga cidera, tetapi jaringan lunak yang lebih berat terkena. Sekarang ada perubahan dalam pendapat tentang asal mula dari nyeri kronis yang biasanya sering timbul akibat dari suatu pengertian tentang biomechanic di kolumna vertebra servikalis. Dan juga, diskus servical telah di pahami hampir mirip seperti diskus lumbalis, tetapi secara anatomis menunjukan berbeda bahwa pada vertebrae servikal tidak mempunyai annulus fibrosus yang sirkuler melainkan berbentuk bulan sabit yang mengecil keluar dari depan ke bagian tipis serat paramedian yang berorientsi secara vertical.

Setelah terjadinya cedera dan dimulai dari kepala bisa menyebabkan terjadinya cidera ocular dengan dislokasi pada lensa dan terlepasnya retina, dan trauma pada sendi temporomandibular lebih tepatnay pada bagian meniscus. Pada bagian leher, diskus dapat rusak oleh pemisahan dari bagian anterior sementara sendi zygapophyseal bisa terimpaksi, menyebabkan terjadinya deformitas berbentuk ‘S’ yang memengaruhi bagian atas dan bawah vertebra dengan tidak memengaruhi bagian tengahnya. Selain dari diskus, otot pendukung, tendon dan ligamentum dari leher lebih gampang terciderai, yang mungkin bisa berhubungan dengan lukanya radiks secara langsung atau melalui meningkatnya tekanan oleh spasme otot. Penyebab utama adalah kecelakaan lalu lintas, terjatuh, cedera olah raga berkecepatan tinggi dan tersetrum, semakin tua pasien semakin rentan untuk cidera

Awalnya, pasien merasa nyeri dan kaku pada daerah bahu, serak dan susah menelan, sakit kepala dan beberapa gejala nyeri complex regional lainnya. Tidak adanya gejala deficit neurologis menandakan bahwa tidak adanya cidera pada medulla spinalis. Tetapi, jika memang pasien tidak ada gejala dan taanda deficit neurologis, pasien harus tetap di follow up beberapa hari setelah kejadian. Otot dan ligamentum sembuh dalam 4 – 6 minggu tergantung dari umur dan status nutrisi pasien, tetapi dimana diskus intervertebralis yang bersifat avaskuler akan sembuh lebih lambat lagi. Jika adanya kecurigaan cidera servikal maka foto polos x – ray posisi lateral harus di lakukan pada seluruh kolumna servikal.

Pengobatan Jika memang tidak ada cidera pada medulla spinalis, fisioterapi bisa dilakukan, termasuk traksi servikal dan ‘stretch and spray’. Penyuntikan kering pada daerah muskulus sternocleidomastoideus merupakan pengobatan awal yang paling baik dengan mengadministrasi non – steroidal anti – inflammatory drugs (NSAIDs) Cervical collar membuktikan tidak ada bagusnya dan mungkin bisa melabel pasien sebagai korban gangguan kognitif. Jika cidera melibatkan scalene, levator scapulae, sternocleidomastoid dan otot – otot servikal bagian posterior bersama dengan otot – otot yang ada di bagian bawah punggung dan pemeriksaan lengkap glutei harus dibuat. Semua ini harus di tatalaksana dengan cepat dan jika ditelantarkan atau diabaikan, akan menyebabkan masalah eksaserbasi di leher dan bahu menjadi kronik. Jika cidera ini tidak di tanggulangi dalam 4 – 6 minggu dan sendi – sendi zygapophyseal berlanjut menjadi nyeri utama yang bermakna, blok pada cabang posterior di tingkat yang terkena harus di lakukan. sebuah nasihat mengatakan melakukan hal ini pada kesempatan terpisah menggunakan anestesi lokal dengan jangka waktu tindakan yang berbeda, membandingkan tindakan ini dengan respon placebo menggunakan normal salin. Jika nyeri ini bertambah hebat secara significant maka persendian ini harus di denervasi menggunakan lesi radiofrekuensi – penyuntikan intra – artikuler menggunakan steroid menunjukan tidak begitu efektif lagi daripada menggunakan anestesi lokal. ……………………………………………………………………….

Degeneratif

Spondilosis cervical Perubahan lebih sering terjadi pada bagian bawah dari servikal dan diawali dengan pembentukan osteophyte pada korpus vertebra. Facet joint secara perlahan juga akan terkena. Degenerasi pada diskus intervertebralis menyebabkan berkurangnya tingginya diskus. Berlanjutnya kelainan ini akan menyebabkan terjadinya radikulopathy. Terkadang bisa melibatkan nervus simpatis yang menyebabkan terjadinya disfagia, vertigo dan gangguan visual. Ini juga bisa disebabkan oleh insufisiensi vertebrobasiler. Gejala – gejalanya ialah: Nyeri yang awalnya difus, lebih terlokalisir jika ada radix yang terlibat, yang akan menjalar ke muka maupun ke dada bagian depan. Adanya ketidaknyamanan dan pembatasan pergerakan leher Kekakuan leher Penjepitan radiks multiple yang menyebabkan hilangnya fungsi sensorik di bagian tangan dan forearms, muka, lidah dan bahu. Kompresi pada medulla spinalis menyebabkan myelopathy Jika syaraf simpatis terlibat – dysphagia, vertigo dan gangguan visual Vascular – insufisiensi vertebrobasiler dikarenakan oleh kompresi atau atheroma Nyeri kepala – daerah oksipital lebih sering terkena.

Pada pemeriksaan, bia didapati adanya kekakuan pada bagian bawah servikal dan spasme. Nyeri hebat bisa di temukan jika ada terlibatnya facet joint atau adanya penyakit myofascial. Adanya pembatasan gerakan aktif maupun pasif. Investigasi akan ditentukan dengan gejala – gejala klinis. Foto radiografi dengan posisi lateral servikal dan juga posisi dengan mulut terbuka akan membantu masalah. Dari gambar foto ini bisa dilihat bagaimana densitas subchondral bone, apakah ada osteophyte dan formasi pseudokista dan penyempitan pada rongga persendian. Gejala radikulopathy atau myelopathy mengindikasikan bahwa MRI harus di lakukan dikarenakan adanya kebutuhan untuk melakukan operasi korektif pada kasus instabilitas atau terjepitnya radix karena stenosis kanalis atau terjaidnya prolaps pada diskus intervertebralis.

Penatalaksanaan. Penatalaksanaan tergantung sejauh mana pasien ini terpegaruh oleh kelainan ini. Dikarenakan kelainan ini bersifat episodic dan progressif, klinisi harus memikirkan tindakan yang bersifat long – term. Awalnya, fisioterapi dibutuhkan untuk memperkuat kembali otot – otot leher yang lemah dan meningkatkan mobilisasi. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa terapi manipulative hanya dibutuhkan secara short – term dari beberapa kasus setelah dijalani terapi fisik. Oleh karena itu, perubahan lifestyle sangat dibutuhkan sekali supaya bisa hidup dengan rasa sakit yang dialaminya.

-

-

NSAID digunakan untuk mengobati inflamasi awal – obat ini tidak boleh digunakan secara jangka lama dikarenakan pasien kebanyakan adalah orang tua dan mungkin akan bisa menyebabkan terjadinya nefropati dan perdarahan lambung. Injeksi epidural servikal dengan 40 mg triamcinolonr dengan 20 mg lignocaine yang di encerkan dalam normal salin dalam total volume 6 ml terkadang bagus. Penyunt

Diagnosis Saat menilai keluhan pasien tentan nyeri leher, selalu harus ingaty: Struktur anatomis yang terlibat, contohnya. Tulang, otot, syaraf, pembuluh darah, ligamentum, kapsul persendian dan diskus. Proses patologis, contohnya. Trauma, degenerative, infeksi, inflamasi, neoplasma dan metabolic Asal mula nyeri, contohnya: jika disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, pastikan kecepaan dan posisi dari tabrakan; jika karena okupasi, bagian tubuh mana yang sering di butuhkan; jika karena metabolic, apakah kondisi seperti osteoporosis atau osteomalacia membutuhkan penatalaksanaan yang dibutuhkan. Pengaruh psikologis, terutama jika ligitasi dalam progress

-

Anamnesis Seperti semua dengan rasa nyeri, durasi dan lama timbulnya, terutama sehabis kejadian, bersama dengan sifat dan perioditas menggambarkan proses patologiknya.Lokasi dan penjalaran bersama dengan faktor yang memperberat maupun memperingan (contohnya, pengaruh dari gerakan dan posisi tertentu) menggambarkan struktur anatomi yang terlibat.Riwayat penyakit dahulu (contohnya, post – menopause, penyakit ginjal, penyakit endokrin) menggambarkan kaitan dengan penyakit yang lain. Bahasa tubuh dari pasien dan cara menyampaikan keluhannya menggambarkan efek psikologisnya, dan keikutsertaan Pemeriksaan fisik Berdirikan tegap si pasien dengan membuka baju. Kemudian lihat terutama pada: Postur – apakah ada lekukan kolumna vertebra yang abnormal, thoracic kyphosis, hilangnya cervical lordosis, hilangnya lumbal lordosis, skoliosis, posisi bahu dan posisi kepala.

-

-

Kulit dan rambut – adanya perubahan pigmentasi dan distribusi, keringat, pertumbuhan rambut yang abnormal dan adanya perubahan pada aliran darah dimna saja dari kepala ke jari. Otot – wasting, spastisitas, trigger points, adanya panjang maupun pendek yang berlebiham dan adanya perubahan pada range of motion yang di dapati. Kuku – perubahan tropis, plinter haemorrhages, noda nicotine, kotoran maupun adanya nail biting. Sendi – lihat facet joint cervical dimana kompresi menyebabkan nyeri pada tempat tersebut, lihat pergerakan pada bahu dan lengan pada semua arah. Syaraf – lihat apakah ada ketegangan pada ekstremitas atas, suruh pasien untuk melakukan maneuver Valsava, dimana dengan meningkatkan tekanan intratekal menggambarkan protrusi diskus servikalsi, perlekatan pada radiks, lateral canal stenosis; positif pada tanda Adson’s mengindikasikan thoracic outlet syndrome.

Pemeriksaan Khusus untuk tes-tes khusus yang harus dilakukan sebenarnya banyak, misalnya : 1. Tes Provokasi Tes Spurling atau tes Kompresi Foraminal, dilakukan dengan cara posisi leher diekstensikan dan kepala dirotasikan ke salah satu sisi, kemudian berikan tekanan ke bawah pada puncak kepala. Hasil positif bila terdapat nyeri radikuler ke arah ekstremitas ipsilateral sesuai arah rotasi kepala. Pemeriksaan ini sangat spesifik namun tidak sensitif guna mendeteksi adanya radikulopati servikal. Pada pasien yang datang ketika dalam keadaan nyeri, dapat dilakukan distraksi servikal secara manual dengan cara pasien dalam posisi supinasi kemudian dilakukan distraksi leher secara perlahan. Hasil dinyatakan positif apabila nyeri servikal berkurang.

tes provokasi 2. Tes Distraksi Kepala Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan oleh kompresi terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat diperlihatkan bila kecurigaan iritasi radiks syaraf lebih memberikan gejala dengan tes kompresi kepala walaupun penyebab lain belum dapat disingkirkan.

Tes Distraksi Kepala 3. Tindakan Valsava

Dengan tes ini tekanan intratekal dinaikkan, bila terdapat proses desak ruang di kanalis vertebralis bagian cervical, maka dengan di naikkannya tekanan intratekal akan membangkitkan nyeri radikuler. Nyeri syaraf ini sesuai dengan tingkat proses patologis dikanalis vertebralis bagian cervical. Cara meningkatkan tekanan intratekal menurut Valsava ini adalah pasien disuruh mengejan sewaktu ia menahan nafasnya. Hasil positif bila timbul nyeri radikuler yang berpangkal di leher menjalar ke lengan.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan X foto cervical merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan pada pasien dengan riwayat nyeri atau trauma di leher.3 Pemeriksaan radiologi pada cedera leher meliputi:  X foto servikal 3 posisi : AP, lat dan odontoid (open mouth view) Tes diagnositk pertama yang sering dilakukan pada pasien dengan keluhan nyeri leher. Foto polos servikal sangat penting untuk mendeteksi adanya fraktus dan subluksasi pada pasien dengan trauma leher. Namun sebagai alat skrining awal pada kasus nyeri servikal non traumatic masih controversial. Beberapa studi menunjukan bahwa: kelainan servikal seperti spondilosis seringkali ditemukan pada pasien tanpa keluhan maupun usia tua. Data menunjukan bahwa 70% wanita dan 95% pria tanpa keluhan, antara usia 60 -65 tahun terdapat perubahan degenerative pada foto polos servikal.  CT Scan dari basis cranii sampai torakal atas (T1-2), potongan axial 1 mm Pemeriksaan ini dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang servikal dan sangat membantu bila ada fraktur akut. Akurasi pemeriksaan CT scan berkisar antara 72 – 91% dalam mendeteksi adanya herniasi diskus. Akurasi dapat mencapai 96% bila mengkombinasikan CT scan dengan myelograph.

MRI untuk mengevaluasi medulla spinalis. Pemeriksaan ini sudah menjadi metode imajing pilihan untuk daerah servikal. MRI dapat mendeteksi kelainan ligament maupun diskus.Seluruh daerah medulla spinalis, radiks saraf dan tulang vertebra dapat divisualisasikan. Namun pada salah satu penelitian didapatkan adanya abnormalitas berupa herniasi diskus pada sekitar 10% subjek tanpa keluhan, sehingga hasil pemeriksaan ini tetap harus dihubungkan dengan riwayat perjalanan penyakit, keluhan maupun pemeriksaan klinis.

PENGOBATAN

A. OBAT Obat penghilang nyeri atau relaksan otot dapat diberikan pada fase akut. Obat-obatan ini biasanya diberikan selama 7-10 hari. Jenis obat-obatan yang banyak digunakan biasanya dari golongan salisilat atau NSAID. Bila keadaan nyeri dirasakan begitu berat, kadang-kadang diperlukan juga analgetik golongan narkotik seperti codein, meperidin, bahkan bisa juga diberikan morfin. Ansiolitik dapat diberikan pada mereka yang mengalami ketegangan mental. Pada kondisi tertentu seperti nyeri yang diakibatkan oleh tarikan, tindakan latihan ringan yang diberikan lebih awal dapat mempercepat proses perbaikan. Kepala sebaiknya diletakan pada bantal servikal sedemikian rupa yaitu sedikit dalam posisi flexi sehingga pasien merasa nyaman dan tidak mengakibatkan gerakan kearah lateral. Istirahat diperlukan pada fase akut nyeri,terutama pada spondilosis servikalis atau kelompok nyeri non spesifik. Obat-obatan yang banyak digunakan adalah:
     

Ibuprofen 400 mg, tiap 4-6 jam (PO) Naproksen 200-500 mg, tiap 12 jam (PO) Fenoprofen 200 mg, tiap 4-6 jam (PO) Indometacin 25-50 mg, tiap 8 jam (PO) Kodein 30-60 mg, tiap jam (PO/Parentral) Vit. B1, B6, B12

B. FISIOTERAPI Tujuan utama penatalaksanaan adalah reduksi dan resolusi nyeri, perbaikan atau resolusi defisit neurologis dan mencegah komplikasi atau keterlibatan medulla spinalis lebih lanjut. 1. Traksi Tindakan ini dilakukan apabila dengan istirahat keluhan nyeri tidak berkurang atau pada pasien dengan gejala yang berat dan mencerminkan adanya kompresi radiks saraf. Traksi dapat dilakukan secara terus-menerus atau intermiten.

Traksi 2. Cervical Collar Pemakaian cervical collar lebih ditujukan untuk proses imobilisasi serta mengurangi kompresi pada radiks saraf, walaupun belum terdapat satu jenis collar yang benar-benar mencegah mobilisasi leher. Salah satu jenis collar yang banyak digunakan adalah SOMI Brace (Sternal Occipital Mandibular Immobilizer). Collar digunakan selama 1 minggu secara terus-menerus siang dan malam dan diubah secara intermiten pada minggu II atau bila mengendarai kendaraan. Harus diingat bahwa tujuan imobilisasi ini bersifat sementara dan harus dihindari akibatnya yaitu diantaranya berupa atrofi otot serta kontraktur. Jangka waktu 1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi nyeri pada nyeri servikal non spesifik. Apabila disertai dengan iritasi radiks saraf, adakalanya diperlukan

waktu 2-3 bulan. Hilangnya nyeri, hilangnya tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan indikasi pelepasan collar.

Cervical Collar 3. Thermoterapi Thermoterapi dapat juga digunakan untuk membantu menghilangkan nyeri. Modalitas terapi ini dapat digunakan sebelum atau pada saat traksi servikal untuk relaksasi otot. Kompres dingin dapat diberikan sebanyak 1-4 kali sehari selama 15-30 menit, atau kompres panas/pemanasan selama 30 menit 2-3 kali sehari jika dengan kompres dingin tidak dicapai hasil yang memuaskan. Pilihan antara modalitas panas atau dingin sangatlah pragmatik tergantung persepsi pasien terhadap pengurangan nyeri.

Thermoterapi 4. Latihan Berbagai modalitas dapat diberikan pada penanganan nyeri leher. Latihan bisa dimulai pada akhir minggu I. Latihan mobilisasi leher kearah anterior, latihan mengangkat bahu atau penguatan otot banyak membantu proses penyembuhan nyeri. Hindari gerakan ekstensi maupun flexi. Pengurangan nyeri dapat diakibatkan oleh spasme otot dapat ditanggulangi dengan melakukan pijatan. C. OPERASI Tindakan operatif lebih banyak ditujukan pada keadaan yang disebabkan kompresi terhadap radiks saraf atau pada penyakit medula spinalis yang berkembang lambat serta melibatkan tungkai dan lengan. Pada penanggulangan kompresi tentunya harus dibuktikan dengan adanya keterlibatan neurologis serta tidak memberikan respon dengan terapi medikamentosa biasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful