BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Empowerment atau pemberdayaan adalah salah satu strategi atau merupakan paradigma pembangunan yang dilaksanakan dalam kegiatan pembangunan

masyarakat, khususnya pada negara-negara yang sedang berkembang. Pemberdayaan ini muncul dikarenakan adanya kegagalan-kegagalan yang dialami dalam proses dan pelaksanaan pembangunan yang cenderung sentralistis seperti community

development atau pengembangan komunitas. Model ini tidak memberi kesempatan langsung kepada rakyat untuk terlibat dalam proses pembangunan, terutama dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut pemilihan pejabat, perencanan, pelaksanaan dan evaluasi program pembangunan. Friedmann (1992) menawarkan konsep atau strategi pembangunan yang populer disebut dengan empowerment atau pemberdayaan. Konsep pemberdayaan ini adalah sebagai suatu konsep alternatif pembangunan yang pada intinya memberikan tekanan pada otonomi dalam mengambil keputusan di suatu kelompok masyarakat yang dilandaskan pada sumberdaya pribadi, bersifat langsung, demokratis dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung. Fokus utama pemberdayaan, menurut Friedmann, adalah sumberdaya lokal, namun bukan berarti mengabaikan unsur-unsur lain yang berada di luar kelompok masyarakat, bukan hanya ekonomi akan tetapi juga politik, agar masyarakat memiliki posisi tawar menawar yang seimbang, baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional. Konsep

pemberdayaan mencerminkan paradigma baru pembangunan, yang memiliki karakteristik dengan berfokus pada rakyat (people-centered), partisipatif

(participatory), memberdayakan (empowering), dan berkesinambungan (sustainable) (Chambers, 1995). Karena itu konsep ini merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang di dalamnya mencakup nilai-nilai sosial. Menurut Kartasasmita (1996) dasar pandangannya adalah bahwa upaya yang dilakukan harus diarahkan langsung

1

1. melukiskan konsep pemberdayaan itu sebagai suatu konsep yang tidak mempertentangkan antara pertumbuhan dengan pemerataan.Jadi. dan pada kelompok yang tertinggal dan berada di sektor tradisional.pada akar persoalannya. Strategi pembangunan untuk kedua sektor tersebut tidak dapat disamakan begitu saja. Pada aspek dan sisi yang tertinggal dalam masyarakat harus ditingkatkan nilainya dengan mengembangkan dan mendinamisasikan potensinya. tetapi juga sekaligus akan meningkatkan kemampuan ekonomi nasional. Karena konsep pemberdayaan tidak mempertentangkan antara pertumbuhan dan pemerataan. intinya adalah bagaimana upaya untuk membantu rakyat agar lebih berdaya. kedua konsep tersebut tidak harus diasumsikan sebagai “tidak cocok atau berlawanan (incompatible or antithetical)”. Pemberdayaan adalah perspektif yang lebih luas dari hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net). dengan mengutip pendapat beberapa ahli. Konsep pemberdayaan bertitik tolak dari pandangan bahwa melalui pemerataan akan tercipta landasan yang lebih luas untuk pertumbuhan dan sekaligus akan menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan. tujuan dan pendekatan pemberdayaan masyarakat serta metodologi evaluatif dalam pemberdayaan masyarakat. maka dalam strategi pembangunan harus ditujukan pada dua arah.2 TUJUAN PENULISAN Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengertian pemberdayaan masyarakat. Kartasasmita (1996). tetapi memadukan antara keduanya. yaitu meningkatkan kemampuan rakyat. atau dengan kata lain memberdayakannya. yakni pada lapisan masyarakat maju dan berada pada sektor modern. karena sebagaimana dikatakan oleh Brown (1995). 2 . proses pemberdayaan masyarakat. unsure-unsur pemberdayaan masyarakat. sehingga tidak hanya dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.

pemberdayaan sering disamakan dengan perolehan daya. Namun demikian. bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan. memberi ”power” (kuasa). suatu pembebasan kemampuan pribadi. kemampuan dan akses terhadap sumber daya untuk memenuhi kebutuhannya. memutuskan dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki 3 . kompetensi. termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Sedangkan Ife (1995) mengemukakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kata “empowerment..  Payne (1997) menjelaskan bahwa pemberdayaan pada hakekatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan daya. kekuatan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan diri klien tersebut. kepada pihak yang kurang berdaya.BAB II PEMBAHASAN 2. kekuatan. kreatifitas dan kebebasan bertindak. Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya. ketrampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal. Oleh karena itu.  Robinson (1994) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial. agar dapat memahami secara mendalam tentang pengertian pemberdayaan maka perlu mengkaji beberapa pendapat para ilmuwan yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat.  Subejo dan Supriyanto (2004) memaknai pemberdayaan masyarakat sebagai upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan. artinya belum ada definisi yang tegas mengenai konsep tersebut.1 PENGERTIAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Para ilmuwan sosial dalam memberikan pengertian pemberdayaan mempunyai rumusan yang berbeda-beda dalam berbagai konteks dan bidang kajian.” yang berarti memberi daya. bila dilihat secara lebih luas.

sosial ataupun politik. terutama disektor industri. Dalam pengertian yang lebih luas. ekologi. sekali mereka merasa “terperdaya” maka kali itu pula mereka menggunakan “daya” mereka sendiri yang khas. Sebaliknya. dan tingkat ketidakberdaya-an mereka (secara politis) paling tidak untuk diobjetifikasi bagi kepentingan politik. lebih terutama lagi di sub-sektor pekerja tingkat bawah. Alasan yang mendasari keinginan tersebut adalah sederhana sekali. 4 . Pemberdayaan adalah paeningkatan pelayanan yang lebih manusiawi kepada mereka. karena mereka memang bukan politisi. atau oleh pengusaha.2 UNSUR-UNSUR PEMBERDAYAAN MASYARAKAT  Kemauan Politik Salah satu upaya yang patut dilakukan untuk menjembatani masalah perburuhan adalah dengan pemberdayaan sumber daya manusianya.melalui collective action dan networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi. dalam segi hak-hak riil vokasional. pemberdayaan masyarakat merupakan proses untuk memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menempatkan diri secara proporsional dan menjadi pelaku utama dalam memanfaatkan lingkungan strategisnya untuk mencapai suatu keberlanjutan dalam jangka panjang. Sub-sektor ini adalah lapisan yang paling rawan untuk dijadikan “kartu politik”. yaitu bahwa mereka memang kelompok yang tak berdaya. atau (sebenarnya) oleh siapapun. Mereka sebenarnya tak peduli kelompok kepentingan atau kelompok politik yang mana yang bakal memberdayakan mereka. 2. maka mustahil bagi mereka untuk berbuat lain kecuali mengerjakan tanggung jawab profesinya. Sepanjang mereka masih diberdayakan oleh pemerintah. Tetapi mereka ingin memberdayakan baik secara hukum. ekonomi. dan sosial”. yaitu amuk. mengingat tingkat pendidikan mereka.

maka 5 .  Peluang Melalui perwujudan good governance. Keberayaan masyarakat warga madani dicirikan dengan timbulnya kesadaran bahwa. dalam hal ino diartikan sebagai “masyarakt madani” yang perlu ditingklatkan dan dikembangkan dan dicirikan dengan timbulnya secara berkelanjutan. Untuk itu perlu dikembangkan suatu kondisi yang kondusif antara instansi tersebut sebagai reperesentasi berbagai kekuatan politik. dimana dalam salah satu karakteristiknya adalah mendorong partisipasi dan kemitraan dengan masyarakat. masyarakat yang merupakan fokus kegiatan pemberdayaan. Rasa keingin tahuan yang cukup besar dalam diri masyarakat dengan sendirinya akan meanjadi motivasi bagi diri masyarakat untuk bisa lebih maju dan lebih berkembang an mampu menghadapi segala tantangan yang dikemudian lain.  Motivasi Suatu pemberdayaan masyarakat akan terwujud apabila masyarakat memiliki kemauan untuk merubah semua dan lebih maju. mereka paham akan haknya atas lingkungan hidup uang baik dan sehat serta sanggup menjalankan kewajiban dan tanggung jawab untuk tercapainya kualitas lingkungan hidup yang dituntutnya. Penciptaan suasana Penciptaan suasana yang mengacu pada mewujudkan warga madani yang dimana merupakan suatu upaya yang harus dilakukan oleh secara terus menerus kepada seluruh pihak-pihak yang terkait. dan pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik dalam perwujudan lingkungan yang baik dan sehat.  Potensi Masyarakat Potensi masyarakat tersebut yang dimaksud dalam pemberdayaan masyarakat adalah.

Melindungi harus dilihat sebagai upyah untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin tergantung pada berbagai program pemberian. dalam proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi bertambah yang lemah oleh karena. Peran masyarakat madani harus dipandang sebagai hal yang dinamis dan memberikan suatu peluang bagi pemerintah yang bermaksud membangun kredibilitas negara (goo governance) melalui potensinya dalam membangun koalisi dan aksi kolektif. perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan mastarakat. Karena pada dasarnya setiap upa yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri (yang hasilnya dapat dikeluarkan dengan pihak lain). Melindungi tidak berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi.  Mengalihkan Wewenag Untuk mencapai tujuan pemberdayaan masyarakat yang sebenarnya suatu birokrasi harus mampu dan rela mengalihkan wewenangnya pada masyarakat apabila merasa sudah tidak mampu bekerja sebagai mana yang diamanatkan oleh masyarakat supaya masyarakat mampu dan bisa melaksanakan keinginannya sesuai dengan apa yang telah ia amanatkan kepada birokrasi itu sendiri. Oleh karena itu.  Perlindungan Pemberdayaan masyarakat mengandung pula arti perlindungan.pembangunan harus melibatkan masyarakat. tidak akan ada strategi yang mampu bertahan lama. Dengan demikian tujuan akhirnya adalah memandirikan masyarakat. Tanpa partisipasi masyarakat. Karena hal itu justru akan mengerdilkan yang kecil dan melunglaikan yang lemah. memampukan dan membangun 6 . kekurangan berdayaan dalam menghadapi yang kuat.

Kecenderungan pertama tersebut dapat disebut sebagai kecenderungan primer dari makna pemberdayaan.mampu merencanakan (mengantisipasi kondisi perubahan ke depan) 2. Mampu memahami diri dan potensinya.3 PROSES PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Pranarka & Vidhyandika (1996) menjelaskan bahwa ”proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. kekuasaan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu lebih berdaya. Memiliki kekuatan untuk berunding 4. 2. Sumardjo (1999) menyebutkan ciri-ciri warga masyarakat berdaya yaitu: 1. Emiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.kemampuan untuk mewujudkn diri kearah kehidupan yang lebih baik secara sinambung.  Kesadaran Untuk mencapai masyarakat yang berdaya.masyarakat harus menyadari dan memahami apa yang ingin dan harus ia lakukan demi untuk bisa mengembangkan dirinya dan kemampuannya serta kreativitasnya dalam membuat dan menghasilkan sesuatu yang berguna bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk masyarakat banyak. Bertanggungjawab atas tindakannya. dan 5. proses pemberdayaan yang mene-kankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuatan. Sedangkan kecenderungan kedua atau kecenderungansekunder menekankan pada proses menstimulasi. Mampu mengarahkan dirinya sendiri 3. 7 . Pertama. mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apayang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog”.

mengerti. kerjasama. mampu mengambil keputusan. 8 . Proses pemberdayaan yang melahirkan masyarakat yang memiliki sifat seperti yang diharapkan harus dilakukan secara berkesinambungan dengan mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara bertanggungjawab. Puncak dari kegiatan proses pemberdayaan masyarakat ini adalah ketika pemberdayaan ini semuanya datang dari keinginan masyarakat sendiri (fase emansipatoris). memanfaatkan peluang. berenergi. kelembagaan.4 TUJUAN DAN PENDEKATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jamasy (2004) mengemukakan bahwa konsekuensi dan tanggungjawab utama dalam program pembangunan melalui pendekatan pe mberdayaan adalah masyarakat berdaya atau memiliki daya. faham termotivasi. (b) Fase Partisipatoris adalah bahwa proses pemberdayaan berasal dari pemerintah bersama masyarakat. kekuatan atau kemampuan. dan masyarakat hanya melaksanakan apa yang direncanakan dan diinginkan oleh pemerintah dan tetap tergantung pada pemerintah. oleh pemerintah dan masyarakat. berani mengambil resiko. mampu bekerjasama. dan diperuntukkan bagi rakyat. tahu berbagai alternative. mampu mencari dan menangkap informasi dan mampu bertindak sesuai dengansituasi. Proses pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan secara bertahap melalui tiga fase (Pranaka dan Prijono. (c) Fase Emansipatoris adalah bahwa proses pemberdayaan berasal dari rakyat dan untuk rakyat dengan didukung oleh pemerintah bersama masyarakat.Slamet (2003) menjelaskan lebih rinci bahwa yang dimaksud dengan masyarakat berdaya adalah masyarakat yang tahu. 2. Kekuatan yang dimaksud dapat dilihat dari aspek fisik dan material. 1996) yaitu: (a) Fase Inisiasi adalah bahwa semua proses pemberdayaan berasal dari pemerintah.berkesempatan. Pada fase ini masyarakat sudah dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembangunan untuk menuju kemandirian. Pada fase emansipatori ini masyarakat sudah dapat menemukan kekuatan dirinya sehingga dapat dilakukan dalam mengaktualisasikan dirinya. ekonomi.

Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. pendekatan ini mengarah pada pendekatan manusia dan bukan untuk memberdaya masyarakat dalam menghadapi proses politik dan pemiskinan rakyat. tetapi pranata hidup yang ada dalam masyarakat perlu dan harus diberdayakan. pendekatan yang melihat bahwa kemiskinan sebagai akibat dari proses politik dan berusaha untuk memberdayakan atau melatih rakyat untuk mengatasi ketidakberdayaan masyarakat. Melalui strategi pemberdayaan ini. partisipasi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan akan semakin meningkat. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. b. Pemberdayaan tidak hanya meliputi penguatan individu anggota masyarakat.kekuatan intelektual dan komitmen bersama dalam menerapkan prinsip-prinsip pemberdayaan. Strategi pemberdayaan dalam pembangunan masyarakat merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan dan memandirikan. The Welfare Approach. pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan proyek pembangunan untuk meningkatkan kemampuan. menyatakan bahwa strategi pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu: a. The Development Approach. c. serta menswadayakan masyarakat sesuai dengan potensi dan budaya lokal yang dimilikinya secara utuh dan konprehensif agar harkat dan mertabat lapisan masyarakat yang kondisinya tidak mampu dapat melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan. Sulistiyani (2004) menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan masyarakat adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Elliot (1987). The Empowerment Approach. memutuskan sertamelakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki. 9 . Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir. Terkait dengan tujuan pemberdayaan. kemandirian dan keswadayaan masyarakat.

menggalang dan memobilisasi sumberdaya yang dapat dikuasai agar dapat meningkatkan posisi tawar (bargaining position) dari kelompok masyarakat tersebut. Dalam jangka panjang diharapkan dengan pendekatan advokasi masyarakat mampu secara sadar terlibat dalam setiap tahapan dari proses pembangunan. perlu dilakukan suatu penelitian.5 METODOLOGI MASYARAKAT EVALUATIF DALAM PEMBERDAYAAN Untuk melaksanakan evaluasi apakah proyek yang telah dilaksanakan selama jangka waktu tertentu telah sungguh mendatangkan perbaikan yang sesuai dengan harapan warga masyarakat. Pendekatan advokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pada hakekatnya masyarakat terdiri dari kelompokkelompok yang masing-masing mempunyai kepentingan dan sistem nilai sendirisendiri. pelaporan. di mana penasehat hukum berhubungan langsung dengan klien. di mana kekuasaan tidak terdistribusi secara merata dan akses keberbagai sumberdaya tidak sama. 1965). (1) Metode Rapid Rural Appraisal (RRA) 10 . Seringkali pendekatan advokasi diartikan pula sebagai salah satu bentuk “penyadaran” secara langsung kepada masyarakat tentang hak dan kewajibannya dalam proses pembangunan. pendekatan advokasi menekankan pada proses pendampingan kepada kelompok masyarakat dan membantu mereka untuk membuka akses kepada pelaku-pelaku pembangunan lainnya. dan evaluasi. baik dalam kegiatan perencanaan. Masyarakat pada dasarnya bersifat majemuk. dan participatory rural appraisal (PRA). 2. membantu mereka mengorganisasikan diri. Pendekatan advokasi pertama kali diperkenalkan pada pertengahan tahun 1960-an di Amerika Serikat (Davidoff.Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan terutama oleh LSM adalah advokasi. pemantauan. Model pendekatan ini mencoba meminjam pola yang diterapkan dalam sistem hukum. Dengan demikian. pelaksanaan. Dua metoda penelitian evaluatif yang bersifat bottom-up adalah rapid rural appraisal (RRA).

Dengan demikian secara bertahap ketergantungan pada pihak luar akan berkurang dan pengambilan prakarsa dan perumusan program bisa berasal dari aspirasi masyarakat (bottom up). studi atau penelitian formal yang dilakukan oleh petugas atau lembaga ahli-ahli penel itian.Metoda RRA digunakan untuk pengumpulan informasi secara akurat dalam waktu yang terbatas ketika keputusan tentang pembangunan perdesaan harus diambil segera. karena masyarakat tidak diikutsertakan dalam penyusunan prioritas dan pemecahan masalahnya. Akibatnya program tersebut sering tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tidak adanya rasa memiliki terhadap program itu. Metoda PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti. survei. banyak program pembangunan yang gagal atau tidak dapat diterima oleh kelompok sasaran meskipun program-program tersebut sudah direncanakan dan dipersiapkan secara matang. Metoda RRA penekannya adalah pada 11 . yakni dengan partisipasi masyarakat keadaan itu diperbaiki dan juga keterampilan-keterampilan analitis dan perencanaan dapat dialihkan kepada masyarakat. Dewasa ini banyak program pembangunan yang dilaksanakan sebelum adanya kegiatan pengumpulan semua informasi di daerah sasaran. tetapi seringkali dilaksanakan hanya berdasarkan asumsi. (2) Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) Konsepsi dasar pandangan PRA adalah pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Proses (top down) dan masyarakat tinggal perencanaan program tidak melalui suatu 'penjajagan kebutuhan' (need assesment) masyarakat. tetapi ada pe rbedaan secara mendasar. perencana. Konsekuensinya. Kritik PRA terhadap pembangunan adalah bahwa program-program pembangunan selalu diturunkan "dari atas" melaksanakan. dan pelaksana program pembangunan dan bukan sekedar obyek pembangunan. Dengan PRA. Walaupun ada beberapa kesamaan antara metoda PRA dan RRA. Metoda PRA didasarkan pada penyempurnaan dan modifikasi dari metoda AEA (Agroecosystems Analysis) dan RRA (Rapid Rural Appraisal) yang dilakukan oleh kalangan LSM dan peneliti yang bekerja di wilayah Asia dan Afrika.

1996). Taiwan adalah salah satu negara dengan tingkat kesenjangan yang paling rendah. dalam implementasinya dapat berjalan beriringan. Pertumbuhan tersebut dihasilkan bukan hanya dengan biaya yang lebih kecil. Konsepnya adalah pembangunan ekonomi yang bertumpu pada pertumbuhan yang dihasilkan oleh upaya pemerataan. Sedangkan metoda PRA penekannya adalah pada partisipasi dan pemberdayaan. dan kondisi ini dapat dipertahankan secara berkelanjutan. dengan penekanan pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Brautigam (1995) di Taiwan juga menunjukkan bahwa pertumbuhan dan pemerataan dapat berjalan beriringan. Hal yang demikian ini sudah barang tentu besar artinya bagi negara-negara berkembang yang sering mengalami kelangkaan devisa dan lemah posisi neraca pembayaran luar negerinya. tetapi merupakan subyek dari upaya pembangunannya sendiri. tetapi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Implementasi konsep pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan telah banyak diterapkan di berbagai negara. Salah satu contohnya adalah hasil penelitian yang dilakukan Babajanian di Armenia (2005). 12 .kecepatannya (rapid) dan penggalian informasi oleh órang luar. Masyarakat lapisan bawah yang diberdayakan dapat memberikan sumbangsih signifikan bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini ditunjukkan oleh hasil kajian berbagai proyek yang dilakukan oleh International Fund for Agriculture (IFAD) yang menunjukkan bahwa dukungan bagi produksi yang dihasilkan masyarakat lapisan bawah telah memberikan sumbangan bagi pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan investasi yang sama pada sektor-sektor yang skalanya lebih besar. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan obyek dari berbagai proyek pembangunan. tetapi juga dengan devisa yang lebih kecil (Kartasasmita. yang menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat melalui organisasi sosial lokal memegang peranan penting dalam keberhasilan proyek-proyek pembangunan di negara tersebut. Hasil-hasil penelitian juga telah membuktikan bahwa pemberdayaan sebagai sebuah konsep yang memadukan antara pertumbuhan dan pemerataan.

yang memiliki karakteristik dengan berfokus pada rakyat (people-centered). memberdayakan (empowering). Kemampuan psikomotorik merupakan kecakapan keterampilan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya mendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pembangunan. konatif. psikomotorik dan afektif serta sumber daya lainnya yang bersifat fisik/material. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan obyek dari berbagai proyek pembangunan. Kondisi kognitif pada hakikatnya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seseorang dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. 13 .BAB III PENUTUP Konsep pemberdayaan mencerminkan paradigma baru pembangunan. Daya kemampuan yang dimaksud untuk pemberdayaaan masyarakat adalah kemampuan kognitif. Kondisi afektif adalah merupakan perasaan yang dimiliki oleh individu yang diharapkan dapat diintervensi untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku. Kondisi konatif merupakan suatu sikap perilaku masyarakat yang terbentuk dan diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. tetapi merupakan subyek dari upaya pembangunannya sendiri. 1995). partisipatif (participatory). Implementasi konsep pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan telah banyak diterapkan di berbagai negara. dan berkesinambungan (sustainable) (Chambers. Karena itu konsep ini merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang di dalamnya mencakup nilai-nilai sosial.

Participatory Rural Appraisal.DAFTAR PUSTAKA Friedman. Robert Chambers. 14 . Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Empowerment: The Politics of Alternative Development. John. Cambridge: Blackwell. Denis. Disampaikan pada Seminar Nasional. Bandung. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Memahami Desa Secara Partisipatif. 1992. 17 Mei 2008. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. 1977. New York: Atheneum. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. Kartasasmita. The Cruel Choice: A New Concept in the Theory of Development. Yogyakarta. Kanisius. 1992. Ginandjar. Rahardjo. 1999. Goulet.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful