UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

:

a. bahwa pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan merata baik materiil maupun spritual; b. bahwa dengan semakin meningkatnya peranan tenaga kerja dalam perkembangan pembangunan nasional di seluruh tanah air dan semakin meningkatnya penggunaan teknologi di berbagai sektor, kegiatan usaha dapat mengakibatkan semakin tinggi resiko yang mengancam keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja sehingga perlu upaya peningkatan perlindungan tenaga kerja; c. bahwa perlindungan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan baik dalam hubungan kerja maupun diluar hubungan kerja melalui program jaminan social tenaga kerja selain memberikan ketenangan kerja juga mempunyai dampak positif terhadap usaha-usaha peningkatan disiplin dan produktivitas tenaga kerja; d. bahwa Undang-undang Nomor 2 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 3) dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1977 tentang Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3112) belum mengatur secara lengkap jaminan social tenaga kerja serta tidak sesuai lagi dengan kebutuhan; e. bahwa untuk mencapai maksud tersebut perlu ditetapkan undang-undang yang mengatur penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja. 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan berlakunya Undang-Undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 4); 3. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara tahun 1969 Nomor 55, Tambahan

Mengingat

:

Orang. baik milik swasta maupun milik negara 5. hamil. 3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (lembaran Negara Tahun 1970 nomor 1 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918). Orang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3201). hari tua dan meninggal dunia. 4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 39. 5. guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. b. . Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang memperkerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untuk atau tidak. Orang. atau peraturan perundang-undangan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan tenaga kerja. bersalin. c. Pengusaha adalah : a. termasuk tunjangan baik untuk tenaga kerja sendiri maupun keluarganya. persekutuan atau badan hukum yang berada di Indonesia dalam huruf a dan huruf b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia 4. persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri. Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dan penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja. Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada tenaga kerja untuk sesuatu pekerjaan yang telah atau akan dilakukan. sakit. dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang ditetapkan menurut suatu perjanjian. Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. 2. persekutuan atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.Lembaran Negara Nomor 2912). Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1.

demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja. Cacad adalah keadaan hilang atau berkurangnya fungsi anggota badan yang secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan hilang atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan. apabila mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain sebagaimana layaknya perusahaan mempekerjakan tenaga kerja. Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan social tenaga kerja. Pegawai Pengawas ketenagakerjaan adalah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri. pengobatan.6. 7. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan. Pasal 4 (2) . Badan Penyelenggara adalah badan hukum yang bidang usahanya menyelenggarakan program jaminan sosial tenaga kerja. 12. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja. termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja. dan/atau perawatan. 10. Pasal 2 Usaha sosial dan usaha-usaha lain yang tidak berbentuk perusahaan diperlakukan sama dengan perusahaan. dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. pengobatan. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan. dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. 11. 8. Sakit adalah setiap gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan. BAB II PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA Pasal 3 (1) Untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja diselenggarakan program jaminan social tenaga kerja yang pengelolaannya dapat dilaksanakan dengan mekanisme asuransi. 9.

(2) Termasuk tenaga kerja dalam Jaminan Kecelakan Kerja ialah: a. c. Pasal 7 (1) Jaminan Sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 diperuntukkan bagi tenaga kerja. dan/atau perawatan. biaya rehabilitasi. biaya pemeriksaan. biaya pengangkutan. b. b. pengobatan. mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah perusahaan. . c. (3) Persyaratan dan tata cara penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan pemerintah. Bagian Kedua Jaminan Kecelakaan Kerja Pasal 8 (1) Tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima jaminan Kecelakaan Kerja. (2) Jaminan Sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf d berlaku pula untuk keluarga tenaga kerja. c. d. Pasal 5 Kebijakan dan pengawasan umum program jaminan sosial tenaga kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. santunan cacad total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental. 4. santunan kematian. santunan berupa uang yang meliputi : 1. d. santunan sementara tidak mampu bekerja. (2) Pengembangan program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayau (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. santunan cacad sebagian untuk selama-lamanya. b.(1) Program jaminan social tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib dilakukan oleh setiap perusahaan bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. 2. narapidana yang dipekerjakan di perusahaan. Jaminan Kematian. BAB III PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA Bagian Pertama Ruang Lingkup Pasal 6 (1) Ruang lingkup program jaminan sosial tenaga kerja dalam Undang-undang ini meliputi : a. magang dan murid yang bekerja pada perusahaan baik yang menerima upah maupun tidak. Pasal 9 Jaminan Kecelakaan Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) meliputi : a. 3. Jaminan Kecelakaan Kerja. Jaminan Hari Tua. (2) Program jaminan sosial tenaga kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

anak. f. (2) Dalam hal tenaga kerja meninggal dunia. d. b. g. Jaminan Hari Tua dibayarkan kepada janda atau duda atau anak yatim piatu. b. Pasal 15 Jaminan Hari Tua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dapat dibayarkan sebelum tenaga kerja mencapai usia 55 (lima puluh lima) tehun. mertua. (3) Pengusaha wajib mengurus hak tenaga kerja yang tertmpa kecelakaan kerja kepada Badan Penyelenggara sampai memperoleh hak-haknya. Bagian Kelima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pasal 16 .Pasal 10 (1) Pengusaha wajib melaporkan kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerja kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggaran dalam waktu tidak lebih dari 2 kali 24 jam. atau b. Bagian Keempat Jaminan Hari TuaPasal 14 (1) Jaminan Hari Tua dibayarkan secara sekaligus. santunan berupa uang. atau sebagian dan berkala. (4) Tata cara dan bentuk laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. saudara kandung. Pasal 11 Daftar jenis penyakit yang timbul karena hubungan kerja serta perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Presiden. telah mencapai usia 55 (lima puluh lima) tahun. yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Pengusaha wajib melaporkan kepada Kantor Departemen Tenaga Kerja dan Badan Penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 kali 24 jam setelah tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan oleh dokter yang merawatnya dinyatakan sembuh. biaya pemakaman. janda atau duda. setelah mencapai masa kepesertaan tertentu. kepada tenaga kerja karena : a. keluarganya berhak atas Jaminan Kematian. cucu. orang tua. atau berkala. kakek atau nenek. cacad atau meninggal dunia. Pasal 13 Urutan penerima yang diutamakan dalam pembayaran santunan kematian dan Jaminan Kematian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 hurf d butir 4 dan Pasal 12 ialah : a. e. Bagian Ketiga Jaminan Kematian Pasal 12 (1) Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja. (2) Jaminan Kematian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. cacad total tetap setelah ditetapkan oleh dokter. c.

Pasal 19 (1) Pentahapan kepesertaan program jaminan sosial tenaga kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan anak berhak memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. sehingga mengakibatkan kekurangan pembayaran jaminan kepada tenaga kerja. Pasal 21 . (2) Dalam hal perusahaan belum ikut serta dalam program jaminan sosial tenaga kerja disebabkan adanya pentahapan kepesertaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (4) Apabila pengusaha dalam menyampaikan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terbukti tidak benar. Pasal 18 (1) Pengusaha wajib memiliki daftar tenaga kerja beserta keluarganya. (5) Apabila pengusaha dalam menyampaikan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terbukti tidak benar. maka pengusaha wajib memberikan hak-hak tenaga kerja sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini. suami atau istri. BESARNYA JAMINAN DAN TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 20 (1) Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja.(1) Tenaga kerja. e. g. (3) Apabila pengusaha dalam menyampaikan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terbukti tidak benar. iuran Jaminan Kematian. daftar upah. sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran jaminan. (6) Bentuk daftar tenaga kerja. (2) Iuran Jaminan Hari Tua ditanggung oleh pengusaha dan tenaga kerja. (3) Tata cara pelaksanaan hak tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. maka pengusaha wajib memberikan JaminanKecelakaan Kerja kepada tenaga kerjanya sesuai dengan Undang-undang ini. daftar kecelakaan kerja yang dimuat dalam buku. pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan. pelayanan gawat darurat. pengusaha wajib menyampaikan data ketenagakerjaan dan data perusahaan yangberhubungan dengan penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja kepada Badan Penyelenggara. rawat jalan tingkat pertama. pelayanan khusus. (2) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan meliputi : a. dan iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditanggung oleh pengusaha. (2) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). daftar upah beserta perubahan-perubahan dan daftar kecelakaan kerja di perusahaan atau bagian perusahaan yang berdiri sendiri. dan tata cara penyampaian data ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. rawat inap. BAB IV K E P E S E R T A A NPasal 17 Pengusaha dan tenaga kerja wajib ikut serta dalam program jaminan sosial tenaga kerja. b. f. penunjang diagnostik. c. BAB V IURAN. rawat jalan tingkat lanjutan. sehingga mengakibatkan ada tenaga kerja yang tidak terdaftar sebagai peserta program jaminan sosial tenaga kerja. maka pengusaha wajib mengembalikan kelebihan tersebut kepada Badan Penyelenggara. maka pengusaha wajib memenuhi kekurangan jaminan tersebut. d.

(2) Dalam hal keterlambatan pembayaran iuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Dalam hal perhitungan besarnya Jaminan Kecelakaan Kerja tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Menteri menetapkan kecelakaan kerja. syarat pembayaran. Pasal 22 (1) Pengusaha wajib membayar iuran dan melakukan pemungutan iuran yang menjadi kewajiban tenaga kerja melalui pemotongan upah tenaga kerja serta membayarkan kepada Badan Penyelenggara dalam waktu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan bentuk iuran program jaminan sosial tenaga kerja ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Perbedaan pendapat dan perhitungan besarnya jumlah Jaminan Kecelakaan Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) penyelesaiannya ditetapkan oleh Menteri. Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah Badan Usaha Milik Negara yang dibentuk dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan besarnya jaminan yang belum tercantum dalam peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. Pasal 23 Besarnya dan tatacara pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja. maka Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan menghitung kembali dan menetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan tatacara pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (3) (4) BAB VI BADAN PENYELENGGARAPasal 25 (1) Penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja dialkukan oleh Badan Penyelenggara. Jaminan Kematian. tata cara. (2) . Pasal 24 (1) Perhitungan besarnya Jaminan Kecelakaan Kerja yang harus dibayarkan kepada tenaga kerja dilakukan oleh Badan Penyelenggara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Besarnya iuran. besarnya denda. Jaminan Hari Tua.

dan Pasal 26. dan ayat (3). (2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : 1. (2) Dalam hal pengulangan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk kedua kalinya atau lebih setelah putusan akhir telah memperoleh kekuatan hukum tetap.(3) Badan Usaha Milik Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76). Pasal 18 ayat (1). diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. Pasal 19 ayat (2). ayat (4). Pasal 30 Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) terhadap pengusaha. ayat (3). (3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pelanggaran. Pasal 26 Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2).. ganti rugi. ayat (2).000. Tambahan Lembaran tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. dan ayat (5). dan Badan Penyelenggara yang tidak memenuhi ketentuan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya dikenakan sanksi administrasi. tenaga kerja. dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya mengutamakan pelayanan kepada peserta dalam rangka peningkatan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja beserta keluarganya. BAB VII KETENTUAN PIDANAPasal 29 (1) Barang siapa tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1). wajib membayar jaminan sosial tenaga kerja dalam waktu tidak lebih dari 1 (satu) bulan. Pasal 27 Pengendalian terhadap penyelenggaraan program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dilakukan oleh Pemerintah. atau denda yang akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.(lima puluh juta rupiah). . maka pelanggaran tersebut dipidana kurungan selama-lamanya 8 (delapan) bulan. Pasal 28 Penempatan investasi dan pengelolaan dana program jaminan sosial tenaga kerja oleh Badan Penyelenggara diatur dengan Peraturan Pemerintah.000. BAB VIII P E N Y I D I K A NPasal 31 (1) Selain penyisik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi ketenagakerjaan. Pasal 22 ayat (1). dalam wadah yang menjalankan fungsi pengawasan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 10 ayat (1). sedangkan dalam pengawasan mengikutsertakan unsur pengusaha dan unsur tenaga kerja. 50. ayat (2).

UU Keselamatan Kerja Februari 27. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti dan melakukan penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja.2. (2) “pengurus” ialah orang yang mempunyai tugas langsung sesuatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri. atau sering dimasuki tempat kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana diperinci dalam pasal 2. termasuk tempat kerja ialah semua ruangan. (2) Selama peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Undang-undang ini belum dikeluarkan. maka perusahaan yang telah menyelenggarakan program asuransi sosial tenaga kerja dan jaminan sosial tenaga kerja lainnya tetap melaksanakannya. BAB XI KETENTUAN PENUTUPPasal 34 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini. (3) “pengusaha” ialah : . Agar setiap orang mengetahuinya. maka semua peraturan perundang-undangan yang mengatur program asuransi sosial tenaga kerja dan penyelenggaraannya yang ada pada waktu Undangundang ini mulai berlaku. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. melakukan penelitian terhadap orang atau badan yang diduga melakukan tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. (3) Tenaga kerja yang telah menjadi tertanggung atau peserta dalam program asuransi sosial tenaga kerja dan jaminan sosial tenaga kerja lainnya dengan berlakunya Undang-undang ini tidak boleh dirugikan. BAB X KETENTUAN PERALIHANPasal 33 (1) Selama peraturan perundang-undangan sebagai pelaksanaan Undang-undang ini belum dikeluarkan. 2007 Posted by hiperkes95 in K3 . halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagianbagian atau berhubung dengan tempat kerja tersebut. bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja. tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. 4. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian sehubungan dengan tindak pidana di bidang jaminan sosial tenaga kerja. maka Undang-undang Nomor 2 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Kecelakaan Tahun 1947 Nomor 33 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 3) dinyatakan tidak berlaku lagi. 5. Pasal 35 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. tertutup atau terbuka. 3. lapangan. BAB IX KETENTUAN LAIN-LAINPasal 32 Kelebihan pembayaran jaminan yang telah diterima oleh yang berhak tidak dapat diminta kembali. add a comment BAB I TENTANG ISTILAH-ISTILAH Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) “tempat kerja” ialah tiap ruangan atau lapangan.

dilakukan pendidikan. bersuhu tinggi. mengurangi dan memadamkan kebakaran. i. pembersihan atau pembongkaran rumah. o. kotoran. pengerjaan hutan.diputar film. suara dan getaran. n. di permukaan air. pertunjukan sandiwara atau diselenggarakan reaksi lainnya yang memakai peralatan. c. perikanan dan lapangan kesehatan. mencegah dan mengurangi kecelakaan. kejatuhan. kotoran. batu-batuan. jikalau yang mewakili berkedudukan di luar Indonesia. e. perkebunan. perawatan. uap. pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air. dibangkitkan. melalui terowongan. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan.a. logam atau bijih logam lainnya. m. dilakukan usaha: pertanian. ruangan-ruangan atau lapanganlapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja atau yang berada di ruangan atau lapangan itu dan dapat dirubah perincian tersebut dalam ayat (2). sinar radiasi. di dalam air maupun di udara. dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal. stasiun atau gudang. memberi pertolongan pada kecelakaan. penyelidikan atau riset (penelitian) yang menggunakan alat teknis. g. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis. penyinaran atau penerimaan radio. h. e. pembinaan. dicoba. beracun. dikerjakan pembangunan. i. perahu. suara atau getaran. (2) Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana : a. orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. diperdagangkan. r. gas. asap. infeksi dan penularan. dipergunakan. (5) “pegawai pengawas” ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. terkena pelantingan benda. sinar atau radiasi. debu. dermaga. baik di darat. televisi. baik di darat. di dalam tanah. terjatuh atau terperosok. diolah. f. dikumpulkan. minyak atau air. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja. pembukaan hutan. l. pesawat. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 (1) Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja. hanyut atau terpelanting. gas. dilakukan penyelamatan. b. instalasi listrik atau mekanik. kelembaban. menggigit. dirobah. dipakai. cuaca. yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. uap. baik di permukaan atau di dalam bumi. alat. asap. api. binatang atau manusia. k. dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah. dipakai atau dipergunakan mesin. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan : emas. d. perkakas. dilakukan pekerjaan dalam ketinggian diatas permukaan tanah atau perairan. dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah. hembusan angin. h. disimpan. dibuat. perbaikan. b. pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya. . p. dipermukaan air. perak. yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum termaksud pada (a) dan (b). gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan perairan. c. orang atau badan hukum. gas. peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan atau peledakan. sumur atau lobang. c. saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan. q. (3) Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. dibuat. (4) “direktur” ialah pejabat yang ditunjuk oleh Mneteri Tenaga Kerja untuk melaksanakan Undang-undang ini. diangkut. percobaan. minyak atau minieral lainnya. atau telepon. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu. orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. dibagi-bagikan atau disalurkan listrik. dalam air maupun di udara. dilakukan pekerjaan dalam tangki. j. dilakukan pemancaran. peternakan. suhu. cuaca. g. mencegah. radar. dok. dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah. terdapat atau menyebar suhu. hembusan angin. dilakukan pengangkutan barang. BAB III SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA Pasal 3 (1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : a. menimbulkan infeksi. maupun di dasar perairan. kelembaban. (6) “ahli keselamatan kerja” ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya Undang-undang ini. peracunan. mudah terbakar. d. f. b. atau disimpan atau bahan yang dapat meledak. gas.

mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan. barang. (3) Keputusan Panitia Banding tidak dapat dibanding lagi. (2) Wewenang dan kewajiban direktur. c. (2) Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur. n. teknik dan teknologi serta pendapatan-pendapatan baru di kemudian hari. BAB IV PENGAWASAN Pasal 5 (1) Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap Undang-undang ini sedangkan para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya Undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya. (2) Tata cara permohonan banding. pemasangan. cara dan proses kerjanya. memperoleh keserasian antara tenaga kerja. o. pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. Pasal 6 (1) Barang siapa tidak dapat menerima keputusan direktur dapat mengajukan permohonan banding kepada Panitia Banding. kesehatan dan ketertiban. produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. perdagangan. (3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya. p. r. pemeliharaan dan penyimpanan bahan. secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan dibenarkan oleh Direktur. dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja. dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan mentaati syarat-syarat keselamatan tersebut. q. memelihara kebersihan. bahan. pembuatan. susunan Panitia Banding. kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan padanya. pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja dalam melaksanakan Undang-undang ini diatur dengan peraturan perundangan. alat kerja. jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi. pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan. peredaran. pemakaian. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerja. lingkungan. k. Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja. d. (3) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) dan (2). (2) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pasal 4 (1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang.j. pengangkutan. perlakuan dan penyimpanan barang. produk teknis dan aparat produk guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri. m. binatang. barang. BAB VI PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Pasal 10 . mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat. pengolahan dan pembuatan. keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum. Pasal 7 Untuk pengawasan berdasarkan Undang-undang ini pengusaha harus membayar retribusi menurut ketentuanketentuan yang akan diatur dengan peraturan perundangan. tanaman atau barang. penggunaan. perlengkapan alat-alat perlindungan. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan. pengujian dan pengesyahan. (4) Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan. tugas Panitia Banding dan lain-lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. pengepakan atau pembungkusan. BAB V PEMBINAAN Pasal 9 (1) Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang : a. menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik. (3) Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan perundangan. Pasal 8 (1) Pengurus di wajibkan memeriksakan kesehatan badan. l. b. (2) Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. (2) Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut di atas.

Menyediakan secara cuma-cuma. e. maka peraturan dalam bidang keselamatan kerja yang ada pada waktu Undang-undang ini mulai berlaku. Pasal 16 Pengusaha yang mempergunakan tempat-tempat kerja yang sudah ada pada waktu Undang-undang ini mulai berlaku wajib mengusahakan di dalam satu tahun sesudah Undang-undang ini mulai berlaku. BAB IX KEWAJIBAN BILA MEMASUKI TEMPAT KERJA Pasal 13 Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja. 100. (2) Peraturan perundangan tersebut pada ayat (1) dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. untuk memenuhi ketentuan-ketentuan menurut atau berdasarkan Undang-undang ini. c. b. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khususditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan. pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. BAB X KEWAJIBAN PENGURUS Pasal 14 Pengurus diwajibkan : a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau keselamatan kerja. BAB VII KECELAKAAN Pasal 11 (1) Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya. semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya. c.. BAB VIII KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA Pasal 12 Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk: a.000. secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya. pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. . (2) Susunan Panitia Pembina dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.(1) Menteri Tenaga Kerja berwenang membertuk Panitia Pembina Keselamatan Kerja guna memperkembangkan kerja sama. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. Pasal 18 Undang-undang ini disebut “UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA” dan mulai berlaku pada hari diundangkan. BAB XI KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 (1) Pelaksanaan ketentuan tersebut pada pasal-pasal di atas diatur lebih lanjut dengan peraturan perundangan. tugas dan lain-lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja. semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan. disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. (2) Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan.(seratus ribu rupiah). b. sehelai Undang-undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan. saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama di bidang keselamatan dan kesehatan kerja. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. d. Pasal 17 Selama peraturan perundangan untuk melaksanakan ketentuan dalam Undang-undang ini belum dikeluarkan. pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. (3) Tindak pidana tersebut adalah pelanggaran. dalam rangka melancarkan usaha berproduksi. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya. semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut. tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.

SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 Januari 1970 Sekretaris Negara Republik Indonesia.Disahkan di Jakarta pada tanggal 12 Januari 1970 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ALAMSYAH .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful