You are on page 1of 68

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada berbagai krisis.

Mulyasa (2002: 4) menyebutkan empat krisis pokok, yaitu yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih

lanjut, dikemukakan bahwa beberapa masalah pokok sistem pendidikan nasional, yaitu: (1) menurunnya ahlak dan moral peserta didik, (2) pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, (4) status kelembagaan, (5) manajemen pendidikan yang tidak selajan dengan pembangunan nasional, dan (6) sumberdaya yang belum profesional. Laporan tahunan Propenas 2006-2010 menyatakan rendahnya mutu pendidikan secara umum disebabkan oleh berbagai faktor baik internal sekolah maupun eksternal. Faktor-faktor internal yang menentukan mutu pendidikan

adalah masih rendahnya efektivitas proses belajar-mengajar, terutama disebabkan kurangnya sarana dan prasarana belajar, kurangnya jumlah dan rendahnya mutu guru, kelemahan pada metode mengajar dan kurikulum yang berlaku, serta lemahnya sistem pengelolaan persekolahan. Dari sisi eksternal faktor yang

berperan meliputi belum optimalnya peran orang tua dan masyarakat dan pemerintah dalam mendukung pembangunan pendidikan yang bermutu.

Yantini - 09870098

Depdiknas (2001: 1-2) menganalisis bahwa setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami perubahan secara merata. Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional

menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Faktor kedua,

penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. Faktor ketiga, peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan bahwa pendidikan, sistem pendidikan, dan penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia masih belum terlepas dari berbagai masalah yang pelik. Dalam hal ini, pemerintah telah Salah satunya adalah

melakukan upaya penyempurnaan sistem pendidikan.

dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 yang disempurnakan dalam Undang-Undang Nomor 22 dan 23 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, yang secara langsung berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional perlu direkonstruksi dalam rangka otonomi daerah ini. Mulyasa (2002, 6-7) mengemukakan empat hal yang perlu direkonstruksi, yaitu (1) peningkatan mutu pendidikan dengan menerapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, (2) peningkatan efisiensi pengelolaan MBS, (3) peningkatan relevansi pendidikan yang mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat, dan (4) pemerataan pelayanan pendidikan.

Yantini - 09870098

Upaya rekonstruksi tersebut tidak terlepas dari perubahan mendasar yang berkaitan dengan kurikulum. Berbagai pihak melihat perlunya penerapan

kurikulum berbasis kompetensi (competency based curriculum) yang sering disingkat dengan KBK. Depdiknas (2004: 1) menyatakan bahwa salah satu upaya memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia dilakukan melalui pembaharuan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum 2004. Dengan paradigma KBK/KTSP,

Kurikulum 2004 ini secara mendasar diharapkan dapat mengatasi masalahmasalah besar yang dialami dunia pendidikan di Indonesia. KBK/KTSP dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang menawarkan otonomi kepada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, dan efisiensi pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antar sekolah, masyarakat, industri, dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik. KBK/KTSP dapat diterapkan pada KBK/KTSP

setiap jenjang pendidikan dan pada berbagai ranah pendidikan.

memang memberikan wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan saat ini. Kesiapan para pelaksana KBK/KTSP (pemerintah pusat, aparat daerah,

masyarakat, dan sekolah itu sendiri) sangat diperlukan. Namun demikian, dalam implementasinya sampai saat ini, KBK/KTSP menemui beberapa kendala. Dinas Propinsi Jawa Barat (2005: 19) menilai bahwa kurikulum pendidikan 2004 yang lebih menekankan kepada implementasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK/KTSP) hingga saat ini belum sepenuhnya diimplementasikan di sekolah-sekolah di Jawa Barat. Masalah-masalah yang

dihadapi dalam implementasi kurikulum ini antara lain adalah kurangnya

Yantini - 09870098

pemahaman para guru terhadap KBK/KTSP, minimnya sosialisasi KBK/KTSP, iklim kerja yang tidak kondusif sehingga kualitas hasil didik yang semakin rendah. Dari survey pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui wawancara kepada beberapa kepala sekolah di SMP di Kabupaten Bandung Barat, mereka (sekolah) sebenarnya merasa belum optimal menerapkan KBK/KTSP secara menyeluruh. Alasan tersebut antara lain berkaitan dengan ketidaksiapan personel, kurangnya sosialisasi KBK/KTSP, sosialisasi, dan dana yang terbatas. Masalah lain adalah banyaknya sekolah yang cenderung menyebutkan bahwa setelah dilaksanakan KBK/KTSP, kualitas hasil pendidikan relatif rendah. Ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang tidak bisa masuk sekolah-sekolah tertentu karena tidak masuk seleksi dalam penerimaan siswa baru (PSB) SMPN dan SMAN karena hasil ujian nasional dan ujian sekolah di bawah passing grade (PR, 11 Agustus 2005). Memang hal ini muncul pada tahun pertama uji coba KBK/KTSP. Banyak guru yang menafsirkan pergeseran dari pengajar (sumber informasi) menjadi fasilitator dalam pengertian ekstrim. Dalam hal ini guru tidak menerangkan atau menjelaskan mata pelajaran, tetapi berganti memberikan tugas kepada siswa untuk mencari bahan sendiri dari buku, ensiklopedia, koran, dan internet. Para siswa merasakan bahwa buku dan bahan cetak yang tersedia di perpustakaan kurang memadai untuk melaksanakan proses belajar, dijadikan sumber belajar, atau sebagai bahan untuk tugas-tugas pembelajaran. Keterbatasan jumlah dan kapasitas laboratorium, terutama untuk lab IPA dan komputer sesuai dengan tuntutan KBK/KTSP dirasakan juga menghambat.

Yantini - 09870098

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji implementasi kebijakan KBK/KTSP dan pengaruhnya terhadap efektivitas pembelajaran. Dalam hal ini, peneliti melakukan penelitian dengan mengajukan judul: Pengaruh Implementasi Kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terhadap Efektivitas Pembelajaran IPS di SMPN Se-Kabupaten Bandung Barat

1.2

Identifikasi dan Rumusan Masalah Kebijakan publik (public policy) adalah serangkaian keputusan yang saling

berkaitan yang dibuat oleh satu atau beberapa unit pemerintahan yang merupakan konsep atau azas yang menjadi dasar atau pedoman bagi seseorang atau suatu instansi pemerintah untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dengan maksud dan tujuan tertentu, dalam rangka menjalankan tugas-tugas pemerintahan. Pendidikan merupakan salah satu objek dari kebijakan publik. Oleh karena itu, kebijakan KBK/KTSP juga merupakan bagian dari kebijakan publik. Menurut Wibawa (1994) yang mengutip pendapat Van Meter dan Van Horn, terdapat beberapa variabel penentu dalam penerapan dan implementasi kebijakan publik, antara lain: 1. Ukuran dan tujuan kebijakan. 2. Sumber daya 3. Keaktifan komunikasi antar-lembaga yang terlibat dalam implementasi kebijakan dan keaktifan pelaksanaan kebijakan. 4. Karakteristik lembaga pelaksana kebijakan.

Yantini - 09870098

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi. 6. Sikap para pelaksana. Implementasi kebijakan publik pada dasarnya melibatkan berbagai pihak meskipun dengan persepsi dan kepentingan yang berbeda, bahkan sering terjadi pertentangan kepentingan antar lembaga atau pihak yang terlibat. Menurut

Edward III (1980: 9) terdapat empat variabel yang menentukan suksesnya implementasi kebijakan publik, yaitu: communication (komunikasi), resources (sumber daya), disposition atau attitudes (sikap), dan bureaucratic structure (struktur birokrasi). Dalam implementasi kebijakan KBK/KTSP di sekolah, hal ini tidak terlepas dari efektivitas sekolah, yang disederhanakan menjadi efektivitas pembelajaran. Efektivitas sekolah biasanya menjadi bahan pembicaraan para Istilah seperti

pendidik, dewan sekolah, atau pembuat kebijakan pendidikan.

akuntabilitas, prestasi akademik, standar kinerja, skor test, kinerja mengajar, tingkat tinggal kelas siswa, kepuasan kerja, kurikulum berbasis kompetensi dan budaya pembelajaran produktif menjadi bahan percakapan. Efektivitas pembelajaran ini terutama melibatkan pada aspek pengajar atau guru (level struktur teknis) dan peserta didik di sekolah. Level teknis atau inti teknis merupakan sistem dari aktivitas organisasi yang menghasilkan produk aktual organisasi, dan di sekolah disederhanakan dengan istilah pengajaran dan pembelajaran di kelas. Pendidik dan masyarakat mengetahui bahwa setiap sekolah mencapai tingkat keberhasilan yang berlainan, bahkan dengan populasi siswa yang serupa.

Yantini - 09870098

Pada tataran praktis, indikator efektivitas itu diketahui dan digunakan. Efektivitas proses belajar mengajar dapat didefinisikan sebagai keberhasilan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan. Efektivitas proses belajar

mengajar dapat diukur melalui tiga unsur utama, yaitu rencana pengajaran, pelaksanaan, dan evaluasi. Kebijakan KBK/KTSP yang telah dirumuskan beberapa tahun yang lalu sekarang ini sudah mulai diimplementasikan di berbagai jenjang sekolah. Implementasi kebijakan KBK/KTSP tentu akan mempengaruhi proses

pembelajaran di sekolah, termasuk efektivitas pembelajarannya. Untuk lebih memahami gambaran besar penelitian ini, Model

Implementasi Kebijakan KBK/KTSP dan Efektivitas Pembelajaran dipakai sebagai acuan dalam hubungannya variabel dan sub-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Model yang penulis gunakan dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 1-1. Oleh karena itu, masalah dalam penelitian ini akan dirumuskan dengan dua fokus kajian sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran mengenai implementasi kebijakan KBK/KTSP dan efektivitas pembelajaran pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri seKabupaten Bandung Barat. 2. Bagaimana pengaruh implementasi kebijakan KBK/KTSP yang terdiri dari aspek komunikasi, struktur birokrasi, sumberdaya, dan sikap terhadap efektivitas pembelajaran yang terdiri dari aspek perencanaan, pelaksanaan,

Yantini - 09870098

dan evaluasi pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri se-Kabupaten Bandung Barat.

Komunikasi

Implementasi Birokrasi Kebijakan KBK/KTSP


Sumber Daya

Struktur

Perencanaan

Efektivitas PBM
Pelaksanaan

Evaluasi

Sikap

Sumber: George C. Edward III (1980:9), dan Mulyasa (2005:95) Gambar 1-1 Model Implementasi Kebijakan KBK/KTSP dan Efektivitas Pembelajaran

Yantini - 09870098

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian Maksud dari penulisan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mendeskripsikan konsep, teori, dan pendekatan yang berhubungan dengan pengaruh implementasi kebijakan KBK/KTSP terhadap efektivitas pembelajaran pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri se-Kabupaten Bandung Barat. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah memperoleh data, mengolah, menganalisis, dan menarik kesimpulan yang didasarkan pada hasil analisis data dan teori yang dikemukakan oleh para ahli yang menguasai bidang tersebut. Secara khusus, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai implementasi kebijakan KBK/KTSP dan efektivitas pembelajaran pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri se-Kabupaten Bandung Barat. 2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh implementasi kebijakan

KBK/KTSP yang terdiri dari aspek komunikasi, struktur birokrasi, sumberdaya, dan sikap terhadap efektivitas pembelajaran yang terdiri dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri se-Kabupaten Bandung Barat.

1.3.2 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat akademis; penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam memperkaya khazanah mengenai pengembangan kurikulum, khususnya yang

Yantini - 09870098

10

berkaitan penerapan kurikulum berbasis kompetensi di SMTP, yaitu mengkaji sampai sejauh mana implementasi kebijakan KBK/KTSP ini berdampak pada efektivitas pembelajaran di sekolah. 2. Manfaat praktis; hasil penelitian diharapkan dapat menjadi umpan balik terhadap kajian mengenai pengembangan kurikulum, khususnya yang berkaitan dengan penerapan KBK/KTSP dan dampaknya terhadap efektivitas pembelajaran di sekolah, sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh para guru dan siswa sebagai unsur utama pembelajaran di sekolah, sekolah itu sendiri, pemerintah dan masyarakat pada umumnya.

1.4

Asumsi Penelitian Suatu teori bisa berlaku jika didukung oleh beberapa asumsi (anggapan

dasar) tertentu. Asumsi dapat membantu seorang peneliti dalam memecahkan masalah sehingga hasil penelitian itu dapat diterima secara ilmiah. Dengan kata lain, penelitian yang baik memerlukan pedoman sebagai dasar penelitian, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dapat dikatakan bahwa asumsi merupakan titik tolak dilakukannya penelitian ditinjau dari segi permasalahan. Hal ini ditegaskan oleh Suharsimi Arikunto (2000: 60) yang

menyatakan bahwa asumsi atau anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Lebih lanjut

Suharsimi Arikunto (2000: 57) menjelaskan pengertian asumsi atau anggapan dasar tersebut sebagai suatu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang harus dirumuskan dengan jelas.

Yantini - 09870098

11

Menurut Komaruddin, asumsi dapat berhubungan dengan syarat-syarat, kondisi-kondisi dan tujuan, hakikat, bentuk dan arah argumentasi (Komaruddin, 1987: 22). Secara lengkap dia mengartikan asumsi sebagai: sesuatu yang dianggap tidak mempengaruhi atau dianggap konstan. Asumsi menetapkan faktor-faktor yang diawasi. Asumsi berhubungan dengan syarat-syarat, kondisi-kondisi, dan tujuan. Asumsi dapat memberikan hakekat, bentuk, dan arah argumentasi.

Berdasarkan definisi di atas, penulis memberikan asumsi sebagai berikut: 1. Implementasi kebijakan KBK/KTSP dapat membantu sekolah dalam melakukan proses pembelajaran yang efektif, mencapai tujuan yang diharapkan, materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan masyarakat, berorientasi pada proses, hasil (output), dan dampak (outcome), serta melakukan penilaian, pengawasan, dan pemantauan berbasis seolah secara berkelanjutan. 2. KBK/KTSP dapat diterapkan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan dan pada berbagai ranah pendidikan (Mulyasa, 2002: 11). 3. Setiap sekolah yang menjadi responden dalam penelitian ini telah menjalankan KBK/KTSP.

1.5

Hipotesis Penelitian Secara sederhana, hipotesis merupakan suatu jawaban sementara terhadap

permasalahan penelitian. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan, belum didasarkan fakta-fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan data. Untuk memudahkan pembahasan selanjutnya,

Yantini - 09870098

12

penulis perlu mengemukakan dugaan sementara yang kemudian akan dibuktikan apakah jawaban tersebut dapat diterima atau tidak. Menurut Suharsimi Arikunto, (1996: 67; 2000, 63) hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Selain itu, Winarno Surakhmad (1990: 52) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan hipotesis adalah: ...rumusan jawaban yang bersifat sementara terhadap satu soal yang dimaksudkan sebagai tuntutan sementara dalam penyelidikan untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Hipotesis ini dijabarkan ditarik dari postulat-postulat dan hipotesis tersebut tidak selalu dianggap benar atau yang dapat dibenarkan oleh penyelidik walaupun selalu diharapkan terjadi demikian. (Winarno Surakhmad, 1990: 52) Pendapat lain dikemukakan oleh Moh. Nazir (1985: 182), bahwa: Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau yang kita ingin pelajari. Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta paduan dalam verifikasi. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks.

Sedangkan menurut Nasution, hipotesis adalah pernyataan tentatif yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya (S. Nasution, 1988: 49). Lebih lanjut dikatakan bahwa: Hipotesis berfungsi untuk: 1. Menguji kebenaran suatu teori 2. Memberi ide untuk mengembangkan suatu teori 3. Memperluas pengetahuan kita mengenai gejala-gejala yang kita pelajari

Yantini - 09870098

13

Berdasarkan identifikasi masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian, penulis mengemukakan hipotesis utama sebagai berikut: Implementasi kebijakan KBK/KTSP yang terdiri dari aspek komunikasi, struktur birokrasi, sumberdaya, dan sikap berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran yang terdiri dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pada mata pelajaran IPS se-Kabupaten Bandung Barat Hipotesis utama yang menjadi fokus penelitian tersebut dibagi lagi ke dalam tiga sub-hipotesis sebagai berikut: Sub-hipotesis 1 Implementasi kebijakan KBK/KTSP yang terdiri dari aspek komunikasi, struktur birokrasi, sumberdaya, dan sikap berpengaruh terhadap efektivitas perencanaan pembelajaran Sub-hipotesis 2 Implementasi kebijakan KBK/KTSP yang terdiri dari aspek komunikasi, struktur birokrasi, sumberdaya, dan sikap berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan pembelajaran Sub-hipotesis 3 Implementasi kebijakan KBK/KTSP yang terdiri dari aspek komunikasi, struktur birokrasi, sumberdaya, dan sikap berpengaruh terhadap efektivitas evaluasi pembelajaran

1.6

Pendekatan Penelitian Pendekatan teori utama yang dipakai mengacu pada teori, penelitian, dan

praktik Pengembangan Kurikulum, Studi Kebijakan Publik, Teori Pembelajaran, Efektivitas Pembelajaran, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Yantini - 09870098

14

Berdasarkan tingkat penjelasan dan bidang penelitian, jenis penelitian yang akan digunakan adalah metode deskriptif dan verifikatif dengan menggunakan analisis kasus yang melihat hubungan dua variabel atau lebih dalam satu kajian. Karena jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan verifikatif yang akan dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey explanatory, yaitu metode penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sample yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan deskripsi dan hubungan antar variabel. Bentuk studi yang akan dikembangkan dan teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah (1) studi kepustakaan, (2) studi lapangan yang akan dilakukan dengan menggunakan angket/kuesioner yang disebarkan kepada guru SMP Negeri yang mengajar mata pelajaran IPS (untuk variabel Implementasi Kebijakan KBK/KTSP) dan kuesioner kepada kepala sekolah SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat (untuk variabel Efektivitas Pembelajaran) yang menjadi responden dalam penelitian ini. Selain itu, teknik wawancara kepada beberapa siswa dan observasi langsung digunakan untuk memperkaya pembahasan. Dengan demikian, yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah sekolah, yaitu SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat. Sekolahsekolah tersebut dikategorikan ke dalam SMP Negeri kategori tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan hasil nilai UN. Setelah dilakukan pengambilan sampel secara

Yantini - 09870098

15

proportional sampling dari tiga kategori SMP Negeri, sampel keseluruhan dalam penelitian akan diambil secara random sampling. Unit analisis sekolah

merupakan agregat dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada guru (untuk variabel Implementasi Kebijakan KBK/KTSP) dan kuesioner kepada kepala sekolah SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat (untuk variabel Efektivitas Pembelajaran). Sebelum instrumen disebarkan kepada guru dan kepala sekolah (yang mewakili aggregate masing-masing sekolah), validitas dan reliabilitas instrumen tersebut diuji terlebih dahulu. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Melalui analisis jalur dapat diketahui besarnya pengaruh masingmasing variabel dan dapat digambarkan secara diagramatik struktur variabelvariabel penyebab dengan variabel akibat. Besarnya pengaruh (relatif) dari suatu variabel eksogen ke variabel endogen tertentu, dinyatakan dengan besarnya bilangan koefisien jalur (path coefficient) dari variabel eksogen tersebut ke variabel endogennya. Untuk melakukan analisis jalur, bila skala yang digunakan adalah skala ordinal maka skala tersebut diubah menjadi skala interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI). Informasi yang didapatkan dari hasil

perhitungan statistik akan dianalisis dan diinterpretasikan sesuai dengan teori dan variabel yang dikaji dalam penelitian ini.

Yantini - 09870098

16

1.7

Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di sekolah, yaitu SMP Negeri di Kabupaten

Bandung Barat, dengan responden guru-guru mata pelajaran IPS dan para kepala sekolah SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat. Waktu yang diperlukan untuk penelitian ini diperkirakan sekitar 8 bulan.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Implementasi Kebijakan Publik 2.1.1 Pengertian Kebijakan Publik Secara umum, istilah kebijakan atau policy dipergunakan untuk menunjukkan perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok, maupun suatu lembaga pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu. Istilah kebijakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:155) berasal dari kata bijaksana, yang berarti: 1) selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; 2) pandai dan ingat-ingat (cermat, teliti, dan sebagainya) apabila menghadapi kesulitan, kebijakan artinya: 1) kepandaian, kemahiran, dan 2) rangkaian konsep dan asa yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan atau suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak (tentang pemerintah, organisasi, dan sebagainya); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip atau maksud sebagai pedoman untuk manajemen dalam usaha untuk mencapai sasaran; garis Haluan. Contohnya: kebijakan dalam bidang ekonomi, berarti kebijakan suatu pemerintah yang bertujuan untuk mengatur sekaligus mengawasi pertumbuhan dan aktivitas ekonomi di negara. Istilah publik mempunyai arti umum, namun sering juga istilah publik dalam IPS diartikan sebagai negara atau pemerintah, terutama dalam istilah keilmuan, misalnya Public Administration (Administrasi Publik) Public 17

Yantini - 09870098

18

Organization (Organisasi Publik), Public Policy (Kebijakan Publik). Bahkan dapat diartikan masyarakat, seperti halnya pelayanan umum (Public Services). Santoso membuat batasan kebijakan publik sebagai berikut: Kebijakan publik terdiri dari serangkaian keputusan yang dibuat oleh suatu pemerintah untuk mencapai suatu tujuan-tujuan tertentu dan juga petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut terutama dalam bentuk peraturan-peraturan atau dekrit-dekrit pemerintah. Smallwood (1990:30) mengemukakan bahwa istilah kebijakan publik adalah serangkaian instruksi dari para pembuat keputusan kepada pelaksana kebijakan yang menjelaskan tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan. Lebih lanjut Smallwood mengatakan, bahwa proses kebijakan dapat dibagi ke dalam tiga lingkungan, yaitu lingkungan kebijakan, lingkungan implementasi kebijakan, dan lingkungan evaluasi kebijakan. Lingkungan pembuat kebijakan diisi oleh para birokrat pembuat kebijakan seperti Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota atau Bupati dan individu-individu lain yang mempunyai kekuatan mempengaruhi pembuat suatu kebijakan. Lingkungan implementasi isinya jauh lebih bervariasi, tergantung dari jenis kebijakan yang diterapkan, antara lain terdiri dari pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, kelompok masyarakat yang terkait dengan implementasi kebijakan, mass media, para evaluator dan sebagainya. Sedangkan dalam lingkungan evaluasi ialah para pembuat dan pelaksana kebijakan, termasuk pengamat yang berperan sebagai evaluator. Anderson (1997:2-3) mengemukakan suatu konsep tentang kebijakan (policy), yaitu suatu rangkaian kegiatan dengan maksud tertentu yang diikuti oleh

Yantini - 09870098

19

seorang atau satu perangkat pemeran (aktor) dalam mengatasi masalah atau mengenai suatu hal. Kaitannya dengan hal tersebut di atas Hogwood dan Gunn dalam Islamy (1997:19-22) menyatakan bahwa: Definisi dari kebijakan publik bersifat subjektif, namun pada umumnya menyangkut serangkaian keputusan yang saling berkaitan dimana terlibat banyak keadaan dan pribadi orang, kelompok dan kontribusi dari pengaruh organisasi. Dunn (1996:89-96) mendefinisikan kebijakan publik sebagai rangkaian panjang pilihan-pilihan yang kurang lebih berhubungan, termasuk keputusan untuk tidak berbuat, yang dibuat oleh kantor-kantor atau badan-badan pemerintah. Berkaitan dengan pengertian di atas, Raksasatya dalam Islamy (1997:17) mengemukakan pengertian kebijakan sebagai berikut. Kebijakan sebagai suatu taktik dan strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu suatu kebijakan memuat tiga elemen, yaitu 1) identifikasi dari tujuan yang ingin dicapai, 2) taktik atau strategi dari berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan, 3) penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dari taktik atau strategi. Definisi kebijakan publik yang dikemukakan oleh Anderson (1997:3) adalah: public policy is those policies developed by governmental bodies and officials. (kebijakan publik adalah merupakan kebijakan-kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah). Implikasi dari definisi tersebut, menurut Islamy (1997:19) adalah sebagai berikut: 1) Bahwa kebijakan publik, selalu mempunyai tujuan-tujuan tertentu atau merupakan tindakan yang berorientasi kepada beberapa tujuan tertentu. 2) Bahwa kebijakan publik itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan pejabat-pejabat pemerintah. 3) Bahwa kebijakan publik merupakan apa yang dilakukan oleh pemerintah, jadi bukan merupakan apa yang pemerintah bermaksud akan melakukan sesuatu atau menyatakan akan melakukan sesuatu.

Yantini - 09870098

20

4) Bahwa kebijakan publik itu dapat bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu atau dapat bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu. 5) Bahwa kebijakan publik setidak-tidaknya dalam arti yang positif didasarkan atau selalu dilandaskan pada peraturan perundangundangan yang bersifat memaksa (otoritatif). R. Dye dalam Islamy (1997:4), mengemukakan definisi sebagai berikut: public policy is whatever government choose to do or not to do, yaitu bahwa kebijakan publik adalah merupakan apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu maka harus ada tujuannya dan kebijakan publik itu harus meliputi semua tindakan pemerintah, jadi bukan semata-mata merupakan pernyataan pemerintah atau pejabat pemerintah saja. Selain itu sesuatu untuk tidak dilaksanakan oleh pemerintah, termasuk kebijakan publik akan mempunyai dampak yang sama dengan sesuatu yang dilaksanakan oleh pemerintah. Berdasarkan pandangan yang dikemukakan oleh para pakar tersebut di atas, menurut hemat penulis kebijakan publik (public policy) adalah serangkaian keputusan yang saling berkaitan yang dibuat oleh satu atau beberapa unit pemerintahan yang merupakan konsep atau azas yang menjadi dasar atau pedoman bagi seseorang atau suatu instansi pemerintah untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu dengan maksud dan tujuan tertentu, dalam rangka menjalankan tugas-tugas pemerintahan.

Yantini - 09870098

21

2.1.2 Model Kebijakan Publik Memang ada beberapa model atau pendekatan yang dapat membantu untuk menelaah proses pembuatan kebijakan. Kegunaan model atau pendekatan tersebut, paling tidak untuk mempermudah pemahaman dalam proses perumusan kebijakan publik sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing, kendati dari setiap model memiliki kelebihan dan kekurangan karena tergantung pada focus of interest pada aspek dinamika kebijakan publik. Thoha (1992: 82) mendefinisikan model adalah Bentuk abstraksi dari suatu kenyataan. Ia merupakan suatu perwakilan yang disederhanakan dari beberapa gejala dunia kenyataan. Model dipergunakan dengan berbagai cara dalam kehidupan manusia. Ia bias berupa percontohan fisik, seperti misalnya suatu model pesawat Nurtanio, dapat pula berupa diagram, seperti diagram peta bumi provinsi Jawa Timur, atau peta jaringan jalan tol yang akan dibangun. Demikian banyak model yang dipergunakan untuk menjelaskan berbagai aspek kehidupan nyata ini. Oleh karena itu, model yang dipergunakan untuk kepentingan pembahasan kebijakan publik, bukan berarti untuk memberikan penilaian model yang satu lebih baik daripada model yang lain, namun berusaha untuk membantu atau mengkomunikasikan karakter dari masing-masing model tersebut, sehingga mampu memberikan penjelasan terhadap model-model proses kebijakan yang akan diambil. Dengan demikian, membuat kebijakan publik ini merupakan studi tentang proses pembuatan keputusan, karena bukankah kebijaksanaan pemerintah (public policy) ini merupakan pengambilan keputusan (decision making) dan pengambilan kebijaksanaan (policy making), yaitu memilih dan menilai informasi yang ada

Yantini - 09870098

22

untuk memecahkan masalah. Atau dengan perkataan lain, persoalan kebijakan tersebut yaitu penjelasan tujuan penguraian kecenderungan, penganalisaan keadaan, proyeksi pengembangan masa depan dan penelitian, penilaian dan penelitian, serta penilaian dan pemilihan kemungkinan. Pemanfaatan model memang merupakan peranan model itu sendiri terhadap kebijakan publik, dan dalam pementingan karya tulis ini, akan dijelaskan beberapa berdasarkan pengelompokan seperti yang dikemukakan oleh beberapa pakar ilmu politik. Ada beberapa model yang dipergunakan dalam pembuatan public policy, yaitu sebagai berikut: 1. Model Elit Yaitu pembentukan public policy hanya berada pada sebagian kelompok orang-orang tertentu yang sedang berkuasa. Walaupun pada kenyataannya mereka sebagai preferensi dari nilai-nilai elit tertentu tetapi mereka masih saja berdalih merefleksikan tuntutan-tuntutan rakyat banyak. Oleh karena itu

mereka cenderung pengendalian dengan kontinyu, dengan perubahanperubahan hanya bersifat tambal sulam. Masyarakat banyak dibuat sedemikian rupa tetap miskin informasi. 2. Model Kelompok Berlainan dengan model elit yang dikuasai oleh kelompok tertentu yang berkuasa, maka pada model ini terdapat beberapa kelompok kepentingan (interest group) yang saling berebutan mencari posisi dominan. Jadi dengan demikian model ini merupakan interaksi antar kelompok dan merupakan fakta

Yantini - 09870098

23

sentral dari politik serta pembuatan public policy. Antar kelompok mengikat diri secara formal atau informal dan menjadi penghubung pemerintah dan individu. 3. Model Kelembagaan Yang dimaksud dengan kelembagaan di sini adalah kelembagaan pemerintah. Yang masuk dalam lembaga-lembaga pemerintah seperti eksekutif (presiden, menteri-menteri dan departemennya), lembaga legislative (parlemen), lembaga yudikatif, pemerintah daerah dan lain-lain. Dalam model ini public policy dikuasai oleh lembaga-lembaga tersebut, dan sudah barang tentu lembaga tersebut adalah satu-satunya yang dapat memaksa serta melibatkan semua pihak. Perubahan dalam kelembagaan pemerintah tidak berarti perubahan kebijaksanaan. 4. Model Proses Model ini merupakan rangkaian kegiatan politik mulai dari identifikasi masalah, perumusan usul pengesahan kebijaksanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Model ini akan memperhatikan bermacam-macam jenis kegiatan pembuatan kebijaksanaan pemerintah (public policy). 5. Model Rasialisme Model ini bermaksud untuk mencapai tujuan secara efisien, dengan demikian dalam model ini segala sesuatu dirancang dengan tepat, untuk meningkatkan hasil bersihnya. Seluruh nilai diketahui seperti kalkulasi semua pengorbanan politik dan ekonomi, serta menelusuri semua pilihan dan apa saja konsekuensinya, perimbangan biaya dan keuntungan (cost and benefit).

Yantini - 09870098

24

6. Model Inkrementallisme Model ini berpatokan pada kegiatan masa lalu dengan sedikit perubahan. Dengan demikian hambatan seperti waktu, biaya dan tenaga untuk memilih alternatif dapat dihilangkan. Dalam arti model ini tidak banyak bersusah payah, tidak banyak beresiko, perubahan-perubahannya tidak radikal tidak ada konflik yang meninggi kestabilan terpelihara tetapi tidak berkembang (konservatif) karena hanya menambah dan mengurangi yang sudah ada. 7. Model Sistem Model ini beranjak dari memperhatikan desakan-desakan lingkungan yang antara lain berisi tuntutan, dukungan, hambatan, tantangan, rintangan, gangguan, pujian, kebutuhan atau keperluan dan lain-lain yang mempengaruhi public policy. Dan setelah diproses akan mengeluarkan jawaban. Desakan lingkungan sebagaimana yang penulis sampaikan di atas, dianggap masukan (input) sedangkan jawabannya dianggap keluaran (output), yang berisi keputusan-keputusan, peraturan-peraturan, tindakan-tindakan, kebijaksanaankebijaksanaan dari pemerintah (Syafiie: 1994). 2.1.3 Implementasi Kebijakan Publik Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian yang luas,

merupakan alat administrasi hukum dimana aktor, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan. Implementasi kebijakan tidak hanya berkaitan dengan mekanisme operasional kebijakan keadaan ke dalam prosedur-prosedur birokrasi melainkan

Yantini - 09870098

25

juga terkait dengan masalah konflik keputusan dan bagaimana suatu kebijakan itu diperoleh kelompok-kelompok sasaran, untuk mencermati proses implementasi kebijakan, terlebih dahulu perlu dipahami beberapa konsep tentang implementasi kebijakan. Dalam kamus Webster sebagaimana yang dikutip Wahab dalam Putra (2001: 81) dirumuskan bahwa Implementasi kebijakan merupakan suatu proses pelaksanaan keputusan kebijakan (biasanya dalam bentuk Undang-Undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan, perintah eksekutif, atau dekrit Presiden. Pemahaman lebih lanjut tentang pelaksanaan kebijakan dirumuskan oleh Uddodji dalam Putra (2001: 79), menyatakan sebagai berikut: The execution of policies is a important if not more important than policy-making. Policies will remain dreams or blue prints file jackets unless they are implemented. (Pelaksanaan kebijakan adalah suatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih penting dari pembuatan kebijakan. Kebijakan-kebijakan hanya akan berupa impian atau rencana yang bagus, yang tersimpan dengan rapi dalam arsip kalau tidak diimplementasikan. Implementasi kebijakan perlu dilakukan secara arif, bersifat situasional, mengacu pada semangat kompetensi dan berwawasan pemberdayaan. Hal ini dinyatakan oleh Wahab, Setyodarmodjo, dalam Putra (2001: 80) sebagai berikut: Implementasi suatu kebijakan publik biasanya terjadi interaksi antara lingkungan yang satu dengan yang lainnya melalui komunikasi dan saling pengertian dari para pelaku (aktor) yang terlibat. Kegagalan komunikasi biasanya terjadi karena pesan yang disampaikan tidak jelas, sehingga membingungkan penerima pesan. Kesalahan interpretasi menyebabkan perbedaan persepsi bahkan mempengaruhi pengertian masyarakat yang terkena kebijakan. Terjadinya proses saling pengertian dalam implementasi kebijakan publik, menurut Andersen (1997: 133) adalah: tergantung bagaimana usaha pemerintah dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat secara psikologis dalam proses

Yantini - 09870098

26

sosialisasi kebijakan tersebut. John (1997: 64) mengemukakan bahwa: Implementasi kebijakan publik bersifat saling mempengaruhi dengan kebijakankebijakan yang mendahuluinya. Dengan demikian implementasi kebijakan

publik merupakan kegiatan pengoperasian sebuah program yang mempunyai tiga pilar kegiatan, antara lain yaitu: 1) Organisasi, yaitu penataan sumber daya, unit-unit serta metode untuk menunjang agar program tersebut dapat berjalan. 2) Interpretasi, yakni penafsiran program agar menjadi rencana yang tepat sehingga dapat diterima dan dilaksanakan. 3) Penerapan, yaitu pelayanan sesuai dengan tujuan. Menurut Wibawa (1994) yang mengutip pendapat Van Meter dan Van Horn, terdapat beberapa variabel penentu dalam penerapan dan implementasi kebijakan publik, antara lain: 7. Ukuran dan tujuan kebijakan. 8. Sumber daya 9. Keaktifan komunikasi anta lembaga-lembaga yang terlibat dalam implementasi kebijakan dan keaktifan pelaksanaan kebijakan. 10. Karakteristik lembaga pelaksana kebijakan. 11. Kondisi sosial, politik dan ekonomi. 12. Sikap para pelaksana. Implementasi kebijakan publik pada dasarnya melibatkan berbagai pihak meskipun dengan persepsi dan kepentingan yang berbeda, bahkan sering terjadi pertentangan kepentingan antar lembaga atau pihak yang terlibat. Menurut

Yantini - 09870098

27

Edward III (1980: 9) terdapat empat variabel yang menentukan suksesnya implementasi kebijakan publik, yaitu: Communication (komunikasi), resources (sumber daya), disposition atau attitudes (sikap), dan bureaucratic structure (struktur birokrasi). Keempat variabel dalam penerapannya sangat simultan,

saling berinteraksi dan saling mempengaruhi, secara visual dapat digambarkan sebagai berikut:

Komunikasi (Communication) Sumber Daya (Resources) Implementasi Kebijakan (Policy Implementastion) Sikap (Attitudes) Struktur Birokrasi (Buereaucratic Structure) Sumber: George C. Edward III, 1980: 9 Gambar 2 Hubungan Interaksi Antara Variabel yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan Publik Gambar tersebut menunjukkan bahwa di dalam implementasi

kebijaksanaan ada empat variabel yang sangat mempengaruhi dan satu sama lain saling berkaitan. Edward III (1980: 10) menjelaskan hubungan keterkaitan

variabel tersebut sebagai berikut: 1) Komunikasi. Agar supaya implementasi kebijaksanaan efektif, maka siap yang bertanggung jawab dalam implementasi harus paham apa yang harus dilakukannya. Pemerintah maupun tugas untuk penerapan kebijaksanaan harus

Yantini - 09870098

28

disalurkan kepada personil yang tepat, harus jelas, akurat dan konsisten. Komunikasi sangat penting, artinya, karena dalam implementasi kebijakan setiap perintah pelaksanaan harus jelas, tepat, dimengerti dan dipahami oleh pelaksana. Apabila pelaksana kurang jelas dalam memahami arti kebijakan yang harus dikerjakan, maka akan membingungkan dan akan terjadi kekeliruan dalam penerapan kebijakan tersebut. Ada tiga indikator yang dapat dipakai mengukur keberhasilan komunikasi yaitu: a) Transmisi penyaluran komunikasi. Sebelum orang dapat

menerapkan satu keputusan, mereka harus sudah siap dan mengerti bahwa keputusan sudah diambil dan perintah untuk implementasi sudah dikeluarkan. Hal ini seiring tidak berlangsung mulus sebagaimana mestinya, dan yang paling sering adalah ketidaktahuan atau salah pengertian, apalagi kalau terjadi adanya ketidaksetujuan daripada pelaksana penerapan terhadap implementasi kebijakan tersebut. Dengan adanya ketidaksetujuan akan menimbulkan distorsi, para aparat sering menginterpretasikan kebijakan menurut persepsinya sendiri. b) Kejelasan komunikasi. Selain harus sampai kepada pelaksana yang

tepat komunikasi juga harus jelas. Seiring terjadi, sampaikan instruksi kepada para pelaksana membingungkan, kabur dan tidak jelas secara spesifik kapan dan bagaimana program kebijakan itu harus dilaksanakan. Kemungkinan penyebabnya antara lain: 1) Kompleksnya kebijakan publik. 2) Bertujuan untuk tidak menyinggung sekelompok masyarakat. 3) Tidak adanya kesepakatan dalam pencapaian tujuan kebijakan, 4) Masalah

Yantini - 09870098

29

mulainya kebijakan baru. 5) Menghindari kemungkinan mencari keuntungan, dan 6) karena di sengaja. c) Konsistensi, ketepatan dan keajegan. Perintah pelaksanaan satu

kebijakan harus konsisten dan jelas kalau mau berjalan efektif. Dengan instruksi yang tidak konsisten atau kadang-kadang kontradiktif akan menimbulkan kesulitan bagi para pelaksana, terutama untuk menentukan instruksi yang mana yang harus diikutinya. Apabila hal ini terjadi, para pelaksana akan bersikap menunggu (pasif) atau melaksanakan salah satu yang mereka sukai. 2) Sumber daya sangat penting artinya dalam penerapan kebijakan. Bagaimanapun jelas dan dipahami kebijakan tersebut. Namun, apabila tidak di dukung oleh sumber daya yang memadai maka penerapan kebijakan akan kurang efektif. Sumber tersebut antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut: a) Sumber Daya Manusia, jumlah dan keterampilannya yang cukup

memadai. Ini sangat menentukan tercapainya efektivitas implementasi kebijakan publik. b) Kewenangan yang dimilikinya cukup kuat, bagaimana banyak dan

keterampilannya staf yang dimiliki oleh instansi pelaksana kebijakan publik, akan tetapi tidak efektif apabila kewenangan untuk melakukan kegiatan dari para pelaksana tidak ada. c) Informasi yang dimilikinya cukup dan akurat. Dalam hal ini

informasi dapat berupa informasi atau pengetahuan yang diperlukan untuk implementasi kebijakan tersebut. Informasi dapat merupakan hal yang

Yantini - 09870098

30

bersifat teknis, sub-teknis dapat pula standar-standar, tarif atau aturanaturan tertentu, misalnya: melaksanakan kebijakan lingkungan hidup selain diperlukan informasi teknis juga diperlukan aturan atau standar untuk melakukan pemakaian pelaksanaan kebijakan. d) Biaya yang disediakan sesuai dengan kebutuhan. Bagaimanapun

juga untuk melaksanakan suatu kebijakan publik agar berhasil dan efektif, memerlukan biaya yang tidak sedikit. 3) Sikap dan kesiapan pelaksana. Yang tidak kalah penting adalah faktor sikap dan kesiapan aparatur pelaksana kebijakan, terutama menyangkut adanya sikap menerima, merasa terpanggil, keinginan atau menjadi satu kewajibannya untuk menyukseskan implementasi kebijakan. Apabila para pelaksana menerima dengan baik suatu kebijakan yang ditetapkan, mereka akan lebih antusias dalam penerapan kebijakan tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan pengambil keputusan. Akan tetapi, apabila sikap dan kesiapan aparatur pelaksana berbeda dengan pengambil keputusan, maka proses implementasi kebijakan akan menjadi semakin pelik. Apalagi kalau pelaksana kebijakan itu seorang pejabat tinggi yang mempunyai kebebasan bertindak yang cukup besar, bila sikap atau pandangannya berbeda dengan pengambil keputusan, maka kebijakan tersebut akan sampai ke daerah ketidakpedulian, artinya pelaksanaan akan terhambat. Mungkin juga terjadi para pelaksana berpandangan picik, karena dengan adanya penerapan kebijakan baru maka kepentingan pribadi atau organisasi menjadi penerapan atau dirugikan. Sikap para pelaksana bahkan akan menghalangi. Penerapan

Yantini - 09870098

31

kebijaksanaan baru, apabila tidak setuju secara substansial atas kebijakan tersebut. Untuk mengurangi hambatan-hambatan di atas, banyak cara yang bisa di tempuh, antara lain bila menyangkut pejabat pemerintah dapat dengan cara mengalih tugaskan mereka yang menolak atau yang bersikap picik terhadap kebijakan baru dan menggantinya dengan pejabat baru yang setuju, baik mutasi atau penunjukan. Cara lain yang juga dapat ditempuh ialah dengan memberi insentif baik di berikan dalam bentuk material maupun non material. 4) Struktur Birokrasi. Faktor ini pengaruhnya sangat besar terhadap keberhasilan implementasi suatu kebijakan. Struktur birokrasi dimaksud adalah meliputi dua hal, yaitu prosedur operasional standar yang harus bersifat baku dan rutin dalam satu jaringan birokrasi dan fragmentasi dalam berbagai unit organisasi yang terlibat dapat mencerminkan ada tidaknya koordinasi, pemborosan, duplikasi dan lain sebagainya. a) Adanya prosedur operasional standar akan menghemat waktu bagi

para pelaksana kebijakan, apalagi bila penyususnannya sudah menghitung efisiensi, menghilangkan mata rantai yang terlalu panjang dan berbelitbelit. Prosedur operasional standar juga dapat menyeragamkan tindakan para pejabat pelaksana, terutama dalam kebijakan yang rumit atau dalam organisasi yang tersebar luas. Dengan adanya prosedur operasional standar mungkin juga pengalihan urusan lebih luwes, serta kesamaan penerapan ketentuan yang tercantum dalam peraturan, misalnya seperti tarif, bea, retribusi.

Yantini - 09870098

32

b)

Fragmentasi Organisasi, adalah penyebaran tanggung jawab atas

satu kebijakan publik kepada beberapa organisasi pemerintahan, hal ini memberikan implementasi pengaruh yang cukup besar terhadap banyak keberhasilan aktor atau

kebijakan.

Sebab

semakin

instansi/lembaga pemerintah yang terlibat dalam implementasi kebijakan publik, maka semakin sedikit kemungkinan berhasilnya implementasi kebijakan tersebut. Fragmentasi dan implementasi kebijakan publik adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari, karena kebijakan publik merupakan satu rangkaian keputusan yang melibatkan banyak aktor, baik individu maupun institusi. Fragmentasi terjadi baik secara horizontal maupun

vertikal, yakni dari instansi pemerintah tingkat pusat, tingkat wilayah regional, maupun daerah dan sampai ke tingkat desa. Makin luasnya fragmentasi, masalah yang sulit diatasi ialah koordinasi. Menyatupadukan gerak kegiatan berbagai lembaga pemerintahan dengan berbagai macam tujuan dan permasalahan masing-masing selalu menjadi penghambat dalam implementasi kebijakan publik, karena sering terjadi duplikasi, tumpang tindih, pemborosan, jalur birokrasi yang berbelit-belit dan saling melempar tanggung jawab. Winarno (2002:101) menyatakan implementasi kebijakan, yaitu sebagai berikut: Implementasi kebijakan di pandang dalam pengertian yang luas, merupakan alat administrasi hukum di mana berbagai aktor, organisasi, prosedur dan teknik yang bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang di inginkan. Implementasi pada sisi yang lain merupakan sebagai fenomena yang

Yantini - 09870098

33

kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai proses, keluaran (output) maupun sebagai hasil. Van Meter dan Van Horn dalam Winarno, (2002: 102) membatasi implementasi kebijakan, yaitu sebagai berikut: Sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu (atau kelompok-kelompok) pemerintah maupun swasta yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah di Tetapkan dalam keputusankeputusan kebijakan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usahausaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Perlu ditekankan di sini adalah bahwa tahap implementasi kebijakan tidak akan di mulai sebelum tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran di Tetapkan atau diidentifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan. Dengan demikian, tahap implementasi terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut. Implementasi kebijakan merupakan salah satu tahap saja dari sekian tahap kebijakan publik. Hal ini berarti bahwa implementasi kebijakan hanya merupakan salah satu variabel penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu kebijakan di dalam memecahkan persoalan-persoalan publik. Lineberry dalam Putra (2001: 81) menyatakan bahwa proses implementasi setidak-tidaknya memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (1) Pembentukan unit organisasi baru dan staf pelaksana; (2) Penjabaran tujuan ke berbagai aturan pelaksana (standard operating procedures/SOP); (3) Koordinasi sebagai s umber dan pengeluaran kepada kelompok sasaran; (4) Pembagian tugas di dalam dan di antara dinasdinas/badan pelaksana; (5) Pengalokasian sumber-sumber untuk mencapai tujuan.

Yantini - 09870098

34

Mater dan Horn dalam kaitan implementasi kebijakan menawarkan suatu model dasar yang memiliki enam variabel yang membentuk ikatan (linkage) antara kebijakan dan pencapaian (performance) dengan harapan dapat menguraikan proses-proses keputusan dapat dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:
Ukuran dan tujuan

Komunikasi organisasi dan kegiatan pelaksanaan

Kebijaksanaan

Karakteristikkarakteristik dan badan pelaksanaan

Kecenderungan pelaksanaan

Pencapaian

Sumbersumber

Sumbersumber

Sumber: Van Matter dan Van Horn dalam Budi Winarno, Buku: Teori dan Proses Kebijakan Publik (2002: 111) Gambar 3 Model Proses Implementasi Kebijakan Gambar proses implementasi kebijakan dari Van Mater dan Van Horan tersebut di atas, dapat dijelaskan simpel sebagai berikut: Variabel ukuran dasar dan tujuan kebijakan ini didasarkan pada kepentingan dalam pencapaian kebijakan dan menilai sejauh mana ukuran dasar dan tujuan kebijakan telah direalisasikan gunanya untuk menguraikan tujuan keputusan secara menyeluruh dengan melakukan berbagai identifikasi ukuran dan tujuan tersebut yang pada akhirnya ukuran pencapaian tujuan bergantung pada tujuan yang didukung oleh penelitian.

Yantini - 09870098

35

Sumber Kebijakan, yang dimaksud adalah meliputi dana atau perangsang (incentive) yang mendorong dan memperlancar implementasi yang efektif. Artinya perencanaan program perlu didukung dana baik besar maupun kecil faktor tersebut turut menentukan keberhasilan implementasi kebijakan. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksanaan. Artinya pencapaian kebijakan ditentukan pula oleh ketepatan komunikasi antar pelaksana walaupun komunikasi dalam organisasi merupakan proses yang sulit, tetapi kejelasan ukuran dan tujuan dengan ketepatan dan konsistensi komunikasi menentukan prospek implementasi yang efektif yang meliputi pelaku dan mekanisme dalam organisasi birokrasi, struktur, hukum, yang terakumulasi dalam suatu bentuk kekuasaan dan kewenangan. Karakteristik badan pelaksana, hal ini adalah menyangkut dengan struktur birokrasi yang diartikan sebagai karakteristik, norma dan pola hubungan dalam menjalankan kebijakan. Komponen dari model ini terdiri dari ciri-ciri struktur formal dari organisasi dan atribut-atribut yang tidak formal dari personil. Kondisi ekonomi, sosial dan politik, yaitu merupakan yang memberikan dampak terhadap kebijakan yang memiliki efek terhadap pencapaian badan-badan pelaksana di dalam kaitannya dengan dampak lingkungan. Kecenderungan pelaksana (implementers), yaitu pada tahap ini pengalaman individu dalam memegang peranan dengan mengidentifikasi unsur tanggapan pelaksanaan yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan, yakni: kognisi (komprehensif, pemahaman) tentang kebijakan, macam tanggapan terhadapnya (penerima, netralis, penolakan), dan intensitas tanggapan itu.

Yantini - 09870098

36

Akhirnya kecenderungan pelaksana akan mempengaruhi pencapaian kebijakan, tetapi peran pengawasan tetap dioptimalkan demi efektivitas implementasi. Implementasi kebijakan dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadi setelah suatu program di rumuskan dan dilaksanakan, serta apa dampak yang ditimbulkannya. Di samping itu, implementasi kebijakan tidak hanya terkait pada persoalan birokrasi administratif saja melainkan juga mengkaji faktor-faktor lingkungan (di luar birokrasi) seperti Organisasi kemasyarakatan, hal ini untuk, menghindari pertentangan dalam pelaksanaan antar- implementers (antar unit birokrasi dan non birokrasi) yang berpengaruh pada proses implementasi kebijakan. Implementasi pada sisi lain, merupakan fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai proses keluaran (output). Kekurangpahaman terhadap implementasi kebijakan mendorong para pelaku dihadapkan ada kegagalan suatu kebijakan yang tidak seirama dengan perencanaan, dikarenakan tidak memadai suatu program yang direncanakan yang mengakibatkan ketidakberhasilan dalam implementasi program atau kebijakan. 2.1.4 Analisis Kebijakan Publik 2.1.4.1 Pengertian Analisis Kebijakan Patton and Sawicki (1986:7-8) menguraikan bahwa analisis kebijakan pertama kali diperkenalkan oleh Charles E. Londblom pada tahun 1958. Lindblom mengaitkan istilah tersebut dengan sebuah tipe analisis kuantitatif mengenai peningkatan perbandingan-perbandingan, dimana metode non-

Yantini - 09870098

37

kuantitatif digunakan dalam hubungan antara nilai dan kebijakan. Sejak beberapa tahun analisis kebijakan juga didefinisikan sebagai berikut: a. Alat untuk mensitesa informasi dan hasil-hasil penelitian

untuk menghasilkan format keputusan-keputusan kebijakan (perencanaan alternatif pilihan) dan penentuan kebutuhan di masa depan sesuai dengan informasi tersebut. b. Suatu proses yang rumit dalam menganalisis,

merumuskan dan mengelola konflik politik yang timbul karena perubahan kota. c. Suatu investigasi yang sistematik tentang alternatif

kebijakan dan penyusunan serta penyatuan bukti-bukti yang mendukung atau bertentangan terhadap setiap pilihan. Termasuk di dalamnya pendekatan dalam pemecahan masalah, pengumpulan dan penafsiran informasi serta berbagai usaha dalam memprediksikan konsekuensi dari alternatif-alternatif tindakan yang dilakukan. d. Proses pemilihan kebijakan terbaik antara sejumlah

alternatif beserta alasan dan bukti-buktinya. e. Suatu disiplin terapan yang menggunakan metode

penyelidikan beragam serta argumen untuk menghasilkan dan mengubah informasi kebijakan yang relevan yang berguna bagi pemecahan masalahmasalah umum di bidang politik. f. Suatu bentuk penelitian terapan untuk mendapatkan

pemahaman yang dalam tentang isu sosial dan mencari solusi terbaik.

Yantini - 09870098

38

Penggunaan ilmu pengetahuan modern dan teknologi dalam menanggulangi masalah sosial, pencarian analisis kebijakan untuk pengambilan tindakan, penurunan informasi, dan pengumpulan bukti tentang keuntungan serta konsekuensi lain yang akan diterima dalam proses adaptasi dan implementasi untuk menolong pembuat kebijakan dalam memilih tindakan yang paling banyak manfaatnya. Stokey and Zeckhauser (1977:3) mengungkapkan bahwa analisis kebijakan dapat dilakukan dengan pendekatan yang didasarkan pada pandangan pembuat keputusan dengan berlandaskan pemikiran rasional (rational decision maker), yaitu mereka yang menetapkan tujuan dan menggunakan proses-proses logis untuk menyelidiki atau menemukan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. MacRae and Wilde (1985:4) mengemukakan policy analysis is the use reason and evidence to choose the best policy among a number of alternatives. (Analisis kebijakan adalah penggunaan alasan dan bukti untuk memilih kebijakan yang terbaik antara sejumlah alternatif). Patton and Sawicki (1986:15) memaparkan analisis kebijakan adalah sebuah proses yang diawali dengan definisi masalah, memberikan alternatif pilihan yang dokumen akhirnya dapat berupa memo, makalah, atau draf perundang-undangan. Analisis kebijakan memiliki klien khusus dan memiliki rentang waktu yang lebih pendek dan pendekatan politik terbuka. Secara lebih rinci Patton and Sawicki (1986:5) mengemukakan bahwa analisis kebijakan memiliki karakteristik sebagai berikut:

Yantini - 09870098

39

a.

Adanya tahapan inventarisir atau penelitian, terhadap

ruang lingkup yang terbatas yang berhubungan langsung dengan isu-isu. b. disajikan pada klien. c. Mempersiapkan memo, dokumen masalah, dokumen Meneliti berbagai alternatif untuk dievaluasi dan

kebijakan atau draft perundang-undangan. d. Memiliki klien khusus, seperti direktur eksekutif,

pegawai yang diberi wewenang, kelompok masyarakat, tetangga, bank yang memerlukan perspektif khusus dalam memandang masalah tersebut. e. Berorientasi pada isu dan masalah dengan memaparkan

setiap alternatif sebagai reaksi terhadap keadaan. f. Adanya kesepakatan di masa yang akan datang mengenai

pihak yang diberi kewenangan dan ketidakpastian. g. persetujuan. Dunn (1994:xiii) mengemukakan policy analysis is viewed as an applied social science discipline that employs multiple methods of inquiry, in contexts of argumentation and public debate, to create, critically assess, and communicate policy relevant knowledge (Analisis kebijakan dipandang sebagai suatu disiplin ilmu sosial terapan yang menerapkan berbagai metode pengkajian dalam konteks argumentasi dan debat publik, untuk menciptakan secara kritis, menaksir dan mengkomunikasikan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan). Adanya pendekatan politik untuk mendapatkan

Yantini - 09870098

40

Selain memandang analisis kebijakan sebagai ilmu, Dunn juga melihat analisis kebijakan sebagai suatu proses. Dunn (1994:29) mengemukakan analisis kebijakan adalah An intellectual and practical activity aimed at creating, critically assessing, and communicating knowledge of and in the policy making process. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis kebijakan adalah proses pengkajian secara logis dan sistematis terhadap suatu kebijakan untuk memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut.

2.1.4.2 Pendekatan dalam Analisis Kebijakan Dunn (1994) mengemukakan studi kebijakan adalah ilmu sosial terapan yang menggunakan sejumlah metode pengkajian dan argumentasi untuk menghasilkan dan mentrasformasikan informasi kebijakan yang relavan dalam rangka memecahkan masalah-masalah kebijakan. Informasi yang relevan sebagaimana dimaksud dalam definisi di atas meliputi: a. Informasi tentang policy problem, terutama pada aspek the nature of problem. b. Informasi tentang policy alternative, yaitu tindakan potensial yang dapat memberikan kontribusi untuk mencapai nilai-nilai pemenuhan kebutuhan dan peluang.

Yantini - 09870098

41

c. Informasi tentang policy action, yaitu seperangkat tindakan yang berpedoman kepada alternatif kebijakan yang dirancang untuk mencapai hasil kebijakan. d. Informasi tentang policy outcome, yaitu konsekuensi-konsekuensi dari tindakan kebijakan. e. Informasi tentang policy performance, yaitu tingkat kontribusi dari konsekuensi kebijakan terhadap pencapaian nilai-nilai kebutuhan dan peluang. Informasi-informasi tersebut di atas bersumber dari tiga pertanyaan, yaitu: 1) nilai yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat apakah masalah telah teratasi, 2) fakta yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan pencapaian nilai-nilai, dan 3) tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai-nilai. Untuk menghasilkan informasi sebagaimana dikemukakan di atas yang disandarkan kepada tiga pertanyaan ini, analisis kebijakan dapat memakai satu atau lebih dari tiga pendekatan analisis, yaitu Empirical, Valuative, dan Normative. Tabel 2-1 Tiga Pendekatan dalam Analisis Kebijakan Approach Primary Question Type of Information Empirical Does it and will it exist? (fact Descriptive and predictive Valuative Of what worth is it? (values) Valuative Normative What should be done? (action) Prescriptive Sumber: Dunn, William N. (1994). Public Policy Analysis: An Introduction (2nd ed.). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall. p-63 Pendekatan Empirical, merupakan suatu pendekatan yang menekankan terutama pada penjelasan berbagai sebab dan akibat dari suatu kebijakan publik.

Yantini - 09870098

42

Pertanyaan utama bersifat faktual (Apakah sesuatu ada?) dan macam informasi yang dihasilkan bersifat deskriptif dan prediktif. Pendekatan Valuative, yaitu pendekatan yang menekankan terutama pada penentuan bobot atau nilai dari kebijakan. Pertanyaan berkenaan dengan nilai (Berapa nilainya?) dan tipe informasi yang dihasilkan bersifat valuatif. Pendekatan Normative, yaitu suatu pendekatan yang menekankan pada rekomendasi serangkaian tindakan yang akan datang yang dapat menyelesaikan masalah-masalah publik. Dalam kasus ini, pertanyaan berkenaan dengan tindakan. (Apa yang harus dilakukan?). Patton dan Sawicki (1986) mengemukakan dua jenis analisis kebijakan yang tidak lain merupakan pendekatan analisis kebijakan sebagaimana dimaksudkan oleh Dunn (1994). Retrospective Descriptive Evaluative
ANALISIS KEBIJAKAN

Predictive

Prospective Prescriptive Sumber: Patton, Carl V. dan David S. Sawicki. (1986). Basic Methods of Policy Analysis and Planning. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall. Gambar 4 Jenis Analisis Kebijakan

Yantini - 09870098

43

Analisis kebijakan descriptive merupakan sebuah proses evaluasi terhadap kebijakan baru yang diimplementasikan. Analisis retrospective berhubungan dengan proses penggambaran dan penafsiran kebijakan terdahulu. Analisis ini berhubungan dengan pertanyaan Apa yang terjadi?; Analisis kebijakan

evaluative, berhubungan dengan evaluasi program. Analisis ini berhubungan dengan pertanyaan Apakah tujuan kebijakan dapat dicapai? Analisis kebijakan prospective terfokus pada hasil yang mungkin dicapai dari kebijakan yang diajukan. Analisis kebijakan predictive, adalah analisis yang menunjukkan proyeksi tentang masa yang akan datang yang diperoleh dari pemilihan fakta-fakta alternatif. Analisis kebijakan prescriptive, menunjukkan sebuah proses analisis kebijakan yang menghasilkan sebuah rekomendasi akhir.

2.2 Konsep Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


2.2.1 Pengertian Kurikulum Secara umum kurikulum dapat didefinisikan sebagai rencana pengajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli sebagaimana dipaparkan berikut. Taba

(Nasution, 2001:2) mengartikan kurikulum sebagai a plan for learning. Sukmadinata (2001:5) mengemukakan kurikulum merupakan rencana pendidikan atau pengajaran sebagai pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Beauchamp (Sukmadinata, 2001:5) menyatakan kurikulum adalah

suatu rencana pendidikan atau pengajaran.

Yantini - 09870098

44

Persoalan yang muncul adalah kandungan apa saja yang terdapat dalam kurikulum tersebut? Mengenai hal ini para ahli memberikan penekanan yang berbeda-beda. Pada mulanya penekanan kurikulum terfokus kepada isi kurikulum, sehingga kurikulum diartikan sebagai kumpulan mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau yang harus dipelajari siswa. Zais (Sukmadinata, 2001:4) dalam kaitan ini menyebutkan kurikulum sebagai a racecourse of subject matters to be mastered. Nasution (2001:9) mengemukakan kurikulum

merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan. Para ahli kurikulum menyebut definisi ini sebagai definisi tradisional. Perkembangan selanjutnya konsep kurikulum lebih menekankan kepada pengalaman belajar yang harus dikuasai siswa. Pergeseran ini ditegaskan oleh Doll (Sukmadinata, 2001:4) sebagai berikut the commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of course of study and list of subjects and courses to all the experiences which are offered to learners under the auspices or direction of the school. Saylor, Alexander dan Lewis (Ahmad, 1998:14) mengemukakan kurikulum berisi sekumpulan pengalaman belajar bagi anak didik. Secara lebih rinci Taba (Nasution, 2001:7) mengemukakan bahwa pada hakikatnya tiap kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak didik agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakatnya. Tiap kurikulum, bagaimanapun polanya, selalu mempunyai komponen-komponen tertentu, yakni pernyataan tentang tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar, dan akhirnya

Yantini - 09870098

45

evaluasi hasil belajar. David Pratt (Ahmad, 1998:12) mengemukakan kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah yang harus dikembangkan dalam diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang dipergunakan, dan kualitas guru yang dituntut. Pasal 1 ayat 19 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, mengemukakan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

2.2.2 Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


Mulyasa (2003:93) mendefinisikan implementasi kurikulum berbasis kompetensi sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu. Dapat diartikan pula sebagai aktualisasi dari kurikulum tertulis (written curriculum). Miller dan Seller sebagai mana dikutip Mulyasa (2003:94) mengemukakan implementasi kurikulum merupakan proses interaksi antara fasilitator sebagai pengembang kurikulum, dan peserta didik sebagai subjek belajar. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa implementasi kurikulum merupakan operasionalisasi kurikulum potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Mulyasa (2003:94) mengemukakan implementasi kurikulum dipengaruhi tiga faktor, yaitu:

Yantini - 09870098

46

a. Karakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup ide baru, suatu kurikulum dan kejelasannya bagi pengguna di lapangan. b. Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya, penyediaan buku kurikulum, dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan. c. Karakteristik pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum (curriculum planning) dalam pembelajaran. Secara garis besar Mulyasa (2003:95) mengemukakan implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. 2.3 Konsep Efektivitas Proses Belajar Mengajar Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti berhasil mencapai sasaran. Ensiklopedia Administrasi yang dikutip dalam Harits (2002:109) menyatakan bahwa efektivitas merupakan suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Dengan kata lain, efektivitas merupakan suatu pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan. Steers (1980:9) mengemukakan faktor-faktor yang mendorong

keberhasilan suatu organisasi ke dalam empat kelompok umum, yaitu (1) karakteristik organisasi, (2) karakteristik lingkungan. (3) karakteristik pekerja, dan (4) kebijakan dan praktek manajemen. Selanjutnya Gibson dalam Darma

(1987:25-26) menyatakan tiga macam perspektif efektivitas: 1. Efektivitas Individu, menekankan pada pelaksanaan tugas pekerja atau anggota organisasi. Tugas-tugas yang harus dilaksanakan adalah bagian dari pekerjaan atau posisi dalam organisasi tersebut.

Yantini - 09870098

47

2. Efektivitas kelompok, yang merupakan jumlah kontribusi dari seluruh anggota 3. Efektivitas organisasi, merupakan fungsi efektivitas individu dan kelompok. Hubungan antara ketiga perspektif tentang efektivitas tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut:

Efektivitas Organisasi Efektivitas Kelompok Efektivitas Individu Sumber: Gibson dalam Dharma, 1987. (Organisasi: Perilaku, Struktur dan Proses) Gambar 5 Hubungan Perspektif Efektivitas Individu, Kelompok, dan Organisasi Berdasarkan uraian di atas, efektivitas proses belajar mengajar dapat didefinisikan sebagai keberhasilan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan. Efektivitas proses belajar mengajar dapat diukur melalui tiga unsur utama, yaitu rencana pengajaran, pelaksanaan, dan evaluasi. Rencana pengajaran dapat terwujud melalui kalender pendidikan, program kerja tahunan, program kerja semester, program kerja bulanan, program kerja mingguan, jadwal pelajaran, serta satuan pelajaran. Semua program tersebut menurut Sanusi (1992:37) meliputi indikator 1) perencanaan pengorganisasian

Yantini - 09870098

48

bahan pengajaran, 2) pengelolaan kegiatan belajar mengajar, 3) pengelolaan kelas, 4) penggunaan media dan sumber pengajaran, 5) penilaian prestasi Satuan pelajaran sebagai suatu rencana program pengajaran merupakan kerangka acuan bagi terlaksananya proses belajar mengajar. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar merupakan muara dari segala pengetahuan teori, kemampuan dasar dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pengajaran. Perencanaan program belajar mengajar merupakan suatu perkiraan/proyeksi guru mengenai kegiatan yang akan dilakukan, baik oleh guru maupun oleh murid. Dalam kegiatan tersebut, harus jelas ke mana anak didik akan dibawa (tujuan), apa yang harus dipelajari (isi bahan pelajaran), bagaimana anak didik mempelajarinya (metode dan teknik), dan bagaimana kita mengetahui bahwa anak didik telah mencapai tujuan tersebut (penilaian). Tujuan, isi, metode, teknik, serta penilaian merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap program belajar mengajar yang merupakan pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Pelaksanaan mengajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan mengajar guru. Kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi ataupun mengatur lingkungan sebaikbaiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses belajar (Nasution, 1982:8) Proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Guru menentukan apakah proses belajar mengajar itu berpusat pada guru dengan

Yantini - 09870098

49

mengutamakan penggunaan metode memberitahukan ataukah berpusat pada siswa dengan mengutamakan penggunaan metode penemuan. Oleh karena itu keberhasilan belajar siswa sebagai salah satu indikator efektivitas mengajar dipengaruhi oleh perilaku mengajar guru dalam mewujudkan secara nyata peranan itu. Aktivitas mengajar yang terwujud dalam bentuk perilaku mengajar bukan hanya terbatas pada aktivitas menyampaikan sejumlah informasi pengetahuan dari bahan yang diajarkan, melainkan juga bagaimana bahan pelajaran tersebut dapat sampai pada siswa secara efektif dalam pengertian tercapainya kegiatan belajar yang mempunyai makna (meaningful learning). Proses mengajar pada hakekatnya merupakan interaksi antara guru dengan siswa. Keterpaduan proses belajar siswa dengan proses mengajar guru tidak

terjadi begitu saja, tetapi memerlukan pengaturan dan perencanaan yang seksama terutama menentukan komponen-komponen yang harus ada dan terlihat dalam proses pengajaran tersebut. Winkel (dalam Nasution, 1989:177) menjelaskan

terdapat tiga komponen utama dalam proses belajar mengajar yaitu komponen prosedur didaktik, komponen media pengajaran, dan komponen siswa dan materi pelajaran. Komponen prosedur didaktik, merupakan sarana kegiatan pengajaran yang dapat menimbulkan aktivitas siswa dalam proses belajar. Komponen ini akan berjalan dengan lancar bila memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, hakekat siswa sebagai individu yang terlibat dalam proses belajar mengajar, hakekat bahan pelajaran yang akan disampaikan pada siswa.

Yantini - 09870098

50

Komponen kedua adalah media pengajaran. Media pengajaran adalah aspek penting untuk membantu guru dalam menyajikan bahan pelajaran, juga mempermudah siswa dalam menerima pelajaran. Gagne (dalam Arief, 1986: 6) berpendapat bahwa media pendidikan adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Winkel (dalam Nasution, 1989:18) mengemukakan bahwa media pengajaran adalah suatu sarana non personal yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar yang memegang peranan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan instruksional. Komponen ketiga adalah komponen siswa dan materi pelajaran. Komponen ini harus mendapat perhatian dari guru karena ia harus mampu mendorong aktualisasi siswa dan memberi kesempatan untuk dapat

mengungkapkan perasaannya melakukan percobaan, bertingkah laku, serta diamati perkembangannya. Oleh karena itu siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan kemampuannya. Untuk mengetahui keberhasilan dari suatu proses belajar mengajar perlu diadakan penilaian atau evaluasi. Fungsi dari evaluasi tersebut menurut Sudjana (1989:14) adalah untuk mengetahui 1) tercapai tidaknya tujuan pengajaran, dan 2) keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru. Dengan demikian maka fungsi penilaian dalam proses belajar mengajar bermanfaat ganda, yakni bagi siswa dan guru. Bagi guru penilaian merupakan umpan balik sebagai suatu cara bagi perbaikan proses belajar mengajar selanjutnya. Sedangkan bagi siswa berfungsi sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar yang dicapai siswa.

Yantini - 09870098

51

Uraian di atas menggambarkan indikator-indikator yang terkait dengan komponen prosedur mengajar. Secara lebih terperinci indikator-indikator tersebut dikemukakan oleh Sanusi (1992:37), yakni 1) metode, media, dan latihan yang sesuai dengan tujuan pengajaran, mengajar, 2) komunikasi 4) mendorong dengan dan siswa, 3)

mendemonstrasikan

metode

menggalakan

keterlibatan siswa dalam pengajaran, 5) mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan relevansinya, 6) pengorganisasian waktu, ruang, bahan, dan perlengkapan pengajaran, serta 7) mengadakan evaluasi belajar mengajar.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara/langkah dalam mengumpulkan, mengorganisasikan, menganalisis, serta menginterpretasikan data. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarno Surakhmad (1994: 131) yang menyatakan bahwa metode merupakan suatu cara utama yang dipergunakan untuk mencapai tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan mempergunakan teknik serta alat tertentu. Dalam hal ini, cara utama itu dipergunakan setelah penyelidik memperhitungkan kewajarannya ditinjau dari tujuan penyelidikan serta situasi penyelidikan. Berdasarkan tingkat penjelasan dan bidang penelitian, jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan verifikatif. Traver Travens (dalam Husain Umar 2001: 21) menjelaskan bahwa Penelitian dengan menggunakan metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. Penelitian deskriptif di sini bertujuan untuk memperoleh deskripsi atau gambaran mengenai implementasi kebijakan KBK/KTSP dan efektivitas pembelajaran di SMP Negeri dan Swasta, khususnya untuk mata pelajaran IPS.

52

Yantini - 09870098

53

Adapun sifat penelitian yang verifikatif pada dasarnya ingin menguji kebenaran dari suatu hipotesis yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan. Dalam penelitian ini akan diuji satu model utama dan tiga sub-

strukturnya. Dengan demikian terdapat empat model, yaitu: 1. Pengaruh variabel X1 X2 X3 dan X4 terhadap Y1, Y2, dan Y3 (keseluruhan). 2. Pengaruh variabel X1 X2 X3 dan X4 terhadap Y1 (parsial) 3. Pengaruh variabel X1 X2 X3 dan X4 terhadap Y2 (parsial) 4. Pengaruh variabel X1 X2 X3 dan X4 terhadap Y2 (parsial) Berdasarkan jenis penelitian di atasyaitu penelitian deskriptif dan verifikatif yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapanganmetoda yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah survey explanatory. Fraenkel & Wallen (1993: 288) menyatakan bahwa kajian explanatory yang bersifat korelasi itu bertujuan untuk menjelaskan pemahaman kita mengenai fenomena yang penting melalui identifikasi hubungan antara dua variabel atau lebih. Menurut Kerlinger (dalam Sugiyono, 1996: 7), yang dimaksud dengan metode survey adalah metode penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sample yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan deskripsi dan hubungan antar variabel. Dalam penelitian yang menggunakan metode ini, informasi dari sebagian populasi dikumpulkan langsung di tempat kejadian secara empirik dengan tujuan mengetahui pendapat dari sebagian populasi terhadap objek yang sedang diteliti.

Yantini - 09870098

54

3.2 Populasi dan Sampel Populasi Populasi merupakan sekelompok objek yang dapat dijadikan sumber penelitian. Menurut Sudjana (1997: 66): Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung atau pengukuran kuantitatif maupun kualitas mengenai karakteristikkarakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang dipelajari sifat-sifatnya. Berkaitan dengan itu, Sugiyono (1996: 72) mendefinisikan populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Berdasarkan pengertian di atas, populasi (unit analisis) dalam penelitian ini adalah sekolah, yaitu seluruh SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Bandung Barat yang berjumlah xxx unit.

Sampel Untuk pengambilan sampel dari populasi agar diperoleh sampel yang representatif dan mewakili, maka diupayakan setiap subjek dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk menjadi sampel. Menurut Suharsimi

Arikunto (1998: 117), yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sedangkan menurut Sugiyono (2002: 73), yang dimaksud dengan sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tertentu.

Yantini - 09870098

55

Dalam suatu penelitian tidak mungkin semua populasi diteliti, dalam hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya keterbatasan biaya, tenaga dan waktu yang tersedia. Oleh karena itu, peneliti diperkenankan mengambil sebagian dari objek populasi yang ditentukan, dengan catatan bagian yang diambil tersebut mewakili yang lain yang tidak diteliti. Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiyono (2002 : 73): Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu, sampel dari populasi harus benar-benar mewakili. Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi penelitian, yaitu sebagian dari unit analisis, yang berjumlah xx sekolah, dengan guru IPS sebanyak xx orang.

3.3 Operasionalisasi Variabel Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memudahkan atau mengarahkan dalam menyusun alat ukur data yang diperlukan berdasarkan variabel yang terdapat pada hipotesis. Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan batasan operasional dari variabel penelitian beserta sub

variabel/dimensi, dan indikator sebagaimana tercantum pada tabel di bawah ini:

Yantini - 09870098

56

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Variabel


Implementasi Kebijakan KBK/KTSP (Variabel X)

Dimensi
Komunikasi (X1) Sumberdaya (X2)

Indikator
Transmisi penyaluran komunikasi Kejelasan komunikasi Konsistensi, ketepatan dan keajegan Jumlah SDM Keterampilan SDM Kewenangan SDM Kecukupan Informasi Alokasi Biaya Sikap menerima, merasa terpanggil, keinginan terlibat dalam suatu implementasi kebijakan Tingkat kesiapan pelaksana Kesesuaian sikap pelaksana dan pembuat kebijakan Ketersediaan Prosedur Operasional Standar Tingkat koordinasi struktur Tingkat fragmentasi struktur Tingkat ketuntasan dan performance siswa dalam setiap unit Satuan Pembelajaran sebagai pedoman guru serta diberikan kepada siswa Pandangan terhadap kemampuan siswa saat mengikuti satuan pembelajaran tertentu dengan variasi kemampuan siswa

Item

Skala
Ordinal

Sikap dan kesiapan pelaksana (X3)

Struktur Birokrasi (X4) Efektivitas Pembelajaran (Variabel Y) Dikdasmen (2004) Perencanaan

Ordinal

Yantini - 09870098

57

Variabel

Dimensi
Pelaksanaan

Indikator
Bentuk pembelajaran dalam setiap standar kompetensi yang dilaksanakan melalui pendekatan klasikal, kelompok, dan individual Cara pembelajaran dalam setiap standar kompetensi yang dilakukan melalui penjelasan guru, membaca secara mandiri dan terkontrol, berdiskusi, dan belajar secara individu Orientasi pembelajaran yang mengacu pada prestasi siswa secara individual Peranan guru sebagai pengelola pembelajaran Fokus kegiatan pembelajaran yang ditujukan kepada masing-masing siswa secara individu Penentuan keputusan satuan pembelajaran yang ditentukan siswa dengan bantuan guru Instrumen umpanbalik dalam menggunakan berbagai jenis dan bentuk capaian secara berkelanjutan Cara membantu siswa dengan menggunakan sistem tutor dalam diskusi kelompok kecil dan tutor secara individual

Item

Skala
Ordinal

Evaluasi

Ordinal

3.4 Penentuan Instrumen Penelitian Ketepatan pengujian suatu hipotesis tentang hubungan variabel penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Untuk itu diperlukan dua macam tes, yaitu test validitas (uji kesahihan) dan test reliabilitas (uji keandalan). Dengan demikian langkah-langkah untuk menentukan instrumen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Yantini - 09870098

58

1. Menentukan sumber primer (populasi dan sampel) 2. Membuat kuesioner sesuai dengan kisi-kisi operasionalisasi variabel 3. Mengujicobakan kuesioner 4. Menguji validitas dan reliabilitas kuesioner 5. Merevisi kuesioner bila diperlukan 6. Menyebarkan angket ke lapangan kepada sumber primer (sampel) 7. Mengolah data

Uji Validitas Instrumen Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur (Masri Singarimbun, 1995: 124) . Hal ini berarti apabila peneliti menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka kuesioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukurnya. Selanjutnya uji validitas untuk jawaban kuesioner tingkat pengukuran Likerts Summated Rating dilakukan melalui teknik korelasi antara masingmasing item pertanyaan/pernyataan dengan total item pertanyaan/pernyataan tersebut. Karena data yang diperoleh adalah data yang bersifat ordinal, maka uji korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi Rank-Spearman (SpearmansRho). dengan rumus sebagai berikut: rs =

+ y 2 d i2

x . y
2

(Sidney Siegel 1992: 256)

Untuk menentukan validitas sebuah pertanyaan/pernyataan dilakukan uji-t, dengan rumus sebagai berikut:

Yantini - 09870098

59

t = rs .

N 2 1 rs
2

(Sidney Siegel 1992: 263) yang diperoleh

Dengan taraf signifikansi 95% atau alpha =0,05, t dibandingkan dengan t


tabel,

hitung

dengan derajat kebebasan (df = n 2). Ketentuan

yang dipakai adalah sebagai berikut: 1. Jika t-hitung t-tabel, maka pertanyaan tersebut adalah valid 2. Jika t-hitung < t-tabel, maka pertanyaan tersebut adalah tidak valid Validitas diukur dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel. Bila t-hitung t-tabel maka item tersebut valid, dan bila t-hitung < t-tabel maka item tersebut tidak valid. Pertanyaan yang tidak valid akan dibuang atau direvisi.

Uji Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten dalam mengungkapkan gejala tertentu dari kelompok individu, walaupun dilakukan pada waktu-waktu yang berbeda. Dalam penelitian ini akan menggunakan tes belah dua atau split-half method dari Spearman Brown. Membagi item-item yang valid menjadi dua belahan, dalam penelitian ini

cara yang diambil adalah berdasarkan nomor awal-akhir atau ganjil-genap. Nomor awal/ganjil sebagai belahan pertama dan nomor akhir/genap sebagai belahan kedua.

Yantini - 09870098

60

Skor

masing-masing

item

tiap

belahan

dijumlahkan,

sehingga

menghasilkan dua skor total untuk masing-masing responden, yaitu skor total belahan pertama dan skor total belahan kedua. Mengkorelasikan skor belahan pertama dengan skor belahan kedua dengan

menggunakan teknik korelasi rank-spearman (spearmans rho), dengan rumus: rs

x =

+ y 2 d i2

x 2 . y 2

(Sidney Siegel 1992: 256)

Untuk menguji koefisien reliabilitas instrumen digunakan rumus Spearman-Brown. Adapun rumus Spearman-Brown adalah: r11 = 2 r 1 2 12 1 + r 12 12

Keterangan: r11 = koefisien reliabilitas instrumen r = reliabilitas instrumen Dari hasil perhitungan di atas, selanjutnya dibandingkan dengan tabel interpretasi dengan nilai r dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3-2 Nilai Koefisien Reliabilitas Interval Koefisien Tingkat Reliabilitas 0,000 0,199 Sangat Rendah 0,200 0,399 Rendah 0,400 0,599 Sedang 0,600 0,799 Kuat 0,800 1,000 Sangat Kuat
Sumber Suharsimi Arikunto (1995)

Yantini - 09870098

61

3.5

Teknik Analisis Data

Untuk memudahkan dalam menganalisis data yang telah terkumpul dari hasil survey lapangan terhadap sampel, langkah selanjutnya adalah pengolahan data. Mengenai teknik pengolahan yang akan dilakukan dalam penelitian ini, yaitu dengan menggunakan program SPSS (Statistic Product and Service Solutions), Microsoft Excel-2000 (Plus Add-ins Successive Interval dan PHStat2), LISREL 8.3, dan AMOS 5. Gambaran atau deskripsi penelitian menjelaskan hasil penelitian Selain itu dilakukan pula pengolahan data secara manual, khususnya untuk data yang bersifat kualitatif. Hasil dari pengolahan data tersebut, dapat disajikan dalam bentuk tabel, gambar dan grafik yang dijadikan dasar untuk menganalisis secara kualitatif maupun kuantitatif, sehingga dapat memberikan gambaran variabel dan subvariabel yang diteliti. Untuk melakukan hubungan korelatif pada penelitian ini digunakan teknik analisis jalur (path analysis) sehingga dapat dilihat pengaruh dari setiap variabel terhadap variabel lainnya. Karena datanya setiap variabel dari kuesioner itu masih berskala ordinal, agar dapat dianalisis dengan analisis jalur, diperlukan pengubahan skala ordinal menjadi skala interval dengan menggunakan Method of Succesive Interval (MSI). Pada penelitian ini, digunakan dua jenis analisis yaitu: (1) analisis deskriptif, khususnya bagi variabel yang bersifat kualitatif, dan (2) analisis kuantitatif, berupa pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik. Analisis kuantitatif menitikberatkan dalam pengungkapan perilaku variabel penelitian,

Yantini - 09870098

62

sedangkan analisis deskriptif/kualitatif digunakan untuk menggali perilaku faktor penyebab. Dengan menggunakan kombinasi metode analisis tersebut dapat

diperoleh generalisasi yang bersifat komprehensif. Menurut Harun Al Rasyid, (1999: 34) Langkah-langkah dalam path analysis adalah: (1) Mengolah data berskala ordinal menjadi data berskala interval dengan MSI (Method of Successive Interval) dan (2) Menentukan struktur hubungan antar variabel berdasarkan kerangka pemikiran dan perumusan hipotesis penelitian. Berikut ini akan diuraikan masing-masing langkah dalam analisis jalur. Mengolah data berskala ordinal menjadi data berskala interval dengan MSI (Method of Successive Interval) dengan langkah kerja sebagai berikut: a. Berdasarkan hasil jawaban responden untuk setiap pernyataan,

hitung frekuensi setiap pilihan jawaban. b. Berdasarkan frekuensi yang diperoleh untuk setiap pernyataan,

hitung proporsi kumulatif untuk setiap pilihan jawaban c. Berdasarkan proporsi tersebut, untuk setiap pernyataan, hitung

proporsi kumulatif untuk setiap pilihan jawaban d. Dengan menggunakan Tabel Distribusi Normal Baku, menghitung

nilai Ztabel untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh e. Menentukan nilai batas untuk setiap nilai z yang diperoleh (dari

tabel normal). f. Menentukan Nilai skala (scale value) untuk setiap nilai Z dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

Yantini - 09870098

63

Density at lower Limit Density at upper limit Scale value = Area Under Upper Limit Area Under Lower Limit g. Menghitung nilai transformasi (Y) dengan menggunakan rumus

sebagai berikut: Y = NS + k k = 1 + NSmin Di mana Nilai skala yang nilainya terkecil diubah menjadi = 1 3.6 Struktur Model Penelitian Untuk menentukan berapa besarnya pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lainnya dalam analisis jalur diperlukan persyaratan seperti yang dikemukakan Sitepu (1994: 14) sebagai berikut: 1. Hubungan antara variabel harus merupakan hubungan linear dan aditif 2. Semua variabel residu tidak mempunyai korelasi satu sama lain. 3. Pola hubungan antara variabel adalah rekursif 4. Skala pengukuran baik pada variabel penyebab maupun pada variabel akibat sekurang-kurangnya interval. Apabila persyaratan ini dipenuhi, maka koefisien jalur bisa dihitung dengan langkah sebagai berikut: 1. Gambarkan diagram jalur untuk hubungan antara variabel secara lengkap. Diagram jalur ini harus mencerminkan hipotesis konseptual yang diajukan, sehingga nampak jelas yang mana sebagai variabel penyebab dan yang mana sebagai variabel akibat.

Yantini - 09870098

64

2. Hitung besarnya pengaruh (parameter struktural) antara suatu variabel penyebab dengan variabel akibat. Perhitungan ini didasarkan pada substruktur hubungan antara k buah variabel penyebab dengan sebuah variabel akibat. Perhitungan besarnya pengaruh tersebut dapat didasarkan pada: 1. Koefisien regresi 2. Koefisien korelasi (matriks korelasi) 3. Koefisien determinasi multiple (koefisien determinasi dan unsur matriks invers korelasi, dan fungsi dan koefisien determinasi). Struktur hubungan antar variabel didasarkan pada kerangka pemikiran dan perumusan hipotesis penelitian. Secara umum struktur model penelitian tampak pada gambar berikut:

3.7

Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam lima bulan, mulai dari bulan Januari Mei 2010. Kegiatan A. B. C. Persiapan: Penyusunan Proposal Penelitian Penyusunan Instrumen Pendaftaran Seminar Proposal Pelaksanaan: Pengumpulan Data Tabulasi dan Pengolahan Data Analisis Data dan Pembahasan Sidang Tahap I Pelaporan: Penyusunan Draft Laporan Final Sidang Tahap II Disseminasi hasil Jan Bulan/Minggu Feb Mar Apr Mei

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, dkk (1998). Pengembangan Kurikulum. Bandung: CV Pustaka Setia. Arikunto, Suharsimi (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta. Dunn, William N. (1994). Public Policy Analysis: An Introduction (2nd ed.). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall. Edwards III, George, C. (1980). Implementing Public Policy. Wasihington D.C: Congressional Quarterly Press. Fraenkel, J. R. & Wallen, N. E. (1993) How to Design and Evaluate Research in Education (2nd ed.). Singapore: McGraw-Hill Inc. Hoy, Wayne K. & Miskel, Cecil G. (2001). Educational Administration: Theory, Research, and Practice (6th ed., international edition). Singapore: McGraw-Hill Co. Isaac, Stephen & Michael, William B. (1981). Handbook in Research and Evaluation for Education and Behavioral Sciences (2nd ed.). San Diego, California 92107: EdITS Publishers. Islamy, I. (2000). Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, Jakarta: Bumi Aksara. Jones, Charles O., (1984) An Introduction to the Study of Public Policy (3rd ed.). Monterey, California: Brooks/Cole Publishing Company. Komaruddin dan Yooke Tjuparmah S Komaruddin (2000). Kamus Istilah Karya Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara. Kusnendi (2005). Analisis Jalur: Konsep dan Aplikasi Dengan Program SPSS & LISREL 8. Bandung: Jurusan Pendidikan Ekonomi, UPI. MacRae, Jr. Duncan and Wilde, James A. (1985). Policy for Public Decisions. Boston: University Press of America, Inc. Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. (2003). Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK.. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

65

Yantini - 09870098

66

Nasution, Arif. (2000), Demokratisasi dan Problema Otonomi Daerah, Bandung: Mandar Maju. Parkay, Forrest W. & Stanford, Beverly H. (1998). Becoming A Teacher (4th ed.). Needham Height, MA 02194: Ally & Bacon A Viacom Company. Patton, Carl V. dan David S. Sawicki. (1986). Basic Methods of Policy Analysis and Planning. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall. Putra, Fadillah. (2001). Paradigma Kritis dalam Studi Kebijaksanaan Publik: Perubahan dan Inovasi Kebijakan Publik dan Ruang Partisipasi Masyarakat dalam Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Razik & Swanson (1995). Fundamental Concept of Educational Leadership and Management. New Jersey: Prentice Hall. Reece, Ian & Walker, Stephen (1997). Teaching, Training and Learning: A Practical Guide. Sunderland: Business Education Publisher Ltd. Sanusi, Achmad (1992) Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Bandung: IKIP-Bandung. Setiawan, Didang. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah. LPMP Jakarta. Sitepu, Nirwana SK (1994). Analisis Jalur (Path Analysis). Bandung: Jurusan Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran. Steers, Richard M. (1980). Efektivitas Organisasi. Jakarta: Erlanga-PPM. Stokey, Edith dan Richard Zeckhauser. (1977). A Primer for Policy Analysis. ___: __ Sudjana, Nana, (1989), Tuntunan Penyusunan Skripsi Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru. Sugiyono (1994). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, Nana Sy. (2001). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Surachmad, Winarno (1985). Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito. Sutherland, John W (ed.). (1978). Management Handbook for Public Administrators. New York: Van Nostrand Reinhold Company. Usman, Moch Uzer (1990). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Yantini - 09870098

67

Wahab, Abdul. (1997). Analisis Kebijaksanaan, dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara. Zais, Robert S. (1976). Curriculum: Principles and Foundation. New York: Harper & Row Publishers, Inc.

Dokumen: Dirjen Dikdasmen. (2004). Pedoman Penunjang Kurikulum 2004. Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Depdiknas. Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. Implementasi Kurikulum 2004 dan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang Berbasis Informational Technology. Bandung: Dinas Pendidikan.

Yantini - 09870098

68

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1 BAB II LANDASAN TEORI.............................................................................................17 BAB III PROSEDUR PENELITIAN..................................................................................52 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................65