You are on page 1of 21

LAPORAN KASUS IDENTITAS Nama Umur Pekerjaan Bangsa Nama Suami Pekerjaan suami Umur suami Agama Tempat

lahir Tempat tinggal Pendidikan Ibu Pendidikan suami MRS tanggal/jam : Ny. PFA : 39 tahun : Cleaning service : Indonesia : Tn. SG : Sopir : 49 tahun : Kristen Protestan : Ternate : Kairagi : SMA : SD : 23 Juni 2012/ 09.45 pagi

ANAMNESIS Pasien dirujuk dari RS.Teling dengan diagnosis G2P1A0 39 tahun hamil 6-8 minggu dengan KET. Keluhan utama :

Nyeri perut bagian bawah dirasakan penderita lama kelamaan semakin hebat dan dirasakan menjalar sampai ke bahu hingga penderita di bawa ke rumah sakit.

Penderita juga mengeluhkan adanya perdarahan sedikit-sedikit dari jalan lahir Riwayat terlambat haid (+)

Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) normal.

Anamnesis Ginekologis Riwayat Perkawinan dan Kehamilan Dahulu Perkawinan 1 kali Kawin pada usia 32 tahun Status perkawinan sah Banyaknya kehamilan 2 kali : Kejadian ke-1 tahun 2002, , spontan kepala, dirumah, oleh biang, hidup. Kejadian ke-2 tahun 2012, ini Riwayat haid Menarche umur 16 tahun Siklus teratur Lamanya haid 7 hari Tanggal hari pertama haid terakhir 5 Mei 2012

PEMERIKSAAN FISIK Status Praesens Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu Jantung : Tampak lemah : Compos mentis : 80/50 mmHg : 100 x/menit : 24 x/menit : 36,5 0c : S I-II normal, gallop (-)

Paru paru Status Ginekologis Inspeksi Inspekulo

: Suara vesikuler. Rh -/-, wh -/-

: Fluksus (-), flour (-), vulva tidak ada kelainan : Fluksus (+), vulva tidak ada kelainan, portio licin, erosi (-), livide (+), OUE tertutup. : Fluksus (+), portio lunak, nyeri goyang (+), OUE tertutup Corpus uteri : sebesar 6-8 minggu Adneksa parametrium bilateral : sulit dievaluasi karena nyeri Cavum douglas menonjol Rectal toucher : Tonus sfingter ani cekat, mukosa licin, ampula kosong.

PD

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : Hb Leukosit Eritrosit Trombosit Tes kehamilan Kuldosintesis RESUME MASUK G2P1A0 39 tahun, masuk rumah sakit tanggal 23 juni 2012 jam 10.30, dengan keluhan utama nyeri perut bagian bawah menjalar sampai ke bahu, HPHT 15 Mei 2012. : HCG Tes (+) : (+) : 5,7 g/dl : 13900/mm3 : 1,94 : 236.000/mm3

Status praesens: KU : Tampak lemah, kesadaran : compos mentis T: 80/50, N: 100x/menit, R: 24x/menit, S: 36,50 C Status lokalis: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Status ginekologis: Inspeksi Inspekulo : Fluksus (-), flour (-), vulva tidak ada kelainan : Datar lemas : Tegang, nyeri tekan (+) pada seluruh kwadran : Sulit dievaluasi : Peristaltik (+) normal

: Fluksus (+), vagina tidak ada kelainan, portio licin, erosi(-), livide (+), OUE tertutup

PD Corpus uteri

: Fluksus (+), portio lunak, nyeri goyang(+), OUE tertutup : Sebesar 6-8 minggu

Adneksa parametrium bilateral : sulit dievaluasi karena nyeri. Cavum douglas Rectal toucher : Menonjol : Tonus sfingter ani cekat, mukosa licin, ampula kosong

DIAGNOSA SEMENTARA G2P1A0 39 tahun hamil 6 8 minggu dengan Kehamilan Ektopik Terganggu SIKAP IVFD Laparotomi cito Lab, crossmatch

Konseling, informed consent Sedia donor, setuju operasi Lapor konsulen (Advis: Laparotomi cito)

LAPORAN OPERASI Jam 14.30 Jam 15.00 Diagnosa PreOp : Pasien di dorong ke kamar operasi : Operasi dimulai : G2P1A0 39 tahun, hamil 6-8 minggu+Kehamilan Ektopik Terganggu Jenis operasi Jalannya operasi : Salfingektomi dextra + tubektomi sinistra : Pasien dibaringkan diatas meja operasi, kemudian dilakukan

tindakan desinfeksi daerah abdomen dan sekitarnya. Kemudian abdomen ditutup dengan doek steril kecuali pada daerah lapangan operasi. Dalam keadaan general anastesi dilakukan incisi linea mediana inferior, incisi diperdalam lapis demi lapis sampai fascia. Fascia dijepit 2 kocher kemudian diperlebar ke atas dan ke bawah, tampak otot, otot disisihkan kearah lateral, tampak peritoneum kebiruan. Peritoneum di jepit dengan pinset, setelah yakin tidak ada usus yang terjepit dibawahnya, peritoneum digunting kecil dan diperlebar keatas dan kebawah, kemudian keluar darah dari cavum abdomen, darah dihisap 1500 cc, dilakukan eksplorasi, tampak rupture tuba pars ampularis dextra ukuran 1x2 cm, diputuskan dilakukan salphingektomi dextra. Tuba dijepit dengan 2 klem, digunting diantaranya, lalu dilakukan double ligasi. Kontrol pendarahan (-). Jaringan di kirim ke laboratorium PA..Eksplorasi lanjut, uterus bentuk dan ukuran normal, ovarium kanan dan kiri baik, tuba kiri baik. Dilakukan tubektomi sinistra. Cavum abdomen dibersihkan dari sisa darah dan bekuan darah, dinding abdomen dijahit
9

lapis demi lapis, peritoneum dijahit jelujur dengan chromic catgut 2/0, otot dijahit simpul dengan chromic catgut 2/0, fascia dijahit jelujur dengan surgicryl no.1, lemak dijahit simpul dengan plain catgut 2/0, kulit dijahit subkutikuler dengan chromic catgut 2/0. Luka operasi ditutup kassa betadine. Operasi selesai.

KU post Op

: T: 130/90 mmHg N: 84x/menit R: 20x/menit S: 36 0C Perdarahan Diuresis : 1500 cc : 300 cc

Diagnosa Post Op : G2P1A0 39 tahun post salphingektomi dextra a.i rupture tuba pars ampularis dextra + tubektomi sinistra Sikap :

- Kontrol tensi/nadi/pernapasan/suhu/balance cairan - Puasa sampai flatus (+) / peristaltik (+) - Infuse RL: D5 5% = 2:2 = 40 tts/menit - Antibiotik : Ceftriaxone 3x1 gr (IV) Metronidazole 2x500mg (drips) Vit.C (1x1 amp) Asam traneksamat (3x1 amp) Kaltrofen 1x2 supp - Cek Hb 2 jam dan 6 jam post op (< 10gr% lakukan transfusi)

10

FOLLOW UP Tanggal 24-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM

T: 120/80mmHg N: 84x/menit R: 24x/menit S: 34,30C Abdomen : luka operasi tertutup verband, peristaltic (+) A : P1A1 36 tahun post salpingektomi dextra a.i ruptur tuba pars ampularis dextra + tubektomi sinistra hari I P : IVFD RL:D5= 30 tts/menit, ceftriaxone 3x1 gr (I.V), metronidazole 2 x 0,5 gr drip (I.V), Asam traneksamat 3x1 amp (I.V), diet Tanggal 25-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM

T: 110/80 mmHg N: 84x/menit R: 22x/menit S: 36,50C Luka operasi terawat A : P1A1 36 tahun post salpingektomi dextra a.i ruptur tuba pars ampularis dextra + tubektomi sinistra hari II P : IVFD RL:D5= 30 tts/menit, ceftriaxone 3x1 gr (I.V), metronidazol 2 x 0,5 gr drip (I.V), Asam traneksamat 3x1 amp (I.V), diet

11

Tanggal 26-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup T: 110/80 Kesadaran: CM N: 88x/menit R: 22x/menit S: 36,7 0C

Luka operasi terawat A : P1A1 36 tahun post salpingektomi dextra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+tubektomi hari ke III P : IVFD RL:D5= 30 tts/menit, ceftriaxone 3x1 gr (I.V), metronidazol 2 x 0,5 gr drip (I.V), Asam traneksamat 3x1 amp (I.V), diet Tanggal 27-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM N: 80x/menit R: 22x/menit S: 36,5 0C

T: 110/80 mmHg Luka operasi terawat A

: P1A1 36 tahun post salpingektomi dextra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+tubektomi hari ke IV

: Aff infus, cefadroxil 500 mg 3x1, metronidazol 500 mg 3x1, SF 1x1 tab, diet.

Tanggal 28-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM

12

T: 120/80 mmHg Luka operasi terawat A

N: 88x/menit R: 22x/menit S: 36,1 0C

: P1A1 36 tahun post salpingektomi dekstra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+tubektomi sinistra hari ke V

: Cefadroxil 500 mg 3x1 tab, SF 2x1 tab, Vit.C 1x1 tab

Tanggal 29-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM N: 84 x/menit R: 22 x/menit S: 36,70

T: 110/80 mmHg Luka operasi terawat A

: P1A1 36 tahun post salpingektomi dekstra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+ tubektomi sinistra hari ke VI

: Cefadroxil 500 mg 3x1, SF 2x1 tab, Vit.C 1x1 tab

Tanggal 30-06-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: Cukup Kesadaran: CM T: 110/80`mmHg Luka operasi terawat A : P1A1 36 tahun post salpingektomi dekstra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+ tubektomi sinistra hari ke VII P : Cefadroxil 500 mg 3x1, SF 2x1 tab, Vit.C 1x1 tab N: 84x/menit R: 22x/menit S: 36,70C

13

Tanggal 01-07-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM

TD: 110/80`mmHg N: 80x/menit R: 22x/menit S: 36,50C Luka operasi terawat A : P1A1 36 tahun post salpingektomi dekstra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+ tubektomi sinistra hari ke VIII P : Rencana pulang besok, cefadroxil 500 mg 3x1 tab, metronidazol tab 3x1, SF 2x1 tab Tanggal 02-07-2012 Ny. Pugutu Fince Aristha/ 39 tahun S O : (-) : KU: cukup Kesadaran: CM

TD: 110/70`mmHg N: 88x/menit R: 20x/menit S: 36,20C Luka operasi terawat A : P1A1 36 tahun post salpingektomi dekstra a.i rupture tuba pars ampularis dextra+ tubektomi sinistra hari ke IX P : Pulang hari ini, cefadroxil 500 mg 3x1 tab, metronidazol tab 3x1, SF 2x1 tab

14

DISKUSI Dalam diskusi ini yang akan dibahas adalah mengenai aspek klinis dari kehamilan ektopik terganggu (KET) yang meliputi : I. Diagnosis II. Penanganan III. Prognosis DIAGNOSIS Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis yang mendadak biasanya tidak banyak mengalami kesukaran. Pada umumnya dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan fisik yang cermat diagnosis kehamilan ektopik terganggu sudah dapat ditegakkan, walaupun biasanya alat bantu diagnosis atau pemeriksaan penunjang lainnya seperti laboratorium, tes kehamilan, kuldosintesis,

ultrasonografi, dan laparoskopi masih diperlukan. I. Anamnesis Pada anamnesis dapat ditemukan adanya haid yang biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala subjektif kehamilan muda. Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus, dapat dinyatakan.

Perdarahan pervaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah. Pada kasus ini penderita datang dengan keluhan utama yakni nyeri perut bagian bawah yang menjalar sampai ke bahu, adanya keterlambatan haid yakni dengan HPHT tanggal 5 mei 2012, dan dengan adanya keluhan perdarahan sedikit-sedikit lewat jalan lahir sejak satu hari yang lalu. Dimana ketiga gejala tersebut merupakan trias dari gejala kehamilan ektopik yang terganggu.

15

II. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan umum dapat ditemukan penderita yang tampak kesakitan dan pucat, dan dapat ditemukan tanda-tanda syok. Pada pemeriksaan ginekologis, dapat ditemukan tanda-tanda kehamilan muda. Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba maka akan teraba sedikit

membesar dan kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nyeri tekan menunjukan adanya hematokel retrouterina. Dalam kasus ini penderita datang dengan keadaan yang tampak sakit, namun kesadaran penderita masih terlihat baik. Pada pemeriksaan juga ditemukan adanya konjungtiva yang anemis, tekanan darah penderita yang turun, namun penderita belum jatuh ke dalam syok. Pada pemeriksaan regio abdomen,

ditemukan adanya tanda-tanda dari akut abdomen. Pada pemeriksaan ginekologis ditemukan adanya nyeri goyang dan livide yang positif pada porsio, penonjolan pada kavum Douglasi, dan pada evaluasi lain seperti adneksa parametrium bilateral dan corpus uterus sukar dievaluasi karena nyeri yang dirasakan oleh penderita. III. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tandatanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus jenis tidak mendadak biasanya ditemukan anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam. Perhitungan leukosit biasanya normal atau meningkat.

16

Pada pemeriksaan laboratorium penderita ini didapatkan adanya penurunan dari hemoglobin yakni 5,7 gr/dL dan pada pemeriksaan leukosit didapatkan hasil leukosit yang meningkat yakni 13.900/mm3. Tes kehamilan Yang dimaksud dengan tes kehamilan dalam hal ini ialah reaksi imunologik untuk mengetahui ada atau tidaknya hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dalam air kemih. Jaringan trofoblas kehamilan ektopik menghasilkan kadar HCG dalam kadar yang lebih rendah daripada kehamilan intrauterin normal, oleh sebab itu dibutuhkan tes yang mempunyai tingkat sensitifitas yang lebih tinggi. Yang lebih penting lagi ialah bahwa tes kehamilan tidak dapat membedakan kehamilan intrauterin dengan kehamilan ektopik. Pada penderita ini setelah dilakukan kateterisasi, dilakukan uji kehamilan dengan menggunakan pregnancy tes yang dicelupkan ke dalam urin selama 1 menit, dan mendapatkan hasil yang positif (2 garis). Kuldosentesis Kuldosentesis adalah satu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah atau cairan lain. Cara ini amat berguna dalam membantu membuat diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Cara ini tidak digunakan pada kehamilan ektopik belum terganggu. Untuk melakukan kuldosentesis penderita ditidurkan pada meja ginekologi dengan posisi litotomi dan pinggang penderita lebih rendah daripada dadanya, dengan demikian darah mengalir ke dalam kavum Douglas. Sepasang spekulum dimasukkan ke dalam vagina agar serviks terlihat jelas. Serviks ditarik dengan tenakulum lalu dilakukan pungsi dengan jarum No.18 pada forniks posterior tanpa

17

menggunakan anestesi.

Jika darah yang dihisap membeku, kemungkinan

kehamilan ektopik yang pecah dapat disingkirkan. Darah yang membeku tersebut berasal dari salah satu pembuluh darah yang tertusuk tanpa sengaja. Jika pada aspirasi tidak keluar darah, kemungkinan jarum tidak memasuki kavum Douglas, ataupun kehamilan ektopik tersebut belum pecah. Pada kehamilan ektopik

terganggu darah mula-mula mengalami pembekuan kemudian terjadi fibrinolisis sehingga pada akhirnya darah tersebut cair kembali. Oleh karena itu jika pada aspirasi keluar darah cair, segera lakukan laparotomi karena darah cair itu berasal dari perdarahan dalam rongga perut. Jika dengan kuldosintesis terdapat hasil yang meragukan kerjakan uji coba lain untuk kepastian diagnosis. Pada kasus ini tidak lagi dilakukan pemeriksaan kuldosintesis dikarenakan dengan pemeriksaan-pemeriksaan yang telah dilakukan, sudah cukup untuk dapat mendiagnosis suatu kehamilan ektopik yang terganggu. Selain itu dalam kasus ini juga perlu dilakukan suatu bentuk penanganan yang tepat dan cepat, agar dapat membebaskan penderita dari segala kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ultrasonografi Aspek yang terpenting dalam penggunaan ultrasonografi pada penderita yang diduga mengalami kehamilan ialah evaluasi uterus. Atas dasar

pertimbangan bahwa kemungkinan kehamilan ektopik yang terjadi bersama-sama kehamilan intrauterin adalah 1 : 30.000 kasus, maka dalam segi praktis dapat dikatakan bahwa apabila dalam pemeriksaan ultrasonografi ditemukan kantong gestasi intrauterin, kemungkinan kehamilan ektopik dapat disingkirkan. Setelah selesai melakukan evaluasi uterus, langkah berikutnya ialah melakukan evaluasi adneksa. Diagnosis pasti kehamilan ektopik melalui ultrasonografi ialah apabila

18

ditemukan kantong gestasi di luar uterus yang di dalamnya tampak denyut jantung janin. Hal ini hanya terjadi pada 5% kasus kehamilan ektopik. Pada

kehamilan ektopik yang terganggu sering tidak ditemukan kantung gestasi ektopik. Gambaran yang tampak ialah cairan bebas dalam rongga peritoneum terutama dalam kavum Doglas. 10 Laparoskopi Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain

meragukan.7,10 Melalui prosedur laparoskopi, alat kandungan bagian dalam dapat dinilai. Secara sistematis dapat dinilai keadaan uterus, ovarium, kavum Douglas, dan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga pelvis memungkinkan

mempersulit visualisasi alat kandungan, tetapi hal ini menjadi indikasi untuk dilakukan laparotomi.10 Laparoskopi amat bermanfaat jika tersangka ada kehamilan ektopik tetapi belum pecah, dan untuk penetapan diagnosis banding.7 Seperti halnya pemeriksaan dengan menggunakan ultrasonografi, maka dalam kasus ini pemeriksaan laparoskopi pun tidak lagi dilakukan. Dengan alasan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan, seperti tes kehamilan dan kuldosentesis sudah cukup untuk dapat mendiagnosis suatu kehamilan ektopik yang terganggu. Selain itu juga, pemeriksaan laparoskopi pada kasus kehamilan ektopik yang telah pecah, dapat menjadi sulit karena adanya darah dalam rongga pelvis sehingga mempengaruhi dalam visualisasi alat-alat kandungan.

19

PENANGANAN Penangan pada kehamilan ektopik dapat dilakukan dengan pembedahan maupun tanpa pembedahan. Namun penangan kehamilan ektopik pada umumnya adalah dengan laparotomi.11 Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu : kondisi penderita saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ pelvis, kemampuan teknik bedah dokter operator, dan kemampuan teknologi fertilisasi invitro setempat. Hasil pertimbangan ini memungkinkan

apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba, atau dapat dilakukan pembedahan konservatif dalam artian hanya dilakukan salpingostomi atau reanastomosis tuba.10,11 Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan pada kehamilan ektopik antara lain salfingektomi, salfingotomi, salfingostomi, reanastomosis tuba, dan histerektomi.10,11 Pada penangan kehamilan ektopik, pembedahan dapat langsung dilakukan tanpa menunggu gejala syok teratasi. Asalkan tarnsfusi sudah berjalan, pembedahan sudah dapat langsung dimulai.13 Dalam kasus ini penanganan utama yang dilakukan adalah mengatasi kegawatan (emergency treatment), yakni dengan meberikan terapi cairan. Setelah diagnosis kehamilan ektopik terganggu ditegakkan dilakukan surgical treatment yang dimaksudkan untuk menutup perlukaan yang terjadi, yakni dengan melakukan laparotomi cito. Laparotomi cito dilakukan dengan maksud agar dapat mencari dan menghentikan sumber perdarahan dengan segera, agar dapat mencapai suatu keadaan homeostasis, dan juga agar penderita tidak jatuh ke dalam komplikasi yang lebih lanjut. Jenis pembedahan yang dilakukan dalam

20

kasus ini adalah salfingektomi dextra, karena adanya ruptur tuba pars ampularis dextra. Selama melakukan pembedahan tidak ditemukan adanya kesulitan yang berarti, hingga pembedahan terlaksana dengan baik. Setelah melakukan pembedahan, penanganan selanjutnya adalah membantu proses penyembuhan (supporative treatment). Tindakan untuk membantu proses penyembuhan yang utama adalah mengatasi agar penderita tidak jatuh ke dalam anemia, pemberian antibiotika berspektrum luas, dan pemberian roboransia. PROGNOSIS Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung menurun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup.10,11,13 Selain itu prognosis kehamilan ektopik juga bergantung pada jumlah darah yang keluar dan tindakan yang tepat.7 Dengan melihat manajemen penanganan dari penderita ini mulai dari diagnosis, tindakan, sampai pada follow up, semua dilaksanakan dengan tepat. Maka pada penderita ini dapat dikatakan mempunyai prognosis yang baik.

21

PENUTUP KESIMPULAN Kehamilan ektopik terganggu adalah suatu keadaan dimana kehamilan terjadi diluar kavum uteri yang telah pecah atau ruptur oleh karena kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasinya. Kehamilan ektopik terganggu didiagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan trias dari gejala KET yakni amenore, nyeri perut, dan perdarahan trasvaginal. Dimana pada penderita ini semua gejala tersebut ditemukan. Pada pemeriksaan fisik yang spesifik adalah keadaan umum yang tampak sakit, tanda akut abdomen, nyeri goyang pada porsio, dan penonjolan kavum Douglas, yang mana pada pemeriksaan penderita ini ditemukan. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita ini adalah laboratorium (Hb 5,7 gr/dL), tes kehamilan (HCG +), dan USG. Pemeriksaan penunjang yang lain tidak dilakukan dikarenakan dengan pemeriksaan penunjang yang sudah dilakukan, sudah cukup untuk menjadi dasar diagnosis. Diagnosis pasti KET didapatkan setelah dilakukan laparotomi. Penanganan utama yang dilakukan adalah penangan pembedahan dengan jenis salfingektomi dextra, karena pada laparotomi selain ditemukan ruptur pars ampularis dextra. Prognosis pada penderita adalah baik, dikarenakan prosedur penanganan atau menejemen penangan dari penderita ini dilakukan secara tepat.

22

SARAN Penegakkan diagnosis dan penanganan yang tepat dan segera. Ibu dengan risiko KET jika ada keluhan untuk rutin memeriksakan diri di pusat pelayanan kesehatan dan dokter spesialis. Pap smear

23

DAFTAR PUSTAKA

1.

Wiknjosastro, H. 1999. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

2.

Wiknjosastro, H. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

3.

Chalik, TMA. 1998. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-Universitas Syah Kuala, Cetakan Pertama, Widya Medika, Jakarta.

4.

Bakken, I.J. 2006. Time trends in ectopic pregnancies in Norwegian County 1970-2004- a population based study. Human Reproduction, Vol 21, No.12.

5.

Departemen kesehatan Republik Indonesia, 2008. Profil kesehatan Indonesia Tahun 2008, Jakarta.

6.

Pisarska, 1999. Incidence and Risk Factors for Ectopic Pregnancy. Clinical Obstetrics and Gynecology-Abstrac vol 42, No 1.

7.

Chalik TMA, Kehamilan Ektopik. Dalam : Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Widya Medika, 1997 : 6386.

8.

Rusdianto E, Wibowo N.

Kehamilan Ektopik.

Cited From : URL :

Http/www.emedicine.com : 1999 9. Cook J, Sankaran B, Wasunna A. Pecahnya Kehamilan Ektopik. Dalam : Penata Laksanaan Bedah Obstetri, Ginekologi, Ortopedi dan Traumatologi di Rumah Sakit. Ahli Bahasa : Syamsir HM. Jakarta : EGC, 1993 : 513.

24

10.

Rachimhadhi T. Kehamilan Ektopik. Dalam : Wiknjosastro H, eds. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. 2000 : 198201.

11.

Rachimhadhi T. Kehamilan Ektopik. Dalam : Wiknjosastro H, eds. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1992 : 323337.

12.

Rachimhadhi T. Kehamilan Ektopik. Dalam : Wiknjosastro H, eds. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1992 : 323337.

13.

Bagian

Obstetri

dan

Ginekologifakultas

Kedokteran

Universitas

Padjadjaran. Kehamilan Ektopik. Dalam : Obstetri Patologi. Bandung : Elstar Offset, 1984 : 2135.

25