You are on page 1of 10

BAB I Anak Berkebutuhan Khusus

Tujuan Agar pembaca dapat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menjelaskan pengertian anak berkebutuhan khusus Mengenal ciri dan cara membantu anak dengan gangguan penglihatan mengenal ciri dan cara membantu anak dengan gangguan dengar/wicara Mengenal ciri dan cara membantu anak dengan gangguan gerak Mengenal ciri dan cara membantu anak dengan ganguan intelektual mengenal ciri dan cara membantu anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa mengenal ciri dan cara membantu anak dengan kesulitan belajar Mengenal ciri dan cara membantu anak dengan gangguan pemusatan perhatian mengenal ciri dan cara membantu anak dengan autism

1.

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

1.1 Siapakah anak berkebutuhan khusus? Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki karakteristik khusus. Menurut Heward, anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Menurut Hallahan & Kauffman (2003), anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang membutuhkan pendidikan khusus & pelayanan-pelayanan terkait untuk merealisasikan potensi keseluruhan mereka. 1.2 siapa yang termasuk anak berkebutuhan khusus dalam pembahasan buku ini? a. Anak dengan gangguan penglihatan b. Anak dengan gangguan dengar/wicara c. Anak dengan gangguan gerak d. Anak dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata e. Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa f. Anak dengan kesulitan belajar

g. Anak dengan gangguan pemusatan perhatian

h. Anak dengan autis Menurut Permendiknas No.70 tahun 2009 Pasal 3 : 2 yang termasuk ABK adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Tunanetra Tunarungu Tunawicara Tunagrahita Tunadaksa Tunalaras Berkesulitan belajar Lamban belajar Autis Memiliki gangguan motorik Menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya Memiliki kelainan lainnya Tuna ganda

1.3 mengapa anak tersebut berkebutuhan khusus? Dikarenakan penyakit, kecelakaan, bencana atau sebab lainnya pada saat pra natal, peri natal atau post natal dapat mengakibatkan ada bagian tubuh, struktur tulang, sendi, otot, sistem saraf dan cara kerja tubuh pada anak yang tidak/kurang mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Akibat penyebab tersebut, anak memiliki gangguan dalam pertumbuhkembangannya yang membatasi aktivitas dan menghalangi partisipasi dalam lingkungan belajarnya. 1.4 Apa yang dimaksud dengan karakteristik khusus? Karakteristik khusus adalah ciri-ciri yang berbeda sangat menonjol pada diri anak, yang dapat dikenali sebagai ciri fisik dan ciri non fisik. Ciri fisik maksudnya adalah ciri yang mudah untuk dilihat karena dapat langsung dikenali dan tidak mmembutuhkan banyak waktu untuk mengenalinya seperti tangan tanpa jari, menggunakan alat bantu dengar, berjalan mondar-mandir, tanggan usil, dll. Sedangkan ciri non fisik adalah ciri yang tidak mudah untuk dilihat karena tidak dapat langsung dikenali dan membutuhkan waktu untuk mengenalinya seperti tingkat IQ, gaya belajar, kebiasaan dan perilaku belajar, dll.

1.5 bagaimana cara mengenali karakterisik khusus pada anak? Caranya dengan melakukan identifikasi (menemukan dan mengenali) dan asesmen (mengumpulkan informasi). Untuk asesmen dapat dilakukan secara fungsional dengan menggunakan observasi, wawancara dan asesmen klinis dengan menggunakan alat-alat test.

2.

Anak dengan gangguan penglihatan 2.1 siapa anak dengan gangguan penglihatan? Istilah lainnya adalah anak tunanetra, yakni Anak yang tidak/kurang dapat melihat. Menurut Kaufman & Hallahan, anak dengan gangguan penglihatan bisa dikategorikan anak yang memiliki lemah penglihatan (low vision), artinya akurasi penglihatan anak kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau anak yang tidak lagi memiliki penglihatan (totaly blind). 2.2 apa karakteristik khusus anak dengan gangguan penglihatan? a. Sering menabrak ketika bergerak b. Kesulitan membaca huruf pada buku bacaan atau tulisan pada papan tulis c. Kesulitan menulis garis lurus d. Memegang buku dekat ke muka ketika membaca e. Sering mengeluh kepala pusing atau mata gatal atau mata berair f. Bentuk dan warna bola mata berbeda; bola mata bergoyang-goyang, mengecil atau berwarna putih g. Sering meletakan barang di tempat yang salah h. Sering hendak terjatuh jika melewati rintangan jalan i. Sulit meniru gerak j. Sulit mengenal gambar jika warna kurang kontras k. suka meraba barang yang dipegang atau yang ada didekatnya

2.3 bagaimana cara membantu anak dengan gangguan penglihatan? a. Gunakan objek riil dan konkrit untuk menjelaskan konsep b. Ketika hendak meminta perhatian anak, panggil namanya dan dalam proses penjelasan sesuatu gunakan komunikasi verbal c. Menyapa sambil membuat kontak dengan menyentuhkan punggung tangan kita pada lengan atau bahu anak d. Sediakan materi sesuai dengan tingkat penglihatan anak (materi Braille, pembesaran huruf, materi audio) e. Gunakan arah jarum jam untuk menunjukkan letak f. Hindari kata tunjuk (ini, itu), kata ganti tempat (di sini, di sana), kata ganti orang (dia, kamu) g. Beritahukan bila ada perubahan letak atau bila kita hendak meninggalkan anak sendiri h. Bercerita saat berpergian dengan anak

i.

Sediakan alat bantu seperti reglet stylus untuk menulis braille, tape recorder untuk membuat buku bicara dengan cara merekam, tongkat putih untuk alat bantu orientasi mobilitas serta assistive technology seperti layar pembaca komputer dll.

3. anak dengan gangguan dengar wicara

3.1 siapa anak dengan gangguan dengar/wicara Istilah lainnya anak tunarungu/wicara yakni anak yang tidak/kurang dapat mendengar/bicara. Menurut IDEA (Individual Disability Education Act), anak dengan gangguan dengar/wicara adalah anak yang memiliki gangguan pendengaran baik yang permanen maupun tidak permanen dengan tingkat gangguan: a. b. c. d. e. Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB) Gangguan pendengaran ringan (41-55 dB) Gangguan pendengaran sedang (56-70dB) Gangguan pendengaran berat (71dB-90dB) Gangguan pendengaran ekstrim/total (di atas 91 dB)

3.2 apa karakteristik khusus anak dengan gangguan dengar/wicara? a. b. c. d. e. f. g. h. Tidak menyadari adanya bunyi tidak melihat ke sumber suara Terlihat mendekatkan telinga pada sumber bunyi Telinga mengeluarkan cairan Berbicara keras dan tidak jelas Sulit untuk mengungkapkan perasaan dengan tepat Cenderung menggunakan mimik atau gerakan (tangan dan tubuh) untuk berkomunikasi Cenderung pemata (mendapatkan informasi dengan melihat langsung

3.3 bagaimana cara Membantu anak dengan gangguan dengar/wicara? a. b. c. d. e. f. g. Gunakan gambar dalam memperkenalkan kata/konsep baru Bicara berhadapan muka dengan muka agar gerak bibir dan mimik terlihat Bicara dengan artikulasi yang jelas Gunakan bahasa isyarat, Gunakan bahasa tubuh seperti menggeleng, mengangguk, dll Gunakan komunikasi tulis Untuk latihan bicara bibir dapat menggunakan cermin untuk meniru bentuk dan gerakan mulut

4. Anak dengan gangguan gerak 4.1 siapa anak dengan gangguan gerak?

Istilah lainnya anak tunadaksa, yakni anak yang /kurang dapat menggunakan tangan dan kakinya untuk bergerak. Menurut IDEA (Individual Disability Education Act) anak dengan gangguan gerak adalah anak yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang dengan Tingkat Gangguan menurut Heward: a. Ringan Memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik, kualitas gerakan motorik dapat meningkat melalui terapi. b. Sedang Memiliki keterbatasan motorik, mengalami gangguan koordinasi sensorik. c. Berat Memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik, tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

4.2 apa karakteristik khusus anak dengan gangguan gerak? a. b. c. d. e. f. Sulit menggerakkan tubuh Sulit untuk berpindah dari suatu posisi ke posisi lain Sulit meraih/mengambil benda di tempat yang tinggi atau rendah Gerakan tubuh kaku atau layu Sering terjatuh Bila terjadi kekakuan pada otot bicara, maka di antara mereka dengan gangguan gerak juga akan mengalami gangguan bicara seperti pada mereka yang celebral palsy (CP)

4.3 bagaimana cara membantu anak dengan gangguan gerak? a. Bagi mereka yang menggunakan tongkat/kruk, jangan memegang tangan mereka ketika mereka berjalan, biarkan mereka bertumpu pada lengan atau bahu kita b. Bagi mereka yang menggunakan kursi roda, sediakan ramp (bidang miring) untuk memudahkan mereka bergerak atau kita dapat membantu mendorongkan kursi rodanya c. Bagi mereka yang diikuti dengan gangguan bicara, bicara singkat, dan jelas d. Tawarkan tempat duduk dekat pintu e. Membutuhkan ruang gerak yang luas seperti toilet f. Bila Ruang seperti toilet tidak cukup luas, maka sebaiknya pintu toilet ditarik keluar g. Pasang railing di sepanjang dinding untuk membantu mereka bergerak h. Untuk bangunan berlantai, sedikan lift, jika belum mungkin, pindahkan ruang kegiatan di lantai bawah

5. anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata 5.1 siapa anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata?

Istilah lainnya anak tunagrahita, yakni anak yang tidak/kurang dapat berpikir. Menurut IDEA, mereka adalah anak yang Mmemiliki kemampuan inteligensi yang signifikan berada di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku dengan Tingkat intelektual: a. Ringan (IQ : 51-70): Intermittent support (bantuan dipergunakan saat dibutuhkan), mampu didik, dapat bekerja dan tidak ada kelainan fisik. b. Sedang (IQ : 36-51): Limited support (bantuan dipergunakan secara konsisten, hanya pada waktu tertentu saja), mampu latih, penundaan aktifitas secara terbatas dan ada kelainan fisik bawaan. c. Berat (IQ : 20-35): Extensive support (bantuan dipergunakan secara berkala pada lingkungan/situasi tertentu seperti di rumah), mampu rawat, tidak dapat menjaga kebersihan pribadi dan memiliki kelainan fisik. d. Sangat Berat (IQ di bawah 20) : ): Pervasive support (bantuan dipergunakan secara konsisten, dengan intensitas yang sangat tinggi), mengalami keterbatasan atau tidak dapat bergerak sendiri dan bicara sangat terbatas. Di antara anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata, ada anak lambat belajar dengan tingkat kecerdasan di batas ambang yakni dengan tingkat IQ 71-89. Untuk kegiatan keseharian, anak dengan lambat belajar tidak membutuhkan banyak bantuan, namun untuk kegiatan belajar, anak dengan lambat belajar membutuhkan bimbingan belajar dengan cara 5R yakni a. repeat (pengulangan) b. reinforcement (penguatan) c. reward (pemberian pujian) d. recall (pemanggilan kembali materi yang sudah dipelajari) e. remind (diingatkan)

4.2 apa karakteristik khusus anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata? a. Perilaku tidak sesuai dengan usia (kekanak-kanakan) b. c. d. e. f. g. h. Sulit memahami hal yang abstrak Sulit mengingat atau daya ingat lemah Sulit mengikuti instruksi panjang/rumit Sulit mengendalikan emosi Ada yang memiliki wajah mirip Ada yang bicara kurang jelas, dan ada juga yang mengalami kesulitan bergerak Di sekolah, nilai hasil belajar untuk semua pelajaran ada di bawah nilai rata-rata kelas

4.3 bagaimana cara membantu anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata? a. Butuh konsistensi dan pengulangan dalam belajar b. Gunakan media konkrit yang menarik, yang dekat dengan kehidupannya c. Beri instruksi pendek, jelas, bertahap d. Gunakan kalimat yang singkat dan bahasa sederhana e. Membutuhkan pendampingan/pengawasan f. Perlu pembiasaan g. Koreksi langsung dan berulang

h. Belajar bertahap

6. anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa 6.1 siapa anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa? Istilah lainnya anak jenius. Menurut IDEA, anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa adalah anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata yang juga termasuk anak dengan gangguan intelektual/kecerdasan. Anak cerdas/gifted memiliki kemampuan yang menonjol dan menunjukkan prestasi yang sangat baik dalam bidang akademik Anak berbakat/talented memiliki kemampuan yang menonjol dan menunjukkan prestasi yang sangat baik di luar bidang akademik, seperti: olahraga, musik.

6.2 apa karakteristik khusus anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa? a. Cepat mengerti instruksi b. Cepat memahami konsep/penjelasan c. Cepat mengerjakan tugas d. Menunjukkan keterlibatan yang tinggi e. Punya komitmen f. Kreatif dan inovatif g. Mudah bosan bila pelajaran diulang h. Menjadi usil dan suka mondar-mandir bila tidak ada yang dikerjakan i. Memiliki kemampuan untuk memimpin kelompoknya j. Terkadang kurang teliti dan menggampangkan pengerjaan tugas

6.3 bagaimana cara membantu anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa? a. Beri Pengayaan b. Libatkan sebagai tutor sebaya c. Beri tangung jawab d. Libatkan sebagai pemimpin

7. anak dengan kesulitan belajar 7.1 siapa anak dengan kesulitan belajar?

Istilah lainnya anak kesubel yakni anak yang memiliki kesulitan membaca, menulis, berhitung (calistung). Menurut IDEA, anak dengan kesulitan belajar adalah anak yang memiliki Gangguan pada satu atau lebih proses psikologi dasar yang meliputi pemahaman atau penggunaan bahasa tulis,bicara maupun perhitungan matematika. Hal ini merupakan kondisi dari ketidakmampuan persepsi. Menurut Kaufman & Hallahan, jenis gangguan pada anak dengan kesulitan belajar meliputi: a. Diskalkulia : Kesulitan dalam memahami simbol matematika, konsep, arah dalam berhitung atau terbalik dalam menulis angka maupun nilai tempat. b. Disleksia : kesulitan dalam membaca seperti membaca lompat kata/kalimat/baris c. Disgrafia : kesulitan dalam menulis seperti huruf tak berbentuk, tulisan besar-besar Anak dengan Disleksia dan disgrafia menunjukkan beberapa perilaku ucap dan tulis, yakni: a. Revarsal ubi menjadi ibu, buku menjadi duku b. Subtitusi laut menjadi lauk c. Adisi uang menjadi uwang d. Omisi kayu menjadi kyu, rumah menjadi ruma e. Sequential memory kepala menjadi kelapa, topi menjadi pito

7.2 apa karakteristik khusus anak dengan kesulitan belajar? a. sulit dalam mengekspresikan diri b. sulit dalam menulis, membaca, berhitung c. bicara berbelit d. tulisan sulit dibaca e. saat membaca, menulis, berhitung ada huruf/angka yang terbalik, tertinggal atau berlebih f. kikuk dan ragu dalam bergerak g. Menunjukkan gangguan orientasi arah ruang (kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang) h. Keterlambatan perkembangan konsep (ukuran, bentuk, operasi aritmatika) i. Sulit memahami isi bacaan j. Di antara mereka dengan kesulitan belajar diikuti dengan kesulitan konsentrasi

7.3 bagaimana cara membantu anak dengan kesulitan belajar? a. Butuh konsisten dan pengulangan dalam belajar b. Belajar bertahap c. Gunakan 5 pertanyaan dasar (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa) untuk memahami isi bacaan d. Membaca dengan bantuan penggaris agar baris kalimat tidak terlewat e. Gunakan buku berpetak untuk belajar berhitung seperti nilai tempat f. Gunakan clue-clue visual seperti warna, garis, lambang, dll g. Koreksi langsung h. Instruksi pendek dan jelas i. Panggil nama untuk mengarahkan fokus perhatiannya j. Jika bicara berbelit, pandu bicaranya dengan pertanyaan 5 W 1 H k. Kembangkan cara belajar lisan seperti diskusi, tanya-jawab untuk mereka yang disleksia dan disgrafia

8. anak dengan autism Istilah lainnya anak dengan gangguan sosial emosi. Menurut IDEA, anak dengan autism adalah anak yang memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi verbal dan non verbal serta interaksi sosialnya.

8.2 apa karakteristik khuss anak dengan autism? a. Memiliki aktifitas yang berulang-ulang b. Terlambat dalam perkembangan komunikasi/bahasa c. Rentan terhadap perubahan lingkungan atau perubahan aktivitas rutin d. Tidak ada kontak mata e. Menunjukkan respon yang tidak biasa terhadap pengalaman sensorik f. Mengalami hambatan dalam bahasa dan interaksi sosial g. Pada beberapa anak dengan autism ada yang memiliki kemampuan khusus yang berkembang sangat baik h. Sebagian anak dengan autism menunjukkan hiperaktivitas dan fokus perhatianya rendah i. ada sebagian anak dengan autism yang masih bicara membeo, ada yang tidak bisa bicara sama sekali

8.3 bagaimana cara membantu anak dengan autism? a. Ajarkan rutinitas sedikit demi sedikit dan gunakan simbol-simbol gambar untuk mewakili kegiatan b. Buatlah jadwal kegiatan dengan waktu sesuai dengan kemampuan konsentrasi anak c. Ajarkan komunikasi eksperimen d. Kembangkan dan gunakan clu-clu visual untuk memahami aturan e. Koreksi langsung dengan instruksi pendek disertai dengan clu visual Gunakan komunikasi gambar f. Buat kesepakatan dengan aturan yang jelas dan tegas

9. anak dengan gangguan pemusatan perhatian 9.1 siapa anak dengan gangguan pemusatan perhatian? Istilah lainnya anak hiperaktif. Menurut IDEA, anak dengan gangguan pemusatan perhatian adalah anak yang mengalami ketidakmampuan dalam memusatkan perhatian pada dua atau lebih situasi yang berbeda. 9.2 apa karakteristik khusus anak dengangangguan pemusatan perhatian? a. b. c. d. Perhatian mudah teralih Menghentikan/Meninggalkan suatu tugas sebelum selesai Sering beralih dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain Dalam situasi yang menuntut keadaan yang relatif tenang anak tampak gelisah

e. f. g. h. i.

Berjalan mondar-mandir, berlari tanpa arah, melompat berlebihan Bicara berbelit-belit, suka memotong pembicaraan Tidak sabar menunggu giliran Memberi respon yang terlalu cepat (impulsif). Sulit untuk duduk tenang

9.3 bagaimana cara membantu anak dengan pemusatan perhatian? a. Ajarkan untuk membuat jadwal harian sesuai dengan ketahanan konsentrasi anak b. Latihan disiplin gunakan pengelolaan perilaku, berikan pujian untuk perilaku yang diharapkan dan abaikan untuk perilaku yang tidak diharapkan c. Ajarkan untuk membuat kesepakatan d. Hindari pajangan, suara, hal lainnya yang mengganggu konsentrasi e. gunakan sudut abu ketika ia membutuhkan waktu untuk konsentrasi f. Buat kesepakatan g. Koreksi langsung h. Panggil nama disertai dengan memegang lengan/bahu untuk mengarahkan fokus perhatiannya i. Gunakan clu visual

Referensi William L. Heward (2006), Exceptional Children: An Introduction to Special Education. New Jersey: Pearson Education, Inc. Hallahan, D. P., & Kauffman, J. M. (2003). Exceptional Learners:Introduction to Special Education. Virginia: Merrill. Lusli, M. (2009). Helping Children with Sight Loss. Jakarta: Mimi Institute. Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Depok: LPSP3 UI. Martin, G. L. (1998). Terapi untuk Anak ADHD. Jakarta: PT.Bhuana Ilmu Populer. Rief, M. S. (2008). the ADD/ADHD Checklist: A Practical Reference for Parents and Teachers. San Fransisco: Willey Imprint. Steele, R. G., & Roberts, M. C. (2005). Handbook of Mental Health Services for Children, Adolescents and Families. New York: Kluwer Academic/Plenum Publishers. www.IDEA