You are on page 1of 23

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb Puji serta syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan limpahan karunia – Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini di sebabkan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki.Oleh karena itu, kritik dan saran serta masukan yang konstruktif sangat kami harapkan guna kesempurnaan di masa mendatang. Selama menyelesaikan makalah ini tidak terlepas pula dari bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Penghargaan dan ucapan serta hanturan terima kasih pada dosen pembimbing mata kuliah yang bersangkutan ini dan teman – teman yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini. Harapan kami semoga dengan adanya makalah ini, dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman – teman semua. Namun, apabila terjadi kekeliruan di dalam pembuatan makalah ini, kami mohon maaf sebesar – besarnya.Karena kami hanya manusia yang daif dan mempunyai banyak kekurangan. Wassalamualaikum Wr. Wb

Pontianak,

Oktober 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setiap individu memiliki kemampuan menjalin hubungan sosial, mulai dari hubungan intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan . Hubungan sosial tersebut diperlukan individu dalam rangka menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan hidup.Maka dari itu seorang manusia perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan. Pemutusan hubungan akan terjadi apabila terdapat ketidakpuasan individu dalam menjalin interaksi,juga adanya respon lingkungannya yang negatip.Kondisi ini akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak percaya dengan orang lain dan keinginan untuk menghindar dari orang lain . Berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku, berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif, dan berpikir diarahkan untuk menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi. (Sudarminta, 2000) Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir lahir dari suatu rasa keyakinan terhadap sesuatu dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan, yang kemudian tumbuh menjadi suatu masalah yang khas. (Drever,1997)

B. Masalah 1. Bagaimana mengkaji pasien gangguan jiwa (waham) ? 2. Diagnose apa saja yang dapat di kaji ? 3. Tindakan keperawatan pada pasien ? 4. Tindakan apa yang dilakukan pada keluarga pasien ? C. Tujuan 1. Mampu mengkaji data masalah waham

(Stuart & Sunddeen. Proses berpikir lahir dari suatu rasa keyakinan terhadap sesuatu dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan. dan berpikir diarahkan untuk menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi (Sudarminta. berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif. Mampu menetapkan diagnosa keperawatan 3. (Keliat. Pengertian berfikir Berpikir adalah kognitif.2. Mampu melakukan tindakan keperawatan kepada pasien 4. keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya.1997) Berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek seperti penilaian. dan pemecahan masalah (Solso.1998) 2. Definisi 1. abstraksi. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri . yang kemudian tumbuh menjadi suatu masalah yang khas (Drever. 2000) Waham adalah keyakinan yang salah. Etiologi Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. imajinasi. Mampu melakukan tindakan keperawatan kepada keluarga BAB II PEMBAHASAN A. logika. B. (Depkes RI. Pengertian waham Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain. 1995) Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. 2000) Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. 1999). yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku. yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita normal.

sangat waspada · Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas · Ekspresi wajah tegang . kecurigaan. diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. 4 Waham somatik Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit. diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. 2 Waham kebesaran Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau berlebihan yang berbeda dengan orang lain. orang lain. diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. lingkungan) · Takut. merasa gagal mencapai keinginan. diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Manifestasi klinik Tanda dan Gejala Umum : · Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama. C. keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan · Klien tampak tidak mempunyai orang lain · Curiga · Bermusuhan · Merusak (diri. 3 Waham curiga Keyakinan bahwa seseorang atau sekelompok orang berusaha merugikan atau menceerai dirinya.sendiri. termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. 5 Waham nihilistik Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia. yaitu : 1 Waham agama Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan. kebesaran. Klasifikasi waham Menurut Keliat (2009) waham diklasifikasikan menjadi lima. D.

Fase envinment support Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung. Fase of human need Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik maupun psikis. 4. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong. tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Fase lack of self esteem Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan self reality (keyataan dengan harapan) serta dorongn kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Biasanya klien sangat miskin dan menderita. karena kebutuhannya untuk diakui. lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. yaitu : 1. 2. kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain. tetapi menghadapi keyataan bagi klien adalah suatu yang sangat berat. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar. Fase control internal external Klien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan adalah kebohongan. menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan keyataan. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan self ideal sangat tinggi. proses terjadinya waham meliputi 6 fase. Proses terjadinya masalah Menurut Yosep (2009).· Mudah tersinggung E. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. 3. Fase comforting . Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. 5.

c. setiap waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat.Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. pembesaran ventrikel di otak . Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. 6.klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif. b. Faktor perkembangan Hambatan perkembangan aakan menggannggu hubungan interpersonal seseorang. Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Faktor genetik . Faktor Biologis Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak.peran ganda/bertentangan . Faktor Psikologis Hubungan yang tidak harmonis . Fase improving Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi. Faktor Sosial Budaya Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham. Hal ini dapat meningkatkan stres dan asietas yang berakhir dengan gangguan persepsi.dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan. d. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. atau perubahan pada sel kortikal dan limbic e. 1) Faktor predisposisi a. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Selanjutnya klien sering menyendiri dan menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).

dan zat halusinogen lainya di duga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang. saudara kandung. Faktor biokimia Dopamin. sanak saudara lain).Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua. b. norepineprin. F. c. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif • Pikiran logis • Persepsi akurat • Emosi konsisten dengan pengalaman • Perilaku sesuai • Hubungan harmonis sosial • • • • • Kadang proses pikir Ilusi Emosi berlebihan Berperilaku Menarik diri yang • Gangguan pikir halusinasi • Perubahan proses emosi isi terganggu • Perilaku tidak terorganisasi • Isolasi sosial tidak biasa . 2) Faktor presipitasi a. Faktor psikologis Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan. Faktor sosial budaya Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok.

Waham curiga Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencidrai dirinya. berulang kali diucapkan tetapi tidak sesuai knyataan. Contoh “saya tahu seluruh keluarga saya ingin menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya. Prilaku pasien dengan penyakit Waham 1. Proyeksi Adalah mengatakan harapan pikiran.” atau “saya memiliki tambang emas. Waham kebesaran Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus. c. Denial Adalah menghindari kenyataan yang tidak diinginkan dengan mengabaikan atau tidak mengakui adanya kenyataan itu. Contoh “saya ini pejabat di departemen kesehatan lho.pikiran.Mekanisme Koping Merupakan usaha langsung dalam menangulangi stress yang berorientasi pada tugas yang meliputi pemecahan langsung untuk menanggulangi ancaman yang ada. b. Waham agama .motivasi sendiri sebagai harapan..perasaan dan motivasi orang lain...yaitu fase perkembangan yang telah ditinggalkannya. di ucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Adapun mekanisme koping yan biasa di pakai pada pasien waham yaitu : a. Reresi Adalah kemunduran fase perkembangan pada fase yang lebih awal.” 2.” 3.perasaan..

” setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan bahwa ia terserang kanker 5..dan semua yang ada disini adalah roh-roh.. Contoh “kalau saya masuk surge. diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.” G.. saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.di ucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Masalah keperawatan : . Waham Nihilistik Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia atau meninggal.Meyakini keyakinan terhadap suatu agama secara berlebhan.diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.” 4. Contoh “inilah alam kubur.. Waham Somatik Meyakini bahwa tubu klien atau bagian tubuhnya terganggu. Contoh “saya sakit kanker. Pohon masalah Effect RESIKO TINGGI PERILAKU KEKERASAN GANGGUAN ISI PIKIR: WAHAM Core Problem : Causa ISOLASI SOSIAL HARGA DIRI RENDAH KRONIS Sumber : Yosep (2009) Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji a.

orang lain dan lingkungan a) Data subjektif Klien memberi kata-kata ancaman. 2. melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri b) Data objektif Mata merah. curiga. ekspresi marah. wajah agak merah. Gangguan harga diri rendah a) Data subjektif Klien mengatakan saya tidak mampu. merusak dan melempar barangbarang. kecurigaan. atau marah. takut. sangat waspada. Data yang perlu dikaji : 1. mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri b) Data objektif Klien terlihat lebih suka sendiri. tidak bisa. ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup . bodoh. orang lain dan lingkungan Perubahan isi pikir : waham Gangguan konsep diri : harga diri rendah. b) Data objektif : Klien tampak tidak mempunyai orang lain. kadang panik. pandangan tajam. bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan. nada suara tinggi dank eras. merusak (diri. tidak tahu apa-apa. kebesaran. klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal. Perubahan isi pikir : waham a) Data subjektif : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama. orang lain. 3. Resiko tinggi mencederai diri. b. ekspresi wajah klien tegang. Resiko tinggi mencederai diri.1. 2. lingkungan). mengkritik diri sendiri. bermusuhan. tidak tepat menilai lingkungan / realitas. mengatakan benci dan kesal pada seseorang. mudah tersinggung 3. bicara menguasai. keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.

orang lain dan lingkungan Perubahan isi pikir : waham harga diri rendah. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ diri). tempat). b. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat Tindakan : ‫ٱ‬ Bina hubungan. Rencana Keperawatan Diagnosa Keperawatan 1: perubahan isi pikir. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman. ‫ٱ‬ Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima. ciptakan lingkungan yang tenang. melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari . waktu. gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian. H. c.Diagnosa Keperawatan a. tidak membicarakan isi waham klien. Tujuan umum : Tujuan khusus : a. perkenalkan diri. katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati. ‫ٱ‬ Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri. ‫ٱ‬ Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal 2.hari dan perawatan . saling percaya: salam terapeutik. Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk dan saat ini yang realistis. jelaskan tujuan interaksi. Resiko mencederai diri. waham 1. b. buat kontrak yang jelas topik.

cara dan waktu). wahamnya. cemas. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit. dirasakan. e. marah). Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Observasi kebutuhan klien sehari-hari. dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada.‫ٱ‬ Jika klien selalu bicara tentang wahamnya. c. efek samping minum obat. d. Klien dapat menggunakan obat dengan benar Tindakan : ‫ٱ‬ dan efek ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Diskusikan dengan kiten tentang nama obat. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting. obat. frekuensi. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien tempat dan waktu). dosis. memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin). Klien dapat dukungan dari keluarga . f. orang lain. Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama dosis. Klien dapat berhubungan dengan realitas Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri. pasien.

3. Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien. ‫ٱ‬ Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri. Bicara dengan sikap tenang. Tindakan : ‫ٱ‬ Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal. ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Observasi tanda perilaku kekerasan. Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab. Tindakan: ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. rileks dan tidak menantang. . Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal. lingkungan keluarga dan follow up obat. 2. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. orang lain dan lingkungan a. 4. empati. cara merawat klien. Tindakan: ‫ ٱ‬Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.Tindakan : ‫ٱ‬ Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham. Tujuan Umum: Klien terhindar dari mencederai diri. sebut nama Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga. b. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien ‫ٱ‬ dengan sikap tenang. Tujuan Khusus: 1. Tindakan: perawat dan jelaskan tujuan interaksi. Klien dapat membina hubungan saling percaya. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. orang lain dan lingkungan.

‫ٱ‬ tersinggung ‫ٱ‬ diberi kesabaran. memohon kepada Tuhan untuk sedang kesal. 7. Diskusikan cara lain yang sehat. memukul bantal / kasur.‫ٱ‬ Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan dilakukan. Tindakan: ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan. 6. berolah raga. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan. Tindakan: ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ simulasi. 8. Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / Secara spiritual : berdo'a. ‫ٱ‬ marah. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. yang biasa ‫ ٱ‬Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?" 5. Klien mendapat dukungan dari keluarga. sembahyang. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam . Tindakan : Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / Bantu memilih cara yang paling tepat. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

Tindakan: ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Diskusikan dengan klien tentang obat (nama. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program). dosis. jelaskan tujuan interaksi. 2. dimiliki Tindakan : ‫ٱ‬ Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki . Tindakan : ‫ ٱ‬Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. cara dan waktu). dosis. Tujuan umum : Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya. tempat dan topik pembicaraan) ‫ ٱ‬Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya ‫ ٱ‬Sediakan waktu untuk mendengarkan klien ‫ ٱ‬Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri Tujuan khusus : Klien dapat membina hubungan saling percaya b. buat kontrak yang jelas (waktu. pertemuan keluarga. a.‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga. 9. perkenalan diri. yang dirasakan. klien. frekuensi. ciptakan lingkungan yang tenang. obat. Diagnosa Keperawatan 3: harga diri rendah 1. Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat efek dan efek samping).

Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ lakukan e. Tindakan : ‫ٱ‬ klien ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan Beri pujian atas keberhasilan klien Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien setiap hari sesuai kemampuan Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki . Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ f. utamakan Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah memberi pujian yang realistis pulang ke rumah d.‫ٱ‬ ‫ٱ‬ c. Tindakan : ‫ٱ‬ ‫ٱ‬ Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.

Strategi pelaksanaan pasien SP 1 Pasien 1. 3. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien Menjelaskan pengertian. Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi 3. IMPLEMENTASI Dx 1: perubahan isi pikir: waham a.E. SP 3 Pasien 1. tanda dan gejala waham. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung pada pasien waham SP 3 keluarga 1. Strategi pelaksanaan keluarga SP 1 keluarga 1. 3. 2. Membantu orientasi realita 2. 3. Membantu pasien memenuhu kebutuhannya 4. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki Melatih kemampuan yang dimiliki b. 2. 2. dan jenis waham yang dialami pasien beserta proses terjadinya Menjelaskan cara-cara merawat pasien waham 1. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien waham 2. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SP 2 Pasien 1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat( perencanaan pulang) Menjelaskan tindak lanjut pasien setelah pulang SP 2 keluarga . 2.

Dx 2: Resiko mencederai diri. orang lain dan lingkungan c. Strategi pelaksanaan klien SP I pasien 1 Mengidentifikasi penyebab PK 2 Mengidentifikasi tanda dan gejala PK 3 Mengidentifikasi PK yang dilakukan 4 Mengidentifikasi akibat PK 5 Menyebutkan cara mengontrol PK 6 Membantu pasien mempraktekan latihan cara mengontrol fisik I 7 Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan harian SP 2 pasien 1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 2 Melatih pasien mengontrol PK dengan cara fisik II 3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SP 3 pasien 1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 2 Melatih pasien mengontrol PK dengan cara verbal 3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SP 4 pasien 1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 2 Melatih pasien mengontrol PK dengan cara spiritual 3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SP 5 pasien .

Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. 6. Melatih pasien sesuai kemampuan yang dipilih. 5. 3. 4. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dialami pasien 2. Membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat di gunakan. . Membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan klien. Strategi pelaksanaan keluarga SP 1 keluarga 1 Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien 2 Menjelaskan pengertian PK.1 Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 2 Menjelasakan cara mengontrol PK dengan minum obat 3 Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian d. serta proses terjadinya PK 3 Menjelaskan cara merawat pasien dengan PK SP 2 keluarga 1 Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan PK 2 Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK SP 3 keluarga 1 2 Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning) Menjelaskan follow up pasien setelah pulang Dx 3: harga diri rendah a) Strategi pelaksanaan pasien SP 1 pasien 1. Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan pasien. tanda dan gejala.

Menganjurkan pasien memasukkandalam jadwal kegiatan harian. 2. 3. Melatih keluarga memprakktekan cara merawat lansung kepada pasien Harga Diri Rendah. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang. Mendiskusikan masalah yang di rasakan kelurga dalam merawat pasien. 3. Menjelaskan cara merawat pasien harga diri rendah.SP 2 pasien 1. 2. 2. Melatih kemampuan kedua. b) Strategi pelaksanaan keluarga SP 1 keluarga 1. SP 2 keluarga 1. tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami pasien beserta proses terjadinya. Melatih keluarga memprakktekan cara merawat pasien dengan harga diri rendah. Mengevaluasi jadwal harian pasien. Menjelaskan pengertian. F. EVALUASI . SP 3 keluarga 1. Membantu keluarga membuat jadwa aktifitas dirumah termasuk minum obat (discharge plannig) 2.

1. Membantu pasien melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasien c. Keluarga membantu pasien menggunakan obat dengan benar BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN . Evaluasi keluarga Kemampuan yang diharapkan dari keluarga : a. Pasien dapat berkomunikasi sesuai kenyataan c. Evaluasi pasien Kemampuan yang diharapkan dari pasien : a. Pasien dapat mengungkapkan keyakinannya sesuai dengan kenyataan b. Pasien dapat menggunakan obat dengan benar 2. Keluarga membantu pasien untuk mengungkapkan keyakinannya sesuai kenyataan b.

B. Semarang: RSJD Dr. Jakarta: EGC. Pedoman asuhan keperawatan jiwa.Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan. Edisi 1. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. 2003 Keliat Budi A. DAFTAR PUSTAKA Aziz R. SARAN Semoga makalah ini dapat bermanfaat serta menambah wawasan dan diharapkan bagi para pembaca dan semoga penjelasan dalam makalah ini. dkk. Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. kita dapat mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan jiwa khususnya pasien waham. 1999 . Proses keperawatan kesehatan jiwa. Amino Gondoutomo.

Tim Direktorat Keswa. Edisi 1. 1998 . Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri. pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC.2000 Townsend M. Bandung: RSJP.C.