MAKALAH FARMASI SOSIAL

DIARE

Penyusun Resti Mahlifati A. Pramita Purbandari Yohan Budhi A. Tatang Akmaludin Ayu Mayangsari Andardian W. G1F009012 G1F009014 G1F009018 G1F009020 G1F009023 G1F009024

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2012

DIARE

A. Definisi Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsistensi tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinis dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari. Diare ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya ( >3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir (Suraatmaja, 2007). Diare disebabkan oleh transportasi air dan elektrolit yang abnormal dalam usus. Di seluruh dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak yang menderita diare setiap tahunnya dan 20% dari seluruh kematian pada anak yang hidup di negara berkembang berhubungan dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan lambung dan usus (gastroenteritis), usus halus (enteritis), kolon (colitis) atau kolon dan usus (enterokolitis). Diare biasanya diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis (Wong, 2009). Faktor yang dapat menyebabkan diare seperti faktor lingkungan, faktor perilaku masyarakat, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang diare serta malnutrisi. Contoh dari faktor lingkungan berupa sanitasi yang buruk serta sarana air bersih yang kurang. Faktor perilaku masyarakat seperti tidak mencuci tangan sesudah buang air besar serta tidak membuang tinja dengan benar. Tidak memberi ASI pada bayi secara penuh pada 4-6 bulan pertama kehidupan meningkatkan resiko terkena diare, hal ini diakibatkan kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya ibu tentang diare (Adisasmito, 2007).

2006). Diare kronis. 2007). badan lesu atau lemah. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. demam. darah dan lendir dalam kotoran. serta gejala-gejala lain seperti flu.Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari. Diare osmotik Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik antara lain MgSO4. Berdasarkan lamanya diare Diare akut. Mg(OH)2. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum (Simadibrata. Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi dibawah ini a. kadang disertai muntah. 2006). 2007). penurunan nafsu makan atau kelesuan. diare dikelompokkan sebagai berikut : 1. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Amiruddin. b. Selain itu dapat pula mengalami sakit dan kejang perut. panas. . rasa mual dan muntahmuntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari disertai kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare (Suraatmaja. tidak nafsu makan. Diare sekretorik Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus dan menurunnya absorpsi. tinja berdarah. nyeri otot atau kejang dan sakit kepala. Ditinjau dari berbagai sudut. 2. muntah. malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus misal pada defisiensi disakaridase dan malabsorpsi glukosa/galaktosa (Simadibrata. yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.

Diare karena abnormalitas motilitas dan waktu transit usus Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. 2006). Diare inflamasi Proses inflamasi di usus halus dan kolon dapat menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Penyebabnya antara lain diabetes melitus. tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air. paska vagotomi dan hipertiroid (Simadibrata. 2006). g. d. 2006). Diare karena malabsorpsi asam empedu dan lemak Diare tipe ini terjadi karena gangguan pembentukan misel empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati (Simadibrata. e. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction. mukus. 2010). protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. h. f. Diare infeksi . Diare karena defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+ K+ ATPase di enterosit dan absorpsi Na+dan air yang abnormal (Simadibrata.c. elektrolit. Diare karena gangguan permeabilitas usus Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disertai adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus (Simadibrata. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik (Juffrie. 2006).

Kejadian diare di Indonesia diperkirakan 40-50 per 100 penduduk per tahun. sedangkan pada waktu terjadinya kejadian luar biasa (KLB) dapat menyerang semua golongan dan umur. penyebarannya dan faktor-faktor yang menentukan terjadinya diare pada kelompok penduduk. 2006).Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. B. . dimana 70%-80% dari padanya terjadi pada golongan umur balita. Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut (Simadibrata. diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif (merusak mukosa). 2003). Insiden tertinggi terdapat pada usia dibawah 2 tahun (Suharyono. Dari sudut kelainan usus. Penyebaran Diare Menurut Orang Diare lebih banyak menyerang golongan anak balita pada daerah endemis. Epidemiologi Epidemiologi diare diartikan sebagai suatu studi mengenai kejadian diare.

Variasi kajadian diare menurut waktu berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya.Penyebaran Diare Menurut Ternpat Penyebaran diare di suatu ternpat dengan tempat lainnya berbeda. Sedangkan menurut Winardi Bambang (1982) diperkirakan sekitar 10 % dari kunjungan ke Rumah Sakit. namun adanya perbedaan insiden di suatu tempat juga dipengaruhi oleh spesifikasi tempat tersebut. kebiasaan penduduk. 1999). Secara teoritis diketahui bahwa penularan diare dipengaruhi oleh sanitasi dan higienitas perorangan. (Depkes RI. Puskesmas. kepadatan penduduk dan pelayanan kesehatan. WHO pemah mengadakan penelitian dimana diketahui bahwa insiden diare dipengaruhi oleh iklim (WHO. 1990). 2003). insidensi diare di Indonesia pada tahun 2000 adalah 301 per 1000 penduduk untuk semua golongan umur dan . Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian diare itu diataranya keadaan geografis. berdasarkan laporan dari seluruh Indonesia adalah penderita diare serta terlihat pula adanya variasi musim hujan (September Januari). Misalnya tempat pemukiman kumuh dengan jumlah penduduk yang padat akan lebih mudah terjadi penularan secara cepat bila dibandingkan dengan pemukiman lain yang tidak padat (Suharyono. Penyebaran Diare Menurut Waktu Penyebaran diare dapat berada dalam frekwensi dan waktu tertentu. Menurut Departemen Kesehatan RI (2005). Balai Pengobatan.

1. Trichomonas hominis. Infeksi bakteri. monosakarida (intoleransi glukosa. Infeksi parenteral. terutama terdapat pada bayi dan anak di bawah umur 2 tahun 2. Rotavirus. Malabsorbsi KH : disakarida (intoleransi laktosa. Etiologi Diare dapat disebabkan karena adanya peradangan pada usus. Di negara yang sedang berkembang. Astrovirus dan sebagainya 3). Yersinia. kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh (Suharyono. dan sukrosa). tonsilofaringitis. meliputi : 1).histolytica. Aeromonas dan sebagainya 2). Adenovirus. Strongyloides. Infeksi virus. Infeksi parasit. yaitu faktor infeksi. contoh Enterovirus. 2003).5 episode setiap tahunnya untuk golongan umur balita. insiden yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar. yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti OMA. Infeksi enteral. dan galaktosa) . makanan dan psikologis. Kejadian diare pada anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Peradangan usus sendiri dapat disebabkan oleh empat faktor. E. Trichiuris. contoh bakteri Vibrio. Salmonella. dan jamur C.albicans b. Faktor Malabsorbsi a. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. protozoa seperti E. ensefalitis dan sebagainya. fruktosa. malabsorpsi. Oxyuris.coli. Giardia lamblia.1. maltosa. Shigella. Cause Specific Death Rate (CSDR) diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. C. contoh cacing Ascaris. Champylobacter. yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. bronkopneumonia. Faktor infeksi a.

contoh rasa takut dan cemas (Christopher dkk. penggunaan beberapa obat juga dapat menyebabkan terjadinya diare. Malabsorbsi protein 3. Riwayat penggunaan obat sangat penting dalam mengidentifikasi obat-obat yang menimbulkan diare. Obat-obat pencahar yang disalahgunakan untuk menurunkan berat badan.b. Faktor makanan. Malabsorbsi lemak c. beracun dan alergi terhadap makanan. Selain adanya peradangan usus. juga dapat menimbulkan diare. contoh makanan basi. 2009). Berikut ini tabel yang menunjukkan obat-obat yang biasa menginduksi terjadinya diare. dapat menyebabkan diare atau juga dapat menyebabkan pseudomembranous colitis. Beberapa obat termasuk antibiotik. namun untuk kasus ini jarang terjadi. 4. . Faktor psikologis.

. Gangguan motilitas usus Gangguan motilitas usus yaitu pada keadaan peristaltik usus menurun mengakibatkan bakteri timbul berlebihan di dalam rongga usus (Christopher dkk. Gangguan sekresi Gangguan sekresi yaitu akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus sehingga terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Kemudian air dan elektrolit masuk ke dalam rongga usus dan merangsang usus untuk mengeluarkannya. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan (Christopher dkk. Patogenesis Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah akibat adanya gangguan osmotik. sungai. Gangguan osmotik Gangguan osmotik yaitu terdapat makanan dan zat yang tidak dapat diserap sehingga meningkatkan tekanan osmotik di dalam rongga usus. 2009). 2005) Diare dapat ditularkan melalui tinja maupun muntah yang mengandung kuman penyebab diare yang kemudian mencemari lingkungan misalnya tanah. air sumur.(Spruill dan Wade. Orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemar tersebut. 2009). D. sekresi dan motilitas usus. kemungkinan besar akan menderita diare.

mulut dan lidah kering atau tidak. ada tidaknya lender dan darah dalam tinja. adanya muntah.E. 2. ada air mata atau tidak. Tanda vital dalam batas normal. Tanda tambahan seperti ubun-ubun besar dan mata cekung atau tidak. Langkah Diagnostik 1. lemah. warna dan konsistensi tinja. suhu badan. diare frekuen. yaitu kesadaran. Ubun-ubun besar tidak cekung. Turgor abdomen baik. Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria sebagai berikut : a. mukosa mulut dan bibir basah. rasa haus. berapa kali sehari. mukosa bibir. 2009). Apabila penderita adalah anak-anak. dan jumlah cairan yang masuk selama diare. Keadaan umum baik dan sadar. tingkat kesadaran. . Anamnesis Langkah anamnesis yaitu dengan menanyakan kepada pasien mengenai diare yang dideritanya. muntah terus-menerus. air mata ada. rasa haus. seperti berapa lama diare berlangsung. Perlu juga ditanyakan apakah ada yang menderita diare di sekitarnya dan dari mana sumber air minum (Christopher dkk. perlu ditanyakan apakah anak minum ASI atau susu formula dan apakah anak makan makanan yang tidak biasa. Akral hangat dan Pasien dapat dirawat di rumah kecuali bila terdapat komplikasi seperti tidak mau minum. bising usus normal. Tanpa dehidrasi (Kehilangan cairan <5% berat badan) Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan. Pemeriksaan Fisis Pada pemeriksaaan fisis harus diperhatikan tanda utama. dan turgor kulit abdomen. mata tidak cekung.

air mata kurang. Ubun-ubun besar sedikit cekung. parasit. Keadaan umum gelisah atau cengeng. Dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% berat badan) Apabila ditemukan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda tambahan. leukosit. Turgor buruk. letargi atau koma. c. warna. lender. Akral hangat.b. Ubun-ubun besar sangat cekung. mukosa mulut dan bibir sedikit kering. mukosa mulut dan bibir sangat kering. mata sedikit cekung. Makroskopis : bau. Akral dingin. Mikroskopis :eritrosit. air mata tidak ada. 2009). Kimia : pH dan elektrolit (Na. Turgor kurang. 3. darah dan konsistensi b. dan Pasien harus rawat inap (Christopher dkk. dan Pasien harus rawat inap. c. HCO3). . Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tinja antara lain a.K. Keadaan umum lemah. mata sangat cekung. Dehidrasi ringan-sedang (kehilangan cairan 5 – 10% berat badan) Apabila ditemukan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda tambahan.

Terapi Diare Berat Dalam kondisi darurat. dan adanya darah atau lender dalam tinja. pemulihan status cairan tubuh pasien merupakan hal yang paling penting. dengan demikian dapat memudahkan pemantauan perkembangan terapi (Spruill dan Wade. Evaluasi Hasil Terapi 1. Pasien yang mengalami dehidrasi.d. pasien geriatrik dengan penyakit kronis dan bayi perlu dirawat inap untuk terapi rehidrasi secara parenteral. Gejala-gejala tersebut biasanya dapat membaik dalam jangka waktu 24 sampai 72 jam. Terapi Umum Hasil terapi utamanya diarahkan pada gejala dan tanda-tanda yang muncul serta hasil pemeriksaan laboratorium. osmolalitas serum. demam tinggi. Bila perlu dilakukan biakan dan uji resistensi (Christopher dkk. biasanya pasien akan sembuh dalam beberapa hari (Spruill and Wade. diare akut ini biasanya sembuh dengan sendirinya dalam 3 sampai 7 hari. Selain itu juga. para klinisi perlu untuk memantau berat badan. . Memantau perubahan frekuensi buang air besar. demam. 2005). obat-obat yang mengobati gejala serta diet. Pemberian antiobiotik empiris juga perlu diberikan sementara menunggu hasil kultur bakteri. Biasanya pasien yang menderita diare akut ringan sampai berat hanya diterapi rawat jalan dengan pemberian obat-obatan rehidrasi oral. F. Namun. 2009). Apabila tidak disertai dengan dehidrasi sedang sampai berat. hematochezia atau hipotensi perlu rawat inap dan diberikan cairan dan elektrolit secara intravena. Terapi Diare Akut Kebanyakan pasien yang mengalami diare akut juga mengalami stress ringan sampai sedang. elektrolit. tanda-tanda vital serta peningkatan nafsu makan setiap harinya sangat penting. 2005). Dengan manajemen terapi yang tepat. 2. 3. total sel darah dan kultur bakteri bila perlu (Spruill dan Wade. 2005).

Asi mempunyai khasiat . Pencegahan Diare Tujuan pencegahan diare adalah untuk tercapainya penurunan angka kesakitan. Setelah 6 bulan dari kehidupannya. Asi saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan. komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. pemberian Asi harus diteruskan sambil ditambahkan dengan makanan lain (proses menyapih).Membuang tinja bayi yang benar . tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa menggunakan botol menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain yang akan menyebabkan diare. Asi steril berbeda dengan sumber susu lain : susu formula atau cairan lain disiapkan dengan air atau bahan-bahan yang terkontaminasi dalam botol yang kotor.Menggunakan Jamban .Memberikan imunisasi campak a) Pemberian ASI Asi adalah makanan paling baik untuk bayi. 2012).Memberikan ASI .G. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa cara pencegahan yang benar dan efektif yang dapat dilakukan adalah .Menggunakan air bersih yang cukup . Bayi –bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6 bulan.Memperbaiki makanan pendamping ASI . Keadaan seperti ini disebut disusui secara penuh (Anonim. Pemberian Asi saja.Mencuci Tangan . tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini (Anonim. 2012).

Pada bayi yang baru lahir pemberian Asi secara penuh mempunyai daya lindung 4x lebih besar terhadap diare daripada pemberian Asi yang disertai dengan susu botol. Pemberian susu formula merupakan cara lain dari menyusui.Tambahkan minyak. Suapi anak dengan sendok yang bersih. berikan semua makanan yang dimasak dengan baik dan teruskan pemberian Asi bila mungkin. telur. kacang–kacangan. . biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk (Anonim. Flora usus pada bayi-bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyabab diare. buahbuahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanan. Penggunaan botol untuk susu formula. Perilaku pemberian makanan pendamping Asi yang baik meliputi perhatian kapan. risiko mendapat diare adalah 30x lebih besar. Pada masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping Asi dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian. apa dan bagaimana makanan pendamping Asi diberikan. Asi turut memberikan perlindungan terhadap diare. Tambahkan hasil olahan susu. b) Makanan Pendamping Asi Pemberian makanan pendamping Asi adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa.Perkenalkan makanan lunak ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi teruskan pemberian Asi. Pada bayi yang tidak diberi Asi secara penuh. . Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak. Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping Asi yang lebih baik yaitu . Berikan makanan lebih sering (4x sehari) setelah anak berumur 1 tahun. 2012). daging. Tambahkan berbagai macam makanan sewaktu anak berumur 6 bulan atau lebih. ikan. pada 6 bulan pertama kehidupan. lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk energi.preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya.

Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah. sebelum menyiapkan makanan. mempunyai dampak dalam kejadian diare (Anonim. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut.Gunakan air yang direbus - Cuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup (Anonim. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan oleh keluarga . 2012).. makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar. . Mencuci tangan dengan sabun. 2012) d) Mencuci tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. cairan atau benda yang tercemar dengan tinja misalnya air minum. 2012) c) Menggunakan air bersih yang cukup Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal-oral. simpan sisanya pada tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak (Anonim. sebelum menyuapi makanan anak dan sebelum makan.Masak atau rebus makanan dengan benar.Ambil air dari sumber air yang bersih - Ambil dan simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung khusus untuk mengambil air - Jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anak- anak . terutama sesudah buang air besar. sesudah membuang tinja anak. jari-jari tangan. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih.

Yang harus diperhatikan oleh keluarga .Bantu anak-anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah dijangkau olehnya - Bila tidak ada jamban pilih tempat untuk membuang tinja anak seperti di dalam lubang atau di kebun kemudian ditimbun - Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangan dengan sabun (Anonim.Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga.Kumpulkan segera tinja bayi atau anak kecil dan buang ke jamban .e) Menggunakan Jamban Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. jalan setapak dan tempat anak-anak bermain serta lebih kurang 10 meter dari sumber air.Bersihkan jamban secara teratur - Bila tidak ada jamban. dan keluarga harus buang air besar di jamban. 2012) . Yang harus diperhatikan oleh keluarga . jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat buang air besar sendiri. . 2012) f) Membuang tinja bayi yang benar Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi itu tidak berbahaya. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat. buang air besar hendaknya jauh dari rumah. hindari buang air besar tanpa alas kaki (Anonim. Tinja bayi harus dibuang secara bersih dan benar. hal ini tidak benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya.

Diare yang tak diatasi dapat mengakibatkan mortalitas. Terapi Farmakologi . oleh karena itu beri anak imunisasi campak segera setelah berumur 9 bulan (Anonim. ORS diberikan dengan mencampur 1 sachet dengan 1 liter air matang (Dipiro dkk. 2008). Loperamide bekerja secara perifer dengan menghambat kalmodulin dan .Opioid dan Turunannya Berkhasiat untuk menunda transit di intraluminal. Rute enteral dipilih bila pasien tak mengalami mual. 2008). Pengobatan 1. muntah dan dehidrasi parah (Dipiro dkk. H. 80 mEq/l Cl dan 10 mEq/l sitrat. 20 mEq/l K.g) Pemberian Imunisasi Campak Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Terapi Non Farmakologi Terapi rehidrasi. meningkatkan kapasitas usus dan memperlama absorpsi. ORS sesuai standar WHO berisi 20 gr/l glukosa. Pemeliharaan air dan eletrolit ditujukan untuk memelihara volume cairan dan jumlah ion tubuh sehingga tetap dalam kondisi normal. 90mEq/l Na. 2012). Efek samping yang mungkin timbul ialah addiksi jika digunakan dalam jangka waktu lama. pemeliharaan air dan kadar elektrolit ialah terapi yang utama dari awal hingga akhir pengobatan diare. 2. Pada diare terjadi kehilangan cairan dalam jumlah besar sehingga perlu diberikan ORS (oral rehydration solutions). Pada anak dan infan yang kehilangan cairan 5-7% dari berat total tubuh dapat diberikan ORS 40-50 ml/kgBB diberikan pada 4-6 jam pertama. Enkephalins bekerja dengan menstimulasi proses absorpsi sehingga mempengaruhi pergerakan cairan melalui mukosa. Pemberian terapi rehidrasi dapat melalui rute enteral dan parenteral.

Adsorbent Digunakan baik untuk diare maupun konstipasi. laktase yang dikonsumsi dapat menyebabkan diare osmotik (Dipiro dkk. 2008). Loperamid digunakan pada diare akut maupun kronis (Dipiro dkk. Indikasinya untuk mengatasi gangguan pencernaan. mengurangi kram perut dan mengontrol diare (Dipiro dkk.Antisecretory Agents Termasuk golongan ini contohnya bismuth subsalisilat. air maupun nutrisi di saluran cerna (Dipiro dkk. 2008). . 2008). Obat ini memiliki efek anti inflamasi. Sediaan yang mengandung laktase berguna untuk pasien yang mengalami diare karena intoleransi laktosa. 2008).Agen Lain Sediaan Lactobacillus (Lactinex) berisi bakteri asam laktat sebagai sumber flora normal usus. anti sekretori dan anti bakteri. . . jus atau air (Dipiro dkk.mengontrol sekresi Cl. . 2008). Pemberian flora normal usus diharapkan dapat meningkatkan kinerja usus dan menekan pertumbuhan bakteri patogen yang menyebabkan diare. Merupakan agen penyerap yang bersifat non selektif dan dapat mengadsorpsi baik senyawa toksik. Sediaan ini harus dikonsumsi bersama makanan. Pada pasien yang mengalami defisiensi enzim jenis ini.

.

files. http://dinkes-sulsel. Juffrie. Jakarta. Vol 19. Constipation. Diarrhea. and Irritable Bowel Syndrome in: Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition.go. http:/ ridwanamiruddin. R. Sains Kesehatan. William J. Diakses tanggal 30 September 2012. Pedoman Pemberantasan diakses 1 Oktober Penyakit Diare. and Wade. Spruil. New York. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. http: //yayanakhyar. Anonim.diare/. Simadibrata M. Jakarta. William E. Juli 2006. Faculty of Medicine – University of Riau. J. Zubir Dan Wibowo. PT.DAFTAR PUSTAKA Adisasmito. wordpress.L. R dkk. Setiyohadi B. Inc. Raja Grafindo Persada. Issn 1411-6197 : 319-332. Talbert. 2009.pdf 2012 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dipiro. Setiati S. Christopher dan Israr. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. com/2009/08/ diare-akut_files_of_ drsmed..wordpress. The McGraw-Hill Companies.. Pekanbaru. M. Inc. 2008. Amiruddin. 2007. Jakarta: Ditjen Ppm Dan Pl. Universitas Hasanudin Makasar. Tatalaksana Penderita Diare. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Akut Pada Anak 0-35 Bulan (Batita) Di Kabupaten Bantul.com / 2007/10/17/current-issue-kematian-anak-karenapenyakit. Alwi I. 2006.T. Yayan Akhyar (ed). Sudoyo AW.Current Issue Kematian Anak karena Penyakit Diare (Skripsi). T. Sistem Kesehatan. W. 2012. diakses 3 Oktober 2012. 2005. dkk. Diare Akut. 2007.pdf. No 3.2005. . USA: The McGraw-Hill Companies.id/ new/ images/ pdf/pedoman/pedoman%20tatalaksana%20diare. 2006.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sagung Seto pp.Suharyono. Renika Cipta. WHO. Jakarta. Jakarta. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. 1999. .Fifty Years World Health Organization. 2003. Kapita Selekta Gastroentrologi Anak. 2009. 2007. In South East Asia Highlight. CV. Suraatmaja S. Diare Akut : Klinik dan Laboratorium. Jakarta. New Delhi : SEARO.. Wong.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful