SECTIO CAESARIA ( SC

)
Posted on March 27, 2011 by dhiyazcharlotte

I. PENGERTIAN Sectio Caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina ( Muchtar ,1998 ). Sectio Caisaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer , 2001 ). Sectio Caesaria adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus ( histerotomi) . (Obstertri Williams adisi 18 , hal 511) 1. II. ETIOLOGI 2. Power ( Ibu ) 1. Tidak bisa mengedan 2. Preeklamsi berat 3. Hipertensi 4. Tidak Timbulnya His 5. Passage ( Jalan Lahir ) 1. Panggul sempit 2. Kelainan Uterus 3. Tumor jalan lahir 4. Tidak sensitifnya otot rahim 5. Pasager (Janin dan plasenta) 1. Placenta previa 2. Hidrosevalus 3. Letak lintang 4. Letak sunsang 1. III. INDIKASI 1. Pada ibu

2. Perdarahan kurang 4. Luka dapat melebar kekiri. Untuk persalinan berikutnya lebih sering pada rupture uteri spontan. 3. kanan dan bawah menyebabkan arteri uterine putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. Rupture uteri kurang / lebih kecil 5. Penjahitan luka lebih rendah 2. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitarialis yang baik. . Kekurangan 1. Kelebihan 1. 1. Section caesaria ismika / propunda 1. Jenis – jenis operasi sectio caesaria : 1. Pada janin   Kelaian letak Gawat janin 1. IV. 2.          Panggul sempit absolut Placenta previa centralis dan lateralis Disproposi sepato pelvik Gawat janin Partus lama / partus tidak maju Preeklamsi dan hipertensi Tumor pada jalan lahir yang menimbulkan obstruksi Sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk Incordinate uterine Pernah se sebelumnya 1. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik. Kontra indikasi    Infeksi isi rahim Janin mati / terlalu premature untuk bisa hidup Syok . Section caesaria corporal dengan insisi memanjang pada korpus uleri kira – kira sepanjang 10 cm. anemia berat yang belum teratasi 1. Mengeluarkan janin lebih cepat. Penutupan luka yang baik 3. Kelebihan 1. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal 4. 3. Kekurangan 1.

Pada ibu 2. Sayatan huruf T ( T. Hal. Transfusi darah Diperlukan persendian darah karena perdarahan SC lebih banyak di persalinan per vagina karena disebabkan oleh insisi uterus dan yang terjadi otonia uteri post partum 1. Keluhan pada kandung kemih post op tinggi. 2. Komplikasi 1. 1.inasian ). Berat : Peritonitis.2. Sayatan melintang ( tranversal ). Section caesaria ekstra peritoneal Dilakukan tanpa membuka peritoneum perietalis dank arum abdominalis. antibiotic. sepsis. Penanganannya : pemberian cairan . dehdrasi. 6. Perdarahan disebabkan oleh : . perut sedikit kembung. SC efektif : SC yang telah direncanakan untuk kehamilan ibu. 4.   Sayatan memanjang (longitudinal). 3. Ringan : kenaikan suhu beberapa hari 2. Sedang : kenaikan suhu lebih tinggi. elektrolit. Section vaginalis Arah sayatan pada rahim 1. yang kuat dan tepat. Infeksi Poerporal (nifas ) 1. ileus paralitik sering terjadi pada partus terlantar dimana sebelumnya terjadi infeksi intopartal karena ketuban yang pecah terlalu lama .hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan section caesaria: 1. Keuntungan : waktu pembedahan dapat dilakukan oleh dokter segala persiapan dilakukan dengan baik Kerugian : segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan perdarahan karena uterus belum mulai dengan kontraksinya 1. V. Anastesi    Anastesi umum : mempunyai pengaruh pada pusat pernafasan janin Anastesi Spiral : baik buat janin tapi tekanan darah pasien dapat menurun Anastesi local : cara yang paling aman 1. 3. 1. Pemberian antibiotik 2.

Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan mendatang. Pemeriksaan Diagnostik 1. 1. VI. Penatalaksanaan 2. Preoperasi : 1. Pencukuran area operasi dan rambut pubis.1. Banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka. . emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperi tonialisasi terlalu tinggi 5. Konsultasi dengan dokter anastesi 4. 2. 4. HCT 1. Pemeriksaan USG Menentukan letak janin 1. Atonia uteri Perdarahan pada placenta Luka kandung kemih. MANIFESTASI KLINIS Data subjektif :     Pasien mengeluh nyeri pada perut akibat luka operasi Pasien mengeluh sulit untuk tidur Pasien mengeluh sulit untuk bergerak/beraktivitas Pasien mengeluh badannya panas Data objektif          Pasien tampak meringis Takikardi Konjungtiva anemis Suhu meningkat Tampak luka abdomen akibat luka operasi Lingkaran hitam di mata ADL di bantu Terdapat tanda-tanda infeksi Pasien tampak gelisah 1. VIII. Inform consent 2. Pemeriksaan DL : Hb. 3. VII. Mengevaluasi terakhir status obstetric penderita dan janin. 3. Pemeriksaan radiologi Menentukan kesempatan dan kelainan panggul serta kelainan dalam kehamilan 1.

Intra Operasi 1. Desinfeksi lapangan operasi 1. Tidur terlentang dengan posisi kepala sedikit direndahkan. Bahan desinfektan : Kombinasi yodium. 2.Penutupan lapangan operasi disesuaikan dengan insisi yang akan dilakukan .setelah operasi usahakan pasien tetap dalam keadan berbaring dengan posisi V dengan memberikan bontal pada kepala dan kaki minimal 6 jam atau sampai kesemutan pada kaki hilang. Tanda vital kehamilan terdapat his. Narcose penderita section sesaria Narcose pada section sesaria dapat dilakukan dengan cara : 1. Anastesi local Pertimbangan teknik narkose diserahkan kepada ahli narkose sehingga keamana dan ketenangan jalannya operasi dapat dijamin. Anaste Lumbal 3. Tanda-tanda vital diukur : tekanan darah. 8. Kombinasi :halotine.alcohol.5. Pemeriksaan tanda – tanda vital Persiapan darah (transfuse darah ) 1. namun sebelumnya dilakukan test.lapangan operasi ditutup dengan kain penutup yang suci nama (duk Steril). Posisi Pada pasien dengan blok spinal anastesi. 6. 7.dan keadaan ekstremitas. 1.temperature.letak jantung janin dan pendarahan 2. Penutupan Lapangan operasi Setelah lapangan operasi dicuci. 1. 1.pernapasan.desinfektan menggunakan: kombinasi yodium alcohol dan betadine 3.betadine 2. Pemasangan cairan infus dan dower kateter Pemberian antibiotika . apakah suatu insisi pranenstial atau insisi longitudinal. Post operasi Perawatan pasien sesampai diruang perawatan 1.O2 2.nadi. 1. Posisi dan Evaluasi penderita 1. Pemberian cairan . Tehnik Desinfektan ilakukan dengan mencukur rambut pubis menjelang tindakan .

Eliminasi Kateter 24 jam setelah itu diajarkan pasien tehnik bladder training 1.Jumlah cairan yang keluar ditampung dan diukur sebagai pedoman pemberian cairan. 1.Bila kadar hemoglobin darah rendah.posisi kaki pasien berbentuk huruf V dan kaki sama tinggi dan posisi tubuh terlentang.maka pemberian cairan intravena harus cukup dan mengandung elektrolit yang diperlukan agar tadak terjadi hipertermia.berikan transfuse darah. Diet Pemberian minum sedikit demi sedikit boleh diberikan 6-10 jam pasca operasi berupa air putih.TTV: 15-30 menit untuk SC Sebagai pengawasan KU pasien. Perawatan luka :Observasi luka post operasi dan rawat luka setelah hari ke-3 post operasi.garam fisiologis dan ringer laktat secara bergantian.Pada hari ke-1 Kateter 24 jam (posisi dudk)dan hari ke-2 pasien bias jalan-jalan.sesuai kebutuhan.jumlah tetesan tergantung pada keadaan dan kebutuhan .dehidrasi dan komplikasi pada organ tubuh lainnya. . Pemberian obat-obatan :Antibiotik dan analgetik 2. 1.pada hari ke 0 (6-8 jam) pasien bedrest miring kana dan miring kiri. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan selama 6-8 jam tergantung anastesi.Karena selama 6 jam pertama penderita puasa operasi.cairan yang diberikan biasanya dextrose 5-10%. 1.