You are on page 1of 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Marmut (Cavia cobaya) merupakan hewan dari kelas mamalia yang berdarah panas (homoiterm). Suhu tubuhnya tetap tidak terpengaruh oleh lingkungannya. Mamalia itu sendiri dari bahasa latin yaitu mammae yang berarti buah dada, sehingga setiap hewan kelas ini mempunyai kelenjar susu. Kelenjar susu akan berkembang dan fungsi sekresinya akan meningkat pada hewan betina dewasa. Susu dikeluarkan melalui kelenjar yang ada di glandula mamae. Kulit yang menutupi mamalia terdiri atas dua lapisan yaitu corium (di sebelah dalam) dan epidermis (sebelah luar). Marmut mempunyai sifat yang spesifik yaitu mempunyai ekor yang menonjol, pada waktu lahir anak marmut mirip marmut dewasa karena sudah berambut dan matanya sudah terbuka. Ciri lain yang membedakan dengan hewan lain adalah pada jantung mamalia dewasa mempunyai dua ventrikel yang berfungsi untuk memompa darah, dengan dinding yang sangat tebal dan dua atrium. Bagian yang menarik pada marmut adalah cara hewan ini untuk menarik lawan jenisnya, yaitu dengan cara menyebarkan bau yang dihasilkan dari kelenjar yang terdapat pada lekuk pirenium yang letaknya posterior dari penis atau vulva, peristiwa ini disebut hedonik. Praktikum ini menggunakan marmut sebagai salah satu spesies yang mewakili mamalia karena selain mudah didapat, susunan tubuh marmut mudah dipelajari, demikian juga fisiologinya dapat ditunjukan serta cara hidupnya sederhana dan mudah diamati.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara pemberian perlakuan per-oral, melalui subkutan, intravena, intraperitoneal, dan intramuskular pada hewan coba marmut ? 2. Bagaimana cara melakukan pengorbanan marmut ?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui bagaimana cara pemberian perlakuan per-oral, melalui subkutan, intravena, intraperitoneal, dan intramuskular pada hewan coba marmut. 2. Untuk mengetahui cara melakukan pengorbanan marmut.

1.4 Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan paper ini adalah sebagai acuan untuk menambah pengetahuan tentang cara pemberian perlakuan pada marmut. Dengan adanya paper ini diharapkan pembaca dapat lebih mengetahui dan memahami bagaimana cara pemberian perlakuan pada marmut.

BAB II METODE PENULISAN

2.1 Metode Penulisan Pada penulisan paper ini, penulis menggunakan metode kepustakaan atau metode studi pustaka. Dalam mencari bahan dan data yang ada, penulis mencari refrensi-refrensi dari internet dan semua data yang telah diperoleh lalu digabungkan sehingga bisa menjelaskan pokok bahasan. Dalam menganalisis bahan, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dalam menyajikan data, penulis menggunakan metode formal.

2.2 Jenis Data Jenis data yang digunakan pada penulisan paper ini merupakan data sekunder dimana data yang diperoleh dari hasil penelitian ataupun percobaan telah dilakukan oleh peneliti atau penulis sebelumnya. Data yang diperoleh lalu dianalisis dan disarikan dalam bentuk tulisan.

2.3 Sifat Tulisan Tulisan dalam paper ini bersifat deskriptif yang artinya memaparkan berbagai informasi dan data yang diperoleh sehingga menjadi kesatuan yang utuh sehingga dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi pembaca.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Karakter Utama Marmut Marmut amat jinak, tidak akan mengalami kerusakan pada waktu dipegang, dan jarang mengigit. Marmut yang sehat selalu bersifat awas, kulitnya halus dan berkilat, tidak dikotori oleh faeces maupun urine. Bila dipegang bulunya tebal. Tidak ada cairan yang keluar dari hidung dan telinga, juga tidak meneteskan air liur dan diare. Pernafasan diatur dan tidak berbunyi. Sikap dan cara berjalannya normal. Dalam satu species, berat badan dan ukuran badan tiap marmut yang berumur sama jumlahnya sedikit dan tidak bervariasi. Laju denyut jantung marmut normal adalah 150-160 per menit, laju respirasi 110-150 per menit, dan suhu rektal antara 39-40 0C. Adapun cara memperlakukan marmut yaitu dengan cara mengangkat dan memegang bagian atas dengan tangan yang satu dan memegang badan bagian belakangnya dengan tangan kanan.

3.2 Pemberian Perlakuan Secara Oral Pemberian perlakuan per-oral adalah cara penggunaannya masuk melalui mulut. Hal ini merupakan cara paling dasar dan aman dalam melakukan suatu injeksi ke dalam organisme, dikarenakan perlakuan per-oral sama sekali tidak menimbulkan bekas luka suntik. Keuntungannya relatif aman, praktis dan ekonomis. Kerugiannya yaitu timbulnya efek sering muntah dan diare. Sebelum memulai perlakuan per-oral terlebih dahulu lakukan prosedur pemegangan marmut. Pemberian perlakuan secara oral pada marmut dapat dilakukan dengan tiga cara : 1. Dilakukan dengan alat berupa pipa lambung yang dimasukkan ke dalam mulut, kemudian perlahan-lahan diluncurkan melalui langit-langit ke arah belakang sampai esophagus kemudian masuk ke dalam lambung. Cara pemberian yang keliru, masuk ke dalam saluran pernafasan atau paru-paru dapat menyebabkan gangguan pernafasan dan kematian. 2. Dilakukan dengan pipet, ini berlaku untuk cairan sampai volume 5 ml. 3. Dilakukan dengan menambahkan pada makanan.

3.3 Pemberian Perlakuan Melalui Intraperitoneal Pada perlakuan intraperitoneal, hewan coba diinjeksi pada bagian rongga perutnya. Daerah penyuntikan adalah seluas lebih kurang 2,5 cm persegi, agak ke kanan dari garis midsagittal (suatu bidang sagital tertentu yang melewati garis tengah tubuh dan membaginya menjadi dua bagian kanan dan kiri sama besar) dan 2,5 cm di atas pubis (bantalan jaringan lemak). Marmut dipegang punggungnya sedemikian sehingga perutnya agak mencolok ke muka. Jarum suntik kemudian ditusukkan seperti pada cara subkutan, tetapi sesudah masuk dalam kulit, jarum agak di tegangkan sehingga menembus lapisan masuk ke dalam daerah peritoneum ( suatu membrana serosa yang tipis, halus). Untuk melakukan injeksi ini, diperlukan dua orang praktikan, dimana salah satu memegang marmut dan praktikan lainnya melakukan injeksi. Untuk menangani marmut dibutuhkan usaha yang lebih besar karena ukuran tubuhnya lebih besar dari mencit, dan tikus.

3.4 Pemberian Perlakuan Melalui Intramuskular Perlakuan intramuskular merupakan suatu perlakuan menginjeksi marmut pada bagian ototnya. Daerah penyuntikan terbaik adalah otot pada bagian posterior lateral. Injeksi zat melalui otot, dilakuakan menggunakan syringe 2,5-3 ml. Untuk melakukan injeksi ini salah seorang praktikan harus memegang marmut dan membiarkannya dalam posisi terlentang. Jarum disuntikkan melalui kulit dan diarahkan pada jaringan otot, jangan terlalu dalam sampai menyentuh bagian tulang paha. Injeksi ini harus dilakukan secara hati-hati , karena dapat melukai marmut dan megakibatkan edema (pembengkakan jaringan akibat kelebihan cairan). Setelah melekukan injeksi tersebut harus dibasuh dengan alkohol untuk menghindari adanya infeksi.

3.5 Pemberian Perlakuan Melalui Subkutan Perlakuan melalui subkutan merupakan injeksi dengan menggunakan jarum suntik kedalam bagian bawah kulit dari hewan coba. Hal ini dilakukan agar zat yang diinjeksi lebih mempengaruhi daerah bawah kulit. Diangkat bagian kulit dengan mencubitnya, kemudian tusukkanlah jarum suntik ke bawah kulit, paralel dengan otot di dawahnya. Pemilihan lokasi penyuntikan tidak dibatasi.

3.6 Pemberian Perlakuan Melalui Intravena Cara pemberian perlakuan melalui intravena ini jarang dilakukan, namun ada dua metode yang mungkin dilakukan : 1. Pada vena marginalis , dengan jarum halus dan pendek, cara ini berlaku khusus untuk marmut besar. 2. Pada vena saphena (vena pada paha), marmot dianestesi tarlebih dahulu, isolasi vena saphena, baru dilakukan penyuntikan. Keterangan : pemberian obat-obatan secara perenteral terutama pada marmut harus didahului dan diakhiri dengan pemberian antiseptik pada daerah penyuntikan untuk menghindari terjadinya infeksi. Anestesi : dua obat yang biasa digunakan adalah eter dan pentobarbital natrium. Eter digunakan untuk anestesi singkat, setelah marmut dipuasakan selama 12 jam. Pentobarbital natrium diberikan dengan dosis 28 mg/kg berat badan.

3.7 Cara Pengorbanan Marmut Pengorbanan marmut dapat dilakukan dengan cara kimiawi dengan karbon dioksida, tapi cara yang paling umum, cepat dan berperikemanusiaan adalah mematahkan lehernya. Dapat dilakukan dengan cara : 1. Dengan pukulan keras pada tengkuk. 2. Dengan memutuskan bagian belakang kepalanya atau dislokasi dengan menggunakan tangan saja pada bagian lehernya.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan 1. Pemberian perlakuan per-oral dilakukan melalui mulut. Pemberian perlakuan secara oral pada marmut dapat dilakukan dengan tiga cara : dilakukan dengan alat berupa pipa lambung yang dimasukkan ke dalam mulut, dengan pipet dan menambahkan pada makanan. Perlakuan intraperitoneal, hewan coba diinjeksi pada bagian rongga perutnya dengan cara menyutikkan zat pada bagian rongga perut. Perlakuan intramuskular dilakukan dengan cara menyuntikkan jarum suntik melalui kulit dan diarahkan pada jaringan otot dan perlakuan melalui subkutan dilakukan dengan cara menginjeksi dengan menggunakan jarum suntik ke dalam bagian bawah kulit dari hewan coba serta cara pemberian melalui intravena dilakukan dengan jarum halus dan pendek, cara ini berlaku khusus untuk marmut besar. 2. Cara pengorbanan marmut dapat dilakukan dengan cara kimiawi dengan karbon dioksida dan cara yang paling umum, cepat dan berperikemanusiaan adalah memetahkan lehernya.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG, and Taylor MR. 2002. Biology. Addision Wesley Word Student Series: San rfansisco. Husen, D.J. 2009. Buku Prtunjuk Praktikum Biologi Medis. Departemen Biologi, Fakultas SA ins dan Teknologi, Universitas Airlangga. Surabaya. Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabt dangan Hewan Coba. CMUP.Jogjakarta. Thompson, E. 1985. Drugs Bioscreening : Fundamentals of drugs Techniques in Pharmacology. New York : Graceway Publishing Company, Inc. Wattimena., et al. 1993. Laboratorium farmakologi. Bandung: Jurusan Farmasi ITB. Djauzi, S., 2011. Pengunaan hewan coba Available at : http://ml.scribd.com/doc/94113177/PENGGUNAAN-HEWAN-COBA Opened : 03.06.2012