You are on page 1of 23

LAPORAN PRAKTIKUM PERCOBAAN 1

PENGUKURAN & KETIDAK PASTIAN PENGUKURAN

Mursalim Yunus 17 Ashar Hendra Irfandi Eva Rahman Rusnaini Yuspi angreani 21 Dewi Mayasitoh irianti 16

DISUSUN OLEH : KELOMPOK

Kelompok Kelompok 17 Kelompok 17 Kelompok 17 Kelompok 17 Kelompok 17 Kelompok Kelompok

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

2009/2010

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena berkat taufiq dan hidayahNya sehinggah kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul “SYIRIK”. Kemudian salawat dan salam kami hantarkan kepada panutan agung kita Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, serta semua insan yang mengikuti dan meneladani beliau sampai kepenghujung zaman. Setelah kami berupaya semaksimal mungkin untuk kesempurnaan isi makalah ini namun hasilnya beginilah adanya. Bak kata pepatah: “Tak ada gading yang tak retak.” Segala tegur sapa dan keritik para teman-teman kami terima dengan hati yang suci penuh keikhlasan. Akhir kata, ucapan terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Dan dihaapkan agar makalah ini dapat sedikit berguna bagi kita semua dimasa kini maupun dimasa akan datang.

Parepare, November 2009 Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mengikuti percobaan ini, mahasiswa akan dapat:

1. Memperoleh kecakapan dan keterampilan dalam menggunakan dan mengerti
kegunaan peralatan laboratorium.

2. Memperkirakan dan menytakan kesalahan khusus. 2. TUJUAN INSTRUKSI KHUSUS
1. Menggunakan beberapa alat ukur satu/lebih variable. 2. Menentukan ketidakpastian pada hasil pengukuran tunggal. 3. Menentukan ketidakpastian pada hasil pengukuran berulang. 4. Mengerti membuat laporan hasil pengukuran.

B. TEORI RINGKAS

1. TEORI PENDAHULUAN
Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala dan perilaku alam sepanjang bisa diamati oleh manusia baik dengan menggunakan panca indera yang dimiliki maupun dengan alat ukur yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Pengukuran suatu besaran fisis dalam fisika senantiasa dihinggapi dengan apa yang disebut sebagai ketidakpastian baik dilakukan satu kali maupun dilakukan berulang-ulang. Misalnya x adalah suatu besaran fisis tertentu yang nilai besarnya adalah x0 yang akan diketahui melalui pengukuran, maka setiap kali dilakukan suatu pengukuran pada besaran fisis tersebut akan berpeluang terjadi

penyimpangan dari nilai yang sebenarnya. Cotoh : suhu kamar, kelembaban udara, arus listrik dalam rangkaian, masa kalorimeter dan sebagainya.

Adapun sebab-sebab terjadinya penyimpanan ini antara lain adalah :

i. ii.

Adanya nilai skala terkecil (least count) yang ditimbulkan oleh keterbatasan

dari alat ukur yang digunakan. Adanya ketidakpastian bersistem, diantaranya : • Kesalahan kalibrasi Pemberian nilai pada skala waktu alat diproduksi ternyata kurang tepat. • Kesalahan titik nol Sebelum digunakan untuk mengukur alat ukur telah menunjuk pada suatu harga skala tertentu atau jarum tidak mau kembali pada titik nol secara tepat. • Kesalahan pegas Setelah sekian lama berfungsi, pegas melembek ataupun mengeras dari keadaan semula. • Gesekan pada bagian-bagian alat yang bergerak • Paralaks (arah pandang) dalam membaca skala Kesalahan bersistem menyebabkan hasil pengukuran yang diperolah agak menyimpang dari nilai yang sebenarnya, dan simpangan ini mempunyai arah tertentu. Misalnya, hasil pengukurang menghasilkan nilai-nilai yang secara konsistem lebih besar atau kecil dari harga yang semestinya.

iii.

Adanya ketidakpastian acak, diantaranya : • Gerak Brown molekul udara, gerak ini dapat mengganggu penunjukan jarum alat ukur yang sangat halus. • Flutuasi tegangan jaringan listrik, mengganggu operasional alat-alat listrik. • Bising elektronik, berupa gangguan pada alat ukur elektronik. • Sumber kesalahan acak sering berada diluar kendali dan dapat menghasilkan simpangan positif maupun negatif secara acak, terhadap nilai yang dicari.

iv.

Keterbatasan keterampilan pengamat

Alat ukur dewasa ini tidak jarang merupakan alat ukur yang sangat kompleks pemakaiannyaa, sehingga menurut keterampilan yang tidak sedikit dari nsi pemakai. Misalnya : Microskop, Osiloskop, Spektrometer, Pecahan partikel dll. Dengan demikian akan timbul masalah-masalah seperti: Apa saja yang harus diatur sebelumnya, Bagaimana cara pengoperasiannya, Bagaimana membaca skalanya dll. Demikian banyak yang harus diatur dan dipahami, sehingga pengamat mudah sekali melakukan suatu kesalahan. Kalau dipikir sejenak, haruslah diakui bahwa demikian banyak sumber kesalahan, sehingga tidak mungkin dapat dihindari atau diatasi semuanya dengan sekaligussetiap saat. Berdasarkan asas teori pengukuran di atas, maka dapat dikatakan bahwa nilai benar x0 tidak muangkin dapat diketahui secara tepat melalui suatu eksperimen. Dari pengukuran yang dilakukan akan senantiasa diperoleh nilai x yang tidak tepat sama dengan nilai x0 yang sebenarnya.

2. NILAI SKALA TERKECIL (least count) ALAT UKUR
Setiap alat ukur memiliki skala berupa panjang busur atau angka digital. Pada skala terdapat goresan besar dan kecil sebagai pembagi, dibubuhi nilai tertentu. Secara fisik, jarak antara goresan kecil bertetangga jarang kurang dari satu mm. Mengapa demikian? Ini disebabkan karena mata manusia (tanpa alat bantu) agak sukar melihat jarak kurang dari 1 mm dengan tepat. Nilai skala sesuai dengan jarak terkecil itu, nilai skala terkecil (nst) dari alat ukur tersebut.

3.

NONIUS
Banyak alat ukur dilengkapi nonius, Alat ini membantu alat ukur berkemampuan lebih besar, karena jarak antara dua garis skala bertetangga seolaholah menjadi lebih kecil. Biasanya pembagian skala utama dan nonius adalah : 1 pembagian skala alat ukur = 10 bagian skala nonius. Tetapi tidak perlu demikian, misalnya pada spectrometer. Bagaimana membaca kedudukan pengukuran dengan nonius? Perhatikan gambar berkut ini, 12 13

0

10

Gambar 1. Pembacaan Skala Pada gambar, skala bagian atas adalah alat ukur yaitu antara angka 12 dan 13 dibagi menjadi 10 bagian terkecil yang menyatakan kedudukan 12,1; 12,2; 12,3; 12.4; ......; 13,0. Sedangkan pada bagian bawah, adalah skala nonius. Dalam gambar tersebut skala nonius terdiri dari 10 bagian. Tampak bahwa skala nonius ini lebih kecil dari bagian terkecil skala alat ukur. Kalau diperhatikan lebih lanjut pada gambar terdapat dua kedudukan skala nonius dan skala alat ukur yang berimpit, yaitu 12 pada skala alat ukur berimpit dengan 0 dan pada skala nonius 10 berimpit dengan 12,9 pada skala alat ukur. Selanjutnya perhatikan hasil pengukuran lain dari alat bantu nonius tersebut seperti yang ditunjukan pada gambar berikut. 9 12

0

7

Skala pada nonius dari gambar di atas tidak berimpit dengan salah satu skala pada alat ukur, melainkan terletak antara kedudukan 9,5 dengan 9,6 dalam pengukuran ini dapat diyakini bahwa harga x yang diukur adalah lebih besar dari 9,5 tetapi lebih kecil dari 9,6. Berapakah harga x menurut pembaca ini? Coba anda perhatikan gambar 2 lebih teliti. Ternyata ada satu garis alat ukur yang berimpit dengan skala 7 dari nonius. Dalam keadaan pengukurang semacam ini menunjukan bahwa x0 yang diukur adalah 9,570.

4.

ALAT UKUR DASAR
A. Jangka Sorong Jangka sorong adalah satuan alat ukur panjang yang memiliki bentuk seperti gambar 3 di bawah ini, yang dapat digunakan untuk menentukan dimensi dalam, luar dan kedalaman benda diuji. Jangka sorong meningkatkan akurasi pengukuran hingga 1/20 mm karena memiliki skala 1 mm = 20 skala nonius. 3

Gambar 3. Jangka Sorong Ada tiga fungsi pengukuran panjang yang memakai jangka sorong, yaitu: 1. Pengukuran panjang bagian luar benda.

2. 3.

Pengukuran panjang bagian rongga dalam benda. Pengukurang kedalaman lubang dalam benda.

B. Micrometer Skrup Micrometer skrup dipergunakan untuk mengukur panjang benda yang memiliki ukuran maksimum sekitar 2,50 cm, dan bentuk micrometer skrup ditunjukan pada gambar 4.

5 0

Skala

Nonius

Skrup pemutar

Gambar 4. Micrometer Skrup

5

15 10 5 0 45

Gambar 5. Cara mengukur micrometer skrup

5.

KETIDAKPASTIAN PADA PENGUKURAN TUNGGAL
Ketepatan pengukuran adalah hal yang sangat penting dalam fisika untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya. Namun demikian tidak ada pengukuran yang absolute tepat, selalu ada ketidakpastian dalam setiap pengukuran. Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan hanya satu kali saja, apapun alasannya. Keterbatasan skala alat antara lain merupakan sebab mengapa setiap pengukuran dihinggapi ketidakpastian (ktp). Nilai panjang x sampai dengan harga mm kita ketahui dengan pasti, bacaan selebihnya adalah terkaan/ dugaan saja, maka bersifat sangat subyektif, sehingga patut diragukan. Inilah ktp (∆) yang dimaksud, dan pada pengukuran tidak diulang, orang biasa mengambil kebijaksanaansebagai berikut x : ∆x = ½ nst (pengukura tunggal) Untuk melaporkannya, cara yang lazim dipakai adalah : x = (x ± ∆x) dengan : x adalah besaran fisis yang diukur, x ± ∆x adalah hasil pengukuran beserta ktp-nya. [x] adalah satuan besar x.(Gunakanlah sedapat mungkin satuan SI) Penulisan hasil harusnya menggunakan angka signifikan yang benar, angka di belakang koma dari kesalahan tidak boleh lebih dari angka di belakang koma dari hasil rata-rata, apabila dijumpai bilangan sangat besar atau kecil hendaknya digunakan bentu eksponen dan satuan harus selalu dituliskan.

Tabel 1. Contoh Penulisan Angka Signifikan Contoh Penulisan Yang Salah F = (500000±60000) N I = (o,000003±0,00000065) A Y = (990,2±0,147) N/m² π = 22/7 Contoh 1: Misalkan arus diukur dengan menggunakan milliamperemeter dengan jarum penunjuk tebal/ kasar seperti tampak pada gambar di bawah ini : Contoh Penulisan Yang Benar F = (50±6) x 10² N I = (30±7) x 10-7 A Y = (990,2±0,1) N/m² π = 3,1415

2

3 Gambar 6. Contoh pengukuran arus dengan menggunakan milliamperemeter petunjuk tebal/ kasar

Hasil ditulis sebagai berikut :I = (2,60±0,05) mA Apakah yang bersirat dalam cara menulis demikian ? Pertama : Pengamatan menduga arus itu sekitar 2,60 mA, yakni antara 5,55-2,65 mA. Berapa tepatnya ? tidak seorangpun yang bisa memastikan. Arus itu mungkin 2,57 mA, mungkin 2,63 mA, bahkan mungkin 2,57973..mA !!! yang dapat diartikan dari pernyataan di atas hanyalah bahwa pengamat berkeyakinan bahwa betul besar arus listrik tidak

kurang dari 2,55 mA dan secara grafik, pernyataan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut P (I) I (mA)

2,55

2,65

P (I) menyatakan kemungkinan arus, dengan nilai mksimum I. Grafik daftar bermakna : Arus sama kemungkinannya bernilai salah satu harga antara 2,55 mA-2,65 mA, dan PASTI TIDAK bernilai di luar selang tersebut. Kedua : Dalam penukisan inu tersirat juga tentang mutu skala alat milliamperemeter yang dipakai nyatanya hanya mampu dibaca sampai satu desimal (persepuluh) mA saja.

6.

KETIDAKPASTIAN PADA PENGUKURAN BERULANG

Bagaimana kalau pengukura berulang ? Adakah manfaat pada pengulangan dan apa pula makna pengulangan tersebut ? Dalam usaha mencari nilai benar dari x0 dengan mengadakan satu kali pengukuran hasilnya hanya satu pernyataan samar-samar saja. Pengulangan diharapkan akan memberi informasi lebih banyak tentang x0. Makin banyak suatu nilai dihasilkan dalam pengukuran berulang makin yakin akan kebenaran nilai tersebut. Ilmu statistika mengatakan : (i) (ii) Hasil n kali pengulangan pengukuran besaran x sebutlah x1, x2, x3,…., xn. Adalah merupakan suatu sampel dari populasi besaran x. Nilai terbaik yang mendekati nilai x0 yang dapat diambil dari sampel x adalah nilai rata-rata sampel :
n

x= x1 + x2+ x3…+ xn = 1 ∑xi

n (iii)

n

i=1

karena x bukanlah x , maka padanya terdapat suatu penyimpangan atau
0

ketidakpastian. Ketidakpastian pada nilai rata-rata sampel x menyatakan deviasi hasil pengukuran (∆x) dapat digunakan deviasi standar nilai rata-rata sampel, yakni :

s= 1 n √

n∑x1 – (∑x1) n-1

2

2

Hasil pengukuran dapat ditulis sebagai berikut :

X = x ± ∆x =x± s

n

Besaran nilai yang dipakai sebagai ∆x pengukuran berulang,. Kesalahan pengukuran sering kali dinyatakan dalam : • Kesalahan relative : ∆x (dapat juga dinyatakan dalam persen) X • Kesalahan mutlak : ∆x

Contoh : Diameter D sekeping mata uang diukur sampai 10 kali dengan menggunakan jangka sorong. Di = (11,7 11,8 11,9 12,0 12,0 12,0 12,0 12,0 12,3 12,3) mm Desimal terakhir dalam bilangan-bilangan ini adlah tafsiran. Berapakah D ± ∆D menurut pengukuran ini ?

Jawab : Untuk memudahkan hitungan, data dituangkan dalam bentuk tabel, dan perhitungan dilakukan dengan menggunakan kalkulator.

I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ∑

Di 11,7 11,8 11,9 12,0 12,0 12,0 12,0 12,0 12,3 12,3 120,0 = 120 = 12,00 10

Di2 136,89 139,24 141,61 144,00 144,00 144,00 144,00 144,00 151,29 151,29 1440,32

D

D=

1 n √

n∑x1 – (∑x1)
n-1

2

2

= 0,0596

Pelaporan ditulis ; D = D ± ∆D + (12,00 ± 0,06) mm

Seandainya D hanya diukur sekali saja, hasilnya mungkin (12,0 ± 0,5) mm, karena ∆D = ½ nst = ½ x 1 = 0,

7.

ANGKA BERARTI
Perhatikan, misalkan penulisan hasil pengukuran diameter sebuah keping logam D = (12,00 ± 0,06)mm dan D = 12,0 ± 0,6)mm. Yang pertama menytakan bahwa nili besar diameter ada dalam selang (11,94 – 12,6)mm. sedangkan yang kedua mempunyai makna nilai benar berada dalam selang (11,4 ± 12,6)mm. Dikatakan bahwa diameter pertama diketahui dengan 4 angka berati, sedangkan yang kedua mempunyai 3 angka berati, semakin banyak angka berarti semakin tepat pengukurannya. Dari contoh di atas
∆D D

=

0,06

x 100℅= 0,5℅ untuk yang pertamadan yang kedua

12,00

dan yang kedua

∆D D

=

0,6

x 100℅= 5℅

12,00

Diameter pertama dengan ketelitian 10 kali lebih besar dari pengukuran diameter kedua. Sehubungan dengan itulah, angka berarti yang harus dipakai dalam menyatakan hasil pengukuran dengan ketelitian yang telah dicapai, dapat dipakai suatu aturan praktis sebagai berikut : Ketidakpastian (ktp) relative ∆x Jumlah angka berarti yang dipakai AB=1-log ∆x

x Sekitar 10℅ Sekitar 1℅ Sekitar 0,1℅ Sekitar 10℅ Sekitar 1℅ Sekitar 0,1℅ 2 3 4 2 3 4

x

Tabel 2. Beberapa fungsi yang sering digunakan

Fungsi Z(x) atau Z(x,y) 1. Z = axn

Z n a xn-1∆x

Z/Z n ∆x x

2. Z = ae 3. Z = a In x

aex∆x a ∆x x

∆x ∆x x cosx ∆x

4. Z = a sin x

a cos x ∆x

Catatan : a, m, n adalah konstan

C. ALAT DAN BAHAN
ALAT DAN BAHAN Jangka sorong Micrometer skrup Batu JUMLAH 1buah 1 buah 5 ukuran

D. METODE PERCOBAAN
1. Sebelum melakukan praktekum, praktekum terlebih dahulu menyediakan alat

dan bahan praktekum serta batu-batu sebanyak 5 buah dengan ukuran yang berbeda. 2. Langkah selanjutnya hitunglah diameter luar batu dengan menggunakan jangka

sorong secara bergantian sebanyak 5 kali pergantian batu. 3. Setelah selesai menghitung diametet batu, kemudian tulis data dari hasil

pengukuran sebagai bahan laporan. 4. Langkah selanjuynya hitunglah diameter batu dengan menggunakan

micrometer skrup sebanyak 5 kali pergantian. Serta mengambil data sebagai bahan laporan.

E. TUGAS PENDAHULUAN
1. 2. a.) b.) c.) d.) e.) Buatlah 20 contoh angka penting ! Berapa angka penting dari : √25 √100 √27 (0,002)2 x (0,0512) 3 (7,0002)2 62 f.) g.) √(300) 2 - √(100) 2 √50 √25

Jawaban : 1. a.) 1.000 b.) √9 x √9 =3x3=9 c.) 150.001 d.) 0,10000 e.) √25 = 5 f.) 125/8 = 15,625 g.) 0,0002 h.) 0,125 + 0,75 = 0,875 i.) 18.000 – 7000 = 11.000 j.) 1,10576 1 angka penting 6angka penting 5angka penting 1 angka penting 5 angka penting 1 angka penting 3 angka penting 5 angka penting 6 angka penting 3angka penting 4 angka penting

2

a.) 0,00103 b.) √ 50 x √25 = 5√2 x 5 = 35,35533906 c.) ( 2 x 105 ) ( 2 x 10-3 ) = 4 x 102 = 400 d.) √100 = 10 e.) √79 = 8,8 f.) 0,0005112 + 0,03433 = 0,0348421 g.) √100 : √50 = 10/5 √2 = 2,828427125

10angka penting 3 angka penting 2 angka penting 2 angka penting 6 angka penting 10 angka penting

BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISA A. PEROLEHAN DATA
Jangka sorong n 1 2 3 4 5 ∑n = 5 Di 1,42cm 1,15cm 1,62cm 2,29cm 1,93cm ∑Di =8,41 cm (Di)2 2,0164cm 1,3225cm 2,6244cm 5,2441cm 3,2249cm (∑Di)2 = 14,9323cm

Micrometer skrup n 1 2 3 4 5 ∑n = 5 Di 17,41mm 16,31mm 12,41mm 15,52mm 14,7mm ∑Di =83,14mm (Di)2 303,1081 mm 266,0161 mm 240,8704mm 216,09mm 368,64mm (∑Di)2 = 1394,7646mm

B. PENGOLAHAN DATA
Jangka sorong

D = Di = 8,41 ∑ 5

cm = 1,682cm

∆D =

1 N √

n ∑Di2 - (∑Di)2 n-1

∆D =

1 5 √

5 x 14,9323-(8,41)2 5-1

∆D =

1 5 √

74,6615 – 70,7281 4

∆D =

1 5 √

0,98335

=

1/ 5 x 0,99164

= 0,19832

D = D + ∆D D = 1,682 cm+0,19832cm = 1,88032 cm D = D - ∆D D = 1,682cm- 0,19832 cm = 1,48368 cm Micrometer skrup D = Di =83,14mm = 10,682 mm ∑ 1 N √ 5 n

∆D =

∑Di2 - (∑Di)2 n-1

∆D =

1 5 √

5 x 1394,7246 – (83,14)2 5 -1

∆D =

1 5 √

6973,623 – 6912,2596 4

= 1/5 √61,3634 4 =1/5 √15,34085 = 1/5 x 3,91673922 ∆D= 0,78334794 mm

D = D + ∆D D = 16,628 mm+0,78334794 mm = 17,4113479 mm

D = D - ∆D D = 16,628 mm-0,78334794 mm = 15,8446521 mm

BAB III PENUTUP

A.

KESIMPULAN

1.

Setelah melakukan praktukum

2. Melihat dari hasil percobaan yang kami praktekan, maka semakin banyak putaran yang

dilakukan maka semakin lambat gaya kinetik yang dihasilkan

B.

SARAN

1.

Didalam praktek kita dihadapkan oleh benda-benda yang mudah pecah/rusak, oleh karena itu para praktikan diharapkan agar menjaga benda-benda dimulai pada saat pengambilan alat/benda praktek pada tempatnya. Selain dari pada itu didalam melakukan praktek kita harus menjaga kebersihan alat/bahan praktek maupun ruangan yang digunakan untuk praktek.

2. Melihat dari kondisi ruangan dan jumlah praktikan yang membludak, kami sarankan agar ditahun yang akan datang ruangan praktikum dapat diperluas dan jumlah kursinya diperbanyak. 3. Alat/bahan praktikum sebaiknya ditambah untuk kelancaran praktek, sehingga tugas praktek yang dilakukan dapat dengan mudah terlaksana.

KELOMPOK 17
EVA RAHMAN MUH. YUSRAN 209 280 010 209 280 011

RUSNAINI HENDARA BASRI ASHAR MURSALIM YUNUS IRFANDI HASBULLAH AHMAD

209 280 012 209 280 013 209 280 014 209 280 015 209 280 016 209 280 017

DATA YANG SAMA DENGAN KELOMPOK LAIN
YUSPI ANGGRENI DEWI MAYASITO 209 280 049 209 280 005 KELOMPOK 21 KELOMPOK 16