WATER AND SANITATION PROGRAM: RINGKASAN PENELITIAN

Keuntungan Ekonomi dari Intervensi Sanitasi di Indonesia
Oktober 2011

Kesimpulan penting
• Sanitasi layak terbukti merupakan investasi yang menguntungkan secara sosial di Indonesia. Di perdesaan, manfaat ekonomi dari jamban cemplung setidaknya tujuh kali lipat dari biaya, sementara di perkotaan manfaat ekonomi dari pengolahan limbah hampir dua kali lebih besar

PENDAHULUAN
The Economics of Sanitation Initiative (ESI) adalah sebuah studi multinegara yang diluncurkan tahun 2007 sebagai upaya Water and Sanitation Program, Bank Dunia, untuk mengisi kekosongan temuan ilmiah tentang aspek ekonomi dari sanitasi di negaranegara berkembang. Tujuan inisiatif ini adalah menyediakan landasan empiris ekonomi dalam rangka meningkatkan volume serta efisiensi pengeluaran publik maupun swasta di bidang sanitasi. Ringkasan studi ini menyarikan temuan-temuan utama dari Studi Tahap II—analisis manfaat-biaya dari opsi pilihan sanitasi—di Indonesia.i

PERMASALAHAN
Indonesia tengah melangkah menjadi negara berpendapatan menengah sebagai hasil dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir. Namun tingkat akses serta kualitas layanan publik masih sebanding dengan beberapa negaranegara berpendapatan lebih rendah, khususnya di sejumlah indikator kese-

hatan serta prasarana. Dibandingkan negara-negara tetangga yang memiliki tingkat pembangunan serupa – seperti Filipina dan Vietnam – akses ke fasilitas sanitasi di Indonesia terus tertinggal, tercatat hanya 52 persen,ii dengan kesenjangan yang lebar antara wilayah perkotaan (69 persen) dan perdesaan (34 persen), maupun kesenjangan antara 33 propinsi (30-80 persen). Pada laju pencapaian saat ini, kecil kemungkinan Indonesia akan memenuhi Target Pembangunan Milenium sebesar 63 persen. Sebanyak 60 juta penduduk Indonesia masih mempraktekkan ‘Buang Air Besar Sembarangan’ (BABS), nomor dua terbanyak di dunia, dengan peningkatan porsi BABS di perkotaan karena banyaknya migrasi dari penduduk miskin perdesaan ke kawasan kumuh di perkotaan. Hanya 2 persen dari seluruh wilayah perkotaan yang tercakup oleh sistem saluran air limbah. Penampungan, aliran serta pembuangan tinja dari tangki septik sangat tidak memadai, menyebabkan risiko kesehatan yang serius serta polusi sumber daya air.

dari biaya. Sanitasi berbiaya rendah menghasilkan manfaat bersih yang tinggi, dan menyediakan pilihan yang terjangkau bagi rumah tangga miskin. • “Kemasan” yang lebih baik serta akses pada informasi tentang manfaat dan biaya adalah kunci peningkatan pemahaman tentang sanitasi di Indonesia. Pembuat kebijakan – baik rumah tangga maupun pemerintah – perlu mendapat pemahaman lebih dalam tentang manfaat kesehatan, ekonomi serta sosial dari sanitasi layak serta opsi-opsi desain, model dan pilihan sanitasi yang tersedia. • Opsi sanitasi yang ramah lingkungan memang lebih mahal. Namun, meski dampak lingkungannya sulit dikuantifikasi secara ekonomi, keuntungannya sangat besar bagi pembangunan nasional serta manfaatnya dinilai tinggi oleh rumah tangga, wisatawan serta dunia usaha.

Analisis ekonomi mengukur manfaat secara luas dari keberadaan barang dan jasa terhadap populasi, seperti nilai hidup (value of life), alokasi waktu (time use) serta manfaat sosial dan lingkungan. Analisis ekonomi lebih luas dari sekedar pengukuran manfaat finansial (yaitu perubahan dari pendapatan atau uang tunai antarwaktu).

2 Keuntungan Ekonomi dari Intervensi Sanitasi di Indonesia

Economics of Sanitation Initiative

Gambar 1. Lokasi Studi Lapangan ESI di Indonesia

Studi ESI Tahap I mengestimasi keseluruhan biaya ekonomi dari buruknya layanan sanitasi di Indonesia mencapai US$6,3 milyar (Rp56 trilyun) per tahun pada harga tahun 2005; setara dengan 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).iii

tangga, diskusi kelompok terfokus, observasi fisik, uji kualitas air, survei pasar serta survei fasilitas kesehatan di tiap lokasi. Data primer dilengkapi dengan data sekunder dari survei lain di tingkat nasional atau lokal. Intervensi sanitasi yang dievaluasi bervariasi antara wilayah perdesaan dan perkotaan, membandingkan perilaku BABS dengan keberadaan sejumlah fasilitas sanitasi yang saat ini digunakan oleh penduduk Indonesia: toilet umum dan bersama, jamban cemplung kering, jamban cemplung siram, toilet dengan tangki septik termasuk pengolahan tinja, serta toilet yang terhubung dengan sistem pembuangan limbah dan fasilitas pengolahan limbah setempat. Teknik analisis ekonomi konvensional digunakan untuk menghasilkan analisis manfaat-biaya, efektifitas biaya, nilai
www.wsp.org

TUJUAN DAN METODE PENELITIAN
Tujuan studi ESI Tahap II adalah untuk menghasilkan bukti dan temuan hasil analisis manfaat-biaya dari beberapa opsi sanitasi alternatif untuk berbagai konteks di Indonesia bagi para pembuat kebijakan. Studi fokus pada pengolahan tinja, mencakup data dari lima lokasi terpilih dan dari survei nasional. Survei dilakukan di dua lokasi perdesaaan dan tiga di perkotaan yang menjadi fokus program atau proyek sanitasi (lihat Gambar 1), mencakup wawancara dengan 1.500 rumah

Economics of Sanitation Initiative

Keuntungan Ekonomi dari Intervensi Sanitasi di Indonesia 3

sekarang bersih (net present value), tingkat nilai pengembalian internal (internal rate of return) serta periode impas untuk tiap opsi sanitasi. Analisis kuantitatif manfaat ekonomi mencakup dampak terhadap kesehatan, air minum dan waktu akses ke fasilitas sanitasi. Dampak sosial serta lingkungan dari sanitasi buruk tidak seluruhnya tercermin dalam perhitungan manfaat moneter. Analisis kualitatif dilakukan untuk melihat beberapa indikator manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas. Seluruh biaya investasi dan operasional dihitung untuk tiap pilihan sanitasi.

Gambar 2. Rasio Manfaat-Biaya di Lokasi Perdesaan (manfaat ekonomi per unit mata uang yang dikeluarkan)

HASIL STUDI
Perdesaan: Jamban Cemplung Memberikan Manfaat Ekonomi yang Signifikan
Rasio manfaat-biaya (manfaat ekonomi setiap dolar yang ditanamkan) serta biaya tahunan tiap rumah tangga digabungkan untuk kedua lokasi perdesaan di Gambar 2 dan Gambar 3. Dari sejumlah pilihan sanitasi, yang paling menguntungkan adalah jamban cemplung kering dan siram, keduanya memiliki rasio manfaat-biaya lebih dari 7,0. Keuntungan ekonomi setiap tahun lebih dari 100 persen, sehingga butuh kurang dari setahun untuk mengembalikan nilai ekonomi dari investasi awal yang ditanam. Tingginya biaya investasi serta operasional per rumah tangga membuat toilet bersamaiv tidak lebih menguntungkan dari jamban cemplung milik pribadi. Rasio manfaat-biaya hanya sebesar 3,0 untuk toilet umum dan 4,6 untuk jamban bersama, karena lamanya waktu yang diperlukan untuk mencapai sarana. Tangki septik dengan pengolahan limbah cair (PLC) memiliki rasio manfaat-biaya 3,8. Tangki septik tanpa PLC memiliki biaya dan manfaat kesehatan yang lebih kecil, sehingga rasio manfaat-biayanya sama. Namun ini belum seluruhnya memperhitungkan dampak lingkungan dari PLC. Penghematan biaya kesehatan adalah kontributor terbesar untuk manfaat ekonomi. Nilai dari penghematan ini – pada akhirnya menjadi keuntungan finansial bagi rumah tangga – yang diperkirakan lebih dari dua kali biaya investasi toilet umum, meningkat jadi hampir empat kali lipat untuk jamban cemplung kering. Kontributor berikutnya adalah berkurangnya waktu untuk mencapai sarana. Di samping itu, kenaikan
www.wsp.org
Waktu akses Pengolahan air Akses pada air Kesehatan - Mortalitas Kesehatan - Produktifitas Biaya kesehatan

Gambar 3. Biaya Tahunan per Rumah Tangga Perdesaan (harga konstan 2009 dengan rata-rata nilai tukar US$)

US$

Rasio Manfaat-Biaya

Investasi

Pemeliharaan

Operasional

produktivitas menjadi manfaat penting lainnya untuk semua alternatif sanitasi. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi sederhana seperti jamban cemplung bisa sangat ekonomis: menghasilkan manfaat besar dengan biaya per unit yang rendah, hanya sekitar Rp270,000 (US$30) per rumah tangga per tahun (mencakup

4 Keuntungan Ekonomi dari Intervensi Sanitasi di Indonesia

Economics of Sanitation Initiative

biaya investasi, operasional serta pemeliharaan). Tangki septik jauh lebih mahal, Rp630,000 (US$70) per tahun, meski usia pakainya juga lebih lama. Toilet umum juga relatif mahal, dengan biaya investasi Rp3,6 juta (US$400), atau Rp450,000 (US$50) tiap rumah tangga tiap tahun. Dalam kondisi sesungguhnya, terdapat penurunan kinerja untuk semua alternatif sanitasi. Penyebabnya adalah tidak semua rumah tangga, atau anggota rumah tangga, menggunakan sarana-sarana tersebut. Contohnya, rasio manfaatbiaya jamban cemplung kering turun dari 7,9 menjadi 6,3, dan jamban cemplung siram turun dari 7,1 menjadi 5,6.

Gambar 4. Rasio Manfaat-Biaya di Lokasi Perkotaan (manfaat ekonomi per unit mata uang yang dikeluarkan)

Perkotaan: Sistem Pengolahan Limbah Terpusat Memberikan Keuntungan Ekonomi yang Tinggi
Rasio manfaat-biaya serta biaya per tahun per rumah tangga dari tiga lokasi perkotaan ditunjukkan dalam Gambar 4 dan Gambar 5. Meski biaya teknologi tidak terlalu berbeda dengan di perdesaaan, rasio manfaat-biaya tidak sebesar di perdesaan karena lebih tingginya kondisi awal tingkat kesehatan serta lebih kecilnya waktu akses di perkotaan. Yang memiliki kinerja ekonomi terbaik adalah jamban cemplung kering, dengan rasio manfaat-biaya sebesar 3,2. Keuntungan tiap tahun lebih dari 100 persen, artinya butuh kurang dari setahun untuk mengembalikan seluruh nilai investasi. Semua pilihan sanitasi lainnya memiliki rasio manfaat-biaya lebih dari satu – jamban bersama 2,3, tangki septik 1,9, saluran air limbah dengan pengolahan 1,7 serta toilet umum 1,4 – mengindikasikan keuntungan ekonomi yang cukup besar bagi investasi. Masalahnya, secara teknis jamban cemplung bukanlah alternatif terbaik bagi kawasan perkotaan berpenduduk padat, serta kawasan pinggir kota yang pertumbuhannya pesat, karena minimnya ruang yang tersedia. Meskipun akses rumah tangga perkotaan pada fasilitas toilet cukup tinggi – lebih dari 70 persen menurut Survei Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2007 – mayoritas rumah tangga di kota memiliki tangki septik dengan pengolahan limbah seadanya (atau tidak sama sekali). Artinya, pengolahan limbah sangat dibutuhkan di Indonesia. Fasilitas pengolahan limbah setempat memiliki rasio manfaat-biaya sebesar 1,7, dengan biaya kurang dari Rp900,000 (US$100) per rumah tangga per tahun (termasuk biaya invetasi yang disetahunkan, biaya operasi serta pemeliharaan). Tangki septik dengan penampungan dan pengo-

Rasio Manfaat - Biaya
Waktu akses Pengolahan air

Akses pada air Kesehatan - Mortalitas

Kesehatan - Produktifitas Biaya kesehatan

Gambar 5. Biaya Tahunan per Rumah Tangga Perkotaan (harga konstan 2009 dengan rata-rata nilai tukar US$)

US$

Investasi

Pemeliharaan

Operasional

lahan memerlukan biaya lebih murah, di bawah Rp630,000 (US$70) per rumah tangga per tahun. Tetapi manfaat lingkungan dari pengolahan limbah domestik belum sepenuhnya diperhitungkan dalam studi ini. Artinya, keuntungan ekonomi yang sebenarnya dari fasilitas sanitasi yang mengolah limbah domestik sebelum dibuang akan lebih tinggi dari perhitungan.
www.wsp.org

Economics of Sanitation Initiative

Keuntungan Ekonomi dari Intervensi Sanitasi di Indonesia 5

Dalam perhitungan biaya yang disetahunkan (termasuk investasi dan operasional), toilet umum dan bersama lebih murah dibanding toilet pribadi. Namun karena penghematan waktu tempuh, keuntungan ekonomi dari toilet umum dan bersama lebih kecil dari jamban cemplung kering. Fasilitas pribadi juga lebih diminati karena alasan privasi, keamanan, kenyamanan dan higienis. Dalam kondisi sesungguhnya, kinerja ekonomi seluruh opsi sanitasi perkotaan lebih rendah. Rasio manfaat-biaya sistem pengolahan limbah turun dari 1,7 menjadi 1,1, tangki septik dengan penampungan dan pengolahan turun dari 1,9 ke 1,4, sementara jamban cemplung kering dari 3,2 ke 2,4.

dustri, kurangnya toilet di ruang publik, serta udara yang tercemar sampah.

TEMUAN UTAMA DAN REKOMENDASI
Studi ini menemukan bahwa semua intervensi sanitasi menghasilkan manfaat melebihi biaya, jika dibandingkan dengan “ketiadaan sarana sanitasi.” Manfaat bersih yang tinggi dari pilihan sanitasi berbiaya rendah, seperti jamban cemplung, menunjukkan bahwa teknologi sesederhana ini harus menjadi fokus dalam upaya peningkatan akses bagi penduduk perdesaan. Namun, di daerah perkotaan yang padat penduduk, kemungkinan penerapan jamban cemplung lebih terbatas. Untuk meningkatkan kualitas hidup di daerah perkotaan yang makin padat, pembuat kebijakan perlu memperhitungkan manfaat ekonomi dari perbaikan saluran pembuangan dan pengolahan limbah. Jika dana tersedia, penduduk lebih suka opsi pengolahan limbah terpusat. Pengolahan yang layak dan/atau pemisahan limbah adalah kunci pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Berdasarkan temuan-temuan ini, terdapat tiga rekomendasi utama bagi pembuat kebijakan: 1. Mengintensifkan upaya peningkatan akses ke sanitasi dasar yang layak bagi seluruh penduduk Indonesia. Tahun 2008 pemerintah sudah menyepakati strategi sanitasi berbasis masyarakat yang perlu diimplementasikan. Sudah cukup bukti untuk menunjukkan bahwa pasar bagi sanitasi – dimana permintaan dari konsumen dengan beragam tingkat pendapatan bertemu dengan pasokan produk yang berkualitas dan terjangkau – bisa diwujudkan. Untuk pembuat kebijakan dan pemerintah daerah, ini membutuh-

Kaitan Sanitasi dengan Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi
Temuan utama dari survei pariwisata terhadap 254 wisatawan bisnis dan liburan ada di Boks 1. Survei terhadap dunia usaha juga dilakukan secara terpisah. Respondennya adalah sepuluh perusahaan yang kebanyakan beroperasi di sekitar Jakarta dan Bandung: empat rumah makan, dua hotel, dua produsen garmen, satu produsen makanan dan satu balai sidang. Responden usaha menganggap udara bersih dan kualitas lingkungan sebagai faktor terpenting bagi perusahaan dalam memilih lokasi usaha, terutama pengolahan makanan dan rumah makan. Mereka kuatir terhadap buruknya kondisi lingkungan, terutama kualitas air sungai, saluran air, pengelolaan limbah padat dari inBOKS 1. TEMUAN-TEMUAN UTAMA SURVEI PARIWISATA
Secara umum, kondisi sanitasi di Indonesia dipersepsikan sangat buruk, dengan skor 2,5 dari maksimum 5,0. Perairan terbuka seperti sungai dan pantai mendapat skor terendah, 2,3, karena adanya limbah cair domestik yang mengalir. Persepsi terhadap kualitas toilet bervariasi antara lokasi, dengan skor mulai dari 2,0 (di terminal bis dan pusat kota), 3,0 (bandara, rumah makan) hingga 3,5 (hotel). Responden juga menjelaskan bahwa kebersihan makanan, ketersediaan air minum, dan pemakaian toilet yang higienis menjadi kekuatiran utama. Hampir sepertiga responden (31 persen) mengatakan mereka mengalami penyakit saluran pencernaan selama kunjungan, yang secara rata-rata membuat mereka tidak bisa beraktifitas selama dua hari. Uang yang seharusnya dapat mereka belanjakan selama dua hari itu menjadi pendapatan yang hilang bagi industri pariwisata. Terlepas dari banyaknya komentar negatif tentang kondisi sanitasi, 85 persen pengunjung menyatakan ingin kembali ke Indonesia, dan 74

persen akan merekomendasikan Indonesia sebagai tujuan wisata. Dari yang tidak berniat kembali, 40 persen menyebut kualitas sanitasi sebagai alasan utama. Survei terhadap dunia usaha juga dilakukan secara terpisah. Respondennya adalah sepuluh perusahaan yang kebanyakan beroperasi di sekitar Jakarta dan Bandung: empat rumah makan, dua hotel, dua produsen garmen, satu produsen makanan dan satu balai sidang. Responden usaha menganggap udara bersih dan kualitas lingkungan sebagai faktor terpenting bagi perusahaan dalam memilih lokasi usaha, terutama pengolahan makanan dan rumah makan. Mereka kuatir terhadap buruknya kondisi lingkungan, terutama kualitas air sungai, saluran air, pengelolaan limbah padat dari industri, kurangnya toilet di ruang publik, serta udara yang tercemar sampah.

www.wsp.org

6 Keuntungan Ekonomi dari Intervensi Sanitasi di Indonesia

Economics of Sanitation Initiative

kan perhatian khusus dalam upaya menjamin bahwa permintaan bisa dipicu, manfaat kesehatan didapat, dan cakupan layanan berkelanjutan (untuk mencegah kembalinya perilaku BABS). Penyedia layanan sanitasi, mulai dari toko grosiran hingga tukang bangunan di komunitas, perlu menyediakan jamban dengan harga terjangkau dengan struktur dan desain yang dapat di-upgrade untuk memastikan permintaan yang lebih besar. Informasi tentang pilihan jenis dan model sanitasi bagi rumah tangga dimanapun di Indonesia adalah elemen kunci lainnya untuk mempercepat dan menjaga keberlanjutan cakupan layanan. 2. Melangkah lebih jauh dari sekedar penyediaan sanitasi dasar, untuk kondisi dimana permintaan masyarakat ada dan biaya tersedia. Di daerah perkotaan yang padat penduduk, sekedar menyediakan sanitasi dasar tidak lagi memungkinkan karena ekspektasi konsumen yang semakin tinggi, kendala ruang, serta risiko pencemaran air tanah. Pembuat kebijakan, dengan demikan, perlu pemahaman tentang banyaknya pilihan sarana pembuangan dan pengolahan yang ada, berikut biaya dan manfaat terkait, supaya tidak

melakukan investasi pada teknologi yang mahal dan sulit dijaga keberlanjutannya. Di daerah dimana pendanaan cukup tersedia untuk menjamin tersedianya layanan yang berkualitas dan berkelanjutan, sarana-sarana tersebut ini akan memastikan bahwa seluruh manfaat lingkungan serta kesehatan akan dapat diraih sekaligus untuk merespon harapan penduduk terhadap lingkungan yang bersih serta layak huni. 3. Mendorong pembuatan keputusan sektor sanitasi berdasarkan temuan ilmiah. Variasi dalam keuntungan ekonomi berbagai opsi berbeda menunjukkan bahwa pertimbangan yang hati-hati atas kondisi lokasi serta preferensi serta permintaan setempat dibutuhkan dalam pemilihan jenis sanitasi yang paling layak serta bagaimana penyampaiannya. Keputusan harus memperhitungkan tidak hanya manfaat serta biaya ekonomi yang terukur, tapi juga faktor-faktor lain termasuk dampak tidak terukur serta aspek sosial-ekonomi yang mempengaruhi permintaan serta perubahan perilaku, ketersediaan pasokan dan pendanaan, serta kesediaan maupun kemampuan konsumen untuk membayar layanan yang diinginkan.

Penghargaan
Ringkasan penelitian ini disusun oleh Guy Hutton, Asep Winara, Isabel Blackett dan Almud Weitz berdasarkan laporan lengkap berjudul “Economic Assessment of Sanitation Interventions in Indonesia“ oleh Asep Winara, Oktarinda, Edi Purnomo, Koderi Hadiwardoyo, Indon Merdykasari, Takdir Nurmadi, Bert Bruinsma, Dedek Gunawan, Dadang Fadilah, Martin Albrecht dan Guy Hutton. Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Ari Perdana dan penyuntingan dikerjakan oleh Yosa Yuliarsa.

Tentang kami
The Water and Sanitation Program (WSP) adalah sebuah kemitraan multidonor di bawah administrasi Bank Dunia untuk membantu penduduk miskin mendapatkan akses air bersih dan sanitasi yang terjangkau, aman serta berkelanjutan. WSP memberikan bantuan teknis, memfasilitasi pertukaran pengetahuan serta mendorong kebijakan berbasis temuan ilmiah dalam dialog sektoral. WSP memiliki kantor di 24 negara di Afrika, Asia Timur dan Pasifik, Amerika Latin dan Karibia, Asia Selatan serta Washington, DC. Donor WSP mencakup Australia, Austria, Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Bill and Melinda Gates Foundation, Irlandia, Luxemburg, Belanda, Norwegia, Swedia, Swiss, Inggris Raya, Amerika Serikat, and Bank Dunia.

Kontak kami
Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi www.wsp.org atau email Guy Hutton di wsp@worldbank.org

Economic assessment of sanitation interventions in Indonesia. Winara, A., Oktarinda, PE., Hadiwardoyo, K., Merdykasari, I., Nurmadi, T., Bruinsma, B., Gunawan, D., Fadilah, D., Albrecht, M., Hutton, G. World Bank, Water and Sanitation Program. 2011. ii WHO-Unicef Joint Monitoring Programme in Indonesia. 2010. Progress on Sanitation and Drinking Water: 2010 Update. iii Economic impacts of sanitation in Indonesia. Napitupulu, L., Hutton, G. World Bank, Water and Sanitation Program. 2008. Bisa diunduh di www.wsp.org. iv Toilet komunitas disebut SANIMAS, Sanitasi Berbasis Masyarakat. Meski ada sejumlah pilihan teknologi, kegiatan SANIMAS di Tangerang melibatkan bangunan umum dengan empat jamban, pipa bawah tanah, pengolahan lumpur limbah dengan Sistem Pengolahan Limbah Setempat (SPLS), pipa effluent dan bio-digester. Publikasi laporan WSP bertujuan untuk mengkomunikasikan hasil dari studi-studi WSP pada komunitas pembangunan. Sebagian sumber masih merupakan dokumen informal yang belum tersedia untuk umum. Temuan, interpretasi dan kesimpulan yang disajikan adalah sepenuhnya merupakan opini penulis dan tidak merepresentasikan pendapat Bank Dunia dan lembaga afiliasinya, maupun anggota Dewan Direksi Bank Dunia serta pemerintah yang diwakili. Bank Dunia tidak menjamin akurasi data dalam studi ini. Batas wilayah, warna, penyebutan mata uang dan informasi lain yang ditunjukkan dalam semua peta tidak menunjukkan posisi Bank Dunia tentang status legal dari semua teritori di dunia atau pengakuan terhadap batas wilayah yang ditunjukkan. Materi dalam publikasi ini dilindungi oleh hak cipta. Permohonan untuk menerbitkan ulang sebagian dari publikasi ini bisa diajukan ke wsp@ worldbank.org. WSP mendorong publikasi studi-studi yang dilakukan dan umumnya setiap permohonan segera disetujui. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.wps.org. © 2011 Water and Sanitation Program

i

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful