PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

A. Pengertian Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 156 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah sebagai berikut : “Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut”.

Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam pasal 6 Permendagri nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Permendagri Nomor 57 tahun 2007 dan Permendagri Nomor 21 tahun 2011 adalah sebagai berikut: “Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.”

Ruang lingkup keuangan daerah meliputi: 1. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; 2. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; 3. penerimaan daerah; 4. pengeluaran daerah; 5. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan 6. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. B. Pengelola Keuangan Daerah Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Kepala Daerah selaku kepala pemerintah daerah

4.adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran. Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah (Koordinator PKD). tugas-tugas pejabat perencana daerah. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. dan 8. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan . perubahan APBD. Kepala Daerah perlu menetapkan pejabat-pejabat tertentu dan para bendahara untuk melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. b. 2. 6. c. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah mempunyai kewenangan: 1. dan 3. Pelimpahan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. 5. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. d. menguji. 2. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. dan pejabat pengawas keuangan daerah. e. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. Para pengelola keuangan daerah tersebut adalah: 1. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. PPKD. 3. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. dan yang menerima atau mengeluarkan uang. Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: 1. kepala SKPKD selaku PPKD. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. penyusunan Raperda APBD. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. 7.

PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD berwenang: a. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah. b. dan f. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menetapkan SPD. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. d. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). c. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. c. dan e.f. melaksanakan fungsi BUD. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. melaksanakan pemungutan pajak daerah. Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah. 2. h. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. e. f. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. dan . menyajikan informasi keuangan daerah. b. Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekretaris daerah mempunyai tugas: a. i. b. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. g. d. e. c. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. memimpin TAPD. Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas: a. d. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Dalam rangka pengadaan barang/jasa. dan n. . menyusun RKA-SKPD. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. i. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya. menyusun DPA-SKPD. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. 3. h. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.j. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. g. menandatangani SPM. c. f. m. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. j. PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang (PPA/PB). l. Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas: a. 4. k. d. e. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. b. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. Pengguna Anggaran bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen sesuai peraturan perundang-undangan di bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Pejabat Kuasa pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna arang (KPA/KPB) Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.

melaksanakan anggaran unit kerja yang dipimpinnya. melaksanakan tugas-tugas kuasa pengguna anggaran lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh pejabat pengguna anggaran. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan. beban kerja. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja. rentang kendali. PPTK yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. . menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. dan g. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). PPTK mempunyai tugas mencakup: a. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. c. besaran SKPD. anggaran kegiatan. Kuasa Pengguna Anggaran sekaligus bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. e. b. Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut meliputi: a. dan c. kompetensi. besaran jumlah uang yang dikelola.Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah. lokasi. menandatangani SPM-LS dan SPM-TU. PPTK yang ditunjuk jawab oleh atas pejabat pengguna anggaran/pengguna kepada barang bertanggung pelaksanaan tugasnya pengguna anggaran/pengguna barang. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. beban kerja. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD. f. lokasi. mengawasi pelaksanaan anggaran unit kerja yang dipimpinnya. mengendalikan pelaksanaan kegiatan. b. dan/atau pertimbangan objektif lainnya. Dalam pengadaan barang/jasa. d. 5.

Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD. Dalam hal PA melimpahkan sebagian kewenangannya kepada KPA. Kepala daerah atas usul PPKD menetapkan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pada SKPD. dan/atau PPTK. melakukan verifikasi SPP. b. PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. f. SPP-GU. c. PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah. serta membuka rekening/giro pos atau menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan Iainnya atas nama pribadi. melakukan verifikasi harian atas penerimaan. kepala daerah menetapkan bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu pada unit kerja terkait. menyiapkan laporan keuangan SKPD. d. meneliti kelengkapan SPP-UP. dan g. C. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran adalah pejabat fungsional. e. SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. menyiapkan SPM. APBD . Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran. bendahara. melaksanakan akuntansi SKPD. kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD. 7. meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran baik secara langsung maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan.6.

4. Pemungutan semua penerimaan Daerah bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah. pemeriksaan dan pengawasan keuangan daerah. maka APBD menjadi dasar pula bagi kegiatan pengendalian. APBD merupakan rencana pelaksanaan semua Pendapatan Daerah dan semua Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu. Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. 2.Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. . Fungsi Alokasi Anggaran daerah diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya. 5. Berbagai fungsi APBN/APBD sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (4) UU No. selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. yaitu : 1. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. 3. Fungsi Pengawasan Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Fungsi Perencanaan Anggaran daerah merupakan pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. Fungsi Otorisasi Anggaran daerah merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Fungsi Distribusi Anggaran daerah harus mengandung arti/ memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan 6. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Fungsi Stabilisasi Anggaran daerah harus mengandung arti/ harus menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.

Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. 4) lain-lain PAD yang sah. Pendapatan Daerah semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah. Penyusunan dan Penetapan APBD. 2) retribusi daerah.Dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Pelaksanaan dan Penatausahaan APBD. pemerintah melaksanakan kegiatan keuangan dalam siklus pengelolaan anggaran yang secara garis besar terdiri dari: 1. c) pendapatan bunga. retribusi daerah. Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: 1. 2. . Pendapatan daerah terdiri atas: a. 3) hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pendapatan Asli Daerah (PAD). d) penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah. 3. dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang antara lain: a) hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan secara tunai atau angsuran/cicilan. dan c) bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah. Pendapatan Asli Daerah terdiri atas: 1) pajak daerah. e) penerimaan komisi. potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a) bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD. yang menambah ekuitas dana. b) bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN. b) jasa giro.

.f) penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. pemerintah daerah lainnya. dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat. badan/lembaga/ organisasi swasta dalam negeri. h) pendapatan denda pajak. Dana Perimbangan. pendapatan hasil eksekusi atas jaminan. i) j) pendapatan denda retribusi. c. l) fasilitas sosial dan fasilitas umum. k) pendapatan dari pengembalian. a. 2) dana alokasi umum. m) pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. 2. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. 3) dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota. Belanja Daerah Semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana. Lain-lain pendapatan daerah yang sah. g) pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. dan 5) bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya. Klasifikasi belanja menurut urusan pemerintahan terdiri atas belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan. 2) dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat bencana slam. 4) dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah. Kelompok pendapatan dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: 1) dana bagi hasil. Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup: 1) hibah berasal dari pemerintah. dan 3) dana alokasi khusus. kelompok masyarakat/perorangan. n) pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah b.

15) koperasi dan usaha kecil dan menengah. 17) kebudayaan. 16) penanaman modal.dan 26) perpustakaan. 10) kependudukan dan catatan sipil.Klasifikasi belanja menurut urusan wajib mencakup: 1) pendidikan. 18) kepemudaan dan olah raga. . 25) komunikasi dan informatika. 3) pekerjaan umum. 2) kesehatan. 7) perhubungan. 13) sosial. 4) perumahan rakyat. administrasi keuangan daerah. 14) ketenagakerjaan. pemerintahan umum. 8) lingkungan hidup. 11) pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. 21) ketahanan pangan. 5) kelautan dan perikanan. 23) statistik. 6) perencanaan pembangunan. 12) keluarga berencana dan keluarga sejahtera. Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan sebagaimana mencakup: 1) pertanian. 19) kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. 7) industri. 9) pertanahan. 24) kearsipan. 6) perdagangan. 20) otonomi daerah. 5) penataan ruang. perangkat daerah. 3) energi dan sumber daya mineral. kepegawaian dan persandian. 22) pemberdayaan masyarakat dan desa. 2) kehutanan. dan 8) ketransmigrasian. 4) pariwisata.

penerimaan pinjaman daerah. b. 3. pembentukan dana cadangan. tapi apabila terjadi selisih kurang maka hal itu disebut defisit anggaran. 2) belanja barang dan jasa. Jumlah pembiayaan sama dengan jumlah surplus atau jumlah defisit anggaran. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. d. dan 8) belanja tidak terduga. penerimaan piutang daerah. pencairan dana cadangan. dan f. 6) belanja bagi basil.b. Penerimaan pembiayaan mencakup: a. c. 5) bantuan sosial. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA). 2) bunga. dan d. 7) bantuan keuangan. c. D. Selisih lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah disebut surplus anggaran. Gambaran Umum Pengelolaan dan Pelaporan Keuangan Daerah . pemberian pinjaman daerah. 3) subsidi. 4) hibah. e. `Pengeluaran pembiayaan mencakup: a. Klasifikasi belanja menurut kelompok belanja terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja langsung. b. pembayaran pokok utang. Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: 1) belanja pegawai. peneemaan modal (investasi) pemerintah daerah. Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: 1) belanja pegawai. Pembiayaan Semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. dan 3) belanja modal. penerimaan kembali pemberian pinjaman.

Undang-undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Peraturan Pemerintah No. 11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 152 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan Barang Daerah 14. 15. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 24 Tahun 2005. Peraturan-peraturan lain terkait dengan pengelolaan keuangan daerah. Sistem dan prosedur laporan keuangan pemerintah daerah ditetapkan dalam sistem akuntansi keuangan daerah yang ditetapkan oleh gubernur/bupati/walikota. 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Undang-undang No. Peraturan Pemerintah No. 7. 4. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. 6. Undang-undang No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Pemerintah No. 5. Penyusunan LKPD tersebut dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan Daerah (SKPKD) berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai berikut: 1. Peraturan Pemerintah No. 10. Entitas pelaporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD berupa LKPD adalah pemerintah daerah yang dipimpin oleh kepala daerah yaitu gubernur/bupati/walikota.LKPD disusun oleh kepala daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Peraturan daerah dan peraturan/keputusan kepala daerah terkait dengan pengelolaan keuangan daerah. 3. 16. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2002 Tentang pengkodean Barang Daerah. 9. dengan entitas akuntansi satuan kerja pengelola keuangan daerah dan satuan kerja perangkat daerah. 8. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar akuntansi yang digunakan sebagai dasar penyusunan LKPD adalah Standar Akuntansi Pemerintahan yang ditetapkan dalam PP No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Pemerintah No. 12. 54 Tahun 2005 Tentang Pinjaman Daerah. Peraturan Pemerintah No. 2. Peraturan Pemerintah No. Undang-undang No. 57 Tahun 2005 Tentang Hibah kepada Daerah. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan. 13. 56 Tahun 2005 Tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. . 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Sistem dan prosedur pertanggungjawaban sebelum peraturan tersebut dilakukan secara terpusat pada biro/bagian keuangan. Aset dan kewajiban tersebut dipertanggungjawabkan dalam neraca. dan pengeluaran pembiayaan dipisahkan dari belanja. pemerintah daerah juga mengelola aset dan kewajiban. Sistem dan Prosedur Pertanggungjawaban Sistem dan prosedur pertanggungjawaban pelaksanaan APBD merupakan sistem dan prosedur penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan (4) catatan atas laporan keuangan dilampiri ikhtisar laporan keuangan perusahaan daerah dan badan lainnya. (2) penyampaian rancangan peraturan daerah tentang APBD. Namun sejak adanya Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. peraturan daerah tentang pengelolaan keuangan daerah. dan (5) penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran. Selain pendapatan. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaa Keuangan Daerah. yang terdiri atas (1) laporan realisasi APBD. meskipun secara sistem dan prosedur sangat terkait. (2) neraca. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Sistem dan prosedur laporan keuangan pemerintah daerah tersebut secara umum meliputi sistem dan prosedur (1) perencanaan. 2. (3) pembahasan APBD dengan DPRD. belanja dan pembiayaan. (4) penetapan peraturan daerah tentang APBD. . penerimaan pembiayaan dipisahkan dari pendapatan. Sistem dan prosedur pertanggungjawaban yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD diungkapkan dalam LKPD. 3. Sistem dan Prosedur Perencanaan Sistem dan prosedur perencanaan meliputi antara lain kegiatan (1) penyusunan anggaran. Secara ringkas sistem dan prosedur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Sistem dan Prosedur Pelaksanaan Anggaran Secara umum. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. dan peraturan lain yang menjadi acuan penyusunan sistem dan prosedur laporan keuangan pemerintah daerah. sistem dan prosedur pelaksanaan anggaran meliputi antara lain sistem dan prosedur (1) pendapatan dan (2) belanja. dan (3) pertanggungjawaban. (3) laporan arus kas. (2) pelaksanaan.Sistem dan prosedur tersebut disusun dengan mengacu kepada peraturan perundangundangan seperti PP No. 13 Tahun 2006 meliputi sistem dan prosedur pada (1) SKPD dan (2) SKPKD. serta berdasarkan PP No. Sesuai dengan SAP dan peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait pengelolaan keuangan daerah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful