MAKALAH HUKUM ACARA PIDANA

Proses Beracara Pemeriksaan Perkara Biasa, Singkat dan Cepat

Disusun oleh: Wahyu Woliyono, 1006661954 Annida Addiniaty, 11006008870 Cempaka Pradnya Pramita Wijaya, 1106010982 Chrysanty Dillan, 1106019565 Fakhrani Ahliyah, 1106055974 Gabriele Griselda, 1106006820 Muthmainnah, 1106056011 Putri Sukma Mandiri, 1106022660 Reihan Putri, 1106008220 Rodliyathun Mardliyyah, 1106002886

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA 2012
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa , Allah SWT karena dengan nikmat dan anugerah-Nya kami dapat membuat makalah ini. Shalawat dan salam kami tujukan bagi junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Terima kasih kami ucapkan kepada dosen Mata Kuliah Hukum Acara Pidana, Ibu Febby Mutiara Nelson S.H., M.H. yang telah membimbing kami, memberi kami masukan dan pengajaran dalam membuat makalah ini. Terima kasih kami ucapkan pula kepada orangtua kami yang selalu mendukung kami. Kami ucapkan terima kasih kepada teman – teman kami yang sudah memberikan semangat kepada kami. Juga kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis dan pembacanya.

Jakarta, Oktober 2012

Tim Penulis

2

DAFTAR ISI
Kata Pengantar......................................................................................... ii Daftar isi................................................................................................... ............. iii BAB I Pendahuluan................................................................................... 1 BAB II Isi 2.1 Acara Pemeriksaan Biasa 2.1.1 Prinsip Pemeriksaan Pengadilan.....................................4 2.1.1.1 Pemeriksaan Terbuka Untuk Umum................... ................................. 4

2.1.1.2 Hadirnya Terdakwa dalam Persidangan .......... .................................5 2.1.1.3 Ketua Majelis Memimpin Persidangan ............. ................................. 5

2.1.1.4 Pemeriksaan Secara Langsung dengan Lisan . . .6 2.1.1.5 Wajib Menjaga Pemeriksaan secara Bebas .......6 2.1.1.6 Pemeriksaan Lebih Dulu Mendengarkan Keterangan Saksi ........................6 2.1.2 Terdakwa Tidak Hadir dalam Persidangan....................6 2.1.2.1 Surat Panggilan Belum Sah ..............................6 2.1.2.2 Menghadirkan Terdakwa Secara Paksa ............6

3

....5 Tuntutan Pembelaan dan Musyawarah Hakim ...1...1......1 Pengertian .2 Musyawarah Majelis Hakim ...................... 16 2...... 11 2.2...2.. ..............3 Prosedur Acara Pemeriksaan Singkat. 7 2.2..........2........................2.............. 14 2...4 Penggantian Hakim... .......7 2.....3 Proses Pemeriksaan Sidang .........................3 Acara Pemeriksaan Cepat 4 ..........4 ……………………………………………….................... Putusan 14 2....................5..1...1...1 Tuntutan Pidana dan Pembelaan ...9 2..............................1.6 Berita Acara Sidang .......9 2..... Penuntut Umum dan Penasehat Hukum 8 2..........5..2 Acara Pemeriksaan Singkat 2..................................................5 Asas Free Trial Perkara Singkat ……………………………………………………………………………………….........2...........................2 Perbedaan Antara Ketentuan dalam HIR dan KUHAP.....7 2....1.2...2.....4 Pencatatan Laporan Panggilan dalam Berita Acara ..................... 9 2..............9 2.....................3 Terdakwa Terdiri dari Beberapa Orang.................1.. Namun Hanya Beberapa yang Hadir..................................................1...9 2..................

. terdapat perkara biasa.3....................1 Tata Cara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan ...... 16 2.. singkat...........3... 21 BAB III 3..........2 Rumusan Masalah 5 ..... 17 2.............................1 Kesimpulan....2......3............................... 26 Daftar Pustaka... 1.....3 Pemeriksaan Perkara Pelanggaran Lalu Lintas Jalan …………………………………………................. Dalam makalah ini akan dijabarkan mengenai masingmasing jenis proses beracara.........1 Pengertian ……………………………………. Sehingga pembaca dan penulis diharapkan bias lebih memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam tiga proses beracara tersebut........ 27 BAB I PENDAHULUAN 1..2 Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan ……………………………………………………….............1 Latar Belakang Dalam hukum acara pidana di Indonesia terdapat beberapa macam proses beracara................ dan cepat. hal ini ditentukan oleh perkaranya.3................ 16 2...2......

Proses Beracara Cepat Acara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan Tata Cara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan Pemeriksaan Perkara Pelanggaran Lalu Lintas Jalan 1. biasa. a. dan cepat. 2. a. c. Agar pembaca dan penulis dapat membedakan macam-macam acara pemeriksaan. Selain itu manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah: 1. Prinsip Pemeriksaan Pengadilan Terdakwa Tidak Hadir dalam Persidangan Proses Pemeriksaan Sidang Penggantian Hakim. 1. dan Penasihat Hukum Tuntutan Pembelaan dan Musyawarah Hakim Berita Acara Sidang 2. d. c. Proses Beracara Biasa a. Penuntut Umum. b. f. Agar pembaca dan penulis dapat lebih memahami tentang macammacam proes beracara pidana yang ada di Indonesia. d. e. c. e. b. singkat.Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Hukum Acara Pidana.4 Metode Penulisan 6 . b. Proses Beracara Singkat Pendahuluan Perbedaan Antara Ketentuan dalam HIR dan KUHAP Prosedur Acara Pemeriksaan Singkat Putusan Perkara Singkat Asas Fair Trial 3.

the Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana ("KUHAP").Penulis menggunakan metode kepustakaan. Untuk dapat membedakan acara pemeriksaan perkara di sidang pengadilan dapat di lihat dari jenis tindak pidana yang akan di ajukan ke muka sidang pengadilan.wikipedia. BAB II PROSES BERACARA PEMERIKSAAN PERKARA BIASA. Its criminal procedure code. determines the procedures and rights of individuals at different stages of the trial process. SINGKAT DAN CEPAT Indonesia is a civil law country with five major codes.1 Dalam hukum acara pidana di Indonesia terdapat beberapa macam proses beracara. Cara yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan membaca buku-buku atau sumber-sumber pustaka lain yang berkaitan dengan isi pembahasan dari makalah ini. 1 http://en.org/wiki/Indonesian_Criminal_Procedure 7 .

3 Pada dasarnya. kecuali dalam hal-hal tertentu yang secara tegas dinyatakan lain4. yaitu perkara-perkara sulit dan besar yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dengan surat tolakan. Andi Hamzah. 4 Ibid. 2. Acara Pemeriksaan Biasa Acara pemeriksaan biasa disebut juga dengan perkara tolakkan vordering. Acara pemeriksaan singkat di atur dalam KUHAP bagian kelima Bab XVI 3. Undang-undang tidak memberikan batasan tentang perkara-perkara yang mana yang termasuk pemeriksaan biasa. hlm.1. sehingga fokus pengaturan acara pemeriksaan biasa pada umumnya terletak 2 3 Prof. Pattiwael. yaitu:5 • • • Umumnya tindak pidana yang diancam hukuman 5 (lima) tahun ke atas Masalah pembuktiannya memerlukan ketelitian Ditinjau dari segi pengaturan dan kepentingan.1. 52. karena dalam acara pemeriksaan biasa dilakukan pemeriksaan perkara-perkara tindak pidana kejahatan berat. 2. menurut KUHAP ada tiga jenis acara pemeriksaan perkara pidana di sidang pengadilan: 1. hlm. Acara pemeriksaan perkara tindak pidana ringan b). Hukum Acara Pidana Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika. Diktat Hukum Acara Pidana (Depok: Lembaga Kajian Keilmuan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Berat ringannya ancaman pidana atas perkara yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan. Acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas jalan. 8 . Acara pemeriksaan biasa di atur dalam KUHAP bagian ketiga Bab XVI 2. SH. 3.J. yang terdiri dari: a). 238. 2008). Namun ada kriteria tertentu mengenai acara pemeriksaan biasa. 2011).E. Atas perbedaan kategori dari tiap-tiap perkara yang akan di ajukan ke muka sidang pengadilan. Dr. Jenis perkara yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan. jur. Acara pemeriksaan cepat diatur dalam KUHAP bagian keenam Bab XVI.2 Perkara jenis ini menurut istilah KUHAP disebut acara pelaksanaan biasa.H. acara pemeriksaan biasa sebenarnya berlaku juga bagi pemeriksaan singkat dan cepat. Perkara yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan pembuktiannya sulit atau mudah. acara pemeriksaan biasalah yang paling luas dan paling utama. 1981:58 Prof. A Karim Nasution. Hanya pada pemeriksaan singkat dan cepat saja diberikan batasan. hlm. 239 5 Archie Michael Hasudungan dan Petra M.

1.1. Perintah mengeluarkan ini dapat dilakukan ketua sidang setelah yang bersangkutan “diperingati” lebih dulu. dalam pemeriksaan perkara kesusilaan atau perkara terdakwanya anak-anak. menyebut pengecualian. Prinsip-prinsip pemeriksaan persidangan. sehingga dengan demikian makna prinsip persidangan terbuka untuk umum benar-benar tercapai. setiap pengunjung sidang “dilarang” membawa senjata api. guna menjamin keselamatan terhadap manusia yang berada dalam ruangan sidang. Larangan Membawa Senjata Api Dalam pasal 219 di tegaskan. namun tetap tidak diindahkannya (pasal 218 ayat 2). Seandainya sifat pelangaran tata tertib yang dilakukan oleh salah seorang pengunjung merupakan tindak pidana. sesuai dengan ketentuan pasal 153 ayat 40. Pada saat majelis hakim hendak membuka sidang.6 2. Tentu ada pengecualian. Bab XVI KUHAP 2. hal itu tidak mengurangi kemungkinan terhadapnya dilakukan penuntutan ( pasal 218 ayat 3 ). dalam pasal 153 ayat 3.html 9 . tempat dimana tercantum prinsip ini. Barang siapa yang menunjukan sikap tidak hormat serta tidak tertib dalam ruangan sidang ketua sidang dapat memerintahkan orang yang bersangkutan di keluarkan dari ruangan sidang. senjata tajam. pelangaran atas prinsip ini. Pemeriksaan Terbuka Untuk Umum semua persidangan terbuka untuk umum. Hadirin Harus Bersikap Hornat Mereka harus sopan dan tidak menimbulkan kegaduhan di ruang sidang. sidang di lakukan dengan “pintu tertutup”. atau alat maupun benda yang dapat membahayakan kemanan sidang. • Biasa diatur dalam Bagian Ketiga. Larangan ini berlaku terhadap siapa pun 6 http://nafnaldi. bukan hanya ditunjukan landasan bagi aparat tapi juga penting diketahui dan didasari terdakwa.pada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal acara pemeriksaan biasa. a. negakibatkan. b.1. harap hadir memasuki ruangan sidang pintu dan jendela ruangan sidang pun terbuka.1.com/2011/06/acara-pemeriksaan-biasa. harus menyatakan “sidang terbuka untuk umum” setiap orang yang hendak mengikuti jalannya persidangan. “ batalnya putusan” demi hukum.blogspot. bahan peledak. Prinsip Pemeriksaan Pengadilan Sebelum memasuki seluk beluk pemeriksaan sidang ada baiknya di pahami prinsip yang harus ditegakkan dan dipedomani.1.

 Selama sidang berlangsung . semua yang hadir berdiri untuk hormat. Tanpa hadirnya terdakwa dalam persidangan..2.tanpa kecuali bagi mereka yang membawa alat atau benda-benda larangan “wajib” menitipkan di tempat yang kusus di sediakan untuk itu. tetapi berlaku bagi panitera. Hal ini yang perlu diingat sehubungan dengan prinsip persidangan yang terbuka untuk umum adalah yang yang berkenaan dengan pasal 153 ayat 5 beserta penjalasannya. sekalipun terdakwa telah dipanggil secara sah. Tata cara tersebut dimulai dari:  Ketua sidang memerintahkan supaya terdakwa di panggil masuk kedalam ruangan sidang. namun ia tidak datang menghadiri persidangan “tanpa alasan yang sah”. b. Harus Hadir Sebelum Hakim Memasuki Ruang Sidang Ketentuan ini bukan hanya berlaku bagi pengunjung sidang. diwajibkan memberi hormat. penasehat hukum sebagai mana di jelaskan dalam pasal 232:  Sebelum sidang di mulai. penunutut umum. c. Itu sebabnya pasal 154 mengatur . ketua menunda persidangan dan memerintahkan penunutut umum supaya memangil terdakwa sekali lagi untuk hadir hari sidang berikutnya. Terdakwa Sudah Di Panggil “Secara Sah” Dalam hal ini. Tata cara tersebut memperlihatkan tanpa hadirnya terdakwa dalam persidangan. penuntut umum. ketua sidang meneliti apakah terdakwa telah dipanggil secara sah. Hadirnya Terdakwa Dalam Persidangan Hukum tidak membenarkan proses peradilan in absentia dalam acara pemeriksaan biasa dan pemeriksaan acara singkat. Terdakwa Dipanggil “Secara Tidak Sah” Jika ternyata terdakwa dipanggil secara tidak sah. pemeriksaan perkara tidak dapat dilakukan. bagaimana cara menghadirkan terdakwa dalam persidangan. 2. Dalam penelitian. 10 . panitera. pemeriksaan perkara tidak dapat dilakukan.  Jika terdakwa dalam pada sidang yang telah ditetapkan tidak hadir.1.1. penasehat hukum dan pengunjung yang sudah ada.  Pada saat hakim memasuki dan meninggalkan ruangan sidang. duduk di tempatnya masing-masing dalam ruangan sidang. setiap orang yang keluar masuk ruangan sidang. ketidak hadiran terdakwa bias terjadi dua kemungkinan: a. menurut ketentuan pasal 157 ayat 4 dan 6.

terdakwa tidak dapat semuanya hadir.5. Ketua Sidang Memimpin Pemeriksaan Ini diatur dalam pasal 217 yang mmenegaskan hakim ketua sidang brtindak memimpin jalannya pemeriksaan pesidangan dan memelihara tata tertib persidangan prinsip ini sesuai dengan system pembuktian yang dianut undangundang. Baik kepada terdakwa maupun kepada saksi tidak boleh dilakukan “penekanan atau ancaman” yang bias menimbulkan hilangnya kebebasan mereka memberikan keterangan.1. hlm. dan bagaimana dengan halnya dengan terdakwa yang tidak hadir? Masalah ini di autur dalam pasal 154 ayat 5 yang memberi ketentuan. pemeriksaan terhadap terdakwa atau saksi “dilakukan dengan tegas”.4. Pemeriksaan Secara Langsung Dengan Lisan Pasal 153 ayat 2 huruf a. Ayat 3 “untuk keperluan pemeriksaan. Mewajibkan hakim mencari kebenaran hakiki di dalam membuktikan kesalahan terdakwa berdsarkan batas minimum pembuktian menurut undang-undang dengan alat bukti yang sah.1. “Hakim ketua sidang memimpin pemeriksaan di sidang pengadilan dilakukan secara lisan dalam bahasa Indonesia yang dimengerti oleh terdakwa atau saksi”. 73. 2. Terhadap mereka tidak dilakukan hal atau diajukan pertanyaan yang mengakibatkan terdakwa atau saksi memberikan jawaban secara tidak bebas. “Ia wajib menjaga supaya tidak dilakukan hal atau diajukan pertanyaan yang mengakibatkan terdakwa atau saksi memberikan jawaban secara tidak bebas”.:7 Ayat 1 “ Pada hari yang ditentukan menurut pasal 152 pengadilan bersidang”. 11 . Apakah sidang dilangsungan. Ayat 2 a. sebagai mana diatur dalam pasal 166 KUHAP 7 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Penjelasannya (Jakarta: Titik Terang. terdakwanya terdiri dari beberapa orang pada hari sidang yang ditentukan . Ayat 2 b. yakni system pebuktian undang-undang secara negative. 2.1. Ayat 4 “tidak dipenuhi ketentuan dalam ayat 2 dan 3 mengakibatkan batalnya putusan demi hukum”      2. Wajib Menjaga Pemeriksaan Secara Bebas Sesuai dengan pasal 153 ayat 2 huruf b. hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam memberikan jawaban secara tidak bebas”.1.Bagaimana jika dalam suatu perkara .1.1. Bahkan pertanyaan yang “bersifat menjerat” tidak boleh diajukan baik terhadap terdakwa maupun terhadap saksi.3. 1995).

8 Untuk menguatkan alasan mendahulukan pemeriksaan pendengaran keteranagan saksi dari terdakwa. pasal ini di hubungkan dengan pasal 184 ayat 1 yang menempatkan urutan alat bukti keterangan saksi pada urutan yang pertama. Terdakwa Tidak Hadir dalam Persidangan9 2. 2. 8 Ketidakhadiran dengan alasan yang sah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Penjelasannya (Jakarta: Titik Terang. Ketua Majelis memerintahkan untuk memanggil terdakwa sekali lagi. Menghadirkan Terdakwa Secara Paksa Ketidakhadiran tanpa alasan yang sah 1. hlm.6. Diktat Hukum Acara Pidana (Depok: Lembaga Kajian Keilmuan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2. Jika panggilan kedua. Sedangkan urutan alat bukti keterangan terdakwa di tempatkan pada urutan yang terakhir. dan  Ketua Majelis memerintahkan menghadirkan terdakwa secara paksa.2. 9 Archie Michael Hasudungan dan Petra M. 77.J. hlm. Sidang ditunda pada hari dan tanggal berikutnya.1. terdakwa tidak hadir lagi tanpa alasan yang sah :  Ketua Majelis menunda hari dan tanggal sidang. Penundaan hari sidang tersebut dibarengi dengan perintah dari Majelis Hakim kepada penuntut umum untuk memanggil terdakwa pada hari dan tanggal sidang berikutnya.E.1.2.2.2. penuntut umum untuk b.2. 1995). 2011). a. Pattiwael. b. Surat Panggilan Belum Sah (Pasal 145 dan 146 KUHAP) Persidangan ditunda pada tanggal dan hari berikutnya. a.1. Pemeriksaan Lebih Dulu Mendengarkan Keterangan Saksi Dalam pasal 160 ayat 1 huruf b yang menegaskan “pertama-tama di dengar keterangannya adalah korban yan menjadi saksi”.1. 3. 12 . 2.1.1. 53.

hanya tinggal membaca putusan. Terdakwa telah pernah keterangannya di hadir. dan 2. Jika terdakwa yang tidak hadir tersebut setelah dipanggil untuk kedua kalinya tidak hadir.2. Sementara terhadap terhadap terdakwa yang pernah hadir. e. tapi belum diperiksa dan didengar persidangan. Putusan dapat diucapkan dengan hadirnya terdakwa yang ada saja (Pasal 196 ayat (2) KUHAP). c. Pencatatan Laporan Panggilan dalam Berita Acara Untuk melengkapi pembahasan ketidakhadiran terdakwa menghadap pada tanggal hari persidangan yang telah ditentukan.1. atau Memeriksa para terdakwa yang hadir. tidak boleh dijatuhkan putusan terhadap mereka. Terdakwa Terdiri dari Beberapa Orang. 2. Ketua Majelis menunda dan mengundurkan sidang. hakim memerintahkan penuntut umum untuk memanggil terdakwa sekali lagi. Menunda dan mengundurkan persidangan tanpa memeriksa terdakwa yang hadir. f. Putusan diucapkan terhadap terdakwa yang hadir saja. maka akan dihadirkan secara paksa oleh penuntut umum. Memerintahkan penuntut umum untuk memanggil terdakwa sekali lagi. Ketidakhadiran terdakwa pada sidang hari terakhir. perlu diperhatikan ketentuan pasal 154 ayat 7 yang menyangkut tugas dan kewajiban panitera yang mendampingi 13 .2. 2.1.3.1.4. tapi belum cukup diperiksa dan didengar keterangannya. d. Namun Hanya Beberapa yang Hadir a. b. Terhadap terdakwa yang tidak hadir.

hlm. Pembacaan surat dakwaan oleh penuntut umum setelah diperintahkan oleh ketua sidang 4. hakim memerintahkan penuntut umum untuk memberi penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang didakwakan kepadanya 5. 2011). Pemeriksaan saksi a. Proses Pemeriksaan Sidang11 Proses persidangan ini di atur dalam BAB XVI KUHAP untuk melihat pemeriksaan di sidang pengadilan. 2. Hakim harus bertanya kepada memahami isi surat dakwaan terdakwa apakah benar-benar b.com/2011/06/acara-pemeriksaan-biasa.html Michael Hasudungan dan Petra M. panitera mencatat perintah tersebut dalam berita acara. Hak mengajukan eksepsi Harus diajukan pada sidang pertama. Menanyakan isi surat dakwaan a.E. 14 . 1.untuk mencatat dalam berita acara persidangan mengenai laporan penuntut umum tentang pelaksanaan perintah pemanggilan yaitu:10  Dalam hal pemanggilan belum sah. 6. yakni sesaat atau setelah penuntut umum membaca surat dakwaan (Pasal 156 ayat (1) KUHAP). mulai dari awal sampai kepada putusan. Memperingatkan terdakwa untuk memperhatikan segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya dalam persidangan 3. 54. Pemeriksaan identitas terdakwa 2.  Demikian juga dalam ketidakhadiran terdakwa tanpa alasan yang sah.J. Jika terdakwa belum mengerti. Kewajiban mengundurkan diri apabila terdapat hubungan darah 7. Diktat Hukum Acara Pidana (Depok: Lembaga Kajian Keilmuan Fakultas Hukum Universitas Indonesia.3. Saksi dipanggil dan diperiksa seorang demi seorang 10 11 http://nafnaldi. dan ketidak hadiran yang tidak itu sudah dua kali maka jika dalam peristiwa ini hakim mengeliarkan perintah kepada penuntut umum agar terdakwa dihadirkan dengan paksa.1.blogspot. panitera harus mencatat dalam beriat acara perintah hakim pada penunutu umum untuk memanggil terdakwa pada sidang berikutnya. Pattiwael.

Larangan mengajukan pertanyaan yang menjerat h. d. Salah seorang hakim atau penuntut umum berhalangan. Identitas terdakwa b. Pembacaan surat dakwaan d. atau 2.4. Memeriksa identitas saksi c. hlm.b. Berhak mengajukan bantahan e. Hakim dilarang menyatakan sikap keyakinan salah tidaknya terdakwa 9. 15 . Penggantian Hakim. Anjuran untuk menjawab g. Kesempatan mengajukan pertanyaan kepada saksi 8. Pemeriksaan ahli 2. Saksi wajib mengucapkan sumpah : “Memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya” (Pasal 160 ayat (3) KUHAP). Pemeriksaan terdakwa a.1. didengar di persidangan c. Terdakwa dapat membantah keterangan saksi e. Pemeriksaan terdakwa sesudah pemeriksaan saksi f. Memperingatkan terdakwa agar memperhatikan segala sesuatu yang dilihat. Penuntut Umum. 55. Penuntut umum dan penasihat hukum dapat mengajukan pertanyaan kepada terdakwa i. dan Penasihat Hukum12 Hal ini dapat terjadi apabila : 1. Penasihat hukum berhalangan 12 Ibid.

kemudian ditandatangani hakim ketua sidang dan panitera.1. Pendahuluan Acara pemeriksaan singkat adalah perkara-perkara yang sifatnya bersahaja.5. Musyawarah dilakukan dengan cara satu per satu hakim mengemukakan pendapatnya mengenai perkara yang telah diperiksa dan diadili.. Minutering berita acara haruslah tepat waktu.1. maka dapat dilakukan secara lisan di persidangan lalu dicatat oleh panitera) 2. 4.2. dan yang dijatuhkan hukuman pokoknya yang diperkirakan tidak lebih berat dari hukum 13 14 Ibid. hlm.1.1.2.5. Diajukan atas permintaan hakim ketua siding. 56. 3. hlm. 16 . Mendahulukan pengajuan tuntutan dari pembelaan. khususnya mengenai soal pembuktian dan pemakaian undang-undang. mulai dari hakim yang termuda.6. Majelis Hakim Musyawarah majelis hakim dilakukan untuk mendapatkan keputusan berupa putusan pengadilan.5. Acara Pemeriksaan Singkat 2. sementara dari segi fungsi merupakan titik tolak dalam penyusunan pertimbangan putusan. Ibid. Keputusan musyawarah majelis hakim berupa putusan 2.1.2. Tuntutan Pembelaan dan Musyawarah Hakim13 2.56. 2. Tuntutan pembelaan dan jawaban dibuat secara tertulis (pengecualian bagi terdakwa yang tidak dapat menulis. Berita Acara Sidang14 Berita acara sidang jika ditinjau dari segi hukum merupakan akta resmi. Tuntutan Pidana dan Pembelaan 1.2. Jawab-menjawab dengan syarat terdakwa mendapat giliran terakhir. 2. Adapun berita acara sidang dibuat di dalam persidangan oleh panitera.1.

ahli. tidak berat.Karim Nasution. 336. juru babasa dan barang bukti yang diperlukan. Dengan demikian. jenis kelamin. saksi.” 19 A. dan pekerjaan serta mengingatkan terdakwa untuk memperhatikan segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya dalam sidang pengadilan (Pasal 155 ayat (1) KUHAP). tidak sukar. Pustaka Kartini. 15 Prof. 16 (2) Dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). menghadapkan terdakwa beserta barang bukti. tempat tinggal. Sedangkan setelah berlakunya KUHAP. dalam waktu tiga hari sejak berita acara pemeriksaan selesai dibuat. dan 337. gampang. juru bahasa. hlm 64.” 18 “(2) Dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). “Hukum Cara Pidana Indonesia dalam Praktek”.19 Namun perlu ditekankan kepada penjelasan bahwa sifat pembuktian serta penerapan hukum acara pidana dalam proses ini adalam mudah dan sederhana. dan barang bukti yang diperlukan.” 17 “(1) Yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat ialah perkara kejahatan atau pelanggaran yang tidak termasuk ketentuan Pasal 205 dan yang menurut penuntut umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana.pernjara selama 1 tahun. ahli. Acara pemeriksaan singkat ini dahulunya disebut sebagai summiere procedure.H “(1) Yang diperiksa mnenurut acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah perkara yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan penghinaan ringan kecuali yang ditentukan dalam Paragraf 2 Bagian ini. seperti: nama lengkap. penyidik atas kuasa penuntut umum. maka acara pemeriksaan singkat ini diatur dalam pasal 203 dan 204 KUHAP yang ketentuannya adalah sebagai berikut: Yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat ialah perkara kejahatan atau pelanggaran yang tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 205 KUHAP16 (acara pemeriksaan tindak pidana ringan) dan yang menurut penuntut umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana dimana dalam perkara ini penuntut umum menghadapkan terdakwa beserta saksi.H. S.15 Acara pemeriksaan singkat ini bila dibandingkan dengan system penyerahan perkara pada waktu sebelum berlakunya KUHAP terdapat persamaannya dengan ketentuan yang diatur dalam HIR bagian ke-empat Pasal 334. penuntut umum menghadapkan terdakwa beserta saksi. kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan terdakwa dapat minta banding. kebangsaan. pembuktian dan penerapan hukum adalah gampang. ahli dan atau juru bahasa ke sidang pengadilan. (3) Dalam acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). A. Soetomo. pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir. S. 335. agama. Hal ini ditentukan dalam pasal 203 ayat (1)17 dan (2)18 KUHAP. Sebab kata “mudah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak memerlukan banyak tenaga dan pikiran dalam mengerjakan sesuatu. umur/tanggal lahir. Hakim ketua sidang kemudian menerangkan identitas terdakwa. 17 . dan tidak perlu menggunakan banyak pikiran dalam mengerjakan segala sesuatunya. tidak sukar.

(Pasal 203 ayat (3) butir 2b KUHAP)21 Selanjutnya pasal 204 KUHAP menentukan: jika dari pemeriksaan sidang sesuatu perkara yang diperiksa dengan acara singkat ternyata sifatnya jelas dan ringan. maka dalam acara pemeriksaan singkat. yang seharusnya diperiksa dengan acara cepat. maka atas persetujuan terdakwa. maka hakim memerintahkan perkara itu diajukan ke sidang pengadilan dengan acara biasa. 07. Pemberitahuan itu dicatat dalam berita acara sidang. dari catatannya. “Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar”. 18 . R. di dalam keputusannya tanggal 10 Desember 1983 Nomor M. “Hukum Acara Pidana: Studi Perbandingan antara Hukum Acara Pidana Lama dengan Hukum Acara Pidana Baru”.Sesudah terdakwa di sidang menjawab segala pertanyaan mengenai identitas selengkapnya. yang seharusnya diperiksa dengan acara cepat. akan tetapi apabila dalam waktu tersebut ternyata tidak selesai. hlm 87.20 Apabila hakim memandang perlu dilakukan pemeriksaan tambahan. Putusan atas perkara singkat tidak dibuat secara khusus. penuntut umum wajib membuat surat dakwaan. hakim dapat melanjutkan pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan atas suatu perkara. harus sudah menyelesaikan pemeriksaan tambahan tersebut. Isi surat itu mempunyai kekuatan hukum yang sama seperti putusan pengadilan dalam acara biasa. “Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar”. dan keadaan pada waktu tindak pidana itu dilakukan. maka hakim dengan persetujuan terdakwa dapat melanjutkan pemeriksaan tersebut. Hakim memberikan surat yang membuat amar putusan tersebut. hlm. 129. hlm 88. ternyata sifatnya jelas dan ringan. dan merupakan pengganti “surat dakwaan” (acte van verwijzing). Jakarta: Djambatan. 03 Tahun 1983 Menteri Kehakiman telah memberikan petunjuknya sebagai berikut. Untuk menghindarkan menumpuknya sisa perkara di kejaksaan yang disebabkan oleh dikembalikannya berkas-berkas perkara dengan acara singkat oleh pengadilan ke kejaksaan. maka dalam waktu paling lama 14 hari. tetapi dicatat dalam berita acara sidang. Guna kepentingan pembelaan. hakim dapat menunda pemeriksaan paling lama 7 hari. 22 Darwan Prints. 14-PW. dengan menyebutkan: waktu. 20 21 Darwan Prints. maka atas permintaan terdakwa atau penasihat hukum. tempat. Dengan demikian. yang diperiksa dengan acara singkat. Jakarta: Djambatan. maka hakim ketua sidang mempersilahkan penuntut umum untuk memberitahukan secara lisan kepada terdakwa. Atang Ranoemihardja. tentang tindak pidana apa yang didakwakan kepadanya.22 Perbedaan dengan acara pemeriksaan biasa. penuntut umum atau jaksa tidak membuat surat dakwaan. Bandung: Tarsito.

ketua pengadilan negeri menunjuk penggantinya agar sidang berjalan sebagaimana mestinya (sesuai dengan ketentuan Pasal 198 ayat (1) KUHAP). perkara tersebut tanpa diregistrasikan dikembalikan ke kejaksaan. Untuk perkara-perkara dengan acara pemeriksaan singkat yang sudah didaftarkandan memperoleh nomor register.a. b. yang dapat diperiksa oleh pengadilan dengan acara singkat. berhalangan hadir pada hari yang telah ditentukan. Jakarta: Sinar Grafika.F Hukum Lamintang dan Theo Lamintang “Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Pidana dan Yurisprudensi”. dan bagi pelakunya dianggap pantas untuk tidak dijatuhi pidana pokok yang lebih berat daripada pidana penjara selamalamanya satu tahun. kiranya lebih baik apabila kita mengetahui lebih dahulu bunyi Pasal 335 HIR yang memuat ketentuan mengenai ancaman pidana seperti yang dimaksudkan di atas. Perbedaan Antara Ketentuan dalam HIR dan KUHAP Tetapi ternyata tidak semua ketentuan HIR mengenai summiere procedure diambil alih oleh KUHAP. bepaaldelijk ook ten aanzien van het bewijs en de toepassing van de wet. Lamintang dan Theo Lamintang “Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Pidana dan Yurisprudensi”. masing-masing yaitu sebagai berikut:24 23 P. Untuk mengetahui secara lengkap mengenai hal tersebut. dat de zaak van eenvoudigen aard is. na kennisneming van de stukken hem door den hulpmagistraat toegezonden. cordeelt. hlm 458. maka akan menjumpai beberapa perbedaan. hlm 459 19 . jika setelah mempelajari berkas perkara yang diterimanya dari penyidik ia berpendapat. berkas perkaranya tidak dapat dikembalikan ke kejaksaan.2. Jakarta: Sinar Grafika. wanneer hij.F Hukum 24 P. en daarin geen zwaardere hoofdstraf dan gevangenisstraf van ten hoogste een jaar dient te worden opgelegd. Dalm hal hakim yang akan menangani persidangan dengan acara pemeriksaan singkat. bahwa perkaranya adalah sederhana. 2. Untuk perkara-perkara yang diperiksa dengan acara pemeriksaan singkat yang pada waktu akan disidangkan ternyata tidak lengkap (misalnya terdakwa atau saksi tidak hadir). Artinya: Penuntut umum dapat mengajukan seorang terdakwa ke sidang pengadilan tanpa suatu acara pemeriksaan yang tertentu.23 Pasal 335 HIR dahulu berbunyi: De magistraat kan een verdachte zonder eenigen vorm van process op de zitting van den landraad brengen. c.A. Apabila ketentuan tersebut dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalan pasal 203 ayat (1) KUHAP. yang terpenting adalah antara lain ketentuan mengenai ancaman pidana terhadap tindak pidana.A. khususnya jika dihubungkan dengan pembuktiannya dan dengan penerapan dari undang-undangnya.2.

a.F Lamintang dan Theo Lamintang “Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana dan Yurisprudensi”. Bagian Kedua dan Bagian Ketiga Bab ini sepanjang peraturan itu tidak bertentangan dengan ketentuan di bawah ini: 20 . b. Pasal 335 HIR ternyata secara umum hanya berbicara mengenai suatu tindak pidana. Bukan merupakan pelanggaran tertentu terhadap peraturan perundangundangan lalu lintas jalan. Pasal 335 HIR berbicara mengenai perkara yang sederhana. asalkan perkaranya itu:25 a. maka di dalam KUHAP pembentuk undang-undang telah tidak bermaksud untuk membatasi jenis tindak pidana yang dapat diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat itu hanya pada tindak pidana yang menurut pendapat penuntut umum. hlm 460 26 (3) Dalam acara ini berlaku ketentuan dalam Bagian Kesatu. Bukan merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara atau pidana kurungan paling lama tiga bulan dan/atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah atau penghinaan ringan. Dengan demikian kita mengetahui. c. pelakunya pantas untuk tidak dijatuhi pidana pokok yang lebih berat daripada pidana penjara selama-lamanya satu tahun saja. khususnya jika dihubungkan dengan pembuktiannya dan dengan penerapan undangundangnya. sedangkan Pasal 203 ayat (1) KUHAP ternyata telah berbicara mengenai kejahatan atau pelanggaran yang menurut penuntut umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana. melainkan juga semua tindak pidana. Menurut penuntut umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana. c. Perbedaan-perbedaan lainnya antara ketentuan-ketentuan mengenai summiere procedure yang diatur dalam HIR dengan ketentuan-ketentuan mengenai acara pemeriksaan singkat yang diatur dalam Pasal 203 ayat (3)26 KUHAP adalah:27 25 P. bahwa lain halnya dengan yang ditentukan di dalam HIR dahulu. sedang pasal 203 ayat (1) KUHAP secara tegas telah menyebutkan bahwa tindak pidana tersebut dapat berupa kejahatan dan dapat pula berupa pelanggaran.A. bahwa bagi pelaku dari tindak pidana tersebut adalah pantas untuk tidak dijatuhi pidana pokok yang lebih berat daripada pidana penjara selama-lamanya satu tahun. Pasal 335 HIR telah mengaitkan tindak pidana yang dimaksud di dalamnya dengan anggapan dari penuntut umum. Jakarta: Sinar Grafika. Pasal 203 ayat (1) KUHAP mensyaratkan bahwa yang dapat diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat adalah perkara kejahatan atau pelanggaran yang tidak termasuk ketentuan Pasal 205 KUHAP. sedangkan Pasal 203 ayat (1) KUHAP tidak menyebutkan syarat tersebut. b.

supaya diadakan pemeriksaan tambahan dalam waktu paling lama empat belas hari dan bilamana dalam waktu tersebut penuntut umum belum juga dapat menyelesaikan pemeriksaan tambahan. isi surat tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama seperti putusan pengadilan dalam acara biasa. yang harus memberitahukan dengan lisan kepada terdakwa tentang tindak pidana yang didakwakan kepadanya itu adalah penuntut umum. hakim dapat menunda pemeriksaan paling lama tujuh hari. Bahwa untuk mengadakan pemeriksaan tambahan seperti yang dimaksud dalam Pasal 203 ayat (3) huruf b KUHAP undang-undang telah membatasi jangka waktu pelaksanaannya hingga paling lama empat belas hari. hakim memberikan surat yang memuat amar putusan tersebut. tetapi perkara tidak didaftarkan/diregister dulu. 21 . pembelaan. 2.pemberitahuan ini dicatat dalam berita acara sidang dan merupakan pengganti surat dakwaan. Prosedur Acara Pemeriksaan Singkat 1. tetapi dicatat dalam berita acara sidang. sedangkan jangka waktu tersebut telah tidak ditentukan dalam Pasal 337 huruf b HIR. maka atas permintaan terdakwa dan atau penasihat hukum.2. penuntut umum dengan segera setelah terdakwa di sidang menjawab segala pertanyaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (1) memberitahukan dengan lisan dari catatannya kepada terdakwa tentang tindak pidana yang didakwakan kepadanya dengan menerangkan waktu. b. Jakarta: Sinar Grafika. c. sedangkan jangka waktu tersebut tidak ditentukan dalam Pasal 337 huruf c HIR. f. dalam hal hakim memandang perlu pemeriksaan tambahan. d.A. dan d. 27 P. putusan tidak dibuat secara khusus. Registrasi pendaftaran dan pemberian nomor perkara a. sedangkan menurut Pasal 337 huruf a angka 1 HIR pemberitahuan tersebut dilakukan oleh hakim ketua sidang. Bahwa menurut Pasal 203 ayat (3) huruf a angka 1 KUHAP. maka hakim memerintahkan perkara itu diajukan ke sidang pengadilan dengan acara biasa. tempat dan keadaan pada waktu tindak pidana itu dilakukan.a. Penerimaan berkas perkara sama dengan pidana biasa. b. 1. c. Bahwa ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pasal 203 ayat (3) huruf e dan huruf f KUHAP itu tidak terdapat dalam HIR. Bahwa untuk kepentingan pembelaan seperti dimaksud dalam Pasal 203 ayat (3) huruf c KUHAP.F Lamintang dan Theo Lamintang “Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana dan Yurisprudensi”.3. hlm 460-461. 2. e. undang-undang telah menentukan bahwa hakim dapat menunda pemeriksaan paling lama tujuh hari. guna kepentingan.

JPU tidak membuat Surat Dakwaan. maka Hakim dengan persetujuan Terdakwa dapat melanjutkan pemeriksaan tersebut (Pasal 204 KUHAP). Putusan Perkara Singkat Putusan pemeriksaan singkat tidak dibuat secara khusus. tempat dan keadaan pada waktu tindak pidana itu dilakukan (Pasal 203 Ayat (3) KUHAP). JPU menghadapkan Terdakwa beserta saksi. 22 . 7.baru dilakukan setelah hakim mulai pemeriksaan perkara (Perkara dinyatakan dapat diperiksa dengan acara singkat) biasanya setelah sidang pertama. Jika dari pemeriksaan disidang. Majelis Hakim mengembalikan berkas perkara kepada JPU dengan suatu surat Penetapan dengan nomor pendaftaran Pengadilan Negeri. 2. atas permintaan Terdakwa. 2. dan barang bukti yang diperlukan (Pasal 203 Ayat (2) KUHAP). kemudian Hakim memberikan surat yeng memuat amar putusan tersebut yang mana surat tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama seperti putusan pengadilan dalam acara biasa ((Pasal 203 Ayat (3) d KUHAP). maka dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut ini: 1. Ketua pengadilan Negeri menetapkan hari persidangan tertentu. tetapi Dakwaan secara lisan dan dicatat dalam Berita Acara Sidang sebagai pengganti Surat Dakwaan. Apabila melihat dari pengertian serta beberapa ketentuan yang sudah dijelaskan di atas. Apabila pada saat hari sidang yang ditentukan (sidang pertama). 4. Pengajuan perkara pidana dengan acara singkat oleh Penuntut Umum dapat dilakukan pada hari¬-hari persidangan tertentu yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan. 8. maka Hakim memerintahkan perkara diajukan dengan Acara Biasa (Pasal 203 ayat 3 poin b KUHAP). hakim dapat menunda pemeriksaan paling lama 7(tujuh) hari. dan/atau Penasehat Hukum. juru bahasa. maka dilakukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari oleh JPU. dengan menerangkan waktu. Dalam hal Hakim memandang perlu pemeriksaan tambahan. ahli. Apabila pada saat pemeriksaan dipersidangan.4.2. 2. dan bila waktu terlampaui. 5. 9. ternyata bersifat jelas dan ringan yang seharusnya diperiksa dengan Acara Cepat. Berdasarkan pasal 203 KUHAP maka yang diartikan dengan perkara acara singkat adalah perkara pidana yang menurut Penuntut Umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana. maka berkas-berkas perkara diserahkan kembali kepada Jaksa PU secara langsung tanpa penetapan. tetapi dicatat dalam berita acara sidang. Guna kepentingan pembelaan. terdakwa atau saksi-saksi utamanya tidak datang. yaitu salah satu hari dari 7 (tujuh) hari untuk persidangan dengan acara pemeriksaan singkat. 3. 6. suatu perkara yang diperiksa dengan Acara Singkat. terdapat hal-hal yang menunjukkan bahwa perkara pidana itu tidak bersifat sederhana (harus diperiksa dengan acara biasa).

maka berkas dikembalikan kepada Penuntut Umum secara langsung tanpa penetapan.Ketua Majelis Hakim/ Hakim yang ditunjuk bertanggung. setelah sidang dibuka oleh Ketua Majelis serta menanyakan identitas terdakwa kemudian Penuntut Umum diperintahkan untuk menguraikan tindak pidana yang didakwakan secara lisan. dan tidak menggunakan tip ex jika terdapat kesalahan tulisan diperbaiki dengan renvoi.Tentang pendaftaran perkara pidana dengan acara singkat. 16. 11. maka hakim segera mengeluarkan penetapan yang memerintahkan supaya perkara diajukan dengan acara biasa. 17.jawab atas ketepatan batas waktu minutasi. sejak penyidik menerima surat penetapan pemeriksaan tambahan. 8. tidak kotor.Jika hakim belum menerima hasil pemeriksaan tambahan dalam waktu tersebut. Cara pengembalian kepada kejaksaan dilakukan secara langsung pada saat sidang di pengadilan tanpa prosedur adminstrasi. sebaiknya mengadakan koordinasi dengan Kepala Kejaksaan Negeri setempat dan supaya berkas perkara dengan acara singkat diajukan tiga hari sebelum hari persidangan. 5.Apabila pada hari persidangan yang ditentukan terdakwa dan atau saksisaksi tidak hadir.Hakim dalam sidang dapat memerintahkan kepada penuntut umum mengadakan pemeriksaan tambahan untuk menyempurnakan pemeriksaan penyidikan jika hakim berpendapat pemeriksaan penyidikan masih kurang lengkap.Putusan perkara pidana singkat tidak dibuat secara khusus tetapi dicatat dalam Berita Acara Sidang. Penunjukan Majelis/ Hakim dan hari persidangan disesuaikan dengan keadaan di daerah masing-masing.Perintah pemeriksaan tambahan dituangkan dalam surat penetapan.Untuk kepentingan persidangan Hakim menunda persidangan paling lama 7 hari. Pada hari yang telah ditetapkan tersebut penuntut umum langsung membawa dan melimpahkan perkara singkat kemuka Pengadilan. 20.BAP dibuat dengan rapi. 18. 6. 15.3. 10. sebaiknya dengan buku pengantar (ekspedisi). Ketua Pengadilan Negeri sebelum menentukan hari persidangan dengan acara singkat. 13. 23 . Pengembalian berkas perkara dilakukan sebelum perkara diregister. didaftar di Panitera Muda Pidana setelah Hakim memulai pemeriksaan perkara. 12. 7. 14.Pemeriksaan tambahan dilakukan dalam waktu paling lama 14 hari. Pengembalian berkas perkara kepada kejaksaan atas alasan formal atau berkas perkara tidak lengkap. 19. dan hal tersebut dicatat dalam Berita Acara Sidang sebagai pengganti surat dakwaan (pasal 203 ayat 3 KUHAP). Dalam acara singkat. 9.Pemeriksaan dialihkan ke pemeriksaan acara cepat dengan tata cara sesuai Pasal 203 ayat (3) huruf b KUHAP. 4.

3. Barang bukti telah tersedia. Bagian kedua. artinya perkara dapat diputus dalam waktu singkat. berkas perkara sudah diminutasi. 2. Ketentuan tentang acara pemeriksaan biasa berlaku pula pada pemeriksaan cepat dengan pengecualian tertentu.3. mungkin dapat diselesaikan hanya memakan waktu dalam satu kali sidang saja. Pemeriksaan cepat terbagi dalam dua paragraf : 1. b. dan Bagian ketiga ini ( bab 16) tetap berlaku sepanjang peraturan itu tidak bertentangan dengan paragraf ini “. termasuk perkara pelanggaran tertentu terhadap peraturan perundang – undangan lalu lintas1. melainkan hanya menentukan ” patokan ” dari segi ancamannya.21. untuk menentukan suatu tindak pidana diperiksa dengan acara ringan bertitik tolak dari ancaman tindak pidana yang didakwakan. Pengertian Pemeriksaan dengan acara cepat diatur dalam bagian keenam Bab XVI KUHAP. terdakwa dalam pemeriksaan penyidik telah mengaku. Acara pemeriksaan tindak pidana ringan. Acara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan Undang – undang tidak menjelaskan mengenai tindak pidana yang termasuk dalam pemeriksaan secara ringan. dan penuntut umum. c. Adapun 24 . Pembuktiannya dan penerapan hukumnya mudah. Bahwa perkara sifatnya sederhana. perkara tersebut sifatnya sederhana dan perkaranya mudah dibuktikan. Acara pemeriksaan pelanggaran lalu lintas jalan. Acara Pemeriksaan Cepat 2.2.2. Jadi. termasuk delik yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan dan atau denda sebanyak – banyaknya tujuh ribu lima ratus dan penghinaan ringan 2. 2.1.Paling lambat sebulan setelah pembacaan putusan. 22. 2. Asas Fair Trial Berdasarkan KUHAP yang berlaku. artinya alat bukti saksi yang sah telah cukup.3. Ancaman maupun pidananya tidak terlalu berat.5. acara pemeriksaan singkat di Indonesia sudah mencerminkan asas fair trial yaitu: a. apabila pidananya yang akan dijatuhkan kurang dari 3 tahun. hal ini berdasarkan pasal 210 KUHAP yang menyatakan bahwa ” ketentuan dalam Bagian kesatu.Hakim memberikan surat yang memuat amar putusan kepada terdakwa atau penasihat hukumnya.

atau wewenang penuntut sebagai aparat penuntut umum dilimpahkan undang – undang kepada penyidik.1. tindak pidana yang ancaman pidananya paling lama 3 bulan penjara atau kurungan. dan untuk seterusnya penuntut umum yang berwenang melimpahkan ke pengadilan dalam kedudukannya sebagai aparat penuntut.3. Namun. Pelimpahan yang demikian merupakan penyimpangan dari ketentuan umum yang mengharuskan penyidik melimpahkan hasil pemeriksaan penyidikan kepada penuntut umum. ahli. prosedur ketentuan umum ini dikesampingkan dalam perkara pemeriksaan tindak pidana ringan. Dalam pemeriksaan perkara dengan acara ringan. denda sebanyak – banyaknya Rp. dan atau juru bahasa ke pengadilan atas kuasa penuntut umum. 7.ancaman pidana yang menjadi ukuran acara pemeriksaan tindak pidana ringan diatur dalam pasal 205 ayat (1) yakni : a. Oleh karena itu pelimpahan ini berdasar ketentuan undang – undang.00. penghinaan ringan yang dirumuskan dalam pasal 315 KUHP2 Ancaman hukuman penghinaan ringan yang dirumuskan dalam pasal 315 KUHP adalah paling lama 4 bulan. Dengan adanya pasal 205 ayat (2) KUHAP. atau b. Namun hal ini tidak mengurangi hak penuntut umum untuk menghadiri pemeriksaan sidang. yang ditegaskan dalam penjelasan pasal 205 ayat (2) alinea 1 . Hal ini dapat dilihat dalam Penjelasan pasal 205 ayat (1) yang menyebutkan . hari – hari tersebut diberitahukan pengadilan kepada penyidik supaya mengetahui dan dapat mempersiapkan pelimpahan berkas perkara tindak pidana ringan. Mengenai hal ini diatur dalam pasal 206 KUHAP yakni hari tertentu dalam tujuh hari. Pelimpahan ini adalah ” Demi Hukum “. Penetapan hari ini dimaksudkan agar pemeriksaan dan penyelesaian tidak mengalami hambatan.3. Tata Cara Pemeriksaan Tindak Pidana Ringan Pada pemeriksaan tindak pidana ringan. Penyidik mengambil alih wewenang penuntut umum. saksi. Penyidik langsung menghadapkan terdakwa beserta barang bukti. 2. ” yang dimaksud dengan ‘ atas kuasa ‘ dari penuntut umum kepada penyidik adalah demi hukum “. Penghinaan ringan tetap termasuk ke dalam kelompok perkara yang diperiksa dengan acara pidana ringan. hal ini merupakan pengecualian dari ketentuan dalam pasal 205 ayat (1). dengan demikian penyidik dalam hal ini bertindak atas ” kuasa undang – undang ” dan tidak memerlukan surat kuasa khusus lagi dari penuntut umum. Pengadilan Negeri menetukan hari – hari tertentu yang khusus untuk melayani pemeriksaan tindak pidana ringan.500. Tindak Pidana ringan ikut digolongkan perkara yang diperiksa dengan acara pidana ringan karena sifatnya ringan sekalipun ancaman pidana paling empat bulan. berdasar penjelasan pasal 205 ayat 25 . dan c. Dengan kata lain.

dalam pasal ini tidak menyebut sanksi dan tidak mengatur tata cara penyelesaian tindak pidana ringan yang tidak disidangkan atau yang kebetulan tidak dapat disidangkan pada hari itu juga. menegaskan bahwa panggilan terhadap terdakwa dan saksi harus diterima dalam jangka waktu sekurang – kurangnya 3 hari sebelum sidang dimulai. dan memerintahkan terdakwa dan saksi untuk menghadap pada hari sidang yang akan datang. ditegaskan bahwa semua perkara tindak pidana ringan yang diterima pengadilan hari itu. ” dalam hal penuntut umum hadir. jo pasal 146 ayat (2). walaupun cara ini sangat bertentangan dengan jiwa dan tujuan lembaga acara 26 . Dengan demikian tenggang waktu menghadapkan terdakwa dan saksi yang disebut dalam pasal 205 ayat (2) adalah batas minimum. maka terdakwa. terdapat dua alternatif yang dapat ditempuh. Dalam hal kemungkinan tindak pidana ringan tidak dapat disidangkan pada hari itu juga. Namun. Dalam pasal 207 ayat (1) huruf b. Hal yang dapat dilakukan oleh hakim adalah adalah ” mengundurkan ” atau ” menunda ” pemeriksaan secara resmi di sidang pengadilan. Ketentuan ini bersifat imperatif. Perkara lengkap dan memenuhi syarat formal. maka hakim harus melaksanakan ketentuan pasal 207 ayat (1) huruf b. terhitung sejak berita acara pemeriksaan selesai dibuat oleh penyidik. berdasarkan pasal 146 ayat (2)5 dan penjelasan pasal 152 ayat (2)6. Penyidik tidak dibenarkan menghadapkan terdakwa dan saksi dalam pemeriksaan dengan acara tindak pidana ringan kurang dari 3 hari sebelum sidang dimulai. Dengan kata lain. seperti pengunjung biasa tanpa wewenang apapun mencampuri jalannya pemeriksaan. namun kehadirannya tidak mempunyai arti apa – apa. Dalam hal seperti ini hakim tidak dibenarkan mengembalikan berkas perkara kepada penyidik. dan juru bahasa dihadapkan ke pengadilan. undang – undang tidak menegaskan hal ini. jika tidak maka kelalaian ini menjadi kesalahan dan tanggung jawab hakim. adalah bertentangan dengan jiwa yang terkandung dalam ketiga pasal diatas { pasal 205 ayat (2). Pasal 205 ayat (2)4 menegaskan dalam waktu tiga hari. yakni : 1. Menghadapkan terdakwa dan saksi dalam waktu 1 atau 2 hari sebelum sidang dimulai. Akan tetapi. segera disidangkan pada hari itu juga. tidak ada larangan oleh undang – undang penuntut umum menghadiri proses pemeriksaan. Apakah tenggang waktu 3 hari ini merupakan batas minimum ?. hakim harus menyidangkan pada hari itu juga. saksi ahli.(2) alinea 2 . Meskipun dengan alasan ketidakcukupan waktu. barang bukti. tidak mengurangi nilai atas kuasa tersebut “. jo penjelasan pasal 152 ayat (2). karena dalam ketentuan ini terdapat kalimat ” harus segera ” disidangkan pada hari itu.

sebaiknya jangan di register agar dapat dikembalikan kepada penyidik untuk dilengkapi. Jika terdakwa tidak hadir tanpa alasan yang sah. jika menganut pandangan yang memperbolehkan 27 . 3. Yahya Harahap berpedoman pada pasal 145 ayat (1). Demikian penggarisan SEMA No. yang harus diperiksa dan diputus dengan acara cepat. Berdasarkan penjelasan pasal 207 ayat (2) huruf a KUHAP . 2. yakni dilakukan : 1. maka untuk perkara – perkara yang tidak dapat disidangkan pada hari itu juga karena alasan perkaranya belum memenuhi syarat formal atau perkaranya tidak lengkap. (i) tanggungjawab berkas selama belum diregister masih tetap berada ditangan penyidik. menurut Prof. Akan tetapi. Pemberitahuan tertulis itu memuat tentang: hari. hakim yang bertugas memeriksa perkara memerintahkan panitera mencatat dalam buku register. ” oleh karena penyelesaiannya yang cepat maka perkara yang diadili menurut acara pemeriksaan cepat sekaligus dimuat dalam buku register dengan masing – masing diberi nomor untuk dapat diselesaikan secara berurutan “. maka . misalnya terdakwa dan saksi – saksi tidak lengkap atau panggilan tidak sah. keterangan saksi cukup dibacakan ( sejalan dengan jiwa pasal 2088 KUHAP ) Mengenai cara pemberitahuan sidang kepada terdakwa diatur dalam pasal 207 ayat (1) huruf a. jam. Catatan pemberitahuan bersama berkas dikirim ke pengadilan. Setelah pengadilan menerima perkara dengan acara pemeriksaan tindak pidana ringan. Jika saksi tidak hadir. berdasarkan pasal 214 ayat (2)7. Hal ini berarti catatan pemberitahuan sidang dan berita acara pemeriksaan penyidik disatukan sebagai berkas yang dikirimkan ke pengadilan. jam. dan tempat yang ditentukan. Dengan pemberitahuan secara tertulis 2. Pemberitahuan dimaksudkan agar terdakwa dapat memenuhi kewajiban untuk datang ke sidang pengadilan pada hari. Perkaranya tidak lengkap dan tidak memenuhi syarat formal. jo pasal 146 ayat (2) yang berarti pemanggilan saksi atau ahli berlaku aturan umum tentang tata cara pemanggilan menghadap ke sidang pengadilan sebagaimana yang diatur dalam bagian kesatu Bab XVI. 9/1985 4. Sedangkan mengenai cara pemanggilan saksi atau ahli yang tidak disebutkan dalam pasal ini.pemeriksaan tindak pidana ringan. dan tempat sidang pengadilan 3. tanggal. tidak menghalangi pemeriksaan dan putusan dijatuhkan. (ii) untuk selanjutnya diajukan pada hari sidang yang akan datang. putusan dijatuhkan secara verstek. tanggal.

telah tersedia daftar catatan 28 . Karenanya pengajuan dan pemeriksaan perkara dengan cara tindak pidana ringan tanpa surat dakwaan. disamping perkaranya hanya tindak pidana ringan. tempat lahir. Hal ini mungkin didasarkan pada tata cara pemeriksaan yang sifatnya adalah cepat atau expedited procedure. Putusannya cukup berupa bentuk ‘ catatan ‘. umur ( tanggal lahir ). Hakim mencatat putusan dalam daftar catatan putusan. Sesuai dengan pasal 207 ayat (2) huruf b KUHAP. a. Alasan pembuat undang – undang mencukupkan register sebagai pengganti surat dakwaan.pemeriksaan tindak pidana ringan dapat diputus dengan verstek ( pemeriksaan acara tindak pidana ringan dapat diputus di luar hadirnya terdakwa ). dapat dibaca dalam penjelasan pasal 207 ayat (2) huruf b yang berbunyi . jenis kelamin. Putusan dalam acara tindak pidana ringan tidak dibuat secara khusus dan tersendiri seperti putusan perkara dengan acara biasa. ” ketentuan ini memberikan kepastian di dalam mengadili menurut acara pemeriksaan cepat tersebut tidak diperlakukan surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum seperti untuk pemeriksaan dengan acara biasa. dalam hal ini surat dakwaan dianggap tercakup dalam catatan buku register. agama. Hal ini berarti jika tidak dijatuhkan pidana penjara atau kurungan. Pemeriksaan di sidang pengadilan dilakukan tanpa membuat berita acara sidang. buku register perkara dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan memuat : nama lengkap. Dengan demikian panitera tidak diwajibkan membuat berita acara sidang. tempat tinggal. ” Berita acara pemeriksaan sidang tidak dibuat kecuali jika dalam pemeriksaan tersebut ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh penyidik “. Selain itu. tindak pidana yang didakwakan. kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan terdakwa dapat minta banding { pasal 205 ayat (3) KUHAP }. saksi dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan tidak mengucapkan sumpah atau janji kecuali hakim menganggap perlu ( pasal 208 KUHAP ) Pasal 209 ayat (2) KUHAP menyebutkan . maka bisa langsung di register. yang sekaligus berisi amar putusan berbentuk ” catatan dalam daftar catatan perkara “. Adapun tata cara membuat putusan. maka terpidana tidak dapat melakukan upaya hukum berikutnya yakni banding. pekerjaan terdakwa. Putusan tersebut tidak dicatat dan disatukan dalam berita acara sidang seperti yang berlaku dalam perkara pemeriksaan dengan acara singkat. kebangsaan. melainkan tindak pidana yang didakwakan cukup ditulis dalam buku register tersebut pada huruf a” Untuk pemeriksaan dengan acara biasa Pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir. ini berarti dalam berkas perkara yang dikirimkan penyidik. karena hadir atau tidaknya terdakwa perkaranya dapat diputus.n : 1.

berupa catatan bunyi amar yang dijatuhkan 2. dimaksudkan untuk mempercepat penyelesaian perkara. yang menegaskan antara lain: ” pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir “. Upaya hukum banding dengan sendirinya tertutup 2. Penjelasan ini pula memperingatkan agar jangan sampai mengurangi ‘ ketelitian ‘ hakim memeriksa dan memutus perkara yang diperiksa dengan acara tindak pidana ringan. misalnya hanya berupa denda. putusan yang bukan perampasan kemerdekaan. Putusan yang tidak bersifat tingkat pertama dan terakhir dan dapat diminta banding. terdakwa dapat meminta banding. Panitera memuat catatan putusan dalam buku register. sebagai instansi yang berwenang memeriksa perkara putusan pidana yang dijatuhkan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain Mahkamah Agung Namun sifat diatas tidak mencakup semua putusan. Karena itu putusan tersebut tidak dapat diajukan permintaan banding. yang berarti : 1. Upaya hukum yang dapat ditempuh terdakwamengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Pencatatan putusan dalam buku register ditandatangani oleh hakim dan panitera.perkara. sesuai dengan ketentuan pasal 205 ayat (3): dalam hal dijatuhkan ” pidana perampasan kemerdekaan “. maka tidak diperkenankan mengajukan banding. Dalam daftar catatan itulah isi putusan dimuat. dengan demikian UU membedakan dua putusan dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan dalam dua kelompok . pembuat undang – undang sengaja mengatur pembuatan berita acara dan bentuk putusan sedemikian rupa dalam pemeriksaan perkara dengan acara tindak pidana ringan. disebutkan dalam pasal 205 ayat (3). Upaya hukum yang dapat ditempuh adalah kasasi 2. putusan yang berupa perampasan kemerdekaan. 29 . Sedangkan mengenai sifat putusan dalam acara ini. Putusan pengadilan negeri bersifat putusan ” tingkat terakhir “ 2. Putusan yang bersifat tingkat pertama dan terakhir yang tidak dapat diajukan permintaan banding. 1. oleh panitera catatan putusan hakim yang dicatat dalam daftar catatan perkara. Menurut penjelasan pasal 209. dicatat dalam buku register 3. Oleh karena sifat putusan merupakan putusan tingkat pertama dan tingkat terakhir maka : 1.

Berat ringannya ancaman pidana atas perkara yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan. 3. membahas mengenai acara pemeriksaan. dapat dilihat dari jenis tindak pidana yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan.1. Jenis perkara yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan.BAB III PENUTUP 1. Pertama pemeriksaan perkara biasa kedua pemeriksaan perkara singkat dan pemeriksaan perkara cepat. yaitu: 1. 30 . Dalam KUHAP dibedakan menjadi tiga macam pemeriksaan sidang pengadilan. Untuk dapat membedakan ketiga macam pemeriksaan perkara di sidang pengadilan tersebut. 2. Kesimpulan Dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia. Perkara yang akan diajukan ke muka sidang pengadilan pembuktiannya sulit atau mudah.

R. Bambang. Medan: Djambatan. Kasasi. Hukum Acara Pidana Indonesia. Soenarto. “Pembahasan KUHAP Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana dan Yurisprudensi”. Jakarta: Rineka Cipta. M. Jakarta: Sinar Grafika. Jakarta: Pustaka Kartini. KUHP dan KUHAP dilengkapi Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Hoge Raad. Yahya. Jogjakarta: Liberty.F dan Theo Lamintang. "Hukum Acara Pidana: Suatu Pengantar". Banding. R Atang. dan Peninjauan Kembali. Mahkamah Agung RI. 31 . Raja Grafindo Persada Soesilo. Sukabumi: P. hlm. Jakarta: Sinar Grafika. Prodohamidjojo. “Komentar atas KUHAP Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana”. Jakarta : PT. Pattiwael. Lamintang. Pandangan terhadap Azaz – Azaz Umum Hukum Acara Pidana. 2008. Depok: Lembaga Kajian Keilmuan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. KUHP & KUHAP.82-85. Bandung: Tarsito.A.DAFTAR PUSTAKA A Soetomo. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan. Buku II. 1986. Martiman. 1982. Darwan. Yogyakarta : Liberty Prints. 2011. 28-29. Jakarta : Sinar Grafika. Bambang. Hasudungan. "Hukum Acara Pidana: Studi Perbandingan antara Hukum Acara Pidana Lama dengan Hukum Acara Pidana Baru". "Pola Dasar Teori dan Azas Umum Hukum Acara Pidana". Edisi 2007. “Diktat Hukum Acara Pidana” . Poernomo. Hamzah. Harahap. Archie Michael dan Petra M. "Hukum Acara Pidana Indonesia dalam Praktek". P. Hamzah. 1981.J. Ranoemihardja. 1988. Hukum Acara Pidana. 1990. hal. Soerodibroto. Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Pidana Umum dan Pidana Khusus. 2000. Karya Nusantara Bandung. Andi.E. Jakarta: PT Pradnya Paramita. 1982. 2010. 2000. 2003. Poernomo. Andi.T. 1989.

wikipedia. Edisi 2007. 2007. 138-140."Tata Cara Pemeriksaan Administrasi Persidangan" dalam buku Tata Laksana Pengawasan Peradilan. 7 Oktober 2012 diunduh pukul http://pn-palembang.go. Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 145/KMA/SK/VIII/2007 tentang Memberlakukan Buku IV Pedoman Pelaksanaan Pengawasan di Lingkungan Badan-Badan Peradilan.net/index.id/proses/acara-pemeriksaan-cepat/ 08.html .diunduh pukul 08. diunduh pukul 18.php/prosedur-berperkara/77-pemeriksaan-perkarapidana-dengan-acara-singkat. 7 Oktober 2012 http://nafnaldi.45. 9 Oktober 2012 32 . Badan Litbang Diklat Kumdil MA RI.15. diunduh pukul 22. http://acarapidana.00. hlm.org/wiki/Indonesian_Criminal_Procedure.bphn. Buku IV.30.blogspot. 5 Oktober 2012 http://en.com/2011/06/acara-pemeriksaan-biasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful