2.

1 ISPA ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa inggris atau dikenal dengan Acute Respiratory Infections (ARI). 2.1.1 Definisi ISPA Istilah ISPA meliputi tiga unsure yaitu infeksi, saluran pernapasan dan infeksi skut, dengan pengertian sebagai berikut : (Depkes RI, 1992) 1) Infeksi adalah masuknya kuman atau

mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit 2) Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernapasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernapasan (respiratory tract) 3) Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Dengan demikian ISPA adalah saluran

pernapasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di detiap bagian saluran pernapasan atau struktur yang

berhubungan dengan saluran pernapasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari. 2.1.2 Etiologi ISPA

Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA entara lain dari genus Streptococus, Stafilococus, Pneumokokus, Haemofilokokus, Bordetella dan Corinobakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Mixosovirus, Adenovirus, Coronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus (Depkes RI, 2005)

2.1.3 Klasifikasi Penyakit ISPA Klasifikasi penyakit ISPA untuk bayi kurang dari satu tahun dan anak 1-4 tahun dibagi atas: a. Pneumonia Berat Bayi yang kurang dari satu tahun yang nafasnya cepat atau dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat digolongkan sebagai pneumonia berat. Batas nafas cepat untuk

golongan umur kurang dari satu tahun yaitu 60 kali per menit atau lebih Untuk anak umur 1-4 tahun ditandai dengan adanya batuk dan kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam b. Pneumonia Anak dengan nafas cepat dan tidak disertai tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam klasifikasi sebagai pneumonia (tidak berat). Patokan nafas cepat adalah 50 kali per menit atau lebih untuk bayi kurang dari 1 tahun dan untuk anak umur 1-4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.

c. Bukan Pneumonia

Bayi kurang dari 1 tahun, frekuensi pernapasan <60 kali per menit dan tidak mengalami tarikan dinding dada. Anak umur 1-4 tahun nafasnya tidak cepat dan tidak mengalami tarikan kuat dinding dada bagian bawah ke dalam

Menurut anatominya ISPA bagian atas dan ISPA bagian bawah. Adapun yang menjadi ISPA bagian atas adalah : pilek (nasofaringitis), otitis media, faringitis akut (tonsillitis akut). Sedangkan yang menjadi penyakit ISPA bagian bawah adalah: laryngitis, bronchitis, dan pneumonia. Hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan ioleh ISPA bagian bawah yaitu pneumonia. Akan tetapi, tidak semua infeksi saluran pernapasan bawah akut dapat menjadi serius, sebagai contoh: bronchitis relative sering terjadi dan jarang fatal. Sedangkan untuk ISPA bagian atas mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil. Kunci untuk mengurangi kematian ISPA adalah dengan memastikan

adanya akses yang lebih baik pada penanganan kasus pneumonia tepat pada waktunya. (Widjaja, 2003)

2.1.4 Cara Penularan Penyakit ISPA ISPA dapat ditularkan melalui ludah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya. (Depkes RI, 2004) 2.1.5 Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Penyakit ISPA

Menurut Amin (1989) yang dikutip oleh Septri (2009) timbulnya penyakit ISPA dipengaruhi oleh bebrapa faktor yaitu kuman penyebab penyakit (agent), pejamu (host), dan kondisi lingkungan (environtment). 1) Faktor Agent (Bibit Penyakit) Infeksi saluran pernapasan akut sebagian besar disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophylus influenzae. 2) Faktor Host (Pejamu) Faktor Host yang mempengaruhi timbulnya ISPA adalah: a. Umur Hasil analisis faktor risiko membuktikan bahwa faktor usia merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kematian. Semakin tua usia balita yang sedang menderita ISPA, semakin kecil risiko meninggal dibandingkan dengan usia muda (Septri, 2009) Dari hasil penelitian Lubis dkk (1996)

didapatkan bahwa anak yang berumur 1-2 tahun lebih peka 5 kali terkena ISPA

dibandingkan dengan anak usia 5 tahun. Ini disebabkan karena anak yang berumur 1-2 tahun tingkat kekebalan tubuhnya lebih rendah daripdada anak usia 5 tahun b. Status Gizi Defisiensi gizi sering dihubungkan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara yaitu: mempengaruhi menyebabkan karena nafsu makan, dapat juga

kehilangan

bahan

makanan atau

diare/muntah-muntah

mempengaruhi metabolism makanan. Secara

umum, defisiensi gizi sering merupakan awal dari gangguan sistem kekebalan (Septri, 2009) Menurut Susi Asmidayanti (2012) terdapat hubungan antara status gizi dengan morbiditas ISPA yaitu berkorelasi negatif dengan tingkat hubungan/interpretasi yang kuat dan signifikan. Artinya semakin buruk gizi balita maka semakin tinggi kasus ISPA.

c. Daya Tahan Pejamu Telah diketahui secara teoritis bahwa imunisasi adalah cara untuk menimbulkan kekbalan terhadap berbagai penyakit. Imunisasi yang tidak memadai merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan insiden ISPA terutama pneumonia, diimuniasasi sehingga sangat faktor anak yang dalam

menenukan

tingginya angka insiden pneumonia. Anak yang belum di imunisasi campak lebih berisiko terhadap terjadinya kematian karena ISPA pada balita yang menderita ISPA (Septri, 2007)

3) Lingkungan Kesehatan lingkungan atau sanitasi lingkungan memiliki peran penyediaan yang cukup dominan dalam mendukung

lingkungan

yang

kesehatan anak dan proses tumbuh kembangnya. Kebersihan, baik kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun lingkungan memegang

peranan penting dalam timbulnya penyakit. Akibat dari sanitasi yang kurang baik memungkinkan terjadinya berbagai jenis penyakit antara lain ISPA

, diare, demam berdarah dan lain sebagainya. Polusi udara yang kurang baik dapat berpengaruh terhadap tingginya angka kejadian ISPA

(Soetjiningsih, 1995 :8 dalam Erna, 2005). Sumber: Wati, Erna Kusuma. 2005. Hubungan Episode infeksi saluran

Pernapasan Akut (ISPA) dengan Pertumbuhan Bayi Umur 3 sampai 6 bulan di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang. [tesis]. UNDIP Semarang Septri, Anti Sinaga. 2007. Analisa Kecenderungan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Bayi Dan Balita Tahun 2002-2006 Untuk Peramalan Pada Tahun 2007-2011 Di kota Medan. [skripsi]. USU Medan Asmidayanti, Susi. 2012. Hubungan Status Gizi dengan Morbiditas ISPA Anak Usia Balita di Desa Tanjung Tanah, Kecamatan Danau Kerinci Kabupaten Kerinci. [skripsi] Supariasa dkk., 2001. Penilaian Status Gizi , EGC Jakarta Departemen Kesehatan RI, 1992. Pedoman Penanggulangan ISPA, Dirjen PPM dan PLP, Jakarta