1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, di mana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam 1 menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja. Selanjutnya adanya Perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No.2 Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih menjadi tangggung jawab sekolah dengan diberlakukannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sejalan dengan eraotonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam UU Sisdiknas 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun ”Paradigma Baru” pendidikan Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan tuntunan kebutuhan sosial masyarakat. Pada akhirnya tuntunan tersebut bermuara kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat. dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen

pendidikan di sekolah. Chapman (1990) dalam Fattah (2003 : 28) menjelaskan bahwa : “Manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Base Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meningkatkan, me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan kinerjanya yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah memodifikasi struktur pemerintahan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintahan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders)”. Dengan mengalihkan wewenang dalam keputusan dari pemerintah tingkat Pusat/Kanwil/Kadis ke tingkat sekolah, diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntunan lingkungan masyarakatnya. Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan pemberian kewenangan kepada sekolah melalui pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memerlukan proses dan waktu. Organisasi berwajah lokal dalam kegiatannya cenderung berdasarkan pada konsensus lewat dialog dan diskusi yang terbuka dan seimbang. Dalam kaitan ini, jabatan Kepala Sekolah yang selama ini ditunjuk oleh pemerintah perlu diganti dengan Kepala Sekolah yang dipilih oleh guru dan kelak apabila masa jabatan sudah habis Kepala Sekolah akan dievaluasi oleh guru pula. Sekolah dengan bentuk organisasi semacam itu akan memungkinkan sekolah sebagai suatu lembaga yang relatif otonom dari kekuatan politik. Kerja Kepala Sekolah beserta staf administrasi tim yang demokratis orang tua murid dilibatkan dalam pelaksanaan pendidikan sebagai anggota bukan sebagai klien. Dari berbagai problem dan tantangan yang menyertainya, baik secara konseptual maupun secara operasional pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah, maka urgensi penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji lebih mendalam pada tingkat

3 aktualisasi realitanya yang lebih riil. Untuk itu, maka muncullah sistem baru yaitu sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya ketika itu masyarakat mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, dipandang perlu membangun suatu sistem persekolahan yang mampu memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

(Sagala, 2004: 17). Sistem Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu sistem yang menunutut agar sekolah dapat secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2006: 24). Pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar bisa mengantisipasi tantangan aneka kehidupannya. Sehingga orientasi pembelajaran yang selama ini lebih ditekankan pada aspek ”pengetahuan” dan target ”materi” yang cenderung verbalistis berubah menjadi lebih ditekankan pada aspek ”kompetensi” dan target ”keterampilan”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat tercapai.

karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan) ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah. Tidak bersifat sentralistik. 2. pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid (student learning). Memiliki hak otonomi yang luas dalam mengembangkan kreativitas dalam memberdayakan dan mengoptimalisasi sumber-sumber daya yang ada. proses. .Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari indikatorindikator yang meliputi: input. Pemberdayaan yang dimaksud tidak akan meninggalkan fungsi dan peran guru. 1988: 54). 1999: 3). proses pembelajaran. output. input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam pengembangan ide kreativitasnya sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran. (Rahardja. Engkoswara. Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha. Keempat. Pertama. output dan outcome. outcome meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya. (Engkoswara. Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku. Adapun untuk dunia usaha itu juga merupakan suatu bukti ada tidaknya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah tersebut. upaya pemberdayaan pembelajaran yang difokuskan siswa belajar menjadi sangat penting. Ketiga. Oleh karena itu untuk memperbaiki mutu pendidikan. sistem pembelajaran MBS ini memiliki ciri-ciri lain diantaranya: 1. 1988: 54). 2002: 5). Kedua. semakin baik dunia usaha yang dimiliki lulusan sekolah tersebut maka semakin baik juga pula mutu sekolah tersebut. Selain itu. maksudnya semua kegiatan pendidikan tidak tergantung pada pusat (pemerintah). sehingga keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat dibutuhkan.

(Bambang Rahardja. 2002: 5). ada empat alasan perlunya sekolah menerapkan program sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu: 1. 2. Pada dasarnya model manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan pendidikan yang mencoba diterapkan oleh sekolah. Sekolah dapat mempertanggungjawabkan kinerja dan mutu pendidikan yang dihasilkan sekolah masing-masing kepada orangtua. (Umaedi. sehingga mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai target mutu pendidikan yang telah direncanakan. 3. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan dirinya.sekolah negeri maupun swasta. tidak terkecuali dengan SMP Negeri 4 Khusus yang juga telah menggunakan model manajemen berbasis sekolah. 4. Memiliki sifat kewiraswastaan sehingga manajemen sekolah akan lebih luwes dan inovatif. sehingga mereka dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya. Berdasarkan observasi awal Sebagai implementasi dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang demokratis berciri pada pemberian . Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan anak didiknya.5 3. 2000: 3). masyarakat dan pemerintah daerah setempat atau bahkan pemerintah pusat. Non birokrasi yaitu sedikit mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis dalam pendirian sekolah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan dukungan orangtua. Selain empat ciri diatas. masyarakat dan pemerintah. 4.

tenaga pengajar di sekolah tersebut telah menjalankan aktivitas mengajar dengan konsep PAIKEM. 4. mandiri.wewenang luas pada sekolah untuk mengatur pendidikan dan pengajaran sebagai aspirasi dari masyarakat kepada sekolah merupakan inti dari konsep MBS. 3. Diduga besarnya jumlah siswa pada sekolah tersebut mengindikasikan bahwa . Karena orientasi kurikulum sekarang mengacu pada peningkatan kualitas manajemen yang berbasis sekolah. yaitu: 1. Belum ada penelitian terdahulu yang membahas tentang bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. dan disentralisasi. proses pendidikan. Tingkat kelulusan siswa pada setiap ujian nasional mengalami peningkatan. baik dalam bidang administrasi. Namun realitasnya bahwa belum sepenuhnya sekolah ini mampu melaksanakan school based management atau MBS yang diharapkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Berdasarkan observasi awal. maka penekanan pengembangan yang semula berorientasi pada kuantitas berubah menjadi kualitas. proses pengelolaan dan lain sebagainya. 2. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang di bawah naungan pemerintah. maka di ketahui bahwa SMP Negeri 4 Khusus adalah salah satu lembaga yang mencoba mempelopori dan menerapkan konsep MBS. Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka ada beberapa hal yang mendasari mengapa penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Khusus. SMP Negeri 4 Khusus sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri cukup lama dikenal sebagai sebuah lembaga yang memiliki segudang prestasi yang sangat membanggakan baik di tingkat Kabupaten. maka policy yang dilakukan tentu saja didasarkan pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Provinsi bahkan sampai pada tingkat Nasional.

B. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: . Belum diketahui keterbukaan manajemen sekolah. 8. 6. Diduga belum maskimal akuntabitas sekolah kepada stakeholders. Diduga iklim kerjasama antara sesama komunitas sekolah. Belum diketahui ketersediaan dan kesiapan input-input pendidikan yang mendukung keterlaksanaan program manajemen peningkatan berbasis sekolah diduga belum memadai. Diduga belum memadai upaya untuk memecahkan berbagai faktor-faktor penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus? C. Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum? 2.7 minat. komunitas sekolah dengan masyarakat belum terlaksana dengan baik. dan apresiasi masyarakat terhadap sekolah ini sangatlah besar. 5. baik di segi dana maupun program belum sesuai dengan yang dikehendaki. 10. 7. partisipasi. 9. Belum terdeteksi efektifitas partisipasi komite sekolah dan dewan pendidikan dalam penggalian dana sekolah. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan. dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan.

Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum.1. Memacu partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan mutu pendidikan . 2. Sumber pengetahuan aktual bagi pengelola sekolah (kepala sekolah. Manfaat praktis adalah sebagai berikut: a. yayasan pendidikan) dalam penerapan manajemen berbasis sekolah. Sebagai bahan informasi bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan umumnya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Umum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Manfaat Penelitian 1. b. Sebagai bahan informasi kepada mereka yang berprofesi guru dalam menggali informasi penting tentang manajemen berbasis sekolah. c. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Manfaat teoritis sebagai bahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu Administrasi Negara. D. 2. d.

Dipertegas pula “Bahwa bidang pendidikan merupakan bidang yang termasuk dalam garapan kewenangan daerah otonom atau penyerahan (pendelegasian) pemerintah pusat yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan”. mutu dan sumber dana pendidikan”. Pendelegasian bisa berarti penyerahan wewenang dari pusat ke daerah. luas daerah dan berbagai syarat lain yang memungkinkan daerah menyelenggarakan otonomi daerah (Pasal 5 ayat 1 dan Pasal 7 ayat 1 UU No. Bidang-bidang yang terkait langsung dengan sistem tersebut adalah kebijaksanaan. Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan azas desentralisasi dalam wujud otonomi luas. 32 Tahun 2004). ditegaskan pula bahwa daerah dibentuk berdasarkan kehendak masyarakat setempat dengan mempersyaratkan kemampuan ekonomi. Desentralisasi Pendidikan Berlakunya Undang-Undang No.9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sistem pendidikan nasional dan manajemen pendidikan. atau dari . pengawasan. Selanjutnya Burhanuddin (1998 : 117) “Sistem Sentralisasi atau desentralisasi dalam penyelenggaraan atau manajemen pemerintahan memiliki implikasi langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan. Berkaitan dengan aspirasi masyarakat. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 10 pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. jumlah penduduk. nyata dan bertanggung jawab. potensi daerah.

relevansi. di samping menunjukkan sikap tanggap. pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat ditunjukkan sebagai sarana peningkatan efesiensi. Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi lebih besar. seperti kewenangan merumuskan. Kondisi tersebut secara langsung mengakibatkan menurunnya mutu pendidikan dan terganggunya proses pemerataan. menetapkan. Karena itu tidak seluruh kewenangan dapat didesentralisasikan. Kalster (2000 : 11). termasuk pula dari pemerintah ke masyarakat. Penekanan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Misalnya krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari dampaknya terhadap pendidikan. berkurangnya lapisan birokrasi dalam .pemerintah pusat ke pemerintah daerah. menyebutkan bahwa desentralisasi pendidikan dalam bentuk School Base community. Salah satu wujud desentralisasi yang dimaksud adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. melaksanakan sampai dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kebijakan yang jangkauannya bersifat nasional. Hasil studinya menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Indonesia. pemerataan dan mutu pendidikan serta memenuhi azas keadilan dan demokrasi. Kewenangan itu perlu diklarifikasikan. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. atau dari unit ke unit dibawahnya. pemerintah akan terbantu dalam control maupun pembiayaan sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada masyarakat kurang mampu yang semakin bertambah jumlahnya. Di samping itu. Kewenangan begitu luasnya. diyakini dapat meningkatkan efisiensi. terutamanya berkurangnya penyediaan dana yang cukup untuk pendidikan dan menurunnya kemampuan sebagai orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya. mutu dan pemerataan pendidikan.

Pertama. keterlibatan kepala sekolah.11 prinsip desentralisasi juga mendukung efesiensi tersebut. Ketiga. penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Keempat. Kedua. pemerintah mencoba untuk menerapkan desentralisasi pendidikan sebagai solusi. tuntutan orang tua.2010:47-48) Dengan demikian. meningkatkan pendayagunaan potensi daerah. (Umiarso dan Imam Gojali. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada seefesien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. seperti . misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan. Kelima. pebisnis. Dengan landasan tersebut. serta terciptanya infrastruktur kedaerahan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman. ada beberapa faktor yang mendorong penerapan desentralisasi. kelompok masyarakat. Pemberian otonomi yang luas kepada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. Selain hal tersebut diatas. para legislator. tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.

pendelegasian wewenang. Kurikulum dikembangkan sesuai kebutuhan lingkungan.terserapnya konsep globalisasi. struktur dan perencanaan di tingkat sekolah. Hal yang menarik adalah desentralisasi pendidikan akan berimplikasi pada tataran dunia baru pendidikan yang lebih humanis. serta sumber-sumber pendanaan sekolah. Ada ruang-ruang dalam pendidikan untuk membangun peserta didik agar lebih mengerti dan berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama dengan landasan kearifan lingkungan. yaitu manajemen berbasis sekolah. Penerapan demokratisasi pendidikan dilakukan dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah setempat. Artinya. tetapi juga meliputi pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolah-sekolah. humanisasi dan demokrasi dalam pendidikan. pengembangan kurikulum juga harus mampu mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Desentralisasi pendidikan yang efektif tidak hanya melibatkan proses pemberian kewenagan dan pendanaan yang lebih besar dari pusat ke daerah. Selain itu. Pada tataran ini. Dengan asas tersebut. desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal. tercipta pula kearifan ekologi yang merupakan buah dari inovasi kurikulum berbasis lingkungan atau masyarakat. Oleh karena itu dalam desentralisasi pendidikan ada sasaran utama progaram restrukturisasi sistem dan . masyarakat. manajemen guru. sehingga mereka dapat merencanakan proses belajar megajar dan pengembangan sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masingt-masing sekolah. dan inovasi pendidikan. Pertanyaan terpenting tentang arah desentralisasi pendidikan adalah sampai seberapa jauh sekolah-sekolah akan diberi kewenangan yang lebih besar menentukan kebijakan-kebijakan tentang organisasi dan proses belajar mengajar.

berprestasi. (e) Proses pembelajaran tuntas diterapkan dengan berbagai modus pendekatan pembelajaran.13 manajemen pendidikan di indonesia. kursus-kursus keterampilan dan pemagangan di tempat kerja dalam rangka pendidikan sistem . (d) Struktur kurikulum pendidikan hendaknya mengacu pada penerapan sistem pembelajaran tuntas. berkreasi. (b) Sarana pendidikan dan fasilitas pembelajaran dibakukan berdasarkan prinsif edukatif sehingga lembaga pendidikan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar. peserta didik aktif sesuai dengan tingkat kesulitan konsep-konsep dasar yang dipelajari. (h) Pendidikan berbasis masyarakat. Restrukturisasi tersebut hendaknya mencakup halhal berikut: (a) Struktur organisasi pendidikan hendaknya terbuka dan dinamis. tidak terikat pada penyelesaian target kurikulum secara seragam persemester dan tujuan ajaran. sedangkan akreditasi dilakukan untuk menjamin mutu pelayanan kelembagaan. serta menjalankan syariat agama. (g) Kegiatan supervisi dan akreditasi. berolahraga. seperti pondok pesantren. (f) Sistem penilaian hasil belajar secara berkelanjutan perlu diterapkan di setiap lembaga pendidikan sebagi konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran tuntas. serta mencerminkan desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. (c) Tenaga pendidikan terutama tenaga pengajar harus melalui proses seleksi sejak memasuki LPTK disertai sistem tunjangan ikatan dinas dan wajib mengajar. Supervisi serta pembinaan administrasi dan akademis dilakukan oleh unsur manajemen tingkat pusat dan provinsi bertujuan untuk pengendalian mutu. berkomunikasi.

serta kontribusi masyarakat terhadap pendidikan pada setiap sekolah. tingkat kesejahteraan masyarakat. (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat. (i) Formula pembiayaan pendidikan atau unit cost dan subsidi pendidikan harus didasarkan pada bobot penyelenggaraan pendidikan yang memperhatikan jumlah peserta didik. sekolah sebagai community learning centre. dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigma yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan. Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan . kesulitan komunikasi.ganda harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. Berdasarkan hal tersebut di atas. maka pergeseran sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kewenangan lebih banyak kepada daerah kabupaten dan kota pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. tingkat partisipasi pendidikan. Pemangkasan mekanisme sistem birokrasi yang berbelit-belit yang terpusat secara sentralistik telah banyak membuang biaya dan waktu sampai tiba pada tahap sasaran pendidikan yang sesungguhnya seperti perbaikan kualitas dan personil pendidikan sekolah dan peserta didik di daerah.

sejak program MBS ini digulirkan. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan. dan bahkan pengusaha. peran komite sekolah mulai tampak. Salah satu di antaranya. Dalam menerapkan konsep MBS. Realisasi dari ini. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). komite menghimpun dana masyarakat. diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). khususnya sekolah. Tentu saja. mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan. termasuk pula untuk peningkatan kualitas . tokoh masyarakat dan pemerintahan di sekitar sekolah. namun mengikutsertakan pula guru. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. siswa. dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat.15 life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. Sebetulnya. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.

sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan.kesejahteraan guru di sekolah itu. dan mengukur hasil pembelajaran. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. dengan dalih “ikut-ikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah. lapuk. penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “proyek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. Program ini sesungguhnya sangat baik. Namun. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. sambil berharap datang sang penyelamat. Maka. ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para pendidik masih kurang. guru bertugas merencanakan. Berdasarkan kewenangan profesionalnya. menganggap seperti halnya BP3. Demikian pula. melaksanakan. evaluasi merupakan bagian . Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. Namun. Padahal. Namun. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS). bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. Dari hal di atas. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya. yaitu pemerintah.

diantaranya: a) Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai jawaban atas “kekeliruan” kita selama lebih dari 20 tahun bergelut dengan persoalan-persoalan kuantitas. atas bidang pemerintahan berlabel . b) Pada sisi otonomi daerah. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS (2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. Misalnya. Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7)Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan. otonomi pendidikan mengarah pada menipisnya kewenangan pemerintah pusat dan membengkaknya kewenangan daerah otonom. beberapa langkah program yang telah dijalankan di beberapa daerah. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacammacam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. namun berbagai improvisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik.17 dari tugas pengajaran seorang guru.

yaitu pengalihan kewenangan ke badan quasi pemerintah atau badan yang dikelola secara publik c) Devolusi. penataan kelembagaan pada level dan tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan. b) Pendelegasian. f) Sudah selayaknya jika otonomi pendidikan harus bergandengan dengan kebijakan akuntabiliti terutama yang berkaitan dengan mekanisme pendanaan atau pembiayaan pendidikan. yakni pengalihan ke unit pemerintahan daerah . i) Secara makro. h) Dalam konteks otonomi daerah. g)Pada level pendidikan tinggi. yakni pengalihan kewenangan ke pengaturan tingkat yang lebih rendah dalam jajaran birokrasi pusat. ada empat bentuk desentralisasi pendidikan. yakni: a) Dekonsentrasi. c) Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah dalam menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan. kebijakan otonomi pendidikan tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah semata-semata melainkan pada kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional. kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka otonomi keilmuan. d) Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar otonomi pendidikan dapat berjalan pada relny. 2000:6) Menurut Fransisca Kemmerer dalam Ali Muhdi 2007:149. apapun yang terkandung di dalamnya. (Yoyon. e) Pada tingkat persekolahan. otonomi pendidikan berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management pada tingkat pedidikan dasar dan menengah.pendidikan yang harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulankeunggulannya.

Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi. B. sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung mengambil bentuk yang terakhir. Proses pembelajaran sangat berorientasi pada ranah kognitif dengan pendekatan formalisme dan pada saat yang sama. Kebijakan (policy) secar etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani. swastanisasi. khususnya selama orde baru. Dalam hal ini. 2008:75). yang pada gilirannya mengabaikan keragaman sesuai dengan realita masyarakat Indonesia di berbagai daerah. yaitu “Polis” yang artinya kota (city). berupa pendelegasian kewenangan ke badan usaha swasta atau perorangan. Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas. yang bersifat mengikat.19 d) Swastanisasi. tidak terlepas dari kenyataan adanya kelemahan konseptual dan penyelenggaraan pendidikan nasional. Dalam kasus Indonesia.Menguatnya aspirasi otonomi dan desentralisasi khususnya di bidang pendidikan. kebijakan berkenaan dengan gagasan pengaturan organisasi dan merupakan pola formal yang sama-sama diterima pemerintah/lembaga sehingga dengan hal itu mereka berusaha mengejar tujuannya (Monahan dalam Syafaruddin. Abidin (2006:17) menjelaskan kebijakan adalah keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota masyarakat. cenderung mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik. yang mengatur prilaku dengan tujuan untuk .2) Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional lebih berorientasi kepada pencapaian target kurikulum. pada gilirannya mengabaikan proses pembelajaran yang efektif dan mampu menjangkau seluruh ranah dan potensi anak didik. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa di antara masalah dan kelemahan yang sering diangkat dalam konteks ini adalah:1) Kebijakan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan serba seragam.

. dan mikro. Contoh kebijakan adalah : (1) Undang-Undang. Kebijakan harus memberi peluang diinterpretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. (6) Keputusan Bupati. yang maknanya sangat berbeda dengan kebijakan. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation). meso. Ali Imron dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan bahwa kebijakan pendidikan adalah salah satu kebijakan Negara. Contoh ini juga memberi pengetahuan pada kita bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro. 1999). kebijakan lebih adaptif dan interpratatif. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. dan apa yang tidak boleh”. Carter V Good (1959) memberikan pengertian kebijakan pendidikan (educational policy) sebagai suatu pertimbangan yang didasarkan atas system nilai dan beberapa penilaian atas factorfaktor yang bersifat situasional. dan (7) Keputusan Direktur. (4) Kepmen. (2) Peraturan Pemerintah. (5) Perda. Setiap kebijakan yang dicontohkan disini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh objek kebijakan. agar tujuan yang bersifat melembaga bisa tercapai. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. pertimbangan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk mengopersikan pendidikan yang bersifat melembaga. (3) Keppres. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan kebijaksanaan. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang dimiliki oleh seseorang. Pertimbangan tersebut merupakan perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan. sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan formal organisasi. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berprilaku (Dunn.menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat.Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi tentang kebijakan. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik.

Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya. Masih ingat dibenak kita ada pelajaran PSPB yang secara prinsipil tidak jauh berbeda dengan IPS sejarah dan lucunya materi itu pun di pelajari di PMP (sekarang PKN/PPKN). Fasli Jalal dan Dedi Supariadi (2001) menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan.ganti menteri berganti kebijakan. maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan. Ketika kebijakan politik dalam dan luar negeri. Bahkan resonansinya semakin keras sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang.21 Kebijakan pendidikan sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang ada dalam lingkup kebijakan publik. Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seturut dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001) menyatakan: Upaya untuk mencapai akuntabilitas institusi memerlukan kurikulum yang relevan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat. Caranya adalah mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel. Bukan hal yang aneh. keagamaan dan lain-lain. politik. kemampuan . luar negeri. misalnya kebijakan ekonomi. Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat. Ketika ada perubahan kebijakan publik maka kebijakan pendidikan bisa berubah. Konsekuensinya kebijakan pendidikan di Indonesia tidak bisa berdiri sendiri. kebijakan pendidikan biasanya akan mengikuti alur kebijakan yang lebih luas. Bahkan pergantian menteri dapat pula mengganti kebijakan yang telah mapan pada jamannya.

komitmen yang kuat untuk mencapai keunggulan.manajemen yang tinggi. yaitu kompetensi. Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. Dalam teori perubahan. akreditasi dan akuntabilitas. Akuntabilitas pendidikan juga mensyaratkan adanya manajemen yang tinggi. orang dapat berubah. jika ia memiliki kemauan sekaligus kemampuan. Susan Mohrman menyatakan. Dan efektifitas manajemen sekolah akan ditunjukkan dengan output yang berkualitas. 3) keterampilan. sarana penunjang yang mamadai. 4) penghargaan dan sanksi. Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga pendidikan. Ada tiga hal yang memiliki kaitan. Model manajemen ini menuntut keterlibatan yang tinggi dari stakeholders sekolah. akreditasi. "Untuk mendukung pencapaian MBS telah muncul manajemen berpartisipasi tinggi yang membutuhkan empat sumber daya penting: 1) informasi. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. yaitu kompetensi. dan perangkat aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten oleh institusi pendidikan yang bersangkutan." Empat sumber daya ini jika dikelola secara baik akan meningkatkan efektivitas manajemen sekolah. dan akuntabilitas. Empat hal penting yang dikemukakan di atas membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Sebab tidak saja dibutuhkan kemauan tetapi juga kemampuan untuk melaksanakannya. 2) pengetahuan. Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi . Di Indonesia telah lahir Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang bertumpu pada sekolah dan masyarakat.

Untuk itu sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. pendidikan Penulis mempertanggungjawabkan kepada mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja. dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. maka sekolah harus bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. tentu menjadi tantangan tanggung jawab sekolah. Di samping itu. Jadi. Manajemen Berbasis Sekolah yang diterapkan di Indonesia juga mensyaratkan kemampuan akuntabilitas sekolah kepada publik. Institusi pendidikan yang akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Menurut Slamet (2005:6): MBS harus dipahami sebagai model pemberian kewenangan yang lebih besar kepada sekolah. akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung kepada pengelolaan kemampuan keuangan suatu lembaga publik.23 (accredited). memimpin. sementara yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88) menyatakan di Indonesia banyak . dan mengontrol sekolah. yang meliputi kewenangan mengatur dan mengurus sekolah. Itu berarti akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. mengelola. Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan bermutu. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable. mengambil keputusan. Bagaimana sekolah mampu mempertanggungjawabkan kewenangan yang diberikan kepada publik.

maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah. Sekolah-sekolah sebagai basis penerapan manajemen pendidikan dituntut harus mampu mewujudkan akuntabilitas bagi publik. legal and financial dimensions and operates at all levels of the education system.instituasi pendidikan yang lemah dan tidak sedikit institusi pendidikan yang tidak akuntabel. Rita Headington berpendapat bahwa "Accountability has moral. Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5). hukum.Jadi. 2000).kalau disimpulkan akuntabilitas adalah kemampuan sekolah mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang diperoleh sebagai hasil partisipasi dari stakeholders. Pada tahun 1976 Prime Minister Callaghan mengusulkan bahwa pendidikan sudah seharusnya lebih akuntabel kepada masyarakat dan kecenderungan umum bahwa isu-isu pendidikan seharusnya terbuka telah membuka ruang bagi untuk menanggapinya. Ini berarti akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah." Ketiga dimensi yang terkandung dalam akuntabilitas. dan keuangan menuntut . Sementara Zamroni (2008:12) mendefinsikan akuntabilias dikaitkan dengan partisipasi. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah. Ketika terjadi perubahan mendasar dalam sistem pendidikan. yaitu moral." (Gipps and Golstein. Di Indonesia akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan. juga masih menempuh jalan panjang. sekalipun itu bersifat non-profesional. 1983 dalam Rita Headington. "Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. isu akuntabilitas sepertinya memperoleh nafas baru.

bahwa seringkali aspek pembelajaran dipahami terpisah dengan MBS. Jadi. Pendapat Headington memberi tekanan pada akuntabilitas kinerja pembelajaran. Slamet (2005:6) menyatakan: Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. maka sebenarnya ini adalah bagian hakiki dalam penerapan MBS yang tidak boleh diabaikan oleh sekolah. Secara moral maupun secara formal (aturan) guru memiliki tanggung jawab bagi siswa maupun orang tua siswa untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Di Indonesia. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah. Apa yang dikatakan oleh David Marsh merupakan sebuah peringatan keras akan bahaya kekacauan dalam penerapan MBS. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan hasil kerja kepada publik. kalau Rita Headington memberi tekanan akuntabiltas pada aspek pembelajaran yang dimotori oleh guru. tidak saja bagi publik tetapi pertama-tama harus dimulai bagi warga sekolah itu sendiri. Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap sekolah. Selain itu." Headington menekankan akuntabilitas dari guru. terjadi kekacauan dalam memahami MBS.25 tanggung jawab dari sekolah untuk mewujudkannya. tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang . Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat. Sebagaimana dikatakan Rita Headington (2000:83). juga di Negaranegara yang telah menerapkan MBS. Bahwa MBS tidak dipahami sebagai sebuah inovasi yang terpisah dari pembelajaran. "Teacher have a moral and legal responsibility to provide appropriate educational experiences for pupils and to report to parents and other professionals.

Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak menegaskan bahwa. Akuntabilitas menyangkut dua dimensi. yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal. maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah pemberi mandat pendidikan. Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. Bahkan. b. kolusi. boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat. Sekolah dan orang tua siswa. Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih tinggi lagi. dan nepotisme.1. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut. akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah. Pelaksanaan Akuntabilitas dalam MBS. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan korupsi. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan masyarakat.diselenggarakan oleh sekolah. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas .

Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga menyangkut moral individu. Akuntabilitas tidak saja menyangkut proses pembelajaran. Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi tidak akan dipercaya. They are responsible for providing work which is interesting and challenging. accountable to their pupils. "Teacher are. Selain itu dalam hal keteladan. dan kualitas output. hubungan dengan siswa menjadi penting untuk diperhatikan. dan jauh dari praktek . dan mengevaluasi siswa. Sebagaimana dikatakan oleh Headington (2004:88) bahwa. Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya sebagai pengajar. karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen sekolah adalah proses belajar mengajar. melaksanakan pengajaran. Komponen pertama yang harus melaksanakan akuntabilitas adalah guru. seperti disiplin. Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat. Jadi. moral individu yang baik dan didukung oleh sistem yang baik akan menjamin pengelolaan keuangan yang bersih. Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga sekolah. kejujuran. Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat persiapan. maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. tetapi juga menyangkut pengelolaan keuangan. Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan sekolah. besar kecilnya penerimaan. Dan pihak pertama di mana guru harus bertanggung jawab adalah siswa. dan antara kepala sekolah dengan guru. Baik sumber-sumber penerimaan. first and foremost. Antar kepala sekolah dengan komite. Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen pengelolaan MBS kepada masyarakat. maintaining pupils' involvement and helping them make progress in their learning.27 pendidikan). Mengapa.

pengelolaan keuangan sekolah harus jauh dari praktik korupsi. akuntabilitas dipengaruhi oleh kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. dengan melekat sebuah konsep agen moral. hingga di sekolah-sekolah. menyatakan bahwa dalam perspektif global. sedangkan akuntabilitas internal didasarkan pada tanggung jawab profesional. akan meningkatkan efisiens eksternal. Akuntabilitas juga semakin memiliki arti. Sekolah yang mampu mempertanggungjawabkan kualitas outputnya terhadap publik. Fakta menyangkut praktek korupsi dalam dunia pendidikan bukan hal baru.2. dkk (2004). Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS. tidak saja dari segi intelektual tetapi juga moral. Akuntabilitas eksternal didasarkan manajemen hirarkis. karena berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya diajarkan lembaga pendidikan kepada anak bangsa. Informasi ini merupakan "tamparan" keras bagi dunia pendidikan. seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen. Temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) awal tahun 2008 bahwa. masing- masing akuntabilitas eksternal dan akuntabilitas internal. Kenyataan ini sangat ironis. ini disebabkan oleh karena titik tolak kedunya berbeda. Codd (1999). mulai dari Departemen Pendidikan.korupsi. Dan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas outputnya tinggi. Oleh karena itu dalam rangka penerapan MBS ini. Menurutnya Terdapat dua tipe akuntabilitas. Kebebasan yang muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam melaksanakan akuntabilitas. Keduanya memiliki ciri yang berbeda. b. ketika sekolah mampu mempertanggungjawabkan mutu outputnya terhadap publik. Dinas Pendidikan. kolusi dan nepotisme. korupsi dalam dunia pendidikan telah menjamah. Oleh karena . mencerminkan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas output tinggi.

Kekuatannya terletak pada motivasi dan komitmen individu untuk melaksanakan akuntabilitas organisasi. Kedua jenis akuntabilitas di atas memiliki pendasaran yang sangat berbeda. Nilai-nilai dan budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang akuntabel. maka hal-hal yang diperlihatkanpun berbeda. sedangkan pada akuntabilitas internal tanggung jawab professional didelegasikan. pada akuntabilitas eksternal terikat pada kontrak. Sebaliknya pada akuntabilitas internal faktor dari dalam diri lebih kuat ketimbang faktor luar. Akuntabilitas eksternal memperlihatkan proses formal dalam pelaporan dan perekaman untuk manajamen hirarkhis. sedangkan akuntabilitas internal menekankan pada komitmen. Dalam sebuah ilustrasi . Sedangkan jenis akuntabilitas internal peran moral tinggi sehingga pertimbangannya matang dan memiliki kebebasan untuk bertindak. Selanjutnya dari segi tanggung jawab. dan etika struktur. Dalam akuntabilitas eksternal kurang mengutamakan peran moral. sedangkan pada akuntabilitas internal justru sebaliknya memiliki kepercayaan yang tinggi. ketimbang etika kebiasan. akuntabilitas eksternal memiliki kepercayaan yang rendah. Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. dan kecakapan. Kalau akuntabilitas eksternal pengaruh faktor luar sangat besar. rasa memiliki. di sisi lain faktor dalam sangat lemah. loyalitas. Misalnya. sedangkan dalam akuntabilitas internal akuntabel banyak konstituen. Dari segi pelaksanaan tugas. tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. Akuntabilitas dan Faktor nilai-budaya Sekolah sebagai tempat penyelenggaran manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial.29 pendasaran kedua jenis akuntabilitas ini berbeda. pada akuntabilitas eksternal terdapat kontrol yang hirarkis.

Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi. tradisi organisasi. Artinya. keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen. apakah anggota organisasi dapat mendukungnya? Menjadi tantangan.perusahaan. oleh karena latar belakang tadi. tetapi ada juga yang sebaliknya. Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi. . tidak melakukan diskriminasi. Stephen Robins (2001:14) menyatakan: Workforce diversity has important implication for management practice. dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya.3. Akuntabel merupakan nilai yang hendak ditegakan organisasi. at the same time not discriminating. Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang berbeda dengan cara-cara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan produktifitas sementara.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS. Dalam konteks ini. Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri. Jadi. pada saat yang sama. Sistem menyangkut aturan-aturan. persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas. yakni faktor sistem dan faktor orang. b. faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal. Manager will need to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in ways that will ensure employe retention and greater productivity while. melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya tertentu. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi. Bagaimanapun juga pengelolaan MBS mensyaratkan akuntabilitas yang tinggi.

menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. sehingga dapat digerakan untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas. Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama. memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban.31 oleh karena itu perlu ada upaya nyata sekolah untuk mewujudkannya. Komite sekolah. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada. memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pengaduan publik. dan pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya. Kelima. melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders diakhir tahun. Keempat. Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah. Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya. Ketujuh. menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Keenam. sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. Kedua. orang tua siswa. semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya. sebagaimana dinyatakan oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah: . Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam manajemen berbasis sekolah. Kedelapan upaya di atas. Kedelapan. kelompok profesi. Ketiga. dapat dilihat pada beberapa hal.

Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. ketenagaan. Mugatroyd dan Morgan (dalam Mantja. yaitu manajemen pengajaran. 2002 : 131) mengemukakan empat . keuangan. Tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraanpendidikan di sekolah 3. Substansi manajemen pendidikan lebih memusatkan diri pada substansi yang berkaitan dengan proses pendidikan. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991:47) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki. baik tujuan jangka pendek. tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam banyak hal sehingga kepercayaan masyarakat akan kinerja sekolah menjadi lebih tinggi dan dengan sendirinya partsipasi bertambah. hubungan sekolah dan masyarakat dan layanan-layanan khusus. mengemukakan bahwa : “Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.1. Tidak saja publik merasa puas. peserta didik. sarana dan prasarana. menengah maupun tujuan jangka panjang. Selanjutnya Gaffar (1989 : 59). 2. Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. C. Manajemen pendidikan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ketiga. yang mendukung dan meningkatkan kinerja terhadap mereka yang dekat (familiar) dengan klien. menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok yang terkait. Menurut Nanang Fatah (2006:32) MBS merupakan pendekatan politik yang bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan . yang merupakan gagasan kunci adalah semua hubungan antara pelanggan dan pemasok ditengahi oleh proses. adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai yang menghubungkan pelanggan (customer client) dan pemasok (supplier). bahwa untuk menjamin terdapatnya dukungan perbaikan performansi kualitas terhadap sekolah dipersyaratkan kepemimpinan yang bervisi. Pertama. orang yang paling melakukan perbaikan adalah mereka yang dekat dengan pelanggan dalam proses tersebut. Mulyasa (2004:24) : . Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat. Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari . Manajemen Berbasis Sekolah 1.MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik. Keempat. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staff.. D. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli: Menurut E. Kedua.School Based Management. dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.33 gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan manajemen persekolahan.

11MBS menyediakan kepala sekolah. sarana. Hal yang penting dalam implementasi/pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal Local Stakeholder.kinerja sekolah yang mencakup guru. Disamping itu. guru. siswa. Menurut Bedjo sudjanto (2005:37) MBS merupakan model manajemen pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. yaitu “Kurikulum dan program pengajaran. siswa. Menurut Mulyasa (2004 : 118). dan prasarana pendidikan. . kesiswaan. komite sekolah. keuangan. tenaga kependidikan. jika model ini dikembangkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh setiap pendidikan sekolah. pertama sekolah menjamin adanya kultur sekolah yang kondusif dan demokratis menanggapi respon masyarakat secara terbuka sebagai wujud pertanggungjawaban public. MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah. MBS juga mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan nasional pendidikan. Manajemen berbasis sekolah sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah sebuah model pengelolaan sekolah yang mengarah pada kemandirian lembaga pendidikan sekolah dan terintegratif dengan tuntutan perkembangan masyarakat. orang tua siswa dan masyarakat. sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka pelaksanaan MBS. pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat serta manajemen layanan khususnya lembaga pendidikan”. Olehnya itu. Jadi.

tujuan. MBS memiliki karakteristik sebagai berikut: a. cerdas. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi c. (a) memiliki kebijakan. serta kurikulum. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah b. 2. dan sasaran mutu yang jelas. (d) memiliki harapan prestasi yang tinggi. personil. Input Pendidikan Dalam input pendidikan ini meliputi. (d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Proses Dalam proses terdapat karakter yaitu. (c) staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi. Karakteristik MBS MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. (c) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. (b) Kepemimpinan sekolah yang kuat. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem sehingga penguraian karakteristik MBS berdasarkan berdasarkan pada input. 2. dan dinamis. (b) sumber daya yang tersedia dan siap.35 dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran. . (a) PBM yang memiliki tingkat efektifitas yang tinggi. proses dan output 1. karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki sehingga membedakan dari sesuatu yang lain. dinamis dan profesional Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat dilihat pula melalui pendidikan sistem. (f) Sekolah memiliki team work yang kompak.(e) fokus pada pelanggan. Adanya team work yang tinggi. Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional d. (e) Sekolah memiliki budaya mutu.

Rasionalog. berupa keingintahuan yang tinggi. Sekolah juga diberi kewenangan untuk melakukan evaluasi khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri. prestasi olahraga. Pada umumnya output dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu output berupa prestasi akademik yang berupa NEM. kesenian dari para peserta didik dan sebagainya. Dan output non akademik. proses belajar mengajar. Pengelolaan Kurikulum.d) Output yang diharapkan Output Sekolah adalah Prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajarn dan manajemen di sekolah. Sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi. dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Sekolah juga di beri kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal. Kreatif. toleransi. Deduktif dan Ilmiah. metode. karakteristik siswa. kedisiplinan. 3. kerjasama yang baik. Karakteristik MBS bisa diketahui juga antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Sekolah dapat mengembangkan. Perencanaan dan evaluasi program sekolah Sekolah di beri kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar. Nalar. pengelolaan sumber daya manusia. cara-cara berfikir ( Kritis. kejujuran.dan pengelolaan sumber daya administrasi. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. harga diri. . lomba karya ilmiah remaja. 2. Menurut Depdiknas fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut: 1. Induktif.

Pengelolaan ketenagaan. hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. Pelayanan siswa Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru. 6. Tujuan Manajemen berbasis Sekolah Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada. pengembangan. kepemilikan. rekrutmen.37 4. pengembangan. mutu. penghargaan dan sanksi. 7. Pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. dan penyederhanaan birokrasi. kepedulian. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan. partisipasi masyarakat. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan.dan pemerataan pendidikan. 3. pembinaan. terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Hubungan sekolah dan masyarakat Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan. 5. pembimbingan. Sekolah juga harus di beri kebebasan untuk untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan. dan dukungan dari masyarakat. .

seperti nilai ujian atau prestasi lainnya. kelenturan pengelolaan sekolah. Dengan asumsi bahwa setiap anak berpotensi untuk belajar. sedangkan relevansi lebih merujuk pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai lingkup/tuntutan kehidupan (dampak). maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa (lulusan). Bagi yang memisahkan keduanya. efektifitas dan efisiensi. keadilan. lingkungan sosial. Mutu dan relevansi ada yang memandangnya sebagai satu kesatuan substansi. tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat pasal 55 ayat 1:Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan agama. Berkaitan dengan pasal tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi. termasuk juga ranah pendidikan yang tidak diujikan. 2) MBS bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. artinya hasil pendidikan yang bermutu sekaligus yang relevan dengan berbagai kebutuhan dan konteksnya. serta hal lain yang dapat menumbuh k Sementara itu baik berdasarkan kajian pelaksanaan dinegara-negara lain. dan budaya untuk kepentingan masyarakat.Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua. maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang social ekonomi dan . adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol. 1) MBS bertujuan mencapai mutu quality dan relevansi pendidikan yang setinggi- tingginya. 20 Tahun 2003. serta akuntabilitas. maupun yang tersurat dan tersirat dalam kebijakan pemerintah dan UU sisdiknas NO. peningkatan profesionalisme guru. dengan tolok ukur penilaian pada hasil output dan outcome bukan pada metodologi atau prosesnya.

Efektif-tidaknya suatu sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil. Sementara itu. dan input lain yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya). dan secara keseluruhan sekolah harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang diluluskan. Sebaliknya untuk mencapai hasil yang baik. Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya. sehingga semua input tepat guna dan tepat sasaran.quality and equity. Selama ini pertanggung . efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil belajar siswa). tetapi setiap sekolah harus melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai). Keadilan ini begitu penting. Efektifitas berhubungan dengan proses. sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau .39 psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal. 3) MBS bertujuan meningkatkan efektifitas MBS bertujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi. MBS bertujuan meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen semua stake holders. sehingga menghasilkan hasil belajar siswa seperti yang diharapkan (sesuai tujuan). 4. Atau dengan kata lain. dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai). prosedur. dan ketepat-gunaan semua input yang dipaki dalam proses pendidikan disekolah. Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi. atau dinilai hasilnya. sesuai kondisi masing-masing. Dengan menerapkan MBS diharapkan setiap sekolah. efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan. diupayakan menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri sekolah efektif.

prosespengambian keputusan terhadap kurikulum. dalam hal pembiayaan. adanya peran serta masyarakat secara aktif. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti nasional. Oleh karena itu. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.tanpa pertanggung jawaban hasil pelaksanaan program. kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. 4. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus . Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. motivator. Bagaimanapun kepala sekolah adalah pimpinan yang memiliki kekuatan untuk itu. Sekolah harus lebih banyak mengajaklingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat luas. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. fasilitator. pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan.strategi berikut ini: Pertama.jawaban sekolah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur birokrasi. Ketiga. Langkah-langkah MBS Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan behasil melalui strategi. pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan. Keempat. maupun pusatpusat irokrasi di bawahnya). yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan. Kedua.

identifikasi . Ketujuh. Keenam. Kelima. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Konsumen yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya. yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. sampai batas-batas nyata perlu dijelaskan secara nyata. adanya guidlines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. masyarakat dan para guru. sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabannya setiap tahunnya. demokratis. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Siapa kebagian peran apa dan melakukan apa. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama. tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS. Artinya. Kesembilan. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS.41 mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Oleh karena itu. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Kedelapan. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh sungguh.

5) Evaluasi. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. 2) Perumusan visi. c) Merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Titik awal ini penting karena . 3)Perencanaan. 4) Pelaksanaan. yaitu : 1) evaluasi diri self assessment. dan seluruh staf. kemajuan yang telah dicapai. atau akan melaksanakan manajemen mutu berbasis sekolah. guru. dan tujuan.peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan pelatihan terhadap peran barunya. evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan.Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. Bagi sekolah yang sudah beroperasi ( sudah ada / jalan) paling tidak ada 6 (enam) langkah. dan 6) Pelaporan. dan diikuti juga anggota komite sekolah. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. misi. b) Refleksi/Mawas diri. implementasi pada proses pembelajaran. Masing-masing langkah dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi sekolah yang ingin. memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan ini bertujuan: a) Mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu.

Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. dan tujuan Bagi sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan.43 sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Kondisi yang diharapkan/diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. Misi. Dengan kata lain. Tujuan merupakan tahapan antara. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU No. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya) masih tetap. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. Tujuan (jangka menengah). kemanusiaan. keadilan. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal/pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut . 23 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Sedangkan misi. 2) Perumusan Visi. melainkan dari kondisi yang dimiliki. keluhuran budi pekerti. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. mereka tidak berangkat dari nol.

Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang dihar apkan. 4) Pelaksanaan Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. serta hasil seperti apa yang diharapkan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab: apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaanperencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu . bagaimana. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif.target/sasaran. pengorganisasian. dalam bentuk tertulis. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan.

sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. Selanjutnya Sidi. sangat menekankan pada optimalisasi pelaksanaan proses belajar mengajar. misalnya menghadapi lomba bidang studi. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. Olehnya itu. sehingga kepala sekolah dituntut mampu menumbuhkembangkan kreativitas kerja guru dan staf sekolah. Tahap pelaksanaan. guru-guru memegang peranan yang sangat menentukan. kinerja kepala sekolah seharusnya mencerminkan lebih baik daripada guru dan staf lainnya. atau kegiatan lainnya. yakni mendayagunakan berbagai sumber (manusia sarana . mengemukakan bahwa kemandirian sekolah yang ditegaskan dalam manajemen berbasis sekolah. bahkan mingguan). Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidik bertolak dari hakikat administrasi pendidikan. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. maka tidak dapat diharapkan mutu output pendidikan akan meningkat. Sekolah memerlukan suatu organisasi kerja yang baik. E. Kinerja Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai organisator memiliki peran yang sangat penting menentukan jalannya organisasi sekolah. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Khususnya mengenai pelaksanaan belajar mengajar. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). partisipasi masyarakat dan kinerja kepala sekolah.45 (bulanan. tetapi kalau sumber daya manusianya yaitu para guru-gurunya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dalam proses belajar mengajar.semesteran. Kinerja kepala sekolah itu harus tampak dalam memainkan perannya secara professional.

Sehubungan dengan itu tugastugas kepala sekolah sebagai administrator. Keterampilan manusiawi (insani) mengacu kepada keterampilan yang diperlukan dalam keberhasilan kerja dengan orang per orang atau dalam latar kelompok. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang mengacu pada perbuatan dan kinerja yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator.. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. relevan. (2) membantu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas. (5) kepegawaian dan (6) hubungan sekolah dan masyarakat (IKIP Malang. sekolah supervisor secara . Keterampilan teknis yang ditunjuk kerjakan oleh administrator sekolah Budgeting. (5) mengelolah sarana dan fasilitas sekolah. manusiawi. manajer. dan berbagai tanggung jawab administrasi yang sejenisnya. (4) mampu menciptakan hubungan baik guru dengan murid di sekolahnya. (3) perlengkapan. 1995). Sedangkan keterampilan konseptual adalah kemampuan yang diperlukan oleh administrator untuk melihat gambaran keseluruhan dan hubungan-hubungannya diantara dan di dalam bagian-bagian yang berlainan. dan konseptual. efektif dan efisien guna menunjang pencapaian pendidikan. pimpinan. Kompetensi yang diperlukan administrator menekankan perlunya kompetensi dasar yang harus dikuasai yaitu: teknis. (Burton dalam Mantja 2002) menyarankan bahwa: “Beberapa kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh Kepala Sekolah yakni (1) memahami kurikulum sekolah.dan prasarana serta berbagai media pendidikan lainnya) secara optimal. Secara kongkret pelaksanaan tugas dan fungsi administrator dalam administrasi pendidikan mencakup substansi lingkup administrasi pendidikan (sekolah) (1) kurikulum atau pengajaran. (3) mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya untuk keefektifan pelaksanaan pengajaran di sekolah khususnya para orang tua murid. dan (6) mampu melaksanakan program kerja pengajaran”. schedule. staffing. (4) keuangan. (2) kesiswaan.

Dengan demikian untuk pembinaan dan peningkatan profesional guru perlu dikembangkan kegiatan profesional kesejawatan yang baik. untuk pengembangan kesejawatan adalah kelompok yang merupakan organ yang bersifat non-struktural dan lebih bersifat formal. guru adalah kreator proses belajar mengajar. Secara sistematis pengembangan kejawatan memerlukan : a. b. terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung dalam ruang kelas. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan disadari suatu kebenaran fundamental. dan objektif. Kualitas pendidikan. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. harmonis. Wadah/kelembagaan.47 substansial merupakan tugas-tugas pokok kepala sekolah yang menurut kinerja kepala sekolah secara profesional. asuh dan asih untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing khususnya dan mencapai kualitas sekolah serta pendidikan pada . Untuk itu diperlukan adanya kesadaran pada diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar professional. F. Dalam proses belajar mengajar. Pada dasarnya peningkatan kualitas diri seseorang harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. Oleh karenanya usaha peningkatan kualitas guru terletak pada diri guru sendiri. yakni bahwa kunci keberhasilan menciptakan dan mempersiapkan guruguru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab baru untuk merencanakan pendidikan masa depan. Bentuk kegiatan kelompok yang dibentuk merupakan wadah kegiatan dimana antara anggota sejawat biasa saling asah. guru memegang peranan yang penting.

menjadi orang tua asuh. Tenaga yaitu sebagai sumber atau tenaga sukarela untuk membantu mensukseskan wajib belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. tanggapan. Pemikiran. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pada dasarnya kelompok yang diuraikan di atas merupakan wadah aktivitas profesional untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. masyarakat dan pemerintah. serta memperbaiki sarana dan prasarana baik secara individu maupun secara kelompok. artinya aktivitas yang dilaksanakan bersifat komprehensif dan total mencakup presentasi. observasi. untuk membantu pendanaan operasional sekolah. Aktivitas yang dimaksud tidak bersifat searah melainkan bersifat multi arah. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah. 2. 3. menanggulangi anak putus sekolah. Dana. kewajiban dan kesempatan yang sama dalam setiap kegiatan tanpa memandang jenjang kepangkatan jabatan dan gelar akademik yang disandangnya. Selanjutnya. peran serta masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang diharapkan dari masyarakat.umumnya. yaitu memberikan masukan berupa pendapat pemikiran dalam rangka menjaring anak-anak usia sekolah. penilaian. kritik. antara lain : 1. asuh dan asih. dan sebagainya. d. Salah satu kebijakan pemerintah menyangkut pembiayaan pendidikan dalam . memberikan beasiswa. saran dan bimbingan G. Mekanisme. Maka setiap anggota kelompok memiliki hak. Partisipasi Masyarakat Dalam Undang-Undang No. c. kegiatan kelompok dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. Standar profesional guru. Sebagaimana konsep asah. bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga.

dunia usaha didorong untuk memberi bantuan beasiswa. Partisipasi masyarakat merupakan wujud pemberdayaan masyarakat sebagai daya dukung sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien agar seoptimal mungkin sasaran dan tujuan pendidikan sekolah dapat tercapai. melatih dan membimbing generasi muda bagi peranannya di masa depan sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu. dan masyarakat dan dunia usaha. baik langsung ataupun tidak langsung demi pemusatan dan keadilan pendidikan.49 rangka peningkatan mutu pada semua jenjang pendidikan (dasar. peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan ditingkatkan. Kelompok masyarakat mampu perlu didorong untuk memberi sumbangan yang lebih besar dalam membiayai pendidikan. Masyarakat dunia usaha juga diharapkan untuk memberikan pemikiran dan sumbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan. bagi masyarakat tidak mampu disediakan bantuan. kalangan dunia usaha. karena keduanya memiliki kepentingan. Kerangka Pikir . 4. Dikatakan demikian. Sekolah merupakan lembaga formal yang diserahi mandat untuk mendidik. tokoh masyarakat dan organisasi pemerhati pendidikan dengan upaya-upayanya yang dapat dilakukan mulai pada tahap perumusan kebijaksanaan implementasi kebijaksanaan secara operasional serta evaluasi dan pengawasan dan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan sekolah. Sekolah merupakan lembaga yang tidak dapat dipisahkan masyarakat lingkungannya. tenaga fasilitas praktik dan penelitian. Partisipasi masyarakat luas seperti. antara lain dengan mengembangkan mekanisme kerjasama saling menguntungkan bagi peserta didik. sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah. lembaga pendidikan. Sementara itu. menengah dan tinggi) yakni.

melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan. sekolah sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan. Sekolah sebagai institusi/lembaga pendidikan. memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Implikasi pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah perlunya dukungan dan peran aktif kepala sekolah. Dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan. keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid. sekolah sebagai institusi pendidikan perlu dikelola. semangat belajar. merupakan suatu upaya peningkatan pengelolaan dan pemberdayaan sekolah sebagai lembaga pendidikan. guru dan masyarakat sebagai pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan tugas dan fungsinya sebagai manajer . perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan.Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa. disiplin kerja. merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan yang memerlukan pemberdayaan. diatur. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. Dengan kata lain. Dalam kegiatannya.

tetapi kalau sumber daya manusia yaitu para guru tidak melaksanakan tugas dengan baik dalam proses belajar mengajar. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah serta bantuan moril yang diharapkan seperti orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah yang kurang mampu. membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. kreativitas dan daya cipta guru untuk pelaksanaan MBS perlu terus menerus perlu didorong dan dikembangkan. Dengan demikian pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mensyaratkan dukungan dan partisipasi aktif paling tidak dari tiga pihak terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Disamping itu kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran sumbang saran. guru dan .51 sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar. memberikan masukan berupa pendapat dan pemikiran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik dikelas. oleh karena itu guru perlu siap dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran. pembagian tugas peserta didik. jadwal pelajaran. yakni kepala sekolah. Partisipasi masyarakat secara material dalam pendanaan operasional sekolah seperti pemberian beasiswa. Guru kelas sebagai pelaksana proses belajar mengajar di kelas harus dapat berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. penempatan alat dan Iain-Iain harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. Guru juga harus mampu mengorganisasikan kelas dengan baik. dengan melakukan supervisi kelas. maka tidak dapat diharapkan kualitas pendidikan para murid. study banding antara sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain. akan meningkat.

jelas tentang arah penelitian ini secara skematis digambarkan kerangka pikir ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1 Gambar 2. Jika ketiga unsur tersebut terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses belajar mengajar di sekolah. Untuk memperoleh gambaran yang.masyarakat. dapat diharapkan kualitas pendidikan peserta didik (murid) akan meningkat sehingga mampu mengikuti perkembangan dan tuntutan untuk tahap pendidikan selanjutnya.1. Sketsa Kerangka Pikir .

Defenisi Operasional Variabel Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti dan dianalisis yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. Variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut: . sedangkan subjeknya adalah kepala sekolah. sumber daya guru (lebih banyak menggunakan guru inti).53 BAB III METODE PENELITIAN A. yakni (1) kinerja kepala sekolah. Jenis dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif 56 untuk menjelaskan analisis implementasi pelaksanaan manajemen berbasis Sekolah dalam proses belajar mengajar pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum dengan pertimbangan bahwa Sekolah Menengah Pertama telah memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada tahap awal pelaksanaan manajemen berbasis sekolahdalam berbagai bidang untuk mencapai tujuan pendidikan sehingga memungkinkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan baik karena berbagi faktor-faktor pendukung yang dimiliki seperti. guru dan masyarakat. (3) partisipasi masyarakat serta (4) faktor pendukung serta faktor penghambat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. B. kinerja guru dan partisipasi masyarakat terhadap proses belajar mengajar. sarana dan prasarana serta infrastruktur sekolah yang cukup memadai. (2) kinerja guru dalam proses belajar mengajar. Objek yang diteliti adalah kinerja kepala sekolah.

setiap pertanyaan akan diberikan skor dan jumlah skor akan menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi masyarakat. pencapaian sasaran dan tujuan pendidikan. yakni anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua siswa di sekolah. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah yang meliputi tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: (1) manajer. (2) penyajian materi (3) evaluasi hasil proses belajar mengajar. (2) administrator. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. diberi skor dan jumlah skor menunjukkan kinerja guru. 2. (2) pelaksanaan program sekolah menggunakan dan (3) evaluasi dan monitoring program sekolah. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi : (1) kelengkapan program belajar mengajar. Kinerja kepala sekolah yaitu. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan masyarakat. (3) supervisor (4) pemimpin. setiap pertanyaan akar. (5) innovator. kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi jabatan sekolah. Manajemen berbasis sekolah adalah bentuk pengelolaan sekolah berdasarkan sumber daya yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien dalam rangka. 3. (6) motivator.1. . Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. dan (4) program perbaikan dan pengayaan prosesbelajar mengajar. 4. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam kegiatan pengelolaan dan pengembangan sekolah. setiap pertanyaan akan diberi skor menunjukkan kinerja kepala sekolah. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di kelas. Indikator variabel ini adalah : (1) partisipasi masyarakat dalam program perencanaan sekolah.

E. 2.55 5. Pada variabel manajemen berbasis sekolah akan diteliti tentang bagaimana kinerja kepala sekolah dengan berbagai sub variabelnya. Manajemen Berbasis Sekolah. (2) instrumen kinerja guru. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus akan dijabarkan secara mendalam dalam penelitian ini. D. Populasi dan Sampel. sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran I. Instrumen Penelitian Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa daftar pertanyaan yang meliputi: (1) instrumen kinerja kepala sekolah. kinerja guru dengan sub variabelnya dan kinerja partisipasi masyarakat dengan sub variabelnya. (3) instrumen partisipasi masyarakat. pelaksanaan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Variabel Penelitian Berdasarkan variabel yang diteliti dan dianalisis. Populasi penelitian ini adalah seluruh komponen yang terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum yang terlibat langsung dengan aktivitas . Faktor pendukung dan faktor penghambat adalah segala sesuatu yang dapat mendukung dan menghambat implementasi pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut C. Ketiga instrumen tersebut dikembangkan berdasarkan indikator masing-masing variabel.

24 guru. 24 anggota komite yang mewakili orang tua wali atau seluruhnya 49 Dengan perincian sebagai berikut: a. Wakasek kurikulum dan pengajaran dan Wakasek Kesiswaan e. Guru-guru. maka dilakukan tehnik sampling. Responden diambil dari kepala sekolah. yaitu untuk memperoleh keterangan sejauh mana perannya sebagai wakil dari orang tua siswa dan . guru. Orang tua siswa dalam hal ini yang diwakili Komite sekolah. d. Selanjutnya responder dipilih secara purposive dan dijadikan sampel yang dianggap memahami permasalahan penelitian. Wakil kepala sekolah.pembelajaran berjumlah 66 guru. baik yang berstatus sebagai pegawai tetap maupun yang berstatus sebagai honorer. Kepala sekolah. Alasan Pemilihan sampel ini karena orang-orang tersebut dianggap mempunyai kesiapan dalam memberikan informasi yang diperlukan selama penelitian. yaitu untuk memperoleh keterangan mengenai usaha-usahanya dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar. yaitu untuk memperoleh keterangan tentang upaya-upaya yang dilakukan dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus c. Kapala Tata Usaha f. b. yaitu untuk memperoleh keterangan sebagai pelaksana langsung dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Pemilihan sampel dilakukan secara bertujuan (purposive) dengan hanya memilih sebahagian orang sebagai sampel. anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali yang masing-masing terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Sumber data penelitian ini terdiri dari kepala sekolah.

Metode Pengumpulan Data 1. kegiatan proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Khusus. . kondisi belajar siswa. atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat Observasi atau pengamatan secara langsung. keuangan. keadaan dan fasilitas pendidikan. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data secara langsung dan sistematis terhadap obyek yang diteliti untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum. lingkungan sekolah. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:57) wawancara adalah kegiatan memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata atau pengamatan yang meliputi kegiatan.57 patner sekolah dalam pengimplementasian Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. dalam arti yang luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. pemusatan perhatian terhadap suatu objek dan menggunakan seluruh panca indera (Suharsimi Arikunto. sarana prasarana. keadaan manajemen-manajemen mulai dari kurikulum. Sedangkan menurut Mardalis. 1996:57). observasi atau pengamatan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan. dan lain sebagainya. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Metode observasi Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. F. Humas dan manajemen layanan khusus serta dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah. kesiswaan. tenaga pendidik dan kependidikan.

peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. dan sebagainya. tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol. Metode Dokumentasi Dokumentasi. notulen rapat. transkip. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. baik yang terpadu maupun manifes. legger. Metode wawancara atau interview adalah suatu metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (tanya jawab) secara lisan baik langsung maupun tidak langsung untuk menyelidiki pengalaman. Wawancara tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung tentang beberapa jenis data sosial. Sedangkan menurut Lexy J. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Suharsimi Arikunto. 3. (Sutrisno Hadi. agenda dan sebagainya. 2000: 136). dari asal katanya dokumen. perasaan. Bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah bagi SMP Negeri 4 Khusus b). notulen rapat. dokumen. catatan harian. wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.2. serta faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. yang artinya barang-barang tertulis. surat kabar. Moleong. peraturan-peraturan. Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang: a). Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi dan menambah data yang . serta motivasi. buku. Metode wawancara. dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja. Dalam pengertian yang lebih luas. majalah. majalah. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. motif. 1998: 149).

setelah pengumpulan data selesai kemudian dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan. daftar tenaga pendidik dan kependidikan dan lain sebagainya. Dalam menganalisa data.59 diperoleh melalui wawancara dan observasi. jumlah siswa. penulis menggunakan tekhnik analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga kegiatan. Sedangkan untuk menganalisa faktor pendukung dan penghambat maka digunakan metode analisis SWOT yaitu Strength (kekuatan). yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data. penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua yang didukung oleh tabel untuk mengetahui kecenderungan variabel yang diteliti lalu selanjutnya menarik kesimpulan. Dalam proses pengambilan data di lapangan untuk menjaga kevalidan data yag diperoleh. responden yang diteliti. Metode ini penulis gunakan untuk meneliti benda-benda tertulis seperti buku raport. Ketiga. Teknik Analisa Data Adalah proses penyusunan. Penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Miller&Huberman. G. penulis menggunakan instrumen pengumpulan data yang berupa pertanyaan kepada responden. opportunity (peluang). treath (ancaman). data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. Sumber informasi yang dibuat dokumentasi adalah sumber informasi yang sangat penting dan dapat menggambarkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah seperti data keadaan siswa dan lain lain baik yang terdapat pada sekoloah sampel maupun dokumen dari Dinas Pendidikan Kabupaten Umum. 1991: 76). 1992: 16). Pertama. Kedua. pengaturan dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis (Sudjana. data dari dokumen sekolah tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 4 Khusus. dan membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilahpilah. mengarahkan. weaknes (kelemahan). penulis juga melakukan .

pencatatan data-data yang ada di SMP Negeri 4 Khusus BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akurat maka responden dipilih sengaja dari lokasi sampel Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone Kabupaten . Identitas Responden Responden sebanyak 49 orang yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 24 orang guru kelas. termasuk diantaranya wakil kepala sekolah dan berbagai urusan yang diberikan amanat untuk menjalankan tugas-tugas vital di sekolah serta 24 orang komite sekolah (masyarakat) yang merupakan perwakilan dari orang tua siswa.

hal ini menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memadai dalam rangka pengembangan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana dengan baik. hal ini diasumsikan keaktifan (enerjik) dalam pelaksanaan . b. Pangkat/golongan responden Semakin tinggi tingkat kepangkatan/golongan merupakan faktor yang diasumsikan signifikan dengan kualitas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru Tabel 4. 2012 Frekuensi (f) 5 19 24 Persentase (%) 20.83 persen atau sebanyak 5 orang guru.17 100 Tabel 4. Tingkat umur responden Tingkat umur responden dalam penelitian ini dimulai dengan batas usia 30 tahun sampai 55 tahun ke atas.17 persen .1 tersebut menunjukkan bahwa dari 24 responden guru yang dijadikan sampel dapat dibuat perincian sebagai berikut yaitu untuk golongan IIa-IId adalah 0 persen. akan diuraikan karakteristik responden sebagai berikut: a.17 persen. Selanjutnya untuk 64 memperoleh gambaran secara rinci. Untuk golongan IIIa-IIId sebanyak 20. dan untuk golongan IVa-IVe sebanyak 79. Jika responden guru dianalisis berdasarkan golongan seperti pada tabel yang disajikan di atas.1.83 79. bahwa responden golongan 1V yang paling tinggi yaitu sebanyak 79. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan Pangkat/Golongan II/a – II/d III/a – III/d IV/a – IV/e Jumlah Sumber: Data Primer.61 Umum sebagai syarat memenuhi karakteristik sampel yang diteliti.

33 persen. c.55 tahun > 55 tahun Jumlah Frekuensi 2 7 12 3 24 (f) Persentase (%) 8.17 50 12.5 persen pada usia kurang dari 55 tahun masih sangat potensi dalam kedudukannya baik sebagai guru kelas maupun kedudukannya sebagai kepala sekolah dianggap cukup enerjik dan berpengalaman sedang sisanya yaitu sebanyak 3 orang karena berumur di atas 55 tahun atau sekitar 12.4 atau setara dengan sarjana. Tabel 4.2 terlihat bahwa dari sebanyak 24 responden guru dan sampel yang diteliti sebanyak 21 orang atau sekitar 87. Berdasarkan tabel 4.tugas-tugas guru. 2012 Berdasarkan tabel 4.2.17 persen. Salah satu indikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik output maupun inputnya adalah memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga pendidik untuk melanjutkan pendidikannya pada level D. Usia 46-55 tahun sebanyak 12 orang atau sekitar 50 persen dan hanya 3 orang responden atau 12.5 diasumsikan kurang enerjik. Tingkat pendidikan Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden yang berprofesi sebagai guru.33 29. . usia responden berusia 31-45 tahun sebanyak 7 orang atau sekitar 29.5 persen berusia 55 tahun ke atas.5 100 Sumber: Data Primer.2 dapat dilihat bahwa responden berusia 30 tahun ke bawah sebanyak 2 orang atau 8. Penyebaran responden guru menurut kelompok umur Kelompok Umur < 30 tahun 31-45 tahun 46.

5 persen sedang sarjana strata satu 19 orang atau sekitar 79. disusul guru yang berpendidikan strata satu S1 tampak sangat mayoritas sebanyak 19 orang atau sekitar 79.33 100 Frekuensi (f) 0 Persentase (%) 0 Memperhatikan tabel 4. Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan SPG Sederajat Diploma : 1. Sarjana Strata 2 Jumlah Sumber: Data Primer.33 persen dengan tingkat pendidikan strata dua.5 persen.33 persen.63 Tabel 4.3 penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terlihat bahwa kategori pendidikan setingkat SPG sebanyak 0 persen atau tidak ada guru yang berpendidikan SPG sederajat. Diploma II 3. 2012 0 0 3 19 2 24 0 0 12.17 8. Dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan dalam tabel tersebut dimana tingginya tingkat pendidikan tinggi (Strata satu) menyusul tingkat pendidikan . Sarjana Strata 1 5.17 persen dan yang berpendidikan stara 2 yakni sebanyak 2 orang atau sekitar 8. diploma tiga terdapat 3 orang atau 12. demikian halnya dengan pendidikan diploma dua sebanyak 0 persen.5 79.3. sedang dan tinggi terlihat bahwa tidak terdapat guru yang berkualifikasi pendidikan rendah dan hanya terdapat 3 orang guru yang berpendidikan D. Diploma III 4.III atau sekitar 12. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 24 responden guru apabila dianalisis berdasarkan kategori pendidikan rendah.17 persen dan 2 orang atau 8. Diploma I 2.

diploma

dan strata 2 dapat dikatakan bahwa Keberadaan responden guru sangat

signifikan dengan kualitas akademik dengan prospek pengembangan sekolah dalam rangka pengimplementasian MBS. 1. Responden Masyarakat

Jumlah responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Responden anggota komite sekolah maupun orang tua/wali murid yang dipilih sebagai lokasi sampel penelitian. Selanjutnya karakteristik responden masyarakat akan diuraikan secara rinci sebagai berikut: a. Responden masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan Responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden berpartisipasi terhadap pengembangan sekolah. Responden masyarakat menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut: Tabel 4.4. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SLTP SLTA Sarjana Frekuensi (f) 2 9 13 Persentase (%) 8.33 37.5 54.17

Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer, 2012 Tabel 4.4 tentang penyebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan menyebar dari SLTP sebanyak 2 orang atau 8.33 persen, SLTA 9 orang atau sekitar 37.5 persen sampai pada tingkat sarjana sebanyak 13 orang atau sekitar 54.17 persen. Jika distribusi responden tersebut dianalisis dengan

65 membandingkan masing-masing tingkat pendidikan yang ada, dominan responden berpendidikan sarjana, hal ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat potensial terlibat dalam setiap kegiatan sekolah. b. Responden masyarakat berdasarkan pendapatan Distribusi responden menurut tingkat pendapatan diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan/pengembangan sekolah. Responden masyarakat menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 4.5: Tabel 4.5. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan Tingkat Pendapatan < 1 Juta 1 – 5 Juta < 5 Juta Frekuensi (f) 5 12 7 Persentase (%) 20,83 50 29,17

Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer, 2012 Pada tabel 4.5, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapatan 1-5 juta atau 50 persen. Dan bila dibandingkan dengan yang berpendapatan rendah (kurang 1 juta) lebih banyak berpendapatan tinggi (di atas 5 juta) yaitu sebesar 29,17 persen dan jumlah sampel yang diteliti (sebanyak 24 orang). Dari Persentase ini jika dianalisis, maka tingkat pendapatan masyarakat potensial terhadap pengembangan sekolah menjadi lebih baik. 2. Latar belakang pekerjaan responden masyarakat

Latar belakang pekerjaan dapat diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengembangan sekolah. Biasanya tingkat pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang sangat mendukung dalam penetapan kebijakan pada sebuah institusi terlepas dari konsep politik maupun sosial. Adapun tabel penyebaran tingkat dan latar belakang pekerjaan dapat dijelaskan melalui tabel 4.6 di bawah ini:

Tabel 4.6. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan Tingkat Pendidikan Pegawai Negeri Pensiunan Pegawai Negeri Wiraswasta Frekuensi (f) 14 2 8 Persentase (%) 41,67 20.83 37.5

Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer, 2012 Dengan melihat tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pegawai negeri yaitu sebanyak 9 orang atau sekitar 41,67, menyusul wiraswasta 8 orang atau sekitar 37,5 persen sedang pensiunan pegawai negeri yang terlibat dalam komite sekolah hanya 4 orang atau sekitar 20.83 persen. Memperhatikan tabel tentang penyebaran responded menurut latar belakang pekerjaan bahwa pegawai negeri sipil yang dominan memperlihatkan tingkat partisipasi paling tinggi, kemudian kalangan wiraswasta juga memperlihatkan tingkat partisipasi yang cukup tinggi, hal tersebut jika dianalisis bahwa selama ini perhatian dunia usaha/wiraswasta yang menjadi sorotan masyarakat telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dan perubahan subsistem manajemen pendidikan yaitu manajemen berbasis sekolah. C. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum Secara khusus variabel kinerja kepala sekolah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan quosioner sebagai pedoman wawancara untuk menganlisis aktivitas kinerjanya sebagai kepala sekolah serta melakukan pengamatan secara seksama mengenai kondisi riil berkaitan dengan implementasi manajemen berbasis sekolah. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja kepala sekolah adalah instrumen

sekolah sebagai administrator. Dirjen Dikdasmen tahun 2000. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator. moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan. Sebagai edukator. tenaga kependidikan. (5) kepala sekolah sebagai leader. dengan upaya memotret keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus menggambarkan kondisi obyektif profit sekolah secara utuh. khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut: a) mengikutsertakan guru-guru dalam penataran. (4) kepala sekolah sebagai supervisor. Kinerja sekolah merupakan keterpaduan semua warga sekolah yang tidak terlepas dan pelaksanaan tugas kepala sekolah (Dirjen Dikdasmen 2000) Untuk kinerja kepala sekolah dipakai 7 (tujuh) komponen penilaian yaitu (1) kepala sekolah sebagai edukator (2) kepala sekolah sebagai manajer. kepala sekolah bertugas untuk membimbing guru. seperti team teaching. Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator). memberikan nasehat kepada warga sekolah. dan (7) kepala sekolah sebagai motivator. peserta didik. b) menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik. (6) kepala sekolah sebagai innovator. (3) kepala. dengan cara . dan memberi teladan yang baik. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. c) menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah. mengikuti perkembangan iptek.67 yang sama dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif. Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator. atau pendidikan lanjutan.

“Kepala Sekolah itu adalah tugas tambahan yang dipercayakan pemerintah kepada saya untuk memimpin lembaga ini. bahkan beliau sebagai kepala sekolah mendapat tugas mengajar di kelas dengan jumlah jam wajib sebanyak 6 jam. kami membuat jadwal mengajar yang tetap memungkinkan kepala sekolah tetap mengajar dengan memberi jadwal jam 1-2 setiap hari Senin-Rabu.mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan. dan sebagainya Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMPN 4 Watampone” Drs Mahmud MM” kegiatan pembelajaran di sekolahnya berjalan dengan tertib. Sekalipun demikian saya akan menggantinya atau mencarikan waktu untuk tetap mengajar pada kelas yang saya ajar. kepala sekolah sebagai seorang edukator telah bekerja sesuai standar yang berlaku. serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran. Khusus untuk membimbing siswa. Dan menurut analisis penulis bahwa prilaku kepala . tetapi tetap mencari waktu di sore hari untuk mengajar. Berdasarkan keterangan diatas. “Kami memahami bahwa kepala sekolah memiliki kesibukan yang teramat padat sehingga tugas mengajarnya terkadang terabaikan. Tugas diluar dan tamu yang datang terkadang menyebabkan kepala sekolah tidak masuk mengajar dikelas. dan itu fungsi utama saya sebagai seorang edukator atau tenaga pendidik. Apa yang disampaikan oleh kepala SMPM 4 Watampone. meskipun beliau tetap menggantinya di sore hari. meskipun saya menyadari kegiatan diluar yang berkaitan dengan kepentingan sekolah terkadang membuat saya tidak mengajar. Tugas utama saya adalah mengajar. membimbing siswa serta membimbing guru dalam peningkatan proses pembelajaran. saya serahkan ke pembina kesiswaan. Oleh karena itu kami berusaha bekerja semaksimal mungkin agar tugas utama kepesek tidak terbengkalai maka jam mengajar kepala sekolah kami tempatkan pada jam 1dan 2 setiap hari senin sampai jumat. Karena itu. agar aktivitas pembelajaran siswa tidak terganggu (15 Maret 2012”). sedangkan untuk pembimbingan guru diserahkan kepada tim yang saya bentuk untuk memantau kinerja guru” (14 Maret 2012). sejalan dengan yang diinformasikan oleh Wakasek “ Drs Suradi” dan bapak Muh Amin sebagai urusan Kurikulum.

Kegiatan kepala sekolah masuk mengajar adalah selain sebagai tugas pokok juga memberi contoh kepada guru agar guru dapat melaksanakan tugasnya secara optimal dan siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik. Adapun bentuk riil dan masing-masing tugas yang telah dilakukan Kepala Sekolah tersebut di atas adalah : a) Bersama dengan tim yang dibentuk dari urusan kurikulum dan pengajaran. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone: a) Masuk kelas mengajar.69 SMPN 4 Watampone yang mengajar dalam kelas dan berusaha menggantinya jika berhalangan masuk adalah sebuah prilaku yang patut ditiru oleh kepala sekolah yang lain yang terkadang hanya namanya yang tercantum dalam jadwal/roster mengajar tetapi orang lain yang menjalankannya. kepala sekolah Membimbing guru dalam meningkatkan kinerja mereka terutama bagaimana menyusun RPP dan mengajar dengan memanfaatkan tekhnologikhususnya dalam hal kegiatan proses belajar mengajar dan b) membimbing siswa dengan memberikan materi pembelajaran sekaligus memotivasi siswa untuk berprestasi. b) Kepala SMP Negeri 4 Khusus telah melaksanakan fungsinya sebagai Educator (pendidik) sebagaimana yang diharapkan dalam MBS yaitu kepala sekolah tetap menjalankan aktivitas mengajar dalam kelas. dengan jumlah jam wajib 6 jam pelajaran/minggu yang dilaksanakannya setiap hari Senin-Rabu dengan masuk pada jam pertama sampai jam kedua. .

Kepala Sekolah diharuskan mampu mensinkronkan antara berbagai program yang telah disusun dengan memanfaatkan sumber daya sekolah yang tersedia yang disesuaikan dengan arah dan kondisi sekolah. banyak tenaga honorer yang terparkir yang tenaganya hanya kadang dipakai untuk mengurus atau mengerjakan hal yang sama. “Kepala sekolah sangat jeli melihat guru atau pegawai yang profesional untuk ditempatkan pada bidang atau urusan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan sekolah dan sangat membantu meringankan pekerjaan kepala sekolah”(23 Maret 2012). bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai seorang manajer yang seharusnya kelemahan tersebut bisa diminimalisir bahkan ditiadakan. “Potensi guru disekolah kami termasuk pegawai dari segi jumlah sangatlah besar.Sebagai seorang manajer. namun kepala sekolah sering memberikan tugas rangkap kepada seorang guru atau pegawai sehingga sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan perannya menjadi berkurang. karena semua urusan yang diangkat untuk mendampingi beliau dalam membantu menjalankan tugasnya adalah orang-orang pilihan. uraian tugas berdasarkan kemampuan personil serta uraian tugas organisasi. bahwa kepala sekolah tetap menempatkan orang-orang yang dianggap sangat profesional dalam hal-hal yang sangat urgensial untuk kemajuan sekolah. Berdasarkan wawancara dengan ibu Rosmawati sebagai kepala tata usaha dan pak Herman sebagai wakasek kurikulum dan pengajaran. padahal masih banyak pekerjaan lain”(27 Maret 2012). sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi dapat cepat diatasi. Meskipun demikian. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah tersebut di atas adalah : . seperti dalam kegiatan ketatausahaan. ditambahkan oleh ibu Rosmawati. administrasi sekolah. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone sebagai seorang manajer telah melaksanakan fungsinya dengan baik dengan catatan masih perlu melakukan koordinasi antar pegawai khususnya pegawai tata usaha.

Kepala Sekolah sebagai Administrator Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari bermacam kegiatan atau aktivitas di dalam pelaksanaannya. Sebagai administator. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsi sebagai administrator. Pembuatan Program : Program utama yang menjadi fokus antara lain adalah (1) Program kerja kepala sekolah adanya : a) Program jangka panjang (8 tahun). Adapun. penyusunan RAPBS serta dan mempunyai mekanisme monitor dan evaluasi pelaksanaan program secara sistematika. kepala sekolah bertanggung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif di sekolahnya.71 1. jangka menengah (4 tahun) dan jangka pendek baik akademik maupun non akademik. b) c) Memiliki susunan kepegawaian sekolah Memanfaatkan sumber daya manusia serta sarana-prasarana secara optimal. dan mengelola administrasi keuangan. Aktivitas administratif adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan. penyusunan dan dokumentasi program dan kegiatan sekolah. d) Mempunyai catatan kinerja sumber daya manusia yang ada disekolah serta program peningkatan mutu. mengelola administrasi sarana dan prasarana. kepala sekolah juga dituntut untuk mengelola kurikulum. Secara spesifik. mengelola administrasi kearsipan. bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan .

b. penyusunan dan dokumentasi program serta pengelolaan pemanfaatan sarana dan prasarana. kegiatan kesiswaan. keuangan. dokumen penyusunan RAPBS dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan dana. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada kepala sekolah. Kepala Sekolah sebagai Supervisor. Supervisi juga dapat diartikan sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan . Memiliki dokumen yang berkaitan dengan laporan penggunaan dana bos. bahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan kesiswaan juga banyak yang dipegang langsung oleh urusan kesiswaan( 27 Maret 2012). beliau menyatakan: “Saya berusaha untuk mengarsipkan setiap laporan yang berkaitan dengan keuangan. inovasi yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasiona c. Meskipun demikian karena banyaknya dokumen yang harus diarsipkan maka saya mempercayakan kepada kepala tata usaha untuk menghandel sebagian dari tugas-tugas saya selaku administrator.kepala sekolah sebagai seorang administrator di SMPN 4 Watampone tersebut di atas adalah : a. persuratan. sarana dan prasarana dan administrasi persuratan yang bertujuan untuk mempermudah/ memperlancar segala sesuatu tugas kepala sekolah. Sejalan dengan fungsinya sebagai seorang administrator. Administrasi kepala sekolah yang dapat memperlancar semua kegiatan kepala sekolah yang dilengkapi beberapa administrasi antara lain administrasi kesiswaan. Kepala SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum telah berusaha secara maksimal untuk mengadministrasikan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah.

karena masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program yang telah disusunnya. tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Bapak Drs. disisi lain kemampuan mengajar yang diperlihatkan oleh guru yang disupervisi terlihat masih sangat rendah. dan 2) meningkatakan keterampilan guru dan staf dalam melaksanakan tugasnya. Kepala Sekolah sebagai Leader Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan visi. dan 3) Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan program pendidikan pada umumnya. bahwa tugasnya sebagai seorang supervisor belumlah berlangsung dengan optimal. 2) Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan keterampilan mengajar.73 situasi belajar mengajar dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Keberhasilan peran kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh: 1) meningkatnya kesadaran guru dan staf untuk meningkatkan kinerjanya. Supervisi kepala sekolah dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. kreatif. aktivitas pembelajaran yang dilakukan belumlah mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran yang sifatnya Joyfull Learning masih jauh dari harapan”(27 Maret 2012). MM. Disis lain. Kepala sekolah sebagai supervisior mempunyai peran dan tanggung jawab untuk membina. Mahmud. Untuk kepentingan . Di antara tugas-tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah: 1) Membantu stafnya menyusun program. Setiap 3 bulan sekali saya melakukan supervisi akademik dan supervisi manajerial untuk memantau aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan selama hasil pemantauan masih ada guru yang belum membuat RPP padahal sudah disiapkan filenya oleh urusan kurikulum dan urusan pengajaran. “Saya menyadari bahwa kemampuan mengajar antara guru yang satu dengan yang lain tidaklah sama. tergantung kepada kemampuan setiap guru. dan memperbaiki proses pembelajaran aktif. memantau. misi. dan menyenangkan. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah. efektif.

bahkan sebagai pimpinan saya harus berani mengambil resiko untuk kepentingan bersama. MM’’ bahwa: “Kedudukannya sebagai kepala sekolah sangat berkaitan erat dengan perencanaan dan evaluasi program . Solusinya dikoordinasikan bersama dengan semua personil sekolah dan komite sekolah. kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan sumber daya sekolah dalam kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah. bawahan bisa semakin menjadi-jadi. Bahkan kepala sekolah tidak segan untuk turun kelapangan memperjuangkan bantuan bagi siswa yang tidak mampu. Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin SMPN 4 Watampone. pemanfaatan dana serta penciptaan iklim sekolah yang kondusif. dan sebagainya. b) Berani mengambil resiko Tidak semua kepala sekolah berani mengambil resiko atau bertanggung jawab dalam kehidupan di sekolah. Kondisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah”Drs. pengelolaan ketenagaan. pengelolaan ketenagaan. c) Memiliki Visi dan Misi . Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing kegiatan uraian dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Mengenal bawahannya Kepala sekolah harus mengenal bawahan dari dekat diantaranya jenjang pendidikan. Mahmud. keuangan. pengembangan kurikulum. pelayanan siswa. pengamperaan kekurangan gaji guru terlambat. kepribadian dan wawasan yang dimiliki guru serta memberikan penghargaan bagi guru yang mengharumkan nama sekolah. Misalkan gurunya dipindahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. penciptaan iklim sekolah. Perumusan visi dan misi demi sebuah pembaharuan harus menjadi prioritas utama demi terselenggarannya pendidikan yang bermartabat”(27 Maret 2012). terkadang sikap otoriter tetap dipakai agar sistem tetap berjalan karena jika terlalu lemah.tersebut. tingkat golongan. hubungan sekolah dengan masyarakat. sarana dan sumber belajar. pembelajaran yang berkarakter.

e) Evaluasi. bahwa kepala sekolah banyak berjuang untuk siswa tidak mampu agar mendapatkan bantuan. Berdasarkan perannya sebagai seorang leader atau pemimpin terdapat perbedaan cara pandang antara beberapa orang guru dengan kinerja kepala sekolah sebagai seorang leader. pembagian tugas guru.75 Sekolah harus memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk kesiapan kedepan demi terlaksananya pendidikan yang efektif dan efisien. ulangan semester. Pelaksanaan evaluasi dalam fungsinya sebagai leader bahwa semua tanggungjawabnya dilaksanakan sepenuhnya yaitu semua stafnya dinilai berdasarkan hasil yang sudah dicapai dengan pengajuan Kriteria yang didapat sebagai dasar tindak lanjut perbaikan (kalau perlu). ulangan tengah semester serta berbagai aktivitas kesiswaan kurang mendapat perhatian dari kepala sekolah. Jalani Salah seorang guru senior yang diwawancarai mengatakan bahwa: “Kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dianggap belumlah memihak kepada kepentingan guru dan siswa. Banyak kebijakan yang dibuat belum mencerminkan kepentingan guru padahal sumber pendanaan sangat menunjang untuk berbagai kegiatan yang dilakukan. kesemuanya hal tersebut di atas dilaksanakan secara demokratis. daftar hadir guru (jam dan harian). Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum dapat melaksanakan tugas/fungsinya sebagai leader/ pemimpin. administrasi. pelaksanaan pengembangan kegiatan pembelajaran dan hasil kerja guru penetapan dan Kenaikan kelas. baik ulangan harian. Memang kami akui. baik bantuan dari . Sambil memberi contoh tentang kegiatan ulangan. d) Gagasan Pembaharuan Kepala sekolah memikirkan akan perkembangan sekolahnya sehingga dapat membuat program-program sebagai pembaharuan yang ujung-ujungnya peningkatan mutu dan peningkatan kualitas sekolah.

maka dewan guru harus berani mengemukakan kepada komite sekolah akan kondisi yang terjadi dan dengan demikian diharapkan komite dapat menjadi penyeimbang setiap keputusan yang diambil oleh . seorang kepala sekolah haruslah bersikap transparan dan akuntabel untuk kepentingan semua pihak baik dalam internal sekolah maupun dengan pihak yang berada diluar sekolah. Dalam MBS. Bahkan RAPS yang seharusnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan atau program yang disusun tidak dijadikan acuan melainkan lebih mengarah kepada keinginan pribadi. Kami akui.padahal telah banyak kritikan untuk memperbaiki kinerja beliau” (28 bapak kepala 2012). kepala sekolah terkesan bersikap otoriter. Kebijakan yang dibuat tidaklah mencerminkan kepentingan banyak guru. Bahkan berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak melibatkan orang dekat ketimbang guru guru yang lain. Apa yang disampaikan oleh Jalani juga dipertegas oleh salah seorang guru yang sering mengkritik kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah. tetapi manakala menyangkut tentang pemanfaatan dana bos untuk kepentingan guru dan siswa. Apa yang disampaikan oleh sala seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah bentuk ketidakpuasan atas kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang terkesan cenderung bersikap otoriter dan kebijakan yang dibuat belum mencerminkan keadilan untuk guru dan siswa.provinsi maupun bantuan dari pusat. menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sebagai seorang leader atau pemimpin belumlah maksimal.Kepala sekolah haruslah mampu menyeimbangkan antara kepentingan bawahan dengan kepentingan atasan”(27 Maret 2012). Dengan mengacu kepada pendapat dua orang guru. RAPBS yang dibuat terkadang hanyalah dokumen belaka yang tidak dijadikan acuan untuk melaksanakan setiap program yang telah dibuat. kedekatan kepala sekolah dengan penentu kebijakan yang berada diatasnya telah membawa manfaat besar bagi kemajuan sekolah ditinjau dari segi bantuan untuk pembangunan infrastruktur tapi itu belumlah cukup. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Andi Asrib Adnan: “Kepala sekolah belumlah bekerja maksimal untuk kepentingan guru dan siswa terutama dalam pemanfaatan dana. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah bentuk kesewenangan yang mungkin akan bertambah.

77 pihak sekolah. Kepala sekolah Sebagai Inovator. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan modelmodel pembelajaran yang inovatif. Peran kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktir, kreatif, delegatif, integratif, rasional dan obyektif, keteladanan, disiplin, serta adaptabel dan fleksibel. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Sekolah”Drs Mahmud MM” dinyatakan bahwa: “Semaksimal mungkin, saya harus menjadi teladan bagi guru yang lain, misalkan datang disekolah tepat waktu bahkan mendahului guru yang lain termasuk ketika pulang, saya upayakan sebagai orang terakhir yang kembali kerumah. Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan keteladanan dan kedisiplinan. Mendatangkan guru model untuk mengajar pada satu kelas yang dilihat banyak guru adalah salah satu upaya yang saya lakukan untuk memotivasi guru agar lebih inovatif dalam mengajar. Tujuan utamanya adalah bagaimana menggali potensi anak untuk berprestasi baik ditingkat sekolah,kabupaten maupun provinsi” (27 Maret 2012). Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsinya sebagai innovator di sekolahnya, adapun bentuk kegiatan riil dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas, adalah : a. Adanya ide-ide baru yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas pengembangan, pembinaan tenaga guru. b. Melaksanakan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler, menggali sumber daya dari komite. c. Mampu berprestasi di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh kepala sekolah, Peneliti mewawancarai Yusnani, sebagai salah satu pembina kesiswaan yang dikenal memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi berdasarkan informasi dari beberapa guru yang dimintai informasi tentang siapa guru yang paling rajin dan disiplin dimana sebahagian besar menjawab Yusnani. Dalam wawancara yang dilakukan, beliau menyatakan: “Berbicara tentang masalah kedisiplinan, kepala sekolah memang terkenal sangat disiplin. Apa yang kepala sekolah lakukan tidak lain untuk menunjukkan sikap keteladanan sebagai seorang pemimpin. Karena itu rasanya kami malu jika datang terlambat. Meskipun demikian tetap ada beberapa orang guru yang sulit untuk datang tepat pada waktunya padahal jam mengajarnya jam 1. Cuma kami berharap tindakan kepala sekolah hendaknya dibarengi dengan pemberian penghargaan bagi guru yang rajin dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan sekolah. Kami juga berharap sikap objektif dan keterbukaan kepala sekolah juga sampai pada tataran penggunaan dana” (28 Maret 2012). Kepala sekolah Sebagai Motivator Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas kepala sekolah di atas adalah : a. Kemampuan mengatur lingkungan kerja adalah seorang kepala sekolah mampu mengatur ruang kepala sekolah yang kondusif untuk bekerja ruang kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar, UKS dan perpustakaan, dan mengatur halaman lingkungan sekolah yang sejuk nyaman dan teratur. b. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (non fisik) kepala sekolah menciptakan hubungan kerjasama sesame guru, antara guru dan masyarakat (orang tua siswa)

79 yang harmonis dan menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah. c. Menetapkan prinsip motivasi yang berupa penghargaan dan hukuman Setiap kali membicarakan motivasi, hirarki kebutuhan maslow pasti disebutsebut. Hierarki ini didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan satu tingkat kebutuhan tertentu, mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi (Hamzah b. Uno, 2006:40). Abraham maslow mengemukakan lima tingkat kebutuhan yaitu (1) kebutuhan fisiologis,(2) kebutuhan akan rasa aman,(3) kebutuhan akan cinta kasih atau kebutuhan sosial,(4) kebutuhan akan penghargaan dan (5) kebutuhan akan aktualisasi diri. Motivasi kerja guru merupakan hal yang sangat menunjang kinerja guru. Seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam memperhatikan kinerja pegawainya di dasari oleh berbagai pertimbangan. F.W. Taylor sebagai seorang tokoh manajemen ilmiah memusatkan perhatian pada sebuah pendekatan bahwa uang merupakan motivasi uatama bagi seseorang yang bekerja (Hamzah b.Uno,2006:40) Namun perkembangannya memang berbeda kepada setiap orang dan setiap pekerjaan. Orang yang bekerja dengan pekerjaan tangan yang sulit, biasanya tidak termotivasi oleh pekerjaan itu sendiri. Dalam keadaan seperti itu, uang merupakan pendorong semangat utama. Tampaknya pendekatan manajemen ilmiah Taylor sebagian benar. Yang pasti, tingkat pembayaran insentif yang tepat bagi orang-orang yang menangani pekerjaan-pekerjaan produksi menyebabkan peningkatan produktivitas dan lebih banyak upaya. Namun kewaspadaan perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tidak terdapat perubahan mutu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Kepala SMP Negeri 4 Khusus sedikit banyaknya telah berhasil dalam meningkatkan kinerja guru terhadap kontribusi mereka untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. Meskipun demikian

ibu Harlina. . Kepala sekolah berperan aktif dalam membina dan mengembangkan tugas profesionalisme guru. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah menjadikan staf dewan guru sebagai partner dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. 2. Pak Syamsuddin. Zulfadli. Kami jujur. sehingga guru mapun staf administrasi merasa dihargai. penghargaan yang sifatnya materiil kepada siswa maupun guru bisa diperbaiki dan transparansi pemanfaatan dana baik ke dewan guru maupun ke komite sekolah menjadi lebih terbuka dan akuntabel”(28-3-2012). dana BOS terbesar di Kabupaten Umum adalah SMPN 4 Watampone. Setiap masukan ditampung dengan demokratis. diantaranya bapak Madeaming. ibu Hj A. padahal menurut kami persoalan dana sama sekali bukanlah masalah prinsipil.masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menganggap motivasi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru dan pegawai belum maksimal terutama dalam bentuk pemberian penghargaan kepada guru-guru yang sudah bekerja maksimal dalam memajukan sekolah. kami bekerja dengan ikhlas tetapi kami rasanya berat untuk berbuat terbaik manakala sekolah lain yang jumlah dana BOSnya kecil tetapi bisa melakukan yang terbaik untuk siswa maupun guru-gurunya. Adapun bentuk motivasi yang telah diterapkan oleh Kepala SMP Negeri 4 Khusus kepada guru dan pegawai antara lain: 1. “Kepala Sekolah memang sudah bekerja untuk membangkitkan motivasi guru tetapi kami rasakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kami belumlah maksimal.Sukmawati. Pak Bachrun Djahidin dan guru-guru lainnya terdapat kesamaan pandangan akan kinerja kepala sekolah dalam memberikan penghargaan kepada guru yang sudah bekerja memberikan yang terbaik kepada sekolah. Berdasarkan hasil wawancara peneliiti dengan beberapa orang guru. Pembinaan diberikan secara menyeluruh kepada semua guru dengan tidak berpihak pada guru tertentu serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru bila terdapat kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya.karena kami tahu. Pak A. Kedepan kami berharap.

Kelengkapan Program Mengajar Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan . Pemberian penghargaan meskipun belum berjalan optimal tetap dilakukan oleh kepala sekolah. Dengan demikian Kepala sekolah mampu menerapkan/mengembangkan motivasi infernal dan eksternal bagi warga sekolah. 4.81 3. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone (1). maka penilaian guru tentang prilaku kepemimpinan kepala sekolah akan senatiasa mengarah pada iklim yang kondusif dan ini akan berdampak pada peningkatan kinerja guru. Serta menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. Mendorong partisipasi bawahan dalam melakukan tugas di sekolah dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah. Berdasarkan keadaan tersebut maka peran kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah pada bidang motivator telah berjalan secara optimal walaupun untuk kedepannya bentuk penghargaan kepada guru harus lebih ditingkatkan. baik secara langsung maupun tidak langsung dengan selalu mengedepankan prinsip saling menghargai. baik berupa pujian maupun dalam bentuk material. 5. D. termasuk siswa-siswa yang telah berjasa mengharumkan nama sekolah. Apabila suasana seperti ini dilakukan kepala sekolah. Bagi guru yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga edukatif yang profesional diberikan teguran. terutama kepada guru dan staf tata usaha yang telah mencurahkan waktunya untuk kemajuan sekolah. Jika terjadi keberhasilan dan kegagalan bawahan maka itu juga merupakan kegagalan dari kepala sekolah.

Hal ini tercermin dari hasil wawancara dengan ibu A. program perbaikan dan pengayaan serta jurnal pembelajaran. Bapak M. seperti RPP. analisis ulangan harian. hampir semuanya menjawab telah memiliki.Hajar sebagai berikut: “Baik dokumen satu maupun dokumen 2 sudah kami pahami dan sudah kami jabarkan dalam kegiatan pembelajaran. mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran guru di SMPN 4 Watampone sangatlah besar dalam menjalankan tugasnya. Salah satu kekurangan terbesar yang dimiliki oleh guru SMPN 4 Watampone menurut hasil wawancara dengan urusan kurikulum dan pengajaran. Hal ini perlu diperhatikan karena pembuatan jurnal pembelajaran sangat membantu guru untuk memahami setiap batasan . Kondisi ini harus terus dijaga oleh sekolah khususnya kepala SMPN 4 Watampone. memahami dan melaksanakan KTSP baik pada dokumen satu maupun pada dokumen dua. Dari jawaban yang diberikan.2)Apakah administrasi yang dimiliki oleh guru telah lengkap atau belum.Muliati dan Ibu A. daftar hadir dan daftar nilai.kelengkapan program mengajar adalah:1)Apakah guru-guru di SMPN 4 Watampone telah memiliki. silabus. karena tanpa kontrol yang rutin khususnya kelengkapan administrasi maka semuanya akan menjadi kacau. karena terkadang seseorang hanya akan menjadi telaten dalam menjalankan tugas karena tuntutan administratif dan ketaatan yang sesaat kepada pimpinan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 24 responden. sedangkan yang harus kami miliki adalah dokumen dua yang berisi semua kelengkapan untuk kepentingan kami sebagai guru dan itu dimiliki oleh semua guru karena kepala sekolah setiap awal semester melakukan pendataan kepada semua guru karena itu sangat berkaitan dengan penilaian kinerja”(28-3-2012). terlalu tebal dan memuat semua komponen mata pelajaran.memahami dan melaksanakan KTSP.Amin adalah kurangnya kemampuan guru untuk membuat jurnal pembelajaran yang berkaitan dengan tugasnya ketika mengajar dalam kelas. apalagi jika pimpinan tersebut dianggap tidak bisa mengakomodir berbagai kepentingan yang ada di sekolah. Untuk dokumen satu tidak kami pegang karena itu menjadi dokumen sekolah.

agar tidak keluar dari tujuan yang diharapkan dan wujud pelaksanaannya dituangkan dalam program pengajaran dan persiapan mengajar. Wujud dan pelaksanaan dari KTSP menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa. petunjuk atau acuan dalam penyusunan program pengajaran dan sekaligus untuk dipedomani dalam pembuatan Tujuan Pembelajaran Khusus yang sekarang dikenal dengan istilah indikator agar dapat memperlancar proses belajar mengajar. KTSP juga dibuat dalam bentuk program semester dan program tahunan dan terjabarkan dalam analisis materi pelajaran dan rencana pembelajaran artinya membuat analisis RPP. Kemungkinan besar mereka tidak membuatnya karena menganggap hal baru dan kurang disosialisasikan serta tidak menjadi bahan evaluasi dari kepala sekolah maupun pengawas yang datang ketika melakukan supervisi akademik maupun manajerial”(29-3-2012). Untuk memperlancar hal tersebut maka pemerintah pusat telah menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar agar penyusunan RPP yang akan dibuat dalam proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dengan langkah-langkah kegiatan menyiapkan materi metode. Hanya ada beberapa diantara guru yang melakukannya. membuat program semester. alat/media sumber usaha dan penelitian sehingga kurikulum . membuat program tahunan. Setiap proses pembelajaran perlu dipahami betul RPP yang telah dibuat. KKM serta indikator pembelajaran. KTSP khususnya pada dokumen 2 perlu dimiliki karena merupakan acuan untuk menyusun program pengajaran semester/tahunan. Penyusunan KTSP juga merupakan sebagai pedoman. Menurut Pak Amin: “Kendala terbesar yang dialami oleh guru-guru disini adalah lemahnya kemampuan untuk membuat jurnal pembelajaran. Karena kalau mengajar tanpa RPP proses kegiatan belajar mengajar tidak berjalan lancer.83 materi yang diajarkannya dalam kelas. di samping kurikulum sebagai pedoman sekaligus acuan dalam pembuatan program pengajaran dan pembuatan tes.

persiapan mengajar. analisis materi alat peraga. satuan pelajaran absensi. rangkuman materi pelayaran. analisis pengajaran. alat evaluasi. Ada juga persiapan mengajar harian dalam bentuk matriks. Hasil wawancara lain menyebutkan KTSP perlu dimiliki karena merupakan acuan atau menyusun program pengajaran sebagai dasar atau pedoman untuk membuat perencanaan pengajaran. daftar nilai dan konseling analisis termasuk jurnal pembelajaran harus dimiliki oleh setiap guru agar pemberian pelayanan yang maksimal kepada anak didik dapat tercapai disamping ada juga program analisis dan rencana perbaikan dan kegiatan pengayaan. dibukukan setiap mata pelajaran hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa persiapannya dalam bentuk 1 (satu) kali pertemuan atau di sesuaikan dengan kondisi yang ada. buku satuan. kegiatan awal (motivasi. Meliputi inti (penjelasan materi) Tujuan Pembelajaran Khusus. Sumber yang lain menyebutkan bahwa bentuk persiapannya hanya berapa materi dan pola. analisis materi. program semester. disebutkan juga dalam wawancara yaitu program tahunan. dalam bentuk rencana pembelajaran. menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa persiapan mengajar dalam bentuk satu kali pertemuan. kumpulan nilai buku BP analisis soal. daftar nilai. apersepsi) kegiatan akhir (evaluasi/pegangan) disamping itu . persiapan mengajar. program pengajaran. kumpulan evaluasi. GBPP. Wujud ataupun bentuk dan lingkupnya administrasi mengajar menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa KTSP. Bentuk lain dan administrasi yang sudah lengkap yaitu program pengajaran bimbingan penyuluhan persiapan mengajar. bimbingan penyuluhan .yang ada betul-betul berbasis kompetensi. kumpulan soal. Ditambahkan lagi bahwa tiap-tiap mata pelajaran dengan bentuk tertulis dan setiap 1 (satu) kali pertemuan di ketahui dan di tanda tangani oleh kepala sekolah. Bentuk dan persiapan sebelum mengajar itu.

pengamatan. pengamatan portofolio dan sumatif artinya buku itu merupakan satu buku didalamnya terdapat format dan di isi sesuai mata pelajaran tiap semester atau satu buku yang didalamnya terdapat format ulangan harian. Bentuk atau model dan buku daftar nilai siswa menurut hasil wawancara yaitu satu buku diisi sesuai mata pelajaran mencakup nilai ulangan harian. proses umpan balik dalam setiap pembelajaran. pekerjaan rumah atau tugas dan ulangan umum.2 Penyajian Materi Pelajaran. Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan penyajian materi pelajaran penguasaan kelas. Bentuk program perbaikan dan pengayaan yang dilaksanakan menurut hasil wawancara dengan responden yaitu dengan bentuk tindakan individu. penggunaan model-model pembelajaran yang . ada pula yang berdasarkan silabus dibutuhkan permata pelajaran dengan bentuk tertulis. kadang individu kelompok berpasangan dan klasikal diberikan dalam bentuk bimbingan kelompok dan perorangan. portofolio dan pekerjaan rumah ada juga yang berupa ulangan harian (tertulis) pengamatan. daftar nilai harian tes hasil belajar hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa buku daftar nilai siswa itu adalah daftar nilai ulangan harian. nilai tugas dan portofolio. satu kali pertemuan ditanda tangani oleh kepala sekolah. kegiatan free test dan post test baik sebelum memulai pelajaran maupun setelah melakukan pembelajaran.85 ada juga yang berdasarkan KTSP. kelompok diberi pekerjaan/tugas bentuk bimbingan pribadi Ditambahkan pula oleh responden yang lain. Diberikan buku latihan tanya jawab artinya program perbaikan di tujukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan baik secara klasikal maupun individu. c.

Guru terkesan mengajar seadanya tanpa memperhatikan keterampilan proses yang harus tercapai. Bahwa: “Penguasaan kelas sangat diperlukan oleh guru untuk mempermudah penerimaan materi pelajaran. keterlibatan kelas hendak diperhatikan dan memberikan motivasi berupa penguatan materi dengan jalan melaksanakan free test dan post test. Hal yang lain yang dilakukan yaitu diberikan penjelasan singkat. terdapat kesan guru yang mengajar banyak yang tidak menguasai kelas. banyak mengobrol dan tidak melakukan proses umpan balik. sementara Persentase dari guru yang mengajar dengan baik jauh lebih besar”(27-3-2012). Sementara itu bentuk penguasaan kelas yang dilakukan oleh guru menurut hasil wawancara yaitu dengan motivasi siswa agar perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dan mengupayakan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar. Kondisi ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Munir. Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan adalah sikap kepala sekolah yang terkesan agak enggan untuk melakukan koreksi mendalam kepada guru-guru yang hampir memasuki usia pensiun. Untuk memancing respon siswa terhadap materi yang diajarkan . yang sering melakukan supervisi. Persentase dari guru yang bersikap seperti itu tidaklah besar. Drs Mahmud MM. Bentuk yang lain yang ditentukan ialah menerangkan dan memberi motivasi serta mengadakan tanya jawab. mulai dari awal sampai akhir pembelajaran masih ada guru yang tidak menguasai kelas. Sehingga tidak ada upayua maksimal dari guru yang bersangkutan untuk melakukan koreksi atas pebelajaran yang dilakukannya. biasanya hanya dilakukan oleh guru-guru yang mendekati usia pensiun. pembacaan doa memberikan kesempatan kepada siswa untuk ditiru oleh temannya.bervariatif serta pemanfaatn alat-alat peraga. kurang aktif. Hal ini terbukti banyak siswa yang terkesan tidak memperhatikan penjelasan guru. Meskipun demikian. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah. Tanpa penguasaan kelas. Kegiatan ini dilakukan agar materi yang telah dipelajari siswa dapat tertanam dengan kuat. “Ketika supervisi dilakukan. maka tujuan pelajaran yang ingin dicapai menjadi lebih sulit.

dimana proses interaksi berjalan maksimal baik guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Terdapat 2 jawaban yang berbeda atas penggunaan model model pembelajaran di dalam kelas.Usman Abdullah yang diwawancarai tentang penggunaan model-model pembelajaran. 17 orang diantaranya atau sekitar 70.17 persen masih memakai pola lama yang bersifat teacher centered. Bentuk dan interaksi tersebut dapat berbentuk tanya jawab. Meskipun demikian siswa merasa sangat senang dengan cara baru yang dilakukan dalam belajar. Kegiatan ini berfungsi untuk memberikan pemahaman materi secara kuat kepada siswa”(28-3-2012).Persoalan hasil menjadi standar kedua. punya pandangan lain tentang kegiatan pembelajaran yang . pemberian tugas. karena pengaturan kelompok harus diatur sedemikian rupa. Kondisi ini jelas sangat diperlukan seorang guru untuk menguasai kelas. siswa dengan siswa. Ibu Dra Rahmatiah sebagai guru bahasa inggris yang mengajar dengan model pembelajaran yang inovatif berpendapat bahwa: “Waktu yang dipakai dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif terbilang lama. Sementara itu Bapak H. kegiatan post test juga dijalankan. belum lagi pengaturan tempat duduk dan meja.83 persen telah menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dan sangat menyenangkan bagi siswa sehingga siswa antusias dalam mengikuti pelajaran. dari 24 responden yang memberikan jawaban yang ditanyakan peneliti.87 maka kegiatan free test sudah menjadi rutinitas bagi guru-guru di SMPN 4 begitu pula dengan sebaliknya. baik bentuk tanya jawab maupun demonstrasi”(27-3-2012). siswa dengan guru. Berkaitan dengan penggunaan model-model pembelajaran. artinya interaksi ini terjadi agar antara guru dan siswa ada proses pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas hidup. yang penting adalah siswa mau dan terus fokus dalam mengikuti pelajaran. sedangkan 7 orang atau 29. diskusi. tanya jawab ini biasanya guru dengan siswa. agar optimal dalam pengajian materi sehingga tercipta pembelajaran PAIKEM demi melahirkan siswa-siswa yang cerdas dan kreatif serta memiliki keimanan karena mereka juga diwajibkan membaca doa atas surah-surah pendek agar mengenal agama mulai dari kecil sesuai dengan hadist bahwa tuntutlah ilmu dan lahir sampai liang lahat. sehingga tidak terasa berjalannya waktu.

Secara umum dapat dianalisis bahwa guru-guru di SMPN 4 Watampone. terlebih lagi jika materi itu harus dijabarkan dalam bentuk perhitungan. mengajar bahasa dengan mengajar IPA memiliki ruang pemahaman yang berbeda. gembira dan berbobot atau yang biasa disingkat PAIKEM GEMBROT. Dalam kegiatan pembelajaran diharapkan guru yang mengajar dapat menerapkan pembelajaran yang aktif. sedangkan IPA lebih menekankan kepada kemampuan anak dalam menguasai dan mengaplikasikan materi. ibu Hamansiah S. Menurutnya. Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional. pada hakekatnya paham dengan apa yang diinginkan oleh MBS untuk jalannya pembelajaran yang pada akhirnya akan menciptakan guru-guru yang kreatif dan diidolakan oleh siswa.Pd. bagaimanapun metode dan model pembelajaran yang coba untuk dijalankan tetap sulit terlaksana. Nurfaigah S. penggunaan model pembelajaran sangat bergantung kepada kondisi psikologis siswa. Ilmu-ilmu pasti membutuhkan ketenangan dan keseriusan. karakteristik mata pelajaran dan kemampuan untuk menjalankan model pembelajaran itu sendiri. model pembelajaran inovatif menjadi sulit. tetapi bagi kelas reguler biasa. Mungkin untuk kelas prestasi model pembelajaran yang inovatif dapat dijalankan. cerdas Intelektual. Dalam MBS.dilakukannya. pembelajaran itu dapat menciptakan manusia-manusia yang berkarakter. Mereka rata-rata berpendapat bahwa: “Ada kelas yang diajar. kondisi yang diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran adalah kondisi Joyfull Learning atau pembelajaran yang menyenangkan.Pd.Pd. Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh guru-guru SMPN 4 watampone. tetapi lebih banyak karena kondisi psikologis siswa yang diajar”(29-3-2012). kreatif. inovatif. . lebih menekankan kepada kemampuan anak memahami kosakata. serta pak Drs Suryadi. Pandangan yang sama juga disampaikan oleh guru matematika yang lainnya seperti ibu A. Jadi persoalannya bukan kepada mampu atau tidak mampu. efektif. sehingga pembelajaran harus lebih didominasi oleh guru. Dan yang paling penting. yang mana bahasa inggris. M. suasana hati guru yang mengajar. menyenangkan.

katanya sambil tertawa”(28-3-2012). Wujud dan penggunaan alat peraga yang menyatakan “ya” menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa alat peraga yang sesuai dengan materi yang dibahas. pembuatan pupuk organik. karena kurangnya bahan/sumber dan kurangnya biaya. Ibu Hj Baraiyyah. kadang ya kadang tidak sebab sulitnya mencari alat peraga yang sesuai dengan materi. Bagaimana mungkin kami memakai alat peraga kalau di bone tidak ada gunung berapi dan bekas kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu budha. Salah satu karakteristik MBS . Sebagaimana yang disampaikan oleh kedua guru tersebut. karena sulit untuk mendapatkan bahan dari materi yang diajarkan seperti batu-batuan yang keluar dari letusan gunung berapi. kami tidak memakai alat peraga. globe. mengatakan bahwa: “Ada saat tertentu kami memakai alat peraga. Senada dengan hasil wawancara diatas yaitu ada materi yang tidak membutuhkan alat peraga seperti masalah pembelajaran pada mata pelajaran sejarah pada rumpun IPS terpadu seperti masuk dan berkembangnya agama hindu dan budha di Indonesia. sudah seharusnya pihak sekolah menyiapkan miniatur atau meminta kepada dinas pendidikan agar segala hal yang berkaitan dengan materi pelajaran sepanjang pengadaannya sulit diadakan di daerah dapat di sediakan langsung oleh pemerintah pusat. misalnya pemanfaatan sampah untuk daur ulang. sistem fermentasi. Tapi adakalanya. apakah itu peta. S. gambargambar pahlawan dan sebagainya jika materi yang diajarkan membutuhkan alat peraga seperti itu. baling-baling kertas memanfaatkan energi angin. termasuk penggunaan buku paket dan buku penunjang yang lainnya. guru yang mengajar bidang studi IPS. dan diupayakan mudah diperoleh dilingkungan sekolah siswa. chart. Sementara hasil wawancara lain yang kontra dengan hasil wawancara sebelumnya menyebutkan bahwa. hanya memberikan gambar/perumpamaan.89 Berkenaan dengan penggunaan alat-alat peraga yang dapat membantu pelaksanaan pembelajaran hampir semua responden menjawab telah menggunakan alatalat peraga baik yang sudah tersedia maupun yang dibuat berdasarkan kreasi siswa.Pd. dan masih banyak lagi yang lainnya.Pd dan ibu Arniyanti S. kerajaan-kerajaan hindu-budha.

selain lebih mudah memasukkan nilainya siswa. Salah satu indikator dari penilaian kinerja guru dalam tataran MBS adalah bagaimana guru mampu menjalankan fungsinya sebagai evaluator. Bagi guru yang melaksanakan ujian secara lisan.2) Apakah penilaian kepada siswa itu dilaksanakan secara obyektif.3) Apakah hasil pekerjaan siswa setiap kali ulangan dikembalikan atau tidak. bahwa mereka telah melaksanakan evaluasi baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan. tetapi hampir semua responden lebih memilih menjawab mereka melaksanakan evaluasi dengan cara tertulis dengan jumlah guru yang melaksanakan ulangan tertulis sebanyak 21 orang atau sekitar 87. Meskipun agak sulit mengontrol siswa yang belum lisan tetapi dapat mengurangi tingkat kecurangan. mereka berpendapat anak-anak menjadi lebih fokus dan sulit untuk saling menyontek. sebanyak 24 responden menjawab ya.adalah bagaimana mengajarkan materi siswa dibawah ke pengalaman langsung supaya mereka dapat memaknai. transparan dan bertanggung jawab. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan.5 persen sedangkan 3 orang atau 12. sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Dra Pancawati dan Ibu Wardana S. menghayati dan merasakan apa yang dipelajari. serta 4) apakah ada kegiatan perbaikan/remedial bagi siswa yang tidak tuntas dan program pengayaan bagi siswa yang dianggap sudah tuntas.Ag: “Bentuk penilaian yang saya lakukan adalah menguji siswa dengan cara lisan. juga mengurangi peluang mereka untuk saling menyontek. bukan hanya sekedar teori belaka.5 persen guru menjawab evaluasi yang dilakukannya dengan cara lisan. Sedangkan guru yang melakukan evaluasi dalam bentuk tulisan mempunyai . Adapun yang menjadi fokus penelitian atas kinerja guru disini adalah:1) Apakah pelaksanaan evaluasi itu dilakukan secara tertulis atau lisan. Jika nilainya dianggap sudah memenuhi kriteria ketuntasan maka tidak perlu dilakukan pengulangan lisan tetapi jika belum maka akan diadakan perbaikan”(29-3-2012).

dan Tuhan Yang Maha Esa. tetapi anak-anak tidak punya kepedulian akan apa yang mereka hasilkan. dan pengawasan yang ketat membuat anak sulit untuk berbuat curang. berbeda dengan ujian lisan yang terkadang memakan waktu yang cukup lama”(29-3-2012).5 persen tidak mengembalikan tetapi hanya menyebutkan nilainya sedangkan 3 responden atau sekitar 12. sebanyak 12 responden menjawab telah mengembalikan ujian kepada siswanya atau sekitar 50 persen. masyarakat. Indikasi ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggungjawab yang teramat . sedang dan kurang sehingga hilanglah angka penilaian disamping itu. hanya menyebutkan nilainya.Siswa juga merasa sangat senang jika hasilnya memuaskan begitupun sebaliknya”(30-3-2012). Pak Munir S. agar siswa diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan dan hasil yang didapat siswa harus di ketahui secara jelas agar menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik. disamping itu apabila tidak dilaksanakan penilaian secara obyektif/ transparan dan bertanggung jawab kita tidak bisa membedakan mana murid pintar. terlebih jika nilai mereka tidak tuntas. 9 responden atau 37. Alasan yang hampir sama juga dikemukakan oleh guru-guru yang tidak mengembalikan pekerjaan siswa yang lebih banyak karena alasan kebersihan. Ibu Harlina S. pasti saya mengembalikan hasil pekerjaan siswa. karena itulah saya malas mengembalikan pekerjaan siswa”(30-3-2012. Rata-rata mereka beranggapan: “Sebelumnya setiap kali ulangan. dikarenakan setiap selesai pemeriksaan ulangan. waktu yang diperlukan juga tidak banyak.91 pandangan lain. pekerjaan siswa dikembalikan agar anak-anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dalam menyerap materi.Pd menyatakan: “evaluasi yang dilakukan dengan bentuk evaluasi tertulis pada setiap akhir pelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang diberikan. Sedangkan ibu Kaerlinda Yusuf. punya alasan lain mengapa setiap kali ujian hasil pekerjaan siswa tidak dikembalikan ujian kepada siswanya. sekaligus pengkoreksian manakala guru keliru dalam memberikan peniaian.Pd mengatakan: “Hal tersebut dilakukan. lebih banyak dirobek atau dibuang secara sembarangan. S.5 persen menjawab tidak karena tidak melaksanakan evaluasi tertulis. Setiap siswa ditanamkan kepercayaan untuk bersikap jujur dan tidak tergantung kepada siapapun.Pd. sehingga dapat dipertanggung jawabkan baik terhadap orang tua. Selain tidak ribut. Mengenai hasil pekerjaan siswa setelah ujian.

semua responden menjawab telah melakukan perbaikan dan pengayaan. agar ada umpan balik . Wawancara lain menyebutkan supaya ada umpan balik antara guru dengan murid guru dengan orang tua dan orang tua dengan anaknya. selain harus disampaikan ke pihak sekolah juga harus di sampaikan ke orang tua siswa agar anak tersebut mendapat perhatian orang tua dalam hal turut membantu di rumah dalam membimbing anaknya sendiri. yang dibuktikan dengan adanya analisis ulangan harian yang didalamnya terdapat progran remedial dan pengayaan. yang tujuannya untuk mengetahui berapa persen pencapaian target penguasaan kurikulum oleh guru yang bersangkutan sekaligus memantau perkembangan belajar siswa. Dengan demikian semua responden sesungguhnya telah memeriksa pekerjaan siswa meskipun bentuk umpan baliknya berbeda.besar dalam memantau hasil belajar peserta didik. Semua itu dilaporkan ke kepala sekolahdan komite agar ada umpan balik baik dari sekolah sendiri maupun dari masyarakat ”(30-3-2012). “Setiap akhir semester ada laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan remedial di sekolah kami. menjaga terjadinya silang pendapat antara guru siswa dan orangtua. Mengenai tindak lanjut dari kegiatan perbaikan yang dilakukan apakah dalam bentuk remedial maupun pengayaan.Meskipun demikian ada 3 responden yang tidak mengembalikan hasil belajar peserta didik dengan alasan ujian yang mereka lakukan dalam bentuk lisan. yang menangani urusan kurikulum dan pengajaran. Menurut Pak Amin. Hal tersebut juga dilakukan agar siswa dapat mengetahui sampai dimana kemampuan menyelesaikan soal. Hal tersebut dilakukan karena siswa dapat puas dengan pekerjaannya dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan ketika menjawab soal-soal serta siswa yang terbelakang diberi tugas yang sejenis. Tetapi itu tidak berarti siswa tidak tahu nilainya karena siswa pun tahu akan nilai hasil ujian lisannya setelah semua selesai lisan. rata-rata guru di SMPN 4 Watampone telah melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan. Sebagaima Hal tersebut diatas maka program yang berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan kepada siswa.

Muh Palesangi MH. agar ada saling pengertian antara kepala sekolah maupun orang tua siswa sehingga prinsip saling mempercayai tetap terpelihara antar warga sekolah. Partisipasi Dalam Perencanaan Sekolah Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian yang menyangkut peran serta masyarakat dalam pelaksanaan MBS terutama yang berkaitan dengan partisipasi dalam perencanaan sekolah. saran dan pertimbangan terhadap rencana pengembangan sekolah.3) Apakah masyarakat diundang dalam rapat komite di sekolah dan 4) Apakah kebijakan sekolah sudah sesuai harapan masyarakat atau belum. sasaran dan Tujuan sekolah. tetapi setelah itu kami sangat jarang diundang untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah. siswa dan orang tua bahwa ada upaya bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan.A.93 antar Kepala Sekolah. Meskipun demikian kami tetap diundang oleh pihak sekolah manakala ada kegiatan yang bersifat ceremonial atau keagamaan”(2-4-2012).Sasaran maupun tujuan telah mengalami perubahan atau tidak. “Kami memang pernah diundang ketika penyusunan RAPBS berapa tahun yang lalu bersama beberapa anggota komite sekolah lainnya. Misi . sebagian besar responden yang diwakili oleh pengurus komite sekolah menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dengan hal-hal yang dimaksud padahal seharusnya sekolah dalam hal ini kepala sekolah sebagai penentu kebijakan mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk dilibatkan aktif dalam perencanaan sekolah. Bapak Drs H. Misi. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa yang menyangkut tentang peranan mereka dalam merumuskan Visi.2) Apakah masyarakat memberikan usul. meliputi:1) Apakah masyarakat dilibatkan dalam merumuskan Visi. Misi.misi. E. Kami tidak tahu apakah Visi. Ketika itu kami sepakat akan visi. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum (1). . Sasaran dan Tujuan.sasaran dan tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 4 watampone. Hal ini didasarkan dari pendapat ketua Komite sekolah.

Seandainya ada kesempatan ketika mereka dilibatkan dalam pengembangan sekolah. kegiatan olahraga di SMPN 4 Watampone tidak dilakukan di dalam sekolah melainkan diluar sekolah. kami juga berharap ada fasilitas internet di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu keluar mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya manakala berkaitan dengan informasi yang sulit didapatkan dalam buku pelajaran”(3-4-2012). Kecuali untuk hal-hal tertentu mereka selalu diundang oleh pihak sekolah. sasaran maupun tujuan sekolah. Begitupun ketika peneliti menanyakan tentang bagaimana peranan masyarakat dalam memberikan usul. misi. informan kunci yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini juga mengatakan jarang sekali dilibatkan. saran dan pertimbangan kepada sekolah dengan alasan usul ataupun saran yang dimasukkan tidak direspon atau . Tapi. Selain membutuhkan biaya. ada juga masyarakat yang acuh tak acuh tidak memberikan usul. misi. kegiatan ekstrakurikuler ditingkatkan. jangan terlalu banyak tugas/ pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak setiap hari agar ada waktunya bermain. juga mengancam keselamatan anak-anak kami dari bahaya kendaraan. saran dan pertimbangan yang sering diberikan oleh masyarakat sesuai dengan hasil wawancara adalah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Junaedi: “Kami sangat menginginkan agar sekolah bisa memiliki lapangan olahraga.Masyarakat jarang sekali dilibatkan dalam perumusan visi. diupayakan anak memiliki buku cetak setiap mata pelajaran. karena menurut anak kami. sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ketua komite sekolah yang menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam perumusan visi. agar anak tidak ngobrol ditempat lain yang tidak bermanfaat. supaya dibenahi/diadakan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/pegawai. diadakan ruang piket siswa bagian depan sekolah dan sebagainya. agar tugas/pekerjaan rumahnya cepat dikerjakan. banyak yang akan mereka usulkan. Adapun usul.. sarana dan prasarana olah raga.saran dan pertimbangan dalam pengembangan sekolah.

termasuk diantaranya pemanfaatan dana BOS. bukan hal yang kami . Persoalan puas atau tidak. Selanjutnya mengacu kepada pertanyaan yang keempat tentang apakah kebijakan yang dibuat sadah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum. ada juga masyarakat yang menyatakan kami selaku orang tua tidak perlu mencampuri urusan kebijakan yang dibuat sekolah karena kami percaya sekolah memiliki orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat kebijakan demi kemajuan sekolah yang artinya penyusunan RAPBS. Dari 24 responden dalam hal ini yang diwakili oleh informan kunci mengatakan kebijakan sekolah yang dibuat tentu didasari oleh pertimbangan pihak sekolah untuk kepentingan siswa dan warga sekolah. program partisipasi komite terhadap program sekolah.95 karena sekolah dianggap kurang perhatian terhadap rencana pengembangan sekolah. rencana kerja. dan kasmawati dan beberapa responden lainnya berpendapat bahwa: “Sekolah pasti sudah punya agenda dan kebijakan yang relevan dengan kemajuan anakanak kami. tidak masuk menjadi pengurus komite sekolah. meminta bantuan untuk meningkatkan mutu pendidikan.. Mardiana. Sejalan dengan hal tersebut. senang atau tidak. ibu masradia. memilih pengurus. Sementara mengacu kepada pertanyaan mengenai kehadiran mereka dalam rapat yang pernah diadakan di sekolah. penyusunan berbagai program sekolah yang akan dibicarakan bersama pengurus komite melalui rapat pengurus komite sekolah dengan dewan guru. tapi ada juga masyarakat tidak terlibat didalamnya. Penyusunan RAPBS. Rapat komite itu sendiri. dari 24 responden sebagai perwakilan komite hampir semua pernah hadir dalam mengikuti rapat komite antara pengurus komite sekolah dengan pihak sekolah. kami percaya sepenuhnya akan kebijakan yang dibuat dan sudah pasti kami bisa menerima. menurut wawancara dengan responden isinya menyangkut berbagai kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh sekolah.

Menurut bapak Drs Syahruddin M. menurut hasil wawancara.5 persen sedangkan yang menyatakan “tidak” sebanyak 15 orang atau dengan Persentase 62. Ini semua disebabkan karena pendekatan yang dilakukan oleh ketua komite”(4-4-2012).permasalahkan”(5-4-2012) (2). dan pengadaan ruang piket siswa bagian depan sekolah. membantu menyusun proposal Life Skill. masalah keamanan.Pd: “Kebanyakan masyarakat tidak ikut terlibat aktif dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga karena kurangnya informasi yang disampaikan pihak sekolah kepada mereka. Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden tentang pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah menunjukkan jumlah responden yang menjawab “ya” untuk ikut serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan . tidak masuk pengurus komite sekolah tidak pernah dimintai untuk memberikan pemikiran oleh sekolah itu. Sedangkan yang tidak memberikan pemikiran. Meskipun demikian ketidakterlibatan masyarakat dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga tidak mempengaruhi mereka untuk tetap berpartisipasi aktif. Partisipasi Dalam Perencanaan Program Sekolah Adapun yang menjadi fokus pengkajian dalam partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah meliputi (1) Sumbangan pemikiran dan tenaga (2) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah. Sumbangan Pemikiran yang diberikan menurut hasil wawancara adalah kebersihan sekolah. karena kurangnya komunikasi antara masyarakat dengan kepala sekolah. penataan sarana dan prasarana sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan responden sebanyak 9 responden menyatakan “ya” dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga atau dengan Persentase 37. perbaikan lingkungan. padahal orang tua siswa banyak yang sangat potensial untuk memberikan gagasan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan.5persen. pengadaan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/karyawan.

Selanjutnya. Mallaloang SH” “Masyarakat banyak yang tidak berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan program sekolah karena lebih mempercayakan kepada pengurus komite yang dianggap dapat mewakili semua kepentingan mereka. supervisor. Menurut bapak A. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja kepala sekolah dimana kewenangan yang tinggi terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti: kepala sekolah sebagai educator. Bahkan orangtua siswa sudah mempercayai peranan komite sebagai wakil dari orang tua di sekolah. dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah unsur masyarakat dipandang sebagai unsur yang penting mendukung keberhasilan sekolah (Stakeholder) olehnya itu upaya keterlibatan masyarakat dalam organisasi sekolah telah dilembagakan .83persen. Kedua faktor tersebut yaitu tingkat pendidikan dan golongan signifikan dengan kematangan/pengalaman bagi profesi sebagai guru. berdasarkan hasil penelitian dapat berjalan lebih baik. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan orientasi mewujudkan pendidikan yang bermutu tinggi. innovator dan motivator. maka diperlukan sumber daya bermutu tinggi pula. administrator. Berdasarkan temuan pada lokasi penelitian bahwa kualitas sumber daya pendidikan dimana kualitas guru dapat dilihat berdasarkan golongan berada pada kategori tinggi yaitu diatas 50 persen golongan tiga dan tingkat pendidikan mayoritas guru sudah berada pada jenjang pendidikan strata satu sementara upaya guru dan pihak sekolah terhadap peningkatan kualitas guru masih terus dilaksanakan. leader. manajer. karena tidak menjadi pengurus komite.97 program sekolah sebanyak 7 orang atau dengan Persentase 29. Ketidakaktifan masyarakat untuk melakukan pengawasan disebabkan karena faktor kesibukan. karena program dan kebijakan tidak disampaikan secara tertulis kepada mereka”(5-4-2012).17 persen sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 17 orang atau dengan Persentase sebesar 70.

Berdasarkan temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi masyarakat lebih banyak ditentukan oleh berbagai faktor-faktor seperti tingkat pendidikan. hal ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pemikiran dalam rangka pengembangan sekolah terdapat kecenderungan diwarnai oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Pemberdayaan masyarakat terhadap organisasi sekolah baik dalam fungsinya sebagai pengawasan pengelolaan dan pengembangan sekolah juga partisipasi mereka secara material. Dan faktor latar pekerjaan berkaitan dengan waktu dan kesempatan yang berbeda-beda signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat berperan aktif dalam komite sekolah. Menurut pengamatan peneliti bahwa tingkat pendidikan masyarakat signifikan dengan tingkat partisipasi mereka. baik kehadiran pada pertemuan rutin maupun gagasan dan pemikiran terhadap pengembangan sekolah.dalam bentuk komite sekolah. menyangkut hal berkaitan dengan sumbangan material secara umum juga tidak menunjukkan perbedaan yang menjolok. Sedang tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda tidak menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat yang menjolok. Menurut keterangan dan salah seorang responden yang berprofesi sebagai . hasil penelitian menunjukkan bahwa dan ketiga jenis pekerjaan yang dianalisis keterlibatan pensiunan dan profesi wiraswasta menduduki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri sipil. tingkat pendapatan dan jenis pekerjaan. Tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan masyarakat berinteraksi dengan organisasi sekolah mengakibatkan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda terhadap pengetahuan berlembaga (komite sekolah).

kedua kinerja guru dalam proses belajar mengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik sebagai sasaran pendidikan dan ketiga sumber daya masyarakat yang berhubungan dengan unsur pendukung (stakeholder) dalam upaya pengembangan sekolah. Selanjutnya bahwa dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah ketiga unsur disebutkan sebelumnya yaitu. Kinerja kepala sekolah Kinerja kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan model manajemen yang diterapkan pengembangan modal manajemen berbasis sekolah yang relatif masih baru memperlihatkan hasil cukup memuaskan terhadap kinerja kepala sekolah. namun banyak faktor yang menghambat mereka dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. bahwa keterbukaan pihak pengelola sekolah terhadap program-program yang direncanakan memberikan informasi kepada masyarakat baik sebagai orang tua murid maupun masyarakat sebagai bagian dari lingkungan sekolah memberikan kesempatan bagi pihak wiraswasta berperan serta dalam mendukung pengembangan sekolah. pertama optimalisasi kinerja kepala sekolah yang memegang peranan penting terhadap keberhasilan sekolah. Olehnya itu melalui manajemen berbasis sekolah para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan secara . Peran Kepala Sekolah di mana sebelumnya harus mengikuti petunjuk dan instansi vertikal sampai pada masalah-masalah teknis kini telah mengalami perubahan-perubahan mendasar dengan reorientasi pada kemandirian sekolah di mana kewenangan disertai dengan tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya sekolah. Pada dasarnya Kepala Sekolah memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi dan meningkatkan kinerja. Untuk lebih jelasnya ketiga unsur tersebut akan dibahas secara rinci sebagai berikut: 1.99 wiraswasta.

mengetahui bahwa sekolah sebagai suatu organisasi . Selanjutnya.kontinu dan berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap para guru dan personil pendidikan lain di sekolah. sumber-sumber fisik dan finansial serta menjalin hubungan kerjasama masyarakat yang dinilai berjalan cukup baik. seperti Manajemen Berbasis Sekolah. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus memenuhi fungsi dasar kepala sekolah. walaupun dalam hubungan dengan fungsi tersebut kepala sekolah pada umumnya lebih menekankan aspek manajerial dan kepemimpinan. administrasi kepegawaian dan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula berjalan dengan baik. Berkaitan dengan hal tersebut dalam rangka mengimplementasikan paradigma pendidikan baru. dan kompetensi tersebut sudah merupakan persyaratan sebagai jabatan kepala sekolah. administrasi kesiswaan. Dalam hal ini kepala sekolah menggunakan prinsip pengembangan dan pendayagunaan organisasi secara kooperatif dan aktivitas melibatkan keseluruhan personil dan sumber daya masyarakat sekitar. yakni program instruksional. Pemahaman terhadap berbagai undang-undang pendidikan/ peraturan sekolah berdampak pada peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah dalam pengembangan program. Program pembinaan guru dan personil pendidikan tersebut yang lazim disebut supervisi pendidikan rangkaian kegiatan sebagai suatu manajemen pendidikan di mana peran kepala sekolah sebagai supervisi pendidikan memperlihatkan hasil cukup memuaskan. Kompetensi Kepala Sekolah diperoleh melalui pendidikan/latihan yang mengandung muatan akademik/ teoritik dan praktik sangat mendukung kinerja kepala sekolah yang bersifat rasional dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. kepegawaian kesiswaan. kurikulum atau pengajaran. administrasi perlengkapan administrasi keuangan.

inisiatif kepala sekolah dalam menyesuaikan sumber daya sekolah. 2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. lancar. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. sebab bagaimanapun orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi selalu melihat hubungan antara usaha/kegiatan dengan hasil yang diperoleh. Kinerja kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: 1. Sedang kepala sekolah sebagai motivator lebih cenderung masih kurang profesional terhadap berbagai tugastugas di luar jam kerja guru dengan secara finansial. Kinerja guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kualitas sumber daya guru secara nyata dapat dilihat pada bagaimana proses pendidikan itu berlangsung dengan baik sehingga output pendidikan dapat secara maksimal dicapai. staf. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. 5. Dalam kaitannya dengan penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan . kepala sekolah dan siswa kepala sekolah sebagai pemimpin pemegang tugas kelembagaan dan pencapaian tujuan organisasi sekolah. 4. dan produktif. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. 3.101 pendidikan formal merupakan wadah kerjasama sekelompok orang yang terdiri atas guru. pengorganisasian aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran dilakukan melalui suatu tim kerja. Bekerja dengan tim manajemen 2.

Proses Belajar Mengajar. Proses Belajar Mengajar merupakan input pendidikan yang menentukan output pendidikan yang berkualitas yang sangat berkaitan dengan unsurunsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran, evaluasi dan analisis hasil belajar siswa, serta program perbaikan/pengayaan. Dalam hubungannya dengan penelitian ini dilihat sebagai aspek utama dalam rangka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi, evaluasi dan analisa, secara umum berada dalam kategori tinggi. Sedangkan unsur perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah. Tingginya penilaian responden terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar ditunjukkan oleh keterangan salah seorang guru bahwa selama ini perumusan materi pengajaran lebih banyak bersifat konseptual, dan rancangan tersebut memberikan kewenangan penuh kepada guru. Dengan demikian, sehingga proses belajar mengajar guru yang sebelumnya bersifat subyektif terhadap murid, sekarang dituntut lebih aktif menemukan metode-metode yang sesuai, seperti perkembangan kejiwaan anak. Dengan otonomi guru yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar menciptakan iklim yang kondusif terhadap organisasi sekolah, di mana bahwa hubungan antar sesama guru, antar guru dengan pimpinan sekolah lebih banyak bersifat pelaporan dan koordinasi mengenai hasil yang dicapai.Tingginya penilaian terhadap responden terhadap proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut: a. Kelengkapan program pengajaran Program pengajaran bagi guru dalam menggunakan silabus secara

103 berkesinambungan mulai pada tahap penyusunan sampai pada tahap pelaksanaan pengajaran di kelas sehingga murid sebagai sasaran pengajaran menerima materi secara sistematis. Demikian pula kelengkapan administrasi guru mengajar di kelas seperti absen, buku paket/buku penunjang, buku keterampilan dan buku nilai harian yang setiap saat guru dapat menggunakan sebagai bahan evaluasi sementara dalam kelas untuk melihat dan memahami perkembangan kemampuan belajar peserta didik. Faktor lain yang sangat signifikan dimana proses belajar mengajar berlangsung dengan baik ditunjang dengan infrastruktur sekolah yang cukup memadai seperti ruang belajar, perpustakaan dan fasilitas-fasilitas ekstra kurikuler seperti alat-alat kesenian dan olahraga. Hal ini akan menunjang siswa belajar kreatif dan innovatif pada jenjang sekolah menengah pertama. b. Penyajian materi pelajaran. Penyajian materi pelajaran merupakan unsur pokok dalam proses belajar mengajar di mana unsur berkaitan langsung guru berinteraksi dengan peserta didik dalam kelas, olehnya itu disamping guru menguasai materi pelajaran juga memiliki kemampuan dalam mentrasformasi materi baik dalam fungsinya berperan utama sebagai media maupun sebagai motivator dalam penyajian materi pelajaran di kelas. Dalam strategi belajar dan pembelajaran guru mampu memahami dan mengelola kelas dalam pengertian bahwa penyajian materi pelajar tidak kaku atau fleksibel (infrovisasi) sehingga respon peserta didik berkesan menyenangkan menerima materi pelajaran. Guru diperkaya dengan penggunaan berbagai metode seperti diskusi, tanya jawab ceramah, demonstrasi (disertai alat peraga/alat bantu), digunakan secara terpadu komperatif dalam penyajian mata pelajaran. c. Unsur evaluasi dan analisis hasil belajar siswa

Berkaitan dengan evaluasi dan analisis hasil belajar terhadap kesinambungan dan berbagai kegiatan proses belajar mengajar dimana guru bersikap obyektif, transparan dan bertanggung jawab sehingga hasil belajar yang diperoleh murid merupakan data pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk perbaikan dimasa akan datang. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala, teratur serta pembukuan hasilnya sampai pada tahap pelaporan hasil evaluasi murid setiap semester yang akan digunakan baik untuk kebutuhan internal sekolah sekaligus sebagai bahan laporan pendidikan. d. Program perbaikan dan pengayaan Berdasarkan temuan penelitian bahwa program perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah, walaupun rancangan program perbaikan dan pengayaan dimiliki oleh setiap guru namun pada tingkat pelaksanaannya hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru. Menurut pengamatan peneliti bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya berjalan, diakibatkan pada dua hal yaitu prestasi keseluruhan murid memperlihatkan hasil yang memuaskan, sehingga guru cukup merasa puas dengan prestasi anak didik mereka. Dari program perbaikan dan pengayaan berkaitan dengan anggaran yang disediakan masih relatif rendah serta keterbatasan waktu oleh guru. Seorang guru memberikan keterangan dan hasil wawancara peneliti program perbaikan dan pengayaan tidak dapat dilaksanakan dengan baik dimana anggaran yang disediakan tidak cukup memadai padahal waktu yang digunakan untuk memberikan materi pengulangan cukup lama dan juga menggunakan biaya pembuatan materi. Berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru beranggapan hanya ditujukan kepada murid yang kurang berprestasi, pada hal sasaran utama program perbaikan dan pengayaan adalah pendalaman materi pelajaran kepada murid secara keseluruhan.

Berdasarkan hasil penelitian keempat unsur tersebut. . sasaran. pemahaman masing-masing masyarakat yang duduk pada organisasi komite sekolah yang relatif masih baru ini. saran dan pendapat yang dominan mewarnai rapat-rapat antara komite dan pihak pengelolah sekolah sedang pada tingkat pengambilan keputusan masih sering terjadi salah pengertian. visi. transparansi terhadap proses pelaksanaan pendidikan. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat yang dilembagakan dalam bentuk komite sekolah untuk menjamin akan adanya akuntabilitas. monitoring sampai pada tingkat evaluasi hasil yang dicapai. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah Keterlibatan peran serta masyarakat dalam perencanaan sekolah pada kegiatan yang bersifat akademik. yaitu peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah berada dalam kategori sedang. dan unsur yang lain yaitu peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi tergolong sangat rendah ketiga unsur tersebut akan dibahas pada bahagian berikut: a. Hanya jika hal itu bersifat usul. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya peran serta masyarakat pada kegiatan-kegiatan seperti perumusan misi. pelaksanaan program. belum ada persepsi yang sama dan tugas masing-masing masih cenderung tumpang tindih dan masyarakat lebih terkonsentrasi kepada masalah-masalah pengelolaan anggaran sekolah. Menurut keterangan seorang kepala sekolah. Olehnya itu masyarakat sebagai stekhoulder sekolah dituntut keterlibatannya mulai pada tahap perencanaan program.105 3.

Hal ini dapat dilihat pada konteks perumusan misi. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah. visi. pengadaan sarana/prasarana sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekolah seperti pembangunan pagar dan pembangunan sarana lainnya berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori tinggi. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah belum menunjukkan peran serta masyarakat yang berarti.Menurut pengamatan peneliti bahwa masyarakat belum dapat menempatkan diri sepenuhnya sebagai mitra yang diperlukan oleh pengelola sekolah sampai pada tahap perencanaan program sekolah. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah seperti pemberian sumbangan tenaga. sasaran. b. masih terdapat anggapan bahwa masyarakat hanya berfungsi sebagai donatur dalam rangka pembangunan sekolah. Pada kegiatan ekstrakurikuler seperti pekan olahraga dan kesenian dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. materi/uang. Seorang kepala sekolah memberikan keterangan berdasarkan hasil wawancara peneliti bahwa dukungan dana masyarakat diluar dan sumbangan komite (sumbangan sukarela) sangat bermanfaat membantu memperkuat pos-pos anggaran yang masih memerlukan dana tambahan secara terus menerus seperti pergantian dan penambahan alat peraga . dukungan masyarakat tetap ada untuk dapat meringankan anggaran program sekolah lebih efektif membiayai yang lebih penting. Peran serta masyarakat mendukung material pembangunan sekolah yang disponsori melalui komite sekolah termasuk sumbangan secara sukarela cukup besar namun di dalam pembiayaan operasional sekolah/rutin siswa bagi mereka yang kurang mampu dibiayai oleh Dana BOS (Dana bantuan Operasional) Sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan program-program sekolah masih berada dalam kategori rendah. Memantau perkembangan sekolah belum merupakan perhatian khusus bagi masyarakat baik yang bersifat non fisik seperti pengawasan proses belajar mengajar/perkembangan prestasi anak didik di sekolah maupun yang bersifat fisik seperti bantuan pembangunan dan peralatan sekolah. Jikapun temuan penelitian sebelumnya bahwa tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi secara material dalam sumbangan pembangunan sekolah. Tidak ada penguraian secara rinci sebagai bahan evaluasi organisasi dan komite sekolah walaupun laporan pertanggung jawaban setiap kegiatan tetap ada dan pihak pengelola sekolah dan tidak pernah mendapat tanggapan yang serius baik dan komite sekolah maupun anggota . namun pada tingkat pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengadaannya peran serta masyarakat masih sangat minim. Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi sekolah Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi merupakan hal yang prinsipil dalam pelaksanaan pengawasan program sekolah sebagai hasil kebijakan yang telah diputuskan secara bersama baik bagi pihak pengelola sekolah maupun masyarakat secara khusus sebagai perwakilan masyarakat yang berada dalam komite sekolah (dewan sekolah). Hal tersebut dikemukakan oleh seorang responden sebagai anggota dalam organisasi komite sekolah: bahwa masyarakat memang mempunyai tingkat partisipasi yang tinggi secara material terhadap pembangunan sekolah tetapi sangat jarang masyarakat mempersoalkan bagaimana alokasi dana tersebut disalurkan. c.107 sekolah yang berkembang terus menerus sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . b. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Implementasi MBS 1. a. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi . potensi sumber daya manusia. baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. baik secara konvensional maupun movatif.baik faktor internal maupun eksternal. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. organisasi formal dan internal. pada tanggal 2 Mei 2002 c. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. Faktor Pendukung Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan.masyarakat yang hadir setiap pertemuan. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. A.

terutama yang berada di lingkungan Sekolah. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. f. Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas .109 nyata di Sekolah. Forum Peduli Guru (FPG). Dewan Pendidikan. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. Potensi Kepala Sekolah. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. Kelompok Kerja guru (KKG). Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. d. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. e. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. KKM. dan Komite Sekolah. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. h. 2002. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. program yang mendukung implementasi. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Dalam pada itu. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. rencana yang rinci dan sistematis. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari .pendidikan nasional g.

serta tingkat penghayatan. d. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. b. Dukungan pemerintah. 2. Kepemimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. c. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang .111 a. Tidak Berminat Untuk Terlibat. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. Profesionalisme. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Faktor Penghambat Beberapa hambatan yang dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan Manajemen Berbasis sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus yang dapat dianalisis adalah sebagai berikut: 1. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat.

Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas. kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Pikiran Kelompok. Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini.menurut mereka hanya menambah beban. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. komunikasi. para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok. 3. bukan pada hal-hal lain di luar itu. 2. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. 4. Di sisi lain. Tidak Efisien. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya. pengambilan keputusan. Setelah beberapa saat bersama. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. dan sebagainya . Memerlukan Pelatihan.

mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS.113 5. Berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang dikemukan diatas maka ada beberapa Strategi yang dapat diterapkan diterapkan di SMP Negeri 4 Khusus untuk . Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Selain itu. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. dan pada level mana dalam organisasi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. Tanpa itu. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Kesulitan Koordinasi. Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. 6. semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi. oleh siapa.Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru. kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah.

Dengan kata lain. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. leaflet. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah.Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi.meningkatakan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS yaitu : 1. . Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. 2. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. dan akuntabel. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. transparan. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. 3. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah.

Kinerja guru dilihat dari empat aspek yang dinilai yakni kelengkapan program mengajar guru. dukungan dana yang besar yang dapat . leader. Adapun faktor pendukung diterapkannya manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Watampone antara lain: adanya kerjasama antara kepala sekolah dengan semua pihak-pihak yang ada di sekolah.115 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Dari empat aspek tersebut secara khusus pada program perbaikan dan pengayaan masih terdapat kelemahan-kelemahan seperti penyusunan tes dan materi berulang-ulang pada masing-masing sekolah. perumusan misi. administrator supervisor. Kesimpulan 121 Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum diperoleh gambaran sebagai berikut: 1. inovator dan motivator berjalan maksimal. 2. hal mana menunjukkan bahwa tingkat kreatifitas guru menyusun materi masih sangat terbatas. penyajian materi pelajaran evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan. 3. 4. manajer. Kinerja kepala sekolah terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti kepala sekolah sebagai edukator. Partisipasi masyarakat terhadap pihak pengelola sekolah belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik diakibatkan oleh rendahnya kemampuan akademik masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik seperti. visi dalam perencanaan dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan pengelolaan sekolah.

Lebih memberikan peluang lebih nyata kepada wakil masyarakat dalam komite sekolah untuk lebih optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara teknis maupun secara konseptual sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara total. 2. sedang yang termasuk faktor penghambat manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus antara lain: Transparansi dan akuntabilitas kepala sekolah belum bersifat terbuka terutama dalam pemanfaatan dana. Saran 1.membiayai berbagai kegiatan baik ekstra maupun intra. Pihak pengelola sekolah perlu melakukan transformasi akademik secara intens dengan masyarakat secara kelembagaan melalui organisasi komite sekolah sehingga pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab keberhasilan sekolah dapat berjalan maksimal. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi lebih profesional sesuai perkembangan tuntutan pendidikan maka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang lebih mengedepankan kemandirian pengelolaan sekolah maka pengembangan tugas dan tanggung jawab guru menjadi suatu kebutuhan mendesak dengan terus memberikan pendidikan dan latihan atau bentuk kegiatan lainnya dalam rangka pengembangan profesionalisme guru. . serta banyaknya peserta didik dengan berbagai karakter menyulitkan untuk pelaksanaan MBS B. 3. wilayah sekolah yang sempit tidak seimbang dengan jumlah siswa yang teramat banyak lebih dari 1000 siswa. kemampuan manajemen tenaga administratif sangat membantu kegiatan ketatausahaan. masih ada guru yang bersifat acuh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. kemampuan akademik dan manajerial para pendidik sangat menunjang dalam proses pembelajaran.

menengah dan lanjutan diharapkan kepada peneliti lain dapat melakukan pengkajian secara mendalam pada dimensi lain dalam MBS. analisis serta pengkajian data dan informasi perlu dilakukan secara terus menerus dan mendalam agar setiap unit kerja di sekolah dapat melaksanakan MBS yang efisien. Hendaknya dalam meningkatkan efisiensi MBS. 5. DAFTAR PUSTAKA .117 mencerminkan demokratisasi di bidang pendidikan. sehingga pelaksanaan MBS tidak lagi menemui kendala di lapangan. 4. Agar analisis pengimplementasian MBS menjadi lebih sempurna pada sekolah tingkat dasar.

Reza Aulia. Edward. 1987. 1996. Supriadi dan Dedi. Malang : UNM Danuredjo. (Terjemahan Ahli Bahasa Basillius Bengoteku). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Fattah. Konsep & Pelaksanaan. 1998. 1979. Wayang. William N. ICW. Dunn. M. Cet ke-12. B. 26) Jakarta : Badan penelitian dan Pengembangan Depdiknas. 2000. Said Zainal. 2001. Yogyakarta : Adi Cita. Koesoemahatmadja. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Gajah Mada University Press Fatah. Ujung Pandang Lembaga Penelitian IKP Ujung Pandang. Bandung Pustaka Bani Quraisy. Jakarta. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama. Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Desentralisasi Manajemen Pendidikan. 2006. Suatu Pendekatan Praktek. 2003. Desentralisasi Pengajaran. Jogjakarta. 2000. Ali. Remaja Rosdakarya Fiske. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Imron . 2004 Burhanuddin. Kebijakan Publik. Bandung : PT. Idrus. 2002. Djaali dan Rahman Asfah. Jakarta : Media Sarana Press Abidin. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. Suara Bebas Abustam. Kalster. 2002 Prosedur Penelitian: Jakarta:Rineka Cipta. Berkepanjangan. Arikunto. Depdiknas. Jakarta : Penerbit Laras Depdiknas. Bastian. Jakarta: Grasindo. 1995. Suharsimi. Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan di Daerah di . Nanang. 2001 MPMBS. Otonomi Pendidikan.Abdurrahman. 2006. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Oktober No. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Kebijakan Pendiikan Indonesia. Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Fasli. Hasbullah. Otonomi Indonesia Ditinjau dalam Rangka Kedaulatan. Jakarta Depdiknas. 2001. Nanang. 1977. 1998. 2003 Konsep Management Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara Jalal. Reformasi Pendidikan.

Konseptual danKemungkinan Strategi Pelaksanaan. 2002. 1990. Ali. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Desentralisasi Tanpa Revolusi. Organizing for High Performance. M. Slamet PH. Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Otonomi Daerah. 2007. Riant. Bandung : Binacipta Lexy J. 2000. Depdiknas RI. LPMP Rutmini dan Juyono. W. 2000. AH. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta. Yogyakarta. Remaja Rosdakarya. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Manajemen Peserta Didik. Manajemen Berbasis Sekolah. Djati. Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Malang: Wineka Media Mantja. dan Imron.119 Indonesia. 2000. Jakarta: Bumi Aksara. . Moleong. Jakarta : Penerbit Endang Sidi Indra. Jakarta Rineka Cipta Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). Strategi dan Implementasi) cetakan ketigabelas. Strategi dan Implementasi) Bandung: PT. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. 1963. Otonomi dan Daerah Otonom. Bandung: PPS UPI. 1995. Mantja. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. 2001. Aris. Mulyasa. Mulyasa. S. 2011. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. D. Syarif. Nasution. Saleh. Buku Penuntun Membuat Tesis. Skripsi Disertasi Makalah. 1998. Muhdi. Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. S dan Thomas. W. Malang. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. School-Based Management. 1993. Bandung: PT. Depdikbud Mardalis. 2004 Teori dan Praktek Bandung: Rosda Pongtuluran. E. Manajemen Berbasis Sekolah. Kebijakan Organisasi dan Pengambilan Keputusan Manajerial. E. 1999. Remaja Rosdakarya. 2004. Jakarta : PT Elex Media Computindo Nurkholis. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nugroho. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Pustaka Fahima. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Jakarta . 1993 Metodologi Research Jilid I. Jakarta: Rajawali Tilaar H. 2000. School Based Management. Rineka Cipta Thoha. Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan di Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya Jakarta Depdikbud. Efektivitas Kebijakan Pendidikan. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah. Undang-Undang No.R. 1995. 22 Tahun 1999. Yogyakarta: Kanisius Suryono. Bedjo. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Yoyon. 1989. Paul. Uno. Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. 2002. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Rineka Cipta. Zamroni. D. SJ. Depdiknas RI Sujanto. 2008. . (2005). FIP UNY Sutrisno Hadi. Arah Kebijakan Otonomi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan. Miftah.A.2006.Jogjakarta. Jakarta: PT Bumi Aksara Wayong J. Jakarta:Penerbit Djambatan Zamroni. Tentang Otonomi Daerah.A. Teori Motivasi dan Pengukurannya.Slamet PH. 2010. Jakarta Sinar Grafika. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta. 2002. Yogyakarta. 1979. Amidjaja. Undang-Undang No. B. 2 Tahun 1989. (2008). Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Suparno. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Membenahi Pendidikan Nasional. Reformasi Pendidikan (Sebuah Rekomendasi). 2000. Jakarta Sinar Grafika. Umiarso dan Imam Gojali. Hamzah. Yogyakarta Bigraf Publising. Tisna. Syafaruddin.

121 JUDUL Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum .

dan dokumentasi. penyajian materi pelajaran. Dalam MBS. Secara filosofis sekolah yang lebih memahami bagaimana situasi atau kondisi sekolah serta harapan apa yang akan dicapai. supervisor. Kata kunci : implementasi. administrator. bahwa kinerja guru dinilai melalui aspek-aspek seperti kelengkapan program mengajar. evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan dan Ketiga. visi dalam perencanaan dan pengawasan. ada tiga faktor sebagai penyebab mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. perumusan misi. Kedua. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan. Penelitian ini ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Dari studi langsung di lapangan. kinerja guru dan peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Hasil penelitian dari tiga unsur pokok menunjukkan. v ABSTRACT . dan menyenangkan (PAKEM) dan peran serta masyarakat (PSM). penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik. wawancara. sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah. Wakil kepala sekolah. dan peran serta masyarakat terutama orang tua hanya terbatas pada dukungan dana. Managemen Berbasis Sekolah. Ketiga faktor itu antara lain bahwa kebijakan pendidikan kurang memperhatikan proses pendidikan. Pertama. Hal tersebut lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kemampuan masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti. pengurus komite sekolah. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriftif kualitatif. Dengan adanya manajemen berbasis sekolah ini memberikan kewenangan sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. dan motivator dapat berjalan cukup baik. bahwa partisipasi masyarakat belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik dengan pihak pengelola sekolah. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan dari kepala sekolah. pemimpin. Fokus penelitian MBS di SMP Negeri 4 adalah untuk mengetahui implementasi MBS dari pihak manajemen sekolah dalam hal ini kenerja kepala sekolah. bahwa pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilihat dari kinerja kepala sekolah berbagai tugas dan fungsinya seperti sebagai manajer. dikelola masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat. Tujuan progam MBS adalah peningkatan mutu pendidikan yang meliputi manajemen sekolah. pembelajaran aktif kreatif efektif. atas inisiatif masyarakat. guru.ABSTRAK Manajemen berbasis sekolah merupakan usaha untuk menumbuhkan pendidikan dari bawah. kebijakan. iv innovator. yakni berakar dari masyarakat. serta tata usaha. termasuk faktor pendukung dan faktor penghambatnya.

and fun (Active Learning) and community (PSM). vision in the planning and supervision. Of studies in the field. effective creative active learning. MBS research focus in at SMP Negeri 4 Khusus is to investigate the implementation of MBS from management in this kenerja school principal. the roots of the community. managed for the benefit of the community and society. Second. that the lack of attention to education policy education process. that public participation has not been fully demonstrated good cooperation with the school management. presentation of subject matter. interviews.vi 123 School based management is an effort to foster the education of. The results of three main elements indicate. leader. among others. teachers. including the factors supporting and inhibiting factors. school based management. that the implementation of school-based management be seen from the performance of the principal tasks and functions such as a manager. This study aims to gather information about the implementation of school based management at SMP Negeri 4 Khusus. and the role of the community especially the elderly is limited to financial support. teacher performance and community participation in improving the quality of education. These three factors. policy. In MBS. supervisor. and documentation. the community initiative. This study is classified as a descriptive qualitative research. including school management. It is more often caused by poor ability to organize the community (school committee) so it has limited participation in such activities. MBS program goal is to improve the quality of education. first. evaluation and analysis of student learning outcomes and program improvement and enrichment and Third. that assessed the performance of teachers through such aspects as completeness of the teaching program. DAFTAR ISI Halaman . The main data sources are the words and actions of principals. In philosophical schools better understand how the situation or condition of the school and what expectations will be achieved. education is centralized. vice principals. innovator. Keywords: implementation.Techniques in exploring the data is through observation. administrator. With a school-based management gives schools the authority to develop the potential of the institution concerned. the formulation of the mission. there are three factors as the cause of the quality of education does not increase uniformly. the school has greater authority in managing the school. and can run pretty good motivator. administrators of the school committee and administration.

............................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................... 21 34 35 48 F..... Manajemen Berbasis Sekolah ...................................................... HALAMAN PENGESAHAN .............. Manfaat Penelitian ....................................................................................................... PRAKATA .................... Manajemen Pendidikan ......................... Rumusan Masalah ............................. 49 51 52 ........................................................ Partisipasi Masyarakat ...................... i ii iii v vi vii ix x 1 1 8 8 8 10 10 B............ C........................................... ABSTRACT ....................................... A..................................................... C.. DAFTAR ISI ............ D............... H.............................................. DAFTAR TABEL ................................................................................................. D................ Kinerja Kepala Sekolah .............................................. E.............. G........................................................................vii HALAMAN SAMPUL .... Latar Belakang Masalah ........ Desentralisasi Pendidikan............... Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar ..................................................... Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas .. BAB I PENDAHULUAN ............ Kerangka Pikir ..................................................................................... Tujuan Penelitian . B.................................. ABSTRAK ...... A...........................

................................................................. Jenis dan Lokasi Penelitian ............... B................................................................ C.......................................... 67 C... 70. 56 56 56 58 58 59 60 62 64 ..................................... F.......................................................... D.............. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone.................................................................. Defenisi Operasional Variabel.............................. Responden Masyarakat .... A.................. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................. E............................... Populasi dan Sampel ..... A............................... 86 E....... Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. 64 B......................................... Metode Pengumpulan Data ...................................................................... Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum................................................................................................. Teknik Analisis Data .. Instrumen Penelitian ........................ Identitas Responden ........... Variabel Penelitian ........................................................125 BAB III METODE PENELITIAN ....... 98 F....... D............................................................................................................ G............................. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi MBS di SMP Negeri 4 Khusus ...............

.. Tabel 4............................................................4.............................. 68 Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan...... Tabel 4............................ Tabel 4. 69 Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan.. Tabel 4... 113 121 121 122 DAFTAR PUSTAKA .. Tabel 4........BAB V viii KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN ....................2..................................................................... A.......... 124 DAFTAR TABEL Tabel 4......................................... 69 ......... Saran-saran ............................... Kesimpulan ............ 65 Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan............... B.......................5...........................6.........3..1..... Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan................. 64 Penyebaran responden guru menurut kelompok umur.... 66 Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan.

...........................ix 127 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.......... 55 x ............................1 Sketsa Kerangka Pikir .

Related Interests