1

Tingkat respons atas bencana. Akan menentukan petugas dan sarana apa yang diperlukan ditempat kejadian : Respons Tingkat I : Bencana terbatas yang dapat dikelola oleh petugas sistim gawat darurat dan penyelamat lokal tanpa memerlukan bantuan dari luar organisasi. Respons Tingkat II : Bencana yang melebihi atau sangat membebani petugas sistim gawat darurat dan penyelamat lokal hingga membutuhkan pendukung sejenis serta koordinasi antar instansi. Khas dengan banyaknya jumlah korban. Respons Tingkat III : Bencana yang melebihi kemampuan sumber sistim gawat darurat dan penyelamat baik lokal atau regional. Korban yang tersebar pada banyak lokasi sering terjadi. Diperlukan koordinasi luas antar instansi. TRIASE. Triase adalah proses khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera atau penyakit (berdasarkan yang paling mungkin akan mengalami perburukan klinis segera) untuk menentukan prioritas perawatan gawat darurat medik serta prioritas transportasi (berdasarkan ketersediaan sarana untuk tindakan). Artinya memilih berdasar prioritas atau penyebab ancaman hidup. Tindakan ini berdasarkan prioritas ABCDE yang merupakan proses yang sinambung sepanjang pengelolaan gawat darurat medik. Proses triase inisial harus dilakukan oleh petugas pertama yang tiba / berada ditempat dan tindakan ini harus dinilai ulang terus menerus karena status triase pasien dapat berubah. Bila kondisi memburuk atau membaik, lakukan retriase. Triase harus mencatat tanda vital, perjalanan penyakit pra RS, mekanisme cedera, usia, dan keadaan yang diketahui atau diduga membawa maut. Temuan yang mengharuskan peningkatan pelayanan antaranya cedera multipel, usia ekstrim, cedera neurologis berat, tanda vital tidak stabil, dan kelainan jatung-paru yang diderita sebelumnya. Survei primer membantu menentukan kasus mana yang harus diutamakan dalam satu kelompok triase (misal pasien obstruksi jalan nafas dapat perhatian lebih dibanding amputasi traumatik yang stabil). Di UGD, disaat menilai pasien, saat bersamaan juga dilakukan tindakan diagnostik, hingga waktu yang diperlukan untuk menilai dan menstabilkan pasien berkurang. Di institusi kecil, pra RS, atau bencana, sumber daya dan tenaga tidak memadai hingga berpengaruh pada sistem triase. Tujuan triase berubah menjadi bagaimana memaksimalkan jumlah pasien yang bisa diselamatkan sesuai dengan kondisi. Proses ini berakibat pasien cedera serius harus diabaikan hingga pasien yang kurang kritis distabilkan. Triase dalam keterbatasan sumber daya sulit dilaksanakan dengan baik. Saat ini tidak ada standard nasional baku untuk triase. Metode triase yang dianjurkan bisa secara METTAG (Triage tagging system) atau sistim triase Penuntun Lapangan START (Simple Triage And Rapid Transportation). Terbatasnya tenaga dan sarana transportasi saat bencana mengakibatkan kombinasi keduanya lebih layak digunakan.

Sebagian protokol yang kurang praktis membedakakan prioritas 0 sebagai Prioritas Keempat (Biru) yaitu kelompok korban dengan cedera atau penyaki kritis dan berpotensi fatal yang berarti tidak memerlukan tindakan dan transportasi. Prioritas Ketiga (Hijau) : Pasien degan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera. Pasien mungkin mengalami cedera dalam jenis cakupan yang luas (misal : cedera abdomen tanpa shok. M = status Mental) untuk memastikan kelompok korban (lazimnya juga dengan tagging) yang memerlukan transport segera atau tidak. Triase Sistem Penuntun Lapangan START. namun dengan cedera yang kurang berat dan dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. Prioritas Nol (Hitam) : Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi. cedera torako-abdominal. serta luka bakar ringan). memerlukan bantuan pertama sederhana namun memerlukan penilaian ulang berkala (cedera jaringan lunak. . fraktura dan dislokasi ekstremitas. Prioritas Pertama (Merah) : Pasien cedera berat yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan medik dan transport segera untuk tetap hidup (misal : gagal nafas. Triase Sistim METTAG. cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas. Resusitasi ditempat. ganti tag / label yang sesuai dan pindahkan kekelompok sesuai. P = status Perfusi . Pendekatan yang dianjurkan untuk memprioritasikan tindakan atas korban. Bila pada Retriase ditemukan perubahan kelas. Berupa penilaian pasien 60 detik dengan mengamati ventilasi. atau yang tidak mungkin diselamatkan atau mati. serta gawat darurat psikologis).2 Tag Triase Tag (label berwarna dengan form data pasien) yang dipakai oleh petugas triase untuk mengindentifikasi dan mencatat kondisi dan tindakan medik terhadap korban. Triase dan pengelompokan berdasar Tagging. dan status mental (RPM : R= status Respirasi . fraktura mayor tanpa shok. shok atau perdarahan berat. cedera dada tanpa gangguan respirasi. Prioritas Kedua (Kuning) : Pasien memerlukan bantuan. dan Prioritas Kelima (Putih)yaitu kelompok yang sudah pasti tewas. cedera kepala atau tulang belakang leher tidak berat. Resusitasi diambulans. perfusi. cedera kepala atau maksilo-fasial berat. Ini memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan korban yang dengan risiko besar akan kematian segera atau apakah tidak memerlukan transport segera. luka bakar berat).

60 detik. *) tenaga dan fasilitas pusat pelayanan. Ketua Tim Medik mengatur Sub Tim Triase dari Tim Tanggap Pertama (First Responders) untuk secara cepat menilai dan men tag korban. namun juga melakukan . pasien dengan peluang hidup terbesar dengan paling sedikit manghabiskan waktu. PENILAIAN DITEMPAT DAN PRIORITAS TRIASE Bila jumlah korban serta parahnya cedera tidak melebihi kemampuan pusat pelayanan. Satu pasien maks. Semua korban diluar algoritma diatas : Kuning. Setelah pemilahan selesai. Bila jumlah korban serta parahnya cedera melebihi kemampuan *) dst dibawah algoritma Hitam = Deceased (Tewas) . Tim Tanggap Pertama melakukan tindakan sesuai kode pada tag. ditindak lebih dulu. peralatan dan persediaan. Merah = Immediate (Segera). Kuning = Delayed (Tunda) . Segera pindah kepasien berikut setelah tagging. pasien dengan masalah mengancam jiwa dan cedera sistem berganda ditindak lebih dulu. Hijau = Minor. Resusitasi di ambulans atau di Area Tindakan Utama sesuai keadaan. Pada sistem ini tag tidak diisi. kecuali jam dan tanggal. Disini tidak ada resusitasi dan C-spine control. (Umumnya tim tidak mempunyai tugas hanya sebagai petugas triase. Sistim METTAG atau sistim tagging dengan kode warna yang sejenis bisa digunakan sebagai bagian dari Penuntun Lapangan START.3 Triase Sistem Kombinasi METTAG dan START. Diisi petugas berikutnya.

. 5. TINDAKAN DAN EVAKUASI MEDIK Tim Medik dari Tim Tanggap Pertama (bisa saja petugas yang selesai melakukan triase) mulai melakukan stabilisasi dan tindakan bagi korban berdasar prioritas triase.Petugas Triase Sekunder. . 2. . 6.Petugas Perawatan.Petugas Ekstrikasi/Bahaya.Petugas Komunikasi. Rencana Pasca Kejadian Bencana : 7. Kenali dan tunjuk pada posisi berikut bila petugas yang mampu tersedia : . Sektor Tindakan Sekunder bisa berupa Sektor Tindakan Utama dimana korban kelompok merah dan kuning yang menunggu transport dikumpulkan untuk lebih mengefisienkan persedian dan tenaga medis dalam resusitasi-stabilisasi. 3. Kenali dan tunjuk area sektor bencana : .Sektor Triase. . Pertahankan keberadaan darah universal dan cairan. .Petugas Komando Bencana.Petugas Angkut atau Transportasi.Sektor Tindakan Primer. CISD (Critical Insident Stress Debriefing).Sektor Ekstrikasi / Bahaya.Sektor Transportasi. . dan kemudian mengevakuasi mereka ke Area Tindakan Utama sesuai kode prioritas. . . . Kritik Pasca Musibah. 4. .Sektor Tindakan Sekunder. .Sektor Komando / Komunikasi Bencana. .Sektor Pendukung (Kebutuhan dan Tenaga). 8. Tim tanggap pertama harus menilai lingkungan atas kemungkinan bahaya.4 tindakan pasca triase setelah triase selesai). . Kode merah dipindahkan ke Area Tindakan Utama terlebih dahulu. . keamanan dan jumlah korban dan kebutuhan untuk menentukan tingkat respons yang memadai (Rapid Health Assessment / RHA).Petugas Triase Primer. Beritahukan koordinator propinsi (Kadinkes Propinsi) untuk mengumumkan bencana serta mengirim kebutuhan dan dukungan antar instansi sesuai yang ditentukan oleh beratnya kejadian (dari kesimpulan RHA).Sektor Bencana. 1.

Keamanan. Tidak seorangpun diizinkan melewati perimeter Zona Panas untuk mencegah salah menempatkan atau memindahkan pasien secara tidak aman tanpa izin. Ingat untuk tidak membebani RS rujukan melebihi kemampuannya. Jalur untuk Transport Korban Petugas keamanan bersama petugas medis menetapkan perimeter sekitar lokasi bencana yang disebut Zona Panas. Faktor lain yang mempengaruhi kemantapan Zona Panas antaranya lontaran material. Petugas keamanan mengatur perimeter sekitar lokasi untuk mencegah masyarakat dan kendaraan masuk kedaerah berbahaya. Bila petugas keamanan melihat keadaan berpotensi bahaya yang bisa membunuh penolong atau korban.5 TRANSPORTASI KORBAN Koodinator Transportasi mengatur kedatangan dan keberangkatan serta transportasi yang sesuai. PERIMETER Perimeter Terluar. Mengamankan penolong dan korban. Ditentukan jalur yang dinyatakan aman untuk memindahkan korban ke perimeter kedua atau zona dimana berada Area Tindakan Utama. jalur listrik. pemadaman api. Cegah pasien yang kurang serius dikirim ke RS utama. bahan berbahaya dll. api. agar pasien trauma serius sampai kerumah sakit yang sesuai dalam periode emas hingga tindakan definitif dilaksanakan pada saatnya. . Perimeter seluas mungkin untuk mencegah yang tidak berkepentingan masuk dan memudahkan kendaraan gawat darurat masuk dan keluar. Koordinator Transportasi bekerjasama dengan Koordinator Medik menentukan rumah sakit tujuan. ia punya wewenang menghentikan atau merubah operasi untuk mecegah risiko lebih lanjut. Mengontrol kegiatan keluar masuk lokasi. evakuasi. bangunan atau kendaraan yang tidak stabil atau berbahaya. (Jangan pindahkan bencana ke RS). Petugas keamanan mengatur semua kegiatan dalam keadaan aman bagi petugas rescue.

. Diagnostik absolut tidak dibutuhkan untuk menindak keadaan klinis kritis yang diketakui pada awal proses. Lihat vena leher apakah terbendung atau kolaps. resusitasi-stabilisasi. edema. Nilai sirkulasi dengan mencari hipovolemia. Survei Primer.6 Semua anggota Tim Tanggap Pertama dapat bekerja bersama secara cepat dan efektif dibawah satu sistem komando yang digunakan dan dimengerti. Penilaian awal mencakup protokol persiapan. survei sekunder dan tindakan definitif atau transfer ke RS sesuai. Pastikan udara menuju paru-paru tidak terhambat. tiadanya atau asimetriknya bunyi nafas. Jalan nafas merupakan prioritas pertama. dan tindakan bedah lain sesuai indikasi. PENILAIAN AWAL. Kondisi pengancam jiwa diutamakan. pastikan sumber perdarahan eksternal sudah diatasi. Tidak adanya gangguan kesadaran. Temuan kritis bisa tiadanya ventilasi spontan. Tetapkan status mental pasien dengan GCS dan lakukan pemeriksaan motorik. Tindakan bisa mulai pemberian oksigen hingga pemasangan torakostomi pipa dan ventilasi mekanik. survei primer. breathing. Cedera spinal bisa diperiksa dengan mengamati gerak ekstremitas spontan dan usaha bernafas spontan. disability. apakah bunyi jantung terdengar. Langkah-langkahnya sebagai ABCDE (airway and C-spine control. Pupil yang tidak simetris dengan refleks cahaya terganggu atau hilang serta adanya hemiparesis memerlukan tindakan atas herniasi otak dan hipertensi intrakranial yang memerlukan konsultasi bedah saraf segera. Tindakan bisa hanya membersihkan jalan nafas hingga intubasi atau krikotiroidotomi atau trakheostomi. exposure/environment). reaksi terhadap cahaya. triase. kesimetrisannya. Tentukan adakah cedera kepala atau kord spinal serius. circulation and hemorrhage control. adanya paraplegia atau kuadriplegia menunjukkan cedera kord spinal hingga memerlukan kewaspadaan spinal dan pemberian metilprednisolon bila masih 8 jam sejak cedera (kontroversial). Periksa ukuran pupil. Kontrol perdarahan eksternal dengan penekanan langsung atau pembedahan. benda asing dan akibat penurunan kesadaran. Tindakan pertama atas hipovolemia adalah memberikan RL secara cepat melalui 2 kateter IV besar secara perifer di ekstremitas atas. Temuan kritis seperti obstruksi karena cedera langsung. dan tampaknya instabilitas dinding dada atau adanya defek yang mengganggu pernafasan. sumber perdarahan eksternal. dispnea. perkusi dada yang hipperresonans atau pekak. untuk meminimalkan risiko cedera serta kerusakan. Bila tenaga terbatas jangan lakukan urutan langkah-langkah survei primer. tamponade kardiak. Bila usaha inspirasi terganggu atau diduga lesi tinggi kord leher. Nilai pernafasan atas kemampuan pasien akan ventilasi dan oksigenasi. untuk menyelamatkan hidup. lakukan intubasi endotrakheal.

Buka seluruh pakaian untuk pemeriksaan lengkap. Katater Foley kontraindikasi bila urethra cedera (darah pada meatus. Pada saat yang sama mulai tindakan pencegahan hipotermia yang iatrogenik biasa terjadi diruang ber AC. kejadian sekitar kecelakaan. Parameter (kadar laktat darah. Sepanjang survei primer. dengan memberikan infus hangat. bila perlu selimut dengan pemanas. Bila pasien sadar. Perdarahan yang tidak terkontrol dengan penekanan dan pemberian produk darah. serta memberikan resusitasi cairan atau produk darah. ekimosis skrotum / labia major. saat makan terakhir. termasuk laporan petugas pra RS. Monitor memberi data penuntun resusitasi. . selimut. perfusi jaringan dan organ vital. kumpulkan data penting termasuk masalah medis sebelumnya. Data ini membantu mengarahkan survei sekunder mengetahui mekanisme cedera. Nilai lagi tanda vital. Selanjutnya cari riwayat. Lakukan urethrogram untuk menyingkirkan cedera urethral sebelum kateterisasi. Survei Sekunder. tindakan diagnosis sudah lengkap. keluaran urin normal 0. merawat jalan nafas serta bantuan pernafasan dan oksigenasi bila perlu. status immunisasi tetanus. Pasang lead ECG dan monitor ventilator. Pada saat ini kenali semua cedera dengan memeriksa dari kepala hingga jari kaki. Formalnya dimulai setelah melengkapi survei primer dan setelah memulai fase resusitasi. lampu pemanas. Setelah jalan nafas aman. dan prosedur resusitatif serta tindakan bedah sudah selesai.5-1 cc/kg/jam. keluarga. defisit basa pada gas darah arteri) bisa membantu. pasang pipa nasogastrik untuk dekompresi lambung serta mengurangi kemungkinan aspirasi cairan lambung. RESUSITASI DAN PENILAIAN KOMPREHENSIF Fase Resusitasi. dan kondisi fisiologis pasien secara umum. alergi dan medikasi sebelumnya.7 Tahap akhir survei primer adalah eksposur pasien dan mengontrol lingkungan segera. tidak ada lagi kehilangan darah. prostat terdorong keatas). operasi. Usaha ini termasuk kedalamnya monitoring tanda vital. dan tidak ada bukti disfungsi end-organ. segera pasang oksimeter denyut. kemungkinan luka bakar atau cedera karena suhu dingin (cold injury). Berikan darah bila hipovolemia tidak terkontrol oleh cairan. saat menegakkan diagnosis dan melakukan intervensi. serta keluaran urin. Prosedur lain adalah tindakan monitoring dan diagnostik yang dilakukan bersama survei primer. lanjutkan sampai kondisi pasien stabil. lakukan survei primer ulangan secara cepat untuk menilai respons atas resusitasi dan untuk mengetahui perburukan. atau korban lain. Titik capai resusitasi adalah tanda vital normal. Pasien dengan cedera multipel perlu beberapa liter kristaloid dalam 24 jam untuk mempertahankan volume intravaskuler.

Periksa lengkap dari kepala hingga jari kaki termasuk status neurologisnya. Karena banyak keadaan bencana yang kompleks. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat / General Emergency Life Support (GELS). Urinalisis dipstick untuk menyingkirkan hematuria tersembunyi. Gas darah arterial juga penting namun kegunaannya dalam pemeriksaan serial digantikan oleh oksimeter denyut. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).I. 2006. 2. PENUTUP. Diktum “jari atau pipa dalam setiap lubang“ mengarahkan pemeriksaan. PEMERIKSAAN PENCITRAAN DAN LABORATORIUM. Pemeriksaan Hb dan Ht berguna saat kedatangan. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan R.8 Pemeriksaan Fisik Berurutan. Semua petugas wajib melaksanakan Sistim Komando Bencana dan berpegang pada SPGDT-S/B pada semua keadaan gawat darurat medis baik dalam keadaan bencana atau sehari-hari. Semua petugas medis bisa terlibat dalam pengelolaan bencana. Pemeriksaan radiologis memberikan data diagnostik penting yang menuntun penilaian awal. Indonesia adalah super market bencana. instabilitas tulang. dengan pengertian bahwa dalam perdarahan akut. dan nyeri pada palpasi. parameter koagulasi. Cetakan Ketiga. serta glukosa. Pada kebanyakan trauma. elektrolit serum. . RUJUKAN. Paling penting adalah jenis dan x-match darah yang harus selesai dalam 20 menit. Pastikan hemodinamik cukup stabil saat membawa pasien keruang radiologi. Pemeriksaan Laboratorium saat penilaian awal. Skrining urin untuk penyalahguna obat dan alkohol. Penanggulangan Kegawatdaruratan sehari-hari & bencana. Saat serta urutan pemeriksaan adalah penting namun tidak boleh mengganggu survei primer dan resusitasi. hitung jenis darah. 1. Semua petugas harus waspada dan memiliki pengetahuan sempurna dalam peran khusus dan pertanggung-jawabannya dalam usaha penyelamatan pasien. untuk mengetahui penyebab penurunan kesadaran yang dapat diperbaiki. Periksa setiap bagian tubuh atas adanya cedera. dianjurkan bahwa semua petugas harus berperanserta dan menerima pelatihan tambahan dalam pengelolaan bencana agar lebih terampil dan mampu saat bencana sebenarnya.I. 2006. dan pemeriksaan laboratorium umum lainnya kurang berguna saat 1-2 jam pertama dibanding setelah stabilisasi dan resusitasi. Seri PPGD. Jakarta : Departemen Kesehatan. Departemen Kesehatan R. turunnya Ht mungkin tidak tampak hingga mobilisasi otogen cairan ekstravaskuler atau pemberian cairan resusitasi IV dimulai.

Advanced Trauma Life Support.net/bkand/state/multiple. 4. 5. Chicago. Prosedur Tetap Pelayanan Kesehatan Penanggulangan Bencana dan Penaanganan Pengungsi. IL 60611-2797. Departemen Kesehatan R. 6. Multiple Casualty Insidents. American College of Surgeons. Course for Physicians 6th. 55 East Erie Street. Tanggap Darurat Bencana (Safe Community).I. edition. Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan. Tahun 2002. Available at http://www.9 3. Departemen Kesehatan R.vgernet.I. 2006. . Jakarta : Departemen Kesehatan.html.

Related Interests