3.

2 Belalang Kayu Belalang adalah serangga yang bersayap dua lapis dan mempunyai sepasang kaki belakang yjang, makanannya rumput-rumputan atau daun – daunan (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:124).

3.2.1 Klasifikasi Belalang Kayu Menurut Borror, Triplehorn, dan Johnson (1992:273-274) klasifikasi belalang kayu adalah sebagai berikut: 1) Divisi : Arthropoda

2) Klass : Insecta

3) Ordo : Orthoptera

4) Subordo : Caelifera

5) Superfamili: Acridoidea

6) Famili : Acrididae

7) Subfamili : Cyrtacanthacridinae

8) Genus : Melanoplus

9) Spesies : Melanoplus cinereus.

Belalang kayu memiliki wajah tegak atau hampir demikian. Pinggir ekor mengarah ke belakang dan bersudut di bagian tengah. Sayap panjang mencapai atau melewati abdomen. 3.2.2 Daur Hidup Belalang Berdasarkan data dari Hasegawa (1996:4-5) belalang mengalami metamorfosis tidak sempurna, yaitu dari telur menjadi nimpa, dan akhirnya menjadi imago atau belalang dewasa. Telur belalang kecil, bentuknya seperti pisang, panjangnya + 0,25 cm. Telur yang berwarna kuning atau coklat akan semakin cerah ketika nimpa tumbuh di dalamnya. Kurang lebih seminggu, telur akan menetas. Tubuh nimpa yang sedang tumbuh dapat dilihat melalui dinding telur. Ketika nimpa mencapai permukaan tanah, ia menunggu sampai kaki dan antenanya mengeras. Ketika nimpa menetas, tubuhnya menyimpan makanan yang cukup sampai mereka dapat mencari makanan sendiri. Nimpa makan secara terusmenerus dan tumbuh dengan pesat. Akan tetapi, kulit luarnya yang keras

(eksoskeleton) tidak ikut tumbuh, sehingga ia harus membuang kulitnya yang lama. Di bawah kulitnya yang lama terdapat kulit baru yang lebih besar. Pergantian kulit terjadi seminggu sekali. Nimpa bisa berganti kulit sampai enam kali sebelum menjadi belalang dewasa (Hasegawa, 1996:614). Setelah berganti kulit yang terakhir, nimpa berubah menjadi belalang dewasa. Belalang membengkokkan abdomennya dan menarik ovipositornya yang panjang dari kulitnya yang lama. Belalang dewasa yang baru saja muncul dari kulitnya yang lama merentangkan sayapnya dan memanjat daun rumput kembali. Seperti nimpa, belalang dewasa juga memakan kulitnya yang lama (Hasegawa, 1996:20). 3.2.3 Kandungan Gizi Belalang Kandungan gizi belalang per 100 gram bagian yang dapat dimakan adalah sebagai berikut: Tabel 4

Kandungan Gizi Belalang per 100 g

Energi Belalang (Kal) Mentah Kering 17062 4207 Air (%) 26 62 Protein 83 210 Lemak 85 415 Karbohidrat 5 8

Sumber: Sutrisno Kusworo (2002) 3.2.4 Pemanfaatan Belalang Berdasarkan data dari Sutrisno Koswara (2002) pemanfaatan belalang di beberapa Negara adalah sebagai berikut di Zimbabwe, locustana atau belalang dikumpulkan sebelum fajar tiba, di mana serangga tersebut dalam keadaan tidak aktif. Kemudian direbus dalam air mendidih, lalu dijemur sampai kering selama satu sampai dua hari. Jika akan diolah, sayap dan kakinya dilepaskan dan locustana kering kemudian direndam dalam air hingga air terserap, dimasak dengan bawang merah, tomat, dan hancuran kacang tanah bumbu. Di Etiopia, locustana ditumbuk dan direbus dengan susu, atau dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Tepung locustana atau belalang ini kemudian dicampur dengan minyak sayur dan dipanggang menghasilkan makanan sejenis cake. Di banyak Negara Afrika, belalang segar disangrai, diberi garam dan dikonsumsi sebagai snack. Produk ini tinggi kandungan proteinnya dan mengandung lemak dalam jumlah yang cukup. Di Papua Nugini belalang dan jangkrik juga disangrai dan digoreng.