Hubungan Kadar Glukosa Darah Dengan HbA1c Pada Penderita Diabetes Mellitus

Stianto, Elisabeth Zora ( 0110141 ) (2006) Hubungan Kadar Glukosa Darah Dengan HbA1c Pada Penderita Diabetes Mellitus. Other thesis, Universitas Kristen Maranatha. Text 0110141_Abstract_TOC.pdf - Accepted Version Download (49Kb) | Preview Text 0110141_Appendices.pdf - Accepted Version Download (251Kb) | Preview Text 0110141_Chapter1.pdf - Accepted Version Download (15Kb) | Preview Text 0110141_Chapter2.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (754Kb) Text 0110141_Chapter3.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (96Kb) Text 0110141_Chapter4.pdf - Accepted Version Restricted to Repository staff only Download (104Kb) Text 0110141_Conclusion.pdf - Accepted Version Download (8Kb) Text 0110141_Cover.pdf - Accepted Version Download (47Kb) | Preview Text 0110141_References.pdf - Accepted Version Download (10Kb) | Preview

Abstract
Karena morbiditas dan mortalitas pasien Diabetes Mellitus semakin meningkat maka diperlukan pemantauan dan penatalaksanaan DM dengan baik. Dalam memantau penderita DM selain dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah juga dilakukan test lain yaitu dengan pemeriksaan HbA1c dimana dengan test tersebut bisa diketahui keadaan glukosa darah selama 3 bulan terakhir. Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan membahas mengenai pengertian HbA1c,memberi informasi mengenai berbagai faktor yang menyebabkan tingginya kadar HbA1c, mengetahui hubungan HbA1c dengan kadar glukosa darah pada penyakit diabetes

Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya korelasi yang sangat bermakna antara kadar glukosa darah puasa dan glukosa 2 jam post prandial dengan kadar HbA1c.edu/id/eprint/1404 Actions (login required) View Item . sedangkan untuk pemeriksaan glukosa darah di Laboratorium klinik Prodia menggunakan alat Hitachi.mellitus. Item Type: Thesis (Other) Uncontrolled Keywords: Diabetes Mellitus. Subjects: R Medicine > R Medicine (General) Depositing User: Perpustakaan Maranatha Date Deposited: 14 Jun 2012 09:11 Last Modified: 15 Jun 2012 07:12 URI: http://repository. dengan nilai p< 0.maranatha.001. HbA1c.678 dan koefisen korelasi untuk HbA1c dengan glukosa darah 2 jam post prandial sebesar 0. Pemeriksaan HbA1c di Laboratorium klinik Prodia dengan menggunakan alat Bio-Rad D-10.716. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji “t” (p<0. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi untuk HbA1c dengan glukosa darah puasa sebesar 0. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan mengumpulkan data kadar HbA1c dan kadar glukosa darah penderita DM dari Laboratorium klinik utama Prodia dan beberapa cabangnya di kota Bandung sebanyak 204 data secara retrospektif.05. p<0. Glukosa Darah.01) dengan korelasi Pearson.

4 juta. Dengan demikian. yaitu retinopati (bisa menyebabkan kebutaan).1. dan penyakit arteria koronaria (Coronary artery disease). Dengan demikian. diperkirakan lebih dari 15 juta orang di AS menderita DM. sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. Sementara itu. neuropati.4 Pemeriksaan laboratorium bagi penderita DM diperlukan untuk menegakkan diagnosis serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi spesifik akibat penyakit.1 07:13 WIB • Muenchen Sep 2008 | > index beri .3 Menurut anjuran PERKENI yang sesuai dengan anjuran ADA 1997.2. 1.2. aterosklerosis (bisa menyebabkan stroke). dan penyakit arteria koronaria (Coronary artery disease). Klasifikasi dan Patogenesis Diabetes Melitus DM adalah kelainan endokrin yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah. dan diabetes tipe lain. gagal ginjal. gangren.6 Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui jenis pemeriksaan pada penderita DM.1. gagal ginjal.2 DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai.3 Penderita DM mempunyai risiko untuk menderita komplikasi yang spesifik akibat perjalanan penyakit ini. Billy .1%. bahkan di daerah Manado prevalensi DM sebesar 6. diabetes tipe 2.4 Diabetes Tipe 1 Pusat.2 juta orang di Amerika Serikat (AS) menderita DM dan yang tidak terdiagnosis sekitar 5.5.Medika halaman muka nasional Ekonomi dan Bisnis Nusa Agama Wisata Metro keadilan Persobaan Internasional Ilmu dan Teknologi Lingkungan Gaya Hidup Artikel Tinjauan Pustaka Berita Tera Berita lain • Iqbal di Se Pemeriksaan Laboratorium Penderita Diabetes Mellitus Diabetes Melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat.1.3 ANIK WIDIJANTI DAN BERNARD THEODORE RATULANGI Laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr. di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik. gangren.3 Prevalensi DM sulit ditentukan karena standar penetapan diagnosisnya berbeda-beda. Berdasarkan kriteria American Diabetes Association (ADA). Saiful Anwar / FK Unibraw. di Indonesia prevalensi DM sebesar 1. aterosklerosis (bisa menyebabkan stroke). Malang mitra medika pengelola medika -------------------------------------------------------------------------------edisi lain Pendahuluan Diabetes Melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat. sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia.2. di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik. DM bisa diklasifikasikan secara etiologi menjadi diabetes tipe 1.18 07:46 WIB • Ditinggalka Tim Amerik Berpeluang 07:34 WIB • Hasil dan K Champion 07:33 WIB • Polisi Tilang Pembalap L 2008 | 07: • Pemerintah Keluarkan untuk Bank Sep 2008 | • BI Mataram Miliar Uang Sep 2008 | • Diduga Kor Departeme Ditahan . sekitar 10.2.3% penduduk usia >15 tahun. 1.2 DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai.18 Sep 20 • Wenger: Ar Insting Pem 2008 | 07: • Bate Tak K Madrid . perkembangan penyakit bisa dimonitor dan dapat mencegah komplikasi.3.1. neuropati.3 Penderita DM mempunyai risiko untuk menderita komplikasi yang spesifik akibat perjalanan penyakit ini. diabetes dalam kehamilan. yaitu retinopati (bisa menyebabkan kebutaan).5-2.

2.3 Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini.2 DM Dalam Kehamilan DM dan kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus . terjadi karena kerusakan sel b pankreas (reaksi autoimun). GAD adalah enzim yang dibutuhkan untuk memproduksi neurotransmiter g-aminobutyric acid (GABA).4. Konsentrasi C-peptide merupakan indikator yang baik untuk fungsi sel beta.5. Kondisi ini digolongkan sebagai type 1 idiopathic. Frekuensi GDM kira-kira 3--5% dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Akibatnya. penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin (b-adrenergik). sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin. Jadi.2. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. dan infeksi/sindroma genetik (Down’s. 2 jam setelah makan/post prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa per-oral (TTGO). dan makrosomia. Klinefelter’s). endokrinopati (penyakit Cushing’s.3. dan glikosuria. pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin resistance.2 Diabetes Tipe 2 DM tipe 2 merupakan 90% dari kaaus DM yang dulu dikenal sebagai non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). ICA ini menunjukkan adanya kerusakan sel. insulin autoantibodies (IAA). penggunaan obat yang mengganggu fungsi sel beta (dilantin). GDM ini meningkatkan morbiditas neonatus. Faktor risiko GDM: riwayat keluarga DM. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun.2 Diabetes Tipe Lain Subkelas DM di mana individu mengalami hiperglikemia akibat kelainan spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta). 3 petanda ini bisa digunakan sebagai uji saring sebelum gejala DM muncul. Anti GAD ini bisa teridentifikasi 10 tahun sebelum onset klinis terjadi. Adanya ICA dan IAA menunjukkan risiko tinggi berkembangnya penyakit ke arah diabetes tipe 1. dan antibodi terhadap glutamic acid decarboxylase (anti-GAD). rendah. ICA bereaksi dengan antigen yang ada di sitoplasma sel-sel endokrin pada pulau-pulau pankreas. akromegali).DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). . maupun tinggi. ikterus.2. dan sebagian kecil tidak terjadi proses autoimun. misalnya hipoglikemia. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif. polisitemia.GDM) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Kadar insulin bisa normal.2 Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan pemeriksaan C-peptide.3 Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun.2 Pemeriksaan Untuk Dx DM: pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa. Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel beta. tetapi usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.1. Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80--90% maka gejala DM mulai muncul.7 Antibodi untuk petanda (marker) adanya proses autoimun pada sel beta adalah islet cell cytoplasmic antibodies (ICA). yang umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. kegemukan.

Akurasi dan presisi yang baik (karena enzim GOD spesifik untuk reaksi pertama). dan akan menyebabkan kesalahan dalam penatalaksanaan penderita DM. serta pemeriksaan fruktosamin.7 Pemeriksaan HbA1C HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. dan pemeriksaan glycated hemoglobin.10.2.9 Metode GOD banyak digunakan saat ini. dan analisis kimiawi dengan kolorimetri.3.1. asam urat.7. Electroforesis.8.10 Pemeriksaan fruktosamin saat ini jarang dilakukan karena pemeriksaan ini memerlukan prosedur yang memakan waktu lama. dan lainnya. dan harus dihabiskan dalam waktu 15--20 menit. digunakan kriteria dari konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia tahun 1998 (PERKENI 1998) 3.4 Darah disentrifugasi untuk mendapatkan serumnya. pasien harus berpuasa 6--12 jam sebelum diambil darahnya.4. Immunoassay.11 Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom. enzimatik. Interferen yang bisa mengganggu antara lain bilirubin.7.2 Sampling untuk Pemeriksaan Kadar Gula Darah Untuk glukosa darah puasa. HPLC (high performance liquid chromatography).9 Ini sangat penting untuk diketahui karena kesalahan pada fase ini dapat menyebabkan hasil pemeriksaan gula darah tidak sesuai dengan sebenarnya.7 Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan ialah urinalisa rutin.2.1. yaitu metode glukosa oksidase (GOD) dan metode heksokinase.7 Pemeriksaan untuk Pemantauan Pengelolaan DM Yang digunakan adalah kadar glukosa darah puasa. tapi reaksi kedua rawan interferen (tak spesifik). kemudian diperiksa kadar glukosanya. Bila pemeriksaan tidak langsung dilakukan (ada penundaan waktu).8. khususnya HbA1C. Setelah diambil darahnya.2.juga bisa digunakan untuk memonitor respons individual setelah operasi pankreas. darah dari penderita bisa ditambah dengan antiglikolitik (gliseraldehida. Affinity chromatography. 2 jam PP.2.1. Metode Pemeriksaan Kadar Glukosa Metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi. Yang paling sering dilakukan adalah metode enzimatik. karena enzim yang digunakan spesifik untuk glukosa. fluoride. Metode ini memiliki akurasi dan presisi yang sangat baik dan merupakan metode referens. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sebagai self-assessment untuk memantau terkontrolnya glukosa melalui reduksi urin.8 Metode heksokinase juga banyak digunakan. Konsentrasi C-peptida akan meningkat pada transplantasi pankreas atau transplantasi sel-sel pulau pankreas. dan pH dari bufer. dan asam askorbat. penderita diminta makan makanan seperti yang biasa dia makan/minum glukosa per oral (75 gr ) untuk TTGO.8 Untuk mendiagosa DM. Dua jam kemudian diambil darahnya untuk pemeriksaan glukosa 2 jam PP. kekuatan ion.2.3.4.11 Metode pemeriksaan HbA1C: ion-exchange chromatography. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan ireversibel.10.2. dan iodoasetat) untuk menghindari terjadinya glukosa darah yang rendah palsu. Interferens yang .

4 Jadi.13. Pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan untuk memprediksi beberapa dari komplikasi spesifik tersebut. tetapi presisinya kurang dibanding HPLC. HbA1C meningkat: pemberian Tx lebih intensif untuk menghindari komplikasi 2.4.1. sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode HPLC.3.3.6. dan retinopati.3.10. HbA1C bisa digunakan untuk melihat kualitas kontrol glukosa darah pada penderita DM (glukosa darah tak terkontrol. tetapi kekuatan ion.4 Pemeriksaan untuk Memantau Komplikasi DM Komplikasi spesifik DM: aterosklerosis. tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbS. Karena itu.7 Pemeriksaan Mikroalbuminuria Pemeriksaan untuk memantau komplikasi nefropati: mikroalbuminuria serta heparan sulfat urine (pemeriksaan ini jarang dilakukan). HbF. tidak mengukur HbA1C yang labil maupun HbA1A dan HbA1B.4 Mikroalbuminuria: ekskresi albumin di urin sebesar 30-300 mg/24 jam atau sebesar 20-200 mg/menit. sehingga perjalanan .4.2. HbS.7. Hb F memberikan hasil positif palsu. suhu. HbA1C penting untuk melihat apakah penatalaksanaan sudah adekuat atau belum. terjadi peningkatan HbA1Cnya ) sejak 3 bulan lalu (umur eritrosit).10 Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange chromatography.1. dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi.5. mempunyai presisi yang baik. ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini.1.2. lebih spesifik karena tidak dipengaruhi non-glycosylated ataupun glycosylated labil.7.4. Kontrol DM yang ketat dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada beberapa pasien.2. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi.10 Metode agar gel elektroforesis: hasilnya berkorelasi baik dengan HPLC.10 Interpertasi Hasil Pemeriksaan HbA1C HbA1C akan meningkat secara signifikan bila glukosa darah meningkat.2 Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C. penentuan HbA1C ini dilakukan secara rutin tiap 3 bulan sekali.mengganggu adalah adanya HbS dan HbC yang bisa memberikan hasil negatif palsu.16 Pemeriksaan lainnya yang rutin adalah pemeriksaan serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.2 Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1C tidak mengganggu penentuan glycated hemoglobin.14 Mikroalbuminuria ini dapat berkembang menjadi makroalbuminuria. tetapi metode ini mengukur keseluruhan glycated hemoglobin. dan HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini. yaitu m mol/L. nefropati. bisa diotomatisasi.5.11 Nilai yang dianjurkan PERKENI untuk HbA1C (terkontrol): 4%-5.10 Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam).2.6.2.6. neuropati.18 Sebaiknya. sampel besar. Sekali makroalbuminuria terjadi maka akan terjadi penurunan yang menetap dari fungsi ginjal. misalnya untuk memprediksi nefropati dan gangguan aterosklerosis.9%.12. serta memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali.3.15. pH. Kerugiannya waktu lama.

tetapi untuk memonitor pasien tes-tes ini kurang akurat sehingga jarang digunakan. dan trigliserida serum.17 Pemeriksaan untuk Komplikasi Aterosklerosis Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis ini ialah profil lipid.14 Sampel yang digunakan untuk pengukuran ini adalah sampel urine 24 jam. gangren.21 Pemeriksaan untuk Komplikasi Lainnya Pemeriksaan lainnya untuk melihat komplikasi darah dan analisa rutin. mungkin untuk penelitian masih dilakukan pemeriksaan biomolekuler. Kesimpulan DM adalah kelainan metabolisme karbohidrat yang merupakan kelainan endokrin terbanyak. ada 3 kategori albuminuria. high density lipoprotein cholesterol (HDL-C).17 Pemeriksaan albuminuria sebaiknya dilakukan minimal 1 X per tahun pada semua penderita DM usia > 12 tahun.1%. kadar asam laktat darah.3 Untuk pemeriksaan laboratorium infeksi.15 Interpretasi Hasil Pemeriksaan Mikroalbuminuria Menurut Schrier et al (1996). sering dibutuhkan kultur (pembiakan). dan range yang mirip. ataupun penyakit arteria koronaria. stroke. penderita diminta berpuasa sedikitnya 12 jam (karena jika tidak puasa. Enzym-linked Immunosorbent assay (ELISA). Pemeriksaan yang mendeteksi kelainan nefropati dini: mikroalbuminuria (masih reversibel).2. kadar beta hidroksi butarat dalam darah.2.4. prevalensi DM sebesar 1. Pemeriksaan ini bisa untuk melihat adanya infeksi yang mungkin timbul pada penderita DM. serta urinalisa rutin. neuropati. Overt Albuminuria (>200 mg/menit). Kadang-kadang juga dibutuhkan pemeriksaan lain untuk melihat gejala komplikasi dari DM.18 Pada pemeriksaan profil lipid ini. Pada keadaan ketoasidosis juga dibutuhkan adanya pemeriksaan keton bodies. dan lain-lainnya. gagal ginjal. atau lainnya.. yaitu albuminuria normal (<20 mg/menit).5. trigliserida > 2 jam dan mencapai puncaknya 6 jam setelah makan). Radio Immunoassay (RIA).3% penduduk usia > 15 tahun. serta mikroalbuminuria. misalnya kultur darah. low density lipoprotein cholesterol (LDL-C). misalnya aceton/keton di urine.6. misalnya adanya gangguan keseimbangan elektrolit dan asidosis/alkalosis metabolik maka perlu dilakukan pemeriksaan elektrolit dan analisa gas darah. TTGO (lihat konsensus PERKENI 1998 ). Yang sering adalah cara kuantitatif: metode Radial Immunodiffusion (RID). aterosklerosis. 2 jam PP dan HbA1C. dan Immunoturbidimetry. Metode kuantitatif memiliki presisi. mikroalbuminuria (20--200 mg/menit).6 Pengukuran mikroalbuminuria secara semikuantitatif dengan menggunakan strip atau tes latex agglutination inhibition. dan yang rutin adalah serum ureum dan . Penderita DM mempunyai risiko komplikasi yang spesifik.5--2. misalnya HLA (Human Lymphocyte Antigen) serta pemeriksaan genetik lain.3. Di Indonesia.menuju ke nefropati bisa diperlambat. Selain itu. yaitu retinopati. bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM sebesar 6.12. Pemeriksaan Dx: kadar gula darah puasa dan 2 jam PP. serta semuanya menggunakan antibodi terhadap human albumin. sensitivitas.7. kultur urine. Pemeriksaan lain yang juga seringkali dibutuhkan adalah pemeriksaan kadar insulin puasa dan 2 jam PP untuk melihat apakah ada kelainan insulin darah atau tidak. Pemeriksaan laboratorium DM: menegakkan Dx serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi. Pemeriksaan monitor Tx: kadar glukosa puasa. yaitu kolesterol total.4.

A. 5th Edition. Zimmet P.A. Eds Amadeo J. Ashwood E. Correlation.J.. Eds Burtis C. Kaplan L. et al.. Diabetes Care. Sutjahjo A. Diabetes Mellitus.. Eds Tjokroprawiro A.R.. 1996:613-640 Sacks D. 1997:1027-1074 Kaplan. Carbohydrates. 3rd Edition. Mosby Inc. USA. T. dan trigliserida serum). What is Hemoglobin A1c? An Analysis of Glycated Hemoglobins by Electrospray Ioni-zation Mass Spectrometry.. Pemeriksaan adanya komplikasi lain: darah dan urinalisa rutin (adanya infeksi). 1998:1951-1958 Gendler. 1989:850-856 Landt M. Peheim E. Pranoto A.. In Surabaya Diabetes Update VI.. L. Kaplan L. asam laktat darah. Daftar Pustaka Dods R. USA. 2001:427-461 Foster D. Tandra H. elektrolit serta analisa gas darah. an Immunologic Rapid Test for the Detection of . et al. Hendromartono..M. In Clinical Chemistry: Theory. McGraw-Hill Companies. Kaplan L. Saunders Company.kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.P. et al.G. 23:1. 2000:1144-1149 King..M. Eds Fauci. et al. et al. Surabaya. Ilag L.P..S.. Second Edition... Pesce A.G.. 1998:623-75 Hendromartono.A. 2001:1560-1566 Alberti K. In Harrison’s Principles of Internal Medicine... 1987:94-96 Tabaei B. Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis: profil lipid (kolesterol total..S. 46:8. M... In Method’s in Clinical Chemistry. Glyceraldehide Preserves Glucose Concentrations in Whole Blood Specimens. In Method’s in Clinical Chemistry. Isselbacher. dan lain-lain. In Method’s in Clinical Chemistry.. DeFronzo R. Consensus on The Management of Diabetes Mellitus (Perkeni 1998). Analysis. Kutter D..B. 1987:1066-1073 Larson. low density lipoprotein cholesterol/LDL-C. Santanello N.. John Wiley & Sons Ltd. Eds Amadeo J. Pavlovich J.C. 24:9. USA.. 14th Edition. Kaplan L. Carbohydrates and Metabolites. 44:9.F. Clinical Chemistry. Diabetes Mellitus.A.C.A. Multicenter Evaluation of Micral-Test II Test Strip. Goldstein D. insulin darah. Diabetes Care. serta mikroalbuminuria.. S. W.N. Eds Amadeo J. L. Braunwald. Viberti G.. In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry.. Eds Amadeo J..A. Laboratory Approaches. keton /aceton urine. Al-Kassab A. Shahinfar S.E.B. K. Albumin. Does Microalbuminuria Predict Diabetic Nephropathy?. Glycosylated Hemoglobin. O’Brien P. England. Kaplan L. 1999:1-14 Kaplan.W. In Method’s in Clinical Chemistry.A.L.E. 2000:5156 Mogensen C.A.. kultur urine maupun darah. 1987:113-116 Peterson. Trend in Persistent Proteinuria in Adult-Onset Diebetes.A.. International Textbook of Diabetes Mellitus. high density lipoprotein cholesterol (HDL-C). Clinical Chemistry. Eds..

Eds Amadeo J. Glampletro O. 1987:1179-1192 Naito. 2001:462-493 Naito.... 5th Edition. In Surabaya Diabetes Update VI.K. Bachorik P.A. 1987:1156-1176 Naito.. Microalbuminuria and Endothelial Dysfunction In Essential Hypertension.A. 1999:63-68 Rifai N.. 2001:698-722 Pedrinelli R. Tandra H... Eds Burtis C. Kaplan L. Kaplan L. 1987:1215-1226 @ tempointeraktif.. Price C. 344. W. et al. In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry. Eds Tjokroprawiro A. Diabetes Care. USA. Eds Burtis C. W. Renal Function. In Method’s in Clinical Chemistry. H.. 1994:1418 Yogiantoro M. Eds Amadeo J. High-density Lipoprotein (HDL) Cholesterol. Saunders Company. Kaplan L. In Method’s in Clinical Chemistry.. Triglycerides.Microalbuminuria. Ashwood E.A. 20:11. Surabaya. Lipoproteins and Apolipoproteins.J.K. Melillo E.R.. In Method’s in Clinical Chemistry.com PERBEDAAN KADAR HbA1C PADA WANITA USIA SUBUR DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI DAN TANPA ANEMIA DEFISIENSI BESI Penulis Kusumastuti .. Sutjahjo A. Cholesterol.R. 1997:1642-1646 Newman D. H. Carmassi F. In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry. 5th Edition. Management of Diabetic Nephropathy.K.. Eds Amadeo J.B.S. Pranoto A. Saunders Company. Hendromartono. H. Lancet..A.B.P. Lipids. Ashwood E.A. USA. Albers J.

5%. Di samping kadar glukosa darah. Wanita usia subur (WUS) berpotensi untuk menderita ADB karena kehamilan. Besides plasma glucose levels. The parameters examined were complete blood count (CBC). M. Tri Ratnaningsih. 1549 tahun. sirosis hepatis. Salah satunya adalah anemia defisiensi besi (ADB). some conditions can affect the level of HbA1c. impaired renal function. hemolytic anemia. anemia hemolitik. and diet. hamil. Thirty women of childbearing age with IDA and 30 healhty women were included in the study. Jumlah totalnya tergantung pada konsentrasi glukosa 2-3 bulan sebelum pemeriksaan. Penelitian ini ditujukan untuk melihat pengaruh ADB terhadap kadar HbA1c dan melihat korelasi parameter pemeriksaan ADB terhadap kadar HbA1c pada WUS.Kes. perdarahan. no use of hematinic drugs. still menstruate regularly. Kriteria eksklusi meliputi : kadar glukosa darah puasa ≥126 mg/dL. bleeding. no history of DM or the use of anti diabetic drugs. tidak sedang terapi obat hematinik. fasting blood glucose and HbA1c levels. Jika CRP ≥ 5 mg/L diagnosis ADB ditegakkan dengan Hb < 12 mg% dan kadar ferritin ≤ 100 ng/dL. The aims of this study was to determine the effect of IDA on the HbA1c levels in women of childbearing age and to determine the correlation between the diagnostic parameters of IDA and HbA1c levels. regular menstruation. tidak ada riwayat DM atau penggunaan obat anti diabetik. Parameter yang diperiksa adalah complete blood count (CBC). serum ferritin levels. The exclusion criteria were : pregnancy. masih menstruasi teratur. Data HbA1c diubah menjadi skala katagorik untuk melihat Odds Ratio (OR) dengan cut-off point 5. no history of histerectomy. Iron deficiency anemia was defined if the Hb levels < 12 mg% and ferritin levels < 12 ng/dL for CRP levels < 5 mg/L.5%. One of them is iron deficiency anemia (IDA). INTISARI: Hemoglobin A1c (HbA1c) adalah hasil glikasi non-enzimatik irreversibel pada satu atau kedua N-terminal valine dari rantai β-hemoglobin. Untuk melihat hubungan antara parameter diagnosis ADB dengan kadar HbA1c digunakan Pearson atau Spearman Correlation Kata kunci Anemia Defisiensi Besi-Wanita Usia Subur-HbA1c-korelasi-DM . C-reaktif protein (CRP) dan kadar HbA1c. C-reaktif protein (CRP). The inclusion criteria included woman. This study design is cross-sectional. Independent t-test digunakan untuk membandingkan data kontinu terdistribusi normal.Pembimbing: dr. If CRP levels ≥ 5 mg/L diagnosis of IDA based on Hb levels < 12 mg% and ferritin levels ≤ 100 ng/dL. Mann-whitney test were used if the distribution of the data was not normal. hepatic cirrhosis. hemoglobinopathy dan defisiensi asam folat. melahirkan. tidak ada riwayat histerektomi. Subyek penelitian adalah 30 WUS dengan ADB dan 30 WUS non-ADB. and folic acid deficiency. Kriteria inklusi meliputi : wanita. beberapa faktor juga mempengaruhi kadar HbA1c. hemoglobinopathy. kadar ferritin serum. fasting blood glucose levels ≥ 126 mg / dL. age 15-49 years. Independent t-test was used to compare normally distributed continuous data. Jika distribusi data tidak normal digunakan Mannwhitney test. SpPK-K ABSTRACT: Hemoglobin A1c (HbA1c) is a product of irreversible non-enzymatic process on one or both of N-terminal valine β-hemoglobin chain. Penelitian menggunakan desain potong lintang. birth. Pearson or Spearman corellation were used to determine the relationship between diagnostic parameters of IDA with HbA1c levels. gangguan fungsi ginjal. The data of HbA1c was changed to categorical scale to determine the Odd’s Ratio (OR) with cutt of point 5. morfologi darah tepi (MDT). Dikatakan ADB bila didapatkan Hb < 12 mg% dan kadar ferritin < 12 ng/dL untuk CRP < 5 mg/L. kadar glukosa puasa. blood smear. menstruasi reguler dan diet. Women of childbearing age have more risks to undergo IDA because of pregnancy.

. ills.Program Studi No Inventaris Deskripsi Bahasa Jenis Penerbit Lokasi File UGM 1414-H-2012 x. Indonesia Tesis [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada. 29 cm... bibl. 2012 Perpustakaan Pusat UGM [ PDF File ] Tulisan Lengkap dapat Dibaca di Ruang Tesis/Disertasi * Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas << kembali Tentang ETD | Kontak Kami | All Right Reserved © Universitas Gajah Mada 2010 Data & Software Maintenanced by UGM Library . 72 p.

Related Interests