DJELADJAH SITOES & TJANDI DI SETJANG Bersama KOTA TOEA MAGELANG Minggu, 25 November 2012 Pendahuluan Magelang di kenal sebagai

wilayah yang kaya akan berbagai peninggalan agama Hindu dan Budha. Baik berupa candi, situs, artefak maupun benda-benda lainnya. Di berbagai tempat dapat di pastikan memiliki peninggalan ini. Salah satunya yang terkenal adalah Candi Borobudur. Meski demikian di berbagai penjuru masih terpendam harta karun yang tak ternilai harganya ini. Sedemikian banyaknya peninggalan-peninggalan tersebut sehingga kawasan ini layak di sebut dengan “KOTA SERIBU CANDI”. Termasuk di wilayah seputar Secang Kabupaten Magelang. Di sini masih dapat kita temui berbagai peninggalan. Seperti Candi Retno, Situs Bengkung, Situs Tidaran, Tuk Mas dan lainlain. Karena hal itulah komunitas KOTA TOEA MAGELANG berupaya mengenalkan kawasan bersejarah ini kepada masyarakat umum melalui sebuah even bertajuk DJELADJAH SITOES & TJANDI DI SETJANG.

Desa Candiretno Candiretno adalah desa di kecamatan Secang, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Candiretno dahulunya tidak ada, ini merupakan penggabungan 2 (dua) desa yaitu Desa Candirejo dan desa Setan. Desa Setan terdiri atas Salam, Setan, Tidaran dan Cetokan, sedang Desa Candirejo terdiri atas Bengkung, Manggis, Pongangan, Rejosari dan Weru. Pada tahun 1927 M Bupati Magelang Raden Tumenggung Danu Sugondo pada masa pemerintahan Hindia Belanda melakukan penyatuan/penggabungan 2 (dua) desa menjadi satu desa. rapat waktu itu diadakan di tanah terbuka di atas sumber air Kali Setan, di tepi jalan Pucang-Sindas. Dua desa tersebut yaitu Candirejo dan Setan, dua desa ini digabung menjadi satu diberi nama Desa Candiretno. Disebelah selatan Desa Candiretno diberi nama Desa Pancuranmas, karena tempat rapat di adakan di atas sumber air Kali Setan yang ada pancurannya. Di mana tempat pemandian kuno keberadaanya sudah mulai pudar. Dulunya banyak sekali arca-arca di sini akan tetapi sudah hilang entah ke mana. Tetapi di Kali Setan ini masih mengalir mata air yang sampai saat ini masih di pergunakan untuk sumber mata air oleh penduduk sekitar. Candiretno mempunyai arti : Candi itu batu/tempat, retno intan/indah, sehingga dapat diartikan sebuah tempat yang indah(batu yang indah), yang banyak batu candinya/patung yang indah baik terbuat dari batu, batu bata, maupun intan (emas/perunggu). Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya banyak peninggalan purbakala di Desa Candiretno, antara lain Candi, Lingga-

Yoni, patung-patung/Arca. Di era tahun 1980an pernah ditemukan arca/patung yang terbuat dari perunggu yang cukup menghebohkan oleh Bp. Supangat di lokasi KUD Adil Candiretno. Desa Candiretno terdiri dari 9 dusun, yaitu 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dusun Salam Dusun Setan Dusun Tidaran Dusun Cetokan Dusun Bengkung Dusun Manggis Dusun Weru Dusun Pongangan Dusun Rejosari

1. Candi Retno Sejarah : Candiretno adalah desa di kecamatan Secang, Magelang, Jawa Tengah Indonesia. Di sini terdapat sebuah peninggalan sejarah dari zaman kerajaan mataram kuno. yaitu sebuah candi dan di namakan CANDI RETNO. Akan tetapi candi tersebut tidak terurus lagi sehingga rusak dan dari luar seperti sebuah kebun saja.

Reruntuhan candi retno yg terbuat dari batu bata

Candi ini terbuat dari batu bata dan bukan dari batu andesit seperti candi-candi Jawa Tengah pada umumnya. Batu2 bata tersebut berukuran besar dan bentuk candi sudah tidak utuh, hanya tersisa bentuk pondasi dan batu bata yg berserakan.

Struktur pondasi kaki candi yg masih terlihat

Pintu masuk candi retno

Struktur pondasi kaki candi yg berada di bawah pohon bougenville Selain itu terdapat pula sebuah yoni yg berukuran cukup besar dan sebuah arca Nandi yg kini sudah dipindahkan ke Museum Karmawibangga Borobudur.

Yoni yg berada di Candi Retno, ceratnya patah

Dari reruntuhan batu bata tersebut masih ada 2 buah antefiks yg masih tersisa dengan hiasan yang sangat bagus.

Antefiks

Antefiks Selain itu di sekitar desa ini terdapat beberapa yoni yg berada di sawah dan halaman rumah warga. [sumber : tarabuwana.blogspot.com/2010/08/candi-retno.html]

2. SITUS BENGKUNG Situs Bengkung berada di Dusun Bengkung, Desa Candi Retno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di Situs Bengkung kini masih bisa ditemui beberapa komponen bangunan candi, namun yang sangat disayangkan dari komponen tersebut ialah keberadaannya kurang terpelihara dengan baik. batu-batu tersebut banyak yang tercecer di persawahan dan di halaman rumah warga.

lingga pertama

Di halaman rumah warga terdapat beberapa tumpuk batu candi yang digunakan sebagai pondasi rumah dan dijadikan sebagai penghias taman. diantara tumpukan batu candi tersebut terdapat 2 buah lingga dan batu-batu berukiran sulur-sulur.

lingga ke2

Lingga yang berada di halaman warga berukuran kecil, dengan bentuk yang masih bisa dikenali bahwasanya batu lonjong tersebut merupakan sebuah komponen bangunan lingga. kurang jelas 2 lingga tersebut merupakan sebuah lingga patok/semu ataukah lingga yang berpasangan dengan bangunan Yoni.

batu bulat Tidak jauh dari keberadaan batu lingga, terdapat sebuah batu setengah bulatan yang kurang jelas kegunaannya dimasa lampau. tidak jauh dari lokasi batu candi dan lingga berada, terdapat sebuah rumah menggunakan batu-bata berukuran besar sebagai pondasi rumah. kemungkinan batu bata yang digunakan, merupakan batu dari komponen bangunan candi.

rumah dengan pondasi yang terbuat dari batu-bata kuno

batu berukir

Di areal persawahan warga di Dusun Bengkung, terdapat sebuah yoni dalam keadaan terbalik. yoni tersebut hanya terlihat sedikit potongan ceratnya saja. warga pernah hendak mengangkat batu tersebut dengan alat berat, namun ternyata batu tersebut terlalu berat. hingga akhirnya komponen batu candi tersebut, dibiarkan tetap berada di tengah areal persawahan hingga kini.

yoni diareal persawahan

Situs ini berjarak sekitar 100 meter dari candi retno, 200 meter dari situs cetokan dan 250 dari situs tidaran. kemungkinan situs-situs di kecamatan candi retno masih satu komponen, yang semunya berlatar belakang agama hindu. [SUMBER : http://nyariwatu.blogspot.com/2011/11/situs-bengkung.htm]

3. Prasasti TUK MAS

Lokasi Prasasti Tuk Mas di dusun Dak Awu, Grabag

Prasasti Tuk Mas

Prasasti TUK MAS merupakan salah satu prasasti peninggalan masa kerajaan Mataram Kuno di wilayah Jawa Tengah. Prasasti ini ditemukan di daerah kaki Gunung Merbabu tepatnya di Desa Dak Awu, Kabupaten Magelang. Prasasti ini terpahat pada sebuah batu yang berada di dekat sumber mata air “Tuk Mas” yang berarti “mata air emas”. Ditulis dalam bahasa Sanskrit dan menggunakan aksara Pallava-Grantha yang diperkirakan berasal dari wilayah India Selatan. Meskipun tidak memiliki angka tahun pembuatan, namun prasasti ini dianggap sebagai peninggalan tertua dari Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada penggunaan aksara Pallava-Grantha yang berkembang antara tahun 500-700 Masehi.

Huruf Pallava Grantha Vokal

Huruf Pallava Grantha Konsonant

Angka Pallava Grantha Prasasti Tuk Mas memuat sejumlah ICONOGRAPHY SYMBOLS yang dipahatkan pada sebuah batu dengan sebaris aksara Pallawa Grantha yang tertulis di bagian bawahnya. Simbolsimbol tersebut antara lain adalah roda (Chakra) dengan 16 jeruji, sebuah GADA, 2 buah tempat air(Purna Kumbhas), sebuah tombak bermata tiga (Trisula), sebuah Kapak (Parasu), sebuah tongkat, sebilah pisau dan 4 buah batu rosetta bermotif teratai. Di samping itu juga terdapat sejumlah simbol yang hingga kini belum dapat terdefinisikan secara sempurna.

Gambar Prasasti Tuk Mas Secara umum, beberapa dari simbol-simbol tersebut biasa diassosiasikan dengan tokoh Siva. Selain itu terdapat pula sejumlah simbol yang juga biasa di assosiasikan dengan tokoh Vishnu. Karena lokasi penemuan prasasti yang berada di sekitar sumber mata air yang mengalir, maka Dr. Nicolaas J. Krom mengatakan bahwa wilayah tersebut dahulu merupakan tempat suci yang secara khusus dipersembahkan bagi pemujaan Dewa Brahma. Atau dengan kata lain merupakan suatu “PenTIRTAan” (*baca tulisan saya mengenai Kosmologi Candi Hindu) Berikut adalah terjemahan baris kalimat pada bagian bawah Prasasti Tuk Mas.

Terjemahan Prasasti Tuk Mas Dalam Bahasa Sanskrit kvachit su chyam buruh anujata – kvachichila valuka nirgat eyam kvachit prakirnna subha sita toya – samprasruta medhyakariva Ganga “Mata air ini lahir dari teratai putih yang membawa kemurnian. Dalam beberapa bagian mengalir keluar dari batu dan pasir dan di satu tempat lain menyebarkan air yang sejuk dan jernih mengalir di sepanjang, demikian seperti halnya sungai Gangga”. Sumber: - Raj, Bijan : “India And Java” - Sarithram, Nammazhvae : “Scripts of Tamilnadu Grantha” - Sarkar, Himansu Bhusan : “South India in Old Javanese and Sanskrit Inscriptions” - The University of Kerala : “Journal of Indian History Vol XLVIII” [sumber : http://yoedana.wordpress.com/2011/09/11/prasasti-tuk-mas/]

LAMPIRAN FOTO

ARCA ANDINI DI SEBELAH PEMANDIAN DUSUN SETAN

MENUJU KE WATU WAYANG DI DUSUN SETAN

YONI DI TENGAH HUTAN BAMBU DI DUSUN PUCANGGUNUNG

WATU LUMPANG DI DALAM RUMAH PENDUDUK DI DUSUN SETAN

YONI DI AREA PEMAKAMAN DEKAT CANDI RETNO

YONI DI TENGAH SAWAH DI TIMUR CANDI RETNO

YONI DI SITUS TIDARAN [SUMBER : http://hamidanwar.blogspot.com/2012/07/ekspedisi-secang-grabag-peradabanyang.html]

Sekretariat KOTA TOEA MAGELANG Kampung Dukuh 1 no. 240 RT 4 RW 3 Kel. Magelang, Kec. Magelang Tengah, Kota Magelang 56117 Email : bagus_priyana@yahoo.co.id Facebook : KOTA TOEA MAGELANG CP : 087832626269 [Agung Dragon] Website : www.kotatoeamagelang.wordpress.com