BAB I IKHTISAR KASUS I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Agama : Ny. M : 38 thn : Kristen SUAMI Nama Umur Agama : Tn.

J : 37 thn : Kristen

Pendidikan : SMU Pekerjaan Alamat No RM Masuk RS : IRT : PT RSUP,Pulau Burung : 31 12 24 : 08 September 2012

Pendidikan : STM Pekerjaan: PT Riau Sakti United Plantation

II.

ANAMNESIS Autoanamnesis, 08 September 2012, 20.00 WIB

Keluhan utama : Perdarahan terus-menerus setelah melahirkan 7 jam SMRS

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke rumah sakit dengan rujukan dari RSUP Pulau Burung dengan keluhan perdarahan terus-menerus setelah melahirkan 7 jam SMRS. Pasien mengaku telah melahirkan 7 jam yang lalu di bidan. Lahir bayi laki-laki dengan berat badan lahir 3400 gram,hidup.Keluhan pasien mulai timbul setelah pasien melahirkan pada jam 05.00 pagi. Setelah melahirkan bayi, plasenta tidak dapat dilahirkan dengan melakukan tegangan tali pusat terkendali. Bidan yang melahirkan sudah melakukan manual plasenta namun tetap tidak berhasil untuk dikeluarkan. Perdarahan yang dialami terus-menerus dan banyak. Pasien mulai merasa dingin dan menggigil. Pasien kemudian dirujuk ke RSOB.Pasien mengaku hamil cukup bulan dan selama hamil pasien melakukan ANC di bidan. Pasien juga mengaku selama hamil pasien tidak pernah mengalami masalah.

1

Riwayat penyakit dahulu :

Pasien mengaku pernah mengalami masalah sama saat kehamilan sebelunya. Pasien mengaku tidak mempunyai sakit jantung (-), asma (-), sakit kuning (-), diabetes mellitus (-), penyakit menahun (-). riwayat operasi (-).

Riwayat penyakit keluarga : Pasien menyangkal keluarga pernah mengalami masalah sama seperti pasien. Hipertensi (-), sakit jantung (-), asma (-), sakit kuning (-), diabetes mellitus (-), penyakit menahun (-).

Riwayat menstruasi : Menarche saat umur 13 tahun. Pasien menyangkal adanya nyeri saat haid selama ini. Menstruasi lancar dan teratur, siklus haid 28 hari,satu siklus berlansung 5-7 hari.

Riwayat kehamilan : P3 A0 1) Laki-laki,aterm,persalinan dengan vakum,BBL:3200 gr,persalinan dibantu bidan praktek di Pulau Burung,2006,6 tahun,hidup,sehat,plasenta mengalami

perlengketan namun keluar setelah di manual,tiada perdarahan hebat 2) Laki-laki,prematurus 4 bulan,persalinan normal,persalinan dibantu oleh bidan praktek,2011,meninggal,plasenta mengalami perlengketan namun setelah

dimanual tidak bisa dikeluarkan,pasien dirujuk ke RSOB dan dikuret oleh dr. Adriyanti,SpOG,tiada perdarahan hebat,pasien dirawat selama 3 hari 3) Laki-laki, aterm,persalinan normal,BBL:3400 gr,persalinan dibantu oleh bidan di klinik PT RSUP,plasenta mengalami perlengketan namun tidak bisa keluar setelah dilakukan manual dan didapatkan perdarahan aktif.

Riwayat pernikahan : Menikah 1 kali pada 15 April 2005

2

8 °C : 22 x/m STATUS GENERALIS Mata Leher Thoraks : Konjungtiva pucat +/+.2 bulan setelah itu pasien kembali hamil. Setelah pasien berheti memakai KB kali ini. Riwayat kebiasaan : Pasien tidak merokok.1 bulan setelah itu pasien kembali hamil. Striae gravidarum (+). Wheezing -/-. Bising usus sulit dinilai Ekstremitas : akral dingin (+). Gallop (-) : Suara nafas vesikuler.Riwayat KB : Pasien memakai KB suntik 1 bulan dan 3 bulan setelah kehamilan pertama selama 5 tahun.7 Kesadaran TB : 158 cm : Compos mentis BB : 68 kg Tekanan darah Nadi : 90/50 mmHg : 110 x/m Suhu Pernafasan : 35.bekas operasi (-) 3 . Sklera ikterik -/: Kelenjar getah bening tidak teraba membesar : Jantung Paru Abdomen : Bunyi jantung I-II regular. ASI (-) Abdomen: Buncit. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Status gizi : Obesiti : tampak sakit sedang BMI : 27. Linea mediana (-). Setelah pasien berhenti memakai KB. Setelah kehamilan kedua pasien kembali memakai KB suntik 1 bulan dan 3 bulan selama 1 tahun. Ronkhi-/- : Buncit. minum alkohol dan menggunakan narkoba. Murmur (-). III. merah (-). oedem (-) STATUS OBSTETRIK Pemeriksaan luar Inspeksi: Mammae: bengkak (-).

8 % 525 103/mm3 537 % 166 mg/dl Nilai normal 3. Plasenta masih berada di dalam kavum uterus dengan terlihat tali pusat yang di klem pada introitus vagina.500 % V. Terpasang kateter urin dengan jumlah urin 10 cc.8 g/dl 25.28 106/mm3 8. plasenta tidak dapat dilahirkan dengan melakukan tegangan tali pusat 4 . ASI (+) Abdomen : Tinggi fundus uteri sejajar umbilikus.kuning keruh Palpasi: Mammae: bengkak (-).00 pagi.0-50.5 g/dl 35. nyeri tekan (-) Perkusi : Timpani.nyeri tekan (-). Nyeri ketok (-) Auskultasi: Bising usus (+) 3 x/menit Pemeriksaan dalam: Tidak dilakukan IV.Genitalia: Perdarahan aktif (+). Keluhan timbul setelah pasien melahirkan pada jam 05.5-10.80-5.5 103/mm3 3.0-16.0 103/mm3 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium. Setelah melahirkan bayi. RESUME Pasien datang dengan keluhan perdarahan terus-menerus setelah melahirkan 7 jam SMRS.80 106/mm3 11.0 % 150-390 103/mm3 100-. tanggal 08 September 2012 Pemeriksaan WBC RBC HGB HCT PLT PCT GDS Golongan darah O Hasil 30.

Perdarahan Post-partum Primer e.5 103/mm3. Plt 525 103/mm3 VI. Pasien mulai merasa dingin dan menggigil. Laboratorium Didapatkan WBC 30.Ht 25.8 g/dl.cause atonia uteri Perdarahan post primer e.causa robekan jalan lahir VIII. Bidan yang melahirkan sudah melakukan manual plasenta namun tetap tidak berhasil tidak dikeluarkan.8 %. NaCl) 2 kolf Cairan maintanence dengan menggunakan cairan koloid (gelofusin) Inj. Asering. Ceftriaxone 3 x 1 5 . Status lokalis Dari pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis dan akral dingin. PENATALAKSANAAN  Rencana Diagnosis Observasi tanda-tanda vital Observasi perdarahan Observasi cairan input dan output Pemeriksaan laboratorium ulang setiap 24 jam  Rencana Terapi Loading cairan kristaloid (RL.terdapat perdarahan aktif dengan plasenta masih berada dalam kavum uterus dengan terlihat tali pusat yang di klem pada introitus vagina. RBC 3.26 106/mm3Hb 8. Perdarahan yang dialami terus-menerus dan perdarahan yang keluar banyak. DIAGNOSA Wanita. P3 A0. causa retensio plasenta VII.Pada pemeriksaan obstetri didapatkan asi tidak ada. DIAGNOSA BANDING Perdarahan post partum primer e.terkendali.

Dilakukan curetage oleh dr.Transfusi WBC sehingga tercapai target Hb (9 g/dl) Pemberian uterotonika. Adri Yanti.30 : .Ruptur di lakukan hecting .Plasenta ( + ) . SpOG dalmam narkose .Perdarahan ± 300 cc IX. PROGNOSA Ad vitam : Dubia ad Bonam Ad fungsionam : Dubia ad Bonam Ad sanationam : Dubia ad Malam 6 . oksitosin 20 IU didalam 500cc RL Rencana eksplorasi dan curetase  Rencana Edukasi Edukasi perawatan luka Edukasi menyusui Edukasi breast care Edukasi keluarga berencana (KB) 15.

Generalis Mata : konjungtiva pucat +/+.3 103/mm3 7 .1 °C Pernafasan : 20 x/m St. striae gravidarum (+). oedem (-) St. Nyeri ketok (-) Auskultasi: Bising usus (+) 3 x/menit Hasil lab tanggal 09 September 2012 ( setelah transfusi Whole Blood kantung pertama) Hb 6. BAK via kateter. Jam 0600 WIB S : darah sedikit.3 g/dl Ht 18. linea mediana (-). Ronkhi-/- : Buncit. Wheezing -/-.X. Bising usus (+) Ekstremitas : akral hangat (+). ASI ( -). sklera ikterik -/Leher : kelenjar getah bening tidak teraba membesar Thoraks : Jantung Paru Abdomen : Bunyi jantung I-II regular. FOLLOW UP Tanggal 09 September 2012.4 % Leu 19. pusing (-). merah (-). nyeri tekan (-) Perkusi : Timpani. Genitalia: lokia (+) darah. Gallop (-) : Suara nafas vesikuler. ASI (-) Abdomen: buncit.sedikit Palpasi: Mammae: bengkak (-). Obstetrik Inspeksi: Mammae: bengkak (-).nyeri tekan (-). nafsu makan baik O : Keadaan umum: tampak sakit sedang Tekanan darah : 120/70 mmHg Nadi : 114 x/m Kesadaran : Compos mentis Suhu : 36. ASI (+) Abdomen : Tinggi fundus uteri sejajar umbilikus. murmur (-). tidak BAB sudah 3 hari.

murmur (-). ASI ( +). di bwh umbilikus. Obstetrik Inspeksi: Mammae: bengkak (+). tidak BAB (+). nafsu makan baik : Keadaan umum: tampak sakit sedang Tekanan darah : 130/70 mmHg Nadi : 112 x/m Kesadaran : Compos mentis Suhu : 36. nyeri tekan (-) Perkusi : Timpani. oedem (-) St. BAK (+). Jam 0600 WIB S O : darah sedikit. Wheezing -/-.nyeri tekan (+)..kassa betadine (+) Palpasi: Mammae: bengkak (+). ASI (-) Abdomen: buncit. sklera ikterik -/Leher : kelenjar getah bening tidak teraba membesar Thoraks : Jantung Paru Abdomen : Bunyi jantung I-II regular. linea mediana (-). pusing (-).gurita (+) Genitalia: lokia (+) darah. Nyeri ketok (-) Auskultasi: Bising usus (+) 4 x/menit 8 . Ronkhi-/- : Buncit. ASI (+) Abdomen : Tinggi fundus uteri 2 jr.A P : Post-curetase hari pertama a/i perdarahan post partum e. striae gravidarum (+). Generalis Mata : konjungtiva anemis +/+. merah (-).4 °C Pernafasan : 21 x/m St. Bising usus (+) Ekstremitas : akral hangat (+).sedikit.causa retensio plasenta : Observasi tanda-tanda vital Observasi perdarahan Cefadroxil 3 x 1 Asam mefenamat 3 x 1 Nutribreast 2 x 1 Hemafort 1 x 1 Transfusi pack red cell  target Hb 9 g/dl Tanggal 10 September 2012. Gallop (-) : Suara nafas vesikuler.

nyeri tekan (-) Perkusi : Timpani. ASI (-) Abdomen: buncit. linea mediana (-). sklera ikterik -/Leher : kelenjar getah bening tidak teraba membesar Thoraks : Jantung Paru Abdomen : Bunyi jantung I-II regular.1 °C Pernafasan : 20 x/m St. merah (-). striae gravidarum (+). Jam 0600 WIB S O : darah sedikit. Gallop (-) : Suara nafas vesikuler. pusing (-). Obstetrik Inspeksi: Mammae: bengkak (-). nafsu makan baik : Keadaan umum: tampak sakit sedang Tekanan darah : 120/70 mmHg Nadi : 114 x/m Kesadaran : Compos mentis Suhu : 36. BAB (+). Nyeri ketok (-) 9 . Generalis Mata : konjungtiva anemis +/+. murmur (-). oedem (-) St.causa retensio plasenta : Observasi tanda-tanda vital Observasi perdarahan Cefadroxil 3 x 1 Asam mefenamat 3 x 1 Nutribreast 2 x 1 Hemafort 1 x 1 Transfusi pack red cell  target Hb 9 g/dl Tanggal 11 September 2012. ASI (+) Abdomen : Tinggi fundus uteri sejajar umbilikus.sedikit Palpasi: Mammae: bengkak (-). Ronkhi-/- : Buncit. BAK (+). Wheezing -/-.A P : Post-curetase hari kedua a/i perdarahan post partum e. ASI ( +).nyeri tekan (-). Bising usus (+) Ekstremitas : akral hangat (+). Genitalia: lokia (+) darah.

8 g/dl Ht 22.4 103/mm3 A P : Post-curetase hari ketiga a/i perdarahan post partum e.8 % Leu 8.causa retensio plasenta : Observasi tanda-tanda vital Observasi perdarahan Cefadroxil 3 x 1 Asam mefenamat 3 x 1 Nutribreast 2 x 1 Hemafort 1 x 1 Transfusi pack red cell  target Hb 9 g/dl 10 .Auskultasi: Bising usus (+) 3 x/menit Hasil lab tanggal 10 September 2012 ( Post transfusi WB ) Hb 7.

Jadi menurut saya dari data ini sesuai dengan gambaran retensio plasenta yang kemungkinan penyebabnya adalah kelainan plasenta berupa plasenta adhesiva dimana plasenta melekat sangat kuat pada dinding uterus sehingga plasenta tidak dapat lepas dari tempat perlekatannya pada dinding uterus secara spontan dan memerlukan tindakan untuk mengeluarkan plasenta berupa manual plasenta dan kuretase post partum. Sedangkan retensio plasenta ditegakkan berdasarkan dari anamnesis diketahui plasenta belum lahir lebih dari 30 menit. dan ketika dilakukan manual plasenta mendapat kesulitan sehingga plasenta tidak dilahirkan secara lengkap sehingga diperlukan tindakan lain berupa kuretase post partum untuk mengeluarkan sisa plasenta yang masih melekat dalam dinding uterus. diawali dengan perdarahan sewaktu pelepasan plasenta dan dilakukan manual plasenta dan kuretase. Salah satu penyebabnya adalah retensio plasenta. 11 .BAB II ANALISA KASUS Perdarahan post partum sering terjadi pada wanita yang menjalani persalinan normal. adanya perdarahan yang diperkirakan lebih dari 500 CC. pada pemeriksaan terlihat tali pusat dengan klem dan plasenta masih terdapat di dalam kavum uteri. Perdarahan post partum pada kasus ini ditegakkan berdasarkan dari anamnesis. Prinsip penatalaksanaan pada pasien ini adalah menghentikan perdarahan segera dan memperbaiki kontraksi dengan uterotonika dan pengeluaran plasenta manual. Dari hasil manual plasenta didapatkan sebagian plasenta telah terlepas dari dinding rahim.

Definisi Perdarahan post-partum adalah perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih pada persalinan normal atau 1000 cc atau lebih pada operasi seksio sesaria yang terjadi setelah bayi dilahirkan (ALARM). Retensio plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1–12 jam setelah kelahiran anaknya III. Perdarahan dapat terjadi sebelum.000 wanita mati setiap tahun karena perdarahan post-partum ini dan 50 % dari kematian ini terjadi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan.BAB III TINJAUAN PUSTAKA III. selama atau sesudah lahirnya plasenta. WHO juga memperkirakan bukan 12 . Syok yang akan dibahas di dalam tulisan ini adalah syok hipovolemik dimana syok hipovolemik boleh didefinisikan keadaan dimana kehilangan cairan dalam jangka waktu cepat yang menyebabkan kegagalan organ multipel di sebabkan volume sirkulasi yang tidak mencukupi dan perfusi yang tidak adekuat. World Health Organization (WHO) melaporkan di daerah Afrika perdarahan sejauh ini merupakan penyebab utama kematian di mana di catatkan 35% dari kasus di negara itu disebabkan oleh perdarahan post-partum.. Perdarahan post-partum dibagi atas dua bagian dimana pada perdarahan post-partum primer atau early postpartum hemorrhage terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir manakala perdarahan post partum sekunder atau late postpartum hemorrhage yang terjadi antara 24 jam dan 6 minggu setelah anak lahir. Secara garis besarnya 140.B. A. Epidemiologi Perdarahan post-partum merupakan salah satu dari penyebab terbesar dari kematian ibu termasuk pada negara industri maupun bukan industri.

saja tingkat mortalitas yang semakin tinggi namun 20 juta ibu hamil menderita setiap setiap tahun disebabkan morbiditas dari perdarahan post-partum ini. III. Penelitian terkini yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan 12% dari semua angka mortalitas pada maternal adalah disebabkan oleh perdarahan obstetrik .C. Penerimaan perdarahan yang tinggi ini yang menyebabkan uterus akan mengalami perdarahan yang sangat hebat sekiranya tidak di kontrol secara fisiologi maupun secara medisinalis. Pada saat trimester ketiga. Patofisiologi Pada masa aterm. Setelah bayi dilahirkan uterus akan mengalami kontraksi dimana hal ini akan menurunkan volume. volume darah ibu meningkat 50 % dimana hal ini meningkatkan toleransi tubuh akibat kehilangan darah pada saat melahirkan.uterus dan plasenta menerima sekitar 500-800 ml darah per menit dari pembuluh darah yang mempunyai resistensi yang rendah yang terdapat pada kedua organ ini. Hal ini membolehkan plasenta 13 .

Untuk memudahkan tenaga medis. polyhidramnion atau abnormalitas bayi.Etiologi Perdarahan post partum mempunyai banyak penyebab namun penyebab tersering yang menyebabkan keadaan ini berlaku adalah kegagalan uterus untuk melakukan kontraksi atau dengan nama lainnya atonia uteri. Overdistensi uterus sama ada absolut maupun relatif merupakan resiko paling utama terjadinya atonia uteri. tissue.robekan jalan lahir atau pembuluh darah pada pelvik dan genitalia dan pengaruh dari faktor-faktor pembekuan.macrosomia. Overdistensi ini disebabkan oleh kehamilan multipel . III. Secara umum perdarahan ini boleh disebabkan oleh 4T yaitu tonus. Atonia uteri dana kegagalan untuk berkontraksi dan retraksi dari serat otot miometrium menyebabkan perdarahan yang cepat dan hebat yang akhirnya boleh berakhir dengan syok hipovolemik. Pada penelitian secara rawak di Amerika Serikat menunjukkan berat badan lahir. perdarahan signifikan akan terjadi.D. Perdarahan post-partum pada riwayat kehamilan sebelumnya merukan faktor resiko utama dan setiap usaha haruslah dilakukan untuk menilai tingkat keparahan dan penyebab dari keadaan ini. chorioamnionitis. Antara sebab major lain adalah abnormalitas dari penempelan plasenta atau tertahannya jaringan plasenta . Setelah berlakunya perlepasan plasenta.trauma dan thrombosis. Sekiranya uterus gagal untuk berkontraksi atau plasenta gagal untuk dilepaskan atau dilahirkan.trauma dan thrombosis. Kontraksi miometrium 14 .tissue. Atonia uteri atau menurunnya kontraktilitas miometrium menyumbang 805 dari perdarahan post-partum.induksi dan augmentasi persalinan. uterus menghasilkan proses kontraksi dan retraksi dimana hal ini akan menyebabkan pemendekan dari serat dan menyebabkan kinking dari pasokan pembuluh darah. magnesium sulfate dan riwayat PPH pada kehamilan lalu meningkatkan resiko terjadinya PPH.untuk berpisah dari permukaan uterus dan membuka pembuluh darah ibu yang menempel pada permukaan plasenta.4T digunakan sebagai langkah untuk mengingati etiologi dari PPH yaitu tonus.

Presentasi yang biasa dilihat adalah perdarahan hebat dari vagina yang boleh dengan cepat menimbulkan gejala klinis syok. Oleh karena itu. observasi pada saat post partum haruslah mencakup dokumentasi dari hasil tanda vital. Gambaran Klinis Walaupun presentasi dari PPH biasanya sangat dramatik namun perdarahan mungkin sahaja terlihat perlahan dan tidak bermakna namun bisa berakhir dengan syok. dan tonus serta ukuran dari uterus. Trauma juga dapat terjadi pada proses persalinan yang sulit seperti cephalo pelvik disporsposi III. Pada saat persalinan plasenta dan sekiranya perdarahan minimal plasenta harus diperiksa untuk membuktikan masalah dari jaringan di plasenta. Kontraksi dari uterus dan retraksi menyebabkan perlepasan dan ekspulsif dari plasenta. Kehilangan darah biasanya terlihat di introitus vagina dan kadang boleh juga tidak terlihat akibat dari retensio plasenta. Ruptur dari uterus sangat sering pada ibu dengan riwayat seksio sebelumnya. Kegagalan untuk mengalami perlepasan sempurna dari plasenta terkadang menyebabkan palsenta akreta dan jenis nya yang lain. Kehilangan darah yang cepat ini juga merupakan kombinasi dari aliran darah yang tinggi pada uterus. Kerusakan pada traktus genitalia biasanya terjadi spontan atau akibat dari manipulasi saat melahirkan bayi. Perlepasan plasenta secara komplit membolehkan retraksi diteruskan dan oklusi optimal dari pembuluh darah dapat berlaku. 15 .E. kehilangan darah..yang buruk dapat disebabkan oleh kelelahan akibat proses persalinan yang memanjang maupun proses persalinan yang dipaksa terutama sekiranya di lakukan stimulasi. Tabel dibawah menunjukkan derajat kehilangan darah dan simptom dan tanda yang akan ditimbulkan.

Penatalaksanaan Syok Pada Perdarahan Post-partum PPH Asses Maternal ABC’s Maternal Resuscitation Massage Uterus Bleeding Stopped 16 . F.III.

25 mg IM/IU +/Ergonovine 0. pernapasan dan 17 . Intervensi medis awal harus diprioritaskan untuk memastikan kadaan hemodinamik dapat distabilkan.25 mg IM Bleeding Stopped Pada kondisi post partum seorang tenaga medis harus memerhatikan dua pasien yang akan ditangani yaitu ibu dan bayi.Placenta In Manually remove Explore Uterus Massage Uterus Oxytocin 20 U/l crystalloid Cross-match ≥2 units Bleeding Stopped Bimanual Compression Bleeding Stopped Uterus Still Atonik Inspect for and repair Vaginal/ Cervical trauma Consider/treat Coagulopathy Hemabate 0. Intervensi ini mencakup jalan napas.

Setelah itu. Pada saat ini harus dipikirkan untuk memberi penambahan oksigen untuk mengaugmentasi pernapasan dan pasokan dari oksigen dan sebagai penambah kepada nadi dan juga tekanan darah. Dalam mencoba untuk menangani syok pada keadaan ini boleh di gunakan nemonic ORDER : Oxygenate. dilakukan masase uterus pada fundus uteri untuk mengontrol perdarahan dan membantu pengeluaran plasenta dimana prosedur ini biasanya berlangsung selama 15-30 menit. nadi yang meningkat mahupun menurun dan akral dingin. tenaga medis harus mendokumentasikan tanda vital dan dapat melakukan pemeriksaan fisik secara general dimana pemeriksaan fisik ini terfokuskan kepada ABC dari ibu. Transportasi pasien juga harus diperkirakan ke rumah sakit yang paling hampir dengan tempat persalinan dimana di sana terdapat fasilitas kebidanan yang lebih lengkap. Evaluate Response to Therapy. Ibu dengan syok akibat perdarahn post-partum sering berhadapan dengan masalah yang mengganggu sirkulasi. Sekiranya si ibu masih boleh berbicara ini menunjukkan airway masih intak. Pada saat ini. Restore circulating volume. dicari kemungkinan terjadinya sebarang robekan pada jalan lahir atau laserasi. Remedy Underlying Cause. Pada penangan awal ini. tindakan yang dilakukan sekadar untuk menstabilkan ibu dan bayi sebagai persiapan untuk transportasi ke fasilitas yang lebih memungkinkan ibu untuk ditangani. Resusitasi cairan juga harus dilakukan menggunakan cairak kristaloid sebagai loading dose sebelum menggantikan cairan koloid sebagai cairan maintainens. tindakan selanjutnya akan dipikirkan. Dilihat dan diperiksa juga tanda-tanda kegagalan sirkulasi seperti tekanan darah menurun. Sekiranya ditemukan perdarahan boleh dibantu dihentikan dengan menggunakan kasa. Drug Therapy. Pada saat ini sebaiknya ibu diposisikan dengan posisi Tredelenburg. Kemudian tenaga medis melanjutkan tindakan dengan memasang 2 iv line dengan memperkirakan menggunakan kanul yang besar sebelum memulakan pemberian resusitasi cairan segera dengan menggunakan cairan kristaloid.sirkulasi. Setelah penangan primer berhasil untuk dilakukan. Pada prinsipnya cairan kristaloid ini merupakan 18 .Pada penanganan primer untuk ibu.

Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia. Kristaloid dalam waktu singkat sebagian besar akan keluar dari intravaskular. sebagai cairan maintainance cairan koloid akan menggantikan cairan kristaloid tadi. Pada saat ini harus dilakukan pemeriksaan hasil laboratorium untuk memerhatikan keadaan pasien dan memikirkan tindakan untuk dilakukan transfusi atau pemberian antibiotik sekiranya didapatkan resiko infeksi. mudah dipakai. Setelah diberikan resusitasi cairan. Setelah penilaian ulang keadaan hemodinamik pasien. Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstital berlangsung selama 30-60 menit sesudah infus dan akan keluar dalam 24-48 jam sebagai urine. tidak menyebabkan reaksi alergi dan sedikit efek samping. sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak (2. pasien atau ibu harus dilakukan monitor ulang untuk menilai tindakan yang telah dilakukan berhasil atau tidak. Kristaloid mempunyai waktu paruh intravaskuler 20-30 menit. tidak mengandung molekul besar. Larutan kristaloid ini adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextrosa. murah.volume expander.5-4 kali) dari volume darah yang hilang. Secara umum kristaloid digunakan untuk meningkatkan volume ekstrasel dengan atau tanpa peningkatan volume intrasel. Cairan koloid ini 19 .

4 Gelofusine 7.07. Tonus 20 . Contoh cairan koloid antara lain dekstran.1. haemacel. albumin.0 3. Resusitasi cairan pada penderita dengan defisit cairan berat (syok hemoragik) sebelum transfusi tersedia. sehingga volume yang diberikan sama dengan volume darah.dan sebagai resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat.0 Na+ 130160 130160 154 154 154 154 Cl130160 130160 154 154 154 154 K+ Ca2+ Laktat Glukosa Osmolalitas Lainlain <> 0 0 0 309 50g/L albumin <> 0 0 0 312 250g/L albumin 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 310 326 311 310 60 g/L starch 100 g/L starch 100 g/L dextran 60 g/L dextran Setelah melakukan tindakan untuk menstabilkan hemodinamik dari si ibu tindakan intervensi akan dilakukan untuk mencari penyebab dari perdarahan post-partum yang berlaku kepada si ibu tadi.57.25 0 0 0 0 0 293 308 35 g/L gelatin 40 g/L gelatin pH 6.4 5. misalnya pada luka bakar. tinggal dalam intravaskular cukup lama (waktu paruh koloid intravaskuler 3-6 jam).47.5 5.0 3.47. plasma dan darah.5% 7.4 145 154 145 125 5 0 6.4 6.Secara umum koloid dipergunakan untuk. III. Cairan Albumin (5% Albumin (25%) Hetastarch 6% Pentastarch 10% Dextran-40 (10% solution) Dextran-70 (6% solution) Haemaccel3.mengandung molekul-molekul besar berfungsi seperti albumin dalam plasma.F.

hypertension.2 mg 15-methyl Prostaglandin F2α IM: 0. Oxytocin Ergometrine/ Methylergometrine IM or IV (slowly): 0.25 mg every 15 minutes Maximum dose Not more than 3 L of IV fluids containing oxytocin Precautions/ Contraindications Do not give as an IV bolus 5 doses (Total 1. heart disease Asthma 21 . give 0.  Memberikan uterotonika untuk meningkatkan kontraksi.2 mg IM after 15 minutes If required.25 mg Dose and route IV: Infuse 20 units in 1 L IV fluids at 60 drops per minute IM: 10 units Continuing dose IV: Infuse 20 units in 1 L IV fluids at 40 drops per minute Repeat 0. Alternatif lain adalah pemberian misoprostol dimana misoprostol ini tidak mahal dan berdasarkan literatur dan penilitian mempunyai keberhasilan yang sama dengan oksitosin.0 mg) 8 doses (Total 2 mg) Pre-eclampsia. Melakukan masase untuk merangsang kontraksi uterus dan menghentikan perdarahan  Tangan pemeriksa yang dipasang sarung tangan dimasukkan kedalam segmen bawah uterus untuk mengeluarkan bekuan darah yang boleh menghambat kontraksi adekuat.2 mg IM or IV (slowly) every 4 hours 0. Pemberian oksitosin dengan dosis 20-40 unit didalam 1L Ringer Laktat dengan kecepatan 600 ml/jam. Methergin juga boleh digunakan untuk merangsang kontraksi sekiranya pemberian oksitosin tidak berjaya.

Perdarahan aktif akibat laserasi harus di perbaiki.F. Residen obstetri sekiranya tidak ada 2. Kateter foley yang telah diisi air ( kira kira 30 ml) sehingga balon nya mengembang ini bertindak sebagai tampon yang akan membantu dalam menghentikan perdarahan. Setiap unit obstetrik harus mempunyai protokol untuk manajemen sekiranya berlaku perdarahan masif. Berikut di sertakan contoh dari protokol untuk sampel manajemen dari perdarahan: Organisasi - Switchboard operator memberitahukan orang yang berwenang seperti berikut: 1. Teknisi bank darah 5. Trauma  Sekiranya didapatkan laserasi atau didapatkan hematoma diberi penekanan lokal untuk membantu menghentikan perdarahan. Dokter anastesi yang bertugas 3.2.III. Perawat bertugas 4. Sekiranya perdarahan berasal dari kavum uteri. Pembantu transportasi - Konsultan hematologi dan obstetri harus diberitahukan keadaan klinis pasien 22 . alternatif menggunakan balon boleh dilakukan dengan cara memasukkan kateter foley kedalam kavum sebelum diberikan cairan.

5. Darah yang belum dicross match. Tanda-tanda vital.CVP dan urin output 2. Darah yang sudah di cross match diberikan dengan kadar segera. Dosis dan tipe obat-obatan yang diberikan - Mempersiapkan kamar operasi secepatnya – sekiranya pada saat emergensi memerlukan tindakan operasi Manajemen Klinis - Memasukkan 2 kanul yang berukuran besar ( dianjurkan 16-gauge dan ke atas). Berikan darah tipe 0-negatif hanya sekiranya darah yang di atas tidak tersedia namun hal ini hanya berlaku sekiranya untuk usaha menyelamatkan nyawa.sesuai dengan ABO pasien harus diberikan sekiranya darah yang sesuai cross match belum tersedia. 6.- Satu dari perawat bertanggungjawab untuk mendokumentasikan: 1. pemeriksaan pembekuan darah dan cross-match. Cairan pilihan kristaloid dan koloid.5 L sampai 2 L 2. . Kemudian mengambil 20 ml dari darah untuk dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Rh-negatif. 3. 4. - Memberikan oksigen menggunakan face-mask Memberikan resusitasi cairan 1. Berhentikan perdarahan:  Sekiranya antepartum:lahirkan bayi segera 23 . Jumlah dan tipe cairan yang diberikan kepada pasien 3. Cairan inisial diberikan segera. IV-line dan kateter urin segera di pasang. Dosis yang diberikan 1.

Gagal ginjal (urin output < 30 cc/jam. 2. Berikut disertakan indikasi pasien untuk dirawat di intensive care unit:     Semua pasien yang memerlukan fasilitas ventilator Semua pasien dengan perdarahan berterusan Semua pasien yang memerlukan support inotropik Semua pasien dengan kegagalan organ: 1. Melakukan ligasi arteri iliaca 4.  Sekiranya perdarahan disebabkan oleh trauma pada daerah genital atau produk sisa.kreatinin > 150 mmol/L) 24 .5 mg atau prostaglandin F 2α 0. berikan ergometrine 0.  Perkiraan operasi: 1. Melakukan ligasi arteri uterina 3. Kompresi sementara pada aorta mungkin bisa memberikan memperpanjang waktu untuk persiapan. pasien harus langsung dibawa ke kamar operasi untuk dilakukan tindakan operasi dan memperbaiki luka.25 mg.5 mg IV. Injeksi intramyometrium dari derivat prostaglandin E2 0. Histerektomi Pada pasien dengan perdarahan post-partum kadang-kadang diperlukan fasilitas intemsive care unit bagi memantau dan memastikan kesejahteraan pasien. Berikan syntocinon 40 unit didalam 500 ml cairan Hartman selama 4 jam.  Sekiranya perdarahan masih tetap berlangsung harus dipikirkan masalah dari faktor pembekuan. kompresi bimanual. Sekiranya post-partum: lahirkan plasenta.

Pre-eklampsia/eclampsia/Sindrom HELLP 2. nadi dan urin output yang dikombinasi dengan perkiraan darah yang hilang per jam. Pasien dengan hipovolemik seharusnya dipantau keadaan hemodinamik untuk mengetahui volume intravaskuler dan tekanan pengisian ventrikel. Kehamilan dengan Fatty Liver Akut 3.2.G Monitoring Pada wanita dengan perdarahan sebagai akibat dari bagian obstetri akan memerlukan pemantauan ketat tergantung keparahan perdarahan yang dialami oleh wanita tersebut. Sindrom anaphylactoid  Semua pasien yang memerlukan pemantauan ketat III. Penyebab lain yang menyebabkan kegagalan hati akut 4. 25 . Pemantauan klinis yang penting untuk dilakukan adalah pemantauan tekanan darah. Gagal napas  Semua pasien dengan komplikasi 1.

BAB IV KESIMPULAN Secara tradisional. Penyebab paling sering dalam terjadinya perdarahan postpartum adalahatonia uteri. riwayat denganperdarahan postpartum dan pasien dengan plasenta previa. hidramnion. multipara. Dimana uterus yang mengalami overdistensi yang dikarenakankelahiran gemeli. Beberapa keadaan yang dapat menimbulkan resiko perdarahan postpartum antara lain : Pelahiran janin besar (makrosomi). pelahiran denganmenggunakan forceps. perdarahan postpartum didefinisikan sebagaihilangnya 500 ml atau lebih darah setelah kala tiga persalinan selesai. terdapat beberapafaktor yang dapat menyebabkan perdarahan 26 . makrosomi (janin besar). Selain atonia uteri.persalinan yang dipacu dengan oksitosin. hidramnion sehingga uterusmengalami hipotonia setelah persalinan. persalinan pervaginam setelah operasi sectio secarea.

2010:hal 519 -29 3. Postpartum Hemorhage and Other Problems of the Third Stage. memeriksa plasenta dan ketuban. inspekulo dan dengan pemeriksaan laboratorium. eksplorasi kavum uteri. beberapa hal yang pokok untuk dilakukan antara lain : hentikan perdarahan. Philip N. Azhar M. kita dapat mendiagnosis dengan cara melihat berdasarkan gejala klinisnya.2006: hal 287. B. 18th Edition. Dalam menangani perdarahan postpartum. High Risk Pregnancy:Management Option.2011:hal 1283-1311 2. Obstetric Companion For The Undergraduates. cegah/atasi syok dan ganti darah yang hilang. Edisi Keempat. BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. palpasi uterus. laserasi saluran genital bawah.99 27 . London: Edward Arnold. Saunders and Elsvier. B. Michael A. The Puerperium.inversi uteri. Malaysia: Royal College of Medicine.Dalam mendiagnosis perdarahan postpartum.postpartum dapat terjadi. ruptur uteri. International Student’s Edition Obstetric by Ten Teachers. United Stated of America. plasentasi abnormal dan koagulopati. Diantaranya potongan plasenta yang tertinggal.

Diunduh pada 20 September 2012. Post-partum Hemorrhage:Treatment and Medications.com/article/827930-medication 6. Fluid Resucitation. Post-partum hemorrhage.medscape. Tersedia dari: http://ceaccp.org/content/4/4/127.medscape. Diunduh pada 19 September 2012. Diunduh pada 20 September 2012.Tersedia dari:http://emedicine. Shock and Obstetrics.4. Tersedia dari: http://emedicine.full.Diunduh pada 19 September 2012.pdf 28 . Tersedia dari : http://emedicine.com/article/275038-treatment#showall 7.com/article/796785-clinical#showall 5.medscape.oxfordjournals.