Herlambang Aditya Dewa 10/299538/SP/24163 Teori Politik Internasional Emmerich de Vattel Emmerich de Vattel lahir pada 25 April

1714 dan meninggal pada 28 Desember 1767. Dia adalah seorang filsuf dan diplomat dari Swiss. Mahakarya dari Emerich de Vattel yg paling terkenal adalah buku berjudul Le Droit des gens (The Law of Nation) pada tahun 1758. Isi dari buku itu mendapat pengaruh yang besar dari buku Jus Gentium (The Law of Nation) yang merupakan hasil pemikiran dari filsuf Jerman Christian Wolff pada tahun 1749. Dalam mahakarya de Vattel tersebut, dia selain melakukan penerjemahan terhadap buku Wolff tersebut, tapi dia juga memberikan sentuhan pendapat pribadinya seperti menolak beberapa konsepsi yang dibuat Wolff. Berfokus pada hak dan kewajiban, dan karya de Vattel ini juga memiliki cabang dari teori Just War. Buku Les Droit des gens karangan de Vattel berisi tentang pemikirannya mengenai Law of Nature (yang dikaitkan kemudian dengan konsep Law of Nation) dan tentang kewarganegaraan. Pemikirannnya tentang Law of Nature bercerita tentang pemikiran bahwa negara memiliki hak untuk melakukan perang (jus ad bellum). Menurut de Vattel, hak ini bukan merupakan hak yang datang dari otoritas yang lebih tinggi karena kedaulatan datang dari masyarakat sebagai hasil natural dari organisasi sosial mereka. Dan juga dia menulis mengenai apa saja yang boleh dilakukan saat berperang (jus in bello). Tapi tidak seperti pemikir sebelumnya mengenai just war, de Vattel membatasi alasan melakukan perang pada humanitarian ‘ideals’ dan menurutnya mengenai kepercayaan religious tidak termasuk dalam alasan melakukan perang. Seni menurutnya merupakan hasil dari humanitarian ‘ideals’ tersebut. Maka dari itu, dia sangat melarang adanya perusakan terhadap bangunan-bangunan yang indah dan peninggalan-peninggalan budaya lainnya. Pemahaman lain mengenai Law of Nation adalah merupakan sebuah kumpulan Law of Nature. Law of Nature merepresentasikan sifat dasar manusia. Dan dalam konteks negara ini, sifat dasar negara tersebut tergantung dengan sifat dasar manusia yang menjadi masyarakat. Maka dari itulah dapat diasumsikan Law of Nation merupakan kumpulan dari Law of Nature. Dan karena Emmerich percaya bahwa Law of Nature manusia adalah ingin damai maka itu akan mempengaruhi Law of Nation dari negara tersebut. Sehingga yang terjadi walaupun negara

dalam memenuhi kepentingannya meletakkan kepentingan tersebut dalam prioritas tertinggi dan dapat melakukan apa saja untuk mendapatkannya tapi sifat dasar masyarakatnya lah yang membuat negara tersebut tidak bisa menggunakan kekerasan secara terus menerus. Seperti Grotius, de Vattel percaya bahwa perang merupakan pertempuran atau perselisihan antara seluruh masyarakat dari suatu negara dengan masyarakat dari negara lain. Tapi, tidak semua masyarakat dalam suatu negara terlibat secara langsung dalam peperangan antara negara tersebut. Orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dalam peperangan ini disebut noncombatant dimana mereka tidak boleh terkena serangan atau dampak dari perang yang membahayakan diri mereka sehingga harus dilindungi. De Vattel memasukkan pendeta, guru, wanita, anak-anak, dan orang tua (lanjut usia) dalam daftar orang yang termasuk noncombatant. Dia juga sangat melarang penggunaan peluru meriam panas untuk menyerang pemukiman karena bisa berakibat kebakaran yang secara tidak sengaja dapat mengenai penduduk-penduduk yang termasuk noncombatant. De Vattel mempertahankan hak negara untuk melakukan peperangan dan juga memperluas dan memperjelas aturan-aturan mengenai apa saja yang bisa dilakukan saat berperang. De Vattel dalam pemikirannya yang tertuang dalam buku tersebut menggunakan pemikiran yang sangat sekuler karena bagaimanapun pada awalnya dia tidak pernah menyetujui penggunaan agama sebagai alasan untuk memulai terjadinya perang. Seluruh pertimbangan moral diganti menjadi pertimbangan secara practical dan teologi digantikan dengan ‘ideals’ dan hak manusia. Bisa dilihat bahwa pemikiran de Vattel mengenai perang hampir sama dengan pemikirpemikir sebelumnya. Dimana de Vattel disini menjustifikasi perang sebagai produk dari keputusan bersama yang dibuat oleh masyarakat. Hanya saja dia mempersempit alasan-alasan untuk melakukan perang yang menurut asumsi penulis merupakan caranya untuk meminimalisir terjadinya perang dan menambahkan aturan-aturan dalam perang yang bertujuan untuk membuat perang menjadi lebih beradab dan teratur untuk meminimalisir dampak sampingan dari adanya perang. Pemikiran de Vattel mengenai just war mengingatkan penulis mengenai hukum-hukum humaniter internasional yang sudah berkembang saat ini. Seperti adanya perlindungan terhadap situs-situs budaya dan segala macam bangunan yang merupakan hasil karya manusia hampir sama dengan pasal dalam hukum humaniter dimana memang disana diatur mengenai perlindungan bangunan-bangunan tersebut. Konsepsi de Vattel mengenai orang-orang yang tidak

terlibat secara langsung dalam perang yang dikenal dengan istilah noncombatant ini juga muncul dalam hukum humaniter internasional, dimana memang orang-orang ini memang harus dilindungi dan bahkan diselamatkan oleh para combatant yang terdiri dari para angkatan militer dari suatu negara yang terlibat dalam peperangan tersebut. Dan juga pelarangan menggunakan senjata meriam yang bisa membakar bangunan untuk menghindarkan para noncombatant dari dampak perang ini kemudian muncul di hukum humaniter internasional dalam bentuk pelarangan beberapa jenis senjata yang memiliki daya hancur luas dan susah dikendalikan serta peraturan mengenai tempat berperang agar menghindari pemukiman para penduduk untuk menghindari adanya luka atau kerusakan terhadap penduduk dan rumah tinggal mereka. Sumber : http://www.britannica.com/EBchecked/topic/624086/Emmerich-de-Vattel http://www.nationmaster.com/encyclopedia/Emerich-de-Vattel http://shaungroves.com/2011/02/just-war-part-10-emmerich-de-vattel/ Pertanyaan Diskusi : 1. Menurut anda, bagaimana dampak dari pemikiran de Vattel dengan tidak memasukkan unsur agama dalam alasan menjustifikasi perang? Jelaskan dengan argument yang memadai. 2. Bagaimana peran pemikiran de Vattel terhadap hukum internasional yang mengatur mengenai perang di isu kontemporer saat ini?
3. Setelah beberapa pemikiran mengenai Just War sebelumnya, bagaimana menurut anda

mengenai konsep Just War itu sebenarnya? Apakah konsep Just War itu benar-benar memenuhi justifikasi perang dari para pemikir ini? Ataukah konsep Just War itu hanya merupakan kedok untuk menjustifikasi tindakan negara untuk memenuhi kepentingan nasional dengan cara yang agresif? Jelaskan dengan argument yang memadai.

Related Interests