You are on page 1of 19

1

ANALISIS PERBANDINGAN MODEL FAIR VALUE DAN MODEL HISTORICAL COST SERTA PENERAPANNYA TERHADAP ASET TETAP (Studi kasus pada PT Sidomulyo Selaras Tbk)
SILVYANA MARIA I Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma 2011 ABSTRACK In general, conventional accounting, financial statements are presented based on historical cost, which assumes that the price (monetary unit) is stable. Conventional accounting does not recognize changes in general price levels or changes in certain price level. As a result, if there are changes such as purchasing power, the historical financial statements is economically irrelevant, because it does not reflect the true market value. There should be a single model for measuring financial instruments. This model refers to fair value. Measurement of financial instruments at fair value does not mean abandoning historical cost information. Fair value measurement should be reliable and have worked out ways of referring to the causes of economic transactions. The study was conducted on transportation services company with years of observation in the years 2010 through 2011. Based on research showing more profitable for companies to apply fair value because it can show the true value and can be used to enhance asset value than if the company applying historical cost. So fair valuation has effectively been extended to all types of fixed assets, allowing managers to record revenue at fair value..

Keywords: fair value accounting, historical cost, revaluation, fix asset

PENDAHULUAN Suatu perusahaan tertentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai tujuan didirikannya perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar tercapainya tujuan itu, setiap perusahaan mempunyai aset (harta/asset) tertentu guna memperlancar kegiatan yang dilaksanakan perusahaan. Aset tetap merupakan komponen yang sangat penting bagi perusahaan untuk kegiatan operasionalnya. Aset tetap tersebut merupakan salah satu komponen dalam neraca, sehingga ketelitian dalam pengolahan aset tetap sangat berpengaruh terhadap kewajaran penilaiannya dalam laporan keuangan. Sejak diberlakukannya International Accounting Standard (IAS) No.40 untuk akuntansi Biological Asset pada tahun 2003, maka era Fair Value (Nilai Wajar) dalam konteks Mark to Market (MTM) di sistem akuntansi telah bermula.

Pada beberapa tahun kebelakang, IASB (International Accounting Standard Board) telah merevisi beberapa Standar Akuntansi Internasional dengan memberlakuan Fair Value untuk beberapa ketentuan dalam standar akuntansinya. Salah satu yang menonjol adalah pengakuan Fair Value sebagai salah satu opsi (model revaluasi) selain Nilai Buku (Historical Cost) - dalam penentuan nilai aset tetap (Property, Plant and Equipment). Pada ketentuan lain, fair value juga digunakan dalam penentuan nilai atas kewajiban (liability) di beberapa standar lainnya. Perubahan ini telah memberikan efek kepada seluruh stakeholder, apakah pelaku usaha, Akuntan maupun Penilai dalam pemberian pendapat atas fair value tersebut. Demikian pula US GAAP yang mewakili standar akuntansi keuangan di Amerika, sejak tahun 2006 telah memberlakukan SFAS 157 tentang Pengukuran Nilai Wajar (Fair Value Measurement) untuk berbagai keperluan terkait. Standar Akuntansi di Indonesia pertama sekali memberlakukan opsi Nilai Wajar pada tahun 2007 untuk PSAK 16 tentang Aset Tetap yang mengadopsi dari IAS/IFRS 16 (Property, Plant and Equipment). Kewajaran penilaian aset tetap suatu perusahaan dapat disesuaikan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 (2009). Dalam PSAK ini dinyatakan bahwa aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode. Asset tetap biasanya memiliki masa pemakaian lebih dari satu tahun, sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam jangka waktu yang relatif lama. Namun, manfaat yang diberikan aset tetap umumnya semakin lama semakin menurun manfaatnya secara terus menerus, dan menyebabkan terjadi penyusutan (depreciation). Seiring dengan berlalunya waktu, aset tetap akan mengalami penyusutan (kecuali tanah). Faktor yang mempengaruhi menurun kemampuan suatu aset tetap untuk memberikan jasa/manfaaat yaitu : Secara fisik, disebabkan oleh pemakaian dan keausan karena penggunaan yang berlebihan dan secara fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta (misal kemajuan teknologi). Sehingga penurunan kemampuan aset tetap tersebut dapat dialokasikan sebagai biaya. Aset Tetap sangat berpengaruh dalam laporan keuangan perusahaan karena nilai dari aset tetap itu sendiri merupakan salah satu yang paling besar nilainya dalam laporan keuangan. Sehingga dalam penilaiannya di butuhkan adanya revaluasi terhadap aset tetap perusahaan. Karena dengan adanya revaluasi itu sendiri bertujuan untuk memperbaiki posisi keuangan dalam rangka tujuan memperoleh kredit dari bank, proses penjualan perusahaan. Dalam kondisi inflasi, perusahaan perlu mempertimbangkan untuk melakukan revaluasi karena nilai buku sudah tidak bisa mencerminkan harga pasar yang berlaku saat ini. Dan juga kenaikan harga yang sangat tinggi di negara kita sebagai akibat turun dan bergejolaknya mata uang Rupiah terhadap mata uang asing khususnya US Dollar, di samping telah menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat

Indonesia. juga menyebabkan nilai historis aset perusahaan yang dinilai dalam rupiah akan sangat jauh berbeda dengan harga pasarnya dan dapat mengakibatkan kurang serasinya perbandingan antara pengahasilan dengan beban, dan nilai buku dengan nilai intrinsik perusahaan. Definisi Revaluasi Aset Tetap adalah penilaian kembali aset tetap perusahaan, yang diakibatkan adanya kenaikan nilai aset tetap tersebut di pasaran atau karena rendahnya nilai aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi atau sebab lain. Sehingga nilai aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan tidak lagi mencerminkan nilai yang wajar. Sebelum adanya PSAK 16 Revisi 2007, semua perusahaan di Indonesia mencatat akuntansi untuk aset tetapnya dengan menggunakan model historical cost. Namun saat ini di butuhkan adanya fair value dalam revaluasi aset tetap perusahaan. Beberapa paragrap dalam PSAK 16 (2007) menjelaskan mengenai nilai wajar aset tetap pada saat revaluasi. Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional berdasarkan bukti pasar. Secara umum laporan keuangan disusun berdasarkan model historical cost yaitu menggunakan harga pada saat transaksi dan berasumsi bahwa harga-harga stabil. Penyusunan laporan keuangan berdasarkan model historical cost ini tidak akan mencerminkan adanya perubahan daya beli sehingga laporan keuangan kurang mampu mencerminkan keadaan yang sebenarnya jika terjadi perubahan. Hal ini akan menyebabkan laporan keuangan kehilangan keakuratan maupun ketelitiannya. Laporan keuangan tersebut kurang sesuai jika digunakan sebagai dasar pegambilan keputusan sehingga pihak ekstern maupun pihak intern perusahaan dapat kehilangan kepercayaan terhadap laporan keuangan. Terjadinya inflasi yang cukup tinggi akan menyebabkan semakin tinggi ketidakakuratan laporan keuangan yang dihasilkan. Agar dapat mencerminkan keadaan yang sebenarnya atau paling tidak mendekati keadaan yang sebenarnya, laporan keuangan dapat disusun dengan menggunakan tingkat harga umum. Semakin tinggi tingkat inflasi maka semakin besar perbedaan yang dihasilkan antara laporan keuangan yang disusun berdasarkan nilai historis dengan laporan keuangan yang disusun berdasarkan tingkat harga umum. Jika inflasi dan perubahan harga yang terjadi tidak terlalu tinggi maka perbedaan tersebut tidak terlalu besar atau bahkan tidak terjadi. Menurut PSAK 50, fair value adalah nilai suatu aset untuk dapat dipertukarkan atau suatu liabilitas diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi secara wajar (arms length transaction), bukan atas transaksi paksaan, likuidasi paksaan, atau penjualan paksaaan (distressed sale). Penggunaan fair value untuk menilai suatu item di dalam laporan keuangan bertujuan untuk meningkatkan relevansi laporan keuangan. Nilai wajar menyediakan informasi penting mengenai asset dan kewajiban financial jika di bandingkan hanya dengan menggunakan historical cost. Pelaksanaan penilaian kembali aset tetap memberikan keuntungan dan kerugian bagi perusahaan. Dari sisi penilaian kinerja perusahaan, neraca akan menunjukkan

posisi kekayaan yang wajar. Dengan demikian berarti pemakai laporan keuangan menerima informasi yang lebih akurat. Selisih lebih penilaian kembali juga meningkatkan struktur modal sendiri, artinya perbandingan antara pinjaman (debt) dengan modal sendiri (equity) atau Debt to Equity Ratio (DER) menjadi membaik. Membaiknya DER pada gilirannya perusahaan dapat menarik dana baik melalui pinjaman dari pihak ketiga atau melalui emisi saham. Selain itu, kenaikan nilai aset tetap mempunyai konsekuensi naiknya beban penyusutan aset tetap yang dibebankan ke dalam laba rugi, atau dibebankan ke harga pokok produksi. Sedangkan dari sisi perpajakan, selisih lebih yang diakibatkan dari penilaian kembali aset merupakan objek pajak, sehingga nantinya selisih lebih ini setelah dikurangi dengan kompensasi kerugian akan dikenakan PPh final sebesar 10%.

TELAAH PUSTAKA
Nilai Wajar (Fair Value) Sejak akuntansi pertama kali ditemukan, pelaporan keuangan telah diatur sedemikian rupa sehingga laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang benarbenar dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, akuntan menemukan banyak celah dalam pendekatan-pendekatan pelaporan keuangan yang telah ada, untuk melakukan fraud (kecurangan). Hal ini merupakan salah satu sebab munculnya pengaturan akuntansi baru yang berbasis prinsip yaitu IFRS (International Financial Reporting Standard). Dalam IFRS dikembangkanlah pendekatan-pendekatan baru dalam pelaporan keuangan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan. Misalnya, ditingkatkannya pengungkapan informasi kualitatif transaksi, pengaturan untuk pelaporan keuangan menggunakan pendekatan prinsip bukan lagi aturan, dihapusnya pos-pos luar biasa, penyajian laporan keuangan diubah untuk mencerminkan sifat laporan keuangan, dan penggunaan pendekatan pengukuran nilai wajar (fair value). Tujuan dari pengukuran nilai wajar adalah untuk menentukan harga yang akan diterima untuk menjual aset atau mentransfer kewajiban saat membeli aset pada tanggal pengukuran. Sebuah pengukuran nilai wajar mengasumsikan dengan harga Tertinggi dan Terbaik atas yang digunakan/dimiliki aset oleh pelaku pasar, mengingat penggunaan aset yang secara fisik mungkin, diizinkan secara hukum, dan finansial layak dengan waktu pengukuran. Secara garis besar, harga Tertinggi dan Terbaik mengacu pada penggunaan aset oleh pelaku pasar yang akan memaksimalkan nilai aset atau kelompok aset di mana aset akan digunakan. Penggunaan Tertinggi dan Terbaik ditentukan berdasarkan penggunaan aset oleh pelaku pasar, bahkan jika digunakan aset oleh entitas pelaporan berbeda. Tujuan utama dari penilaian adalah prakiraan yang biasa disebut nilai pasar

Fungsi Appraisal Dalam perekonomian yang sangat maju saat ini, peran jasa penilai untuk melakukan penilaian asset dikatakan mempunyai berbagai fungsi antara lain digunakan dalam menentukan nilai ganti rugi pembebasan tanah rakyat untuk kepentingan pemerintah/umum, menentukan nilai ganti rugi untuk kepentingan asuransi, menentukan nilai jual objek pajak dalam kaitannya dengan perhitungan Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), mengetahui berapakah kekayaan atau asset Negara untuk menentukan kemampuan membayar utang, menentukan nilai asset yang merupakan jaminan atau agunan bagi perbankan dan lembaga keuangan lainnya, digunakan dalam penyusunan neraca negara maupun daerah, dan lain-lain. .Manfaat Revaluasi Aset Tetap bagi Perusahaan Revaluasi aset tetap memang mempunyai manfaat bagi perusahaan, diantaranya yaitu: 1. Dapat menciptakan performance of balance sheet yang lebih baik, sebagai akibat meningkatnya nilai aset dan modal. 2. Meningkatkan kepercayaan para pemegang saham, karena kenaikan nilai asetdapat dicatat sebagai tambahan nilai saham (saham bonus). 3. Meningkatkan kepercayaan kreditur, sebagai dampak membaiknya beberapa rasio keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan oleh debt to assets ratio dan debt to equity ratio. 4. Penghematan pajak yang terjadi sebagai akibat bertambah besarnya nilai penyusutan aset, yang dapat memberikan penghematan pajak sebesar 30% dari nilai tambah penyusutan. Sementara keuntungan dari revaluasi aset hanya dikenakan pajak final sebesar 10%. Penilaian kembali aset tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aset tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali aset tetap yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai, yang memperoleh izin dari Pemerintah. Historical Cost Akuntansi, biaya historis adalah nilai moneter dari ekonomi asli Didasarkan pada asumsi biaya historis dari unit pengukuran yang stabil. Dalam beberapa keadaan, aktiva dan kewajiban dapat ditampilkan pada biaya historis, seakan tidak ada perubahan nilai sejak tanggal akuisisi. Neraca nilai barang dapat berbeda dari nilai sebenarnya Biaya historis dikritik karena ketidaktelitian nya. Berbagai perbaikan pada biaya historis yang digunakan, banyak yang membutuhkan penggunaan berhenti dan manajemen dapat sulit untuk melaksanakan atau memverifikasi. Kecenderungan dalam standar akuntansi adalah gerakan refleksi yang lebih akurat dari nilai wajar atau pasar, bahkan jika prinsip biaya historis tetap digunakan, terutama untuk aset penting kecil. Biaya dasar historis (biaya asli)

Pada akuntansi biaya historis, aktiva dan kewajiban dicatat dengan nilai ketika pertama kali dibeli. Mereka kemudian umumnya disajikan kembali untuk perubahan nilai. Pengeluaran dicatat dalam laporan laba rugi berdasarkan harga perolehan barang yang dijual atau digunakan, daripada biaya pengganti mereka. Revaluasi Aset Tetap Berdasarkan IFRS itu diterima, tetapi tidak diperlukan, untuk menyatakan kembali nilai-nilai properti, pabrik dan peralatan untuk nilai wajar. 'Nilai wajar' adalah jumlah yang suatu aset dapat dipertukarkan, atau kewajiban diselesaikan, antara pengetahuan, pihak dalam transaksi bersedia lengan panjang. Seperti kebijakan harus diterapkan pada semua aset dari suatu kelas tertentu. Oleh karena itu akan diterima untuk suatu entitas untuk merevaluasi properti freehold setiap tiga tahun. Para revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup untuk memastikan bahwa nilai tercatat tidak berbeda secara material dari nilai pasar di tahun-tahun berikutnya. Sebuah surplus revaluasi akan dicatat sebagai gerakan cadangan, bukan sebagai pendapatan. METODE PENELITIAN Metodologi penelitian digunakan sebagai pemandu peneliti dalam melakukan penelitian sehingga diperoleh jawaban yang sesuai dengan permasalahan dan kesimpulankesimpulan yang tidak meragukan. Metode merupakan cara yang dipakai untuk mencapai tujuan. Sedangkan penelitian berarti penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang direncanakan atau dijalankan secara sistematis dan sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah tentang perbandingan perhitungan nilai aset menggunakan model Fair Value dan model Historical Cost, dengan cara mengkombinasikan antara pengumpulan data lapangan dan studi literatur. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini penulis menentukan objek penelitian sebagai sumber data. Dalam hal ini yang menjadi tempat atau objek penelitian adalah karena PT Sidomulyo Selaras Tbk. yang beralamat di Jalan Gunung Sahari III No. 12 A, Jakarta. Metode Analisis Data Alat analisa yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Dalam penelitian ini Metode-Metode Penilaian Properti: Dalam penilaian property ( tanah dan bangunan ), dikenal tiga metode yang biasa digunakan, yaitu : 1. Metode perbandingan data pasar (Sales Comparison Approach ). 2. Metode pendekatan pendapatan ( Income Approach ). 3. Metode biaya pengganti terdepresiasi ( Depreciation Replacement Cost Approach ). Metode tersebut dipakai sesuai dengan tujuan penilaian, jumlah dan kualitas data yang tersedia serta jenis properti yang dinilai. Dalam suatu tugas penilaian dapat

dipergunakan satu, dua atau bahkan ketiga macam pendekatan tersebut. Tetapi tentu saja, terdapat salah satu atau lebih pendekatan yang paling tepat untuk setiap tugas penilaian. Contohnya, untuk sebuah bangunan yang sudah cukup tua dan telah mengalami depresiasi akibat keusangan fisik dan kemunduran fungsional, akan sulit menerapkan pendekatan biaya, karena depresiasi jenis tersebut sulit dihitung. Atau misalnya, akan sulit menerapkan metode perbandingan penjualan pada properti yang sangat unik karena sulit menemukan data pembanding. Bila memungkinkan, sangat baik apabila seorang penilai menggunakan sedikitnya dua pendekatan sebelum sampai pada kesimpulan akhir mengenai nilai suatu properti. Dengan adanya dua pendekatan, maka hasil yang diperoleh dari satu pendekatan dapat dicek dengan hasil perkiraan nilai pendekatan yang lain Masing-masing metode mempunyai konsep dan pendekatan yang berbeda. 1. Metode Pendekatan Pasar Pendekatan ini sangat baik dipergunakan bila terdapat penjualan property yang sangat serupa dan mirip dengan properti yang akan dinilai pada saat dilakukan penilaian. Indikasi nilai dengan pendekatan ini diperoleh dengan membandingkan properti yang dinilai dengan properti yang serupa, yang disebut properti pembanding atau Comparable Properties. Harga penjualan properti yang karakteristiknya paling mendekati properti yang dinilai cenderung akan mempengaruhi kisaran atau range indikasi nilai dari properti yang dinilai tersebut. Sumber-sumber data yang dapat dipakai untuk mendapatkan properti pembanding berasal dari : Notaris Perusahaan-perusahaan asuransi Agen real estate atau Broker. Pemerintahan : Lurah, Camat, Kantor Agraria, Notaris. Iklan-iklan, surat kabar, majalah, papan pengumuman. Orang-orang yang berhubungan langsung dengan transaksi. Arsip penilai. Setelah memperhatikan elemen pembanding diatas, maka terhadap property pembanding dilakukakan penyesuaian dengan memandang property yang dinilai. Penyesuaian dilakukan terhadap harga jual properti pembanding, karena harganya sudah diketahui sedangkan harga property yang dinilai belum diketahui harganya. Dengan prosedur pernadingan ini, penilai memperkirakan nilai yang diinginkan pada saat penilaian. 2. Metode Pendekatan Pendapatan Metode ini digunakan untuk menilai suatu properti yang dapat menghasilkan pendapatan karena sewa. Metode ini digunakan terutama apabila properti yang akan dinilai dapat menghasilkan pendapatan secara terus menerus. Selain itu dianggap properti itu menhasilkan pendapatan yang tetap. Apabila property yang akan dinilai tersebut tidak disewakan, penilai dapat mengambil data sewa dari perbandingan sewa

properti yang sejenis di lokasi, dimana property yang dinilai atau data sewa di lokasi yang sejenis. Dengan demikian dasar pemikiran dari metode pendekatan pendapatan (Income Approach) yaitu : Nilai pasar wajar dari suatu harta tetap kurang lebih sama dengan suatu modal yang mempunyai potensi untuk mendatangkan pendapatan. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat digunakan metode pendekatan pendapatan (Income Approach), dalam menilai suatu properti komersial adalah : 1. Pendapatan bersih pertahun tidak pernah berubah jumlahnya selama masa investasi. 2. Lamanya investasi sifatnya tidak terhingga. Dalam pendekatan kapitalisasi pendapatan ini, pendapatan bersih tahunan atau keuntungan di masa yang akan dating dari kepemilikan suatu property dihitung nilai sekarangnya / present value. 3. Metode Pendekatan Biaya Pendekatan ini didasarkan pada pengertian bahwa pelaku pasar berperan menghubungkan nilai dengan biaya. Dalam pendekatan ini nilai suatu properti diperoleh dengan menjumlahkan perkiraan nilai tanah yang didapat dari data pasar dengan biaya reproduksi atau biaya penggantian untuk bangunan dan mengurangkan total depresiasi pada hasilnya. Indikasi nilai yang diberikan mengandung unsure keuntungan pengusaha. Pendekatan ini sangat berguna dalam menilai bangunan yang baru didirikan atau properti yang tidak sering dijumpai di pasaran, sehingga sulit menemukan pembandingnya. Teknik pendekatan biaya ini juga berguna untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam pendekatan data pembanding pasar atau Sales Comparison dan biaya pendirian suatu bangunan dapat diperoleh dari estimator, developer, dan kontraktor. Sedangkan depresiasi diperoleh melalui riset pasar dan penerapan prosedur penilaian tertentu. Perkiraan nilai bangunan dalam pendekatan biaya ini dilakukan terpisah. Nilai wajar suatu aset atau liabilitas dapat diestimasikan paling baik menggunakan nilai pasar aset atau liabilitas tersebut. Namun, perlu diingat, bahwa tidak semua aset mempunyai nilai pasar atau jikalaupun ada nilai pasar tersebut tidak selalu bisa diandalkan. Untuk itu, IAS 39 mengatur dalam suatu tiga level hierarki yang membagi nilai wajar berdasarkan nilai input yang digunakan. Tiga level hierarki tersebut adalah : Level 1: Input untuk menentukan nilai wajar berdasarkan kuotasi harga taksesuaian untuk aset dan liabilitas yang identik dalam suatu pasar yang aktif. Pasar aktif untuk aktiva atau kewajiban adalah pasar di mana transaksi asset atau kewajiban terjadi dengan frekuensi yang cukup dan volume untuk memberikan informasi harga secara berkelanjutan. Tingkat 1 input dapat diamati di pasar seperti New York Stock Exchange, Nasdaq, jaringan komunikasi elektronik, dan pokok-untuk-pokok pasar, di mana harga dinegosiasikan secara independen antara pihak dengan tidak melalui perantara. Level 2: Input untuk menentukan nilai wajar berdasarkan kuotasi harga sesuaian untuk aset dan liabilitas yang mirip atau berdasarkan kuotasi harga taksesuaian untuk aset dan

liabilitas yang identik dalam suatu pasar yang tidak aktif. Level 2 input tidak berasal langsung dari harga pasar. Misalnya, nilai wajar barang jadi di outlet ritel diperoleh dalam akuisisi bisnis dapat didasarkan pada harga yang diharapkan akan diterima dalam menjual persediaan diritel, atau nilai pada grosir, disesuaikan dengan perbedaan antara kondisi dan lokasi item. Tingkat 2 input meliputi: a. Dikutip harga aktiva sejenis atau kewajiban di pasar aktif b. Dikutip harga untuk aktiva yang identik atau mirip atau kewajiban dalam pasar yang tidak aktif, yaitu, pasar di mana terdapat beberapa transaksi untuk aktiva atau kewajiban, harga tidak kutipan saat ini, atau harga bervariasi secara substansial baik dari waktu ke waktu atau antara pembuat pasar (misalnya, beberapa pasar ditengahi), atau di mana sedikit informasi yang dipublikasikan untuk umum (misalnya pokok-ke pasar utama) c. Selain harga pasar yang diamati untuk masukan aset atau kewajiban (misalnya, suku bunga dan hasil kurva diamati pada interval sering dikutip, volatilitas, prabayar kecepatan, severities kerugian, risiko kredit, dan default harga). d. Masukan yang berasal terutama dari atau dikuatkan oleh diamati pasar data dengan korelasi atau cara lain (marketcorroborated input). Level 3: Input untuk menentukan nilai wajar bukan berdasarkan data pasar (estimasi dan judgement dari manajemen). Input masukan tidak teramati untuk asset atau kewajiban. Nilai wajar ditentukan dengan suatu model penilaian atau ditentukan oleh seorang penilai. Perusahaan pelapor sendiri data yang digunakan untuk mengembangkan input tidak teramati harus disesuaikan jika informasi cukup tersedia tanpa biaya yang tidak semestinya dan usaha yang menunjukkan bahwa pelaku pasar akan menggunakan berbeda asumsi. input tidak teramati harus dikembangkan berdasarkan pada keterangan terbaik tersedia dalam keadaan, yang mungkin termasuk perusahaan pelapor data sendiri. Dalam mengembangkan masukan tidak teramati, pelaporan entitas tidak perlu melakukan semua usaha yang mungkin untuk mendapatkan informasi tentang asumsi pelaku pasar. Namun, entitas pelaporan tidak boleh mengabaikan informasi tentang asumsi peserta pasar yang cukup tersedia tanpa biaya yang tidak semestinya dan usaha.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Penelitian Fair Value Fair Value Accounting merupakan pendekatan yang berorientasi masa depan, karena fakta bahwa aset harus mengevaluasi ulang (Anagnostopoulos et al, (2007), hlm 371). Tetapi pendekatan ini tidak membedakan antara berbagai jenis risiko, misalnya risiko tingkat bunga, nilai tukar

10

risiko, tetapi mereka termasuk dalam perhitungan nilai wajar. Perubahan suku bunga atau dalam risiko mempengaruhi nilai wajar aset (Bank Sentral Eropa, (2006), hlm 24). Dalam hal semua instrumen keuangan akan valuated pada nilai wajar, motif akan ada untuk menghilangkan operasi internal. Efek hanya dalam presentasi dari aplikasi transaksi internal akan menunjukkan bahwa melalui transfer risiko antara perbankan dan buku perdagangan, komponen hasilnya akan bergeser juga antara hasil dua buku (Schmidt (2007), h. 269). Model Fair Value Accounting dapat mengaktifkan sesuai refleksi dari situasi ekonomi dari operasi perbankan. Hal ini dikonfirmasi oleh temuan dari studi empiris. Fair Value Accounting benar-benar merupakan hasil dari manajemen risiko operasional bank (Hodder et al, (2006), hal 336). Utama inovasi adalah bahwa aset dan kewajiban dalam perdagangan dan dalam buku perbankan harus valuated sebesar nilai wajarnya. Akibatnya, semua perubahan dalam nilai wajar dari semua keuangan instrumen secara langsung efek dan ditangkap dalam laporan laba rugi keuangan. Hal ini memberikan kesempatan untuk sepenuhnya menangkap tertanam kerugian atau keuntungan dalam keuangan rekening (Anagnostopoulos et al, (2007), hlm 365). Ini mengarah lagi ke ditingkatkan pengakuan dan penyajian situasi keuangan bank diselidiki. Para penilaian instrumen keuangan pada nilai wajar merupakan nilai sekarang dari yang diharapkan arus kas di masa depan menyadari, diskon dengan mengacu pada harga pasar sekarang kembali. Prosedur ini terdiri dari keterlibatan serta pertimbangan eksternal faktor risiko (Anagnostopoulos dkk, (2005), p. 117). Namun demikian kendali Fair Value Accounting merupakan satu kelemahan utama. Seperti yang telah dianalisis, IAS 39 bertujuan untuk valuasi aset keuangan dan kewajiban pada nilai wajar dengan mengacu pada dikutip harga pasar dalam pasar yang aktif. Karena keadaan bahwa harga pasar berfluktuasi, nilai aset dan kewajiban mendasari juga mereka fluktuasi (Post et al, (2007), hal 249). Bahaya ini juga diakui oleh Royal Bank of Scotland Group di mereka laporan tahunan 2007 serta Dresdner Bank AG. Mereka mewakili fluktuasi harga risiko utama pasar (Dresdner Bank AG, (2007), hlm 84), sehingga keuntungan meningkat volatilitas. Volatilitas ini dapat lebih ditingkatkan, karena kemandirian kepentingan rate dan harga pasar. Karena harga pasar serta suku bunga yang dihadapi fluktuasi, jumlah ini secara langsung akan mempengaruhi volatilitas dari 'bank jangka pendek keuntungan. Hal ini dapat dilihat sebagai sumber ketidakstabilan. Selain itu, dalam kasus keuangan lembaga valuate aset dan kewajiban pada nilai wajar, penilaian wajar nilai hipotek tampaknya lebih sulit, karena fakta bahwa meskipun dua hipotek adalah kontrak yang sama, mereka menunjukkan fitur keseluruhan ekonomi yang berbeda dan interpretasi. Akibatnya, nilai wajar yang sama akan diakui selama dua benar-benar kewajiban ekonomi yang berbeda (Anagnostopoulos dkk, (2005), hlm 122). Dalam rangka menerapkan Fair Value Accounting sejumlah penilaian yang diperlukan untuk mengembangkan laporan keuangan berdasarkan nilai wajar. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa komparabilitas hasil dari akun yang menurun antara

11

periode waktu yang berbeda atau antara perusahaan yang berbeda atau lembaga perbankan (Perry et al, (2006), hal 565). Komparabilitas berkurang juga dapat ditunjukkan oleh keadaan, bahwa semua lembaga keuangan dianalisis menampilkan informasi dalam laporan keuangan mereka dengan cara yang berbeda. Seperti ditunjukkan dalam lampiran, Fair Value dan penunjukan instrumen keuangan "pada nilai wajar melalui laporan laba rugi" diakui dalam item neraca yang berbeda. Situasi ini menyulitkan komparabilitas laporan keuangan dan dapat mempersempit informasi untuk penerima. Namun demikian, Fair Value memberikan relevansi keputusan meningkat. Sebuah pernyataan keuangan, yang terdiri dari aset dan kewajiban yang diukur dan diakui sebesar nilai wajar mewakili modal sebagai nomor residu pada nilai wajar. Modal ekuitas merupakan nilai perusahaan, sebagai nilai tunai arus kas masa depan (Ballwiesinger dkk, (2004), hlm 61) Kebaikan Fair Value a. Relevance. Banyak orang percaya bahwa standard akuntansi historical cost telah banyak kehilangan relevansinya karena kegagalannya mengukur realitas ekonomi. Hampir semua orang setuju bahwa peristiwa ekonomi---yaitu, kejadian yang mengubah waktu kapan arus kas diterima dan jumlahnya yang akan datang harus tercermin (terungkap) dalam laporan keuangan lembaga. Akan tetapi, seringkali model historical cost hanya mengukur transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan nilai riil lain yang dapat terjadi. b. Reliability. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi kenetralan dan dipercayainya informasi keuangan. Keburukan Fair Value a. Fair value berusaha menyediakan informasi yang transparan dengan menilai aset pada tingkat harga yang dihasilkan jika segera dilikuidasi-sehingga sangat sensitif terhadap pasar. b. Fair value Accounting bekerja melalui akuntansi mark-to-market (MTM), yaitu aset dicantumkan pada harga pasar mereka jika diperdagangkan secara terbuka. Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar. c. Volatility. Lembaga keuangan mengatakan bahwa mereka takut akuntansi berdasarkan pasar akan menyebabkan volatility kinerja lembaga (karena semakin mudahnya nilai item-item aktiva dan pasiva berfluktuasi). Walaupun sebenarnya lembaga keuangan

12

yang senantiasa mengelola bahaya yang mengancam asset dan liability hanya sedikit takut dengan market value accounting. Laporan keuangan lembaga keuangan yang kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada volatility yang selalu ada dalam setiap usahanya. Para investor dan kreditur akan memiliki informasi yang lebih berguna dan relevan dalam membedakan risiko antar perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan keputusan pemberian kredit. Historical Cost Harapan bahwa laporan keuangan auditan sendiri akan memberikan basis yang cukup untuk berinvestasi mencerminkan ketidakpahaman yang serius atas prinsip dan metode akuntansi publik. Nilai sebagian besar aset dan kewajiban dicatat pada neraca berdasarkan historical cost yaitu jumlah yang dibayar untuk aset individual dan terjadi untuk kewajiban pada saat diperoleh atau diambil, dikurangi depresiasi dan amortisasi. Oleh karena itu, balance sheet tidak perlu dan secara umum tidak mengungkapkan nilai yang dapat diperoleh jika aset tersebut dijual atau kewajiban dilunasi. Kenyataannya, angka-angka pada neraca tidak disesuaikan dengan perubahan daya beli dollar. Temuan menarik yang kedua, menghasilkan bentuk penyelidikan dari laporan keuangan menegaskan bahwa lembaga keuangan latihan instrumen keuangan, yang termasuk dalam bank bisnis inti atau strategi manajemen risiko, terdiri dari dimiliki hingga jatuh tempo surat berharga, pinjaman, deposito atau jenis lain dari kewajiban keuangan dan berbagai jenis derivatif. Menurut akuntansi biaya historis saat ini pendapatan pengukuran mereka tidak termasuk keuntungan nilai wajar atau kerugian yang belum direalisasi pada orang-orang keuangan instrumen (Hodder, (2006), hal 336). Tapi mereka mewakili item utama dalam keseimbangan lembar Dresdner Bank AG, RSB, Nordea dan Crdit mutuel. Akibatnya, mereka pengukuran, penilaian dan pengakuan secara signifikan dapat mempengaruhi kinerja sebagai serta situasi keuangan organisasi perbankan. Oleh karena itu, pertanyaan timbul apakah akuntansi biaya historis masih menyajikan akuntansi yang sesuai prosedur untuk empat organisasi keuangan. Historical cost memberikan kontribusi untuk distorsi dari "realitas ekonomi" karena kemungkinan bahwa manajer mampu memanipulasi keuntungan, dengan adanya pelaporan aset, mengarah ke salah tafsir dari sumber daya (Bola, (2004), hlm 20). Varians dalam akuntansi prosedur pinjaman meningkatkan kesulitan untuk menafsirkan dan menganalisis bank 'rekening keuangan. Oleh karena itu, akuntansi biaya historis dapat didefinisikan sebagai "Mekanik proses" didasarkan pada pengetahuan tentang biaya produksi dan jangka waktu (Anagnostopoulos dkk, (2005), hlm 111). Keuntungan akuntansi biaya historis adalah orientasi jangka panjang. pendekatan ini merupakan dasar ekonomi dari transaksi bank, mengingat arus kas mengalir serta proses produktif (Ebling, (2001), hal 23). Historical cost menunjukkan bahwa keuntungan, disadari oleh instrumen keuangan, tidak dilaporkan dalam periode ketika mereka muncul tetapi dalam periode lain. Selanjutnya, aset, mendasarkan pada instrumen keuangan, yang dibeli dengan

13

a. b. c.

a. b.

c.

a.

b.

biaya yang nihil tidak ditangkap dalam keuangan pernyataan. Selain itu, rekening tidak mengumumkan kegiatan manajemen risiko entitas dalam cara yang tepat. Namun, kerugian lebih lanjut, bahwa kerugian yang diakui sebelum mereka terjadi, mengakibatkan asimetri dalam penilaian keuntungan dan kerugian. Komplikasi rekening keuangan, mengakibatkan penurunan transparansi merupakan hasil utama dari penerapan akuntansi biaya historis. Para kompleksitas dari laporan keuangan tambahan dapat ditambah dengan latihan teknik akuntansi khusus, seperti akuntansi lindung nilai, dilakukan dengan tujuan untuk membatasi derajat asimetri (Ebling, (2001), p.22). Analisis ini menunjukkan bahwa sejumlah besar kerugian yang terhubung dengan penerapan akuntansi biaya historis. Karena fakta ini, pertanyaan yang harus diajukan apakah ada pendekatan lain yang menghilangkan atau meminimalkan dampak dari sejarah akuntansi biaya. Alasan utama mengapa masih banyak perusahaan yang masih menggunakan historical cost adalah estimasi handal atas nilai pasar dari hampir semua aset perusahaan secara umum sulit dan sering tidak mungkin diperoleh. Nilai pasar aset individual bergantung pada variabel-variabel seperti jumlah yang dibeli, kondisi pasar ketika dibeli, dan ketersediaan kutipan harga yang handal. Beberapa aset, khususnya barang dalam proses untuk persediaan akan memiliki nilai pasar ketika barang tersebut terjual. Aset seperti tanah, gedung, dan peralatan sering tidak memiliki nilai pasar tertentukan secara efektif sampai aset tersebut dijual atau diganti. Aset bertujuan khusus seperti tools dan program software komputer sering tidak memiliki nilai pasar tertentukan atau kos pengganti yang terukur. Banyak aset yang tergantikan oleh adanya teknologi baru. Misalnya kabel telepon diganti dengan wireless fiber optic atau transmisi satelit. Susah juga menilai aset tak berwujud seperti penelitian dan pengembangan, periklanan, pelatihan personel, merek dagang, dan goodwill, yang sering tidak dibeli dan dijual secara terpisah dari perusahaan yang mengembangkannya. Penggunaan historical cost dalam akuntansi, disebabkan antara lain : Relevan dalam pembuatan keputusan ekonomi, bagi manajer dalam membuat keputusan masa depan, diperlukan transaksi masa lalu. Nilai Historis berdasarkan data objektif, yang dapat dipercaya, dapat diaudit, dan lebih sulit untuk dimanipulasi bila dibandingkan dengan nilai lain misalkan current cost ataupun replacement cost. Memudahkan untuk melakukan perbandingan baik antara indrustri, maupun antar waktu untuk suatu indrustri. (kery soejipto;2000;13-14). Keunggulan pengunaan nilai historis, juga diikuti kelemahan kelemahan antara lain adalah: Adanya pembebanan biaya yang terlalu kecil karena pendapatan untuk suatu hal tertentu pada saat tertentu akan dibebani biaya yang didasarkan pada suatu nilai uang yang telah ditetapkan beberapa periode yang lalu pada saat pencatatan terjadinya biaya tersebut. Nilai aset yang dicatat dalam neraca akan mempunyai nilai yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan perkembangan harga daya beli uang terakhir. Di samping itu juga

14

c. d.

e.

f. g.

terjadi perubahan-perubahan kurs yang cepat atas aset dan pasiva dalam valuta asing yang dikuasai perusahaan sehingga mengalami kesulitan dalam perhitungan selisih kurs yang tepat. Alokasi biaya untuk depresiasi, amortisasi akan dibebankan terlalu kecil dan mengakibatkan laba dihitung terlalu besar. Laba/rugi yang terjadi yang dihasilkan oleh perhitungan laba/rugi yang didasarkan pada asumsi adanya stable monetary unit tersebut tidaklah riil apabila diukur dengan perkembangan daya beli uang yang sedang berlangsung. Adanya stable monetary unit. Perusahaan tidak akan memperahankan real capitalnya dan ada kecenderungan terjadinya kanibalisme terhadap modal sehubungan dengan pembayaran pajak perseroan dan pembangian laba yang lebih besar daripada semestinya. Menyalahi mathematical principle karena berbagai himpunan yang tidak sama dijumlahkan menjadi satu. Di samping hal-hal di atas akan timbul kesulitan-kesulitan bagi manajemen perusahaan apabila harus mendasarkan pada laporan akuntansi yang disusun atas dasar asumsi. Karena permasalahan inilah, muncul kritik pedas pihak tertentu kepada kegunaan laporan keuangan ketika kenyataannya nilai pasar dari aset selalu berubah. Mereka menyatakan informasi yang disajikan laporan keuangan justru sia-sia karena nilai-nilai yang terdapat di dalamnya tidak relevan dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Oleh karena itu, muncul ide menggunakan model fair value accounting yang berbeda dari historical accounting yang selama ini dipakai. Penggunaan historical cost sebagai dasar pengukuran dalam perlakuan akuntannsi, memiliki kelebihan dari segi objektivitas kelebihan dalam segi verifiabilitas tersebut didasarkan pada argumen bahwa pengukuran dengan menggunakan historical cost lebih mempunyai bukti-bukti yang kuat dalam penentuan nilainya. Bukti-bukti tersebut terutama adalah bukti-bukti yang didapat pada waktu perolehannya dengan mencatat sebesar keseluruhan biaya perolehan. Aset tetap PT Sidomulyo Selaras Tbk dinilai berdasarkan pendekatan data pasar. Penyusutan untuk bangunan, sedangkan aset tetap selain tanah, disusutkan menggunakan metode garis lurus (straight line method). Tarif penyusutan dan taksiran masa manfaat aset tetap PT Sidomulyo Selaras Tbk sesuai dengan undang undang perpajakan, adalah sebagai berikut Bangunan : 20 tahun Kendaraan : 8 tahun Peralatan : 5 tahun Berdasarkan metode penyusutan dan taksiran masa manfaat ekonomis untuk perhitungan biaya penyusutan aset tetap perusahaan dapat dilihat pada tabel 4.1 mengenai daftar aset tetap yang dimiliki perusahaan.

15

Tabel 4.1 Daftar aset tetap PT Sidomulyo Selaras Tbk per 31 Desember 2010 Aset tetap Nilai Tercatat Akumulasi Nilai Buku penyusutan per tahun Tanah 7.288.750.646 -7.288.750.646 Bangunan 5.166.255.208 768.511.791 4.397.743.417 Kendaraan 68.850.672.950 25.456.264.442 43.394.408.508 Peralatan 996.116.199 793.972.130 202.144.709 Total 82.301.795.003 27.018.748.363 55.283.047.280 Sumber data : PT Sidomulyo Selaras Tbk yang telah diolah kembali. Penilaian atas aset tetap yang dilakukan pada tanggal 27 april 2010 oleh Felix Sutandar & Rekan, penilai independen, dengan menggunakan pendekatan data pasar (Sales Comparisson Approach). Masing masing untuk laporan penilai kendaraan dan aset yang belum digunakan , peralatan serta tanah dan bangunan masing masing tertanggal 27 april 2010 . Berdasarkan data yang tercantum pada tabel 4.2, dapat dilihat bahwa aset tetap berupa unit tanah yang dimiliki PT Sidomulyo Selaras sebesar Rp. 7.288.750.646 Tabel 4.2.Rincian Tanah PT Sidomulyo Selaras per 31 Desember 2010. Umur Aktiva Harga Perolehan Lebih dari 5 tahun 7.288.750.646 Total 7.288.750.646 Sumber: Data PT Sidomulyo Selaras yang telah diolah kembali. Perusahaan menerapkan fair value untuk menghitung nilai asetnya karena dinilai fair value akan mencerminkan nilai wajar yang sebenarnya dibandingkan dengan menerapkan historical cost yang dinilai sudah tidak relevan dalam menampilkan keadaan atau nilai yang sebenarnya dimana nilai suatu aset akan dicatat sama dengan harga perolehannya meskipun di pasaran harganya sudah naik tiga-empat kali lipat. Dengan kondisi pasar yang makin dinamis dan berkembang sangat cepat, akhirnya konsep historical cost dianggap tidak cocok lagi, tidak relevan, karena tidak mencerminkan nilai pasar yang sebenarnya. Sebagai gantinya digunakanlah konsep fair value data pada tabel 4.3 diketahui bahwa aset tetap bangunan yang dimiliki PT Sidomulyo Selaras yang akan direvaluasi memiliki nilai buku sebesar Rp.4.397.743.417 (harga perolehan sebesar Rp.5.166.255.208 dikurangi dengan akumulasi penyusutan sebesar Rp.768.511.791) Tabel 4.3.Rincian Bangunan PT Sidomulyo Selaras per 31 desember 2010 Umur Aktiva Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku 14 Tahun 5.166.255.208 768.511.791 4.397.743.417 Sumber: data PT X yang telah diolah kembali. Berdasarkan data pada tabel 4.4 diketahui bahwa aset tetap kendaraan yang dimiliki PT Sidomulyo Selaras nilai buku yang akan direvaluasi adalah

16

Rp.43.394.408.508 (harga perolehan sebesar RP. 68.850.672.950 dikurangi akumulasi penyusutan sebesar RP. 25.456.264.442) Tabel 4.4. Rincian Kendaraan PT Sidomulyo Selaras per 31 desember 2010 Umur aktiva Harga perolehan Akumulasi Nilai Buku Penyusutan 4 tahun 25.755.264.400 2.065.255.892 23.690.008.508 5 tahun 19.757.276.180 52.876.180 19.704.400.000 11 tahun 2.140.945.257 2.140.945.257 14 tahun 2.471.088.008 2.471.088.008 15 tahun 2.743.147.000 2.743.147.000 17 tahun 3.410.007.500 3.410.007.500 Total 68.850.672.950 25.456.264.442 43.394.408.508 Sumber: data PT Sidomulyo Selaras yang telah diolah kembali Berdasarkan data pada tabel 4.5 diketahui bahwa aset tetap peralatan kantor yang dimiliki PT Sidomulyo Selaras nilai bukunya adalah sebesar Rp. 202.144.709 (harga perolehan Rp. 996.116.199 dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp793.971.490). Tabel 4.5. Rincian Peralatan PT Sidomulyo Selaras per 31 desember 2010 Umur aktiva Harga perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku 3 tahun 285.101.945 82.957.236 202.144.709 5 tahun 250.356.090 250.356.090 7 tahun 306.988.098 306.988.098 8 tahun 153.670.066 153.670.066 total 996.116.199 793.971.490 202.144.709 Sumber: Data PT Sidomulyo Selaras yang telah diolah kembali. Berdasarkan data dari penilai, terhitung mulai saat perolehan aset sampai dengan dilakukannya penelitian yaitu tahun 2011 didapatkan nilai wajar untuk masing-masing aset tetap (lihat tabel 4.7). Nilai pasar wajar aset tetap PT Sidomulyo Selaras yang baru akan bertambah menjadi sebesar Rp.107.388.452.100. Besarnya selisih lebih revaluasi aset tetap PT Sidomulyo Selaras berdasarkan hasil perhitungan diatas adalah sebesar Rp.51.181.422.127 yang diperoleh dengan cara mengurangkan estimasi nilai pasar wajar aset tetap yang direvaluasi dengan nilai buku awalnya. Selisih lebih penilaian kembali aset tetap ini akan muncul di laporan Laba Rugi sebagai perkiraan surplus revaluasi aset tetap. Tabel 4.6. Estimasi Nilai Wajar Aset Tetap PT Sidomulyo Selaras yang di Revaluasi. Jenis Aset Nilai Buku Awal Kenaikan Nilai Nilai Wajar Tetap Revaluasi Tanah Bangunan 7.288.750.646 9.179.647.354 5.166.255.208 1.957.714.792 7.123.970.000 16.468.398.000

17

Kendaraan Peralatan Jumlah

68.850.672.950 14.739.527.050 205.884.100 0 81.511.562.904

83. 590.200.000 205.884.100

107.388.452.100 25.876.889.196 Sumber: Data PT Sidomulyo Selaras yang telah diolah kembali Tabel 4.7. Selisih Nilai Wajar Aset Tetap PT Sidomulyo Selaras yang di Revaluasi. Jenis Aset Nilai Buku Sebelum Nilai Wajar Selisih Tetap Revaluasi Revaluasi 7.288.750.646 16.468.398.000 9.179.647.354 Bangunan 4.397.743.417 7.123.970.000 2.762.226.583 Kendaraan 44.318.391.814 83. 590.200.000 39.271.808.159 Peralatan 202.144.069 205.884.100 3.740.031 Jumlah 56.207.029.937 107.388.452.100 51.181.422.127 Sumber data : PT Sidomulyo Selaras Tbk yang telah diolah kembali. Atas selisih lebih penilaian kembali aset tetap PT Sidomulyo Selaras Tbk. Tanah 9.179.647.354 Bangunan 1.957.714.792 Kendaraan 14.739.527.050 Peralatan 0 Selisih lebih (surplus) revaluasi 51.181.422.127 Selisih lebih penilaian aset tetap sebesar Rp. 51.181.422.127 tersebut dikompensasikan terlebih dulu dengan pajak penghasilan perusahaan ke saldo laba sesuai PSAK 16. Perusahaan memiliki pajak penghasilah final yang harus dibayar sebesar Rp.4.349.420.232.

PENUTUP
Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut : 1. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, ternyata lebih menguntungkan bagi perusahaan untuk menerapkan fair value karena dapat menunjukan nilai yang sebenarnya/wajar dan dapat dipakai untuk meningkatkan nilai aset yang dimiliki dibandingkan dengan jika perusahaan menerapkan historical cost. Jadi penilaian wajar secara efektif telah diperluas untuk semua jenis aset tetap, memampukan manajer untuk mencatat income dengan nilai wajar. 2. Besarnya laba yang diperoleh untuk mengetahui bagaimana perbandingan antara fair value dengan historical cost, dapat dilihat dari perbedaan perolehan laba jika perusahaan menerapkan historical cost adalah Rp.1.722.682.093 dan jika perusahaan

18

menerapkan fair value, perusahaan akan mendapat laba sebesar Rp.52.234.570.462. dan dilihat dari pencatatan nilai aset perusahaan terjadi perubahan ketika perusahaan menerapkan fair value sebesar Rp.107.388.452.100 yang sebelumnya sebesar Rp.81.511.562.904, hal ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan apabila perusahaan ingin mencatatkan perusahaannya di Bursa Efek. Saran Penerapan model fair value ini akan lebih bermanfaat bagi dunia investasi, pasar modal, pemilik, kreditur dan stakeholder karena fair value memberikan gambaran yang lebih realistis akan jumlah yang tercatat di neraca, maka peneliti menyarankan kepada perusahaan untuk tetap menggunakan model Fair Value untuk menilai aset yang dimiliki perusahaan. Prinsip-prinsip akuntansi sangat jelas. Pendapatan harus diakui sampai tersedia bukti yang objektif dan handal. biaya harus ditandingkan dengan pendapatan yang terkait dengan pengeluaran tersebut atau pada periode ketika aset ditentukan tidak memiliki manfaat di masa datang. Yang paling penting, angka-angka dalam laporan keuangan seharusnya lebih dapat dipercaya.

DAFTAR PUSTAKA
_______________________. 2002. Accounting). Jurnal Akuntansi. Explanation and Benefits of Fair Value

_______________________. 2011. Assessing the Impact of Fair-Value Accounting on Financial Statement Analysis: A Data Envelopment Analysis Approach. Journal of Accounting: Abacus. Beatty, Anne 2005. Accounting Discretion in Fair Value Estimates: An Examination of SFAS 142 Goodwill Impairments, jurnal akuntansi. Casta, Jean F. 2004. Does Fair Value Accounting Provide a Better Representation of A Company.Jurnal Akuntansi Fahnestock, Robert T. 2011. An Analysis of The Fair Value Controversy. Jurnal Akuntansi Vol. 18 Febuari. Gamal, Muhamad. 2011. Analisis Penggunaan Nilai Wajar Berdasarkan IFRS. Jakarta :Thesis, Universitas Indonesia. Kartomo, Rengganis 2009. Transformasi Penerapan Model Nilai Wajar (Fair Value)dan Implikasinya. Makalah seminar Laporan Keuangan Auditan Beserta Laporan Auditor Independen. 2010. www.idx.co.id

19

Meng, Soo Choon and Ting Yieng Sing. 2005. Fair Value Accounting Relevance, Reliability and Progress in Malaysia. Rantung, Ruth. 2008. Keandalan Penggunaan Revaluasi Aktiva Tetap Perusahaan Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia 2005-2007. Skripsi Akuntansi Universitas KLABAT Rudyawan, Arry Pratama. 2007. Principles for the Application of Fair Value Accounting.Columbia Business School. Schneider, Sthephanie. 2008. The Fair Value Option of IAS in the Context of Fair Value Accounting The Practical Application in Financial Institutions. Universitas Gavle. Siahaan, Hinsa. 2009. Implikasi dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai Wajar Dalam Kondisi Ekonomi Saat Ini. Jakarta: Seminar Nasional Institut Akuntan Publik Indonesia Sukardi, David. 2006 . Studi Banding Penyusunan Laporan Keuangan dengan Metode Historical Cost Accounting dan General Price Level Accounting pada Masa Inflasi. New York University: Stern School of Business. Wallace, Marsha. Performance Report Under Fair Value accounting. Wllison, Peter J. 2009. Fixing Fair value Accounting. OECD Journal on Budgeting. Yusuf, Hamid. 2010. Auditing Nilai Wajar Akuntansi Dalam Persfektif Penilaian Properti (Tinjauan Terhadap Standar Penilaian Indonesia).