Diversifikasi ekonomi adalah usaha penganekaragaman product (bidang usaha) atau lokasi perusahaan yang dilakukan suatu perusahaan

untuk memaksimalkan keuntungan sehingga arus kas perusahaan dapat lebih stabil, ini dilakukan perusahaan untuk mengatasi krisis ekonomi, sehingga apabila suatu perusahaan mengalami kemerosotan pendapatan di salah satu product atau negara/daerah, di product atau negara/daerah lain mendapatkan kelebihan pendapatan, sehingga kekurangan yang terjadi bisa tertutupi. Biasanya hal ini dilakukan oleh perusahan besar Multi Nasional Coorporation (MNC) karena dengan demikian perusahaan dapat menjamin pendapatan / arus kas yang lebih stabil sehingga meningkatkan trust kepada pemegang saham. Diversifikasi bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup. Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio. Dari hasil studi, perbedaan performa lebih banyak dikarenakan oleh alokasi aset (asset allocation) bukannya pilihan investasi (investment selection). Arti kata Subsidi adalah tunjangan atau bantuan.

Kedeputian Bidang Teknonologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT memiliki tugas mendukung terealisasinya ketahanan pangan nasional serta berupaya mendukung tugas pemerintah dalam program diversifikasi pangan, yaitu yang dituangkan pada Kebijakan Strategis Nasional (Jaktranas) Riset dan Teknologi, Rencana strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi (KRT), dan Kontrak Kinerja Menristek pada KB II 2009 -2014. Guna melihat dari dekat pengembangan pangan lokal dalam kaitan dengan pelaksanaan diversifikasi pangan di daerah, Deputi Kepala BPPT Bidang TAB, Listyani Wijayanti beserta Direktur Pusat Teknologi Agroindustri (PTA), Priyo Atmaji, Kepala Balai Besar Teknologi Pati (B2TP), Bambang Triwiyono dan staf terkait melaksanakan kunjungan kerja ke Yogyakarta 14-15 September lalu. Adapun destinasi kunjungan adalah Dewan Ketahanan Pangan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), PT Kepurun Pawana Indonesia (PT KPI), guna meninjau model pertanian terpadu hulu (on farm) dan hilir (off farm) serta Merica Singkong Resto, pelopor pemanfaatan singkong yang memiliki aneka resep masakan dan menyajikan 78 macam menu dengan bahan baku singkong. Dalam kunjungan ke Badan Ketahanan Pangan Provinsi DIY, rombongan diterima oleh Kepala Bidang Konsumsi dan Kewaspadaan Pangan, Arofah Noor. Implementasi program dan kegiatan diversifikasi pangan telah banyak dilakukan, namun pada umumnya masih bersifat demonstratif (pameran, pelatihan, sosialisasi) dan belum menyentuh pada perilaku masyarakat untuk mengimplementasikan dalam pola konsumsi makanan sehari-hari. Produk yang dihasilkan pada umumnya dalam bentuk makanan camilan yang belum dikonsumsi bersama-sama atau menjadi satu kesatuan pada menu santap makan, dan sosialisasi secara konsisten serta berkesinambungan masih terbatas pada komunitas tertentu, misalnya kepada Ibu-ibu PKK. Kebijakan pemerintah dalam bentuk dasar hukum, peraturan dan sebagainya masih belum sepenuhnya didukung dengan tindakan implementatif secara konsisten yang direncanakan secara rinci, terintegrasi hulu-hilirnya dan terkoordinasi diantara para pelaku. Badan Ketahanan Pangan DIY dalam melaksanakan program diversifikasi pangan berbasis bahan baku seperti sukun, labu kuning dan singkong untuk memproduksi tepung, dan dari tepung ini digunakan untuk produksi mie (mie bendo dan mie lethek). Untuk dapat menjamin ketersediaan produk, Badan Ketahanan Pangan DIY melakukan pembinaan pada usaha kecil (UK) yang terkait dengan usaha produksi tepung dan mie tersebut. Kemudian dalam upaya mendukung segera terwujudnya ketahanan pangan, dibentuk program P2KP (Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan) yang antara lain dilakukan melalui kegiatan penyuluhan secara nyata dan terfokus pada kegiatan Ibu-ibu PKK.

serta dengan target capaian yang  Proses pengolahan produk pangan lokal perlu dilakukan dengan memanfaatkan proses/ teknologi tepat guna. telur asin. domba. serta memenuhi kriteria konsumsi makanan seimbang dan aman. kripik buah (proses vacuum frying). substitusi impor. PT KPI mempunyai misi sosial yaitu menyelenggarakan pelatihan pertanian terpadu untuk masyarakat. yaitu dengan membuat percontohan unit-unit usaha yang satu sama lain mempunyai keterkaitan/terpadu. Bentuk usaha lainnya adalah memproduksi biogas. Dari kunjungan ke Yogyakarta dapat disampaikan beberapa rekomendasi pengembangan program diversifikasi pangan. tomatcheri). dalam kunjungan ke PT KPI tim BPPT diterima oleh Direktur Utama PT KPI. melakukan usaha penjualan produk pertanian segar yang dihasilkan. daya saing dan pengembangan pemasaran. pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi akan menentukan keberhasilan program diversifikasi pangan. sayuran (tanaman salad. dan penetasan telur itik serta penjualan anak itiknya. namun untuk kesinambungannya tetap memperhatikan aspek enterpreneurship.  Produk antara dari komoditas hasil pangan lokal sangat direkomendasikan. perencanaan. Penyajian singkong yang notabene adalah sumber karbohidrat dipadukan dengan berbagai bahan pangan lainnya baik sebagai sumber protein (ayam. Manisrenggo. sedemikian produk antara ini dapat disimpan lebih lama dan dapat diolah lebih lanjut menjadi pangan siap saji. dimana keuntungan secara ekonomi menjadi bagian penting. maka cara penyajian makanan dalam bentuk makanan siap saji (jenis menu/ masakan dan cara penyajian) perlu mendapat perhatian. mulai dari hulu (budidaya) hingga hilirnya (pemasaran produk). susu sapi. naget. Program/kegiatan diversifikasi pangan perlu disiapkan dengan perencanaan secara holistik dan terintegrasi. khususnya sayur-sayuran. sebagai berikut :  jelas.  Dukungan pemerintah (daerah/pusat) dan kementerian terkait dalam bentuk kebijakan/ peraturan.   Pengembangan produk lokal perlu didukung industri pengolahan dengan memanfaatkan teknologi Untuk mendukung diversifikasi pangan direkomendasikan juga untuk dapat dilaksanakan dengan tepat-guna dalam upaya meningkatkan nilai tambah. ikan) dan sumber pangan zat gizi lainnya. yaitu dalam bentuk budidaya sapi. PT KPI juga langsung mengimplementasikan konsep pertanian terpadu. yaitu dalam berbagai bentuk yaitu daging sapi. telur. PT Kepurun terletak di desa Kepurun. Eddy Wachid Sutoto beserta jajaran. ikan air tawar (lele dan nila). misalnya Mocaf khususnya untuk tepung terigu/gandum dengan memanfaatkan produk lokal seperti sagu. karena cara penyajian ini akan menentukan seberapa banyak (kuantitas) makanan tersebut dikonsumsi.Sementara itu. Contohnya produksi tepung dari bahan pangan umbi-umbian. singkong. biskuit dan roti. pupuk dari kotoran hewan. (tab/humas) . sehingga diperoleh produk pangan yang standar. penjualan produk pasca panen yaitu bakso. Merica Singkong Resto adalah restoran yang menerapkan diversifikasi pangan berbasis singkong dalam bentuk menu makanan camilan maupun makanan utama/makanan pokok. itik. PT ini didirikan oleh PLN Jakarta pada tahun 1997 sebagai bentuk kepedulian sosial untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program pelatihan pertanian terpadu.  Untuk menunjang keberhasilan diversifikasi pangan. Klaten. ubi jalar dan sebagainya untuk dikembangkan menjadi mie. Kunjungan Tim BPPT ke Merica Singkong Resto diterima oleh pengelola restoran. sayuran/salad.

tapi kami akan terus mengusahakanya agar berhasil.COM. Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian Handewi Purwati Saliem mengatakan bahwa diversifikasi konsumsi pangan dapat dilakukan dengan cara menambah konsumsi karbohidrat dari bahan pangan lain selain beras. masih banyak potensi sumber lain yang bisa diolah. pada tahun 2014 nanti skor Pola Pangan Harapan (PPH) penganekaragaman pangan berbasis sumber daya lokal ditargetkan meningkat menjadi 93. masyarakat masih mengandalkan beras dan tepung sebagai sumber karbohidrat. Padahal. pengembangan investasi agroindustri berbasis pangan lokal. Selain itu. Pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal." tutur Handewi saat ditemui seusai mengisi materi dalam Seminar Nasional "Peran Pertanian Menunjang Ketahanan Pangan dan Energi Untuk Memperkuat Pangan Nasional Berbasis Sumber Daya Lokal" di Auditorium Pertanian Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Makanan tradisional juga perlu dikembangkan ke arah komersial.Pemerintah mengakui proses diversifikasi pangan masih sangat sulit diterapkan.Diversifikasi Pangan Menjadi Solusi Masa Depan TRIBUNJOGJA. dan penelitian bahan pangan lokal untuk menggenjot diversifikasi pangan. Kementerian Pertanian juga tengah mengusulkan konsep bantuan pangan lokal non-beras dalam program penyaluran subsidi beras untuk masyarakat miskin (raskin). Ke depan. pemerintah akan mengirim surat edaran menteri yang ditujukan pada instansi pemerintah atau organisasi untuk menggunakan pangan lokal dalam setiap jamuan pertemuan. "Misalnya dari umbi-umbian yang diolah sedemikian rupa sebagai sumber karbohidrat pengganti beras. pengembangan teknologi pengolahan.3. Salah satu upaya yang gencar dilakukan pemerintah saat ini adalah diversifikasi pangan berupa pengalihan makanan pokok beras ke bahan makanan lainya. Sementara Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Bowo Suryotomo yang juga hadir dalam seminar mengatakan bahwa diversifikasi pangan tidak bisa dilakukan dengan mudah. padahal idealnya 275 gram. sebetulnya potensi aneka ragam pangan Indonesia tergolong banyak karena negeri ini kaya jenis pangan nabati dan hewani. PURWOKERTO .3 setelah pada tahun 2011 kemarin berada pada angka 77. sedangkan konsumsi protein. "Harus ada segmentasi usia masyarakat untuk pengembangan kuliner di Indonesia karena kita tidak bisa menggantungkan pada satu komoditas saja. Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan. Rabu (19/9/2012) Handewi menambahkan. Badan Ketahanan Pangan Nasional. Rana. Secara umum. menilai proses diversifikasi masih terhambat pola pikir masyarakat. "Perlu promosi pangan lokal. pemerintah telah menargetkan diversifikasi konsumsi pangan berupa penurunan konsumsi beras minimal sebesar 1. Konsep bantuan pangan lokal non-beras dalam raskin itu akan diupayakan minimal sepertiga bagian dari jatah beras yang ditetapkan." katanya. "Perlu proses yang terstruktur dan teratur agar upaya tersebut dapat berhasil nantinya.5 persen per kapita per tahun." katanya. seperti jagung dan sagu juga masih rendah." ujar Gayatri. Jakarta . Selama ini. Padahal. dan umbi-umbian rendah. 14 September 2012. (*) Pemerintah Akui Diversifikasi Pangan Sulit Besar Kecil Normal TEMPO. . kacang-kacangan. Jumat." kata Bowo. Selain itu.Kondisi ketersediaan pangan yang tidak merata di beberapa daerah di Indonesia membuat pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk mengatasinya.CO. "Kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia pada 2011 untuk padi-padian masih 316 gram. kualitas konsumsi pangan masyarakat dinilai masih rendah karena konsumsi karbohidrat masih tinggi. Gayatri K.

Kementerian Pertanian tengah menggenjot upaya diversifikasi pangan dalam rangka mengurangi tingkat konsumsi beras. "Arahannya seperti itu karena pemerintah tidak mengolah ubi. Oleh sebab itu. Selama ini swasta kurang tertarik mengembangkan diversifikasi pangan lokal karena kurangnya dorongan fasilitas dari pemerintah. 14 September 2012. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Achmad Suryana mengatakan pemerintah memiliki target mengurangi konsumsi beras 1. di kantor Kadin. Jumat. Jakarta. tepung-tepungan. ." kata Suryana dalam diskusi Bahan Baku Pangan Lokal. dikembangkan oleh swasta. sesuai arahan dari Presiden untuk meningkatkan diversifikasi pangan dengan cara mengajak kerja sama pihak swasta dengan beberapa strategi. pemerintah akan memberikan dorongan sesuai koridor kewenangan agar pengembangan pangan lokal bisa menjadi bisnis menguntungkan sehingga target diversifikasi tercapai. kan. Dia menyatakan pemerintah akan mendorong fasilitasi perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri pangan menggunakan bahan baku pangan lokal. Itu. Hal ini.5 persen per tahun. kata dia.

segar maupun olahan. yang menetapkan Program Peningkatan Ketahanan Pangan. merasa belum makan kalau belum makan nasi. tahun 1963 dikembangkan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. dan menjamin ketersediaan gizi dan pangan bagi masyarakat. Dengan adanya perubahan orientasi kebijakan yang lebih luas dan juga potensi pangan di daerah yang beragam diharapkan akan terjadi pola makan pada masyarakat yang lebih beragam. Disamping itu ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional yang saat ini dinilai paling rapuh. Berbagai contoh peristiwa pada masa akhir orde lama sampai dengan awal orde baru dan pengalaman bekas negara Uni Sovyet menunjukkan bahwa ketahanan dan ketenteraman suatu negara sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan. pendapatan petani dan agroindustri pangan serta menghemat devisa. pemerintah Indonesia telah berupaya secara maksimal agar kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. mutu dan gizi yang layak. saat ini ketahanan pangan belum dicapai pada seluruh rumah tangga walaupun pada tingkat nasional hasilnya telah lebih baik. Pangan adalah komoditas strategis karena merupakan kebutuhan dasar manusia. Dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan. memungkinkan untuk tercipta diversifikasi konsumsi pangan (DKP). 1993). aman dikonsumsi. Pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian ditinggalkan masyarakat. apakah pola pangan masyarakat sudah beragam dan jika belum. sosial. Pangan adalah kebutuhan pokok sekaligus menjadi esensi kehidupan manusia. Makalah ini bertujuan menganalisis sejauhmana keberhasilan kebijakan diversifikasi konsumsi pangan. Kemudian pada tahun 1974. mengembangkan bisnis pangan. Situasi pangan di Indonesia cukup unik disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. Dengan keberhasilan tersebut. Keseriusan itu diwujudkan dalam bentuk cita-cita besarnya yaitu mampu mencapai swasembada pangan. pada tahun 1950-an telah dilakukan usaha melalui Panitia Perbaikan Makanan Rakyat. walaupun sebetulnya swasembada beras ditargetkan tercapai pada tahun 1974 (Rahardjo. kesuburan tanah dan potensi daerah. konsep makan. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan keragaman sosial. Dengan demikian. beras sebagai komoditas superior ketersediaannya melimpah dengan harga yang murah. namun kenyataan menunjukkan posisi beras sebagai pangan pokok di semua provinsi semakin kuat. teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras masih rendah. ekonomi.DIVERSIFIKASI PANGAN DI INDONESIA Diposkan oleh Aswar_Agribusiness di 01:30 I. sehingga pengelolaan pangan secara berencana merupakan suatu keharusan yang perlu diupayakan dengan sebaik-baiknya. tetapi juga sangat berarti dari segi pertahanan dan keamanan. 14 dan disempurnakan pada Inpres No. tetapi juga berdampak positif pada ketahanan pangan. orientasi pembangunan selanjutnya diperluas tidak hanya berswasembada beras tetapi juga swasembada pangan secara keseluruhan Perubahan orientasi pembangunan di bidang pangan meliputi lima aspek. Oleh karenanya pangan tidak dapat diabaikan dalam kebijakan ekonomi suatu negara. yang akhirnya tercapai pada tahun 1984 dengan swasembada beras. tetapi juga adanya keragaman sosial. ekonomi. merata serta terjangkau oleh setiap individu. mengembangkan kelembagaan pangan yang menjarnin peningkatan produksi dan konsumsi yang lebih beragam. (4) orientasi produksi yang menekankan kepada upaya mencukupi melalui peningkatan produksi menjadi orientasi untuk memproduksi pangan yang sesuai dengan permintaan pasar (market orinted). Pada tahun 1960-an. Kebijakan DKP bertujuan untuk menurunkan konsumsi beras sudah dirintis sejak awal tahun 60-an. yaitu: (1) dari swasembada beras menjadi swasembada pangan. pemerintah juga mencanangkan kebijakan diversifikasi untuk lebih menganekaragamkan jenis pangan dan meningkatkan muti gizi makanan masyarakat melalui Intruksi Presiden (Inpres) No. dan (5) orientasi yang menitikberatkan kepada single komoditas menjadi orientasi kepada pangan yang beraneka ragam. kebijakan pangan yang tumpang tindih. kebijakan diversifikasi konsumsi pangan sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersediaan pangan yang cukup. pendapatan masyarakat masih rendah. apa saja faktor penghambatnya. serta kebijakan impor gandum dan promosi produk mi yang gencar. 1998). karenanya hak atas pangan menjadi bagian sangat penting dari hak azasi manusia. Dan usaha menganeka-ragamkan pangan masyarakat sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Pangan tidak saja berarti strategis secara ekonomi. tahun 1974 dikeluarkan Inpres 14/1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (PMMR) yang kemudian disempurnakan dengen Inpres 20/1979. Memperhatikan definisi tersebut. 1993). Dalam hal ini keaneka-ragarnan pangan menjadi salah satu pilar utarna dalam ketahanan pangan Diversifikasi pangan memang merupakan salah satu prasyaratan pokok dalam konsumsi pangan yang cukup mutu dan gizinya. dan potensi daerah. melanjutkan proses sebelumnya pada Pelita VI telah pula dikembangkan Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG). (2) dari pemenuhan kuantitas menjadi orientasi yang semakin menekankan kepada kualitas pangan. . pemerintah sudah menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras (Rahardjo. Beberapa faktor yang menjadi penghambat DKP adalah karena rasa beras lebih enak dan mudah diolah. Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan yang dirumuskannya sebagai usaha mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rurnah tangga. sebaliknya pangan global seperti mi semakin banyak digemari. dan politis (Hasan. Usaha membangun Ketahanan pangan pada umumnya dan diversifikasi pangan khususnya saat ini diaktualisasikan kembali antara lain melalui Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis arah. Beberapa tonggak sejarah yang penting dalam usaha penganeka-ragaman pangan. (3) orientasi yang berupaya untuk mengatasi situasi kelangkaan (scarcity) menjadi orientasi yang didasarkan pada upaya untuk mengatasi situasi yang berlebih (plenty) melalui mekanisme pasar. Program ini bertujuan untuk meningkatkan keaneka-ragarnan produksi bahan pangan. 20 tahun 1979. kendala dan pentingnya DKP. terutama dalam hal mutu dan tingkat gizinya. dalam jumlah yang cukup. kesuburan tanah. Keberhasilan kebijakan DKP penting tidak hanya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat strategis dan penting.

1990).0 Total 100 100. sehingga dalam konteks analisis ketahanan pangan tidak layak dijadikan ukuran (Ariani.1. upaya untuk mewujudkan diversifikasi konsumsi pangan sudah dirintis sejak awal dasawarsa 60-an. tidak hanya aspek konsumsi pangan tetapi juga aspek produksi pangan.2 Pengukuran Diversifikasi Konsumsi Pangan Sejalan dengan keragaman konsep yang digunakan oleh para pakar. Dimensi diversifikasi pangan secara jelas dapat dibedakan apakah yang dimaksud diversifikasi produksi pangan atau diversifikasi konsumsi pangan atau kedua-duanya. 20-25 persen energi dari lemak dan sisanya dari karbohidrat. Susunan hidangan makanan dalam PPH dianggap baik karena mengandung 10-12 persen energi dari protein. rumus indeks Entropy seperti berikut : E = . sehingga semakin banyak jenis makanan yang dikonsumsi akan semakin beranekaragam.0 30. PPH didefinisikan sebagai komposisi dari kelompok pangan yang dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi dan akan memberikan semua zat gizi dalam jumlah yang mencukupi. Di Indonesia. Dalam konteks diversifikasi konsumsi pangan. i . dimana pemerintah telah menyadari pentingnya dilakukan diversifikasi tersebut.5 2. budaya dan kondisi sosial ekonomi. sehingga dimensi mana yang akan digunakan juga akan jelas. Semakin tinggi skor PPH berarti semakin beranekaragam. Kasryno et al.0 00. sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras.0 24.5 Sayur dan buah 6 5. 1997.0 Sumber: Deptan. 1999). pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat. apabila rumah tangga hanya mengkonsumsi satu jenis pangan sampai dengan ln.5 Umbi-umbian 6 0. regional (daerah) maupun keluarga.II.5 2. Pemusatan proporsi pengeluaran untuk jenis-jenis komoditas tertentu menunjukkan bahwa konsumsi keluarga tersebut tidak beranekaragam. DIVERSIFIKASI PANGAN DI INDONESIA 2. Arah Diversifikasi Konsumsi Pangan Program diversifikasi konsumsi pangan dapat diusahakan secara simultan di tingkat nasional.5 5.0 Lain-lain 3 0.0 Buah dan biji berminyak 3 0.0 Minyak dan lemak 10 0. konsep tersebut mengalami penyesuaian sebagai respon dari perbedaan situasi konsumsi pangan. (1993) memandang diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Konsep PPH untuk Indonesia adalah sebagaimana dijabarkan pada Tabel 1. i = 1……n. Secara lebih tegas. kondisi ini dapat dilihat dari kecenderungan konsumsi jenis pangannya (Pakpahan. sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Erwidodo et al. Seperti telah disebutkan. Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok. Dalam skala makro. Saat itu pemerintah mulai . tingkat konsumsi protein dan kuantitas pangan yang dikonsumsi. Kedua penulis tersebut menterjemahkan konsep diversifikasi dalam arti luas. Pengertian Diversifikasi Pangan Konsep diversifikasi pangan bukan suatu hal baru dalam peristilahan kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia karena konsep tersebut telah banyak dirumuskan dan diinterprestasikan oleh para pakar.0 10. Sementara Suhardjo (1998) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan. konsumsi.3. tetapi juga makanan pendamping.0 Kacang-kacangan 5 2.5 Pangan hewani 11 2. dan diversifikasi produksi pangan.. konsep yang tepat adalah konsep Pola Pangan Harapan (PPH) yang diperkenalkan oleh FAO-RAPA (1989). dan distribusi. Aspek yang diukur juga beragam seperti pengeluaran pangan. yaitu diversifikasi konsumsi pangan. tidak tumpang tindih. (2001) 2.5 2.S Wi ln (Wi) dimana : Wi = pangsa pengeluaran pangan/konsumsi zat gizi rumah tangga untuk komoditas. Dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok tetapi juga pangan jenis lainnya. Cara ini memang sederhana namun memiliki kelemahan karena belum memperhitungkan kuantitas zat gizi dari setiap jenis pangan. Diversifikasi konsumsi pangan juga dapat dinilai tanpa melalui ukuran indeks.5 1. Simatupang dan Ariani. alat ukur yang digunakan untuk mengukur diversifikasi konsumsi pangan juga sangat beragam. yang mencakup aspek produksi. pemasaran.0 Gula 5 0. Konsep harus dipahami secara jelas. yang berarti diversifikasi konsumsi pangan sangat sempurna. dan nilai skor tertinggi adalah 100. tingkat konsumsi energi. Tabel 1. diversifikasi ketersediaan pangan. Nilai E mulai dari nol. Suhardjo dan Martianto (1992) menyatakan dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada diversifikasi konsumsi makanan pokok. Secara matematika. karena konteks diversifikasi tersebut adalah untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas.padian 50 0. 2. Komposisi Energi Menurut Pola Pangan Harapan Kelompok Pangan Energi (%) Bobot Skor Pangan Padi. Jenis ukuran yang digunakan untuk mengukur diversifikasi konsumsi pangan banyak peneliti hanya menggunakan salah satu saja yaitu indeks Entropy (Pakpahan dan Suhartini 1989. Dari beberapa pendapat tersebut terlihat telah terjadi kerancuan dalam mengartikan konsep diversifikasi pangan. tetapi dengan melihat pola pengeluaran keluarga atau arah perkembangan konsumsi pangan. n apabila rumah tangga membenjakan pengeluaran pangannya merata untuk seluruh jenis pangan atau mengkonsumsi semua jenis pangan. Diversifikasi konsumsi pangan didefinisikan sebagai jumlah jenis makanan yang dikonsumsi. 1999).

menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras. Fenomena ini menunjukkan telah terjadi peningkatan preferensi dan jumlah konsumsi beras yang signifikan di provinsi tersebut. Ada dua arti dari istilah itu. yaitu rata-rata hampir mencapai 100 persen. Kemudian di akhir Pelita I (1974). Bila dilihat antarpulau. Berdasarkan keragaman produk yang ada. tersedia dalam berbagai kemasan yang praktis. Program DPG bertujuan untuk mendorong meningkatnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terutama di pedesaan untuk mengkonsumsi pangan yang beranekaragam dan bermutu gizi seimbang. Kurang Vitamin A (KVA). Fokus program DPG lebih diarahkan pada upaya pemberdayaan kelompok rawan pangan di wilayah miskin dengan memanfaatkan pekarangan pada jangkauan sasaran wilayah program yang terbatas. Partisipasi konsumsi beras yang masih rendah hanya terjadi di pedesaan Maluku dan Papua yang memang dikenal sebagai wilayah dengan ekologi sagu yaitu sekitar 80 persen. sehingga upaya yang dilakukan adalah meningkatkan ketersediaan keanekaragaman pangan di tingkat rumah tangga. Tabel 2. dengan harapan masyarakat akan beralih pada pangan non beras. 1989) dan 1996 di wilayah Kawasan Timur Indonesia menunjukkan bahwa : (1) semua provinsi di Indonesia pada tahun 1979 mempunyai pola pangan pokok utama beras. mudah diperoleh dan dihidangkan. sehingga pernah populer istilah ”beras jagung”. yang berarti hampir semua rumah tangga telah mengkonsumsi beras (Tabel 2). Tingkat partisipasi konsumsi beras di berbagai wilayah cukup tinggi. Jumlah orang yang mengkonsumsi beras selama tahun 1990 sampai 1996 dapat dikatakan relatif tidak berubah (lebih kecil satu persen). DPG dilakukan tatkala Indonesia sudah pernah mencapai swasembada beras. tidak pada keanakeragaman pangan secara keseluruhan. Tingkat partisipasi konsumsi beras di kota pada kurun waktu tersebut menunjukkan sedikit penurunan. Kalbar. Kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi pada rumah tangga perkotaan tetapi juga rumah tangga di pedesaan. Pada tahun 1996. 1993). Hasil analisis dengan menggunakan data Susenas 1979 (Pusat Penelitian Agro Ekonomi. ubikayu atau ubijalar. dan diversifikasi konsumsi pangan hanya diartikan pada penganekaragaman pangan pokok. Kaltim. pada tahun 1991/1992 pemerintah melalui Departemen Pertanian mulai menggarap diversifikasi konsumsi melalui Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG). yaitu hampir 100 persen. Kalteng. Berbeda dengan kondisi dasa warsa 60-an yang semata-mata karena terjadi krisis pangan. maka perkembangan diversifikasi konsumsi pangan dapat dilihat pada Tabel 2. beras masih mendominasi pola konsumsi pangan masyarakat. Gangguan Yodium (GAKI). Departemen Kesehatan juga melaksanakan program diversifikasi konsumsi pangan secara tidak langsung melalui program perbaikan gizi yang tujuan utamanya untuk menurunkan angka prevalensi Kurang Energi Protein (KEP). Kebijakan ini ditempuh sebagai reaksi terhadap krisis pangan yang terjadi saat itu (Rahardjo. Sulsel. Perkembangan Tingkat Partisipasi Konsumsi Beras (%) Wilayah 1990 1993 1996 1999 Nasional Desa Kota Bali & Nusa Tenggara Desa Kalimantan Kota Kota Desa Jawa Desa Kota Maluku & Papua Desa Sulawesi Kota Sumatera Kota Desa Kota Desa . Namun dalam perjalanannya. baik dalam bentuk mentah maupun olahan. seharusnya tingkat partisipasi konsumsi pada rumah tangga perkotaan menurun secara signifikan. NTB. posisi tersebut masih tetap. Upaya ini dilaksanakan dengan perubahan orientasi dari pendekatan sempit (pemanfaatan pekarangan untuk menyediakan aneka ragam kebutuhan pangan) ke arah yang lebih luas yaitu pemanfaatan pekarangan guna pengembangan pangan lokal alternatif. Namun kenyataan. sehingga banyak bermunculan berbagai pameran dan demo masak-memasak yang menggunakan bahan baku non beras seperti dari sagu. Pembinaannya pun tidak terbatas pada aspek budi daya tetapi juga meliputi aspek pengolahan dan penanganan pasca panen agar pangan lokal alternatif ini dapat memenuhi selera masyarakat (Proyek DPG Pusat. Setelah sekian lama. Kecenderungan tersebut terjadi di semua pulau. walaupun secara umum tingkat partisipasi di desa masih lebih rendah daripada di kota. sehingga perubahannya sangat kecil. kalaupun berubah hanya terjadi pada pangan kedua yaitu antara jagung dan umbi-umbian. maka tingkat partisipasi konsumsi beras tidak jauh berbeda antara pulau yang satu dengan pulau yang lain. dikarenakan di wilayah ini banyak terdapat produk-produk alternatif yang dapat berperan sebagai subsitusi beras. secara eksplisit pemerintah mencanangkan kebijaksanaan diversifikasi pangan melalui Inpres No. dan disempurnakan melalui Inpres No. sehingga mampu menggeser peran jagung dan umbi-umbian sebagai pangan pokok. Usaha tersebut kurang berhasil untuk mengangkat citra pangan non beras dan mengubah pola pangan pokok masyarakat. Program yang menonjol adalah anjuran untuk mengkombinasikan beras dengan agung. (2) pola tunggal beras pada tahun 1979 hanya terjadi di satu provinsi yaitu Kalsel. jagung.20 tahun 1979. Kemudian pada tahun anggaran 1998/ 1999 dilakukan revitalisasi program DPG untuk memberikan respon yang lebih baik dalam rangka meningkatkan diversifikasi pangan pokok. 1998). Sulut dan Sulteng. namun pada tahun 1996 terjadi di 8 provinsi yaitu Kalsel. yaitu campuran beras dengan jagung dan penggantian konsumsi beras pada waktu-waktu tertentu dengan jagung. 3 dan 4. baik di kota maupun di desa. 14 tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR). dan masyarakat tergantung pada beras. sebaliknya di desa masih menunjukkan peningkatan. tujuan diversifikasi konsumsi pangan lebih ditekankan sebagai usaha untuk menurunkan tingkat konsumsi beras. dan anemia. Bila dimensi diversifikasi konsumsi pangan dibatasi pada pangan sumber karbohidrat (pangan pokok).

9 98.9 99.9 100.7 91.6 99.6 99.3 97.5 99. Berbagai studi menunjukkan bahwa mengkonsumsi beranekaragam pangan dapat meningkatkan konsumsi berbagai anti oksidan pangan.9 96. sehingga jumlah yang dikonsumsi juga sangat terbatas.Beras . dan pangan global seperti mi semakin digemari oleh masyarakat. Dengan membandingkan antara komposisi energi anjuran dan konsumsi energi riil seperti terlihat pada Tabel 4. Penurunan tersebut juga terjadi di desa. Peningkatan konsumsi ubikayu dan jagung hanya terjadi pada awal krisis (tahun 1999).4 99.Jagung Desa . Masyarakat mengalihkan fungsi jagung dan ubikayu.8 98. 99. Tabel 3 Perubahan Tingkat Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat (kg/kap/th) Komoditas 1990 1993 1996 1999 2002 Kota .Beras .9 95.9 99.8 99. konsumsi pangan yang melebihi standar anjuran hanya pada kelompok padi-padian.1 99.0 80.7 99. Sebaliknya tingkat konsumsi mi instan yang juga sebagai salah satu sumber karbohidrat.8 99.9 97.8 99.7 100. sedangkan untuk kelompok pangan yang lain masih di bawah anjuran. serta dapat diperoleh dengan mudah. Perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh pula pada gaya makan. 1999 (diolah) Berdasarkan data perkembangan tingkat partisipasi konsumsi beras tersebut dapat diartikan bahwa program diversifikasi konsumsi pangan yang salah satu tujuannya untuk menurunkan tingkat konsumsi beras dapat dikatakan masih belum menunjukkan keberhasilan.6 99. kemudian pada tahun 2002 menjadi turun kembali. Selera masyarakat terhadap pangan berubah seiring dengan semakin maraknya jenis pangan olahan yang siap saji dan praktis.7 98.Mi instan .1996.Jagung . Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan yang bertujuan untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal tidak menunjukkan keberhasilan bahkan salah arah dan justru masyarakat lebih memilih pangan global.6 78.5 98. Hal ini juga membuktikan bahwa diversifikasi konsumsi pangan Indonesia masih belum berhasil.7 98.99.1 97.8 99. Mungkin orang akan gengsi mengkonsumsi jagung dan ubikayu karena komoditas tersebut sudah mempunyai trade mark sebagai barang inferior. Permasalahan konsumsi pangan yang dihadapi tidak hanya belum terpenuhinya kecukupan gizi tetapi juga ketidakseimbangan komposisi pangan penduduk.7 99. tidak lagi sebagai makanan pokok tetapi sebagai makanan selingan atau snack.6 99.8 99.0 99.8 99.Ubikayu . Dari keragaan data tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal seperti jagung dan ubikayu telah ditinggalkan oleh masyarakat. hipertensi dan penyakit jantung koroner.7 100.9 97.9 98.0 99.2 99.9 99.4 96.0 99.1993.0 99.8 80.7 Sumber : Data Susenas. yang hanya cocok untuk kalangan bawah. 1990. Sementara untuk komoditas ubikayu dan jagung.7 98.4 98.0 99. menunjukkan kenaikan yang sangat tajam.5 97.9 100.4 99.3 92.9 99.9 II. konsumsi serat dapat menurunkan resiko hiperkolesterol.5 99. terjadi penurunan tingkat konsumsi cukup tajam.2 95.9 100.

3 Beras Sebagai Komoditas Pangan Superior Kesulitan menerapkan diversifikasi konsumsi pangan disebabkan kuatnya paradigma masyarakat yang menganggap beras sebagai komoditas yang superior atau prestisius. Disamping itu.88 109.61 17.59 2. 1990.1999. KENDALA DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN Walaupun upaya diversifikasi sudah dirintis sejak dasawarsa 60-an.42 32. lebih tinggi daripada jagung dan ubikayu (Depkes. yang menurut hasil studi Ariani dan Pasandaran (2002) memerlukan waktu sampai 2. 1993. kandungan energi dan protein beras adalah sekitar 360 Kalori dan 7-9 gram per 100 gram bahan. Pada hakekatnya faktor-faktor yang mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan adalah sama dengan faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan yaitu sosial. sebaliknya dibilang sudah makan. peran Departemen Pertanian sangat menonjol dalam program yang disusun. dan tidak memiliki target kuantitatif yang disepakati bersama.74 0.82 125.40 1. pengetahuan.97 3. Beras Lebih Bergizi dan Mudah Diolah Secara intrisik. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut dan saling berkaitan satu dengan yang lain.. Dalam program tersebut terdapat banyak konsep tetapi kurang diturunkan dalam bentuk langkah implementatif yang melibatkan stake-holder.Ubikayu .98 1.18 96. misal dengan mengolah nasi jagung. ekonomi.50 III.70 2. tidak diperlukan waktu yang lama. Ketergantungan akan beras yang masih tinggi di kalangan masyarakat dan meningkatnya tingkat konsumsi mi secara signifikan menjadikan upaya diversifikasi konsumsi pangan belum menunjukkan keberhasilan.76 5.49 89. 3. Dengan demikian tingkat keaneka-ragaman pangan akan berbeda menurut kelompok masyarakat. 1990). walaupun sudah mengkonsumsi macam-macam makanan termasuk lontong. Konsep Makan Masih banyak ditemukan di masyarakat yang mempunyai konsep makan “merasa belum makan kalau belum makan nasi. ketupat. Lama proses pemasakan jagung ini juga menjadi pendorong beralihnya konsumsi masyarakat ke beras atau mi yang mudah dimasak.75 7. yang sebenarnya tidak ditujukan untuk mendorong keaneka-ragaman pangan masyarakat tetapi untuk mempromosikan produk yang dihasilkan.71 0.61 7. memang nenek moyang kita menjadikan nasi beras yang dimakan sesuatu yang elite. berubah ke pola beras dan pola mi. kurang beragam dan masih didominasi pangan sumber karbohidrat.09 123. walaupun tingkatannya masih belum seperti yang diharapkan. apabila ada keluarga yang beralih konsumsi dari pola beras ke umbiumbian. Kualitas pangan juga masih rendah. Sumber : Data SUSENAS.60 8.44 2. namun sampai saat ini masih belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. maka dinyatakan keluarga tersebut rawan pangan.48 0. Dalam komposisi zat gizi. Selain itu beras mempunyai cita rasa yang lebih enak walaupun dikonsumsi dengan lauk-pauk seadanya. terutama dalam standar kualitas dan kuantitas makanannya. sehingga hanya layak dikonsumsi oleh kalangan atas (orang kaya). Menurut Syamsoe’oed Sadjad.89 0. budaya.64 1. pendidikan dan pengetahuan.1996.66 5. Implementasi program banyak yang terjebak dalam proyekproyek parsial yang kurang berkesinambungan. Sampai sekarang masih sering terdengar pernyataan yang disampaikan oleh pejabat pemerintah atau media massa yang mendukung pernyataan tersebut.16 120. Dalam hal ini terlihat adanya hambatan koordinasi baik secara horizontal maupun vertikal. beras memang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan jagung dan ubikayu.48 14. serta ketersediaan dan keterjangkauan.05 111. sedangkan departemen lain cenderung untuk enggan berperan aktif di dalamnya. sehingga orang gengsi mengkonsumsi jagung dan ubikayu karena komoditas tersebut sudah . sehingga masyarakat menjadikan beras sebagai pangan pokok yang memiliki status sosial lebih tinggi. Pola sosial-budaya di masyarakat seperti ini secara nyata akan meningkatkan permintaan beras dan menghambat diversifikasi konsumsi pangan. Dalam hal ini diversifikasi pola makan tersebut sangat dipengarnhi oleh tingkat pendapatan.78 4. Pola makan yang beragam diduga lebih disebabkan karena peningkatan pendapatan dan sebagai hasil komunikasi antara produsen (industri) pangan dan konsumen.Mi instan 120.62 5. ketersediaan pangan dan lain-lain. Hal ini bisa dibandingkan.24 8.70 8. bahkan salah arah.21 0.37 27. di samping lebih mudah cara mengolah dan lebih praktis. Adanya image seperti di atas dan perubahan gaya hidup yang diikuti perubahan gaya makan. Sebagai contoh. Namun kesalahan kita mengapa barang elite tersebut kita ajarkan kepada generasi keturunan sehingga semakin banyak orang yang mengkonsumsi beras.05 13.70 1.5 jam.11 0. Pola pangan lokal seperti jagung dan ubikayu telah ditinggalkan masyarakat.00 0.19 19.2002 (diolah) III.50 0. Program Diversifikasi pangan yang dilakukan selama ini cenderung didominasi oleh peran pemerintah (pusat). Disamping itu terdapat pula pengaruh lintas budaya terutama akibat globalisasi yang signifikan. walaupun hanya makan nasi dan lauk pauk yang sederhana.07 108. Pola makan masyarakat sebenarnya telah beragam.

3 2.0 70.4 68. Namun. dalam hal ini jaminan ketersediaan beras (pangan pokok penduduk) pada tingkat harga yang terjangkau.4 2.9 3.8 1. peningkatan pendapatan justru meningkatkan konsumsi beras dan mengurangi atau beralih dari pangan pokok seperti jagung dan ubikayu. juga pengaruh pompanisasi dan ditemukannya varietas padi yang pendek.Padi-padian . Di Indonesia. masih ada kelemahan kebijakan pangan selama ini. pengolahan pangan nonberas masih terbatas dan teknologi yang digunakan masih sederhana .8 62.0 1. menarik. Hal ini berarti peningkatan pendapatan berasosiasi kuat dengan diversifikasi sumber konsumsi zat gizi.Lain-lain 50. Dengan pendapatan yang cukup. 3. Teknologi Pengolahan Pangan Nonberas dan Promosinya Masih Terbatas Pengembangan teknologi pengolahan diperlukan untuk mempercepat mewujudkan diversifikasi konsumsi pangan. kebijakan pemerintah dalam hal ini masih ambivalensi dan terkesan setengah hati.3 9. Dengan sentuhan teknologi pengolahan diharapkan dapat menghasilkan pangan yang lebih bermutu.Umbi-umbian .0 5. konsumsi beras akan menurun.8 4.1 5.6 Sumber: 1)Deptan (2001).2 56.4 8.2 3.5 2. Pada rumah tangga dengan pendapatan rendah. tergantung dari motif mana yang akan menjadi unsur utama. Seperti hasil kajian yang dilakukan oleh Simatupang dan Ariani (1997) yang menggunakan data Susenas 1996 dengan indeks Entropy menunjukkan bahwa diversifikasi sumber konsumsi energi dan protein selalu lebih tinggi pada kelompok pengeluaran (proksi pendapatan) tinggi.2 1.0 7. Menurut Baharsyah (1991) kebijaksanaan harga pangan yang belum berimbang dengan harga beras yang cenderung menurun terhadap pangan lain merupakan salah satu faktor penghambat diversifikasi pangan.4 Skor PPH 100. sehingga konsumsi beras menurun dan akan beralih pada pangan yang mahal seperti pangan hewani atau makanan jadi.Kacang-kacangan . Salah satu hal penting dalam menyukseskan diversifikasi konsumsi pangan adalah karena dukungan kebijakan pemerintah. Padahal semestinya tujuan tersebut diarahkan kepada pencapaian ketahanan pangan berkelanjutan. disukai dan terjangkau oleh masyarakat. harga dan impor beras telah menyebabkan harga beras menjadi murah dan dapat terjangkau oleh masyarakat. dan pada tingkat pendapatan tertentu. Jagung dan ubikayu tidak lagi sebagai pangan pokok tetapi makanan selingan atau snack. Pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan perberasan mulai dari industri hulu sampai industri hilir. sehingga jumlah yang dikonsumsi juga terbatas.0 3. Namun faktanya.0 6.5 1.mempunyai trade mark sebagai barang inferior.0 12. 2002 3.8 2. beras telah dijadikan komoditas politik dan strategis.3 2.2 5.3 56. yang menurut terletak pada rumusan tujuan dan implementasi yang diarahkan terutama untuk stabilitas politik dan ekonomi. Proporsi Konsumsi Energi yang Dianjurkan dan Konsumsi Energi Riil Penduduk Indonesia Menurut Konsep PPH (%) Kelompok pangan Konsumsi Anjuran Konsumsi Riil 1996 1999 2002 .0 3. sehingga beras menjadi populer. Program diversifikasi konsumsi pangan semestinya juga diarahkan pada perbaikan pendapatan masyarakat petani dengan melakukan diversifikasi produksi tanaman pangan.5.0 2.Gula . sehingga berbagai motif dalam memilih pangan akan muncul. keluarga akan dapat leluasa menentukan pilihan-pilihan pangan sesuai dengan selera.4 3.Pangan hewani . Rumah tangga dengan pendapatan tinggi akan berupaya memenuhi tuntutan kualitas. Dalam kasus beras. 1999. 2)Data Susenas 1996.0 10.Sayur+buah .Minyak+lemak . pemerintah juga telah menetapkan harga dasar gabah sejak Musim Tanam (MT) 1969/70 yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.4.1 4. Pada saat ini.0 59.0 5. 3.6 3.4 3.Buah/biji berminyak .4 4. Tabel 4.6.0 6. Ketersediaan Beras Melimpah dan Harga Beras Murah Salah satu cara untuk mewujudkan stabilitas politik adalah dengan menyediakan pangan yang stabil dengan harga yang terjangkau. Selain itu. peningkatan pendapatan akan meningkatkan konsumsi beras. Telah banyak kajian yang menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan. sehingga pertumbuhan produksi beras terus meningkat dan beras dapat dijumpai dimana-mana dengan mudah. Pergeseran pola pangan pokok di Madura. Pendapatan Rumah Tangga Masih Rendah Perubahan pola konsumsi akibat kenaikan pendapatan tidak hanya mengakibatkan tuntutan akan kuantitas tetapi juga kualitas dan bahkan komoditas baru. dari jagung ke beras selain karena letak Pulau Madura yang dekat dengan Jawa Timur. Kebijakan terhadap produksi. sehingga kebijakan pangan bias pada beras.8 4.

1 juta ton tahun 2000/2001. 3. bahkan mencapai US$ 1. Disamping itu dominasi peran pemerintah dalam pengambilan keputusan yang terjadi selama ini juga semakin terbatasi oleh kemampuan pemerintah sendiri dalam menjalankan keputusannya. Impor gandum pada tahun 1997/1998 sekitar 3.(tradisional) sehingga produk yang dihasilkan masih dianggap sebagai barang inferior. PELUANG DAN TANTANGAN MASA DEPAN Indonesia merupakan negara besar yang sangat dinamis. 3. tetapi dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah baru dalam ketahanan pangan Kondisi tersebut juga dikhawatirkan akan menciptakan playing field yang tidak seimbang antara pelaku bisnis pangan domestik dan MNC. tidak hanya di swalayan tetapi juga di pasar tradisional atau warung kecil di pedesaan. b. pengemasan. Namun sebagian besar pola pangan baru tersebut berbasis bahan baku yang harus impor dan kurang menyerap potensi alam Indonesia. fast food. Globalisasi merupakan kondisi riil yang telah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. namun hal ini dapat sangat serius mempengaruhi ketahanan pangan jangka panjang. Belajar dari industri mi instant. tingginya tingkat konsumsi pangan tersebut dikarenakan product development yang dihasilkan sangat beragam dan promosinya juga sangat kuat. sehingga Indonesia tidak menanam tanaman tersebut. Pada saat yang sama sekitar 100. terutama akibat . Menurut Sawit (2003) beralihnya pangan dari non terigu ke terigu atau produk olahannya pada kelompok rendah dan menengah di Indonesia begitu cepat dibandingkan di negara-negara Asia. Juga telah semakin seriusnya penurunan kesediaan air dan meningkatnya kompetisi penggunaan air tersebut antara keperluan konsumsi rurnah tangga dan industri dengan keperluan pertanian. turut mendorong peningkatan partisipasi konsumsi produk gandum terutama berupa mi dan roti. c. contohnya belum ada alat masak untuk jagung dan ubikayu seperti “rice cooker”. 2. Selain itu. dan sebagainya. IV. Generalisasi program tersebut jelas akan menstabilkan dan mendorong beras sebagai pangan pokok. 3. Namun adanya kebijakan impor gandum untuk diproses menjadi tepung di dalam negeri yang berlangsung lama dan subsidi harga terigu oleh pemerintah. Konsumen produk mi juga meliputi semua golongan. Kondisi ini perlu dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan pola konsumsi beraneka-ragam bagi "konsumen baru" yang cukup besar. Disisi lain. e. maka harga terigu menjadi murah (50% lebih rendah dari harga internasional). Globalisasi juga membawa pengaruh budaya pangan baru: mie. sehingga mengurangi konsumsi pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian.49 % per tahun. harganya masih mahal dan dikonsumsi dalam jumlah yang kecil seperti snack dari jagung. Indonesia dengan jumlah konsumen yang besar merupakan pasar yang sangat menarik bagi produsen pangan dunia. Beberapa fenomena globalisasi yang mempengaruhi kondisi keaneka-ragaman pangan Indonesia: a.2 billion pada tahun 2002 dan menjadi impor tertinggi untuk kelompok pangan. Selain itu cara dan alat pengolahan pangan non beras tingkat rumah tangga juga masih terbatas. Kalaupun tersedia. penampilan. tidak hanya golongan atas tetapi juga menengah dan bawah. dan (2) menjadi disinsentif bagi petani untuk menanam beras sehingga dapat menimbulkan ketergantungan terhadap beras impor. Dengan pertumbuhan penduduk 1. dll. pemerintah menetapkan harga beras murah. Kebijakan yang Tumpang Tindih Kebijakan pangan yang ditetapkan tidak konsisten dan sinkron antara program yang satu dengan yang lain. Perusahaan-perusahaan industri pangan di Indonesia sebagian besar telah dimiliki oleh perusahaan multinasional. Dengan dorongan bagi terbukanya pasar domestik Indonesia menyebabkan berbagai produk dipasarkan ke Indonesia. Hal ini menyebabkan masuknya beras impor ke pasar Indonesia legal maupun ilegal dengan harga relatif murah. Kebijakan Impor Gandum. seperti mi basah. mi kuah. Proses reformasi yang menginginkan penyeimbangan peran masyarakat dan peran pemerintah mendorong peningkatan partisipasi masyarakat yang lebih besar. yang walaupun juga mendorong penganeka-ragaman pola pangan.7 juta ton telah naik menjadi 4. Beras impor murah akan (1) menimbulkan ketergantungan terhadap beras semakin tinggi dan mengurangi insentif untuk menganekaragamkan sumber karbohidrat. Hal tersebut akan menyebabkan pengambilan keputusan industri menjadi tergantung pada kepentingan perusahaan induknya. Jenis Product Development Cukup Banyak dan Gencarnya Promosi Produk gandum sesungguhnya bukan makanan pokok Indonesia.000 hektar lahan pertanian umurnnya pangan terkonversi setiap tahunnya untuk berbagai kepentingan non-pertanian. Selain itu mi juga dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. yang mendorong orang untuk mengkonsumsi beras. karena kondisi fisik lingkungan yang tidak cocok. Globalisasi dapat mengurangi keleluasaan pemerintah Indonesia dalam memformulasi dan menerapkan kebijakan dibidang pangan akibat keterkaitannya dengan kepentingan beberapa lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF. tambahan kandungan nutrisi. Dilihat dari perspektif pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Program diversifikasi konsumsi pangan telah ditetapkan sejak dulu.7. mi instant dan produk mi lainnya. pemerintah juga menetapkan program OPK beras yang berlaku untuk semua provinsi baik di kota maupun di desa tanpa memperhatikan faktor sosial dan budaya makan setempat. Dalam 5 tahun pasar beras dunia menunjukkan trend penurunan harga. d. yang ditandai oleh berbagai perkembangan strategis beberapa tahun terakhir dan tahun-tahun yang akan datang. bentuk dan cara masak dari mie. Hal ini dapat menjadi kendala bagi pengembangan 'industrialisasi pangan alternatif . Produk mi dapat dengan cepat diolah. yang salah satu tujuannya untuk menurunkan konsumsi beras. Banyak ragam jenis. Keragaman sosial ekonomi tersebut sekaligus sekaligus juga menjadi peluang dan potensi untuk mengembangkan pangan yang beragam. sekaligus tantangan yang besar karena sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut semakin terbatas. padahal potensi pangan lokal yang dapat berperan untuk menggantikan atau mengurangi beras sangat tinggi. Indonesia harus mampu menyediakan pangan untuk 210 juta penduduknya saat ini dan pertambahan setidaknya 3 juta konsumen baru setiap tahun. Selain itu adanya kampanye yang intensif melalui berbagai jenis media seperti media elektronik. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragam.8. 4. terdapat beberapa peluang dan tantangan yang perlu diperhatikan: 1. Walaupun hal ini memungkinkan lebih tersedianya "pangan murah" bagi penduduk miskin. disajikan dan dikonsumsi dengan kemasan yang bagus dan dengan variasi harga yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan pilihan-pilihan produk mi sesuai dengan kemampuan. Kebutuhan tersebut tidak hanya dari jenis pangannya tetapi juga dari pengolahan. product development yang diperluas dengan harga yang bervariasi dan mudah diperoleh.

Keberhasilan pelaksanaan kebijakan pada tingkat operasional saat ini dan di masa yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kemampuan dan kemauan pemerintah daerah. Pada tahap implementasi. Faktor-faktor tersebut menimbulkan kekahawatiran akan potensi terjadinya kelangkaan beras di masa mendatang. hal tersebut perlu menjadi pusat perhatian karena akhirnya masyarakatlah yang akan melakukan dan memperoleh dari hasil penganeka-ragaman. Dalam konteks diversifikasi pangan. secara eksplisit dituangkan bahwa penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memperhatikan sumberdaya. Memperkuat Ketahanan Pangan Masalah ketahanan pangan menjadi isu penting akhir-akhir ini. 2. 2002). 3. laju peningkatan produktivitas usahatani padi semakin kecil karena perkembangan teknologi produksi padi mengalami kejenuhan. terutama yang terkait dengan aspek stabilitas kecukupan pangan. 8. Prinsip industrialisasi pangan membutuhkan peran swasta secara aktif.lembaga internasional.masalah yang tidak dapat diatasi oleh propinsi dan kabupaten serta mengembangkan hubungan dengan masyarakat internasional (international relations and diplomacy). 2.1. apa indikator yang dapat memberikan gambaran mengenai tingkat keanekaragaman tersebut. Disamping itu perlu pula dikembangkan pemahaman pemerintah daerah bahwa sangat banyak masalah sosial ekonomi yang tidak bisa hanya diselesaikan dalam lingkup batas kewenangan administratif satu daerah tetapi membutuhkan kerjasama yang erat antar pemerintah daerah. terutama kebutuhan energi dan protein. konversi lahan pertanian terutama di Jawa ke penggunaan nonsawah. maka perbedaannya tidak terlalu jauh dengan harga energi atau harga protein nabati yang berasal dari beras. dan 3. Dalam hal ini pengembangan "public-private partnership" termasuk pelibatan petani merupakan langkah strategis yang perlu dikembangkan. Berdasarkan beberapa permasalahan tersebut diatas. 7. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 68 tentang Ketahanan Pangan. meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan dan mengintroduksi bahan pangan alternatif pengganti beras yang berharga murah dan memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dengan beras. 5. Peluang dan tantangan lain yang melingkupi pengembangan keaneka. Pengambilan keputusan publik oleh pemerintah juga tidak dapat lagi dilakukan hanya oleh pemerintah pusat. Beberapa karakter yang seharusnya dimiliki oleh pangan pengganti beras. keterbatasan anggaran pemerintah. PENTINGNYA DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN Dalam KTT Pangan Dunia 1996 yang menghasilkan Deklarasi Roma tentang Ketahanan Pangan ditegaskan bahwa: “adalah hak setiap orang untuk memiliki akses terhadap pangan yang aman.keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah dan keterkaitan pemerintah dengan lembaga. dan bagaimana proses pengukuran yang mudah dari indikator tersebut. Secara tegas dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan secara cukup bagi setiap penduduk merupakan suatu hal yang mutlak dipenuhi dari sisi hak manusia. (1999) adalah sebagai berikut: 1. 6. Padahal akhir-akhir ini cenderung terjadi stagnasi dalam produksi beras nasional yang diakibatkan oleh : 1. 4. baik di dalam negeri maupun di dunia internasional. menurut Irawan et al. proses penganeka-ragaman pangan membutuhkan pemahaman yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan keaneka-ragaman pangan. Disamping itu pengembangan pola 'user-fee' atau 'fee-services' juga dapat menjadi wujud kongkrit tantangan dan peluang peran swasta dan petani tersebut. dan menggantikannya dengan jenis pangan lain menjadi penting dilakukan dalam rangka menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang. Bila terjadi kelangkaan beras maka akan memberikan dampak yang besar terhadap pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan bagi rumah tangga. memiliki kandungan energi dan protein yang cukup tinggi sehingga apabila harga bahan pangan tersebut dihitung dalam kalori atau harga protein nabati. bahan baku untuk pembuatan bahan pangan alternatif cukup tersedia di daerah sekitarnya. Agar industrialisasi yang dikembangkan terkait dengan kegiatan petani menghasilkan bahan baku pangan. Oleh karena itu upaya menurunkan peranan beras. Pendayagunaan teknologi yang sesuai akan menjadi faktor menentukan keberhasilan proses penganeka-ragaman pangan. serta menghemat devisa negara. dari segi selera. Selain peningkatan kualitas sumberdaya manusia. 5. baik dalam pengertian konsumsi maupun produksi. kelembagaan dan budaya lokal (Badan Bimas Ketahanan Pangan.ragaman pangan pada masa yang akan datang adalah perkembangan teknologi pangan yang semakin maju sekaligus mudah diimplementasikan. bahan pangan alternatif memiliki peluang cukup besar untuk dikonsumsi secara luas oleh rumah tangga . memiliki peluang yang besar untuk dikonsumsi dalam kuantitas yang relatif tinggi sehingga apabila terjadi penggatian konsumsi beras dengan bahan tersebut maka pengurangan kuantitas kalori dan protein nabati yang berasal dari beras dapat dipenuhi dari bahan pangan alternatif yang dikonsumsi. konsisten dengan hak azasi bagi setiap orang untuk memperoleh pangan yang cukup dan bebas dari kelaparan”. Dengan demikian kekurangan pangan atau kelaparan yang berdampak pada kekurangan gizi dapat dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak azasi manusia. sehingga tidak mampu melakukan perluasan areal irigasi dan pemberian subsidi input produksi kepada petani. Oleh sebab itu pengambilan keputusan publik dimasa yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kemampuan melibatkan partisipasi masyarakat secara optimal. kebijakan diversifikasi konsumsi pangan dipandang masih tetap diperlukan. swasta nasional juga telah menunjukkan perannya dalam mendorong diversifikasi pangan. Ketergantungan konsumsi pangan terhadap beras tidaklah menguntungkan bagi ketahanan pangan. maka proses industrialisasi pangan tersebut perlu diletakkan pula dalam kerangka pengembangan dan usaha agribisnis pangan Hal tersebut juga membutuhkan partisipasi aktif kalangan pengusaha. tetapi melalui keseimbangan yang optimal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dimana peran pemerintah daerah akan lebih dominan tanpa mengesampingkan peran penting pemerintah pusat dalam mengembangkan kebijakan makro yang kondusif. dampak positif dari kebijakan diversifikasi konsumsi pangan antara lain memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Seperti telah dikemukakan sebelumnya. bermutu dan bergizi. V. Peran pemerintah pusat terbatas pada masalah.

1 juta ton (Sawit.4 1. antisipasi terhadap pangan baru seperti mi yang bahan bakunya tidak diproduksi di dalam negeri harus diperhatikan dalam mengembangkan industri dan menerapkan jenis teknologi yang akan dipilih.7 4.2 37.0 3. Petani akan memproduksi komoditas yang banyak dibutuhkan oleh konsumen dan yang memiliki harga cukup tinggi.2 20. tetapi dapat mencoba tanaman lain yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.7 15.6 73.9 .4 0.Pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan secara bertahap akan mengubah pola produksi pertanian di tingkat petani (diversifikasi produksi pertanian). Oleh karena itu.5 61. Kandungan Makronutrien per 100 gram Komoditas Pangan Alternatif (gram) Komoditas Protein Lemak Karbohidrat Ubikayu Kentang hitam Ubikayu kuning Suweg Ganyong Talas Jagung kuning Kimpul Ubijalar Garut Jali Gude Kembili Kacang tinggak Sorgum Kacang merah 0. Hal ini sekaligus menjadi peluang yang dapat mengantar Indonesia untuk berswasembada karbohidrat. Mereka tidak lagi tergantung pada komoditas padi sebagai sumber pendapatan usahataninya. 5.2 25.4 1. Indonesia telah mengimpor tidak kurang dari 15 juta ton beras atau senilai US $ 4. Selain itu. yang cenderung meningkat semakin menambah beban pemerintah dalam mencukupi kebutuhan konsumsi beras.9 0. Tabel 5.4 milyar.7 23.9 61.0 61. 2003). Beberapa komoditas lokal seperti ganyong. tetapi juga akan bermanfaat bagi penghematan devisa negara jutaan dolar per tahunnya yang berarti juga meringankan beban keuangan negara.2 22. 68 yang menyebutkan bahwa penganekaragaman pangan dilakukan dengan mengembangkan teknologi pengolahan dan produk pangan.7 6.0 22. Terjadinya krisis ekonomi Indonesia yang berdampak pada lahirnya krisis pangan dan gizi dapat dijadikan momentum untuk membuka peluang pemanfaatan komoditas pangan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian masyarakat.9 1.9 23. apalagi di saat terjadi krisis ekonomi ini. Kandungan karbohidrat dan protein pangan tersebut dapat mensubtitusi penggunaan komoditas pangan utama pada aneka produk pangan. Menghemat Devisa Negara Produksi beras Indonesia jauh tertinggal dari permintaan dan nampak semakin fluktuatif selama dasawarsa sembilan puluhan.2.8 22.1 16.2 0.5 36. koro pedang dan komoditas lainnya (yang nyaris tidak dikenal lagi) dapat dikembangkan sebagai pangan alternatif. Sayang potensi besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. ketergantungan Indonesia akan beras impor juga semakin besar. Pengembangan teknologi seyogyanya mampu mengembangkan penggunaan jenis serealia atau umbi-umbian yang dapat digunakan sebagai substitusi atau pencampuran sehingga ketergantungan terhadap impor terigu dapat ditekan.8 1.5 1.5 36.9 1.7 Kacang bogor Koro benguk Kecipir Koro wedus Kacang hijau Kacang tanah 1.0 1.7 24.0 1. kembili.1 3. 5. tetapi pada tahun 2000/2001 melonjak menjadi 4.9 22.0 1.0 0. Jenis komoditas pangan yang dihasilkan oleh sektor pertanian akan sangat tergantung dari pola konsumsi masyarakat. Meningkatkan Pendapatan Petani dan Agroindustri Pangan Peran sektor pertanian yang utama adalah sebagai penyedia pangan bagi penduduk. Pada tahun 1997/1998 impor biji gandum Indonesia hanya sekitar 3. Hal ini juga secara ekplisit dituangkan dalam PP No.0 24.1 3.7 22. impor biji gandum sebagai bahan baku produk mi juga meningkat terus.3 0. protein.0 9.7 27.2 1.7 23.0 32.1 1.0 0. baik di Jawa maupun Luar Jawa.2 42. Terigu yang sering menjadi polemik dapat berkurang penggunaannya dengan memanfaatkan tepung dari umbiumbian.1 0. Kondisi ini akan membawa dampak pada peningkatan pendapatan petani.5 11.3 0. Akibatnya.3 0.5 65.0 17.3 0.8 34. Tingkat partisipasi konsumsi beras masyarakat di kota maupun di desa.konsumen. Keberhasilan diversifikasi konsumsi tidak saja akan memperkuat ketahanan pangan masyarakat karena tidak terlalu berpengaruh terhadap fluktuasi produksi beras. dan lemak.6 59.2 0. Keragaman hayati (biodiversity) yang tersebar di wilayah Indonesia merupakan potensi besar yang dapat diolah menjadi pangan.8 11.9 2.3.4 62.4 37.7 juta ton.0 69.0 33. Selama tahun 1990-2001.

Krisnamurthi B. Rahardjo. legume.htm 22/11/06 . No. A. Untuk selanjutnya.. (5) pendapatan rumah tangga masih rendah. Rasahan. Institut Pertanian Bogor (PSP-IPB) http://www. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. namun diharapkan juga membawa dampak positif dalam kehidupan sosial masyarakat dan perekonomian nasional. Jakarta Kasryno. Penggalian potensi tersebut dilaksanakan dengan pengembangan teknologi pengolahan dan produk pangan. 1993. Jakarta. Jakarta. vitamin. LIPI. Keragaman hayati Indonesia berupa tumbuhan. terwujudnya diversifikasi konsumsi pangan sangat tergantung dari peran pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Pedoman Umum Program Diversifikasi Pangan dan Gizi Tahun Anggaran 1998/1999. dan C. Kepala Pusat Studi Pembangunan. Sambutan Penutupan Menteri Negara Urusan Pangan pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan serta menghemat devisa. Jakarta. Keberhasilan diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya memberikan keuntungan bagi tersedianya bahan pangan bagi penduduk. Penganeka-Ragaman Pangan: Pengalaman 40 Tahun Dan Tantangan Ke Depan. Prisma No. dampak positif dari pelaksanaan program diversifikasi konsumsi pangan adalah memperkuat ketahanan pangan. Oleh karena itu. pangan lokal seperti jagung dan ubikayu semakin ditinggalkan masyarakat. protein. LP3ES. buahbuahan dan tumbuhan lalapan sangat banyak dan kaya sumber karbohidrat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. belum dikatakan makan kalau belum makan nasi.1 Sumber : Widowati dan Sunihardi (2000) VI. Suhartini. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. 1998. 1993. Selain bertujuan untuk meningkatkan sumberdaya manusia. M.ekonomirakyat. 1998.21.A. (6) teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras (pangan lokal) masih terbatas. Oleh karena itu. 2003. namun pangan global seperti mi semakin banyak digemari yang ditunjukkan dengan kenaikan tingkat konsumsi mi instan yang signifikan. Prisma.. Beberapa faktor yang menjadi kendala terhambatnya diversifikasi konsumsi pangan adalah : (1) rasa beras memang lebih enak dan mudah diolah. 13-24.H. Kasus terjadinya perubahan konsumsi beras dan mi disebabkan karena peran pemerintah sangat kuat. Jurnal Agro Ekonomi. 5. kacang-kacangan. Permintaan Rumah Tangga Kota di Indonesia Terhadap Keanekaragaman.D. LSM dan masyarakat. lesson learned dari pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan selama ini dapat dijadikan pijakan untuk pelaksanaan selanjutnya. LP3ES. (3) beras sebagai komoditas superior. F. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. Bogor. tetapi juga swasta. jenis product development cukup banyak dan promosi yang gencar. dan (8) adanya kebijakan impor gandum. 2003. 5. yang ditunjukkan oleh tingkat partisipasi yang cukup tinggi di berbagai wilayah termasuk pada wilayah yang sebelumnya mempunyai pola pangan pokok bukan beras. tidak hanya pemerintah. I. Bogor Proyek DPG Pusat. Gunawan. Hasan. (7) kebijakan pangan yang tumpang tindih. (2) ada konsep makan yang keliru. Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan masih tetap diperlukan. 1989. yang melibatkan swasta terutama para industriawan. dan mineral. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Peran beras sebagai pangan pokok semakin kuat. Bahkan di beberapa provinsi terjadi pergeseran pangan pokok dari beragam cenderung menjadi pola tunggal yaitu beras. program diversifikasi konsumsi pangan seyogyanya dijadikan gerakan bersama yang melibatkan semua unsur. dan S. Pakpahan. DAFTAR PUSTAKA Ariani dan Ashari. Strategi Diversifikasi Produksi Pangan. Di sisi lain. (4) ketersediaan beras melimpah dan harganya murah. hlm.org/edisi_19/artikel_4. Tahun XXII. Th XXII. Departemen Pertanian. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful