You are on page 1of 4

Hasil Diskusi Kelompok Teori Politik Internasional Emmerich de Vattel Kelompok Kenanga Inisiator : Fatih Wicaksono Anggota Bisma

Putra Sampurna Mahanrani Yuniandini Bondan Dewanto Iqbal Zakky Hasbianto Anggi Dwi Ajeng Pangastuti Nadya Indah Kusumawati Aretha Budiastuti Crystaline Sekartaji Dody Iswandi Maulidiawan Bara Ekiyama Brahmantika Sebelumnya saya sebagai inisiator memohon maaf atas absennya saya selaku inisiator dan beberapa anggota diskusi yang lain sehingga diskusi tidak berjalan dengan baik. Berikut namanama peserta medium kenanga yang terlibat aktif dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa HI seIndonesia (PNMHII) : 1. Bondan Dewanto 2. Maharani Yuniandini 3. Dodi Iswandi Maulidiawan 4. Bara Ekiyama Brahmantika 5. Fatih Wicaksono 6. Iqbal Zakky Hasbianto 7. Bisma Putra Sampurna. Namun sempat saya lampirkan beberapa pertanyaan pembuka terkait dengan Emmerich de Vattel. 1. Bagaimana pendapat anda mengenai pemikiran Vattel? 2. Menurut anda, apakah pemikiran Vattel sesuai dengan kondisi politik internasional kontemporer? 3. Menurut anda, apa kelemahan dalam pemikiran Vattel? Iqbal Zaky 1. Menurut saya Vattel mengembangkan pemikiran mengenai sistem perang dan humaniter. Pembagian aktor (antara militer dan sipil) dipercaya dapat mengurangi dampak perang yang sangat merugikan, terutama sumber daya manusia. Meskipun demikian, Vattel belum bisa tegas dengan

pemikirannya. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataannya mengenai perang sebagai "sesuatu yang disesali ketika seluruh cara lain gagal ditempuh" kendati dirinya mengamini peperangan. 2. Ya, saya rasa ini dapat menjelaskan keadaan politik internasional kontemporer. Ketika organisasiorganisasi internasional humaniter mencoba untuk menyelamatkan nyawa para korban perang dan mengobarkan semangat anti-perang, negara-negara di dunia memiliki "kedaulatan" untuk berperang. Tekanan moral yang tidak terlalu kuat membuat perang di dunia kontemporer terus terjadi, dan sistem humaniter tidak bisa berbuat banyak dalam pencegahan perang. 3. Ketidaktegasan Vattel dalam pernyataannya mengenai perang menjadi dasar ambiguitas perang dan hubungannya dengan sistem humaniter. Dan pemisahan antara agama dengan humaniter saya rasa kurang bermanfaat. Menurut saya, agama dapat berperan sebagai pendukung sistem humaniter. Jika saja seluruh pemuka agama (yang cenderung grassroots) bersatu untuk mencegah perang atas dasar agama dan kemanusiaan, saya rasa pencegahan perang dapat terealisasikan. Meskipun tidak jarang agama menjadi alasan (baik alasan utama maupun alasan pendukung) terjadinya peperangan. Bondan Dewanto 1. Menjawab pertanyaan nomor 1 dari presenter, menurut saya pemikiran Vattel sudah cukup modern mengenai war dan humanitarian. Vattel yang menjelaskan tidak bolehkannya intervensi antarnegara, menurut saya hal ini memang terlihat beralasan, namun sedikit naf apabila melihat kondisi dunia sekarang yang penuh dengan intervensi yang bukan berlandaskan kemanusiaan, namun berlandaskan kepentingan suatu Negara yang diselipkan dalam tindakan intervensi tersebut. 2. Pemikiran Vattel jika dikaitkan dengan era kontemporer saat ini dapat menajdi dua sisi koin yang berbeda, di satu sisi, pemikiran Vattel mengenai intervensi humaniter yang diperbolehkan tentu masuk akal dan beralasan. Meskipun masih banyak Negara yang mengatasnamakan intervensi humaniter namun memiliki unsur-unsur kepentingan Negara mereka di dalamnya. Namun jika mengingat pembahasan mengenai moralitas yang makin menemukan posisinya kembali di kancah internasional, maka bukan tidak mungkin humanitarian intervention dilakukan secara murni kemanusiaan. Namun di sisi lain banyak juga yang menentang bahwa humanitarian intervention dapat dilakukan. Hal ini hanya dirasa alibi dan kedok dari kepentingan Negara yang melakukan humanitarian intervention tersebut. Sehingga terjadi perdebatan mengenai aksi humanitarian intervention itu sendiri yang kadang esensinya kabur dari yang seharusnya.

3. Menurut saya kelemahan dari pemikiran Vattel yaitu kenaifan yang terdapat dalam pemikirannya mengenai humanitarian intervention. Dan seperti yang telah dijelaskan diaas bahwa di era kontemporer terdapat dua bentuk aksi humanitarian intervention dimana pertama dapat berupa murni humanitarian intervention, sementara yang kedua yaitu mengatasnamakan humanitarian intervention yang dijadikan alibi dan kedok dimana memiliki unsur kepentingan Negara yang melakukan aksi humanitarian intervention tersebut. Dodi Iswandi 1 sekaligus nomor 3: Pemikiran Vattel merupakan terobosan, karena sementara pemikir sebelumnya memusatkan pemikiran mereka pada apakah perang perlu atau tidak, Vattel justru memberi solusi, kurang lebih dengan 'perang boleh - boleh saja, namun dengan ketentuan perang' atau jus war. Meskipun banyak pihak menganggap pemikiran Vattel naif, terutama karena negara merupakan aktor rasional yang selalu memperjuangkan kepentingannya, saya tetap melihat Vattel sebagai pemikir yang tidak biasa di masanya. 2. Pemikiran Vattel sesuai dengan kondisi kontemporer, dimana pemikiran Vattel-lah yang digunakan hingga saat ini. Anggi Dwi Ajeng Pangastuti 1. Pemikiran Vattel ini bisa kita sebut sebagai HHI yang kita punya dewasa ini. Pemikiranpemikirannya akan just war ataupun humanitarian intervention sangat cocok dengan hukum internasional yang dipergunakan oleh masyarakat dunia dewasa ini. Sebagai pemikir yang lebih muda dari Grotius dan Pufendorfs, Vattel mampu melihat celah-celah yang ada dalam pemikiran kedua pendahulunya tersebut dan mampu menambalnya agar lebih sempurna. Sama seperti kedua pendahulunya di atas, Vattel juga sangat menumpukan interaksi antar negara berdasar pada moral. Masih sama juga seperti Grotius dan Pufendorfs, ia juga mengakui bahwa dalam pengambilan kebijakan, negara akan selalu melihat kepentingannya. Tetapi, disinilah meurut saya pemikiran Vattel lebih sempurna dari mereka berdua (lebih idealis). Dia secara tegas menyatakan, I say whatever it can do, not meaning physically only, but morally also, what it can do lawfully, justly, and honestly. Berbeda dengan Grotius dan Pufendorfs yang masih sering terdengan realis, pernyataan Vattel tersebut justru memperlihatkan betapa ia sangat idealis dalam memandang dunia ini.

2. Lagi-lagi, sesuai atau tidak dengan kondisi politik internasional kontemporer itu hanya bisa dijawab tergantung kepada perspektif yang digunakan. Saya sendiri setuju bahwa Vattel sangat sesuai dengan kondisi HKI dan HHI yang berlaku sekarang. Pertanyaan yang kemudian muncul ialah, apakah HHI yang ada sesuai dengan realita politik internasional? Sebagai seorang yang cenderung realis, saya melihat bahwa keberadaan HKI dan HHI adalah sebagai salah satu alat dari negara untuk meraih kepentingannya. Saya setuju bahwa hukum-hukum tersebut harus ada untuk mengatur bagaimana dunia internasional yang anarkis ini menjadi sedikit berpola. Namun demikian, negara akan selalu berusaha untuk menjadi pihak yang membentuk pola tersebut, bukan hanya mengikuti pola yang dibentuk negara lain. 3. Vattel suggests that the great society of states depends upon the good faith of nations in their relations. Itulah yang menurut saya menjadi kelemahan pemikiran Vattel. Ia sangat percaya pada niat baik yang ada pada tiap negara. Ia menyamakan negara dengan seorang individu. Permasalahannya, negara tentu jauh lebih kompleks daripada seseorang. Proses pembuatan kebijakan dalam sebuah negara melibatkan banyak pihak yang masing-masig pihak membawa pemikirannya sendiri-sendiri. Good intentions of state, therefore cant be guaranteed. Pembuatan kebijakan yang dilakukan negara selalu merupakan pertarungan dari kepentingan dan keinginan actor-aktor yang ada di dalamnya. Kebijakan yang muncul pun akhirnya menjadi cerminan dari pertarungan kepentingan ini. Niat baik mungkin memang lahir pada awalnya, tapi eksekusi dari niat baik ini belum tentu sebaik niatnya. Inilah yang menurut saya tidak diperhitungkan Vattel. Kesimpulan Walaupun diskusi tidak dapat berjalan dengan semestinya, namun dari ini dapat saya iambil beberapa kesimpulan kasar dari beberapa tanggapan yang masuk. Vattel merupakan pemikir yang idealis namun juga memperhitungkan aspek realis sehingga tetap mengena pada kondisi dunia yang selalu berubah-ubah namun sekaligus memberikan sebuah pandangan bagiamana idealnya kondisi perpolitikan dunia melalu pemikiran idealisnya. Dari sisi ini, pemikiran vattel akan lebih diterima oleh masyarakat luas. Walaupun begitu, pemikiran mengenai intervensi humaniter selalu menjadi sebuah permasalahan, termasuk ide mengenai intervensi yang dibawa oleh Vattel. Vattel cukup jeli dan cukup terperinci dalam mendefinisikan peperangan termasuk intervensi dan juga intervensi humaniter. Intervensi humaniter tetaplah tidak memiliki aturan yang jelas dan tetaplah memiliki celah yang dapat dimanfaatkan oleh negara tertentu untuk memenuhi tujuannya.