SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Pokok Bahasan 2. Sasaran : Kemoterapi : Pasien dan keluarga kemoterapi ruang 25 IRNA I RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

3. Waktu dan Tempat - Tempat : Ruang 25 IRNA I RSU Dr. Saiful Anwar Malang - Waktu : Jum’at, 9 November 2012, pukul 09.30 WIB 4. Metode : Ceramah dan Tanya Jawab 5. Media : Benner dan Leaflet 6. Tujuan  Tujuan Umum : Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran mampu mengerti dan memahami tentang pentingnya kemoterapi bagi upaya penyembuhan penyakit.  Tujuan Khusus : Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran mampu : • Menjelaskan tentang definisi kemoterapi • Menjelaskan tentang tujuan kemoterapi • Menyebutkan jenis kemoterapi • Menjelaskan persiapan kemoterapi 7. Manfaat  Manfaat bagi mahasiswa : Mahasiswa mengetahui lebih dalam mengenai kemoterapi. • Mahasiswa mengetahui persiapan yang dilakukan sebelum pasien menjalani kemoterapi.  Manfaat bagi masyarakat : • Meningkatkan pengetahuan sasaran mengenai kemoterapi. • Sasaran mengetahui manfaat kemoterapi bagi penyembuhan penyakitnya. 8. Materi (Terlampir)  Menjelaskan tentang definisi kemoterapi  Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat kemoterapi  Menjelaskan tentang jenis kemoterapi  Menjelaskan tentang persiapan sebelum kemoterapi  Menjelaskan efek samping kemoterapi

Sasaran mampu menjawab pertanyaan setelah diberiakan bantuan. Sasaran mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar dan lengkap yang diberikan secara rinci. 2. Adapun kriteria dari evaluasi sebagai berikut 1. 3. .10. Sasaran mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar dan singkat. Tahap Kegiatan Penyuluhan Tahap Kegiatan Penyuluh Pembukaan (5 menit) • Memperkenalkan diri • Menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakannya penyuluhan • Menggali pengetahuan sasaran tentang materi yang akan disampaikan Metode & Media Ceramah • Menjawab salam • Memperhatikan dan dan tanya jawab menjawab pertanyaan Kegiatan Sasaran Penyajian (10 menit) Penutup (5 menit) • Menjelas kan tentang definisi kemoterapi • Menjelas kan tentang tujuan dan manfaat kemoterapi • Menjelas kan tentang jenis kemoterapi • Menjelas kan tentang persiapan sebelum kemoterapi • Menjelas kan efek samping kemoterapi Ceramah • Menyimak penjelasan • Mengajukan pertanyaan dan tanya jawab seputar materi -Benner -Leaflet Ceramah • Memperhatikan dan tanya penjelasan jawab • Menjawab pertanyaan Leafleat dari penyuluh • Memberi kesimpulan materi • Menyampaikan hasil evaluasi dan umpan balik • Menutup acara penyuluhan 11. Evaluasi : Evaluasi diberikan dengan cara memberikan pertanyaan kepada sasaran mengenai hal-hal yang telah dijelaskan oleh penyuluh. 4. Sasaran mampu menjawab beberapa pertanyaan dengan benar dan singkat.

1 Definisi Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker. 1. . seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukurran kanker pada daerah yang diserang.1. Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker atau menghambat proliferasi sel-sel Obat anti kanker yang Untuk kanker dan diberikan secara satu jenis sistematik. 3) Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup. artinya penghambat kerja sel (Munir. 1. 3) Mengurangi gejala Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker.KEMOTERAPI 1. 4) Mengurangi komplikasi akibat metastase.1. 2009). 2005). 2) Kontrol Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain. maka kemoterap yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita.1. namun dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostika atau disebut regimen kemoterapi. dalam usaha untuk mendapatkan hasiat lebih besar (Admin. 2) Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.1 Gambaran Umum 1.3 Manfaat 1) Pengobatan Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi. Pada kemoterapi bisa digunakan sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostika. sitostika.2 Tujuan 1) Pengobatan.

jenis obat yang digunakan pada tindakan kemoterapi ada beberapa macam. 2) Kemoterapi Adjuvan . sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut. 2005) 1) Kemoterapi Induksi Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah sel kanker. sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi.4 Pola pemberian kemoterapi (Munir. semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif. hal ini disebut Kemoresisten. Vinca Alkaloid. sehingga terjadi hambatan mitosis sel. bekerja langsung pada molekul basa inti sel. 2. Merusak DNA dari sel-sel yang membelah dengan cepat. mencegah kejadian pembelahan sel. sebaliknya semakin lambat proliferasinya maka kepekaannya semakin rendah . dan Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin. dan Antibiotik Anthrasiklin obat golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di inti sel.2 Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker. diantaranya adalah : 1) Obat golongan Alkylating agent. disebut juga dengan pengobatan penyelamatan. 3. yang berakibat menghambat sintesis DNA. Kemoterapi bekerja dengan cara: 1. 4) Obat golongan Enzim seperti. sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.3 Obat-Obat Kemoterapi 1. Menghambat sintesis DNA Menurut Munir (2005). sehingga memicu apoptosis Merusak aparatus spindel sel. L-Asparaginase bekerja dengan menghambat sintesis protein.1. 2) Obat golongan Antimetabolit. platinum Compouns. 3) Obat golongan Topoisomerase-inhibitor. Menurut Munir (2005). 1. yang dideteksi oleh jalur p53/Rb. contoh pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor) atau pada keganasan darah seperti leukemia atau limfoma.

4) Oral Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran®. Tegafur®. 2005) 1) Intra vena (IV) Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini. diberikan pada kanker yang bersifat kemosensitif. Hydrea. 6) Topikal 7) Intra arterial 8) Intracavity . 5) Subkutan dan intramuskular Pemberian sub kutan sudah sangat jarang dilakukan. Puri-netol®. dapat pula per drip IV sekitar 30 – 120 menit. hydrea®. tujuannya untuk memperkuat efek radiasi.C. Natulan®. Myleran®. Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor yang besar sehingga operasi atau radiasi akan lebih berhasil guna. jenis obat untuk kemoterapi ini antara lain Fluoruoracil. Gleevec®. Ara. 1. 2) Intra tekal (IT) Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan tumor dalam cairan otak (liquor cerebrospinalis) antara lain MTX. Taxotere. yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum radiasi.5 Cara pemberian obat kemoterapi (Munir.Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau radiasi. Alkeran®. dapat berupa bolus IV pelanpelan sekitar 2 menit. tujuannya adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa atau metastase kecil yang ada (micro metastasis). atau dengan continous drip sekitar 24 jam dengan infusion pump upaya lebih akurat tetesannya. Xeloda®. biasanya diberikan dahulu sebelum pengobatan yang lain misalnya bedah atau radiasi. Taxol. hal ini sering dihindari karena resiko syok anafilaksis. 4) Kemoterapi Neo-Adjuvan Diberikan mendahului/sebelum pengobatan /tindakan yang lain seperti pembedahan atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi lagi. 3) Radiosensitizer. Cisplastin. Pemberian per IM juga sudah jarang dilakukan. biasanya adalah LAsparaginase. biasanya pemberian Bleomycin. 3) Kemoterapi Primer Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas.

Pemberian intrapleural yaitu diberikan kedalam cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam cairan pleura atau untuk menghentikan produksi efusi pleura hemoragis yang amat banyak . Epirubicin). Pasien dengan keganasan memiki kondisi dan kelemahan kelemahan. Alkali phosphat. Grade 0: masih sepenuhnya aktif. d) Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum) e) EKG (terutama pemberian Adriamycin. Trombosit. bilirubin. 1. Sebelum memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sebagai berikut : 1. hitung jenis. Fungsi ginjal. yang apabila diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. tidak dapat melakukan pekerjaan lain. . Grade 2: hambatan melakukan banyak pekerjaan. 50 % waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri.6 Prosedur Tindakan Kemoterapi Pada Pasien (Herdata. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya. dimana penyakit kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien.9) Intraperitoneal/Intrapleural Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis yang banyak pada kanker ganas intra-abdomen. Status Penampilan Penderita Ca (Performance Status) ini mengambil indikator kemampuan pasien. 2009) 1) Persiapan Pasien Sebelum pengotan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan yang meliputi: a) c) Darah tepi. b. Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah sebagai berikut: a. 2) Syarat pasien yang layak mendapat tindakan kemoterapi : b) Fungsi hepar. Grade 1: hambatan pada perkerjaan berat. contohnya Bleocin. Ureum. SGOT. SGPT. Hb. c. antara lain Cisplastin. Creatinin dan Creatinin Clearance Test bila serum creatinin meningkat. tanpa hambatan untuk mengerjakan tugas kerja dan pekerjaan sehari-hari. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status penampilan <= 2. Leuko. namun masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan rumah yang ringan.

e. topi. kitril secara intra vena) Lakukan aspirasi dengan NaCl 0. Periksa pasien. 7. 3. 4. waktu pemberian dan akhir pemberian. lebih dari 50% waktunya untuk tiduran. Faal ginjal dan hati baik.0000/ul Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10 gram % Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) (Tes Faal Ginjal) Bilirubin <2 mg/dl. Grade 3: Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu. Diagnosis patologik 13. Lakukan tehnik aseptik dan antiseptic Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi dibawah daerah tusukan infuse Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian anti neoplastik (primperan. Grade 4: Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun. jenis cairan. Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi. Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi. 11. jenis obat. 6. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun. 8.9 % Beri obat kanker secara perlahan-lahan (kalau perlu dengan syringe pump) sesuai program Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0. kaca mata. 9. 5. Pakai proteksi : gaun lengan panjang. informed . 5. 6. 7. Elektrolit dalam batas normal. masker. dosis obat. 8. . concent. 14. betul-betul hanya di kursi atau tiduran terus 2.d. SGOT dan SGPT dalam batas normal ( Tes Faal Hepar ). zofran. sarung tangan dan sepatu. 3) Prosedur Pemberian Kemoterapi 1. 2. Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya. 12. 3. cara pemberian. Keadaan umum cukup baik.9% 10. 4. volume cairan. Jumlah lekosit >=3000/ml Jumlah trombosit>=120.

nadi. faal hati.9. 10. monitor tensi. Untuk menghindari efek samping intolerable. muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna. lemah sadar baik. folikel rambut. sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker. status penampilan (skala karnofsky. topi. 2008) Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti sel rambut. pada poor risk (apabila didapatkan gangguan berat pada faal organ penting) maka dosis obat harus dikurangi. skala ECOG). Penderita yang tergolong good risk dapat diberikan dosis yang relatif tinggi. dll). dimana penderita menjadi tambah sakit sebaiknya dosis obat dihitung secara cermat berdasarkan luas permukaan tubuh (m2) atau kadang-kadang menggunakan ukuran berat badan (kg). Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung. status gizi. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. kaca mata kemudian rendam dengan deterjen. kondisi jantung. status hematologis. Catat semua prosedur 12. depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian kemoterapi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual. RR tiap setengah jam dan awasi adanya tanda-tanda ekstravasasi.7 Efek samping kemoterapi (Herdata. Bila disposible masukkkan dalam kantong plastik kemudian diikat dan diberi etiket. asites. masker. Buka gaun. koma. kirim ke incinerator / bakaran. Untuk menentukan keadaan biologik yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum (kurus sekali. Selain itu faktor yang perlu diperhatikan adalah keadaan biologik penderita. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan rambut. mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika. yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada paru. Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam kantong plastik dan diikat serta diberi etiket. paru dan lain sebagainya. Jaringan tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sumsum tulang. sumsum tulang dan Sel pada traktus gastro intestinal. 11. Awasi keadaan umum pasien. atau diberikan obat lain yang efek samping terhadap organ . 1. sesak. Untungnya sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan. faal ginjal. tampak kesakitan.

4. 3. faktor nutrisi dan psikologis juga mempunyai pengaruh bermakna. Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa bulan. Efek samping Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat. 2. per drip infus). 2. Cara pemberian (iv. diare. 5. maupun dosis kumulatif. konstipasi. Jadwal pemberian. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. selain itu efek samping yang timbul pada setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama. Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu kemudian. misalnya mual dan muntah. muntah. im. Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas : 1. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. . mual dan muntah biasanya timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika dan berlangsung tidak melebihi 24 jam. Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia). Dosis. Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik terhadap organ tubuh tertentu.tersebut lebih minimal. Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan efek toksisitas pada organ tertentu. misalnya neuropati perifer. Efek samping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24 jam pertama pemberian. tetapi juga menyerang sel-sel sehat. dosis pada setiap pemberian. dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker. Gejala gastrointestinal yang paling utama adalah mual. supresi sumsum tulang. 3. faringitis. Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal. sel trombosit (trombositopenia). Efek samping kemoterapi dipengaruhi oleh : 1. neuropati. esophagitis dan mukositis. dan sel darah merah (anemia). Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat. peroral. Efek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang timbul dalam beberapa bulan sampai tahun. terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. misalnya netripenia dan stomatitis. misalnya keganasan sekunder. kerontokan rambut. 4.

saraf. efek samping pada kulit. fibrosis paru. efek samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung. Ada kala kemoterapi akan langsung bekerja di “pusat muntah” di otak. kerusakan hati. gangguan hormonal. pencampuran dilakukan diruangan khusus yang tertutup dengan cara : 1. kaca mata. Pakai gaun lengan panjang.8 Langkah-Langkah Pemberian Obat Kemoterapi Oleh Perawat Semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli dibagian farmasi dengan memakai alat “biosafety laminary airflow” kemudian dikirim ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup. topi. dosis obat dan jam pencampuran. sebagian besar penderita meninggal karena “pump failure”. Kemoterapi dapat mempengaruhi sel normal di lambung. Leukopenia dapat menurunkan daya tubuh.supresi sumsum tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera atau kemudian. karena sinyal ini direspon berbeda sehingga memicu mual dan muntah. reaksi anafilaksis. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan mencapai nilai mendekati normal pada minggu keenam. Menurut Admin (2009). dan perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker baru. . Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada kertas penyerap atau kain 2. sterilitas. kerusakan ginjal. trombositopenia dapat mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada traktus gastrointestinal. 1. jenis obat. setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar laukositnya kembali. bila tidak mempunyai biosafety laminary airflow maka. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke empat dan kelima. gangguan syaraf. Diterima oleh perawat dengan catatan nama pasien. masker. pada supresi sumsum tulang yang terjadi segera. sklerosis kulit. fibrosis paru umumnya irreversibel. Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya sulit diatasi. uterus dan saluran kencing relatif kecil dan lebih mudah diatasi. sepatu. sel lambung ini kemudian mengirim sinyal ke ”pusat muntah” di otak. Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan dampai pada kebotakan. kelainan hati terjadi biasanya menyulitkan pemberian sitostatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang dimetabolisir dalam hati. penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8 sampai hari ke-14. Mekanisme ini juga akan memicu mual dan muntah.

3% . 4. Ambil obat sitostatika sesuai program. 6. Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan menutupkan kapas atau kasa steril diujung jarum spuit. Masukkan sampah langsung ke kantong plastik. Buat label. menghindari komplikasi hipertiroid atau perforasi serta untuk memperoleh jaringan untuk diagnosis histopatologi. 9. 2008) Tatalaksana PTG adalah berdasarkan staging dan skoring. nama pasien. Andrijono. actinomycin. jenis obat. Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan. larutkan dengan NaCl 0. Sebelum membuka ampul pastikan bahwa cairan tersebut tidak berada pada puncak ampul. diberikan Kemoterapi tunggal lain yang dapat digunakan adalah Dactinomycin. Dengan perkembangan . Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot NaCl 0.Sedangkan pada PTG risiko tinggi menggunakan kemoterapi kombinasi kombinasi EMA-CO (etoposide.9 Penatalaksanaan Kemoterapi Berdasarkan Evidence Based 1. Jangan tumpah saat mencampur. risiko rendah 83. 8. Pastikan bahwa obat yang diambil sudah cukup. tanggal. Etoposide ).3. risiko tinggi hanya 50 % dengan angka kematian karena PTG berkisar 8-9%. ikat dan beri tanda atau jarum bekas dimasukkan ke dalam tempat khusus untuk menghindari tusukan. EP ( Etoposide. Angka keberhasilan terapi pada PTG risiko rendah adalah 100% dan lebih dari 80% pada PTG risiko tinggi. cyclophosphamaide dan oncovin) sebagai terapi primer atau menggunakan kombinasi ME (Metothrexate. D5% atau intralit. Evakuasi molahidatidosa dilakukan sesaat setelah diagnosis ditegakkan. Gunakan kasa waktu membuka ampul agar tidak terjadi luka dan terkontaminasi dengan kulit. 10.9%.1%. jam pemberian serta akhir pemberian atau dengan syringe pump. hal didasarkan perhitungan bahwa evakuasi dilakukan untuk menghindari abortus mola sehingga perlu tindakan akut. Kemoterapi pada PTG (Unsri. 1. melaporkan angka keberhasilan terapi pada PTG nonmetastasis 95. Kemoterapi adalah modalitas utama pada pasien dengan PTG. Kemoterapi pada PTG risiko rendah adalah kemoterapi tunggal. methotrexate. dengan tidak mengambil 2 kali 5. Cisplatinum). menyiapkan dan saat memasukkan obat kedalam flabot atau botol infus. dengan pilihan utama Methotrexate.9 % atau D5% dengan volume cairan yang telah ditentukan 7.

kemoterapi aman diberikan pada saat histerektomi tanpa peningkatan risiko perdarahan atau sepsis. Pada 1 seri yang terdiri dari 29 pasien yang diterapi pada satu institusi dengan histerektomi primer dan adjuvant kemoterapi tunggal. 373 ( 93. yaitu : histerektomi + kemoterapi.pada kasus metastasis liver. Kemoterapi tunggal Kemoterapi tunggal lebih baik pada penderita dengan stadium I yang masih membutuhkan fertilitas. pada suatu penerlitian dengan kemoterapi tunggal yang diberikan pada 399 pasien dengan stadium I PTG. a. 1. Radioterapi dapat dilakukan pada metastasis otak atau pada pasien yang tidak bisa diberikan kemoterapi karena alasan medis. seleksi penangananya adalah berdasarkan fertilitas penderita. Stadium I. . Histerektomi juga selalu dilakukan pada stadium I PSTT. Penatalaksanaan PTG. semuanya menunjukkan remisi komplit tanpa tambahan terapi. Penyakit trofoblas gestasional adalah radiosensitive. Histerektomi juga dilakukan pada keadaan darurat pada kasus perforasi. Jika sistem anak fertilitas.kemoterapi yang mempunyai angka keberhasilan terapi yang tinggi. Pada penderita PSTT metastatik yang pernah dilaporkan mengalami remisi setelah kemoterapi. Pada pasien dengan stadium I. histerektomi dengan adjuvan agen kemoterapi tunggal mungkin merupakan pengobatan primer. Histerektomi dilaporkan dilakukan pada kasus molahidatidosa usia tua dan terbukti mengurangi angka kematian dari koriokarsinoma. Sebab PSTT resisten terhadap terapi . Mempertahankan level sitotoksik kemoterapi pada peredaran darah dan jaringan yang merupakan tempat penyebaran tumor pada saat opertasi. Kemoterapi adjuvant yang digunakan harus memenuhi 3 alasan : a. kuretase cukup dilakukan satu kali. Pengobatan metastatis yang tersembunyi yang telah ada pada saat operasi. c. Mengecilkan penyebaran sel tumor pada saat operasi b. karena radiasi mempuyai efek tumorosidal serta hemostatik. Pada penatalaksanaan PTG Stadium satu. histerektomi hanya dilakukan pada penyakit yang nonmetastatik dan merupakan pengobatan kuratif.5%) mengalami respon komplit. a. Dua puluh enam pasien yang resisten mengalami remisi pada kemoterapi kombinasi atau operatif. otak yang tidak respon terhadap kemoterapi serta pada kasus PSTT.

Laporan terbaru dari RS Charing Cross terhadap regimen ini menunjukkan 78% remisi komplit. tetapi pada PTG risiko tinggi kesembuhan hanya berkisar 52-89% bahkan dengan MTX-Actinomisin-D dan Sikloposfamid/ klorambusil (MAC) sebagai terapi primer PTG risiko tinggi yang metastatik. . dan pasien dengan risiko tinggi dengan kemoterapi kombinasi primer yang intensif. dapat diberikan kemoterapi kombinasi. Uji klinik acak dengan faktor risiko tinggi yang sama dapat mendefinisikan regimen optimal untuk wanita dengan PTG risiko tinggi. pasien yang diberi etoposide perlu di follow up lebih ketat.Pada pasien yang resisten terhadap kemoterapi tunggal dan masih membutuhkan sistem reproduksi . Jika pasien resisten terhadap kemoterapi tunggal dan kemoterapi kombinasi dan masih ingin mempertahankan sistem reproduksi dapat dilakukan reseksi uterus lokal. ke2. maka kesembuhan pada semua pasien dengan PTG risiko rendah dapat diharapkan.3 dan 6. Pergantian kemoterapi EMA/CO juga dilaporkan efektif dan dapat ditoleransi untuk pasien PTG risiko tinggi. Risiko leukemia mieloid. Jika direncanakan reseksi lokal USG preoperatif. 2. walaupun agaknya tidak mungkin karena pada penyakit jarang ini ada tingkat respon yang tinggi terhadap banyak regimen terapi. 86% tingkat survival 5 tahun kumulatif dan toksisitas minimal kecuali untuk keganasan. Walaupun mekanisme keganasan kedua setelah kemoterapi sekuensial/ kombinasi dengan etoposide belum diketahui. Pasien dengan risiko rendah diterapi dengan kemoterapi tunggal. Regimen MEA dari suatu penelitian tanpa siklofosfamid. alopesia reversibel) grade 2-3) dan nausea ( grade 2). ca kolon dan ca mammae secara bermakna meningkat. Efek samping MEA yang didapatkan adalah mielosupresi. Leuko dan trombositopenia grade 4 terjadi pada 5. b. Stadium II dan stadium III. Vinkristin adalah kombinasi yang dapat ditolerir dan efektif dalam mengobati wanita dengan PTG risiko tinggi. Kemoterapi kombinasi Sejak ditemukannya kemoterapi yang efektif. Baru-baru ini keganasan kedua yang terjadi setelah regimen kemoterapi yang mengandung etoposide telah dilaporkan.4% dari 94 siklus. MRI atau arteriogram mungkin menolong mendefinisikan bagian tumor yang resisten.

a. Ketika perdarahan ini substansial akan dapat dikontrol dengan melokalisir vagina atau dengan lokal eksisi yang luas. Embolisasi Arteriografi b.9%) pada penderita dengan risiko rendah. Pengukuran hCG setiap bulan sampai nilainya normal 12 bulan berturut-turut. harus diberikan mikrometasis yang tersembunyi. histerektomi mungkin secara substansial menghambat tumor trofoblas dan membatasi untuk pemberian kemoterapi. Metastasis ke paru-paru. Kontrasnya hanya 2 dari 8 orang yang mempunyai risiko tinggi mengalami remisi dengan kemoterapi tunggal dan lainnya dengan kemoterapi kombinasi. Selanjutnya pada pasienpasien yang tumornya meluas. Remisi gonadotropin diinduksi dengan kemoterapi tunggal pada 71 dari 85 ( 83. mungkin menyebabkan perdarahan yang hebat Metastasis vagina sebab mempunayai vaskuler yang banyak. bagaimana pun torakotomi mungkin bisa mengeksisi fokus yang resisten. d.5%) pasien dengan risiko rendah. 2. . Torakotomi merupakan batas pemanfaatan pada stadium III. Semua pasien yang resisten terhadap kemoterapi tunggal sebagian mengalami remisi dengan kemoterapi kombinasi. Jika pasien mengalami metastasis pulmo yang persisten dan diberikan kemoterapi intensif. Histerektomi. yang telah dilakukan torakotomi. Metastasis ke pelvis dan vagina Pada penelitian dengan 26 pasien stadium II yang diterapi dengan kemoterapi tunggal memberikan remisi komplit sebanyak 16 dari 18 ( 88. Pada penderita resisten kemoterapi c. Follow-up Semua pasien dengan stadium I sampai stadium III harus difollow-up dengan : 1. Pengukuran hCG tiap minggu sampai kadarnya normal selama 3 minggu berturut-turut. postoperatif untuk mengobati pada arteri hipogastrika mungkin bisa mengontrol perdarahan metastasis vagina. Histerektomi mungkin dilakukan pada pasien dengan metastasis untuk mengontrol perdarahan uterus atau sepsis. Dari penelitian terhadap 130 pasien dengan stadium III yang diterapi 129 (99%) menunjukkan remisi komplit.

Pada pasien-pasien Yang resisten dengan kemoterapi sistemik. Metastasis cerebral. Reseksi hepar mungkin bisa juga untuk mengontrol perdarahan akut atau untuk mengeksisi fokus tumor yang resisten. 3 diantaranya mengalami remisi komplit. Stadium IV. 1.3. Pasien-pasien stadium IV mempunyai risiko terbesar untuk tumbuh secara progresif cepat dan tidak respon terhadap terapi multimodalitas. 3. dilakukan irradiasi seluruh otak (3000 cGy dengan 10 fraksi). a. Kontrasepsi yang efektif selama interval follow-up hormonal. Kemoterapi pada kanker serviks Penetapan pengobatan kanker serviks berdasarkan Standar Pelayanan Medik Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (2006) : 1. d. Nilai hCG tiap minggu sampai normal selama 3 minggu berturut-turut. Kraniotomi. 2. Pasien dengan metastasis cerebral yang mempunyai sisa defisit neurologis. Follow-up. Kraniotomi dilakukan untuk dekompresi akut atau untuk mengontrol perdarahan. Weed dkk melaporkan bahwa kraniotomi untuk mengontrol perdarahan pada 6 pasien. Tehnik terbaru tentang embolisasi arteri mungkin diperlukan untuk intervensi pembedahan. Nilai hCG setiap bulan sampai normal selama 24 bulan berturut. Risiko perdarahan spontan cerebral mungkin bisa terjadi karena kombinasi kemoterapi dan irradiasi otak sebab keduanya mungkin bersifat hemostatik dan bakterisidal. Semua pasien stadium IV harus diterapi secara primer dengan kemoterapi intensif dan penggunaan radioterapi yang selektif dan pembedahan. Metastasis hepar Penanganan metastasis hepar sebagian sulit. Remisi terbaik intensif dengan kombinasi kemoterapi dan metotreksat yang dilaporkan pada pasien dengan metastasis kranial yang diobati secara intravena yang intratekal. 2. Jika didiagnosis metastasis cerebral. b. Stadium 0 mengalami remisi umumnya tidak . infus arteri hepatika mungkin menghambat remisi komplit pada kasus-kasus yang selektif. c.

Keadaan diatas PLUS tumor anaplastik atau invasi vaskuler–limfatik.0) <0. Bila fungsi uterus masih diperlukan: cryosurgery.70 dan tidak ada kontraindikasi operasi. modifikasi histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik c. konisasi. Ia2 – histerektomi abdomen dan limfadenektomi pelvik.4% Stadium Ia Skuamousa : a. b. kontraindikasi operasi. Histerektomi diindikasikan pada patologi ginekologi lain. 2. radiasi atau gabungan) bila : • Radikalitas operasi kurang • Kelenjar getah bening pelvis/paraaorta positif • Histologik : small cell carcinoma • Diferensiasi sel buruk • Invasi dan atau limfotik vaskuler • Invasi mikroskopik ke parametria • Adenokarsinoma/adenoskuamosa . Bila ada 3. Bila bentuk serviks berbentuk “barrel”.a. terapi laser atau LLETZ (Large Loop Electrocauter Transformation Zone). Post operatif dapat diberikan ajuvan terapi (kemoterapi. dapat diberikan radiasi. sulit pengamatan lanjut. Dengan kekambuhan 0. histerektomi vaginal/abdominal pada pasien usia tua. maka pengobatan adalah operasi radikal. usia <50 tahun. Stadium Ib/IIa a. indeks obesitas (I. lesi primer <4 sm. dilakukan histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik. Ia1 – dilakukan konisasi pada pasien muda. Pengamatan Pap Smear lanjut pada tunggul serviks dilakukan tiap tahun. dan sebagainya b. Satu atau dua ovarium pada usia muda dapat ditinggalkan dan dilakukan ovareksis keluar lapangan radiasi sampai diatas L IV.

lesi >4 sm. Bila kemudian ada resistensi. Stadium IVb a. maka pengobatan selanjutnya adalah histerektomi radikal.70. Secara induksi: bila radiasi diberikan 4-6 minggu sesudah kemoterapi. Dilakukan CT-Scan dahulu. bila kelenjar getah bening membesar ≥1. I. Catatan : bila terjadi perdarahan masif yang tidak dapat terkontrol. Bila respon radiasi tidak baik maka dilanjutkan dengan kemoterapi. c. Radiasi diberikan dengan dosis paliatif.0 >0. Diberikan radiasi. Bila ada simptom dapat diberikan radiasi paliatif dan bila memungkinkan dilanjutkan dengan kemoterapi. Bila usia 50 tahun. . Stadium IIb-IIIb a. 5. dapat diberikan secara induksi atau simultan. atau kalau memungkinkan dapat diberikan kemoterapi. 4.b. dan bila respon baik maka radiasi dapat diberikan secara lengkap. b. Secara simultan: bila radiasi diberikan bersamaan dengan kemoterapi. atau penderita menolak/ada kontraindikasi operasi maka diberikan radiasi. c. maka dilakukan terapi embolisasi (sel form) intra arterial (iliaka interna/hipogastrika).5 sm dilakukan limfadenektomi dan dilanjutkan dengan radiasi. Pada risiko tinggi kemoterapi dapat ditambah untuk meningkatkan respon pengobatan. b. Dapat juga diberikan kemoterapi sebelum radiasi untuk meningkatkan respon radiasi. 45Stadium IVa d. Dapat diberikan kemoterapi intra arterial dan bila respon baik dilanjutkan dengan histerektomi radikal atau radiasi bila respon tidak ada. Bila tidak ada simptom tidak perlu diberikan terapi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful