BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Tujuan Percobaan Untuk mempelajari karakteristik proses pengendapan terflokulasi dengan menggunakan model sirkular dan plat. 1.2. Dasar Teori 1.2.1 Air Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air, zat yang penting bagi kehidupan. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan Bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (http://id.wikipedia.org/wiki/Air)

1. 2.2. Karakteristik Air Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. (http://industri16febrie.blog.mercubuana.ac.id/tag/karakteristik-air/)

1.2.3

Penggolongan Air Penggolongan air menurut peraturan pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang

pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air : Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut;

Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. (http://rino14.blogspot.com/2011/03/penggolongan-air.html) Menurut Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. Adapun penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut : 1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu. Contohnya mata air pegunungan. 2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. Contohnya air sungai.

3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Contohnya air laut. 4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha di perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air. Contohnya air tanah dangkal dan air tanah dalam.

1.2.4

Standar Kualitas Air Baku Di Indonesia ketentuan mengenai standar kualitas air bersih mengacu pada

Peraturan Menteri Kesehatan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 416 tahun 1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan 1990 Kriteria penentuan standar baku mutu air dibagi dalam tiga bagian yaitu: 1. Persyaratan kualitas air untuk air minum. 2. Persyaratan kualitas air untuk air bersih. 3. Persyaratan kualitas air untuk limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi. Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk kebutuhan manusia, maka kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu : 1. Syarat fisik, antara lain:
    

Air harus bersih dan tidak keruh. Tidak berwarna. Tidak berasa. Tidak berbau. Suhu antara 10?-25? C (sejuk).

2. Syarat kimiawi, antara lain:
   

Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun. Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan. Cukup yodium. pH air antara 6,5 – 9,2.

3. Syarat bakteriologi, antara lain: Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit. Pada umumnya kualitas air baku akan menentukan besar kecilnya investasi instalasi penjernihan air dan biaya operasi serta pemeliharaannya. Sehingga semakin jelek kualitas air semakin berat beban masyarakat untuk membayar harga jual air bersih. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan kualitas, yaitu: 1. Aman dan higienis. 2. Baik dan layak minum. 3. Tersedia dalam jumlah yang cukup. 4. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Parameter yang ada digunakan untuk metode dalam proses perlakuan, operasi dan biaya. Parameter air yang penting ialah parameter fisik, kimia, biologis dan radiologis (Hartono.A.J, Teknologi Membran Pemurnian Air, 1994 ), yaitu sebagai berikut: 1. Parameter Air Bersih. 2. Fisika Kimia Biologi Radiologi ;
     

Kekeruhan. Warna. Rasa & bau. Endapan. Temperatur. Organik, antara lain: karbohidrat, minyak/ lemak/gemuk, pestisida, fenol, protein, deterjen, dll.

Anorganik, antara lain: kesadahan, klorida, logam berat, nitrogen, pH, fosfor,belerang, bahan-bahan beracun.

        

Gas-gas, antara lain: hidrogen sulfida, metan, oksigen. Binatang. Tumbuh-tumbuhan. Protista. Virus. Konduktivitas atau daya hantar. Pesistivitas. PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik). Bakteri

Standar Kualitas Air ( Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1990 )] Kadar Maksimum No Parameter Satuan Golonga Golongan Golongan Golongan n A 1 2 3 4 5 6 FISIKA Bau Jumlah zat padat terlarut Kekeruhan Rasa Warna Suhu Daya Hantar Listrik Mg/L Skala NTU Skala TCU
o

B

C

D

1000 5

1000

1000

1000

15 Suhu udara 2250

C

7

Umhos/cm

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

KIMIA anorganik Air raksa Aluminium Arsen Barium Besi Florida Kadmium Kesadahan CaCO3 Klorida Kromium valensi 6 Mangan Natriun Nitrat sebagai N Nitrit sebagai N Perak .pH Selenium Seng Sianida Sulfat Sulfida sebagao H2S

Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt

0.001 0.2 0.005 1 0.3 0.5 0.005 500 250 0.005 0.1 200 10 1.0 0.05 6.5 - 8.5

0.001 0.05 1 5 1.5 0.01

0.002

0.005

1

1

1.5 0.01 0.01

600 0.05 0.5

0.003 0.05 1 2 60

10 1 0.06

5-9 0.01 5 0.1 400 0.1

6–9 0.05 0.02 0.02

5–9 0.05 2

Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt

0.01 5 0.1 400 0.05

0.002

22 23 24 25 26

Tembaga Timbal Oksigen terlarut (DO) Nikel SAR (Sodium Absortion Ratio) Kimia Organik Aldrin dan dieldrin Benzona Benzo (a) Pyrene Chlordane (total isomer) Chlordane 2,4 D DDT Detergent 1,2 Dichloroethane 1,1 Dichloroethane Heptachlor heptachlor epoxide Hexachlorobenzene Lindane Metoxychlor

Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt

1.0 0.05 -

1 0.01 >=6

0.02 0.03 >3

0.1 1

0.5 1.5 – 2.5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt

0.0007 0.01 0.00001 0.0003 0.03 0.10 0.03 0.5 0.01 0.0003 0.003 0.00001 0.004 0.03

0.017

0.003

0.042

0.002

0.018

0.056 0.035

15 16 17 18 19 20

Pentachlorophenol Pestisida total 2,4,6 Trichlorophenol Zat Organik (KMnO4) Endrin Fenol

Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt Mg/lt

0.01 0.1 0.01 10 0.001 0.002 0.05 Nihil 0.1 Nihil 0.5 0.005 0.21 0.2 1 0.1 0.004 0.001

21 Karbon kloroform ekstrak 22 Minyak dan lemak

23 Organofosfat dan carbanat 24 PCD

25 Senyawa aktif biru metilen 26 27 Toxaphene BHC Mikrobiologik 1 Koliform tinja

Jml/100 ml Jml/100 ml

0

2000

2

Total koliform Radioaktivitas Gross Alpha activity Gross Beta activity

3

10000

1 2

Bq/L Bq/L

0.1 1.0

0.1 1.0

0.1 1.0

0.1 1.0

1.2.5

Koagulasi-flokulasi Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses yang terangkai menjadi kesatuan proses tak terpisahkan. Pada proses koagulasi terjadi destabilisasi koloid dan partikel dalam air sebagai akibat dari pengadukan cepat dan pembubuhan bahan kimia (disebut koagulan). Akibat pengadukan cepat, koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak stabil karena terurai menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion positif dan negatif juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini berlanjut dengan pembentukan ikatan antara ion positif dari koagulan (misal Al3+) dengan ion negatif dari partikel (misal OH-) dan antara ion positif dari partikel (misal Ca2+) dengan ion negatif dari koagulan (misal SO42-) yang menyebabkan pembentukan inti flok (presipitat).

1.2.6

Sedimentasi Sedimentasi adalah pemisahan solid-liquid menggunakan

pengendapan secara gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Pada umumnya, sedimentasi digunakan pada pengolahan air minum, pengolahan air limbah, dan pada pengolahan air limbah tingkat lanjutan. Pada pengolahan air minum, terapan sedimentasi khususnya untuk: 1. pengendapan air permukaan, khususnya untuk pengolahan dengan filter pasir cepat. 2. pengendapan flok hasil koagulasi-flokulasi, khususnya sebelum disaring dengan filter pasir cepat. 3. pengendapan flok hasil penurunan kesadahan menggunakan soda-kapur. 4. pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan.

BAB II METODOLOGI 2.1 Alat dan Bahan             

2.1.1 Alat yang digunakan Bak Sedimentasi Pompa umpan cair baku dan inject Pengaduk (mixer) Indikator Universal Konductivitymeter Turbiditymeter Total Disolve Suspended meter Gelas kimia Neraca digital Kaca Arloji Spatula Batang pengaduk Ember

2.1.2 Bahan yang digunakan ● PAC ● Al2(SO4)3 / tawas ● Air danau POLNES ● Aquadest

2.2

Prosedur Kerja 2. Mempersiapkan peralatan analisa dan bahan baku untuk analisa 3. Menimbang tawas sebanyak 100 mg, dan kapur sebanyak 50 mg

4. Membuat larutan tawas dan kapur yang telah ditimbang dalam ember dan mengaduknya 5. Mengalirkan air umpan kedalam bak, serta mencatat laju alirnya. 6. Mengalirkan koagulan ke dalam bak sedimentasi 7. mengukur laju alir bahan, pH, turbidity, dan laju alir koagulan.

DATA PENGAMATAN Berat tawas = 0.1018 mg Berat PAC = 0.0524 mg Volume total bak = 58.5628 l Debit Aliran Injeksi = 100 ml/s

Tabel 1. Debit Aliran Umpan Level Bandul 14 Volume (ml) 2000 Waktu (s) 30” 31” 5 2000 65” 65 ” 10 2000 37” 37” 15 2000 25” 25” 19,5 2000 10” 10” 200 80 54,05 30,77 Debit (ml/s) 65,57

Tabel 2. Data Percobaan Level bandul in Out 5 Out 10 Out 15 Out 19,5 Waktu Tinggal 27’28” 27’28” 27’28” 27’28” 27’28” T (0C) 30,2 29,5 30,6 30,9 31,1 6 5 6 5 5 pH Salinitas (mg/L) 70,7 72,3 179 71,1 72,4 TDS (mg/L) 95,0 97,7 241 97,3 98,4 149,1 153,2 374 152,5 151,5 conduktivity Turbidity (NTU) 15,7 16,2 14,6 16,0 17,2

Pada praktikum satuan proses yang menggunakan alat Klarifayer ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik proses pengendapan terflokulasi dengan

menggunakan model sirkular dan plat. Air yang diolah pada alat klarifayer adalah air danau Polnes dengan menggunakan koagulan tawas dan PAC masing-masing 0.0108 mg dan 0.0524 mg dalam 5 L air. Tujuan ditambahkannya tawas adalah adalah sebagai koagulan yang berfungsi mengurangi kekeruhan pada air dimana terjadi proses pengendapan dari partikel padatan yang terkandung pada air. Tawas mendestabilisasi partikel-partikel padatan pada air yang kemudian partikel-partikel tersebut membentuk flok-flok yang lebih besar dan mengendap karena berat jenis padatan dari flok-flok tersebut lebih besar dibandingkan dengan air. Reaksi yang terjadi pada penambahan tawas dalam menghasilkan flok adalah : Al2(SO4)3 .14H20 + 3 Ca(HCO3)2  2Al(OH)3 + 3 CaSO4 + 14H2O + 6CO2 Selain ditambahkannya tawas pada pengolahan ini juga ditambahkan PAC yang berfungsi menurunkan pH air, hal ini disebabkan semakin besar kadar PAC yang ditambahkan kedalam air maka semakin banyak ion H+ yang dilepaskan dalam air . Penambahan PAC juga dapat membuat nilai TDS dan turbidity menjadi turun. Penurunan nilai TDS karena semakin banyak partikel koloid dalam air yang dinetralkan dengan muatan positif koagulan PAC, sehingga filtrat air menjadi jernih. Semakin banyak pula PAC yang ditambahkan ke dalam air akan semakin banyak pengotor-pengotor yang dinetralkan. Laju alir injeksi dari koagulan pada pengolahan air ini adalah 1.92 ml/dtk. Dalam praktikum ini penambahan koagulan yang terlalu sedikit dengan jumlah

mengakibatkan tidak menunjukan perubahan yang signifikan sepeti TDS, Konduktivitas, Salinitas, dan Turbidity.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan a) Penambahan tawas dan PAC pada air danau polnes menurunkan nilai pH dari pH = 6 menjadi pH menjadi = 5 b) Penambahan kougulan dengan konsentrasi yang terlalu kecil tidak menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap nilai TDS, salinitas, konduktifitas dan turbiditas

Daftar Pustaka 

Rino komalig, 2011, Penggolongan air, http://rino14.blogspot.com/2011/03/ penggolongan-air.html, Senin, 21 Maret 2011, 19:50 Febrie Dharma Kuncoro,2010, Urgensi Air , http://industri16febrie.blog.mercubuana.ac.id /tag/karakteristik-air/, October 23, 2010 at 10:54 am

Anonim, 2012, Air, http://id.wikipedia.org/wiki/Air, 07.01, 27 September 2012. Anonim, Standar Kualitas Air di Perairan Umumhttp://www.lablink.or.id/Hidro/air-qua.html, June 29, 2001 Anonym, 2012, unit koagulasi- flogulasi, oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=1940 Anonym, 2012, unit sedimentasi, oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=1940

  