You are on page 1of 27

1.

1 Latar Belakang Salah satu tugas terpenting dari seorang perawat adalah memberikan obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah klien. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila tidak tepat diberikan. Seorang perawat memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Adapun rute pemberian obat dibedakan atas beberapa rute antara lain secara iral, parenteral, pemberian topical, inhalasi, dan intraokuler. Rute pemberian obat dipilih berdasarkan kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondisi fisik dan mental klien. Maka dari itu pada makalah ini akan dibahas salah satu rute pemberian obat yaitu rute parenteral, memberikan obat dengan menginjeksinya ke dalam jaringan tubuh.

1.2 Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dari makalah ini adalah untuk memahami teknik pemberian obat secara injeksi.

1.1 Pengertian Injeksi Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril.

1.2 Tujuan Injeksi Pada umumnya Injeksi dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyerapan (absorbsi) obat untuk mendapatkan efek obat yang cepat.

1.3 Indikasi Injeksi biasanya dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Apabila klien tidak sadar atau bingung, sehingga klien

tidak mampu menelan atau mempertahankan obat dibawah lidah. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan obat klien dilakukan denganpemberian obat secara injeksi. Selain itu, indikasi pemberian obat secara injeksi juga disebabkan karena ada beberapa obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormon), atau tidak direarbsorbsi oleh usus. Pemberian injeksi bisa juga dilakukan untuk anastesi lokal.

1.4 Peralatan Alat yang digunakan untuk injeksi terdiri dari spuit dan jarum. Ada berbagai spuit dan jarum yang tersedia dan masing-masing di desain untuk menyalurkan volume obat tertentu ke tipe jaringan tertentu. Perawat berlatih memberi penilaian ketika menentukan spuit dab jarum mana yang paling efektif.

A. Spuit Spuit terdiri dari tabung (barrel) berbentuk silinder dengan bagian ujung (tip) di desain tepat berpasangan dengan jarum hypodermis dan alat pengisap (plunger) yang tepat menempati rongga spuit. Spuit, secara umum, diklasifikasikan sebagai Luer –lok atau nonLuer-lok. Nomenklatur ini didasarkan pada desain ujung spuit. Adapun tipe-tipe spuit yaitu: a) Spuit Luer-lok yang ditandai dengan 0,1 persepuluh b) Spuit tuberkulin yang ditandai dengan 0,01 (seperseratus) untuk dosis kurang dari 1 ml c) Spuit insulin yang ditandai dalam unit (100) d) Spuit insulin yang ditandai dengan unit (50)

Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 sampai 60 ml. Tidak lazim menggunakan spuit berukuran lebih besar dari 5 ml untuk injeksi SC atau IM. Volume spuit yang lebih besar akan menimbulkan rasa ynag tidak nyaman. Spuit yang lebih besar disiapkan untuk injeksi IV. Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam dalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Untuk mempertahankan sterilitas, perawat menghindari objek yang tidak steril menyentuh ujung spuit atau bagian dalam tabung, hub, badan pengisap, atau jarum.

B. Jarum

Supaya individu fleksibel dalam memilih jarum yang tepat, jarum dibingkus secara individual. Beberapa jarum tudak dipasang pada spuit ukuran standar. Klebanyakan jarum terbuat sari stainless steel dan hanya digunakan satu kali. Jarum memiliki tiga bagian: hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat; dan bevel, yakni bagian ujung yang miring. Setiapum memiliki tiga karaktreisrik utama: kemiringan bevel, panjang batang jarum, dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang dan lebih tajam, sehingga meminimalkan rasa ridak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari ¼ sampai 5 inci. Perawat memilih panjang jarum berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi obat. Semakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. Seleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan.

1.5 Proses Injeksi Memberikan injeksi merupaka prosedur invasif yang harus dilakukandengan menggunakan teknik steril. Setelah jarum menembus kulit, muncul resiko infeksi. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC, IM, ID, dan IV. Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantung pada kecepatan absorbsi obat. Perawat mengobservasi respons klien dengan ketat. Setiap rute injeksi unik berdasarkan tipe jaringan yang akan diinjeksi obat. Karakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi obat dan awitan kerja obat. Sebelum menyuntikkan sebuah obat, perawat harus mengetahui volume obat yang diberikan, karaktersitik dan viskositas obat, dan lokasi struktur anatomi tubuh yang berada di bawah tempat injeksi.

Konsekuensi yang serius dapat terjadi, jika injeksi tidak diberikan secara tepat. Kegagalan dalam memilih tempat unjeksi yang tepat, sehubungan dengan penanda anatomis tubuh, dapat menyebabkan timbulnya kerusakan saraf atau tulang selama insersi jarum. Apabila perawat gagal mengaspirasi spuit sebelum menginjeksi sebiah obat, obat dapat tanpa sengaja langsung di injkesi ke dalam arteri atau vena. Menginjeksi obat dalam volume yang terlalu besar di tempat yang dipilih dapat menimbulkan nyeri hebat dan dapat mengakibatkan jaringan setempat rusak. Banyak klien, khususnya anak-anak takut terhadap injeksi. Klien yang menderita penyakit serius atau kronik seringkali diberi banyak injeksi setiap hari. Peraway dapat berupaya meminimalkan rasa nyeri atau tidak nyaman dengan cara: a) Gunakan jarum yang tajam dan memiliki bevel dan panjang serta ukurannya paling kecil, tetapi sesuai. b) Beri klien posisi yang nyaman untuk mengurangi ketegangan otot c) Pilih tempat injkesi yang tepat dengan menggunakan penanda aanatomis tubuh d) Kompres dengan es tempat injeksi untuk menciptakan anastesia lokal sebelum jarum diinsersi e) Alihkan perhatian klien dari injeksi dengan mengajak klien bercakap-cakap f) Insersi jarum dengan perlahan dan cepat untuk meminimalkan menarik jaringan

g) Pegang spuit dengan mantap selama jarum berada dalam jaringan h) Pijat-pijat tempat injeksi dengan lembut selama beberapa detik, kecuali dikontraindikasikan

1.6 Macam-macam injeksi Pemberian obat secara parenteral (harfiah berarti “di luar usus”) biasanya dipilih bila diinginkan efek yang cepat, kuat, dan lengkap atau obat untuk obat yang merangsang atau dirusak getah lambung (hormone), atau tidak direarbsorbsi usus (streptomisin), begitupula pada pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama. Keberatannya adalah lebih mahal dan nyeri, sukar digunakan oleh pasien sendiri. Selain itu, adapula bahaya terkena infeksi kuman (harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan tepat.

a.

subkutan (hypodermal). Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan melarut

baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada penyakit gula. Tempat yang paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi area vaskular di sekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan bagian anterior paha.

Tempat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah abdomen. Tempat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah ventral atas atau gloteus dorsal. Tempat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya. Obat yang diberikan melalui rute SC hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5 sampai 1 ml). Jaringan SC sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume besar. Kumpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit.

b.

Intrakutan (=di dalam kulit) Perawat biasanya memberi injeksi intrakutan untuk uji kulit. Karena keras, obat intradermal

disuntikkan ke dalam dermis. Karena suplai darah lebih sedikit, absorbsi lambat. Pada uji kulit, perawat harus mampu melihat tempat injeksi dengan tepat supaya dapat melihat perubahan warna dan integritas kulit. Daerahnya harus bersih dari luka dan relatif tidak berbulu. Lokasi yang ideal adalah lengan bawah dalam dan punggung bagian atas.

c.

Intramuskuler (i.m), Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darah

lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Guna memperlambat

reabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, umpamanya suspensi penisilin dan hormone kelamin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot pantat yang tidak banyak memiliki pembuluh dan saraf. Tempat injeksi yang baik untuk IM adalah otot Vastus Lateralis, otot Ventrogluteal, otot Dorsogluteus, otot Deltoid.

d.

Intravena (i.v), Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu

peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini “benda asing” langsung dimasukkan ke dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi i.v sebaiknya dilakukan amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya.

e.

Intra arteri. Injeksi ke pembuluh nadi adakalanya dilakukan untuk “membanjiri” suatu organ, misalnya hati,

dengan obat yang sangat cepat diinaktifkan atau terikat pada jaringan, misalnya obat kanker nitrogenmustard.

f.

Intralumbal (antara ruas tulang belakang pinggang), intraperitoneal (ke dalam ruang selaput perut), intrapleural, intracardial, intra-articular (ke celah-celah sendi) adalah beberapa cara injeksi lainnya untuk memasukkan obat langsung ke tempat yang diinginkan.

1.7 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan injeksi Pemberian obat secara injeksi dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka kita harus memperhatikan beberapa hal berikut ini : a) Jenis spuit dan jarum yang digunakan b) Jenis dan dosis obat yang diinjeksikan c) Tempat injeksi d) Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi e) Kondisi/penyakit klien

1.8 Cara mencegah infeksi selama injeksi Salah satu efek yang bisa ditimbulkan dari pemberian obat secara injeksi adalah dapat menimbulkan infeksi. Adapun cara-cara yang dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi selama injeksi dilakukan yaitu : a) Untuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat. Jangan biarkan ampul dalam keadaan terbuka b) Untuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis: sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum, tangan perawat, bagian atas wadah obat, permukaan meja)

c) Untuk mencegah spuit terkontaminasi jangan sentuh badan pengisap (plunger) atau bagian dalam karet (barrel). Jaga bagian ujung spuit tetap tertututp penutup atau jarum. d) Untuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kototran, drainase atau feses dengan sabun dan air lalu keringkan. Lakukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptic. Usap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci.

1.9 Kontra Indikasi Resiko infeksi dan obat yang mahal. Klien berulang kali disuntik. Rute SC, IM, dan itradermal dihindari pada klien yang cenderung mengalami perdarahan. Resiko kerusakan jaringan pada injeksi SC. Rute IM dan IV berbahaya karena absorbsinya cepat. Rute ini menimbulkan rasa cemas yang cukup besar pada klien , khususnya anak-anak. http://elizuraida.multiply.com/journal/item/3?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

laporan praktikum farmasetika " injeksi vial "

LABORATORIUM FARMASETIKA II DIPLOMA III AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI JURNAL PRAKTIKUM FARMASETIKA II PERCOBAAN II “INJEKSI VIAL”

DISUSUN OLEH : NAMA NIM KELOMPOK KELAS : SULASNI ATMA DESI : F.10.086 : IV (EMPAT) :B

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI 2011

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Jika obat tidak dapat diminum melalui mulut karena ketidakmampuan untuk menelan, menurunnya kesadaran, inaktifasi obat oleh cairan lambung atau ada tujuan untuk meningkatkan efektivitas obat, maka dapat dipilih rute parenteral. Pengobatan parenteral diberikan secara interdermal ( di bawah kulit), subkutan (ke dalam jariungan lemak), intramuscular (di dalam otot), dan intravena ( di dalam vena). Produk steril adalah sediaan teraseptis dalam bentuk terbagi – bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Sediaan parenteral ini merupakan sediaan unik diantara bentuk sediaan obat terbagi – bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian dalam tubuh. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama dari tubuh, yang paling efisien yakni membran kulit dan mukosa. Sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksik serta harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi dan luar biasa. Dalam injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan antara lain: Ö Efek terapi lebih cepat didapat.

Ö Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan Ö Cocok unyuk keadaan darurat Ö Untuk obat – obat yang rusak oleh cairan lambung. Pemberian preparat parenteral terbagi dalam lima rute yang paling umum, yaitu intravena, intramuscular, subkutan, intrakutan, dan intraspinal. Pada umumnya pemberian secara parenteral dilakukan bila diinginkan kerja obat yang lebih cepat, seperti pada keadaan darurat atau gawat darurat. Bila penderita tidak dapat diajak bekerjasama dengan baik, tidak sadar, tidak dapat atau tidak tahan menerima pengobatan secara oral atau bila obat tersebut tidak efektif dengan cara pemberiaan yang lain. Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsikan, atau mensuspensikan sejumlah obat kedalam sejumlah pelarut atau dengan mengisikan sejumlah obat kedalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda. I.2. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut : Ö Untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan injeksi vial yang isotonis dan isohidris dengan cairan tubuh. Ö Untuk mengetahui khasiat dan penggunaan injeksi vial tersebut.

BAB II FORMULA

II.1. Master Formula R/ Thiamin HCl Piridoksin Cianocobalamin Na.EDTA Metil Paraben Tokoferol A.P.I 100 mg 100 mg 500 µg 0,05 % 0,2 % 0,05 % ad 5 mL

II.2. Kelengkapan Resep

dr. Syelomita,Sp.B SIP. 1123 / ID / 2009 Alamat : Jl. Bunga Seroja NO.17 NO. 2 R/ Thiamin HCl Piridoksin Cianocobalamin Na EDTA Metal Paraben Tokoferol A.P.I 100 mg 100 mg 500 µg 0,05 % 0,2 % 0,05 % ad 5 mL Kendari 02-11-2011

Pro

: Andi

Umur Alamat

: Dewasa : Jln. Melati No 67 Kendari

Keterangan:

NO: Nomero: Sebanyak Pro: pro: untuk

ad:ad:hingga

II.3. Alasan Penggunaan Bahan II.3.1. Penggunaan Bahan Aktif 1. Thiamin HCl Sebagai zat aktif yang diindikasikan pada pasien yang mengalami defisiensi thiamin. Thiamin berguna untuk pengobatan berbagai neuritis yang disebabkan oleh defisiensi thiamin. 2. Piridoksin Sebagai zat aktif yang digunakan untuk mencegah ataupun mengobati defisiensi Vit. B6 juga diberikan bersama Vit. B1 lainnya, atau lebih dikenal sebaga multivitamin B.kompleks. 3. Cianokobalamin Sebagai zat aktif yang digunakan untuk mencegah ataupun mengobati defisiensi Vit. B12 juga memiliki fungsi yang sama dengan Vitamin B lainnya, atau sebagai multivitamin B.kompleks. 4. -Tokoferol Sebagai zat aktif yang berfungsi antioksidant sebagai penangkal radikal bebas dan mencegah terjadinya zat – zat yang mudah teroksidasi. II.3.2. Penggunaan Bahan Tambahan 1. Metil Paraben Digunakan sebagai zat tambahan yang berfungsi sebagai pengawet. 2. Na.EDTA Digunakan sebagai pengompleks dalam membentuk kompleks ion logam yang mengkatalis reaksi oksidasi. 3. Aqua Pro Injeksi Sebagai pelarut dalam sediaan steril.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

III.1. Landasan Teori Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril ierupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir.(FI.III.1979) Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya laruitan obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler.(FI.IV.1995) Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial adalah salah satu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki kapasitas atau volume 0,5 mL – 100 mL. Injeksi vial pun dapat berupa takaran tunggal atau ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspensi dengan volume sebanyak 5 mL atau pun lebih. (Anonim.Penuntun Praktikum Farmasetika I.2011) Berdasarkan R.VOIGHT(hal 464) menyatakan bahwa, botol injeksi vial ditutup dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap cairan injeksi. Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan : 1. Efek terapi lebih cepat . 2. Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan. 3. Cocok untuk keadaan darurat. 4. Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.

Syarat-syarat injeksi vial sebagai berikut : 1. Steril, yaitu sediaan vial harus bebas dari mikroorganisme yang bersifat pathogen yang dapat mengurangi khasiat sediaan vial. 2. Bebas bahan partikulat, yaitu bebas dari bahan asing atau bahan yang tidak larut agar tidak terjadi penyumbatan pada pembuluh darah saat digunakan. 3. Mengandung zat pengawet, sediaan vial memungkinkan pengambilan secara berulang. Umtuk itu, harus digunakan bahan pengawet untuk mempertahankan khasiat zat aktif. 4. Stabil, tidak berubah khasiat obat setelah pengambilan obat secara berulang kali dan tidak berubah bentuk atau pH dari sediaan vial.

5. Harus isotonis, sediaan vial merupakan sediaan parenteral. Untuk itu, sediaan vial harus isotonis atau sesuai dengan pH darah agar tidak terjadi hipertonis (penyempitan pembuluh darah) atau hipotonis (pembesaran pembuluh darah) yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah.(Anonim.Penuntun Praktikum Farmasetika I.2011)

III.2. Uraian Bahan 1. Thiamin Hydrochloridum (FI. Edisi III hal 598) Nama Resmi Sinonim : THIAMINI HYDROCHLORIDUM : Thiamin Hidrokloridum, Vit.B1

an

: Hablur kecil, bau khas lemah, mirip ragi, rasa pahit. Kelarutan : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol

(95%)P, praktis tidak larut dalam eter P, dan dalam benzena P, dan larut dalam gliserol P. Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya. : Antineuritikum yaitu sebagai penekan fungsi kerja

saraf pusat dan sebagai komponen Vit. B kompleks. 2. Pyridoxin (FI. Edisi III hal 541) Nama Resmi Sinonim Pemerian : PYRIDOXIN : Piridoxin Hidroksida

: Hablur putih, atau tidak berwarna, tidak berbau, rasa asin. Kelarutan : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol

(95%) P, praktis tidak larut dalam eter P. K/P : Komponen Vit. B kompleks.

3. Cianocobalamin (FI. Edisi III hal 185-186) Nama Resmi Sinonim Pemerian : CIANOCOBALAMINUM : Sianokobalamin : Hablur atau sebuk hablur merah tua, tidak berbau, bentuk anhidrat, sangat hidroskopis. Kelarutan : Agak sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak

larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam aseton P. Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik, terlindung cahaya. : Vitamin, anti oksidant terjadinya oksidasi oleh udara . 4. Aethylendiamin (FI. Edisi III hal 71) Nama Resmi Sinonim Pemerian : AETHYLENDIAMINUM : Etilendiamin : Cairan jernih, tidak berwarna, atau agak kuning, bau yaitu untuk mencegah

mirip amoniak. Kelarutan Penyimpanan K/P : Dapat larut dalam air dan etanol (95%) P. : Dalam wadah tertutup baik, terlindung cahaya. : Pelarut Teofillina.

5. Nipagin (FI.Edisi III, Hal 378) Nama Resmi Sinonim Pemerian : METHILYS PARABEN : Metil P hidroksida benzoat, nipagin : Serbuk hablur halus, hampir tidak berbau, tidak

mempunyai rasa, agak membakar diikuti rasa tebal. Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 350 bagian etanol

(95%) P dan dalam 60 bagian gliserol P panas, dan 40 bagian minyak lemak nabati panas jika dididihkan larutan tetap jernih. Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik. : Zat tambahan, zat pengawet.

6. Tokoferol (FI. Edisi III hal 606) Nama Resmi Sinonim Pemerian : TOCOPHEROLUM : Vitamin E : Tidak berbau, atau sedikit berbau, tidak berasa atau

sedikit berasa alfa tokoferol atau asetat seperti

minyak, kuning, jernih, pada suhu 75% C dingin, bentuk padat. Kelarutan : Alfa tokoferol asam saksianat, praktis tidak larut

dalam larutan alkali, larutan etanol (95%) P, eter P. aseton P, dan dalam minyak, sangat mudah larut dalam kloroform P, bentuk lain alfa tokoferol, praktis tidak larut dalam etanol (95%) P. Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik. : Antioksidan : penangkal radikal bebas dan mencegah.

7. Aqua Pro Injection (FI. Edisi III hal 97) Nama Resmi Sinonim Pemerian : AQUA PRO INJECTION : Aqua untuk injeksi : Keasaman, kebasaan, ammonium, besi, tembaga,

timbal, kalsium klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi menurut syarat yang tertera pada aqua destillata. Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik. : Sebagai pelarut untuk injeksi (zat tambahan)

BAB IV METODE KERJA

IV.1. Alat dan Bahan IV.1.1. Alat yang digunakan : 1. Autoklaf 2. Batang pengaduk 3. Botol Vial 4. Gelas kimia 5. Gelas ukur 6. Kapas 7. Spoit 5 CC 8. Tali godam 9. Timbangan IV.1.2. Bahan yang digunakan : 1. α-tokoferol 2. Aluminium foil 3. Aqua Pro Injeksi 4. Cianocobalamin 5. Metil Paraben 6. Na-EDTA

7. Pyridoxin 8. Thiamin HCL

IV.2. Perhitungan Bahan Vial yang akan dibuat, yaitu sebanyak 5 vial @5 mL. Sehingga perhitungannya, antara lain : 1. Volume Vial yang dibuat Dilebihkan 5% = 5 x 5 = 25 mL = x 25 =1,25 mL Total = 25 + 1,25 = 26,25 mL 2. Thiamin HCl Dilebihkan 5% = 5 x 100 = 500 mg = 0,5 g = x 0,5 = 0,025 g Total = 0,5 + 0,025 = 0,525 g 3. Pyridoxin Dilebihkan 5% = 5 x 100 = 500 mg = 0,5 g = x 0,5 = 0,025 g Total = 0,5 + 0,025 = 0,525 g 4. Cianocobalamin Dilebihkan 5% = 5 x 500µg = 2500 µg = 0,0025 g = x0,0025 = 0,000125 Total = 0,0025 + 0,000125 = 0,002625 g 5. Na EDTA 0,05% = x 5 x 5 vial= 0,0125 g

Dilebihkan 5%

= x 0,0125 = 0,000625 g

Total 6. Metil paraben 0,2% Dilebihkan 5%

= 0,0125 + 0,000625 = 0,013125 g = x 5 x 5 vial = 0,05 g = x 0,05 = 0,0025 g

Total

= 0,05 + 0,0025 = 0,0525 g

7. Tokoferol 0,05% Dilebihkan 5%

= x 5 x 5 vial = 0,0125 g = x 0,0125 = 0,000625 g

Total

= 0,01875 + 0,0009375 = 0,0196875 g

unakan

= 26,25 – ( 0,525 + 0,525 + 0,002625 + 0,013125 + 0,0525 + 0,0196875 ) = 26,25 – 1,1379375 = 25,112063 g = 25 mL

IV.3. Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Disterilisasi semua alat-alat yang akan digunakan dengan menggunakan autoklaf. 3. Ditimbang semua bahan yang akan digunakan :        Timbang thiamin HCl sebanyak 0,525 g Timbang pyridoxin sebanyak 0,525 g Timbang cianocobalamin sebanyak 0,002625 g Timbang Na EDTA sebanyak 0,013125 g Timbang nipagin sebanyak 0,0525 g -tokoferol sebanyak 0,0196875 g Ukur A.P.I sebanyak 25,112063 mL

4. Dilarutkan thiamin HCl dalam gelas kimia dengan sedikit A.P.I, aduk sampai homogen (larutan I).

5. Dilarutkan pyridoxin dalam gelas kimia dengan sedikit A.P.I, aduk sampai homegen (larutan II). 6. Dilarutkan cianocobalamin dalam gelas kimia dengan sedikit A.P.I, aduk sampai homogen (larutan III). 7. Dicampur ketiga larutan tersebut dalam gelas kimia. 8. Tambahkan metil paraben aduk hingga homegen, tambahkan hasil pengenceran Na EDTA aduk hingga homogen, tambahkan kurang lebih 3 tetes Vit. E aduk hingga homogen. 9. Setelah itu dicukupkan volumenya dengan A.P.I 10. Diambil masing-masing 5 mL ke dalam vial dengan menggunakan spoit. 11. Ditutup dan dibungkus dengan aluminium foil, lalu ikat dengan tali godam. 12. Disterilkan diautoklaf dengan posisi terbalik pada suhu 1210 C selama 15 menit. 13. Keluarkan, beri etiket, brosur dan kemasan.

BAB V PEMBAHASAN

Pada praktikum Farmasetika II, sediaan yang dibuat adalah sediaan steril. Pada praktikum sebelumnya salah satu sediaan steril yang telah kami buat yaitu sediaan Infus. Selanjutnya, pada praktikum kali ini kami melanjutkan membuat sediaan seril lainnya yaitu sediaan injeksi. Sediaan injeksi terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu sediaan injeksi vial dan sediaan injeksi ampul. Yang kami telah buat adala sediaan injeksi vial.

Hal pertama yang dilakukan sebelum proses pembuatan sediaan adalah sterilisasi alat. Dimana kami melakukan sterilisasi alat pada autoklaf pada suhu 121o C selama 15 menit. Selanjutnya dilakukan persiapan bahan – bahan yang akan digunakan. Kemudian melakukan penimbangan bahan – bahan, dimana seluruh bahan yang akan digunakan harus dilebihkan sebanyak 5%. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya hilangnya volume bahan pada saat pembuatan sediaan tersebut. Selanjutnya lakukan penimbangan bahan diatas gelas arloji dimulai dari Thiamin HCl sebanyak 0,525 gram, Pyridoxin HCl sebanyak 0,525 gram dan Cianocobalaminum sebanyak 0,002625 gram. Kemudian dicampur ketiga bahan tersebut dalam gelas kimia 100 mL lalu larutkan dengan aqua pro injeksi secukupnya. Bilas gelas arloji dikarenakan masih adanya bahan yang melengket pada permukaan gelas arloji. Selanjutnya dilakukan penimbangan terhadap Na.EDTA sebanyak 0,013125 gram lalu masukkan ke dalam campuran diatas dan ditimbang pula Methyl Paraben sebanyak 0,0525 dan masukkan pula pada campuran diatas. Aduk dengan batang pengaduk hingga larut dan tercampur homogen. Kemudian teteskan dengan α tokoferol sebanyak 1 tetes. Aduk hingga homogen. Masukkan campuran tersebut dalam gelas ukur 25 mL lalu sambil disaring. Kemudian dicukupkan volumenya dengan aqua pro injeksi. Ambil pipet 1 cc kemudian tambahkan 1,25 cc aqua pro injeksi dalam gelas ukur. Aduk hingga homogen campuran tersebut. Setelah itu dipipet sebanyak 5,25 mL larutan tersebut, masukkan kedalam vial. Tutup dengan tutup karet dan lapisi dengan alluminium foil. Ikat dengan tali godam. Lakukan sterilisasi pada autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit dengan cara membalikkan wadah vial kebawah. Setelah sediaan disterilisasikan, maka sediaan harus dites kejernihannya, antara lain menggunakan kertas putih dan kertas hitam. Kertas putih digunakan untuk melihat bila dalam sediaan terdapat partikel hitam atau berwarna. Sedangkan kertas hitam digunakan untuk melihat bila terdapat partikel putih . Selain itu pemeriksaan sediaan steril atau tidak, dilihat dari warna sediaan tersebut. Bila larutan jernih, berarti sediaan tersebut sudah steril. Namun bila sediaan berubah warna maka sediaan tersebut tidak steril. Setelah melakukan ketiga aspek tersebut, maka hal yang selanjutnya dilakukan adalah uji keseragaman bobot. Tekhnik dalam uji keseragaman bobot yaitu dicuci bagian luar wadah

dengan air dan dikeringkan . Ditimbang satu persatu satu dalam keadaan terbuka. Lalu dikeluarkan isi wadah, dicuci dengan air lalu dengan etanol (95%), dikeringkan pada suhu 105oC pada oven hingga bobot tetap. Didinginkan dan ditimbang satu per satu. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas tertentu.

Tabel Keseragaman Bobot Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih Batas penyimpangan dalam % ± 10 ±7,5 ±5

Tabel keseragaman volume Volume tambahan yang dianjurkan untuk cairan Volume pada etiket Encer 0,5 mL 1,0 mL 2,0 mL 5,0 mL 10,0 mL 20,0 mL 30,0 mL 0,10 mL 0,10 mL 0,15 mL 0,30 mL 0,50 mL 0,60 mL 0,80 mL Kental 0,12 mL 0,15 mL 0,25 mL 0,50 mL 0,70 mL 0,90 mL 1,20 mL

50,0 mL atau lebih

2%

3%

Setelah dilakukan pengujian sediaan steril dengan memperhatikan kelima kategori tersebut, yaitu pemeriksaan kebocoran, pemeriksaan kejernihan, pemeriksaan warna, uji keseragaman bobot dan uji keseragaman volume, maka hal yang dilakukan yaitu memberikan etiket, brosur, dan kemasan yang cocok.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.PENUNTUN HUSADA

PRAKTIKUM

FARMASETIKA

II.AKADEMI

FARMASI

BINA

Anief, Muhammad. 2000. ILMU MERACIK OBAT TEORI DAN PRAKTEK. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Ditjen POM.1979.FARMAKOPE INDONESIA EDISI III.Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Ditjen POM.1995.FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV.Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Formulasisteril.blogspot.com.2008.Available at pendahuluan-vial.Diakses pada bulan 5 tahun 2008

LAMPIRAN

KELOMPOK I

VIAL 1 2 3 4 5

VOLUME 5,2 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,3 mL 5,1 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,1 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,1 mL 5,1 mL 5,1 mL 5,2 mL 5,3 mL 5,2 mL 5,3 mL 5,3 mL 5,2 mL 5,2 mL

VIAL + ISI 14,6457 g 15,2799 g 18,0614 g 15,1168 g 14,8834 g 15,2902 g 15,0618 g 13,7814 g 15,1057 g 14,8115 g 11,7869 g 11,5874 g 11,0999 g 11,2334 g 11,2540 g 16,9602 g 16,8931 g 16,8316 g 16,8303 g 16,8834 g 14,9101 g

VIAL KOSONG 9,5586 g 9,2793 g 9,3207 g 12,8042 g 9,6003 g 9,6726 g 9,9071 g 6,6496 g 9,5986 g 9,5985 g 6,5973 g 6,4125 g 6,4641 g 6,3323 g 6,3908 g 11,4577 g 11,6915 g 11,4938 g 11,6025 g 11,6851 g 9g

NETTO 5,0871 g 6,0006 g 8,7407 g 2,3126 g 5,2831 g 5,6176 g 5,1547 g 7,1318 g 5,5071 g 5,213 g 5,1896 g 5,1749 g 4,6358 g 4,9011 g 4,8632 g 5,5025 g 5,2016 g 5,3378 g 5,2278 g 5,1983 g 5,9101 g

KET

II

1 2 3 4 5

III

1 2 3 4 5

IV

1 2 3 4 5

V

1

2 3 4 5 VII 1 2 3 4 5 VIII 1 2 3 4 5 IX 1 2 3 4 5

5,1 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,3 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,1 mL 5 mL 5,2 mL 5,1 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,3 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,2 mL 5,1 mL 5,1 mL 5,1 mL

14,7219 g 15,5944 g 14,3311 g 16,8320 g 14,9532 g 16,6503 g 16,7073 g 15,7491 g 15,0465 g 11,3704 g 11,6788 g 11,5997 g 11,4871 g 11,7852 g 15,1396 g 14,8510 g 14,8949 g 15,1638 g 14,9511 g

9,9184 g 10,0094 g 9,8134 g 9,3933 g 9,5921 g 11,7905 g 11,7788 g 11,4234 g 9,7861 g 6,4137 g 6,4803 g 6,4646 g 6,4428 g 6,4363 g 9,8405 g 9,7034 g 9,9483 g 10,0386 g 9,9966 g

4,8035 g 5,585 g 4,5177 g 7,4387 g 5,3611 g 4,8599 g 4,9285 g 4,3257 g 5,2604 g 4,9567 g 5,1985 g 5,1351 g 5,0443 g 5,3489 g 5,2991 g 5,1476 g 4,9466 g 5,1252 g 4,9545 g

Perhitungan : Bobot yang tertera pada etiket antara 120 mg dan 300 mg, sehingga batas penyimpangannya yaitu 7,5%. Sehingga perhitungannya yaitu :

Yang dibuat 5 vial ~ 5,2857 g Batas penyimpangan = 7,5 % X 5,2857 g = 0,3964 g = 5,2857 g + 0,3964 = 5,6821 g = 5,2857 g – 0,3964 g = 4,8893 g Jadi rangenya = 4,8893 – 5,6821 ( pH asam )