BAB I PENDAHULUAN I.

I Latar Belakang Senyawa kimia baik berupa nutrien atau senyawa obat harus

memlalui berjuta-juta membran agar dapat masuk dan keluar sel. Senyawa obat harus mencapai reseptornya agar dapat menimbulkan aktivitas farmakologik atau mencapai mikroba yang terdapat dalam jaringan sel tubuh manusia. Senyawa kimia tersebut dapat berbentuk anorganik bermuatan positif seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium atau yang bermuatan negatif seperti klorida, bikarbonat fosfat, sulfat. Bentuk senyawa organik misalnya glukosa, asam amino, lemak seperti kolesterol fosfolipid dan lemak netral. Obat pada umumnya adalah senyawa organik bersifat asam lemah atau basa lemah, dan beberapa anorganik misalnya natrium klorida, kalium klorida dalam bentuk infus. Membran terdiri dari lipid yang berpusat ditengah dilapisi protein diluarnya dan mukopolisakarida paling luar. Bagian luar bersifat hidrofil (suka air) dan lipofob (tidak suka minyak). Bagian dalam lipofil (suka minyak) dan hidrofob (tidak suka air). Asam organik lemah atau basa organik lemah dalam medium air akan berdisosiasi menjadi bagian molekul dan bagian ion. Bagian molekul akan larut dalam lipid dan bagian ion larut air. Besarnya perbandingan bagian molekul dan ion tergantung dari pKa senyawa tersebut dan pH tempat senyawa obat tersebut larut. Senyawa organik atau senyawa obat asam lemah, pada umumnya pKa rendah. Dalam lingkungan pH rendah (lambung pH 1 - 3) lebih banyak dalam bentuk molekul (bentuk utuk, bentuk tak terdisosiasi), sedangkan dalam lingkungan pH tinggi (usus halus pH 6,3 – 7,6), lebih banyak dalam bentuk ion daripada bentuk molekul. Dalam bidang farmasi sistem transport digunakan untuk

mengetahui apakah dalam suatu obat dapat masuk dan langsung memiliki efek terapi atau efek menyembuhkan, maka sistem transport sangat banyak mengambil peran dalam membantu efek suatu obat tersebut.

I.2 Maksud Dan Tujuan Percobaan I.2.1 Maksud Percobaan Untuk mengetahui cara pengukuran kadar glukosa mencit (Mus musculus) dengan menggunakan spektrofotometer. I.2.2 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui cara pembiusan pada mencit (Mus musculus) 2. Untuk mengetahui cara pengukuran kadar glukosa dalam usus mencit (Mus musculus) dengan menggunakan spektrofotometer. 3. Untuk mengetahui ada tidaknya efek penurunan kadar glukosa dengan menggunankan infus daun paliasa I.3 Prinsip Percobaan Kadar glukosa usus mencit dengan pemberian larutan glukosa dan infus daun paliasa pada mencit (Mus musculus) kemudian mengukur dengan spektrofotometer.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umum Mekanisme transport melalui membran dalam farmakologi disebut mekanisme absorpsoi obat. Absorpsi adalah berpindahnya molekul obat dari tempat absorpsi menuju ke sirkulasi darah (sirkulasi sistemik). Dalam fisiologi transport membran hanya dibedakan transport pasif (difusi pasif), transport aktif dan pinositosis (1). Transport pasif atau difusi pasif disebut juga difusi sederhana.

Senyawa yang larut lipid dapat melewati membran berdasarkan perbedaan konsentrasi ( gradien konsentrasi ) senyawa di sebelah luar dan di dalam membran. Senyawa ini bagaikan mengalir begitu saja. Transpor pasif ini terutama sangat dipengaruhi oleh kelarutan senyawa dalam lipid, pKa zat, pH lingkungan absorpsi, konsentrasi zat di sebelah luar dan sebelah dalam membran. Sedangkan transport aktif untuk senyawa yang tidak mudah atau kurang larut dalam lipid membran, agar dapat melewati membran harus ditambah atau direaksikan dengan senyawa tertentu agar larut lipid membran, sehingga mudah melewati membran. Senyawa ini disebut carrier, atau karier yang artinya zat pembawa. Setelah senyawa menempel di bagian luar membran maka seolah-olah carrier tersebut

menjemputnya, kemudian mengikat atau bereaksi menjadi senyawa tertentu (kompleks) yang mudah larut lipid membran lalu

membawanya ke seberang tepi membran, dan dilepaskan (1). Sifat transport aktif ialah dapat melawan gradien konsentrasi karena ada energi dari ATP maupun melawan potensial kimia, dapat jenuh karena jumlah karier terbatas, dapat keracunan karena karier yang telah berikatan dengan senyawa seperti CN, F iodin asetat tidak dapat bekerja lagi, inhibisi kompetitif, maksudnya senyawa yang lebih mudah bereaksi/berikatan dengan karier dapat menghambat

reaksi/ikatan senyawa yang akan dtransport dan spesifik, artinya

karier hanya dapat bereaksi/berikatan dengan senyawa tertentu juga (1). Transport khusus senyawa yang sukar larut air, tetapi mudah larut dalam minyak seperti vitamin A, D, E dan K. Membran sel mampu melakukan inhibisi yaitu meminum sejumlah kecil zat sari cairan ekstra sel dengan proses yang disebut pinositosis. Mekanismenya sama dengan fagositosis tetapi perbedaannya fagositosis ialah fagositosis dapat memakan partikel lebih besar seperti bakteri. Mekanisme fagositosis adalah pergerakan sel amuboid (1). II.2 Uraian Hewan Coba II.2.1 Karakteristik Hewan Coba (2) Sebelum menggunakan hewan coba terlebih dahulu kita harus mengenal karakteristik dari hewan coba yang digunakan, adapun karakteristik dari mencit, sebagai berikut (2) : Masa pubertas Masa beranak Masa hamil Jumlah sekali lahir Masa hidup Masa tumbuh Masa menyusui Frekuensi kelahiran Suhu tubuh Laju respirasi Tekanan darah Volume darah : 4 – 5 hari (poliestrus) : 7 – 18 bulan : 19 – 21 hari : 10 – 12 ekor : 1,5 – 3,0 tahun : 50 hari : 21 hari : 6 – 10 kali kelahiran : 36,5 -38,0 0 C : 94 - 163 /menit : 113-147/81-106 mm Hg : 76 – 80 mg/kg

Luas permukaan tubuh : 20 g : 36 cm II.2.2 Klasifikasi Hewan Coba (3) Genus dan jenis Mencit laboratorium adalah Mus Musculus dan termasuk dalam ordo Rodentia. Jenis ini banyak dijinakkan dan diternakkan selama bergenerasi dan mudah ditangani hewan ini

memiliki pendengaran yang sangat tajam dan penciuman yang cukup baik, tetapi penglihatannya lemah. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut : Kingdom Fillium Kelas Ordo Famili Upafamili Genus Spesies II.3 Uraian Bahan a. Eter (4) - Sinonim : etoksietana : Animalia : Chordata : Mamalia : Rodentia : Muridae : Murinae : Mus : Mus musculus

- Eter anestesi adalah eter yang dimurnikan, mengandung stabilisator yang cocok tidak lebih dari 0,002% b/v. - Pemerian : cairan transparan, tidak berwarna, bau khas, rasa manis dan membakar. Sangat mudah menguap, sangat mudah terbakar, campuran uapnya dengan oksigen, udara atau dinitrogenoksida pada kadar tertentu dapat meledak. - Kelarutan : larut dalam 10 bagian air, dapat bercampur dengan etanol (95%) P, dengan kloroform P, dengan minyak lemak dan dengan minyak atsiri. - Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk. - Khasiat b. Glukosa (4) - Sinonim : glucosum : anestesi umum.

- Glukosa mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,5% dikeringkan. C6H12O6 dihitung terhadap zat yang telah

- Pemerian : hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau butiran putih, tidak berbau, rasa manis. - Kelarutan : mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95%) P mendidih, sukar larut dalam etanol (95%) P. - Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik. - Khasiat : kalorigenikum.

c. Aquadest (aqua destillata) (4) - Sinonim : air suling

- Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. - Pemyimpanan : dalam wadah tertutup baik. - Khasiat : pelarut.

d. Larutan ringer (4) - Sinonim : natrii chloridi infundibilium compositum

- Larutan ringer mengadung Natrium klorida, NaCl tidak kurang dari 0,82% b/v dan tidak lebih dari 0,90% b/v ; kalium klorida, KCl tidak kurang dari 0,028% b/v dan tidak lebih dari 0,0315% b/v ; kalsium klorida, CaCl2.2H2O tidak kurang dari 0,030% b/v dan tidak lebih dari 0,036% b/v; klorida, Cl tidak kurang dari 0,523% b/v tidak lebih dari 0,58% b/v. Tidak mengandung bakterisida. - Pemerian : larutan jernih, tidak berwarna, rasa agak asin. - Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal. Pada penyimpanan mungkin terpisah butir kecil yang berasal dari wadah kaca , larutan demikian tidak bisa digunakan. - Khasiat : infus intravenous. II.4 Uraian tumbuhan (6) Daun Paliasa secara tradisional sudah dikenal berkhasiat sebagai obat. Daun yang nama Latinnya itu Sterculiaceae tersebut konon dapat mengobat penyakit kuning (hepatitis). Daun Paliasa kini sudah berbentuk kapsul, dengan beberapa varian produk yang

bersumber dari ekstrak paliasa, misalnya the paliasa, dan susu kambing ekstrak paliasa. Adapun klasifikasi daun paliasa adalah sebagai berikut : 1. Klasifikasi Tanaman Paliasa (Kleinhovia hospita L) Regnum Divisio Subdevisio Class Ordo Family Genus Spesies : Plantarum : Spermatophyta : Dyanyoethales : Dycotyledonae : Stercolliales : Stercolliceae : Klein : Kleinhovia hospita L

2. Morfologi Daun Paliasa Pohon tinggi, tumbuh tegak mencapai kurang lebih 4-12 meter, banyak cabang, batang bulat, berkayu dan bertangkai, dan agak bulat, terdapat rambut halus di permukaan daun, ujung meruncing, pangkal berbentuk mirip jantung, pertulangan daun menyirip. 3. Kegunaan Obat penyakit lever, mengobati radang hati, dan sebagai obat diabetes. 4. Kandungan Kandungan kimia yang terdapat pada tanaman ini adalah mengandung ekstrak etanol dengan dosis 250, 500, 750, dan 1000 mg/kgbb.

BAB III METODE KERJA III.1 Alat Dan Bahan III.1.1 Alat yang digunakan Adapun alat yang digunakan adalah : Aerometer, benang tebal, gelas kimia, gunting, mangkok, panci infus, papan bedah, pinset, pisau bedah, spektrofotometer, spoit 1 ml, dan toples. III.1.2 Bahan yang digunakan Bahan yang digunakan adalah : aquadest, infus daun paliasa, kapas, larutan glukosa, larutan ringer. III.2 Cara Kerja III.2.1 Penyiapan Hewan Coba 1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan. 2. Mencit diambil, diletakkan diatas rang-rang dengan cara memegang ekornya. 3. Mencit dibiarkan mencengkram permukaan kasar (rang-rang) sambil menarik ekornya dan mengelus-elus kepalanya agar tenang. 4. Punggung mencit dijepit didekat leher mencit dengan baik dan ekornya dililitkan pada jari kelingking 5. Mencit siap diberi perlakuan III.2.2 Penyiapan Bahan a. Membuat larutan baku Glukkosa sebanyak 25 mg dalam 250 ml air. Konsentrasi larutan tersebut adalah 100 ppm b. Pembuatan larutan infus daun paliasa Daun paliasa yang sudah di cuci bersih digunting kecil-kecil, kemudian dibuat infus dengan dimasukkan di dalam panci infus dan ditambahkan aquadest dengan suhu 90°C selama 15 menit.

III.2.3 Perlakuan Hewan Coba 1. Mencit dibius dengan eter. Caranya mencit dimasukkan dalam wadah toples plastik kecil, kemudian dimasukkan kapas yang dibasahi dengan eter lalu toples ditutup, ditunggu sampai mencit tidak sadar. 2. Mencit yang sudah terbius diikat keempat kakinya dengan benang tebal, kemudian diikat pada papan bedah. 3. Mencit dibedah bagian perutnya, kemudian diangkat usunya, dipotong ileumnya kira-kira 5 cm dari ujung, kemudian dicuci dengan larutan Ringer. 4. Ileum diisi dengan larutan glukosa, setelah diikat rapat kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala yang sudah berisi larutan Ringer 36 - 37°C. Setelah itu kadar glukosa yang terdapat dalam larutan Ringer, diukur dalam waktu 5, 10, dan 15 menit. 5. Perlakuan yang sama untuk usus yang kedua, namun kantong ileum diisi dengan larutan glukosa dan larutan infus daun paliasa, kemudian ditetapkan kadar glukosa dalam larutan Ringer.

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV. 1 Tabel Pengamatan No. 1. 2. Nama Obat Larutan Glukosa Larutan Glukosa + infus daun paliasa Kadar glukosa dalam larutan ringer 5 menit 0,30 0,20 10 menit 0,28 0,10 15 menit 0,25 0,05

Panjang Usus Mencit saat pembedahan adalah 12,4 cm

BAB V PEMBAHASAN Mekanisme transport melalui membran dalam farmakologi disebut mekanisme absorpsi obat. Absorpsi adalah berpindahnya molekul obat dari tempat absorpsi menuju ke sirkulasi darah (sirkulasi sitemik). Mekanisme transport berguna untuk mentransport obat ke tempat yang tepat di dalam tubuh, zat aktif diolah menjadi suatu bentuk khusus. Transport obat dimana molekul zat kimia dapat melintasi membran semipermeabel berdasarkan adanya perbedaan konsentrasi, antara lain melintasi dinding pembuluh ke ruang antarjaringan (interstitium). Dalam fisiologi transport membran hanya dibedakan transport pasif (difusi pasif), transport aktif dan pinositosis. Transport pasif sangat dipengaruhi oleh kelarutan senyawa dalam lipid, pKa zat, pH lingkungan absorpsi, konsentrasi zat di sebelah luar dan sebelah dalam membran. Transport pasif tidak menggunakan energi. Yang dapat terjadi menurut dua cara, yakni : filtrasi melalui pori-pori kecil dari membran, misalnya dinding kapiler. Yang difiltrasi adalah air dan zatzat hidrofil yang molekulnya lebih kecil daripada pori, seperti alkohol dan urea (BM < 200), dan difusi, zat melarut dalam lapisan lemak dari membran sel. Dengan sendirinya zat lipofil lebih lancar penerusannya daripada zat hidrofil yang tak dapat larut dalam lemak seperti ion organik. Pengecualian adalah ion natrium dan ion klorida, yang sangat mudah melintasi membran. Difusi merupakan cara transpor yang paling lazim. Transport aktif memerlukan energi. Pengangkutan dilakukan dengan mengikat zat hidrofil (makromolekul atau ion) pada suatu protein pengangkut spesifk yang umumnya berada di membran sel (carrier). Setelah membran dilintasi, obat dibebaskan kembali. Kebanyakan zat

alamiah diresorpsi dengan proses aktif ini, misalnya glukosa, asam amino, asam lemak dan zat gizi lainnya. Begitu pula obat-obat seperti garam besi dan empedu, metildopa, vitamin B1, B2, dan B12. Berbeda dengan difusi,

cepatnya penerusan pada transpor aktif tidak tergantung dari konsentrasi obat. Proses pinositosis dimana membran sel mampu melakukan inhibisi yaitu meminum sejumlah kecil zat sari cairan ekstra sel. Sedangkan fagositosis dapat memakan partikel lebih besar seperti bakteri.

Mekanisme fagositosis adalah pergerakan sel amuboid. Tidak semua karbohidrat dapat melewati membran sel dengan mudah. Glukosa agar dapat melewati membran harus direaksikan/diikat dengan protein tertentu agar larut lipid dan dapat melewati membran. Tanpa karier, glukosa tidak dapat melewati membran, demikian pula karbohidrat dan seperti galaktosa, fruktosa, manosa, xylosa, arabinosa dan sorbosa. Disakarida seperti sakarosa, laktosa dan maltosa tidak menggunakan transport aktif, dia akan pecah dulu menjadi glukosa oleh enzim pencernaan. Syarat transport aktif monosakarida ini ialah harus ada gugus OH pada atom C nomor dua, cincin piranosa, gugus metil. Fruktosa diabsorpsi lebih lambat dari glukosa dan galaktosa. Karier untuk glukosa ini tidak bisa digunakan oleh karbohidrat lain. Glukosa tidak dapat ditransport melalui pori karena diameternya relatif besar untuk melewati pori tersebut. Adapun yang dilakukan pada percobaan ini yaitu untuk mengetahui apakah infus daun paliasa (Kleinhovia hospita L)dapat menghambat transport aktif glukosa dengan menggunakan mencit (Mus musculus) yang dibius dengan eter lalu dibedah bagian perutnya kemudian diangkat usus halusnya (ileum) dan dipotong kurang lebih 5 – 10 cm kemudian dicuci dengan RL agar mencegah tumbuhnya bakteri dan mencegah agar usus halus tidak mengembang dan mengerut. Setelah dicuci, ujung yang satu diikat dengan benang kemudian diisi dengan glukosa ± 1 ml kemudian diikat ujung yang lain. Lalu dimasukka ke dalam gelas kimia yang berisi RL dengan suhu 37ºC. Diambil larutan tersebut sebanyak 3 cc pada interval waktu 5’, 10’, dan 15’.

Pada perlakuan yang kedua, ileum diisi dengan glukosa dan infus daun paliasa (Kleinhovia hospital L) untuk mengetahui apakah sampel tersebut dapat menghambat transport aktif glukosa atau tidak.Kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia yang sudah berisi larutan RL dan diukur suhunya sampai 37º C pada menit ke 5, 10, dan 15. Dari hasil pengamatan dapat dilihat terjadi penurunan kadar glukosa dari menit ke-5, 10 dan 15. Penurunan yang sangat baik terjadi pada larutan infus daun paliasa. Kadar glukosa pada menit ke-15 yaitu 0,05 yang mana pada menit ke-5 masih 0,20. Kadar glukosa tanpa infus daun paliasa pada menit ke-5 adalah 0,30 dan pada menit ke-15 0,25. Dengan demikian infus daun paliasa memiliki daya untuk menurunkan kadar glukosa pada mencit (Mus musculus) yang dilihat dan dihitung dengan menggunakan alat sperktrofotometer.

BAB VI PENUTUP VI.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa infus daun paliasa memiliki daya untuk menurunkan kadar glukosa mencit (Mus musculus). VI.2 Saran a. Agar sarana dan prasarana dilengkapi agar proses praktikum dapat berjalan sebagaimana mestinya dan tidak ada yang tertunda. b. Diharapkan bimbingan para asisten.

DAFTAR REFERENSI 1. Tim penyusun. Penuntun praktikum anatomi dan fisiologi manusia. Makassar :Laboratorium farmakologi. 2012 2. S.Malole.M.B.M,. Penggunaan Hewan – Hewan Percobaan di Laboratorium, Jakarta : Institut Pertanian Bogor, 1989 3. Amori.G, kalsifikasi mencit, http://wapedia.mobi/id/klasifikasimencit. Diakses.30/4/2010 4. Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi III. Dep.Kes. RI. Jakarta.1979 5. Drs.Tan Hoan Tjay, dkk. Obat-obat penting edisi keenam. Jakarta : Elex media komputindo, gramedia. 2007. 6. Dhewisari. Penghambat transfor aktif glukosa http://dhewysariduniaku-inspirasiku.blogspot.com/2012/01/penghambat-transforaktif-glukosa.html. diakses tanggal 03/04/2012.

LAMPIRAN Larutan 0 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80ppm dan 100 ppm dari larutan baku 100 ppm. V1.N1=V2.N2 a. 0 ppm V1.N1=V2.N2 V1 . 100 ppm = 50 ml . 0 ppm V1 = 0 ml b. 20 ppm V1.N1=V2.N2 V1 . 100 ppm = 50 ml . 20 ppm V1 = c. 40 ppm V1.N1=V2.N2 V1 . 100 ppm = 50 ml . 40 ppm V1 = d. 60 ppm V1.N1=V2.N2 V1 . 100 ppm = 50 ml . 60 ppm V1 = e. 80 ppm V1.N1=V2.N2 V1 . 100 ppm = 50 ml . 80 ppm V1 = f. 100 ppm V1.N1=V2.N2 V1 . 100 ppm = 50 ml . 100 ppm V1 = = 50 ml = 40 ml, ad dengan aquadest sampai 50 ml. = 30 ml, ad dengan aquadest sampai 50 ml = 20 ml, ad dengan aquadest sampai 50 ml = 10 ml, ad dengan aquadest sampai 50 ml

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful