You are on page 1of 55

LAPORAN TUTORIAL BLOK 9

disusun Oleh: KELOMPOK 3 Anggota Kelompok : Kadek Martha S Mentari Indah Dari Agien Tri Wijaya R.A.Delila Tsaniyah Mia Hayati Khairunnisa Risha Meilinda Marpaung Desy Aryani Randina Dwi Megadari Moza Guyanto Utari Mudhia Arisa P Muhammad Adam Mudzakir Agung Hadi Wibowo Kadek Martha S (04111001012) (04111001024) (04111001041) (04111001043) (04111001045) (04111001069) (04111001085) (04111001110) (04111001112) (04111001117) (04111001134) (04111001135) (04111001012) Tutor: Fatmawati,S.Si,M.Si PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSTAS SRIWIJAYA TAHUN 2012
1

KATA PENGANTAR Pertama-tama marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya lah kami dapat menyusun laporan tutorial blok 9 ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Laporan ini merupakan tugas akhir dari prosesi tutorial yang telah kami lakukan selama dua kali secara berkelompok di Fakultas Universitas Sriwijaya tahun 2012. Laporan ini berisi hasil seluruh kegiatan tutorial blok 9 dengan membahas skenario A. Di sini kami membahas sebuah kasus yang kemudian dipecahkan secara kelompok berdasarkan sistematikanya mulai dari klarifikasi istilah, identifikasi masalah, menganalisis, meninjau ulang dan menyusun keterkaitan antar masalah, serta mengidentifikasi topik pembelajaran. Dalam dinamika kelompok ini pula ditunjuk moderator serta notulis. Bahan laporan ini kami dapatkan dari hasil diskusi antar anggota kelompok, teks book, media internet. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, orang tua, tutor, dan para anggota kelompok yang telah mendukung baik moril maupun materil dalam pembuatan laporan ini. Kami mengakui dalam penulisan laporan ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami memohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi kesempurnaan laporan kami di kesempatan mendatang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terima kasih.

Palembang, 02 Juli 2012

Penulis

2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................i KATA PENGANTAR ............................................................................................................... ii DAFTAR ISI............................................................................................................................. iii HASIL TUTORIAL DAN BELAJAR MANDIRI I. Skenario A Blok 9 ................................................................................................................. 4 II. Klarifikasi Istilah .................................................................................................................. 4 III. Identifikasi Masalah………………………………………………………………………....5 IV. Analisis Masalah..................................................................................................................5 - Keterkaitan antarmasalah................................................................................................... ...23 V. Learning Issues .................................................................................................................... 23 VI. Sintesis Masalah ................................................................................................................. 24 A. Malaria ............................................................................................................................. 24 B. Resistensi Mikroba ........................................................................................................... 32 C. Mutasi gen ........................................................................................................................ 38 D. Pemeriksaan Apusan Darah ............................................................................................. 40 E. Resistensi Klorokuin……………………………………………………………………..45 F. Plasmodium falciparum…………………………………………………………………..46 -Kerangka konsep ................................................................................................................. 54 VII. Kesimpulan…………………..\…………………………………………...……………...54 Daftar Pustaka ........................................................................................................................... 54

3

I. SKENARIO A : Tuan Budi Tn.Budi, usia 30 tahun, seorang transmigran asal Jawa Tengah, 1 bulan tinggal di daerah Amaroppa Papua, mengeluh demam dan menggigil, berkeringat disertai sakit kepala dan mualmual. Serelah berkonsultasi ke dokter Puskesmas, ia diberi obat antimalaria klorokuin dan obat simptomatis lainnya serta dilakukan pemeriksaan apusan darah perifer tipis dan tebal. Walaupun telah minum obat klorokuin sesuai petunjuk dokter, namun gejala-gejalanya tidak berkurang. Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan Plasmodium falciparum (+++). II. Klarifikasi Istilah : 1. Demam : Suhu tubuh diatas batas normal , dapat disebabkan oleh kelainan di dalam otak sendiri atau oleh bahan-bahan toksik yang memengaruhi pusat pengaturan suhu. 2. Menggigil : Tubuh gemetar secara involunter, seperti demam; Penyakit yang ditandai oleh gemetar dan menggigilnya berbagai otot. 3. Berkeringat : Mengeluarkan keringat 4. Obat antimalaria klorokuin : Obat anti amuba dan antiinflamasi yang dipakai dalam pengobatan malaria, dipakai dalam bentuk garam hidroklorida dan garam fosfat. 5. Obat simptomatis : Obat yang diarahkan untuk pengurangan gejala, seperti pengobatan simtomatik. 6. Pemeriksaan apusan darah perifer tipis dan tebal : Pemeriksaan laboratorium dalam kecurigaan kasus malaria. 7. Plasmodium falcifarum :Genus sporozoa yang bersifat parasitik pada sel darah merah hewan maupun manusia yang menyebabkan jenis malaria spesifik pada manusia. 8. Transmigran : Orang melakukan transmigrasi, berpindah dari kota padat penduduk kke kota jarang penduduk. 9. Mual-mual : Sensasi tidak menyenangkan yang secara samar mengacu pada epigastrium dan abdomen dan cenderung untuk muntah. 10. Sakit kepala : Suatu kondisi sakit yang terletak di sekitar kepala, terkadang rasa sakit pada leher atau bagian atas leher juga yang disebabkan oleh ketegangan otot, migrain, kelelahan mata, dehidrasi, tekanan gula darah yang rendah, hipermastikasi dan sinusitis

4

III. Identifikasi Masalah Kalimat 1 : Tn.Budi, usia 30 tahun, seorang transmigran asal Jawa Tengah, 1 bulan tinggal di daerah Amaroppa Papua, mengeluh demam dan menggigil, berkeringat disertai sakit kepala dan mual-mual. Kalimat 2 : Tn.Budi diberi obat antimalaria klorokuin dan obat simptomatis lainnya serta dilakukan pemeriksaan apusan darah perifer tipis dan tebal. Kalimat 3 : Walaupun telah minum obat klorokuin sesuai petunjuk dokter, namun gejalagejalanya tidak berkurang. Kalimat 4 : Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan Plasmodium falciparum(+++). Masalah Utama : Kalimat 1

IV. Analisis Masalah 1) Tn.Budi, usia 30 tahun, seorang transmigran asal Jawa Tengah, 1 bulan tinggal di daerah Amaroppa Papua, mengeluh demam dan menggigil, berkeringat disertai sakit kepala dan mualmual. a. Bagaimana mekanisme : - Demam Jawab : Sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik, maka monosit, makrofag, dan sel-sel Kupffer mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen IL-1(interleukin 1), TNFα (Tumor Necrosis Factor α), IL-6 (interleukin 6), dan INF (interferon) yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan patokan termostat. Hipotalamus

mempertahankan suhu di titik patokan yang baru dan bukan di suhu normal. Sebagai contoh, pirogen endogen meningkatkan titik patokan menjadi 38,9° C, hipotalamus merasa bahwa suhu normal prademam sebesar 37° C terlalu dingin, dan organ ini memicu mekanismemekanisme respon dingin untuk meningkatkan suhu tubuh (Ganong, 2002). Berbagai laporan penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan suhu tubuh berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang. Rangsangan endogen seperti eksotoksin dan endotoksin menginduksi leukosit untuk mengeluarkan pirogen endogen, dan yang poten diantaranya adalah IL-1 dan TNFα, selain IL-6 dan IFN. Pirogen endogen ini akan bekerja pada sistem saraf pusat tingkat OVLT (Organum Vasculosum Laminae Terminalis) yang dikelilingi oleh bagian medial dan lateral nucleus
5

hipotalamus anterior. 2. dan septum palusolum. Sebagai respon terhadap sitokin tersebut maka pada OVLT terjadi sintesis prostaglandin.) Infeksi parasit  Reaksi imun (antigen-antibodi)  Pirogen eksogen  Merangsang pirogen endogen (leukosit)  Produksi sitokin (IL 1. 2006).TNF)  Memacu pelepasan asam arakidonat  ↑↑ sintesis prostaglandin E2  Mencapai hipotamalus  ↑↑ set point pada termostat hipotalamus  Penyimpanan panas tubuh dan ↑↑ pembentukan panas  Suhu meningkat Demam. 2006).preoptik. IL-6. dan menimbulkan peningkatan suhu tubuh terutama demam (Nelwan dalam Sudoyo. -Menggigil Jawab : Terletak pada bagian dorsomedial dari hipotalamus posterior dekat dinding ventrikel ketiga adalah susatu area yang disebut pusat motorik primer untuk menggigil. Oleh karena itu. terutama prostaglandin E2 melalui metabolisme asam arakidonat jalur COX-2 (cyclooxygenase 2). Area ini normalnya dihambat oleh sinyal dari pusat panas di area preoptik hipotalamus anterior tetapi dirangsang oleh sinyal dingin dari kulit dan medulla spinalis. Mekanisme demam dapat juga terjadi melalui jalur non prostaglandin melalui sinyal aferen nervus vagus yang dimediasi oleh produk lokal MIP-1 (machrophage inflammatory protein-1) ini tidak dapat dihambat oleh antipiretik (Nelwan dalam Sudoyo. seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan „produksi panas‟ yang tiba-tiba.)Mikroorganisme masuk Pirogen eksogen/endotoksin Inflamasi Homeostasis Limfosit.leukosit. pusat ini teraktivasi ketika suhu 6 .makrofag(proses fagositosis) Pirogen endogen (interleukin1) Sel endotel hipothalamus terangsang Enzim fosfalase Asam arakhidonat Enzim siklooksigenase anti infeksi Memacu prostaglandin Pengaruh ke kerja termostat hipothalamus Perubahan suhu Viabilitas Mikroorganisme menurun 3.

sehingga panas dapat dikeluarkan dan suhu tubuh kembali normal. Sinyal ini tidak teratur dan tidak meyebabkan gerakan otot yang sebenarnya. Sebaliknya. Kemungkinan hal tersebut dihasilkan dari osilasi umpan balik mekanisme regangan dari gelendong otot. belum pada anggota tubuh yang lain. kemudian kedalam kolumna lateralis medulla spinalis dan akhirnya ke neuron-neuron motorik anterior. -Sakit Kepala Jawab : Infeksi Plasmodium → melepaskan toksin malaria (GPI) → mengaktivasi makrofag → mensekresikan IL2 → mengaktivasi sel Th → mensekresikan IL3 → mengaktivasi sel mast → mensekresikan PAF → mengaktivasi faktor Hagemann → sintesis bradikinin → merangsang serabut saraf (di otak) → nyeri → sakit kepala atau Vasodilatasi pembuluh darah di otak disebabkan oleh invasi parasit. Selama proses menggigil maksimum. pembentukan demam sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik adalah sesuatu yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme termoregulasi (Sherwood. sinyal terssebut meningkatkan tonus otot rangka di seluruh tubuh dengan meningkatkan aktivitas neuron-neuron motorik anterior. akan tetapi baru suhu pada hipotalamus yang kembali normal. proses menggigil dimulai. sehingga pasokan darah ke otak berkurang. sementara vasokonstriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi pengeluaran panas. 2001).pembentukan panas tubuh dapat meningkat hingga sebesar empat sampai lima kali lipat dari normal. maka suhu inti akan dikembalikan pada sushu normal yaitu 370C. Kedua mekanisme tersebut mendorong suhu naik. -Berkeringat Jawab : Berkeringat pada dasarnya merupakan suatu proses untuk menurunkan suhu tubuh. Ketika tersmostat hipotalamus merasa telah cukup penaikan suhu tubuh. Oleh karena itu.(Fisiology Guyton) Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas.tubuh turun bahkan hanya beberapa derajat di bawwah nilai suhu kritis. Ketika tonus meningkat di atas nilai kritis tertentu. Dengan demikian. tubuh mengkompensasi dengan melakukan vasokontriksi pembuluh darah agar pasokan darah 7 . tubuh akan melakukan vasodilatasi pembuluh darah perifer. Pusat ini kemudian meneruskan sinyal yang menyebabkan mengigil melalui traktus bilateral turun ke batang otak.

tercukupi. Bagaimana perbedaan kondisi Jawa Tengah dan Amaroppa Papua (sesuai skenario)? Jawab : 8 . Terjadi berulang – ulang yang akan menimbulkan sakit kepala. Lalu parasit yang masih ada akan menginvasi kembali sehingga terjadi kembali vasodilatasi dan kembali dikompensasi dengan vasokonstriksi. -Mual-mual Jawab : infeksi Plasmodium →melepaskan toksin malaria (GPI) →mengaktivasi makrofag →menskresikan IL 12 → mengaktivasi sel Th → mensekresikan IL 3 → mengaktivasi sel mast → menskresikan H2 → peningkatan sekresi asam Lambung → NAUSEA atau Splenomegalimenekan lambungrasa mualrasa tidak nyaman pada perut b.

yaitu Papua. NTT dan NTB. An. Wilayah Indonesia Tengah. subpictus. vektor yang berperan di daerah pantainya adalah An. angin). DG(Diagnosis&Gejala). yaitu Pulau Sulawesi. di wilayah pantai adalah An. Luas 420. Pulau Kalimantan. subpictus dan An. Suhu udara 19-28°C koliensis dan An. curah hujan. Iklim Vektor malaria yang dominan terhadap penularan malaria di Indonesia adalah sebagai berikut: Curah hujan 1.Keterangan Gambar : D(Diagnosis). barbirostris. dan Maluku Utara. farauti. punctulatus sedangkan di wilayah pegunungan adalah An. Maluku. lingkungan biologik dan lingkungan socialbudaya. O(Obat) Beberapa faktor lingkungan yang cukup ideal mendukung Papua keberadaan penyakit malaria di Indonesia. Sedangkan di wilayah 9 . Wilayah Indonesia Timur. An. Kelembapan 80% ii. kelembaban udara.800 – 3. Khusus di NTB adalah An. subpictus.540 km² ketinggian. An. antara lain: lingkungan fisik (suhu. farauti. sundaicus.000 mm i.

An letifer. iii. d. daerah pegunungan An. Malaria ringan (malaria tanpa komplikasi) 10 .4 %. An.Budi? Jawab : 1. flavirostris.jenis kelamin dengan imunitas tubuh Tn. Penemuan penderita dilakukan secara pasif dan aktif. balabacencis dan An. Usia produktif lebih sering terkena. sedangkan sampel yang dipilih adalah masyarakat yang datang pada kegiatan MBS malaria dengan menggunakan metode non-random accidental sampling (752 sampel). Wilayah Pulau Jawa. sinensis. An. An. Khusus wilayah Kalimantan. aconitus.pegunungan adalah An. Oleh karena itu kegiatan penemuan penderita malaria sedini mungkin perlu dilakukan untuk memutus penyebaran malaria. selain Anopheles tersebut di atas juga An. An. terdiri dari malaria vivax asimtomatis sebanyak 28. Analisis menggunakan tabel univariat dan bivariat dengan manual komputer. Vektor yang berperan di daerah pantai adalah An. autoanamnesis) dan pemeriksaan sediaan darah tebal malaria dan diolah secara manual dan komputer. iv. sundaicus dan An. kurang kebal terhadap penyakit-penyakit menular tertentu.58 %. Jenis penelitian ini menggunakan metode pendekatan cross sectional. Usia paling rentan adalah balita dan lansia.27 %. barbirostris. balabacencis. pria lebih lemah system imunnya daripada wanita.Budi? Jawab : Orang yang berusia sangat muda atau usia tua lebih rentan.57 % dan malaria falciparum asimtomatis 63. Bagaimana hubungan usia. Penyakit apa saja yang memiliki gejala seperti yang dialami Tn. Penelitian ini bertujuan melihat distribusi malaria falciparum dan malaria vivax di enam desa distrik supiori barat. leucosphyrus. balabacencis.84 % merupakan malaria asimtomatik. Populasi yang dipilih adalah semua golongan umur di enam desa distrik supiori barat. subpictus dan di pegunungan adalah An. Kesimpulan penelitian sebanyak 91. Data diambil menggunakan metode wawancara (aloanamnesis. Papua merupakan daerah endemis tinggi malaria yang meimiliki prevalensi malaria 18. sundaicus. dan An. c. keluhan malaria terjadi pada tubuh dengan daya tahan tubuh rendah dan umumnya dialami pada orang yang baru pertama kali dating ke daerah endemic malaria. Pada orang dewasa. An. Untuk daerah pantai di wilayah Sumatera. dibanding prevalensi malaria nasional 2. maculatus. maculatus.

Budi baru mengeluh setelah 1 bulan? Jawab : Plasmodium penyebab malaria memiliki masa inkubasi. Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam.            Demam tifoid Demam dengue ISPA Laeptospirosis/anikterik 2. Jika kaitannya dengan antibody mungkin secara logika dan analogi yaitu kita mengetahui bahwa plasmodium falciparum ini memiliki sifat dorman/tertidur dalam tubuh inangnya/ pejamu 11 . Mengapa Tn. Malaria berat (malaria dengan komplikasi) Radang otak Stroke Tifoid ensefelopati Hepatitis Leptospirosis berat Glomerulonefritis Sepsis Demam berdarah dengue demam Sakit Kepala DHF + + + + + + Abdominal Discomfort + + + + _ + + + + _ + + _ _ _ + + + _ Splenomegali Anemia Leukositosis Demam Tifoid + Leptospirosis + Brucellosis Common Cold Malaria + + + + + + + + e. Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies Plasmodium. Kemungkinan masa inkubasi dari plasmodium yang menyerang tuan budi baru timbul.

yang ditandai demam. b. Untuk kelangsungan hidupnya Plasmodium falcifarum memerlukan zat makanan yang diperoleh dengan cara mencerna hemoglobin dan vakuola makanan yang bersifat asam. masuknya kloroquin ke dalam vakuola makanan yang bersifat asam akan meningkatkan pH organel tersebut. Ovale P. amodiakuin. Kloroquin atau antimalaria yang mengandung cincin kuinolin lainnya membentuk kompleks dengan FP IX dalam vakuola. Malariae : 9 – 14 (12) hari : 12 . juga menghasilkan zat toksik yang disebut ferryprotoporphirin (FP IX).dan akan relaps/ menunjukkan gejala/ kambuh ketika system imun penderita menurun sehingga akan tampaklah gejala klinis berupa demam dsb. Vivax P. P. Kompleks kloroquin-FP IX juga mengganggu permeabilitas membrane parasit dan pompa proton membrane. Mekanisme kerja yang lain adalah dengan berinteraksi dengan DNA parasit dan menghambat DNA polymerase (kuinin). Waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis. dan meflokuin. Jika demikian berarti tuan budi ini telah terekspos/ terpapar terlebih dahulu dgn plasmodium falciparum baru dia mengalami relaps. Perubahan pH akan menghambataktivitas aspartase dan cysteinase protease yang terdapat di dalam vakuola makanan sehingga metabolisme parasit terganggu.18 (17) hari : 18 . Kloroquin juga bersifat basa lemah sehingga.Budi diberi obat antimalaria klorokuin dan obat simptomatis lainnya serta dilakukan pemeriksaan apusan darah perifer tipis dan tebal. Kompleks obat-FP IX tersebut sangat toksik dan tidak dapat bergabung membentuk pigmen. Hemoglobin yang dicerna selain menghasilkan asam amino yang menjadi nutrient bagi parasit.40 (28) hari 2) Tn. Kenapa diberi obat antimalaria klorokuin? 12 . a.17 (15) hari : 16 . Toksin kompleks obat-FP IX meracuni vakuola dan menghalangi mengambilan (intake) makanan sehingga parasit mati kelaparan. Falciparum P. Bagaimana mekanisme kerja obat anti malaria klorokuin? Jawab : Mekanisme aksi antimalaria yang memiliki struktur dasar kuinolin yaitu kuinin. kloroquin.

Artesunat. kontraindikasi. Kina. 2. dapat membantu menurunkan demam dan sakit kepala sehingga penderita dapat beristirahat lebih nyaman. Anak 13 . komposis dari obat antimalaria klorokuin? Jawab : Profilaksis a. Obat anti mual. c. dan paling aman diantara turunan turunannya jika digunakan dengan dosis yang benar. Primakuin. Klorokuin sering digunakan karena paling murah. dalam hal ini yang paling umum digunakan adalah paracetamol. Mekanisme kerja obat ini diduga berhubungan dengan sistesis asam nukleat dan nukleoprotein yaitu dengan menghambat DNA polymerase dan RNA polimerase. demam hilang dalam 24 jam dan parasitemia hilang dalam 48-72 jam. Jadi. Klorokuin bersifat skizontosida darah untuk semua spesies plasmodium manusia.Budi? 1. d. obat pilihan terhadap serangan akut. Jawab : Obat penurun panas (anti piretik) Penurun panas. e. dan Kuinidin. Apa saja contoh obat antimalaria? Jawab : Klorokuin. Dengan demikian tidak terbentuk skizon baru dan tidak terjadi penghancuran eritrosit yang menimbulkan gejala klinik. Meflokuin.Jawab : Klorokuin merupakan obat pilihan utama yang sangat efektif terhadap semua jenis parasit malaria dengan menekan gejala klinis serta menyembuhkan secara klinis dan radikal. Artemisin. keuntungan yang dimiliki mencakup efek schizonticidal yang cepat. Klorokuin merupakan antimalarial yang paling sering digunakan dan merupakan prototype original yang mendadari turunan turunannya. telah teruji. Kuin. Pirimetamin. Lumefantrin. Sulfadoksin. Apa saja contoh obat simptomatis yang digunakan untuk mengurangi gejala Tn. Bagaimana dosis. Skizontosid darah bekerja terhadap merozoit di eritrosit (fase eritrosit). misalnya antasida.

Pemberian ini dimulai 1-2 minggu sebelum berada di daerah endemik. Penggunaan Klorokuin pada wanita hamil masuk dalam kategori C.Klorokuin basa 5 mg/kg/minggu pada hari yang sama disetiap minggunya (tidak lebih dari 300 mg Klorokuin basa/dosis). Dosis bagi pasien gagal ginjal sebesar 50% dari dosis dewasa. Tetapi terapi radikal untuk infeksi P. Anak: . -Dewasa: Diberikan seminggu sekali pada hari yang sama. Dosis lazim untuk dewasa dapat diberikan pada wanita hamil yang menderita malaria ringan. vivak dengan menggunakan Primaquin harus ditunda sampai kehamilan 14 . Setelah 6 . 300 mg klorokuin basa selama di daerah malaria dan diteruskan selama 4 minggu sesudah meninggalkan daerah malaria. dilihat dari rasio risk and benefit. dilanjutkan 4-6 minggu setelah berada di daerah endemik.10 mg/kg BB pada hari pertama (maksimum 600 mg). ovale dan P. -Anak: Dosis setiap minggu 5 mg/kg berat badan. dimana transmisi malaria sangat intensif maka dosis pencegahan menjadi 600 mg setiap minggu dan diteruskan selama 4 minggu setelah meninggalkan daerah malaria.8 jam diberikan lagi 5 mg/kg BB. Dewasa Klorokuin basa 300 mg/minggu pada hari yang sama disetiap minggunya.Hari kedua dan ketiga masing-masing diberikan 5 mg/kg BB. dilanjutkan 4-6 minggu setelah berada di daerah endemik. -Hari kedua dan ketiga masing-masing diberikan 300 mg. b.8 jam diberikan lagi 300 mg. Sebaiknya tidak melebihi dosis dewasa. Kontraindikasi: -Penggunaan Klorokuin pada penderita gangguan fungsi ginjal sebaiknya dihindari atau dosisnya dikurangi karena Klorokuin diekskresi lewat urin. Penggunaan Klorokuin tersebut. setelah 6 . . Pada daerah-daerah tertentu. Pemberian ini dimulai 1-2 minggu sebelum berada di daerah endemik. Untuk serangan akut: Dewasa: -Hari pertama mula-mula diberikan 600 mg.

buang darah pertama yang keluar karena mengandung jaringan Ambil salah satu jari pasien ( tangan kiri.Hati-hati penggunaan bersamaan dengan obat-obat hepatotoksik.Hati-hati pemberian pada penderita penyakit hati dan ginjal. 4. jari telunjuk/tengah/manis) hindari yang ikut sehingga dikhawatirkan akan merusak preparat . . . 3.Hindari penggunaan pada wanita hamil. -Penderita dengan perubahan visual/retina.Hati-hati jika diberikan pada penderita defisiensi G-6-PD (Glukosa-6-fosfat dihidrogenase). Bagaimanakah cara pemeriksaan apusan darah perifer tipis dan tebal? Jawab : Cara Kerja 1. kecuali jika diperlukan supresi terhadap malaria.Hati-hati penggunaan pada ibu hamil karena klorokuin dieksekresikan di ASI. Sedangkan Klorokuin harus diteruskan dengan dosis 600 mg tiap minggu selama kehamilan. Antiseptic/ alcohol 70% Pijat jari agar konstriksi Tekan jari dan tusuk dengan jarum special/khusus Saat darah keluar. f. 5.Agar dilakukan pemeriksaan mata secara teratur pada pasien yang menggunakan obat ini dalam jangka waktu yang lama. . Klorokuin dapat diekskresi ke air susu. jadi tetesan darah yang kedua yang diambil kemudian diteteskan dipreparat 15 . . Peringatan dan Perhatian: . jempol 2.berakhir. . -Penderita yang hipersensitif terhadap 4-aminoquinolone. sehingga penggunaan Klorokuin pada ibu menyusui tidak direkomendasikan. Komposisi: Tiap tablet mengandung klorokuin fosfat 250 mg setara dengan klorokuin basa 150 mg. karena klorokuin dapat menembus plasenta.

namun gejala-gejalanya tidak berkurang. Tunggu 5 menit. 3) Walaupun telah minum obat klorokuin sesuai petunjuk dokter. a. Tetesan ke3 ambil jadikan melingkar searah jarum jam. Setelah 5 menit tadi preparat thin/ tipis kita fiksasi dengan methanol sebanyak 15- 20 tetes sampai tertutup semua 12.6. 14. 3 cc/ 60 tetes dan giemsa 3 tetes pada tabung reaksi karena masing-masing preparat akan diberi 1 cc/ 20 tetes 10. Tutup tabung reaksi dan aduk 7 kali supaya homogen dan jangan dikocok karena akan muncul gelembung 11. 9.Budi) Jawab : Gejala yang tidak berkurang setelah mengkonsumsi kloroquin sesuai petunjuk dokter menunjukkan terjadinya resistensi kloroquin (obat antimalaria) pada Plasmodium falcifarum. Kemudian tumpahkan isi dengan campuran (giemsa+buffer) tadi yang dalam tabung reaksi 15. Sebarkan namun tidak ada ruangan kosong dan terbentuk preparat tebal 8. Resistensi adalah kemampuan strain parasit untuk tetap hidup. Mengapa gejala yang dialami Tn. Tetesan ke 2 jadikan 1/3 usap denagan preparat lainnya secara proksimal kedistal sehingga membentuk preparat tipis/ thin 7. Sedangkan preparat thick/tebal kita hemoluse deng H2O/ ledeng/ aquades 15-20 tetes sampai tertutup semua 13. walaupun diberi pengobatan terhadap parasit dalam dosis standar atau dosis yang lebih tinggi yang masih dapat ditoleransi.Budi tidak berkurang walaupun telah minum klorokuin sesuai petunjuk dokter?(Hubungannya dengan resistensi mikroba dan mutasi gen pada Tn. berkembangbiak dan menimbulkan gejala penyakit.2. biarkan kering sambil mengerjakan giemsa Masukkan Buffer ph=7. 16 . pastikan preparat bersih dengan cara dibakar terlebih dahulu. 16. Cuci kedua preparat Preparat bisa diamati dibawah mikroskop Catatan: Jauhkan dari sinar matahari. melebar. Masing-massing tunggu 20 menit lagi.

Plasmodium yang resisten mempunyai jalur biokimia (biochemical pathway) lain untuk mengadakan sintesis asam amino sehingga dapat menghindarkan pengaruh klorokuin. terjadilah resistensi obat pada Plasmodium falcifarum. masih belum diketahui dengan pasti.Mengapa parasit malaria menjadi resisten terhadap klorokuin. Mekanisme mutasi gen terhadap resistensi obat:  Mekanisme resistensi obat oleh pgh1: terdapat dua strain. Kriteria untuk menentukan resistensi parasit malaria terhadap golongan 4-aminokuinolin (kloroquin) dilapangan telah ditentukan oleh WHO dengan cara in vivo dan in vitro. RI : Resistensi tingkat I dengan rekrusesensi lambat atau dini (pada minggu ke 3 sampai ke 4 atau minggu ke 2) R II R III :Resistensi tingkat II dengan jumlah parasit menurun pada tingkat I.Mutasi spontan dibawah tekanan otot. Gen pfcrt (Plasmodium Falcifarum Chloroquine Resistence Transporter) terletak pada kromosom 7. Ada beberapa kemungkinan yaitu : 1. dalam strain resisten terjadi over-expressed pada pgh1 yaitu meningkatnya konsentrasi kloroquin dari vakuola makanan ke dalam sitoplasma sebesar 40-50 kali lebih cepat dibandingkan dengan strain sensitif.  Mutasi gen pfcrt terhadap resistensi kloroquin: resistensi terhadap kloroquin dalam Plasmodium falcifarum dapat terjadi secara multigenik dan terjadi pada gen pengkode transporter atau biasa disebut pfcrt. Derajat resistensi terhadap obat secara in vivo dapat dibagi menjadi : S : Sensitive dengan parasit yang tetap menghilang setelah pengobatan dan diikuti selama 4 minggu. menyebabkan terjadinya mutasi pada transporter kedua yaitu pfmdr1. Jumlah uptake kloroquin ke dalam vakuola makanan Plasmodium sama antara strain sensitif dan strain resisten.Mungkin parasit itu tidak mempunyai tempat (site) untuk mengikat klorokuin sehingga obat ini tidak dapat dikonsentrasi dalam sel darah merah. Akibatnya. 2. Namun. Mutasi pada pfmdr1 ini dapat memodulasi level resistensi terhadap obat tersebut. 17 . yaitu strain resisten dan strain sensitif terhadap kloroquin. Adanya mutasi pada gen pengkode ini. 3. :Resistensi tingkat III dengan jumlah parasit tetap sama atau meninggi pada minggu ke I.

kecepatan multiplikasi. dari Sekolah Kedokteran Tropis Liverpool. Tetapi penelitian Profesor Steve Ward dan Dr Pat Bray. Mutasi gen pfmdr1: mutasi pada gen pengkode transporter kedua ini terjadi karena terjadi mutasi gen pfcrt sebelumnya. Mereka percaya PfCRT yang mungkin menjadi 'master' gen yang mengontrol resistensi parasit terhadap berbagai obat antimalaria. pemberian Klorokuin yang tidak adekuat Setelah di dalam tubuh. seperti mutasi gen cg2 dan factor geografi. Mutasi 2. yaitu basa Adenin (A) menjadi timim (T) sehingga terjadi perubahan asam amino dari aspargin menjadi tirosin. falciparum yang menginfeksi tubuh mang juhai telah resisten terhadap klorokuin. tinggal di daerah endemis. Rerisitensi ini disebabkan oleh adanya mutasi pada kromosom ketujuh yaitu perubahan dari lisin menjadi treonin pada asam amino yang ke 76. Faktor pejamu/host: sistem imunitas tidak baik. yaitu genotif K1 dan genotif 7G8. telah menunjukkan bagaimana protein yang disebut PfCRT dalam parasit telah memungkinkan untuk menjadi resisten terhadap obat antimalaria penting dengan menciptakan sebuah 'pintu belakang' dan benar-benar memindahkan obat keluar dari parasit oleh kebocoran. Efflux 18 . genetik (perbedaan antara imunitas bawaan dan imunitas didapat). jenis plasmodium. Mutasi ini dibedakan menjadi 2 genotip. Mekanisme resistennya mikroba terhadap antimikroba dapat melalui : 1. dan 4234. Mutasi pada genotif K1 berupa perubahan basa tunggal pada nukleotida ke 754. Sedangkan genotip 7G8 mengalami mutasi pada nukleotida 1094. Sedangkan pada P. Terdapat beberapa factor lain yang berperan dalam resistensi tersebut. Konsentrasi tingkat tinggi klorokuin dapat membunuh parasit yang hidup dalam sel. pfmdr1 bukanlah semata-mata factor penyebab resistensi kloroquin. umur kehamilan. parasit malaria mengalikan dan menyerang sel-sel darah merah. polimorfisme. 3598. Faktor parasit: pola resistensi obat. 3622. Namun. Destruksi/Inaktivasi 3. 2. 1. bekerja dengan Dr David Fidock di Albert Einstein College of Medicine di New York.

4. 2006) Pada dasarnya ada 3 jenis vaksin yang dikembangkan.Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet. Harijanto. Karena pengobatan single-drug akan meningkatkan kemungkinan parasit berkembang dan menjadi kebal terhadap obat. 2006.b.International Health and Travel. Vaksin terhadap malaria masih tetap dalam perkembangan. selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur hidupnya. 2006). (CDC.Kombinasi – kombinasi lain : kina dan tetrasiklin. (Harijanto. WHO. (Freedman. 2006. Vaksin sporozoit bertujuan mencegah sporozoit menginfeksi sel hati sehingga diharapkan infeksi tidak terjadi. yaitu vaksin sporozoit (bentuk intrahepatik). pengobatan sebaiknya digunakan secara kombinasi. Untuk mencegah kondisi ini. obat malaria lain dapat diberikan . maka sekarang pembuatan vaksin ditujukan untuk menekan pertumbuhan Plasmodium jenis ini.vaksin ini dikembangkan melalui ditemukannya antigen circumsporozoit.Kina 3 x 2 tablet selama 7 hari.2007. Saat ini WHO merekomendasikan regimen baru untuk penatalaksanaan malaria. Harijanto. vaksin terhadap bentuk aseksual dan vaksin transmission blocking untuk melawan bentuk gametosit. yaitu kombinasi obat-obatan yang biasa dikenal sebagai Artemisinin-based Combination Therapies (ACTs) dan bukan single-drug. Resistensi obat terhadap seringnya penggunaan obat anti malaria telah berkembang dengan cepat. terutama malaria akibat P falciparum.Falciparum terhadap klorokuin sudah dapat dipastikan. Vaksin ini dengan teknologi DNA dan diharapkan akan memberikan respon yang baik dan harga yang tidak begitu mahal. antara lain : 1. (Harijanto. 2009. Roestenberg. minosiklin 2 x 100 mg/hari selama 7 hari. multivalen (terdiri dari beberapa antigen). DEPKES RI. 3. Bagaimana penatalaksanaan dari kasus ini? Jawab : Bila resistensi P. 2006) 19 . Oleh karena yang paling berbahaya adalah P falciparum. 2. Hal yang menyulitkan adalah banyaknya antigen yang terdapat pada Plasmodium sp. 2006. sehingga memberikan respon multi-imun.Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250 mg/hari selama 7-10 hari. 2009) HOFFMAN berpendapat bahwa vaksin yang ideal adalah vaksin yang multi-stage (sporozoit-aseksual).

disebabkan oleh Plasmodium malariae. Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan laboratorium Tn. dimana penderita merasakan demam muncul setiap hari ketiga. perdarahan. yaitu: + ++ +++ ++++ 1-10 parasit aseksual per 100 bidang film tebal 11-100 parasit aseksual per 100 bidang film tebal 1-10 aseksual parasit per bidang film tunggal tebal > 10 aseksual parasit per bidang film tunggal tebal Hal ini penting untuk mengetahui bahwa kepadatan parasit darah berkorelasi dengan tingkat keparahan dari presentasi klinis. merupakan malaria yang paling patogenik dan seringkali berakibat fatal. Merupakan penyebab kira-kira 43% kasus malaria pada manusia  Malaria quartana. Apa jenis-jenis malaria?(perbedaan. anemia berat.Budi? Jawab : Menunjukkan densitas parasitemia atau kepadatan parasit (plasmodium).S/AS01E dalam mencegah malaria di lapangan. b. karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat seperti cerebral malaria (malaria otak). disebabkan oleh Plasmodium falciparum. gagal ginjal akut. a. Menyebabkan kira-kira 7% malaria didunia. 2008) 4) Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan Plasmodium falciparum(+++). penderita merasakan demam setiap hari keempat. syok. sesak nafas. Jenis penyakit malaria ini adalah yang terberat.penyebab) Jawab : Jenis-jenis Malaria digolongkan menjadi 4.  Malaria tropica. mereka mendapatkan hasil bahwa RTS. disebabkan oleh Plasmodium vivax. yaitu:  Malaria tertiana. Hasil (+++) menunjukkan keadaan parasitemia yaitu terdapat 1-10 Palsmodium falciparum aseksual per bidang film tunggal tebal (perhitungan jumlah semi kuantitatif). Dari hasil penelitian Bejon et al (2008) tentang pengaruh vaksin RTS.S/AS01E sangat menjanjikan sebagai salah satu kandidat vaksin untuk mencegah malaria. 20 . dengan target anak usia 5-17 tahun.Uji coba lapangan terhadap manusia tampaknya memberikan perlindungan yang bermanfaat. (Bejon at al.

bahkan memasuki fase koma dan kematian yang mendadak. 3. Pada anak. disertai pembesaran limpa. Stadium demam (Hot stage). Stadium dingin (cold stage). Mual-mual kadang-kadang diikuti muntah. disebabkan oleh Plasmodium ovale. 2. yaitu kekebalan alamiah dan kekebalan yang didapat. Stadium berkeringat (sweating stage).  Ikterus d. Ada dua macam kekebalan. Nafsu makan menurun. Apa saja factor risiko dari malaria? 1. Malaria jenis ini jarang sekali dijumpai. Kekebalan alamiah timbul tanpa memerlukan infeksi lebih dahulu. Jawab : Kekebalan / Imunitas Kekebalan pada penyakit malaria dapat didefinisikan sebagai adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan plasmodium yang masuk atau membatasi perkembangbiakannya. Gejala klinis lain sebagai berikut :        Badan terasa lemas dan pucat karena kekurangan darah dan berkeringat. umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat. Malaria berat. c. seperti gejala diatas disertai kejang-kejang dan penurunan. Apa saja gejala malaria? Jawab : Gejala klasik malaria merupakan suatu paroksisme biasanya terdiri atas 3 stadium yang berurutan yaitu : 1.dll. khususnya pada infeksi dengan plasmodium Falciparum. makin muda usia makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret (diare) dan pusat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat kunjungan ke atau berasal dari daerah malaria. Dalam keadaan menahun (kronis) gejala diatas. Sakit kepala yang berat.Penderita Malaria jenis ini mengalami demam tidak teratur dengan disertai gejala terserangnya bagian otak. terus menerus.  Malaria pernisiosa. Kekebalan yang didapat ada yang merupakan kekebalan aktif sebagai akibat 21 .

ovale sebagian sporozoit yang menjadi hipnozoit setelah beberapa waktu akan aktif kembali dan mulai dengan skizogoni eksoeritrosit sekunder. 2. sinar matahari. arus air 6. kelembaban. keberadaan kandang ternak. Sebagian besar menyerang eritrosit yang berada di sinusoid hati tetapi beberapa difagositosis. Lingkungan fisik : Suhu.vivax dan P. Ras atau Bangsa 8. 5. 3. Umur Pada usia produktif. Parasit kemudian bermultiplikasi membentuk beribu-ribu merozoit. sehingga mudah terkena malaria. biologic. Lingkungan kimiawi. 4.vivax dan p. dinding rumah dari kayu/ papan. skizon pecah dan mengeluarkan merozoit yang kemudian masuk ke sirkulasi dan menyerang eritrosit. sosial budaya 7. Proses ini disebut skizogoni praeritrosit atau eksoeritrositer primer. Bagaimana mekanisme malaria sesuai skenario? Jawab : Bila nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria dalam kelenjar liurnya menusuk hospes. tetapi sebagian lagi masuk ke hepatosit menjadi trofozoit hati lalu menjadi skizon dan hipnozoit (pada P. hujan. Jenis kelamin Perempuan memiliki sistem imun yang lebih kuat daripada laki-laki. e. sehingga memungkinkan sistem imunnya menurun. angin. sehingga lakilaki lebih mudah terkena malaria. Pada akhir fase praeritrosit ini. Pada P. Proses 22 . pendapatan rendah.dari infeksi sebelumnya atau vaksinasi. Kasa tidak dipasang pada semua ventilasi. sporozoit yang berada dalam liurnya akan masuk ke tubuh hospes dan melalui sirkulasi sampai akhirnya masuk ke dalam sel hati (hepatosit) setelah 1/2 -1 jam kemudian. dan ada juga kekebalan pasif didapat melalui pemindahan antibodi dari ibu kepada anak atau pemberian serum dari seseorang yang kebal penyakit. pendidikan rendah. Sebagian parasit dihancurkan oleh fagosit. Lingkungan tempat tinggal Seseorang yang tinggal di daerah endemic malaria akan berisiko terkena penyakit malaria.ovale). seseorang akan lebih sering beraktivitas. kebiasaan keluar rumah malam hari.

Keterkaitan Antarmasalah Tn. Jika nyamuk anopheles betina menghisap darah hospes ini.tersebut dianggap sebagai penyebab timbulnya relaps. Selanjutnya. 30 tahun. Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Sebagian merozoit lainnya akan membentuk mikrogametosit dan makrogametosit. sehingga kekambuhnanya disebabkan oleh proliferasi stadium eritrositik dan dikenal sebagai rekrudensi. Merumuskan Keterbatasan dan Learning Issues 23 tebal . P. berkeringat. Di dalam eritrosit. Budi. sebagian merozoit hasil pecahan skizont akan menginfeksi eritrosit lainnya. Zigot berkembang menjadi ookinet yang menembus dinding lambung nyamuk. maka pada tubuh nyamuk terjadi pembuahan dan menghasilkan zigot.malariae tidak mempunyai fase eksoeritrosit sekunder. menggigil. bertransmigrasi ke Amaroppa Papua Demam. sakit kepala. kemudian skizon akan pecah dan mengeluarkan merozoit yang berjumlah 6-36. merozoit akan berkembang dari stadium tropozoit sampai dengan skizon. falciparum dan P. mual-mual Diberi obat anti malaria klorokuin dan obat simptomatis Pemeriksaan apusan darah perifer tipis dan tebal Gejala tidak berkurang Plasmodium Pemeriksaan falciparum (+++) apusan darah perifer tipis dan V. Pada dinding luar lambung nyamuk. Eritrosit yang telah berparasit biasanya akan menjadi lebih elastic dan bagian dindingnya berubah lonjong (knob). Sporozoit inilah yang akan ditularkan lagi kepada manusia melalui gigitan nyamuk. Dikenal dengan siklus eritrositer. ookinet berubah menjadi ookista dan kemudian menjadi sporozoit.

Malaria 24 . mekanisme. Tatacar a pemeri ksaan Plasmodium falciparum Definisi Siklus . Sintesis Masalah 1. Penyeb ab Resistensi Klorokuin Pengar uh Penyebab. textbook. jenis pengaruh hidup.Journal. pendapat malaria VI. mekanisme Hubungan resistensi. secara spesifik gejala.Bahasan What I What I don‟t know know What I have to prove How I will learn Malaria Definisi Obat-obat antimalaria Patogenesis . mengatasi Cara Plasmodium falciparum dengan resistensi mikroba Mutasi Gen Jenis mutasi. dan expert. Plasmodium falciparum malaria berat penyebab Gambaran Peran apusan malaria pemeriksaan darah pada resistensi terhadap Pengaruh mutasi gen Hubungan mutasi gen terhadap DNA dan dengan metabolisme tubuh mikroba resistensi Internet. mengatasi Hubungan cara klorokuin Plasmodium falciparum Pemeriksaan Apusan Darah Jenis. mekani sme Resistensi Mikroba Definisi Penyebab. jenis.

1%). terutama pada negara dengan sosioekonomi rendah serta beriklim tropik-subtropik. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤ 0.9% (rentang: 0. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan 25 .Sekitar separuh penduduk dunia memiliki resiko terhadap malaria. Kalimantan Timur. Malaria adalah penyakit yang mengancam keselamatan jiwa yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Setiap 30 detik seorang anak meninggal akibat malaria dan terdapat 247 juta kasus malaria tahun 2006 serta setidaknya 1 juta penderita meninggal. dan Papua). Di 11 provinsi. Kalimantan Barat. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Barat.5%. Kep Riau. Bengkulu. Papua Barat. berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi.0%). Papua (18. yang sebagian besar merupakan anak-anak Afrika. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur.EPIDEMIOLOGI Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa).54 tahun). dan cenderung tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah. Sumatera Selatan. prevalensi pada bayi relatif rendah. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar.4%) dan NTT (12. sebagian besar berada di Indonesia Timur. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional.1%). Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Jambi. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk vektor malaria. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat ekonomi rendah. serta dapat mengakibatkan kematian.2% 26.

Kepulauan Riau. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47. betina. (CDC. penyebab malaria meliputi Plasmodium falciparum. 2008) PENULARAN Seseorang terinfeksi malaria karena gigitan nyamuk yang terinfeksi. Papua Barat. Di NTT. 26 . Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali. apabila nyamuk tersebut menghisap darah manusia yang telah memiliki parasit ini di dalamnya. 2008. walaupun kasus malaria klinis tinggi. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kalimantan Barat. Bengkulu. Plasmodium vivax. hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit. Bangka Belitung. 2000. 2007) PENYEBAB Malaria disebabkan parasit Sporozoa darah jenis Plasmodium sp. Brooks et al. dan Bengkulu. 2007. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (< 10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (> 50%) yaitu Kalimantan Timur. WHO.. namun yang paling mematikan adalah jenis Plasmodium falciparum. Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Bangka Belitung.. (DEPKES RI. sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria.7%. DEPKES RI. International Travel and Health. Oregon Health Division. Empat jenis Plasmodium sp. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (> 50%) yaitu Papua.diagnosis oleh tenaga kesehatan. Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. 2006. Seekor nyamuk akan terinfeksi parasit Plasmodium sp. Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (< 35%) terdapat di provinsi di Jawa. Kep Riau. Nyamuk yang bertindak sebagai vektor penyakit ini adalah Anopheles sp. Parasit ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi.

biasanya berlangsung antara 8-37 hari.Tingkat penularan malaria dapat berbeda tergantung pada faktor setempat.malariae). MASA PRE-LATEN Berlangsung sejak saat infeksi sampai ditemukan parasit malaria dalam darah untuk pertama kali. kedekatan antara lokasi perkembangbiakan nyamuk dengan manusia. tergantung pada spesies parasit (terpendek untuk p. pada beratnya infeksi dan pada pengobatan sebelumnya atau pada derajat resistensi hospes. karena melewati jumlah ambang parasit telah mikroskopik (microscopic treshold). Ciri khas demam malaria adalah periodisitasnya. falciparum dan terpanjang untuk p. MANIFESTASI KLINIS Perjalanan penyakit malaria terdiri atas serangan demam yang disertai oleh gejala lain dan diselingi oleh periode bebas penyakit. dan jenis nyamuk di wilayah tersebut. PERIODISITAS MASA TUNAS INTRINSIK KETERANGAN Pada malaria adalah waktu antara sporozoit masuk dalam badan hospes sampai timbulnya gejala demam. 27 . seperti pola curah air hujan (nyamuk berkembang biak pada lokasi basah).

dan perlangsungan lebih pendek. Plasmoduim Malariae (Malaria Kwartana) Plasmodium Ovale (Malaria Ovale) Berlangsung ringan.MASA TUNAS EKSTRINSIK Parasit malaria yang ditularkan melalui nyamuk kepada manusia adalah 12 hari untuk plasmodium falciparum. dan dapat sembuh spontan. banyak keringat. 13-17 hari untuk plasmodium ovale dan vivax. Panas ireguler dan tidak periodik. anemia jarang terjadi. dan 28-30 hari untuk plasmodium malariae (malaria kuartana). splenomegali ringan. nausea. Serangan paroksismal terjadi tiap 3-4 hari. Serangan menggigil jarang terjadi dan splenomegali jarang sampai dapat teraba. kelainan urin. Gejala klinis hampir sama dengan Malaria Vivax. pneumonia aspirasi. sering terjadi hiperpirekisia dgn T 40º. Splenomegali. dan diare. Infeksi berat: Nadi cepat. Gejala Lain: Konvulsi. mual. KLASIFIKASI PLASMODIUM Plasmodium falcifarum (Malaria Tropika) MANIFESTASI KLINIS Gejala prodromal: Sakit kepala. muntah. perasaan dingin. biasanya pada sore hari dan parasitemia sangat rendah <1%. lesu. muntah. nyeri belakang/tungkai. lebih rendah. 28 . diare berat dll. puncak panas. lebih ringan. dan anemia.

sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Daur hidup spesies malaria pada manusia yaitu: a. Fase eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit membentuk tropozoid.Skizogoni eksoeritrositik mungkin dapat menyebabkan reaski leukosit dan fagosit. sedangkan sporozoit dan gametosit tidak menimbulkan perubahan patofisiologik. o Serangan paroksismal biasanya terjadi waktu sore hari. Di dalam lambung nyamuk terjadi penggabungan dari gametosit jantan dan betina menjadi zigote. kadang-kadang remitten atau intermitten. o Parasitemia mulai menurun setelah 14 hari. o Pada akhir minggu ke-5 panas mulai turun secara klinis. Patofisiologi pada malaria belum diketahui dengan pasti. sporozoit kecil yang memasuki kelenjar ludah nyamuk (Tjay & Rahardja. limpa masih membesar dan panas masih berlangsung.Masa antara permulaan infeksi 29 . yang kemudian mempenetrasi dinding lambung dan berkembang menjadi Ookista. dan di dalam tubuh nyamuk (Sporogoni).Peran beberapa mediator humoral masih belum pasti. Proses berlanjut menjadi trofozoit. tetapi mungkin terlibat dalam patogenesis terjadinya demam dan peradangan. 2002.skizonmerozoit.Setelah beberapa siklus. sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat berkembang menjadi bentuk.Perubahan ini cepat reversibel pada mereka yang dapat tetap hidup (survive). o Pada minggu kedua limpa mulai teraba. Setelah 2.Perubahan patofisiologi pada malaria terutama berhubungan dengan gangguan aliran darah setempat sebagai akibat melekatnya eritrosit yang mengandung parasit pada endotelium kapiler. o Pada akhir minggu tipe panas menjadi intermitten da periodik setiap 48 jam dengan gejala klasik trias malaria.Dalam waktu 3 minggu. Gametosit ini tidak berkembang akan mati bila tidak di hisap oleh Anopeles betina. Fase seksual Fase ini terjadi di dalam tubuh manusia (Skizogoni).Plasmodium (Malaria Tertiana) Vivax o Pada hari pertama panas ireguler. pada saat tersebut perasaan dingin atau menggigil jarang terjadi.162-163).bentuk seksual jantan dan betina.3 generasi merozoit dibentuk.Berbagai macam teori dan hipotesis telah dikemukakan. hal .

Fase Aseksual Terjadi di dalam hati. sedangkan masa tunas/ incubasi intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam. penularan terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi parasit. sehingga menyebabkan anemia dan anoksia jaringan. Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan (proses skizogoni dengan menghasilakn skizon) 6-9 hari kemudian skizon masak dan melepaskan beribu-ribu merozoit. b.Sel darah mengandung hemoglobin yang dapat mengangkut 20 ml O2 dalam 100 ml darah. Secara garis besar semua jenis Plasmodium memiliki siklus hidup yang sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia (aseksual) dan sebagian ditubuh nyamuk.Dengan hemolisis intra vaskular yang berat. menyengat manusia dan dengan ludahnya menyuntikkan “ sporozoit “ ke dalam peredaran darah yang untuk selanjutnya bermukim di sel-sel parenchym hati (Pre-eritrositer). 2. Dari sebagian merozoit memasuki sel-sel darah merah dan berkembang di sini menjadi trofozoit. 30 .(Mansjoer. 2001.Eritrosit diproduksi oleh hormon eritropoitin di dalam ginjal dan hati. Penghancuran eritrosit. antara lain limpa atau terdiam di hati dan di sebut “ekso-eritrositer sekunder“.” Terjadi di dalam darah. 409).Setiap saat sel darah merah pecah. sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang di lepaskan dapat memasuki siklus di mulai kembali. dapat terjadi hemoglobinuria (blackwater fever) dan dapat mengakibatkan gagal ginjal. tetapi juga oleh fagositosis eritrosit yang mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit. Fase di dalam hati ini di namakan “ Pra eritrositer primer.sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten. hal ini di sebabkan oleh merozoit dan protein asing yang di pisahkan.Sel darah merah berada dalam sirkulasi lebih kurang 120 hari. penderita merasa kedinginan dan demam. hal. Mediator endotoksin-makrofag. Penghancuran eritrosit ini tidak saja dengan pecahnya eritrosit yang mengandung parasit. Patofisiologi malaria adalah multifaktorial dan mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut : 1. Sel darah di hancurkan di limpa yang mana proses penghancuran yang di keluarkan diproses kembali untuk mensintesa sel eritrosit yang baru dan pigmen bilirubin yang dikelurkan bersamaan dari usus halus. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain. Dalam waktu 48 -72 jam.

falciparum.48 48 48 Jenis Malaria Tropika Tertiana Tertiana 31 .Protein kaya histidin P.Endotoksin tidak terdapat pada parasit malaria. ditemukan dalam darah hewan dan manusia yang terjangkit parasit malaria. TNF dan sitokin lain yang berhubungan. falciparum ditemukan pada tonjolan-tonjolan tersebut. TNF dapat juga menghancurkan plasmodium falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi parasit pada endotelium kapiler. menempel pada endotelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang membendung kapiler dalam alam-alat dalam. mungkin berasal dari rongga saluran cerna. TNF adalah suatu monokin . menimbulkan demam. Eritrosit yang terinfeksi plasmodium falciparum stadium lanjut dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs) pada permukaannya.Eritrosit yang terinfeksi. eirtosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam perubahan patofisiologi malaria. hipoglikemia. sehingga skizogoni berlangsung di sirkulasi alat dalam. sekurang-kurangnya ada empat macam protein untuk sitoaherens eritrosit yang terinfeksi plasmodium P. Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi.Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat menyebabkan kematian.Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung plasmodium falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam alat dalam. Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang bocor (menjadi permeabel) dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan.Pada saat skizogoni. 3. Plasmodium Falciparum Vivax Ovale Masa Inkubasi (Hari) 12 (9-14) 13 (12-17) à 12 bulan 17 (16-18) Tipe Panas (Jam) 24.Parasit malaria itu sendiri dapat melepaskan faktor neksoris tumor (TNF).Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan malaria falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas.36. bukan di sirkulasi perifer. hiperparasitemia dan beratnya penyakit. hipoglimeia dan sindrom penyakit pernafasan pada orang dewasa (ARDS = adult respiratory distress syndrome) dengan sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru.

Apalagi bila penggunaan antibiotik kurang terkontrol. yaitu mikroba belum pemah terjadi 32 . sehingga resistensi mikroba terhadap zat penghambat pertumbuhan tersebar semakin luas dan dapat menjadi ancaman keberhasilan memberantas penyakit infeksi. Konsentrasi penghambatan minimum ini sangat penting karena pada pemberian antibiotik. di atas batas berarti peka dan di bawah batas berarti resisten.Malariae 28 (18-40) 72 Kuartana Keterangan tabel : Masa Inkubasi Plasmodium sp. dikenal sebagai resistensi inheren. Pada prinsipnya ketiga macam pola kepekaan mikroorganisme terhadap antibiotik. Sayangnya keberhasilan tersebut sedikit terganggu dengan munculnya strainstrain mikroba yang mampu membentuk pertahanan terhadap antibiotik tertentu. Selain itu organisme yang semula peka terhadap suatu antibiotik. sehingga mereka tidak peka terhadap antibiotik. Resistensi Mikroba Antibiotik yang efektif dan aman telah berkembang begitu pesat sehingga dapat mengurangi mortalitas akibat penyakit infeksi secara drastis. sedangkan gram negatip berkisar 1000 unit/ml. Setiap organisme mempunyai batas konsentrasi antibiotik yang menunjukkan kepekaan mereka. Adapula resistensi non genetic yaitu bakteri pada stadium istirahat. maka dikenal resistensi kromosomal dan resistensi ekstrakromosomal. Sifat resistensi atau kepekaan mikroorganisme terhadap antibiotic terdapat pada gen. Padahal kenyataannya kedua kelompok tersebut peka terhadap penisilin. sedangkan bakteri gram negatip dianggap lebih resisten. pada suatu saat dapat berubah sifat genetiknya menjadi tidak peka atau memerlukan konsentrasi lebih besar. Keampuhan senyawa ini tidak disangsikan lagi. konsentrasi tersebut harus dapat tercapai di tempat target. Sebagai contoh. Resistensi ini dikenal sebagai resistensi acquired. Hal ini tidaklah mengherankan karena organisme hidup selalu beradaptasi dengan lingkungannya. umumnya bakteri gram positip dianggap lebih peka terhadap penisilin. Sifat genetik yang menentukan suatu mikroorganisme sejak awal tidak peka terhadap antibiotik. 2. Perbedaan kepekaan organisme satu sama lain yaitu pada konsentrasi penghambatan minimum. Perubahan ini karena gen mendapatkan elemen genetik yang membawa sifat resistensi. Oleh karena itu adaptasi mikroorganisme terhadap antibiotik toksik juga talc terelakkan. Resistensi atau kepekaan sebenarnya bukanlah sifat yang mutlak tetapi tergantung pada konsentrasi antibiotik. Perbedaannya konsentrasi penghambatan minimum gram positip berkisar 1 unit/ml. resistensi akan semakin meningkat.

Fusi mungkin dapat terjadi antara dua spesies yang berbeda. tetapi juga dapat terjadi pada antibiotik dengan struktur sangat berbeda. Salmonella. Mutasi selain dapat menimbulkan resistensi. tidak hanya ke spesies yang sama tetapi juga ke spesies atau genus berbeda. Intervensi bakteriophag menyebabkan DNA bakteri masuk ke bakteri lain. Klebsiella. Mutasi gen dapat terjadi secara spontan tanpa adanya antibiotic yang bersangkutan dan mikroorganisme tersebut dapat berubah menjadi resisten. mutasi merupakan penyebab yang sering dijumpai. Transduksi terjadi dengan perantaraan bakteriophag. Transfonnasi mungkin juga merupakan mekanisme terjadi nya resistensi. sehingga resistensi tersebut dapat diturunkan dari generasi ke generasi. merupakan ancaman untuk membasmi penyakit infeksi yang disebabkan oleh organism gram negatip. Penyebaran resistensi dengan konjugasi pada bakteri gram negatip yang terdapat pada binatang dan manusia. maka sel bakteri yang terinfeksi tersebut akan menjadi resisten terhadap antibiotik tertentu. mikroba berubah sifat dari peka menjadi kurang peka dan mikroba resisten terhadap antibiotik. kloramphenikol dan penisilin. Shigella. 33 . transformasi atau konjugasi. Mekanisme ini sangat penting sebagai salah satu cara penyebaran gen resisten antibiotik. terutama bacilli gram negatip. Konjugasi merupakan pemindahan gen resisten dari satu sel ke sel lain dengan kontak langsung melalui sexpilus. bisa berkurang atau meningkat. Berkembangnya resistensi mikroba dengan cara ini antara lain terjadi pada aminoglikosida. Transduksi banyak dilaporkan sebagai cara pemindahan sifat resistensi antibiotic yang sering terjadi di antara strain Staphylococcus aureus. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan resistensi. jika bahan genetik tersebut membawa gen yang menimbulkan sifat resistensi. Resistensi mikroba juga dapat terjadi secara silang yaitu resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik tertentu juga memperlihatkan resistensi terhadap antibiotik lain. selain itu resistensi juga dapat diperoleh melalui transfer bahan genetik dari bakteri resisten seperti transduksi. Vibrio cholerae dan Pseudomonas. juga dapat menyebabkan perubahan virulensi dan patogenisitas mikroba tersebut. Di antara mikroorganisme yang diketahui mampu memindahkangen resisten kebakteri peka dengan cara ini antara lain E. coli.resistensi. tetrasiklin. Bakteri gram negatip dapat memindahkan sifat resistensi. Di samping itu fusi antara dua sel mungkin juga menjadi cara berkembangnya resistensi. Berkembangnya resistensi mikroba terhadap antibiotik meliputi perubahan genetik. Resistensi silang biasanya terjadi di antara antibiotik yang mempunyai struktur kimia hampir sama seperti derivat penisilin. Serratia. di mana phage dapat membawa plasmid (DNA ekstra kromosom) pengkode penisilinase.

Enzim ini mempunyai peranan besar dalam menyebabkan resistensi bakteri gram positip terhadap penisilin dan sefalosporin. Demikian pula sefalosporin juga didegradasi oleh beta-laktamase. Banyak bakteri yang mampu memproduksi beta. 34 . 4) Meningkatnya konsentrasi metabolit yang antagonis kompetitif dengan penghambat. meliputi bakteri gram positip dan negatip. Jika gen merupakan bagian dari plasmid. transduksi dan konjugasi merupakan cara yang paling lazim sebagai penyebab penyebaran mikroba resisten. Bakteri gram negatip umumnya menghasi!kan beta-laktamase lebih sedikit disbanding gram positip dalam keadaan diinduksi. 2) Terjadinya perubahan pada tempat yang peka terhadap anti mikroba. 5) Mikroba membuat jalan metabolisme baru. Fisiologi produksi beta-laktamase kebanyakan bakteri gram negatip berbeda dari bakteri gram positip. 3) Hilangnya permeabilitas sel terhadap antimikroba. MEKANISME RESISTENSI MIKROBA Mekanisme terjadinya resistensi terhadap senyawa antimikroba antara lain : 1) Mikroba mensintesis enzim yang dapat mengubah zat aktif menjadi tidak aktif. Contoh resistensi yang terjadi akibat mikroba mensintesis enzim yaitu resistensi mikroba terhadap penisilin. Organisme tersebut menghasilkan enzim penisilinase yang mampu memecah cincin beta-laktam penisilin menjadi penicilloic acid yang tidak aktif. maka pemindahan sifat resisten akan lebih mungkin terjadi daripada apabila gen ada dalam kromosom. Dengan adanya penisilin atau sefalosporin. Pada gram negatip umumnya enzim ini terikat sel dan tidak dilepas ke lingkungan sekitarnya. 6) Memompa (efflux). namun potensi gen resisten juga dipengaruhi oleh lokasi gen dalam bakteri. Dari cara-cara tersebut.bergabung membentuk struktur tunggal dan sel baru mengandung DNA dari kedua sel induk. kecuali Enterobacter dan Proteus yang mempunyai beta laktamase inducible sehingga dapat memproduksi enzim cukup banyak. laktamase. Pada organisme gram positip. beta laktamase merupakan enzim inducible.

kanamisin dan paromomisin mengalami phosporilasi dengan adanya enzim neomisin-kanamisin phospotransferase. Enzim gentamisin adeniltransferase dapat merubah gentamisin c. Resistensi beberapa strain bakteri gram positip dan negatip terhadap kloramphenikol juga terjadi. Perubahan pada tempat yang peka terhadap antimikroba. juga neomisin. aktivitasnya meningkat terhadap gram negatip. Oleh karena itu antibiotik ini berguna melawan infeksi yang disebabkan bakteri gram positip resisten benzyl penisilin. gentamisin atau aminoglikosida lain. Asetilasi. sehingga streptomisin tidak dapat berikatan dalam waktu lama dan akibatnya antibiotik ini tidak dapat mempengaruhi biosintesis protein. terutama berguna melawan Pseudomonas. Untuk itu perlu tipe antibiotik baru yang dapat memenetrasi sel dengan cara lain misalnya dengan difusi. karena asetilasi menjadi senyawa tidak aktif. 35 . Fosforilasi terjadi pada streptomisin oleh enzim streptomisin phospotransferase. Strain resisten ini memproduksi kloramphenikol asetiltransferase yang merupakan enzim inducible pada S. Contoh lain yaitu resistensi terhadap eritromisin yang terjadi karena perubahan protein ribosom subunit 50 s pada S. aureus. Carbenicillin sedikit aktif terhadap bakteri gram positip. kanamisin dan tobramisin menjadi derivat adenil. methicillin kurang aktif dibanding benzil penisilin. menjadi derivat adenil oleh enzim streptomisin-spektinomisin adeniltransferase. Saat ini telah banyak dikembangkan derivat penisilin yang mempunyai rantai samping berbeda dan mampu menghambat pertumbuhan bakteri penghasil beta laktamase yang resisten terhadap benzil penisilin. Terhadap S. Biasanya pada bakteri gram positip.produksinya meningkat. misalnya methicillin dan carbenicillin. adenilasi dan asetilasi. Jika sel menjadi tidak permeabel. Neomisin. Disini terjadi perubahan komponen ribosom subunit 30 s. Enzim ini hanya bekerja pada streptomisin. aureus yang tidak memproduksi beta laktamase. Adenilasi juga dapat terjadi pada streptomisin. Contoh mekanisme ini yaitu hilangnya kepekaan ribosom terhadap streptomisin. aureus. tetapi aktif terhadap penghasil beta laktamase. misalnya enzim kanamisin asetiltransferase mengasetilasi kanamisin. Resistensi beberapa bakteri gram negatip terhadap berbagai aminoglikosida juga karena inaktivasi secara enzimatis yaitu fosforilasi. Hilangnya permeabilitas sel terhadap antibiotik. diduga juga merupakan salah satu cara terbentuknya mikroba resisten. maka antibiotik tidak dapatmenembus ke dalam set. Padahal kegiatan antibiotik ini mempengaruhi biosintesis protein pada sel yang peka. enzim ini dilepas dari sel dan merusak antibiotik yang ada di sekitarnya. juga dapat menyebabkan resistensi mikroba.

Sebagai contoh mutan E. Jadi ada perbedaan antara 36 . coil telah meningkatkan resistensinya terhadap ampisilin dan berkaitan dengan perubahan polisakarida. dengan perubahan genetika dan biokimia. mungkin disebabkan oleh barier permeabilitas yaitu adanya lapisan lipoprotein dan lipopolisakarida pada gram negatip. fungsi transport ini berkurang dan resistensi terhadap sikloserin meningkat. dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. mekanisme resistensi terhadap antimikroba mungkin telah berkembang sebelum zat ini digunakan oleh manusia di bidang medis. veteriner atau pertanian. Selain perubahan tersebut. coli resisten dapat membentuk jalan metabolisme baru dalam mensintesis THFA (asam tetrahidrofolat) karena adanya sulfatiazol. Misalnya pada mutan E. Secara kompetitip antimikroba digantikan dari tempat ikatannya. mikroba dapat membuat jalan metabolisme baru atau lain. coil yang resisten terhadap D-sikloserin. akumulasi antibiotik ini terjadi dengan sistem transport yang secara normal membawa Dalanin atau glisin. Sebagai contoh mutan resisten terhadap sulphonamid. Di samping itu. Beberapa pneumokoki resisten terhadap streptomisin dan eritromisin mungkin juga karena mengembangkan barier permeabilitasnya. Pada mutan. antimikroba gagal memasuki sel karena ada perubahan beberapa komponen yang menyebabkan hilangnya fungsi transport. Reaksi ini terjadi karena mikroorganisme tersebut menghindari metabolisme normal yang dihambat oleh antimikroba. Resistensi dapat terjadi dengan cara meningkatkan sintesis metabolis yang antagonis kompetitip terhadap antimikroba. Perubahan mekanisme transport antibiotik mungkin juga menyebabkan hilangnya permeabilitas sel terhadap antibiotik. mutan E. path sel yang peka. Antibiotik memasuki sel dengan mekanisme transport spesifik. Sebagai contoh. Pada sel ini konsentrasi para aminobenzoic acid lebih tinggi daripada sel yang peka terhadap sulphonamid. Pada beberapa sel resisten. Bila senyawa antimikroba menghambat pertumbuhan dengan cara antagonis kompetitip terhadap metabolit normal. untuk menghindari penghambatan antimikroba terhadap jalan metabolisme yang normal. Bakteri gram negatip relatip lebih resisten dibandingkan gram positip terhadap antibiotik tertentu. maka resistensi terhadap antimikroba ini mungkin karena meningkatnya produksi metabolit tersebut. Dengan cara ini mikroorganisme resisten dapat mempertahankan metabolismenya bagi kelangsungan hidupnya. misalnya reaksi baru pada metabolism nukleotida purin dan pirimidin.Permeabilitas sel berubah karena beberapa hal antara lain sintesis barter permeabilitas dan perubahan mekanisme transport. Telah banyak diketahui banyak cara mikroorganisme melawan efek toksik substansi penghambat pertumbuhan.

Memang munculnya organisme resisten dan laju penyebarannya biasanya sukar diramal. yaitu dengan mencegah munculnya bentuk resisten. Fleksibilitas. Resistensi inheren bakteri ini mungkin berkaitan dengan impermeabilitas lapisan luar sel terhadap antimikroba. Bila antimikroba baru digunakan melawan bakteri penyebab infeksi yang tidak memperlihatkan resistensi inheren.resistensi terhadap kedua antimikroba 10-12 per bakteri. bila penggunaan antimikroba berlebihan secara kurang tepat. Resistensi mungkin telah berkembang pada 37 . sehingga bentuk resisten akan binasa. Organisme resisten dapat muncul karena penggunaan antimikroba yang terlalu lama. maka perlu membatasi penggunaan antimikroba seefisien mungkin. maka dengan mutasi ganda. dan kemampuan populasi bakteri beradaptasi terhadap toksisitas antimikroba dapat menimbulkan masalah resistensi. maka setelah beberapa tahun penggunaan. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan untuk melawan resistensi antibiotik. Resistensi munculnya kadang-kadang sangat lambat.resistensi bakteri yang diperoleh sesudah penggunaan antimikroba (acquired) dan mikroba yang secara alamiah sudah resisten sebelum antimikroba tersebut digunakan (inherent). Resistensi mikroba patogen terhadap antibiotik dapat menimbulkan banyak masalah dalam memberantas penyakit infeksi. misalnya Streptococcus haemolyticus masih peka terhadap benzil penisilin sesudah penggunaan 30 tahun. Pada lingkungan di mana antimikroba banyak digunakan. populasi bakteri resisten akan mempunyai kesempatan lebih besar menggantikan populasi bakteri peka. Sebagai contoh bakteri gram negatip Pseudomonas aeruginosa. Penggunaan antibiotik baru mungkin merupakan salah satu alternatip. Untuk melawan resistensi antimikroba. Dalam hal ini pencegahan resistensi dapat dilakukan menggunakan kombinasi antimikroba lain dengan harapan. Hans Zahner dan WK. mencegah penyebaran bentuk resisten dan mengeliminasi bentuk resisten yang sudah muncul. sehingga kemungkinan jumlah bakteri resisten menjadi lebih kecil. Tersebarnya mikroba resisten akan lebih cepat. Eliminasi bentuk resisten dapat dilakukan dengan mengganti antimikroba yang telah lama digunakan dengan antimikroba lain yang lebih peka. ia secara alami relatip lebih resisten terhadap kebanyakan antibiotik. Maas mengajukan beberapa cara pengontrolan resistensi. jika frekuensi mutasi kira-kira 10'6 per bakteri. sehingga mampu mencegah tercapainya konsentrasi penghambatan di dalam sel. bakteri tersebut mungkin menjadi resisten atau memerlukan konsentrasi lebih besar untuk membinasakannya. Untuk mencegah bentuk resisten menyebar lebih cepat. Namun resistensi acquired kadang-kadang tidak muncul.

Selanjutnya berbagai mutasi pada gen pfcrt dan gen cg2 juga telah dikaitkan dengan fenomena terjadinya resistensi klorokuin misalnya lys 76thr . Mutasi gen Plasmodium falciparum merupakan sporozoa yang memperbanyak diri menggunakan spora. Resistensi P. resistensi parasit malaria terhadap klorokuin terjadi karena : (1) tempat ikatan klorokuin pada eritrosit berkurang sehingga parasit dalam eritrosit tidak dapat dibunuh. Namun.hari dipakai dalam pengobatan malaria (Tarigan Jerahim. (2) mutasi terjadi multigen sehingga resisten cepat terjadi. Ini terjadi karena parasit dalam darah tidak terbunuh semua/dengan kadar dibawah ambang mikroskopis. Hal tersebut bisa karena obat yang tidak adekuat. misalnya gen pfmdr1 (Reed et al. 2001).falciparum generasi sebelumnya akibat mutasi gen gen yang berperan pada mekanisme resistensi klorokuin. pada umumnya bila terjadi resistensi terhadap suatu obat malaria 38 . Menurut Clyde. atau parasit sudah resiten terhadap obat yang diberikan. 2004). sehingga masih perlu adanya penemuan antimikroba baru. Berbagai mutasi pada gen pfmdr misalnya asn86tyr. asn1042asp dan asp1246tyr telah ditemukan pada parasit yang telah resisten terhadap klorokuin. kemudian bertambah banyak. berdasarkan hipotesis feriprotoprofirin IX. Menurut Cow man. 2003).mikroorganisme terhadap antimikroba yang telah digunakan.. Sedangkan resistensi multidrug (MDR) pada malaria adalah adanya resistensi plasmodium falciparum terhadap lebih dari dua jenis obat anti malaria yang sehari . Mekanisme terjadinya resistensi obat belum diketahui dengan pasti tetapi diduga bahwa resistensi terjadi karena mutasi gen dan mutasi ini terjadi karena tekanan obat atau penggunaan obat dalam dosis subkuratif. 3. dari berbagai penelitian ternyata polimerasi gen cg2 tidak hanya ditemukan pada isolate yang resisten klorokuin tetapi juga pada isolate yang sensitive. berkembang biak dan menimbulkan gejala penyakit meskipun telah diberikan pengobatan secara teratur baik dengan dosis standard maupun dengan dosis yang lebih tinggi dan masih bisa ditolerir oleh pemakai obat (Marlita R. Pada P. falciparum terhadap obat antimalaria atau rekrudesensi dinyatakan dengan adanya parasit yang muncul kembali setelah pengobatan. 1999) dan gen pfcrt (Wellems and Plowe. Resistensi obat pada malaria didefinisikan sebagai kemampuan strain parasit malaria untuk terus hidup dalam tubuh manusia. ser1034cys.

Selanjutnya. bahkan Djimde menyatakan bahwa mutasi PfCRT T76 merupakan marker malaria falciparum yang resisten terhadap klorokuin. suatu protein yang terletak pada trans membrane vakuola makanan dari P. asn1042aspdan asp1246tyr telah ditemukan pada parasit yang telah resisten terhadap klorokuin. Dengan pendekatan biomolekuler. misalnya genpfmdr1 (Reed et al. ser1034cys..akan diikuti dengan resistensi obat malaria lainnya. Penggantian K76 (normal) menjadi T76 (mutan) pada posisi 76 (K76T) ditemukan pada semua isolate resisten.lahan. Resistensi terjadi karena mutasi gen dan mutasi gen terjadi akibat tekanan obat yang terus menerus. yaitu gen pfcrt yang diduga berperan dalam resistensi terhadap klorokuin. hal ini akan menyebabkan penurunan influks dan peningkatan efluks. falciparum. Berbagai mutasi pada genpfm dr misalnyaas n86tyr . Penelitian ini diperkuat oleh hasil dari Afrika Barat yang memperlihatkan bahwa pada pfcr t K76T didapatkan pada 100% dari 114 isolate kasus kegagalan dengan klorokuin. 1999) dan genpfcrt (Wellems and Plowe. Lebih jauh transformasi genetic dengan plasmid mengekspresikan bentuk mutan pfcr t yang berubah menjadi resisten. Namun. 39 . mutasi pada pfcr t dapat mengubah masuknya klorokuin pada vakuola makanan atau mengurangi ikatan obat pada hematin melalui perubahan pH pada vakuola makanan. Akibat mutasi. Menurut Fidock et al . dan tidak ditemukan pada isolate sensitive. parasit tetap hidup dalam jalur metabolisme lain sehingga terhindar dari pengaruh obat. falciparum telah diidentifikasi suatu gen dengan 13 akson dekat cg2 pada kromosom VII. karena diduga mekanisme resistensi obat klorokuin sama dengan obat malaria lainnya. Resistensi terhadap obat klorokuin diduga bersifat multigenik sehingga resisten terjadi secara perlahan . Parasit yang resisten akan mampu memompa klorokuin keluar dari eritrosit 40-50 lebih cepat dibandingkan dengan parasit yang sensitive. falciparum Chloroquine Resistant Transporter). Mutasi titik pada PfCRT ditemukan berhubungan secara lengkap dengan resistensi klorokuin secarain-vitro. dari berbagai penelitian ternyata polimerasi gencg2 tidak hanya ditemukan pada isolate yang resisten klorokuin tetapi juga pada isolate yang sensitive. Gen ini mengkode protein PfCRT (P. Selanjutnya berbagai mutasi pada genpfcr t dan gen cg2 juga telah dikaitkan dengan fenomena terjadinya resistensi klorokuin misalnyalys 76thr. Pada P.beberapa penelitian telah berhasil mengidentifikasi beberapa kandidat gen yang mungkin berperan pada mekanisme resistensi klorokuin. 2001).

Gambar D : Up take klorokuin di dalam vakuola makanan sangat terbatas pada parasit yang resisten klorokuin.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per mikro-liter darah. Bila leukosit 10. Bila jumlah parasit >100. Hitung parasit dapat dilakukan pada tetes tebal dengan menghitng jumlah parasit per 200 leukosit. Tetesan preparat darah tebal. Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5 menit (diperkirakan 100 lapang pandangan dengan pembesaran kuat). Gambar B : Influks klorokuin pada membran vakuola makanan parasit. dapat dilakukan berdasar jumlah eritrosit yang mengandung parasit per 1000 sel darah merah. Ketebalan dalam membuat sediaan perlu untuk memudahkan identifikasi parasit. Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium.000/ul darah menandakan infeksi yang berat. 1. jika bila dengan preparat tebal sulit ditemukan. Kepadatan parasit dinyatakan sebagai hitung parsait (parasite count).Gambar : Model Transport Membran pada Plasmodium yang Resisten Klorokuin7 Gambar A: Transporter klorokuin pada membran vakuola makanan terjadi secara Efluks aktif. Hitung parasit penting untuk menentukan 40 . Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria karena tetesan darah cukup banyak dibandingkan preparat darah tipis. 2. Preparat dinyatakan negative bila setelah diperiksa 200 lapang pandangan dengan pembesaran kuat 700-1000 kali tidak ditemukan parasit. Gambar C : Konsentrasi klorokuin di dalam vakuola makanan parasit menurun yang disebabkan karena peningkatan pH vacuolar pada parasit yang resisten terhadap klorokuin.

Skizon muda dan tua/matang jarang didapat didaerah darah tepi terdapat 20-32 merozoit. Bias juga ditemukan bentuk-bentuk gametosit jantan dan gametosit betina yang tampak oval. • Plasmodium Malariae Eritrosit tidak membesar trfozoit matang berbentuk pita atau komet. Preparat ini digunakan untuk melihat plasmodia atau untuk melihat ada/ tidaknya gametosit. Diagnosis Laboratorium Yang menjadi Gold standar dari pmeriksaan laboratorium untuk mendiagnosa malaria : Pemeriksaan Mikroskopik Konvensional Malaria • Preparat Darah Tebal Diwarnai dengan meggunakan pewarnaan Giemsa atau Field‟stain. atau leishman‟s atau Field‟s dan juga Romanowsky. 41 . • Preparat Darah Tipis Diwarnai dengan menggunaka pewarnaa Wright atau Giemsa. Hamper menutup ½ -3/4 eritrosit yang dihuninya. • Plasmodium falciparum Eritrosit tidak membesar. kadang terdapat Ziemann‟s dot dalam eritrosit skizon dengan 6-12 merozoit dan merozoit tersebut tersusun roset. Preparat ini di gunakan untuk melihat perubahan bentuk eritrosit dan identifikasi spesies plasmodium. Skizon yang matang membagi dirinya menjdai 14-24 merozit. trofozoid muda berbentuk ameboid ( bentuk vivax) hemozoin terdapat berkelompok di tengah tfozoit. walaupunj komplikasi juga dapat timbul dengan jumlah parasit yang minimal. Pengcatan Giemsa yang umum dipakai pada beberapa laboratorium dan merupakan pengecatan yang mudah dengan hasl yang cukup baik. Dari pemeriksaan mikroskopik tersebut dapat di bedakan morfologi dari spesies Plasmodium • Plasmodium Vivax Eritrosit membesar pucat dan mengandung Schaffner‟dot. trofozoid muda( bentuk cincin) banyak sekali didapat bentukbentuk accole dan infeksi multiple.prognosa penderita malaria. Pengecatan dilakukan dengan cat Giemsa. Juga bisa dijumpai gametoit jantan dan betina dengan sitoplasma yang hampir bulat. pigmen hemozoin tampak padat bewarna coklat tua.

Plasmodium vivax Gametosit 42 . Plasmodium falciparum Tropozoit Skizon Bentuk cincin (Ring stage) 2.Gambaran sedian hapus darah tepi pada pasien malaria : 1.

Gametosit Skizon Tropozoit 3. Plasmodium Ovale Granula Schuffners tropozoit 43 .

Plasmodium Malariae tropozoit muda Tropozoit merozoit (rosset) Bentuk Pita (band) - Skizon Perbandingan gambaran Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada masing-masing parasit Plasmodium. 44 .tropozoit tua 4.

Gambaran darah tepi pada sedian hapus tipis dan tebal 5. Resistensi Klorokuin Pada sel darah merah manusia. Plasmodium falciparum bertahan hidup dengan mengambil sitoplasma sel inang dalam vakuola makanan pencernaan asam. Racun heme. dalam 45 .

Dari jumlah tersebut. Mutasi genetic terkait yaitu pada gen PfCRT (Plasmodium falciparum Chloroquine Resistensi Transporter).tetapi selalu dikaitkan dengan mutasi di beberapa titik lainnya. Strain ini memiliki enam pada mutasi di titik lain. Namun. hanya ditemukan bentukbentuk cincin dan gametosit dalam darah tepi. tingkat perlawanan tidak setinggi strain yang memiliki mutasi K76T. Fidock et al. ada bentuk yang khas pada cincin halus.Yang menarik adalah bahwa mutasi K76T tidak pernah terjadi sendiri. Amerika. N75E.N326S. Satu strain serupa adalah "106/1" yang memiliki mutasi K76I sebagai penggantinya. Chloroquine (CQ) mengganggu proses ini dengan membentuk kompleks dengan hemozoin. Plasmodium falciparum(siklus hidup dan cara penyebarannya) Plasmodium falciparum merupakan protozoa yang menyebabkan malaria tropika. Bentuk skizon lonjong atau bulat jarang sekali ditemukan dalam darah tepi. Bahkan tanpa K76T. K76T. atau "pigmen malaria". dilepaskan di vakuola oleh hemoglobin pencernaan dan mengkristal menjadi hemozoin perusak. mutasi pada K76T tidak ada. Skizon ini menyerupai skizon 46 . Efek beracun dari hematin bebas disebabkan oleh kemampuan hematin untuk meningkatkan permeabilitas membran yang menyebabkan lisis sel dan kematiansel. Strain resisten chloroquine pada Plasmodium falciparum menunjukkan penurunan akumulasi CQ alam vakuola pencernaan. dan S. Gen tersebut berisi 13 ekson yang mencakup 3. Afrika. Produk gen PfCRT adalah 423 asam amino 10-transmembran channel atau protein transporter yang mengkatalisis chloroquine fluks dan menjaga kesetimbangan H+ di pencernaan vakuola membran. Kompleks ini mencegah hematin dari bentukkristal menjadi bentuk hemozoinperusak. I356T. seringkali dengan titik kromatin rangkap walaupun tidak ada gametosit. Plasmodium falciparum berbeda dengan plasmodium lain pada manusia. Mutasi K76T ini tampaknya menjadi penanda paling penting dari CQR. Hasilnya adalah cukup cepat mengubah pada posisi 76 dari K76I ke K76T yang lebih resisten. Banyak titik mutasi yang berbeda telah diisolasi di strain CQR resisten malaria (M74I. dan R371I). 6. Namun. namun memiliki pengganti K76I pada mutasi di posisi 76.dalam beberapa strain resistensi CQ.bentuk hematin-nya.melakukan percobaan dengan strain 106/1 di mana penekananCQ bertahap telah ditambahkan ke dalam populasi manusia.1 kb. A220S. kecuali pada infeksi berat. mutasi strain 106/1 memang memiliki tingkat yang cukup tinggi terhadap CQR. Yang cukup menarik. Hematin juga diketahui dapat menghambat enzim dari parasit. Q271E. hanya mutasi pada K76T dan A220S yang memiliki kesamaan antara strain malaria resisten pada berbagai benua yang terkena yaitu Asia.

yang disebut dengan bentuk sabit. 47 . seperti di Indonesia kawasan Timur. adalah merupakan penyakit malaria yang paling ganas yang menyerang manusia.1994) Penyakit malaria yang disebabkan oleh species ini disebut juga “Malaria tertiana maligna”.Plasmodium vivax. Gametosit yang muda mempunyai bentuk lonjong sehingga memanjang dinding sel darah merah. (pribadi wita. Daerah penyebaran malaria ini adalah daerah tropik dan sub-tropic. Saleha sungkar. misalnya Papua. setelah mencapai perkembangan akhir parasit ini menjadi bentuk pisang yang khas. tetapi tidak mengisi seluruh eritrosit.

siklus yang terjadi didalam eritrosit ini (fase intraeritrositik) menimbulkan demam yang merupakan gejala utama malaria.Siklus hidup Plasmodium falciparum . Replikasi parasit terjadi didalam eritrosit secara aseksual. Satu sampai dua minggu setelah masa inkubasi di dalam hati. kemudian keluar dan menyerang eritrosit yang lain. Sporozoit yang dikeluarkan segera menyebar menuju hati dan berkembang di hepatosit (fase eksoeritrositik). sporozoit berubah menjadi merozoit yang menyerang eritrosit. Eritrosit yang terinfeksi oleh P. yaitu sebagai berikut: Penularan terjadi jika nyamuk anopheles betina yang terinfeksi mengeluarkan sporozoit melalui kelenjar ludahnya ke dalam tubuh manusia ketika mengisap darah. jika eritrosit yang terinfeksi berlebihan. Siklus hidup menjadi lengkap ketika nyamuk anopheles yang berperan sebagai vector mengisap eritrosit dari manusia yang mengandung gametozit. bentuk seksual yang berasal dari 48 . aliran darah ke jaringan dan oksigenasi dapat sangat berkurang dan menyebabkan disfungsi organ yang fatal (Breman and White 1998). falciparum melekat pada pembuluh darah kapiler.

biasanya sekitar 2-3 tahun kemudian setelah infeksi pertama. Schizont robek pada hari ke 5 dan mengeluarkan 30.000 merozoit. Seperti pada malaria lainnya. Di dalam usus nyamuk.000 45 mikron 48 jam P.000 60 mikron 48 jam Muda & normosit Maurer 8 hari + 10. vivax Daur praeritrosit Hipnozoit Jumlah merozoit hati Skizon hati Daur eritrosit Eritrosit yang dihinggapi 5 1/2 hari 40. sporozoit yang terbentuk bergerak menuju ke kelenjar ludah dan siap untuk menginfeksi manusia (Krogstad. Di sini tidak terjadi fase exoerytrocytic ke 2 dan tidak terjadi relaps.populasi merozoit.000 70 mikron 50 jam P. gamet jantan dan gamet betina bergabung dan membentuk zygot. ovale 9 hari + 15. falciparum P. schizont exoerytrocytic dari P. Setelah dua minggu. Spesies Plasmodium pada Manusia P. Tetapi penyakit akan timbul lagi sekitar 1 tahun. malariae 10-15 hari 15.000 55 mikron 72 jam Normosit Retikulosit & Retikulosit & Normosit Schuffner Kuning tengguli 12-18 8-9 hari ++ Normosit muda Schuffner (James) Tengguli 8-10 12-14 hari + Titik-titik eritrosit Ziemann Tengguli hitam 8 20-28 hari - Pigmen Hitam Jumlah merozoit eritrosit 8024 Daur dalam nyamuk pada 27 °C Pembesaran eritrosit 10 hari - 49 . Hal tersebut disebabkan oleh jumlah populasi parasit yang sedikit di dalam sel darah merah. 1992). falciparum timbul dalam sel hati.

Perkembangan aseksual dalam hati hanya menyangkut fase praeritrosit saja.  Distribusi geografik P. cincin dengan kromatin ganda dan infeksi multiple dapat juga ditemukan dalam eritrosit 50 .  Morfologi dan daur hidup P. Dalam darah bentuk cincin stadium trofozoit muda P. Walaupun bentuk marginal. Pada bentuk cincin dapat dilihat dua butir kromatin. falciparum menyebabkan malaria falciparum atau malaria tropika. Nama penyakit P.falciparum ditemukan di daerah tropik.ovale yang mempunyai hipnozoit dalam sel hati.000 buah. Beberapa bentuk cincin dapat ditemukan dalam satu eritrosit (infeksi multiple). falciparum merupakan spesies yang paling berbahaya karena penyakit yang ditimbulkannya dapat menjadi berat. accole. Stadium dini yang dapat dilihat dalam hati adalah skizon yang berukuran + 30 mikron pada hari keempat setelah infeksi. terutama di Afrika dan Asia Tenggara.vivax dan P. Jumlah merozoit pada skizon matang (matur) kira-kira 40. Di Indonesia parasit ini tersebar di seluruh kepulauan. bentuk pinggir (marginal) dan bentuk accole sering ditemukan. tidak ada fase eksoeritrosit yang dapat menimbulkan relaps seperti pada infeksi P.falciparum sangat kecil dan halus dengan ukuran kira-kira seperenam diameter eritrosit.

falciparum dapat dikenal dengan mudah oleh adanya satu atau dua butir pigmen yang menggumpal. Hal ini penting untuk membantu diagnosis spesies. biasanya 10 hari setelah parasit pertama kali tampak dalam darah. kemudian menjadi lebih panjang atau berbentuk elips. Bentuk cincin dan trofozoit tua menghilang dari darah tepi setelah 24 jam dan tertahan di kapiler alat dalam. akan mengisi kira-kira dua pertiga eritrosit dan membentuk 8-24 buah merozoit. Stadium perkembangan dasar aseksual berikut pada umumnya tidak berlangsung dalam darah tepi. usus atau sumsum tulang. Intinya lebih kecil dan padat. Adanya skizon muda dan skizon matang P. Dalam badan manusia parasit tidak tersebar merata di kapiler alat dalam sehingga gejala klinis malaria falciparum dapat berbeda-beda. jantung. Derajat infeksi pada jenis malaria ini lebih tinggi dari spesies lainnya. Gametosit untuk pertama kali tampak di daerah tepi setelah beberapa generasi mengalami skizogoni. akhirnya mencapai bentuk khas seperti sabit atau pisang sebagi gametosit matang. Dalam waktu 24 jam parasit di dalam kapiler berkembang biak secara skizogoni.falciparum.falciparum lebih kecil daripada skizon matang parasit matang yang lain. Sitoplasmanya dapat mengandung satu atau dua butir pigmen.falciparum dalam sediaan darah tepi berarti keadaan infeksi berat.falciparum kemudian menjadi lebih besar. Pada spesies parasit lain terdapat 20 atau lebih butir pigmen pada stadium skizon yang lebih tua. Stadium skizon muda P. Skizon matang P. kecuali pada kasus berat (pernisiosa). Gametosit betina atau makrogametosit biasanya lebih langsing dan lebih panjang dari gametosit jantan atau mikrogametosit dan sitoplasmanya lebih biru dengan pulasan Romanowsky/Giemsa. berukuran seperempat dan kadang-kadang hampir setengah diameter eritrosit dan mungkin dapat disangka P. sehingga merupakan indikasi untuk tindakan pengobatan cepat. plasenta. Bila skizon sudah matang. Gametosit muda mempunyai bentuk agak lonjong. Eritrosit yang mengandung trofosoit tua dan skizon mempunyai titik-titik kasar yang tampak jelas (titik Maurer) tersebar pada dua pertiga bagian eritrosit. di tempat ini parasit berkembang lebih lanjut. tetapi kadang-kadang stadium muda dapat ditemukan di daerah tepi. Sebagian besar kasus berat dan fatal disebabkan eritrosit yang dihinggapi parasit menggumpal dan menyumbat kapiler. dengan jumlah rata-rata 16 buah merozoit.malariae.000/µL darah. Bentuk cincin P. berwarna merah tua dan butir-butir pigmen 51 . kadang-kadang melebihi 500.yang terinfeksi spesies Plasmodium lain tetapi sifat ini lebih sering ditemukan pada P. seperti otak. Pembentukan gametosit juga berlangsung di kapiler alat-alat dalam.

sehingga periodisitas gejala menjadi tidak teratur. mual. Keringat keluar banyak walaupun demamnya tidak tinggi. maka infeksi dapat segera diatasi. pikau mental (mental confusion). punggung lebih hebat dan keadaan umum memburuk. Sebaliknya bila tidak segera ditangani. Pigmen pada ookista berwarna agak hitam dan butir-butirnya relatif besar. Walaupun skizogoni eritrosit pada P. muntah dan diare menjadi lebih hebat. besar dan tidak padat. 52 .falciparum selesai dalam kurun waktu 48 jam dan periodisitasnya khas tersiana. perasaan dingin. Pada hari kedelapan pigmen tidak tampak. kadang-kadang batuk oleh karena kelainan paru.falciparum dalam nyamuk umumya sama seperti Plasmodium yang lain. penderita dapat jatuh ke malaria berat.falciparum berbeda-beda. Ada anemia ringan dan leukopenia dengan monositosis serta trombositopenia. Sitoplasmanya biru pucat atau agak kemerah-merahan dan intinya berwarna merah muda. kadang-kadang sampai 50. kecuali beberapa butir masih dapat dilihat. Siklus berlangsung 22 hari pada suhu 200 C. dengan sporulasi yang tidak sinkron.  Patologi dan Gejala Klinis Masa tunas intrinsik malaria falsiparum berlangsung 9-14 hari. Demam mungkin tidak ada atau ringan dan penderita tidak tampak sakit. 15 sampai 17 hari pada suhu 250C dan 10 sampai 11 hari pada suhu 250-28 0C. jumlah ini tidak pernah dicapai oleh spesies Plasmodium lain pada manusia.000 /L darah. tetapi dapat tersusun sebagai lingkaran kecil di pusat atau sebagai garis lurus ganda. punggung. Penyakitnya mulai dengan nyeri kepala. Hati membesar dan tampak ikterus ringan. terutama pada permulaan serangan malaria. diagnosis pada stadium ini tergantung dari anamnesis riwayat bepergian ke daerah endemic malaria. Siklus seksual P. Bila stadium dini penyakit dapat didiagnosis dan diobati dengan baik. Jumlah gametosit pada infeksi P. Mikrogametosit berbentuk lebih lebar seperti sosis. sering kali terdapat dua atau lebih kelompok parasit. Mual. Demam tidak teratur dan tidak menunjukkan periodisitas yang jelas. Pada stadium ini penderita tampak gelisah. muntah atau diare ringan. Nadi dan napas menjadi cepat. butir-butir pigmen tersebar di sitoplasma sekitar inti. membentuk pola pada kista sebagai lingkaran ganda sekitar tepinya. nyeri kepala. Kadang-kadang dalam urin ditemukan albumin dan torak hialin atau torak granular. Limpa membesar dan lembek pada perabaan.000-150.tersebar disekitar inti. Penyakit berlangsung terus.

53 . fasilitas kesehatan serta kecepatan menegakkan diagnosis dan pengobatan. Malaria berat dapat juga terjadi dengan parasit yang rendah dalam darah tepi.  Diagnosis Diagnosis malaria falsiparum dapat dibuat dengan menemukan parasit stadium trofozoit muda (bentuk cincin) tanpa atau dengan stadium gametosit dalam sediaan darah tepi. Sediaan darah tebal jauh lebih sensitif daripada sediaan darah tipis pada infeksi dengan jumlah parasitemia rendah.falciparum stadium aseksual (trofozoit dan/atau skizon)dan penyebab yang lain (infeksi bakteri atau virus) disingkirkan. Pada pemeriksaan darah ditemukan P. Hal ini terutama ditemukan pada penderita non-imun.Penderita malaria falciparum berat biasanya datang dalam keadaan kebingungan atau mengantuk dalam keadaannya sangat lemah (tidak dapat duduk atau berdiri). yaitu 20-50% dan hal ini tergantung umur penderita. Secara umum. dapat ditemukan satu atau lebih keadaan di bawah ini:  Malaria otak dengan koma  Anemia normositik berat  Gagal ginjal akut  Asidosis metabolic dengan gangguan pernapasan  Hipoglikemia  Edema paru akut  Syok dan sepsis  Perdarahan abnormal  Kejang umum yang berulang  Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit  Haemoglobinuria  Demam tinggi  Hiperparasitemia Mortalitas malaria berat masih cukup tinggi. semakin tinggi jumlah parasit dalam darah tipis. Prognosis penderita malaria falsiparum berat akan jauh lebih baik bila penderita sudah ditangani dalam 48 jam sejak masuk ke stadium malaria berat. semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya malaria berat. Selain itu. status imun. asal infeksi.

Arthur C.Walaupun sangat jarang.2000. tetapi pada autopsi terbukti adanya parasit dalam berbagai kapiler alat dalam. mengigil..L.Irawati.2009.Buku Ajar Fisiologi al). Arif.Aru W.Budi bertransmigrasi dari Jateng ke Amaroppa Papua Terinfeksi Plasmodium falciparum melalui gigitan nyamuk anopheles betina Imunitas Malaria Tropical/Falciparum Hasil Laboratorium Plasmodium falciparum (+++) Demam. sakit kepala.Jakarta:Media Aesculapius. VII.Kapita Selekta Kedokteran Ed.Fisiologi Manusia:Dari Sel ke Sistem. Sudoyo. menderita malaria berat dan gejalanya tidak berkurang karena terinfeksi Plasmodium falciparum yang telah resisten terhadap klorokuin.Jakarta:EGC 54 .Jakarta:EGC.. Daftar Pustaka Mansjoer. Kedokteran Ed.(et Sherwood. Guyton. dapat juga ditemukan penderita tanpa parasitemia dalam darah tepi.2001. Kerangka Konsep Tn.2007. berkeringat.11. mual-mual Resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin Diberi obat antimalaria klorokuin dan obat simptomatis Gejala tidak berkurang Kesimpulan : Tn.alih bahasa.3.Jakarta:FK UI. Resistensi Plasmodium falciparum terhadap antimikroba (klorokuin) ini berhubungan dengan mutasi gen PfCRT (Plasmodium falciparum Chloroquin Resistence Transporter) dan PfMDR I.Budi.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Volume 3. 30 tahun.

pdf http://www. Suwandi. Riset Kesehatan Dasar(RisKesDas)2007 Laporan Nasional 2007.ac. dan Pencegahan.id/bitstream/123456789/20157/4/Chapter%20II. Dalam: Sudoyo AW. Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.usu.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-sitihaniah-5329-2-bab2.Jakarta:EGC.jurnalsigma. Marcatili P.2010.1371/journal.Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. 2008. Via A. Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat.pdf http://www. Miza. Staf Pengajar Departemen Parasitologi FKUI. doi:10.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. Farmakologi Dasar Dan Klinik.Malaria:Epidemiologi. Demam. Republik Indonesia Desember 2008. Pemeriksaan Apusan Darah Tepi. editor. Edisi V.h tml 55 . Alwi I.Usman. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.com http://digilib.com/2010/10/malariadefinisietiologipatofisiologiman.Bertram G.pone. http://repository.2008.H. Katzung.H.Jakarta.Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Kalbe Farma. Berlian.unimus.Resistensi Mikroba terhadap Antibiotik. Patogenesis. Setiyohadi B. 2009.0014064. PLoS ONE 5(11): e14064. Penatalaksanaan. Nelwan R.William F.blogspot.com http://referensiartikelkedokteran. Setiati S. Chinappi M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilild III.Aceh:Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unsyiah. Penyebaran. Simadibrata M.FK Universitas Airlangga.Salemba Medika Edisi 2004.Ganong. Tramontano A (2010) On the Mechanism of Chloroquine Resistance in Plasmodium falciparum.ac. Anonim. 2010.medicalera.