KONSEP PENYAKIT DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA VULVA PRE – INTRA DAN PASCA OPERASI

A. KONSEP PENYAKIT 1. Definisi Carcinoma vulva adalah suatu keganasan pada pertumbuhan sel pada area vulva yang menyerang wanita berusia berkisar antara 50 – 70 tahun, umum ditemukan pada penderita golongan social ekonomi rendah (Sjamsuhidajat, 1997). Tumor dapat ditemukan dimana – mana, di vulva dan dapat berbentuk eksofitis. Sering tumor bertukak dengan infiltrasi ke jaringan yang jauh terutama ke vagina, uretra, perineum, anus dan rectum. Diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan histologik. Metastasis umumnya menuju ke kelenjar limfe femoral dan inguinal, unilateral atau bilateral, dan selanjutnya ke kelenjar iliaka ekstren dan intern. 2. Etiologi Tidak diketahui secara pasti, diduga karena adanya factor iritasi ekstern dan kronik atau pada kasus-kasus seperti: a. Penyakit kelamin (granuloma inguinal) yang menyebabkan vulvitis kronik. b. Lesi-lesi kronik menimbulkan gatal, kadang-kadang multifokal dari vulva (leukoplakia dan kraurosis). 3. Patofisiologi Pembengkakan Neoplasma (tumor) Maligna (kanker) Karsinoma Menyebar Kontinuitatum
Sel ca keluar organ Infiltrasi ke organ sekitar

non-neoplasma Kista Radang Hipertrofi

Benigna Sarkoma

Limfogen
Sal limfe metastasis kel. Limf. Regional Perlekatan kel. Limfe.

Hematogen
kapiler darah V. porta, v. kava, v. pulmonalis

Implantasi transluminal
Dinding sal suatu system (sal cerna, kemih, nafas)

Iatrogenik
Tindakan medik

Masase, palpasi kasar, tindakan operasi Masuk ke lumen Metastasis

Hati, paru, pleura, Organ lain, rongga tubuh peritoneum, omentum, ovarium, tulang, kulit, otak, sumsum tulang, kel. Limfe.

4.

Manifestasi Klinis Penderita telah menopause. Nyeri pada waktu miksi. Rasa ada benjolan dengan atau tanpa mengeluarkan cairan atau darah. Iritasi vulva lama dengan: 1) Pruritus. 2) Perdarahan sedikit. e. Tanda seperti dermatitis. a. b. c. d.

f. 1) 2) g. h. 5.

Tanda lanjut: Tumor bunga kol. Tukak Pembesaran kelenjar limfe lipat paha. Untuk diagnosis diperlukan biopsi.

Morfologi dan Pembagian Tumor Vulva a. Kelainan premaligna Banyak ditemukan pada wanita di atas 40 tahun, seperti: 1) Distrofia Adanya lapisan epitel yang sangat lebar dan sempit pada vulva, terdiri dari: a) Distrofia hiperplastik. Tanpa atipi Dengan atipi b) Distrofia atrofik (lichen sclerosus) c) Distrofia campuran (distrofia atrofik dengan sarang-sarang hiperplasia) Tanpa atipi Dengan atipi 2) Atipi epitel vulva. 3) Karsinoma in situ, tidak ada invasi yang jelas 4) Penyakit paget vulva, ciri: banyak sel khas, besar dan pucat, sering bersama adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar keringat. b. Tumor maligna karsinoma planoselular (90% kasus). Kebanyakan menunjukkan kornifikasi dan diferensiasi yang tinggi, pertumbuhan kedalam diukur dari membrane basal papil deral yang paling superficial yang berbatasan. 2) Karsinoma verukosa (5% kasus). Adalah varians dari Ca planoselular, menunjukkan sususnan papilar, terdiri atas epitel diferensial tinggi dengan atipi sedikit dan kornifikasi luas superficial. 3) Melanoma maligna (5% kasus). Terjadi dari nevus yang preeksisten atau de novo, bersifat amelanotik, perlu pemeriksaan imunohistologik.

1)

6.

Penetapan Stadium a. Menurut klasifikasi FIGO: Stadium I : tumor terbatas pada vulva dan atau peritoneum, diameter terbesar maksimal 2 cm, kelenjar inguinal negative. Stadium Ia : kedalaman invasi kurang dari 1 mm. Stadium Ib : Kedalaman invasi lebih dari 1 mm. Stadium II : Tumor terbatas pada vulva dan atau perineum, diameter lebih besar daripada 2 cm, kelenjar inguinal negative. Stadium III : Tumor denagn perluasan ke bagian distal uretra dan atau vagina dan anus, atau metastasis unilateral pada kelenjar inguinal. Stadium IVa : Tumor denagn infiltrasi kandung kencing, selaput lender atau selaput lender rectum atau kedua-duanya atau bagian proksimal mukosa uretra dan atau fiksasi pada tulang atau metastasis blateral kelenjar inguinal. Stadium IVb : Tiap metastasis jarak jauh, termasuk metastasis kelenjar limfe di pelvis. b. T. TX TO Tis T1 T2 T3 T4 N. NX NO N1 Menurut klasifikasi TNM dan FIGO: tumor primer tidak dapat ditentukan Tidak dapat ditemui karsinoma in situ terbatas pada vulva; < 2 cm Terbatas pada vulva; 2-5 cm Infiltrasi ke dalam uretra, vagina, perineum atau anus. Infiltrasi sampai mukosa uretra proksimal, mukosa kandung kemih, mukosa rectum atau fiksasi pada tulang. Kelenjar limfe regional Tidak dapat ditentukan Tidak dapat diraba Kelenjar mobil dan tidak membesar sehingga tidak mencurifakan.

N2 N3 M MO M1 7. Terapi

Kelenjar membesar, padat keras, dan mobil (mencurigakan) Kelenjar melengket atau bertukak. Metastasis Tidak dapat ditemukan Metastasis jauh.

a. Karsinoma in situ: eksisi local atau vulvektomi sederhana, penanganan dengan terapi laser dan salep 5-FU dapat digunakan. b. Tumor invasive (stadium I-III): vulvektomi radikal dengan ikut mengambil klitoris, labia, otot-otot superficial dan fascia, dilakukan ekstirpasi kelenjar limfe bilateral dengan reseksi en bloc semua jaringan lemak. c. Pada stadium IV umumnya tidak dilakukan pembedahan, terapi paliatif lebih banyak digunakan dengan penyinaran megavolt (radioterapi). 8. Prognosis Ketahanan hidup 5 tahun semua stadium memberi gambaran berikut: a. Stadium I: 85-95% b. Stadium II: 65-80% c. Stadium III: 25-40% d. Stadium IV: 0-25% e. Adanya metastasis kelenjar membuat prognosis lebih buruk, tetapi tidak tanpa harapan.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pra operasi a. Pengkajian data dasar 1) Kaji pemahaman prosedur operasi dan hasilnya denagn menggunakan pernyataan sederhana seperti “ Apa yang sudah dikatakan dokter tentang pembedahan anda?” 2) Kaji perasaan pasien dan masalah tentang pembedahan dengan menggunakan pernyataan sederhana seperti “ Bagaimana perasaan anda mengalami pembedahan ini?” atau “Apa yang menjadi masalah tentang pembedahan anda?” 3) Periksa kelengkapan operasi seperti: informed consent, data laboratorium, foto thoraks, USG abdomen, ECG, puasa, lavement, cukur, keseimbangan cairan sebelum operasi. 4) Pemeriksaan fisik untuk mendapat nilai – nilai dasar seperti: tingkat kesadaran, vital sign. b. Diagnosa keperawatan 1) Ansietas b/d kurang pengetahuan mengenai kejadian pra operasi dan pasca operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan. c. Rencana tindakan dan rasional 1) Ansietas b/d kurang pengetahuan mengenai kejadian pra operasi dan pasca operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan. Batasan karakteristik: mengungkapkan takut tentang beberapa aspek pembedahan, meminta informasi, melaporkan perasaan cemas atau gugup, postur tubuh dan ekspresi wajah tegang, bicara banyak. Hasil pasien: mendemonstrasikan hilang dari stress. Kriteria evaluasi: mengungkapkan pemahaman tentang kejadian pra operasi dan pasca operasi, melaporkan berkurangnya perasaan cemas atau gugup, ekspresi wajah rileks, kurang bicara. Rencana intervensi: No Intervensi Rasional 1. Kaji tingkat ansietas pasien. Membantu menentukan intervensi keperawatan untuk mengatasi ansietas. 2. Jelaskan apa yang terjadi Pengetahuan tentang apa yang diperkirakan selama periode pra operasi membnatu mengurangi ansietas dan dan pasca operasi, termasuk meningkatkan kerjasama pasien selama obat-obatan pra operasi, pemulihan. tinggal di ruang pemulihan dan program pasca operasi. 3. Ajarkan dan usahakan Mendorong keterlibatan pasien dalam pasien untuk: perawatan diri pasca operasi. nafas dalam berbalik turun dari tempat tidur. - Membebat bagian yang dibedah ketika batuk. Biarkan pasien mengungkapkan perasaan tentang pengalaman ketika pembedahan sebelumnya. Perbaiki jika ada kekeliruan konsep. Lengkapi daftar aktifitas pada daftar cek pra operasi. -

4.

Dengan mengungkapkan perasaan membnatu memecahkan masalah dan memungkinkan pemberi perawatan untuk mengidentifikasi kekeliruan yang dapat menjadi sumber ketakutan. Daftar cek memastikan semua aktifitas yang diperlukan sudah lengkap. Aktifitas tersebut dirancang untuk membantu pasien siap secara fisiologis untuk pembedahan, sehingga mengurangi resiko lamanya penyembuhan. Pengulangan tersebut meningkatkan pemahaman pasien.

5.

6. Tegaskan dokter. penjelasan dari

2. a.

Intra operasi Pengkajian data dasar 1) Kaji tingkat kesadaran pasien, vital sign setiap 5 menit. 2) Kaji kesiapan instrument, operator, asisten operasi instrumentator operasi. 3) Kaji kesiapan obat-obat anestesi dan anafilaktik syok. 4) Kaji kesiapan cairan pengganti.

dan

b.

Diagnosa keperawatan 1) Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. 2) Resiko hipotermi b/d pembedahan lama dengan pengeluaran darah atau cairan yang banyak. Rencana tindakan dan rasional 1) Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. Batasan karakteristik: manifestasi dehidrasi. Hasil pasien: mendemonstrasikan keseimbangan cairan adekuat. Kriteria evaluasi: tak ada manifestasi dehidrasi, hasil elektrolit serum menunjukkan nilai rentang normal. Rencana intervensi: No Intervensi Rasional 1. Pantau: Mengidentifikasi indikasi kemajuan atau tanda vital setiap 5 adanya penyimpangan dari hasil yang menit.. diharapkan. Masukan dan 2. haluaran durante operasi. Mengganti kehilangan/haluaran cairan sesuai Berikan cairan pengganti dengan jumlah haluaran yang terjadi untuk sesuai dengan haluaran dari mencapai keseimbangan cairan tubuh. urine, penguapan, perdarahan serta kebutuhan 3. cairan maintenance. Mengidentifikasikan adanay gangguan perfusi Kaji refill time. jaringan akibat penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi. 4. Menggantikan elektrolit yang hilang durante Kolaborasi pemberian cairan operasi. elektrolit pengganti bila terjadi perdarahan > 500 cc. 2) Resiko hipotermi b/d pembedahan lama dengan pengeluaran darah atau cairan yang banyak. Batasan karakteristik: menifestasi hipotermi. Hasil pasien: menunjukkan keseimbangan suhu tubuh selama operasi berlangsung. Kriteria evaluasi: Tak ada manifestasi hipotermi, suhu tubuh pasien stabil. Rencana tindakan: No Intervensi Rasional 1. Catat suhu pra operasi. Sebagai dasar untuk memantau suhu intra operasi. Elevasi suhu pra operasi adalah indikasi dari proses penyakit. 2. Pantau: Mengidentifikasi adanya penyimpangan dari Vital sign. criteria yang diharapkan. Kehilangan cairan Keseimbangan durante operasi dapat meningkatkan suhu cairan durante operasi. tubuh. Kestabilan suhu ruangan operasi. 3. Kaji suhu lingkungan dan Membantu mempertahankan suhu pasien. modifikasi sesuai kebutuhan.

c.

4. 5.

Lindungi area kulit diluar wilayah operasi. Sediakan selimut penghangat pada saat-saat darurat untuk anestesi.

Kehilangan panas dapat trejadi waktu kulit dipajankan dengan suhu dingin. Anestesi dapat menekan hipotalamus dan mnegakibatkan gangguan regulasi suhu tubuh.

3.

Pasca operasi a. Pengkajian data dasar 1) kaji tingkat kesadaran. 2) Ukur tanda-tanda vital. 3) Auskultasi bunyi nafas. 4) Kaji kulit: warna, adanya bengkak, suhu (hangat, kering, dingin, lembab). 5) Inspeksi status balutan. 6) Kaji terhadap nyeri atau mual. 7) Kaji status alat intrusive: a) Infus intravena: tipe cairan, kecepatan aliran, sisi infuse terhadap tanda-tanda infiltrasi atau flebitis. b) Alat drainase luka. c) Kateter foley: selang bebas lipatan, warna dan jumlah urine, selang ditempelkan pada paha. d) Selang NG untuk penghisapan: warna dan jumlah drainase. e) Selang dada. 8) Periksa laporang ruang pemulihan (recovery room/RR) terhadap: a) adanya obat yang diberikan. b) Masukan dan haluaran urine. c) Adanya masalah khusus. d) Perkiraan kehilangan darah. 9) Palpasi nadi pedalis secara bilateral. 10) Evaluasi kembalinya refleks gag. 11) Periksa laporan operasi terhadap tipe anestesi yang diberikan dan lamanya waktu di bawah anestesi. b. Diagnosa keperawatan 1) Nyeri b/d pembedahan. 2) Resiko kurang volume cairan b/d dampak penggunaan obat anestesi terhadap penurunan cardiac output, perdarahan intra operasi. 3) Kurang perawatan diri b/d keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap pembedahan. Rencana tindakan dan rasional 1) Nyeri b/d pembedahan. Batasan karakteristik: menyatakan tidak nyaman, mengeluh nyeri, meringis, postur tubuh tegang. Hasil pasien: Mendemontrasikan berkurangnya rasa tidak nyaman. Kriteria evaluasi: Tidak merasa sakit, postur tubuh rileks, tidak mengeluh. Rencana intervensi: No Intervensi Rasional 1. Pantau: Mengenal indikasi kemajuan dan Tekanan darah, nadi dan penyimpangan dari hasil yang diharapkan. pernafasan setiap 15 menit. Intensitas nyeri dengan skala 1-10. Tingkat kesadaran. 2. Jika diresepkan analgetik, Mempertahankan kadar darah yang aturlah analgesic secara rutin konsisten dari analgesic merupakan selama 24 jam pertama, tanpa pengendali yang terbaik. menunggu pasien memintanya. 3. Beritahu dokter jika analgesic Mengindikasikan perlunya untuk tidak dapat menghilangkan mengubah dosis, jarak, atau jenis sakit. analgesic. Juga mengindikasikan adanya komplikasi, seperti perdarahan ke bagian yang dioperasi. 4. Latih teknik distraksi seperti Teknik distraksi seperti nafas dalam dapat nafas dalam. meningkatkan relaksasi pasien dan

c.

membantu mengontrol nyeri. 2) Resiko kurang volume cairan b/d dampak penggunaan obat anestesi terhadap penurunan cardiac output, perdarahan intra operasi. Batasan karakteristik: Menunjukkan manifestasi awal komplikasi, pengamatan insisi pasca pembedahan. Hasil pasien: mendemontasikan tidak adanya komplikasi. Kriteria evaluasi: Tidak ada dehidrasi, tidak ada perdarahan, vital sign dalam batas normal, masukan dan haluaran seimbang. Rencana intervensi: No Intervensi Rasional 1. Pantau: Mengidentifikasi indikasi kemajuan atau tanda vital setiap 5 adanya penyimpangan dari hasil yang menit.. diharapkan. Masukan dan haluaran 2. durante operasi. Mengganti kehilangan/haluaran cairan Berikan cairan pengganti sesuai sesuai dengan jumlah haluaran yang dengan haluaran dari urine, terjadi untuk mencapai keseimbangan penguapan, perdarahan serta cairan tubuh. 3. kebutuhan cairan maintenance. 4. Kaji refill time. Mengidentifikasikan adanay gangguan Kolaborasi pemberian cairan perfusi jaringan akibat penurunan cardiac elektrolit pengganti bila terjadi output akibat penggunaan obat anestesi. perdarahan > 500 cc. Menggantikan elektrolit yang hilang durante operasi. 3) Kurang perawatan diri b/d keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap pembedahan. Batasan karakteristik: Meminta bantuan beberapa aspek AKS (makan, mandi, berdandan, ke kamar mandi, ambulasi). Hasil pasien: mendemonstrasikan bahwa kebutuhan AKS terpenuhi. Kriteria evaluasi: Mengidentifikasikan area kebutuhan, mengungkapkan AKS terpenuhi. Rencana intervensi: No Intervensi Rasional 1. Tentukan tingkat bantuan yang Mendorong kemandirian pasien. diperlukan. Berikan bantuan AKS sesuai keperluan. Membiarkan pasien melakukan sebanyak mungkin aktifitas untuk dirinya sebatas yang diperbolehkan. 2. Berikan waktu yang cukup bagi Membebani pasien dengan aktifitas akan pasien untuk melkaukan menimbulkan frustasi. aktifitas. 3. Jelaskan prosedur pasca Pengetahuan dapat meningkatkan operasi yang harus ditaati kerjasama pasien sehingga membnatu pasien: pasien mentaati prosedur pasca operasi. Berbaring telentang selama waktu anestesi masih berpengaruh. Larangan makan minum sampai peristaltic usus baik pada anestesi dengan inhalasi. Telentang 24 jam pada penggunaan anestesi SAB, boleh miki/mika tapi tidak boleh duduk. Boleh minum sedikit bila sudah sadar baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA. 2. Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid II Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 3. C.J.H Van De Velde, F.T. Bosman, D.J.Th.Wagener (1999), Onkologi, Panitia Kanker RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. 4. Geoffrey Chamberlain, Sir John Dewhurst (1994), Obstetri dan Ginekologi Praktis, Widya Medika, Jakarta. 5. Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta 6. Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume I, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta. 7. Larry J.Copeland (1993), Textbook of Gynecology, WB. Sauders Company, Philadelphia. 8. Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta. 9. R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 10. Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

ASUHAN KEPERAWATAN PRE – INTRA DAN PASCA OPERASI PADA PASIEN NY. J. DENGAN CA VULVA POST VULVECTOMY PRO GROIN DISSECTION DI RUANG OK 508 GBPT L. 5, RSUD DR. SOETOMO SURABAYA TANGGAL 19 FEBRUARI 2002
PENGKAJIAN A. PRA OPERASI Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2002 pada pukul 07.00 WIB. 1. Identitas Nama : Ny. J Tgl MRS : 17-2- 2002 Umur : 47 tahun Register : 10113448 Jenis kelamin :perempuan Diagnose : Ca vulva post vulvectomy Suku Bangsa : Jawa pro groin dissection. Agama : Islam Pekerjaan : Tani. Pendidikan : SD Alamat : Desa Cepet Rt 1/RW 3, Ngawi. Keluhan utama : nyeri pada kemaluan dan keluar darah. sebelumnya : Sejak lebih kurang 3 bulan yang lalu, pasien merasakan nyeri pada kemaluan hilang timbul serta seperti tumbuh benjolan pada kemaluan bagian luar, dibawa berobat ke dokter swasta di Ngawi dan diberi obat tapi nyeri tidak berkurang. Kemudian pasien mengeluhkan keluar darah dari kemaluan dan nyeri dirasa semakin hebat. Pasien berobat ke RSUD Magetan dan dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Pasien dilakukan biopsi pada tgl 18 Desember 2001 dengan hasil adanya keganasan. Kemudian pasien dilakuan vulvectomy pada tanggal 16 Januari 2002 dan dilakukan pengangkatan massa tumor, diperiksakan ke PA dan hasilnya adanya keganasan. Kemudian pasien direncanakan untuk dilakukan groin dissection untuk mengetahui adanya metastase tumor ke kelenjar inguinalis dan sekitranya pada tgl 19 Februari 2002 di OK GBPT Lantai V. II Riwayat Keperawatan 2.1 Riwayat penyakit sebelumnya: Dmdan riwayat HT disangkal. 2.2 Riwayat penyakit sekarang : pasien mengatakan takut dengan operasi yang akan dilakukan dan bertanya mengapa harus dioperasi lagi. Pasien banyak bicara ngalur-ngidul. 2.3 Riwayat kesehatan keluarga : Riwayat penyakit yang sama pada keluarga (-) . 2.4 Keadaan kesehatan lingkungan : tidak dikaji 2.5 Riwayat kesehatan lainnya : taa 2.6 Alat bantu yang dipakai
Gigi palsu : --

Kaca mata :-Pendengaran:taa Lain-lain :taa III. Observasi dan Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum : sadar CM, terbaring di tt. 2. Tanda vital :S: 36,8 0C, N: 112 x/mnt, TD: 110/70 mmHg, RR: 20 x/mnt. 3. Body System 3.1 Pernafasan Hidung : taa.

Trachea : taa Dada : - Bentuk : simetris - Gerakan : simetris, nyeri dada (-). Suara nafas dan lokasi : vesikuler +/+ Jenis nafas Batuk Sputum Cyanosis Frekwensi nafas 3.2 Kardiovaskuler Nyeri dada Pusing Kram kaki Sakit kepala Palpitasi Clubing finger Suara jantung Edema Kapilari refill Lainnya 3.3 Persarafan Kesadaran GCS Kepala dan wajah Mata Sklera Konjunctiva Pupil Leher Reflek fisiologis Reflek patologis Pendengaran Penciuman Pengecapan Penglihatan Perabaan Lainnya : hidung : -: taa : taa : 20 x/mnt. : taa : taa. : --. : -: -:-: S1 S2 tunggal. : taa : 2 dtk. : -: CM : E4V5M6 : dbn : anemis (-), sianosis (-). : putih : merah muda. : isokor : DVJ (-). : dbn : taa : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : --

3.4 Perkemihan –Eliminasi Urine Produksi urine : tidak dapat dikaji. Warna urine :--. Gangguan saat kencing : taa. . Lainnya : -3.5 Pencernaan - Eliminasi Alvi Mulut : bersih, gigi lengkap, mukosa bibir lembab. Tenggorokan : sakit menelan (-). Abdomen : distensi (-), peristaltik usus baik. Rectum : dbn Bab : -Obat pencahar : -Lavement : -Lain-lain : -3.6 Tulang – Otot – Integumen Kemampuan pergerakan sendi: 555 555 555 555 Extremitas : - Atas : pergerakan baik, kekuatan otot baik. - Bawah : pergerakan baik, kekuatan otot baik. - Tulang belakang :dbn

Kulit: - Warna kulit - Akral - Turgor

:sawo matang. :hangat, oedem (--) : baik

3.7 Sistem Endokrin Terapi hormon : -Karakteristik seks sekunder: dbn Riwayat pertumbuhan dan perkembnagan fisik: taa 3.8 Sistem Hematopoietik Diagnosis penyakit hematopoietik yang lalu: -Type darah: O 3.9 Reproduksi Perempuan: pasien menopause 1 tahuan yang lalu, riwayat menarche umur 16 tahun, nyeri haid jarang, riwayat persalinan 2 kali, spontan, di bidan, umur anak terkecil 23 tahun. Pemeriksaan alat genetalia eksterna: vulva tidak ada, labia mayora dan labia minora tidak ada, bekas luka operasi vulvectomy kering. Pemeriksaan kelenjar getah bening inguinal kiri kanan teraba ada massa, berdungkul tidak merata. 4.0 Psikososial Konsep diri: -Citra diri: - Tanggapan tentang tubuh: taa - Bagian tubuh yang disukai: taa - Bagian tubuh yang tidak disukai: taa - Persepsi thd kehilangan bagian tubuh: taa - Lainnya, sebutkan: taa Identitas: - Status klien dalam keluarga: istri, ibu rumah tangga - Kepuasan klien thd status dan posisi dlm keluarga: puas - Kepuasan klien thd jenis kelamin: puas - Lainnya, sebutkan: taa Peran: - tanggapan klien thd perannya: cukup puas. - Kemampuan/kesanggupan klien melaksanakan perannya: sanggup melaksanakan peran. - Kepuasan klien melaksanakan perannya: puas. Ideal diri/harapan: - harapan klien thd: = Tubuh: suapaya cepat sembuh. = Posisi (dlm pekerjaan): taa = Status dlm keluarga: taa = Tugas/pekerjaan:taa. - Harapan klien thd lingkungan: taa - Harapan klien thd penyakit yg diderita: penyakitnya dapat segera disembuhkan. Harga diri: - Tanggapan klien thd harga dirinya: taa - Lainnya, sebutkan: taa Sosial/interaksi: - Hubungan dengan klien: suami. - Dukungan keluarga: baik - Dukungan kelompok/teman/masyarakat: baik - Reaksi saat interaksi: kooperatif, komunikasi lancar dan jelas. - Konflik yang terjadi terhadap: taa 3.11 Spiritual: - Konsep tentang penguasa kehidupan: Allah SWT. - Sumber kekuatan/harapan saat sakit: Allah SWT, tenaga dokter dan perawat serta dukungan keluarga. - Ritual agama yg berarti/diharapkan saat ini: dapat melaksanakan sholat dengan baik (selama dirawat klien sholat di TT). - Sarana/peralatan/orang yg diperlukan dlm melaksanakan ritual agama yg diharapkan saat ini: taa - Upaya kesehatan yang bertentangan dgn keyakinan agama: taa

-

-

Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dlm menghadapi situasi sakit saat ini: sangat yakin Tuhan akan membantu kesembuhan. Keyakinan/kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan: sangat yakin. Persepsi thd penyebab penyakit: tidak tahu.

Pemeriksaan penunjang: Tanggal Jenis Pemeriksaan 18-12-2001 Biopsi jaringan tumor. 2-1-2002 Mikrobiologi urine: 1. Jml kuman/ml/24 jam 2. jenis kuman 3. Kepekaan antibiotika: Amikasin Ampisilin Chlorampenicol Cotrimoxazole Cefepime Ceftriaxone Nalidixic acid Nitrofurantoin Foto thoraks

Hasil Nilai normal Invansive keratinizing epidermoid Tidak ada. carcinoma, well differentiated dengan bentukan papil. > 105 proteus mirabilis. + + + + + + + Cor: bentuk dan besar normal. Pulmo: tidak ada kelainan, kedua sinus phrenicocostalis tajam. Kesimpulan: cor dan pulmo dalam batas normal. Contour ginjal normal, bayanagn batu sepanjang traktus urinarius (-), tampak ground glass appearanced di cavum pelvis, tampak lipping pada VL3-5. IVP: fungsi excresi ginjal tampak pada menit ke 5, nephrogram ka/ki normal, system pelviordiceal ka/ki (-), kedua ureter normal. Buli-buli: konsentrasi kontras cukup, mukosa outline rata, tampak indentasi pada stepbuli, post miksi  sisa urine minimal. Kesan: IVP kedua ginjal tidak ada kelainan, indentasi atas buli karena pembesaran uterus, spready lesis lumbalis. Irama sinus rythem. Invansive squamous, cell carcinoma, wll differentiated tepitepi dan dasar operasi bebas selsel ganas. Hb: 10,9 g/dl Leuko: 7,8 x 1000/UL Trombo: 439 x 1000/dl Faal H: - BT: 2 menit - CT: 6 menit - PPT: 12,6, C: 11,5 - KPTT: 33,5, C: 30,8 Kalium: 4,3 mEq/dl Natrium: 140 mEq/dl Glukosa puasa: 88 mg/dl Glukosa 2 jam PP: 99 mg/dl BUN: 10 mg/dl SC: 0,9 mg/dl --+ + + + + + + + --

2-1-2002

2-1-2002

BOF dan IVP

--

7-1-2002 16-1-2002

ECG PA jaringan post vulvectomy:

---

5-2-2002

Darah lengkap

11,4-15,1 4,3-11,3 150-350 1-3 ‘ 5-10’ +/- 2 dtk dari C +/- 7 dtk dari C 3,5-5,5 135-145 < 120 < 160 10-20 < 1,19

6-2-2002

ECG

SGOT: 34 U/L SGPT: 25 U/L Albumin: 4,8 g/dl Irama sinus rythem.

< 31 < 31 3,6-5,2

Terapi: Tanggal 18 Februari 2002: Diet bubur kasar, Kanamycin 3x2 tab, Adona 3x1 ampul, Ampisilin 3x1 gr, Gentamycin 2x 80 mg, siap GSH 2 bag, lavament, puasa mulai pk. 02.00 WIB. ANALISA DATA: DATA ETIOLOGI S: Pasien mengatakan Kurang takut dengan operasi pengetahuan yang akan dilakukan. mengenai O: Pasien banyak beberapa aspek bertanya tentang pembedahan. operasi yang akan dilakukan, pasien banyak bicara ngalurngidul, skala HARS: 56

PATOFISIOLOGI Kurang pengetahuan mengenai beberapa aspek pembedahan Kurang dapat memahami tujuan pembedahan Gelisah, cemas, takut

MASALAH Ansietas

DIAGNOSA KEPERAWATAN: Ansietas b/d kurang pengetahuan mengenai beberapa aspek pembedahan. Data penunjang: S: Pasien mengatakan takut dengan operasi yang akan dilakukan. O: Pasien banyak bertanya tentang operasi yang akan dilakukan, pasien banyak bicara ngalurngidul, skala HARS: 5-6 RENCANA TINDAKAN, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI:

Diagnosa Keperawatan Ansietas b/d kurang pengetahuan mengenai beberapa aspek pembedahan. Data penunjang: S:Pasien mengatakan takut dengan operasi yang akan dilakukan. O:Pasien banyak bertanya tentang operasi yang akan dilakukan, pasien banyak bicara ngalurngidul, skala HARS: 5-6

Rencana Intervensi Tujuan Intervensi Rasional Setelah diberikan Kaji tingkat ansietas pasien. Membantu menentukan intervensi asuhan keperawatan keperawatan untuk mengatasi selama 15 menit, ansietas. ansietas berkurang. Jelaskan apa yang terjadi Pengetahuan tentang apa yang selama periode pra operasi diperkirakan membnatu dan pasca operasi, termasuk mengurangi ansietas dan obat-obatan pra operasi, meningkatkan kerjasama pasien tinggal di ruang pemulihan selama pemulihan. dan program pasca operasi. Ajarkan dan usahakan Mendorong keterlibatan pasien pasien untuk: dalam perawatan diri pasca - nafas dalam operasi. - berbalik - turun dari tempat tidur. - Membebat bagian yang dibedah ketika batuk. Biarkan pasien Dengan mengungkapkan mengungkapkan perasaan perasaan membnatu tentang pengalaman ketika memecahkan masalah dan pembedahan sebelumnya. memungkinkan pemberi Perbaiki jika ada kekeliruan perawatan untuk mengidentifikasi konsep. kekeliruan yang dapat menjadi Lengkapi daftar aktifitas sumber ketakutan. pada daftar cek pra operasi. Daftar cek memastikan semua aktifitas yang diperlukan sudah lengkap. Aktifitas tersebut dirancang untuk membantu pasien siap secara fisiologis untuk pembedahan, sehingga mengurangi resiko lamanya penyembuhan. Tegaskan penjelasan dari Pengulangan tersebut dokter. meningkatkan pemahaman pasien.

Implementasi 07.00 Mengkaji tingkat pemahaman pasein tentang prosedur operasi yang akan dilakukan. 07.05 Menjelaskan prosedur operasi yang akan dilakukan secara sederhana. 07.10 Mengajarkan pasien nafas dalam untuk mengurangi nyeri. 07.15 Memberikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.

Evaluasi Pasien tenang, pasien mengatakan mengerti dnegan penjelasan yang diberikan mengenai prosedur dan tujuan operasi dilakukan.

CATATAN PERKEMBANGAN Tanggal 19-2-2002 07.20 Diagnosa Keperawatan Ansietas b/d kurang pengetahuan mengenai beberapa aspek pembedahan. Data penunjang: S:Pasien mengatakan takut dengan operasi yang akan dilakukan. O:Pasien banyak bertanya tentang operasi yang akan dilakukan, pasien banyak bicara ngalurngidul, skala HARS: 5-6 Evaluasi S; Pasien mengatakan rasa takutnya agak berkurang, pasien mengatakan sudah pasrah dan mempercayakan kepada dokter dan perawat dalam operasinya nanti, pasien mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan tentang tujuan dilakukan operasi yang kedua. O: Pasien tenang, bicara agak berkurang, pasien memejamkan matanya. A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan.

ASUHAN KEPERAWATAN INTRA OPERASI ANALISA DATA DATA S: -O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 500 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc. S:-O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 1000 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc, lama pembedahan 1 jam 30 menit. ETIOLOGI Penurunan cardiac output akibat penggunaan SAB. PATOFISIOLOGI Penggunaan SAB Vasodilatasi Cardiac output menurun Volume cairan dalam sirkulasi turun Pembedahan lama Terpajan suhu ruangan dingin lebih lama dan penggunaan obat anestesi Rangsangan terhadap hipotalamus Regulasi suhu tubuh terganggu Hipotermi Diagnosa keperawatan 1. Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. Data penunjang: S: -O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 500 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc. 2. Resiko hipotermi b/d pembedahan lama dengan pengeluaran darah atau cairan yang banyak. Data penunjang: S:-O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 1000 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc, lama pembedahan 1 jam 30 menit. Rencana tindakan, implementasi dan evaluasi: MASALAH Resiko kekurangan volume cairan.

Pembedahan lama.

Resiko hipotermi

Diagnosa Keperawatan Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. Data penunjang: S: -O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 1000 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc. Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama operasi berlangsung, kekuranagn volume cairan tubuh tidak terjadi.

Rencana Intervensi Intervensi Rasional Pantau: Mengidentifikasi indikasi tanda vital setiap 5 kemajuan atau adanya menit.. penyimpangan dari hasil yang Masukan dan diharapkan. haluaran durante operasi. Mengganti kehilangan/haluaran Berikan cairan pengganti cairan sesuai dengan jumlah sesuai dengan haluaran dari haluaran yang terjadi untuk urine, penguapan, mencapai keseimbangan cairan perdarahan serta kebutuhan tubuh. cairan maintenance. Mengidentifikasikan adanay Kaji refill time. gangguan perfusi jaringan akibat penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi.

Implementasi 08.30 Mengukur vital sign. 08.40 Melakukan hidrasi cairan 500 cc. 08.50 Memasang dower catheter (urine 750 cc) 09.30 Mengobservasi balance cairan. 10.00 Mengukur vital sign (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0 C), refill time: 2 dtk. 10.30 Mngukur balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc).

Evaluasi TD: 110/70 mmHg, N: 88 x/mnt; RR: 20 x/mnt; S: 36,50C, HR: 88 x/mnt, Output dan input seimbang, refill time 1-3 detik.

Resiko hipotermi b/d pembedahan lama dengan pengeluaran darah atau cairan yang banyak. Data penunjang: S:-O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 500 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc, lama pembedahan 1 jam 30 menit.

Setelah diberikan Catat suhu pra operasi. asuhan keperawatan selama operasi berlangsung, Pantau: hipotermi tidak Vital sign. terjadi. Keseimbangan cairan durante operasi. Kestabilan suhu ruangan operasi. Kaji suhu lingkungan dan modifikasi sesuai kebutuhan. Lindungi area kulit diluar wilayah operasi.

Sebagai dasar untuk memantau 08.30 Membaringkan pasien suhu intra operasi. Elevasi suhu di atas meja operasi, pra operasi adalah indikasi dari memberi alas meja proses penyakit. operasi dengan kain Mengidentifikasi adanya bersih. penyimpangan dari criteria yang 09.00 Mempersempit lapang diharapkan. Kehilangan cairan operasi denagn doek durante operasi dapat steril. meningkatkan suhu tubuh. 09.10 memantau vital sign: TD: 100/70 mmHg, N: Membantu mempertahankan suhu 92 x/mnt; HR: 96 x/mnt; pasien. RR: 18 x/mnt; S: 36,40C, refill time 3 dtk, Kehilangan panas dapat trejadi suhu ruang operasi: waktu kulit dipajankan dengan 200C. suhu dingin. 10.30 Mengukur vital sign (TD: 100/70 mmHg, N:

TD: 110/70 mmHg, N: 88 x/mnt, HR: 88 x/mnt, RR: 20 x/mnt; S: 36,50C, akral hangat dan kering.

Sediakan selimut Anestesi dapat menekan penghangat pada saat-saat hipotalamus dan mnegakibatkan darurat untuk anestesi. gangguan regulasi suhu tubuh.

92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0 C), refill time: 2 dtk.

CATATAN PERKEMBANGAN Tanggal 19-2-2002 10.30 Diagnosa Keperawatan Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. Data penunjang: S: -O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 1000 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc. Resiko hipotermi b/d pembedahan lama dengan pengeluaran darah atau cairan yang banyak. Data penunjang: S:-O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, hidrasi cairan 500 cc, urine 750 cc, refill time 3 dtk, perdarahan 50 cc, lama pembedahan 1 jam 30 menit. Evaluasi S: -O: vital sign (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0C), refill time: 2 dtk. balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc). A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan. S: -O: vital sign (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0C), refill time: 2 dtk. balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc). A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan.

19-2-2002 10.30

PASCA OPERASI ANALISA DATA DATA S; Pasien mengeluh luka operasi mulai terasa nyeri, kaki masih dirasa berat. O; (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; skala nyeri 4, pasien tenang. S; Pasien mengeluh haus. O; vital sign (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0C), refill time: 2 dtk. balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc). efek anestesi (SAB) masih ada sampai 24 jam pertama. S; Pasien mengeluh kaki masih terasa berat. O; Efek anestesi masih ada sampai 24 jam pertama, anestesi SAB.

ETIOLOGI Pembedahan

PATOFISIOLOGI Pembedahan Pemutusan nosiseptor Menghantarkan rangsang nyeri Diterima sebagai respon nyeri Penggunaan SAB Vasodilatasi Cardiac output menurun Volume cairan dalam sirkulasi turun

MASALAH Nyeri

Penurunan cardiac output sebagai efek anestesi SAB.

Resiko kekurangan volume cairan

keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap pembedahan.

Penggunaan SAB Efek 24 jam pertama  berbaring telentang (miki/mika) Mobilitas fisik terbatas skunder. Perawatan diri kurang.

Kurang perawatan diri

Diagnosa keperawatan 1. Nyeri b/d pembedahan. Data penunjang: S; Pasien mengeluh luka operasi mulai terasa nyeri, kaki masih dirasa berat. O; (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; skala nyeri 4, pasien tenang. 2. Resiko kurang volume cairan b/d dampak penggunaan obat anestesi terhadap penurunan cardiac output, perdarahan intra operasi. Data penunjang: S; Pasien mengeluh haus. O; vital sign (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0C), refill time: 2 dtk. balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc). efek anestesi (SAB) masih ada sampai 24 jam pertama. 3. Kurang perawatan diri b/d keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap pembedahan. Data penunjang: S; Pasien mengeluh kaki masih terasa berat. O; Efek anestesi masih ada sampai 24 jam pertama, anestesi SAB. Rencana Tindakan, Rasional, implementasi dan evaluasi:

Diagnosa Keperawatan .Nyeri b/d pembedahan. Data penunjang: S; Pasien mengeluh luka operasi mulai terasa nyeri, kaki masih dirasa berat. O; (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; skala nyeri 4, pasien tenang.

Rencana Intervensi Tujuan Intervensi Rasional Setelah Pantau: Mengenal indikasi kemajuan dan diberikan Tekanan darah, nadi penyimpangan dari hasil yang asuhan dan pernafasan setiap 15 diharapkan. keperawatan menit. selama 1 x 24 Intensitas nyeri jam, nyeri dengan skala 1-10. operasi Tingkat kesadaran. berkurang. Jika diresepkan analgetik, Mempertahankan kadar darah aturlah analgesic secara yang konsisten dari analgesic rutin selama 24 jam merupakan pengendali yang pertama, tanpa menunggu terbaik. pasien memintanya. Beritahu dokter jika Mengindikasikan perlunya untuk analgesic tidak dapat mengubah dosis, jarak, atau jenis menghilangkan sakit. analgesic. Juga mengindikasikan adanya komplikasi, seperti perdarahan ke bagian yang dioperasi. Latih teknik distraksi seperti Teknik distraksi seperti nafas nafas dalam. dalam dapat meningkatkan relaksasi pasien dan membantu mengontrol nyeri.

Implementasi 10.35 Memindahkan pasien ke RR 10.45 Mengukur vital sign (TD: 110/70 mmHg, RR: 20 x/mnt; N: 88 x/mnt), pasien sadar CM, kleuhan nyeri mulai dirasa pada luka operasi, kaki masih dirasa berat. 11.00 Memberi obat ketoprofen 2 tab. 11.30 Mengukur vital sign (TD: 110/70 mmHg, N: 80 x/mnt; RR: 20 x/mnt), pasein tidur. 11.50 Menjelaskan perlunya pasien berbaring telentang (miki/mika boleh asal tidak duduk) sampai besok tgl 20 – 22002 pkl. 09.00 WIB. 11.55 Melatih apsien nafas dalam untuk mengurangi nyeri. 12.00 Pasien pindah ke UPI Kandungan. 10.45 Mengukur vital sign. 11.00 Mengobservasi balance cairan (RL Post op: 500 cc, urine: 200 cc). 11.30 Mengukur vital sign (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; S: 36,9 0 C), refill time: 2 dtk.

Evaluasi TD: 110/70 mmHg, N: 80 x/mnt; RR: 20 x/mnt; pasien tenang, pasien mengatakan nyeri sudah berkurang, pasien dapat miki/mika tanpa takut nyeri.

Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. Data penunjang: S: -O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt,

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama operasi berlangsung, kekuranagn volume cairan tubuh tidak terjadi.

Pantau: tanda vital setiap 5 menit.. Masukan dan haluaran durante operasi. Berikan cairan pengganti sesuai dengan haluaran dari urine, penguapan, perdarahan serta kebutuhan

Mengidentifikasi indikasi kemajuan atau adanya penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Mengganti kehilangan/haluaran cairan sesuai dengan jumlah haluaran yang terjadi untuk mencapai keseimbangan cairan tubuh.

TD: 110/70 mmHg, N: 88 x/mnt; RR: 20 x/mnt; S: 36,50C, HR: 88 x/mnt, Output dan input seimbang, refill time 1-3 detik.

RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, . balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc). efek anestesi (SAB) masih ada sampai 24 jam pertama. Kurang perawatan diri b/d keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap pembedahan. Data penunjang: S; Pasien mengeluh kaki masih terasa berat. O; Efek anestesi masih ada sampai 24 jam pertama, anestesi SAB. Setealh diberikan asuhan keperawatan selama 2x24 jam, pasien dapat memenuhi AKS secara mandiri (makan, minum, berpakaian, mandi, ke kamar mandi)

cairan maintenance. Kaji refill time.

Mengidentifikasikan adanay gangguan perfusi jaringan akibat penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi.

Tentukan tingkat bantuan yang diperlukan. Berikan bantuan AKS sesuai keperluan. Membiarkan pasien melakukan sebanyak mungkin aktifitas untuk dirinya sebatas yang diperbolehkan. Berikan waktu yang cukup bagi pasien untuk melkaukan aktifitas. Jelaskan prosedur pasca operasi yang harus ditaati pasien: Berbaring telentang selama waktu anestesi masih berpengaruh. Larangan makan minum sampai peristaltic usus baik pada anestesi dengan inhalasi. Telentang 24 jam pada penggunaan anestesi SAB, boleh miki/mika tapi tidak boleh duduk. Boleh minum sedikit

Mendorong kemandirian pasien.

11.00

Membebani pasien dengan aktifitas akan menimbulkan frustasi. Pengetahuan dapat meningkatkan kerjasama pasien sehingga membnatu pasien mentaati prosedur pasca operasi.

menjelaskan pada pasien pentingnya tidur telentang selama 24 jam sampai tgl 20-22002 (Rabu) pk 09.00 WIB, boleh miki/mika asal jangan duduk, tidak boleh minum sampai benar-benar sadar. 11.30 membantu pasien miring kiri. 12.00 Mempersiapkan pasein pindah ke UPI Kandungan.

Pasien dapat memenuhi kebutuhan AKS secara mandir, seperti makan, mandi, berpakaian, ke akmar mandi. Puisng (-).

bila sudah sadar baik.

CATATAN PERKEMBANGAN Tanggal Diagnosa Keperawatan 19-2-2002 .Nyeri b/d pembedahan. 12.00 Data penunjang: S; Pasien mengeluh luka operasi mulai terasa nyeri, kaki masih dirasa berat. O; (TD: 100/70 mmHg, N: 92 x/mnt, HR: 96 x/mnt; RR: 18 x/mnt; skala nyeri 4, pasien tenang. 19-2-2002 12.00 Resiko kekurangan volume cairan b/d penurunan cardiac output akibat penggunaan obat anestesi, perdarahan durante operasi. Data penunjang: S: -O: TD: 100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, HR: 92 x/mnt, RR: 16 x/mnt, anestesi SAB, balance cairan: urine: 1500 cc, penguapan: 150 cc, perdarhan 50 cc (1700 cc), cairan masuk: (2500 cc). efek anestesi (SAB) masih ada sampai 24 jam pertama. Kurang perawatan diri b/d keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap pembedahan. Data penunjang: S; Pasien mengeluh kaki masih terasa berat. O; Efek anestesi masih ada sampai 24 jam pertama, anestesi SAB.

Evaluasi S: Pasien mengeluh nyeri masih terasa bahkan mulai terasa keras, pasien mengatakan kaki masih terasa berat. O: TD: 110/70 mmHg, N: 80 x/mnt; RR: 20x/mnt, pasien tenang. A: Masalah belum teratasi. P: Intervensi dilanjutkan seluruhnya. S: Pasien mengleuh haus, mual (-), pusing (-). O: TD: 110/70 mmHg, N: 80 x/mnt; RR: 20 x/mnt, CM: 500 cc, urine: 200 cc, perdarahan (-). A: Masalah belum teratasi. P: Lanjutkan seluruh intervensi.

19-2-2002 12.00

S: Pasien mengatakan kaki masih terasa berat, pusing (-) O: Efek anestesi masih ada sampai 24 jam pertama, miki/mika masih dibantu A: Masalah belum teratasi. P: Lanjutkan intervensi seluruhnya.

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PRE – INTRA DAN PASCA OPERASI PADA PASIEN NY. J. DENGAN CA VULVA POST VULVECTOMY PRO GROIN DISSECTION
DI RUANG OK 508 GBPT L. 5, RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
( Disusun Sebagai Bahan Laporan Kasus Praktek Keperawatan Profesi di Ruang OK GBPT , RSUD Dr. Soetomo Surabaya)

Oleh:

NI WAYAN DEWI TARINI NIM 019930093 B

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2002

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus Dengan judul:

ASUHAN KEPERAWATAN PRE – INTRA DAN PASCA OPERASI PADA PASIEN NY. J. DENGAN CA VULVA POST VULVECTOMY PRO GROIN DISSECTION DI RUANG OK 508 GBPT L. 5, RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Disahkan Sebagai Bahan Laporan Kasus
Di Ruang OK GBPT , RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tanggal 21 Februari 2002

Pembimbing Akademik,

Pembimbing Ruangan,

P a d o l i , S.KP NIP.

Sri Harti, A. Md. Kep NIP.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful