Tugas Kelompok: Hasil Diskusi E-Class Pemikiran Immanuel Kant Kelompok Fatmawati

Anggota

: Franz Adityatama Swastaji Agung Rahmadi Herlambang Aditya Dewa Muhammad Hadyan Hirzi Nindya Anis Arum Sari Ciptahadi Nugraha Iqbal Zakky Hasbianto

(09/282178/SP/23395) (10/297024/SP/23914) (10/299538/SP/24163) (10/296304/SP/23826) (10/299851/SP/24232) (10/296341/SP/23828) (10/297067/SP/23921) (10/302469/SP/24290)

Initiator

: Maria Yovita Liem

(1) Apa konsepsi Immanuel Kant tentang manusia? Franz Adityatama: Dari pptnya, Kant melihat manusia itu punya sisi egois dan sosial, logis dan tidak logis, dan seharusnya ada hukum untuk membantu mengarahkan tingkah laku manusia. Herlambang Aditya Dewa: menurut presentasimu Yovita, manusia itu memiliki keinginan yang bertolak belakang. Antara makhluk sosial yang dapat diasosiasikan sebagai keinginan untuk bekerjasama dan juga makhluk yang egois yang dapat diasosiasikan sebagai pemikiran yang sangat rasional. Tingkah laku tersebut dapat memicu mereka untuk berkembang. Dan diperlukan adanya hukum untuk membantu mengarahkan sifat manusia tersebut. Nindya Anis Arum Sari: Konsepsi Imanuel Kant tentang manusia adalah individu yang memiliki keinginan yang bertolak belakang antara tidak ingin hidup sendiri dan keinginan agar semua berjalan sesuai dengan kehendaknya. Dalam hal ini manusia memiliki hak universal untuk saling berhubungan dengan orang lain yang tergabung ke dalam wilayah negara yang berbeda. Asumsinya adalah manusia yang hidup dalam unit geografis yang sama kemungkinan memiliki interaksi yang besar satu sama lain sehingga sebuah negara/unit harus memberikan hak universal atau cosmopolitan ini kepada manusia, seperti : hak berpergian atau hak untuk berkorespondensi. Namun demikian untuk menjustifikasi hal tersebut diperlukan beberapa alat bantu seperti perangkat hukum publik untuk mengontrol perilaku dan keinginan manusia. Ciptahadi Nugraha: Kant meyakini bahwa manusia pada dasarnya menginginkan perdamaian yang terus menerus, mereka cenderung menginginkan dunia berjalan sesuai dengan pemikiran

atau kehendak mereka sendiri, namun hal ini bertolak belakang dengan konsepsi manusia yang tidak ingin hidup sendiri, yang malah akan menimbulkan konflik yang diakibatkan oleh perbedaan pemikiran mengenai bagaimana seharusnya dunia ini berjalan, menurut Kant, hal itulah yang akan membuat manusia berkembang. Maria Yovita Liem: Terima kasih teman-teman atas tanggapannya. Sebelum kita membahas tentang salah satu poin dari kosmopolitanisme yang disinggung Nindy, ada tanggapan dari teman-teman yang belum memberi tanggapan? Menurut Kant, manusia bersifat antagonis dalam masyarakat. Antagonisme ini disebut unsociable sociability. Alifa Alwan Azra: Kant berkonsepsi bahwa manusia memiliki 2 sisi yang berasal dari hati dan pikiran, yakni moral dan rasional. ketika keduanya berjalan dan berbenturan, dilema pasti akan dihadapi oleh manusia. maka dari itu, diperlukan hukum yang dapat mengatur/membantu manusia menyelesaikan permasalahan. Muhammad Hadyan Hirzi: menurut Kant, manusia adalah mahluk yang paradoxical, mereka menginginkan perdamaian, namun mereka membawa kepentingan mereka masing-masing. Hal tersebut membuat manusia menjadi bersifat unsociable sociability. Kondisi tersebut membuat manusia menjadi antagonistik dalam masyarakat, namun sekaligus membuat manusia dapat menggali potensi mereka. Iqbal Zakky Hasbianto: Menjawab pertanyaan pertama Yovita, Kant menjabarkan manusia sebagai mahkluk yang memiliki keinginan saling bertolak belakang: manusia sebagai mahkluk sosial dan manusia sebagai mahkluk egois. Swastaji Agung Rahmadi: Menurut Immanuel Kant, manusia sebagai makhluk yang unsociability sociable adalah kata kunci cerminan bentuk kosmopolitanisme. Manusia menginginka individu yang merdeka dan bebas dalam berinteraksi dengan manusia lain di ruang internasional. Kosmopolitanisme juga menyatakan bahwa manusia sebagai pihak yang bermakna signifikan dalam dinamika global.

(2) Apa keterkaitan/hubungan konsepsi Immanueal Kant tentang manusia dengan pemikirannya tentang kosmopolitanisme? Franz Adityatama: Untuk pertanyaan no.2, Kant melihat bahwa sifat manusia tersebut dapat mempengaruhi sifat negara juga dan kosmopolitanisme yang berusaha memahami dan menerima perbedaan dari manusia lain merupakan pemecahan dari masalah tersebut.

Alifa

Alwan

Azra:

Hubungan

antara

konsepsi

manusia

dan

kosmopolitanisme?

Kosmopolitanisme itu hadir karena manusia dan untuk manusia. Kant meyakini perlu adanya suatu badan (voluntary league) karena keamanan dunia dan hak-hak negara perlu dijaga. Dan dalam negara itulah kepentingan manusia membaur. Nindya Anis Arum Sari: Manusia dengan kosmopolitanisme erat kaitannya menurut Imanuel Kant sifat dasar manusia yang ingin selalu mencari kesenangan atau mewujudkan keinginan sendiri memiliki kaitan dengan cosmopolitan. Maksudnya adalah hak universal yang dimiliki oleh setiap manusia dijadikannya justifikasi untuk melakukan kosmopolitanisme setiap saat dimana setiap individu berhak melakukan apa yang dia senangi tanpa ada suatu otoritas yang menghalanginya. Sifat manusia yang sering disebut unsocial sociability membuat masyarakat global menjadi antagonistik yang kemudian menurut Kant setiap negara harus memberikan hak kosmopolitanisme ini kepada setiap warga negara. Muhammad Hadyan Hirzi: pertanyaan 2: manusia yang memiliki trait unsociable sociability tadi membuat dunia menjadi lahan konflik yang sangat luas. untuk meredam hal tersebut, Kant mengajukan sebuah ide mengenai moralitas internasional, sehingga keadaan dunia dapat diubah dari bersifat antagonistik, menjadi kosmopolitan (negara federasi). Ciptahadi Nugraha: Manusia dan kosmopolitanisme ini sangat dekat hubungannya, kosmopolitanisme muncul atas dasar konsepsi kebebasan fikiran manusia, hal ini berhubungan dengan hak manusia dalam berfikir menurut fikirannya sendiri, kebebasan manusia dalam bertindak dan melakukan justifikasi atas pemikiran atau tindakan orang lain tanpa ada halangan. Namun bila hal ini dibiarkan maka akan muncul kemungkinan konflik yang amat besar, nah Kant menawarkan konsep moralitas internasional sebagai pandangan yang mengubah manusia yang antagonis dapat dirubah menjadi masyarakat kosmopolitan. Nindya Anis Arum Sari: Sebagai tambahan, dalam hal ini Kant menekankan bahwa setiap manusia dalam kondisi kosmopolitanisme harus menghormati kepentingan orang lain berbasis moralitas demi tercapainya perdamaian bersama. Maria Yovita Liem: Ya, langkah konkretnya untuk beralih dari manusia yang antagonis ke manusia yang kosmopolitan menurut Kant adalah dengan mempertimbangkan setiap tindakan kita dari aspek universalitas. Ia merumuskan 'perintah pasti': 'Bertindaklah dengan cara sedemikian rupa sehingga kamu selalu menghormati perikemanusiaan, entah kepada dirimu

sendiri maupun kepada orang lain, bukan hanya sekali-sekali saja, melainkan selalu dan selamanya'. Herlambang Aditya Dewa: Kosmopolitanisme ini adalah semacam bentuk cerminan dari konsepsi Kant tentang manusia dimana kosmopolitanisme menjunjung kebebasan berpikir, tapi tetap perlu dibatasi untuk meminimalisir terjadinya konflik yang berasal dari kebebasan berpikir tersebut. Iqbal Zakky Hasbianto: Menjawab pertanyaan kedua dari Yovita, keinginan manusia yang saling bertolak belakang menimbulkan dilema dan konsekuensi yang berbeda-beda. Kant berargumen bahwa hal ini bisa menjadi masalah dan menciptakan sifat antagonis manusia. Kosmopolitanisme hadir dengan membawa pemikiran baru mengenai manusia, konsekuensi tindakan, dan identitasnya. Manusia tidak bisa lagi memikirkan satu tindakan, kemudian satu konsekuensinya melalui satu identitasnya saja. Tetapi melihat segalanya dari lingkup global (lingkup yang lebih luas).

(3) Bagaimana pengaruh pemikiran Immanuel Kant tersebut terhadap pemikir-pemikir Hubungan Internasional kontemporer? Apa relevansi pemikiran Kant dengan situasi saat ini? Iqbal Zakky Hasbianto: Menjawab pertanyaan ketiga Yovita, Kant menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam studi moralitas di ilmu hubungan internasional. Moralitas seperti yang kita ketahui menjadi landasan awal banyak teori-teori kritis. Saya rasa pemikiran Kant menjadi dasar dari pertimbangan keputusan setiap negara terhadap banyak hal, seperti bantuan kemanusiaan, gencatan senjata, dan lain-lain. Herlambang Aditya Dewa: Kant mengajarkan mengenai moralitas yang merupakan batasan dari kebebasan berpikir manusia. Hal itu dapat dikodifikasi menjadi hukum yang mengatur hubungan negara-negara di dunia internasional saat ini. Bahkan ada juga hukum yang seolah penuh dengan ajaran-ajaran moralitas seperti hukum humaniter. Intinya, Kant memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perkembangan peran moralitas dalam hubungan internasional saat ini. Dan saat ini, banyak negara-negara yang dalam pengambilan keputusannya menggunakan asas moralitas. Franz Adityatama: Menjawab pertanyaan no. 3, mungkin pemikiran Kant dapat dijadikan suatu dasar untuk menciptakan suatu peraturan yang menjaga kelangsungan perdamaian dengan basis moral pemikirannya. Pemikiran Kant juga mungkin berpengaruh pada kesamaan hak dan

perlakuan yang diberikan pada semua manusia. Meskipun begitu, menurut saya pemikiran Kant terkesan utopis, terutama poin tentang penghilangan kekuatan bersejata dari negara. Swastaji Agung Rahmadi: Kant percaya bahwa negara tidak dapat sepenuhnya adil karena dengan kecenderungan manusia yang antagonis dan suka konflik. Ada kecenderungan bagi negara untuk saling berkompetisi di panggung internasional untuk mendapatkan

superioritas/prestiges. Maka dari itu, moral internasional yang percaya akan penghormatan akan pluralias manusia perlu dibentuk agar negara yang semula antagonis menjadi kosmopolitan (human freedom is an instrument). Kaitannya pada HI kontemporer saya rasa masih relevan, saat ini nilai demokrasi, isu pembangunan mulai menjadi topik utama yang semakin dibicarakan oleh aktor internasional. Dengan nilai-nilai tersebut, kehidupan manusia akan tetap bebas dan sejahtera. Alifa Alwan Azra: Pemikiran-pemikiran Kant berperan cukup penting bagi studi hubungan internasional dan situsai internasional kini. Konsepsinya tentang pentingnya untuk membentuk lembaga internasional dan hukum yang mengikat terbukti dapat diterapkan di masa kini dengan dibentuknya PBB dan organisasi regional lain. Pemikiran Kant menjadi generator dan stimulator bagi tokoh-tokoh politik internasional untuk menjaga stabilitas keamanan dengan memegang prinsip bersama yang dibentuk melalui lembaga yang telah disetujui bersama. Muhammad Hadyan Hirzi: Pemikiran Kant memiliki asumsi bahwa sifat dasar manusia membuat dunia ini menjadi dunia yang predatorik dan siap memangsa siapapun. Untuk itu, Kant melihat perlunya sebuah peraturan yang bersifat universal dan mengikat seluruh negara, untuk mencapai perdamaian. Dalam keilmuan HI, pemikiran moralitas Kant tersebut telah menjadi dasar bagi terciptanya hukum humaniter, gerakan-gerakan perdamaian, serta bidang-bidang keilmuan lainya. relevansi pemikiran kant di era kontemporer dapat tercermin dari demokrasi yang masih terus dipakai oleh negara-negara. Ciptahadi Nugraha: Setuju dengan Iqbal, pemikiran kant yang banyak dipengaruhi oleh masalah moralitas ini menjadi dasar dari banyak pemikiran-pemikiran mengenai teori kritis di masa sekarang. Pemikiran Kant juga banyak mempengaruhi munculnya hukum-hukum maupun kebijakan yang lebih humanis, dan spesifik seperti mengenai anak-anak, feminisme, dll yang berkembang berdasarkan moralitas. Nindya Anis Arum Sari: Pengaruh pemikiran Kant terhadap pemikir HI kontemporer adalah saat ini banyak pemikir-pemikir HI yang percaya bahwa politik internasional saat ini masih

dicirikan dengan konflik atau berada dalam state of nature atau state of war (Thomas Hobbes). Meskipun demikian, Kant berpendapat bahwa politik internasional yang seperti ini merupakan satu tahapan dari evolusi dunia politik internasional untuk mencapai sebuah masyarakat global yang terhimpun di dalam sebuah entitas pemerintahan global yang dicirikan dengan perdamaian yang abadi. Revelansi pemikiran Kant dengan situasi saat ini ialah Kant menawarkan adanya organisasi internasional yang dapat mengontrol dan membantu setiap perilaku masyarakat global untuk mencapai perdamaian abadi. Hal ini termanifestasikan pada organisasi internasional seperti PBB. PBB memiliki aturan dan perangkat hukum yang legal untuk mengontrol masyarakat internasional melalui adanya pembentukan badan Dewan Keamanan. Walaupun implementasinya terjadi perdebatan akan eksistensi dari Dewan Keamanan, namun demikian substansi dari keberadaaan badan tersebut ialah mengontrol dan mengawasi setiap perilaku masyarakat internasional dan akan menegakan hukum jika terjadi distraksi antar masyarakat tersebut. Maria Yovita Liem: Ya, norma-norma internasional yang banyak terlembaga dalam PBB memang seperti pengembangan aplikasi dari pemikiran Kant. Menanggapi ketidaksetujuan Kak Franz atas utopianismenya Kant dalam hal penghilangan kekuatan bersejata dari negara, bagaimana menurut teman-teman?

(4) Apa yang teman-teman temukan unik dari pemikiran Kant? Atau apa yang teman-teman tidak setujui atau kritisi dari pemikiran Kant tentang kosmopolitanisme? Mengapa? Maria Yovita Liem: Menurut saya penghilangan kekuatan bersenjata dari negara cukup utopis, mengingat kondisi negara-negara di dunia saat ini. Tetapi, terlepas dari itu saya berorientasi, berharap terhadap hal itu, walaupun entah terwujudnya kapan. Alifa Alwan Azra: Yang unik dari pemikiran Kant adalah dia berani memaparkan 6 kondisi agar perdamaian tercipat dalam jangka waktu panjang. Padalah dunia itu terus berubah, begitu juga kepentingan Negara. Sayangnya negara-negara tidak sepenuhnya melakukan 6 kondisi yang disarankan Kant. Saya hanya berpikir apa benar jika 6 kondisi tersebut dijalankan, perdamaian jangka panjang akan tercipta? Nindya Anis Arum Sari: Menurut saya apa yang diungkapkan oleh Kant ialah suatu ide segar bahwa sebagai masyarakat yang globalis sudah selayaknya kita meninggalkan hal-hal konvensional seperti genjatan senjata dan menawarkan solusi baru untuk bekerjasama dengan

cara-cara yang lebih bermoral menimbang rasionalitas akan kerugian besar yang didapat dalam jangka panjang jika melakukan hal-hal anarkis seperti perang. Saya setuju dengan konsepsi Kant yang mengusung kosmopolitanisme untuk mencapai perdamaian melalui cara-cara yang lebih memanusiakan manusia dan bermoral seperti pembentukan organisasi untuk pengawasan masyarakat global daripada struggle for power yang menelan banyak korban. Dan saya rasa perdamaian itu tidak bersifat utopis jika masyarakat global memiliki kesadaran kolektif akan konsepsi kosmopolitanisme dalam mencapai perdamaian. Herlambang Aditya Dewa: Yang unik dari Kant adalah bagaimana dia mampu mengkombinasikan kondisi dimana manusia ingin berdamai dan di satu sisi negara ingin saling menguasai. Dan dia percaya bahwa moralitas adalah cara yang bisa digunakan untuk bisa meredam dua kondisi yang saya sebutkan diatas. Hanya saja moral itu tidak ada yang universal. Bagaimana kemudian moral yang tidak universal ini bisa menciptakan perdamaian yang universal? Dan pemikiran Kant saya nilai kurang memperhitungkan bagaimana membuat moral tersebut universal. Franz Adityatama: Menjawab pertanyaan no. 4, pemikiran Kant dapat dikritisi dan saya anggap unik dalam hal bahwa 6 poin yang diusulkan hanya dapat berfungsi apabila hal tersebut menjadi sebuah peraturan yang dipatuhi secara universal, sehingga menurut pendapat saya, hal ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan bahkan memiliki kemungkinan untuk tidak terjadi. Iqbal Zakky Hasbianto: Menjawab pertanyaan keempat Yovita, yang menarik dari pemikiran Kant adalah imajinya mengenai negara yang damai melalui league of nations. Sebuah imaji yang sangat maju dan modern sekali di masa Kant. Maria Yovita Liem: Ya, untuk menjalankan 6 program/kondisi yang dianjurkan Kant tersebut, ia menambahkan kalau perdamaian dunia dapat terwujud dengan adanya hak emigrasi, serta negara-negara berbentuk republik dan adanya lembaga seperti PBB. Kant mendasari ini semua dengan keyakinan adanya moralitas yang universal. Setujukan teman-teman bahwa ada moralitas yang universal? Atau moralitas itu subjektif? Franz Adityatama: Menurut saya moralitas itu subyektif. Tentunya apabila moral itu sudah universal dari awalnya maka tidak perlu repot-repot menggunakkan hukum publik. Swastaji Agung Rahmadi: pemikiran yang cukup unik dari Kant adalah asumsinya bahwa negara berbentuk republik cenderung bersifat pasifis. Saat ini masih belum pahham mengapa kant percaya bahwa bentuk republik tidaklah efektif dalam menciptakan perdamaian, Saat ini

memang bentuk negara mayoritas di dunia adalah republik, jadi saya rasa, asumsi Kant terkait hal ini tidaklah relevan. Herlambang Aditya Dewa: Moralitas itu subjektif lah. Bagaimanapun itu semua tergantung kepada individu masing-masing karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi kondisi moralitas tersebut. Dan kondisi yang mempengaruhi itu tidak akan sama di negara-negara lain. Nindya Anis Arum Sari: Saya setuju moralitas itu subyektif dimana pemahaman mengenai konsep moral berbeda-beda dan dalam pengimplemetasiannya cenderung memiliki kepentingan setiap individu. Namun demikian adanya idealisme cosmopolitan tentunya moralitas yang subyektif diharapkan akan membentuk kesadaran universal untuk mencapai perdamaian. Alifa Alwan Azra: Moralitas itu subyektif. Alasannya hampir sama dengan teman-teman diatas sih. Maria Yovita Liem: Wah, berarti banyak yang tidak setuju dengan landasan moralitas universal-nya Kant ya. Dalam hal ini, Kant sependapat dengan Sokrates, bahwa moralitas itu abadi, mutlak dan universal. Bahwa membunuh manusia lain itu pasti secara moral salah di manapun manusia berada dan dalam waktu/era kapanpun. Yang membenarkan tindakan-tindakan tersebut seringkali adalah rasionalitas, bukan moralitas. Sementara kaum Sophis beranggapan bahwa persepsi mengenai apa yang benar dan salah beragam dari satu tempat ke tempat lain, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, seperti yang dikatakan teman-teman.

Kesimpulan Dalam memaknai konsep manusia menurut Kant, kami cukup sependapat bahwa menurut Kant manusia itu adalah unsociably social human beings. Manusia memiliki kecenderungan besar untuk terlibat dan terhubung dalam masyarakat tetapi di saat yang sama manusia memiliki pertahanan yang kuat untuk ‘menghancurkan’ masyarakat (atau paling tidak ‘keluar’ dari masyarakat). Manusia ingin semua berjalan sesuai dengan kehendaknya (hanya dapat terjadi bila manusia hidup sendiri) tetapi di saat yang sama manusia sadar bahwa ia tidak dapat hidup sendiri. Manusia memiliki kecenderungan yang antagonistik. Manusia itu rasional, bermoral, autonomous dan punya free will. Free will ini bila disalahgunakan dapat berujung pada konflik dan perang. Dalam hubungan antara konsep manusia dan kosmopolitanisme, jawaban kami juga cukup satu suara. Antagonisme manusia ini dapat merugikan maka harus ada hukum publik

universal yang mengatur manusia atau moralitas universal. Kant sangat meyakini keberadaan moralitas universal ini. Di sisi lain, antagonisme manusia ini juga harus tetap ada karena antagonisme manusia inilah yang mendorong manusia untuk menjadi lebih baik; mendorong manusia untuk menggali potensi-potensi dirinya; menciptakan budaya manusia yang lebih baik lagi untuk dilanjutkan di generasi berikutnya. Tetapi manusia tetap harus menjadi bebas dengan membatasi dirinya dengan mengikuti moralitas universal. Keyakinan akan moralitas universal ini dapat dikatakan diaplikasikan lewat adanya federation of nations, di mana setiap manusia yang bebas ini merasa I am the citizen of the world. Kami sepakat bahwa pemikiran Kant sangat relevan hingga saat ini dan sangat berpengaruh pada banyak tokoh, terutama dalam hubungan internasional. Norma-norma internasional tentang HAM, demokrasi, kebebasan dan kemanusiaan sekarang sangat mengemuka dan kesemuanya itu sejalan dengan pemikiran Kant. Selain itu, keberadaan PBB seperti mengamini pemikiran Kant tentang federation of nations. Saat berdiskusi tentang ini salah satu dari kami mulai menyatakan ketidaksetujuannya akan salah satu pemikiran Kant. Hal ini sejalan dengan pertanyaan selanjutnya mengenai apa yang ingin

dikritisi/ditidaksetujui/unik/menarik dari pemikiran Kant. Banyak dari kami yang mengkritisi pemikiran Kant tentang 6 kondisi/programmnya, dengan mempertanyakan apakah tercapainya 6 kondisi tersebut maka akan terwujud perdamaian dunia atau tidak. Ada juga yang berpendapat bahwa pemikiran Kant yang mampu mengkombinasikan sisi positif dan negatif manusia sebagai sesuatu yang unik, bahwa ide-ide Kant, termasuk league of nations-nya, adalah sesuatu yang segar dan positif di tengah politik internasional. Pada bagian ini kami mulai mempertanyakan pemikiran Kant (pemikirannya agar kekuatan bersenjata dihapuskan dianggap sebagai sesuatu yang utopis), terutama tentang landasan moralitas universalnya. Walaupun tampak utopis, beberapa dari kami tetap yakin dan berharap pada terwujudnya pemikiran Kant. Hampir semua berpendapat bahwa moralitas adalah sesuatu yang subjektif, bukan sesuatu yang universal. Hal ini cukup mengagetkan inisiator karena moralitas universal adalah landasan pemikiran Kant. Federation of Nations adalah perpanjangan dari kesadaran akan adanya moralitas universal. Federation of Nations hanya dapat berjalan efektif bila ada kesadaran akan moralitas universal. Banyak dari kami yang berpendapat bahwa moralitas beragam dari satu tempat ke tempat lain, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Moralitas tergantung kepada

individu masing-masing karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi kondisi moralitas dan kondisi yang mempengaruhi itu tidak akan sama di negara-negara lain. Sayangnya ketika diskusi mulai menghangat waktu untuk berdiskusi sudah selesai. Diskusi kami berjalan lancar dan menarik, berkat partisipasi aktif dari masing-masing peserta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful