MAKALAH UNIT PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN AEROBIC ROUGHING FILTER UNTUK MENURUNKAN KADAR COD

(Chemical Oxygen Demand) DAN WARNA

DOSEN PEMBIMBING : BADARUDDIN MU’MIN, MT NIP 19884118 200812 2 003

OLEH : GINA LOVASARI M.SADIQUL IMAN H1E108020 H1E108059

PROGAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2011

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunai-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Pengolahan Limbah Cair Batik Menggunakan Aerobic Roughing Filter Untuk Menurunkan Kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dan Warna ini. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Unit Proses. Penyusunan makalah ini berdasarkan format yang telah diberikan. Namun demikian, penulis menyadari keterbatasan yang dimiliki dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini menjadi lebih baik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Badaruddin Mu’min, M.T selaku dosen pengajar dan pembimbing dalam penyusunan makalah ini. Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat digunakan sebagaimana mestinya dan juga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Banjarbaru, Januari 2011

Penulis

Oleh karena itu pengolahan limbah cair industri batik perlu diterapkan. Pembuangan limbah cair industri batik biasanya memiliki konsentrasi biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) maupun warna yang melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Keberadaan polutan yang terdapat pada limbah cair industri batik ini dapat berupa padatan tersuspensi. bahan kimia maupun zat organik. 1. Penggunaan bahan kimia biasanya pada saat proses pewarnaan maupun pencelupan kain batik.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa efektif penggunaan aerobic roughing filter aliran horisontal dalam menghilangkan kadar COD dan warna pada limbah cair industri batik. Dalam proses produksinya. Limbah cair industri batik kemudian dijadikan suatu penelitian dalam pengolahan limbah dengan menggunakan aerobic roughing filter aliran horisontal dalam menghilangkan kadar COD dan warna pada limbah cair industri batik agar ramah lingkungan. sebab jika limbah langsung dibuang ke badan air penerima maupun lingkungan. industri batik banyak menggunakan bahan-bahan kimia dan air. maka penurunan kualitas lingkungan dan kerusakan ekosistem sekitar industri batik tidak dapat dihindari. sehingga menjadi salah satu teknologi alternatif yang dapat diterapkan oleh pemilik industri batik untuk mengurangi pencemaran lingkungan. .3 Manfaat Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah dapat memberikan informasiinformasi mengenai proses pengolahan limbah cair batik secara aerobic roughing filter aliran horisontal dalam menghilangkan kadar COD dan warna. 1.BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu sektor industri yang berkembang pesat di Indonesia salah satunya adalah sektor industri batik.

minyak kelapa. Proses Pembuatan Batik Secara Umum Teknik membuat batik adalah proses pekerjaan dari mori batik sampai menjadi kain batik. tetapi tidak semua bahan tersebut di atas ada dalam pembuatan lilin batik. lilin batik dibuat dari bermacam-macam bahan yang dicampur menjadi satu dengan perbandingan tertentu sesuai dengan sifat lilin yang di kehendaki. Proses pengolahan batik secara umum meliputi: 1. pengetelan.1. terhilangkan kanji dan zat finish lain. penghalusan permukaan mori dan pemolaan. Adapun maksud dari tahapan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : perendaman dan pengetelan. dan lilin batik bekas lorodan. Proses Persiapan Bahan Baku a. antara lain : a. parafin. Bahanbahan yang digunakan dalam pembuatan lilin batik terdiri dari gondorukem. penganjian tipis. urutan pengerjaannya sebagai berikut:  Pembatikan Klowong.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.  Pembatikan Isen-isen. dimaksudkan untuk menstabilkan dimensi. sehingga memudahkan proses pembatikan dan penghilangan lilin batik. lilin tawon. 2. gajih atau lemak binatang. Persiapan Bahan Baku Lilin Proses persiapan bahan baku lilin batik. damar mata kucing. . b. Proses Pembatikan Adalah proses pelekatan lilin batik pada mori batik sesuai dengan pola yang diinginkan. penganjian tipis dilakukan untuk mendapatkan permukaan yang rata. penghalusan permukaan mori dilakukan agar pemolaan dapat lebih mudah dilaksanakan. Pelekatan lilin secara tulis dengan alat canting tulis. Persiapan Bahan Baku Mori Proses persiapan bahan baku mori terdiri dari proses-proses penyediaan mori. perendaman. Ada beberapa cara.

Proses Pelepasan Lilin Batik Terdiri dari 2 cara pelepasan. sedangkan untuk bahan mori yang tipis pengecapan dilakukan hanya pada satu permukaan saja. Proses Pewarnaan Proses pewarnaan batik dilakukan pada suhu kamar dan secara garis besar dilakukan dengan dua cara. jenis warna yang digunakan antara lain zat warna rapid.  Pembatikan Isen-isen. Proses lorodan (proses pelepasan seluruh lilin) adalah proses pelepasan lilin batik dengan cara direbus dalam air mendidih yang diberi kanji atau soda atau natrium silikat tergantung jenis bahan zat warna yang digunakan supaya proses pelepasan lilin secara keseluruhan dapat sempurna. zat warna yang digunakan dalam pewarnaan batik secara celupan antara lain zat warna napthol. zat warna indigosol dan zat warna reaktif. b. Pewarnaan secara celupan. c.  Pencapan Tembokan. Untuk bahan mori yang tebal dan rapat kedua urutan pengecapan dilakukan pada kedua permukaan bahan. Ketiga tahapan pembatikan dengan alat canting tulis dikerjakan pada dua permukaan. urutan pengerjaannya adalah sebagai berikut :  Pencapan Klowong dan Isen-isen. b. . 3.  Pembatikan Tembokan. yaitu a. pengerjaannya sebagai berikut:  Pembatikan Klowong.b. 4. zat warna reaktif dan zat warna soga alam. Pembatikan Tembokan. Pewarnaan secara coletan. Pelekatan lilin dengan alat cap. yaitu : a. zat warna indanthrene. Proses kerokan (proses pelepasan sebagian lilin) adalah proses pelepasan sebagian batik cengan cara dikerok dan untuk penyempurnaan proses ini diperlukan adanya penyikatan dimana terlebih dahulu dalam larutan kostik soda.

Alur Proses Pembuatan Batik Beserta Limbahnya (Sumber : Anonim. 1997 dalam Purwaningsih. 2.2 Limbah Industri Batik Kualitas limbah cair industri batik sangat tergantung jenis proses yang dilakukan. Gambar 2. Pada proses pencelupan (pewarnaan) umumnya merupakan penyumbang sebagian kecil limbah organik. 2008). 1997 dalam Purwaningsih. yang . pada umumnya limbah cair bersifat basa dan kadar organik yang tinggi yang disebabkan oleh sisa-sisa pembatikan. Proses Penyelesaian Maksud dari proses penyelesaian adalah memperbaiki penampilan produk batik yang dihasilkan.5. 2008). namun menyumbang wama yang kuat.1. termasuk meningkatkan ketahanan warna dan pengemasan (Anonim.

menyumbang zat organik yang banyak mengandung zat padat tersuspensi. b. dan hal ini dapat mengurangi keindahan sungai maupun perairan. menunjukkan adanya komponenkomponen lain di dalam air tersebut. settleable. fisik dan kimia (Alaerts. Kebanyakan penggunaan bahan pencelup dengan struktur molekul organik yang stabil tidak dapat dihancurkan dengan proses biologis. untuk menghilangkan warna air limbah yang efisien dan efektif adalah dengan perlakuan secara biologis. Adanya bau yang lain pada air limbah. dan senyawa-senyawa koloidal. Temperatur menunjukkan derajat atau tingkat panas air limbah yang diterakan kedalam skala. Misalnya. Karakter kimia Karakter kimia air limbah meliputi senyawa organik dan senyawa anorganik. bau. N.mudah terdeteksi. Dengan mengetahui jenis polutan yang terdapat dalam air limbah. warna. Senyawa organik adalah karbon yang dikombinasi dengan satu atau lebih elemen-elemen lain (O. P. 2. Saat ini terdapat lebih dari dua juta senyawa organik yang telah diketahui. yaitu proses nganji atau penganjian. H). suspended atau dissolved. 2008). Pengukuran bau tergantung pada sensitivitas indera penciuman seseorang. Pada proses persiapan. dan padatan. Senyawa anorganik terdiri atas . suspended. bau seperti telur busuk menunjukkan adanya hidrogen sulfida. Karakter Fisika Karakter fisika air limbah meliputi temperatur. kimia dan biologi. Bau merupakan parameter yang subyektif. Pada air limbah.3 Karakteristik Air limbah Batik Karakteristik air limbah dapat digolongkan dalam sifat fisika. Zat padat tersuspensi apabila tidak segera diolah akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat digunakan untuk menilai kandungan COD dan BOD. 1984 dalam Purwaningsih. yang dapat dilihat dari spektrum warna yang terjadi. dapat ditentukan unit proses yang dibutuhkan. Padatan yang terdapat di dalam air limbah dapat diklasifikasikan menjadi floating. a. warna biasanya disebabkan oleh adanya materi disolved.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan lingkungan adalah terkendalinya dan terpeliharanya kesehatan secara menyeluruh (Sumarwoto. fosfor. Virus diklasifikasikan secara terpisah. Kebanyakan merupakan sel tunggal yang bebas ataupun berkelompok dan mampu melakukan proses kehidupan (tumbuh. ion hidrogen. mikroorganisme kemudian dimasukkan kedalam kategori protista. yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Rusidana. keadaan dan makhluk hidup. metabolisme. keduanya sulit dibedakan. Bakteri juga berperan penting untuk mengevaluasi kualitas air (Purwaningsih. logam berat dan asam. Oleh karena itu. dan reproduksi). grit. c. Lingkungan hidup adalah kesatuan dengan kesemua benda. daya. sehingga tidak menimbulkan pencemaran potensial lebih lanjut pada penderita pencemaran potensial yaitu manusia dan mahluk hidup lain. Keberadaan bakteri dalam unit pengolahan air limbah merupakan kunci efisiensi proses biologis. Zat warna dapat mengakibatkan penyakit kulit dan yang sangat membahayakan . Karakter Biologis Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi hampir dalam semua bentuk air limbah. 1993 dalam Purwaningsih. 2006 dalam Purwaningsih. Namun. dan mineral-mineral. Secara tradisional. baik suspended maupun dissolved.semua kombinasi elemen yang bukan tersusun dari karbon organik. biasanya dengan konsentrasi 105-108 organisme/ml. 2008). kehidupan manusia.4 Pengaruh Limbah Industri Batik Terhadap Lingkungan Pengelolaan lingkungan adalah usaha atau upaya agar tanah. 2008). status yang sama dengan binatang ataupun tumbuhan. mikroorganisme dibedakan menjadi binatang dan tumbuhan. nitrogen. Air bekas cucian pembuatan batik yang menggunakan bahan-bahan kimia banyak mengandung zat pencemar/racun yang dapat mengakibatkan gangguan terhadap lingkungan. air dan udara tidak tercemar oleh air buangan. termasuk manusia dan perilakunya. Misalnya: klorida. Karbon anorganik dalam air limbah pada umumnya terdiri atas sand. binatang maupun tumbuh-tumbuhan. 2. 2008).

maka menumpuknya ampas akan memerlukan tempat yang banyak dan mengganggu keindahan tempat di sekitarnya. dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam air. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis. 2008). sedangkan penguraian secara biologi (BOD) tidak semua zat organik dapat diuraikan oleh bakteri (Fardiaz. Dan selain bau dan tumpukan ampas yang mengganggu. Salah satu diantaranya adalah Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) yang didefinisikan sebagai jumlah oksigen (mgO2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam sampel air atau banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat organik menjadi CO2 dan H2O. Menurut Metcalf and Eddy (1991) dalam Purwaningsih.1 Chemical Oxygen Demand (COD) Untuk menyatakan kualitas air dibutuhkan beberapa parameter yang terkait. Di samping bau yang ditimbulkannya. 2.5 Parameter-Parameter Penelitian 2. maka warna air limbah yang kotor akan menimbulkan gangguan pemandangan (Purwaningsih.adalah dapat mengakibatkan kanker kulit (Sugiharto. sehingga proses self purification yang seharusnya dapat terjadi pada air limbah menjadi terhambat (Sugiharto. (2008). 1987 dalam Purwaningsih. 2008). 2008). (Alaerts. juga dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman atau tumbuhan air.5. 1987 dalam Purwaningsih. akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut dalam air. 1984 dalam Purwaningsih. Dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah. 2008). Semakin banyak zat organik dalam perairan akan mengalami pembusukan akibat selanjutnya adalah timbulnya bau hasil penguraian zat organik. 2008). COD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik . Pada reaksi oksigen ini hampir semua zat yaitu sekitar 85% dapat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O dalam suasana asam. Hal ini mengakibatkan matinya ikan dan bakteri-bakteri di dalam air. 1992 dalam Purwaningsih.

jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi tersebut dikenal dengan Chemical Oxygen Demand (COD) (Cheremisionoff and Elizabeth. 1981 dalam Purwaningsih.dalam air. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis. 2008). dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam air oleh karena itu kosentrasi COD dalam air harus memenuhi ambang batas yang ditentukan sesuai dengan industri masing-masing (SK GUB. 2008). keberadaan COD di dalam lingkungan sangat ditentukan oleh limbah organik. DIY No: 281/KPTS/1998 dalam Purwaningsih. kosentrasi bahan organik yang rendah tidak selalu dapat direduksi dengan metode pengolahan yang konvensional. kebal terhadap degradasi biologis dan ada beberapa diantaranya yang beracun meskipun pada kosentrasi yang rendah. sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai ± 60. Analisis BOD dan COD dari suatu air limbah dan menghasilkan nilai-nilai yang berbeda karena kedua uji mengukur bahan yang berbeda. Perairan dengan nilai COD yang tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Kadar COD dalam air limbah berkurang seiring dengan berkurangnya konsentrasi bahan organik yang terdapat dalam air limbah. baik yang berasal dari limbah rumah tangga maupun industri. nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l. Nilai COD selalu . sehingga parameter COD mencerminkan banyaknya senyawa organik yang dioksidasi secara kimia. Tes COD digunakan untuk menghitung kadar bahan organik yang dapat dioksidasi dengan cara menggunakan bahan kimia oksidator kuat dalam media asam. secara umum konsentrasi COD yang tinggi dalam air menunjukkan adanya bahan pencemar organik dalam jumlah banyak.000 mg/L. Bahan yang tidak dapat didegradasi secara biologis tersebut akan didegradasi secara kimiawi melalui proses oksidasi. COD merupakan salah satu parameter indikator penting untuk pencemar di dalam air yang disebabkan oleh limbah organik. Beberapa bahan organik tertentu yang terdapat pada air limbah.

lebih tinggi dari nilai BOD. nitrit dan besi ferrous yang tidak akan terukur dalam tes BOD akan teroksidasi aleh kalium dikromat. Adanya bahan toksik dalam limbah yang akan mengganggu uji BOD tetapi tidak uji COD. b. Perbedaan diantara kedua nilai disebabkan banyak faktor antara lain : a. Angka BOD adalah jumlah komponen organik biodegradable dalam air buangan. Uji COD yaitu suatu uji yang menetukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan seperti kalium dikhromat (K2Cr2O7) atau kalium permanganat (KMnO4) sebagai sumber oksigen atau Oxidizing Agent yang digunakan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat didalam air. Jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi oksidasi terhadap limbah organik seimbang dengan . 1997 dalam Purwaningsih. Hasil COD tidak tergantung pada aklimasi bakteri sedangkan pada tes BOD sangat dipengaruhi aklimasi seeding bakteri. membuat nilai COD – inorganik yang menyebabkan kesalahan dalam penetapan komposisi organik dalam laboratorium. b. tetapi tidak dapat membedakan komponen biodegradable/non biodegradable. yaitu berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan yang disebut uji COD. perbedaan COD dan BOD dapat dilihat sebagai berikut : a. sedangkan tes COD menentukan total organik yang dapat teroksidasi. 2008). Beberapa substansi inorganik seperti sulfat dan tiosulfat. Bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak tahan terhadap oksidasi kimia seperti lignin. 2008). (Droste. c. Bahan kimia yang dapat dioksidasi secara kimia dan peka terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak dalam uji BOD5 seperti sellulosa. Menurut Benefield (1982) dalam Purwaningsih (2008). c. Air yang telah tercemar limbah organik sebelum reaksi oksidasi berwarna kuning. dan setelah reaksi oksidasi berubah menjadi warna hijau. lemak berantai panjang atau sel-sel mikroba. Untuk mengetahui jumlah bahan organik di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang lebih cepat dibandingkan dengan uji BOD. 1993 & Effendi 2003 dalam Purwaningsih. (Jenie & Rahayu.

1987 dalam Darnianti. 2008).bahan makanan dan sebagainya.2 Warna 1. kulit . karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD. Air limbah yang baru dibuat biasanya berwarna abu-abu apabila senyawa-senyawa organik yang ada mulai pecah oleh bakteri. yaitu warna setelah kekeruhan dihilangkan. Menurut Wisnu Arya Wardhana (1995) dalam Mulyadi (2009). sedangkan warna nampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh zat terlarut dalam air tapi juga zat tersuspensi (Darnianti. plastik. Pada kondisi ini dikatakan bahwa air limbah sudah busuk. berarti semakin banyak oksigen yang diperlukan. Pengertian Zat Warna Zat warna adalah senyawa yang dapat dipergunakan dalam bentuk larutan atau dispersi kepada suatu bahan lain sehingga berwarna. tembok. 2008).5. humus yang dihilangkan terutama untuk penggunaan air industri dan air minum. Warna yang biasanya diukur adalah warna sebenarnya atau warna nyata. akan tetapi dapat diukur melalui uji COD. Dalam menetapkan warna tersebut dapat pula diduga adanya pewarna tertentu yang mengandung logam-logam berat. 2. Tersusun dari Chromogen dan Auxochrome Chromogen adalah senyawa . zat warna merupakan suatu bahan yang digunakan untuk mewarnai suatu subsrat.jumlah Kalium bichromat yang digunakan pada reaksi oksidasi. Semakin banyak Kalium bichromat yang digunakan pada reaksi oksidasi. Oksigen terlarut dalam limbah direduksi sampai menjadi nol dan warnanya berubah menjadi hitam (gelap). Pemeriksaan warna ditentukan dengan membandingkan secara visual warna dari sampel dengan larutan standart warna yang diketahui konsentrasinya. (Departemen Perindustrian. Selulosa adalah salah satu contoh yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit dioksidasi melalui reaksi biokimia. Uji COD pada umumnya menghasilkan nilai kebutuhan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan dengan uji BOD. kapas. misalnya tekstil. Warna dalam air dapat disebabkan oleh adanya ion-ion metal alam. yaitu besi (Fe) dan mangan (Mn).

-COOH. sehingga penampanya berwarna. karbonil (-C=O). nitro (-NO2). dan air limbah yang sudah basi atau busuk akan berwarna gelap (Mahida. Zat warna adalah suatu senyawa yang kompleks yang dapat dipertahankan di dalam jaringan molekul-molekul. 1978 dalam Mulyadi 2009). Dan juga karena adanya bahan-bahan yang tersuspensi yang termasuk bersifat koloid. azo (-N=N). belerang (-C=S dan -C–S–S–C–). 1998 dalam Purwaningsih. Warna air limbah menunjukan kualitasnya. etilen (-C=C–). -SO3(Isminingsih dan Djufri. Yang dimaksud zat warna adalah senyawa yang dapat dipergunakan dalam bentuk larutan. yaitu zat pemberi warna yang berasal dari radikal kimia seperti nitroso (-NO). Warna tertentu dapat menunjukkan adanya logam berat yang terkandung dalam air buangan. jika air tersebut mengandung kekeruhan atau adanya bahan tersuspensi dan juga oleh penyebab warna sejati. 2008). -NH. + NMe2Cl. Gugus auksokrom adalah gugus yang mengaktifkan kerja kromofor dan memberikan daya ikat terhadap serat yang diwarnainya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Black dan Cristman (1979) dalam Purwaningsih (2008) ditemukan bahwa organik di dalam air limbah adalah koloid yang bermuatan negatif. maka warna tersebut dikatakan warna semu (Chatib. Warna air limbah dapat dibedakan menjadi dua. sehingga zat warna harus terdiri dari chromogen sebagai pembawa warna dan Auxochrome sebagai pengikat antara warna dan serat. karbon–nitrogen (-C=NH dan -CH=N). Warna merupakan akibat suatu bahan terlarut atau tersuspensi dalam air. Gugus auksokrom yang termasuk golongan kation : -NH2. Zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jauh. seperti -O-. 1984 dalam Purwaningsih. -OH.aromatik yang mengandung chromopore. -NMe2. yaitu warna sejati dan warna semu. 2008). Warna yang disebabkan oleh warna organik yang mudah larut dan beberapa ion logam disebut warna sejati. air limbah yang baru akan berwarna abu-abu. disamping adanya bahan pewarna tertentu yang kemungkinan mengandung logam berat. Chromogen adalah senyawa aromatik yang berisi ..dan gugus auksokrom yang termasuk golongan anion : -SO3H.

misalnya kelompok pembentuk garam –NH2 atau OH (Wardhana. petrokomia. Hal ini penting mengingat zat-zat warna banyak mengandung logam-logam berat yang bersifat toksis. serta aliran energi. Kekeruhan merupakan salah satu faktor penting yang menyangkut produktifitas perairan. yaitu zat pemberi warna yang berasal dari radikal kimia. Akibat biologis dari kekeruhan adalah menurunnya aktifitas fotosintesa tumbuhan. karena. maka diperlukan bahan dari Auxochrome. Kecerahan dipengaruhi oleh warna air. Hal ini seiring dengan banyaknya fitoplankton di perairan tersebut. dan kimia. yaitu radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan. Zat Warna Alam Zat warna alam adalah zat warna yang berasal dari alam. tekstil. Kekeruhan sangat berhubungan erat dengan warna perairan. seperti kelompok azo (N=N). baik yang berasal dari tanaman. agar warna dapat masuk dengan baik ke kedalam bahan yang akan diberi warna. hewan. sedangkan konsentrasinya sangat mempengaruhi kecerahan dengan cara membatasi transmisi sinar matahari kedalamnya. semakin dalam penetrasi sinar matahari dapat menembus lapisan air. sedangkan yang disarankan tidak lebih dari 10 warna. 2. fotosintesis secara langsung tergantung pada cahaya. Warna yang timbul pada perairan disebabkan oleh buangan industri di hulu sungai atau dapat juga berasal dari bahan hancuran sisi-sisi tumbuhan oleh bakteri. . semakin produktif pula perairan tersebut. yaitu: a. fotosintesis juga terhambat di perairan yang mengandung 50 warna.Crhomopore. maupun bahan metal. 2008). Kekeruhan ialah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Santaniello (1971) dalam Purwaningsih (2008) menyatakan bahwa industri-industri yang mengeluarkan warna adalah industri kertas dan pulp. Dismping bersifat toksis. air yang digunakan oleh masyarakat umum diijinkan dengan kriteria bahwa air tersebut mengandung tidak lebih dari 75 unit warna (standar kobal-platinum). 1995 dalam Purwaningsih. Penggolongan Zat Warna Jenis zat warna ada dua.

mudah cara pemakaiannya dan harganya relatif tidak tinggi. dan Insekta warna merah (Loe). tetapi yang paling efektif untuk dapat digunakan san dapat diproduksi menjadi powder maupun dalam bentuk pasta hanya beberapa jenis saja. Insekta (Ceochikal). Zat warna Naphtol dibedakan menjadi : .  Zat warna yang berasal dari hewan Jenis hewan yang biasa dijadikan zat warna antara lain: Kerang (Tyran purple). Menurut Susanto (1973) dalam Purwaningsih (2008). yaitu golongan diazonium yang biasanya disebut garam. Morinda citrifolia (warna kuning). Sp Bixa orrellana (warna orange purple). zat warna yang digunakan dalam proses pembatikan adalah sebagai berikut: a. yaitu berupa golongan napthol AS (Anilid Acid) dan komponen pembangkit warna. Zat Warna Napthol Zat warna napthol adalah suatu zat warna tekstil yang dapat dipakai untuk mencelup secara cepat dan mempunyai warna yang kuat. Zat warna yang berasal dari tumbuhan Tumbuhan-tumbuhan penghasil zat pewarna alami yang tumbuh di Indonesia kurang lebih sebanyak 150 jenis tanaman. mempunyai aneka warna yang banyak. misalnya: Hirokarbon Aromatik dan Naftalena yang berasal dari batubara. Zat warna napthol disebut sebagai Ingrain Coours karena terbentuk di dalam serat dan tidak terlarut di dalam air karena senyawa yang terjadi mempunyai gugus azo. Zat warna dari tumbuhan yang biasanya digunakan antara lain: indigofera (warna biru). Zat warna napthol adalah suatu senyawa yang tidak larut dalam air yang terdiri dari dua komponen dasar. Hampir semua zat warna yang digunakan dalam industri batik merupakan zat warna sintetik. Kedua komponen tersebut bergabung menjadi senyawa berwarna jika sudah dilarutkan. Zat Warna Sintesis Zat warna sintesis adalah zat warna buatan dengan bahan dasar buatan. b. karena zat warna jenis ini mudah diperoleh dengan komposisi yang tetap.

Oleh karena itu hasil pencelupan zat warna teaktif mempunyai ketahanan cuci yang sangat baik dan lebih kilap dari zat warna direk. perlu ditambahkan larutan kostik soda dan Natrium hidrosulfit sebagai zat pereduksi. Senyawa-senyawa naphtol As mempunyai daya serap terhadap sellulosa sehingga proses pengeringan setelah pencelupan dengan senyawa tersebut tidak perlu dikerjakan lagi. Beta Naphtol (Zat Es) Adalah zat warna azo yang lama. jumlah warnanya terbatas yang ada hanya merah. Golongan zat ini mempunyai ketahanan luntur yang baik. Supaya larut dalam air. sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. juga tahan chlor tetapi tidak begitu tahan terhadap gosokan. . Demikian pula tahan gosok dan hasil celupan lebih baik karena naphtol As sedikit mengadakan migrasi ke dalam garam diazonium sewaktu proses pembangkitan. tidak larut dalam air. b. Zat warna golongan ini sering disebut zat warna es atau ice colour. Zat warna reaktif merupakan golongan zat warna yang mempunyai gugus aktif. jumlah warnanya banyak dimana hampir semua warna ada. Zat Warna Indanthreen Zat warna indanthreen merupakan salah satu zat warna bejana yang berupa puder berwarna. Zat Warna Indigosol Zat warna indigosol disebut juga zat warna bejana larut. dalam proses pencelupannya perlu dibangkitkan warnanya dengan dioksidasi sehingga berubah menjadi bentuk yang tidak larut dan berwarna. biru dan hijau hampir tidak ada.  Naphtol As Adalah zat warna azo yang baru. sehingga dengan bahan utama akan terjadi hubungan secara chemical lingkage. Zat Warna Reaktif Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan teaksi dengan serat. yaitu leuco esier natrium dari zat warna yang telah distabilkan. c. Orange. d.

. Roughing filter (RF) merupakan pengolahan pendahuluan untuk menurunkan kekeruhan air di mana air melewati bak dengan media yang kasar seperti kerikil atau gerabah. Aerobic roughing filter merupakan suatu unit pengolahan yang menggunakan batu krikil yang mempunyai ukuran antara 4-20 mm yang dapat digunakan untuk memisahkan padatan dalam air dan mampu mengurangi beban organik yang tinggi. Roughing filter biasanya menggunakan kerikil dengan diameter yang berbeda – beda.2 di bawah ini. pada bagian mukanya menggunakan kerikil dengan diameter besar. total suspended solid (TSS). Ghana.1996 dalam Titistiti & Hadi. maka penggunaan aerobic roughing filter perlu dilakukan penelitian tentang kinerja instalansi aerobic roughing filter aliran horizontal sebagai alternatif pengolahan (Kasam et al. Instalansi roughing filter juga dapat digunakan sebagai pengolahan air minum yang mengandung kekeruhan. Dari berbagai studi maupun aplikasi di lapangan diketahui bahwa aerobic roughing filter bisa digunakan untuk pengolahan limbah cair. RF ini sudah dipakai lebih dari 25 negara di antaranya Argentina. 1985 dalam Titistiti & Hadi. dan Fe (Jafari Dastanaie et al. 2009). pada bagian berikutnya menggunakan kerikil dengan diameter yang lebih kecil. Sebagai salah satu alternatif pengolahan limbah cair. Kombinasi roughing filter dengan filter aliran lambat yang digunakan sebagai pengolahan air sungai dengan kekeruhan 150 NTU mampu menurunkan kekeruhan 88-95%.6 Roughing Filter (RF) Dalam pengolahan limbah cair dapat digunakan dengan berbagai instalansi. Bolivia. Prinsip dasar kerja roughing filter dapat dilihat pada gambar 2. Sehingga pada tiap – tiap bagian tersebut menyaring padatan dengan diameter yang berbeda – beda pula (Wegelin. demikian seterusnya. dan sebagainya. 2007 dalam Kasam et al. RF kebanyakan digunakan sebagai pengolahan pendahuluan untuk meremoval partikel dalam jumlah besar dan lebih sulit untuk menafsirkan peningkatan efisiensi dari pengolahan berikutnya seperti filter lambat (Levine et al. Madagaskar. India. Australia.2. yang salah satunya adalah instalansi aerobic roughing filter. 2010). 2009). 2010).

. Instalansi roughing filter seringkali diprioritaskan sebagai teknologi pretreatment untuk kebutuhan air perkotaan. 2010). Intake filter mampu mereduksi material padatan 50-70% dan roughing filter mampu memisahkan material partikulat 90% lebih (Wegelin & Martin. 2009).Gambar 2. dan rencana air bawah tanah di Negara industri. Dimana tipe filter yang berbeda juga dikembangkan untuk pengolahan pada kualitas air baku yang berbeda.2 Konsep Prinsip Kerja Roughing Filter Dibandingkan Dengan Sedimentasi (Sumber : Titistiti & Hadi. Prefilter dan roughing filter secara ekstensif juga digunakan pada rencana penyediaan air pada beberapa Negara berkembang. 1996 dalam Kasam et al.

074/6 = 0. berukuran panjang 85 cm. Media yang digunakan berbentuk gravel. Triharjo. Gambar 3. 5. lebar 35 cm. 7 dan 9. seperti gambar 3. dan tinggi 25 cm dan terdiri dari dua kompartemen. adapun desain dari instalansi adalah sebagai berikut : Panjang (L) = 85 cm. sehingga debit aliran (Q) = Vol/Td. Tinggi (H) = 25 cm Volume : L x W x H = (85 x 35 x 25) = 74375 cm3 = 0.1.BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.2 Runing dan Sampling Air limbah batik yang berasal dari industri Nakula Sadewa.0123 m3/jam (Kasam et al. Pengujian sampel berdasarkan metode spectrofotometri dengan . Adapun untuk pengujian COD. 2009).1. 2009). 3. Q = 0. lebar (W) = 35 cm.074 m3.1 Desain Instalansi Aerobic Roughing Filter (Sumber : Kasam et al.1 Persiapan Instalansi Instalansi roughing filter yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dari bahan kayu yang dilapisis plastik.1 Metode Penelitian 3. selanjutnya dialirkan melalui kompartemen I dan kompartemen II. dimana kompartemen I diameter gravel 10 mm dan kompartemen II diameter gravel 5 mm. Waktu detensi (Td) direncanakan 6 jam. dimasukkan kedalam bak netralisasi yang berfungsi sebagai bak penampung. 3. Sedangkan pengambilan sampel dilakukan pada outlet kompartemen I dan outlet kompartemen II. Sleman. sampel diambil setiap dua hari yaitu hari ke-1.1. Sedangkan untuk uji warna dilakukan setiap hari sampai hari ke-10.

2 Konsentrasi COD pada Berbagai Waktu Operasi Instalansi (Sumber : Kasam et al. maka diketahui konsentrasi COD dan warna seperti pada tabel 3.1 Konsentrasi Warna pada Inlet dan Outlet (Sumber : Kasam et al.refluks tertutup (SNI 06-6989. 2009). gambar 3.2-2004) untuk analisis COD dan metode Pengujian Kualitas Fisika Air (SK SNI M-03-1989-F) (Kasam et al.2 dan gambar 3. .3.2 Hasil Setelah dilakukan running dan pengujian terhadap sampel pada outlet kompartemen I dan II.1. 3. 2009). 2009). Tabel 3. Gambar 3.

Hasil rata-rata data dari penelitian. Penurunan konsentrasi yang tidak signifikan ini disebabkan karena terjadinya penyumbatan atau clogging di dalam instalasi yang dapat mengakibatkan terakumulasinya bahan organik. Penurunan konsentrasi COD hanya 3. 2009).3 Konsentrasi Warna pada Berbagai Waktu Operasi Instalansi (Sumber : Kasam et al. Berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada gambar 3.3 terlihat terjadinya penurunan dan kenaikan konsentrasi warna.628 % dari . maka kadar COD juga akan semakin tinggi. Hasil ini jelas belum memenuhi standar baku mutu limbah cair untuk industri batik menurut SK GUB. Makin besar kadar oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik. penurunan konsentrasi parameter warna sebesar 3.2 terjadi penurunan konsentrasi COD walaupun tidak signifikan.750 mg/l. DIY No: 281/KPTS/1998 yaitu 100 mg/l. Penurunan konsentrasi COD dikarenakan flok yang terbentuk oleh ion senyawa organik berikatan dengan ion koagulan yang bersifat positif.3 perubahan konsentrasi warna yang terjadi juga tidak signifikan.077 % dari inlet 1034.Gambar 3. Penurunan konsentrasi ini dapat disebabkan oleh kemampuan dari kerikil yang digunakan sebagai media filtrasi dalam menyaring zat-zat yang ada dalam limbah. 3. sehingga akan mempercepat laju aliran limbah sampai ke outlet yang mengakibatkan kurangnya waktu tinggal limbah cair dalam instalasi.3 Pembahasan Berdasarkan hasil pengujian seperti yang ditunjukkan pada tabel 3.1 dan gambar 3. Pada gamabr 3. Tolok ukur COD dapat digunakan untuk mengetahui banyaknya oksigen yang diperlukan untuk menguraikan bahan organik.105 mg/l dan outlet 998.

tetapi juga bahan yang sulit diuraikan secara biologi dapat didegradasi menjadi bahan yang mudah diuraikan secara biologi. Tahap ini dilakukan untuk mendekomposisi lebih lanjut kemungkinan amina aromatic yang bersifat racun dan karsinogenik. Perombakan warna pada pengolahan anaerob dapat dilakukan pada kondisi pH 6-7 dan temperatur 45°C. Tahap kedua pada kondisi aerob. Penurunan konsentrasi yang tidak signifikan dikarenakan di dalam reaktor aerobic roughing filter aliran horizontal ini tidak terjadi pengolahan air limbah batik secara maksimal. Hasil ini jelas belum memenuhi standar baku mutu warna menurut SK GUB. sehingga terjadi penghilangan warna. DIY No: 281/KPTS/1998 yaitu 50 PtCo.208 PtCo. . Biodegradasi senyawa azo dapat terjadi dalam sistem anaerob dan aerob. Pada tahap anaerob tidak hanya warna yang dapat dihilangkan.konsentrasi inlet 311. Tidak stabilnya perubahan konsentrasi warna ini disebabkan oleh zat warna yang digunakan oleh industri batik ini lebih banyak menggunakan pewarna dari bahan sintetik (azo/naphtol) daripada bahan alami (indigofera) sehingga proses transfer udara tidak mampu untuk memecah ikatan zat warna yang ada dalam limbah batik tersebut. Tahap pertama degradasi adalah pembelahan kelompok azo pada kondisi anaerob. senyawa aromatik sederhana dapat didegradasi melalui hydroxylation dan membuka cincin. Karena zat warna sintetik hanya dapat diuraikan dengan melakukan penambahan zat kimia lain yang dapat mendegradasi zat warna tersebut.481 PtCo dan konsentrasi outlet 296.

Instalasi roughing filter dengan aliran horizontal tidak dapat menurunkan konsentrasi COD dan warna secara signifikan yang disebabkan adanya clogging serta bahan pewarna sintetis yang cukup sulit didegradasi dengan gravel ukuran besar serta waktu detensi yang relative singkat. Parameter ini juga masih berada di atas baku mutu yaitu 50 PtCo. dapat ditarik kesimpulan yaitu : 1.077 % dari konsentrasi inlet 1034. 4.208 PtCo.750 mg/l. . Hasil ini masih berada diatas baku mutu yaitu 100 mg/l.105 mg/l dan konsentrasi outlet 998.BAB IV PENUTUP 4.628 % dari konsentrasi inlet 311.2 Saran Untuk para pemilik industri batik dapat mengaplikasikan pengolahan imbah cair batik dengan aerobic roughing filter untuk teknologi yang ramah lingkungan. 3. 2. Sedangkan penurunan konsentrasi warna sebesar 3.481 PtCo dan konsentrasi outlet 296.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah yang telah dilakukan. Penurunan konsentrasi COD 3.

pdf Diakses tanggal 29 Desember 2010 Kasam.ac. http://tk.ac. 2008. Indah.com/2010/05/pengolahan-limbah-cair-industribatik. http://www. Astika & Wahyono Hadi.diskusiskripsi. Efisiensi Instalansi Pengolahan Limbah Cair Industri Batik Cetak dengan Metode Fisika-Kimia dan Biologi Terhadap Penurunan Parameter Pencemar (BOD.uns.html Diakses tanggal 29 Desember 2010 Titistiti. 2009. Andik Yulianto & Aulia Eka Rahmayanti.pdf Diakses tanggal 29 Desember 2010 Purwaningsih. Pengolahan limbah Cair Industri Batik CV. dan logam Berat Krom (Cr)) (Studi Kasus di Desa Butulan Makam Haji Sukoharjo). Batik Indah Raradjonggrang Yogyakarta dengan Metode Elektrokoagulasi ditinjau dari Parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan Warna.pdii.ac. Pengaruh Roughing Filter dan Slow Sand Filter dalam Pengolahan Air Minum dengan Air Baku dari Intake Karangpilang terhadap Parameter Kimia. http://repository.lipi.DAFTAR PUSTAKA Darnianti.id/bitstream/123456789/4409/1/09E00132.go. 2008.id/admin/jurnal/61092731. http://jurnal.id/file/Ekuilibrium/Volume%208%20No%201/2009%20vo l%208%20no%201%20hal%2007%20-%2016.id/public/ITS-Undergraduate-10102-Paper.its.usu.pdf Diakses tanggal 29 Desember 2010 . Penurunan COD dan Warna pada Limbah Cair Industri Batik dengan Menggunakan Aerobic Roughing Filter Aliran Horizontal.pdf Diakses tanggal 28 Desember 2010 Muljadi. http://digilib. 2010. Penurunan Kadar Warna Limbah Cair Industri Pencucian Jeans dengan Kitosan dan Jamur Lapuk Putih (Trametes versicolor). COD. 2009.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful