Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI

KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) DAN UKM 28
Realisasi Penyaluran KUR Oktober 2012

KOORDINASI FISKAL DAN MONETER
10

Harmonisasi Kebijakan Moneter I Perjalanan Waktu Kebijakan Fiskal & Moneter Indonesia I Kebijakan Fiskal & Moneter dalam Mendorong Investasi I The Effect of Monetary and Policy on Indonesia's International Trade Performance I

OPINI PAKAR

19

Dosen dan Peneliti Ilmu Ekonomi UI BUMN 21

Dr. Sugiharso Safuan

FISKAL DAN REGULASI EKONOMI MP3EI
Sekilas tentang PP 52 Tahun 2011
26 24

Peranan BUMN dalam Perekonomian Nasional
25

KOORDINASI KEBIJAKAN EKONOMI
2

EKONOMI INTERNASIONAL EKONOMI DOMESTIK EKONOMI DAERAH
6

Penyempurnaan Skema Asuransi TKI I Perkembangan Stabilisasi Harga Pangan Pokok: Melonjaknya Harga Daging Sapi
4

KEUANGAN

Konektivitas antar Koridor Ekonomi Arah Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Prospek Perekonomian Kian Menurun I Krisis Utang Yunani I Pertumbuhan Ekonomi I Inflasi I Neraca Pembayaran I
9

KETENAGAKERJAAN

27

Pengaruh Krisis Global terhadap Ekonomi Daerah Pembina : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Pengarah : Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan Koordinator : Bobby Hamzar Rafinus Editor : Edi Prio Pambudi, M Edy Yusuf Analis : Rista Amallia, Windy Pradipta,

Sandra Kurniawati, Fauzia Suryani Puteri, Masyitha Mutiara Ramadhan, Fitria Faradila, Insani Sukandar, Alexcius Winang, Andi Distribusi : Chandra Mercury Kontributor : Ir. Iga Mai Sukariyati, MM (Kepala Biro Persidangan & Humas Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi), Ashley Taylor, Ratih Purbasari Kania, Puji Gunawan, Gita Putri Pertiwi, Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi, Komite Kebijakan KUR, Tim Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan Pokok.
Tinjauan Ekonomi dan Keuangan diterbitkan dalam rangka meningkatkan pemahaman pimpinan daerah terhadap perkembangan indikator ekonomi makro dan APBN, sebagai salah satu Direktif Presiden pada retreat di Bogor, Agustus 2010

Editorial
rofesor Ha-Joon Chang dari Cambrigde University Inggris dalam buku terbarunya “23 Thinks They Don’t Tell You About Capitalism” (Penguin Books, 2011) mengulas tentang ‘Greater macroeconomic stabillity has not made the world economy more stable’ sebagai salah satu ‘thinks’ dalam praktek kapitalisme yang perlu dipahami dengan kritis. Menurutnya ada hal yang tidak dijelaskan dibalik keberhasilan pengendalian inflasi selama 30 tahun terakhir, yaitu terjadi ketidakstabilan pasar tenaga kerja sebagai akibat berkurangnya perhatian terhadap pentingnya penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Stabilitas inflasi yang diupayakan, terutama pada kelompok negara-negara maju, sudah pada tingkat yang mengurangi investasi dan selanjutnya pertumbuhan ekonomi. Sikap anti-inflasi yang berlebihan pada paham kapitalisme saat ini, menurut Profesor Ha-Joon Chang tidak terlepas dari sejarah hyper-inflasi (milyaran persen) yang terjadi di Jerman Barat pada periode tahun 1922-1923. Lonjakan tingkat inflasi ini ditengarai menjadi salah satu pendorong terjadinya Perang Dunia Kedua. Selain itu juga dibentuknya bank sentral Jerman Barat yaitu Bundesbank setelah Perang Dunia Kedua usai. Pengalaman akibat hyper-inflasi tersebut menjadikan sikap anti-inflasi dianut oleh Bundesbank hingga kini dan berpengaruh besar terhadap arah kebijakan moneter global. Sebagai contoh pemerintah Jerman senatiasa mengarahkan Bank Sentral Eropa untuk menjaga inflasi yang rendah ditengah tingkat pengangguran yang tinggi pada negara-negara Uni Eropa. Baru pada tahun 2008 setelah terjadi krisis

P

Bobby Hamzar Rafinus
keuangan, Bank Sentral Eropa mengikuti langkah relaksasi moneter yang dilakukan banyak bank sentral lain. Sikap anti-inflasi yang berlebihan, menurut Profesor Ha-joon Chang, saat ini menunjukkan bias terhadap kepentingan pemegang aset keuangan. Beberapa penelitian yang dikutip dalam buku tersebut, menemukan tingkat inflasi maksimal 8 (delapan) hingga 10 (persen) dalam periode tertentu belum mempengaruhi pertumbuhan ekonomi banyak negara dalam jangka panjang. Penelitian Kenneth Rogoff dan Carmen Reinhart mengindikasikan pula kecenderungan meningkatnya krisis perbankan dan keuangan pada era semakin rendahnya tingkat inflasi. Ulasan buku di atas bukan dimaksudkan untuk mengurangi upaya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam mengurangi penyebab inflasi di Indonesia, khususnya pada sisi kelancaran penyediaan barang dan jasa. Hal yang perlu diwaspadai adalah timbulnya kekhawatiran berlebihan terhadap kenaikan inflasi namun dengan akibat tingginya biaya ekonomi (subsidi) sehingga membatasi ruang fiskal untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi serta pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang. Pada era kondisi global yang tidak kondusif terhadap pertumbuhan ekonomi, ruang fiskal perlu diperbesar untuk semakin luasnya kegiatan padat karya dan belanja modal, khususnya yang terkait dengan peningkatan infrastruktur. Keseimbangan kemajuan sektor keuangan dengan sektor riil perlu dijaga.

Indikator Ekonomi

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

1

Koordinasi Kebijakan Ekonomi

Penyempurnaan Skema Asuransi TKI
suransi TKI merupakan salah satu bentuk dari perlindungan atau jaminan dari resiko-resiko yang dapat dialami oleh TKI pada pra, masa, dan purna penempatan di luar negeri. Berdasarkan hasil kajian Bank Dunia, terdapat dua bentuk permasalahan produk Asuransi TKI. Pertama, masalah desain produk yang dimana beberapa resiko sulit untuk diklaim, actual cost lebih tinggi dari nilai pertanggungan, dan kerancuan resiko yang sifatnya insurable dan non-insurable. Kedua, masalah operasional yang pola antara TKIKONSORSIUM-PIALANG-PPTKIS belum sempurna. Kedua permasalahan tersebut mengakibatkan proses pengurusan pencairan asuransi menjadi sulit, sering muncul pungutan oleh PPTKIS, dan biaya penanganan kasus-kasus TKI tetap mengandalkan APBN. Kondisi ini berkembang menjadi sebuah kekhawatiran akan tingkat kinerja, dan tingkat efektivitas perlindungan TKI. Terkait dengan hal ini, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengutarakan tiga poin isu guna dapat meningkatkan skema perlindungan TKI, diantaranya (1) melakukan kaji-ulang penyederhanaan organisasi dan pertanggungan risiko Asuransi TKI, (2) meningkatkan kapasitas dan fungsi pelayanan TKI di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) dan (3) memperkuat pengawasan terhadap Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) melalui penerapan tolak ukur kinerja serta sanksi yang transparan dan tegas. Untuk membahas tiga poin tersebut, Kemenko Perekonomian mengundang beberapa pihak terkait seperti Kemenakertrans, Kemenlu, BNP2TKI, dan Konsorsium Asuransi TKI pada tanggal 25 Oktober dan 8 November 2012 lalu. Beberapa masukan dari para peserta diantaranya sebagai berikut: Wakil dari kemenakertrans menyampaikan bahwa pihak Kemenakertrans telah bekerjasama dengan Surveyor Indonesia, melakukan Evaluasi Kinerja kepada seluruh PPTKIS yang terdaftar sejumlah 565 PPTKIS. Jika dilihat dari jumlah keseluruhan, hanya 8,18% dari total PPTKIS yang tergolong tidak layak. PPTKIS yang berada pada kategori tidak layak telah dijatuhkan sanksi Pencabutan SIPPTKI (41 PPTKIS) dan sanksi skorsing (22 PPTKIS). Wakil dari Kemenlu mengemukakan bahwa pihak perwakilan RI di luar negeri terus berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan kemudahan bagi TKI yang berada di negara penempatan termasuk jika TKI mengalami permasalahan. Sedangkan wakil dari BNP2TKI menambahkan bahwa BNP2TKI juga telah melakukan langkah-langkah pembenahan PPTKIS, diantaranya: (i) penggunaan sistem online data TKI di Kabupaten/Kota, (ii) pendataan petugas penerimaan TKI secara terinci, dan (iii) pemasangan CCTV di tempat pelatihan calon TKI dengan harapan pelaksanaan pelatihan menjadi maksimal.. Selain meningkatkan kematangan calon TKI sebelum diberangkatkan, dibutuhkan juga perwakilan asuransi TKI di luar negeri yang bekerjasama dengan KBRI atau KJRI. Kerjasama ini dimaksudkan untuk memperlancar seluruh proses yang dibutuhkan oleh seorang TKI ketika sedang berada di negara penempatan, baik dari sisi proses perpanjangan asuransi, perlindungan, tunjangan, klaim, pemulangan, dan seluruh aspek lainnya. Wakil dari Konsorsium Asuransi TKI menyampaikan bahwa permasalahan utama sebuah klaim menjadi non-insurable dikarenakan oleh tingkat skill dan kesehatan. Permasalahan ini bisa dihindarkan dengan pelatihan yang sesuai dan medical checkup yang benar oleh PPTKIS sebelum keberangkatan. Masukan dan sharing dari para peserta akan menjadi bahan pertimbangan utama bagi perbaikan pelayanan TKI pada umumnya dan asuransi TKI pada khususnya.

A

Insani Sukandar

2

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Perkembangan Stabilisasi Harga Pangan Pokok: Melonjaknya Harga Daging Sapi
ecara umum, harga bahan pangan pokok mengalami inflasi sebesar 2,38% (yoy) dan deflasi sebesar 0,12% (mom). Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sebagian besar bahan pangan pokok mengalami kenaikan harga . Kenaikan harga tertinggi terjadi pada komoditas daging sapi. Daging sapi mengalami kenaikan harga sebesar 23,83% (yoy) dan 6,58% (mom). Kenaikan harga ini bersumber dari minimnya pasokan daging sapi di pasaran. Kelangkaan daging sapi terutama disebabkan oleh (i) sebagian besar populasi ternak tersebar dengan pola usaha yang tradisional dan keterbatasan hijauan pakan ternak di musim kemarau; (ii) transportasi dan distribusi ternak hidup terutama dari daerah sentra ternak luar jawa yang belum lancar; dan (iii) penyediaan kebutuhan daging untuk industri belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri. Kebutuhan daging sapi diperkirakan akan terus meningkat. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh IPB pada Agustus 2012, kebutuhan daging sapi tahun 2012, 2013, dan 2014 masing-masing sebesar 509,89 juta kg, 549,18 juta kg, dan 592,46 juta kg. Dari total kebutuhan tahun 2012, 81,37% atau sebesar 414,87 juta kg akan dipenuhi dari produksi dalam negeri, sedangkan 18,63% atau sebesar 95,02 juta kg akan dipenuhi oleh impor.

S

Fitria Faradila

Sumber: Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan

Untuk mendorong produksi domestik dan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi saat ini, pemerintah akan mengambil kebijakan, sebagai berikut: (i) Integrasi ternak dengan perkebunan dan tanaman pangan; (ii) Penerbitan perda tentang larangan pemotongan sapi betina produktif; (iii) Penerbitan peraturan perundangan mengenai kawasan pengembalaan ternak; (iv) Fasilitas distribusi transportasi ternak dengan kereta api dan kapal laut; dan (v) Revitalisasi pemotongan hewan.
Referensi: Tim Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Harga Pangan

Pokok

Sumber: BPS, diolah *) Minggu keempat November 2012

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

3

EKONOMI INTERNASIONAL

Prospek Perekonomian Kian Menurun

P

Rista Amallia
Pemerintah melakukan penghematan anggaran dan peningkatan pajak. IMF memproyeksi perekonomian AS tumbuh sekitar 2,2% (yoy). Kabar menggembirakan mengenai program pengentasan pengangguran di bawah The US Jobs Act yang dinilai cukup berhasil menekan jumlah pengangguran AS meskipun masih tergolong tinggi yaitu 7,9% pada Oktober 2012. Rendahnya prospek pertumbuhan negara-negara maju berimplikasi pada perekonomian negara-negara pertumbuhan baru terutama melalui perdagangan. Volume perdagangan internasional diperkirakan hanya tumbuh 3,3% pada tahun 2012 dibandingkan tahun sebelumnya 5,8%. Akibatnya, perekonomian Cina yang tumbuh pesat sekitar 9-10% mulai melambat. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina sebesar 7,8% pada tahun 2012. Pada tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Cina sebesar 9,2%. Perekonomian India pun diperkirakan mulai melambat setelah sebelumnya tumbuh hingga 10,1% (yoy) pada tahun 2010. PDB riil diproyeksikan hanya tumbuh 4,9% (yoy) pada tahun 2012 dari 6,8% pada tahun sebelumnya. Gejolak perekonomian global berimbas pada perekonomian Indonesia baik melalui transmisi langsung maupun tidak langsung. Khususnya pelambatan ekonomi Cina dan India akibat masalah ekonomi di AS dan Kawasan Eropa mengancam permintaan ekspor di Indonesia. Mengingat selama ini Indonesia merupakan salah satu pemasok bahan baku utama ke dua negara pertumbuhan baru tersebut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III2012 sebesar 6,17% (yoy) yaitu di bawah target nasional 6,5% (yoy). Untuk tahun 2012, IMF memprediksikan Indonesia hanya tumbuh 6,04% (yoy) di bawah prediksi Bank Dunia dan Oxford Economics sebesar 6,1% (yoy). Untuk tahun 2013 IMF dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia 6,3% (yoy), jauh di bawah target pemerintah dalam RAPBN 2013 sebesar 6,8%.

ada bulan Oktober 2012 lalu, IMF menurunkan proyeksinya atas pertumbuhan perekonomian dunia. Pertumbuhan PDB riil dunia diperkirakan tumbuh 3,3% (yoy) dan 3,6% (yoy) pada tahun 2012 dan 2013. Angka ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang dirilis pada Juli 2012. Proyeksi ini masih lebih tinggi dari Oxford Economics yang pada November 2012 memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2012 sebesar 2,2% (yoy) dan 2013 sekitar 2,5%. IMF memperkirakan perekonomian Kawasan Eropa sebagai episentrum kekhawatiran global masih mengalami kontraksi minus 0,4% (yoy) pada tahun 2012 dan mulai pulih tahun 2013 dengan laju 0,2% (yoy). Pada triwulan III-2012, pertumbuhan Kawasan Eropa turun dari minus 0,4% (yoy) periode sebelumnya menjadi minus 0,6% (yoy). Berbagai negara anggota Kawasan Eropa yang mengalami krisis Utang seperti Yunani dan Spanyol tidak dapat mengatasi masalah ekonominya dengan mendevaluasi nilai mata uangnya. Sebagai konsekuensinya, negara-negara tersebut harus melakukan penghematan dalam negeri diantaranya melalui pemangkasan transfer sosial dan menurunkan tingkat upah. Sebaliknya, beban pajak masyarakat ditingkatkan untuk menggenjot pendapatan nasional. Selain pertumbuhan, masalah yang sangat mendesak adalah tingkat pengangguran Kawasan Eropa yang terus merangkak naik. Pada September 2012, tingkat pengangguran Kawasan Eropa tercatat 11,6%. Bahkan angka pengangguran di Yunani sekitar 25,4% pada Agustus 2012 dan di Spanyol sekitar 25,8%.

4

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Pelajaran untuk Pengelolaan Fiskal yang Berkelanjutan
Rista Amallia
Sejak bergabung untuk menggunakan mata uang tunggal, Euro, perekonomian Yunani tidak memenuhi Kriteria Maastricht karena defisit anggaran Yunani lebih dari besar dari 3%. Rasio hutang terhadap PDB di atas 60% dan inflasi lebih dari 1,5%. Dengan bergabung ke dalam Kawasan Eropa, nilai tukar Yunani (drachma) terapresiasi dari sekitar 1,3 drachma/euro menjadi 1 dracma/euro. Apresiasi nilai tukar menyebabkan daya saing ekspor Yunani menurun dan memperbesar defisit transaksi berjalan. Keanggotaan Yunani dalam Kawasan Eropa memberikan keleluasaan bagi pemerintah Yunani untuk menaikkan pengeluaran pemerintah. Peningkatan pengeluaran tersebut lebih banyak dibiayai melalui utang luar negeri. Selanjutnya, kenaikan utang luar negeri Yunani berimbas pada keengganan investor asing untuk berinvestasi di Yunani. Imbal hasil instrumen utang Yunani kian meningkat menyebabkan biaya utang semakin tinggi. Berdasarkan kondisi pada bulan Oktober 2012, perekonomian Yunani masih menunjukkan perlambatan. Defisit primer Yunani selama JanuariSeptember 2012 mencapai 2 milyar Euro. Sedangkan rasio utang terhadap PDB sebesar 170.6% pada tahun 2011 diperkirakan akan menurun menjadi 161,5% pada tahun 2012 ini. IMF memperkirakan pada tahun 2013 rasio utang ini justru kembali meningkat menjadi 181,8%. Neraca perdagangan Yunani hingga Agustus 2012 mengalami defisit sekitar 9 milyar Euro karena meskipun ekspor naik 6,2% (yoy) atau mencapai 11 milyar Euro, nilai impor bahkan lebih besar lagi, yaitu sebesar 20 milyar Euro. PMA di Yunani berhasil mencapai 3,3 milyar Euro pada tahun 2011 dan diharapkan terus meningkat dengan adanya promosi reformasi atas peraturan investasi dan program PSI (Private Sector Innitiative). Berbagai permasalahan ekonomi yang masih dihadapi Yunani melebar menjadi krisis sosial. Pemicunya adalah lonjakan tingkat pengangguran hingga Agustus 2012 tercatat sebesar 25,4%. Di tengah tingkat pengangguran yang meningkat, Pemerintah Yunani justru harus menyepakati paket pengetatan anggaran dan restrukturisasi tenaga kerja. Paket pengetatan yang mencakup pemotongan belanja pegawai hingga pemecatan pegawai negeri sipil memicu aksi-aksi demonstrasi kembali marak di Athena, Ibu kota Yunani. Yunani mengalami hambatan untuk segera keluar dari krisis karena masih tingginya tingkat ketergantungan terhadap negara lain dan korupsi. Untuk membantu perbaikan perekonomian Yunani dan mencegah penyebaran dampak krisis, sejak bulan Mei 2010 EU, ECB dan IMF yang disebut Troika menyetujui paket utang sebesar 110 milyar Euro. Dana talangan tersebut telah dicairkan sebesar 73 milyar Euro melalui enam tahap: Tahap 1: Mei 2010 sebesar 20 milyar Euro Tahap 2: September 2010 sebesar 9 milyar Euro Tahap 3: Desember 2010 sebesar 9 milyar Euro Tahap 4: Maret 2011 sebesar 15 milyar Euro Tahap 5: Juli 2011 sebesar 12 milyar Euro Tahap 6: Desember 2011 sebesar 8 milyar Euro Pada Februari 2012 Troika kembali menyetujui dana talangan tahap kedua bagi Yunani sebesar 130 milyar Euro. Akan tetapi pencairan dana tersebut masih menunggu langkah pemerintah Yunani dalam menerapkan paket pengetatan anggaran sebagaimana yang telah disepakati. Hingga 27 November 2012, para menteri keuangan Kawasan Eropa menyepakati pemotongan utang Yunani sebesar 40 milyar Euro dan pencairan dana bailout sekitar 44 milyar Euro. Para pimpinan negara Kawasan Eropa tersebut menyampaikan bahwa kesepakatan ini tidak sekedar suntikan dana, melainkan juga merupakan janji bagi masyarakat Yunani atas masa depan perekonomian yang lebih baik. Sedangkan bagi Kawasan Eropa, kebijakan ini merupakan tes kredibilitas, ujian atas kemampuan organisasi ekonomi regional terbesar tersebut dalam mengatasi tantangan terbesar yang tengah dihadapi.

Krisis Utang Yunani

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

5

Ekonomi Domestik

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,17% pada Triwulan III­2012

Sandra Kurniawati

E

konomi Indonesia pada triwulan III-2012 tumbuh sebesar 6,17% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II-2012 yang sebesar 6,40% (yoy). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan PDB triwulan III2012 ditopang oleh kenaikan komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 10,02% dan komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 5,68%. Sementara komponen lainnya mengalami penurunan, seperti Pengeluaran Konsumsi Pemerintah turun sebesar 3,22%, Ekspor Barang dan Jasa turun sebesar 2,78%, dan Impor Barang dan Jasa turun sebesar 0,54%.
Berdasarkan jenis lapangan usaha, sektor ekonomi yang tumbuh dengan angka tertinggi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 1 0,48%, sedangkan sektor ekonomi dengan angka pertumbuhan terendah adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,09%. Walaupun demikian, sektor industri pengolahan merupakan sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada triwulan III-2013

yaitu sebesar 1,62%. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi sektor ini yang mencapai 23,87% dan tumbuh sebesar 6,36% (yoy). Jika dilihat dari struktur menurut pengeluaran, PDB pada triwulan III2012 masih didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 54,79%, diikuti oleh investasi sebesar 33,18%. Hal ini sejalan dengan pandangan Wakil Sekretaris Jenderal OECD, Rintaro Tamaki, yang menyatakan bahwa pertumbuhan permintaan domestik, khususnya konsumsi pribadi dan investasi, akan menjadi penggerak. “Pertumbuhan akan menjadi kurang dapat diandalkan dalam ekspor bersih dibandingkan di masa lalu. Perluasan kelas menengah tampaknya akan terus mendorong

permintaan domestik," ujar Rintaro Tamaki. Di sisi lain, jika dilihat secara spasial, Indonesia masih mengalami masalah ketimpangan pendapatan wilayah antara Pulau Jawa dan Luar Jawa. Hal ini dapat dilihat dari struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada triwulan III-2012 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 57,5%, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,83%, Pulau Kalimantan 9,26%, Pulau Sulawesi 4,75%, dan sisanya 4,64% di pulaupulau lainnya.

6

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Ekspektasi inflasi 2013 diperkirakan akan meningkat
Fitria Faradila

Inflasi Oktober 2012

I

nflasi bulan Oktober 201 2 mengalami peningkatan. Inflasi tercatat sebesar 0,1 6% (mom) atau 4,61 % (yoy). Nilai ini lebih tinggi dari tingkat inflasi bulan September 201 2 yang mencapai 0,01 % (mom) dan 4,31 % (yoy). Peningkatan inflasi bersumber dari kenaikan tarif sewa dan kontrak rumah serta kenaikan harga beberapa komponen volatile food. Walaupun mengalami peningkatan, tingkat inflasi masih relatif stabil.
Berdasarkan jenisnya, Inflasi inti pada bulan Oktober 2012 tercatat sebesar 0,33% (mom) dan 4,59% (yoy). Faktor utama yang mendorong naiknya tingkat inflasi inti adalah meningkatnya tarif sewa dan kontrak rumah. Kenaikan ini masih relatif stabil. Stabilnya inflasi inti bersumber dari menurunnya imported inflation akibat penurunan harga pangan global, terjaganya stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, serta respon sisi penawaran yang memadai.

Inflasi volatile food pada bulan Oktober 2012 tercatat -0,41% (mom) dan 6,66% (yoy). Koreksi harga yang masih berlanjut dan minimalnya dampak perayaan Idul Adha mendorong deflasi volatile food. Komponen volatile food yang mengalami deflasi antara lain telur ayam, ikan segar, aneka bawang dan minyak goreng. Sementara itu, komponen volatile food yang mengalami inflasi antara lain daging, telur ayam, cabe, daging sapi, dan wortel. Inflasi administered price pada bulan Oktober 2012 tercatat sebesar 0,23% (mom). Secara tahunan, Inflasi administered price mengalami peningkatan dari

2,74% pada bulan September 2012 menjadi 2,82% pada bulan Oktober 2012. Adanya kebijakan kenaikan tarif parkir di DKI Jakarta mendorong inflasi administered price walaupun tidak signifikan. Secara spasial, 37 dari 66 kota IHK mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di kota Manokwari yaitu sebesar 0,97% (mom). Sebaliknya, deflasi tertinggi terjadi di kota Ambon sebesar 2,44% (mom). Inflasi diperkirakan stabil pada kisaran 4,5%±1% sampai akhir tahun 2012. Perkiraan ini didasari oleh perkembangan inflasi yang rendah di bulan Oktober 2012 dan resiko minimum di waktu mendatang.

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

6

7

Akan tetapi, tekanan inflasi di tahun 2013 diperkirakan akan meningkat. Adanya rencana kenaikan tarif TDL rata-rata sebesar 15% akan mendorong tingkat inflasi administered price. Selain itu, rencana pemerintah untuk meningkatkan upah minimum diperkirakan juga mendorong inflasi. Namun, ekonom Citi Bank, Helmi Arman menyatakan bahwa kenaikan

upah tidak akan berdampak besar terhadap inflasi. Hal ini disebabkan sebagian besar pekerja masih berada di sektor informal. Untuk mengantisipasi tingkat inflasi di masa mendatang, Tim Pengendali Inflasi (TPI) pusat dan daerah akan melakukan hal-hal sebagai berikut: (i) mendorong peningkatan kerjasama perdagangan antar daerah dalam rangka menurunkan

tekanan inflasi volatile food; (ii) menjaga ekspektasi inflasi agar tetap terkendali; dan (iii) meminimalisir dampak inflasi dari kebijakan administered price. Referensi: Analisis Inflasi Oktober 2012-Tim Pemantau dan Pengendali Inflasi; Indonesia Macro Flash- Citi Bank Economics Research

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kembali surplus pada triwulan III-2012 sebesar US$0,8 miliar.

Neraca Pembayaran Indonesia
Fauzia Suryani Puteri

N

eraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan III-201 2 kembali surplus sebesar US$0,8 miliar. Faktor pendorong terbesar berasal dari transaksi modal dan finansial karena peningkatan arus masuk investasi langsung asing ke Indonesia. Sementara itu, transaksi berjalan mengalami penurunan defisit karena membaiknya kinerja neraca perdagangan. Akibatnya, jumlah cadangan devisa meningkat menjadi US$ 11 0,2 miliar setara dengan 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan III-2012 mengalami peningkatan menjadi US$6,0 miliar dari US$5,1 miliar pada triwulan II-2012. Seiring dengan kinerja investasi yang masih tumbuh kuat (10,02%), arus masuk investasi langsung asing ke Indonesia (PMA) meningkat signifikan menjadi US$ 5,5 miliar dari US$ 3,2 miliar di triwulan II-

2012. Peningkatan tersebut mendorong investasi langsung neto sebesar US$ 3,6 miliar. Sementara itu, neraca investasi portofolio juga memberikan kontribusi positif dari meningkatnya aliran masuk modal asing pada instrumen berdenominasi rupiah berupa pembelian obligasi pemerintah dan saham perusahaan. Arus masuk dana asing pada investasi portofolio selama triwulan III-2012 masih deras meski sedikit lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya.

Transaksi berjalan mengalami defisit sebesar US$5,3 miliar (2,4% terhadap PDB), lebih kecil dibanding defisit US$7,7 miliar (3,5% terhadap PDB) pada triwulan II-2012. Menurunnya defisit transaksi berjalan ini terutama disebabkan oleh membaiknya kinerja perdagangan nonmigas seiring penurunan impor yang cukup dalam di tengah ekspor yang masih terus menurun. Selain itu, perbaikan transaksi berjalan juga didukung oleh defisit neraca jasa yang lebih rendah seiring penurunan impor, serta berkurangnya defisit neraca perdagangan minyak dan gas akibat impor minyak yang lebih rendah .

8

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

P

Pengaruh Krisis Global terhadap Ekonomi Daerah

Ekonomi Daerah

Ratih Purbasari Kania

erekonomian global terlihat belum benarbenar pulih terlihat dari pertumbuhan ekonomi dunia yang masih cenderung lambat. Bahkan krisis ekonomi di Eropa semakin meluas dari kawasan pinggiran menuju pusat Eropa seperti Perancis dan Jerman. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Cina dan India masih dibayangi tren bergejolak yang dikuatirkan semakin berimbas pada kinerja ekonomi Indonesia. Hingga triwulan III-2012, ketahanan ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Namun demikian, situasi perekonomian dunia saat ini semakin nyata berimbas pada perekonomian nasional dan secara langsung berpengaruh pada kondisi perekonomian daerah.
Apakah ada pengaruh krisis global terhadap perekonomian daerah di Indonesia? Pengaruh ini dapat

meliputi akses transportasi dan logistik, ketersediaan energi serta fasilitas pelayanan publik lainnya. Menurut rilis Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian pembangunan (UKP4), pengeluaran pemerintah daerah pada triwulan III-2012 baru terealisasi secara rata-rata sebesar 43.9%. Realisasi ini lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai sekitar 45%. Penyerapan belanja yang rendah tersebut terkendala oleh beberapa hal seperti pemahaman yang masih rendah mengenai proses pengadaan barang dan jasa pemerintah, dokumen pengadaan yang tidak lengkap, masalah pengadaan lahan, pergantian pimpinan daerah, serta perbedaan pemahaman atas upaya percepatan realisasi APBD. Penyerapan anggaran yang rendah ini tentu saja mempengaruhi optimalisasi fiskal daerah dan peran daerah dalam mendukung investasi infrastruktur di daerah. Pengeluaran untuk Belanja Modal pada APBD secara umum masih tercatat rendah. Mayoritas pengeluaran digunakan untuk pengadaan barang dan jasa dibandingkan untuk pembangunan infrastruktur dan prasarana publik. Hanya pemerintah DKI Jakarta dan Kalimantan yang mampu menganggarkan lebih dari 30% APBD untuk Belanja Modal pada tahun 2012. Sebenarnya persentase Belanja Modal terhadap APBD di wilayah KTI dan Sumatera lebih tinggi di bandingkan dengan wilayah Jawa sejalan dengan kebutuhan infrastruktur, namun nilai Belanja Modal di kedua kawasan tersebut masih jauh dari kebutuhan secara optimal. Dampak melambatnya perekonomian global terhadap kinerja ekspor daerah semakin terasa dan diperkirakan berlangsung lebih lama. Kinerja ekspor Jawa termasuk Jakarta cenderung terus menurun, terutama komoditas tekstil dan bahan kimia. Perkembangan impor di kawasan Jawa termasuk Jakarta juga mulai melambat, baik pada bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi. Ekspor di wilayah KTI dan Sumatera melambat cukup besar dan terjadi sejak triwulan I-2012. Penurunan kinerja ekspor di KTI dan Sumatera berimbas besar pada penurunan kinerja ekspor nasional. Oleh karena itu, upaya untuk meredam perlambatan ekspor daerah sangat diperlukan saat ini agar ketahanan ekonomi nasional dapat berkelanjutan. (Sumber data: Berita Resmi Satatistik-BPS, Tinjauan Ekonomi Regional Triwulan III-BI) Sumber: http://wiryanto.files.wordpress.com

ditelurusi dari pencapaian beberapa indikator makro terkait pertumbuhan ekonomi daerah seperti produk domestik regional bruto, perkembangan inflasi daerah, investasi daerah, belanja pemda, serta pengaruh ekspor dan impor daerah. Pada kenyataannya, perekonomian sebagian besar daerah diperkirakan masih relatif tumbuh kuat, namun beberapa daerah telah merevisi target proyeksinya. Sebagian daerah di Jawa dan Kalimantan mengindikasikan potensi melambatnya pertumbuhan. Secara spasial, struktur perekonomian Indonesia masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang berkontribusi terhadap PDB sebesar 57,52% dan diikuti oleh Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Secara nasional prospek inflasi akhir tahun ini akan berada dalam target, namun inflasi daerah seperti di wilayah Jawa mengalami tren yang meningkat. Inflasi tertinggi di wilayah Jawa pada Oktober 2012 terjadi di Jakarta sebesar 0.53% dan inflasi terendah terjadi di Kediri sebesar 0.01%. Inflasi IHK tetap terkendali karena dukungan inflasi di wilayah Sumatera yang menurun. Investasi di sebagian besar daerah pada triwulan III2012 diperkirakan tumbuh cukup tinggi, namun menunjukkan indikasi melambat. Untuk wilayah Jawa, investasi masih kuat karena dampak dari tingkat aglomerasi yang lebih besar dan dukungan infrastruktur yang lebih baik. Di Kawasan Indonesia Timur (KTI), investasi mengalami perlambatan terutama dipengaruhi oleh infrastruktur pendukung yang masih terbatas

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

9

Laporan Utama

Harmonisasi Kebijakan Moneter
Rista Amallia
"Kendala yang dihadapi dalam rangka

D

koordinasi kebijakan moneter-fiskal selama ini berupa penyaluran informasi yang kurang lancar serta masalah birokrasi terutama yang terkait dengan pengambilan keputusan"

Di tengah tantangan ekonomi global, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter berupaya mendukung upaya pemerintah dalam melakukan mitigasi berbagai risiko eksternal. Beberapa upaya dan kebijakan yang telah diambil oleh Bank Indonesia: Memperpanjang tenor SBI; Menerapkan Month Holding Period (MHP) SBI; dan Optimalisasi Instrumen Operasi Moneter non SBI seperti Term Deposit, Reverse Repo SBN dan Foreign Exchange Swap . Berbagai kebijakan antisipasi dampak krisis global yang dilakukan oleh Bank Indonesia merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Untuk keberhasilan pencapaian tujuan tersebut, Bank Indonesia sebagai pemangku kebijakan moneter berusaha meningkatkan sinergi dengan pemerintah sebagai otoritas fiskal. Beberapa bentuk harmonisasi yang telah dilakukan terutama terkait dengan upaya meningkatkan akurasi proyeksi ekonomi dan likuiditas keuangan, koordinasi mengenai pengelolaan uang dan aset negara, serta koordinasi terkait Crisis Management Protocol (CMP). Menurut Direktur Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Hendar, kendala yang dihadapi dalam rangka koordinasi kebijakan moneter-fiskal selama ini diantaranya berupa penyaluran informasi yang kurang lancar dan masalah birokrasi terutama yang terkait dengan pengambilan keputusan. Selain itu, kendala yang dihadapi juga terkait dengan masalah teknis seperti deviasi hasil proyeksi yang mempengaruhi akurasi proyeksi lainnya. Tantangan lain dalam koordinasi kebijakan moneterfiskal juga terkait dengan penerapan otonomi daerah. Dengan diterapkannya otonomi daerah, tugas otoritas

moneter dalam menjaga inflasi menjadi lebih menyebar dan sulit untuk dikontrol. Dengan otonomi tersebut, masing-masing daerah memiliki kewenangan yang lebih luas untuk mengatur interaksi antara permintaan dengan pasokan di daerahnya masing-masing. Beberapa daerah dengan kondisi tekanan harga yang meningkat akan cenderung mengambil kebijakan untuk melindungi daerahnya sendiri, sehingga kadangkala dapat memberikan dampak negatif bagi daerah lain atau pada perekonomian nasional. Oleh karena itu dalam era otonomi daerah, Bank Indonesia bersama jajaran pemerintah baik pusat dan daerah berupaya mengelola inflasi melalui Tim Pengendali Inflasi (TPI) tingkat nasional dan Tim Pengendali Inflasi (TPID) yang tersebar di 66 kota di Indonesia. Ini salah satu bentuk nyata dari sinergi kebijakan fiskal-moneter. Melalui TPI dan TPID tersebut, komunikasi menjadi lebih intensif di antara berbagai pemangku kebijakan baik ditingkat pusat dan daerah untuk mendorong perdagangan antar daerah. Di waktu mendatang, Bank Indonesia akan terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi makro melalui strategi harmonisasi. Langkah harmonisasi yang akan dilakukan adalah penajaman koordinasi Crisis Management Protocol dan peningkatan sinergi untuk menciptakan ketapatan akurasi proyeksi.
Hendar Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter Bank Indonesia

Narasumber:

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012 2012

11 12

Perjalanan Waktu Kebijakan
1968: Dikeluarkannya UU No. 1 3 Tahun 1 968 tentang Bank Sentral. Berdasarkan UU 1828: Pemerintah Hindia Belanda tersebut maka tugas BI adalah mengatur, Mendirikan De Javasche Bank (DJB) menjaga dan memelihara stabilitas nilai sebagai bank sirkulasi dan rupiah. percetakan uang. 1983: Pemerintah melaksanakan kredit selektif. Hal ini dilakukan agar jumlah uang 1953: Pemerintah Indonesia beredar dan inflasi tetap terkendali. mengeluarkan UU no. 11 Tahun 1 953 tentang tugas pokok Bank Indonesia 1983: Diterapkannya PAKJUN 1 983 sebagai bank sentral yang mengatur nilai (Kebijakan deregulasi perbankan) yang satuan uang Indonesia. mengatur kebebasan bank pemerintah dalam menetapkan suku bunga deposito serta ketentuan pagu kredit. 1953: Pemerintah Indonesia mengeluarkan UU no. 11 Tahun 1 953 1988: Pemerintah mengeluarkan Paket 27 Oktober tentang tugas pokok Bank Indonesia 1 988 dan Paket Kebijakan 20 Desember 1 988 yang sebagai bank sentral yang mengatur nilai merupakan paket penyempurnaan kebijakansatuan uang Indonesia. kebijakan sebelumnya dibidang keuangan, moneter dan perbankan.

Pemerintahan Orde Lama

1966: Pemerintah menetapkan anggaran berimbang dengan cara menghentikan proyek-proyek yang tidak produktif dan fokus pada kegiatan yang menghasilkan pendapatan. 1966: Pemerintah menutup defisit APBN dengan ULN tanpa disertai dengan pencerakan uang baru

Pemerintahan Orde Baru

1967-1968: Pemerintah mengeluarkan UU No. 1 tahun 1 967 tentang PMA dan UU No. 6 Tahun 1 968 tentang PMDN untuk mendorong produksi dengan menggalakan investasi 1983: Pemerintah juga mengeluarkan UU No.7 tahun 1 983 tentang pajak penghasilan dalam rangka penyederhanaan, pemerataan, dan peningkatan pendapatan.

12

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

12

Fiskal dan Moneter Indonesia
1997: BI menerapkan kebijakan moneter ketat dengan menaikan suku bunga SBI. SBI 1 bulan yang pada awal tahun 1 997 sebesar 1 2,1 5 % pada pertengahan tahun 1 998 melambung menjadi 70,81 %. 1999: Diberlakukannya UU No. 23 tahun 1 999 sebagai pengganti UU. No. 1 3 tahun 1 968. Tujuan utama Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. BI menjadi lembaga Independen. 1999: Diberlakukannya UU No. 3 tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 23 tahun 1 999. Undang-undang ini membentuk Dewan Supervisi pengawas BI, mengizinkan BI memberikan fasilitas pembiayaan darurat dan mewajibkan BI memberikan pertimbangan terhadap Agustus 2009: Penurunan BI Rate dari 9,5% pada tahun 2008 menjadi 6,5% pada tahun 2009. Februari 2011: Bank Indonesia menaikan BI Rate dari 6,5% menjadi 6,75% Oktober 2011: Penurunan BI Rate menjadi 6,5 kembali. November 2011: Penurunan BI Rate menjadi 6%. Februari 2012: Penurunan BI Rate menjadi 5,75%.

Selama dan Setelah Krisis Setelah Krisis Finansial Global 2008 Moneter 1997-1998
1997: Pemerintah mengurangi pengeluaran untuk kegiatan-kegiatan tidak produktif dan mengalihkannya pada pengeluaran untuk kegiatan yang diharapkan dapat mengurangi biaya sosial akibat krisis ekonomi. 2008: Pemerintah membentuk Crisis Management Protocol untuk mencegah dan menangani krisis. Dikeluarkannnya Perpu No. 3 tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. 24 tahun 2004 tentang LPS. 2009: Pemerintah menyediakan paket stimulus fiskal sejumlah Rp 71 ,3 triliun dalam rangka meringankan beban masyarakat melalui subsidi BBM dan pemberian intensif pajak. Pemerintah juga menyiapkan dana sekitar 4 triliun untuk pembelian kembali aset-aset BUMN yang memiliki kinerja baik.

Referensi:

Adiningsih, Sri. 2012. Koordinasi dan Interaksi Kebijakan Fiskal-Moneter: Tantangan ke Depan . Yogyakarta: Kanisius.

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

13

Laporan Utama

D

Dukungan Kebijakan Fiskal & Moneter untuk Mendorong Pertumbuhan Investasi
Sandra Kurniawati dan Fauzia Suryani Puteri Dalam usaha meningkatan investasi jangka panjang, Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan termasuk insentif di bidang keuangan. Namun, Tamba Hutapea berpendapat bahwa berbagai fasilitas fiskal dan moneter yang ada saat ini masih perlu diharmonisasi dan disempurnakan guna mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif.
fiskal yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan berupa tax holiday, perluasan tax allowance, dan streamlining pembebasan biaya bea masuk. Tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2011 Pemerintah telah memberlakukan kebijakan pemberian insentif pajak untuk penanaman modal berupa Tax Holiday bagi industri pionir melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130 Tahun 2011. Di samping memberikan tax holiday, pemerintah juga memberikan alternatif fasilitas Pajak Penghasilan dengan menerbitkan kebijakan insentif perpajakan pada tanggal 22 Desember 2011 yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 52 Tahun 2011 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di DaerahDaerah Tertentu. PP 52 tahun 2011 tersebut merupakan revisi kedua dari PP No 1 Tahun 2007, yang pada dasarnya merupakan paket kebijakan pemberian insentif berupa investment allowance, bagi industri yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional. Tamba berpendapat bahwa dengan adanya tax holiday dan tax allowance, investor akan memiliki pilihan saat berinvestasi di Indonesia. Namun, insentif fiskal yang diberikan saat ini masih perlu disempurnakan mengenai kejelasan jangka waktu, dan persyaratannya agar lebih menarik bagi para investor. Dalam

Narasumber

P ertumbuhan investasi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan investasi pada triwulan III-2012 meningkat sebesar 10,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi investasi hingga September 2012, telah mencapai 81,1% dari target investasi tahun 2012. Derasnya aliran masuk dana asing pada pada triwulan III-2012 ini menandai sentimen positif para investor global pada prospek ekonomi domestik. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memainkan peran strategis sebagai penghubung utama antara dunia usaha dan pemerintah. BKPM mendapat mandat untuk terus mendorong investasi langsung, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia serta menarik investor untuk melakukan investasi jangka panjang di Indonesia, Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan baik berupa kebijakan perbaikan infrastruktur, iklim investasi, maupun inisiatif-inisiatif lainnya di bidang keuangan. Deputi Perencanaan Penanaman Modal, Tamba Hutapea dalam kesempatan wawancara TEK menyatakan “BKPM berkoordinasi dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan, lebih terkait dengan insentif fiskal yang diberikan untuk meningkatkan daya saing investasi”. Tamba mencontohkan insentif

Ir. Tamba Hutapea, MCP Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal, Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM)

14

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

p endapatnya, jika insentif tax

holiday batas waktunya hanya sampai tahun 2014, and then what next? Banyak proyek jangka

panjang yang membutuhkan kejelasan mengenai jangka waktu berlakunya tax holiday. Misalnya investor smelter yang sudah pasti akan menempatkan dana jangka panjang kemungkinan baru mengajukan tax holiday pada tahun 2015. Tamba menambahkan bahwa persyaratan yang ditentukan dalam peraturan tersebut masih memberatkan investor untuk berinvestasi. Sebagai gambaran syarat investasi awal senilai 1 triliun Rupiah sulit dipenuhi. Investor energi terbarukan seperti tenaga angin akan kesulitan jika harus langsung menginvestasikan 1 triliun Rupiah karena keuntungan investasi diperoleh secara bertahap. Persyaratan yang ditentukan dalam regulasi insentif fiskal semestinya

tidak terlalu rigid, misalnya industri damar harus menyerap 300 orang tenaga kerja. Jika yang mampu dipekerjakan hanya 285 orang, maka artinya industri tersebut tidak memenuhi persyaratan peraturan. Padahal jumlah tenaga kerja yang terserap relatif cukup besar. Di samping penyempurnaan fasilitas fiskal yang sudah ada, masih diperlukan bentuk insentif lainnya seperti insentif untuk proyek infrastruktur. PP Nomor 52 Tahun 2011 memang mengatur beberapa insentif yang terkait dengan proyek infrastruktur. Namun, persyaratan di peraturan tersebut seringkali tidak sesuai dengan pasar yang dituju oleh investor. Contohnya, proyek konstruksi jalan raya serta pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya, dalam PP 52/2011 mengecualikan

proyek yang diinvestasikan di Pulau Jawa. Padahal pembangunan Trans Jawa dan masalah sampah yang krusial justru berada di Pulau Jawa. Tamba berpendapat bahwa regulasi insentif untuk proyek investasi infrastruktur perlu dibuat khusus terutama proyek dengan pola Kerjasama Pemerintah-Swasta. “Proyek tersebut ‘kan milik Pemerintah, mengajak swasta untuk terlibat. Dalam hal ini seharusnya Pemerintah memberikan Government Support dan Government Guarantee, salah satunya dengan menjelaskan tata cara dan prosedur mengenai insentif perpajakan,” ujar Tamba. Selain berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait fasilitas fiskal, BKPM juga melakukan koordinasi dengan Bank

Indonesia terkait dengan kebijakan

Sumber : http://westjavainvest.com/

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012 2012

15 12

moneter yang terkait dengan investasi. Tamba menjelaskan bahwa BKPM dan BI sering melakukan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas berbagai isu seperti yang saat ini membahas proyek dengan pola Kerjasama Pemerintah-Swasta dari segi pembiayaan. Dalam forum diskusi, BKPM biasanya menyampaikan himbauanhimbauan terkait kebijakan moneter yang dapat mendukung iklim investasi yang kondusif. Pada salah satu diskusi dengan BI, BKPM menghimbau kepada BI agar tidak menaikkan BI rate serta mampu mengeluarkan kebijakan yang lebih agresif dibandingkan kebijakankebijakan yang bersifat moral suasion. Hal ini terkait dengan net interest margin bank yang sebaiknya tidak terlalu tinggi. Saat ini rata-rata net interest margin (NIM) sekitar 5,4% dari BI rate dinilai masih terlalu tinggi. Untuk proyek jangka panjang, masih di atas 10%. Sementara di Singapura, NIM-nya hanya sekitar 1% dan negara lain sekitar 3%. Hal tersebut akan memberatkan jika terjadi krisis global. Untuk meningkatkan iklim investasi yang kondusif perlu dilakukan beberapa hal seperti penyempurnaan dan harmonisasi

peraturan agar cocok dengan kebutuhan dunia bisnis. Tamba mengungkapkan bahwa persoalan lahan dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) daerah masih menghambat perencanaan investasi. Banyak kabupaten/kota saat ini belum memiliki RTRW, menghambat investor untuk mendapatkan izin dari Pemerintah Daerah. Masalah lain adalah tenaga kerja dan keamanan yang menjadi faktor sangat penting untuk menentukan kenyamanan investor. Pelayanan administrasi hingga saat ini menurut penilaian Tamba masih belum optimal, sehingga perlu dilakukan percepatan dan peningkatan kualitas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di daerah-daerah. Oleh karena itulah BKPM Pusat selalu melakukan sosialisasi dan penyamaan pandangan mengenai peran PTSP ini yang seharusnya mempermudah investasi. “Baru ada 268 PTSP pada tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota yang kualifikasinya sama dengan ketentuan pusat”, ungkap Tamba. Setiap tahun BKPM Pusat mendorong akselerasi PTSP daerah melalui pemberian award kepada instansi penanaman modal di daerah yang memenuhi kualifikasi BKPM Pusat. Hasil survei terbaru

menunjukkan daerah yang memiliki PTSP dengan kualifikasi yang sesuai adalah Provinsi Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Sedangkan untuk tingkat Kabupaten/Kota adalah Kota Palembang, Semarang, dan Salatiga, serta Kabupaten Sragen, Purwakarta, dan Trenggalek. Untuk mendukung investasi daerah, yang terpenting adalah pendirian PTSP yang qualified serta pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang terdiri dari kebijakan, kerjasama, promosi, pelayanan, pengendalian pelaksanaan, pengelolaan data dan sistem informasi, serta penyebarluasan, pendidikan, dan pelatihan penanaman modal. “Saya rasa jika SPM tersebut dipenuhi, daerah akan mampu menggerakkan investasi di daerahnya masing-masing” saran Tamba. Selain itu, hal yang terpenting adalah sebaiknya daerah menawarkan proyek-proyek dengan skema bisnis yang matang dan mampu mengangkat potensi daerah agar menarik bagi investor. “Tidak perlu membuat usulan proyek yang terlalu banyak. Lebih baik sedikit, namun dengan perencanaan yang matang”, ujar Tamba Hutapea menyudahi wawancara.

Sumber : http://jakartainvestmentgroup.com

16

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

The Effect of Monetary and Fiscal Policies on Indonesia's International Trade Performance
Looking at the medium-term trends in Indonesia’s export structure can be helpful in analyzing the export dynamics we have seen over 2012. In recent years, Indonesia’s exports have increasingly tilted towards agricultural resource-based manufactures and rawcommodity exports, at the expense of the share of nonresource based manufactured exports. The importance of exports of raw commodities, such as coal and copper, has increased significantly as a result of the global commodity price boom that took place between 2003 and 2008. Similar factors have driven the rising share in exports of agriculture resource-based manufacture exports, e.g. rubber and palm oil. Countries which have shown strong demand for such commodities, such as China, now account for a larger share of exports than five years ago, for example. The relative importance of direct exports to higher-income markets such as the USA, Europe and Japan has fallen (although these markets remain as significant export destinations and also as indirect drivers of demand for from other trading partners). These trends mean that developments in China are now clearly a key driver of the outlook for Indonesia’s exports. For example, recent IMF analysis (IMF Selected Issues, 2012) notes that a fall in China’s real estate investment of 10 percentage points, equivalent to a one percent fall in China’s growth, is estimated to lead to a fall in Indonesia’s real exports of 0.4 percentage points of GDP through combined direct and indirect effects, including through the impact on global commodity prices. So, over the course of 2012 the value of Indonesia’s exports have been affected by both declining commodity prices as well as by a weakening in external demand, both in high income economies, such as in the Euro zone, and in China (although there have been some signs from the latest monthly Indonesian and international data that export demand is stabilizing). For many commodities it has been price falls which have primarily driven the decline in export values. For example, in the first eight months of 2012 the value of Indonesia’s exports of rubber fell by 32 percent, of which an estimated 27 percent was due to price falls and 5 percent due to lower volumes. For other commodities such as copper, whose export value was down almost 50 percent over this period, the contribution of falls in volumes was more important. For palm oil, another important commodity export, the two factors moved in the opposite direction – rising volumes set against falling prices. It is worth noting that the decline in Indonesia's exports seen over 2012 is in line with that seen in many other commodity-exporting countries. Indeed, given the magnitude of the movements seen in international

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012 2012

17 12

commodity prices it is relatively difficult to disentangle the impact of other factors on export performance within this short time range (although in June there was a particularly sharp fall in some mineral exports related to the transition to the new export regulations). Other factors affecting export performance could include recent trends of FDI and the growing integration of manufacturing companies into global and regional supply chains. In addition, a whole host of domestic issues affect the relative cost competitiveness of Indonesia’s manufacturing firms, and hence their export performance, ranging from infrastructure and regulatory policies though to availability of skills and labor costs, as discussed further below. The bulk of Indonesia’s imports consist of raw materials and capital goods, for use in domestic production to meet both domestic consumption and investment demand as well as to produce export products. Final consumption goods are only a small share of imports. The rising influence of global production networks is one explanation behind the rising trend of intermediate and capital goods imports seen not only in Indonesia but in many countries globally, as discussed in the July 2012 World Bank’s Indonesia Economic Quarterly. These networks create a positive relationship between the growth of imported intermediate goods and that of the manufactured exports for which they are an input and, indeed, Indonesia’s imports show a strong historical link with exports. In that sense, some of the pressure on the trade balance through mid-2012 due to falling exports could be viewed as partly self-correcting as import demand related to export production would have been expected to decline. Indeed, while Indonesia’s import growth was sustained until mid-2012, in the third quarter imports fell quite sharply. Intermediate imports contributed to most of the quarterly decline but capital goods also fell relative to the second quarter. This contraction in imports led to a small rise in the goods trade surplus in the Balance of Payments accounts, and to the positive contribution of net external demand to quarter-on-quarter seasonally adjusted real growth in the quarter. There may also be a relative price adjustment process playing out, albeit with some lag, as the relative depreciation in the Rupiah over recent months, adjusting to changing international conditions, increases the relative cost of imports and improves the price competitiveness of exports.

"Promoting macroeconomic stability through prudent and coordinated monetary and fiscal policy can play a key role in building Indonesia's competitiveness and export performance."
Recent analytical work by the World Bank on “Reviving growth in Indonesia’s manufacturing sector” confirms empirically that a stable, predictable exchange rate promotes the growth of manufactured exports. Macro policy stability is also supportive of FDI inflows, which can lead to knowledge transfer and productivity improvement to the potential benefit of export performance, and of aggregate domestic investment more broadly. For example, the IMF Selected Issues 2012 report finds that among the determinants of the short-term dynamics of aggregate investment, interest rate volatility has the single biggest impact on investment growth, with real exchange volatility also having a negative and significant effect. In addition to further strengthening macroeconomic resilience and reducing exchange rate volatility, a range of other policy measures are, however, needed to support Indonesia’s manufactured sector performance, and its exports, going forward. These include reducing logistics costs and facilitating the growth of competitive services industries; reducing regulatory uncertainties which can delay investment, reduce investment size, or even diminish Indonesia’s attractiveness as a designated site for manufacturing investment; improving the functioning of output and input markets, for example through addressing difficulties for firms to enter and exit business; building firms’ learning capability to innovate, for example, on improving the quality of the skills of the workforce, and stimulating the adoption of new technologies and innovative activities. Within these areas, fiscal policy therefore has another important role to play in allocating government spending towards alleviating some of these key constraints, such as in infrastructure and skills. Contributor:

Ashley Taylor Country Economist Poverty Reduction and Economic Management Unit The World Bank Office Indonesia

18

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Opini Pakar

Koordinasi Kebijakan Moneter – Fiskal: Tantangan Indonesia di Tengah Krisis Global
Fauzia Suryani Puteri

Dr. Sugiharso Safuan

Peneliti dan Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia

ebijakan moneter dan fiskal merupakan bagian dari kebijakan makroekonomi. Sedangkan kebijakan makroekonomi sendiri memberikan perhatian pada tiga masalah yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran. Instrumen kebijakan moneter dan instrumen kebijakan fiskal baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama mempengaruhi indikator makroekonomi. Kedua kebijakan dapat bersifat bersinergi, dan atau saling meniadakan. Untuk mencapai sasaran akhir dari kedua kebijakan tersebut maka perlu adanya koordinasi yang baik antara kebijakan moneter dan fiskal, demikian penjelasan Dr. Sugiharso Safuan, dosen dan peneliti Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa di kalangan para ahli ekonomi masih terdapat perbedaan pandangan di dalam pengambilan kebijakan makroekonomi, khususnya persoalan mengenai mana yang relatif lebih mendapat prioritas, apakah inflasi atau

K

pengangguran. Adanya trade-off antara kebijakan fiskal dan moneter perlu ditempatkan dalam konteks diantara kedua pilihan kebijakan tersebut yang memberikan kerugian sosial paling minimal (social welfare loss). Kerugian sosial tersebut ditentukan oleh seberapa besar derajat keberpihakan dari pembuat kebijakan terhadap inflasi dan pengangguran. Dalam suatu masyarakat yang perekonomiannya masih sangat dipengarui tingkat harga, akan lebih baik jika bank sentralnya bersifat independen dan fokus pada stabilitas inflasi (Rogoff, 1986). Allesina dan Grilli (1992) menambahkan bahwa kebijakan moneter perlu diisolasi dari pengaruh politik sehingga dapat mencapai tingkat inflasi yang optimal. Selain itu, Willam Nourdaust (1975) menjelaskan bahwa kombinasi optimal antara inflasi dan pengangguran dipengaruhi oleh sejauh mana sistem demokrasi yang berlaku di suatu negara. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Akibat dari perekonomian

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

19

"Untuk meminimalkan terjadinya bias terhadap kepentingan masing-masing (BI dan Kementerian Keuangan), perlu dibentuk suatu tim independen yang beranggotakan ahli-ahli yang kompeten di bidang makroekonomi. "

Indonesia yang bersifat terbuka, kinerja mikro dan makro tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik tetapi juga sangat dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi di luar. Krisis global yang dipicu oleh krisis di Amerika dan Eropa menyebabkan kinerja ekspor Indonesia untuk sejumlah komoditi mengalami penurunan. Pada gilirannya akan menurunkan permintaan tenaga kerja yang terkait dengan produksi komoditi tersebut. Bila hal ini terjadi secara terus menerus maka krisis global dapat berpotensi mengurangi permintaan tenaga kerja di dalam negeri.

menjadi semakin kompleks. Untuk itu, efektivitas kolaborasi dalam mengimplementasikan kebijakan bauran (fiskal dan moneter) semakin perlu ditingkatkan.

Bank Indonesia merupakan instansi yang ditugasi sebagai pelaksana kebijakan moneter sedangkan Kementerian Keuangan bertindak mewakili pemerintah sebagai pelaksana kebijakan fiskal. Dr. Sugiharso Safuan berpendapat, untuk meminimalkan terjadinya bias terhadap kepentingan masing-masing (BI dan Kementerian Keuangan), perlu dibentuk suatu tim independen yang beranggotakan ahliDi sisi lain, pengaruh eksternal juga ahli yang memiliki kompetensi di dapat berbentuk imported inflation . bidang makroekonomi. Tim ini bersifat Imported inflation merupakan istilah terintegrasi dan bekerja secara yang digunakan oleh para ekonom bersama-sama, kontinyu, memberikan untuk menggambarkan bahwa evaluasi terhadap dominasi suatu kenaikan harga-harga domestik kebijakan fiskal-moneter yang disebabkan oleh kenaikan harga produk dihasilkan oleh tim perumus dan impor. Kenaikan ini khususnya terjadi memberikan assessment terhadap pada barang-barang yang memiliki pilihan-pilihan kebijakan untuk kandungan impor cukup tinggi seperti mengurangi kerugian yang sektor perumahan (housing sector) dan ditimbulkannya (meminimalkan “ welfare sektor otomotif. Adanya pengaruh yang loss”). “Dengan dibentuknya tim besar dari faktor eksternal dapat independen tersebut, maka efektivitas menggambarkan bahwa tantangan koordinasi kebijakan moneter-fiskal otoritas moneter dan fiskal untuk dapat lebih maksimal”, jelas Dr. mencapai stabilitas makro ekonomi Sugiharso Safuan.

20

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

BUMN

Peranan BUMN dalam Perekonomian Nasional
Puji Gunawan
"Sejak era kemerdekaan sampai saat ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan perekonomian nasional. Di masa awal kemerdekaan, BUMN bahkan menjadi soko guru perekonomian nasional mengingat belum berkembangnya sektor usaha swasta. BUMN memiliki peran yang signifikan terhadap pembangunan nasional, baik dalam hal kontribusi langsung terhadap anggaran, pengembangan sektor usaha, maupun dukungan terhadap kegiatan pro rakyat seperti yang diamanatkan Undang-undang nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Karena besar dan strategisnya peranan BUMN, Pemerintah terus mendorong agar peran BUMN terhadap perekonomian nasional semakin besar dan dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman."
BUMN (19,6%) ; 3. Pembayaran dividen BUMN secara umum lebih menarik investor, perbandingan antara Dividend Pay Out Ratio BUMN dengan non-BUMN adalah 45% : 25%, dengan Dividend Yield yang lebih tinggi ; 4. Posisi hutang BUMN publik yang relatif lebih rendah ; 5. Perkembangan Kapitalisasi pasar BUMN publik (25,2%) sedikit di bawah non Publik (27,4%) dan LQ45 (27,6%). Keberadaan dan market share BUMN yang besar di sektor-sektor strategis juga membuat BUMN menjadi bagian yang sangat penting. Keberadaan BUMN di hampir semua sektor ekonomi tentunya merupakan peluang sekaligus tantangan dalam hal membuat positioning, peran dan eksistensi BUMN di masing-masing sektor dan keberadaannya di daerah-daerah dapat memberikan kontribusi positif dan bukan menjadi beban Pemerintah. Saat ini, terdapat 141 BUMN dengan berbagai size maupun skala bisnis. Pada tahun 2011, dari 141 BUMN, terdapat 7 BUMN yang memiliki aset lebih dari Rp 100 triliun (PT Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia, PT PLN, PT Pertamina, PT Bank Negara Indonesia, PT JAMSOSTEK dan PT Telkom) dan 58 BUMN memiliki aset kurang dari Rp 1 triliun.

anfaat BUMN terhadap pembangunan nasional secara langsung diberikan melalui Pajak (PPN, PPh, PPnBM dan lainnya), deviden dan hasil privatisasi. Di samping itu, manfaat materi secara tidak langsung juga diberikan oleh BUMN, misalnya dengan besarnya belanja modal dan belanja operasional BUMN yang akan menggerakan sektor-sektor ekonomi lainnya. Secara rata-rata tiap tahunnya, Belanja modal BUMN jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan belanja modal APBN. Di samping kontribusi di atas, eksistensi BUMN ditunjukkan juga di pasar modal. Sebagai contoh berdasarkan data kapitalisasi pasar per 27 Januari 2012, porsi kapitalisasi pasar BUMN publik mencapai 22,72% atau senilai Rp 841,92 triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia. Terkait kinerja BUMN di lantai bursa, PT. Danareksa juga telah melakukan kajian pada tahun 2010 yang membandingkan kinerja dari gabungan 12 BUMN publik dengan gabungan 50 perusahaan publik non BUMN teratas (berdasarkan kapitalisasi pasar) untuk periode 5 tahun (2005-2009) dihasilkan : 1. Dari segi Return on Equity (ROE) dan Return on Asset (ROA) BUMN lebih baik dan lebih menarik bagi investor; 2. Pertumbuhan laba bersih BUMN (23,7%) ; non

M

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

21

Kontribusi BUMN kepada Perekonomian dan Keuangan Negara

*) Realisasi kumulatif s.d Desember 2011. Sumber: Kementerian BUMN, 2012 **) Realisasi KUR s.d Oktober 2012. Sumber : Sekretariat KUR Menko Perekonomian, 2012 Realisasi KUR s.d Oktober 2012. Sumber : Sekretariat KUR Menko Perekonomian, 2012

Dari sisi ekuitas, terdapat 2 BUMN yang memiliki ekuitas lebih dari Rp 100 triliun yaitu PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero), sedangkan yang kurang dari Rp 100 miliar terdapat 44 BUMN (20 diantaranya mengalami ekuitas negatif). Dari sisi Pendapatan terdapat 2 BUMN yang menghasilkan pendapatan lebih dari Rp 100 triliun, (PT Pertamina dan PT PLN) dan 74 BUMN yang menghasilkan pendapatan kurang dari Rp 1 triliun. Dari sisi laba bersih, BUMN yang memiliki laba bersih lebih dari Rp 10 triliun adalah PT Pertamina, PT Bank Rakyat Indonesia, PT Telkom, PT Bank Mandiri dan PT PLN. Sedangkan BUMN yang mendapatkan laba bersih kurang dari Rp 10 miliar, yaitu ada 21 BUMN (23 BUMN diantaranya mengalami kerugian). Kedepannya, Pemerintah akan melakukan upaya penataan kembali (Perampingan/Rightsizing) BUMN

dengan cara pemetaan secara lebih tajam melalui regrouping untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. Jika dilihat dari perkembangannya, peran BUMN kerap berevolusi disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Seperti misalnya diawal era kemerdekaan, BUMN masuk ke sektor yang memerlukan biaya maupun investasi yang besar dan tidak diminiati pihak swasta, namun keberadaannya dirasakan amat penting. Sampai dengan saat ini, penugasan kepada BUMN untuk melaksanakan tugas-tugas khusus diwujudkan melalui Public Service Obligation (PSO), seperti yang dilakukan oleh PT. PLN, PT. KAI dan PT. Pos Indonesia. Pemerintah terus mendorong agar peran BUMN terhadap perekonomian nasional semakin besar dan

Market Share BUMN

Sumber : Masterplan Kementerian BUMN 2012-2014, 2012

22

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Indonesia dalam perkembangannya pernah merasakan krisis ekonomi pada tahun 1998 dan tahun 2008 yang secara langsung maupun tak langsung mempengaruhi hampir semua sektor ekonomi. Sebagai contoh, untuk meredam dampak krisis 1997/1998, pemerintah memutuskan penggabungan beberapa bank nasional BUMN pada tahun 1998 yang dilakukan dalam rangka memperkuat struktur permodalan untuk mengembalikan dan memperkuat fungsi bank sebagai lembaga intermediasi yang akan menggerakkan sektor ekonomi lainnya. Disamping itu, BUMN juga dapat membentuk Bond Stabilization Fund dalam rangka mengatur jumlah uang beredar, baik melalui kebijakan expansive maupun contactive (tight money) melalui mekanisme buyback Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan atau surat Berharga Pasar Uang (SBPU). Dengan keterlibatan BUMN dalam buyback surat berharga, Bank BUMN juga dapat digunakan Pemerintah sebagai pemberi sinyal kepada pasar terkait arah kebijakan ekonomi Pemerintah.

Dalam keadaan normal, Bank BUMN juga dapat melakukan akuisisi bank lokal untuk memperbesar kapasitasnya. Dengan adanya akusisi ini, Bank BUMN dapat berperan lebih dalam stabilitas moneter, pembiayaan dan dalam upaya menghadapi integrasi ekonomi secara regional maupun internasional. Peran strategis BUMN dalam perekonomian tentunya perlu terus di dukung dan ditunjang agar dapat lebih berdampak luas pada perekonomian Indonesia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, seperti bagaimana membuat BUMN dapat menggerakkan dan membangun sektor/usaha yang selama ini sulit tersentuh oleh lembaga-lembaga pembiayaan seperti yang usaha-usaha kreatif, usaha yang baru dirintis, usaha yang minim modal maupun sektor yang selama ini sulit dibiayai dan tidak populer di mata lembaga pembiayaan. Usulan ke arah tersebut saat ini sudah mulai dirintis.

Ukuran dan Skala Bisnis BUMN

Sumber : Masterplan Kementerian BUMN 2012-2014, 2012

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Keuangan dan Perbankan

Arah Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Alexcius Winang
Rapat dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada awal November 2012 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%.
ebijakan tersebut dilandasi oleh pertimbangan perkembangan ekonomi domestik di tengah tantangan ekonomi internasional. Ketahanan perekonomian Indonesia di tengah kerentanan kondisi perekonomian global dinilai masih cukup baik. Pertumbuhan ekonomi dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi tahun 2012 sebesar 4,5% ± 1%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tercatat sebesar 6,17%, sedikit lebih rendah dari perkiraan. Kinerja perekonomian dipengaruhi oleh realisasi ekspor yang turun seiring dengan menurunnya daya serap negara mitra dagang utama dan rendahnya harga komoditas. Namun perekonomian masih dapat tumbuh dengan baik karena ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi. Kuatnya konsumsi rumah tangga sejalan dengan peningkatan keyakinan konsumen dan terjaganya daya beli masyarakat. Sementara tingginya pertumbuhan investasi didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih tinggi dan iklim usaha yang kondusif. Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV tahun 2012 diperkirakan akan tetap baik, karena ditopang oleh perekonomian domestik yang kuat, dimana sumber pertumbuhan ekonomi bersumber dari konsumsi rumah tangga dan investasi. Belanja Pemerintah berpotensi meningkat seiring dengan pemenuhan serapan anggaran pada akhir tahun. Di saat yang sama, kinerja ekspor diperkirakan membaik sejalan dengan potensi perbaikan ekonomi di negara mitra dagang utama dan kenaikan harga komoditi. Optimisme atas prospek pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2012 perlu diimbangi dengan berbagai risiko khususnya risiko eksternal. Hal yang perlu dicermati adalah masih lemahnya daya serap negara tujuan ekspor seperti Eropa. Akan tetapi, upaya pemerintah memotong bea keluar minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/ CPO) menjadi 9% pada bulan

K

Sumber: www.123rf.com November 2012 dari sebelumnya sebesar 13,5% diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja ekspor. Sejalan dengan penurunan ekspor impor sebagai dampak perlambatan perekonomian global, pertumbuhan kredit pada September 2012 sebesar 22,9% lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 23,6%. Kontribusi perlambatan terbesar berasal dari realisasi penyaluran kredit modal kerja. Dari sisi simpanan, Dana Pihak Ketiga pada September 2012 mengalami perlambatan tercatat 19,8% (yoy), dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 21,3% (yoy). Perlambatan tersebut dikontribusi oleh kinerja giro dan deposito di tengah pertumbuhan tabungan yang relatif stabil. Secara historis perlambatan ini sejalan dengan pola konsumsi masyarakat pasca lebaran. Kinerja perbankan domestik tetap solid. Hal ini ditunjukkan dengan Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) masih terjaga di kisaran 17%18%, jauh di atas angka persyaratan minimum sebesar 8%. Dari sisi profitabilitas perbankan, indikator Return on Asset (ROA) mengalami sedikit peningkatan menjadi 3,1%. Bank Indonesia akan tetap mengarahkan kebijakannya untuk mencapai keseimbangan eksternal pada tingkat yang berkesinambungan dengan tetap memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam upaya menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional. (Referensi: Bank Indonesia )

24

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Fiskal dan Regulasi Ekonomi

Sekilas Tentang PP 52 Tahun 2011 (Investment Allowance)
Kebijakan Insentif Fiskal untuk Mendorong Investasi
Wajib Pajak yang berhak menerima fasilitas PP 52 harus emerintah telah menargetkan memenuhi beberapa syarat, antara lain (i) Wajib Pajak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Dalam Negeri berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan RAPBN 2013 sebesar 6,8%. Salah satu cara Koperasi (ii) melakukan penanaman modal (baru untuk mencapai target tersebut adalah maupun perluasan usaha) serta (iii) berinvestasi pada dengan mendorong kenaikan investasi. bidang usaha tertentu di seluruh wilayah Indonesia Penanaman investasi diharapkan (Lampiran I) atau bidang usaha tertentu dan daerah meningkat pada wilayah dan sektor yang sesuai tertentu (Lampiran II). Namun bagi Wajib Pajak yang dengan program MP3EI. Salah telah memiliki Ijin Prinsip (IP) atau satu cara Pemerintah untuk Peraturan Pemerintah ijin penanaman modal sebelum PP mendorong iklim investasi adalah 52/2011 berlaku maka harus Nomor 52 tahun 2011 dengan memberikan fasilitas tambahan pengurangan PPh badan melalui sebagai Fasilitas penunjang memenuhi persyaratan penanaman yaitu memiliki rencana penerbitan Peraturan Pemerintah modal paling sedikit Rp 1 triliun pertumbuhan investasi No. 52 Tahun 2011 tentang serta belum beroperasi secara Fasilitas Pajak Penghasilan untuk dalam bentuk insentif komersial pada saat PP 52/2011 Penanaman Modal di Bidangberlaku. pajak bagi investor. bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-daerah Tertentu. Terdapat empat fasilitas bersifat kumulatif yang dapat dimanfaatkan bagi Wajib Pajak pengguna PP 52 yaitu PP 52 Tahun 2011 yang diterbitkan pada tanggal 22 (i) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari Desember 2011 merupakan perubahan kedua dari PP jumlah penanaman modal dibebankan selama 6 tahun No.1 Tahun 2007. Dasar hukum yang mendasari PP 52 (tax allowance) (ii) penyusutan dan amortisasi Tahun 2011 adalah UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal dipercepat (iii) pengenaan PPh atas dividen yang 31A mengenai Pajak Penghasilan. Pada awalnya tujuan dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar penerbitan PP No. 1/2007 dan perubahan pertamanya 10% atau tarif tax treaty serta (iv) kompensasi kerugian yaitu PP No. 62 Tahun 2008 adalah untuk menarik yang lebih lama dari 5 tahun dan tidak lebih dari 10 investasi, baik yang berasal dari luar negeri maupun tahun dengan persyaratan tertentu. Fasilitas PP dalam negeri untuk meningkatkan pembangunan 52/2011 dapat dimanfaatkan setelah Wajib Pajak ekonomi dengan mendorong tumbuhnya industrimerealisasikan rencana penanaman modalnya minimal industri baru atau pionir di Indonesia. Namun dalam 80%. perkembangannya, PP No. 52/2011 disamping bertujuan untuk mendorong tumbuhnya investasi, juga Dengan terbitnya aturan pelaksana berupa Peraturan agar pertumbuhan investasi mengarah pada hilirisasi Menteri Keuangan No. 144/PMK.011/2012 tentang industri dalam rangka meningkatkan nilai tambah Pemberian Fasilitas Pajak Penghasilan untuk produk, serta menyelaraskan investasi dengan program Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu MP3EI. dan/atau di Daerah-daerah Tertentu, telah dilaksanakan sosialisasi di Bandung dan Surabaya. Tujuan sosialisasi Terdapat 129 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha ini adalah memberikan informasi kepada para Indonesia (KBLI) yang diberikan fasilitas PPh dalam PP stakeholders terutama bagi para pelaku usaha 52/2011 (52 KBLI pada Lampiran I dan 77 KBLI pada mengenai persyaratan dan fasilitas pada PP 52/2011. Lampiran II). Lampiran I adalah untuk Bidang Usaha Disadari bahwa pemanfaatan fasilitas tersebut sampai Tertentu yang keberadaannya tidak dibatasi oleh saat ini dirasa belum optimal yang mungkin wilayah tertentu (seluruh wilayah Indonesia). disebabkan oleh kurangnya sosialisasi atau memang Sedangkan Lampiran II adalah untuk Bidang Usaha para calon investor belum berminat untuk berinvestasi tertentu yang keberadaannya harus pada wilayah yang pada bidang-bidang usaha yang diberikan fasilitas telah ditentukan. tersebut.

P

Gita Putri Pertiwi

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Kolom MP3EI

Konektivitas antar Koridor Ekonomi
Mampukah mengatasi ketimpangan?

P

Masyitha Mutiara R

ertumbuhan perekonomian Indonesia masih melaju di atas 6%, cukup tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara di dunia. Indikator ekonomi makro terlihat masih cukup menggembirakan. Dalam dua tahun terakhir, tingkat inflasi nasional terjaga dengan baik (dalam rentang yang ditargetkan) dan dinilai cukup stabil. Selain itu, prospek investasi yang positif diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Edimon Ginting, ekonom Asian Development Bank (ADB) dalam kesempatan diskusi terbatas di Kementeriaan Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan, walaupun tanda-tanda perekonomian tumbuh dengan menggembirakan, ada beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah. Salah satunya adalah masalah ketimpangan. Ketimpangan antar wilayah di Indonesia masih cukup tinggi. Sejak tahun 2008 sampai tahun 2011, nilai koefisien gini Indonesia semakin besar dan telah melewati tingkatan tertinggi yang pernah terjadi. Hal ini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum diiringi dengan pemerataan pendapatan antar wilayah di Indonesia. Tingkat nutrisi di wilayah Indonesia timur pada tahun 2010 tidak banyak berubah dari kondisi tahun 2005. Edimon berpendapat bahwa salah satu cara untuk mengurangi ketimpangan adalah dengan menciptakan konektivitas. Menurutnya, konektivitas akan mendorong adanya integrasi antar pasar domestik dan penurunan biaya transportasi sehingga mampu meningkatkan daya saing Indonesia. Lebih lanjut Edimon menjelaskan dua indikator penting konektivitas. Indikator pertama terkait konektivitas intrapulau, yaitu kondisi jalan. Data menunjukan bahwa 41% jalan di daerah pinggiran Indonesia dalam kondisi rusak karena tidak tersedia biaya pemeliharaan yang cukup dan angkutan barang di luar batas beban. Hal ini menyebabkan biaya dan waktu perjalanan menjadi tidak efisien. Jika membandingkan biaya transportasi di Indonesia dan Malaysia, biaya transportasi dari Cikarang (daerah industri) ke Tanjung Priok sebesar $750. Sementara dengan jarak yang sama di Malaysia, biaya angkutan sebesar $450. Tingginya biaya transportasi di Indonesia menjadi salah satu penghambat untuk meningkatkan daya saing Indonesia, terutama di sektor perdagangan. Indikator kedua terkait dengan konektivitas dengan dunia internasional, seperti waktu bongkar-muat barang di pelabuhan yang menentukan masa tinggal barang di pelabuhan. Kondisi ini penting menjadi perhatian karena semakin pendek masa tinggal barang di pelabuhan, maka akan semakin cepat barang tersebut bermanfaat untuk putaran aktivitas ekonomi. Peningkatan efisiensi dalam mengatur sistem perkapalan dan logistik di Indonesia sangat diperlukan, terutama pelabuhan Tanjung Priok yang menjadi pelabuhan utama perdagangan dari dalam dan luar negeri. Berdasarkan survei Bank Dunia tahun 2010, masa tinggal barang di pelabuhan Tanjung Priok yang mencapai 6 hari relatif paling lama jika dibandingkan dengan proses di pelabuhan lain di dunia. Singapura hanya membutuhkan waktu paling lama 1 hari. Edimon sangat mendukung bahwa stategi konektivitas antar koridor ekonomi dalam MP3EI akan mampu mengurangi ketimpangan antar wilayah Indonesia. Untuk itu, MP3EI perlu meletakkan proyek-proyek pembangunan yang berkaitan erat dengan konektivitas. Kebijakan konektivitas juga diperlukan, antara lain (i) kebijakan akuisisi lahan dan mekanisme pemeliharaan jalan (ii) peningkatkan jasa perkapalan terutama di wilayah Indonesia bagian timur dengan insentif dan kontrak jangka panjang, dan (iii) regulasi tenaga kerja yang lebih kompetitif.

26

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

KETENAGAKERJAAN

Perkembangan Angkatan Kerja Indonesia
Fitria Faradila
Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2012 mencapai 118,04 juta orang yaitu meningkat 0,57% (yoy). Di saat yang sama, jumlah orang yang bekerja meningkat sebesar 1,03% (yoy) sehingga total orang yang bekerja saat ini mencapai 110,8 juta orang.

J

Sektor informal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja

Tingginya pertumbuhan orang yang bekerja menyebabkan penurunan jumlah pengangguran sebesar 5,98% (yoy). Jumlah pengangguran tercatat 7,24 juta orang, menurun dibandingkan bulan Agustus 2011 yang mencapai 7,7 juta orang. Keadaan tersebut menghasilkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,14%. Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar pengangguran merupakan tamatan sekolah menengah, baik Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tingkat pengangguran lulusan SMA dan SMK masing-masing tercatat 9,5% dan 9,87%. Sementara itu, pengangguran lulusan SD ke bawah sebesar 3,64%. Sektor informal masih mendominasi penyerapan tenaga kerja. Sektor informal mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 66,64 juta orang atau sebesar 60,14% dari total orang yang bekerja. Sebagian besar tenaga kerja di sektor informal berstatus buruh tidak tetap. Sementara itu, sektor formal menyerap tenaga kerja sebanyak 44,16 juta orang atau sebesar 39,86% dari total orang yang bekerja. Sebagian besar tenaga kerja sektor formal berstatus buruh atau karyawan.

Berdasarkan lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan mencatatkan kontribusi paling tinggi yaitu 35,09% dari total orang yang bekerja. Walaupun memberikan kontribusi yang tinggi, jumlah orang yang bekerja di sektor ini cenderung menurun. Pada bulan Agustus 2012, jumlah tenaga kerja sektor pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan tercatat 38,88 juta orang, menurun dibandingkan bulan Agustus 2011 yang mencapai 39,33 juta orang. Tenaga kerja yang masih terkonsentrasi di sektor informal menyebabkan kepastian pemenuhan hakhak tenaga kerja menjadi menurun. Oleh karena itu, penyerapan tenaga kerja di sektor formal perlu terus ditingkatkan.

Sumber: BPS

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

27

KUR dan UKM

KUR dan UKM

Penyaluran KUR Oktober 2012
Windy Pradipta
ada Oktober 2012, realisasi KUR tercatat sebesar Rp 2,83 triliun. Dengan demikian penyaluran KUR selama tahun 2012 telah mencapai Rp 26,9 triliun. Secara agregat, realisasi KUR sejak November 2007 sebesar Rp 90,3 triliun yang disalurkan kepada 7,3 juta debitur. Rata-rata tiap debitur menerima kredit sebesar Rp 12,4 juta dengan tingkat NPL 3,7%. Penyaluran KUR dilakukan oleh tujuh bank penyalur dan BPD yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari ketujuh bank tersebut, BRI merupakan bank penyalur terbesar. Realisasi KUR Mikro BRI pada Oktober 2012 mencapai Rp 43,2 triliun. Pada saat yang sama, realisasi KUR Ritel BRI sebesar Rp 11,9 triliun.

P

"Semakin optimis mencapai target KUR 2012 sebesar Rp 30 triliun"
Menurut sebaran regional, secara kumulatif sejak November 2007, penyaluran terbesar terdapat di provinsi Jawa Timur sebesar Rp 13,9 triliun dan provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 13,5 triliun. Sebaliknya penyaluran KUR di luar Jawa masih sangat rendah, khususnya di Maluku Utara dan Papua Barat, masing-masing sebesar Rp 363 miliar dan Rp 462 miliar. Hal ini sekaligus mencerminkan masih terpusatnya sebaran KUR di pulau Jawa. Untuk meningkatkan penyaluran KUR di Indonesia

bagian timur, maka perlu adanya kerjasama antara perbankan dan pemerintah daerah. Secara sektoral, pada bulan Oktober 2012 penyaluran terbesar terjadi pada sektor perdagangan sekitar 57% dari total plafon KUR. Sedangkan untuk urutan kedua pada sektor pertanian sebesar 16%. Sementara itu, laporan KUR TKI saat ini terus mengalami peningkatan. Pada Oktober 2012, realisasi KUR TKI tercatat mencapai Rp 22,7 miliar dengan jumlah debitur mencapai 2.274 TKI. Mayoritas KUR TKI diberikan kepada pekerja yang ditempatkan di Korea dan Malaysia masing-masing sebesar Rp 14,9 miliar dan Rp 3,7 miliar. Di saat yang sama plafon KUR sebagian besar disalurkan ke lapangan kerja manufaktur yaitu sebesar Rp 15,6 miliar.

Disisi lain, penyaluran KUR oleh BPD masih perlu terus ditingkatkan. Realisasi penyaluran KUR oleh BPD pada bulan Oktober 2012 mencapai Rp 357 miliar yang disalurkan kepada 4.696 debitur. Tingkat NPL ratarata untuk BPD sebesar 6.3%. Diantara BPD penyalur, Bank Jatim dan Jabar Banten merupakan penyalur KUR tertinggi masingmasing sebesar Rp 3,19 triliun dan Rp Sumber: Komite Kebijakan KUR 2,14 triliun.

28

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan November 2012

Selamat Hari Pahlawan
Perjuangan Belum Berakhir

Untuk informasi lebih lanjut hubungi : Redaksi Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Gedung Sjafruddin Prawiranegara (d.h. Gd. PAIK II) Lantai 4 Jalan Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta, 1 071 0 Telepon. 021 -3521 843, Fax. 021 -3521 836 Email : tinjauan.ekon@gmail.com Tinjauan Ekonomi dan Keuangan dapat didownload pada website
www.ekon.go.id

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful