You are on page 1of 38

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mesin merupakan alat yang melakukan proses pembakaran dan gesekan yang terus menerus. Dari proses pembakaran tersebut terjadi konversi atau perubahan energi. Dan gesekan dan panas tersebut dapat menyebabkan bagian dari mesin aus. Selain aus juga menyebabkan kerusakan pada komponen mesin. Maka untuk menghindari dan meminimalis keausan maka diperlukan pelumasan pada mesin. Pelumasan mencegahlogam bergesekan,menghindari keausan, mengurangi hilangnya tenaga, dan mengurangi timbulnya panas. Hal yang diinginkan adalah apabila gesekan logam dicegah atau ditiadakan, disebut hydrodinamik atau penuh film pelumas,disini gesekan metal betul-betul diganti dengan gesekan dalam pelumasyang sangat rendah. Sebaliknya karena tekanan tinggi, kecepatan rendah,pelumas tidak cukup dan sebagainya, film pelumas menjadi sangat tipis,pelumas akan disebut dalam kondisi boundary dan masih menyebabkangesekan logam.
B. Sejarah Minyak Pelumas

Pelumas di gunakan sejak 4000 SM di daerah Mesopotamia, dimana daerah tersebut adalah merupakan salah satu pusat peradaban Dunia yang paling awal Sebelum Masehi. Untuk Bantalan Sederhana, yang di buat dari Zat Bitumina.. Di Mesir/Egyp ; pada tahun 1400 SM, di gunakan pada Roda

1

kereta/ kendaraan perang yang menggunakan pelumas campuran yang berasal dari campuran lemak hewan dan minyak nabati Peradapan Yunani - Romawi ; Untuk Roda Gigi, derek dan bantalan bola dan rol Di Inggris Abad 18 ( sekitar tahun 1760 M ); ketika Revolusi industri berlangsung selama 80 Tahun, menggunakan minyak nabati ( sawit, zaitun dan kacang tanah) dan Minyak hewani ( lemak babi, lemak sapi, sperma ikan paus ) dan pelumas padat/ semi ( grafit, talk, gemuk dari soda dan minyak hewani ditambah kapur ) Di Canada, Rusia, dan Romania pada tahun 1852 abad 19, Pelumas sudah menggunakan minyak bumi. Di Indonesia ; Awal produksi sudah menggunakan Minyak Bumi. Abad 20 ; Peningkatan mutu pelumas di gunakan untuk kebutuhan perkembangan Motor Bakar/ sepeda Motor salah satunya ( Otomotif ) Tahun 1905 ; Di dirikannya SAE ( Society of Engineers ) di New York T ahun 1920 ditingkatkannya Produksi base oil untuk pelumas mutu tinggi dengan destilasi Vakum, dan terbentuknya Komisi Standart Pelumas SAE Tahun 1923 ; SAE sudah mengklasifikasikan pelumas motor bakar menurut Viskositas, dan ada aturan untuk penggantian Pelumas dilakukan setiap 800-1000 mil.

2

Tahun 1930 ; Pelumas sudah menggunakan bahan Aditif untuk pengembangan pelumas modern ( deterjen, temperatur ekstrim, tekanan dan anti lumpur ). Tahun 1950 ; Multigrade oils. Penerbangan dengan motor turboprop yang pertama, Vickers- Viscount. Tahun 1972 ; Mulai dikenalkan minyak pelumas sintetis di pasaran.
C. Tujuan

Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah : 1. Memenuhi tugas mata kuliah Teknik Perawatan dan Perbaiakan 2. Menambah wawasan tentang pelumasan 3. Mengklarifikasi system pelumasan 4. Membuat makalah dengan baik
D. Manfaat

Manfaat disusunya makalah ini : 1. Bertambahnya wawasan mengenai pelumasan dan system pelumasan 2. Dapat mengklarifikasi system pelumasan 3. Sebagai bahan acuan dan perbandingan

3

BAB II PEMBAHASAN A. Pelumas Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan.Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin yang dipakai pada mesin pembakaran dalam. Pelumas juga dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang berada diantara dua permukaan yang bergerak secara relatif agar dapat mengurangi gesekan antar permukaan tersebut. Sistem pelumasan merupakan salah satu sistem utama pada mesin, yaitu suatu rangkaian alat-alat mulai dari tempat penyimpanan minyak pelumas, pompa oli (oil pump), pipapipa saluran minyak, dan pengaturan tekanan minyak pelumas agar sampai kepada bagian-bagian yang memerlukan pelumasan. B. Fungsi dan tujuan pelumasan  Mengurangi gesekan serta mencegah keausan dan panas, dengan cara yaitu oli membentuk suatu lapisan tipis (oil film) untuk mencegah kontak langsung permukaan logam dengan logam. Mencegah kontak langsung antar komponen yang bergerak relatif satu dgn lainnya.  Sebagai media pendingin, yaitu dengan menyerap panas dari bagian-bagian yang mendapat pelumasan dan kemudian membawa serta memindahkannya pada sistem pendingin.

4

 Sebagai bahan pembersih, yaitu dengan mengeluarkan kotoran pada bagian-bagian mesin.  Mencegah karat pada bagian-bagian mesin.  Mencegah terjadinya kebocoran gas hasil pembakaran.  Sebagai perantara oksidasi.  Mereduksi keausan  Perapat kompresi  Mereduksi kebisingan  Mendinginkan part-part mesin  Menjaga kebersihan part-part  Mengisolasi Listrik  Memindahkan Tenaga, diterapkan pada alat dongkrak hidrolik, pompa, dan lain lain  Membentuk Sekat C. Sifat Pelumas 1. Mengurangi gesekan: Dengan mengurangi gesekan berarti akan mengurangi juga energy dan juga mengurangi pemanasan lokal. 2. Mengurangi wear: Adalah suatu kebutuhan menjaga peralatan agar tetap bisa beroperasi untuk periode yang lama dan bekerja secara efisien. 3. Pendingin: Di dalam engine, pelumas juga berfungsi sebagai zat penukar panas antara bagian-bagian yang terpanasi akibat pembakaran (misal: piston) dan sistem pelepas panas (misal: jacket pendingin). Pada sistem yang lain, pelumas sebagai pelepas panas dari hasil gesekan atau kerja mekanik lainnya. 4. Anti korosi: Baik dari hasil degradasi pelumas atau akibat kontaminasi hasil pembakaran, pelumas bisa bersifat asam dan menjadikan korosi pada logam. Adanya uap air dapat juga menyebabkan karat pada besi. Oleh sebab itu pelumas harus bisa menanggulangi efek-efek tersebut.

5

5. Pembersih: Pelumas juga sebaiknya bisa mencegah terjadinya fouling serpihan-serpihan yang dihasilkan dari proses mekanis, dari hasil degradasi pelumas itu sendiri maupun dari hasil proses pembakaran. Apa yang disebut deposit adalah seperti karbon padat, varnish atau endapan. Ini dapat mengganggu pengoperasian alat. Kasus ekstrem adalah ring piston tidak bisa bergerak, dan aliran minyak tersumbat, hal ini bisa terjadi jika minyak pelumas tidak mampu mencegah hal ini. Pencegahan deposit dan juga dispersi kontaminan termasuk dalam kategori ini. 6. Seal: Minyak pelumas seharusnya dapat juga menjadi seal antara piston dan silinder (piston ke ring dan ring ke dinding silinder). Untuk mendapatkan fungsi-fungsi tersebut di atas berdasarkan tinjauan ekonomi, pelumas haruslah mempunyai sifat-sifat tertentu sesuai dengan alat dimana pelumas itu digunakan. Perlu ada kesesuaian antara persyaratanpersyaratan yang saling bertentangan. Beberapa batasan negatif terangkum sebagai berikut dibawah ini, pelumas tidak boleh 7. Mempunyai viskositas yang terlalu rendah Hal ini akan memungkinkan kontak antara logam dengan logam menyebabkan terjadinya wear serta dapat meningkatkan lepasnya/hilangnya pelumas. 8. Mempunyai viskositas yang terlalu tinggi Hal ini akan meningkatkan tenaga dan, dalam kasus engine, dapat menyulitkan pada saat start. 9. Mempunyai indeks viskositas yang terlalu rendah Hal ini berarti bahwa lapisan film pelumas tidak terlalu tipis pada saat temperatur tinggi (atau tidak terlalu tebal pada saat temperatur rendah). 10. Terlalu mudah menguap : Tingkat penguapan tinggi (high volatility) akan menyebabkan tingkat konsumsi pelumas naik akibat teruapkannya kandungan ringan dari pelumas tersebut.

6

11. Berbusa saat digunakan : Jika berbusa, minyak akan kehilangan sifat pelumasannya, dan/atau berkurangnya minyak itu sendiri dari engine. Menjadi tidak stabil karena terhadap oksidasi ataupun reaksi kimia. Pelumas engine ditujukan untuk temperatur tinggi dan juga mencegah kontaminasi asam atau zat kimia lainnya. Minyak pelumas haruslah tahan terhadap hal ini agar pelumas tersebut tetap awet. 12. Beracun atau bau tak sedap : Hal ini diperlukan untuk kenyamanan dan kesehatan pengguna. Sifat-sifat umum pelumas adalah: 1) Appearance. Rupa pelumas dengan melihat keadaan visualnya dan dapat menunjukkan:  clear: Pelumas terlihat jernih.  hazy: Pelumas terlihat tidak jernih/berkabut. Pada pelumas baru, hazy menunjukkan adanya air atau uap air yang terdapat pada pelumas.  dark: Bila appearance terlihat dark atau gelap, ini dapat menunjukkan adanya kandungan produksi oksidasi dari pelumas atau bahan bakar. 2) Spesific Grafity (SG). Adalah perbandingan berat minyak dan air yang mempunyai volume yang sama pada suhu tertentu. Pemeriksaannya dengan alat standar untuk tujuan tersebut. 3) Warna (color). Untuk mengetahui sifat visual pelumas sehingga dapat diinterprestasikan sifat fisiknya secara cepat kemudian dapat dilakukan analisa keadaan sebenarnya dari pelumas. 4) Viscosity/kekentalan. Adalah besarnya tahanan aliran yang dimiliki setiap fluida termasuk pelumas. tingkat kekentalan

7

merupakan sifat fisik fluida yang berubah terhadap perubahan temperaturnya, sehingga pengukuran kekentalan harus disertai dengan pengukuran suhu pada waktu yang bersamaan. Metode pengukuran viskositas pelumas antara lain:  Viscocity Kinematic (Centistokes-Cst).  Derajat Engler, diukur pada suhu 20°C,50°C dan 100°C.  Second Redwood, diukur pada suhu 70°F,140°F dan 200°F.  Second Universal Saybolt, diukur pada suhu 100°F dan 210°F.  Nomor SAE 5) Viscocity Index (VI). Merupakan besarnya angka index atau skala kekentalan pelumas terhadap perubahan temperature tertentu.Standar temperature pada pengukuran ini adalah 100°F dan 210°F. Pada umumnya menggunakan Kinematic Viscosity. Pelumas yang memiliki VI tinggi tidak banyak mengalami perubahan kekentalan pada perubahan temperature. 6) Pour Point (titik tuang), menunjukkan temperature terendah dimana pelumas masih dapat mengalir. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kemampuan mengalir pada temperature rendah berhubung dengan daerah pemakaian atau kondisi kerja penggunaan dari pelumas tersebut. 7) Flash Point (titik nyala), merupakan temperature terendah dimana suatu minyak sudah mampu terbakar oleh adanya letupan bunga api/flash. Maksud pengukuran titik nyala adalah untuk safety precaution atau berhubungan dengan kondisi pemakaian pelumas. Dengan mengetahui titik nyala, dapat diketahui banyak sedikitnya komponen yang menguap karena titik nyala mempengaruhi jumlah pemakaian pelumas. 8) Total Base Number (TBN), adalah besarnya angka kebasaan pelumas yang mengindikasikan bahwa pelumas tersebut

8

mengandung additive terutama jenis detergent dan dispersant. Angka TBN pada pelumas bekas akan lebih rendah dari pelumas baru. Karena sebagian basa telah digunakan untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk ataupun telah dipakai untuk menghancurkan kotoran. Jadi dengan mengukur besarnya angka TBN dapat ditentukan apakah pelumas masih layak pakai.

9) Total Acid Number (TAN), adalah besarnya angka keasaman pada pelumas yang terbentuk oleh oksidasi pelumas atau karena pengaruh adanya air/uap air. Pelumas yang telah mengandung banyak asam tidak boleh digunakan lagi (dapat menimbulkan korosi). 10) Oxidation Stability (ketahanan Oksidasi), sifat yang diperlukan pada pelumas untuk melumasi mesin. Kombinasi panas dan udara bila ada kontak dengan pelumas akan menyebabkan oksidasi. Oksidasi akan membentuk asam, pelumas menjadi kental dan akhirnya membentuk lumpur korosif.

D. Jenis jenis pelumas Terdapat berbagai jenis minyak pelumas.Jenis jenis minyak pelumas dapat dibedakan penggolongannya berdasarkan bahan dasar (base oil), bentuk fisik, dan tujuan penggunaan. 1. Dilihat dari bentuk fisiknya : a. Minyak pelumas b. Gemuk pelumas c. Cairan pelumas

9

2. Dilihat dari bahan dasarnya : a. Pelumas dari bahan nabati b. Pelumas dari bahan hewani c. Pelumas sintetis 3. Dilihat dari penggunaannya : a. Pelumas kendaraan b. Pelumas industri c. Pelumas perkapalan d. Pelumas penerbangan 4. Dilihat dari pengaturannya : i. Pelumas kendaraan bermotor : 1. Minyak pelumas motor kendaraan baik motor bensin/Diesel 2. Minyak pelumas untuk transmisi 3. Automatic transmission fluid & hydraulic fluid ii. Pelumas motor diesel untuk industri : 1. Motor diesel berputar cepat 2. Motor diesel berputar sedang 3. Motor diesel berputar lambat iii. Pelumas untuk motor mesin 2 langkah : 1. Untuk kendaraan bermotor 2. Untuk perahu motor 3. Lain lain ( gergaji mesin, mesin pemotong rumput ) iv. Pelumas khusus Jenis pelumas ini banyak ragamnya yang penggunaannya sangat spesifik untuk setiap jenis, di antaranya adalah untuk senjata api, mesin mobil balap, peredam kejut, pelumas rem, pelumas anti karat, dan lain-lain.

10

E. Klasifikasi Minyak Pelumas Berdasarkan wujudnya, minyak pelumas dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu cair (liquid) atau biasa disebut oli, dan setengah padat (semi solid) atau biasa disebut gemuk. Minyak pelumas cair (oli) dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal, yaitu: 1. Berdasarkan bahan pelumas itu dibuat a. Pelumas mineral (pelikan) yang berasal dari minyak bumi. Mineral yang terbaik digunakan untuk pelumas mesin-mesin diesel otomotif, kapal, dan industri. Minyak mineral diperoleh dengan cara distilasi (penyulingan) minyakbumi secara bertahap. Minyak mineral lebih murah dari pada minyaktumbuh-tumbuhan atau minyak hewan, akan tetapi lebih tahan lamadari kedua macam minyak tersebut. Hanya saja daya lumas dariminyak mineral tidak sebaik minyak tumbuh tumbuhan dan minyak hewan. b. Pelumas nabati, yaitu yang terbuat dari bahan lemak binatang atau tumbuh-tumbuhan. Sifat penting yang dipunyai pelumas nabati ini ialah bebas sulfur atau belerang, tetapi tidak tahan suhu tinggi, sehingga untuk mendapatkan sifat gabungan yang baik biasanya sering dicampur dengan bahan pelumas yang berasal dari bahan minyak mineral, biasa disebut juga compound oil. Minyak tumbuhtumbuhan diperoleh dengan cara memeras biji ataubuah. Pada minyak tumbuh-tumbuhan yang terpenting dalam teknikialah minyak lobak (rape oil), minyak biji katun dan biji risinus. c. Pelumas Hewani, Minyak hewan diperoleh dengan cara merebus atau memeras tulangbelulang atau lemak babi. Minyak hewan yang terpenting untukkeperluan teknik ialah minyak tulang dan minyak ikan.Minyaktersebut masing-masing diperoleh dari kaki hewan dan ikan.Minyaktumbuh-tumbuhan dan minyak hewan keduanya mempunyai dayalumas yang baik, oleh sebab itu minyak tersebut dinamakan

11

minyakberlemak.Keburukan dari minyak itu ialah cepat menjadi tengit yang berartibahwa minyak menjadi cepat rusak.Minyak tumbuh-tumbuhan danminyak hewan hampir tidak digunakan secara tersendiri sebagaiminyak pelumas.Akan tetapi karena daya lumasnya baik sekali makaditambahkan pada minyak mineral. d. Pelumas sintetik (Minyak Kompon), yaitu pelumas yang bukan berasal dari nabati ataupun mineral. Minyak pelumas ini berasal dari suatu bahan yang dihasilkan dari pengolahan tersendiri. Pada umumnya pelumas sintetik mempunyai sifat-sifat khusus, seperti daya tahan terhadap suhu tinggi yang lebih baik daripada pelumas mineral atau nabati, daya tahan terhadap asam, dll

2. Berdasarkan viscosity atau kekentalan minyak pelumas yang dinyatakan dalam nomor-nomor SAE (Society of Automotive Engineer). Angka SAE yang lebih besar menunjukkan minyak pelumas yang lebih kental. a. Oli monograde, yaitu oli yang indeks kekentalannya dinyatakan hanya satu angka. b. Oli multigrade, yaitu oli yang indeks kekentalannya dinyatakan dalam lebih dari satu angka. 3. Berdasakan penggunaan minyak pelumas (diatur oleh The American Petroleum Institutes Engine Service Classification) a. Penggunaan minyak pelumas untuk mesin bensin. b. Penggunaan minyak pelumas untuk mesin diesel. Minyak Pelumas setengah padat (semi solid) atau biasa disebut gemuk. Gemuk adalah produk padat agak cair, umumnya tersusun dari minyak dansabun disamping metode lain membuat gemuk. Kandungan minyak umumnya antara 75-95%.Gemuk lebih tahan karat, tahan oksidasi, tahanudara lembab dan sebagainya. Kita menggunakan gemuk apabilapemakaian oli mengalami

12

kesulitan karena tidak ada penutupnya. Gemuk bantalan mempunyai struktur halus atau butiran, sedangkan gemukroda gigi ulet dan berserabut.Untuk roda gigi harus mempunyai adhesiyang kuat pada logam sehingga tidak terlempar keluar dari antara gigi-gigi. Gemuk roda gigi pada kotak roda gigi yang tidak tertutup adalah agar cairsehingga gemuk dapat kembali pada posisi semula. Sesuai dengan jenis logam yang digunakan untuk pelumasan, kita membedakan gemuk sebagai berikut ini:

1. Gemuk sabun kalsium (gemuk kapur) Gemuk ini tahan air tetapi tidak tahan suhu tinggi, titik tetesnyaterletak antara 90 – 1500 C. gemuk sabun kalsium digunakan untukpelumasan umum terutama untuk bantalan luncur. 2. Gemuk sabun natrium (gemuk soda) Gemuk ini tidak tahan air akan tetapi tahan suhu tinggi, titik tetesnyaterletak antara 150 – 2300 C. gemuk sabun natrium digunakan untukpelumasan bantalan peluru dan bantalan golong. 3. Gemuk sabun aluminium Gemuk ini tahan air, akan tetapi tidak tahan suhu tinggi, titik tetesnyaterletak pada 900 C. Gemuk ini sesuai untuk penggunaan khusus yangmemerlukan perlawanan terhadap daya lempar keluar. 4. Gemuk sabun litium Gemuk ini tahan air dan tahan suhu tinggi, titik tetesnya terletak pada1800 C. gemuk sabun litium digunakan sebagai gemuk serba guna yangberarti bahwa gemuk ini dapat digunakan untuk banyak macamkeperluan.

13

5. Gemuk basa campuran Gemuk ini mengandung sabun kalsium dan sabun natrium, sifatgemuk ini tentu saja berada diantara sifat sabun kalsium dan sifatsabun natrium. Gemuk basa campuran digunakan sebagai gemuk serbaguna, akan tetapi tidak mungkin ditempat yang ada air. Suhu kerja maksimum kira-kira 400 C, lebih rendah dari pada titik tetes. F. Penggunaan pelumas Untuk memperoleh hasil yang maksimal atau memuaskan di dalam sistem pelumasan ini maka mutlak diperlukan adanya selektifitas penggunaan pelumas itu sendiri, yaitu menentukan jenis pelumas yang tepat untuk mesin dan peralatan yang akan dilumasi. Hal ini untuk mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang dapat berakibat fatal. Pelumas dapat digunakan untuk beberapa keperluan antara lain sebagai Berikut : a.Minyak lumas mesin Tersedia dalam dua kualitas yaitu bermutu rendah dan tinggi.Bermuturendah diperuntukkan untuk bagianbagian yang dapat dilumas daritempat minyak lumas.Kualitas yang lebih tinggi diperuntukan untuksystem sirkulasi (pelumasan bantalan, roda gigi transmisi beban ringan)dimana oli harus berfungsi dalam jangka waktu yang lama, bermutudan tahan oksidasi.Viskositas yang diberikan untuk bantalantergantung beberapa factor yaitu; beban, suhu, kecepatan, diameterporos dan system pelumasan.

14

b.Pelumasan transmisi roda gigi lurus dan roda gigi cacing Minyak lumas mineral murni tidak tahan lama untuk pelumas padabeban berat dan beban hentakan transmisi roda gigi dan minyak lumas.Untuk system roda gigi, beban ringan yang terbuka diperlukan minyaklumas yang adhesi dengan logam dan tidak terlempar dari roda gigi Untuk roda gigi beban berat terbuka, campuran yang mengandung aspal ulet sering digunakan pada suhu yang tinggi. c.Minyak lumas motor Minyak lumas motor bensin mengandung pembersih untuk mencegahmengendapnya kotoran padat dengan menjaganya tetap dalam kondisibersih. d. Minyak lumas silinder uap Minyak lumas silinder uap harus mempunyai titik nyala yang tinggidan tidak mengandung bahan yang mudah menguap pada uap panas.Minyak mengandung gemuk tertentu diperbolehkan beremulsi dengancairan yang bersifat pelumas yang baik, adhesi pada logam cukup baik. e. Minyak lumas hidrolik Dengan alasan keselamatan cairan hidrolik tidak mudah menyala, danmempunyai kekentalan yang rendah, apalagi untuk system hidrolikyang bekerja di dekat api

G. Bahan Aditif Bahan tambahan aditif ialah zat kimia yang ditambahkan pada minyakdengan tujuan untuk memperbaiki sifat -sifat tertentu dari minyak yangbersangkutan. Berbagai macam

15

bahan tambahan itu diberi nama menurutsifat yang diperbaikinya dalam minyak. Jenis bahan tambahan adalah sebagai berikut ; a. bahan tambahan untuk menurunkan titik beku. b. Bahan tambahan untuk meningkatkan indeks viskositas. c. Bahan tambahan pemurni dan penyebar. Aditif ini menjaga supaya bagian-bagian zat arang tetap tinggal melayang-layang dan mencegahnya melekat pada logam, dengan demikian pesawatyang bersangkutan tetap dalam kondisi bersih.Aditif antioksidan mengurangi ketuaan minyak, jadi minyak yang diberiaditif antioksidan tidak cepat mengoksida sehingga pengasaman dapatdicegah. Aditif antikorosi memberi lapisan pelindung pada bagian mesin dengan demikian dapat dicegah termakanya oleh asam yang terjadi dalam minyak.Aditif dapat mencegah dua bagian permukaan logam yang saling bersinggungan berpadu dan juga meningkatkan daya lumas minyak.Minyak yang diberi aditif peningkat nilai tekanan batas, tahan terhadap tekanan tinggi. Aditif pelumas secara efektif memberikan karakter kemampuan yang dihasilkan dengan jelas tergantung dari komposisi chemical oil additive, design, penanganan dan lingkungan dimana mesin tersebut dilumasi. Jumlah faktor aditif pada jenis pelumas diharapkan diberikan pada banyak aplikasi berdasarkan minimal koefisien gesekan, maximum film strength, physical stability pada temperatur operasi dan pressures, chemical stability melawan oxidation dan thermal decomposition, bebas dari corrosive acids dan rusting, tahan terhadap emulsion dan foaming, non-volatility, proper fluidity

16

pada temperatur paling rendah, minimum consistency dan kontrol abrasives, filler, soap dan agents. Elemen aditif yang sering digunakan dalam oli antara lain : Zinc (Zn), Calsium (Ca), Barium (Ba), Boron (B), phosporus (P), Lead (Pb), molybdenum (Mo), silicones (Si) dan Magnesium (Mg). Berikut ini fungsi aditif yang ada pada minyak pelumas : 1.Detergent Sebagai pembersih dan penetralisir zat-zat yang berbahaya, membentuk lapisan pelindung pada permukaan logal, mencegah endapan varnish, mengurangi timbulnya deposit, mengendalikan korosi. 2. Dispersants Sebagai pelindung agar jelaga (soot) tidak menggumpal, mengendalikan keausan, mengurangi timbulnya lumpur (sludge), dan mengendalikan peningkatan viskositas. 3. Alkalinity agents Sebagai penetralisir pembentukan material asam dan oli yang teroksidasi, bagian dari bahan bakar dan kandungan sulfur dalam bahan bakar yang terbakar. 4. Anti-oxidant Sebagai aditif untuk mengurangi reaksi pro-oxidants yang terjadi pada kondisi suhu tinggi. 5. Anti-wear agents Sebagai pelindung permukaan yang bergesekan dengan lapisan tipis oli. 6. Pour Point Dispersant Aditif untuk memperlambat efek merugikan bila terjadi

17

pembekuan. 7. Rust & Corrosion Inhibitor Sebagai pencegah karat atau penetralisir asam dan membentuk lapisan pelindung. 8. Anti Foam Agents Sebagai pencegah terjadinya busa yang berlebihan pada oli. 9. Viscosity Index Improver Sebagai pengendali kekentalan oli pada tingkat yang diharapkan. 10. Friction Modifiers Sebagai peningkat kemampuan daya cengkram. H. Istilah Dalam Pelumasan Istilah-istilah teknis tentang minyak pelumas sering dianggap remeh, padahal dengan mengatahui istilah-istilah yang ada pada pelumas, maka kita akan tahu persis baik tidaknya atau tepat tidaknya penggunaan suatu pelumas :

1. Viscosity Viscosity adalah kekentalan suatu minyak pelumas yang merupakan ukuran kecepatan bergerak atau daya tolak suatu pelumas untuk mengalir. Pada temperatur normal, pelumas dengan viscosity rendah akan cepat mengalir dibandingkan pelumas dengan viscosity tinggi. Biasanya untuk kondisi operasi yang ringan, pelumas dengan viscosity rendah yang diajurkan untuk digunakan, sedangkan pada kondisi operasi tinggi dianjurkan menggunakan pelumas dengan viscosity tinggi

18

2. Viscosity Index (Indeks viskositas) Merupakan kecepatan perubahan kekentalan suatu pelumas ddikarenakan adanay perubahan temperatur. Makin tinggi VI suatu pelumas, maka akan semakin kecil terjadinya perubahan kekentalan minyak pelumas meskinpun terjadi perubahan temperatur. Pelumas biasa dapat memiliki VI sekitar 100, sedang yang premium dapat mencapai 130, untuk sithetis dapat mencapai 250. 3. Flash point/titik nyala suatu pelumas Flash point/titik nyala suatu pelumas adalah menunjukkan temperatur kerja suatu pelumas dimana pada kondisi temperatur tsb akan dikeluarkan uap air yang cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara. 4. Fire point Fire point adalah menunjukkan pada titik temperatur dimana pelumas akan dan terus menyala sekurang-kurangnya selama 5 detik. 5. Pour point Pour point merupakan titik tempratur dimana suatu pelumas akan berhenti engalir dengan leluasa. 6. Cloud point Cloud point keadaan dimana pada temperatur tertentu maka lilin yang larut didalam minyak pelumas akan mulai membeku.. 7. Aniline point Aniline point merupakan pentunjuk bahwa minyak pelumas tertentu sesuai sifat-sifatnya dengan sifat-sifat karet yang digunakan sebagai seal dan slang. Hal ini ditetapkan sebagai

19

temperatur dimana volume yang sama atau seimbang dari minyak pelumas adan aniline dapat dicampur. 8. Neutralisation Number or Acidity Neutralisation Number or Acidity merupakan ukuran dari alkali yang diperlukan untuk menetralisir suatu minyak Makin tinggi angka netralissasi maka akan semakin banyak asam yang ada. Minyak yang masih baru tidak mengandung asam bebas dan acidity numbernya dapat kurang atau sama dengan 0,1. Sedangkan pelumas bekas, akan mengandung acidity number yang lebih tinggi. 9. Ash Apabila pelumas habis terbakar maka akan terbentuk abu (ash) atau abu sulfat. Hal ini berhubungan dengan pengukuran kemurnian suatu pelumas

20

BAB III TEORI DASAR OLI PELUMAS DAN FORMULA PELUMAS Formula Oli pelumas adalah suatu rumusan antara base oil dengan aditif sehingga diperoleh suatu pelumas dengan klasifikasi tertentu sesuai dengan standar yang diakui secara internasional. Untuk mendapatkan pengakuan secara internasional, satu formula pelumas dibuat melalui pr oses yang terdiri dari beberapa kegiatan yang saling terkait. Penelitian yang dilakukan untu k menemukan suatu formula baru cukup kompleks dan memakan waktu. Pada setiap tahapan kegiatan dilakukan identifikasi dari karakteristik yang diperlukan.Sehingga dari karakteristik tersebut akan diketahui unjuk kerja dari produk yang akan dihasilkan. Pada pembuatan formula pelumas baru terdiri dari 4 tahap utama yang saling berurutan yaitu : 1. 2. 3. 4. Tahap konsepsi produk yang dihasilkan ; Tahap seleksi base oil dan aditif; Tahap pengujian-pengujian; Tahap untuk mendapatkan rekomendasi atau pengakuan dari pembuat mesin.

Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas satu persatu tahapan di atas :

21

A. Konsepsi produk yang dihasilkan Konsepsi pelumas merupakan tahap awal yang akan mendas ari setiap langkah uji dari produk yang dihasilkan. Dalam tahap ini dituangkan target dan harapan apa yang akan dibeb ankan pada produk pelumas yang akan dihasilkan. Parameter yang digunakan sebagai acuan dalam membuat ko nsepsi pelumas adalah : a. Tujuan Pemakaian Pelumas tersebut harus jelas benar pemakaiannya, apakah me rupakan pelumas otomotif, pelumas industry,pelumas perkapalan ataupun pelumas penerbangan. b. Bahan Bakar Bahan bakar dari mesin turut menentukan klasifikasi dari pel umas. c. Unjuk Kerja Kemampuan kerja dari pelumas harus sesuai dengan tuntunan perkembangan mesin dengan arti harus disesuaikan dengan mesin-mesin pemakainya karena adanya kecenderungan peningkatan perobahan struktur mesin (teknologi baru). d. Umur Pelumas Umur pemakaian pelumas yang diharapkan berkaitan erat de ngan stabilitas komponen-komponen penyusunnya. e. Variabel Operasi Kondisi kerja dari peralatan akan menentukan komposisi adit if yang harus ditambahkan, misalnya kecepatan dimana persyaratan viskositasnya berbanding terbalik denga n kecepatan, beban (muatan) dan tekanan dimana persyaratan viskositas berbanding lurus dengan beban (mua tan) dan tekanan. Sifat-sifat extreme pressure mungkin diperlukan jika menghadapi beban yang be rlebihan (boundary lubrication). Selanjutnya adalah suhu dimana viskositas pelumas berbanding terbalik d

22

engan suhu. Hal ini berarti semakin tinggi operasi semakin rendah viskositas pelumas. f. Compatibility Perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya pengaruh pelu mas terhadap bahan-bahan logam dari mesin, interaksi dengan pelumas lain di dalam mesin, serta interaksi pelumas dengan cat. g. Kondisi Iklim Suhu, tekanan dan kelembaban udara di suatu daerah juga merupakan factor yang harus dipertimbangkan dalam memproduksi pelumas. h. Kemampuan Blending Plant Formula pelumas yang dihasilkan haruslah dapat diproduksi oleh blending plant yang ada. i. Nilai Ekonomis Pelumas yang akan dihasilkan secara ekonomis haruslah menguntungkan dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. B. Seleksi base oil dan aditif Setelah diperoleh konsepsi dasar dari pelumas yang akan dih asilkan, tahap selanjutnya adalah melakukan analisis dan pertimbangan yang diperlukan untuk mendapatkan komposi si pelumas yang mampu menghasilkan unjuj kerja pelumas seperti yang telah dikonsepsikan, namun ekonomis dalam biaya produksinya. Pekerjaan ini meliputi seleksi terhadap base oil dan seleksi terhadap aditif yang akan digunakan. Dalam tahap ini pihak formulator mau tidak mau harus melakukan koordinasi dengan pabrik pembuat aditif dan pabrik pengolah base oil. Sehingga dapat menentukan aditif paling cocok sekaligus paling murah dipasaran. Landasan awal yang mendasari pertimban gan untuk melakukan seleksi terhadap kedua komponen

23

penyusun tersebut adalah mengenai spesifikasi dan harga (factor ekonomi). Baru selanjutnya dilakukan pengujian terhadap setiap karakteristik sesuai persyaratan yang berlaku. Selain mempelajari produk berdasarkan spesifikasi yang diberikan oleh pabrik pembuatnya, formulat or juga harus melakukan analisi di laboratorium untuk meyakinkan sifat-sifat fisika dan kimia bahan tersebut. 1. Seleksi Base Oil Pengujian sifat fisika dan kimia dari base oil juga dilakukan. Si fat fisika dan sifat kimia base oil akan digunakan sebagai parameter pertama untuk menentukan kecocokannya sebagai bahan dasar pelumas yang dihasilkan. Baik alat maupun metode pengujiannya sudah dibakukan oleh ASTM. Perincian sifat-sifat yang diuji untuk base oil adalah sebagai berikut :  Appearance  Spesific Gravity  Viskositas kinematik  Indeks Viskositas  Warna ASTM  Stabilitas warna (48 jam pada 100 deg C)  Titik nyala  Titik tuang  Titik kabut  Kandungan abu  Kandungan asam total Karena base oil adalah komponen dasar yang memberikan sif at-sifat pelumasan, maka seleksi base oil harus diperketat agar produk yang akan dihasilkan memberikan unjuk kerja dan klasifikasi seperti yang diharapkan. 2. Seleksi Aditif Untuk memilih aditif yang tepat diperlukan analisis yang kom pleks serta cukup memakan waktu. Hal ini

24

disebabkan penambahan aditif dalam pelumas dapat menimbulkan reaksi katagonis baik dengan base oil sendiri atau dengan aditif-aditif lainnya. Pada dasarnya suatu penelitian pengembangan produk pelu mas adalah untuk memilih komposisi yang tepat antara base oil dan aditif. Seleksi aditif yang dimaksudkan di sini adalah seleksi awal dari banyaknya aditif yang ditawarkan oleh pabrik pembuat aditif. Pada tahap ini factor harga dan kontinuitas suplai dari pembuat aditif merupakan hal yang paling utama diperhatikan. Disamping itu ada beberapa sifat yang menjadi criteria untuk dipilih tidaknya suatu aditif diantaranya :  Kelarutannya dalam base oil Kelarutan dalam base oil adalah sifat yang utama yang harus dimiliki oleh aditif agar dihasilkan pelumas yang homogen  Tidak larut dalam air Aditif harus tidak larut dalam air, karena antara base oil dan air adalah dua larutan yang saling melarutkan (immiscible). Dengan tidak larutnya aditif dalam, maka apabila pelumas tercampur dengan air maka komponen-komponen pelumas masih dapat dipertahankan.  Volatilitas Kondisi operasi mesin yang akan dilumasi menuntut agar setiap komponen dalam pelumas tidak mudah menguap, baik karena panas maupun karena waktu.  Stabilitas Aditif harus tetap stabil selama penyimpanan, selama blending maupun selama pelayanan di dalam mesin.  Compatibility Aditif yang digunakan dalam satu jenis pelumas harus saling tidak bereaksi, karena hal ini akan mempengaruhi bahkan merusak unjuk kerja yang diharapkan.

25

 Warna Warna adalah indicator pertama yang dipakai pada pengujian appearance, sehingga warna aditif harus jernih dan stabil.  Fleksibilitas Aditif yang multifungsi lebih diutamakan karena akan memili ki daya aplikasio sangat luas. Saat ini, aditif jenis inilah yang terus dikembangkan oleh pabrik pembuat aditif.  Bau Aditif diharapkan tidak menimbulkan bauyang merangsang. Apabila terpaksa digunakan juga, maka bau aditif ini harus dihilangkan dengan menambahkan bahan penghilang bau tersebut. C. Pengujian-pengujian Rangkaian kegiatan dalam rangka penyusunan suatu formulasi pelumas terdiri atas berbagai tahap yang memakan waktu cukup lama serta memerlukan penelitian dan pengujian yang hati-hati. Untuk memonitor karakteristik unjuk kerja pelumas, sifat fisika dan kimia setiap komponen dalam formula serta mendapatkan klasifikasi dari formula yamng akan dihasilkan perlu dilakukan pengujian yang bersifat reproducible dan repeatable. Pengujian ini dilakukan di Bagian Litbang Pelumas bekerja sama dengan Bagian Marketing untuk meninjau aspek ekonomi dengan pabrik pembuat aditif dan pabrik pembuat base oil sebagai pensuplai bahan baku, serta pabrik pembuat mesin untuk mendapatkan rekomendasi atau pengakuan. 1. Formulasi Setelah diperoleh sebuah konsepsi produk dari pelumas yang akan disusun formulanya, pihak laboratorium kimia berkewajiban untuk menyusun formula pelumas melalui pemilihan awal komposisi base oil dan aditif berdasarkan spesifikasi yang diberikan oleh pabrik pembuat kedua

26

bahan baku tersebut. Alternative komposisi inilah yang akan diuji pada tahap-tahap berikutnya guna mengetahui unjuk kerja yang dihasilkan. Sifat-sifat fisika dan kimia itu perlu diuji agar kualitas dan homogenitas pelumas yang dihasilkan dapat dikendalikan. Sifat-sifat yang diuji di laboratorium meliputi : a. Appearance Appearance adalah sifat kenampakan pelumas. Sifat ini diuji secara visual dengan mata telanjang dimana pelumas yang terkontaminasi akan menunjukkan kenampakan yang berbeda dengan pelumas murni. Uji ini dilakukan dengan menggunakan gelas ukur biasa yang jernih, dimana hasilnya dinyatakan dengan klasifikasi jernih (clear), bening (bright), keruh (hazy), emulsi gelap (dark), tampak bebas air, serta terdapat suspended matter, sediment, ataupun lumpur. b. Specific Gravity (SG) SG pelumas digunakan untuk mengetahui kemurnian pelumas, karena hasil pengujian ini akan lebih konkrit bila dibandingkan dengan uji kenampakan. Uji SG untuk pelumas dilakukan dengan metode ASTM D-941 menggunakan alat hydrometer. c. Viskositas Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, viskositas pelumas merupakan factor penting yang akan mempengaruhi fungsi-fungsi pelumas yang diembannya. Viskositas dari pelumas yang biasa dipakai adalah viskositas kinetic, diuji dengan metode ASTM D 445. d. Viskosity Indeks (VI) Viscosity Indeks adalah bilangan empiris yang digunakan sebagai karakteristik viskositas kinematik pelumas, yang bervariasi karena perubahan suhu. Harha VI suatu produk pelumas ditentukan melalui

27

e.

f.

g.

h.

i.

pengukuran harga viskosita kinematik dalam dua suhu yang jauh berbeda. Suhu yang diambil sesuai standar yang telah dibakukan yaitu 40 deg Cdan 100 deg C. Harga Viskositas indek dapat dihitung dengan menggunakan rumus dan tabel ASTM D 2270. Warna Uji warna untuk pelumas juga akan menunjukkan kemurniannya. Selain sebagai daya tarik produk, warna juga dapat dipakai sebagai dasar untuk mengetahui pada tingkat awal adanya deteriorasi ataupun kontaminasi. Metode uji warna yang dilakukan adalah ASTM D 1500-87 Total Base Number (TBN) Aditif jenis detergent dan anti korosif memiliki sifat basa. Sifat basa ini dinyatakan sebagai TBN . Ada 2 metode dalam menentukan TBN yaitu ASTM D 2896 dan ASTM D 4739. Titik Tuang Titik tuang adalah suhu terendah dimana pelumas masih dapat mengalir. Sifat ini penting untuk kemudahan penyalaan mesin pada suhu rendah terutama musim dingin di wilayah belahan dunia yang memiliki 4 musim. Karakteristik ini diuji dengan menggunakan metode ASTM D 97. Titik Nyala Titik nyala adalah suhu terendah pada saat api dapat menyebabkan terbakarnya uap pelumas. Nilai ini diperlukan untuk penanganan produk pelumas selama pengiriman dan penimbunan. Karakteristik ini diuji dengan menggunakan metode ASTMD 92 (Cleveland Open Cup) dan ASTM D 93 (Pensky Martens Close Cup). Foaming Characteristic Kecenderungan pelumas untuk membentuk foam pada pemakaiannya di dalam mesin akan mengakibatkan

28

masalah karena hilangnya sifat-sifat pelumasan. Masalah ini sangat serius terutama pada high speed gearing, high volume pumping, spash lubricant dan lain-lain. Dengan demikian karakteristik pembentukan foam pada pelumas perlu dikendalikan. j. Uji Korosifitas Terhadap Tembaga Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pelumas mengandung komponen yang korosif terhadap logam Cu. Sifat korosif ini diuji menggunakan metode ASTM D 130 yang hasilnya diklasifikasikan dalam 4 kelas yaitu agak buram (slight tarnish), buram (moderate tarnish), buram gelap (dark tarnish), dan korosi. k. Kandungan Air Air di dalam pelumas tidak dikehendaki, karena selain akan menurunkan viskositas juga bersifat korosif terhadap logam. Untuk mengukur besarnya kandungan air dalam pelumas digunakan metode ASTM D 95 dan nilainya dinyatakan dalam % volume. l. Angka Pengendapan Angka pengendapan (precipitation number) dinyatakan sebagai ml endapan yang terbentuk dari 10 ml pelumas yang dicampur dengan 90 ml naphta. Angka ini diperlukan untuk mengetahui jumlah komponen yang tidak larut dalam solvent naphta. Pengujian ini dilakukan dengan metode ASTM D 91-61, dan hasilnya akan menunjukkan adanya resin, abu, dan debu di dalam pelumas. m. Tes Oksidasi Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan pelumas untuk teroksidasi di bawah kondisi tertentu. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan harga viskositas dan TBN di saat sebelum dan sesudah pengujian.

29

n. Conradson Carbon Residue (CCR) Pengujian terhadap CCR akan menunjukkan indikasi terbentuknya deposit carbon di dalam ruang pembakaran. Bila sebagian kecil dari pelumas terbakar di ruang pembakaran, maka deposit karbon yang terbentuk akan meninggalkan kerak yang tetap membara bahkan pada saat mesin telah dimatikan. Kerak yang membara ini selanjutnya akan mempercepat keausan logam di ruang bakar baik karena panas maupun karena gesekan. CCR ditentukan dengan menggunakan metode ASTM D 189 dan harganya dinyatakan dalam % berat. o. Kandungan Abu Kandungan abu dalam pelumas berasal dari logam yang memang terdapat dalam pelumas. Abu tersebut sebagian besar akan keluar dari ruang pembakaran sebagai asap bersama-sama dengan abu hasil pembakaran bahan bakar. Keberadaan abu dalam pelumas tidak disenangi karena akan mempercepat proses pengikisan, dan bila terlalu banyak akan membentuk deposit di ruang bakar. Penentuan kandungan abu dilakukan dengan 2 metode yaitu metode ASTM D 482 (abu langsung) dan metode ASTM D 874-84 (abu yang disulfatkan) dan hasilnya dinyatakan dalam % berat. Selain kelimabelas macam pengujian standar yang yang telah disebutkan diatas, laboratorium kimia juga diperlukanuntuk melakukan analisis elementer (logamlogam dalam pelumas), analisi struktur molekul, dan analisis kemurnian aditif. Bahkan juga untuk analisisanalisis terhadap interaksi kimiawi antara aditif dengan base oil ataupun antar aditif di dalam pelumas. Pada dasarnya formulasi harus mempertimbangkan interaksi dan kompetisi antar aditif serta unjuk kerja dan kelarutan tiap-tiap aditif. Akibat-akibat sampingan

30

yang tidak diharapkan harus ditanggulangi agar dicapai unjuk kerja pelumas yang optimal. 2. Uji Bangku Setelah melewati tahap pengujian di laboratorium dan diperoleh komposisi yang paling memungkinkandari berbagai alternative yang ada, sampel formula pelumas harus menjalani serangkaian uji karakteristik untuk mengamati unjuk kerjanya pada mesin. Namun karena uji pada mesin standar membutuhkan peralatan yang kompleks dan biaya yang cukup mahal, maka diupayakan semacam uji simulasi untuk menyaring sebelum kandidat pelumas menjalani uji yang sebenarnya pada mesin standar. Uji simulasi ini dikenal dengan sebutan Uji Bangku (Bench Test) yang dikembangkan pertama kali di Eropa. Uji bangku membutuhkan waktu yang lebih cepat, tempat yang sempit, dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan uji mesin standar. Disebut uji bangku, karena alat pengujian ini umumnya berukuran kecil sehingga dapat diletakkan pada meja seperti bangku. Sebenarnya uji sifat fisika kimia pelumas di laboratorium kimia juga dapat dikatakan sebagai uji bangku. Saat ini pengembangan metode dan jenis-jenis uji bangku merupakan prioritas utama perhatian para formulator pelumas agar diperoleh hasil pengujian yang semakin mendekati hasil uji pada mesin standar. Setelah menjalani uji bangku, sampel pelumas dikembalikan lagi ke laboratorium untuk dimonitor sifat fisika dan kimia dari komponen-komponen penyusunnya. Jadi, sebenarnya tahap Uji Bangku ini tidak berdiri sendiri karena merupakan satu rangkaian pengujian dengan Uji Laboratorium. Masalah yang timbul pada salah satu pengujian akan dapat terbantu pemecahannya berdasarkan pengujian yang lain. Apabila kedua uji ini

31

menunjukkan hasil tidak seperti yang diharapkan, maka kandidat pelumas harus kembali ke tahap formulasi lagi. 3. Uji Mesin Standar Internasional Apabila kandidat pelumas telah lolos saringan pada uji bangku, maka masih harus melewati pengujian yang sebenarnya yaitu pada mesin uji standar yang telah dibakukan baik jenis mesin ataupun metodenya untuk tiap-tiap klasifikasi pelumas. Karena setiap aspek hasil pelumasan pada mesin harus diamati dengan cermat, maka untuk keperluan pengujian ini setiap komponen dari mesin uji standar harus baru dan sesuai dengan spesifikasi. Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa biaya pengujian dengan menggunakan mesin standar ini menjadi sangat mahal. Disamping itu waktu pengujian juga relative lama, sehingga pengujian ini betulbetul baru dilaksanakan apabila formulator sudah yakin dengan karakteristik unjuk kerja pelumas yang diperoleh pada tahap uji bangku. Telah diketahui bahwa klasifikasi untuk minyak pelumas sangat banyak, tergantung pada bidang penggunaannya. Sebagai contoh untuk pelumas otomotif paling tidak ada lima badan yang memberikan klasifikasi yaitu :  API = American Petroleum Institute  SAE = Society of Automotive Engineer  MVMA = Motor Vehicle Manufacturing Association  JAMA = Japan Automotive Manufacturing Association  MIL = US Military Specification Dengan beragamnya klasifikasi tersebut, maka mesin uji standar juga menjadi sangat beragam. 4. Uji Lapangan Apabila kandidat pelumas telah lolos dalam pengujian menggunakan mesin uji standar, maka pengujian terakhir yang masih harus dilakukan oleh formulator pelumas adalah Uji Lapangan. Pada tahap ini sebenarnya pelumas formula baru sudah layak untuk

32

diproduksi, namun uji lapangan ini perlu dilakukan karena dapat menjadi sarana pengenalan produk baru tersebut kepada calon konsumen ataupun pembuat mesin. Pada tahap ini dipilih secara acak mesin-mesin yang akan diuji, tanpa memperhatikan apakah mesin tersebut baru ataukan lama. Semakin banyak variasi merk mesin yang digunakan, semakin aktuallah hasil yang akan diperoleh. Mesin-mesin yang dipakai untuk menguji pelumas itu dioperasikan secara bervariasi, ada yang dioperasikan secara normal dan ada yang dioperasikan dalam kondisi ekstrim. Factor-faktor yang merupakan variable dalam pengujian ini adalah kecepatan, muatan (beban) dean tekanan, suhu, kondisi (umur) mesin serta keadaan alam lingkungan yaitu suhu, udara, api, radiasi zat radioaktif dan kontaminasi. Pada tahap ini analisis statistic akan banyak berbicara dan mendukung pengolahan data-data yang akan diperoleh. 5. Rekomendasi atau pengakuan dari pembuat mesin Apabila uji lapangan telah berhasil, dan pengakuan klasifikasi dari badan yang berwenang telah didapatkan, maka produsen pelumas bisa berupaya mendapatkan rekomendasi atau pengakuan dari pabrik pembuat mesin. Tahap ini sudah bukan merupakan rangkaian kegiatan dari formulator pelumas, karena lebih banyak dikerjakan oleh bagian pemasaran. Rekomendasi atau pengakuan ini bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran dari produk tersebut. Untuk mendapatkan rekomendasi atau pengakuan, jelas diperlukan suatu hubungan kerja sama yang erat dan salingbahu membahu antara pabrik pembuat mesin dengan pabrik pembuat pelumas. Kedua belah pihak saling bekerja sama dan berupaya agar kemajuan teknologi di bidang permesinan selalu dapat seiring dengan kemajuan teknologi di bidang pelumasan. Dengan demikian unjuk kerja mesin-mesin dapat maksimal seperti yang diharapkan, dan tuntutan konsumen dapat diutamakan.

33

34

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Viskositas adalah ukuran tahanan mengalir suatu minyak merupakan sifat yang penting dari minyak pelumas. 2. Minyak pelumas yang digunakan dibedakan menjadi beberapa jenis,yaitu minyak tumbuh-tumbuhan, minyak hewan, minyak mineral, danminyak kompon. 3. Pengujian untuk menentukan viskositas minyak pelumas adalah pengujian Saybolt, Redwood, Engler, dan Viscosity Kinematic. 4. Gesekan kering terjadi bila tidak terdapat bahan pelumas pada permukaan logam atau metal. 5. Besarnya koefisien gesek ditentukan oleh tebalnya lapisan bahan pelumas dan oleh viskositas. 6. Bahan tambahan aditif adalah zat kimia yang ditambahkan pada minyak pelumas dengan tujuan untuk memperbaiki sifat-sifat tertentu dari minyak yang bersangkutan. 7. Gemuk adalah produk padat agak cair, dengan kandungan minyak umumnya antara 75-95%. 8. Gemuk lebih tahan karat, tahan oksidasi, tahan udara lembab dan sebagainya.

35

9. Bahan pelumas berasal dari minyak bumi yang merupakan campuran beberapa organic, terutama hidrokarbon. 10. Fungsi pelumas adalah mencegah logam bergesekan, menghindarikeausan, mengurangi hilangnya tenaga, dan mengurangi timbulnyapanas. B. Saran Janganlah merusak lingkungan dengan membuang oli bekas sembarangan, lakukanlah pembuangan pada tempatnya yang diarahkan ke pengelolahan limbah, karena oli pelumasan bekas dapat di daur ulang kembali. Teknologi refining oli bekas merupakan salah satu cara untuk meminimalisasi buangan oli bekas. Lakukanlah perawatan pada mesin yang membutuhkan pelumas yang sesuai pada jenis jenis tipe pelumas secara teratur.

36

DAFTAR PUSTAKA

PT. Hexindo Consult, 2000, “Prospek Industri dan Pemasaran Pelumas di Indonesia”, Jakarta. http://id.wikipedia.org/wiki/Pelumas www.ccitonline.com By: Siti Yubaidah on: Sun 20 of April, 2008 12:22 WIT (3188 Reads) http://www.scribd.com/doc/8646979/Bahan-Pelumas

37

PELUMASAN DAN SISTEM PELUMASAN
D I S U S U N OLEH

NAMA ALL BEST. O.S DEDY BOY. S HENDRA. S MASDIAN. S LEVI . A RAHMAN. S RONI. S WILSEN. S

NIM 1005012120 1005012128 1005012144 1005012173 1005012168 1005012185 1005012187 1005012203

KELAS ME - 5H ME - 5H ME - 5H ME - 5H ME - 5H ME - 5H ME - 5H ME - 5H

Dosen Mata Kuliah : Bpk. Sumartono

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK MESINJURUSAN TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI MEDAN 2012 / 2013

38