laporan pendahuluan TB Paru

A. KONSEP DASAR 1. Definisi a. Tuberkolusis Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, th 1995. hal 73) b. Batuk Darah(Hemoptisis) Batuk darah (hemoptisis)adalah darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas , sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi . (Hood Alsagaff, 1995, hal 301) 2. Faktor- factor yang mempengaruhi timbulnya masalah . a. anatomi dan fisiologi System pernafasan terdiri dari hidung , faring , laring ,trakea , bronkus , sampai dengan alveoli dan paru-paru

H. faring terdapat dibawah dasar tengkorak .syafuddin.H. B . trakea dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus . debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung . Ac . th 1997 . dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher . panjang 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa . dan dibagian bawah sekali dinamakan laringofaring . Didalam terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara . bagian tengah dengan istimus fausium disebut orofaring .Hidung merupakan saluran pernafasan yang pertama . hidung dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa (Drs. B. mempunyai dua lubang/cavum nasi. Syaifuddin. faring dibagi atas tiga bagian yaitu sebelah atas yang sejajar dengan koana yaitu nasofaring .(Drs . hal 87 ) Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan .Ac 1997 hal 88) Trakea merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin).

Paru.besar daya muat udara oleh paru-paru ialah 4500 ml sampai 5000 ml udara. PIERCE .H . Paru-paru mendapatkan darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibandingkan dengan darah arteri pulmonalis yang berasal dari atrium kiri. 1995 hal 221 ) Pernafasan ( respirasi ) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh ( inspirasi) serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh ( ekspirasi ) yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru .B. bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung – ujung nya terdapat gelembung paru atau gelembung alveoli (H. B.proses pernafasan tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu: 1. sedangkan kapasitas paru-paru adalah volume udara yang dapat di capai masuk dan keluar paru-paru yang dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung sebanyak kuranglebih 5 liter.th 1997 hal 90 .Syaifuddin B Ac th1997. H.paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus . Syaifuddin . Syaifuddin . hal 8889) Bronkus merupakan lanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri .yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri (Drs . hal 89-90). Hanya sebagian kecil udara ini. . (Drs. Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap ke tengah rongga dada / kavum mediastinum.paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung – gelembung .C.Ac . kira-kira 1/10 nya atau 500 ml adalah udara pasang surut . EVELYN. Ventilasi pulmoner. Ac th 1997.

hal 124. maka udara terdorong keluar.H. Transportasi Gas Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah ( aliran darah ). H. koefisien difusi O2 dan CO2 serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2. akibatnya diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi.(Ni Luh Gede Y. luas permukaan membran. (Ni Luh Gede.Y.Y. Skp th1995 hal 125 Hood Alsegaff th 1995 hal 40).A.Hood . Dalam Difusi gas ini pernfasan yang berperan penting yaitu alveoli dan darah. Drs.hal 91) 2. hal 36-37) 3.SKp.1997 hal 93 . Difusi Gas. b. Masuknya O2 kedalam sel darah yang bergabung dengan hemoglobin yang kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisa 3 % yang ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel .Ventilasi merupakan proses inspirasi dan ekspirasi yang merupakan proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar.1997.1995. A. SKP. Difusi Gas adalah bergeraknya gas CO2 dan CO3 atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi kearah yang bertekanann rendah. (NI LUH GEDE. Th 1995 hal 124.A. komposisi membran. Drs.B. Difusi gas melalui membran pernafasan yang dipengaruhi oleh factor ketebalan membran.Syaifuddin. Patofisiologi .Ac. Syaifuddin. Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali. B.Ac.Alsegaff th 1995 .

saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. ini terjadi dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah. ( dr. maka hal ini bisa membangkitkan reaksi peradangan.( Sylvia. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya .1995. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain.Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan .Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut.N. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara ( airbone ) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya . Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana.hal 754 ) Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar.hal 1-2 ) Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini di gantikan oleh makrofag.Price.1996. sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh .A. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus. Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.Hendrawan.

Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu 600-1000cc/24 jam.Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas.754) Batuk darah (hemaptoe) adalah batuk darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas sehingga timbul sufokal yang sering fatal.A Price:1995.85-86).Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring .(Hood Al sagaff dkk:1995. Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon.(Sylvia. . Dampak Masalah Pada keadaan tubericulosis paru muncul bermacam – macam masalah baik bagi penderita maupun keluarga.telinga tengah atau usus.754) Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas.Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin.limfosit.Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan. dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Bahan perkijauan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung.proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari.A Price:1995.(Syilvia. 3. Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan perbatasan bronkus rongga.

karena adanya proses infeksi (Marilyn. E. E. perabaan. 1). 2000) Pola penanggulangan stress Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatan stress pada diri penderita. Doenges. Doenges.a. 1). hal 23) Pola eliminasi Pada penderita TB paru jarang dan hampir tidak ada yang mengeluh dalam hal kebiasaan miksi maupun defeksi Pola senson dan kognitif Daya panca indera (perciuman. (Marilyn. sehingga banyak penderita yang tidak menjutkan lagi pengobatan. (dr. 2000) Pola tidur dan istirahat Dengan adanya nyeri dada dan baluk darah pada penderita TB paru akan mengakibatkan tergantung kenyamanan tidur dan istirahat (Marilyn. . hal 14 – 15) Pola nutrisi dan metabolisme Pada penderita tuberculosis paru mengeluh adanya anoreksia. 1). nafsu makan menurun. 1). Doenges. atau gas buangan (dr. Terhadap penderita 1). Doenges. rasa. E. Doenges. E. 1). 1). 1996. debu. berat badan menurun. 1999) Pola aktivitas Pada penderita TB paru akan mengalami penurunan aktivitas dan latihan dikarenakan akibat dari dada dan sesak napas (Marilyn. (Marilyn. E. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lengkungan yang udaranya sudah tercemar asap. Hendrawan Nodesul. Hendrawan Nodesu 1996. 1). penglihatan dan pendengaran) tidak ditemukan adanya gangguan 1). 1999) Pola persepsi dan konsep diri Ketakutan dan kecemasan akan muncul pada penderita TB paru dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang pernyakitnya yang akhirnya membuat kondisi penderita menjadi perasaan tak berbedanya dan tak ada harapan. badan kurus. 1999) Pola hubungan dan peran Penderita dengan TB paru akan mengalami gangguan dalam hal hubungan dan peran yang dikarenakan adanya isolasi untuk menghindari penularan terhadap anggota keluarga yang lain.

perencanaan. Hal 1) a. Riwayat psikososial Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan sanitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru yang lain (dr. Pengkajian Pengkajian adalah komponen kunci dan pondasi proses keperawatan. (dr. (H. pengkajian terbagi dalam tiga tahap yaitu. . 3). B. (H. kurang cahaya matahari. Lismidar. Pola reproduksi dan seksual Pada penderita TB paru pola reproduksi tidak ada gangguan tetapi pola seksual mengalami gangguan karena sesak nyeri dada dan batuk. Pengumpulan data Dalam pengumpulan data ada urutan – urutan kegiatan yang dilakukan yaitu : Identitas klien Nama. pekerjaan. kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah yang sumpek. Dengan adanya sesak napas. kuman TBC menyerang semua umur. Lismidar. keringat malam. ketidaktahuan tentang masalah yang dihadapi. Doenges.1). b. pengumpulan data. 5). pendidikan dan status ekonomi menengah kebawah dan satitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita TB patu yang lain. 1990. 2). umur. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesak – desakan. Asuhan Keperawatan Dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 4 tahap yaitu : Pengkajian. jenis kelamin. nyeri dada. Riwayat penyakit keluarga Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang menderita penyakit tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya. Pola fungsi kesehatan a). E. Dampak Masalah Keluarga Pada keluarga yang salah satunya menderita tuberkulosis paru menimbulkan dampak kecemasan akan keberhasilan pengobatan. Hal 1) Riwayat penyakit sekarang Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit yang di rasakan saat ini. Hendrawan Nodesul. 1996. Riwayat penyakit dahulu Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang mungkin sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA efusi pleura serta tuberkulosis paru yang kembali aktif. nafsu makan menurun dan suhu badan meningkat mendorong penderita untuk mencari pengonbatan. biaya yang cukup mahal serta kemungkinan timbulnya penularan terhadap anggota keluarga yang lain. (dr. 1990. Pola eliminasi 1). nafsu makan menurun. 1996) b). (Marilyn. Hendrawan Nodesul. 6). Hendrawan Nodesul. 1996). pelaksanaan dan evaluasi. 1999) c). IX) 1. batuk. 4). Pola nutrisi dan metabolik Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia. analisa data dan diagnosa keperawatan. tempat tinggal (alamat).

Hal 718) e). Pola aktivitas dan latihan Dengan adanya batuk. hal 213) Palpasi : Fremitus suara meningkat. Sistem pengindraan Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan d). 1999) e). Pola penanggulangan stress Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap pengobatan. nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya aktifitas ibadah klien. sesak napas dan nyeri dada akan menganggu aktivitas. E. anoreksia. (Marilyn. th 1982. berat badan turun. Doenges. pergerakan napas yang tertinggal. 1999) g). j). h). 1999) f). E. Pola hubungan dan peran Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena penyakit menular. DR. Soeparman. Doenges. 1995. (Purnawan. Pola sensori dan kognitif Daya panca indera (penciuman. Dr. suara napas melemah. Hendrawan Nodesul. Sistem kordiovaskuler Adanya takipnea. Pemeriksaan fisik Berdasarkan sistem – sistem tubuh a). dan pendengaran) tidak ada gangguan.Dr.Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi maupun defekasi d). E. rasa. Hal 23) k). Pola tidur dan istirahat Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB paru mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat. Soeparman. (DR. Sistem gastrointestinal Adanya nafsu makan menurun. Hal 718) Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah. takikardia. (Purnawan Junadi DKK. perabaan. (Marilyn. Hal 718) . bunyi P2 syang mengeras. Sistem pernapasan Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru. Soeparman. 1999) i). dkk. kasar dan yang nyaring. Hal 718) c). 1982. sianosis. DR. (Marilyn. 1998. (Hood Alsogaff. tugor kulit menurun b). 1998. penglihatan. 1998. (DR.Dr. 7). dingin dan lembab. Hal 80) Perkusi : Suara ketok redup. Pola persepsi dan konsep diri Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi dan rasa kawatir klien tentang penyakitnya. E. (Marilyn. J. 1996. Pola reproduksi dan seksual Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah karena kelemahan dan nyeri dada. Doenges. Pola tata nilai dan kepercayaan Karena sesak napas. Dr. (Soeparman. Sistem integumen Pada kulit terjadi sianosis. diafragma. (dr. 1998. Doegoes.

Sputum Ditemukan adanya Basil tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru yang biasanya diambil pada pagi hari. Analisa data Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk menentukan masalah klien. gangguan tidur.f). Darah Adanya kurang darah. 1998. 1995. Hal 91) (2). Long. Soeparman dkk. 1998. long. Hal 447. Tes menggunakan dua jenis bahan yang diberikan yaitu : Old tuberkulosis (OT) dan Purifled Protein Derivative (PPD) yang diberikan dengan sebuah jarum pendek (1/2 inci) no 24 – 26. lemas. dengan cara mecubit daerah lengan atas dalam 0. Sistem genetalia Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia 8). potensial. Pemeriksaan penunjang a). C. T. penularan. 1998). Masalah klien yang timbul yaitu. Hal 719. Test Tuberkulosis Test tuberkulosis memberikan bukti apakah orang yang dites telah mengalami infeksi atau belum. Barbara. Diagnosa keperawatn Tahap akhir dari perkajian adalah merumuskan Diagnosa keperawatan. sesak napas. th 1996) (3). Pemeriksaan Radiologi Tuberkulosis paru mempunyai gambaran patologis. Sistem muskuloskeletal Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan. hal 721. A. dr. gangguan harga diri.0001 mg/dosis atau 5 tuberkulosis unit (5 TU). Sistem neurologis Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS : 456 h). 1996. long. Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang jelas tentang masalah kesehatan klien yang dapat diatas dengan tindakan keperawatan (H. aktivitas. Lismidar. Reaksi dianggap bermakna jika diameter 10 mm atau lebih reaksi antara 5 – 9 mm dianggap meragukan dan harus di ulang lagi. Soeparman. (Hood Al Sagaff. manifestasi dini berupa suatu koplek kelenjar getah bening parenkim dan lesi resi TB biasanya terdapat di apeks dan segmen posterior lobus atas paru – paru atau pada segmen superior lobus bawah. Soeparman. c. Pemeriksaan laboratorium (1). (Dr. kurang tidur dan keadaan sehari – hari yang kurang meyenangkan. (DR. ada sel – sel darah putting yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif. (Head Al Sagaff. hal 755. hal 446) b. (DR. Hasil akan diketahui selama 48 – 72 jam tuberkulosis disuntikkan. Hal 87) g). 12) Dari analisa data diatas yang ada dapat dirumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan tuberkulosis paru komplikasi haemaptoe sebagai berikut : . 1995. nyeri dada. price. Dr.1 yang mempunyai kekuatan dosis 0. Dr. nafsu makan menurun. Hal 719) b). Barbara. 1995. 1990. Sylvia. batuk.

Tujuan : pola nafas efektif 2. Doenges. Auskultasi bunyi napas setiap 4 jam d). Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang sehubungan dengan keletihan.klien mempertahankan pola pernafasan yang efektif . Potensial terjadinya kerusakan pertukaran gas sehubungan dengan penurunan permukaan efektif proses dan kerusakan membran alveolar – kapiler. bau.1). Carpenito. Doenges. e). Doenges. batuk dan napas dalam setiap 2 jam sampai 4 jam. Mengetahui sendiri mungkin perubahan pada bunyi napas d). Dalam tahap perencanaan ini meliputi 3 menentukan prioritas Diagnosa keperawatan. Kriteria hasil : . (Marilyn. c). Mengetahui penurunan bunyi napas karena adanya sekret b). Doenges. 1. f). Batuk dan napas dalam yang tetap dapat mendorong sekret laluar f). J. Mencegah kekeringan mukosa membran. menentukan tujuan merencanakan tindakan keperawatan. E. Diagnosa keperawatan kedua : perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang sehubungan dengan anoreksia. Rencana tindakan a). anorerksia atau dispnea. Baringan klien untuk mengoptimalkan pernapasan : posisi semi fowler tinggi. Rasional a). Kurang pengetahuan yang sehubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan dirumah. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubugan dengan sekret kental. keletihan atau dispnea. Doenges. Perencaaan Setelah mengumpulkan data. mengurangi kekentalan sekret dan memperbesar ukuran lumen trakeobroncial b. Mengetahui perubahan yang terjadi untuk memudahkan pengobatan selanjutnya. Potensial terhadap transmisi infeksi yang sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko potongan. Ganggguan pemenuhan kebutuhan tidur sehubungan daerah sesak napas dan nyeri dada. Diagnosa keperawatan pertama : ketidakefektifan pola pernapasan yang sehubungan dengan sekresi mukopurulen dan kurangnya upaya batuk. 1999) 4). penggunaan otot aksesori pernapasan : catat setiap peruhan b). 1998) 2. 5). Ketidakefektifan pola pernapasan sehubungan dengan sekresi mukopurulen dan kurangnya upaya batuk (Marilyn E. (Marilyn. 1999) 6). kelemahan dan upaya untuk batuk. Kaji kualitas dan kedalaman pernapasan. knsistensi c). Kaji kualitas spotum : warna. Bantu dan ajakan klien berbalik posisi. 1999) 3). maka tahap selanjutnya adalah menyusun perencaan. E. (Marilyn. E. Membantu mengembangkan secara maksimal e). Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat . Dan Diagnosa keperawatan diatas dapat disusun rencana keperawatan sebagai berikut : a. 1999) 7).obatan 4. (Marilyn. . mengelompokan dan menentukan Diagnosa keperawatan.frekwensi irama dan kedalaman pernafasan normal (RR 16 – 20 kali/menit) dipsnea berkurang 3. E. 1999) 2). (lynda.

com/ . Diagnosa keperawatan ketiga : potensial terhadap tranmisi infeksi yang sehubungan dengan kurangnya pengtahuan tentang resiko patogen. c. c). sahabat. Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet. turgor kulit. 3). Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetukan komposisi diet. f). Pastikan pola diet biasa klien yang disukai atau tidak c). contoh masker atau isolasi pernafasan. Orang yang terpajan ini perlu program terapi obat intuk mencegah penyebaran infeksi Diposkan oleh liesty_deje di 04:23 http://lptbparu. Kriteria hasil : klien mengalami penurunan potensi menularkan penyakit yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien. 2). e). Kriteria hasil . Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputun atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah. Tujuan : terjadi peningkatan nafsu makan. b). b). Kolaborasi dan melaporkan ke tim dokter dan Depertemen Kesehatan lokal. c). Rencana tindakan a). Kaji tindakan. 4). Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan e). Berguna dalam mendefenisikan derajat / wasnya masalah dan pilihan indervensi yang tepat.blogspot. f). d). e). Mencatat status nutrisi klien. Tujuan : klien mengalami penurunan potensi untuk menularkan penyakit seperti yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien untuk mengubah tes kulit positif. Anjurkan klien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan hindari meludah serta tehnik mencuci tangan yang tepat. b). Rencana tindakan. 4). berat badan. Mengkaji masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik d). Rasional a). riwayat mual / muntah atau diare. Identifikasi orang lain yang berisiko. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Contah anggota rumah. berat badan yang stabil dan bebas tanda malnutrisi 2). Rasional a).Klien dapat mempertahankan status malnutrisi yang adekuat .1). Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu / legaster. f). 1).Berat badan stabil dalam batas yang normal 3). Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengatifan berulang tuberkulasis. Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masakan diet. Membantu dalam mengidentifukasi kebutuhan / kekuatan khusus. Kontrol infeksi sementara. integritas mukosa oral. Berguna dalam mengukur keepektifan nutrisi dan dukungan cairan d). Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat. a).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful