You are on page 1of 32

1

TASAWUF: ASAL-USUL DAN MAQAMAT

Oleh: Isa Ansori

A. PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk Allah yang sempurna yang diciptakan untuk

menjadi khalifah Allah di muka bumi dengan tujuan semata beribadah kepada-

Nya. Allah berfirman:

)4(ٍ‫ن تَ ْقوِيم‬
ِ َ‫لْنْسَانَ فِي أَحْس‬
ِ ‫خلَ ْقنَا ا‬
َ ْ‫لَقَد‬

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya”. (At-Tin: 4)

ُ‫جعَلُ فِيهَا مَ نْ يُفْ سِد‬
ْ َ‫خلِيفَةً قَالُوا َأت‬
َ ِ‫لْرْ ض‬
َ ‫ل ِئكَ ِة ِإنّي جَاعِلٌ فِي ا‬
َ َ‫ل َربّ كَ ِل ْلم‬
َ ‫َوإِذْ قَا‬

(َ‫ل َت ْعَلمُون‬
َ ‫علَمُ مَا‬
ْ َ‫ل ِإنّي أ‬
َ ‫ك َونُقَدّسُ لَكَ قَا‬
َ ِ‫حمْد‬
َ ِ‫ح ب‬
ُ ّ‫سب‬
َ ُ‫ن ن‬
ُ ْ‫ك ال ّدمَاءَ َونَح‬
ُ ‫فِيهَا َويَسْ ِف‬

)30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah: 30)

)56(ِ‫ل ِل َي ْعبُدُون‬
ّ ِ‫لْ ْنسَ إ‬
ِ ‫ن وَا‬
ّ ِ‫ت الْج‬
ُ ‫خلَ ْق‬
َ ‫وَمَا‬

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Ad-Dzariat: 56)
‫‪2‬‬

‫‪Selanjutnya Rasulullah memberi tuntunan bagaimana‬‬

‫‪proses ibadah itu hendaknya diwujudkan:‬‬

‫عن أبي ُه َر ْي َرةَ قال كان النبيّ صلى ال عليه وسلم بارزًا يومًا للنا سِ فأَتاه‬

‫رجلٌ فقال‪ :‬ما اليمان قال‪ :‬اليمان أن تؤم نَ بال وملئكتِ هِ وبلقائِ هِ وبرسلِهِ‬

‫وتؤمَن بالبعثِ قال‪ :‬ما السلمُ قال‪ :‬السلمُ أن تعبدَ الَ ول تشركَ به وتقيمَ‬

‫ال صلةَ وتؤدّ يَ الزكاةَ المفروضةَ وت صومَ رمضا نَ قال‪ :‬ما الح سان قال‪:‬‬

‫أن تعبدَ ال كأ نك ترا هُ‪ ،‬فإِن لم ت كن تراه فإِ نه يراك قال‪ :‬م تى ال ساعةُ قال‪:‬‬

‫علَم مِ نَ ال سائل‪ ،‬و سأُخب ُركَ عن أشراطِ ها؛ إِذا َولَدَ تِ‬
‫ما الم سئولُ عن ها بأَ ْ‬

‫لمَةُ َربّهَا‪َ ،‬وإِذا تطاولَ رُعاةُ البِلِ ال َبهْ مُ في البنيان‪ ،‬في خم سٍ ل يعلمهنّ‬
‫اَ‬

‫إِلّ ال ثم تل النبيّ صلى ال عليه وسلم (إِنّ ال عنده علم الساعة ) الية‪:‬‬

‫ثم أدبر فقال‪ :‬رُدّوه فلم َي َروْا شيئا فقال‪ :‬هذا جبر يل جاءَ ُي َعلّ مُ النا سَ دينَ هم‬

‫(متفق عليه)‬
3

“Dari Abi Hurairah ia berkata: Suatu hari Nabi SAW.
nampak di tengah manusia, lalu seorang laki-laki
mendatanginya dan bertanya: “Apakah iman itu?” Rasul
menjawab: “Iman ialah engkau percaya pada Allah, Malaikat-
Nya, bertemu dengan-Nya, Rasul-Nya dan bangkit dari kubur
(hari kiamat). Lelaki itu bertanya lagi: “Apakah Islam itu?”.
Rasul menjawab: “Islam adalah Engkau menyembah Allah dan
jangan menyekutukan-Nya, dirikanlah shalat, tunaikan zakat
fardhu, dan berpusa bulan Ramadhan”. Lelaki itu bertanya
lagi: “Apakah Ihsan itu?”. Rasul menjawab: “Hendaklah
engkau beribadah/menyembah Allah seolah-olah engkau
melihat Allah, lalu jika engkau tak melihat-Nya ketahuilah
sesungguhnya Dia melihatmu”. Lelaki itu bertanya lagi:
“Kapan terjadi hari kiamat?”: Rasul menjawab: “Tidaklah
orang yang ditanya tentang hal ini (rasul) lebih mengetahui
jawabannya dari si penanya, aku akan jelaskan tentang
tanda-tanda kiamat (ialah): apabila seorang budak melahirkan
tuannya, apabila para penggembala binatang ternak telah
berlomba bermegah dalam bangunan, ia termasuk lima hal
yang tak seorangpun mengetahuinya kecuali Allah”, lalu
Rasul membaca ayat: ‫إِنّ ال عنده علم السساعة‬ sampai ayat terahir.
Lalu lelaki itu pergi dan Nabipun berkata kepada para sahabat: “Panggillah
lelaki itu”, tetapi tak seorangpun dari sahabat melihatnya lagi. Lalu Nabi
berkata: “Lelaki itu adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan kepada
manusia tentang agama”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadis di atas Nabi membimbing setiap Muslim dalam

beribadah dan menyembah Allah dengan konsep Ihsan yang

dijelaskan rasul dengan: “Hendaklah engkau

beribadah/menyembah Allah seolah-olah engkau melihat

Allah, lalu jika engkau tak melihat-Nya ketahuilah

sesungguhnya Dia melihatmu”. Konsep ini adalah dasar

bertasawuf dalam Islam. Menurut rasul, setiap muslim

hendaklah selalu menjalin hubungan yang intim dengan
4

Tuhannya setiap saat. Sebab, bagi muslim setiap gerak

anggota badan, panca indera dan bahkan hati adalah

rangkaian pemenuhan kewajiban ibadah kepada-Nya. Allah

berfirman:

‫عنْهُه‬
َ ‫ل أُوَلئِكَه كَانَه‬
ّ ُ‫علْمٌه إِنّ السّهمْعَ وَا ْلبَصَهرَ وَالْ ُفؤَادَ ك‬
ِ ‫ل تَقْفُه مَا َليْسَه لَكَه بِهِه‬
َ َ‫و‬

)36(ً‫سئُول‬
ْ َ‫م‬

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isro: 36)

Allah sangat dekat dengan hamba-hambaNya, Allah

berfirman:

‫ستَجِيبُوا لِي‬
ْ َ‫ع َو َة الدّا عِ إِذَا دَعَا نِ َف ْلي‬
ْ َ‫ب أُجِي بُ د‬
ٌ ‫عنّي فَِإنّي َقرِي‬
َ ‫عبَادِي‬
ِ َ‫سَأَلك‬
َ ‫َوإِذَا‬

)186(َ‫َو ْل ُي ْؤمِنُوا بِي َل َعّلهُ ْم َيرْشُدُون‬

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat.
aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-
Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Al-
Baqarah: 186)

Selanjutnya kalangan ulama tasawuf memberikan

pengajaran bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh
5

oleh seorang muslim untuk mewujudkan perilakau ihsan

dalam keseharian dengan beragam jalan diantaranya

maqamat seperti dirumuskan oleh para sufi.

Permasalahannya adalah: Darimana asal usul tasawuf

dan Apa konsep maqamat dalam tasawuf serta aplikasinya

dalam kehidupan?

B. PENGERTIAN TASAWUF

Sebelum lebih jauh membahas tentang asal-usul tasawuf, sedikit kami

berikan pengertian singkat sufi dan tasawuf. Ada beberapa pendapat tentang

asal-usul kata tasawuf. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata

safa’, artinya suci, bersih atau murni. Karena memang, jika dilihat dari segi

niat maupun tujuan dari setiap tindakan dan ibadah kaum sufi, maka jelas

bahwa semua itu dilakukan dengan niat suci untuk membersihkan jiwa dalam

mengabdi kepada Allah SWT.1 Ada lagi yang mengatakan tasawuf berasal dari

kata saff, artinya saff atau baris. Mereka dinamakan sebagai para sufi, menurut

pendapat ini, karena berada pada baris )saff( pertama di depan Allah, karena

besarnya keinginan mereka akan Dia, kecenderungan hati mereka terhadap-

Nya.2 Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata suffah atau
1
Drs. Asmaran As, MA. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 1996
hal.42-3
2
Ibid.
6

suffah al Masjid, artinya serambi mesjid. Istilah ini dihubungkan dengan suatu

tempat di Mesjid Nabawi yang didiami oleh sekelompok para sahabat Nabi

yang sangat fakir dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka dikenal

sebagai ahli suffah. Mereka adalah orang yang menyediakan waktunya untuk

berjihad dan berdakwah serta meninggalkan usaha-usaha duniawi. Jelasnya,

mereka dinamakan sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang

yang tinggal di serambi mesjid )suffah( yang hidup pada masa nabi SAW.3

Sementara pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata suf,

yaitu bulu domba atau wol. Hal ini karena mereka )para sufi( tidak memakai

pakaian yang halus disentuh atau indah dipandang, untuk menyenangkan dan

menenteramkan jiwa. Mereka memakai pakaian yang hanya untuk menutupi

aurat dengan bahan yang terbuat dari kain wol kasar )suf(.4

Sedangkan tasawuf menurut beberapa tokoh sufi adalah seperti berikut:5

1. Bisyri bin Haris mengatakan bahwa sufi ialah orang yang suci hatinya

menghadap Allah SWT.

2. Sahl at-Tustari mengatakan bahwa sufi ialah orang yang bersih dari

kekeruhan, penuh dengan renungan, putus hubungan dengan manusia

dalam menghadap Allah SWT, dan baginya tiada beda antara harga emas

dan pasir.

3
Ibid. hal. 44.
4
Ibid. Hal 44-5.
5
Drs. K. Permadi, S.H. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta: Rineka Cipta, 2004. hal. 28-9
7

3. Al-Junaid al-Bagdadi )w. 289 H(, tokoh sufi modern, mengatakan bahwa

tasawuf ialah membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang dan

melepaskan akhlak yang fitri, menekan sifat basyariah )kemanusiaan(,

menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi kerohanian, berpegang

pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar

keabadiannya, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji

terhadap Allah SWT, dan mengikuti syari’at Rasulullah SAW.

4. Abu Qasim Abdul Kari mal-Qusyairi memberikan definisi bahwa tasawuf

ialah menjabarkan ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunah, berjuang

mengendalikan nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat,

dan menghindari sikap meringan-ringankan ibadah.

5. Abu Yazid al-Bustami secara lebih luas mengatakan bahwa arti tasawuf

mencakup tiga aspek, yaitu kha )melepaskan diri dari perangai yang

tercela(, ha )menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji( dan jim

)mendekatkan diri kepada Tuhan(.

C. TUJUAN TASAWUF

Adapun tujuan tasawuf adalah:

1. Menurut Harun Nasution, tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri

sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan

mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan.6

6
http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN1.html
8

2. Menurut K. Permadi, tujuan tasawuf ialah fana untuk mencapai

makrifatullah, yaitu leburnya diri pribadi pada kebaqaan Allah, dimana

perasaan keinsanan lenyap diliputi rasa ketuhanan.7

Dengan demikian inti dari ajaran tasawuf adalah menempatkan Allah

sebagai pusat segala aktivitas kehidupan dan menghadirkan-Nya dalam diri

manusia sebagai usaha memperoleh keridaan-Nya.

D. ASAL USUL TASAWUF

Tasawuf Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Banyak ayat al-

Qur’an dan Hadis Nabi SAW. berbicara tentang hubungan antara Allah dengan

hamba-Nya manusia, diantaranya seperti tertulis pada pendahuluan di atas.

Secara umum Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah atau

jasadiah, dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang

bersifat batiniah inilah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini

mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, al-Qur’an dan

al-Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan sahabatnya. Lebih jauh, al-

Qur’an berbicara tentang kemungkinan manusia dan Tuhan dapat saling

mencintai )mahabbah( seperti dalam al-Maidah: 54; perintah agar manusia

senantiasa bertaubat )at-Tahrim: 8(; petunjuk bahwa manusia akan senantiasa

bertemu dengan Tuhan dimanapun mereka berada )al-Baqarah: 110(; Allah

dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendaki )an-Nur: 35(; Allah

mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan
7
Drs. K. Permadi. Op.cit. hal. 89
9

dunia dan harta benda )al-Hadid, al-Fathir: 5(; dan senantiasa bersikap sabar

dalam menjalani pendakatan diri kepada Allah SWT )Ali Imron: 3(.8

Begitu juga perintah Allah untuk ikhlas semata mengharap ridha-Nya

dalam beribadah )al-Bayinah: 5(; berperilaku jujur )al-Anfal: 58(, adil, taqwa

)al-Maidah: 6(; yakin, tawakal )al-Anfal: 49(; qonaah, rendah hati dan tidak

sombong )al-Isra’:37(; beribadah dengan penuh pengharapan terhadap ridha-

Nya )raja’( )al-Kahfi: 110(, takut terhadap murka Allah atas segala dosa

)khauf( )at-Tahrim: 6(; menahan hawa nafsu )Yusuf: 53(; amar ma’ruf nahi

munkar )Ali Imron: 104(; dan banyak lagi konsep akhlak dan amal diajarkan

dalam al-Qur’an kesemuanya adalah sumber tasawuf dalam Islam.

Sejalan dengan apa yang dibicarakan al-Qur’an, as-Sunnah pun banyak

berbicara tentang kehidupan rohaniah. Teks hadis qudsi berikut dapat

dipahami dengan pendekatan tasawuf:

‫كنت كنزا مخفيا فاحببت ان اعرف فخلقت الخلق فبى عرفونى‬

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku menjadikan
makhluk agar mereka mengenal-Ku”.

Hadis tersebut memberi petunjuk bahwa alam raya, termasuk manusia

adalah merupakan cermin Tuhan, atau bayangan Tuhan. Tuhan ingin

mengenalkan diri-Nya melalui penciptaan alam ini. Dengan demikian dalam

alam raya ini terdapat potensi ketuhanan yang dapat didayagunakan untuk

8
Dr. H. Abudin Nata, MA. Akhlak Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 2002. hal.
181
10

mengenal-Nya. Dan apa yang ada di alam raya ini pada hakikatnya adalah

milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam

al-Baqarah: 156: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka

mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" Sesungguhnya Kami

adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali.” dan al-Baqarah 45-

46: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya

yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,

dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Juga hadis riwayat Imam Bukhari berikut yang menyatakan:

‫ل يزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع‬

‫وبصهره الذى يبصهر بهه ولسهانه الذى ينطهق بهه ويده الذى يبطهش بهها ورجله‬

‫الذى يمشوى بها فبى يسمع فبى يبصر وبى ينطق وبى يعقل وبى يبطش وبى‬

.‫يمشى‬

“Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan
amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku
mencintainya maka jadilah Aku pendengarannya yang dia pakai untuk
mendengar, penglihatannya yang dia pakai untuk melihat, lidahnya yang dia
pakai untuk berbicara, tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan
kakinya yang dia pakai untuk berjalan; maka dengan-Ku lah dia mendengar,
melihat, berbicara, berfikir, meninju dan berjalan.”
11

Hadis tersebut memberi petunjuk dapat bersatunya manusia dan Tuhan,

yang selanjutnya dikenal dengan istilah al-Fana’ yaitu fana’nya makhluk

kepada Tuhan yang saling mencintai.

Benih-benih tasawuf dipraktekkan langsung oleh Muhammad SAW.

dalam kehidupan kesehariannya. Perilaku hidup Nabi SAW sebelum diangkat

menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat di gua Hira’, terutama pada

bulan Ramadhan. Di sana Nabi SAW banyak berzikir dan bertafakur

mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengasingan diri Nabi SAW. di gua

Hira’ ini merupakan acuan utama para sufi dalam berkhalawat. Puncak

kedekatan Nabi SAW dengan Allah terjadi ketika beliau melakukan Isro’ wal

mi’roj. Dikisahkan Nabi berdialog langsung dengan Allah ketika menerima

perintah Shalat lima waktu.

Perikehidupan )sirah( Nabi SAW juga merupakan benih-benih tasawuf,

yaitu pribadi Nabi yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh

kemewahan dunia. Dalam salah satu do’anya nabi bermohon: “Wahai Allah,

hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang

miskin.” )HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim(. Pada suatu waktu Nabi SAW

datang ke rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Shidiq, ternyata di

rumahnya tidak ada makanan. Keadaan seperti ini diterimanya dengan sabar,

lalu beliau menahan laparnya dengan berpuasa )HR. Abu Daud, Tirmidzi dan

Nasai(. Nabi juga sering mengganjal perutnya dengan batu sebagai penahan

lapar.
12

Cara beribadah Nabi SAW juga merupakan cikal-bakal tasawuf. Nabi

SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari

Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam Nabi SAW mengerjakan

shalat malam; di dalam shalat lututnya bergetar karena panjang, banyak rakaat

serta khusu’ dalam shalatnya. Tatkala ruku’ dan sujud terdengar suara

tangisnya, namun beliau tetap terus melakukan shalat sampai suara azan Bilal

bin Rabah terdengar di waktu subuh. Melihat Nabi SAW demikian tekun

melakukan shalat, Aisyah bertanya: “Wahai junjungan, bukankah dosamu

yang terdahulu dan akan datang telah diampuni Allah, kenapa engkau masih

terlalu banyak melakukan shalat?” Nabi SAW menjawab: ‘Aku ingin menjadi

hamba yang banyak bersyukur”. )HR. Bukhari dan Muslim(.

Akhlak Nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tiada bandingannya.

Akhlak Nabi bukan hanya dipuji oleh manusia termasuk musuh-musuhnya,

tetapi juga oleh Allah SWT. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kamu

(Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. )QS. 68:4(. Dan

ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi SAW, ia menjawab: “Akhlaknya

adalah al-Qur’an”. )HR. Ahmad dan Muslim(.

Ajaran rasul tentang bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-

hari banyak diikuti oleh para sahabatnya, dilanjutkan oleh para tabi’in, tabiit

tabi’in dan seluruh Muslim hingga saat ini . Mereka mengikuti firman Allah:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
13

bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” )Al-Ahzab: 21(.

Demikian sekilas asal-usul tasawuf dalam Islam. Jelas asal-usul tasawuf

Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Namun demikian perlu juga kita

perhatikan pendapat dari kalangan orientalis Barat. Mereka mengatakan

bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur

Masehi )agama Nasrani(, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.

Unsur dari Islam sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya, selanjutnya

unsur di luar Islam yang masuk ke dalam tasawuf menurut orientalis dapat

dijelaskan berikut:

1. Unsur Masehi (agama Nasrani)

Orang Arab sangat menyukai cara kependataan, khususnya dalam hal

latihan jiwa dan ibadah. Atas dasar ini Von Kromyer berpendapat bahwa

tasawuf adalah buah dari unsur agama Nasrani yang terdapat pada zaman

Jahiliyah.Hal ini diperkuat pula oleh Gold Ziher yang mengatakan bahwa

sikap fakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari agama Nasrani.

Selanjutnya Noldicker mengatakan bahwa pakaian kasar yang kelak

digunakan para sufi sebagai lambang kesederhanaan hidup adalah merupakan

pakaian yang biasa dipakai oleh para pendeta. Sedangkan Nicholson

mengatakan bahwa istilah-istilah tasawuf itu berasal dari agama Nasrani, dan
14

bahkan ada yang berpendapat bahwa aliran tasawuf berasal dari agama

Nasrani.9

Unsur lain yang dikatakan berasal dari Nasrani adalah sikap fakir.

Menurut keyakinan Nasrani bahwa Isa bin Maryam adalah seorang yang fakir,

dan Injil juga disampaikan kepada orang fakir. Isa berkata: “Beruntunglah

kamu orang-orang miskin, karena bagi kamulah kerajaan Allah. Beruntunglah

kamu orang yang lapar, karena kamu akan kenyang.” Selanjutnya adalah sikap

tawakal kepada Allah dalam soal penghidupan terlihat pada peranan syekh

yang menyerupai pendeta, bedanya pendeta dapat menghapus dosa; selibasi,

yaitu menahan diri tidak kawin karena kawin dianggap dapat mengalihkan

perhatian diri dari Khalik, dan penyaksian, dimana sufi dapat menyaksikan

hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah.10

2. Unsur Yunani

Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya telah masuk pada dunia Islam di

mana perkembangannya dimulai pada akhir Daulah Umayyah dan puncaknya

pada Daulah Abbasiyah, metode berpikir filsafat Yunani ini juga telah ikut

mempengaruhi pola fikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan

dengan Tuhan. Pada persoalan ini, boleh jadi tasawuf yang terkena pengaruh

Yunani adalah tasawuf yang kemudian diklasifikasikan sebagai tasawuf yang

bercorak filsafat. Hal ini dapat dilihat dari pikiran al-Farabi, al-Kindi, Ibnu

Sina, terutama dalam uraian tentang filsafat jiwa. Demikian juga pada uraian-
9
Ibid. hal. 185-6
10
Ibid.
15

uraian tasawuf dari Abu Yazid, al-Hallaj, Ibnu Arabi, Syukhrawardi, dan lain

sebagainya.11

Selain itu, ada yang mengatakan bahwa masuknya filsafat ke dunia Islam

melalui mazhab paripatetic dan Neo-Platonisme. Mazhab yang pertama

)paripatetic( kelihatannya lebih banyak masuk ke dalam bentuk skolastisisme

ortodoks )kalam(, sedangkan untuk Neo Platonisme lebih masuk kepada dunia

tasawuf.

Filsafat emanasinya Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini

memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa menjadi salah satu dasar

argumentasi para orientalis dalam menyikapi asal mula tasawuf di dunia

Islam. Dalam emanasinya, Plotinus menjelaskan bahwa roh berasal dari Tuhan

dan akan kembali kepada Tuhan. Akan tetapi ketika masuk ke alam materi, roh

menjadi kotor, dan untuk kembali ke tempat asalnya, roh harus terlebih dahulu

dibersihkan. Penyucian roh dilakukan dengan cara meninggalkan dunia dan

mendekati Tuhan sebisa mungkin, atau bersatu dengan Tuhan. Dikatakan pula

bahwa filsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan

sufi dalam Islam.12

3. Unsur Hindu/Budha

Tasawuf dan sistem kepercayaan agama Hindu memiliki persamaan,

seperti sikap fakir. Darwis Al-Birawi mencatat adanya persamaan cara ibadah

11
Drs. Rosihon Anwar, M.Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag. Ilmu Tasawuf. Bandung:
Pustaka Setia, 2000. hal. 35
12
Ibid. hal. 36
16

dan mujahadah pada tasawuf dan ajaran Hindu. Demikian juga pada paham

reinkarnasi )perpindahan roh dari satu badan ke badan lain(, cara pelepasan

dari dunia versi Hindu-Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat

Allah.13

Salah satu maqamat sufiah al-Fana nampaknya ada persamaan dengan

ajaran Nirwana dalam agama Hindu. Gold Ziher mengatakan bahwa ada

hubungan persamaan antara tokoh Sidharta Gautama dengan Ibrahim bin

Adham tokoh sufi.14

Menurut Qomar Kailan pendapat-pendapat ini terlalu ekstrim sekali

karena kalau diterima bahwa ajaran tasawuf itu berasal dari Hindu/Budha

berarti zaman Nabi Muhammad telah berkembang ajaran Hindu/Budha itu ke

Mekkah, padahal sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu.15

4. Unsur Persia

Sebenarnya Arab dan Persia memiliki hubungan sejak lama, yaitu pada

bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan dan sastra. Namun, belum

ditemukan argumentasi kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia

telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas kehidupan kerohanian Arab masuk ke

Persia hingga orang-orang Persia itu terkenal sebagai ahli-ahli tasawuf.

Barangkali ada persamaan antara istilah zuhud di Arab dengan zuhud menurut

13
Ibid. hal. 33
14
Drs. H. Abuddin Nata, MA. Op.Cit. hal. 187
15
Ibid.
17

agama Manu dan Mazdaq; antara istilah Hakikat Muhammad dan paham

Hormuz )Tuhan Kebaikan( dalam agama Zarathustra.16

Dari semua uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa sebenarnya

tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu sendiri ialah al-Qur’an dan Sunah,

mengingat yang dipraktekkan Nabi SAW dan para sahabat. Namun setelah

tasawuf itu berkembang menjadi pemikiran, bisa saja ia mendapat pengaruh

dari luar seperti filsafat Yunani dan sebagainya. Dan andaipun terdapat

persamaan dengan ajaran beberapa agama, kemungkinan yang dapat terjadi

adalah persamaan dengan agama-agama samawi )Nasrani dan Yahudi(,

mengingat semua agama samawi berasal dari tuhan yang sama Allah SWT

yang dalam Islam diyakini sama mengajarkan tentang ketauhidan.

E. MAQAMAT

Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat

orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti

sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada

dekat dengan Allah. Dalam bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah

stages yang berarti tangga. Harun Nasution menyebut dengan istilah stations.

Tentang berapa jumlah tangga, station atau maqamat yang harus

ditempuh oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, di kalangan sufi

tidak sama pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta’aruf

Mazhab ahl al-Tasawwuf, sebagai dikutip Harun Nasution misalnya
16
Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag. Op.Cit. hal. 38-9
18

mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu: al-taubah, al-

zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-

mahabbah dan al-ma’rifah. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma’

menyebutkan jumlah maqamat hanya tujuh, yaitu: al-taubah, al-wara’, al-

zuhud, al-faqr, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah, dan al-ridha.

Sementara itu Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din mengatakan

bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu: al-taubah, al-shabr, al-zuhud, al-

tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla.17

Kutipan di atas memperlihatkan penyebutan maqamat yang berbeda-

beda, namun ada maqamat yang oleh kalangan sufi disepakati, ialah: al-

taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridla.

Sedangkan al-tawadhlu, al-mahabbah dan al-ma’rifah oleh mereka tidak

disepakati sebagai maqamat, ketiga istilah terakhir oleh para sufi terkadang

disebut sebagai maqamat, dan terkadang sebagai hal dan ittihad )tercapainya

kesatuan wujud rohaniah dengan Tuhan(.

Berikut kami uraikan secara singkat tujuh maqamat yang disepakati:

1. al- Taubah

Banyak ayat al-Qur’an dan Hadis yang mendorong setiap hamba

untuk selalu bertobat terhadap kesalahan. Diantaranya firman Allah:

17
Dr. H. Abuddin Nata, MA. Op.Cit. hal. 193-4
19

ْ‫ظَلمُوا َأنْفُسهَههُمْ َذ َكرُوا الَّه فَاس ْه َتغْ َفرُوا لِ ُذنُو ِبهِمهه‬
َ ْ‫وَالّذِينههَ إِذَا َف َعلُوا فَاحِشَ ًة َأو‬

)135(َ‫علَى مَا َف َعلُوا وَهُ ْم َي ْعَلمُون‬
َ ‫صرّوا‬
ِ ‫لّ َولَ ْم ُي‬
ُ ‫َومَنْ َيغْ ِف ُر ال ّذنُوبَ إِلّ ا‬

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah,
lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan
siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada
Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imron: 135)

Nabi SAW bersabda:

‫قال ال تعالى ياابهن ادم إنهك مها دعوتنهى ورجوتنهى غفرت لك على مها كان‬

‫منك ول أبالى ياابن ادم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتنى غفرت‬

‫لك ياابهن ادم إنهك لو أتيتنهى بقراب الرض خطايها ثهم لقيتنهى ل تشرك بهى‬

)‫ (رواه الترمذى‬.‫شيئا لتيتك بقرابها مغفرة‬

“Allah SWT berfirman: “Wahai Ibn Adam sesungguhnya sepanjang
engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau atas
segala dosa yang ada dan aku tidak peduli (seberapapun), Wahai ibn
Adam, andai saja dosamu sampai sepenuh langit kemudian engkau datang
memohon ampun kepada-Ku, engkau akan aku ampuni, Wahai ibn Adam,
sesungguhnya andai engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh
bumi kemudian bertemu dengan-Ku dengan tidak menyekutukan Aku pada
suatu apapun, pasti Aku akan mendatangimu (pula) dengan ampunan
sepenuh isi bumi.” )HR. Tarmidzi(

Dalam ajaran tasawuf konsep taubat dikembangkan dan mendapat

berbagai macam pengertian. Taubat dibedakan menjadi taubat dalam
20

syariat biasa ialah taubatnya orang awam dan maqam taubat ialah taubat

orang khawas. Dalam hal ini ulama sufi Dzu al-Nun al-Mishri

mengatakan:

‫توبة العوام من الذنوب وتوبة الخواص من الغفلة‬

“Taubatnya orang-orang awam adalah (sekedar) taubat dari dosa-dosa,
sedang taubat orang khawas ialah taubat dari ghaflah (lalai mengingat
Tuhan).”18

Bagi golongan khawas atau sufi, yang dipandang dosa adalah tidak

sekedar berbuat maksiat kepada Allah, bahkan yang terbesar adalah dosa

ghaflah )terlena dari mengingat Tuhan(. Dengan demikian taubat

merupakan pangkal peralihan dari hidup lama )ghaflah( ke kehidupan baru

secara sufi, yakni hidup selalu mengingat Tuhan sepanjang masa.

Karena taubat menurut sufi terutama adalah taubat dari ghaflah,

maka kesempurnaan taubat menurut ajaran tasawuf adalah apabila telah

tercapai maqam ‫) التوبهة مهن توبهة‬taubat dari taubat(, maksudnya mentaubati

terhadap kesadaran keberadaan diri dan kesadaran akan taubatnya itu

sendiri. Dalam hal ini Hujwiri mengatakan:

“Orang yang bertaubat adalah pencinta Tuhan. Pencinta Tuhan
adalah selalu ingat pada Tuhan. Maka ingat pada Tuhan berarti
salah bila masih ingat akan dosanya. Karena ingat akan dosa itu
adalah tabir penyekat antara Tuhan dengan pengingat Tuhan.
Kesadaran akan keberadaan dirinya itu termasuk dosa, bahkan

18
Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada,
1996. hal. 51
21

dosa yang paling besar dari segala dosa-dosa. Melupakan dosa
dengan demikian harus melupakan keberadaan dirinya.”19

Keberadaan pada maqam ‫ التوبهة مهن توبهة‬dalam ilmu tasawuf adalah

proses kepada hal )mystical sate(, yakni telah merupakan anugerah Tuhan

semata-mata, dan bukan lagi hasil upaya manusia. Dalam hal ini R.A.

Nicholson mengatakan:

“Acording to the hit mystical theory, repentance is purely an act of
divine grace, coming from God to man, not from man to God.”20
Menurut teori mistik yang tinggi, taubat semata-mata anugerah
Tuhan, datang dari Tuhan kepada manusia, bukan dari manusia
kepada Tuhan.”

2. al-Wara

Secara harfiah al-Wara’ artinya saleh, menjauhkan diri dari

perbuatan dosa. Kata ini selanjutnya mengandung arti menjauhi hal-hal

yang tidak baik. Dan dalam pengertian sufi al-Wara’ adalah meninggalkan

segala yang di dalamnya terdapat keragu-raguan antara halal dan haram

)subhat(.21

Ibrahim bin Adham, seorang ulama sufi mengatakan:

‫الورع ترك كل شبهة وترك مال يعنيك وهو ترك الفضلت‬

19
Ibid. Hal. 53
20
Ibid. Hal. 54
21
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Op.Cit. hal. 199.
22

”Wara’ adalah meninggalkan setiap yang berbau subhat dan
meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan berbagai macam
kesenangan.”22

Dasar dari sikap al-Wara’ adalah sabda Nabi SAW.:

)‫فمن اتقى من الشبهات فقد استبرأ من الحرام (رواه البخارى‬

“Barangsiapa yang dirinya terbebas dari subhat, maka
sesungguhnya ia telah terbebas dari yang haram.” )HR. Bukhari(.

Sahabat Nabi SAW. Abu Bakar as-Shiddiq pernah berkata:

‫كنا ندع سبعين بابا من الحلل مخافة أن نقع فى باب من الحرام‬

“Kami meningalkan tujuh puluh pintu menuju yang halal lantaran
takut jatuh pada satu pintu menuju haram”.

Ulama sufi membagi wara’ ke dalam beberapa tingkatan, seperti

dikatakan oleh Yahya bin Ma’adz:

‫الورع على وجهيهههن ورع فهههى الظاههههر وههههو أن ل يتحرك إل ل تعالى‬

‫وورع فى الباطن وهو أن ل يدخل قلبك سواه تعالى‬

“Wara’ itu dua tingkat, wara’ segi lahir yaitu hendaklah kamu
tidak bergerak kecuali untuk ibadah pada Allah; dan wara’ batin, yakni
agar tidak masuk dalam hatimu kecuali Allah Ta’ala.”23

3. al-Zuhud

22
Simuh. Op.Cit. hal. 56.
23
Ibid. Hal. 55.
23

Secara harfiah al-Zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang

bersifat keduniawian.24 Sedangkan menurut Harun Nasution keadaan

meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Selanjutnya menurut al-

Qusyairi, ulama berbeda pendapat dalam mengartikan zuhud. Sebagian

ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah orang yang zuhud dalam

masalah yang haram, karena yang halal adalah sesuatu yang mubah dalam

pandangan Allah, yaitu orang yang diberikan nikmat berupa harta yang

halal, kemudian ia bersyukur dan meninggalkan dunia itu dengan

kesadarannya sendiri. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa zuhud

adalah zuhud dalam yang haram sebagai suatu kewajiban.25

Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi menjadi tiga tingkatan,

Pertama )terendah(, ialah menjauhkan dunia agar terhindari dari hukuman

akhirat. Kedua, menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akhirat.

Dan Ketiga )tertinggi(, mengucilkan dunia bukan karena takut atau karena

berharap, tetapi karena cinta kepada Allah belaka. Orang yang berada pada

tingkat tertinggi ini akan memandang segala sesuatu, kecuali Allah, tidak

mempunyai arti apa-apa.26

Dasar dari sikap zuhud adalah firman Allah:

)77(ً‫ظَلمُونَ َفتِيل‬
ْ ُ‫ل ت‬
َ َ‫ن اتّقَى و‬
ِ َ‫خ ْي ٌر ِلم‬
َ ُ‫خ َرة‬
ِ ْ‫ل وَال‬
ٌ ‫ع ال ّد ْنيَا َقلِي‬
ُ ‫ل َمتَا‬
ْ ُ‫ق‬

24
Imam al-Ghazali. Ihya’ Ulumu al-Din. Jilid III. Beirut: Dar al-Fikr, t.t. hal. 162-178.
25
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Op.Cit. hal. 195.
26
Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag. Op.Cit. hal. 72.
24

“Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan
akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa,
dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (an-Nisa’: 77)

)32(َ‫ل َتعْ ِقلُون‬
َ َ‫ن َيتّقُونَ أَف‬
َ ‫خ ْي ٌر ِللّذِي‬
َ ُ‫خ َرة‬
ِ ْ‫ب َوَل ْهوٌ َولَلدّارُ ال‬
ٌ ‫ل َل ِع‬
ّ ِ‫حيَا ُة ال ّد ْنيَا إ‬
َ ْ‫َومَا ال‬

“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main
dan senda gurau belaka[468]. dan sungguh kampung
akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.
Maka tidakkah kamu memahaminya?” (al-An’am: 32)

)38(ٌ‫خ َر ِة إِلّ َقلِيل‬
ِ ْ‫حيَا ِة ال ّد ْنيَا فِي ال‬
َ ْ‫ع ال‬
ُ ‫َفمَا َمتَا‬

“ Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan
dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (at-Taubah:
38)

)17(‫خ ْي ٌر َوَأبْقَى‬
َ ُ‫خ َرة‬
ِ ْ‫وَال‬

“sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih
kekal.” (al-A’la: 17)

Abdul Hakim Hasan dalam bukunya al-Thashawwuf fi al-Syi’ri

al-‘Arabi mengatakan:

“Adapun zuhud menurut bahasa Arab materinya tidak
berkeinginan. Dikatakan, zuhud pada sesuatu apabila tidak tamak
padanya. Adapun sasarannya adalah dunia. Dikatakan pada
seseorang bila dia menarik diri untuk tekun beribadah dan
menghindarkan diri dari keinginan menikmati kelezatan hidup
adalah zuhud pada dunia. Nabi SAW. bersabda: ”Jika kamu
sekalian melihat seseorang dianugerahi zuhud di dunia dan cerdas
nalarnya, maka kau dekatilah dia, bahwasanya dia adalah orang
bijaksana.” Dikatakan, zuhud adalah setengah dari firman Allah:
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka
25

cita terhadap apa yang luput dari kamu; dan supaya kamu jangan
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” )al-
Hadid: 23(. Maka seorang zahid tidak bergembira dengan adanya
dunia di tangannya. Abu ‘Usman berkata: “Zuhud itu kamu
tinggalkan dunia, kemudian kamu tidak peduli siapa yang
mengambilnya”. Kesemua makna-makna di atas berkisar pada
menghindari kelezatan hidup duniawi dan kenikmatannya, dan
ketiadaan kecenderungan kepadanya. Maka Zuhud itu salbi
)negatif( sifatnya.”27

4. Fakir

Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang

berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi, fakir

adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak

meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-

kewajiban. Tidak meminta sungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi

diterima. Tidak meminta tetapi tidak menolak.28

Jika pada maqam wara’ seorang sufi berusaha meninggalkan

subhat agar hidup hanya mencari yang jelas halal, kemudian dengan zuhud

telah menjauhi keinginan terhadap yang halal-halal dan hanya yang amat

penting bagi kelangsungan hidupnya, maka dalam maqam fakir seorang

sufi mengosongkan seluruh hati dari ikatan dan keinginan terhadap apa

saja selain Allah. Maqam fakir merupakan perwujudan upaya “tahthir al

qalbi bi ‘l-kulliyati ‘an ma siwa ‘llah” )penyucian hati secara keseluruhan

terhadap apa yang selain Allah(. Inilah ajaran qath’u al-‘ala’iq ‫قططع العلئق‬

27
Simuh. Op.Cit. hal. 57.
28
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Op.Cit. hal. 200.
26

atau tajrid ‫ التجريططد‬yakni ajaran untuk membelakangi atau membuang

dunia. Yang dituju dengan konsep fakir atau tajrid sebenarnya hanyalah

memutuskan persangkutan hati dengan dunia, sehingga hatinya hanya

terisi pada kegandrungan pada keindahan penghayatan makrifat pada Zat

Allah saja disepenjang keadaan. Yakni terciptanya suasana hati yang

netral, tidak ingin dan tidak memikirkan ada atau tidaknya dunia.29

Yang menjadi dasar maqam fakir ini, menurut Imam al-Ghazali,

adalah kelakuan Nabi SAW sewaktu emas belum diharamkan bagi pria,

Nabi pernah berkhotbah dan di tengah-tengah khotbahnya beliau berhenti

serta menanggalkan dan melempar cincin emas dari tangan beliau.

Sewaktu ditanyakan tentang kejadian itu beliau menjawab bahwa cincin

itu mengganggu kekhususkan khotbahwanya.30

5. Maqam Sabar

Secara harfiah, sabar berarti tabah hati. Menurut Zun al-Nun al-

Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan

dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan

menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran

dalam bidang ekonomi. Selanjutnya Ibn Atma mengatakan sabar artinya

tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik. Ibn Usman

al-Hariri mengatakan, sabar adalah orang yang mampu memasung dirinya

atas segala sesuatu yang kurang menyenangkan. Pendapat lain mengatakan
29
Simuh. Op.Cit. hal. 63.
30
Ibid.
27

sabar adalah menghilangkan rasa mendapatkan cobaan tanpa menunjukkan

rasa kesal.31

Dasar maqam sabar, banyak terdapat dalam firman Allah dan hadis

Nabi diantaranya:

ْ‫ل َلهُم‬
ْ ِ‫س َتعْج‬
ْ َ‫ل ت‬
َ َ‫ل و‬
ِ ُ‫صبَ َر أُولُو ا ْل َعزْ ِم مِنَ الرّس‬
َ ‫ص ِبرْ َكمَا‬
ْ ‫فَا‬

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar
dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi
mereka.” (al-Ahqaf: 35)

)153(َ‫لّ مَ َع الصّا ِبرِين‬
َ ‫ص ْبرِ وَالصّلَ ِة إِنّ ا‬
ّ ‫س َتعِينُوا بِال‬
ْ ‫يَاَأ ّيهَا الّذِينَ ءَا َمنُوا ا‬

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar
dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Dalam tasawuf sabar dijadikan satu maqam sesudah fakir yang

merupakan syarat untuk bisa berkonsentrasi dalam berzikir mengingat

Allah. Dalam keadaan fakir, seseorang dalam hidupnya tentu akan dilanda

berbagai macam penderitaan dan kepincangan. Oleh sebab itu ia harus

segera melangkah ke maqam sabar. Jadi dengan maqam sabar, para sufi

memang telah menyengaja dan menyiapkan diri bergelimang dengan

seribu satu kesulitan dan derita dalam hidupnya dengan sikap sabar, tanpa

ada keluhan sedikitpun. Itulah laku maqam sabar dalam tasawuf.

31
Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Op.Cit. hal. 200
28

6. Maqam Tawakal

Dasar tawakal sebagai maqam dalam sufi, adalah firman Allah:

)51(َ‫ل ا ْل ُم ْؤ ِمنُون‬
ِ ّ‫علَى الِّ َف ْل َي َت َوك‬
َ َ‫لنَا و‬
َ ْ‫لّ َلنَا ُه َو َمو‬
ُ ‫ل مَا َك َتبَ ا‬
ّ ِ‫ن ُيصِي َبنَا إ‬
ْ َ‫ل ل‬
ْ ُ‫ق‬

“Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami
melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.
Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-
orang yang beriman harus bertawakal." (at-Taubah: 51)

)11(َ‫علَى الِّ َف ْل َي َت َوكّلِ ا ْل ُم ْؤ ِمنُون‬
َ َ‫لّ و‬
َ ‫وَاتّقُوا ا‬

“Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada
Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.”
(al-Maidah: 11)

Dalam syari’at Islam Ahlus Sunnah diajarkan bahwa tawakal

dilakukan sesudah segala daya upaya dan iktiyar dijalankan. Jadi yang

ditawakalkan atau digantungkan pada rahmat pertolongan Allah adalah

hasil usaha setelah segala ikhtiyar dilakukan. Sedangkan dalam tasawuf

maqam tawakal dijadikan sebagai wasilah atau tangga untuk memalingkan

dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan

memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah, dan menyerahkan

segala sesuatu termasuk jiwa raganya hanya kepada Allah SWT.

Dalam risalah Qusyairiyah disebutkan bawa Sahl bin Abdullah

mengatakan: “Permulaan dari maqam tawakal itu adalah seorang hamba

)manusia( di depan Allah Yang Maha Kuasa laksana mayat di depan orang
29

yang memandikan, dibolak-balikkan sekehendaknya tanpa bergerak dan

ikhtiyar.” Dalam risalah ini juga disebutkan bahwa Hamdun mengatakan:

”Tawakal itu berserah diri )mempercayakan diri( pada jaminan

pemeliharaan Allah sepenuhnya.”32

Konsep tawakal yang dikembangkan oleh kalangan sufi condong

kepada tawakal faham jabariah, ialah menggantungkan segalanya kepada

Allah SWT. Hal ini karena penghayatan akhir yang dicitakan oleh seorang

sufi adalah penghayatan yang diluar kemampuan dan ikhtiyar manusia,

akan tetapi karena kehendak Allah semata seperti penghayatan fana’ dan

mukasyafah, suatu pengalaman ruhaniah yang amat tergantung

sepenuhnya pada kekuatan dari luar manusia.

7. Maqam Ridla

Setelah mencapai maqam tawakal, nasib hidup para sufi bulat-bulat

diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Allah, meninggalkan dan

membelakangi segala keinginan terhadap apa saja selain Allah, selanjutnya

harus segera diikuti penataan hati untuk mencapai maqam ridla.

Maqam ridla adalah ajaran untuk menanggapi dan mengubah

segala bentuk keadaan jiwa baik itu kebahagiaan, kesenangan,

penderitaan, kesengsaraan dan kekusahan menjadi kegembiraan dan

kenikmatan karena kebahagiaan menikmati segala pemberian Allah SWT.

Yakni sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali, rela menerima apa
32
Simuh. Op.Cit. hal. 67.
30

saja, segala yang telah dan sedang dialaminya itulah yang terbaik baginya,

tak ada yang terlebih baik selain apa yang telah dan sedang dialaminya.

Ibnu Khaff mengatakan tentang ridla: ”Kerelaan hati menerima ketentuan

Tuhan, dan persetujuan hatinya terhadap yang diridhai Allah untuknya”.

An-Nuri mengatakan: “Ridla itu kegirangan hati menanggapi kepedihan

ketentuan Tuhan”. Robi’ah al-‘Adawiyah mengatakan: “Jika dia telah

gembira menerima musibah seperti kegembiraannya menerima nikmat.”33

Seorang sufi akan selalu bahagia bersama Tuhannya, karena bagi

sufi segala keadaan hidup baik itu nikmat atau cobaan adalah dalam

rangka beribadah semata mengharap ridha Allah SWT.

Dasar ridla sebagai maqam dalam sufi adalah firman Allah:

)62(َ‫ح َزنُون‬
ْ َ‫عَل ْيهِ ْم وَلَ هُ ْم ي‬
َ ٌ‫خ ْوف‬
َ َ‫ن َأ ْوِليَاءَ الِّ ل‬
ّ ِ‫ل إ‬
َ َ‫أ‬

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.” (Yunus: 62)

Juga dalam hadis Qudsi, Allah berfirman:

‫إنني اناال ل اله ال انا من لم يصبر على بلئى ولم يشكر لنعمائى‬

‫ولم يرضى بقضائى فليخرج من تحت سمائى وليطلب ربا سواي‬

“Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku.
Barangsiapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak
bersyukur atas segala nikmat-Ku serta tidak rela terhadap
33
Ibid. hal. 69-72
31

keputusan-Ku, maka hendaklah ia keluar dari kolong langit
dan cari Tuhan selain Aku”.

F. KESIMPULAN

1. Tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu sendiri ialah al-Qur’an dan Sunah,

mengingat yang dipraktekkan Nabi SAW dan para sahabat. Namun setelah

tasawuf itu berkembang menjadi pemikiran, bisa saja ia mendapat pengaruh

dari luar seperti filsafat Yunani dan sebagainya. Dan andaipun terdapat

persamaan dengan ajaran beberapa agama, kemungkinan yang dapat terjadi

adalah persamaan dengan agama-agama samawi )Nasrani dan Yahudi(,

mengingat semua agama samawi berasal dari tuhan yang sama Allah SWT

yang dalam Islam diyakini sama mengajarkan tentang ketauhidan.

2. Para sufi mengenalkan jalan untuk mengenal Allah yang disebut Maqamat,

ialah jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat

dengan Allah. Maqamat dalam sufi tersebut adalah: al-Taubah, al-Wara’, al-

Zuhud, Fakir, Sabar, Tawakal, dan al-Ridla.
32

DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Dr. MA. Akhlak Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 2002

al-Ghazali. Ihya’ Ulumu al-Din. Jilid III. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

Asmaran As, Drs. MA. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada,

1996

http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN1.html

Permadi, K.Drs. S.H. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta: Rineka Cipta, 2004

Rosihon Anwar, Drs. M.Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag. Ilmu Tasawuf.

Bandung: Pustaka Setia, 2000.

Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. Jakarta: RajaGrafindo

Persada, 1996