TUGAS BIOLOGI PERKEMBANGAN HEWAN TROPIS

PERKEMBANGAN LARVA PADA PEMBENIHAN IKAN KERAPU

OLEH : RACHMAWATI NASUTION ( P2BA11049 )

PROGRAM PASCA SARJANA BIOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

PERKEMBANGAN LARVA PADA PEMBENIHAN IKAN KERAPU PENDAHULUAN Teknologi pembenihan ikan kerapu saat ini masih mengandalkan induk dari laut. Kenyataannya induk dari laut sudah mulai sulit diperoleh dan hanya ada di perairan tertentu saja. Selain itu diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa matang gonad hingga memijah jika hanya mengandalkan induk dari laut. Oleh karena itu beberapa upaya dilakukan guna mengatasi kebutuhan akan ketersediaan benih-benih ini. Mengingat ikan kerapu merupakan salah satu ikan komersil yang permintaannya cukup tinggi di pasaran. Fertilisasi ikan kerapu berlangsung diluar tubuh induknya, jumlah telur yang dihasilkan dalam satu kali pemijahan berkisar antara ratusan hingga ratusan ribu buah. Hal ini mengakibatkan berbagai resiko lingkungan yang tinggi pada telur-telur yang dilepaskan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi diantaranya perubahan lingkungan fisik, kimia, dan berbagai faktor-faktor biologis lain seperti predator. Hal ini penting sebagai acuan agar dapat mengkondisikan perkembangan telur kerapu hingga dewasa berjalan dengan baik. Kajian-kajian mengenai usaha untuk menyediakan induk kerapu dari hasil budidaya dan beberapa generasi keturunanya telah berhasil dilakukan. Hasil pemijahan induk pertama (F1) telah berhasil menghasilkan benih turunan kedua (F2) yang dapat dijadikan induk pula. Dengan demikian diharapkan dari penelitian-penelitian tersebut kita bisa menganalisis perkembangannya mulai dari sel telur, larva, hingga kerapu dewasa. Selain melihat hasil perkembangan dari beberapa turunan dari generasi yang berbeda, paper ini juga menunjukkan bagaimana perkembangan ikan kerapu hasil dari beberapa generasi keturunan dan perkembangan larya yang diinkubasi berbagai perlakuan suhu yang berbeda. Nikolsky (1963) menyatakan bahwa embriogenesis merupakan masa perkembangan sejak pembuahan sampai ikan mendapakan makanan dari luar. Tahapan perkembangan merupakan suatu proses. Bila suatu proses perkembangan mulai berlangsung, maka akan terjadi berubahan secara terus menerus dari waktu ke waktu. Pada tulisan ini tahapan perkembangan yang terjadi dibatasi pada proses setelah pembuahan hingga penetasan, meliputi tahapan cleavage, stadia morula, stadia blastula, stadia gastrula dan organogenesis pada ikan kerapu.

RACHMAWATI .N P2BA11049

Proses Pembelahan Pembelahan merupakan suatu rangkaian proses mitosis yang berlangsung berturutturut setelah terjadi fertilisasi. Pembelahan zigot terjadi secara cepat, pembelahan menghasilkan sel anak disebut morula dan sel anak disebut blastomer. Besar morula tidak jauh berbeda dengan besar zygot karena selama pembelahan berlangsung, zona pelusida tetap utuh dan blastomer-blastomer saling terikat. Kecepatan pembelahan berbeda-beda tergantung dari tipe sel telur atau jumlah dan penyebaran yolk dalam sitoplasma sel telur. Makin banyak jumlah yolk makin lambat kecepatan pembelahannya (Effendie 1997). Bila kita amati di bawah mikroskop proses pembelahan pada suatu individu memang terjadi secara cepat tiap fasenya. Sehingga kita harus jeli dalam mengindentifikasi tiap tahapan. Pembelahan yang berlangsung pada ikan merupakan pembelahan diskoidal meroblastik. Pembelahan hanya berlangsung pada blastodisk yang terdapat pada kutub anima telur, sedangkan yolk tidak turut membelah (Gilbert, 1985). Sel telur ikan mengandung cukup banyak yolk dan tersebar, tetapi banyak yang tertimbun di daerah vegetal sehingga disebut mesolesithal. Sel-sel telur yang dikeluarkan dari induknya masih belum mengalami fertilisasi, karena itu sekali pun selsel telur itu telah dikeluarkan dari tubuh induknya, tidak akan dapat berkembang menjadi individu baru sebelum mengalami fertilisasi. Penyerapan Kuning Telur Larva yang baru menetas memiliki cadangan nutrisi endogen yang berasal dari kuning telur dan butir minyak. Larva yang baru menetas akan tergantung pada kantung kuning telur untuk tumbuh dan berkembang. Tiga jam setelah menetas kuning telur kantung butiran minyak diserap. Saat proses penyerapan kuning telur berlangsung terjadi pula pengembangan untuk sistem pencernaan, mata, bukaan mulut dan pigmen juga terjadi. Mulut akan dibuka sebelum kantung kuning telur benar-benar digunakan sementara pigmen mata belum terlihat. Penyerapan kuning telur dan butiran minyak larva ikan kerapu lebih cepat pada awal. Penyerapan terjadi sampai umur 33 jam setelah menetas, kemudian penyerapan mulai lambat sampai kuning telur habis. Cepatnya penerapan kuning telur ini, erat hubungannya dengan pertumbuhan larva. Cepatnya pertambahan panjang larva sampai umur 33 jam setelah menetas disebabkan karena sumber nutrien dari kuning telur lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan panjang. Larva pada saat itu belum aktif bergerak dan organ-organ tubuh lainnya belum berkembang. Ketika larva berumur lebih dari 33 jam, sumber nutrien dari kuning telur lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan, pembentukan

RACHMAWATI .N P2BA11049

organ-organ tubuh dan larva mulai aktif berenang. dengan meningkatnya umur larva.

Penyerapan kuning telur meningkat

Beberapa pendapat berbeda menyatakan waktu yang beda tentang penyerapan kuning telur ini, ada yang menyatakan kuning telur larva ikan kerapu habis terserap pada umur tiga hari (60-64 jam setelah menetas). Adanya perbedaan lama waktu habisnya kuning telur disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan, terutama perbedaan suhu dan salinitas. Penyerapan cepat ketika kondisi lingkungan berada pada kondisi optimum. Pengaruh Waktu dan Suhu Inkubasi Berbeda Minjoyo dkk. (1999) melaporkan bahwa telur kerapu bebek akan menetas setelah inkubasi selama 17-19 jam dengan suhu 27-29 0C , 17 jam 45 menit pada suhu 27-30,5 0C ( Tridjoko et al, 1996). Hal ini tidak berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan Regina et all ., (2010) menunjukkan bahwa telur yang diinkubasikan pada suhu tinggi yakni 24-310C menghasilkan pola perkembangan embrio yang teratur, sedangkan pada suhu 21220C perkembangan embrio terhenti pada stadia blastula atau gastrula atau embrio terus berkembang tetapi menghasilkan larva yang tidak normal tubuhnya. Suhu inkubasi 24-250 C dapat dimanfaatkan untuk menunda waktu tetas. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk transportasi telur jarak jauh, meskipun tingkat penetasan telurnya lebih rendah. Kisaran suhu optimum bagi penetasan telur kerapu lumpur, kerapu batik, kerapu macan dan kerapu bebek adalah 24-310C, sedangkan batas toleransi suhu terendah dalam kaitannya untuk mengatur masa inkubasi dan perencanaan waktu tetas adalah 240C. Jadi, inkubasi telur kerapu tergantung pada suhu media. Perbedaan suhu inkubasi ini akan berpengaruh pada pola perkembangan embrio dan masa inkubasi telur ikan kerapu. Secara umum terlihat bahwa pada telur yang diinkubasikan pada suhu yang lebih tinggi perkembangan embrionya terjadi lebih cepat dibandingkan dengan yang diinkubasi pada suhu yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena pada suhu yang lebih tinggi proses metabolisme terjadi lebih cepat. Suhu yang lebih rendah akan memperlambat proses perkembangan embrio, karena energi yang diperlukan dalam metabolisme relatif kurang. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Doi dan Singhagraiwan ( 1993), bahwa tinggi suhu akan mempercepat perkembangan telur, suhu, waktu inkubasi, juga dipengaruhi oleh salinitas dan spesies. Tidak dipungkiri bahwa faktor lingkungan ini akan mempengaruhi perkembangan telur.

RACHMAWATI .N P2BA11049

Perkembangan Larva Pemijahan pada ikan kerapu terjadi malam hari, yaitu dari pukul 22.00 sampai dengan 4.00, saat tersebut terjadi perkembangan. Ciri-ciri telur yang telah dibuahi berbentuk bulat, transparan, mengapung di permukaan air sedangkan yang tidak dibuahi berwarna putih dan tenggelam di dasar. Telur yang dibuahi ini akan berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva. Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang dan gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari. Effendie (1997), mengatakan bahwa perkembangan larva terdiri dari dua tahap yaitu prolarva dan post larva. Prolarva adalah larva yang masih mempunyai kuning telur dan tubuh transparan. Post larva adalah larva yang kuning telurnya telah habis dan organ-organ tubuhnya telah terbentuk sampai larva tersebut memiliki bentuk. Selama perkembangan embrio akan melewati beberapa tahap. Lamanya perkembangan embrio untuk larva bervariasi, tergantung pada ukuran yolk sack. Setiap stadia perkembangan embrio memiliki karakteristik tertentu. Sedangkan Lies dan Rennis (1983) membagi perkembangan larva ikan kerapu atas 4 fase yaitu; (l) fase yolk sack yaitu mulai dari menetas hingga kuning telur habis, (2) fase prefleksion yaitu dimulai dari kuning telur habis terserap sampai terbentuk spin, (3) fase fleksion yaitu dimulai dari terbentuknya spin, calon sirip ekor, perut dan punggug sampai hilangnya spina, (4) fase pasca fleksion yaitu dimulai dari hilang atau tereduksinya spina sampai menjadi juvenil. Kedua pendapat ini menghubungkan perkembangan dengan melihat kandungan kuning telur yang ada pada larva kerapu. Tampaklah bahwa kuning telur ini memegang peranan penting pada tahapan perkembangan larva ikan. Telur yang sudah dibuahi akan berkembang menjadi embrio, kemudian menetas setelah sempurna. Pembelahan zigot berlangsung cepat, dari proses pembelahan ini dihasilkan kelompok sel anak yang disebut morula dan sel anak disebut blastomer (Effendie, 1997). Blastomer akan terlihat dalam sekitar 15 menit setelah pembuahan. Tahap blastula akan berkembang menjadi gastrula, pada tahap ini sel telur, 1/4 dari tubuhnya diliputi blastoderm. Gastrula akhir terbentuk ketika blastoderm yang telah mencakup sekitar ¾ dari telur. Setelah gastrula pengembangan terus berlanjut ke tahap embrio atau organogenesis. Selama perkembangan embrio, kepala dan ekor terbentuk bersamaan.

RACHMAWATI .N P2BA11049

Perkembangan embrional telur sejak pembuahan hingga penetasan membutuhkan waktu setidaknya 19 jam. Pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan dan pembelahan berikutnya berlangsung setiap 15-30 menit hingga mencapai tahap multi sel selama 2 jam 25 menit sejak penetasan. Setelah tahap multi sel, tahap berikutnya adalah blastula, gastrula, neurula dan embrio. Gerakan pertama pada embrio akan terjadi 16 jam setelah pembuahan. Selanjutnya telur akan menetas menjadi larva pada 19 jam setelah pembuahan (Akbar, 2001). Stadia larva umur H3 sampai dengan H7, persediaan kuning telur sebagai cadangan makanannya telah terserap habis. Bukaan mulut larva juga masih kecil serta organ pencernaanya belum berkembang sempurna sehingga belum dapat memanfaatkan pakan yang tersedia secara maksimal. Larva umur H10 – H12 mulai tumbuh spina calon sirip punggung dan sirip dada mulai tumbuh semakin panjang. Larva umur H21 – H25 terjadi metamorphosis yaitu spina tereduksi menjadi tulang sirip punggung dan sirip dada pada kerapu muda. Larva umur lebih dari 35 hari, sifat kanibalnya sudah mulai tampak. Benih yang ukurannya lebih besar akan memangsa yang lebih kecil.

RACHMAWATI .N P2BA11049

Gambar 1.

Stadia perkembangan embrio ikan kerapu.

A) fertilisasi, B ) 1 sel, C ) 2 sel, D) 4 sell, E) 8 sell, F) 32 sel, G) 64 sel, H) morula, I) blastula, J) gastrula, K) formasi embrio, L ) pembentukan kepala dan ekor, M perkembangan embrio lengkap, N) ekor muncul keluar dari cangkang O) menetas

A

B Gambar 2. Perkembangan Larva

C

(A) Beberapa menit setelah menetas, (B) Umur 1 hari (C)Umur 2 Hari.

RACHMAWATI .N P2BA11049

Perkembangan Telur Kerapu Turunan F0, F1, dan F2 Penelitian Tridjoko (2010) menunjukkan pemijahan induk ikan kerapu bebek dari alam (F-0) , 35 ekor induk kerapu bebek yang dipelihara selama setahun berhasil memijah sebanyak 33 kali. Daya tetasnya antara 15-85% sedangkan pada generasi kedua daya tetas telur antara 0-55%. Telah disinggung sebelumnya bahwa daya tetas ini berhubungan juga dengan pertumbuhan, dimana telur yang mempunyai daya tetas rendah atau dibawah 35% akan berpengaruh terhadap pertumbuhan larva. Hal tersebut berakibat pertumbuhan larva lambat, dan sering terjadi kematian massal atau tidak sampai umur 45 hari. Hasil turunan ke dua (F2) dari kerapu diperoleh jumlah telur yang dihasilkan dari pemijahan induk kerapu bebek generasi pertama lebih sedikit jika dibandingkan dengan induk ikan kerapu bebek tangkapan di alam. Hal tersebut diduga bahwa ukuran induk dari alam lebih besar, disamping faktor lainnya seperti umur ikan dan lain-lain (Tridjoko et al., 1996). Kemungkinan kerapu bebek turunan kedua (F2) masih belum stabil dan masih relatif sedikit, dan diduga bahwa jumlah individu jantan yang siap membuahi masih belum memadai. Bila kita mengacu pada hasil tingkat fertilisasi induk ikan kerapu bebek F0, F1 dan F2 yang dipelihara sudah berhasil memijah dengan tingkat fertilisasi tertinggi 87%, 78% dan 45%. Hal ini membuktikan bahwa induk F0 memperlihatkan hasil yang terbaik. Perkembangan sel telur kerapu bebek turunan kedua (F2) menunjukkan hasil cukup baik. Namun kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan masih relatif rendah. Oleh karena itu dalam manejemen induk kerapu bebek hasil budidaya F1 maupun F2 diperlukan rekayasa hormonal. Rekayasa hormonal merupakan salah satu alternatif dalam menunjang atau mempercepat proses perkembangan oosit. Pelaksanaa rekayasa hormonal ini hendaknya dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangan dari jenis ikannya, sehingga pertumbuhan yang diharapkan sesuai.

RACHMAWATI .N P2BA11049

KESIMPULAN Fertilisasi eksternal terjadi pada ikan kerapu sehinga telur yang dihasilkan dalam jumlah banyak. Faktor lingkungan seperti suhu,waktu inkubasi,salinitas dan lainnya menjadi bagian penting pada proses perkembangan telur hingga mencapai dewasa. Proses penerapan kuning telur ini menentukan pertumbuhan larva kerapu, bahwa kuning telur ini memegang peranan penting pada tahapan perkembangan larva ikan.

DAFTAR PUSTAKA Bulanin, Usman. 2002.Study On The Development Of Embryo And Larva Of The Humpback Grouper And Its Feeding Behaviour. Thesis. University Putra Malaysia. Bulanin, Usman, Saad. CR, Affandi . R , Kamarudin. MS dan AR Alimon. 2003. Perkembangan Larva Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes oltivelis), Selama Proses Penyerapan Kuning Telur. Jurnal lktiologi Indonesia. Vol. 3(1). Bulanin , Usman, Saad , C. R. , M. S. Kamarudin, Affandi. R and A. Sudaryono. 2005. Eggs and Pre Larvae Development for Humpback Grouper, Cromileptes altivelis, (Valencee) Larvae. Aquacultura Indonesiana. Vol 6(3): 115–121. Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian. 1996. Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus). Jakarta. Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama Melianawati Regina, Imanto Teguh Philip, dan Made Suastika. 2010. Perencanaan Waktu Tetas Telur Ikan Kerapu Dengan Penggunaan Suhu Inkubasi Yang Berbeda. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol. 2(2) : 83-91. Tridjoko. 2010. Keragaan Reproduksi Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Dari Alam (F-0), Induk Generasi Pertama (F-1), dan Induk Generasi Kedua (F-2). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol.2 (2) : 17-25. Tridjoko. 2010.Pengamatan Diameter Sel Telur Calon Induk Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Turunan Kedua (F2) Dalam Menunjang Teknologi Pembenihan Kerapu. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010.

RACHMAWATI .N P2BA11049

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful