You are on page 1of 18

BAB 1 PENDAHULUAN Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta

organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot, tendon, jaringan ikat, lemak dan jaringan synovial (jaringan di sekitar persendian). Tumor adalah benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh, tetapi dalam artian khusus tumor adalah benjolan yang disebabkan oleh neoplasma. Secara klinis, tumor dibedakan atas golongan neoplasma dan nonneoplasma misalnya kista, akibat reaksi radang atau hipertrofi. Tumor jaringan lunak dapat terjadi di seluruh bagian tubuh mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tumor jaringan lunak ini ada yang jinak dan ada yang ganas. Tumor ganas atau kanker pada jaringan lunak dikenal sebagai sarcoma jaringan lunak atau Soft Tissue Sarcoma (STS). Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang jarang ditemukan, insidensnya hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan yang ditemukan pada orang dewasa dan 7-15% dari seluruh keganasan pada anak. Bisa ditemukan pada semua kelompok umur. Pada anak-anak paling sering pada umur sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak pada umur 45-50 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada anggota gerak bawah yaitu sebesar 46% di mana 75% ada diatas lutut terutama di daerah paha. Di anggota gerak atas mulai dari lengan atas, lengan bawah hingga telapak tangan sekitar 13%. 30% di tubuh bagian luar maupun dalam, seperti pada dinding perut, dan juga pada jaringan lunak dalam perut maupun dekat ginjal atau yang disebut daerah retroperitoneum. Pada daerah kepala dan leher sekitar 9% dan 1% di tempat lainnya, antara lain di dada.

1

Otot Otot ialah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi bergerak.1 Definisi Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan tulang serta organ tubuh bagian dalam.3 Etiologi Etiologi Soft Tissue Tumor : 1. semua ini diikat menjadi berkas-berkas serabut kecil oleh sejenis jaringan ikat yang mengandung unsur kontraktil 2. 2. berkilap. Yang tergolong jaringan lunak antara lain adalah otot. jaringan ikat. anatomi fisiologi jaringan lunak adalah sebagai berikut : 1. 2. Otot terdiri atas serabut silindris yang mempunyai sifat yang sama dengan jaringan yang lain. dan jaringan lemak. Tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel baru. dan terdiri dari jaringan areolar dan serabut elastis. tendon ini berupa serabut-serabut simpai yang berwarna putih. Jaringan ikat Jaringan ikat melengkapi kerangka badan. dan tidak elastis.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Tendon Tendon adalah pengikat otot pada tulang. 3. tendon. Pearce (2008:15). Kondisi genetik 2 .2 Anatomi Fisiologi Menurut Evelyn C.

Trauma Hubungan antara trauma dan Soft Tissue Tumors nampaknya kebetulan. seperti pada dinding perut. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada anggota gerak bawah yaitu sebesar 46% dimana 75%-nya ada di atas lutut terutama di daerah paha. Pada anak-anak paling sering pada umur sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak pada umur 45-50 tahun. 30% di tubuh bagian di bagian luar maupun dalam. 2.5 Patofisiologi 3 . dan juga pada jaringan lunak di dalam perut maupun dekat ginjal atau yang disebut daerah retroperitoneum. bahwa gen memiliki peran penting dalam diagnosis.4 Epidemiologi Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang jarang ditemukan. 4. Radiasi Mekanisme yang patogenik adalah munculnya mutasi gen radiasi-induksi yang mendorong transformasi neoplastik. 2. 5. Lingkungan Sebuah hubungan antara eksposur ke berbagai karsinogen dan setelah itu dilaporkan meningkatnya insiden tumor jaringan lunak. lengan bawah hingga telapak tangan sekitar 13%. 3. Pada daerah kepala dan leher sekitar 9% dan 1% di tempat lainnya. dalam daftar laporan gen yang abnormal. Bisa ditemukan pada semua kelompok umur. insidensnya hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan yang ditemukan pada orang dewasa dan 7-15 % dari seluruh keganasan pada anak. Infeksi Infeksi virus Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya lemah juga akan meningkatkan kemungkinan tumor jaringan lunak.Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah faktor predisposisi untuk beberapa tumor jaringan lunak. Di anggota gerak atas mulai dari lengan atas. Trauma mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada. 2. antara lain di dada.

Tumor jaringan lunak timbul di lokasi seperti lekukan-lekukan tubuh. terutama daerah paha. akan tetapi lebih sulit dikerjakan. Metastasis jauh. dan 30% di badan. 2. Setelah tumor mencapai batas anatomis dari tempatnya. Tumors jaringan lunak tumbuh centripetally. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan.Pada umumnya tumor-tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumors (STT) adalah proliferasi jaringan mesenkimal yang terjadi di jaringan nonepitelial ekstraskeletal tubuh. meskipun beberapa tumor jinak. 2. 20% di ekstermitas atas. Invasi lokal. 3. meskipun kira-kira 40% terjadi di ekstermitas bawah. dan gatal bertambah apabila berkeringat. maka tumor membesar melewati batas sampai ke struktur neurovascular. 10% di kepala dan leher. Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar dekstrosa Sabouraud. terutama pada kulit yang lembap. Perubahan ganas pada sel-sel target. disebut sebagai transformasi. 2. Pertumbuhan dari sel-sel transformasi. Karena gatal dan digaruk. Anamnesa Dari anamnesa didapatkan rasa gatal yang sangat mengganggu. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit dengan KOH 10%.2 Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. seperti serabut luka. maka timbul lesi sehingga lesi bertambah meluas. Gejala klinis yang khas 3. Dapat timbul di tempat di mana saja. Proses alami dari kebanyakan tumor ganas dapat dibagi atas 4 fase yaitu : 1. lebih bila positif memperlihatkan elemen jamur berupa hifa panjang dan artrospora (hifa yang 4 .6 Diagnosis Diagnosis ditegakkaan berdasarkan: 1. bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita. 4.5 Biakan memberikan hasil lebih cukup lengkap.

Bila ganas. Jaringan hasil biopsi diperiksa oleh ahli patologi anatomi dan dapat diketahui apakah tumor jaringan lunak itu jinak atau ganas. berkembang menjadi benjolan yang keras. Bila jinak maka cukup hanya benjolannya saja yang diangkat.8 Diagnosa Metode diagnosis yang paling umum selain pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan biopsi. yang sangat berguna untuk menentukan tindakan selanjutnya. 2. Hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit. hasil diperoleh dalam waktu lebih lama dan sensitivitasnya kurang (± 60%) bila dibandingkan dengan cara pemeriksaan sediaan langsung. bisa dapat dengan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) atau biopsi dari jaringan tumor langsung berupa biopsi insisi yaitu biopsi dengan mengambil jaringan tumor sebagian sebagai contoh bila ukuran tumornya besar. 5 . tetapi bila ganas setalah dilakukan pengangkatan benjolan dilanjutkan dengan penggunaan radioterapi dan kemoterapi. tidak cepat membesar.2 2. dapat juga dilihat dan ditentukan jenis subtipe histologis tumor tersebut. yang biasanya terjadi akibat pendarahan atau nekrosis dalam tumor. Tumor jinak jaringan lunak biasanya tumbuh lambat. liver maupun tulang. dapat menyebabkan borok dan perdarahan pada kulit diatasnya. Bila ukuran tumor kecil. bila diraba terasa lunak dan bila tumor digerakan relatif masih mudah digerakan dari jaringan di sekitarnya dan tidak pernah menyebar ke tempat jauh. dan bisa juga karena adanya penekanan pada saraf-saraf tepi. umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Umumnya pertumbuhan kanker jaringan lunak relatif cepat membesar.7 Manifestasi Klinis Gejala dan tanda kanker jaringan lunak tidak spesifik. dan bila digerakkan agak sukar dan dapat menyebar ke tempat jauh ke paru-paru. tergantung pada lokasi di mana tumor berada.mahal biayanya. Kalau ukuran kanker sudah begitu besar. dapat dilakukan biopsi dengan pengangkatan seluruh tumor.

Jika kanker telah menyebar ke area lain dari tubuh. Kemoterapi Kemoterapi dapat digunakan dengan terapi radiasi. 1. terapi radiasi telah ditemukan untuk memperbaiki tingkat lokal. Jika memungkinkan.2. 6 . Penting untuk mendapatkan margin bebas tumor untuk mengurangi kemungkinan kambuh lokal dan memberikan yang terbaik bagi pembasmian dari tumor.10 Komplikasi Penyebaran atau metastasis kanker ini paling sering melalui pembuluh darah ke paru-paru . Terapi Radiasi Terapi radiasi dapat digunakan untuk operasi baik sebelum atau setelah shrink Tumor operasi apapun untuk membunuh sel kanker yang mungkin tertinggal. Dalam beberapa studi. 2. dan kemoterapi. Tergantung pada ukuran dan lokasi dari tumor. pengobatan untuk jaringan lunak tumor tergantung pada tahap dari tumor. jarang sekali. dapat digunakan untuk merawat tumor yang tidak dapat dilakukan pembedahan. dan tulang. tetapi tidak mungkin untuk membasmi penyakit. terapi radiasi. diperlukan untuk menghapus semua atau bagian dari lengan atau kaki. mungkin. Terapi Pembedahan (Surgical Therapy) Bedah adalah yang paling umum untuk perawatan jaringan lunak tumors. Tahap tumor yang didasarkan pada ukuran dan tingkatan dari tumor.9 Penatalaksanaan Secara umum. kemoterapi dapat digunakan untuk Shrink Tumors dan mengurangi rasa sakit dan menyebabkan kegelisahan mereka. baik sebelum atau sesudah operasi untuk mencoba bersembunyi di setiap tumor atau membunuh sel kanker yang tersisa. tetapi belum ada yang berpengaruh pada keseluruhan hidup. Jarang menyebar melalui kelenjar getah bening. dokter akan menghapus kanker dan margin yang aman dari jaringan sehat di sekitarnya. 3. ke liver. Dalam beberapa kasus. Penggunaan kemoterapi untuk mencegah penyebaran jaringan lunak tumors belum membuktikan untuk lebih efektif. 2. Pengobatan pilihan untuk jaringan lunak tumors termasuk operasi.

resiko kekambuhan setelah dilakukan tindakan operasi masih dapat terjadi.11 Prognosis Pada kanker jaringan lunak yang sudah lanjut.12 Contoh Soft Tissue Tumor 1. 2. dengan ukuran yang besar.2. liver atau tulang. Oleh karena itu setelah operasi biasanya penderita harus sering kontrol untuk memonitor ada tidaknya kekambuhan pada daerah operasi ataupun kekambuhan ditempat jauh berupa metastasis di paru. Fibrosarkoma 7 . Lipoma 2. Fibroma Desmoplastik 3. Liposarkoma 4.

CM Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Suku Bangsa Agama Pendidikan : NMK : 053975 : 57 Tahun : Perempuan : Br. bokong dan ketiak kiri sejak tiga bulan yang lalu Pada awalnya di lipatan paha.2 Anamnesis Keluhan Utama : Gatal pada lipatan paha. Gatal dirasakan hilang timbul dan bila terkena keringat gatal yang muncul makin hebat.BAB 3 LAPORAN KASUS 3. Babakan Kangin. Badung : Pedagang : Bali : Indonesia : Hindu : Tamat SD Tanggal Pemeriksaan : 16 Juli 2012 3. bokong dan ketiak kiri. Perjalananan Penyakit : Penderita mengeluh gatal pada lipatan paha. bokong dan ketiak kiri muncul bercak kemerahan yang makin lama makin luas. 8 .1 Identitas Penderita Nama No.

reguler : 20 kali permenit : 36. 3. jantung. ikterus -/: dalam batas normal : Cor Pulmo teraba : dalam batas normal : S1S2 normal. murmur (-) : vesikuler +/+. Riwayat Penyakit dalam keluarga : Di keluarga tidak ada yang mengalami kelainan yang sama dengan penderita. dan diabetes mellitus disangkal penderita. hipertensi. Riwayat Penyakit Terdahulu : Penderita belum sempat mengobati penyakitnya. hepar dan lien tidak 9 . ronkhi -/-. Riwayat penyakit sistemik seperti asma. wheezing -/: Baik : Compos Mentis : 84 kali permenit. Riwayat pemakaian minyak oles.6°C : 70 Kg : distensi (-).3 Pemeriksaan Fisik Status Present Keadaan Umum Kesadaran Nadi Respirasi Temperatur aksila BB Status General Kepala Mata THT Thorax Abdomen Ekstremitas Status Dermatologi : Normocephali : anemia -/-. : Penderita belum pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.Riwayat Pengobatan boreh disangkal. bising usus (+) normal.

batas tegas. Effloresensi Penyakit Pasien pada Regio Gluteal Sinistra dan Dextra 10 . Kelenjar Limfe 7.4 cm. aksila sinistra :Plak hiperpigmentasi. gluteal sinistra et dextra. Mukosa 3. Rambut 4. bentuk geografika. 2. diameter 0. multipel. Lokasi Effloresensi : Regio inguinal sinistra et dextra. Dtutupi skuama tipis warna putih dan tampak central healing. Saraf : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal Gambar 1. Fungsi Kelenjar Keringat 6. ukuran 3x4 – 6x8 cm. Kuku 5. bagian tepi tampak multipel papul eritema bentuk bulat.1.

Kandidosis intertriginosa 4.Gambar 2.4 Diagnosis Banding 1. Effloresensi Penyakit Pasien pada Regio Aksila Sinistra 3. Eritrasma 3. KOH 10% 11 . Psoriasis vulgaris 3. Tinea kruris et korporis 2.5 Pemeriksaan Penunjang 1.

Pasien mengaku belum pernah menggunakan obat untuk mengurangi gatal-gatalnya. bagian tepi tampak multipel papul eritema bentuk bulat.6 Resume Penderita perempuan. pakaian yang telah dipakai langsung dicuci.Memakai pakaian tipis yang longgar dan mudah menyerap keringat. ukuran 3x4 – 6x8 cm. Penderita belum pernah mengalami keluhan seperti ini.7 Diagnosis Kerja Tinea Cruris et Corporis 3. mengeluh gatal pada daerah lipatan paha. Hindu. Keluhan dirasakan hilang timbul. 12 . Dtutupi skuama tipis warna putih dan tampak central healing. gluteal sinistra et dextra. Bali.8 Penatalaksanaan Topikal Sistemik KIE : Terbenafin 20 gram Asam salisilat 3 % : Mebhydrolin napadisylate 2 x 50 mg : . Jika berkeringat sebaiknya penderita berganti pakaian. Pemeriksaan gram Pada pasien ini hanya dilakukan pemeriksaan penunjang KOH 10% dengan hasil terdapat gambaran hifa panjang bersegmen (+) positif dan spora (+) positif. bokong dan ketiak kiri sejak tiga bulan yang lalu Pada awalnya di lipatan paha.2. 3. bokong dan ketiak kiri muncul bercak kemerahan yang makin lama makin luas dan bila terkena keringat gatal yang muncul makin hebat. aksila sinistra :Plak hiperpigmentasi. batas tegas. 57 tahun. multipel. Kultur jamur 3. Status Dermatologi : Lokasi Effloresensi : Regio inguinal sinistra et dextra. Pemeriksaan KOH 10% tampak hifa panjang bersegmen (+) positif dan spora (+) positif. diameter 0. Riwayat asma pada pasien disangkal. Menghindari berkeringat yang berlebihan. 3.4 cm. bentuk geografika.

3.9 Prognosis Meningkatkan higiene dan memperbaiki makanan Prognosis dari kelainan ini adalah dubius ad bonam. 13 .

bentuk geografika. bokong dan ketiak kiri. Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa penderita mengeluh gatal pada bokong dan ketiak kiri. Meningkatnya kelembaban akibat berkeringat dan higiene yang buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya tinea. dengan bagian tepi tampak multipel papul eritema bentuk bulat. didapatkan letak lesi pada lipatan paha kanan kiri. Pada regio inguinal dan gluteal sinistra dan dextra tampak effloresensi berupa plak hiperpigmentasi. ukuran 3x4 – 6x6 cm. Keluhan gatal sudah dialami selama ± 3 bulan Awalnya berupa bercak kemerahan yang makin lama makin besar. bokong. Terhadap pasien dilakukan anamnesis. Dari status dermatologi didapatkan lesi di aksila sinistra dengan effloresensi berupa plak hiperpigmentasi. apabila lesi terkena keringat maka akan bertambah gatal. tepi aktif dan tampak central healing. Sedangkan tempat predileksi Tinea Cruris ialah area genitokrural. pemeriksaann fisik. Berdasarkan pemeriksaan fisik. Pasien tidak memiliki riwayat alergi maupun penyakit asma. dan pemeriksaan penunjang. dimana rasa gatal tersebut bertambah hebat apabila penderita berkeringat. yang kemudian didiagnosis Tinea Cruris et Corporis. diameter 0. ukuran 3x5 – 6x8 cm ditutupi skuama putih halus. sekitar anus. Tampak skuama halus dan erosi. Berdasarkan riwayat sosial penderita. badan. Selain itu dari efloresensi didapatkan lesi dengan tepi aktif dan central healing yang 14 . Dimana tempat predileksi Tinea Corporis ialah daerah leher. bokong dan ketiak kiri yang menunjang diagnosis ke arah Tinea Cruris dan Tinea Corporis. Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa pada tinea gejala yang muncul berupa gatal. batas tegas bentuk bulat geografika. batas tegas. pasien NMK. dan lengan.4 cm. perempuan 57 tahun datang ke poli kulit Rumah Sakit Indera Denpasar dengan keluhan utama gatal pada lipatan paha. Selain itu terdapat bercak kemerahan yang makin lama makin meluas yang mendukung bahwa disini terdapat tepi yang aktif yang membuat lesi makin meluas. dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.BAB 4 PEMBAHASAN Pada tanggal 16 Juli 2012. Dari pemeriksaan KOH 10 % didapatkan hifa panjang bersegmen dan spora. sehari-hari penderita bekerja sebagai pedagang sayuran di pasar badung sehingga sering berkeringat.

basah. dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer. Kelainan berupa tinea korporis dapat muncul secara bersamaan dengan tinea kruris dan pada penderita ini kejadian tinea kruris dan korporis terjadi bersamaan sehingga dapat didiagnosis dengan tinea cruris et corporis. jika berkeringat sebaiknya penderita segera berganti pakaian.5 Pada pasien ini penatalaksanaan yang dilakukan adalah dengan memberikan obat secara topikal dan sistemik. dan eritematosus. hal ini sesuai dengan teori bahwa pada tinea korporis terdapat daerah tengah yang biasanya lebih tenang. tidak dipakai berkali-kali. Selain itu penderita diberikan penjelasan mengenai penyakitnya bahwa penyakit jamurnya membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. sementara yang di tepi lebih aktif (tanda peradangan lebih jelas) yang sering disebut dengan central healing.karena dari status dermatologinya kita tidak mendapatkan adanya lesi satelit. misalnya lutut. bersisik.5 Untuk mendiagnosis tinea korporis terkadang kita dibingungkan dengan psoriasis vulgaris karena penyakit ini predileksinya adalah di daerah ekstensor. dan punggung.diperkuat dengan hasil pemeriksaan KOH yang positif. Obat topikal yang diberikan adalah terbenafin 20 gram yang dicampur dengan asam salisilat 3% dalam bentuk krim yang dioleskan dua kali sehari dan obat sistemik yang diberikan adalah mebhidrolin napadisylate 2 x 50 mg. Selanjutnya yang juga penting adalah memberikan KIE kepada penderita untuk menghilangkan faktor predisposisi tinea seperti meningkatnya kelembapan dan hiegiene yang buruk dengan memakai pakaian tipis yang longgar dan mudah menyerap keringat. Di dalam mendiagnosis tinea kruris kadang kita dibingungkan dengan kandidosis intertriginosa karena memiliki predileksi yang sama-sama terjadi didaerah lipatan paha dan memiliki bentuk klinis yang mirip yaitu bercak yang berbatas tegas. sedangkan untuk dapat mendiagnosis kandidosis intertriginosa paling tidak kita menemukan adanya lesi satelit. karena hal tersebut yang membedakan tinea kruris dengan kandidosis intertriginosa. siku.5 Tetapi dapat kita singkirkan karena bila dilihat dari effloresensinya tidak terdapat tepi aktif ataupun sentral healing tapi pada tinea korporis memiliki effloresensi berupa tepi aktif dan central healing. Yang menyebabkan pada penderita tidak dapat didiagnosis kandidosis intertriginosa. Dimana lesi satelit tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif. pakaian yang telah dipakai langsung dicuci. sehingga 15 .

penderita diharapkan patuh berobat. 16 . Prognosis dari penderita ini umumnya baik jika penderita rutin berobat terus sampai penyakitnya sembuh dan faktor predisposisi dihilangkan.

Penderita didiagnosis dengan tinea korporis et cruris berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan mendukung ke arah diagnosis tersebut.BAB V RINGKASAN 5. Faktor predisposisi pada penderita adalah meningkatnya kelembaban akibat penderita sering berkeringat dan hiegiene yang buruk. Obat topikal yng diberikan adalah terbinafin 20 gram dicampur dengan asam salisilat 3% dalam bentuk krim sedangkan untuk obat sistemik diberikan mebhidrolin napadisilat 2x50 mg. selain itu penting juga ditekankan untuk meningkatkan kebersihan perorangan dan lingkungan. Prognosis penderita dubius ad bonam. dan cara pengobatannya. lipatan paha dan bokong yang terasa semakin berat apabila terkena keringat dan timbulnya bercak kemerahan yang membesar. Pemberian KIE sangat penting daam kasus ini.2 Saran Pada penanganan penderita Tinea Cruris et Corporis hal yang sangat penting adalah pengobatannya sampai tuntas yang dilakukan dengan memberikan KIE kepada penderita mengenai etiologi.1 Simpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari kasus ini adalah: 1. 4. perjalanan penyakit. hal ini disebabkan karena penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk sembuh dan angka kekambuhannya cukup tinggi dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi dan kesabaran serta ketaatan penderita untuk berobat. Dari pemeriksaan fisik. 5. 2. 3. Dari anamnesis didapatkan gatal di sekitar ketiak. 17 . Penatalaksamaa yang diberikan pada penderita adalah dengan pengobatan topikal dan sistemik. 5. status dermatologi didapatkan gambaran lesi berupa plak eritema dengan tepi yang aktif dan tampak central healing yang ditunjang dengan pemeriksaan KOH yang positif terdapat hifa panjang bersegmen dan spora.

1992. Jakarta: Yayasan Penerbit IDI 2. Penyakit Jamur. 2003.gov/pubmed/ 12537173 (akses 16 Juli 2012) 18 .nm. Hal 17-31 8. Kasansengari US dkk. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Penyakit Kulit Dan Kelamin RSUP Denpasar. 2007. Dermatophyte Infections. Budimulja U. Edisi 2. 2004. EGC: Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1.ncbi.Mikologi. Dermatologi Praktis. Duarsa NW dkk. Arjatmo.U. Siregar RS. Djuanda A dkk. Jakarta: Perkumpulan Ahli Dermato – Venereologi Indonesia. Lab/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 6. 5. 2007. Hainer BL. Surabaya: Bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ RS Dr. Soetomo 7. Sunoto DT. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 3. 1996. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 2003. Budimulja. Infestasi Jamur. Kumpulan Naskah Simposium Dermato. Saripati Penyakit Kulit. http://www. Denpasar. 2002. Jakarta (1986).nih. Sularsito SA dkk.