Mimosa Pudica (Tantri

)
Bismillah.. semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya :)

Minggu, 15 Juli 2012
emulsi
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur, meracik formulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi obat serta pengobatan, termasuk pula sifat-sifat obat dan distribusinya serta penggunaannya yang aman. Profesi farmasi merupakan profesi yang berhubungan dengan seni dan ilmu penyediaan atau pengolahan bahan sumber alam dan bahan sintesis yang cocok dan menyenangkan untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan suatu penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulailah muncul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat melakukan pencegahan atupun penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan ataupun mengkonsumsi obat yang diantaranya yaitu obat dalam bentuk sediaan emusi.

Dalam dunia farmasi kita mungkin mengetahui beberapa bentuk sediaan obat yang umunya dipakai dalam pembuatan obat, setiap bentuk sediaan memiliki fungsi dan kegunaannya masingmasing sesuai dengan kebutuhan dan untuk apa obat tersebut dipakai. Salah satu bentuk sediaan dari obat yang sering dijumpai dan sering digunakan adalah emulsi. Emulsi dibuat dengan maksud untuk menyatukan dua fase yang tidak dapat bercampur yaitu fase minyak dan fase air. Emulsi dapat digunakan untuk pemakaian dalam maupun pemakaian luar. Untuk menjaga kestabilan emulsi, digunakan emulgator yang bekerja untuk mengurangi tegangan antar muka fase minyak dan fase air. Emulsi berasal dari kata “emulgeo” yang artinya menyerupai susu, dan warna emusi memang putih seperti susu. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein, dan air. Hingga akhirnya pada pertengahan abad XVIII , seorang ahli farmasi dari perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragakan, dan kuning telur sebagai emulgator. Pada dasarnya sudah menjadi ketentuan umum bahwa yang disebut sebagai “emulsi” menunjukan pada sediaan cair yang dimaksudkan untuk penggunaan oral. Emulsi untuk penggunaan eksternal biasanya langsung disebut sebagai cream (sediaan semisolid), lotion atau liniment (sediaan liquid), hingga akhirnya sediaan emulsi ataupun lotio banyak digunakan oleh kalangan masyarakat dalam penyembuhan suatu penyakit. Pada zaman sebelum adanya pembuatan sediaan cair berupa emulsi rasa minyak yang tidak enak dalam sediaan obat terkadang mempengaruhi masyarakat untuk mengkonsumsinya terutama bagi anak-anak yang sukar menelan sediaan obat yang berupa tablet dan kapsul. Serta banyak keluhan-keluhan dari masyarakat yang anak-anaknya tidak mau mengkonsumsi obat tersebut karena tampilannya kurang menarik.

Selain itu pembuatan emulsi ini didasarkan pada sediaan rasa minyak yang tidak enak dapat tertutupi , lebih mudah diabsorpsi daripada sediaan tablet/kapsul, selain itu pembuatan emulsi ini dapat memperbaiki penampilan sediaan sehingga pasien lebih berminat mengkonsumsinya terutama pada anak-anak seperti adanya pewarna dan perasa. Oleh karena itu dibuatlah emulsi. Dari pengembangan sediaan emulsi ini sehingga masyarakat tidak kesulitan memberikan kepada keluarganya yang berupa anak-anak maupun lansia suatu obat. Dalam pembuatan emulsi yang memiliki keuntungan inilah sediaan emulsi semakin banyak di kembangkan oleh pabrik-pabrik farmasi dengan mengikuti tata cara pembuatan emulsi dan menjaga stabilitas emulsi. Peracikan obat berupa emulsi ataupun lotio ini yang memenuhi persyaratan farmasetik penting diketahui untuk dapat diterapkan pada pelayanan kefarmasian di lingkungan masyarakat.

B. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN PERMASALAHAN

1. Emulsi balsm peruv.

a. -

Permasalahn Meracik balsem. Peruv Menghitung jumlah PGA yang digunakan

b. Penyelesaian permasalahan Dalam meracik balsem peruv, lumpang yang digunakan harus dipanaskan terlebih dahulu dengan cara memberikan sedikit etanol dalam lumping lalu dibakar Dalam mengihtung jumlah PGA, sama banyaknya dengan jumlahnya dalam lemak yang digunakan. 2. Emulsi Champorae

a. -

Permasalahn Menghitung PGA yang digunakan Emulsi dengan bahan tambahan yang larut dalam minyak lemak.

b. Penyelesaian permasalahan Dalam menghitung PGA sama banyaknya jumlahnya dalam lemak yang digunakan Champora larut dalam minyak sesuai dengan kelarutannya. Untuk mempercepat kelarutan champora dalam minyak lemak atau oleum olivae yang menyebabkan campuran titik beku pada champora, sehingga mudah mencair dan larut dalam minyak lemak. 3. a. Emulsi (Cream) Permasalahan b. penyelesaian permasalahan -

BAB II LANDASAN TEORI

Menurut Farmakope Indonesia Edisi III , Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

jika fase dalam berupa air atau larutan dan fase luarnya berupa minyak . Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antar permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fase terdipersinya.Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV . pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Sedangkan. dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi terdiri dari dua fase cairan. yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain. Jika fase dalam berupa minyak atau larutan dalam minyak dan fase luarnya berupa air atau larutan. maka emulsi tersebut adalah emulsi minyak dalam air (M/A). Mekanisme kerja emulgator :  Membentuk lapisan film monomolekuler yaitu emulgator membentuk sebuah lapisan tunggal yang diabsorpsi oleh molekul atau ion pada permukaan antara minyak dan air sehingga menghasilkan emulsi yang lebih stabil karena adanya pengurangan sejumlah energi bebas permukaan dimana tetesan dikelilingi oleh sebuah lapisan tunggal koheren yang mencegah terjadinya penggabungan tetesan yang mendekat. Dalam pembuatan emulsi. fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya. Emulsi adalah sistem dua fase. yaitu fase cairan terdispersi yang disebut fase dalam. Emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam sistem dispersi. Menurut Formularium Nasional Edisi 2 . . dan fase cairan pembawa yang disebut fase luar. umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi. maka emulsi tersebut adalah emulsi air dalam minyak (A/M).

Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam. 2. Emulsi vera (emulsi alam) Emulsi vera dibuat dari biji atau buah. Gom arab yang digunakan adalah separuh jumlah bagian minyak lemak  Emulsi dengan parafinum liquidum Dibuat dengan menggunakan PGA sama berat parafinum liquidum  Emulsi dengan cera atau lemak padat Dibuat dengan melebur lemak padat atau cera di atas penangas air. lini semen. curcubitae semen. Pembentukan Kristal partikel-partikel padat yaitu pembiasan ganda yang kuat dan dapat dilihat secara mikroskopik polarisasi.5 x berat PGA dan dibuat corpus emulsi. amygdale amara. setelah meleleh tambahkan PGA sama berat lemak dan tambahkan segera air panas sebanyak 1. Emulsi yang dibuat dari biji adalah amygdala dulcis. Daerah strukturisasi kristal cair yang berbeda disebabkan oleh adanya pengaruh terhadap distribusi fase emulsi. yaitu : 1. dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur. dengan perbandingan untuk 10 bagian minyak lemak dibuat 100 bagian emulsi. Emulsi spuria (emulsi buatan)  Emulsi dengan minyak lemak Pembuatan emulsi minyak lemak biasanya dengan emulgator gom arab. setelah diencerkan dengan air hangat dimasukkan dalam botol dan dikocok sampai emulsi dingin .

 Emulsi dengan minyak eteris kreosotum . Jumlah air yang digunakan untuk membuat corpus emulsi 1.5% dari berat total emulsi. Jumlah PGA yang digunakan adalah untuk ekstraknya sama berat dan untuk lemak minyaknya separuh berat minyak lemak. Emulsi dikatakan stabil jika :  Tidak ada perubahan yang berarti dalam ukuran partikel atau distribusi partikel dari globul fase dalam selama life time produk. benzylis benzoas Zat-zat dengan benzylis benzoas untuk kulit sebaiknya dibuat dengan trietanolamin dan asam stearat dalam perbandingan 1 : 4  Emulsi dengan balsamum peruvianum copaivae dan terebinthia laricina Dibuat dengan PGA sebanyak 2x berat balsam. . Penambahan minyak lemak sebanyak 7x berat bromoforfum akan menurunkan berat jenis bromoforfum menjadi ± 1. Emulsi dengan extactum spissum Apabila jumlah ektrak sedikit maka digunakan PGA 2. maka ekstrak dicampur dulu dengan minyak lemak dan selanjutnya di emulsi dengan PGA.8 maka sulit dibuat emulsi yang baik maka perlu ditambah minyak lemak sebanyak 10x berat bromoforfum. Setelah corpus emulsi jadi baru diencerkan dengan sisa airnya. Bila disamping ekstrak terdapat minyak lemak. Bila disamping balsam terdapat pula minyak lemak maka PGA yang digunakan adalah jumlah berat dari semua berat untuk balsem dan separuh berat untuk minyak lemak  Emulsi dengan bromoforfum Karena berat jenis bromoforfum 2.5 x berat PGA.

 Mudah mengalir atau tersebar tetapi memiliki viskositas yang tinggi untuk meningkatkan stabilitas fisiknya. Perbedaan bobot jenis kedua fase 3.  Flokulasi dan creaming Flokulasi adalah suatu peristiwa terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak beraturan. Viskositas fase kontinyu . Distribusi globul yang teremulsi adalah homogen.  Inversi fase Infersi fase adalah proses perubahan dimana fase terdispersi berubah fungsi menjadi medium pendispersi dan sebaliknya. Creaming adalah suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbedabeda di dalam emulsi. Ukuran partikel 2.  Faktor – faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Emulsi : 1.  Koalesen dan breaking Koalesen merupakan proses bergabungnya droplet yang akan diikuti dengan breaking yaitu pemisahan fase terdispersi dari fase kontinu. Proses irrevesibel karena lapisan emulgator yang mengelilingi cairan sudah tidak ada.

suhu ada/tidaknya agitasi dan vibrasi 7.4. kemudian ditambahkan sisa bahan yang lain sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai terbentuknya suatu emulsi yang baik. Adanya kontaminasi dan pertumbuhan mikroorganisme. Metode ini dibuat dengan terlebih dahulu dibuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambah minyak sedikit demi sedikit dengan pengadukan yang kuat. yaitu :  Metode gom basah (Anief. Muatan partikel 5. 2000) Cara ini dilakukan bila zat pengemulsi yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan terlebih dahulu dalam air seperti kuning telur dan metilselulosa. Sifat efektifitas dan jumlah emulgator yang digunakan 6. kemudian ditambahkan sisa air dan minyak secara bergantian sambil diaduk sampai volume yang diinginkan. 2 bagian air dan 1 bagian gom. Sebelum dilakukan pencampuran terlebih dahulu dilakukan perhitungan harga HLB dari fase internal kemudian dilakukan pemilihan emulgator yang memiliki nilai HLB yang sesuai . Kondisi penyimpanan.  Metode HLB (Hidrofilik Lipofilik Balance) Cara ini dilakukan apabila emulsi yang dibuat menggunakan suatu surfaktan yang memiliki nilai HLB.  Metode gom kering Teknik ini merupakan suatu metode kontinental pada pemakaian zat pengemulsi berupa gom kering. Penguapan atau pengenceran selama penyimpanan 8.  Metode pembuatan emulsi. Cara ini diawali dengan membuat korpus emulsi dengan mencampur 4 bagian minyak. lalu digerus sampai terbentuk suatu korpus emulsi.

tragakan. memiliki mekanisme kerja menurunkan tegangan permukaan / antar permukaan minyak-air serta membentuk lapisan film monomolekuler ada permukaan globul fase terdispersi. Umumnya emulsi akan berbantuk tipe M/A bila nilai HLB emulgator diantara 9 – 12 dan emulsi tipe A/M bila nilai HLB emulgator diantara 3 – 6. Contoh: bentonit. Golongan surfaktan. CMC.dengan HLB fase internal. membentuk lapisan film mono dan multimolekuler. Contoh : akasia. Golongan Zat Terbagi Halus. Emulgator dapat dibedakan berdasarkan : 1. Surfaktan kationik.  Emulgator Untuk mencegah penggabungan kembali globul-globul diperlukan suatu zat yang dapat membentuk lapisan film diantara globul-globul tersebut sehingga proses penggabungan menjadi terhalang. oleh adanya partikel halus yang teradsorpsi pada antar permukaan kedua fase. contoh : na. Golongan koloid hidrofil. na-stearat. c. Setelah diperoleh suatu emulgator yang cocok. veegum. . Surfaktan non ionic. span 80.lauril sulfat. zat tersebut adalah zat pengemulsi (emulgator). Jenis-jenis surfaktan :  Berdasarkan jenis surfaktan    Surfaktan anionic. setil trimetil ammonium bromide. tylosa. contoh : tween 80. Berdasarkan mekanismenya a. contoh : zehiran klorida. maka selanjutnya dilakukan pencampuran untuk memperoleh suatu emulsi yang diharapkan. na-oleat sulfat. membentuk lapisan film multimolekuler di sekeliling globul yang terdispersi.  Berdasarkan HLB (hidrophyl lipophyl – balance) b.

Dengan Mixer Partikel fase dispersi dihaluskan dengann memasukkan ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi. agar. carbowaxes (PGA). sehingga partikel akan mempunyai ukuran yang sama  Cara Membedakan Tipe Emulsi : .  Adapun cara pembuatan emulsi dapat dilakukan dengan : 1. contoh : gom arab. Mortir dan stamper Sering digunakan membuat emulsi minyak lemak dalam ukuran kecil 2. alcohol (cetyl alcohol.2. tragakan. contoh : metyl selulosa. Dengan Homogenizer Dengan melewatkan partikel fase dispersi melewati celah sempit. Polisakarida semisintetik.carboxymethylselulosa CMC) c. b. dan alkali. Bahan alam. na. Botol Minyak dengan viskositas rendah dapat dibuat dengan cara dikocok dalam botol pengocokan dilakukan terputus-putus untuk memberi kesempatan emulgator untuk bekerja 3. male extract. sabun. Berdasarkan sumber a. lesitin (fosfolipid). 4. Emulgator sintetik : surfaktan. gliserin).

 Keuntungan dan kerugian emulsi : Keuntungan sediaan Emulsi :   Menutupi rasa minyak yang tidak enak Lebih mudah dicerna dan diabsorpsi karena ukuran minyak diperkecil  Memperbaiki penampilan sediaan karena merupakan campuran yang homogen secara visual  Meningkatkan stabilitas obat yang lebih mudah terhidrolisa dalam air. Tipe W/O dapat diencerkan dengan minyak 2. Pemisahan dengan cara creaming bersifat refelsibel. Tipe O/W dapat diencerkan dengan air. Cara creaming test.1. bila ion menyala tipe emulsi O/W demikian sebaliknya. Tipe O/W dapat diwarnai dengan amaranth/metilen blue. 4. Kerugian sediaan Emulsi :  Sediaan emulsi kurang praktis daripada sediaan tablet . Tipe W/O dapat diwarmai dengan sudan III 3. Cara Pengecatan. creaming merupakan peristiwa memisahkan emulsi karena fase internal dari emulsi tersebut melakukan pemisahan sehingga tdk tersebar dlm emulsimis : air susu setelah dipanaskan akan terlihat lapisan yang tebal pada permukaan. Dengan Pengenceran. Konductifitas Elektroda dicelup di dalam cairan emulsi.

 Sediaan emulsi mempunyai stabilitas yang rendah daripada sediaan tablet karena cairan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri  Takaran dosisnya kurang teliti. RESEP EMULSI BALSM PERUV . BAB III METODE PRAKTIKUM A.

e Pro : ridha 4 qs 3 40 60 B. Rahmat Saleh SIP 339/IDI/2001 Jln. u.Dr. KELENGKAPAN RESEP Keterangan :  : Ambillah  M. Malik Raya Kendari R/ Balsem peru PGA Tannin Gliserin Aqua ad s.f.emuls : misce fac emulsi : campur dan buat emulsi R/ : Recipe .

tidak berwarna atau kekuningan. coklat tua. dalam eter minyak tanah p. dan dalam asam asetat glasial p : dalam wadah tertutup baik : antiseptikum ekstern (obat yang digunakan untuk mencegah luka luar agar tidak membusuk) a resmi a sinonim rian utan mpanan iat 2. tidak berbau : larut hampir sempurna dalam air. dalam lapisan tipis berwarna coklat. 102) : BALSAMUM PERUVIANUM : balsam peru : cairan kental. serbuk Gom Akasia : serbuk. lengket. meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah sangat sedikit. kental. tidak berserat. PULVIS GUMMI ACACIAE (FI. URAIAN BAHAN 1. praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter p : dalam wadah tertutup baik : zat tambahan a resmi a sinonim rian utan mpanan gunaan . bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus biru. 718) : PULVIS GUMMI ACACIAE : serbuk Gom Arab. tetapi sangat lambat. transparan. sukar larut dalam eter p. pro : propere : untuk C. Edisi IV Hal. Edisi III Hal. putih atau putih kekuningan. transparan kemerahan. BALSEM PERU (FI. dan memberikan cairan seperti mucillago. lengket. bau aromatic khas menyerupai vanilin : larut dalam kloroform p.

hampir tak berbau dan rasanya sangat kelat : mudah larut dalam air. dan dalam gliserol : dalam wadah tertutup baik. ringan. 594) : TANNINUM : Tannine : sisik yang mengkilap. TANIN (FI. ringan atau serbuk kuning kelabu.3. Edisi V Hal. terlindung dari cahaya : zat tambahan a resmi a sinonim rian utan mpanan iat . dalam spiritus.

5 x 8 = 12 g ∞ 12 mL :3g a resmi a sinonim us molekul molekul rian mpanan 2. manis diikuti rasa hangat.Edisi III Hal. PGA Air untuk PGA 3. tidak mempunyai rasa : Dalam wadah tertutup baik D. Tannin . tidak berwarna. higroskopik. praktis tidak larut dalam kloroform p. tidak berbau. 271) : GLYCEROLUM : gliserol. Air murni : H2O : 18. dan dengan etanol (95%)p. gliserin : cairan seperti sirop. AQUADEST (FI. PERHITUNGAN BAHAN 1 Balsem peru :4g : 2 x BB balsem peru =2 x 4 = 8 g : 1.02 : Cairan jernih. GLISERIN (FI Edisi III Hal. tidak berbau. tidak berwarna.4. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 200 : dapat campur dengan air.96) : AQUA DESTILLATA : Air suling. dalam eter p dan dalam minyak lemak : dalam wadah tertutup baik : zat tambahan a resmi a sinonim rian utan mpanan iat 1. jernih.

Gliserin 5. Timbangan kasar BAHAN 1. Buat corpus emulgator PGA dengan cara timbang PGA 8 g lalu larutkan dengan air panas 13 mL. Aquadest 2. ALAT DAN BAHAN ALAT 1. Tara botol 60 gram 3. Batang pengaduk 2. gerus hingga terbentuk corpus emulgator PGA . Sudip 7. CARA KERJA 1. Kertas perkamen 4. Sendok tanduk 6. Botol 60 g 3. PGA 5. Aqua ad 60 g : 20 g : 60 – (4+12+8+20+3) = 60 – 47 = 13 mL E.4. Siapkan alat dan bahan yang digunakan 2. Lumpang dan alu 5. Balsem peru 3. Gliserin 4. Tanin F.

Beri etiket biru G. Masukkan corpus emulgator dalam balsm peru. kemudian tambahkan tannin 3 g. Timbang balsm peru 4 g.4. Masukan dalam botol 9. gerus gingga homogen 6. lalu kocok 10. Tambahkan aquadest sedikit demi sedikit 8. Tanbahkan gliserin 20 g. masukan dalam lumpang yang berbeda. WADAH Botol 60 g . Cukupkan volumenya dengan aquadest ad 60 g . gerus hingga homogen 5. gerus hingga homogen 7.

113 No : 09 Tgl : 4-5-2012 Nama : Ridha Aturan Pakai : 3 x sehari Dioleskan pada bagian yang sakit Obat Luar . Asrama Haji no.17 Telp. 0401 319093 Apoteker : Tantri SIK : F.H. ETIKET BIRU Apotek Bina Husada Kendari Jln.11.

RESEP NO.SIP 456/IDI/2002 Jln.olivae Sir.A. e Pro : Tika 1 5 15 qs 60 B. KELENGKAPAN RESEP . Andika Pratama .10 Dr. u. Merpati 12 Kendari R/ Camphorae Ol. Simplex PGA Aqua ad s.

Keterangan :    R/ : Recipe : Ambillah S. ditempat sejuk . bau khas. tajam. URAIAN BAHAN 1.24 : CH3 a resmi a sinonim us molekul molekul mus bangun CH3-CCH3 rian : Hablur butir atau massa hablur. dalam 0. rasa pedas dan aromatik : Larut dalam 700 bagian air. sangat mudah larut dalam eter p. atau putih.25 bagian kloroform p. ad us ext : signa adde usus externum : tandai untuk pemakaian luar pro : propere : untuk C. tidak berwarna. mudah larut dalam minyak lemak utan mpanan : Dalam wadah tertutup rapat. dalam 1 bagian etanol (95%)p.130) : CAMPHORA : Kamper : C10H16O : 152.Edisi III Hal. CAMPHORA (FI.

SIRUP SIMPLEX (FI. rasa khas. 718) : PULVIS GUMMI ACACIAE a resmi . bau tengik. OLEUM OLIVAE (FI. kuning pucat atau kuning kehijauan. 452) : OLEUM OLIVAE : Minyak zaitun : cairan. hal. dalam eter p. PULVIS GUMMI ACACIAE (FI.25% b/v secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirup : dalam wadah tertutup baik di tempat yang sejuk a resmi nim rian buatan mpanan 4. mudah larut dalam kloroform p. Edisi III Hal. tidak berwarna : larutkan dalam 65 bagian sakarosa dalam larutan Metil Paraben 0. Edisi III. Edisi IV Hal. pada suhu rendah sebagian atau seluruhnya membeku : sukar larut dalam etanol (95%)p.iat : Antiiritan (obat yang digunakan untuk mengobati iritasi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri atau bahan kimia) 2. 576) : SIRUPUS SIMPLEX : sirup gula : cairan jernih. dan dalam eter minyak tanah p : dalam wadah tertutup baik dan terisi penuh : Zat tambahan a resmi a sinonim rian utan mpanan iat 3.

a sinonim : serbuk Gom Arab.25) .5 x 3. lengket.5 = 5. Aqua ad 60 =1g =5g = 15 g = (1 + 2. tidak mempunyai rasa : Dalam wadah tertutup baik a resmi a sinonim us molekul molekul rian mpanan D. bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus biru. tetapi sangat lambat. meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah sangat sedikit. tidak berwarna. kental.5+5. Ol.02 : Cairan jernih. PERHITUNGAN BAHAN 1.25 g ~ 5. praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter : dalam wadah tertutup baik rian utan mpanan 5. Sirup simplex 4. AQUADEST (FI.96) : AQUA DESTILLATA : Air suling. Air murni : H2O : 18. PGA Air untuk PGA 5. dan memberikan cairan seperti mucilago. transparan. Kamfer 2.5) = 3. putih atau putih kekuningan.25 mL = 60 – (1+5+15+3. tidak berbau : larut hampir sempurna dalam air.5 g = 1. Olivae 3. tidak berwarna atau kekuningan. serbuk Gom Akasia : serbuk. tidak berbau.Edisi III Hal.

Batang pengaduk 2.75 = 30. Timbangan halus 12. Champora 3. ALAT DAN BAHAN ALAT 1. Cawan krus 4.= 60 – 29. Timbangan kasar BAHAN : 1. Lumpang dan alu 8. E. Sendok tanduk 10. Gelas ukur 5. Sudip 11. Pipet tetes 9.25 g ∞ 30. Oleum olivae . Kertas perkamen 7. Kaca arloji 6. Aqua 2.25 mL Catatan : banyaknya PGA adalah jumlah dari zat padat dari bahan resep. Botol 60 mL 3.

olivae 5 g. Tambahkan sirup simplex 15 g. kemudian masukan dalam corpus emulgator PGA. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. gerus hingga homogen 5. Timbang kamfer 1 g dikaca arloji. sedikit demi sedikit. dan masukan dalam campuran PGA.25 mL. kocok hingga homogen 8.4.5 g lalu larutkan dengan air panas 5. gerus ad homogen 6. Masukkan dalam botol. gerus hingga terbentuk corpus emulgator PGA 4. gerus 7. Tambahkan ol. gerus hingga homogen. Beri etiket biru G. WADAH Botol 60 mL H. kemudian cukupkan volumenya dengan aquadest ad 60 g. gerus dalam lumpang yang berbeda. ETIKET BIRU . Sirup simplex F. Tara botol 60 gram 3. Buat corpus emulgator PGA dengan cara timbang PGA 3. PGA 5. CARA KERJA 1.

113 No : 10 Tgl : 4-5-2012 Nama : Tika Aturan Pakai : 3 x sehari Dioleskan pada bagian yang sakit Obat Luar A.17 Telp. KELENGKAPAN RESEP . Asrama Haji no. 11 R/ Asam stearat Cera alba Vaselin album TEA Propilenglikol Aqua ad S. 0401 319093 Apoteker : Tantri SIK : F. RESEP NO.vanishing cream 15 2 8 1.Apotek Bina Husada Kendari Jln.5 8 65.5 da 50 g Pro : Mitha B.11.

URAIAN BAHAN 1. ASAM STEARAT (FI Edisi III Hal. 57) : ACIDUM STEARICUM : asam stearat a resmi a sinonim .Keterangan :     R/ S pro da 60 : Recipe : signa : propere : Ambillah : tandai : untuk : buat 60 C.

mirip lemak lilin : praktis tidak larut dalam air. larut dalam 20 bagian etanol (95%)p. dalam 2 bagian kloroform p. bau khas lemah : praktis tidak larut dalam air. lengket. agak sukar larut dalam etanol (95%)p dingin.rian : zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur. CERA ALBA (FI Edisi III Hal. lapisan tipis bening. Sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk.633) : VASELINUM ALBUM : vaselin putih : massa lunak. 140) : CERA ALBA : malam putih : zat padat. dan dalam 3 bagian eter p : dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan utan mpanan iat 2. bening. putih atau kuning pucat. Larutan kadang-kadang beropalesensi lemah a resmi a sinonim rian utan . VASELIN ALBUM (FI Edisi III Hal. putih. larut dalam kloroform p. : praktis tidak larut dalam air dalam etanol (95%)p. dalam eter p. putih kekuningan. dalam eter p hangat. dan dalam eter minyak tanah p. larut dalam kloroform p. dalam minyak lemak dan dalam minyak atsiri : dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan a resmi a sinonim rian utan mpanan iat 3.

mpanan : dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan iat .

tidak dapat campur dengan eter minyak tanah p. dengan eter dan dengan air mendidih : dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan a resmi a sinonim rian utan mpanan iat 5. berbau kuat amoniak : sukar larut dalam air. TRIETANOLAMIN (FI Edisi IV Hal.4. Air murni : H2O a resmi a sinonim us molekul . higroskopik : Dapat campur dengan air.1203) : TRIETHANOLAMINUM : triaethanolamina : cairan tidak berwarna. tidak berwarna. dapat bercampur dengan etanol. jernih. PROPILENGLIKOL (FI. dan dengan kloroform p.Edisi III Hal. rasa agak manis. pelarut a resmi a sinonim us molekul molekul rian utan mpanan iat 6. larut dalam 6 bagian eter p.10 : Cairan kental. Edisi III Hal. dengan etanol (95%)p. 534) : PROPYLENGLYCOLUM : propilenglikol : C3H8O2 : 76. dan dengan minyak lemak : Dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan. AQUADEST (FI. tidak berbau.96) : AQUA DESTILLATA : Air suling.

Cera alba 3.75 mL . Propilenglikol 6.75 g ~ 32. PERHITUNGAN BAHAN 1. Vaselin albun 4. Aquadest : : : : : : x 50 x 50 x 50 x 50 x 50 x 50 = 7. Asam stearat 2.02 : Cairan jernih. tidak mempunyai rasa : Dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan rian mpanan gunaan D. TEA 5.75 g =4g = 32.5 g =1g =4g = 0. tidak berbau.molekul : 18. tidak berwarna.

Vaselin album . TEA (Triaethanolamin) 6. Lumpang dan alu 9.E. Cera alba 4. Aquadest 2. Gelas ukur 7. Botol 60 mL 3. Sendok tanduk 11. ALAT DAN BAHAN ALAT 1. Propilenglikol 5. Hot plate 8.Timbangan kasar BAHAN 1. Sudip 12. Kertas perkamen 9. Gelas kimia 6. Cawan krus 4. Batang pengaduk 2. Asam stearat 3. Pipet tetes 10. Cawan porselen 5.

TEA dan aquadest. Setarakan timbangan 3.stearat dalam lumpang.4 dan no. dimasukan dalam propilenglikol.75 g (cawan krus) Propilenglikol 4 g (gelas kimia) Aquadest 32. dipanaskan di hot plate 6. Siapkan alat dan bahan yang digunakan 2. gerus hingga homogen 7.F. Beri etiket biru G.5 g (kertas perkamen) Cera alba 1 g (kertas perkamen) Vaselin album 4 g (cawan porselin) TEA 0.75 mL (gelas ukur) 4. CARA KERJA 1. leburkan dalam cawan (diatas hot plate) 5. Timbang bahan: As. tambahkan cera alba kemudian masukkan dalam veselin album. Masukan secara bersamaan campuran (no. Masukkan dalam pot cream 8. WADAH Pot cream .5) dalam lumpang yang panas. Gerus as. Stearat 7.

ETIKET BIRU Apotek Bina Husada Kendari Jln.17 Telp. 0401 319093 Apoteker : Tantri SIK : F.113 No : 11 Tgl : 24-03-2012 Nama : Mitha Aturan Pakai : 2-3 x sehari Dioleskan tipis-tipis Obat Luar BAB IV .11. Asrama Haji no.H.

sedangkan dalam kloroform p.000 bagian. Pada kelarutan balsam peru berdasarkan istilah kelarutannya adalah 10-30 bagian dalam kloroform p. terdispersi dalam cairan pembawa. dalam minyak lemak lebih dari 10. Pada kelarutan tannin berdasarkan istilah kelarutannya adalah dalam air dan dalam etanol sangat mudah larut. Pembuatan emulsi ini.000 bagian.PEMBAHASAN Emulsi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat. Pada pembuatan emulsi dengan balsam peru. Pada peracikan R/9. dalam eter minyak tanah p dan dalam asan asetat glasial p.000 bagian. yaitu emulsi dengan balsamum peruvianum. Perlahan-lahan mudah larut dalam gliserol p. dalam eter p dan dalam kloroform lebih dari 10. Emulsi ini dibuat dengan cara balsam peru dicampurkan pada corpus emulsi PGA. pada saat penambahan balsam peru pada corpus emulsi PGA penggerusannya harus dilakukan dengan perlahan-lahan agar corpus emulsinya tidak pecah. dalam eter p. jumlah PGA yang digunakan adalah sebanyak dua kali berat balsam. adalah 100-1. secara umum emulsa dibedakan atas emulsa vera (emulsi alam) dan emulsa spuria (emulsi buatan). dalam eter p. yang dimana balsam peru akan terdispersi dalam air dengan adanya PGA atau emulgator. . lalu digerus hingga homogen.000 bagian Pada kelarutan PGA berdasarkan istilah kelarutannya adalah 1-10 bagian dalam air dan dalam etanol lebih dari 10. Pada kelarutan gliserin berdasarkan istilah kelarutannya adalah larut dalam air dan dalam etanol. distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. dalam aseton p adalah kurang dari 1 bagian.

Kemudian . setarakan timbangan. Pada penimbangan balsam peru kita mengolesi paraffin cair pada kertas perkamen yang akan kita gunakan untuk menimbang balsam peru karena pemerian balsam peru adalah cairan kental. setelah itu dibuat corpus emulsi PGA. kemudian ditara botol 60 g. tidak berserat. Dan masukkan dalam corpus emulsi PGA. gerus hingga homogen. Pada peracikan R/10.Dalam resep ini merupakan emulsi tipe A/M dimana air larut dalam tipe minyak.dengan cara di timbang PGA 3. maka kita lakukan emulsi dengan balsam peru dibuat dengan PGA sebanyak 2x berat balsam peru dengan penambahan balsam peru ke dalam corpus emulsi. kemudian tambahkan air panas 5. yaitu campora yang mana kita ketahui sendiri bahwa campora larut dalam minyak lemak yang sesuai dengan kelarutannya oleh karena itu bahan camporanya dilarutkan dalam minyak lemak atau oleum lini yang menyebabkan penurunan titik beku pada campora sehingga mencair dan hingga akhirnya dapat larut dalam minyak lemaknya yaitu oleum lini. dan lengket. Digerus hingga homogen. Dalam pembuatan resep ini. Dalam resep ini masalah yang kita hadapi adalah meracik balsam peru dan menghitung jumlah PGA yang digunakan.25 mL. setelah campora larut dalam oleum lini maka ditambahkanlah PGA dan diaduk hingga terbentuk corpus emulsi lalu dicukupkan volumenya dengan air hangat kemudian dikocok hingga emulsi dingin. kemudian dimasukkan di dalam lumpang yang berbeda.5 g. Pada pembuatan emulsi R/10 pertama-tama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Setelah itu ditambahkan camphora sebanyak 1 g yang telah ditimbang dikaca arloji. lalu taburkan di atasnya sampai terbentuk corpus emulsi. emulsi yang dibuat itu menggunakan bahan tambahan yang larut dalam minyak. jumlah PGA diganti dengan aqua untuk membuat corpus emulsi. Lalu ditambahkan 5 g oleum olivae dan sirup simplex 15 g.

metode inggris (gom basah). Pada pembuatan emulsi R/11 yaitu cream .masukkan dalam botol dan cukupkan volemenya dengan aquadest ad 60 g. propilenglikol. vaselin album. terdispersi dalam cairan pembawa. distabilkan dengan zat pangemulsi atau surfaktan yang cocok. dan aquadest dipanaskan di atas hot plate. dan metode botol. Setelah itu masukkan dalam pot cream dan beri etiket biru.  Pembuatan emulsi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan metode continental (gom kering). Pada R/11 yaitu vinishing cream. KESIMPULAN  Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat. Untuk mendapatkan hasil massa cream yang sempurna maka campuran TEA dan campuran asam stearat harus dimasukkan secara bersamaan ke dalam lumpang panas dan digerus sehingga massa cream yang terbentuk sesuai dengan yang diharapkan. . bahan fase minyaknya yaitu asam stearat.  Salah satu keuntungan sediaan dalam bentuk emulsi adalah tertutupnya rasa minyak yang tidak enak. dan dikocok hingga homogen. BAB V PENUTUP A. terlebih dahulu dilebur dalam cawan sedangkan fase airnya yaitu tea. cera alba. dimana cream adalah sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60 %. Dan yang terakhir diberi etiket biru. dimasukkan untuk pemakaian luar.

1997 . Formularium Nasional Edisi 2. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia . SARAN Dalam melakukan praktikum terutama pada saat pembuatan emulsi. 2007 . Moh . 1978 .B. DAFTAR PUSTAKA Anief. Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press Departemen Kesehatan Republik Indonesia . para praktikan harus meracik sediaan emulsi denga teliti dan sungguh-sungguh terutama pada saat melakukan pencampuran antara fase minyak dan fase air agar corpus emulsi yang terbentuk sesuai dengan yang diharapkan. Farmakope Indonesia Edisi Dekpes RI III . Jakarta : EGC Diposkan oleh Tantri di 7/15/2012 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook . Jakarta : Dekpes RI Syamsuni . 1995 . 1979 . Farmakope Indonesia Edisi Dekpes RI IV . Ilmu Resep . Ilmu Meracik Obat .

Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Our Partners Mimosa pudica putri malupun tak ingin disakiti si mimioo pudiica :) Labels         all about me (4) farmakologi (2) Farmasetika-1 (1) Laporan (jurnal) Farmasetika Dasar (5) laporan (jurnal) farmasetika-1 (3) laporan (jurnal) kimia dasar (5) Medicine (1) mikrobiologi n parasitologi (2) .

 larutan (solutio) BAB I PENDAHULUAN A..  PULVERES (Serbuk Bagi) BAB I A.. LARUTAN A. LATAR BELAKANG Dalam dunia farmasi terdapat berbagai macam sediaan yang berbentuk cair..  PULVIS ADSPERSORIUS (Serbuk Tabur) ...  UNGUENTA (SALEP) BAB 1 .. Baik berupa larutan.. sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran homogeny dua atau lebih bahan obat yang telah . LATAR BELAKANG Dalam ilmu farmasi.  Larutan (solutio) BAB I PEMBAHASAN I... praktikum Mikrobiologi dan parasitologi (jurnal) (3) Popular Posts  contoh obat bebas terbatas PENGGOLONGAN OBAT MENURUT PERUNDANG-UNDANGAN FARMASI Golongan obat adalah penggolonga yang dimaksud untuk peningkatan keamanan dan ketepata. su.. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih dalam pelarut air.

..  Permanganometri I. Menentukan  keuntungan dan kerugian mikroorganisme Mikoorganisme … “ Mikroorganisme yang ada di bumi tak terhitung jumlah jenis dan macamnya. Ida Ayu SIP. TUJUAN  uji salmonella BAB 1 PENDAHULUAN A.. konsentrasi larutan baku Na .. No 70 No. Timah. Permanganometri II.. My facebook . LATAR BELAKANG Pangan (makanan) adalah bahanbahan yang dimakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bagi . Un. 921/101/2010 Jalan.. 002 13/12/2011 R/ Acid Salicylic 2 Balsm.. JUDUL IODIMETRI II. TUJUAN 1.  tgl Iodimetri I.Resep2 Dr. JUDUL 1... perkembangan ilmu pen.. Sayangnya..

Devancez Tantri Buat Lencana Anda Mengenai Saya Tantri Education is ornament in prosperity and a refuge in adversity :) Lihat profil lengkapku Followers Pages  Beranda .

My visitorss ^^" Template Watermark. . Diberdayakan oleh Blogger.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful